Dosen Pengampu :
Qo’idatul Marhumah, M.Th.I
Nama anggota kelompok :
 Samrotul Mufida
 Evi Puji Lestari
 Nana Nafisah
 Sefi Puspita Dwi Y.
 Siti Indah Rahayu
 Nursan Gozalba
Sejarah Ayat Muhkam dan
Mutasyabih
 Secara tegas dapat dikatakan bahwa
asal mula adanya ayat-ayat
muhkamah dan mutasyabihat ialah
dari Allah SWT. Allah SWT
memisahkan atau membedakan ayat-
ayat yang muhkam dari yang
mutasyabih, dan menjadikan ayat
muhkam sebagai bandingan ayat
yang mutasyabihat
Pengertian dari al muhkam dan
al mutasyabih
Muhkam dan Mutasyabih dalam
Arti Umum
Kata al-hukm berarti
memutuskan dua hal atau perkara.
Maka hakim adalah orang yang
mencegah yang zalim dan
memutuskan antara dua pihak
yang bersengketa, serta
memisahkan antara yang hak
daan yang baatil dan antara
kebenaran dan kebohongan.
Muhkam berarti
(sesuatu) yaang dikokohkan.
Ihkam al-kalam berati
mengokohkan perkataan dengan
memisahkan berita yang benar
dari yang salah, dan urusan yang
lurus dari yang sesat.
Jadi, kalam muhkam adalah
perkataaan yang seperti
sifatnya.
Mutasyabih secara
bahasa berarti tasyabuh, yakin
bahwa salah satu dari dua hal
seruap dengan yang lain. Dan
syubhah ialah keadaan salah satu
dari dua hal itu tidak dapat
dibedakan dari yang lain karena
adanya kemiripan diantara
keduanya secara konkrit maupun
abstrak. Jadi, tasyabuh al-kalam
adalah kesamaan dan kesesuaian
perkataan, karea sebagiannya
membetulkan sebagian yang lain.
Mengenai pengertian muhkam dan mutasyabih terdapat
banyak perbedaan pendapat. Yang terpenting adalah sebagai
berikut:
1. Muhkan adalah ayat yang mudah diketahui maksudnya, sedang
mutasyabih hanyalah diketahui maksudnya oleh Allah sendiri.
2. Muhkam adalah ayat yang hanya mengandung satu wajah, sedang
mutasyabih mengandung banyak wajah
3. Muhkan adalaah yang maksudnya dapat diketahui secara langsung,
tanpa memerlukan keterangan lain, sedang mutasyabih tidak
demikian; ia memerlukan penjelasan dengan merujuk ayat lain.
PERBEDAAN AL MUHKAM DAN AL MUTASABIH
MUHKAM :
-Muhkam adalah ayat yang
maksudnya dapat diketahui
secara langsung, tanpa
memperlukan keterangan
lain, sedangkan
–Muhkam adalah ayat yang
hanya mengandung satu
sisi makna saja(wajha
wahidan) , sedangkan
–Muhkam adalah ayat yang
mudah diketahui
maksudnya, seangkan
MUTASYABIH :
-Mutasyabih tidak demikian, ia
memerlukan penjelasan dengan
merujuk ke pada ayat ayat lain
-Mutasyabih mengandug banyak
makna(awjuh)
-Mutasyabih hanya di ketahui
maksudnya oleh allah sendiri.
Macam – Macam Ayat Muhkam
dan Mutasyabih
 Sesuai dengan sebab-sebab adanya ayat mutasyabihat
dalam Alquran dengan adanya kesamaran maksud syarak
dalam ayat-ayat-Nya sehingga sulit dipahami umat, tanpa
dikatakan arti yang lain, disebabkan karena bisa dita’wilkan
dengan bermacam-macamayat mutasyabihat itu ada 3
macam, sebagai berikut:
 1. Ayat-ayat mutasyabihat yang tidak dapat diketahui oleh
seluruh umat manuia, kecuali Allah SWT.
 2. Ayat-ayat mutasyabihat yang dapat diketahui oleh
semua orang dengan jalan pembahasan dan pengkajian
yang mendalam.
 3. Ayat-ayat mutasyabihat yang hanya dapat diketahui
oleh para pakar ilmu dan sain, bukan oleh semua orang,
apalagi orang awam
. Hikmah dan Nilai- Nilai Pendidikan
dalam Ayat- Ayat Muhkam dan Mutasyabih
 Al-Qur’an yang berisi ayat-ayat muhkamat dan ayat-
ayat mutasyabihat, menjadi motivasi bagi umat Islam
untuk terus menerus menggali berbagai kandungannya
sehingga kita akan terhindar dari taklid, membaca Al-
Qur’an dengan khusyu’ sambil merenung dan berpikir.
 Ayat-ayat Mutasyabihat ini mengharuskan upaya yang
lebih banyak untuk mengungkap maksudnya, sehingga
menambah pahala bagi orang yang mengkajinya. Jika
Al-Quran mengandung ayat-ayat mutasyabihat, maka
untuk memahaminya diperlukan cara penafsiran dan
tarjih antara satu dengan yang lainnya. Hal ini
memerlukan berbagai ilmu, seperti ilmu bahasa,
gramatika, ma’ani, ilmu bayan, ushul fiqh dan
sebagainya. Apabila ayat-ayat mutasyabihat itu tidak
ada niscaya tidak akan ada ilmu-ilmu tidak akan
muncul.
Pandangan Para Ulama Menyikapi Ayat-
ayat Mutasyabih
 Subhi Al-Shalih membedakan pendapat para
ulama ke dalam dua mazhab, yaitu:
 1. Mazhab Salaf
 Yaitu orang-orang yang mempercayai dan
mengimani sifat-sifat mutasyabihat ini dan
menyerahkan hakikatnya kepada Allah sendiri.
 2. Mazhab Khalaf
 Yaitu orang-orang yang mentakwilkan
(mempertangguhkan) lafal yang mustahil dzahirnya
kepada makna yang layak dengan zat Allah.
KESIMPULAN
 Muhkam adalah ayat yang memberikan makna yang
jelas dan dapat dijangkau oleh pemahaman akal.
Sedangkan mutasyabih adalah ayat yang memberikan
makna yang tidak jelas, tidak dapat berdiri sendiri dan
membutuhkan keterangan yang lain.
 Para ulama berbeda terhadap adanya ayat-ayat
muhkam dan mutasyabih. Sebagian ulama
berpendapat bahwa ayat mutasyabih tidak dapat
diketahui kecuali hanya oleh Allah. Mereka mencoba
mengembalikan ayat mutasyabih kepada ayat muhkam.
 Hikmah adanya ayat-ayat mutasyabihat adalah dengan
adanya ayat-ayat mutasyabihat, membuktikan
kelemahan dan kebodohan manusia. Sebesar apapun
usaha dan persiapan manusia, masih ada kekurangan
dan kelemahannya. Hal tersebut menunjukkan betapa
besar kekuasaan Allah SWT, dan kekuasaan ilmu-Nya
yang Maha Mengetahui segala sesuatu.
Muhkam Mutasyabih

Muhkam Mutasyabih

  • 1.
  • 2.
    Nama anggota kelompok:  Samrotul Mufida  Evi Puji Lestari  Nana Nafisah  Sefi Puspita Dwi Y.  Siti Indah Rahayu  Nursan Gozalba
  • 3.
    Sejarah Ayat Muhkamdan Mutasyabih  Secara tegas dapat dikatakan bahwa asal mula adanya ayat-ayat muhkamah dan mutasyabihat ialah dari Allah SWT. Allah SWT memisahkan atau membedakan ayat- ayat yang muhkam dari yang mutasyabih, dan menjadikan ayat muhkam sebagai bandingan ayat yang mutasyabihat
  • 4.
    Pengertian dari almuhkam dan al mutasyabih Muhkam dan Mutasyabih dalam Arti Umum Kata al-hukm berarti memutuskan dua hal atau perkara. Maka hakim adalah orang yang mencegah yang zalim dan memutuskan antara dua pihak yang bersengketa, serta memisahkan antara yang hak daan yang baatil dan antara kebenaran dan kebohongan. Muhkam berarti (sesuatu) yaang dikokohkan. Ihkam al-kalam berati mengokohkan perkataan dengan memisahkan berita yang benar dari yang salah, dan urusan yang lurus dari yang sesat. Jadi, kalam muhkam adalah perkataaan yang seperti sifatnya. Mutasyabih secara bahasa berarti tasyabuh, yakin bahwa salah satu dari dua hal seruap dengan yang lain. Dan syubhah ialah keadaan salah satu dari dua hal itu tidak dapat dibedakan dari yang lain karena adanya kemiripan diantara keduanya secara konkrit maupun abstrak. Jadi, tasyabuh al-kalam adalah kesamaan dan kesesuaian perkataan, karea sebagiannya membetulkan sebagian yang lain.
  • 5.
    Mengenai pengertian muhkamdan mutasyabih terdapat banyak perbedaan pendapat. Yang terpenting adalah sebagai berikut: 1. Muhkan adalah ayat yang mudah diketahui maksudnya, sedang mutasyabih hanyalah diketahui maksudnya oleh Allah sendiri. 2. Muhkam adalah ayat yang hanya mengandung satu wajah, sedang mutasyabih mengandung banyak wajah 3. Muhkan adalaah yang maksudnya dapat diketahui secara langsung, tanpa memerlukan keterangan lain, sedang mutasyabih tidak demikian; ia memerlukan penjelasan dengan merujuk ayat lain.
  • 6.
    PERBEDAAN AL MUHKAMDAN AL MUTASABIH MUHKAM : -Muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui secara langsung, tanpa memperlukan keterangan lain, sedangkan –Muhkam adalah ayat yang hanya mengandung satu sisi makna saja(wajha wahidan) , sedangkan –Muhkam adalah ayat yang mudah diketahui maksudnya, seangkan MUTASYABIH : -Mutasyabih tidak demikian, ia memerlukan penjelasan dengan merujuk ke pada ayat ayat lain -Mutasyabih mengandug banyak makna(awjuh) -Mutasyabih hanya di ketahui maksudnya oleh allah sendiri.
  • 7.
    Macam – MacamAyat Muhkam dan Mutasyabih  Sesuai dengan sebab-sebab adanya ayat mutasyabihat dalam Alquran dengan adanya kesamaran maksud syarak dalam ayat-ayat-Nya sehingga sulit dipahami umat, tanpa dikatakan arti yang lain, disebabkan karena bisa dita’wilkan dengan bermacam-macamayat mutasyabihat itu ada 3 macam, sebagai berikut:  1. Ayat-ayat mutasyabihat yang tidak dapat diketahui oleh seluruh umat manuia, kecuali Allah SWT.  2. Ayat-ayat mutasyabihat yang dapat diketahui oleh semua orang dengan jalan pembahasan dan pengkajian yang mendalam.  3. Ayat-ayat mutasyabihat yang hanya dapat diketahui oleh para pakar ilmu dan sain, bukan oleh semua orang, apalagi orang awam
  • 8.
    . Hikmah danNilai- Nilai Pendidikan dalam Ayat- Ayat Muhkam dan Mutasyabih  Al-Qur’an yang berisi ayat-ayat muhkamat dan ayat- ayat mutasyabihat, menjadi motivasi bagi umat Islam untuk terus menerus menggali berbagai kandungannya sehingga kita akan terhindar dari taklid, membaca Al- Qur’an dengan khusyu’ sambil merenung dan berpikir.  Ayat-ayat Mutasyabihat ini mengharuskan upaya yang lebih banyak untuk mengungkap maksudnya, sehingga menambah pahala bagi orang yang mengkajinya. Jika Al-Quran mengandung ayat-ayat mutasyabihat, maka untuk memahaminya diperlukan cara penafsiran dan tarjih antara satu dengan yang lainnya. Hal ini memerlukan berbagai ilmu, seperti ilmu bahasa, gramatika, ma’ani, ilmu bayan, ushul fiqh dan sebagainya. Apabila ayat-ayat mutasyabihat itu tidak ada niscaya tidak akan ada ilmu-ilmu tidak akan muncul.
  • 9.
    Pandangan Para UlamaMenyikapi Ayat- ayat Mutasyabih  Subhi Al-Shalih membedakan pendapat para ulama ke dalam dua mazhab, yaitu:  1. Mazhab Salaf  Yaitu orang-orang yang mempercayai dan mengimani sifat-sifat mutasyabihat ini dan menyerahkan hakikatnya kepada Allah sendiri.  2. Mazhab Khalaf  Yaitu orang-orang yang mentakwilkan (mempertangguhkan) lafal yang mustahil dzahirnya kepada makna yang layak dengan zat Allah.
  • 10.
    KESIMPULAN  Muhkam adalahayat yang memberikan makna yang jelas dan dapat dijangkau oleh pemahaman akal. Sedangkan mutasyabih adalah ayat yang memberikan makna yang tidak jelas, tidak dapat berdiri sendiri dan membutuhkan keterangan yang lain.  Para ulama berbeda terhadap adanya ayat-ayat muhkam dan mutasyabih. Sebagian ulama berpendapat bahwa ayat mutasyabih tidak dapat diketahui kecuali hanya oleh Allah. Mereka mencoba mengembalikan ayat mutasyabih kepada ayat muhkam.  Hikmah adanya ayat-ayat mutasyabihat adalah dengan adanya ayat-ayat mutasyabihat, membuktikan kelemahan dan kebodohan manusia. Sebesar apapun usaha dan persiapan manusia, masih ada kekurangan dan kelemahannya. Hal tersebut menunjukkan betapa besar kekuasaan Allah SWT, dan kekuasaan ilmu-Nya yang Maha Mengetahui segala sesuatu.