Potensial Termodinamika

   A. Fungsi Helmholtz dan Gibbs

Selain energy dalam (U) dan entropi (S) cukup banyak besaran yang dapat didefinisikan
berdasarkan kombinasi U, S serta variable keadaan lainnya.

Sudah didefinisikan entalpi, H




Ada dua fungsi penting lainnya yakni fungsi Helmholtz, F dan fungsi Gibbs, G

   1. Fungsi Helmholtz (F)

Entalphi

H = U + PV dan fungsi F = U – TS

Tinjau Hukum I Termodinamika dan Hukum II Termodinamika



                                                 (Tinjauan sistem)



                          …(1)

Pada volume tetap, maka V = konstan dimana dV=0

                    Dimana




                           …(2)

dimana T=konstan, maka TdS dapat dituliskan d(TS), maka persamaan 2 dapat
diformulasikan

               Formulasi inilah yang disebut fungsi Helmholtz(F)

                                          1
Jika dijadikan dalam diferensial



                            dalam T=konstan

                                   dalam tinjauan sistem



                                                    dimana          ,




Energi bebas Helmholtz adalah kerja volum maksimum yang dihasilkan oleh suatu
proses reversible yang berlangsung pada suhu tetap.

   2. Fungsi Gibs




Berdasarkan persamaan Hukum I Termodinamika

                   Tinjauan system



                                                 Hukum II Termodinamika



Pada T = tetap, maka TdS dapat ditulis sebagai d(TS)

Pada V = tetap, maka PdV dapat ditulis sebagai d(PV)

Persamaan 1 dapat diformulasikan



                              karena H=U+PV
                                            2
, Dimana



Penurunan energi bebas Gibbs merupakan kerja maksimum selain kerja volum yang
dapat dilakukan oleh sistem dalam proses yang reversibel pada suhu dan tekanan tetap.

Potensial Termodinamika

Diferensial fungsi Helmholtz dan Gibbs pada system PVT tertutup:




Karena                    , maka




Dari entalpi:



Dengan meninjau                                                            mak:




Tampak seperti medan listrik E yang berasal dari potensial listrik ɸ


                                       ;




                                            3
Dari sini tampak analogi T,S,V,P sebagai “medan” dan U,F,G,H sebagai “potensial”.
Oleh karena itu keempat besaran terakhir ini seringkali disebut sebagai “potensial
termodinamika”.

Apabila fungsi Helmholtz F diketahui sebagai fungsi T dan V, maka




Variabel lainnya dapat diketahui.

Demikian juga jika G diketahui sebagai fungsi T dan P, maka




   B. Relasi Maxwell

Dari:
dU = TdS − PdV; dF = − SdT − PdV ;
dG = − SdT + VdP; dH = TdS + VdP
Karena semuanya merupakan diferensial eksak maka:




                                           4
C. Keseimbangan

       Pengertian suatu sisten dalam “ keadaan seimbang” yaitu apabila system tersebut
dalam keadaan seimbang stabil. Definisi tentang sifat-sifat zat pada asalnya terbatas
hanya pada keadaan seimbang stabil, menurut definisi ini entropi, fungsi Gibbs dan lain-
lain tidak berpengaruh didalamnya.

       Apabila sejumlah uap pada tekanan yang tetap , tetapi didalamnya tidakk
terdapat inti pengembunan, misalnya debu, maka walaupun suhunya lebih rendah dari
pada titik embun, tidaklah akan terjadi pengembunan. Keadaan ini akan berlangsung
lama dan akan disebut kestabilan metastabil.

   D. Syarat Keseimbangan

   Persyaratan khusus yang menentukan keadaan stabil, diantaranya:

   1) Pada proses ireversibel adiabatik, berlau hubungan



       Ini berarti pada proses ireversibel adiabatik, yang terjadi secara alami, entropi
       system akan selalu bertambahbesar dan keadaan seimbang baru akan tercapai
       setelah entropi ini mencapai maksimum, tidak mengalami pertambahan lagi. Jadi
       syarat keseimbangannya


   2) Untuk proses dengan suhu dan volume tetap
       Fungsi Helmhotz (F) selalu bertambah kecil. Keadaan seimbang akan dicapai
       bila F telah mencapai nilai minimum.


   3) Proses dengan suhu dan tekanan tetap
       Fungsi Gibbs (G) selalu bertambah kecil. Keadaan seimbang akan dicapai bila F
       telah mencapai nilai minimum.




                                            5
4) Proses dengan entropi dan volume tetap
       Energy dalam (U) selalu bertambah kecil. Keadaan seimbang akan dicapai bila
       F telah mencapai nilai minimum.


   5) Proses dengan tekanan dan entropi tetap
       Entripi (H) selalu bertambah kecil. Keadaan seimbang akan dicapai bila F telah
       mencapai nilai minimum.




   E. Keseimbangan Antar Fase

       Jika zat cair dan uapnya dalam keadaan seimbang, maka uap itu dikatakan dalam
keadaan jenuh. Ini berarti bahwa banyaknya molekul yang menguap sama dengan
molekul yang mengembun. Keadan seimbang ini berkaitan dengan nilai tekanan dan
suhu tertentu. Jika suhu T tetap, maka tekanan P juga tetap, walaupun volumenya V
berubah. Sebeb adanya perubahan volume ini diikuti oleh adanya molekul-molekul
yang menguap atau mengembun. Oleh karena itu suatu zat dalam beberapa fase yang
berada dalam keadaan seimbang mempunyai derajat kebebasan yang lebih kecil dari
pada zat itu dalam satu fase.

       Dua fase dalam keadaan seimbang, memiliki beberapa syarat, diantaranya:

   1. Suhu kedua fesa harus sama, yaitu
       Syarat ini perlu karena apabila tidak dipenuhi, maka akan ada arus kapasitas
       yang mengalir dari fase yang suhunya lebih tinggi ke fase yang suhunya lebih
       rendah.
   2. Tekanan kedua fase harus sama,
       Syarat ini perlu karena apabila tidak dipenuhi, maka akan terjadi arus di
       molekul-molekul dari fase yang tekanannya lebih tinggi ke fase yang
       tekanannya lebih rendah.
   3. Fungsi Gibbs jenis kedua fase harus sama,              . Fungsi ini tergantung
       pada suhu dan tekanan, jadi                   dan                  . Tetapi


                                           6
Maka


   F. Persamaan Clausius-Clapeyron

   Persamaan Clausius-Clapeyron adalah suatu hubungan yang penting yang
melukiskan bagaimana tekanan berubah dengan suhu untuk system yang terdiri atas dua
fase dalam keseimbangan. Andaikan suatu cairan dengan uapnya dalam keseimbangan
pada tekanan p dan suhu T, sehingga gc = gu. pada suhu T + dT tekanannya adalah p +
dp dan fungsi Gibbs jenisnya menjadi gc + dgc dan gu + dgu. Tetapi jika cairan dan uap
itu dalam keadaan yang baru ini juga dalam keseimbangan, maka dgc harus sama
dengan dgu.

Telah diperoleh bahwa

       Dg= -s dT + v dp

Jadi dalam keseimbangan ang baru ini, berlaku

       -sc dT + vc dp = -su dT + vu dp    atau
       (su – sc) dT = (vu – vc) dp

Akan tetapi selisih entropi jenis ini, (su – sc) sama dengan bahang transformasi (bahang
penguapan) 1cu dibagi dengan suhu T, sehingga




Persamaan ini disebut persamaan Clausius-Clapeyron untuk keseimbangan uap cair-
uap.Secara    geometrik    persamaan     ini       menunjukan   kemiringan   (slope)   garis
keseimbangan antara fase cair dan uap pada diagram p-T yang dinyatakan dalam panas



                                               7
transformas, suhu dan volume jenis masing-masing fase. Dengan melakukan penalaran
yang sama, maka dapat diperoleh




Bahang transformasi berubah dengan suhu, namun selalu positif kecuali untuk He3
pada suhu ya ng lebih rendah dari 0,3 K. suhu T selalu positif dan volume jenis uap
selalu lebih besar dati pada volume jenis cairan dan zat padat, sehingga vu- vc dan vu –
vp selalu positif. Oleh karena itu kemiringan pada kurva tekanan uap dan kurva tekanan

sublimasi, yaitu       dan        , selalu positif. Namun volume jenis pada fase dapat

mungkin lebih besaratau lebih kecil dari pada volume jenispada fase cair. Karena itu
kemiringan pada garis keseimbangan padat-cair, mungkin positif mungkin pula negatif.
Inilah sebabnya mengapa bidang p-v-T suatu zat seperti air, yang mengembang tatkala
membeku, berbeda dengan bidang p-v-T zat lain yang mengerut ketika membeku.
Faktor vc- vp adalah negatif untuk zat yang mengembang ketika membeku dan positif
untuk zat yang menguncup ketika membeku. Karena itu bidang-bidang keseimbangan
padat-cair atau proyeksinya, yang berupa garis pada bidang p-T miring ke kiri-atas
untuk zat seperti air yang mengembang ketika membeku, dan miring ke kanan-atas
untuk zat yang menguncup ketika membeku. Tetapi proyksi bidang cair-uap dan padat-
uap, selalu mempunyai kemiringan yang positif.

        Untuk perubahan suhu ΔT dan perubahan tekanan Δp yang tidak terlalu besar,
maka bahang transformasi dan volume jenis dapat dianggap tetap besarnya, dan
kemiringan pada garis keseimbangan lebih kurang sama dengan nisbah (ratio)
perubahan tekanan Δp denga perubahan suhu ΔT, yaitu Δp/ΔT. Demikianlah maka
bahang transformasi pada sebarang suhu dapat dicari secara pendekatan dari
pengukuran tekanan keseimbangan pada dua suhu yang berdekatan, jika volume jenis
yang bersangkutan diketahui. Sebaliknya jika tekanan keseimbangan dan bahang
transformasi diketahui pada sebarang suhu, maka tekanan pada suhu yang berdekatan



                                           8
dapat dihitung. Dalam perhitungan semacam ini biasanya diandaikan bahwa uap
bekelakuan sebagai gas sempurna.

Untuk mengintegralkan persamaan clausius-clapeyron dan untuk memperoleh
pernyataan bagi tekanan itu sendiri sebagai fungsi suhu maka bahang transformasi dan
volume jenis harus diketahui sebagai fungsi suhu.hal ini merupakan masalah yang
penting dalam kimia fisika. Jika perubahan bahang transformasi dapat diabaikan, dan
jika salah satu fase adalah uap yang dapat dianggap sebagsi gas sempurna, lagi pula
volume jenis fase padat dan cair dapat diabaikan terhadap jenis uap, maka
pengintegralan dapat segera dilakukan.




                                                 atau




   G. Hukum ketiga Termodinamika

       Suatu reaksi kimia diandaikan di dalam sebuah bejana pada tekanan tetap P.
   bejana itu berhubungan dengan sebuah reservoir yang suhunya T seperti terlihat
   pada gambar.




                                          9
Jika suhu naik karena reaksi ini, maka sejumlah bahang G akan mengalir ke
dalam reservoir , sehingga suhu bejana dengan isinya akan turun kembali menjadi T.
Dari definisi besaran H, maka :

                                                  (sebab P tetap). Jadi




tanda negative digunakan karena bahang keluar dari system. Dalam hal ini Q adalah
bahang reaksi. Andaikan reaksi kimia itu adalah




   Selanjutnya diandaikan pula bahwa H1 adalah entalpi untuk zat sebelum reaksi,
yaitu Ag dan HCl, dan H2 entalpi zat setelah bereaksi , yaitu AgCl dan H2. proses
(reaksi) spontan akan terjadi, bila ΔG negative atau ΔG˂0.




                                         Atau




                                         Jadi




                          Yang dapat ditulis lagi menjadi




           Nernst menyatakan dari hasil eksperimen yang dilakukan oleh Thomsen
   dan Berthelot dan juga eksperimen yang dilakukan secara hati-hati dengan sel
                                       10
galvanik, bahwa dalam suatu reaksi kimia ΔG umumnya mendekati ΔH lebih
      rapat lagi bila suhunya diturunkan, bahkan pada suhu-suhu yang tinggi, ia
      mengusulkan sebagai suatu asas umum bahwa
      apabila suhu mendekati nol, maka bukan hanya ΔG
      dan ΔH mendekati kesamaan, tetepi laju
      perubahannya dengan suhupun mendekati nol, Jadi
                                               dan




                            Akan tetapi
             Maka




             “ Disekitar suhu nol mutlak, semua reaksi dalam zat cair atau padat
      yang berada dalam keetimbangan dakhil, berlangsung tanpa perubahan
      entropi”.
             Dalam tahun 1911, Planck membuat sutu hipotesis sebagai berikut pada
      suhu T→0, bukan hanya beda entropi yang sama dengan nol tetapi entropi
      setiap zat padat atau cair dalam kesetimbangan dakhil pada suhu nol mutlak
      adalah nol. Jadi




                    Dikenal sebagai Hukum Ketiga Termodinamika.

Hukun ketiga Termodinamika juga mengandung arti bahwa tidak mungkin untuk
menurunkan suhu suau system menjadi nol dengan sejumlah operasi yang terhingga.


                                          11

Potensial Termodinamika

  • 1.
    Potensial Termodinamika A. Fungsi Helmholtz dan Gibbs Selain energy dalam (U) dan entropi (S) cukup banyak besaran yang dapat didefinisikan berdasarkan kombinasi U, S serta variable keadaan lainnya. Sudah didefinisikan entalpi, H Ada dua fungsi penting lainnya yakni fungsi Helmholtz, F dan fungsi Gibbs, G 1. Fungsi Helmholtz (F) Entalphi H = U + PV dan fungsi F = U – TS Tinjau Hukum I Termodinamika dan Hukum II Termodinamika (Tinjauan sistem) …(1) Pada volume tetap, maka V = konstan dimana dV=0 Dimana …(2) dimana T=konstan, maka TdS dapat dituliskan d(TS), maka persamaan 2 dapat diformulasikan Formulasi inilah yang disebut fungsi Helmholtz(F) 1
  • 2.
    Jika dijadikan dalamdiferensial dalam T=konstan dalam tinjauan sistem dimana , Energi bebas Helmholtz adalah kerja volum maksimum yang dihasilkan oleh suatu proses reversible yang berlangsung pada suhu tetap. 2. Fungsi Gibs Berdasarkan persamaan Hukum I Termodinamika Tinjauan system Hukum II Termodinamika Pada T = tetap, maka TdS dapat ditulis sebagai d(TS) Pada V = tetap, maka PdV dapat ditulis sebagai d(PV) Persamaan 1 dapat diformulasikan karena H=U+PV 2
  • 3.
    , Dimana Penurunan energibebas Gibbs merupakan kerja maksimum selain kerja volum yang dapat dilakukan oleh sistem dalam proses yang reversibel pada suhu dan tekanan tetap. Potensial Termodinamika Diferensial fungsi Helmholtz dan Gibbs pada system PVT tertutup: Karena , maka Dari entalpi: Dengan meninjau mak: Tampak seperti medan listrik E yang berasal dari potensial listrik ɸ ; 3
  • 4.
    Dari sini tampakanalogi T,S,V,P sebagai “medan” dan U,F,G,H sebagai “potensial”. Oleh karena itu keempat besaran terakhir ini seringkali disebut sebagai “potensial termodinamika”. Apabila fungsi Helmholtz F diketahui sebagai fungsi T dan V, maka Variabel lainnya dapat diketahui. Demikian juga jika G diketahui sebagai fungsi T dan P, maka B. Relasi Maxwell Dari: dU = TdS − PdV; dF = − SdT − PdV ; dG = − SdT + VdP; dH = TdS + VdP Karena semuanya merupakan diferensial eksak maka: 4
  • 5.
    C. Keseimbangan Pengertian suatu sisten dalam “ keadaan seimbang” yaitu apabila system tersebut dalam keadaan seimbang stabil. Definisi tentang sifat-sifat zat pada asalnya terbatas hanya pada keadaan seimbang stabil, menurut definisi ini entropi, fungsi Gibbs dan lain- lain tidak berpengaruh didalamnya. Apabila sejumlah uap pada tekanan yang tetap , tetapi didalamnya tidakk terdapat inti pengembunan, misalnya debu, maka walaupun suhunya lebih rendah dari pada titik embun, tidaklah akan terjadi pengembunan. Keadaan ini akan berlangsung lama dan akan disebut kestabilan metastabil. D. Syarat Keseimbangan Persyaratan khusus yang menentukan keadaan stabil, diantaranya: 1) Pada proses ireversibel adiabatik, berlau hubungan Ini berarti pada proses ireversibel adiabatik, yang terjadi secara alami, entropi system akan selalu bertambahbesar dan keadaan seimbang baru akan tercapai setelah entropi ini mencapai maksimum, tidak mengalami pertambahan lagi. Jadi syarat keseimbangannya 2) Untuk proses dengan suhu dan volume tetap Fungsi Helmhotz (F) selalu bertambah kecil. Keadaan seimbang akan dicapai bila F telah mencapai nilai minimum. 3) Proses dengan suhu dan tekanan tetap Fungsi Gibbs (G) selalu bertambah kecil. Keadaan seimbang akan dicapai bila F telah mencapai nilai minimum. 5
  • 6.
    4) Proses denganentropi dan volume tetap Energy dalam (U) selalu bertambah kecil. Keadaan seimbang akan dicapai bila F telah mencapai nilai minimum. 5) Proses dengan tekanan dan entropi tetap Entripi (H) selalu bertambah kecil. Keadaan seimbang akan dicapai bila F telah mencapai nilai minimum. E. Keseimbangan Antar Fase Jika zat cair dan uapnya dalam keadaan seimbang, maka uap itu dikatakan dalam keadaan jenuh. Ini berarti bahwa banyaknya molekul yang menguap sama dengan molekul yang mengembun. Keadan seimbang ini berkaitan dengan nilai tekanan dan suhu tertentu. Jika suhu T tetap, maka tekanan P juga tetap, walaupun volumenya V berubah. Sebeb adanya perubahan volume ini diikuti oleh adanya molekul-molekul yang menguap atau mengembun. Oleh karena itu suatu zat dalam beberapa fase yang berada dalam keadaan seimbang mempunyai derajat kebebasan yang lebih kecil dari pada zat itu dalam satu fase. Dua fase dalam keadaan seimbang, memiliki beberapa syarat, diantaranya: 1. Suhu kedua fesa harus sama, yaitu Syarat ini perlu karena apabila tidak dipenuhi, maka akan ada arus kapasitas yang mengalir dari fase yang suhunya lebih tinggi ke fase yang suhunya lebih rendah. 2. Tekanan kedua fase harus sama, Syarat ini perlu karena apabila tidak dipenuhi, maka akan terjadi arus di molekul-molekul dari fase yang tekanannya lebih tinggi ke fase yang tekanannya lebih rendah. 3. Fungsi Gibbs jenis kedua fase harus sama, . Fungsi ini tergantung pada suhu dan tekanan, jadi dan . Tetapi 6
  • 7.
    Maka F. Persamaan Clausius-Clapeyron Persamaan Clausius-Clapeyron adalah suatu hubungan yang penting yang melukiskan bagaimana tekanan berubah dengan suhu untuk system yang terdiri atas dua fase dalam keseimbangan. Andaikan suatu cairan dengan uapnya dalam keseimbangan pada tekanan p dan suhu T, sehingga gc = gu. pada suhu T + dT tekanannya adalah p + dp dan fungsi Gibbs jenisnya menjadi gc + dgc dan gu + dgu. Tetapi jika cairan dan uap itu dalam keadaan yang baru ini juga dalam keseimbangan, maka dgc harus sama dengan dgu. Telah diperoleh bahwa Dg= -s dT + v dp Jadi dalam keseimbangan ang baru ini, berlaku -sc dT + vc dp = -su dT + vu dp atau (su – sc) dT = (vu – vc) dp Akan tetapi selisih entropi jenis ini, (su – sc) sama dengan bahang transformasi (bahang penguapan) 1cu dibagi dengan suhu T, sehingga Persamaan ini disebut persamaan Clausius-Clapeyron untuk keseimbangan uap cair- uap.Secara geometrik persamaan ini menunjukan kemiringan (slope) garis keseimbangan antara fase cair dan uap pada diagram p-T yang dinyatakan dalam panas 7
  • 8.
    transformas, suhu danvolume jenis masing-masing fase. Dengan melakukan penalaran yang sama, maka dapat diperoleh Bahang transformasi berubah dengan suhu, namun selalu positif kecuali untuk He3 pada suhu ya ng lebih rendah dari 0,3 K. suhu T selalu positif dan volume jenis uap selalu lebih besar dati pada volume jenis cairan dan zat padat, sehingga vu- vc dan vu – vp selalu positif. Oleh karena itu kemiringan pada kurva tekanan uap dan kurva tekanan sublimasi, yaitu dan , selalu positif. Namun volume jenis pada fase dapat mungkin lebih besaratau lebih kecil dari pada volume jenispada fase cair. Karena itu kemiringan pada garis keseimbangan padat-cair, mungkin positif mungkin pula negatif. Inilah sebabnya mengapa bidang p-v-T suatu zat seperti air, yang mengembang tatkala membeku, berbeda dengan bidang p-v-T zat lain yang mengerut ketika membeku. Faktor vc- vp adalah negatif untuk zat yang mengembang ketika membeku dan positif untuk zat yang menguncup ketika membeku. Karena itu bidang-bidang keseimbangan padat-cair atau proyeksinya, yang berupa garis pada bidang p-T miring ke kiri-atas untuk zat seperti air yang mengembang ketika membeku, dan miring ke kanan-atas untuk zat yang menguncup ketika membeku. Tetapi proyksi bidang cair-uap dan padat- uap, selalu mempunyai kemiringan yang positif. Untuk perubahan suhu ΔT dan perubahan tekanan Δp yang tidak terlalu besar, maka bahang transformasi dan volume jenis dapat dianggap tetap besarnya, dan kemiringan pada garis keseimbangan lebih kurang sama dengan nisbah (ratio) perubahan tekanan Δp denga perubahan suhu ΔT, yaitu Δp/ΔT. Demikianlah maka bahang transformasi pada sebarang suhu dapat dicari secara pendekatan dari pengukuran tekanan keseimbangan pada dua suhu yang berdekatan, jika volume jenis yang bersangkutan diketahui. Sebaliknya jika tekanan keseimbangan dan bahang transformasi diketahui pada sebarang suhu, maka tekanan pada suhu yang berdekatan 8
  • 9.
    dapat dihitung. Dalamperhitungan semacam ini biasanya diandaikan bahwa uap bekelakuan sebagai gas sempurna. Untuk mengintegralkan persamaan clausius-clapeyron dan untuk memperoleh pernyataan bagi tekanan itu sendiri sebagai fungsi suhu maka bahang transformasi dan volume jenis harus diketahui sebagai fungsi suhu.hal ini merupakan masalah yang penting dalam kimia fisika. Jika perubahan bahang transformasi dapat diabaikan, dan jika salah satu fase adalah uap yang dapat dianggap sebagsi gas sempurna, lagi pula volume jenis fase padat dan cair dapat diabaikan terhadap jenis uap, maka pengintegralan dapat segera dilakukan. atau G. Hukum ketiga Termodinamika Suatu reaksi kimia diandaikan di dalam sebuah bejana pada tekanan tetap P. bejana itu berhubungan dengan sebuah reservoir yang suhunya T seperti terlihat pada gambar. 9
  • 10.
    Jika suhu naikkarena reaksi ini, maka sejumlah bahang G akan mengalir ke dalam reservoir , sehingga suhu bejana dengan isinya akan turun kembali menjadi T. Dari definisi besaran H, maka : (sebab P tetap). Jadi tanda negative digunakan karena bahang keluar dari system. Dalam hal ini Q adalah bahang reaksi. Andaikan reaksi kimia itu adalah Selanjutnya diandaikan pula bahwa H1 adalah entalpi untuk zat sebelum reaksi, yaitu Ag dan HCl, dan H2 entalpi zat setelah bereaksi , yaitu AgCl dan H2. proses (reaksi) spontan akan terjadi, bila ΔG negative atau ΔG˂0. Atau Jadi Yang dapat ditulis lagi menjadi Nernst menyatakan dari hasil eksperimen yang dilakukan oleh Thomsen dan Berthelot dan juga eksperimen yang dilakukan secara hati-hati dengan sel 10
  • 11.
    galvanik, bahwa dalamsuatu reaksi kimia ΔG umumnya mendekati ΔH lebih rapat lagi bila suhunya diturunkan, bahkan pada suhu-suhu yang tinggi, ia mengusulkan sebagai suatu asas umum bahwa apabila suhu mendekati nol, maka bukan hanya ΔG dan ΔH mendekati kesamaan, tetepi laju perubahannya dengan suhupun mendekati nol, Jadi dan Akan tetapi Maka “ Disekitar suhu nol mutlak, semua reaksi dalam zat cair atau padat yang berada dalam keetimbangan dakhil, berlangsung tanpa perubahan entropi”. Dalam tahun 1911, Planck membuat sutu hipotesis sebagai berikut pada suhu T→0, bukan hanya beda entropi yang sama dengan nol tetapi entropi setiap zat padat atau cair dalam kesetimbangan dakhil pada suhu nol mutlak adalah nol. Jadi Dikenal sebagai Hukum Ketiga Termodinamika. Hukun ketiga Termodinamika juga mengandung arti bahwa tidak mungkin untuk menurunkan suhu suau system menjadi nol dengan sejumlah operasi yang terhingga. 11