06-12-2015
TOBAT
PENGAKUAN DOSA
PENGAMPUNAN DOSA
REKONSILIASI
PENEBUSAN DOSA
DASAR BIBLIS
 Ketika membicarakan sakramen ini
kita bertemu dengan tema-tema
sekitar dosa, tobat, dan
pengampunan. Tema-tema ini
disinggung dalam Perjanjian Baru,
bahkan juga sudah ada dalam
Perjanjian Lama, jauh sebelum
kehadiran Yesus.
Lukas 15: 11-32
Dinamika Dosa
Matius 18:12-14
Lukas 15:1-7
Domba yang hilang
Sirakh 12:4-7
Seruan pertobatan sudah digaungkan
Yohanes Pembaptis di sekitar Sungai
Yordan, kemudian digenapi dengan
pembaptisan (Mt 3:2.11, Mk 1:4, Lk 3:3.8).
Semasa hidup-Nya Yesus pun
menyerukan perlunya pertobatan. Syarat-
syarat pengampunan dosa disebut Yesus
berulang kali (Mk 1:15, Mt 4:16-17, Lk
4:18-19).
Istilah “metanoia” sendiri disebut 58 kali
dalam Injil. Yesus mengampuni dosa dan
menyembuhkan banyak orang. Kuasa
mengampuni tak hanya dimiliki Yesus (Mk
2:12), tetapi juga diberikan oleh Yesus
kepada para Rasul-Nya (Mt 18:18, Yoh
20:23). Maka, mereka pun bertindak
dengan kuasa itu, seperti Yesus.
Pada masa para Rasul baptis seolah
merupakan “sakramen tobat” pertama dan
radikal.
Bagaimana dengan umat yang murtad dan
menyesal lalu ingin kembali ke
persekutuan umat?
Semua dosa dapat diampuni (Yak 1:21,
Why 2:20-22, 1Tim 1:19-20, 1Kor 5:4-5,
2Kor 5:5-11,12:21).
Dosa berat maupun ringan, tak ada yang
tak terhapuskan.
SEKILAS SEJARAH
 Gereja sudah menyadari bahwa perbuatan
pendosa -yang adalah anggota Gereja- telah
mengoyak hubungan baik antara pendosa dengan
Allah dan dengan persekutuan umat beriman.
Karena dan melalui Yesus Kristus yang telah
wafat dan bangkit hubungan yang retak atau
terputus itu dapat dipulihkan.
TOBAT KANONIK
TOBAT PUBLIK
TOBAT
MONASTIK
Praktek pertobatan
dikaitkan dengan
kepatutan
menerima
Sakramen
Mahakudus dan
dihayati seperti
suatu “devosi”
Semula tekanan
perayaannya pada
segi eklesial, maka
rekonsiliasi terjadi di
hadapan publik
Pembaruan liturgi
pasca Konsili
Vatikan II mencoba
mengembalikan
praktek sakramen
ini lebih ke makna
sosial-eklesialnya,
namun tetap
menjunjung
kebutuhan personal.
pada tahun 1973
muncullah buku
tata perayaan
baru, Ordo
Paenitentiae,
menawarkan tiga
ritus rekonsiliasi
dengan dasar
eklesiologis
baru.
 Sumber: Didache, tulisan-tulisan karya Klemens
dari Roma, Ignatius dari Antiokia, Polikarpus,
Yustinus, Ireneus, dan juga buku berjudul Pastor
Hermas.
 Tentang pelaksanaan pertobatan yang dilakukan
terserah kehendak uskup.
 Sesudah dibaptis, umat hanya akan mendapat
penitensi satu kali (Pastor Hermas, Klemens).
 Keyakinan bahwa semua dosa dapat diampuni
tetap hidup di masa ini.
 Dosa berat diakui di depan umat/Gereja dengan
tindakan tobat, lalu Gereja mendamaikan yang
bertobat
Hanya uskuplah yang menentukan
rekonsiliasi. Pendamaian yang diberikan
oleh uskup sebagai pemimpin Gereja
sama dengan pendamaian dari Allah
sendiri (pax Ecclesiae, pax Dei).
Mempertegas keyakinan bahwa semua
dosa dapat diampuni, maka pertobatan
berlaku untuk semua dosa. Tidak hanya
untuk tiga dosa berat (capitalia), yakni
murtad atau mengingkari iman, berbuat
zinah, dan membunuh.
Tokoh-tokoh abad III seperti Tertulianus,
Hipolitus, Ciprianus, Origenes, dll.
Tempat duduk pendosa dipisahkan dari
umat lain. Para pendosa dimasukkan
dalam golongan peniten (ordo
paenitentium).
Namun ada kekecualian untuk pendosa
yang hampir meninggal dunia, mereka
tidak terhitung dalam kelompok peniten.
Otoritas uskup masih besar..
Terdapat bentuk-bentuk ritual khusus.
[1] untuk yang menjelang ajal: diberi
absolusi segera, lalu diberi komuni, tapi
kalau sembuh harus menjalani ritual
pertobatan biasa,
[2] rekonsiliasi para bidaah, yang telah
dibaptis, keluar dari Gereja, lalu kembali
lagi: ritus khusus dengan penumpangan
tangan, kadang didahului pengurapan
dengan minyak krisma
[3] bagi klerus: tak masuk golongan
peniten, diizinkan menerima komuni,
[4] teguran secara rahasia: semacam
penitensi pribadi yang bersifat
sakramental.
Tulisan-tulisan Yohanes Casianus
(Institutiones Monasticae), Benediktus
(Regula Benedicti dan Regula Magistri),
dan Columbanus (Regula Caenobialis).
Praktek baru itu semula tumbuh dari biara-
biara monastik di Irlandia. Dari sana
muncul praktek pengakuan dosa pribadi,
maka praktek itu sering disebut dengan
tobat monastik..
Yang khas adalah munculnya sistem tarifa
(dari bahasa Arab: daftar, katalog; daftar
dosa dan hukumannya; istilah bahasa
Latinnya liber paenitentialis).
Pengakuan dapat dilakukan beberapa kali
sejauh diperlukan, di hadapan pelayan
rekonsiliasi entah rahib, imam, atau
diakon.
Denda atau penitensinya diberikan
menurut tarifa. Berat ringannya denda
setara dengan berat ringannya dosa.
Ada sistem tebusan yang diberlakukan
untuk membereskan dosa-dosa. Untuk
ukuran sekarang terasa agak aneh, tapi itu
pernah terjadi. Sistem itu dianut dengan
cara pembayaran uang kepada biara dan
para rahiblah yang akan melakoni puasa
atau mengambil alih tugas peniten. Pada
periode ini lahir pula praktek indulgensi
(penghapusan hukuman).
Pertama, suatu pengakuan asketik, di
mana motivasi sebenarnya adalah
kebutuhan akan bimbingan rohani, demi
perkembangan hidup spiritualnya. Dalam
biara-biara rahib atau imam yang dianggap
mumpuni menjadi bapa spiritual sekaligus
konfesor.
Kedua, suatu pengakuan pendosa, yang
mengharapkan dosa-dosanya mendapat
pengampunan lewat cara melunasi denda.
Jadi, motivasinya memang ingin
membersihkan diri dari dosa-dosa.
 Ketiga, motivasinya karena dalam situasi
darurat (waktu perang) dan tak ada konfesor,
maka pengakuannya disampaikan langsung
kepada Allah. Allahlah yang mengampuni
dosa. Siapa pun, bahkan pedang atau kuda
pun, yang ada di dekatnya bisa dianggap
sebagai “perwakilan” Allah dan pendosa yang
“kepepet” itu mengakukan dosa-dosanya
sebelum maut menghadang.
Pada periode ini muncul sistem parokial.
Maka “pengakuan wajib” setahun sekali
yang berkaitan dengan komuni Paskah
dapat dilakukan di gereja-gereja paroki
(Konsili Lateran IV, 1215, kan. 21).
Cara pengakuan semacam ini nantinya
menjadi semacam alat kontrol sosial.
Konsili Trente (abad XVI) mengajarkan
beberapa poin penting berikut ini:
[1] satu-satunya bentuk sah sakramen
tobat adalah pengakuan langsung ke
telinga seorang imam,
[2] imam menentukan denda: serasa
seorang “hakim” dan perayaan sakramen
tampak seperti “sidang pengadilan”,
[3] untuk mencegah hal-hal yang kurang
baik, sakramen ini diadakan di tempat
khusus (bilik/kamar) dengan terali pemisah
antara imam dan peniten.
Sekitar abad XVIII-XIX ada anggapan
yang dipengaruhi protestantisme bahwa
orang awam sebetulnya tidak pantas
menyambut komuni, kecuali kalau
mengaku dosa lebih dulu. Maka kemudian
ditetapkan bahwa sekurang-kurangnya
umat mengaku dosa dan menyambut
komuni satu kali setahun di sekitar
Paskah.
 Di awal abad XX Paus Pius X menganjurkan
umat (mulai dari yang berusia 7 tahun) untuk
kerap menyambut komuni, bahkan setiap
hari. Akibatnya:
 [1] komuni jadi lebih penting daripada misa,
 [2] karena komuninya kerap, maka
pengakuan jadi kerap pula (tak hanya dosa
berat),
 [3] sakramen ini menjadi “devosi” bagi orang-
orang saleh; karena banyak yang antri maka
ritualnya dilakukan kilat,
 [4] banyak umat ke gereja pada hari Minggu,
tapi hanya untuk mengaku dosa dan
menyambut komuni.
ORDO PAENITENTIAE (1973)
 Ordo Paenitentiae menegaskan empat unsur
dasar Sakramen Rekonsiliasi:
[1] Penyesalan (contritio): perasaan sedih
karena dosa yang telah dilakukan dan karena
kerugian yang ditimbulkannya, dengan
keputusan untuk tidak berdosa lagi di masa
mendatang.
[2] Pengakuan (confessio): ungkapan dari
keadaan peniten seperti apa adanya di
hadapan Allah, juga ungkapan sesal yang
terkandung dalam hatinya.
 [3] Penyilihan (satisfactio): tindakan untuk
memuaskan Allah dengan melakukan
penitensi atau pemulihan hidup lewat
penyesalan, doa, dan matiraga.
 [4] Pengampunan (absolutio): tanda
pemberian maaf olehAllah kepada
pendosa yang menyatakan pertobatannya
kepada seorang pelayanGereja, dan
dengan demikian sakramen digenapkan
(OP 6).
Ritus 1
 Pengakuan dan absolusi pribadi
 Cara ini merupakan pembaruan cara
pengakuan pribadi tradisional (K.Trente).
Unsur barunya adalah pewartaan Sabda
Allah, yang dapat juga dilakukan oleh
peniten, entah pada saat perayaan
pengakuan atau penelitian batin sebelumnya.
 Struktur ritus lengkap:
[a] penyambutan peniten: salam yang hangat,
tanda salib, undangan untuk percaya,
[b] pewartaan Sabda (opsional): bacaan
(tentang belaskasih Allah dan panggilan
untuk bertobat),
[c] pengakuan dosa dan penerimaan pelunasan
dosa (silih/satisfactio): (“saya mengaku”/doa
tobat), pengakuan, nasihat, usulan
penitensi/denda,
[d] pernyataan sesal-tobat dan absolusi,
[e] seruan pujian bagi Allah dan pengutusan.
 Versi pendek, tak boleh meniadakan:
 [a] pengakuan dosa dan penerimaan
pelunasan dosa,
 [b] pernyataan sesal dan tobat,
 [c] absolusi,
 [d] pengutusan.
 Versi dalam bahaya kematian: “Saya
membebaskanmu dari dosa-dosamu dalam
nama (+) Bapa dan Putera dan Roh Kudus.
Amin”.
Ritus 2
 Ini merupakan cara baru yang mengajak
peniten untuk melakukan persiapan
bersama, namun kemudian dapat
diteruskan dengan pengakuan pribadi.
Meskipun baru, tata cara ini mirip dengan
tradisi Gereja perdana.
 Pola Ritus II ini mengedepankan
pentingnya pewartaan Sabda, maka lebih
kelihatan sebagai Liturgi Sabda.
 Struktur ritus:
 [a] ritus pembuka: nyanyian, salam, doa
imam,
 [b] perayaan Sabda: bacaan pertama,
mazmur tanggapan, bacaan kedua, bait
pengantar Injil, bacaan Injil, homili,
pemeriksaan batin,
 [c] ritus rekonsiliasi: doa pengakuan
bersama (mis. “Saya mengaku…”), litani/doa
jemaat mohon pengampunan, doa Bapa
kami, pengakuan dan absolusi pribadi, seruan
pujian bagi Allah, doa syukur penutup,
 [d] ritus penutup: berkat, pengutusan.
Ritus 3
 Ini ritus yang sama sekali baru. Ada
tiga versi: lengkap, pendek, dan
darurat. Ritus ini baru berlaku untuk
saat-saat khusus yang tidak lazim
atau keadaan memaksa, dan
diselenggarakan dengan seizin uskup
setempat. (OP 31-32).
 Misalnya,
[a] sedang dalam bahaya maut dan tidak
terdapat cukup waktu dan imam untuk
mendengarkan pengakuan perorangan (saat
perang, kebakaran, atau bencana alam), atau
[b] karena jumlah peniten yang banyak
sementara jumlah imam dan waktu yang ada
tidak memadai untuk mendengarkan
pengakuan perorangan (saat peziarahan atau
menjelang masa-masa pesta
liturgis/menjelang Paskah/Natal).
 Secara struktural ritus ini tak berbeda dari
ritus sebelumnya (Ritus II), kecuali pada
bagian penutupnya.
 Struktur ritus:
[a] ritus pembuka: nyanyian, salam, doa imam,
[b] perayaan Sabda: bacaan pertama, mazmur
tanggapan, bacaan kedua, bait pengantar
Injil, bacaan Injil, homili, instruksi,
pemeriksaan batin,
[c] ritus rekonsiliasi: doa pengakuan bersama
(mis. “Saya mengaku…”) sambil berlutut,
litani/doa jemaat mohon pengampunan, doa
Bapa kami, pengakuan bersama, absolusi
umum,
[d] seruan pujian bagi Allah dan penutup:
nyanyian, berkat, pengutusan.
 Versi pendek:
[a] bacaan singkat,
[b] instruksi,
[c] pengakuan bersama (“Saya mengaku”),
[d] absolusi umum.
 Versi darurat bahaya kematian: “Saya
melepaskanmu dari segala dosa: demi nama
(+) Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus.”
 Yang masih berdosa berat kendati sudah
menerima absolusi umum tetap harus
mengakukan dosa beratnya pada pengakuan
pribadi setelah rekonsiliasi bersama itu.
 Pelayan sakramen:
Yang boleh menerima pengakuan adalah imam
(berkat tahbisan suci) dan mempunyai
yurisdiksi (kewenangan legal). Yurisdiksi
penitensial itulah yang menyebabkan validitas
pelayanannya dan absolusinya.
 Imam sebagai pelayan Gereja adalah sekaligus
hakim dan tabib, pelayan keadilan dan belas
kasih Allah .
 Hakim
 Tabib
 Pelayan Kerahiman Ilahi
 Pelayan Keadilan Ilahi
 Ia terikat pada rahasia sakramental, tidak boleh
membocorkan rahasia pengakuan (KHK kan.
983). Pelanggaran hukum ini dapat
mengakibatkan imam diekskomunikasi.
 Nasihat-nasihatnya hendaklah bersifat
membebaskan (liberatif) dan memulihkan
(kuratif), bukan mengutuk dan memojokkan.
 Kualitas yang diharapkan: kebaikan hati
(goodness), pengetahuan (knowledge), dan
kebijaksanaan (prudence).
 Keutamaan lain: sabar (terhadap siapa pun dan
apa pun dosanya), rendah hati (belum tentu
pelayan lebih baik daripada penitennya),
murni hati (selalu menjaga diri dengan olah
spiritual), dsb.
 Tugas dan kewajiban:
[a] siap menerima kapan pun bila ada yang mau
mengaku dosa dan terikat mendengarkan
pengakuan,
[b] tampil sebagai hakim spiritual yang
bijaksana,
[c] melepaskan dosa-dosa melalui absolusi yang
resmi,
[d] bahkan dapat juga menolak atau menunda
memberi absolusi jika peniten belum layak
menerimanya,
[e] sebagai tabib/dokter/penyembuh dan bapa
spiritual ia menyelidiki penyebab dosa itu dan
memberikan “obat” untuk menyembuhkannya,
[f] jika salah (dalam hal nasihat kepada peniten)
ia harus juga meralat kesalahannya
menyangkut keabsahan sakramentalnya.
 Beberapa kewenangan dan aturan lainnya
terdapat dalam Kitab Hukum Kanonik (kan.
965-986).
 Imam mengenakan busana liturgis yang sesuai
atau yang ditetapkan oleh Odinaris Wilayah
(OP 14).
 Yang boleh mengaku dosa dalam sakramen
ini adalah orang beriman kristiani (sesuai
KHK: orang Katolik) yang menyesali dosa
dan berniat memperbaiki diri, bertobat
kembali kepada Allah (KHK kan. 987).
 Ia bebas memilih imam kepada siapa hendak
mengaku dosa. Dapat juga ia mengaku
dengan pendamping seorang penerjemah
yang dijamin dapat menjaga kerahasiaan dan
tak akan ada penyalahgunaan dan
sandungan lainnya (KHK kan. 990).
 Disposisi yang diharapkan dari peniten dan
menentukan keutuhan dan kesempurnaan
penghapusan dosanya adalah
[a] rasa penyesalan, [b] pengakuan dosa, dan
[c] penerimaan
penitensi/silih/denda/satisfactio dan
memenuhi atau melaksanakannya..
 Kewajiban: Jika umat ingin bertobat maka ia
wajib mengakukan dosa berat dan ringan
dengan dasar rasa sesal-tobat yang sungguh,
minimal setahun satu kali (sesuai perhitungan
tahun biasa, atau tahun liturgis: mulai dari
Adven atau Paskah).
Saat simbolis terpenting adalah ketika
imam menumpangkan tangan
(sekurangnya tangan kanan saja) di atas
kepala peniten selama mengucapkan
formula absolusi. Tata gerak yang telah
berabad-abad ini seolah menjadi satu-
satunya simbol yang ada dalam sakramen
ini. Alangkah baiknya jika simbolisme ini
juga dapat dilihat oleh umat lain, tak hanya
si peniten.
Yang paling banyak dipraktekkan di gereja-
gereja di seluruh dunia adalah Ritus I,
pengakuan dan absolusi
pribadi/perorangan.
Idealnya Ritus I ini dapat dilaksanakan
dalam konteks bimbingan rohani yang
tidak terlalu terikat waktu. Sehingga baik
pelayan maupun peniten dapat sungguh
menghayati “perannya” dan
“menikmatinya”.
 Ritus II memang lebih kaya isinya dan bisa
lebih efektif dalam pelaksanaannya.
Beberapa kesulitan:
[1] ketersediaan jumlah imam yang mencukupi
untuk sejumlah umat yang mau mengaku
dosa perorangan,
[2] biasanya sulit untuk bisa mengumpulkan
umat kembali setelah pengakuan pribadi itu
dan bersama-sama menyerukan pujian
syukur atas kerahiman Allah dan menutup
perayaan tobat kolektif itu,
[3] adanya “saat kosong” bagi mereka yang
menunggu saat pujian syukur bersama dan
penutupan ibadat, selama orang-orang
sedang mengaku dosa pribadi.
Secara teologis dan liturgis Ritus III ini
sudah mencitrakan suatu ibadat jemaat,
bercorak umum/bersama. Sayangnya,
pelaksanannya sangat tergantung pada
izin uskup diosis, yang berpegang pada
beberapa persyaratan yang ada.
Peraturan yang terasa agak “kaku” itu
dianggap sebagai bentuk ketakutan jika
saja praktek pengakuan perorangan malah
ditinggalkan. Benarkah akan begitu?
Tidak tahu makna dan tujuannya
Malu
Takut
Mengkambinghitamkan yang lain
Melepaskan tanggungjawab
DLL

Sakramen Rekonsiliasi

  • 1.
  • 2.
  • 3.
    DASAR BIBLIS  Ketikamembicarakan sakramen ini kita bertemu dengan tema-tema sekitar dosa, tobat, dan pengampunan. Tema-tema ini disinggung dalam Perjanjian Baru, bahkan juga sudah ada dalam Perjanjian Lama, jauh sebelum kehadiran Yesus.
  • 4.
  • 5.
  • 6.
  • 7.
    Seruan pertobatan sudahdigaungkan Yohanes Pembaptis di sekitar Sungai Yordan, kemudian digenapi dengan pembaptisan (Mt 3:2.11, Mk 1:4, Lk 3:3.8). Semasa hidup-Nya Yesus pun menyerukan perlunya pertobatan. Syarat- syarat pengampunan dosa disebut Yesus berulang kali (Mk 1:15, Mt 4:16-17, Lk 4:18-19).
  • 8.
    Istilah “metanoia” sendiridisebut 58 kali dalam Injil. Yesus mengampuni dosa dan menyembuhkan banyak orang. Kuasa mengampuni tak hanya dimiliki Yesus (Mk 2:12), tetapi juga diberikan oleh Yesus kepada para Rasul-Nya (Mt 18:18, Yoh 20:23). Maka, mereka pun bertindak dengan kuasa itu, seperti Yesus.
  • 9.
    Pada masa paraRasul baptis seolah merupakan “sakramen tobat” pertama dan radikal. Bagaimana dengan umat yang murtad dan menyesal lalu ingin kembali ke persekutuan umat?
  • 10.
    Semua dosa dapatdiampuni (Yak 1:21, Why 2:20-22, 1Tim 1:19-20, 1Kor 5:4-5, 2Kor 5:5-11,12:21). Dosa berat maupun ringan, tak ada yang tak terhapuskan.
  • 11.
    SEKILAS SEJARAH  Gerejasudah menyadari bahwa perbuatan pendosa -yang adalah anggota Gereja- telah mengoyak hubungan baik antara pendosa dengan Allah dan dengan persekutuan umat beriman. Karena dan melalui Yesus Kristus yang telah wafat dan bangkit hubungan yang retak atau terputus itu dapat dipulihkan.
  • 12.
    TOBAT KANONIK TOBAT PUBLIK TOBAT MONASTIK Praktekpertobatan dikaitkan dengan kepatutan menerima Sakramen Mahakudus dan dihayati seperti suatu “devosi” Semula tekanan perayaannya pada segi eklesial, maka rekonsiliasi terjadi di hadapan publik
  • 13.
    Pembaruan liturgi pasca Konsili VatikanII mencoba mengembalikan praktek sakramen ini lebih ke makna sosial-eklesialnya, namun tetap menjunjung kebutuhan personal. pada tahun 1973 muncullah buku tata perayaan baru, Ordo Paenitentiae, menawarkan tiga ritus rekonsiliasi dengan dasar eklesiologis baru.
  • 14.
     Sumber: Didache,tulisan-tulisan karya Klemens dari Roma, Ignatius dari Antiokia, Polikarpus, Yustinus, Ireneus, dan juga buku berjudul Pastor Hermas.  Tentang pelaksanaan pertobatan yang dilakukan terserah kehendak uskup.  Sesudah dibaptis, umat hanya akan mendapat penitensi satu kali (Pastor Hermas, Klemens).  Keyakinan bahwa semua dosa dapat diampuni tetap hidup di masa ini.  Dosa berat diakui di depan umat/Gereja dengan tindakan tobat, lalu Gereja mendamaikan yang bertobat
  • 15.
    Hanya uskuplah yangmenentukan rekonsiliasi. Pendamaian yang diberikan oleh uskup sebagai pemimpin Gereja sama dengan pendamaian dari Allah sendiri (pax Ecclesiae, pax Dei). Mempertegas keyakinan bahwa semua dosa dapat diampuni, maka pertobatan berlaku untuk semua dosa. Tidak hanya untuk tiga dosa berat (capitalia), yakni murtad atau mengingkari iman, berbuat zinah, dan membunuh.
  • 16.
    Tokoh-tokoh abad IIIseperti Tertulianus, Hipolitus, Ciprianus, Origenes, dll. Tempat duduk pendosa dipisahkan dari umat lain. Para pendosa dimasukkan dalam golongan peniten (ordo paenitentium). Namun ada kekecualian untuk pendosa yang hampir meninggal dunia, mereka tidak terhitung dalam kelompok peniten. Otoritas uskup masih besar..
  • 18.
    Terdapat bentuk-bentuk ritualkhusus. [1] untuk yang menjelang ajal: diberi absolusi segera, lalu diberi komuni, tapi kalau sembuh harus menjalani ritual pertobatan biasa, [2] rekonsiliasi para bidaah, yang telah dibaptis, keluar dari Gereja, lalu kembali lagi: ritus khusus dengan penumpangan tangan, kadang didahului pengurapan dengan minyak krisma
  • 19.
    [3] bagi klerus:tak masuk golongan peniten, diizinkan menerima komuni, [4] teguran secara rahasia: semacam penitensi pribadi yang bersifat sakramental.
  • 21.
    Tulisan-tulisan Yohanes Casianus (InstitutionesMonasticae), Benediktus (Regula Benedicti dan Regula Magistri), dan Columbanus (Regula Caenobialis). Praktek baru itu semula tumbuh dari biara- biara monastik di Irlandia. Dari sana muncul praktek pengakuan dosa pribadi, maka praktek itu sering disebut dengan tobat monastik..
  • 22.
    Yang khas adalahmunculnya sistem tarifa (dari bahasa Arab: daftar, katalog; daftar dosa dan hukumannya; istilah bahasa Latinnya liber paenitentialis). Pengakuan dapat dilakukan beberapa kali sejauh diperlukan, di hadapan pelayan rekonsiliasi entah rahib, imam, atau diakon. Denda atau penitensinya diberikan menurut tarifa. Berat ringannya denda setara dengan berat ringannya dosa.
  • 23.
    Ada sistem tebusanyang diberlakukan untuk membereskan dosa-dosa. Untuk ukuran sekarang terasa agak aneh, tapi itu pernah terjadi. Sistem itu dianut dengan cara pembayaran uang kepada biara dan para rahiblah yang akan melakoni puasa atau mengambil alih tugas peniten. Pada periode ini lahir pula praktek indulgensi (penghapusan hukuman).
  • 25.
    Pertama, suatu pengakuanasketik, di mana motivasi sebenarnya adalah kebutuhan akan bimbingan rohani, demi perkembangan hidup spiritualnya. Dalam biara-biara rahib atau imam yang dianggap mumpuni menjadi bapa spiritual sekaligus konfesor.
  • 26.
    Kedua, suatu pengakuanpendosa, yang mengharapkan dosa-dosanya mendapat pengampunan lewat cara melunasi denda. Jadi, motivasinya memang ingin membersihkan diri dari dosa-dosa.
  • 27.
     Ketiga, motivasinyakarena dalam situasi darurat (waktu perang) dan tak ada konfesor, maka pengakuannya disampaikan langsung kepada Allah. Allahlah yang mengampuni dosa. Siapa pun, bahkan pedang atau kuda pun, yang ada di dekatnya bisa dianggap sebagai “perwakilan” Allah dan pendosa yang “kepepet” itu mengakukan dosa-dosanya sebelum maut menghadang.
  • 29.
    Pada periode inimuncul sistem parokial. Maka “pengakuan wajib” setahun sekali yang berkaitan dengan komuni Paskah dapat dilakukan di gereja-gereja paroki (Konsili Lateran IV, 1215, kan. 21). Cara pengakuan semacam ini nantinya menjadi semacam alat kontrol sosial.
  • 30.
    Konsili Trente (abadXVI) mengajarkan beberapa poin penting berikut ini: [1] satu-satunya bentuk sah sakramen tobat adalah pengakuan langsung ke telinga seorang imam, [2] imam menentukan denda: serasa seorang “hakim” dan perayaan sakramen tampak seperti “sidang pengadilan”, [3] untuk mencegah hal-hal yang kurang baik, sakramen ini diadakan di tempat khusus (bilik/kamar) dengan terali pemisah antara imam dan peniten.
  • 31.
    Sekitar abad XVIII-XIXada anggapan yang dipengaruhi protestantisme bahwa orang awam sebetulnya tidak pantas menyambut komuni, kecuali kalau mengaku dosa lebih dulu. Maka kemudian ditetapkan bahwa sekurang-kurangnya umat mengaku dosa dan menyambut komuni satu kali setahun di sekitar Paskah.
  • 32.
     Di awalabad XX Paus Pius X menganjurkan umat (mulai dari yang berusia 7 tahun) untuk kerap menyambut komuni, bahkan setiap hari. Akibatnya:  [1] komuni jadi lebih penting daripada misa,  [2] karena komuninya kerap, maka pengakuan jadi kerap pula (tak hanya dosa berat),  [3] sakramen ini menjadi “devosi” bagi orang- orang saleh; karena banyak yang antri maka ritualnya dilakukan kilat,  [4] banyak umat ke gereja pada hari Minggu, tapi hanya untuk mengaku dosa dan menyambut komuni.
  • 34.
    ORDO PAENITENTIAE (1973) Ordo Paenitentiae menegaskan empat unsur dasar Sakramen Rekonsiliasi: [1] Penyesalan (contritio): perasaan sedih karena dosa yang telah dilakukan dan karena kerugian yang ditimbulkannya, dengan keputusan untuk tidak berdosa lagi di masa mendatang. [2] Pengakuan (confessio): ungkapan dari keadaan peniten seperti apa adanya di hadapan Allah, juga ungkapan sesal yang terkandung dalam hatinya.
  • 35.
     [3] Penyilihan(satisfactio): tindakan untuk memuaskan Allah dengan melakukan penitensi atau pemulihan hidup lewat penyesalan, doa, dan matiraga.  [4] Pengampunan (absolutio): tanda pemberian maaf olehAllah kepada pendosa yang menyatakan pertobatannya kepada seorang pelayanGereja, dan dengan demikian sakramen digenapkan (OP 6).
  • 36.
    Ritus 1  Pengakuandan absolusi pribadi  Cara ini merupakan pembaruan cara pengakuan pribadi tradisional (K.Trente). Unsur barunya adalah pewartaan Sabda Allah, yang dapat juga dilakukan oleh peniten, entah pada saat perayaan pengakuan atau penelitian batin sebelumnya.
  • 37.
     Struktur rituslengkap: [a] penyambutan peniten: salam yang hangat, tanda salib, undangan untuk percaya, [b] pewartaan Sabda (opsional): bacaan (tentang belaskasih Allah dan panggilan untuk bertobat), [c] pengakuan dosa dan penerimaan pelunasan dosa (silih/satisfactio): (“saya mengaku”/doa tobat), pengakuan, nasihat, usulan penitensi/denda, [d] pernyataan sesal-tobat dan absolusi, [e] seruan pujian bagi Allah dan pengutusan.
  • 38.
     Versi pendek,tak boleh meniadakan:  [a] pengakuan dosa dan penerimaan pelunasan dosa,  [b] pernyataan sesal dan tobat,  [c] absolusi,  [d] pengutusan.  Versi dalam bahaya kematian: “Saya membebaskanmu dari dosa-dosamu dalam nama (+) Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin”.
  • 39.
    Ritus 2  Inimerupakan cara baru yang mengajak peniten untuk melakukan persiapan bersama, namun kemudian dapat diteruskan dengan pengakuan pribadi. Meskipun baru, tata cara ini mirip dengan tradisi Gereja perdana.  Pola Ritus II ini mengedepankan pentingnya pewartaan Sabda, maka lebih kelihatan sebagai Liturgi Sabda.
  • 40.
     Struktur ritus: [a] ritus pembuka: nyanyian, salam, doa imam,  [b] perayaan Sabda: bacaan pertama, mazmur tanggapan, bacaan kedua, bait pengantar Injil, bacaan Injil, homili, pemeriksaan batin,  [c] ritus rekonsiliasi: doa pengakuan bersama (mis. “Saya mengaku…”), litani/doa jemaat mohon pengampunan, doa Bapa kami, pengakuan dan absolusi pribadi, seruan pujian bagi Allah, doa syukur penutup,  [d] ritus penutup: berkat, pengutusan.
  • 41.
    Ritus 3  Iniritus yang sama sekali baru. Ada tiga versi: lengkap, pendek, dan darurat. Ritus ini baru berlaku untuk saat-saat khusus yang tidak lazim atau keadaan memaksa, dan diselenggarakan dengan seizin uskup setempat. (OP 31-32).
  • 42.
     Misalnya, [a] sedangdalam bahaya maut dan tidak terdapat cukup waktu dan imam untuk mendengarkan pengakuan perorangan (saat perang, kebakaran, atau bencana alam), atau [b] karena jumlah peniten yang banyak sementara jumlah imam dan waktu yang ada tidak memadai untuk mendengarkan pengakuan perorangan (saat peziarahan atau menjelang masa-masa pesta liturgis/menjelang Paskah/Natal).  Secara struktural ritus ini tak berbeda dari ritus sebelumnya (Ritus II), kecuali pada bagian penutupnya.
  • 43.
     Struktur ritus: [a]ritus pembuka: nyanyian, salam, doa imam, [b] perayaan Sabda: bacaan pertama, mazmur tanggapan, bacaan kedua, bait pengantar Injil, bacaan Injil, homili, instruksi, pemeriksaan batin, [c] ritus rekonsiliasi: doa pengakuan bersama (mis. “Saya mengaku…”) sambil berlutut, litani/doa jemaat mohon pengampunan, doa Bapa kami, pengakuan bersama, absolusi umum, [d] seruan pujian bagi Allah dan penutup: nyanyian, berkat, pengutusan.
  • 44.
     Versi pendek: [a]bacaan singkat, [b] instruksi, [c] pengakuan bersama (“Saya mengaku”), [d] absolusi umum.  Versi darurat bahaya kematian: “Saya melepaskanmu dari segala dosa: demi nama (+) Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus.”  Yang masih berdosa berat kendati sudah menerima absolusi umum tetap harus mengakukan dosa beratnya pada pengakuan pribadi setelah rekonsiliasi bersama itu.
  • 46.
     Pelayan sakramen: Yangboleh menerima pengakuan adalah imam (berkat tahbisan suci) dan mempunyai yurisdiksi (kewenangan legal). Yurisdiksi penitensial itulah yang menyebabkan validitas pelayanannya dan absolusinya.  Imam sebagai pelayan Gereja adalah sekaligus hakim dan tabib, pelayan keadilan dan belas kasih Allah .
  • 47.
     Hakim  Tabib Pelayan Kerahiman Ilahi  Pelayan Keadilan Ilahi  Ia terikat pada rahasia sakramental, tidak boleh membocorkan rahasia pengakuan (KHK kan. 983). Pelanggaran hukum ini dapat mengakibatkan imam diekskomunikasi.
  • 48.
     Nasihat-nasihatnya hendaklahbersifat membebaskan (liberatif) dan memulihkan (kuratif), bukan mengutuk dan memojokkan.  Kualitas yang diharapkan: kebaikan hati (goodness), pengetahuan (knowledge), dan kebijaksanaan (prudence).  Keutamaan lain: sabar (terhadap siapa pun dan apa pun dosanya), rendah hati (belum tentu pelayan lebih baik daripada penitennya), murni hati (selalu menjaga diri dengan olah spiritual), dsb.
  • 49.
     Tugas dankewajiban: [a] siap menerima kapan pun bila ada yang mau mengaku dosa dan terikat mendengarkan pengakuan, [b] tampil sebagai hakim spiritual yang bijaksana, [c] melepaskan dosa-dosa melalui absolusi yang resmi, [d] bahkan dapat juga menolak atau menunda memberi absolusi jika peniten belum layak menerimanya,
  • 50.
    [e] sebagai tabib/dokter/penyembuhdan bapa spiritual ia menyelidiki penyebab dosa itu dan memberikan “obat” untuk menyembuhkannya, [f] jika salah (dalam hal nasihat kepada peniten) ia harus juga meralat kesalahannya menyangkut keabsahan sakramentalnya.  Beberapa kewenangan dan aturan lainnya terdapat dalam Kitab Hukum Kanonik (kan. 965-986).  Imam mengenakan busana liturgis yang sesuai atau yang ditetapkan oleh Odinaris Wilayah (OP 14).
  • 51.
     Yang bolehmengaku dosa dalam sakramen ini adalah orang beriman kristiani (sesuai KHK: orang Katolik) yang menyesali dosa dan berniat memperbaiki diri, bertobat kembali kepada Allah (KHK kan. 987).  Ia bebas memilih imam kepada siapa hendak mengaku dosa. Dapat juga ia mengaku dengan pendamping seorang penerjemah yang dijamin dapat menjaga kerahasiaan dan tak akan ada penyalahgunaan dan sandungan lainnya (KHK kan. 990).
  • 52.
     Disposisi yangdiharapkan dari peniten dan menentukan keutuhan dan kesempurnaan penghapusan dosanya adalah [a] rasa penyesalan, [b] pengakuan dosa, dan [c] penerimaan penitensi/silih/denda/satisfactio dan memenuhi atau melaksanakannya..  Kewajiban: Jika umat ingin bertobat maka ia wajib mengakukan dosa berat dan ringan dengan dasar rasa sesal-tobat yang sungguh, minimal setahun satu kali (sesuai perhitungan tahun biasa, atau tahun liturgis: mulai dari Adven atau Paskah).
  • 53.
    Saat simbolis terpentingadalah ketika imam menumpangkan tangan (sekurangnya tangan kanan saja) di atas kepala peniten selama mengucapkan formula absolusi. Tata gerak yang telah berabad-abad ini seolah menjadi satu- satunya simbol yang ada dalam sakramen ini. Alangkah baiknya jika simbolisme ini juga dapat dilihat oleh umat lain, tak hanya si peniten.
  • 55.
    Yang paling banyakdipraktekkan di gereja- gereja di seluruh dunia adalah Ritus I, pengakuan dan absolusi pribadi/perorangan. Idealnya Ritus I ini dapat dilaksanakan dalam konteks bimbingan rohani yang tidak terlalu terikat waktu. Sehingga baik pelayan maupun peniten dapat sungguh menghayati “perannya” dan “menikmatinya”.
  • 56.
     Ritus IImemang lebih kaya isinya dan bisa lebih efektif dalam pelaksanaannya. Beberapa kesulitan: [1] ketersediaan jumlah imam yang mencukupi untuk sejumlah umat yang mau mengaku dosa perorangan, [2] biasanya sulit untuk bisa mengumpulkan umat kembali setelah pengakuan pribadi itu dan bersama-sama menyerukan pujian syukur atas kerahiman Allah dan menutup perayaan tobat kolektif itu, [3] adanya “saat kosong” bagi mereka yang menunggu saat pujian syukur bersama dan penutupan ibadat, selama orang-orang sedang mengaku dosa pribadi.
  • 57.
    Secara teologis danliturgis Ritus III ini sudah mencitrakan suatu ibadat jemaat, bercorak umum/bersama. Sayangnya, pelaksanannya sangat tergantung pada izin uskup diosis, yang berpegang pada beberapa persyaratan yang ada. Peraturan yang terasa agak “kaku” itu dianggap sebagai bentuk ketakutan jika saja praktek pengakuan perorangan malah ditinggalkan. Benarkah akan begitu?
  • 59.
    Tidak tahu maknadan tujuannya Malu Takut Mengkambinghitamkan yang lain Melepaskan tanggungjawab DLL