PENGANTAR
 FILSAFAT
    ilmu

 H. HILALUDDIN HANAFI
ORIENTASI PERKULIAHAN

- Tujuan perkuliahan
- Hasil yang diharapkan
- Proses perkuliahan
PENGERTIAN
• Kata filsafat = Yunani filosofia, fisofein =
  mencintai kebijaksanaan. Philosophis,
  philein yang berarti mencintai, atau philia
  yang berarti cinta, dan shopia yang berarti
  kearifan. Dari kata tersebut lahirlah kata
  Inggris philosophy yang biasanya
  diterjemahkan sebagai kata “cinta kearifan
Konep Plato
• Plato memberikan istilah dengan
  dialektika yang berarti seni berdiskusi.
  Dikatakan demikian karena, filsafat harus
  berlsg sebagai upaya memberikan kritik
  terhdp berbagai pendapat yang berlaku.
  Kearifan atau pengertian intelektual yang
  diperoleh lewat proses pemeriksaan
  secara kritis ataupun dengan berdiskusi.
Konep Plato
• Juga diartikan sebagai suatu penyelidikan
  terhadap sifat dasar yang penghabisan
  dari kenyataan. Karena seseorang filosof
  akan selalu mencari sebab-sebab dan
  asas-asas yang penghabisan (terakhir)
  dari benda-benda.
Konsep Cicero
• Cicero menyebutnya Filsafat sebagai “ ibu
  dari semua seni” (the mother of all the art).
  Juga sebagai arts vitae yaitu filsafat
  sebagai kehidupan.
Konsep al-Farabi
• Menurut al_farabi, filsafat adalah ilmu
  yang menyelidiki hakikat yang sebenarnya
  dari segala yang ada (al-ilmu bil-maujudat
  bi manusia hiya al-maujudat).
Konsep Rene Descarte

• Menurut Rene Descarte, filsafat
  merupakan kumpulan segala
  pengetahuan, dimana Tuhan, alam dan
  manusia menjadi pokok penyelidikannya.
Konsep Francis Bacon

• Menurut Francis Bacon, filsafat
  merupakan induk agung dari ilmu-ilmu,
  dan filsafat menangani semua
  pengetahuan sebagai bidangnya.
Konsep John Dewey
• Sebagai tokoh pragmatisme, John Dewey,
  berpendapat bahwa haruslah dipandang
  sebagai suatu pengungkapan mengenai
  perjuangan manusia secara terus-menerus
  dalam upaya melakukan penyesuaian
  berbagai tradisi yang membentuk budi
  manusia. Tegasnya, filsafat sebagai suatu
  alat untuk membuat penyesuaian di antara
  yg lama dan yg baru dlm suatu kebudayaan.
Filsafat sebagai ilmu
• Dikatakan sebagai ilmu karena di dalam
  pengertian filsafat mengandung empat
  pertanyaan ilmiah, yaitu : Bagaimanakah,
  mengapakah, ke manakah, dan apakah.
• Pertanyaan bagaimana menanyakan sifat-
  sifat yang dapat ditangkap atau yang
  tampak oleh indera. Jawaban atau
  pengetahuan yang diperolehnya bersifat
  deskriptif (penggambaran).
Filsafat sebagai ilmu
• Pertanyaan mengapa menanyakan
  tentang sebab (asal mula suatu obyek.
  Jawaban atau pengetahuan yang
  diperolehnya bersifat kausalitas (sebab
  akibat). Pertanyaan ke mana
  menanyakan tentang apa yang terjadi
  masa lampau, masa sekarang, dan
  masa yang akan datang. Jawaban yang
  diperoleh ada tiga jenis pengetahuan,
  yaitu:
• Pertama, pengetahuan yang timbul dari
  hal-hal yang selalu berulang-ulang
  (kebiasaan, yang nantinya dijadikan
  dasar untuk mengetahui apa yang akan
  terjadi.
• Kedua pengetahuan yang timbul dari
  pedoman yang terkandung dalam adat
  istiadat/kebiasaan yang berlaku dalam
  masyarakat. Dalam hal ini tidak
  dipermasalahkan apakah pedoman
  tersebut selalu dipakai atau tidak.
  Pedoman yang selalu dipakai disebut
  hukum.
• Ketiga, pengetahuan yang timbul dan
  pedoman yang dipakai (hukum)
  sebagai suatu hal yang dijadikan
  pegangan. Tegasnya, pengetahuan
  yang diperoleh dari jawaban ke
  manakah adalah pengetahuan yang
  bersifat normative.
• Pertanyaan apakah yang menanyakan
  tentang hakikat atau inti mutlak dari suatu
  hal. Hakikat ini sifatnya sangat dalam
  (radix) dan tidak lagi bersifat empiris,
  sehingga hanya dapat dimengerti oleh
  akal. Jawaban atau pengetahuan yang
  diperolehnya ini kita akan dapat
  mengetahui hal-hal yang sifatnya sangat
  umum, universal, abstrak.
• Dengan demikian, kalau ilmu-ilmu
  yang lain (selain filsafat) bergerak
  dari tidak tahu ke tahu, sedang
  ilmu filsafat bergerak dari tidak
  tahu ke tahu selanjutnya ke
  hakikat.
• Untuk mencari/memperoleh pengetahuan
  hakikat, haruslah dilakukan dengan
  abstraksi, yaitu suatu perbuatan akal
  untuk menghilangkan keadaan, sifat-sifat
  yang secara kebetulan (sifat-sifat yang
  tidak harus ada/aksidensia), sehingga
  akhirnya tinggal keadaan/sifat yang harus
  ada (mutlak) yaitu substansia, maka
  pengetahuan hakikat dapat diperolehnya.
Filsafat sebagai Cara Berpikir
• Berpikir secara filsafat dapat diartikan
  sebagai berpikir yang sangat mendalam
  sampai hakikat, atau berpikir secara
  global/menyeluruh, atau berpikir yang dilihat
  dari berbagai sudut pandang pemikiran
  atau sudut pandang ilmu pengetahuan.
  Berfikir yang demikian ini debagai upaya
  untuk dapat berpikir secara tepat dan benar
  serta dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini
  harus memenuhi persyaratan:
Harus sistematis
• Pemikiran yang sistematis ini dimaksudkan
  untuk menyusun suatu pola pengetahuan
  yang rasional. Sistematis adalah masing-
  masing unsur suatu keseluruhan.
  Sistematika pemikiran seorang filsof banyak
  dipengaruhi oleh keadaan dirinya,
  lingkungan, zamannya, pendidikan, dan
  sistem pemikiran yang mempengaruhi.
Harus Konsepsional
• Secara umum istilah konsepsional berkaitan
  dengan ide atau gambaran yang melekat
  pada akal pikiran yang berada dalam
  intelektual. Gambaran tersebut mempunyai
  bentuk tangkapan sesuai dengan rillnya .
  sehingga maksud dari ‘konsepsional’
  tersebut sebagai upaya untuk menyusun
  suatu bagan yang terkonsepsi (jelas).
  Karena berpikir secara filsafat sebenarnya
  berpikir tentang hal dan prosesnya.
Harus Koheren
• Koheren atau runtut adalah unsur-
  unsurnya tidak boleh mengandung
  uraian-uraian yang bertentangan satu
  sama lain. Koheren atau runtut di
  dalamnya memuat suatu kebenaran logis.
  Sebaliknya, apabila suatu uraian yang di
  dalamnya tidak memuat kebenaran logis,
  maka uraian tersebut dikatakan sebagai
  uraian yang tidak koheren/runtut.
Harus rasional
• Yang dimaksud dengan rasional adalah
  unsur-unsurnya berhubungan secara
  logis. Artinya, pemikiran filsafat harus
  diuraikan dalam bentuk yang logis, yaitu
  suatu bentuk kebenaran yang mempunyai
  kaidah-kaiadah berpikir (logika).
Harus Sinoptik

• Sinoptik artinya pemikiran filsafat
  harus melihat hal-hal secara
  menyeluruh atau dalam kebersamaan
  secara integral.
Harus mengarah kepada
         pandangan dunia

• Yang dimaksud adalah pemikiran filsafat
  sebagai upaya untuk memahami semua
  realitas kehidupan dengan jalan menyusun
  suatu pandangan (hidup) dunia, termasuk di
  dalamnya menerangkan tentang dunia dan
  semua hal yang berada di dalamnya (dunia).
Filsafat sebagai Pandangan Hidup

• To be continued
CABANG-CABANG FILSAFAT

• Filsafat merupakan bidang studi yang luas yg
  memerlukan pembagian yang lebih kecil lagi.
  Filsafat dapat dikelompokkan menjadi empat
  bidang induk:
• Filsafat tentang pengetahuan,,
• Filsafat tentang keseluruhan kenyataan,
• Filsafat tentang tindakan,
• Sejarah Filsafat
– Filsafat tentang pengetahuan, terdiri:
   • Epitemologi
   • Logika
   • kritik ilmu-ilmu
Filsafat tentang keseluruhan
   kenyataan, terdiri:
    • metafisika (ontologi)
    • metafisika khusus, terdiri :
• teologi metafisik
• antropologi
• kosmologi
–Filsafat tentang
 tindakan, terdiri :
 •etika
 •estetika
Pembagian Filsafat
    –Metafisika (filsafat ttg hal yang ada)
    –Efistemologi (teori pengetahuan)
    –Metodologi (teori tentang metode)
    –Logika ( teori tentang penyimpulan)
    –Etika (filsafat ttg pertimbangan
     moral)
    –Esterika (filsafat tentang keindahan)
•   -Sejarah filsafat
Ilmu, Filsafat, Agama
• Ilmu, filsafat dan agama mempunyai
  hubungan yang terkait dan reflektif
  dengan manusia. Dikatakan terkait karena
  ketiganya tidak dapat bergerak dan
  berkembang jika tidak ada tiga alat dan
  tenaga utama yang berada di dalam diri
  manusia.
Ilmu, Filsafat, Agama
• Tiga alat dan tenaga utama manusia
  adalah : akal pikir, rasa, dan keyakinan,
  sehingga dengan ketiga hal tersebut
  manusia dapat mencapai kebahagiaan
  bagi dirinya.
• Ilmu dan filsafat dapat bergerak dan
  berkembang berkat akal pikiran manusia.
  Juga, agama dapat bergerak dan
  berkembang berkat adanya keyakinan.
  Akan tetapi ketiga alat dan tenaga utama
  tersebut tidak dapat berhubungan dengan
  ilmu, filsafat, dan agama apabila tidak
  didorong dan dijalankan oleh kemauan
  manusia yang merupakan tenaga
  tersendiri yang terdapat dalam diri
  manusia.
• Dikatakan reflektif, karena ilmu, filsafat,
  dan agama baru dapat dirasakan
  (diketahui) faedahnya/manfaatnya dalam
  kehidupan manusia, apabila ketiganya
  merefleksi (lewat proses pantul diri) dalam
  diri manusia.
• Ilmu mendasarkan pada akal pikir lewat
  pengalaman dan indera, dan filsafat
  mendasarkan pada otoritas akal murni
  secara bebas dalam penyelidikan terhadap
  kenyataan dan pengalaman terutama
  dikaitkan dengan kehidupan manusia.
  Sedangkan agama mendasarkan pada
  otoritas wahyu. Harap dibedakan agama
  yang berasal dari pertumbuhan dan
  perkembangan filsafat yang mendasarkan
  pada konsep-konsep tentang kehidupan
  dunia, terutama konsep-konsep ttg moral.
• Menurut Prof. Nasroen, S.H,
  mengemukakan bahwa filsafat yang sejati
  haruslah berdasarkan pada agama.
  Malahan filsafat yang sejati itu adalah
  terkandung dalam agama.
• Apabila filsafat tidak berdasarkan pada
  agama dan filsafat hanya semata-mata
  berdasarkan pada akal pikir saja, maka
  filsafat tsb tidak akan memuat kebenaran
  obyektif, karena yang memberikan
  penerangan dan putusan adalah akal
  pikiran. Sedangkan kesanggupan akal
  pikiran terbatas, sehingga filsafat yang
  berdasarkan pada akal pikir semata-mata
  akan tidak sanggup memberi kepuasan bagi
  manusia, terutama dalam rangka
  pemahamannya terhadap yang gaib.

Filsafat

  • 1.
    PENGANTAR FILSAFAT ilmu H. HILALUDDIN HANAFI
  • 2.
    ORIENTASI PERKULIAHAN - Tujuanperkuliahan - Hasil yang diharapkan - Proses perkuliahan
  • 3.
    PENGERTIAN • Kata filsafat= Yunani filosofia, fisofein = mencintai kebijaksanaan. Philosophis, philein yang berarti mencintai, atau philia yang berarti cinta, dan shopia yang berarti kearifan. Dari kata tersebut lahirlah kata Inggris philosophy yang biasanya diterjemahkan sebagai kata “cinta kearifan
  • 4.
    Konep Plato • Platomemberikan istilah dengan dialektika yang berarti seni berdiskusi. Dikatakan demikian karena, filsafat harus berlsg sebagai upaya memberikan kritik terhdp berbagai pendapat yang berlaku. Kearifan atau pengertian intelektual yang diperoleh lewat proses pemeriksaan secara kritis ataupun dengan berdiskusi.
  • 5.
    Konep Plato • Jugadiartikan sebagai suatu penyelidikan terhadap sifat dasar yang penghabisan dari kenyataan. Karena seseorang filosof akan selalu mencari sebab-sebab dan asas-asas yang penghabisan (terakhir) dari benda-benda.
  • 6.
    Konsep Cicero • Ciceromenyebutnya Filsafat sebagai “ ibu dari semua seni” (the mother of all the art). Juga sebagai arts vitae yaitu filsafat sebagai kehidupan.
  • 7.
    Konsep al-Farabi • Menurutal_farabi, filsafat adalah ilmu yang menyelidiki hakikat yang sebenarnya dari segala yang ada (al-ilmu bil-maujudat bi manusia hiya al-maujudat).
  • 8.
    Konsep Rene Descarte •Menurut Rene Descarte, filsafat merupakan kumpulan segala pengetahuan, dimana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikannya.
  • 9.
    Konsep Francis Bacon •Menurut Francis Bacon, filsafat merupakan induk agung dari ilmu-ilmu, dan filsafat menangani semua pengetahuan sebagai bidangnya.
  • 10.
    Konsep John Dewey •Sebagai tokoh pragmatisme, John Dewey, berpendapat bahwa haruslah dipandang sebagai suatu pengungkapan mengenai perjuangan manusia secara terus-menerus dalam upaya melakukan penyesuaian berbagai tradisi yang membentuk budi manusia. Tegasnya, filsafat sebagai suatu alat untuk membuat penyesuaian di antara yg lama dan yg baru dlm suatu kebudayaan.
  • 11.
    Filsafat sebagai ilmu •Dikatakan sebagai ilmu karena di dalam pengertian filsafat mengandung empat pertanyaan ilmiah, yaitu : Bagaimanakah, mengapakah, ke manakah, dan apakah. • Pertanyaan bagaimana menanyakan sifat- sifat yang dapat ditangkap atau yang tampak oleh indera. Jawaban atau pengetahuan yang diperolehnya bersifat deskriptif (penggambaran).
  • 12.
    Filsafat sebagai ilmu •Pertanyaan mengapa menanyakan tentang sebab (asal mula suatu obyek. Jawaban atau pengetahuan yang diperolehnya bersifat kausalitas (sebab akibat). Pertanyaan ke mana menanyakan tentang apa yang terjadi masa lampau, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Jawaban yang diperoleh ada tiga jenis pengetahuan, yaitu:
  • 13.
    • Pertama, pengetahuanyang timbul dari hal-hal yang selalu berulang-ulang (kebiasaan, yang nantinya dijadikan dasar untuk mengetahui apa yang akan terjadi.
  • 14.
    • Kedua pengetahuanyang timbul dari pedoman yang terkandung dalam adat istiadat/kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Dalam hal ini tidak dipermasalahkan apakah pedoman tersebut selalu dipakai atau tidak. Pedoman yang selalu dipakai disebut hukum.
  • 15.
    • Ketiga, pengetahuanyang timbul dan pedoman yang dipakai (hukum) sebagai suatu hal yang dijadikan pegangan. Tegasnya, pengetahuan yang diperoleh dari jawaban ke manakah adalah pengetahuan yang bersifat normative.
  • 16.
    • Pertanyaan apakahyang menanyakan tentang hakikat atau inti mutlak dari suatu hal. Hakikat ini sifatnya sangat dalam (radix) dan tidak lagi bersifat empiris, sehingga hanya dapat dimengerti oleh akal. Jawaban atau pengetahuan yang diperolehnya ini kita akan dapat mengetahui hal-hal yang sifatnya sangat umum, universal, abstrak.
  • 17.
    • Dengan demikian,kalau ilmu-ilmu yang lain (selain filsafat) bergerak dari tidak tahu ke tahu, sedang ilmu filsafat bergerak dari tidak tahu ke tahu selanjutnya ke hakikat.
  • 18.
    • Untuk mencari/memperolehpengetahuan hakikat, haruslah dilakukan dengan abstraksi, yaitu suatu perbuatan akal untuk menghilangkan keadaan, sifat-sifat yang secara kebetulan (sifat-sifat yang tidak harus ada/aksidensia), sehingga akhirnya tinggal keadaan/sifat yang harus ada (mutlak) yaitu substansia, maka pengetahuan hakikat dapat diperolehnya.
  • 19.
    Filsafat sebagai CaraBerpikir • Berpikir secara filsafat dapat diartikan sebagai berpikir yang sangat mendalam sampai hakikat, atau berpikir secara global/menyeluruh, atau berpikir yang dilihat dari berbagai sudut pandang pemikiran atau sudut pandang ilmu pengetahuan. Berfikir yang demikian ini debagai upaya untuk dapat berpikir secara tepat dan benar serta dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini harus memenuhi persyaratan:
  • 20.
    Harus sistematis • Pemikiranyang sistematis ini dimaksudkan untuk menyusun suatu pola pengetahuan yang rasional. Sistematis adalah masing- masing unsur suatu keseluruhan. Sistematika pemikiran seorang filsof banyak dipengaruhi oleh keadaan dirinya, lingkungan, zamannya, pendidikan, dan sistem pemikiran yang mempengaruhi.
  • 21.
    Harus Konsepsional • Secaraumum istilah konsepsional berkaitan dengan ide atau gambaran yang melekat pada akal pikiran yang berada dalam intelektual. Gambaran tersebut mempunyai bentuk tangkapan sesuai dengan rillnya . sehingga maksud dari ‘konsepsional’ tersebut sebagai upaya untuk menyusun suatu bagan yang terkonsepsi (jelas). Karena berpikir secara filsafat sebenarnya berpikir tentang hal dan prosesnya.
  • 22.
    Harus Koheren • Koherenatau runtut adalah unsur- unsurnya tidak boleh mengandung uraian-uraian yang bertentangan satu sama lain. Koheren atau runtut di dalamnya memuat suatu kebenaran logis. Sebaliknya, apabila suatu uraian yang di dalamnya tidak memuat kebenaran logis, maka uraian tersebut dikatakan sebagai uraian yang tidak koheren/runtut.
  • 23.
    Harus rasional • Yangdimaksud dengan rasional adalah unsur-unsurnya berhubungan secara logis. Artinya, pemikiran filsafat harus diuraikan dalam bentuk yang logis, yaitu suatu bentuk kebenaran yang mempunyai kaidah-kaiadah berpikir (logika).
  • 24.
    Harus Sinoptik • Sinoptikartinya pemikiran filsafat harus melihat hal-hal secara menyeluruh atau dalam kebersamaan secara integral.
  • 25.
    Harus mengarah kepada pandangan dunia • Yang dimaksud adalah pemikiran filsafat sebagai upaya untuk memahami semua realitas kehidupan dengan jalan menyusun suatu pandangan (hidup) dunia, termasuk di dalamnya menerangkan tentang dunia dan semua hal yang berada di dalamnya (dunia).
  • 26.
    Filsafat sebagai PandanganHidup • To be continued
  • 27.
    CABANG-CABANG FILSAFAT • Filsafatmerupakan bidang studi yang luas yg memerlukan pembagian yang lebih kecil lagi. Filsafat dapat dikelompokkan menjadi empat bidang induk: • Filsafat tentang pengetahuan,, • Filsafat tentang keseluruhan kenyataan, • Filsafat tentang tindakan, • Sejarah Filsafat
  • 28.
    – Filsafat tentangpengetahuan, terdiri: • Epitemologi • Logika • kritik ilmu-ilmu
  • 29.
    Filsafat tentang keseluruhan kenyataan, terdiri: • metafisika (ontologi) • metafisika khusus, terdiri : • teologi metafisik • antropologi • kosmologi
  • 30.
    –Filsafat tentang tindakan,terdiri : •etika •estetika
  • 31.
    Pembagian Filsafat –Metafisika (filsafat ttg hal yang ada) –Efistemologi (teori pengetahuan) –Metodologi (teori tentang metode) –Logika ( teori tentang penyimpulan) –Etika (filsafat ttg pertimbangan moral) –Esterika (filsafat tentang keindahan) • -Sejarah filsafat
  • 32.
    Ilmu, Filsafat, Agama •Ilmu, filsafat dan agama mempunyai hubungan yang terkait dan reflektif dengan manusia. Dikatakan terkait karena ketiganya tidak dapat bergerak dan berkembang jika tidak ada tiga alat dan tenaga utama yang berada di dalam diri manusia.
  • 33.
    Ilmu, Filsafat, Agama •Tiga alat dan tenaga utama manusia adalah : akal pikir, rasa, dan keyakinan, sehingga dengan ketiga hal tersebut manusia dapat mencapai kebahagiaan bagi dirinya.
  • 34.
    • Ilmu danfilsafat dapat bergerak dan berkembang berkat akal pikiran manusia. Juga, agama dapat bergerak dan berkembang berkat adanya keyakinan. Akan tetapi ketiga alat dan tenaga utama tersebut tidak dapat berhubungan dengan ilmu, filsafat, dan agama apabila tidak didorong dan dijalankan oleh kemauan manusia yang merupakan tenaga tersendiri yang terdapat dalam diri manusia.
  • 35.
    • Dikatakan reflektif,karena ilmu, filsafat, dan agama baru dapat dirasakan (diketahui) faedahnya/manfaatnya dalam kehidupan manusia, apabila ketiganya merefleksi (lewat proses pantul diri) dalam diri manusia.
  • 36.
    • Ilmu mendasarkanpada akal pikir lewat pengalaman dan indera, dan filsafat mendasarkan pada otoritas akal murni secara bebas dalam penyelidikan terhadap kenyataan dan pengalaman terutama dikaitkan dengan kehidupan manusia. Sedangkan agama mendasarkan pada otoritas wahyu. Harap dibedakan agama yang berasal dari pertumbuhan dan perkembangan filsafat yang mendasarkan pada konsep-konsep tentang kehidupan dunia, terutama konsep-konsep ttg moral.
  • 37.
    • Menurut Prof.Nasroen, S.H, mengemukakan bahwa filsafat yang sejati haruslah berdasarkan pada agama. Malahan filsafat yang sejati itu adalah terkandung dalam agama.
  • 38.
    • Apabila filsafattidak berdasarkan pada agama dan filsafat hanya semata-mata berdasarkan pada akal pikir saja, maka filsafat tsb tidak akan memuat kebenaran obyektif, karena yang memberikan penerangan dan putusan adalah akal pikiran. Sedangkan kesanggupan akal pikiran terbatas, sehingga filsafat yang berdasarkan pada akal pikir semata-mata akan tidak sanggup memberi kepuasan bagi manusia, terutama dalam rangka pemahamannya terhadap yang gaib.