Ekaristi: Realitas yang lebih luas dan rumit 
 teologis (theologia prima [Misa, adorasi, 
prosesi, visitasi, simbol sakramental roti-anggur] 
– theologia secunda [teologi biblis, 
dogmatis, liturgis]) 
Misa: Perayaannya  liturgis (theologia 
prima), aspek kurban – pengutusan (missio)
1. Tindakan: antropologis  unsur 
ketubuhan – indera, jiwa – raga, 
reseptivitas dan peralatan imajinasi-admirasi, 
participatio actuosa et 
plena 
2. Bersama: eklesiologis  bukan 
individual; satu tubuh, satu Gereja; 
tradisi apostolis – gerejawi
3. Suci: teologis  peristiwa ilahi-manusiawi, 
pertemuan surgawi – 
duniawi, glorifikasi – santifikasi, 
anamnesis – misteri Paskah 
4. Simbolis: estetika  ekspresi artistik 
dan kultural, tanda-tanda 
lahiriah/alamiah, nobilia simpliciter 
5. Resmi: yuridis  menjaga keutuhan 
dan kesatuan, unitas – universalitas, lex 
credendi – lex orandi, buku editio typica
DINAMIKA MENUJU PUNCAK PERAYAAN EKARISTI 
1 2 3
1. Sikap peraya (liturgos: imam-umat): 
Imam sering hanya melihat dari 
perspektif pastoral, kurang 
menekankan sisi liturgis dan 
spiritualnya. Atau sengaja diabaikan 
karena kurang pengetahuan dan 
keyakinan diri? Problem personal? 
Masalah cara berkomunikasi atau 
manajemen pastoral?
Sikap umat: 
1] Umat merasa lebih tahu, 
pastornya malah dianggap 
kurang paham dan dikritik; 
2] Umat bingung, bertanya, 
atau mengeluh. Pastor tidak 
menjawab, ikut bingung, atau 
malah ada yang marah; 
3] Umat tak tahu apa-apa, tak 
peduli apa yang terjadi.
2. Keberagaman dan keajegan 
dalam Misa: 
Spiritualitas Misa bersumber dari 
keberagaman dan keajegan (variety 
and constancy). Struktur utama tetap 
sama. Pengulangan memperdalam 
hidup spiritual. Ada unsur keteguhan 
dan kesetiaan menuju kedalaman.
Ada problem: keberagaman atau 
keajegan ?  Misa membosankan 
bagi yang suka mencari variasi dalam 
hidupnya (Misa – entertainment). 
Sebaliknya, seringnya variasi dan 
perubahan akan membingungkan 
bagi yang suka hidup teratur dan 
terukur (Misa – meditasi).
Misa memang seharusnya 
mengikuti buku liturgis 
resmi. Sengaja dilakukan, 
direncanakan, dan bersifat 
spiritual, tapi terbuka pada 
hal-hal yang tak terduga, 
yakni Allah yang hadir.
Kelemahan manusiawi tak 
mengurangi sifat ilahi Misa. 
Umat mengikuti Misa dengan 
kemurnian hati dan semangat 
kasih, maka akan bisa 
bertemu dengan Allah.
Aneka Dokumen Gereja sudah 
sangat komprehensif, seolah tak 
perlu lagi kebijakan pastoral lokal 
yang khusus. Tapi masih banyak 
juga pertimbangan lain dibuat di 
tingkat lokal.
1. Dokumen-dokumen: 
Missale Romanum (+ Institutio 
Generalis Missalis Romani, Ordo 
Missae, 2002), Ordo Lectionum 
Missae (1969, 1981), 
Caeremoniale Episcoporum 
(1984), Redemptionis 
Sacramentum (2004), dsb.
Reaksi: Tak mudah bagi setiap 
peraya untuk menguasai dan 
mengelola semua informasi; 
dikagumi oleh pihak luar/dalam 
Gereja Katolik; dianggap 
menghalangi spontanitas doa; dasar 
sejati bagi doa yang otentik; tak 
dapat memahami kesalehan Gereja 
bila tak kenali legislasi liturgis.
Misa bukan taat buta pada rubrik. Rubrik akan 
melayani Misa ketika peraya menghidupkan 
rubrik dengan niat baik, kecintaan, 
kesungguhan. 
Buku liturgis tidak dan tidak dapat meramalkan 
apa yang akan terjadi dalam Misa. Sejak 
berevolusi dari buku panduan untuk para 
uskup, untuk imam dan umat. Ada jurang 
antara buku yang dulu dengan kebutuhan 
sekarang, maka disajikan kemungkinan 
akomodasi dan adaptasi. Setiap Misa 
merupakan pertemuan segar dengan kehadiran 
Allah yang tak berubah.
2. Variasi lokal: 
Keuskupan dapat menyusun 
pedoman khusus utk aspek 
tertentu dari Misa (: cara komuni 
dua rupa, pilihan teks, nyanyian, 
arsitektur)
3. Teologi liturgis: 
Liturgi tidak boleh tampil kering dan melulu 
intelektual (verbalisme!). 
Contoh tanda-tanda yang perlu digunakan 
secara ekspresif: 
1. Makna tindakan dan tanda berdasarkan 
sumber biblis (PUMR 391); 
2. Bangunan sungguh pantas dan indah, 
menjadi tanda dan simbol realitas surgawi 
(288)
3. Busana = tanda yang membedakan tugas dan 
fungsi setiap pelayan (335) 
4. Dialog dan aklamasi = bukan hanya tanda 
perayaan bersama, tapi juga mendorong dan 
mengantar kepada kesatuan antara imam dan 
umat (34) 
5. Menyanyi = tanda hati yang bersukacita (39) 
6. Pemakluman Injil = umat memandang ke 
mimbar/pembaca sebagai tanda hormat 
kepada Injil Kristus (133) 
7. Kurban Salib dihadirkan kembali dalam rupa 
tanda sakramental (296)
Tanda-tanda itu memelihara, 
menguatkan, dan mengungkapkan iman. 
Secara efektif mendorong partisipasi 
sadar, aktif, dan berbuah (20). 
Perlu kesejatian tanda/simbolisme yang 
dicerap oleh indra manusia: terlihat 
(rupa/bentuk), terdengar (suara: 
manusia/musik/alam), tercium (aroma), 
terasa (makanan, air).
4. Contoh historis: 
Ada petunjuk resmi untuk 
imam/diakon/akolit/lektor, tapi tak 
ada untuk misdinar. Maka dibuat 
sendiri-sendiri oleh Gereja lokal 
dan diberlakukan turun temurun 
(pedoman yang berbeda-beda 
dibuat paroki/keuskupan/penulis).
 Tata gerak/sikap tubuh imam ketika 
memimpin tak lagi sama dengan Misa 
Tridentin. Tapi masih ada imam yang 
melakukannya, meski tanpa kesalehan 
pribadi (tanda salib berlebihan, 
absolusi, tata gerak dialog prefasi; dsb). 
 Tata gerak umat juga (tanda salib 
dengan cium jempol, menyembah 
waktu elevasi, air suci keluar gereja) 
turun temurun.
5. Pengaruh biblis: 
Negatif: duduk di belakang (seperti 
orang berdosa yang berbeda dengan 
orang Farisi, Lk 18:13), 
penyesuaian/adaptasi adalah 
wewenang KWI, tapi dilakukan imam 
sendiri di paroki/komunitasnya 
(rasionalisasi dr sikap Yesus yang 
membebaskan, Lk 4:18)
Positif: Yesus menarik perhatian 
para murid dan pendengarnya 
dengan menggunakan unsur-unsur 
biasa secara dramatis 
(memberi makan ribuan orang 
dengan roti dan ikan, Yoh 6:11; 
mengubah air jadi anggur, Yoh 
2:6).
6. Kepekaan kultural: 
Musik, ritual, lingkungan, busana, 
bejana. 
7. Kesopanan dan akal sehat: 
Lilin mati dinyalakan lagi, prodiakon 
cuci tangan sebelum membagi 
komuni, membungkuk di depan 
imam setiap mau bertugas.
1. Makna dan Tujuan 
Makna: Ekaristi sebagai perayaan liturgis 
adalah juga seni mengungkapkan iman 
dan menghadirkan yang ilahi melalui 
aneka teks, simbol, dan ritual. Semua 
peraya adalah aktor yang dituntut untuk 
mampu memainkan peran masing-masing.
Tujuan: Terciptanya partisipasi 
umat beriman (awam dan 
klerus) dalam arti sedalam-dalamnya 
dan seluas-luasnya 
untuk mencapai penghayatan 
Ekaristi sebagai sumber dan 
puncak hidup kristiani.
2.Memimpin dalam Misa 
Imam adalah pemimpin (presider) 
dalam Ritus Pembuka  
mengantar masuk, dalam Liturgi 
Sabda dan Liturgi Ekaristi  
memimpin dua bagian utama yang 
merupakan kesatuan hakiki; dan 
dalam Ritus Penutup  mengantar 
keluar.
Sebelum Misa: 
Pentingnya jemaat: Populo congregatus 
(setelah jemaat berkumpul, OM 1/ IGMR 47, 
120) – dulu Sacerdos paratus (setelah imam 
siap)  LG 9-17: Gereja = Umat Allah, maka 
Misa pun dengan umat yang berkumpul. 
Kristus juga hadir di tengah jemaat (IGMR 27, 
SC 7). Tugas jemaat: menjadi umat kudus, 
mengucap syukur dan mempersembahkan 
kurban bersama imam, saling berbagi kasih 
pada sesama. Sebelum datang, sempatkan 
baca Kitab Suci (OLM 48) dan doa berdasarkan 
bacaan Misa itu.
Saat tiba di gereja: 
 Tanda kumpul (lonceng), tidak telat 
(aturannya? Paling tidak waktu 
persiapan persembahan? Pokoknya 
hadir sejak awal), saling menyapa/beri 
salam (hospitalitas), ambil air suci (CE 
110), berdoa/devosi/amal. 
 Duduk dan fasilitas lainnya: ruang umat 
dan kursinya (+ ruang anak kecil,), panti 
imam dan perabotnya (altar, ambo, kursi 
pemimpin).
 Hal-hal lain yang diperlukan: Buku, 
busana, peranti, kredens, lilin, salib, 
tabernakel, bunga, gambar/patung 
devosional, monitor/tv, sound-system. 
 Persiapan di sakristi: imam dan para 
petugas (cek-ricek kesiapan 
peralatan/petugas, berdandan, 
berdoa).
Ritus Pembuka 
Makna: 
Rangkaian ritus ini dimaksudkan 
untuk mempersatukan umat yang 
berhimpun dan mempersiapkan 
mereka, supaya dapat 
mendengarkan sabda Allah dengan 
penuh perhatian dan merayakan 
Ekaristi dengan layak.
Beberapa masalah: 
Perarakan masuk (nyanyian, susunan 
prosesi, penghormatan 
altar/tabernakel); tanda Salib (cara), 
salam (profan), pengantar (isi, durasi, 
intensi?), ritus tobat (cara: Kyrie- 
Gloria, teks tradisional, percikan), doa 
pembuka (doksologinya).
Liturgi Sabda 
Makna: 
Dalam bacaan, yang diuraikan dalam homili, 
Allah sendiri bersabda kepada umat-Nya. Di situ 
Allah menyingkapkan misteri penebusan dan 
keselamatan serta memberikan makanan rohani. 
Lewat sabda-Nya, Kristus sendiri hadir di tengah-tengah 
umat beriman. Sabda Allah itu diresapkan 
oleh umat dalam keheningan dan nyanyian, dan 
diimani dalam syahadat. Setelah dikuatkan 
dengan sabda, umat memanjatkan permohonan-permohonan 
dalam doa umat untuk keperluan 
seluruh Gereja dan keselamatan seluruh dunia.
Beberapa masalah: 
Pembacaan (buku liturgis, teks 
umat, sikap tubuh), nyanyian (cara 
dan sumber: mazmur tanggapan 
dan bait pengantar Injil), homili 
(durasi, cara, siapa), syahadat 
(pilihan), doa umat (ajakan, rumus 
petisi ”Ya Bapa…”).
Liturgi Ekaristi 
Makna: 
Dalam perjamuan malam terakhir, Kristus 
menetapkan kurban dan perjamuan 
Paskah yang terus-menerus menghadirkan 
kurban salib dalam Gereja. Hal ini terjadi 
setiap kali imam, dalam nama Kristus 
Tuhan, melakukan perayaan yang sama 
seperti yang dilakukan oleh Tuhan sendiri 
dan Dia wariskan kepada murid-murid-Nya 
sebagai kenangan akan Dia.
Beberapa masalah: 
Perarakan persembahan (apa, siapa, 
berkat), menghunjukkan persembahan 
(bersamaan/satu per satu, persembahanku-persembahanmu), 
Doa Syukur Agung 
(pilihan, prefasi selebran, penambahan non 
misa ritual, nama administrator dioses, 
penyisipan adorasi), Bapa Kami (lagu, teks), 
pemecahan roti (lagu), salam damai 
(meninggalkan altar), komuni (awam buka 
tabernakel, tangan/lidah, nyanyian umat, 
doa setelah komuni/novena?).
Ritus Penutup 
Makna: 
Dalam bagian akhir Misa ini umat diutus 
untuk mewartakan kabar gembira kepada 
sesama dan seluruh ciptaan di tengah 
dunia nyata, setelah mereka mengalami 
sendiri pertemuan dengan Tuhan dan 
dipersatukan dengan Tubuh-Nya. 
Beberapa masalah: 
Pengumuman (kebanyakan), berkat 
(pilihan), pengutusan (rumus), perarakan.
3. Memimpin Umat 
 Pasca Konsili Vatikan II  Misa Romawi = 
bukan Misa-nya Romo, tapi Misa umat 
beriman, partisipasi terbuka luas. 
 Sejauh mana umat memahami itu? 
Teologi yang sulit atau tak pernah 
diajarkan ke umat? 
 Kenyataannya, umat masih terasa hidup 
dalam praktek Misa masa lalu (apalagi 
mulai digalakkan lagi Misa Tridentin). 
Kebiasaan lama sulit ditinggalkan.
 Beberapa saran fokus perhatian 
untuk ”membina peran partisipatif 
umat dan imam”: 
1. Mendorong dan membantu umat 
untuk mau menyanyi dalam Misa. Perlu 
nyanyian yang bagus, bermutu, 
mendidik iman dan menyegarkan 
rohani. Mentalitas yang sesuai dan tak 
mencari hiburan (entertainment). 
Mengutamakan keindahan perayaan.
2.Memaklumkan (proclamatio) dan 
mewartakan Kitab Suci yang 
menarik minat umat untuk sampai 
pada tingkat yang lebih mendalam. 
Umat mau mendengarkan Sabda 
dan mengalami peristiwa Sabda itu. 
Mereka mengharapkan imam dapat 
memenuhinya.
3.Memperbarui tata gerak, khususnya 
dalam Doa Syukur Agung, untuk 
mendorong peran aktif umat. 
Menghayati teks-teks interaktif 
(dialog, aklamasi) dan sikap tubuh 
(tata gerak, kontak mata) yang penuh 
penjiwaan. Mens concordet voci = 
jiwa/budi/hati menyatu dengan 
kata/suara/gerak.
4.Mengingatkan perlunya rasa 
memiliki umat terhadap Gereja dan 
menyadari identitas kristianinya. 
Kekayaan Gereja (ajaran, tradisi, 
simbol, buku liturgis/rubrik) 
disampaikan kepada umat untuk 
menumbuhkan kebanggaan sebagai 
anggota Gereja. Perlu pemahaman 
yang memadai.
5.Menggalakkan kebersatuan dan 
kebersamaan yang hangat dan 
bersahabat, menyambut 
keanekaragaman warga dan orang 
asing dari luar komunitas. Tidak 
datang terlambat dan ikut 
menciptakan suasana kondusif. 
Berliturgi dengan ”tersenyum” !
Ekaristi yang liturgis

Ekaristi yang liturgis

  • 3.
    Ekaristi: Realitas yanglebih luas dan rumit  teologis (theologia prima [Misa, adorasi, prosesi, visitasi, simbol sakramental roti-anggur] – theologia secunda [teologi biblis, dogmatis, liturgis]) Misa: Perayaannya  liturgis (theologia prima), aspek kurban – pengutusan (missio)
  • 4.
    1. Tindakan: antropologis unsur ketubuhan – indera, jiwa – raga, reseptivitas dan peralatan imajinasi-admirasi, participatio actuosa et plena 2. Bersama: eklesiologis  bukan individual; satu tubuh, satu Gereja; tradisi apostolis – gerejawi
  • 5.
    3. Suci: teologis peristiwa ilahi-manusiawi, pertemuan surgawi – duniawi, glorifikasi – santifikasi, anamnesis – misteri Paskah 4. Simbolis: estetika  ekspresi artistik dan kultural, tanda-tanda lahiriah/alamiah, nobilia simpliciter 5. Resmi: yuridis  menjaga keutuhan dan kesatuan, unitas – universalitas, lex credendi – lex orandi, buku editio typica
  • 6.
    DINAMIKA MENUJU PUNCAKPERAYAAN EKARISTI 1 2 3
  • 7.
    1. Sikap peraya(liturgos: imam-umat): Imam sering hanya melihat dari perspektif pastoral, kurang menekankan sisi liturgis dan spiritualnya. Atau sengaja diabaikan karena kurang pengetahuan dan keyakinan diri? Problem personal? Masalah cara berkomunikasi atau manajemen pastoral?
  • 8.
    Sikap umat: 1]Umat merasa lebih tahu, pastornya malah dianggap kurang paham dan dikritik; 2] Umat bingung, bertanya, atau mengeluh. Pastor tidak menjawab, ikut bingung, atau malah ada yang marah; 3] Umat tak tahu apa-apa, tak peduli apa yang terjadi.
  • 9.
    2. Keberagaman dankeajegan dalam Misa: Spiritualitas Misa bersumber dari keberagaman dan keajegan (variety and constancy). Struktur utama tetap sama. Pengulangan memperdalam hidup spiritual. Ada unsur keteguhan dan kesetiaan menuju kedalaman.
  • 10.
    Ada problem: keberagamanatau keajegan ?  Misa membosankan bagi yang suka mencari variasi dalam hidupnya (Misa – entertainment). Sebaliknya, seringnya variasi dan perubahan akan membingungkan bagi yang suka hidup teratur dan terukur (Misa – meditasi).
  • 11.
    Misa memang seharusnya mengikuti buku liturgis resmi. Sengaja dilakukan, direncanakan, dan bersifat spiritual, tapi terbuka pada hal-hal yang tak terduga, yakni Allah yang hadir.
  • 12.
    Kelemahan manusiawi tak mengurangi sifat ilahi Misa. Umat mengikuti Misa dengan kemurnian hati dan semangat kasih, maka akan bisa bertemu dengan Allah.
  • 13.
    Aneka Dokumen Gerejasudah sangat komprehensif, seolah tak perlu lagi kebijakan pastoral lokal yang khusus. Tapi masih banyak juga pertimbangan lain dibuat di tingkat lokal.
  • 14.
    1. Dokumen-dokumen: MissaleRomanum (+ Institutio Generalis Missalis Romani, Ordo Missae, 2002), Ordo Lectionum Missae (1969, 1981), Caeremoniale Episcoporum (1984), Redemptionis Sacramentum (2004), dsb.
  • 15.
    Reaksi: Tak mudahbagi setiap peraya untuk menguasai dan mengelola semua informasi; dikagumi oleh pihak luar/dalam Gereja Katolik; dianggap menghalangi spontanitas doa; dasar sejati bagi doa yang otentik; tak dapat memahami kesalehan Gereja bila tak kenali legislasi liturgis.
  • 16.
    Misa bukan taatbuta pada rubrik. Rubrik akan melayani Misa ketika peraya menghidupkan rubrik dengan niat baik, kecintaan, kesungguhan. Buku liturgis tidak dan tidak dapat meramalkan apa yang akan terjadi dalam Misa. Sejak berevolusi dari buku panduan untuk para uskup, untuk imam dan umat. Ada jurang antara buku yang dulu dengan kebutuhan sekarang, maka disajikan kemungkinan akomodasi dan adaptasi. Setiap Misa merupakan pertemuan segar dengan kehadiran Allah yang tak berubah.
  • 17.
    2. Variasi lokal: Keuskupan dapat menyusun pedoman khusus utk aspek tertentu dari Misa (: cara komuni dua rupa, pilihan teks, nyanyian, arsitektur)
  • 18.
    3. Teologi liturgis: Liturgi tidak boleh tampil kering dan melulu intelektual (verbalisme!). Contoh tanda-tanda yang perlu digunakan secara ekspresif: 1. Makna tindakan dan tanda berdasarkan sumber biblis (PUMR 391); 2. Bangunan sungguh pantas dan indah, menjadi tanda dan simbol realitas surgawi (288)
  • 19.
    3. Busana =tanda yang membedakan tugas dan fungsi setiap pelayan (335) 4. Dialog dan aklamasi = bukan hanya tanda perayaan bersama, tapi juga mendorong dan mengantar kepada kesatuan antara imam dan umat (34) 5. Menyanyi = tanda hati yang bersukacita (39) 6. Pemakluman Injil = umat memandang ke mimbar/pembaca sebagai tanda hormat kepada Injil Kristus (133) 7. Kurban Salib dihadirkan kembali dalam rupa tanda sakramental (296)
  • 20.
    Tanda-tanda itu memelihara, menguatkan, dan mengungkapkan iman. Secara efektif mendorong partisipasi sadar, aktif, dan berbuah (20). Perlu kesejatian tanda/simbolisme yang dicerap oleh indra manusia: terlihat (rupa/bentuk), terdengar (suara: manusia/musik/alam), tercium (aroma), terasa (makanan, air).
  • 21.
    4. Contoh historis: Ada petunjuk resmi untuk imam/diakon/akolit/lektor, tapi tak ada untuk misdinar. Maka dibuat sendiri-sendiri oleh Gereja lokal dan diberlakukan turun temurun (pedoman yang berbeda-beda dibuat paroki/keuskupan/penulis).
  • 22.
     Tata gerak/sikaptubuh imam ketika memimpin tak lagi sama dengan Misa Tridentin. Tapi masih ada imam yang melakukannya, meski tanpa kesalehan pribadi (tanda salib berlebihan, absolusi, tata gerak dialog prefasi; dsb).  Tata gerak umat juga (tanda salib dengan cium jempol, menyembah waktu elevasi, air suci keluar gereja) turun temurun.
  • 23.
    5. Pengaruh biblis: Negatif: duduk di belakang (seperti orang berdosa yang berbeda dengan orang Farisi, Lk 18:13), penyesuaian/adaptasi adalah wewenang KWI, tapi dilakukan imam sendiri di paroki/komunitasnya (rasionalisasi dr sikap Yesus yang membebaskan, Lk 4:18)
  • 24.
    Positif: Yesus menarikperhatian para murid dan pendengarnya dengan menggunakan unsur-unsur biasa secara dramatis (memberi makan ribuan orang dengan roti dan ikan, Yoh 6:11; mengubah air jadi anggur, Yoh 2:6).
  • 25.
    6. Kepekaan kultural: Musik, ritual, lingkungan, busana, bejana. 7. Kesopanan dan akal sehat: Lilin mati dinyalakan lagi, prodiakon cuci tangan sebelum membagi komuni, membungkuk di depan imam setiap mau bertugas.
  • 26.
    1. Makna danTujuan Makna: Ekaristi sebagai perayaan liturgis adalah juga seni mengungkapkan iman dan menghadirkan yang ilahi melalui aneka teks, simbol, dan ritual. Semua peraya adalah aktor yang dituntut untuk mampu memainkan peran masing-masing.
  • 27.
    Tujuan: Terciptanya partisipasi umat beriman (awam dan klerus) dalam arti sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya untuk mencapai penghayatan Ekaristi sebagai sumber dan puncak hidup kristiani.
  • 28.
    2.Memimpin dalam Misa Imam adalah pemimpin (presider) dalam Ritus Pembuka  mengantar masuk, dalam Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi  memimpin dua bagian utama yang merupakan kesatuan hakiki; dan dalam Ritus Penutup  mengantar keluar.
  • 29.
    Sebelum Misa: Pentingnyajemaat: Populo congregatus (setelah jemaat berkumpul, OM 1/ IGMR 47, 120) – dulu Sacerdos paratus (setelah imam siap)  LG 9-17: Gereja = Umat Allah, maka Misa pun dengan umat yang berkumpul. Kristus juga hadir di tengah jemaat (IGMR 27, SC 7). Tugas jemaat: menjadi umat kudus, mengucap syukur dan mempersembahkan kurban bersama imam, saling berbagi kasih pada sesama. Sebelum datang, sempatkan baca Kitab Suci (OLM 48) dan doa berdasarkan bacaan Misa itu.
  • 30.
    Saat tiba digereja:  Tanda kumpul (lonceng), tidak telat (aturannya? Paling tidak waktu persiapan persembahan? Pokoknya hadir sejak awal), saling menyapa/beri salam (hospitalitas), ambil air suci (CE 110), berdoa/devosi/amal.  Duduk dan fasilitas lainnya: ruang umat dan kursinya (+ ruang anak kecil,), panti imam dan perabotnya (altar, ambo, kursi pemimpin).
  • 31.
     Hal-hal lainyang diperlukan: Buku, busana, peranti, kredens, lilin, salib, tabernakel, bunga, gambar/patung devosional, monitor/tv, sound-system.  Persiapan di sakristi: imam dan para petugas (cek-ricek kesiapan peralatan/petugas, berdandan, berdoa).
  • 32.
    Ritus Pembuka Makna: Rangkaian ritus ini dimaksudkan untuk mempersatukan umat yang berhimpun dan mempersiapkan mereka, supaya dapat mendengarkan sabda Allah dengan penuh perhatian dan merayakan Ekaristi dengan layak.
  • 33.
    Beberapa masalah: Perarakanmasuk (nyanyian, susunan prosesi, penghormatan altar/tabernakel); tanda Salib (cara), salam (profan), pengantar (isi, durasi, intensi?), ritus tobat (cara: Kyrie- Gloria, teks tradisional, percikan), doa pembuka (doksologinya).
  • 34.
    Liturgi Sabda Makna: Dalam bacaan, yang diuraikan dalam homili, Allah sendiri bersabda kepada umat-Nya. Di situ Allah menyingkapkan misteri penebusan dan keselamatan serta memberikan makanan rohani. Lewat sabda-Nya, Kristus sendiri hadir di tengah-tengah umat beriman. Sabda Allah itu diresapkan oleh umat dalam keheningan dan nyanyian, dan diimani dalam syahadat. Setelah dikuatkan dengan sabda, umat memanjatkan permohonan-permohonan dalam doa umat untuk keperluan seluruh Gereja dan keselamatan seluruh dunia.
  • 35.
    Beberapa masalah: Pembacaan(buku liturgis, teks umat, sikap tubuh), nyanyian (cara dan sumber: mazmur tanggapan dan bait pengantar Injil), homili (durasi, cara, siapa), syahadat (pilihan), doa umat (ajakan, rumus petisi ”Ya Bapa…”).
  • 36.
    Liturgi Ekaristi Makna: Dalam perjamuan malam terakhir, Kristus menetapkan kurban dan perjamuan Paskah yang terus-menerus menghadirkan kurban salib dalam Gereja. Hal ini terjadi setiap kali imam, dalam nama Kristus Tuhan, melakukan perayaan yang sama seperti yang dilakukan oleh Tuhan sendiri dan Dia wariskan kepada murid-murid-Nya sebagai kenangan akan Dia.
  • 37.
    Beberapa masalah: Perarakanpersembahan (apa, siapa, berkat), menghunjukkan persembahan (bersamaan/satu per satu, persembahanku-persembahanmu), Doa Syukur Agung (pilihan, prefasi selebran, penambahan non misa ritual, nama administrator dioses, penyisipan adorasi), Bapa Kami (lagu, teks), pemecahan roti (lagu), salam damai (meninggalkan altar), komuni (awam buka tabernakel, tangan/lidah, nyanyian umat, doa setelah komuni/novena?).
  • 38.
    Ritus Penutup Makna: Dalam bagian akhir Misa ini umat diutus untuk mewartakan kabar gembira kepada sesama dan seluruh ciptaan di tengah dunia nyata, setelah mereka mengalami sendiri pertemuan dengan Tuhan dan dipersatukan dengan Tubuh-Nya. Beberapa masalah: Pengumuman (kebanyakan), berkat (pilihan), pengutusan (rumus), perarakan.
  • 39.
    3. Memimpin Umat  Pasca Konsili Vatikan II  Misa Romawi = bukan Misa-nya Romo, tapi Misa umat beriman, partisipasi terbuka luas.  Sejauh mana umat memahami itu? Teologi yang sulit atau tak pernah diajarkan ke umat?  Kenyataannya, umat masih terasa hidup dalam praktek Misa masa lalu (apalagi mulai digalakkan lagi Misa Tridentin). Kebiasaan lama sulit ditinggalkan.
  • 40.
     Beberapa saranfokus perhatian untuk ”membina peran partisipatif umat dan imam”: 1. Mendorong dan membantu umat untuk mau menyanyi dalam Misa. Perlu nyanyian yang bagus, bermutu, mendidik iman dan menyegarkan rohani. Mentalitas yang sesuai dan tak mencari hiburan (entertainment). Mengutamakan keindahan perayaan.
  • 41.
    2.Memaklumkan (proclamatio) dan mewartakan Kitab Suci yang menarik minat umat untuk sampai pada tingkat yang lebih mendalam. Umat mau mendengarkan Sabda dan mengalami peristiwa Sabda itu. Mereka mengharapkan imam dapat memenuhinya.
  • 42.
    3.Memperbarui tata gerak,khususnya dalam Doa Syukur Agung, untuk mendorong peran aktif umat. Menghayati teks-teks interaktif (dialog, aklamasi) dan sikap tubuh (tata gerak, kontak mata) yang penuh penjiwaan. Mens concordet voci = jiwa/budi/hati menyatu dengan kata/suara/gerak.
  • 43.
    4.Mengingatkan perlunya rasa memiliki umat terhadap Gereja dan menyadari identitas kristianinya. Kekayaan Gereja (ajaran, tradisi, simbol, buku liturgis/rubrik) disampaikan kepada umat untuk menumbuhkan kebanggaan sebagai anggota Gereja. Perlu pemahaman yang memadai.
  • 44.
    5.Menggalakkan kebersatuan dan kebersamaan yang hangat dan bersahabat, menyambut keanekaragaman warga dan orang asing dari luar komunitas. Tidak datang terlambat dan ikut menciptakan suasana kondusif. Berliturgi dengan ”tersenyum” !