EVANGELII NUNTIANDI
Pewartaan Injil dalam Dunia Modern
D. Agus Goenawan
BPK PKK KEUSKUPAN BOGOR
2016
EVANGELII NUNTIANDI
 Jenis dokumen:
Imbauan Apostolik
dari Bapa Suci
 Dari:
Bapa Suci Paus Paulus VI
 Selesai ditulis:
8 Desember 1975, Vatikan
PENGANTAR
 Momentum yang dimanfaatkan :
 Ultah ke 10 Konsili Vatikan II
 Penutup Tahun Suci 1975
 Ultah pertama Sinode Para Uskup
(1974, yang secara khusus membahas
tentang penginjilan)
 EN meneguhkan pengajaran Konsili
Vatikan II tentang peranan aktif Gereja
sebagai lembaga maupun sebagai
anggota umat Allah dalam menegakkan
keadilan di dunia.
Tiga Persoalan Hangat EN
Bagaimana Kabar Gembira
yang dapat berpengaruh pada
suara hati manusia?
Bagaimana kekuatan Injil
sungguh-sungguh mampu
mengubah manusia?
Bagaimana metode pewartaan
Injil yang efektif?
Susunan EN
 Kata Pengantar
 Bab I. Dari Kristus Pewarta Injil kepada
Gereja yang Mewartakan Injil
 Bab II. Apakah Evangelisasi itu ?
 Bab III. Isi Evangelisasi
 Bab IV. Metode-metode Evangelisasi
 Bab V. Orang-orang yang mendapat
Manfaat dari Evangelisasi
 Bab VI. Pekerja-pekerja untuk Evangelisasi
 Bab VII. Semangat Evangelisasi
 Penutup
TEMA-TEMA KUNCI EN
BAB 1
DARI KRISTUS PEWARTA INJIL KEPADA
GEREJA YANG MEWARTAKAN INJIL
KRISTUS PEWARTA
INJIL
GEREJA YANG
MEWARTAKAN INJIL
1. Perutusan Yesus adalah pergi dari kota ke
kota sambil mewartakan Kabar Gembira
Allah (Luk 4:18, 43).
Seluruh segi dari misteriNya – Inkarnasi,
muji- zat -mujizat dan pengajaranNya,
berkumpul-nya dengan para rasul,
perutusan kedua-belas rasulnya, Salib dan
Kebangkitan- merupakan bagian dari
kegiatan penginjil-Nya. (#6)
2. Yesus, sebagai pewarta Injil, memaklumkan
kerajaan Allah dengan kata-kata dan
tanda-tanda. (#8,11, 12)
Intisari Bab I (1)
Intisari Bab I (2)
4. Poros dan pusat pewartaan 
penebusan
Penebusan : pembebasan dari segala
sesuatu yang menindas umat manusia,
dan pembebasan dari dosa dan
kejahatan. (#9)
5. Kerajaan dan keselamatan ini tersedia
bagi setiap orang. Untuk itu, dituntut
suatu pembaruan pikiran dan hati yang
mendalam (metanoia). (# 10)
Intisari Bab I (3)
6. Mewartakan Injil... adalah rahmat dan
pang-gilan yang tepat bagi Gereja (lihat
1Kor 9:16).
Gereja adalah pewarta Injil namun harus
dimulai dengan mewartakan Injil dalam
tubuh Gereja sendiri. (# 14, 15)
7. Gereja tak terpisahkan dari Kristus (#16)
”Barang siapa menolak kamu, ia
menolak Aku” (Luk 10:16) “
TEMA-TEMA KUNCI EN
BAB 2
APAKAH PEWARTAAN INJIL ITU ?
Intisari Bab II (1)
1. Evangelisasi :
upaya mewartakan Kristus kepada mereka
yang belum mengenalnya, berkotbah,
memberikan katakese, memberikan
Permandian dan Sakramen-sakramen
lainnya. (#17)
2. Unsur-unsur pewartaan Injil :
a. Pembaruan – membaharui dan
mengubah manusia dari dalam dan
membuatnya menjadi baru. (#18)
Intisari Bab II (2)
2. Unsur-unsur pewartaan Injil :
b. Perubahan –mempengaruhi tolok ukur
penilaian manusia, nilai-nilai, kepenting-
an, pemikiran dan pola hidupnya yang
bertentangan dengan Sabda Allah dan
rencana penyelamatan. (# 19)
c. Budaya – Evangelisasi kebudayaan
harus selalu menjadikan pribadi manusia
sebagai titik pangkalnya dan selalu kem-
bali kepada hubungan antar manusia dan
hubungan manusia dengan Allah. (# 20)
Intisari Bab II (3)
2. Unsur-unsur pewartaan Injil :
d. Kesaksian dan Pewartaan – Injil harus
dimaklumkan dengan kesaksian hidup
pribadi, baik secara implisit (#21) maupun
secara eksplisit (#22).
e. Komunitas Umat Beriman – Umat yang
mengalami perubahan karena evangelisasi
memasuki komunitas Gereja yang
merupakan tanda hidup baru. (# 23)
f. Kerasulan - orang yang telah menerima
pewartaan Injil hendaknya pula mewartakan
Injil kepada orang lain (#23)
St. Francis ...
“Preach the gospel
—if necessary, use
words”
Not quite!
Intisari Bab II (4)
3. Pewartaan Injil adalah suatu proses
kompleks dengan banyak unsur yang
saling melengkapi dan saling
memperkaya : pembaruan kemanusiaan,
kesaksian, pewartaan yang eksplisit,
ketaatan batin, masuk dalam umat,
menerima tanda-tanda, dan prakarsa
merasul.
TEMA-TEMA KUNCI EN
BAB 3
ISI PEWARTAAN INJIL
Intisari Bab III (1)
1. Penebusan – pesan utama : “dalam Yesus
Kristus, Putera Allah yang menjadi manusia,
yang wafat dan bangkit dari kematian, penebus-
an diwartakan kepada semua orang sebagai
karunia rahmat dan belaskasihan Allah.” (#27)
2. Harapan – pewartaan Injil menyangkut tentang
 kehidupan akhirat,
 harapan akan Injil yang dibuat Allah dalam
PB dalam Yesus Kristus,
 kasih Allah kepada kita dan
kasih kita kepada Allah,
Intisari Bab III (2)
2. (lanjutan …)
 misteri kejahatan dan usaha mencari
kebaikan secara aktif.
 pencarian aktif akan Allah dilakukan lewat
doa, komuni dan Sakramen2. (# 28)
3. Kehidupan Seutuhnya – Pewartaan Injil
memiliki dimensi pribadi, keluarga, dan sosial
yang mencakup hak2 dan kewajiban manusia,
kehidupan keluarga, kehidupan dlm masyarakat,
kehidupan internasional, perdamaian, keadilan,
perkembangan dan pembebasan. (# 29)
Intisari Bab III (2)
4. Pembebasan – Gereja wajib untuk mewartakan
pembebasan umat manusia (dari penindasan,
neokolonialisme, penjajahan ekonomi, ketidak
adilan, illiterasi, dan kemiskinan), membantu
lahirnya pembebasan ini.Semuanya ini bukanlah
sesuatu yang asing melainkan menyatu dengan
pewartaan Injil. (# 30)
5. Pemajuan Manusia – Rencana penebusan
meliputi karya menentang ketidakadilan. Dalam
pewartaan Injil keadilan tak dapat diabaikan.
(#31)
catatan: kita harus memasukkan semua orang
ke surga, termasuk yang tidak adil dan korup
Intisari Bab III (3)
6. Integral dan Total – Penyelamatan dan
pembebasan tidak dikurangi hanya pada
kesejahteraan materiil belaka. Dimensi spiritual
dan religious tak dapat diingkari. (# 32)
7. Pembebasan Injil – Pembebasan tak dapat
dibatasi pada ekonomi, politik, kehidupan sosial
atau budaya. Ia harus mencakup manusia secara
menyeluruh (#33).
8. Berpusat pada Kerajaan Allah –
Pewartaan Kerajaan Allah tak dapat digantikan
dengan pewartaan tentang bentuk2 pembebasan
manusia. Pewartaan keselamatan dalam Yesus
Kristus tidak dapat diabaikan. (#34)
Intisari Bab III (4)
9. Pewartaan Injil dan Pembebasan –
Pembebasan manusia dihubungkan dengan
penebusan dan Yesus. Pembebasan sejati
harus digerakkan oleh keadilan dan cinta kasih,
dan tujuan akhirnya haruslah penebusan dan
kebahagiaan dalam Allah. (# 35)
Pembebasan yang diwartakan gereja adalah
pembebasan yang diwartakan Kristus dan
diberikan kepada manusia melalui
pengorbananNya. (#39)
Intisari Bab III (5)
10. Pertobatan – Pertobatan pribadi diperlukan
dalam membangun struktur-struktur yang lebih
manusiawi, adil, menghormati hak-hak
manusia, tidak menindas dan tidak
memperbudak. (# 36)
11. Tanpa Kekerasan – Kekerasan tidak selaras
dengan pembebasan sejati. Kekerasan akan
membangkitkan kekerasan dan membawa
bentuk2 penindasan dan perbudakan baru dan
lebih berat. (#37)
12. Kebebasan beragama adalah hak asasi
manusia yang penting. (# 39)
TEMA-TEMA KUNCI EN
BAB 4
METODE-METODE PEWARTAAN INJIL
Kesaksian
hidup
KOTBAH
Media
massa
Kesalehan
Merakyat
Liturgi
Sabda
Sakramen²
Kontak
pribadi
Katekese
M
Intisari Bab IV (1)
1. Kesaksian Hidup – Sarana Pertama
pewartaan Injil adalah kesaksian hidup kristiani
yang otentik, yang diberikan kepada Allah dan
sesamanya dalam persekutuan yang tak dapat
dibinasakan oleh apapun juga. (#41)
2. Kotbah yang hidup – Sarana kedua adalah
berkotbah tentang kabar Gembira. Metode2
komunikasi modern telah dipergunakan dengan
sukses. (# 42)
3. Liturgi Sabda – Kotbah terdapat dalam Liturgi
Sabda dan merupakan kesempatan istimewa
untuk mengkomunikasikan Sabda Allah. (# 43)
Intisari Bab IV (2)
4. Katakese – Pengajarannya harus disesuaikan
dengan usia, kebudayaan, dan sikap pribadi2
yang bersangkutan; mereka harus senantiasa
menanamkan dalam ingatan, pikiran dan hati
mereka kebenaran2 yang hakiki. (# 44)
5. Media Massa – Penggunaan media massa
untuk pewartaan Injil hendaknya menjangkau
sejumlah besar orang, namun dengan
kemampuan menembus hati nurani setiap
individu. (# 45)
6. Kontak Pribadi –Dalam jangka panjang,
kontak pribadi sangat penting bagi pewartaan
Injil. (# 46)  alasan terbentuk KEP
Intisari Bab IV (3)
7. Sakramen-sakramen – Pewartaan Injil harus
menyentuh kehidupan kodrati dan adikodrati,
yang terungkap dalam tujuh sakramen.
Peranan evangelisasi ialah mendidik masing2
individu kristiani agar menghayati sakramen2
secara sejati; bukan menerimanya secara pasif
melainkan untuk menjalaninya. (# 47)
Intisari Bab IV (3)
8. Kesalehan yang Merakyat – agama rakyat ini
membuat orang2 mampu bersikap murah hati
dan rela berkorban. Orang harus peka akan
kesalehan yang merakyat, menyelaminya, dan
membantunya mengatasi penyelewengan.
Dengan demikian kesalehan yang merakyat itu
dapat menjadi suatu pertemuan sejati dengan
Allah dalam Yesus Kristus. (# 48)
TEMA-TEMA KUNCI EN
BAB 5
ORANG-ORANG YANG MENDAPATKAN
MANFAAT DARI PEWARTAAN INJIL
Setiap
orang
• hadapi
rintangan
Yang
belum
mengenal
Kristus
• seni
• ilmiah
Dunia
yang
tidak lagi
Kristiani
Agama
non
Kristen
Siapa yang mendapat manfaat?
Intisari Bab V (6)
Kepada Komunitas Basis Gerejani –
Terdapat dua macam “komunitas kecil”.
 Yang satu bekerja dengan Gereja, menuntun
orang Kristiani bersama dalam jemaat-
jemaat agar menjadi pendengar dan pewarta
Kabar Gembira.
 Kelompok lainnya mengecam Gereja dengan
sikapnya yang menolak dan mencari-cari
kesalahan.
TEMA-TEMA KUNCI EN
BAB 6
PEKERJA-PEKERJA PEWARTAAN INJIL
• Bukan tindakan perorangan
Gereja – umat Allah (#59,60)
Gereja universal (#61,62)
• Inkulturasi budaya
Gereja lokal (#63-65)
Paus, Uskup, para Imam (#67,68)
Para Pekerja Evangelisasi
Kaum Religius (#69)
Kaum Awam (#71)
Keluarga (#71)
Generasi muda (#72)
Pelayan tidak tertahbis (#73)
Para Pekerja Evangelisasi
TEMA-TEMA KUNCI EN
BAB 7
SEMANGAT PEWARTAAN INJIL
Intisari Bab VII (1)
1. Pewartaan Injil tidak akan dimungkinkan
tanpa karya Roh Kudus. Teknik2
pewartaan Injil adalah baik, tetapi mereka
tak dapat menggantikan karya Roh Kudus
yang lemah lembut. (#75)
2. Semangat menginjil harus muncul dari
kesucian hidup sejati, dan kotbah harus
membuat sang pengkotbah berkembang
dalam kesucian, yang diperkaya dengan
dan cinta akan Ekaristi. (#76)
Intisari Bab VI (2)
3. Dari setiap Pewarta Injil diharapkan suatu
kesederhanaan hidup, semangat doa, kasih
terhadap semua orang terutama kepada
mereka yang miskin dan tersingkir, ketaatan
dan kerendahan hati, sikap lepas-bebas dan
pengorbanan diri. (# 76)
4. Kesatuan di antara para pewarta Injil menjadi
bukti bahwa mereka diutus Bapa. Tanda
persatuan di antara semua orang kristiani
merupakan pula jalan dan alat evangelisasi. (#
77)
Intisari Bab V (4)
5. Pewarta Injil akan menjadi orang yang
senantiasa mencari kebenaran yang harus ia
bagikan dengan orang lain, meskipun untuk itu
ia harus menyangkal diri dan berkorban.
6. Pewarta Injil harus memiliki kasih yang semakin
besar kepada mereka yang diberi penginjilan.
Situasi keagamaan dan rohani mereka yang
mendapat penginjilan haruslah dihormati. (#79)
7. Semangat rohani diperlukan untuk menge-
sampingkan segala dalih yang menghambat
pewartaan Injil. (# 80). Jangan mencari banyak
alasan lain mengapa kita tidak berevangelisasi.
PENUTUP
Penutup
81. EN adalah Warisan Tahun Suci
82. Maria adalah Bintang Evangelisasi.
 Pada pagi hari Pantekosta, Bunda
Maria dengan doanya menyaksikan
mulainya evangelisasi yang didorong
oleh Roh Kudus.
 Bunda Maria telah dan tetap menjadi
Bintang Evangelisasi.
EN vs ME
Evangelii Nuntiandi
 Kalimat sulit dipahami,
bahasa formal dan
kering.
 Dari hirarki ke awam
 Teoritis, dasar
Teologis, Biblis dan
Eklesiologis tentang
Evangelisasi
 Ajaran Gereja, memiliki
kekuatan yang
mengikat
Misi Evangelisasi
 Kalimat mudah
dipahami dalam bahasa
sehari-hari.
 Dari awam ke awam
 Aplikatif, petunjuk2
konkrit untuk
melaksanakan
evangelisasi
 Bukan ajaran Gerea,
tidak terlalu mengikat
Selamat mewartakan
Kabar Baik …
Paus Yohanes XXIII

Evangelii Nuntiandi 2016

  • 1.
    EVANGELII NUNTIANDI Pewartaan Injildalam Dunia Modern D. Agus Goenawan BPK PKK KEUSKUPAN BOGOR 2016
  • 2.
    EVANGELII NUNTIANDI  Jenisdokumen: Imbauan Apostolik dari Bapa Suci  Dari: Bapa Suci Paus Paulus VI  Selesai ditulis: 8 Desember 1975, Vatikan
  • 3.
    PENGANTAR  Momentum yangdimanfaatkan :  Ultah ke 10 Konsili Vatikan II  Penutup Tahun Suci 1975  Ultah pertama Sinode Para Uskup (1974, yang secara khusus membahas tentang penginjilan)  EN meneguhkan pengajaran Konsili Vatikan II tentang peranan aktif Gereja sebagai lembaga maupun sebagai anggota umat Allah dalam menegakkan keadilan di dunia.
  • 4.
    Tiga Persoalan HangatEN Bagaimana Kabar Gembira yang dapat berpengaruh pada suara hati manusia? Bagaimana kekuatan Injil sungguh-sungguh mampu mengubah manusia? Bagaimana metode pewartaan Injil yang efektif?
  • 5.
    Susunan EN  KataPengantar  Bab I. Dari Kristus Pewarta Injil kepada Gereja yang Mewartakan Injil  Bab II. Apakah Evangelisasi itu ?  Bab III. Isi Evangelisasi  Bab IV. Metode-metode Evangelisasi  Bab V. Orang-orang yang mendapat Manfaat dari Evangelisasi  Bab VI. Pekerja-pekerja untuk Evangelisasi  Bab VII. Semangat Evangelisasi  Penutup
  • 7.
    TEMA-TEMA KUNCI EN BAB1 DARI KRISTUS PEWARTA INJIL KEPADA GEREJA YANG MEWARTAKAN INJIL
  • 8.
  • 9.
    1. Perutusan Yesusadalah pergi dari kota ke kota sambil mewartakan Kabar Gembira Allah (Luk 4:18, 43). Seluruh segi dari misteriNya – Inkarnasi, muji- zat -mujizat dan pengajaranNya, berkumpul-nya dengan para rasul, perutusan kedua-belas rasulnya, Salib dan Kebangkitan- merupakan bagian dari kegiatan penginjil-Nya. (#6) 2. Yesus, sebagai pewarta Injil, memaklumkan kerajaan Allah dengan kata-kata dan tanda-tanda. (#8,11, 12) Intisari Bab I (1)
  • 10.
    Intisari Bab I(2) 4. Poros dan pusat pewartaan  penebusan Penebusan : pembebasan dari segala sesuatu yang menindas umat manusia, dan pembebasan dari dosa dan kejahatan. (#9) 5. Kerajaan dan keselamatan ini tersedia bagi setiap orang. Untuk itu, dituntut suatu pembaruan pikiran dan hati yang mendalam (metanoia). (# 10)
  • 11.
    Intisari Bab I(3) 6. Mewartakan Injil... adalah rahmat dan pang-gilan yang tepat bagi Gereja (lihat 1Kor 9:16). Gereja adalah pewarta Injil namun harus dimulai dengan mewartakan Injil dalam tubuh Gereja sendiri. (# 14, 15) 7. Gereja tak terpisahkan dari Kristus (#16) ”Barang siapa menolak kamu, ia menolak Aku” (Luk 10:16) “
  • 12.
    TEMA-TEMA KUNCI EN BAB2 APAKAH PEWARTAAN INJIL ITU ?
  • 13.
    Intisari Bab II(1) 1. Evangelisasi : upaya mewartakan Kristus kepada mereka yang belum mengenalnya, berkotbah, memberikan katakese, memberikan Permandian dan Sakramen-sakramen lainnya. (#17) 2. Unsur-unsur pewartaan Injil : a. Pembaruan – membaharui dan mengubah manusia dari dalam dan membuatnya menjadi baru. (#18)
  • 14.
    Intisari Bab II(2) 2. Unsur-unsur pewartaan Injil : b. Perubahan –mempengaruhi tolok ukur penilaian manusia, nilai-nilai, kepenting- an, pemikiran dan pola hidupnya yang bertentangan dengan Sabda Allah dan rencana penyelamatan. (# 19) c. Budaya – Evangelisasi kebudayaan harus selalu menjadikan pribadi manusia sebagai titik pangkalnya dan selalu kem- bali kepada hubungan antar manusia dan hubungan manusia dengan Allah. (# 20)
  • 15.
    Intisari Bab II(3) 2. Unsur-unsur pewartaan Injil : d. Kesaksian dan Pewartaan – Injil harus dimaklumkan dengan kesaksian hidup pribadi, baik secara implisit (#21) maupun secara eksplisit (#22). e. Komunitas Umat Beriman – Umat yang mengalami perubahan karena evangelisasi memasuki komunitas Gereja yang merupakan tanda hidup baru. (# 23) f. Kerasulan - orang yang telah menerima pewartaan Injil hendaknya pula mewartakan Injil kepada orang lain (#23)
  • 16.
    St. Francis ... “Preachthe gospel —if necessary, use words” Not quite!
  • 17.
    Intisari Bab II(4) 3. Pewartaan Injil adalah suatu proses kompleks dengan banyak unsur yang saling melengkapi dan saling memperkaya : pembaruan kemanusiaan, kesaksian, pewartaan yang eksplisit, ketaatan batin, masuk dalam umat, menerima tanda-tanda, dan prakarsa merasul.
  • 18.
    TEMA-TEMA KUNCI EN BAB3 ISI PEWARTAAN INJIL
  • 19.
    Intisari Bab III(1) 1. Penebusan – pesan utama : “dalam Yesus Kristus, Putera Allah yang menjadi manusia, yang wafat dan bangkit dari kematian, penebus- an diwartakan kepada semua orang sebagai karunia rahmat dan belaskasihan Allah.” (#27) 2. Harapan – pewartaan Injil menyangkut tentang  kehidupan akhirat,  harapan akan Injil yang dibuat Allah dalam PB dalam Yesus Kristus,  kasih Allah kepada kita dan kasih kita kepada Allah,
  • 20.
    Intisari Bab III(2) 2. (lanjutan …)  misteri kejahatan dan usaha mencari kebaikan secara aktif.  pencarian aktif akan Allah dilakukan lewat doa, komuni dan Sakramen2. (# 28) 3. Kehidupan Seutuhnya – Pewartaan Injil memiliki dimensi pribadi, keluarga, dan sosial yang mencakup hak2 dan kewajiban manusia, kehidupan keluarga, kehidupan dlm masyarakat, kehidupan internasional, perdamaian, keadilan, perkembangan dan pembebasan. (# 29)
  • 21.
    Intisari Bab III(2) 4. Pembebasan – Gereja wajib untuk mewartakan pembebasan umat manusia (dari penindasan, neokolonialisme, penjajahan ekonomi, ketidak adilan, illiterasi, dan kemiskinan), membantu lahirnya pembebasan ini.Semuanya ini bukanlah sesuatu yang asing melainkan menyatu dengan pewartaan Injil. (# 30) 5. Pemajuan Manusia – Rencana penebusan meliputi karya menentang ketidakadilan. Dalam pewartaan Injil keadilan tak dapat diabaikan. (#31) catatan: kita harus memasukkan semua orang ke surga, termasuk yang tidak adil dan korup
  • 22.
    Intisari Bab III(3) 6. Integral dan Total – Penyelamatan dan pembebasan tidak dikurangi hanya pada kesejahteraan materiil belaka. Dimensi spiritual dan religious tak dapat diingkari. (# 32) 7. Pembebasan Injil – Pembebasan tak dapat dibatasi pada ekonomi, politik, kehidupan sosial atau budaya. Ia harus mencakup manusia secara menyeluruh (#33). 8. Berpusat pada Kerajaan Allah – Pewartaan Kerajaan Allah tak dapat digantikan dengan pewartaan tentang bentuk2 pembebasan manusia. Pewartaan keselamatan dalam Yesus Kristus tidak dapat diabaikan. (#34)
  • 23.
    Intisari Bab III(4) 9. Pewartaan Injil dan Pembebasan – Pembebasan manusia dihubungkan dengan penebusan dan Yesus. Pembebasan sejati harus digerakkan oleh keadilan dan cinta kasih, dan tujuan akhirnya haruslah penebusan dan kebahagiaan dalam Allah. (# 35) Pembebasan yang diwartakan gereja adalah pembebasan yang diwartakan Kristus dan diberikan kepada manusia melalui pengorbananNya. (#39)
  • 24.
    Intisari Bab III(5) 10. Pertobatan – Pertobatan pribadi diperlukan dalam membangun struktur-struktur yang lebih manusiawi, adil, menghormati hak-hak manusia, tidak menindas dan tidak memperbudak. (# 36) 11. Tanpa Kekerasan – Kekerasan tidak selaras dengan pembebasan sejati. Kekerasan akan membangkitkan kekerasan dan membawa bentuk2 penindasan dan perbudakan baru dan lebih berat. (#37) 12. Kebebasan beragama adalah hak asasi manusia yang penting. (# 39)
  • 25.
    TEMA-TEMA KUNCI EN BAB4 METODE-METODE PEWARTAAN INJIL
  • 26.
  • 27.
    Intisari Bab IV(1) 1. Kesaksian Hidup – Sarana Pertama pewartaan Injil adalah kesaksian hidup kristiani yang otentik, yang diberikan kepada Allah dan sesamanya dalam persekutuan yang tak dapat dibinasakan oleh apapun juga. (#41) 2. Kotbah yang hidup – Sarana kedua adalah berkotbah tentang kabar Gembira. Metode2 komunikasi modern telah dipergunakan dengan sukses. (# 42) 3. Liturgi Sabda – Kotbah terdapat dalam Liturgi Sabda dan merupakan kesempatan istimewa untuk mengkomunikasikan Sabda Allah. (# 43)
  • 28.
    Intisari Bab IV(2) 4. Katakese – Pengajarannya harus disesuaikan dengan usia, kebudayaan, dan sikap pribadi2 yang bersangkutan; mereka harus senantiasa menanamkan dalam ingatan, pikiran dan hati mereka kebenaran2 yang hakiki. (# 44) 5. Media Massa – Penggunaan media massa untuk pewartaan Injil hendaknya menjangkau sejumlah besar orang, namun dengan kemampuan menembus hati nurani setiap individu. (# 45) 6. Kontak Pribadi –Dalam jangka panjang, kontak pribadi sangat penting bagi pewartaan Injil. (# 46)  alasan terbentuk KEP
  • 29.
    Intisari Bab IV(3) 7. Sakramen-sakramen – Pewartaan Injil harus menyentuh kehidupan kodrati dan adikodrati, yang terungkap dalam tujuh sakramen. Peranan evangelisasi ialah mendidik masing2 individu kristiani agar menghayati sakramen2 secara sejati; bukan menerimanya secara pasif melainkan untuk menjalaninya. (# 47)
  • 30.
    Intisari Bab IV(3) 8. Kesalehan yang Merakyat – agama rakyat ini membuat orang2 mampu bersikap murah hati dan rela berkorban. Orang harus peka akan kesalehan yang merakyat, menyelaminya, dan membantunya mengatasi penyelewengan. Dengan demikian kesalehan yang merakyat itu dapat menjadi suatu pertemuan sejati dengan Allah dalam Yesus Kristus. (# 48)
  • 31.
    TEMA-TEMA KUNCI EN BAB5 ORANG-ORANG YANG MENDAPATKAN MANFAAT DARI PEWARTAAN INJIL
  • 32.
    Setiap orang • hadapi rintangan Yang belum mengenal Kristus • seni •ilmiah Dunia yang tidak lagi Kristiani Agama non Kristen Siapa yang mendapat manfaat?
  • 33.
    Intisari Bab V(6) Kepada Komunitas Basis Gerejani – Terdapat dua macam “komunitas kecil”.  Yang satu bekerja dengan Gereja, menuntun orang Kristiani bersama dalam jemaat- jemaat agar menjadi pendengar dan pewarta Kabar Gembira.  Kelompok lainnya mengecam Gereja dengan sikapnya yang menolak dan mencari-cari kesalahan.
  • 34.
    TEMA-TEMA KUNCI EN BAB6 PEKERJA-PEKERJA PEWARTAAN INJIL
  • 35.
    • Bukan tindakanperorangan Gereja – umat Allah (#59,60) Gereja universal (#61,62) • Inkulturasi budaya Gereja lokal (#63-65) Paus, Uskup, para Imam (#67,68) Para Pekerja Evangelisasi
  • 36.
    Kaum Religius (#69) KaumAwam (#71) Keluarga (#71) Generasi muda (#72) Pelayan tidak tertahbis (#73) Para Pekerja Evangelisasi
  • 37.
    TEMA-TEMA KUNCI EN BAB7 SEMANGAT PEWARTAAN INJIL
  • 38.
    Intisari Bab VII(1) 1. Pewartaan Injil tidak akan dimungkinkan tanpa karya Roh Kudus. Teknik2 pewartaan Injil adalah baik, tetapi mereka tak dapat menggantikan karya Roh Kudus yang lemah lembut. (#75) 2. Semangat menginjil harus muncul dari kesucian hidup sejati, dan kotbah harus membuat sang pengkotbah berkembang dalam kesucian, yang diperkaya dengan dan cinta akan Ekaristi. (#76)
  • 39.
    Intisari Bab VI(2) 3. Dari setiap Pewarta Injil diharapkan suatu kesederhanaan hidup, semangat doa, kasih terhadap semua orang terutama kepada mereka yang miskin dan tersingkir, ketaatan dan kerendahan hati, sikap lepas-bebas dan pengorbanan diri. (# 76) 4. Kesatuan di antara para pewarta Injil menjadi bukti bahwa mereka diutus Bapa. Tanda persatuan di antara semua orang kristiani merupakan pula jalan dan alat evangelisasi. (# 77)
  • 40.
    Intisari Bab V(4) 5. Pewarta Injil akan menjadi orang yang senantiasa mencari kebenaran yang harus ia bagikan dengan orang lain, meskipun untuk itu ia harus menyangkal diri dan berkorban. 6. Pewarta Injil harus memiliki kasih yang semakin besar kepada mereka yang diberi penginjilan. Situasi keagamaan dan rohani mereka yang mendapat penginjilan haruslah dihormati. (#79) 7. Semangat rohani diperlukan untuk menge- sampingkan segala dalih yang menghambat pewartaan Injil. (# 80). Jangan mencari banyak alasan lain mengapa kita tidak berevangelisasi.
  • 41.
  • 42.
    Penutup 81. EN adalahWarisan Tahun Suci 82. Maria adalah Bintang Evangelisasi.  Pada pagi hari Pantekosta, Bunda Maria dengan doanya menyaksikan mulainya evangelisasi yang didorong oleh Roh Kudus.  Bunda Maria telah dan tetap menjadi Bintang Evangelisasi.
  • 43.
    EN vs ME EvangeliiNuntiandi  Kalimat sulit dipahami, bahasa formal dan kering.  Dari hirarki ke awam  Teoritis, dasar Teologis, Biblis dan Eklesiologis tentang Evangelisasi  Ajaran Gereja, memiliki kekuatan yang mengikat Misi Evangelisasi  Kalimat mudah dipahami dalam bahasa sehari-hari.  Dari awam ke awam  Aplikatif, petunjuk2 konkrit untuk melaksanakan evangelisasi  Bukan ajaran Gerea, tidak terlalu mengikat
  • 44.
    Selamat mewartakan Kabar Baik… Paus Yohanes XXIII