Fiqh Lughah - I’rab – Kelompok 11

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dari aspek sintaxe, bahasa Arab dibedakan dari bahasa lainnya dengan
adanya kaidah I‟rab yang menunjukkan fungsi kata dalam sebuah ungkapan dan
menunjukkan adanya hubungan antar kata tersebut dengan kata lainnya dalam
sebuah kalimat, sistem seperti ini tidak akan kita temukan dalam bahasa-bahasa
lain, bahkan sistem seperti ini merupakan keistimewaan yang dimiliki oleh bahasa
Arab sebagai bahasa yang pertama bahasa Sâmiyah.
Dalam kalimat-kalimat bahasa Arab kita sering mempertanyakan; apakah
harakat yang ada pada akhir kalimat merupakan isyarat dari makna yang
beragam? Atau apakah hal itu hanya untuk menyampaika kalimat saja, yang tidak
berpengaruh terhadap makna? Ataukah hanya bagian dari kalimat itu sendiri?
Dalam kajian fiqh lughah ini, penulis akan menguraikan materi tentang I‟rab
baik dari pengertiannya, perkembangannya, fungsi dan dilalah I‟rab. Semoga dari
urain meteri tersebut dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang elah
disebutkan di atas.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan kami bahas dalam makalah ini diantaranya
adalah:
A. Apa Pengertian I‟rab?
B. Bagaimana Perkembangan I‟rab Menurut Pendapat Ulama?
C. Apa Fungsi serta Dilalah I‟rab?

C. Tujuan Penulisan
Makalah ini disusun dengan beberapa tujuan sebagai berikut:
1. Agar kita mengetahui pengertian I‟rab.
2. Agar kita mengetahui perkembangan I‟rab menurut pendapat ulama.
3. Agar kita mengetahui Fungsi serta dilalah I‟rab.

1
Fiqh Lughah - I’rab – Kelompok 11

D. Metode Penulisan
Dalam penyusunan makalah ini, penyusun menggunakan dengan sebuah
teknik studi kepustakaan, yaitu dengan cara mengumpulkan dari berbagai sumber
seperti: buku-buku yang ada di perpustakaan maupun dari sumber lainnya yang
bersangkutan dengan materi yang akan dibahas di makalah ini.

2
Fiqh Lughah - I’rab – Kelompok 11

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian I’rab
Menurut bahasa I‟rab merupakan bentuk mashdar dari kata a‟raba yang
sepadan dengan kata afshaha, nudhaha. Dalam ungkapan arab
, (seseorang mengetahui dengan jelas apa yang ada dalam hatinya).
Adapun I‟rab menurut istilah adalah penjelasan mengenai makna dengan
menggunakan lafadz. Ibrahim Mustafa memberikan pengertian bahwa I‟rab
adalah perubahan yang disebabkan adanya „âmil. Sedangkan Abas Hasan
memberikan penjelasan bahwa I‟rab adalah perubahan ciri atau tanda yang
terdapat di akhir suatu lafadz karena adanya perubahan amil yang masuk pada
lafadz tersebut.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa I‟rab adalah perubahan akhir kata, baik
harakat maupun huruf yang berfungsi untuk menunjukkan kedudukan kata itu
sendiri dalam suatu kalimat dan penekanan I‟rab adalah pada perubahan akhir kata
dengan sebab masuknya amil-amil (bermacam-macam faktor) yang ikut
mempengaruhinya.
Apabila kita perhatikan beberapa definisi yang disampaikan oleh para ulama
di atas, dari definisi itu ada yang menyoroti kepada fungsi I‟rab, seperti yang
dijelaskann Ibnu Jinni bahwa I‟rab itu mempunyai peranan sangat penting dalam
menentukan makna dalam sebuah kalimat, sedangkan definisi lain ada yang
melihat I‟rab dari aspek lahiriyahnya yang berupa syakal atau harakat dalam
sebuah kalimat, tetapi dari sekian pendapat yang ada mereka sepakat bahwa I‟rab
mempunyai peranan dalam kalimat.1
B. Perkembangan I’rab
Para peneliti berpendapat bahwa pada awalnya I‟rab merupakan cerita rekaan
yang muncul dalam fenomena kebahasaan yang berkembangan dikalangan
kabilah-kabilah bangsa Arab. Dengan berjalannya waktu cerita rekaan itu menjadi
1

Ade Nandang: Fiqh Lughah, Bandung: Insan Mandiri. hal.173

3
Fiqh Lughah - I’rab – Kelompok 11

sesuatu yang baku dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikunya, baru
pada akhir abad pertama hijriyah I‟rab telah sempurna penyusunannya di bawah
tangan ahli bahasa yang berkembang dan hidup di Iraq.
Sebagian orientalis berpendapat bahwa al-Qur‟an diturunkan pada awalnya
dengan menggunakan lahjah Mekah yang luput dari I‟rab, sebagaimana para
peneliti bahasa sebagian menyebutkan bahwa I‟rab itu tidak terpelihara kecuali
dalam bahasa sastra. Argumentasi mereka didasarkan pada dua hal yaitu; pertama
bahwa semua dialek Arab yang berkembang dan dialek yang banyak digunakan
pada masa sekarang di Hijaz, Nejed, Yaman, Mesir, Iraq, dan Syam ternyata luput
dari I‟rab. Seandainya dialek percakapan bahasa Arab dahulu menggunakan I‟rab
pasti sistem I‟rab itu akan sampai dan digunakan oleh semua dialek bahasa Arab
sekarang. kedua bahwa sistem I‟rab yang cenderung sulit digunakan dalam
perkembangan pemakaian bahasa tidak masuk akal dapat terjaga dalam dialek
masa sekarang, karena dialek percakapan sekarang cenderung memberikan
kemudahan dalam cara pengungkapannya.
Pendapat di atas ditentang oleh para ulama yang mendukung adanya I‟rab
dengan alasan-alasan sebagai berikut:
a. Sebagian dialek baha Arab sekarang senantiasa memelihara I‟rab terutama
I‟rab dengan menggunakan huruf.
b. Perkembangan bahasa sesungguhnya yang dapat menghilangkan I‟rab, jadi
tidak adanya I‟rab bagi sebagian dialek bahasa Arab tidak berarti dulu
bahasa itu tidak ber-I‟rab.
c. Tidak ditemukan dalam riwayat terkait dengan kebahasa Araban yang
menunjukkan bahwa para ahli nahwu serampangan dalam menetapkan
qawâ‟id.
d. Sya‟ir Arab dengan wazan musiknya senanstiasa berpegang teguh kepada
I‟rab, tanpa I‟rab setiap wazan-wazan syi‟ir menjadi rancu.
e. Al-Qur‟an dan Hadits Nabi sampai kepada kita dengan kalimat yang berI‟rab.

4
Fiqh Lughah - I’rab – Kelompok 11

f. Riwayat tentang Lahn dan orang-orang yang melakukannya tidak mungkin
dibuat-buat atau hanya riwayat bohong, padahala riwayat tentang lahn
banyak ditemukan dikalangan para sahabat.
g. Orang Arab tidak dapat memahami bahasa kecuali kalimatnya ber-I‟rab.
h. Pendapat yang mengatakan bahwa al-Qur‟an diturunkan tanpa I‟rab adalah
pendapat yang tidak disertai dengan argumentasi kuat. Justru para ulama
mendapatkan al-Qur‟an dalam keadaan ber-I‟rab lalu dari I‟rab itu para
ulama dapat menetapkan qawâ‟idnya, karena al-Qur‟an dipandang sebagai
teks yang sangat

terpercaya yang dapat dijadikan rujukan dalam

menetapkan benarnya suatu kaidah dari kaidah-kaidah I‟rab.
i. Apabila al-Qur‟an diturunkan tanpa I‟rab, maka dimana letak bentuk
penentangan ketika Allah menantan orang-orang musyrik untuk bisa
mendatangkan satu surat yang semisal al-Qur‟an, dan bentuk penentangan
itu tidak ada kecuali apabila bahasa al-Qur‟an itu pada dasarnya
merupakan bahasa yang digunakan oleh orang-orang pada waktu itu yang
terdiri dari lafadz, susunan, dan harakat.
Dari uraian di atas jelas kiranya bahwa I‟rab itu digunakan dalam bahasa
sastra maupun dalam bahasa percakapan biasa dan I‟rab juga merupakan unsur
mendasar dalam bahasa Arab yang lahir sejak bahasa Arab itu ada. Tetapi kita
juga tidak memungkiri adanya lahn sejak masa Islam atau mungkin sebelum masa
Islam dan lahn ini tidak terbatas pada masyarakat kebanyakan dari bangsa Arab
bahkan kadang terjadi dikalangan para khalifah, ahli hadits, dan juga ahli fiqh.
Lahn juga terkadang terjadi ketika membaca kitab Allah . dalam sebuah riwayat
Nabi berkata:

ini menunjukkan bahwa Nabi mendengar sebagian

orang d i masanya membaca al-Qur‟an dengan lahn.
Perkembangan bahasa Arab terus melaju seiring meluasnya penyebaran Islam
sehingga mulai muncul bahasa „âmiyah pada masa Abbasiyah. Pada masa itu
orang-orang mengenal dua bahasa yaitu bahasa „âmiyah yang cenderung

5
Fiqh Lughah - I’rab – Kelompok 11

mematikan akhir kata dan yang kedua bahasa fusha yaitu bahasa dengan
menggunakan I‟rab dan merupakan bahasa tingkat tinggi.2
C. Fungsi I’rab dan Dilalahnya
Mengenai fungsi dan dilalah I‟rab dalam kalimat senantiasa menjadi
perbincangan dikalangan para ulama dahulu maupun ulama sekarang. Seluruh ahli
Nahwu Arab, kecuali Abu Ali Muhammad bin al-Mustanir yang dikenal dengan
nama Quthrub (w. 206 H), berpandangan bahwa harkat-harkat I‟rab menunjukkan
berbagai macam makna berbeda, yang mempengaruhi kata-kata benda (isim),
seperti kasus subjektif (fail), objektif (maf‟ul), genitif (idhafah) dan lain
sebagainya. Ada dua kelompok ulama yang berpendapat, mereka bertolak
belakang terkait dengan fungsi dan dilalah I‟rab dalam kalimat bahasa Arab.
Kelompok pertama berpendapat bahwa I‟rab tidak mempunyai nilai dilalah
substansial dalam kalimat, I‟rab hanya merupakan bagian dari seni dalam bahasa
yang berkaitan erat dengan keserasian musik, lagu dan syi‟ir bahasa Arab.
Kelompok lain berpendapat bahwa I‟rab mempunyai fungsi yang sangat
penting dalam kalimat bahkan harakat bisa menjadi petunjuk akan makna yang
berbeda-beda. Kalau tidak demikian, maka bagaiman mungkin orang Arab
berusaha menjaga dan melestarikannya kalau harakat itu tidak memberikan
petunjuk dan gambaran bagi makna.
Diantara pendukung kelompokpertama adalah al-Khalil bin Ahmad alFarahidi seperti yang dikutip oleh Sibawaih,al-Farahidi mengatakan bahwa:
“fathah, dhomah dan kasrah merupakan tambahan, semuanya itu dihubungkan
dengan huruf untuk menghubungkan kepada pembicaraan”. Di bawah ini penulis
sampaikan argumentasai ulama yang menyebutkan bahwa I‟rab tidak mempunyai
dilalah tetapi hanya sebagia pelengkap untuk keserasian dalam ungkapan
pembicaraan, pendapat itu sebagai berikut:
a. Dalam sebuah kalimat terdapat kata yang mempunyai fungsi dengan
sendirinya seperti contoh kalimat

2

dalam kalimat:

Ade Nandang: Fiqh Lughah, Bandung: Insan Mandiri. hal.174-178

6
Fiqh Lughah - I’rab – Kelompok 11

Apabila kita perhatikan kalimat di atas harakatnya berbeda-beda tetapi
sebenarnya kata itu semuanya merupakan musnad dalam kalimat tersebut.
b. Dalam kalimat terdapat kata yang harakatnya sama sementara dalam
fungsi gramatiknya berbeda seperti hal, tamyîz, afâl khamsyah semuanya
dinasabkan.
c. Dalam kalimat terdapat banyak shigah (bentuk) yang berbeda-beda
maknanya sedangkan I‟rabnya sama. Contoh kaliamat
bila kita perhatikan harakat
kata

sama yaitu dinasabkan, padahal susunan pertama merupakan

kalimat Ta‟kid (menguatkan), susunan kedua Tarajji (pengharapan) dan
susunan ketiga merupakan Tasybih (menyerupakan).
d. Dalam kalimat terdapat banyak bentuk yang berbeda-beda I‟rabnya
sedangkan maknanya sama, contoh kalimat:

Bila kita perhatikan harakat

berbeda tapi maknanya sama.

e. Seandainya harakat akhir kalimat itu menunjukkan terhadap mkana yang
berbeda-beda, mengapa dalam bacaan al-Qur‟an diperbolehkan adanya
Ikhtilaf al-Qira‟at (perbedaan dalam membaca harakat al-Qur‟an), dan
mengapa diperbolehkan kata-kata itu diwaqafkan dengan membuang
harakat akhir atau dengan sukun. Keadaan seperti ini berarti kalau bisa
membuang harakat berarti membuang makna kata serta fungsinya dalam
sebuah kalimat.
f. Argumentasi bahwa I‟rab itu terkait dengan musik, lagu dan sya‟ir ini bisa
dibuktikan dengan memperhatikan misalnya seorang penyanyi Libanon
yang tidak mengetahui I‟rab dia bisa menyandarkan sya‟ir, lagu dan
nyayiannya ketika merubah harakat akhir kepada akhir huruf dalam sebuah
kata dengan tujuan mempermudah pengucapan dan memperindah irama
musiknya.

7
Fiqh Lughah - I’rab – Kelompok 11

Lebih lanjut ulama yang menyebutkan bahwa I‟rab tidak mempunyai fungsi
dan tidak menunjukkan makna menjelaskan bahwa yang membedakan bahwa
dalam kalimat adalah dua hal yaitu pertama situasi dimana pembicaraan itu
berlangsung antara pembicara dan pendengar, kedua sistem kalimat bahasa Arab
dan tempat khusus bagi setiap makna dari makna-makna bahasa.misalnya
ungkapan

ini menunjukkan keraguan mengenai persaudaraan,

apabila kita mengucapkan

ini menunjukkan keraguan mengenai

nama.
Dalam kebanyakan pembicaraan Arab, fâ‟il bersanding dengan kata
setelahnya yaitu maf‟ûl bih dan fâ‟il tidak diletakkan setelah maf‟ûl bih kecuali
dalam beberapa keadaan diantaranya dalam Uslûb al-qoshri (susunan untuk
meringkas) contoh;

Demikian beberapa argumentasi

yang disampaikan kelompok yang

menyatakan bahwa I‟rab tidak memiliki fungsi yang substansial dan tidak
memberikan dampak terhadap perubahan makna dalam kalimat bahasa Arab.
Adapun kelompok ulama yang berpendapat bahwa I‟rab mempunyai fungsi
dilalah dan dapat membedakan struktur dalam kalimat diantaranya adala Abu
Qâsim al-Zujaji dan Ibnu Fâris. Ibnu Fâris mengatakan dalam bukunya “diantara
ilmu agung yang dikhususkan bagi bahasa Arab adalah ilmu tentang I‟rab.
Dengan I‟rab kita bisa membedakan makna-makna lafadz dan dengan I‟rab bisa
diketahui khabar yang merupakan dasar dari suatu kalam. Tanpa I‟rab tidak bisa
dibedakan fâ‟il dari maf‟ûl, mudhâf dari man‟ût, dan tidak bisa dibedakan
ta‟ajub dari istifham”.
Selanjutnya para pendukung I‟rab memberikan penjelasan untuk menentang
pendapat kelompok pertama dengan argumentasi sebagai berikut:
a. Seandainya harakat masuk dalam kalam hanya untuk meringankan lidah
dalam berbicara, maka boleh sesekali mengajarkan fâ‟il, menashabkan dan
merafa‟kan, dan apabila itu terjadi maka kalam akan rusak dan kalam
sudah keluar dari sistem bahasa orang Arab itu sendiri.

8
Fiqh Lughah - I’rab – Kelompok 11

b. Alasan yang dikemukakan kelompok pertama bahwa yang dapat
membedakan makna adalah sistematika kalimat dan tempat khusus untuk
setiap makna dari makna-makna bahasa, itu terlalu berlebihan, karena
dalam bahasa Arab tidak ada tempat-tempat bagi satu keadaan dari
keadaan-keadaan struktur kalimat, seperti fi‟il menempati tempat pertama,
fâ‟il tempat kedua dan maf‟ûl tempat ketiga. Dalam bahasa Arab kadangkadang satu tempat bisa ditempati oleh fâ‟il, fi‟il dan kadang ditempati
maf‟ûl bih. Perhatikan kalimat berikut;

c. Dalam bahasa Arab terdapat banyak bentuk susunan kalimat yang
maknanya berbeda karena harakatnya berbeda, contoh firman Allah;

Apabila kata

diberi harakat kasrah, maka maknanya bisa

menyebabkan kekufuran, dan apabila dibaca rafa‟ atau nasab maka
maknanya itulah yang benar. Contoh lainnya;

Contoh yang pertama menunjukkan bahwa lemari-lemari dipenuhi bukubuku, sedangkan contoh kedua berarti lemari-lemari disiapkan untuk bukubuku.

9
Fiqh Lughah - I’rab – Kelompok 11

Contoh pertama bermaksud menanyakan mengenai Muhammad dan Zaid,
sedangkan contoh kedua bermaksud menanyakan bagaimana hubungan
antara Muhammad dan Zaid.

Contoh pertama merupakan istifham (bertanya), sedangkan contoh kedua
ihkbar (memberi informasi).

Contoh pertama berarti seorang pemuda telh mencukupi kita, sedangkan
contoh kedua kita telah mencukupi seorang pemuda.
Dari contoh di atas jelas bahwa I‟rab mempunyai peran penting dalam
menjelaskan makna dan menunjukkan kedudukan struktur kalimat.
Walaupun demikian tidak setiap I‟rab dapat menunjukkan makna dan
menjelaskan struktur dalam kalimat, karena kerap kali kita menemukan harakat
yang sama sekali tidak menunjukkan makna, seperti dalam keadaan berikut:
a. Harakat merupaka bagian dari kata itu sendiri seperti kata
untuk jama‟ mudzakar sâlim dan isim tatsniyah.

dan

b. Harakat yang berfungsi hanya sebagai penghubung dan maringankan
dalam pngucapan sperti;

begitu juga

harakat dalam na‟at sababi diduga kuat termasuk katagori ini.
c. Harakat untuk membedakan antara mudzakar dan muannats seperti harakat
dalam kalimat
mukhâtab seperti

dan

, membedakan mutakallim dan

dan

membedakan antara mudzakar ghâib

mufrad, mudzakar ghâib tatsniyah dan mudzakar ghâib jama‟ seperti

d. Perbedaan harakat karena perbedaan dialek seperti dalam I‟rab asmâu alkhamsah. Dialek kabilah Harits bin Ka‟ab menandai mutsana dengan alif
dalam berbagai keadaannya. Orang-orang Hijaz mereka mengamalkan

10
Fiqh Lughah - I’rab – Kelompok 11

seperti

amalnya

sedangkan

orang-orang

Tamim

tidak

mengamalkannya.
Dari uraian di atas nampak jelas bahwa persoalan I‟rab masih menjadi
perbincangan dikalangan para ulama dari dulu sampai sekarang. Bahkan sekarang
ada kecenderungan dari para pakar bahasa Arab menyeru untuk menghilangkan
I‟rab dan menyuguhkan suatu metode yang lebih fleksibel dan tidak berkutat pada
formalitas I‟rab, karena I‟rab bisa membuat pengguna bahasa kesulitan terutama
bagi

tingkat

ibtidaiyah

dan

mutawasithah

mengekspresikan apa yang ada dalam dirinya.

3

dalam

3

Ade Nandang: Fiqh Lughah, Bandung: Insan Mandiri. hal.179-183

11

berkomunikasi

dan
Fiqh Lughah - I’rab – Kelompok 11

BAB III
SIMPULAN

Dari uraian materi di atas, maka dapat disimpulkan bahawa:
A. I‟rab adalah perubahan akhir kata, baik harakat maupun huruf yang
berfungsi untuk menunjukkan kedudukan kata itu sendiri dalam suatu
kalimat dan penekanan I‟rab adalah pada perubahan akhir kata dengan
sebab masuknya amil-amil (bermacam-macam faktor) yang ikut
mempengaruhinya.
B. Perkembangan bahasa Arab terus melaju seiring meluasnya penyebaran
Islam sehingga mulai muncul bahasa „âmiyah pada masa Abbasiyah.
Pada masa itu orang-orang mengenal dua bahasa yaitu bahasa „âmiyah
yang cenderung mematikan akhir kata dan yang kedua bahasa fusha yaitu
bahasa dengan menggunakan I‟rab dan merupakan bahasa tingkat tinggi.
C. Ada dua kelompok ulama yang berpendapat mengenai fungsi dan dilalah
I‟rab, kedua kelompok tersebut bertolak belakang terkait dengan fungsi
dan dilalah I‟rab dalam kalimat bahasa Arab. Kelompok pertama
berpendapat bahwa I‟rab tidak mempunyai nilai dilalah substansial dalam
kalimat, I‟rab hanya merupakan bagian dari seni dalam bahasa yang
berkaitan erat dengan keserasian musik, lagu dan syi‟ir bahasa Arab.
Kelompok lain berpendapat bahwa I‟rab mempunyai fungsi yang sangat
penting dalam kalimat bahkan harakat bisa menjadi petunjuk akan makna
yang berbeda-beda. Kalau tidak demikian, maka bagaiman mungkin
orang Arab berusaha menjaga dan melestarikannya kalau harakat itu
tidak memberikan petunjuk dan gambaran bagi makna.

12
Fiqh Lughah - I’rab – Kelompok 11

DAFTAR PUSTAKA

Nandang S, Ade. Fiqh Lughah, 2012. Bandung: Insan Mandiri.

13

I’rab

  • 1.
    Fiqh Lughah -I’rab – Kelompok 11 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dari aspek sintaxe, bahasa Arab dibedakan dari bahasa lainnya dengan adanya kaidah I‟rab yang menunjukkan fungsi kata dalam sebuah ungkapan dan menunjukkan adanya hubungan antar kata tersebut dengan kata lainnya dalam sebuah kalimat, sistem seperti ini tidak akan kita temukan dalam bahasa-bahasa lain, bahkan sistem seperti ini merupakan keistimewaan yang dimiliki oleh bahasa Arab sebagai bahasa yang pertama bahasa Sâmiyah. Dalam kalimat-kalimat bahasa Arab kita sering mempertanyakan; apakah harakat yang ada pada akhir kalimat merupakan isyarat dari makna yang beragam? Atau apakah hal itu hanya untuk menyampaika kalimat saja, yang tidak berpengaruh terhadap makna? Ataukah hanya bagian dari kalimat itu sendiri? Dalam kajian fiqh lughah ini, penulis akan menguraikan materi tentang I‟rab baik dari pengertiannya, perkembangannya, fungsi dan dilalah I‟rab. Semoga dari urain meteri tersebut dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang elah disebutkan di atas. B. Rumusan Masalah Rumusan masalah yang akan kami bahas dalam makalah ini diantaranya adalah: A. Apa Pengertian I‟rab? B. Bagaimana Perkembangan I‟rab Menurut Pendapat Ulama? C. Apa Fungsi serta Dilalah I‟rab? C. Tujuan Penulisan Makalah ini disusun dengan beberapa tujuan sebagai berikut: 1. Agar kita mengetahui pengertian I‟rab. 2. Agar kita mengetahui perkembangan I‟rab menurut pendapat ulama. 3. Agar kita mengetahui Fungsi serta dilalah I‟rab. 1
  • 2.
    Fiqh Lughah -I’rab – Kelompok 11 D. Metode Penulisan Dalam penyusunan makalah ini, penyusun menggunakan dengan sebuah teknik studi kepustakaan, yaitu dengan cara mengumpulkan dari berbagai sumber seperti: buku-buku yang ada di perpustakaan maupun dari sumber lainnya yang bersangkutan dengan materi yang akan dibahas di makalah ini. 2
  • 3.
    Fiqh Lughah -I’rab – Kelompok 11 BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian I’rab Menurut bahasa I‟rab merupakan bentuk mashdar dari kata a‟raba yang sepadan dengan kata afshaha, nudhaha. Dalam ungkapan arab , (seseorang mengetahui dengan jelas apa yang ada dalam hatinya). Adapun I‟rab menurut istilah adalah penjelasan mengenai makna dengan menggunakan lafadz. Ibrahim Mustafa memberikan pengertian bahwa I‟rab adalah perubahan yang disebabkan adanya „âmil. Sedangkan Abas Hasan memberikan penjelasan bahwa I‟rab adalah perubahan ciri atau tanda yang terdapat di akhir suatu lafadz karena adanya perubahan amil yang masuk pada lafadz tersebut. Jadi, dapat disimpulkan bahwa I‟rab adalah perubahan akhir kata, baik harakat maupun huruf yang berfungsi untuk menunjukkan kedudukan kata itu sendiri dalam suatu kalimat dan penekanan I‟rab adalah pada perubahan akhir kata dengan sebab masuknya amil-amil (bermacam-macam faktor) yang ikut mempengaruhinya. Apabila kita perhatikan beberapa definisi yang disampaikan oleh para ulama di atas, dari definisi itu ada yang menyoroti kepada fungsi I‟rab, seperti yang dijelaskann Ibnu Jinni bahwa I‟rab itu mempunyai peranan sangat penting dalam menentukan makna dalam sebuah kalimat, sedangkan definisi lain ada yang melihat I‟rab dari aspek lahiriyahnya yang berupa syakal atau harakat dalam sebuah kalimat, tetapi dari sekian pendapat yang ada mereka sepakat bahwa I‟rab mempunyai peranan dalam kalimat.1 B. Perkembangan I’rab Para peneliti berpendapat bahwa pada awalnya I‟rab merupakan cerita rekaan yang muncul dalam fenomena kebahasaan yang berkembangan dikalangan kabilah-kabilah bangsa Arab. Dengan berjalannya waktu cerita rekaan itu menjadi 1 Ade Nandang: Fiqh Lughah, Bandung: Insan Mandiri. hal.173 3
  • 4.
    Fiqh Lughah -I’rab – Kelompok 11 sesuatu yang baku dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikunya, baru pada akhir abad pertama hijriyah I‟rab telah sempurna penyusunannya di bawah tangan ahli bahasa yang berkembang dan hidup di Iraq. Sebagian orientalis berpendapat bahwa al-Qur‟an diturunkan pada awalnya dengan menggunakan lahjah Mekah yang luput dari I‟rab, sebagaimana para peneliti bahasa sebagian menyebutkan bahwa I‟rab itu tidak terpelihara kecuali dalam bahasa sastra. Argumentasi mereka didasarkan pada dua hal yaitu; pertama bahwa semua dialek Arab yang berkembang dan dialek yang banyak digunakan pada masa sekarang di Hijaz, Nejed, Yaman, Mesir, Iraq, dan Syam ternyata luput dari I‟rab. Seandainya dialek percakapan bahasa Arab dahulu menggunakan I‟rab pasti sistem I‟rab itu akan sampai dan digunakan oleh semua dialek bahasa Arab sekarang. kedua bahwa sistem I‟rab yang cenderung sulit digunakan dalam perkembangan pemakaian bahasa tidak masuk akal dapat terjaga dalam dialek masa sekarang, karena dialek percakapan sekarang cenderung memberikan kemudahan dalam cara pengungkapannya. Pendapat di atas ditentang oleh para ulama yang mendukung adanya I‟rab dengan alasan-alasan sebagai berikut: a. Sebagian dialek baha Arab sekarang senantiasa memelihara I‟rab terutama I‟rab dengan menggunakan huruf. b. Perkembangan bahasa sesungguhnya yang dapat menghilangkan I‟rab, jadi tidak adanya I‟rab bagi sebagian dialek bahasa Arab tidak berarti dulu bahasa itu tidak ber-I‟rab. c. Tidak ditemukan dalam riwayat terkait dengan kebahasa Araban yang menunjukkan bahwa para ahli nahwu serampangan dalam menetapkan qawâ‟id. d. Sya‟ir Arab dengan wazan musiknya senanstiasa berpegang teguh kepada I‟rab, tanpa I‟rab setiap wazan-wazan syi‟ir menjadi rancu. e. Al-Qur‟an dan Hadits Nabi sampai kepada kita dengan kalimat yang berI‟rab. 4
  • 5.
    Fiqh Lughah -I’rab – Kelompok 11 f. Riwayat tentang Lahn dan orang-orang yang melakukannya tidak mungkin dibuat-buat atau hanya riwayat bohong, padahala riwayat tentang lahn banyak ditemukan dikalangan para sahabat. g. Orang Arab tidak dapat memahami bahasa kecuali kalimatnya ber-I‟rab. h. Pendapat yang mengatakan bahwa al-Qur‟an diturunkan tanpa I‟rab adalah pendapat yang tidak disertai dengan argumentasi kuat. Justru para ulama mendapatkan al-Qur‟an dalam keadaan ber-I‟rab lalu dari I‟rab itu para ulama dapat menetapkan qawâ‟idnya, karena al-Qur‟an dipandang sebagai teks yang sangat terpercaya yang dapat dijadikan rujukan dalam menetapkan benarnya suatu kaidah dari kaidah-kaidah I‟rab. i. Apabila al-Qur‟an diturunkan tanpa I‟rab, maka dimana letak bentuk penentangan ketika Allah menantan orang-orang musyrik untuk bisa mendatangkan satu surat yang semisal al-Qur‟an, dan bentuk penentangan itu tidak ada kecuali apabila bahasa al-Qur‟an itu pada dasarnya merupakan bahasa yang digunakan oleh orang-orang pada waktu itu yang terdiri dari lafadz, susunan, dan harakat. Dari uraian di atas jelas kiranya bahwa I‟rab itu digunakan dalam bahasa sastra maupun dalam bahasa percakapan biasa dan I‟rab juga merupakan unsur mendasar dalam bahasa Arab yang lahir sejak bahasa Arab itu ada. Tetapi kita juga tidak memungkiri adanya lahn sejak masa Islam atau mungkin sebelum masa Islam dan lahn ini tidak terbatas pada masyarakat kebanyakan dari bangsa Arab bahkan kadang terjadi dikalangan para khalifah, ahli hadits, dan juga ahli fiqh. Lahn juga terkadang terjadi ketika membaca kitab Allah . dalam sebuah riwayat Nabi berkata: ini menunjukkan bahwa Nabi mendengar sebagian orang d i masanya membaca al-Qur‟an dengan lahn. Perkembangan bahasa Arab terus melaju seiring meluasnya penyebaran Islam sehingga mulai muncul bahasa „âmiyah pada masa Abbasiyah. Pada masa itu orang-orang mengenal dua bahasa yaitu bahasa „âmiyah yang cenderung 5
  • 6.
    Fiqh Lughah -I’rab – Kelompok 11 mematikan akhir kata dan yang kedua bahasa fusha yaitu bahasa dengan menggunakan I‟rab dan merupakan bahasa tingkat tinggi.2 C. Fungsi I’rab dan Dilalahnya Mengenai fungsi dan dilalah I‟rab dalam kalimat senantiasa menjadi perbincangan dikalangan para ulama dahulu maupun ulama sekarang. Seluruh ahli Nahwu Arab, kecuali Abu Ali Muhammad bin al-Mustanir yang dikenal dengan nama Quthrub (w. 206 H), berpandangan bahwa harkat-harkat I‟rab menunjukkan berbagai macam makna berbeda, yang mempengaruhi kata-kata benda (isim), seperti kasus subjektif (fail), objektif (maf‟ul), genitif (idhafah) dan lain sebagainya. Ada dua kelompok ulama yang berpendapat, mereka bertolak belakang terkait dengan fungsi dan dilalah I‟rab dalam kalimat bahasa Arab. Kelompok pertama berpendapat bahwa I‟rab tidak mempunyai nilai dilalah substansial dalam kalimat, I‟rab hanya merupakan bagian dari seni dalam bahasa yang berkaitan erat dengan keserasian musik, lagu dan syi‟ir bahasa Arab. Kelompok lain berpendapat bahwa I‟rab mempunyai fungsi yang sangat penting dalam kalimat bahkan harakat bisa menjadi petunjuk akan makna yang berbeda-beda. Kalau tidak demikian, maka bagaiman mungkin orang Arab berusaha menjaga dan melestarikannya kalau harakat itu tidak memberikan petunjuk dan gambaran bagi makna. Diantara pendukung kelompokpertama adalah al-Khalil bin Ahmad alFarahidi seperti yang dikutip oleh Sibawaih,al-Farahidi mengatakan bahwa: “fathah, dhomah dan kasrah merupakan tambahan, semuanya itu dihubungkan dengan huruf untuk menghubungkan kepada pembicaraan”. Di bawah ini penulis sampaikan argumentasai ulama yang menyebutkan bahwa I‟rab tidak mempunyai dilalah tetapi hanya sebagia pelengkap untuk keserasian dalam ungkapan pembicaraan, pendapat itu sebagai berikut: a. Dalam sebuah kalimat terdapat kata yang mempunyai fungsi dengan sendirinya seperti contoh kalimat 2 dalam kalimat: Ade Nandang: Fiqh Lughah, Bandung: Insan Mandiri. hal.174-178 6
  • 7.
    Fiqh Lughah -I’rab – Kelompok 11 Apabila kita perhatikan kalimat di atas harakatnya berbeda-beda tetapi sebenarnya kata itu semuanya merupakan musnad dalam kalimat tersebut. b. Dalam kalimat terdapat kata yang harakatnya sama sementara dalam fungsi gramatiknya berbeda seperti hal, tamyîz, afâl khamsyah semuanya dinasabkan. c. Dalam kalimat terdapat banyak shigah (bentuk) yang berbeda-beda maknanya sedangkan I‟rabnya sama. Contoh kaliamat bila kita perhatikan harakat kata sama yaitu dinasabkan, padahal susunan pertama merupakan kalimat Ta‟kid (menguatkan), susunan kedua Tarajji (pengharapan) dan susunan ketiga merupakan Tasybih (menyerupakan). d. Dalam kalimat terdapat banyak bentuk yang berbeda-beda I‟rabnya sedangkan maknanya sama, contoh kalimat: Bila kita perhatikan harakat berbeda tapi maknanya sama. e. Seandainya harakat akhir kalimat itu menunjukkan terhadap mkana yang berbeda-beda, mengapa dalam bacaan al-Qur‟an diperbolehkan adanya Ikhtilaf al-Qira‟at (perbedaan dalam membaca harakat al-Qur‟an), dan mengapa diperbolehkan kata-kata itu diwaqafkan dengan membuang harakat akhir atau dengan sukun. Keadaan seperti ini berarti kalau bisa membuang harakat berarti membuang makna kata serta fungsinya dalam sebuah kalimat. f. Argumentasi bahwa I‟rab itu terkait dengan musik, lagu dan sya‟ir ini bisa dibuktikan dengan memperhatikan misalnya seorang penyanyi Libanon yang tidak mengetahui I‟rab dia bisa menyandarkan sya‟ir, lagu dan nyayiannya ketika merubah harakat akhir kepada akhir huruf dalam sebuah kata dengan tujuan mempermudah pengucapan dan memperindah irama musiknya. 7
  • 8.
    Fiqh Lughah -I’rab – Kelompok 11 Lebih lanjut ulama yang menyebutkan bahwa I‟rab tidak mempunyai fungsi dan tidak menunjukkan makna menjelaskan bahwa yang membedakan bahwa dalam kalimat adalah dua hal yaitu pertama situasi dimana pembicaraan itu berlangsung antara pembicara dan pendengar, kedua sistem kalimat bahasa Arab dan tempat khusus bagi setiap makna dari makna-makna bahasa.misalnya ungkapan ini menunjukkan keraguan mengenai persaudaraan, apabila kita mengucapkan ini menunjukkan keraguan mengenai nama. Dalam kebanyakan pembicaraan Arab, fâ‟il bersanding dengan kata setelahnya yaitu maf‟ûl bih dan fâ‟il tidak diletakkan setelah maf‟ûl bih kecuali dalam beberapa keadaan diantaranya dalam Uslûb al-qoshri (susunan untuk meringkas) contoh; Demikian beberapa argumentasi yang disampaikan kelompok yang menyatakan bahwa I‟rab tidak memiliki fungsi yang substansial dan tidak memberikan dampak terhadap perubahan makna dalam kalimat bahasa Arab. Adapun kelompok ulama yang berpendapat bahwa I‟rab mempunyai fungsi dilalah dan dapat membedakan struktur dalam kalimat diantaranya adala Abu Qâsim al-Zujaji dan Ibnu Fâris. Ibnu Fâris mengatakan dalam bukunya “diantara ilmu agung yang dikhususkan bagi bahasa Arab adalah ilmu tentang I‟rab. Dengan I‟rab kita bisa membedakan makna-makna lafadz dan dengan I‟rab bisa diketahui khabar yang merupakan dasar dari suatu kalam. Tanpa I‟rab tidak bisa dibedakan fâ‟il dari maf‟ûl, mudhâf dari man‟ût, dan tidak bisa dibedakan ta‟ajub dari istifham”. Selanjutnya para pendukung I‟rab memberikan penjelasan untuk menentang pendapat kelompok pertama dengan argumentasi sebagai berikut: a. Seandainya harakat masuk dalam kalam hanya untuk meringankan lidah dalam berbicara, maka boleh sesekali mengajarkan fâ‟il, menashabkan dan merafa‟kan, dan apabila itu terjadi maka kalam akan rusak dan kalam sudah keluar dari sistem bahasa orang Arab itu sendiri. 8
  • 9.
    Fiqh Lughah -I’rab – Kelompok 11 b. Alasan yang dikemukakan kelompok pertama bahwa yang dapat membedakan makna adalah sistematika kalimat dan tempat khusus untuk setiap makna dari makna-makna bahasa, itu terlalu berlebihan, karena dalam bahasa Arab tidak ada tempat-tempat bagi satu keadaan dari keadaan-keadaan struktur kalimat, seperti fi‟il menempati tempat pertama, fâ‟il tempat kedua dan maf‟ûl tempat ketiga. Dalam bahasa Arab kadangkadang satu tempat bisa ditempati oleh fâ‟il, fi‟il dan kadang ditempati maf‟ûl bih. Perhatikan kalimat berikut; c. Dalam bahasa Arab terdapat banyak bentuk susunan kalimat yang maknanya berbeda karena harakatnya berbeda, contoh firman Allah; Apabila kata diberi harakat kasrah, maka maknanya bisa menyebabkan kekufuran, dan apabila dibaca rafa‟ atau nasab maka maknanya itulah yang benar. Contoh lainnya; Contoh yang pertama menunjukkan bahwa lemari-lemari dipenuhi bukubuku, sedangkan contoh kedua berarti lemari-lemari disiapkan untuk bukubuku. 9
  • 10.
    Fiqh Lughah -I’rab – Kelompok 11 Contoh pertama bermaksud menanyakan mengenai Muhammad dan Zaid, sedangkan contoh kedua bermaksud menanyakan bagaimana hubungan antara Muhammad dan Zaid. Contoh pertama merupakan istifham (bertanya), sedangkan contoh kedua ihkbar (memberi informasi). Contoh pertama berarti seorang pemuda telh mencukupi kita, sedangkan contoh kedua kita telah mencukupi seorang pemuda. Dari contoh di atas jelas bahwa I‟rab mempunyai peran penting dalam menjelaskan makna dan menunjukkan kedudukan struktur kalimat. Walaupun demikian tidak setiap I‟rab dapat menunjukkan makna dan menjelaskan struktur dalam kalimat, karena kerap kali kita menemukan harakat yang sama sekali tidak menunjukkan makna, seperti dalam keadaan berikut: a. Harakat merupaka bagian dari kata itu sendiri seperti kata untuk jama‟ mudzakar sâlim dan isim tatsniyah. dan b. Harakat yang berfungsi hanya sebagai penghubung dan maringankan dalam pngucapan sperti; begitu juga harakat dalam na‟at sababi diduga kuat termasuk katagori ini. c. Harakat untuk membedakan antara mudzakar dan muannats seperti harakat dalam kalimat mukhâtab seperti dan , membedakan mutakallim dan dan membedakan antara mudzakar ghâib mufrad, mudzakar ghâib tatsniyah dan mudzakar ghâib jama‟ seperti d. Perbedaan harakat karena perbedaan dialek seperti dalam I‟rab asmâu alkhamsah. Dialek kabilah Harits bin Ka‟ab menandai mutsana dengan alif dalam berbagai keadaannya. Orang-orang Hijaz mereka mengamalkan 10
  • 11.
    Fiqh Lughah -I’rab – Kelompok 11 seperti amalnya sedangkan orang-orang Tamim tidak mengamalkannya. Dari uraian di atas nampak jelas bahwa persoalan I‟rab masih menjadi perbincangan dikalangan para ulama dari dulu sampai sekarang. Bahkan sekarang ada kecenderungan dari para pakar bahasa Arab menyeru untuk menghilangkan I‟rab dan menyuguhkan suatu metode yang lebih fleksibel dan tidak berkutat pada formalitas I‟rab, karena I‟rab bisa membuat pengguna bahasa kesulitan terutama bagi tingkat ibtidaiyah dan mutawasithah mengekspresikan apa yang ada dalam dirinya. 3 dalam 3 Ade Nandang: Fiqh Lughah, Bandung: Insan Mandiri. hal.179-183 11 berkomunikasi dan
  • 12.
    Fiqh Lughah -I’rab – Kelompok 11 BAB III SIMPULAN Dari uraian materi di atas, maka dapat disimpulkan bahawa: A. I‟rab adalah perubahan akhir kata, baik harakat maupun huruf yang berfungsi untuk menunjukkan kedudukan kata itu sendiri dalam suatu kalimat dan penekanan I‟rab adalah pada perubahan akhir kata dengan sebab masuknya amil-amil (bermacam-macam faktor) yang ikut mempengaruhinya. B. Perkembangan bahasa Arab terus melaju seiring meluasnya penyebaran Islam sehingga mulai muncul bahasa „âmiyah pada masa Abbasiyah. Pada masa itu orang-orang mengenal dua bahasa yaitu bahasa „âmiyah yang cenderung mematikan akhir kata dan yang kedua bahasa fusha yaitu bahasa dengan menggunakan I‟rab dan merupakan bahasa tingkat tinggi. C. Ada dua kelompok ulama yang berpendapat mengenai fungsi dan dilalah I‟rab, kedua kelompok tersebut bertolak belakang terkait dengan fungsi dan dilalah I‟rab dalam kalimat bahasa Arab. Kelompok pertama berpendapat bahwa I‟rab tidak mempunyai nilai dilalah substansial dalam kalimat, I‟rab hanya merupakan bagian dari seni dalam bahasa yang berkaitan erat dengan keserasian musik, lagu dan syi‟ir bahasa Arab. Kelompok lain berpendapat bahwa I‟rab mempunyai fungsi yang sangat penting dalam kalimat bahkan harakat bisa menjadi petunjuk akan makna yang berbeda-beda. Kalau tidak demikian, maka bagaiman mungkin orang Arab berusaha menjaga dan melestarikannya kalau harakat itu tidak memberikan petunjuk dan gambaran bagi makna. 12
  • 13.
    Fiqh Lughah -I’rab – Kelompok 11 DAFTAR PUSTAKA Nandang S, Ade. Fiqh Lughah, 2012. Bandung: Insan Mandiri. 13