BERKENALAN DENGAN FILSAFAT 
BAB I 
PENDAHULUAN 
Latar Belakang Masalah 
Fenomena perkembangan abad mutakhir menghendaki adanya suatu sistem 
pengetahuan yang komprehensif dengan demikian berdampak pada ilmu pengetahuan yang 
berkembang terus menerus tanpa berhenti seiring dengan perkembangan pengetahuan manusia. 
Perkembangan pengetahuan manusia tentang kehidupan, alam semesta dan hal-hal yang bersifat 
abstrak merupakan tantangan dan tujuan dari pencarian kebenaran sejati. 
Perkembangan masyarakat dewasa ini menghendaki adanya pembinaan manusia yang 
dilaksanakan secara seimbang antara nilai dan sikap, pengatahuan, kecerdasan, keterampilan, 
kemampuan komunikasi, dan kesadaran akan ekologi lingkungan dengan tujuan menjadikan 
manusia tidak hanya berintelektual tingggi, tetapi juga memilki akhlak mulia. 
Hal-hal demikian menjadikan seseorang untuk berfikir secara mendalam, merenung, 
menganalisis dan menguji coba, serta merumuskan sesuatu kesimpulan yang dianggap benar 
sehingga dengan melakukan kegiatan terebut dengan tidak sadar sudah melakukan kegiatan 
berfilsafat, maka dari itu ilmu lahir dari filsafat atau dapat dikatakan filsafat merupakan induk 
dari sebuah ilmu, oleh karena itu filsafat mempunyai kesamaan dan perbedaan dengan ilmu. 
Adapun pengertian dari filsafat dapat dilihat dari segi etimologis, terminologis, filsafat sebagai 
pandangan hidup, dan filsafat sebagai ilmu. Filsafat merupakan sesuatu yang digunakan untuk 
mengkaji hal-hal yang ingin dicari kebenaranya dengan menerapkan metode-metode filsafat. 
Perumusan Masalah 
Berdasarkan latar belakang diatas, ada beberapa pokok permasalahan yang akan kami bahas, 
antara lain sebagai berikut :
A) Pengetahuan 
B) Ilmu 
C) Filsafat 
D) Filsafat Ilmu 
E) Filsafat Ilmu Komunikasi
BAB II 
PEMBAHASAN 
1.PENGETAHUAN 
1.1 Pengertian Pengetahuan 
Pengetahuan ialah merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan 
penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia 
yaitu : indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan 
manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Soekidjo, Notoadmodjo 2003). 
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia atau hasil tahu seseorang terhadap objek 
melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya). Dengan sendirinya, pada 
waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh 
intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang 
diperoleh melalui indera pendengaran dan penglihatan. Pengetahuan seseorang terhadap objek 
mempunyai intensitas yang berbeda-beda. 
1.2Tingkat Pengetahuan 
Secara garis besarnya dibagi dalam 6 tingkat pengetahuan, yaitu : 
1. Tahu (know) 
Tahu diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada 
sebelumnya setelah mengamati sesuatu. Untuk mengetahui atau mengukur bahwa orang 
tahu sesuatu dapat menggunakan pertanyaan-pertanyaan. 
2. Memahami (comprehension)
Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut, tidak sekedar 
dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat menginterpretasikan secara benar 
tentang objek yang diketahui tersebut. 
3. Aplikasi (application) 
Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang dimaksud 
dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada situasi 
yang lain. 
4. Analisis (analysis) 
Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan / atau 
memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang terdapat 
dalam suatu masalah atau objek yang diketahui. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang 
itu sudah sampai tingkat analisis adalah apabila orang tersebut telah membedakan atau 
memisahkan, mengelompokkan, membuat diagram terhadap pengetahuan atas objek 
tersebut. 
5. Sintesis (synthesis) 
Sintesis menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau 
meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari komponen-komponen pengetahuan 
yang dimiliki. Dengan kata lain, sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun 
formulasi baru dari formulasi- formulasi yang telah ada. 
6. Evaluasi (evaluation) 
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi atau 
penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini dengan sendirinya didasarkan pada 
suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku di masyarakat. 
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang 
menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. 
Wawancara dilakukan dengan bercakap-cakap secara langsung (berhadapan muka) dengan
responden atau tidak berhadapan langsung dengan responden (misalnya melalui telepon). Angket 
berupa formulir yang berisi pernyataan dan diajukan secara tertulis pada sekumpulan orang 
untuk mendapatkan keterangan. 
1.3 Jenis Pengetahuan 
a. Pengetahuan Implisit 
Pengetahuan implisit adalah pengetahuan yang masih tertanam dalam bentuk pengalaman 
seseorang dan berisi faktor-faktor yang tidak bersifat nyata seperti keyakinan pribadi, perspektif, 
dan prinsip. Pengetahuan diam seseorang biasanya sulit untuk ditransfer ke orang lain baik 
secara tertulis ataupun lesan. Kemampuan berbahasa, mendesain, atau mengoperasikan mesin 
atau alat yang rumit membutuhkan pengetahuan yang tidak selalu bisa tampak secara eksplisit, 
dan juga tidak sebegitu mudahnya untuk mentransferkannya ke orang lain secara eksplisit. 
Contoh sederhana dari pengetahuan implisit adalah kemampuan mengendara sepeda. 
Pengetahuan umum dari bagaimana mengendara sepeda adalah bahwa agar bisa seimbang, bila 
sepeda oleh ke kiri, maka arahkan setir ke kanan. Untuk berbelok ke kanan, pertama belokkan 
dulu setir ke kiri sedikit, lalu ketika sepeda sudah condong ke kenan, belokkan setir ke kanan. 
Tapi mengetahui itu saja tidak cukup bagi seorang pemula untuk bisa menyetir sepeda. 
Seseorang yang memiliki pengetahuan implisit biasanya tidak menyadari bahwa dia 
sebenarnya memilikinya dan juga bagaimana pengetahuan itu bisa menguntungkan orang lain. 
Untuk mendapatkannya, memang dibutuhkan pembelajaran dan keterampilan, namun tidak 
lantas dalam bentuk-bentuk yang tertulis. Pengetahuan implisit seringkali berisi kebiasaan dan 
budaya yang bahkan kita tidak menyadarinya. 
b. Pengetahuan Eksplisit 
Pengetahuan eksplisit adalah pengetahuan yang telah didokumentasikan atau disimpan 
dalam wujud nyata berupa media atau semacamnya. Dia telah diartikulasikan ke dalam bahasa 
formal dan bisa dengan relatif mudah disebarkan secara luas. Informasi yang tersimpan di 
ensiklopedia (termasuk Wikipedia) adalah contoh yang bagus dari pengetahuan eksplisit.
Bentuk paling umum dari pengetahuan eksplisit adalah petunjuk penggunaan, prosedur, 
dan video how-to. Pengetahuan juga bisa termediakan secara audio-visual. Hasil kerja seni dan 
desain produk juga bisa dipandang sebagai suatu bentuk pengetahuan eksplisit yang merupakan 
eksternalisasi dari keterampilan, motif dan pengetahuan manusia.Bagaimana membuat 
pengetahuan implisit menjadi eksplisit merupakan fungsi utama dari strategi Manajemen 
Pengetahuan. 
c. Pengetahuan empiris 
Pengetahuan yang lebih menekankan pengamatan dan pengalaman inderawi dikenal 
sebagai pengetahuan empiris atau pengetahuan aposteriori. Pengetahuan ini bisa didapatkan 
dengan melakukan pengamatan yang dilakukan secara empiris dan rasional. Pengetahuan empiris 
tersebut juga dapat berkembang menjadi pengetahuan deskriptif bila seseorang dapat melukiskan 
dan menggambarkan segala ciri, sifat, dan gejala yang ada pada objek empiris tersebut. 
Pengetahuan empiris juga bisa didapatkan melalui pengalaman pribadi manusia yang terjadi 
berulangkali. Misalnya, seseorang yang sering dipilih untuk memimpin organisasi dengan 
sendirinya akan mendapatkan pengetahuan tentang manajemen organisasi. 
d. Pengetahuan rasionalisme 
Pengetahuan rasionalisme adalah pengetahuan yang diperoleh melalui akal budi. 
Rasionalisme lebih menekankan pengetahuan yang bersifat apriori; tidak menekankan pada 
pengalaman. Misalnya pengetahuan tentang matematika. Dalam matematika, hasil 1 + 1 = 2 
bukan didapatkan melalui pengalaman atau pengamatan empiris, melainkan melalui sebuah 
pemikiran logis akal budi. 
1.4 . Faktor- Faktor yang Memengaruhi Pengetahuan 
Pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya: 
1) Pendidikan 
Pendidikan adalah sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok 
dan juga usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, maka jelas 
dapat kita kerucutkan sebuah visi pendidikan yaitu mencerdaskan manusia.
2) Media 
Media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. Jadi contoh 
dari media massa ini adalah televisi, radio, koran, dan majalah. 
3) Informasi 
Pengertian informasi menurut Oxford English Dictionary, adalah "that of which 
one is apprised or told: intelligence, news". Kamus lain menyatakan bahwa informasi 
adalah sesuatu yang dapat diketahui, namun ada pula yang menekankan informasi sebagai 
transfer pengetahuan. Selain itu istilah informasi juga memiliki arti yang lain sebagaimana 
diartikan oleh RUU teknologi informasi yang mengartikannya sebagai suatu teknik untuk 
mengumpulkan, menyiapkan, menyimpan, memanipulasi, mengumumkan, menganalisa, 
dan menyebarkan informasi dengan tujuan tertentu. Sedangkan informasi sendiri mencakup 
data, teks, gambar, suara, kode, program komputer, basis data. Adanya perbedaan definisi 
informasi dikarenakan pada hakekatnya informasi tidak dapat diuraikan(intangible), 
sedangkan informasi itu dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, yang diperoleh dari data 
dan pengamatan terhadap dunia sekitar kita serta diteruskan melalui komunikasi. 
2. ILMU 
2.1 Pengertian Ilmu Secara Etimologi 
Kata ilmu dalam bahasa Arab "ilm" yang berarti memahami, mengerti, atau mengetahui. 
Dalam kaitan penyerapan katanya, ilmu pengetahuan dapat berarti memahami suatu 
pengetahuan, dan ilmu sosial dapat berarti mengetahui masalah-masalah sosial, dan sebagainya. 
2.2 Pengertian Ilmu
Ilmu, sains, atau ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, 
menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam 
manusia.Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan 
kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari 
keterbatasannya. Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan 
pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan 
seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu 
terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. 
Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemology 
Ilmu alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi ke dalam hal yang 
bahani (material saja), atau ilmu psikologi hanya bisa meramalkan perilaku manusia jika lingkup 
pandangannya dibatasi ke dalam segi umum dari perilaku manusia yang konkret. Berkenaan 
dengan contoh ini, ilmu-ilmu alam menjawab pertanyaan tentang berapa jarak matahari dan 
bumi, atau ilmu psikologi menjawab apakah seorang pemudi cocok menjadi perawat. 
2.3 Pengertian Ilmu Menurut Para Ahli 
a. M. IZUDDIN TAUFIQ 
Ilmu adalah penelusuran data atau informasi melalui pengamatan, pengkajian dan 
eksperimen, dengan tujuan menetapkan hakikat, landasan dasar ataupun asal usulnya 
b. THOMAS KUHN 
Ilmu adalah himpunan aktivitas yang menghasilkan banyak penemuan, bail dalam bentuk 
penolakan maupun pengembangannya 
c. Dr. MAURICE BUCAILLE 
Ilmu adalah kunci untuk mengungkapkan segala hal, baik dalam jangka waktu yang lama 
maupun sebentar. 
d. NS. ASMADI 
Ilmu merupakan sekumpulan pengetahuan yang padat dan proses mengetahui melalui 
penyelidikan yang sistematis dan terkendali (metode ilmiah) 
e. POESPOPRODJO
Ilmu adalah proses perbaikan diri secara bersinambungan yang meliputi perkembangan 
teori dan uji empiris 
2.4 Syarat - Syarat Ilmu 
Berbeda dengan pengetahuan, ilmu merupakan pengetahuan khusus tentang apa 
penyebab sesuatu dan mengapa. Ada persyaratan ilmiah sesuatu dapat disebut sebagai ilmu. Sifat 
ilmiah sebagai persyaratan ilmu banyak terpengaruh paradigma ilmu-ilmu alam yang telah ada 
lebih dahulu. 
1. Objektif. Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang 
sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Objeknya dapat 
bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam mengkaji 
objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara tahu dengan objek, 
sehingga disebut kebenaran objektif; bukan subjektif berdasarkan subjek peneliti atau 
subjek penunjang penelitian. 
2. Metodis adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan 
terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensinya, harus ada cara 
tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari bahasa Yunani 
“Metodos” yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang 
digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah. 
3. Sistematis. Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, 
ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga 
membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , dan mampu 
menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya. Pengetahuan yang tersusun 
secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga. 
4. Universal. Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat 
umum (tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga bersudut 180º. Karenanya 
universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari 
kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu alam
mengingat objeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk mencapai tingkat 
universalitas dalam ilmu- ilmu sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula. 
3. FILSAFAT 
3.1 Pengertian Filsafat 
Filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala 
sesuatu berdasarkan pikiran atau rasio. Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau 
sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan. 
Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan 
segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan 
segala hubungan. 
3.2 Pengertian Filsafat Menurut para Ahli 
1. Pengertian filsafat menurut Harun Nasution filsafat adalah berfikir menurut tata tertib 
(logika) dengan bebas (tak terikat tradisi, dogma atau agama) dan dengan sedalam-dalamnya 
sehingga sampai ke dasar-dasar persoalan 
2. Menurut Plato ( 427-347 SM) filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada 
3. Aristoteles (384-322 SM) yang merupakan murid Plato menyatakan filsafat menyelidiki 
sebab dan asas segala benda. 
4. Marcus Tullius Cicero (106 – 43 SM) mengatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan 
tentang sesuatu yang maha agung dan usaha untuk mencapainya. 
5. Al Farabi (wafat 950 M) filsuf muslim terbesar sebelum Ibn Sina menyatakan filsafat 
adalah ilmu pengetahuan tentang alam yang maujud dan bertujuan menyelidiki 
hakekatnya yang sebenarnya. 
3.3 Ciri – Ciri Berfikir Filosofi 
1. Berfikir dengan menggunakan disiplin berpikir yang tinggi. 
2. Berfikir secara sistematis.
3. Menyusun suatu skema konsepsi, dan 
4. Menyeluruh. 
3.3 Tiga Persoalan yang Ingin Dipecahkan oleh Filsafat 
1. Apakah sebenarnya hakikat hidup itu? Pertanyaan ini dipelajari oleh Metafisika 
2. Apakah yang dapat saya ketahui? Permasalahan ini dikupas oleh Epistemologi. 
3. Apakah manusia itu? Masalah ini dibahas olen Atropologi Filsafat. 
3.4 Beberapa Ajaran Filsafat yang Telah Mengisi dan Tersimpan dalam Khasanah Ilmu 
1. Materialisme, yang berpendapat bahwa kenyatan yang sebenarnya adalah alam semesta 
badaniah. Aliran ini tidak mengakui adanya kenyataan spiritual. Aliran materialisme 
memiliki dua variasi yaitu materialisme dialektik dan materialisme humanistis. 
2. Idealisme yang berpendapat bahwa hakikat kenyataan dunia adalah ide yang sifatnya 
rohani atau intelegesi. Variasi aliran ini adalah idealisme subjektif dan idealisme objektif. 
3. Realisme. Aliran ini berpendapat bahwa dunia batin/rohani dan dunia materi murupakan 
hakitat yang asli dan abadi. 
4. Pragmatisme merupakan aliran paham dalam filsafat yang tidak bersikap mutlak (absolut) 
tidak doktriner tetapi relatif tergantung kepada kemampuan minusia. 
3.5 Manfaat Filsafat dalam Kehidupan 
1. Sebagai dasar dalam bertindak. 
2. Sebagai dasar dalam mengambil keputusan. 
3. Untuk mengurangi salah paham dan konflik. 
4. Untuk bersiap siaga menghadapi situasi dunia yang selalu berubah. 
4. FILSAFAT ILMU 
4.1 Definisi Filsafat Ilmu
Jujun S. Suriasumantri menyatakan bahwa filsafat ilmu merupakan bagian dari 
epistemology yang secara spesifik mengkaji hakekat ilmu. Dalam bentuk pertanyaan, pada dasar 
filsafat ilmu merupakan telahaan berkaitan dengan objek apa yang ditelaah oleh ilmu (ontologi), 
bagaimana proses pemerolehan ilmu (epistemologi), dan bagaimana manfaat ilmu (axiologi), 
oleh karena itu lingkup induk telaahan filsafat ilmu adalah : 
a. Ontologi berkaitan tentang apa obyek yang ditelaah ilmu, dalam kajian ini mencakup 
masalah realitas dan penampakan (reality and appearance), serta bagaimana hubungan ke 
dua hal tersebut dengan subjek/manusia. 
b. Epistemologi berkaitan dengan bagaimana proses diperolehnya ilmu, bagaimana 
prosedurnya untuk memperoleh pengetahuan ilmiah yang benar. 
c. Axiologi berkaitan dengan apa manfaat ilmu, bagaimana hubungan etika dengan ilmu, 
serta bagaimana mengaplikasikan ilmu dalam kehidupan. 
Peter Caw memberikan makna filsafat ilmu sebagai bagian dari filsafat yang kegiatannya 
menelaah ilmu dalam kontek keseluruhan pengalaman manusia.Steven R. Toulmin memaknai 
filsafat ilmu sebagai suatu disiplin yang diarahkan untuk menjelaskan hal-hal yang berkaitan 
dengan prosedur penelitian ilmiah, penentuan argumen, dan anggapan-anggapan metafisik guna 
menilai dasar-dasar validitas ilmu dari sudut pandang logika formal, dan metodologi praktis serta 
metafisika. 
4.2 Objek Kajian Filsafat Ilmu 
Pada dasarnya, setiap ilmu memiliki dua macam objek , yaitu objek material dan objek 
formal. Objek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan, seperti tubuh 
manusia adalah objek material ilmu kedokteran. Filsafat sebagai proses berpikir yang sistematis 
dan adil juga memiliki objek material dan objek formal. 
Objek material filsafat adalah segala yang ada. Segala yang ada mencakup ada yang 
tampak dan ada yang tidak tampak. Objek material filsafat atas tiga bagian, yaitu yang ada dalam 
alam empiris, yang ada dalam pikiran, dan yang ada dalam kemungkinan adapun, objek formal, 
dan rasional adalah sudut pandang yang menyeluruh, radikal dan rasional tentang segala yang
ada. Setelah berjalan beberapa lama kajian yang terkait dengan hal yang empiris semakain 
bercabang dan berkembang, sehingga menimbulkan spesialisas i dan menampakkan kegunaan 
yang peraktis. 
Dalam perspektif ini dapat diuraikan bahwa filsafat ilmu pada prinsipnya memiliki dua obyek 
substantif dan dua obyek instrumentatif, yaitu: 
1. Obyek Subtantif, yang terdiri dari dua hal,yaitu : 
A. Fakta (Kenyataan) 
Data empirik sensual tersebut harus obyektif tidak boleh masuk subyektifitas peneliti. 
Fakta itu yang faktual ada phenomenology. Fakta bukan sekedar data empirik sensual, tetapi data 
yang sudah dimaknai atau diinterpretasikan, sehingga ada subyektifitas peneliti. Tetapi 
subyektifitas di sini tidak berarti sesuai selera peneliti, subyektif disini dalam arti tetap selektif 
sejak dari pengumpulan data, analisis sampai pada kesimpulan.. Data selektifnya mungkin 
berupa ide , moral dan lain-lain. Orang mengamati terkait langsung dengan perhatiannya dan 
juga terkait pada konsep-konsep yang dimiliki. Kenyataan itu terkonstruk dalam moral realism, 
sesuatu itu sebagai nyata apabila ada korespondensi dan koherensi antara empiri dengan skema 
rasional. 
B. Kebenaran 
Yang empirik faktual koheren dengan kebenaran transenden berupa wahyu. 
Pragamatisme, mengakui kebenaran apabila faktual berfungsi. Rumusan substantif tentang 
kebenaran ada beberapa teori, menurut Michael Williams ada lima teori yang relevan tentang 
kebenaran, yaitu: 
a. Kebenaran Preposisi, yaitu teori kebenaran yang didasarkan pada kebenaran proposisinya 
baik proposisi formal maupun proposisi materialnya. 
b. Kebenaran Korespondensi, teori kebenaran yang mendasarkan suatu kebenaran pada 
adanya korespondensi antara pernyataan dengan kenyataan (fakta yang satu dengan fakta yang 
lain). Selanjutnya teori ini kemudian berkembang menjadi teori Kebenaran Struktural 
Paradigmatik, yaitu teori kebenaran yang mendasarkan suatu kebenaran pada upaya 
mengkonstruk beragam konsep dalam tatanan struktur teori (struktur ilmu/structure of science) 
tertentu yang kokoh untuk menyederhanakan yang kompleks atau sering 
c. Kebenaran Koherensi atau Konsistensi, yaitu teori kebenaran yang medasarkan suatu
kebenaran pada adanya kesesuaian suatu pernyataan dengan pernyataan-pernyataan lainnya 
yang sudah lebih dahulu diketahui, diterima dan diakui kebenarannya. 
d.Kebenaran Performatif, yaitu teori kebenaran yang mengakui bahwa sesuatu itu dianggap 
benar apabila dapat diaktualisasikan dalam tindakan. 
e. Kebenaran Pragmatik, yaitu teori kebenaran yang mengakui bahwa sesuatu itu benar 
apabila mempunyai kegunaan praktis. Dengan kata lain sesuatu itu dianggap benar apabila 
mendatangkan manfaat dan salah apabila tidak mendatangkan manfaat. 
2. Obyek Instrumentatif, yang terdiri dari dua hal yaitu: 
A. Konfirmasi 
Fungsi ilmu adalah untuk menjelaskan, memprediksi proses dan produk yang akan datang 
atau memberikan pemaknaan. Pemaknaan tersebut dapat ditampilkan sebagai konfirmasi absolut 
dengan menggunakan landasan: asumsi, postulat atau axioma yang sudah dipastikan benar. 
Pemaknaan juga dapat ditampilkan sebagai konfirmi probabilistik dengan menggunakan metode 
induktif, deduktif, reflektif. Dalam ontologi dikenal pembuktian a priori dan a posteriori. 
B. Logika Inferensi 
Studi logika adalah studi tentang tipe-tipe tata pikir. Pada mulanya logika dibangun oleh 
Aristoteles (384-322 SM) dengan mengetengahkan tiga prinsip atau hukum pemikiran, yaitu : 
Principium Identitatis (Qanun Dzatiyah), Principium Countradictionis (Qanun Ghairiyah), dan 
Principium Exclutii Tertii (Qanun Imtina’). 
Logika ini sering juga disebut dengan logika Inferensi karena kontribusi utama logika 
Aristoteles tersebut adalah untuk membuat dan menguji inferensi. Dalam perkembangan 
selanjutnya Logika Aristoteles juga sering disebut dengan logika tradisional. Dalam hubungan 
ini Harold H. Titus menerapkan ilmu pengetahuan mengisi filsafat dengan sejumlah besar materi 
aktual dan deskriptif yang sangat perlu dalam pembinaan suatu filsafat. Banyak ilmuan yang juga 
filsuf. Para filosof terlatih dalam metode ilmiah dan sering pula menuntut minat khusus dalam 
beberapa disiplin ilmu. 
4.3 Beberapa Pendapat Ahli tentang Objek Kajian Filsafat Ilmu : 
Edward Madden menyatakan bahwa lingkup atau bidang kajian filsafat ilmu adalah: 
Probabilitas , Induksi , dan Hipotesis
Adapun masalah-masalah yang berada dalam lingkup filsafat ilmu adalah (Ismaun) : 
1. masalah-masalah metafisis tentang ilmu 
2. masalah-masalah epistemologis tentang ilmu 
3. masalah-masalah metodologis tentang ilmu 
4. masalah-masalah logis tentang ilmu 
5. masalah-masalah etis tentang ilmu 
6. masalah-masalah tentang estetika 
Metafisika merupakan telaahan atau teori tentang yang ada, istilah metafisika ini terkadang 
dipadankan dengan ontologi jika demikian, karena sebenarnya metafisika juga mencakup 
telaahan lainnya seperti telaahan tentang bukti-bukti adanya Tuhan.Epistemologi merupakan 
teori pengetahuan dalam arti umum baik itu kajian mengenai pengetahuan biasa, pengetahuan 
ilmiah, maupun pengetahuan filosofis. 
Metodologi ilmu adalah telaahan atas metode yang dipergunakan oleh suatu ilmu, baik 
dilihat dari struktur logikanya, maupun dalam hal validitas metodenya.Masalah logis berkaitan 
dengan telaahan mengenai kaidah-kaidah berfikir benar, terutama berkenaan dengan metode 
deduksi.Problem etis berkaitan dengan aspek-aspek moral dari suatu ilmu, apakah ilmu itu hanya 
untuk ilmu, ataukah ilmu juga perlu memperhatikan kemanfaatannya dan kaidah-kaidah moral 
masyarakat. 
5.FILSAFAT ILMU KOMUNIKASI 
5.1 Pengertian Menurut para Ahli 
1. Richard Lanigan 
Didalam karyanya yang berjudul “Communication Models in Philosophy, Review and 
Commentary” membahas secara khusus “analisis filsafati mengenai komunikasi”. Richard 
Lanigan mengatakan ; bahwa filsafat sebagai disiplin biasanya dikategorikan menjadi sub-bidang 
utama menurut jenis justifikasinya yang dapat diakomodasikan oleh jawaban 
terhadap pertanyaan-pertanyaan berikut ini : 
- Apa yang aku ketahui ? (What do I know ?)
- Bagaimana aku mengetahuinya ? (How do I know it ?) 
- Apakah aku yakin ? (Am I sure ?) 
- Apakah aku benar ? (Am I right ?) 
Pertanyaan-pertanyaan di atas berkaitan dengan penyelidikan sistematis studi terhadap : 
Metafisika, Epistemologi, Aksiologi dan Logika. 
2. Prof. Onong Ucahana Efendy, MA, 
Menurut Prof. Onong Ucahana Efendy, Filsafat komunikasi adalah suatu disiplin ilmu 
yang menelaah pemahaman (verstehen) secara fundamental, metodologis, sistematis, analisis, 
kritis, dan holistis tentang teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut 
bidangnya, sifatnya, tatanannya,tujuannya, fungsinya, teknik dan perannya. 
3. Fisher 
Filosofis ilmu komunikasi menurut Fisher (1986:17) adalah ilmu yang mencakup segala 
aspek dan bersifat eklektif yang digambarkan oleh Wilbur Schramm (1963:2) sabagai jalan 
simpang yang ramai, semua disiplin ilmu melintasinya. 
4. Laurie Ouellette Chair & Amit Pinchevski 
Menurut Laurie Ouellette Chair dan Amit Pinchevski, Filsafat Komunikasi secara luas 
peduli dengan masalah teoritis,analitis,dan politik yang melintasi batas-batas yang terjadi begitu 
saja untuk di analisa dalam studi komunikasi. 
5.2 . Kajian Filsafat Komunikasi 
Para ahli sepakat bahwa landasan ilmu komunikasi yang pertama adalah filsafat. Filsafat 
melandasi ilmu komunikasi dari domain ethos, pathos, dan logos dari teori Aristoteles dan Plato. 
Ethos merupakan komponenfilsafat yang mengajarkan ilmuwan tentang pentingnya rambu-rambu 
normative dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang kemudian menjadi kunci utama 
bagi hubungan antara ilmu dan masyarakat. Pathos merupakan komponen filsafat yang 
menyangkut aspek emosi atau rasa yang ada dalam diri manusia sebagai makhluk yang 
senantiasa mencintai keindahan, penghargaan, yang dengan ini manusia berpeluang untuk 
melakukan improvisasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Logos merupakan komponen 
filsafat yang membimbing para ilmuwan untuk mengambil suatu keputusan berdasarkan pada 
pemikiran yang bersifat nalar dan rasional, yang dicirikan oleh argument-argumen yang logis. 
Komponen yang lain dari filsafat adalah komponen piker, yang terdiri dari etika, logika, dan
estetika, Komponen ini bersinegri dengan aspek kajian ontologi (keapaan), epistemologi 
(kebagaimanaan), dan aksiologi (kegunaan atau kemanfaatan). 
Pada dasarnya filsafat komunikasi memberikan pengetahuan tentang kedudukan Ilmu 
Komunikasi dari perspektif epistemology: 
1. Ontologis: 
Ontologi berarti studi tentang arti “ada” dan “berada”, tentang cirri-ciri esensial dari yang 
ada dalam dirinya sendiri, menurut bentuknya yang paling abstrak (Suparlan: 2005). Ontolgi 
sendiri berarti memahami hakikat jenis ilmu pengetahuan itu sendiri yang dalam hal ini adalah 
Ilmu Komunikasi. 
Ontologi. Pertanyaan yang menyangkut wilayah ini antara lain: Apakah ilmu 
komunikasi? Apakah yang ditelaah oleh ilmu komunikasi? Apakah objek kajiannya? 
Bagaimanakah hakikat komunikasi yang menjadi objek kajiannya? 
Ilmu komunikasi dipahami melalui objek materi dan objek formal. Secara ontologism, 
Ilmu komunikasi sebagai objek materi dipahami sebagai sesuatu yang monoteistik pada tingkat 
yang paling abstrak atau yang paling tinggi sebagai sebuah kesatuan dan kesamaan sebagai 
makhluk atau benda. Sementara objek forma melihat Ilmu Komunikasi sebagai suatu sudut 
pandang (point of view), yang selanjutnya menentukan ruang lingkup studi itu sendiri. 
Contoh relevan aspek ontologis Ilmu Komunikasi adalah sejarah ilmu Komunikasi, 
Founding Father, Teori Komunikasi, Tradisi Ilmu Komunikasi, Komunikasi Manusia, dll. 
2. Epistemologis: 
Hakikat pribadi ilmu (Komunikasi) yaitu berkaitan dengan pengetahuan mengenai 
pengetahuan ilmu (Komunikasi) sendiri atau Theory of Knowledge. Persoalan utama 
epsitemologis Ilmu Komunikasi adalah mengenai persoalan apa yang dapat ita ketahui dan 
bagaimana cara mengetahuinya, “what can we know, and how do we know it?” (Lacey: 1976). 
Menurut Lacey, hal-hal yang terkait meliputi “belief, understanding, reson, judgement, sensation, 
imagination, supposing, guesting, learning, and forgetting”. 
Epistemologi. Pertanyaan yang menyangkut wilayah ini antara lain: Bagaimana proses 
yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan menjadi ilmu? Bagaimanakah prosedurnya, 
metodologinya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar bisa mendapat pengetahuan dan ilmu
yang benar dalam hal komunikasi? Apa yang dimaksud dengan kebenaran? Apakah kriteria 
kebenaran dan logika kebenaran dalam konteks ilmu komunikasi? 
Secara sederhana sebetulnya perdebatan mengenai epistemology Ilmu Komunikasi sudah 
sejak kemunculan Komunikasi sebagai ilmu. Perdebatan apakah Ilmu Komunikasi adalah sebuah 
ilmu atau bukan sangat erat kaitannya dengan bagaimana proses penetapan suatu bidang menjadi 
sebuah ilmu. Dilihat sejarahnya, maka Ilmu Komunikasi dikatakan sebagai ilmu tidak terlepas 
dari ilmu-ilmu social yang terlebih dahulu ada. pengaruh Sosiologi dan Psikologi sangat 
berkontribusi atas lahirnya ilmu ini. Bahkan nama-nama seperti Laswell, Schramm, Hovland, 
Freud, sangat besar pengaruhnya atas perkembangan keilmuan Komunikasi. Dan memang, 
Komunikasi ditelaah lebih jauh menjadi sebuah ilmu baru oada abad ke-19 di daratan Amerika 
yang sangat erat kaitannya dengan aspek aksiologis ilmu ini sendiri. 
Contoh konkret epistemologis dalam Ilmu Komunikasi dapat dilihat dari proses 
perkembangan kajian keilmuan Komunikasi di Amerika (Lihat History of Communication, 
Griffin: 2002). Kajian Komunikasi yang dipelajari untuk kepentingan manusia pada masa 
peperangan semakin meneguhkan Komunikasi menjadi sebuah ilmu. 
3. Aksiologis: 
Hakikat individual ilmu pengetahuan yang bersitaf etik terkait aspek kebermanfaat ilmu 
itu sendiri. Seperti yang telah disinggung pada aspek epistemologis bahwa aspek aksiologis 
sangat terkait dengan tujuan pragmatic filosofis yaitu azas kebermanfaatan dengan tujuan 
kepentingan manusia itu sendiri. Perkembangan ilmu Komunikasi erat kaitannya dengan 
kebutuhan manusia akan komunikasi. 
Aksiologi. Pertanyaan yang menyangkut wilayah ini antara lain: Untuk apa ilmu 
komunikasi itu digunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan pengetahuan dan ilmu 
tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimanakah kaitan ilmu komunikasi berdasarkan 
pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara operasionalisasi metode ilmiah dalam upaya 
melahirkan dan menemukan teori-teori dan aplikasi ilmu komunikasi dengan norma-norma 
moral dan profesional? 
Kebutuhan memengaruhi (persuasive), retoris (public speaking), spreading of 
information, propaganda, adalah sebagian kecil dari manfaat Ilmu Komunikasi. Secara
pragmatis, aspek aksiologis dari Ilmu Komunikasi terjawab seiring perkembangan kebutuhan 
manusia. 
Filsafat bermula dari pertanyaan dan berakhir pada pertanyaan. Hakikat filsafat adalah 
bertanya terus-menerus, karenanya dikatakan bahwa filsafat adalah sikap bertanya itu sendiri. 
Dengan bertanya, filsafat mencari kebenaran. Namun, filsafat tidak menerima kebenaran apapun 
sebagai sesuatu yang sudah selesai. Yang muncul adalah sikap kritis, meragukan terus kebenaran 
yang ditemukan. Dengan bertanya, orang menghadapi realitas kehidupan sebagai suatu masalah, 
sebagai sebuah pertanyaan, tugas untuk digeluti, dicari tahu jawabannya. 
Tidak sebagaimana dengan ilmu-ilmu alam yang objeknya eksak, misalnya dalam biologi 
akan mudah untuk membedakan kucing dengan anjing, mana jantung dan mana hati, sehingga 
tidak memerlukan pendefinisian secara ketat. Tidak demikian halnya dengan ilmu-ilmu sosial 
yang objeknya abstrak. Ilmu komunikasi berada dalam rumpun ilmu-ilmu sosial yang berobjek 
abstrak, yaitu tindakan manusia dalam konteks sosial. Komunikasi sebagai kata yang abstrak 
sulit untuk didefinisikan. Para pakar telah membuat banyak upaya untuk mendefinisikan 
komunikasi. Ilmu komunikasi sebagai salah satu ilmu sosial mutlak memberikan definisi tajam 
dan jernih guna menjelaskan objeknya yang abstrak itu. 
Tidak semua peristiwa merupakan objek kajian ilmu komunikasi. Sebagaimana 
diutarakan, objek suatu ilmu harus terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat 
hakikatnya. Karena objeknya yang abstrak, syarat objek ilmu komunikasinya adalah memiliki 
objek yang sama, yaitu tindakan manusia dalam konteks sosial. Artinya, peristiwa yang terjadi 
antarmanusia. Contoh, Anda berkata kepada seorang teman, ”Wah, maaf, kemarin saya lupa 
menelepon.” Peristiwa ini memenuhi syarat objek ilmu komunikasi , yaitu bahwa yang dikaji 
adalah komunikasi antarmanusia, bukan dengan yang lain selain makhluk manusia. 
Telah diketahui ilmu komunikasi memiliki sejumlah ilmu praktika, yaitu Hubungan 
Masyarakat, Periklanan, dan Jurnalistik. Misalnya, jika ilmu komunikasi juga mempelajari 
penyampaian pesan kepada makhluk selain manusia, bagaimanakah agar pesan kehumasan yang 
ditujukan kepada bebatuan serta tumbuhan yang tercemar limbah perusahaan sehingga memberi 
respon positif mereka? Dengan kata lain, penyampaian pesan kepada makhluk selain manusia 
akan mencederai kriteria objek keilmuannya.
BAB III 
PENUTUP 
A. Kesimpulan 
Filsafat berasal dari bahasa Yunani. Philosophia atau Philosophos.Kata tersebut terdiri 
dari dua kata yakni philos (philein) dan Sophia. Kata Philos berarti cinta (love), 
sedangkanSophia atau sophosberarti pengetahuan, kebenaran, hikmat atau kebijaksanaan 
(wisdom). Jadi secara etimologi filsafat berarti cinta akan.Adapun pengertian dari filsafat dapat 
dilihat dari segi etimologis, terminologis, filsafat sebagai pandangan hidup, dan filsafat sebagai 
ilmu. 
Dasar ontologi filsafat meliputi objek materi yakni sesuatu yang dijadikan sasaran 
pemikiran, sesuatu yang dipelajari oleh filsafatyang sangat luas yakni mencakup segala realitas, 
kenyataan atau sesuatu yang ada atau mungkin ada baik yang nyata (Skala) maupun yang abstrak 
(Niskala). Berfikir filsafat harus memenuhi sejumlah persyaratan yaitu: (1) bersifat rasional 
radikal, mencari kejelasan atau kebenaran yang bersifat esensial (the first causes dan teh last 
causes) dan non-fragmentari, dan menyangkut suatu realitas atau hal-hal yang mengacu pada 
ide-ide dasar. 
Dasar epistimlogi yang dimiliki filsafat mencakup antara metode yang digunakan untuk 
pedoman mengkaji ilmu dengan menggunakan metode filsafat, yakni metode kritis reflektif, 
metode dialektika-dialog/dialektika-kritis, metode dialeka hegel, metode intuitif, metode skeptis, 
metode fenomenologi, metode eksistensialisme, dan metode analitik. Filsafat mempunyai dasar 
aksiologis yang mengukap tentang apakah kegunaan dari ilmu. 
B. Saran 
Filsafat merupakan induk dari segala ilmu yang diharapkan dapat menjadikan pedoman 
bagi manusia untuk mencari sebuah kebenaran yang hakiki, dengan demikian diharapkan
manusia dapat lebih bisa berpikir kritis yang positif serta dapat menjadi manusia yang bijaksana 
dalam menghadapi segala permasalahan kehidupan. 
DAFTAR PUSTAKA 
Effendy., Onong Uchjana . 2000 . Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi . Bandung : Penerbit 
PT. Citra Aditya Bakti. 
EL Karimah, Kismiyati. 2010. Filsafat & etika Komunikasi. Bandung : Widya padjajaran. 
Mulyana, Deddy. 2001. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung. Remaja Rosdakarya. 
Suhartono, Suparlan. 2005 . Filsafat Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Ar Ruzz. 
Wikipedia. 2013. Ilmu . Diakses pada 17 August 2014 http://id.wikipedia.org/ 
Wikipedia. 2013. Filsafat. Diakses pada 17 August 2014 http://id.wikipedia.org/ 
Wikipedia. 2013.Filsafat Ilmu. Diakses pada 17 August 2014 http://id.wikipedia.org/ 
Wikipedia. 2013. Pengetahuan. Diakses pada 17 August 2014 http://id.wikipedia.org/ 
Wira. 2010. Pengetahuan. Universitas Sumatera Utara. Diakses pada 17 August 2014 
http://repository.usu.ac.id/ 
.
Filsafat Komunikasi

Filsafat Komunikasi

  • 1.
    BERKENALAN DENGAN FILSAFAT BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Fenomena perkembangan abad mutakhir menghendaki adanya suatu sistem pengetahuan yang komprehensif dengan demikian berdampak pada ilmu pengetahuan yang berkembang terus menerus tanpa berhenti seiring dengan perkembangan pengetahuan manusia. Perkembangan pengetahuan manusia tentang kehidupan, alam semesta dan hal-hal yang bersifat abstrak merupakan tantangan dan tujuan dari pencarian kebenaran sejati. Perkembangan masyarakat dewasa ini menghendaki adanya pembinaan manusia yang dilaksanakan secara seimbang antara nilai dan sikap, pengatahuan, kecerdasan, keterampilan, kemampuan komunikasi, dan kesadaran akan ekologi lingkungan dengan tujuan menjadikan manusia tidak hanya berintelektual tingggi, tetapi juga memilki akhlak mulia. Hal-hal demikian menjadikan seseorang untuk berfikir secara mendalam, merenung, menganalisis dan menguji coba, serta merumuskan sesuatu kesimpulan yang dianggap benar sehingga dengan melakukan kegiatan terebut dengan tidak sadar sudah melakukan kegiatan berfilsafat, maka dari itu ilmu lahir dari filsafat atau dapat dikatakan filsafat merupakan induk dari sebuah ilmu, oleh karena itu filsafat mempunyai kesamaan dan perbedaan dengan ilmu. Adapun pengertian dari filsafat dapat dilihat dari segi etimologis, terminologis, filsafat sebagai pandangan hidup, dan filsafat sebagai ilmu. Filsafat merupakan sesuatu yang digunakan untuk mengkaji hal-hal yang ingin dicari kebenaranya dengan menerapkan metode-metode filsafat. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, ada beberapa pokok permasalahan yang akan kami bahas, antara lain sebagai berikut :
  • 2.
    A) Pengetahuan B)Ilmu C) Filsafat D) Filsafat Ilmu E) Filsafat Ilmu Komunikasi
  • 3.
    BAB II PEMBAHASAN 1.PENGETAHUAN 1.1 Pengertian Pengetahuan Pengetahuan ialah merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yaitu : indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Soekidjo, Notoadmodjo 2003). Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya). Dengan sendirinya, pada waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera pendengaran dan penglihatan. Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas yang berbeda-beda. 1.2Tingkat Pengetahuan Secara garis besarnya dibagi dalam 6 tingkat pengetahuan, yaitu : 1. Tahu (know) Tahu diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu. Untuk mengetahui atau mengukur bahwa orang tahu sesuatu dapat menggunakan pertanyaan-pertanyaan. 2. Memahami (comprehension)
  • 4.
    Memahami suatu objekbukan sekedar tahu terhadap objek tersebut, tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat menginterpretasikan secara benar tentang objek yang diketahui tersebut. 3. Aplikasi (application) Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada situasi yang lain. 4. Analisis (analysis) Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan / atau memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang itu sudah sampai tingkat analisis adalah apabila orang tersebut telah membedakan atau memisahkan, mengelompokkan, membuat diagram terhadap pengetahuan atas objek tersebut. 5. Sintesis (synthesis) Sintesis menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari komponen-komponen pengetahuan yang dimiliki. Dengan kata lain, sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi- formulasi yang telah ada. 6. Evaluasi (evaluation) Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini dengan sendirinya didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku di masyarakat. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Wawancara dilakukan dengan bercakap-cakap secara langsung (berhadapan muka) dengan
  • 5.
    responden atau tidakberhadapan langsung dengan responden (misalnya melalui telepon). Angket berupa formulir yang berisi pernyataan dan diajukan secara tertulis pada sekumpulan orang untuk mendapatkan keterangan. 1.3 Jenis Pengetahuan a. Pengetahuan Implisit Pengetahuan implisit adalah pengetahuan yang masih tertanam dalam bentuk pengalaman seseorang dan berisi faktor-faktor yang tidak bersifat nyata seperti keyakinan pribadi, perspektif, dan prinsip. Pengetahuan diam seseorang biasanya sulit untuk ditransfer ke orang lain baik secara tertulis ataupun lesan. Kemampuan berbahasa, mendesain, atau mengoperasikan mesin atau alat yang rumit membutuhkan pengetahuan yang tidak selalu bisa tampak secara eksplisit, dan juga tidak sebegitu mudahnya untuk mentransferkannya ke orang lain secara eksplisit. Contoh sederhana dari pengetahuan implisit adalah kemampuan mengendara sepeda. Pengetahuan umum dari bagaimana mengendara sepeda adalah bahwa agar bisa seimbang, bila sepeda oleh ke kiri, maka arahkan setir ke kanan. Untuk berbelok ke kanan, pertama belokkan dulu setir ke kiri sedikit, lalu ketika sepeda sudah condong ke kenan, belokkan setir ke kanan. Tapi mengetahui itu saja tidak cukup bagi seorang pemula untuk bisa menyetir sepeda. Seseorang yang memiliki pengetahuan implisit biasanya tidak menyadari bahwa dia sebenarnya memilikinya dan juga bagaimana pengetahuan itu bisa menguntungkan orang lain. Untuk mendapatkannya, memang dibutuhkan pembelajaran dan keterampilan, namun tidak lantas dalam bentuk-bentuk yang tertulis. Pengetahuan implisit seringkali berisi kebiasaan dan budaya yang bahkan kita tidak menyadarinya. b. Pengetahuan Eksplisit Pengetahuan eksplisit adalah pengetahuan yang telah didokumentasikan atau disimpan dalam wujud nyata berupa media atau semacamnya. Dia telah diartikulasikan ke dalam bahasa formal dan bisa dengan relatif mudah disebarkan secara luas. Informasi yang tersimpan di ensiklopedia (termasuk Wikipedia) adalah contoh yang bagus dari pengetahuan eksplisit.
  • 6.
    Bentuk paling umumdari pengetahuan eksplisit adalah petunjuk penggunaan, prosedur, dan video how-to. Pengetahuan juga bisa termediakan secara audio-visual. Hasil kerja seni dan desain produk juga bisa dipandang sebagai suatu bentuk pengetahuan eksplisit yang merupakan eksternalisasi dari keterampilan, motif dan pengetahuan manusia.Bagaimana membuat pengetahuan implisit menjadi eksplisit merupakan fungsi utama dari strategi Manajemen Pengetahuan. c. Pengetahuan empiris Pengetahuan yang lebih menekankan pengamatan dan pengalaman inderawi dikenal sebagai pengetahuan empiris atau pengetahuan aposteriori. Pengetahuan ini bisa didapatkan dengan melakukan pengamatan yang dilakukan secara empiris dan rasional. Pengetahuan empiris tersebut juga dapat berkembang menjadi pengetahuan deskriptif bila seseorang dapat melukiskan dan menggambarkan segala ciri, sifat, dan gejala yang ada pada objek empiris tersebut. Pengetahuan empiris juga bisa didapatkan melalui pengalaman pribadi manusia yang terjadi berulangkali. Misalnya, seseorang yang sering dipilih untuk memimpin organisasi dengan sendirinya akan mendapatkan pengetahuan tentang manajemen organisasi. d. Pengetahuan rasionalisme Pengetahuan rasionalisme adalah pengetahuan yang diperoleh melalui akal budi. Rasionalisme lebih menekankan pengetahuan yang bersifat apriori; tidak menekankan pada pengalaman. Misalnya pengetahuan tentang matematika. Dalam matematika, hasil 1 + 1 = 2 bukan didapatkan melalui pengalaman atau pengamatan empiris, melainkan melalui sebuah pemikiran logis akal budi. 1.4 . Faktor- Faktor yang Memengaruhi Pengetahuan Pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya: 1) Pendidikan Pendidikan adalah sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dan juga usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, maka jelas dapat kita kerucutkan sebuah visi pendidikan yaitu mencerdaskan manusia.
  • 7.
    2) Media Mediayang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. Jadi contoh dari media massa ini adalah televisi, radio, koran, dan majalah. 3) Informasi Pengertian informasi menurut Oxford English Dictionary, adalah "that of which one is apprised or told: intelligence, news". Kamus lain menyatakan bahwa informasi adalah sesuatu yang dapat diketahui, namun ada pula yang menekankan informasi sebagai transfer pengetahuan. Selain itu istilah informasi juga memiliki arti yang lain sebagaimana diartikan oleh RUU teknologi informasi yang mengartikannya sebagai suatu teknik untuk mengumpulkan, menyiapkan, menyimpan, memanipulasi, mengumumkan, menganalisa, dan menyebarkan informasi dengan tujuan tertentu. Sedangkan informasi sendiri mencakup data, teks, gambar, suara, kode, program komputer, basis data. Adanya perbedaan definisi informasi dikarenakan pada hakekatnya informasi tidak dapat diuraikan(intangible), sedangkan informasi itu dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, yang diperoleh dari data dan pengamatan terhadap dunia sekitar kita serta diteruskan melalui komunikasi. 2. ILMU 2.1 Pengertian Ilmu Secara Etimologi Kata ilmu dalam bahasa Arab "ilm" yang berarti memahami, mengerti, atau mengetahui. Dalam kaitan penyerapan katanya, ilmu pengetahuan dapat berarti memahami suatu pengetahuan, dan ilmu sosial dapat berarti mengetahui masalah-masalah sosial, dan sebagainya. 2.2 Pengertian Ilmu
  • 8.
    Ilmu, sains, atauilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia.Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya. Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemology Ilmu alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi ke dalam hal yang bahani (material saja), atau ilmu psikologi hanya bisa meramalkan perilaku manusia jika lingkup pandangannya dibatasi ke dalam segi umum dari perilaku manusia yang konkret. Berkenaan dengan contoh ini, ilmu-ilmu alam menjawab pertanyaan tentang berapa jarak matahari dan bumi, atau ilmu psikologi menjawab apakah seorang pemudi cocok menjadi perawat. 2.3 Pengertian Ilmu Menurut Para Ahli a. M. IZUDDIN TAUFIQ Ilmu adalah penelusuran data atau informasi melalui pengamatan, pengkajian dan eksperimen, dengan tujuan menetapkan hakikat, landasan dasar ataupun asal usulnya b. THOMAS KUHN Ilmu adalah himpunan aktivitas yang menghasilkan banyak penemuan, bail dalam bentuk penolakan maupun pengembangannya c. Dr. MAURICE BUCAILLE Ilmu adalah kunci untuk mengungkapkan segala hal, baik dalam jangka waktu yang lama maupun sebentar. d. NS. ASMADI Ilmu merupakan sekumpulan pengetahuan yang padat dan proses mengetahui melalui penyelidikan yang sistematis dan terkendali (metode ilmiah) e. POESPOPRODJO
  • 9.
    Ilmu adalah prosesperbaikan diri secara bersinambungan yang meliputi perkembangan teori dan uji empiris 2.4 Syarat - Syarat Ilmu Berbeda dengan pengetahuan, ilmu merupakan pengetahuan khusus tentang apa penyebab sesuatu dan mengapa. Ada persyaratan ilmiah sesuatu dapat disebut sebagai ilmu. Sifat ilmiah sebagai persyaratan ilmu banyak terpengaruh paradigma ilmu-ilmu alam yang telah ada lebih dahulu. 1. Objektif. Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Objeknya dapat bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara tahu dengan objek, sehingga disebut kebenaran objektif; bukan subjektif berdasarkan subjek peneliti atau subjek penunjang penelitian. 2. Metodis adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensinya, harus ada cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari bahasa Yunani “Metodos” yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah. 3. Sistematis. Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , dan mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya. Pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga. 4. Universal. Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum (tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga bersudut 180º. Karenanya universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu alam
  • 10.
    mengingat objeknya adalahtindakan manusia. Karena itu untuk mencapai tingkat universalitas dalam ilmu- ilmu sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula. 3. FILSAFAT 3.1 Pengertian Filsafat Filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran atau rasio. Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan. 3.2 Pengertian Filsafat Menurut para Ahli 1. Pengertian filsafat menurut Harun Nasution filsafat adalah berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tak terikat tradisi, dogma atau agama) dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalan 2. Menurut Plato ( 427-347 SM) filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada 3. Aristoteles (384-322 SM) yang merupakan murid Plato menyatakan filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda. 4. Marcus Tullius Cicero (106 – 43 SM) mengatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha untuk mencapainya. 5. Al Farabi (wafat 950 M) filsuf muslim terbesar sebelum Ibn Sina menyatakan filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam yang maujud dan bertujuan menyelidiki hakekatnya yang sebenarnya. 3.3 Ciri – Ciri Berfikir Filosofi 1. Berfikir dengan menggunakan disiplin berpikir yang tinggi. 2. Berfikir secara sistematis.
  • 11.
    3. Menyusun suatuskema konsepsi, dan 4. Menyeluruh. 3.3 Tiga Persoalan yang Ingin Dipecahkan oleh Filsafat 1. Apakah sebenarnya hakikat hidup itu? Pertanyaan ini dipelajari oleh Metafisika 2. Apakah yang dapat saya ketahui? Permasalahan ini dikupas oleh Epistemologi. 3. Apakah manusia itu? Masalah ini dibahas olen Atropologi Filsafat. 3.4 Beberapa Ajaran Filsafat yang Telah Mengisi dan Tersimpan dalam Khasanah Ilmu 1. Materialisme, yang berpendapat bahwa kenyatan yang sebenarnya adalah alam semesta badaniah. Aliran ini tidak mengakui adanya kenyataan spiritual. Aliran materialisme memiliki dua variasi yaitu materialisme dialektik dan materialisme humanistis. 2. Idealisme yang berpendapat bahwa hakikat kenyataan dunia adalah ide yang sifatnya rohani atau intelegesi. Variasi aliran ini adalah idealisme subjektif dan idealisme objektif. 3. Realisme. Aliran ini berpendapat bahwa dunia batin/rohani dan dunia materi murupakan hakitat yang asli dan abadi. 4. Pragmatisme merupakan aliran paham dalam filsafat yang tidak bersikap mutlak (absolut) tidak doktriner tetapi relatif tergantung kepada kemampuan minusia. 3.5 Manfaat Filsafat dalam Kehidupan 1. Sebagai dasar dalam bertindak. 2. Sebagai dasar dalam mengambil keputusan. 3. Untuk mengurangi salah paham dan konflik. 4. Untuk bersiap siaga menghadapi situasi dunia yang selalu berubah. 4. FILSAFAT ILMU 4.1 Definisi Filsafat Ilmu
  • 12.
    Jujun S. Suriasumantrimenyatakan bahwa filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemology yang secara spesifik mengkaji hakekat ilmu. Dalam bentuk pertanyaan, pada dasar filsafat ilmu merupakan telahaan berkaitan dengan objek apa yang ditelaah oleh ilmu (ontologi), bagaimana proses pemerolehan ilmu (epistemologi), dan bagaimana manfaat ilmu (axiologi), oleh karena itu lingkup induk telaahan filsafat ilmu adalah : a. Ontologi berkaitan tentang apa obyek yang ditelaah ilmu, dalam kajian ini mencakup masalah realitas dan penampakan (reality and appearance), serta bagaimana hubungan ke dua hal tersebut dengan subjek/manusia. b. Epistemologi berkaitan dengan bagaimana proses diperolehnya ilmu, bagaimana prosedurnya untuk memperoleh pengetahuan ilmiah yang benar. c. Axiologi berkaitan dengan apa manfaat ilmu, bagaimana hubungan etika dengan ilmu, serta bagaimana mengaplikasikan ilmu dalam kehidupan. Peter Caw memberikan makna filsafat ilmu sebagai bagian dari filsafat yang kegiatannya menelaah ilmu dalam kontek keseluruhan pengalaman manusia.Steven R. Toulmin memaknai filsafat ilmu sebagai suatu disiplin yang diarahkan untuk menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan prosedur penelitian ilmiah, penentuan argumen, dan anggapan-anggapan metafisik guna menilai dasar-dasar validitas ilmu dari sudut pandang logika formal, dan metodologi praktis serta metafisika. 4.2 Objek Kajian Filsafat Ilmu Pada dasarnya, setiap ilmu memiliki dua macam objek , yaitu objek material dan objek formal. Objek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan, seperti tubuh manusia adalah objek material ilmu kedokteran. Filsafat sebagai proses berpikir yang sistematis dan adil juga memiliki objek material dan objek formal. Objek material filsafat adalah segala yang ada. Segala yang ada mencakup ada yang tampak dan ada yang tidak tampak. Objek material filsafat atas tiga bagian, yaitu yang ada dalam alam empiris, yang ada dalam pikiran, dan yang ada dalam kemungkinan adapun, objek formal, dan rasional adalah sudut pandang yang menyeluruh, radikal dan rasional tentang segala yang
  • 13.
    ada. Setelah berjalanbeberapa lama kajian yang terkait dengan hal yang empiris semakain bercabang dan berkembang, sehingga menimbulkan spesialisas i dan menampakkan kegunaan yang peraktis. Dalam perspektif ini dapat diuraikan bahwa filsafat ilmu pada prinsipnya memiliki dua obyek substantif dan dua obyek instrumentatif, yaitu: 1. Obyek Subtantif, yang terdiri dari dua hal,yaitu : A. Fakta (Kenyataan) Data empirik sensual tersebut harus obyektif tidak boleh masuk subyektifitas peneliti. Fakta itu yang faktual ada phenomenology. Fakta bukan sekedar data empirik sensual, tetapi data yang sudah dimaknai atau diinterpretasikan, sehingga ada subyektifitas peneliti. Tetapi subyektifitas di sini tidak berarti sesuai selera peneliti, subyektif disini dalam arti tetap selektif sejak dari pengumpulan data, analisis sampai pada kesimpulan.. Data selektifnya mungkin berupa ide , moral dan lain-lain. Orang mengamati terkait langsung dengan perhatiannya dan juga terkait pada konsep-konsep yang dimiliki. Kenyataan itu terkonstruk dalam moral realism, sesuatu itu sebagai nyata apabila ada korespondensi dan koherensi antara empiri dengan skema rasional. B. Kebenaran Yang empirik faktual koheren dengan kebenaran transenden berupa wahyu. Pragamatisme, mengakui kebenaran apabila faktual berfungsi. Rumusan substantif tentang kebenaran ada beberapa teori, menurut Michael Williams ada lima teori yang relevan tentang kebenaran, yaitu: a. Kebenaran Preposisi, yaitu teori kebenaran yang didasarkan pada kebenaran proposisinya baik proposisi formal maupun proposisi materialnya. b. Kebenaran Korespondensi, teori kebenaran yang mendasarkan suatu kebenaran pada adanya korespondensi antara pernyataan dengan kenyataan (fakta yang satu dengan fakta yang lain). Selanjutnya teori ini kemudian berkembang menjadi teori Kebenaran Struktural Paradigmatik, yaitu teori kebenaran yang mendasarkan suatu kebenaran pada upaya mengkonstruk beragam konsep dalam tatanan struktur teori (struktur ilmu/structure of science) tertentu yang kokoh untuk menyederhanakan yang kompleks atau sering c. Kebenaran Koherensi atau Konsistensi, yaitu teori kebenaran yang medasarkan suatu
  • 14.
    kebenaran pada adanyakesesuaian suatu pernyataan dengan pernyataan-pernyataan lainnya yang sudah lebih dahulu diketahui, diterima dan diakui kebenarannya. d.Kebenaran Performatif, yaitu teori kebenaran yang mengakui bahwa sesuatu itu dianggap benar apabila dapat diaktualisasikan dalam tindakan. e. Kebenaran Pragmatik, yaitu teori kebenaran yang mengakui bahwa sesuatu itu benar apabila mempunyai kegunaan praktis. Dengan kata lain sesuatu itu dianggap benar apabila mendatangkan manfaat dan salah apabila tidak mendatangkan manfaat. 2. Obyek Instrumentatif, yang terdiri dari dua hal yaitu: A. Konfirmasi Fungsi ilmu adalah untuk menjelaskan, memprediksi proses dan produk yang akan datang atau memberikan pemaknaan. Pemaknaan tersebut dapat ditampilkan sebagai konfirmasi absolut dengan menggunakan landasan: asumsi, postulat atau axioma yang sudah dipastikan benar. Pemaknaan juga dapat ditampilkan sebagai konfirmi probabilistik dengan menggunakan metode induktif, deduktif, reflektif. Dalam ontologi dikenal pembuktian a priori dan a posteriori. B. Logika Inferensi Studi logika adalah studi tentang tipe-tipe tata pikir. Pada mulanya logika dibangun oleh Aristoteles (384-322 SM) dengan mengetengahkan tiga prinsip atau hukum pemikiran, yaitu : Principium Identitatis (Qanun Dzatiyah), Principium Countradictionis (Qanun Ghairiyah), dan Principium Exclutii Tertii (Qanun Imtina’). Logika ini sering juga disebut dengan logika Inferensi karena kontribusi utama logika Aristoteles tersebut adalah untuk membuat dan menguji inferensi. Dalam perkembangan selanjutnya Logika Aristoteles juga sering disebut dengan logika tradisional. Dalam hubungan ini Harold H. Titus menerapkan ilmu pengetahuan mengisi filsafat dengan sejumlah besar materi aktual dan deskriptif yang sangat perlu dalam pembinaan suatu filsafat. Banyak ilmuan yang juga filsuf. Para filosof terlatih dalam metode ilmiah dan sering pula menuntut minat khusus dalam beberapa disiplin ilmu. 4.3 Beberapa Pendapat Ahli tentang Objek Kajian Filsafat Ilmu : Edward Madden menyatakan bahwa lingkup atau bidang kajian filsafat ilmu adalah: Probabilitas , Induksi , dan Hipotesis
  • 15.
    Adapun masalah-masalah yangberada dalam lingkup filsafat ilmu adalah (Ismaun) : 1. masalah-masalah metafisis tentang ilmu 2. masalah-masalah epistemologis tentang ilmu 3. masalah-masalah metodologis tentang ilmu 4. masalah-masalah logis tentang ilmu 5. masalah-masalah etis tentang ilmu 6. masalah-masalah tentang estetika Metafisika merupakan telaahan atau teori tentang yang ada, istilah metafisika ini terkadang dipadankan dengan ontologi jika demikian, karena sebenarnya metafisika juga mencakup telaahan lainnya seperti telaahan tentang bukti-bukti adanya Tuhan.Epistemologi merupakan teori pengetahuan dalam arti umum baik itu kajian mengenai pengetahuan biasa, pengetahuan ilmiah, maupun pengetahuan filosofis. Metodologi ilmu adalah telaahan atas metode yang dipergunakan oleh suatu ilmu, baik dilihat dari struktur logikanya, maupun dalam hal validitas metodenya.Masalah logis berkaitan dengan telaahan mengenai kaidah-kaidah berfikir benar, terutama berkenaan dengan metode deduksi.Problem etis berkaitan dengan aspek-aspek moral dari suatu ilmu, apakah ilmu itu hanya untuk ilmu, ataukah ilmu juga perlu memperhatikan kemanfaatannya dan kaidah-kaidah moral masyarakat. 5.FILSAFAT ILMU KOMUNIKASI 5.1 Pengertian Menurut para Ahli 1. Richard Lanigan Didalam karyanya yang berjudul “Communication Models in Philosophy, Review and Commentary” membahas secara khusus “analisis filsafati mengenai komunikasi”. Richard Lanigan mengatakan ; bahwa filsafat sebagai disiplin biasanya dikategorikan menjadi sub-bidang utama menurut jenis justifikasinya yang dapat diakomodasikan oleh jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan berikut ini : - Apa yang aku ketahui ? (What do I know ?)
  • 16.
    - Bagaimana akumengetahuinya ? (How do I know it ?) - Apakah aku yakin ? (Am I sure ?) - Apakah aku benar ? (Am I right ?) Pertanyaan-pertanyaan di atas berkaitan dengan penyelidikan sistematis studi terhadap : Metafisika, Epistemologi, Aksiologi dan Logika. 2. Prof. Onong Ucahana Efendy, MA, Menurut Prof. Onong Ucahana Efendy, Filsafat komunikasi adalah suatu disiplin ilmu yang menelaah pemahaman (verstehen) secara fundamental, metodologis, sistematis, analisis, kritis, dan holistis tentang teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidangnya, sifatnya, tatanannya,tujuannya, fungsinya, teknik dan perannya. 3. Fisher Filosofis ilmu komunikasi menurut Fisher (1986:17) adalah ilmu yang mencakup segala aspek dan bersifat eklektif yang digambarkan oleh Wilbur Schramm (1963:2) sabagai jalan simpang yang ramai, semua disiplin ilmu melintasinya. 4. Laurie Ouellette Chair & Amit Pinchevski Menurut Laurie Ouellette Chair dan Amit Pinchevski, Filsafat Komunikasi secara luas peduli dengan masalah teoritis,analitis,dan politik yang melintasi batas-batas yang terjadi begitu saja untuk di analisa dalam studi komunikasi. 5.2 . Kajian Filsafat Komunikasi Para ahli sepakat bahwa landasan ilmu komunikasi yang pertama adalah filsafat. Filsafat melandasi ilmu komunikasi dari domain ethos, pathos, dan logos dari teori Aristoteles dan Plato. Ethos merupakan komponenfilsafat yang mengajarkan ilmuwan tentang pentingnya rambu-rambu normative dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang kemudian menjadi kunci utama bagi hubungan antara ilmu dan masyarakat. Pathos merupakan komponen filsafat yang menyangkut aspek emosi atau rasa yang ada dalam diri manusia sebagai makhluk yang senantiasa mencintai keindahan, penghargaan, yang dengan ini manusia berpeluang untuk melakukan improvisasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Logos merupakan komponen filsafat yang membimbing para ilmuwan untuk mengambil suatu keputusan berdasarkan pada pemikiran yang bersifat nalar dan rasional, yang dicirikan oleh argument-argumen yang logis. Komponen yang lain dari filsafat adalah komponen piker, yang terdiri dari etika, logika, dan
  • 17.
    estetika, Komponen inibersinegri dengan aspek kajian ontologi (keapaan), epistemologi (kebagaimanaan), dan aksiologi (kegunaan atau kemanfaatan). Pada dasarnya filsafat komunikasi memberikan pengetahuan tentang kedudukan Ilmu Komunikasi dari perspektif epistemology: 1. Ontologis: Ontologi berarti studi tentang arti “ada” dan “berada”, tentang cirri-ciri esensial dari yang ada dalam dirinya sendiri, menurut bentuknya yang paling abstrak (Suparlan: 2005). Ontolgi sendiri berarti memahami hakikat jenis ilmu pengetahuan itu sendiri yang dalam hal ini adalah Ilmu Komunikasi. Ontologi. Pertanyaan yang menyangkut wilayah ini antara lain: Apakah ilmu komunikasi? Apakah yang ditelaah oleh ilmu komunikasi? Apakah objek kajiannya? Bagaimanakah hakikat komunikasi yang menjadi objek kajiannya? Ilmu komunikasi dipahami melalui objek materi dan objek formal. Secara ontologism, Ilmu komunikasi sebagai objek materi dipahami sebagai sesuatu yang monoteistik pada tingkat yang paling abstrak atau yang paling tinggi sebagai sebuah kesatuan dan kesamaan sebagai makhluk atau benda. Sementara objek forma melihat Ilmu Komunikasi sebagai suatu sudut pandang (point of view), yang selanjutnya menentukan ruang lingkup studi itu sendiri. Contoh relevan aspek ontologis Ilmu Komunikasi adalah sejarah ilmu Komunikasi, Founding Father, Teori Komunikasi, Tradisi Ilmu Komunikasi, Komunikasi Manusia, dll. 2. Epistemologis: Hakikat pribadi ilmu (Komunikasi) yaitu berkaitan dengan pengetahuan mengenai pengetahuan ilmu (Komunikasi) sendiri atau Theory of Knowledge. Persoalan utama epsitemologis Ilmu Komunikasi adalah mengenai persoalan apa yang dapat ita ketahui dan bagaimana cara mengetahuinya, “what can we know, and how do we know it?” (Lacey: 1976). Menurut Lacey, hal-hal yang terkait meliputi “belief, understanding, reson, judgement, sensation, imagination, supposing, guesting, learning, and forgetting”. Epistemologi. Pertanyaan yang menyangkut wilayah ini antara lain: Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan menjadi ilmu? Bagaimanakah prosedurnya, metodologinya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar bisa mendapat pengetahuan dan ilmu
  • 18.
    yang benar dalamhal komunikasi? Apa yang dimaksud dengan kebenaran? Apakah kriteria kebenaran dan logika kebenaran dalam konteks ilmu komunikasi? Secara sederhana sebetulnya perdebatan mengenai epistemology Ilmu Komunikasi sudah sejak kemunculan Komunikasi sebagai ilmu. Perdebatan apakah Ilmu Komunikasi adalah sebuah ilmu atau bukan sangat erat kaitannya dengan bagaimana proses penetapan suatu bidang menjadi sebuah ilmu. Dilihat sejarahnya, maka Ilmu Komunikasi dikatakan sebagai ilmu tidak terlepas dari ilmu-ilmu social yang terlebih dahulu ada. pengaruh Sosiologi dan Psikologi sangat berkontribusi atas lahirnya ilmu ini. Bahkan nama-nama seperti Laswell, Schramm, Hovland, Freud, sangat besar pengaruhnya atas perkembangan keilmuan Komunikasi. Dan memang, Komunikasi ditelaah lebih jauh menjadi sebuah ilmu baru oada abad ke-19 di daratan Amerika yang sangat erat kaitannya dengan aspek aksiologis ilmu ini sendiri. Contoh konkret epistemologis dalam Ilmu Komunikasi dapat dilihat dari proses perkembangan kajian keilmuan Komunikasi di Amerika (Lihat History of Communication, Griffin: 2002). Kajian Komunikasi yang dipelajari untuk kepentingan manusia pada masa peperangan semakin meneguhkan Komunikasi menjadi sebuah ilmu. 3. Aksiologis: Hakikat individual ilmu pengetahuan yang bersitaf etik terkait aspek kebermanfaat ilmu itu sendiri. Seperti yang telah disinggung pada aspek epistemologis bahwa aspek aksiologis sangat terkait dengan tujuan pragmatic filosofis yaitu azas kebermanfaatan dengan tujuan kepentingan manusia itu sendiri. Perkembangan ilmu Komunikasi erat kaitannya dengan kebutuhan manusia akan komunikasi. Aksiologi. Pertanyaan yang menyangkut wilayah ini antara lain: Untuk apa ilmu komunikasi itu digunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan pengetahuan dan ilmu tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimanakah kaitan ilmu komunikasi berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara operasionalisasi metode ilmiah dalam upaya melahirkan dan menemukan teori-teori dan aplikasi ilmu komunikasi dengan norma-norma moral dan profesional? Kebutuhan memengaruhi (persuasive), retoris (public speaking), spreading of information, propaganda, adalah sebagian kecil dari manfaat Ilmu Komunikasi. Secara
  • 19.
    pragmatis, aspek aksiologisdari Ilmu Komunikasi terjawab seiring perkembangan kebutuhan manusia. Filsafat bermula dari pertanyaan dan berakhir pada pertanyaan. Hakikat filsafat adalah bertanya terus-menerus, karenanya dikatakan bahwa filsafat adalah sikap bertanya itu sendiri. Dengan bertanya, filsafat mencari kebenaran. Namun, filsafat tidak menerima kebenaran apapun sebagai sesuatu yang sudah selesai. Yang muncul adalah sikap kritis, meragukan terus kebenaran yang ditemukan. Dengan bertanya, orang menghadapi realitas kehidupan sebagai suatu masalah, sebagai sebuah pertanyaan, tugas untuk digeluti, dicari tahu jawabannya. Tidak sebagaimana dengan ilmu-ilmu alam yang objeknya eksak, misalnya dalam biologi akan mudah untuk membedakan kucing dengan anjing, mana jantung dan mana hati, sehingga tidak memerlukan pendefinisian secara ketat. Tidak demikian halnya dengan ilmu-ilmu sosial yang objeknya abstrak. Ilmu komunikasi berada dalam rumpun ilmu-ilmu sosial yang berobjek abstrak, yaitu tindakan manusia dalam konteks sosial. Komunikasi sebagai kata yang abstrak sulit untuk didefinisikan. Para pakar telah membuat banyak upaya untuk mendefinisikan komunikasi. Ilmu komunikasi sebagai salah satu ilmu sosial mutlak memberikan definisi tajam dan jernih guna menjelaskan objeknya yang abstrak itu. Tidak semua peristiwa merupakan objek kajian ilmu komunikasi. Sebagaimana diutarakan, objek suatu ilmu harus terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya. Karena objeknya yang abstrak, syarat objek ilmu komunikasinya adalah memiliki objek yang sama, yaitu tindakan manusia dalam konteks sosial. Artinya, peristiwa yang terjadi antarmanusia. Contoh, Anda berkata kepada seorang teman, ”Wah, maaf, kemarin saya lupa menelepon.” Peristiwa ini memenuhi syarat objek ilmu komunikasi , yaitu bahwa yang dikaji adalah komunikasi antarmanusia, bukan dengan yang lain selain makhluk manusia. Telah diketahui ilmu komunikasi memiliki sejumlah ilmu praktika, yaitu Hubungan Masyarakat, Periklanan, dan Jurnalistik. Misalnya, jika ilmu komunikasi juga mempelajari penyampaian pesan kepada makhluk selain manusia, bagaimanakah agar pesan kehumasan yang ditujukan kepada bebatuan serta tumbuhan yang tercemar limbah perusahaan sehingga memberi respon positif mereka? Dengan kata lain, penyampaian pesan kepada makhluk selain manusia akan mencederai kriteria objek keilmuannya.
  • 20.
    BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Filsafat berasal dari bahasa Yunani. Philosophia atau Philosophos.Kata tersebut terdiri dari dua kata yakni philos (philein) dan Sophia. Kata Philos berarti cinta (love), sedangkanSophia atau sophosberarti pengetahuan, kebenaran, hikmat atau kebijaksanaan (wisdom). Jadi secara etimologi filsafat berarti cinta akan.Adapun pengertian dari filsafat dapat dilihat dari segi etimologis, terminologis, filsafat sebagai pandangan hidup, dan filsafat sebagai ilmu. Dasar ontologi filsafat meliputi objek materi yakni sesuatu yang dijadikan sasaran pemikiran, sesuatu yang dipelajari oleh filsafatyang sangat luas yakni mencakup segala realitas, kenyataan atau sesuatu yang ada atau mungkin ada baik yang nyata (Skala) maupun yang abstrak (Niskala). Berfikir filsafat harus memenuhi sejumlah persyaratan yaitu: (1) bersifat rasional radikal, mencari kejelasan atau kebenaran yang bersifat esensial (the first causes dan teh last causes) dan non-fragmentari, dan menyangkut suatu realitas atau hal-hal yang mengacu pada ide-ide dasar. Dasar epistimlogi yang dimiliki filsafat mencakup antara metode yang digunakan untuk pedoman mengkaji ilmu dengan menggunakan metode filsafat, yakni metode kritis reflektif, metode dialektika-dialog/dialektika-kritis, metode dialeka hegel, metode intuitif, metode skeptis, metode fenomenologi, metode eksistensialisme, dan metode analitik. Filsafat mempunyai dasar aksiologis yang mengukap tentang apakah kegunaan dari ilmu. B. Saran Filsafat merupakan induk dari segala ilmu yang diharapkan dapat menjadikan pedoman bagi manusia untuk mencari sebuah kebenaran yang hakiki, dengan demikian diharapkan
  • 21.
    manusia dapat lebihbisa berpikir kritis yang positif serta dapat menjadi manusia yang bijaksana dalam menghadapi segala permasalahan kehidupan. DAFTAR PUSTAKA Effendy., Onong Uchjana . 2000 . Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi . Bandung : Penerbit PT. Citra Aditya Bakti. EL Karimah, Kismiyati. 2010. Filsafat & etika Komunikasi. Bandung : Widya padjajaran. Mulyana, Deddy. 2001. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung. Remaja Rosdakarya. Suhartono, Suparlan. 2005 . Filsafat Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Ar Ruzz. Wikipedia. 2013. Ilmu . Diakses pada 17 August 2014 http://id.wikipedia.org/ Wikipedia. 2013. Filsafat. Diakses pada 17 August 2014 http://id.wikipedia.org/ Wikipedia. 2013.Filsafat Ilmu. Diakses pada 17 August 2014 http://id.wikipedia.org/ Wikipedia. 2013. Pengetahuan. Diakses pada 17 August 2014 http://id.wikipedia.org/ Wira. 2010. Pengetahuan. Universitas Sumatera Utara. Diakses pada 17 August 2014 http://repository.usu.ac.id/ .