IJTIHAD
Oleh : Hidayat Aji Pambudi S.Ag
Pengertian Ijtihad


Ijtihad adalah sendi Islam yang ketiga sesudah

Al-Quran dan Sunnah. Menurut harfiah, ijtihad
berasal dari kata ijtahada, artinya
mencurahkan tenaga, memeras pikiran,
berusaha sungguh-sungguh, bekerja
semaksimal mungkin. Ada juga yang

mengartikan bahwa ijtihad adalah penggunaan
pendapat bebas
Pengertian Ijtihad


Menurut para ahli ushul fiqh antara lain Imam
asy-Syaukani dan Imam az-Zarkasy, ijtihad
adalah mencurahkan kemampuan untuk

mendapatkan syara’ (hukum Islam) yang
bersifat operasional dengan istinbath
(mengambil kesimpulan hukum).
Pengertian Ijtihad


Menurut Imam Al-Amidi dalam bukunya alAhkam fi Ushul al-Ahkam (penyempurnaan
dalam Dasar-Dasar Hukum), ijtihad adalah

mencurahkan semua kemampuan untuk
mencari syara’ yang bersifat dzanni (dugaan)
sampai merasa dirinya tidak mampu mencari
tambahan kemampuan itu.
Pengertian Ijtihad


Secara terminologis Ijtihad berarti suatu
pekerjaan yang mempergunakan segala
kesanggupan daya rohaniyah untuk

mengeluarkan hukum syara’, menyusun suatu
pendapat dari suatu masalah hukum
berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah.
Dasar Hukum Ijtihad


Dasar hukum ijtihad dalam Al-Qur’an Surat anNisa: 83


Artinya: Dan apabila datang kepada mereka
suatu berita tentang keamanan atau pun
ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan
kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul
dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orangorang yang ingin mengetahui kebenarannya
(akan dapat) mengetahuinya dari mereka
(Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena
karunia dan rahmat Allah kepada kamu,
tentulah kamu mengikut setan, kecuali
sebahagian kecil saja (di antaramu).
Dasar Hukum Ijtihad


Dasar ijtihad dalam sunnah ialah sabda Nabi
SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan
Muslim yang artinya ”apabila seorang hakim

berijtihad dan benar, maka bagiannya dua
pahala, tetapi jika berijtihad lalu keliru maka
bagainnya datu pahala”.
Jenis Hukum Ijtihad
Begitu pentingnya ijtihad itu dilakukan,
sehingga ahli ushul fiqh menetapkan bahwa
hukum ijtihad itu ada tiga (Keterangan ini ada
dalam buku Ihya ’Ulum ad-Din), yakni
1. Fardu ’ain (wajib bagi setiap orang).
Hukum ijtihad menjadi fardhu ’ain apabila
timbul suatu persoalan yang sangat mendesak
untuk ditentukan atau dicarikan kepastian
hukumnya.

Jenis Hukum Ijtihad
2. Fardhu Kifayah (cukup dilakukan oleh
sebagian orang)
Hukum ijtihad menjadi fardhu kifayah apabila
ada persoalan yang muncul yang diajukan
kepada beberapa ulama untuk dijawab dan
kewajiban mereka menjadi gugur jika salah
seorang diantara mereka memberi jawaban
atas persoalan tersebut.
Jenis Hukum Ijtihad
3. Mandub (sunnah)
Ijtihad menjadi mandub /sunnah apanila
masalah-masalah yang akan dicarikan
kepastian hukumnya adalah masalah yang
belum mendesak, misalnya persoalan yang
ditanyakan itu belum terjadi di masyarakat.
Kenapa Ada Konsep Ijtihad?


Dalam kehidupan duniawi, ummat Islam perlu
merumuskan dan menegakkan suatu sistem
kebudayaan Islam yang mampu menciptakan
kebaikan bagi manusia seluruhnya. Suatu
sistem kebudayaan yang harus mengalami
perkembangan terus dan maju sebagaimana
watak dari kebudayaan itu sendiri yang selalu
seirama dengan semangat dan tuntutan
zaman, tetapi tetap dengan nafas Islam.
Kenapa Ada Konsep Ijtihad?




Maka dalam usaha menghadapi kehidupan yang
serba berubah dan menjawab setiap tantangan
zaman, Islam meletakan doktrin pemikiran bebas
yang bernama Ijtihad.
Jika Al-Qur’an dan Sunnah sebagai dua sumber
asasi Islam, maka Ijtihad berfungsi sebagai
penggeraknya. Ajaran Ijtihad adalah menopang
ajaran Islam yang abadi. Ia menjadi bukti bagi
manusia bahwa Islam selalu memberikan pintu
terbuka buat intelek manusia yang selalu mencaricari.
Kenapa Ada Konsep Ijtihad?


Disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Maidah
48:

“untuk tiap orang dari kamu,
ciptakan suatu Syari’ah dan
terbuka”

kami telah
satu jalan
Lapangan Ijtihad
1. Ijtihad berlaku pada hal-hal atau hukumhukum yang belum ditetapkan dalam AlQur’an secara terperinci.
2. Apabila Syariah tidak menentukan suatu
hukum yang terperinci, melainkan asas umum
belaka atau tidak hendak melakukan suatu
perundang-undangan hukum misalnya: soal
pemerintahan, teknologi, sosial budaya, politik
dan sebagainya.
Lapangan Ijtihad


Obyek Ijtihad haruslah masalah Syari’ah.
Obyek Ijtihad tidak boleh mengenai hal-hal
yang telah mendapat dalil-dalil positif semisal

ketuhanan, kenabian dan hal-hal yang
termasuk dalam rukun iman.
Syarat-Syarat Mujtahid
Menurut Yusuf Qardhawi (ahli ushul dan fiqih)
dalam bukunya al-Ijtihad fi-asy-Syari’ah alIslamiyah menyebutkan ada delapan syarat
mujtahid yakni:
1. Memahami Al-Qur’an dengan asbab an-Nuzul
(sebab-sebab turunnya ayat), ayat nasikh dan
mansukh
2. Memahami hadits, ilmu hadits dan sebab-sebab
wurud (sebab munculnya hadits-hadits)
3. Mempunyai pengetahuan yang mendalam
tentang bahasa Arab

Syarat-Syarat Mujtahid
4. Mengetahui tempat-tempat ijmak
5. Mengetahui ushul fiqih
6. Mengetahui maksud-maksud syari’ah
7. Memahami masyarakat dan adat istiadatnya
8. Bersifat adil dan taqwa
Jenis-Jenis Ijtihad
1. Ijma
Ijma artinya kesepakatan para ulama dalam
menetapkan suatu hukum-hukum dalam
agama berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits
dalam suatu perkara yang terjadi
 Hasil dari ijma adalah fatwa, yaitu keputusan
bersama para ulama dan ahli agama yang
berwenang untuk diikuti oleh seluruh ummat.
Jenis-Jenis Ijtihad
2. Qiyas
Ada beberapa definisi tentang qiyas
 Menyimpulkan

hukum dari yang asal menuju
kepada cabangnya, berdasarkan titik persamaan
diantara keduanya
 Membuktikan hukum definitif untuk yang definitif
lainnya, melalui suatu persamaan diantaranya
 Tindakan menganalogikan hukum yang sudah
ada penjelasan di dalam Al-Qur’an atau hadits
dengan kasus baru yang mempunyai persamaan
sebab (illat)
Jenis-Jenis Ijtihad
3. Istihsan
Ada beberapa definisi tentang istihsan
 Fatwa

yang dikeluarkan oleh seorang faqih
(ahli fiqih) karena dia merasa hal itu adalah
benar
 Argumentasi dalam pikiran seseorang faqih
tanpa bisa diekspresikan secara lisan olehnya
 Mengganti argumen dengan fakta yang dapat
diterima, untuk maslahat orang banyak,
memutuskan suatu perkara untuk mencegah
suatu kemadharatan
Jenis-Jenis Ijtihad
4. Maslahah Mursalah
Yakni tindakan memutuskan masalah yang
tidak ada nash nya dengan pertimbangan
kepentingan hidup manusia berdasarkan
prinsip menarik manfaat dan menghindari
kemadharatan
5. Suddudz Dzariah
Adalah tindakan memutuskan sesuatu yang
mubah menjadi makruh, atau haram demi
kepentingan ummat
Jenis-Jenis Ijtihad
6. Istihsab
Adalah tindakan menetapkan berlakunya
suatu ketetapan sampai ada alasan yang bisa
mengubahnya
7. Urf
Adalah tindakan menentukan masih bolehnya
suatu adat istiadat dan kebiasaan masyarakat
setempat selama kegiatan tersebut tidak
bertentangan dengan aturan-aturan prinsipal
dalam Al-Qur’an dan hadits.
Tingkatan Dalam Ijtihad
Berdasarkan ijtihad yang dilakukan, ulama
mengelompokkan mujtahid dalam beberapa
tingkatan. Muhammad Abu Zahrah (ahli usul, fiqih
dan kalam) dalam bukunya Usul al-Fiqh menyebut
enam tingkatan, yakni:
1. Mujtahid Mustaqil
Yaitu mujtahid yang mengeluarkan hukum-hukum
dari Al-Qur’an dan sunnah, melakukan qiyas,
berfatwa, dan beristihsan. Mereka menempuh
segala cara ber istidlal (pengambilan dalil) yang
ditentukan sendiri dan tidak mengikuti pendapat
siapapun. Mujtahid Mustaqil adalah tingkatan
mujtahid yang paling tinggi.

Tingkatan Dalam Ijtihad
2. Mujtahid Muntasib
Yaitu mujtahid yang memilih perkataanperkataan seorang imam pada hal-hal yang
bersifat mendasar dan berbeda berbeda
pendapat dengan mereka dengan mereka
dalam hal-hal furu’ (cabang) walaupun pada
akhirnya ia akan sampai pada hasil yang
serupa dengan hal yang telah dicapai imam
tersebut.
Tingkatan Dalam Ijtihad
3. Mujtahid fi-al madzhab
Yaitu mujtahid yang mengikuti pendapat imam
madzhab, baik dalam hal-hal ushul (pokok)
maupun furu’. Usahanya hanya sebatas
meng-istinbath-kan (menyimpulkan) hukumhukum bagi persoalan-persoalan yang belum
ditemui hukumnya dalam pendapat imam
madzhab
Tingkatan Dalam Ijtihad
4. Mujtahid Murajjih
Yakni mujtahid yang meng-istinbath-kan
hukum-hukum yang tidak diijtihadkan oleh
para ulama sebelumnya.
Sebenarnya, mujtahid pada tingkat ini tidak
meng-istinbath-kan hukum-hukum tetapi
hanya melakukan tarjih (mencari pendapat
imam madzhab yang lebih kuat)
Tingkatan Dalam Ijtihad
5. Mujtahid Muhafiz.
Yaitu mujtahid yang mengetahui hukumhukum yang telah di tarjih-kan oleh para
ulama sebelumnya.
6. Mujtahid Muqallid
Yaitu mujtahid yang hanya sanggup
memahami pendapat-pendapat mujtahid lain,
tidak mampu melakukan tarjih.
Tingkatan Dalam Ijtihad
Sedangkan menurut Yusuf alQardhawi, menyebutkan empat tingkatan
mujtahid yaitu:
1. Mujtahid mustaqil
2. Mujtahid muntasib
3. Mujtahid fi-al-madzhab
4. Mujtahid fatwa
Tingkatan Dalam Ijtihad
Ada juga ulama yang membagi tingkatan
mujtahid sebagai berikut:
1. Mujtahid Mutlak
Yaitu mereka yang mempunyai persyaratanpersyaratan lengkap sebagai seorang
Mujtahid. Seperti para pendiri Madzhab yang
telah menciptakan sistem Madzhab dan
berhasil menarik pengikut-pengikut dan
pendukung. Sampai sekarang mereka adalah
mujtahid paling tinggi.

Tingkatan Dalam Ijtihad
2. Muttabi
Apabila Ijtihad tidak mungkin dilakukan, maka
minimal seseorang menjadi muttabi. Yakni
mengikuti dan menerima fatwa dari pendapat
seorang ulama atau pemimpin dengan daya
kritis, berusaha memikirkan, menimbangnimbang dan memperbandingkan dengan
fatwa atau pendapat para ulama dan
pemimpin-pemimpin lain, kemudian
memutuskan sendiri mana yang dianggap
lebih benar.
Tingkatan Dalam Ijtihad
3. Orang Yang Bermadzhab
Yaitu orang yang memilih salah satu aliran
yang ada dan berpengaruh. Orang yang
bermadzhab adalah yang dengan sadar dan
dengan ilmu mengikuti aliran yang
dipeganginya, bukan karena ikut-ikutan, tetapi
dengan pengetahuan dan pemahaman.
1. Madzhab Imam Abu Hanifah (699-767 M)
2. Madzhab Imam Maliki (714-798 M)
3. Madzhab Imam Syafi’i (767-854 M)
4. Madzhab Imam Ahmad bin Hanbal (780-855
M)
Tingkatan Dalam Ijtihad
4. Muqallid
Golongan ini tidak memiliki kecakapan untuk
melakukan penyelidikan Ijtihad. Orang yang
bertaqlid akan menerima secara apriori segala
fatwa dari seseorang ulama atau pemimpin
serta menganggapnya sebagai ajaran yang
wajib ditaati. Orang bertaqlid adalah orang
yang tidak mempergunakan pertimbangan
akal pikiran dalam mengikuti sesuatu.
Perkembangan Ijtihad


Pada masa sahabat, ijtihad mulai banyak
dipakai karena dengan wafatnya Rasulullah
SAW, wahyu dengan sendirinya tidak lagi
diturunkan dan hadits juga tidak lagi
bertambah. Sementara itu masalah-masalah
yang dihadapi ummat islam semakin
bertambah dan memerlukan ketentuan hukum.
Pada masa Abu Bakar ketika menghadapi
persoalan dan tidak menemukan nash nya
dalam Al-Qur’an dan Hadits, ia mengumpulkan
para sahabat untuk bermusyawarah dan
menentukan hukum dari masalah itu.
Perkembangan Ijtihad




Demikian pula pada masa Umar bin Khatab,
usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Mereka
menggunakan ijtihad terhadap masalahmasalah yang tidak didapati nashnya dalam
Al-Qur’an dan Sunnah Rasul
Akan tetapi dari ke empat khalifah itu, hanya
Umar yang diketahui paling banyak memakai
ijtihad . Walaupun demikian, keempat sahabat
itu sangat berhati-hati dalam mengeluarkan
suatu pendapat yang merupakan hasil ijtihad.
Perkembangan Ijtihad


Setelah masa sahabat, ijtihad semakin
berkembang. Hal ini ditandai dengan
munculnya mujtahid-mujtahid besar seperti
Abdullah bin Umar bin Khattab, ibnu Syihad
Al-Zuhri, Abdullah bin Abbas, Alqamah bin
Qais, Anas bin Malik, Umar bin Abdul Aziz,
Abdullah bin Amr dan Wahbah bin Munabbih.
Perkembangan Ijtihad


Ijtihad mengalami masa perkembangan yang
paling pesat pada abad kedua sampai dengan
abad keempat hijriah. Masa itu dikenal dengan
periode pembukuan sunnah serta fiqih dan
munculnya mujtahid-mujtahid terkemuka yang
kemudian dikenal sebagai imam-imam
madzhab, yaitu Imam Malik, Imam Hanafi,
Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hambal.
Perkembangan Ijtihad


Setelah abad keempat
Hijriyah, perkembangan ijtihad mengalami
kemunduran, bahkan muncul pendapat bahwa
pinyu ijtihad telah tertutup. Hal ini disebabkan
antara lain karena ummat Islam memandang
bahwa semua masalah telah ditetapkan
hukumnya oleh para fuqaha (ahli hukum
Islam), sehingga mereka hanya boleh
menjelaskan dan menafsirkan ajaran-ajaran
yang telah disepakati oleh fuqaha terdahulu.
Perkembangan Ijtihad


Pada masa itu tidak lagi muncul mujtahidmujtahid yang memiliki kemampuan dan
keunggulan seperti yang dimiliki oleh para
mujtahid sebelumnya sehingga tidak ada lagi
muncul mujtahid mutlak
Contoh Ijtihad Tentang
persoalan masa Kini
1. Zakat profesi
2. Operasi jenis kelamin
3. Perbankan syari’ah
4. Transplantasi organ tubuh
5. Bayi tabung dan kloning
6. Penggunaan internet
7. Rebonding
8. Shalat di luar angkasa
9. Infotaimen di televisi
Contoh Ijtihad Tentang
persoalan masa Kini
10.Masalah rokok
11. Operasi plastik
12. Pakai behel
13. Tindik bagi laki-laki
14. Donor darah
15. Mengecat rambut
16. KB
17. Menindik yang tidak pada tempatnya
18. Nyambung rambut
19. Olahraga tinju
20. Pegadaian Syari’ah
21. Pernikahan (ijab melalui media televisi)
22. Perdagangan on line
23. Face book
24. Membonceng ngangkang bagi perempuan

Ijtihad

  • 1.
    IJTIHAD Oleh : HidayatAji Pambudi S.Ag
  • 2.
    Pengertian Ijtihad  Ijtihad adalahsendi Islam yang ketiga sesudah Al-Quran dan Sunnah. Menurut harfiah, ijtihad berasal dari kata ijtahada, artinya mencurahkan tenaga, memeras pikiran, berusaha sungguh-sungguh, bekerja semaksimal mungkin. Ada juga yang mengartikan bahwa ijtihad adalah penggunaan pendapat bebas
  • 3.
    Pengertian Ijtihad  Menurut paraahli ushul fiqh antara lain Imam asy-Syaukani dan Imam az-Zarkasy, ijtihad adalah mencurahkan kemampuan untuk mendapatkan syara’ (hukum Islam) yang bersifat operasional dengan istinbath (mengambil kesimpulan hukum).
  • 4.
    Pengertian Ijtihad  Menurut ImamAl-Amidi dalam bukunya alAhkam fi Ushul al-Ahkam (penyempurnaan dalam Dasar-Dasar Hukum), ijtihad adalah mencurahkan semua kemampuan untuk mencari syara’ yang bersifat dzanni (dugaan) sampai merasa dirinya tidak mampu mencari tambahan kemampuan itu.
  • 5.
    Pengertian Ijtihad  Secara terminologisIjtihad berarti suatu pekerjaan yang mempergunakan segala kesanggupan daya rohaniyah untuk mengeluarkan hukum syara’, menyusun suatu pendapat dari suatu masalah hukum berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah.
  • 6.
    Dasar Hukum Ijtihad  Dasarhukum ijtihad dalam Al-Qur’an Surat anNisa: 83
  • 7.
     Artinya: Dan apabiladatang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau pun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orangorang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).
  • 8.
    Dasar Hukum Ijtihad  Dasarijtihad dalam sunnah ialah sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yang artinya ”apabila seorang hakim berijtihad dan benar, maka bagiannya dua pahala, tetapi jika berijtihad lalu keliru maka bagainnya datu pahala”.
  • 9.
    Jenis Hukum Ijtihad Begitupentingnya ijtihad itu dilakukan, sehingga ahli ushul fiqh menetapkan bahwa hukum ijtihad itu ada tiga (Keterangan ini ada dalam buku Ihya ’Ulum ad-Din), yakni 1. Fardu ’ain (wajib bagi setiap orang). Hukum ijtihad menjadi fardhu ’ain apabila timbul suatu persoalan yang sangat mendesak untuk ditentukan atau dicarikan kepastian hukumnya. 
  • 10.
    Jenis Hukum Ijtihad 2.Fardhu Kifayah (cukup dilakukan oleh sebagian orang) Hukum ijtihad menjadi fardhu kifayah apabila ada persoalan yang muncul yang diajukan kepada beberapa ulama untuk dijawab dan kewajiban mereka menjadi gugur jika salah seorang diantara mereka memberi jawaban atas persoalan tersebut.
  • 11.
    Jenis Hukum Ijtihad 3.Mandub (sunnah) Ijtihad menjadi mandub /sunnah apanila masalah-masalah yang akan dicarikan kepastian hukumnya adalah masalah yang belum mendesak, misalnya persoalan yang ditanyakan itu belum terjadi di masyarakat.
  • 12.
    Kenapa Ada KonsepIjtihad?  Dalam kehidupan duniawi, ummat Islam perlu merumuskan dan menegakkan suatu sistem kebudayaan Islam yang mampu menciptakan kebaikan bagi manusia seluruhnya. Suatu sistem kebudayaan yang harus mengalami perkembangan terus dan maju sebagaimana watak dari kebudayaan itu sendiri yang selalu seirama dengan semangat dan tuntutan zaman, tetapi tetap dengan nafas Islam.
  • 13.
    Kenapa Ada KonsepIjtihad?   Maka dalam usaha menghadapi kehidupan yang serba berubah dan menjawab setiap tantangan zaman, Islam meletakan doktrin pemikiran bebas yang bernama Ijtihad. Jika Al-Qur’an dan Sunnah sebagai dua sumber asasi Islam, maka Ijtihad berfungsi sebagai penggeraknya. Ajaran Ijtihad adalah menopang ajaran Islam yang abadi. Ia menjadi bukti bagi manusia bahwa Islam selalu memberikan pintu terbuka buat intelek manusia yang selalu mencaricari.
  • 14.
    Kenapa Ada KonsepIjtihad?  Disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Maidah 48: “untuk tiap orang dari kamu, ciptakan suatu Syari’ah dan terbuka” kami telah satu jalan
  • 15.
    Lapangan Ijtihad 1. Ijtihadberlaku pada hal-hal atau hukumhukum yang belum ditetapkan dalam AlQur’an secara terperinci. 2. Apabila Syariah tidak menentukan suatu hukum yang terperinci, melainkan asas umum belaka atau tidak hendak melakukan suatu perundang-undangan hukum misalnya: soal pemerintahan, teknologi, sosial budaya, politik dan sebagainya.
  • 16.
    Lapangan Ijtihad  Obyek Ijtihadharuslah masalah Syari’ah. Obyek Ijtihad tidak boleh mengenai hal-hal yang telah mendapat dalil-dalil positif semisal ketuhanan, kenabian dan hal-hal yang termasuk dalam rukun iman.
  • 17.
    Syarat-Syarat Mujtahid Menurut YusufQardhawi (ahli ushul dan fiqih) dalam bukunya al-Ijtihad fi-asy-Syari’ah alIslamiyah menyebutkan ada delapan syarat mujtahid yakni: 1. Memahami Al-Qur’an dengan asbab an-Nuzul (sebab-sebab turunnya ayat), ayat nasikh dan mansukh 2. Memahami hadits, ilmu hadits dan sebab-sebab wurud (sebab munculnya hadits-hadits) 3. Mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang bahasa Arab 
  • 18.
    Syarat-Syarat Mujtahid 4. Mengetahuitempat-tempat ijmak 5. Mengetahui ushul fiqih 6. Mengetahui maksud-maksud syari’ah 7. Memahami masyarakat dan adat istiadatnya 8. Bersifat adil dan taqwa
  • 19.
    Jenis-Jenis Ijtihad 1. Ijma Ijmaartinya kesepakatan para ulama dalam menetapkan suatu hukum-hukum dalam agama berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits dalam suatu perkara yang terjadi  Hasil dari ijma adalah fatwa, yaitu keputusan bersama para ulama dan ahli agama yang berwenang untuk diikuti oleh seluruh ummat.
  • 20.
    Jenis-Jenis Ijtihad 2. Qiyas Adabeberapa definisi tentang qiyas  Menyimpulkan hukum dari yang asal menuju kepada cabangnya, berdasarkan titik persamaan diantara keduanya  Membuktikan hukum definitif untuk yang definitif lainnya, melalui suatu persamaan diantaranya  Tindakan menganalogikan hukum yang sudah ada penjelasan di dalam Al-Qur’an atau hadits dengan kasus baru yang mempunyai persamaan sebab (illat)
  • 21.
    Jenis-Jenis Ijtihad 3. Istihsan Adabeberapa definisi tentang istihsan  Fatwa yang dikeluarkan oleh seorang faqih (ahli fiqih) karena dia merasa hal itu adalah benar  Argumentasi dalam pikiran seseorang faqih tanpa bisa diekspresikan secara lisan olehnya  Mengganti argumen dengan fakta yang dapat diterima, untuk maslahat orang banyak, memutuskan suatu perkara untuk mencegah suatu kemadharatan
  • 22.
    Jenis-Jenis Ijtihad 4. MaslahahMursalah Yakni tindakan memutuskan masalah yang tidak ada nash nya dengan pertimbangan kepentingan hidup manusia berdasarkan prinsip menarik manfaat dan menghindari kemadharatan 5. Suddudz Dzariah Adalah tindakan memutuskan sesuatu yang mubah menjadi makruh, atau haram demi kepentingan ummat
  • 23.
    Jenis-Jenis Ijtihad 6. Istihsab Adalahtindakan menetapkan berlakunya suatu ketetapan sampai ada alasan yang bisa mengubahnya 7. Urf Adalah tindakan menentukan masih bolehnya suatu adat istiadat dan kebiasaan masyarakat setempat selama kegiatan tersebut tidak bertentangan dengan aturan-aturan prinsipal dalam Al-Qur’an dan hadits.
  • 24.
    Tingkatan Dalam Ijtihad Berdasarkanijtihad yang dilakukan, ulama mengelompokkan mujtahid dalam beberapa tingkatan. Muhammad Abu Zahrah (ahli usul, fiqih dan kalam) dalam bukunya Usul al-Fiqh menyebut enam tingkatan, yakni: 1. Mujtahid Mustaqil Yaitu mujtahid yang mengeluarkan hukum-hukum dari Al-Qur’an dan sunnah, melakukan qiyas, berfatwa, dan beristihsan. Mereka menempuh segala cara ber istidlal (pengambilan dalil) yang ditentukan sendiri dan tidak mengikuti pendapat siapapun. Mujtahid Mustaqil adalah tingkatan mujtahid yang paling tinggi. 
  • 25.
    Tingkatan Dalam Ijtihad 2.Mujtahid Muntasib Yaitu mujtahid yang memilih perkataanperkataan seorang imam pada hal-hal yang bersifat mendasar dan berbeda berbeda pendapat dengan mereka dengan mereka dalam hal-hal furu’ (cabang) walaupun pada akhirnya ia akan sampai pada hasil yang serupa dengan hal yang telah dicapai imam tersebut.
  • 26.
    Tingkatan Dalam Ijtihad 3.Mujtahid fi-al madzhab Yaitu mujtahid yang mengikuti pendapat imam madzhab, baik dalam hal-hal ushul (pokok) maupun furu’. Usahanya hanya sebatas meng-istinbath-kan (menyimpulkan) hukumhukum bagi persoalan-persoalan yang belum ditemui hukumnya dalam pendapat imam madzhab
  • 27.
    Tingkatan Dalam Ijtihad 4.Mujtahid Murajjih Yakni mujtahid yang meng-istinbath-kan hukum-hukum yang tidak diijtihadkan oleh para ulama sebelumnya. Sebenarnya, mujtahid pada tingkat ini tidak meng-istinbath-kan hukum-hukum tetapi hanya melakukan tarjih (mencari pendapat imam madzhab yang lebih kuat)
  • 28.
    Tingkatan Dalam Ijtihad 5.Mujtahid Muhafiz. Yaitu mujtahid yang mengetahui hukumhukum yang telah di tarjih-kan oleh para ulama sebelumnya. 6. Mujtahid Muqallid Yaitu mujtahid yang hanya sanggup memahami pendapat-pendapat mujtahid lain, tidak mampu melakukan tarjih.
  • 29.
    Tingkatan Dalam Ijtihad Sedangkanmenurut Yusuf alQardhawi, menyebutkan empat tingkatan mujtahid yaitu: 1. Mujtahid mustaqil 2. Mujtahid muntasib 3. Mujtahid fi-al-madzhab 4. Mujtahid fatwa
  • 30.
    Tingkatan Dalam Ijtihad Adajuga ulama yang membagi tingkatan mujtahid sebagai berikut: 1. Mujtahid Mutlak Yaitu mereka yang mempunyai persyaratanpersyaratan lengkap sebagai seorang Mujtahid. Seperti para pendiri Madzhab yang telah menciptakan sistem Madzhab dan berhasil menarik pengikut-pengikut dan pendukung. Sampai sekarang mereka adalah mujtahid paling tinggi. 
  • 31.
    Tingkatan Dalam Ijtihad 2.Muttabi Apabila Ijtihad tidak mungkin dilakukan, maka minimal seseorang menjadi muttabi. Yakni mengikuti dan menerima fatwa dari pendapat seorang ulama atau pemimpin dengan daya kritis, berusaha memikirkan, menimbangnimbang dan memperbandingkan dengan fatwa atau pendapat para ulama dan pemimpin-pemimpin lain, kemudian memutuskan sendiri mana yang dianggap lebih benar.
  • 32.
    Tingkatan Dalam Ijtihad 3.Orang Yang Bermadzhab Yaitu orang yang memilih salah satu aliran yang ada dan berpengaruh. Orang yang bermadzhab adalah yang dengan sadar dan dengan ilmu mengikuti aliran yang dipeganginya, bukan karena ikut-ikutan, tetapi dengan pengetahuan dan pemahaman. 1. Madzhab Imam Abu Hanifah (699-767 M) 2. Madzhab Imam Maliki (714-798 M) 3. Madzhab Imam Syafi’i (767-854 M) 4. Madzhab Imam Ahmad bin Hanbal (780-855 M)
  • 33.
    Tingkatan Dalam Ijtihad 4.Muqallid Golongan ini tidak memiliki kecakapan untuk melakukan penyelidikan Ijtihad. Orang yang bertaqlid akan menerima secara apriori segala fatwa dari seseorang ulama atau pemimpin serta menganggapnya sebagai ajaran yang wajib ditaati. Orang bertaqlid adalah orang yang tidak mempergunakan pertimbangan akal pikiran dalam mengikuti sesuatu.
  • 34.
    Perkembangan Ijtihad  Pada masasahabat, ijtihad mulai banyak dipakai karena dengan wafatnya Rasulullah SAW, wahyu dengan sendirinya tidak lagi diturunkan dan hadits juga tidak lagi bertambah. Sementara itu masalah-masalah yang dihadapi ummat islam semakin bertambah dan memerlukan ketentuan hukum. Pada masa Abu Bakar ketika menghadapi persoalan dan tidak menemukan nash nya dalam Al-Qur’an dan Hadits, ia mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah dan menentukan hukum dari masalah itu.
  • 35.
    Perkembangan Ijtihad   Demikian pulapada masa Umar bin Khatab, usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Mereka menggunakan ijtihad terhadap masalahmasalah yang tidak didapati nashnya dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul Akan tetapi dari ke empat khalifah itu, hanya Umar yang diketahui paling banyak memakai ijtihad . Walaupun demikian, keempat sahabat itu sangat berhati-hati dalam mengeluarkan suatu pendapat yang merupakan hasil ijtihad.
  • 36.
    Perkembangan Ijtihad  Setelah masasahabat, ijtihad semakin berkembang. Hal ini ditandai dengan munculnya mujtahid-mujtahid besar seperti Abdullah bin Umar bin Khattab, ibnu Syihad Al-Zuhri, Abdullah bin Abbas, Alqamah bin Qais, Anas bin Malik, Umar bin Abdul Aziz, Abdullah bin Amr dan Wahbah bin Munabbih.
  • 37.
    Perkembangan Ijtihad  Ijtihad mengalamimasa perkembangan yang paling pesat pada abad kedua sampai dengan abad keempat hijriah. Masa itu dikenal dengan periode pembukuan sunnah serta fiqih dan munculnya mujtahid-mujtahid terkemuka yang kemudian dikenal sebagai imam-imam madzhab, yaitu Imam Malik, Imam Hanafi, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hambal.
  • 38.
    Perkembangan Ijtihad  Setelah abadkeempat Hijriyah, perkembangan ijtihad mengalami kemunduran, bahkan muncul pendapat bahwa pinyu ijtihad telah tertutup. Hal ini disebabkan antara lain karena ummat Islam memandang bahwa semua masalah telah ditetapkan hukumnya oleh para fuqaha (ahli hukum Islam), sehingga mereka hanya boleh menjelaskan dan menafsirkan ajaran-ajaran yang telah disepakati oleh fuqaha terdahulu.
  • 39.
    Perkembangan Ijtihad  Pada masaitu tidak lagi muncul mujtahidmujtahid yang memiliki kemampuan dan keunggulan seperti yang dimiliki oleh para mujtahid sebelumnya sehingga tidak ada lagi muncul mujtahid mutlak
  • 40.
    Contoh Ijtihad Tentang persoalanmasa Kini 1. Zakat profesi 2. Operasi jenis kelamin 3. Perbankan syari’ah 4. Transplantasi organ tubuh 5. Bayi tabung dan kloning 6. Penggunaan internet 7. Rebonding 8. Shalat di luar angkasa 9. Infotaimen di televisi
  • 41.
    Contoh Ijtihad Tentang persoalanmasa Kini 10.Masalah rokok 11. Operasi plastik 12. Pakai behel 13. Tindik bagi laki-laki 14. Donor darah 15. Mengecat rambut 16. KB 17. Menindik yang tidak pada tempatnya 18. Nyambung rambut
  • 42.
    19. Olahraga tinju 20.Pegadaian Syari’ah 21. Pernikahan (ijab melalui media televisi) 22. Perdagangan on line 23. Face book 24. Membonceng ngangkang bagi perempuan