Muhkam dan Mutasyabih
Pengertian Muhkam dan Mutasyabih
Muhkam
Para ahli bahasa menggunakan lafal
muhkamah untuk beberapa arti.
Contohnya jika mereka berkata:
Ahkamul Amri, maka artinya sama
dengan Ittaqanal Amra yaitu hal atau
urusan baik. Tetapi ada sebagian
ulama yang memberikan sinonim kata
yang semakna dengan Al-Man’u
seperti dalam kalimat: Man’ul Amri
atau Ma’un Naasi, namun juga dengan
arti yang baik, sehingga kalimat man’ul
Amri berarti mencegah dari
kerusakan, dan arti kalimat Ma’un
Naasi berarti mencegah manusia dari
hal-hal yang tidak baik, sehingga
akhirnya akan berarti baik.
Mutasyabih
Pada umumnya, ulama ahli
bahasa itu memakai lafal
mutasyabih untuk arti
persamaan/kesamaran yang
mengarah pada keserupaan.
Misalnya kata tasyabu dan
isytabaha. Keduanya saling
menyerupai yang satu dengan
yang lain, sehingga keduanya
itu mirip bentuknya, sampai
sukar dibedakan.
Pengetian menurut para ulama
1. Ulama golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah
mengatakan, muhkam adalah lafal yang
diketahui makna maksudnya, baik karena
memang sudah jelas artinya maupun karena
karena ditakwilkan. Sedangkan lafal
mutasyabih adalah lafal yang pengetahuan
artinya hanya dimonopoli Allah SWT.
2. Ulama golongan Hanafiah mengatakan, lafal
muhkam ialah lafal yang jelas petunjuknya, dan
tidak mungkin telah dinasakh (dihapus
hukumnya). Sedangkan lafal mutasyabih
adalah lafal yang sama maksud petunjuknya,
Jadi, jika semua difinisi muhkam tersebut
dirangkum, maka pengertian muhkam ialah lafal
yang artinya dapat diketahui dengan jelas dan kuat
secara berdiri sendiri tanpa ditakwilkan karena
susunan tertipnya tepat, dan tidak musykil, karena
pengertiannya masuk akal sehingga dapat
diamalkan karena tidak dinaskan.
Sedangkan pengertian mutasyabih ialah lafal
Alquran yang artinya samar, sehingga tidak dapat
dijangkau akal manusia karena bisa ditakwilkan
macam-macam sehingga tidak dapat berdiri
sendiri karena susunan tertibnya kurang tepat
sehingga menimbulkan kesulitan disebabkan
penunjukan artinya tidak kuat, sehingga cukup
diyakini adanya saja dan tidak perlu diamalkan.
Sebab-Sebab Adanya Ayat
Muhkam dan Mutasyabih
Sebab adanya ayat-ayat muhkam itu sudah jelas,
yakni sebagaimana yang ditegaskan dalam ayat 7
surah Ali Imran yang artinya:
“Dia-lah yang menurunkan al-kitab kepada kamu.
Diantara (isinya) ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah
pokok-pokok isi al-quran, dan yang lain ayat-ayat
mutasyabihat.”
Disamping itu, al-quran merupakan kitab yang
muhkam, seperti keterangan ayat 1 surah Hud yang
artinya:
“Suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi.”
Secara rinci adanya ayat-ayat mutasyabihat dalam
Alquran adalah disebabkan tiga hal yaitu:
 Kesamaran Pada Lafal, sebagian ada ayat-ayat
mutasyabihat dalam Alquran itu disebabkan
karena kesamaran lafal, baik lafal yang masih
mufrad ataupun yang sudah murakab.
1. Kesamaran dalam lafal mufrad yaitu ada lafal-
lafal mufrad yang artinya tidak jelas, baik
disebabkan lafal yang gharib (asing) contohnya
ayat 31 surah Abasa, ataupun musytarak
(bermakna ganda) contohnya ayat 93 surah
Shaad.
2. Kesamaran dalam lafal murakkab, disebabkan
karena lafal-lafal yang murakkab (lafal yang
tersusun dalam kalimat) itu terlalu ringkas
contohnya ayat 3 surah An-Nisa, atau karena
• Kesamaran Pada Makna Ayat, terkadang terjadinya
ayat mutasyabihat itu disebabkan karena adanya
kesamaran pada makna ayat. Contohnya seperti
makna dari sifat-sifat Allah SWT, dan juga seperti
makna dari ihwal hari kiamat, kenikmatan surga, dan
siksa neraka.
• Kesamaran Pada Lafal Dan Makna Ayat , terkadang
adanya ayat mutasyabih terjadi disebabkan
kesamaran dalam lafal dan makna ayat-ayat itu.
Contohnya ayat 189 surah Al-Baqarah.
Macam-Macam Ayat Mutasyabih
1. Ayat-ayat mutasyabihat yang tidak dapat
diketahui oleh seluruh umat manusia, kecuali
Allah SWT. Seperti ketrangan ayat 59 surah Al-
An’am, dan ayat 34 surah Lukman.
2. Ayat-ayat mutasyabihat yang dapat diketahui
oleh semua orang dengan jalan pembahasan
dan pengajian yang mendalam. Contohnya
menentukan yang musytarak, menertibkan yang
kurang tertib, dsb.
3. Ayat-ayat mutasyabihat yang hanya dapat
diketahui oleh para pakar ilmu dan sain, bukan
oleh semua orang, apalagi orang awam. Hal-hal
ini termasuk urusan-urusan yang hanya
diketahui oleh Allah SWT dan orang-orang yang
Pendapat Para Ulama Mengenai Ayat
Muhkamat Dan Mutasyabihat
Ada tiga pendapat para ulama mengenai kemuhkaman
dan kemuhtasyabihan al-quran:
1. Pendapat pertama berpendirian, bahwa semua al-
quran itu muhkam berdasarkan ayat 1 surah Hud.
2. Pendapat kedua mengatakan, bahwa al-quran itu
seluruhnya mutasyabih. Berdasarkan ayat 23 surah
Az-Zumar.
3. Pendapat ketiga mengatakan, bahwa al-quran itu
terdiri dari dua bagian, yakni muhkam dan
mutasyabih. Berdasarkan ayat 7 surah Ali Imran.
Ada tiga pendapat para ulama mengenai apakah
ayat-ayat mutasyabihat itu harus ditafsiri atau tidak,
antara lain sebagai berikut:
 Pendapat jumhur ulama Ahlus Sunnah dan
sebagian ahli Ra’yi, mengatakan bahwa arti dan
maksud ayat-ayat mutasyabihat itu tidak perlu
ditafsiri, melainkan cukup diimani adanya dan
diserahkan kepada Allah SWT saja makna
maksudnya, demi me-Maha Sucikan-Nya.
 Pendapat segolongan ulama Ahlus Sunnah dan
kebanyakan Ahli Ra’yi berpendapat, perlu
menakwilkan ayat-ayat mutasyabihat yang relevan
dengan keagungan Allah SWT.
 Pendapat segolongan ulama lain, diantaranya
seperti Ibnu Daqiqil ‘Id menengahi diantara kedua
pendapat tersebut, yaitu bahwa kalau mena’wilkan
ayat-ayat mutasyabihat itu relevan dengan bahasa
Hikmah Ayat Muhkamat Dan Mutasyabihat
Hikmah Muhkamat
• Menjadi rahmat bagi manusia, khususnya
orang yang kemampuan bahasa Arabnya
lemah.
• Memudahkan manusia mengetahui arti
dan maksudnya.
• Mendorong umat untuk giat memahami,
menghayati dan mengamalkan isi
kandungan Alquran, karena lafal ayat-
ayatnya sudah mudah diketahui, gampang
dipahami, dan jelas pula untuk diamalkan.
• Menghilangkan kesulitan kebingungan
umat dalam mempelajari isi ajarannya,
karena lafal ayat-ayat dengan sendirinya
sudah dapat menjelaskan arti maksudnya,
tidak harus menunggu penafsiran atau
penjelasan dari lafal/ayat/surah yang lain.
• Mempelancar usaha penafsiran atau
penjelasan maksud kandungan ayat-ayat
Alquran.
• Membantu para guru, dosen, muballig,
dan juru dakwah dalam usaha
menerangkan isi ajaran kitab Alquran dan
tafsiran ayat-ayatnya kepada masyarakat.
Hikmah Mutasyabihat
• Rahmat Allah SWT. Sebab sifat dan zat Allah SWT itu
ditampakkan kepada manusia yang lemah.
• Ujian dan cobaan terhadap kekuatan iman umat
manusia.
• Membuktikan kelemahan dan kebodohan manusia.
• Mendorong umat untuk giat belajar, tekun menalar,
dan rajin meneliti.
• Memperlihatkan kemukjizatan Alquran, ketinggian
mutu sastra dan balaghahnya, agar manusia
menyadari sepenuhnya bahwa kitab itu bukanlah
buatan manusia biasa, melainkan wahyu ciptaan
Allah SWT.
• Memudahkan bacaan, hafalari, pemahaman
Alquran.
• Menambah pahala umat manusia, dengan
bertambah sukarnya memahami ayat-ayat
mutasyabihat.
• Mendorong kegiatan disiplin ilmu pengetahuan yang
bermacam-macam.
• Mengajukan pengunaan dahlil-dalil aqli, disamping
dalil-dalil naqli.
TERIMA KASIH

Ilmu muhkam dan mutasyabih

  • 1.
  • 2.
    Pengertian Muhkam danMutasyabih Muhkam Para ahli bahasa menggunakan lafal muhkamah untuk beberapa arti. Contohnya jika mereka berkata: Ahkamul Amri, maka artinya sama dengan Ittaqanal Amra yaitu hal atau urusan baik. Tetapi ada sebagian ulama yang memberikan sinonim kata yang semakna dengan Al-Man’u seperti dalam kalimat: Man’ul Amri atau Ma’un Naasi, namun juga dengan arti yang baik, sehingga kalimat man’ul Amri berarti mencegah dari kerusakan, dan arti kalimat Ma’un Naasi berarti mencegah manusia dari hal-hal yang tidak baik, sehingga akhirnya akan berarti baik. Mutasyabih Pada umumnya, ulama ahli bahasa itu memakai lafal mutasyabih untuk arti persamaan/kesamaran yang mengarah pada keserupaan. Misalnya kata tasyabu dan isytabaha. Keduanya saling menyerupai yang satu dengan yang lain, sehingga keduanya itu mirip bentuknya, sampai sukar dibedakan.
  • 3.
    Pengetian menurut paraulama 1. Ulama golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah mengatakan, muhkam adalah lafal yang diketahui makna maksudnya, baik karena memang sudah jelas artinya maupun karena karena ditakwilkan. Sedangkan lafal mutasyabih adalah lafal yang pengetahuan artinya hanya dimonopoli Allah SWT. 2. Ulama golongan Hanafiah mengatakan, lafal muhkam ialah lafal yang jelas petunjuknya, dan tidak mungkin telah dinasakh (dihapus hukumnya). Sedangkan lafal mutasyabih adalah lafal yang sama maksud petunjuknya,
  • 4.
    Jadi, jika semuadifinisi muhkam tersebut dirangkum, maka pengertian muhkam ialah lafal yang artinya dapat diketahui dengan jelas dan kuat secara berdiri sendiri tanpa ditakwilkan karena susunan tertipnya tepat, dan tidak musykil, karena pengertiannya masuk akal sehingga dapat diamalkan karena tidak dinaskan. Sedangkan pengertian mutasyabih ialah lafal Alquran yang artinya samar, sehingga tidak dapat dijangkau akal manusia karena bisa ditakwilkan macam-macam sehingga tidak dapat berdiri sendiri karena susunan tertibnya kurang tepat sehingga menimbulkan kesulitan disebabkan penunjukan artinya tidak kuat, sehingga cukup diyakini adanya saja dan tidak perlu diamalkan.
  • 5.
    Sebab-Sebab Adanya Ayat Muhkamdan Mutasyabih Sebab adanya ayat-ayat muhkam itu sudah jelas, yakni sebagaimana yang ditegaskan dalam ayat 7 surah Ali Imran yang artinya: “Dia-lah yang menurunkan al-kitab kepada kamu. Diantara (isinya) ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi al-quran, dan yang lain ayat-ayat mutasyabihat.” Disamping itu, al-quran merupakan kitab yang muhkam, seperti keterangan ayat 1 surah Hud yang artinya: “Suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi.”
  • 6.
    Secara rinci adanyaayat-ayat mutasyabihat dalam Alquran adalah disebabkan tiga hal yaitu:  Kesamaran Pada Lafal, sebagian ada ayat-ayat mutasyabihat dalam Alquran itu disebabkan karena kesamaran lafal, baik lafal yang masih mufrad ataupun yang sudah murakab. 1. Kesamaran dalam lafal mufrad yaitu ada lafal- lafal mufrad yang artinya tidak jelas, baik disebabkan lafal yang gharib (asing) contohnya ayat 31 surah Abasa, ataupun musytarak (bermakna ganda) contohnya ayat 93 surah Shaad. 2. Kesamaran dalam lafal murakkab, disebabkan karena lafal-lafal yang murakkab (lafal yang tersusun dalam kalimat) itu terlalu ringkas contohnya ayat 3 surah An-Nisa, atau karena
  • 7.
    • Kesamaran PadaMakna Ayat, terkadang terjadinya ayat mutasyabihat itu disebabkan karena adanya kesamaran pada makna ayat. Contohnya seperti makna dari sifat-sifat Allah SWT, dan juga seperti makna dari ihwal hari kiamat, kenikmatan surga, dan siksa neraka. • Kesamaran Pada Lafal Dan Makna Ayat , terkadang adanya ayat mutasyabih terjadi disebabkan kesamaran dalam lafal dan makna ayat-ayat itu. Contohnya ayat 189 surah Al-Baqarah.
  • 8.
    Macam-Macam Ayat Mutasyabih 1.Ayat-ayat mutasyabihat yang tidak dapat diketahui oleh seluruh umat manusia, kecuali Allah SWT. Seperti ketrangan ayat 59 surah Al- An’am, dan ayat 34 surah Lukman. 2. Ayat-ayat mutasyabihat yang dapat diketahui oleh semua orang dengan jalan pembahasan dan pengajian yang mendalam. Contohnya menentukan yang musytarak, menertibkan yang kurang tertib, dsb. 3. Ayat-ayat mutasyabihat yang hanya dapat diketahui oleh para pakar ilmu dan sain, bukan oleh semua orang, apalagi orang awam. Hal-hal ini termasuk urusan-urusan yang hanya diketahui oleh Allah SWT dan orang-orang yang
  • 9.
    Pendapat Para UlamaMengenai Ayat Muhkamat Dan Mutasyabihat Ada tiga pendapat para ulama mengenai kemuhkaman dan kemuhtasyabihan al-quran: 1. Pendapat pertama berpendirian, bahwa semua al- quran itu muhkam berdasarkan ayat 1 surah Hud. 2. Pendapat kedua mengatakan, bahwa al-quran itu seluruhnya mutasyabih. Berdasarkan ayat 23 surah Az-Zumar. 3. Pendapat ketiga mengatakan, bahwa al-quran itu terdiri dari dua bagian, yakni muhkam dan mutasyabih. Berdasarkan ayat 7 surah Ali Imran.
  • 10.
    Ada tiga pendapatpara ulama mengenai apakah ayat-ayat mutasyabihat itu harus ditafsiri atau tidak, antara lain sebagai berikut:  Pendapat jumhur ulama Ahlus Sunnah dan sebagian ahli Ra’yi, mengatakan bahwa arti dan maksud ayat-ayat mutasyabihat itu tidak perlu ditafsiri, melainkan cukup diimani adanya dan diserahkan kepada Allah SWT saja makna maksudnya, demi me-Maha Sucikan-Nya.  Pendapat segolongan ulama Ahlus Sunnah dan kebanyakan Ahli Ra’yi berpendapat, perlu menakwilkan ayat-ayat mutasyabihat yang relevan dengan keagungan Allah SWT.  Pendapat segolongan ulama lain, diantaranya seperti Ibnu Daqiqil ‘Id menengahi diantara kedua pendapat tersebut, yaitu bahwa kalau mena’wilkan ayat-ayat mutasyabihat itu relevan dengan bahasa
  • 11.
    Hikmah Ayat MuhkamatDan Mutasyabihat Hikmah Muhkamat • Menjadi rahmat bagi manusia, khususnya orang yang kemampuan bahasa Arabnya lemah. • Memudahkan manusia mengetahui arti dan maksudnya. • Mendorong umat untuk giat memahami, menghayati dan mengamalkan isi kandungan Alquran, karena lafal ayat- ayatnya sudah mudah diketahui, gampang dipahami, dan jelas pula untuk diamalkan. • Menghilangkan kesulitan kebingungan umat dalam mempelajari isi ajarannya, karena lafal ayat-ayat dengan sendirinya sudah dapat menjelaskan arti maksudnya, tidak harus menunggu penafsiran atau penjelasan dari lafal/ayat/surah yang lain. • Mempelancar usaha penafsiran atau penjelasan maksud kandungan ayat-ayat Alquran. • Membantu para guru, dosen, muballig, dan juru dakwah dalam usaha menerangkan isi ajaran kitab Alquran dan tafsiran ayat-ayatnya kepada masyarakat. Hikmah Mutasyabihat • Rahmat Allah SWT. Sebab sifat dan zat Allah SWT itu ditampakkan kepada manusia yang lemah. • Ujian dan cobaan terhadap kekuatan iman umat manusia. • Membuktikan kelemahan dan kebodohan manusia. • Mendorong umat untuk giat belajar, tekun menalar, dan rajin meneliti. • Memperlihatkan kemukjizatan Alquran, ketinggian mutu sastra dan balaghahnya, agar manusia menyadari sepenuhnya bahwa kitab itu bukanlah buatan manusia biasa, melainkan wahyu ciptaan Allah SWT. • Memudahkan bacaan, hafalari, pemahaman Alquran. • Menambah pahala umat manusia, dengan bertambah sukarnya memahami ayat-ayat mutasyabihat. • Mendorong kegiatan disiplin ilmu pengetahuan yang bermacam-macam. • Mengajukan pengunaan dahlil-dalil aqli, disamping dalil-dalil naqli.
  • 12.