EVA &
Residual
Income
01
Budi Harto
Akuntansi Manajemen
02
Bahasan :
Akuntansi dan Penilaian Kinerja
EVA
Ukuran Kinerja
Langkah Perbaikan dan Manfaatnya
Keunggulan dan Kelamahan EVA
Residual Income
Biaya Modal (Cost Of Capital)
03Introduction
Part 01
Akuntansi &
Penilaian Kinerja
Melakukan interpretasi/ analisis terhadap laporan keuangan
perusahaan akan sangat bermanfaat bagi para analis agar dapat
mengetahui keadaan dan perkembangan kinerja perusahaan.
04
Selama ini untuk mengukur tingkat pengembalian atas investasi,
para pelaku dan analis keuangan lebih banyak mengandalkan
Return on Investment (ROI).
Untuk mengukur tingkat pengembalian atas investasi atau modal,
terdapat beberapa alat ukur mulai dari ROI (Return on Investment),
ROE (Return on Equity), EPS (Earning Per Share), dan lain-lain.
Earning Per Share (EPS) atau laba per saham hanya dapat
mengukur kuantitas laba per saham.
05
ROI mempunyai
kelemahan :
Kenaikan ROI terkadang bukan karena
prestasi kerja meningkat, tetapi
akibat dari jumlah investasinya
menurun karena semakin tuanya umur
investasi atau faktor lainnya.
ROI tidak membawa
keadilan bagi sesama
pusat pendapatan
Biaya-biaya yang dibebankan pada
suatu pusat laba tetapi berada diluar
kemampuan pusat laba untuk
mengendalikannya, dapat menjadi
beban berat bagi pusat laba
tersebut.
Banyaknya biaya diluar
kendali pusat laba
Untuk meningkatkan ROI dengan 3
cara : meningkatkan penjualan atau
mengurangi biaya atau mengurangi
aset operasi.
Dampak jangka panjang
08EVA
Part 02
09
EVA (Economic Value
Added)
adalah pengukuran kinerja keuangan perusahaan yang dapat dengan mudah
diintegrasikan dalam aktivitas perusahaan sehari-hari, karena semua pengurangan
biaya dan kenaikan pendapatan ada dalam istilah EVA (pengurangan biaya dalam
suatu periode sama dengan kenaikan EVA dalam periode yang sama).
EVA merupakan pengukuran kinerja keuangan berdasarkan nilai yang
merefleksikan jumlah absolut dari nilai kekayaan pemegang saham yang
dihasilkan, baik bertambah maupun berkurang setiap tahunnya.
EVA merupakan alat pengukur kinerja perusahaan, dimana kinerja
perusahaan diukur dengan melihat selisih antara tingkat pengembalian
modal dan biaya modal dikalikan dengan modal yang beredar pada awal
tahun (atau rata-rata selama 1 tahun bila modal tersebut digunakan dalam
menghitung tingkat pengembalian modal).
EVA adalah suatu sistem manajemen keuangan untuk mengukur
laba ekonomi perusahaan, yang menyatakan bahwa kesejahteraan
hanya dapat tercipta jika perusahaan mampu memenuhi semua
biaya operasi (operating cost) dan biaya modal (cost of capital) .
10
NOPAT = Net Operating Profit After Tax
Capital Charges = Invested Capital x Cost of Capital
EVA = NOPAT - Capital Charge
EBIT = Earning Before Interest & Tax
Tax = Pajak Penghasilan Perusahaan
WACC = Weight Average Cost of Capital (Biaya Modal Rata-
rata tertimbang)
EVA = EBIT - Tax - WACC
11
Langkah Manajemen Mengukur
Kinerja dengan EVA :
Meliputi biaya utang (cost of debt), biaya saham preferen (cost of prefered stock), biaya saham biasa (cost
of common stock), dan biaya laba ditahan (cost of retairned earning)
a. Menghitung Biaya Modal
Modal perusahaan dapat dibangun dengan berbagai alternatif komposisi modal
b. Menghitung Besarnya Strukur Permodalan/Pendanaan
(Capital Structur)
c. Menghitung Biaya Modal Rata-Rata Tertimbang (Weight
Average Cost of Capital - WACC)
d. Menghitung Nilai EVA
12
Laba usaha PT LSD setelah beban
bunga (EBT) pada tahun 2014 yang
lalu adalah Rp.1.000.000.000.
Pajak penghasilan perusahaan
yang harus dibayarkan sebesar
35% atau sebesar
Rp.350.000.000. Biaya modal
ditetapkan sebesar 18% dari jumlah
modal keseluruhan yang
diinvestasikan sebesar
Rp.2.500.000.000.
berdasarkan data dan keterangan tersebut, maka penciptaan nilai ekonomi
yang dilakukan PT LSD adalah :
EVA = (1.000.000.000 - 350.000.000) - (18% x 2.500.000.000)
= 650.000.000 - 450.000.000
= 200.000.000
Dari perhitungan tersebut, bahwa berdasarkan asumsi pertama PT LSD
menghasilkan tambahan modal (creating capital) sebesar Rp.200.000.000
dari kegiatan usahanya pada tahun 2013 yang lalu.
Kasus 1
Penyelesaia
12
Kasus 2 Perbandingan
Pendapatan Rp.1.000.000.000
Biaya operasi Rp. 750.000.000
Invested capital Rp.1.700.000.000
Biaya Bunga Rp. 50.000.000
Cost of capital 10%
Tarif pajak penghasilan 40%
PT DRM perusahaan jasa berlokasi di
Jakarta akhir tahun 2013 menyajikan data
keuangan :
Berdasarkan data tersebut,
perbandingan kinerja perusahaan
dengan susunan laporan laba rugi
konvensional dan EVA. Laba tersebut
dikenakan pajak penghasilan
Rp,80.000.000 (200.000.000 x 40%),
sehingga laba bersih setelah pajak
(NOPAT) sebesar Rp.120.000.000
Dalam kasus ini, Kinerja PT DRM dihitung dengan menggunakan struktur laba
rugi konvensional akan dihasilkan kinerja positif yang baik. Tetapi pada saat
digunakan struktur EVA, malah menghasilkan kinerja negatif. Itu berarti
manajemen PT DRM tidak menciptakan nilai (creating value), melainkan
destructing value karena EVA nya negatif.
12
Kasus 3 Penyelesaian
Pada awal tahun 2013, PT MFS
menyajikan laporan keuangan sebagai
berikut :
Berdasarkan data tersebut, jika kinerja PT MFS dinilai dengan
menggunakan EVA harus dibuat serangkaian langkah berikut :
# Laba Operasi Rp.300.000.000
Pendapatan Bunga Rp. 35.000.000
Pendapatan Total Rp. 335.000.000
untuk menghitung NOPAT dengan menggunakan
EVA, biaya bunga diabaikan sehingga :
NOPAT = Rp.335.000.000 - (335.000.000 x 30%)
= Rp.234.500.000
# Untuk menghitung modal rata-rata digunakan :
Invested capital (awal) = 1.850.000.000 - 70.000.000 = 1.780.000.000
Invested capital (akhir) = 2.000.000.000 - 85.000.000 = 1.915.000.000
Invested capital (rata2) = 1.780.000.000 + 1.915.000.000 = 1.847.500.000
2
12
Penyelesaian
# Sedangkan menghitung biaya modal rata-rata, digunakan rumus berikut :
Capital Charges = Invested Capital x Cost of Capital
= Rp.1.847.500.000 x 10%
= Rp.184.750.000
# Setelah serangkaian langkah tersebut, baru dapat dihitung EVA dengan
menggunakan rumus berikut :
EVA = NOPAT - Capital Charges
= Rp.234.500.000 - (10% x Rp.1.847.500.000
= Rp.49.750.000
Dari hasil perhitungan tersebutm dapat diketahui bahwa manajemen PT MFS
menciptakan nilai ekonomi, karena nilai EVA nya positif yaitu sebesar
Rp,49.750.000
11
Ukuran Kinerja
Cara untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi investor sebagai berikut :
a. Perhitungan profitabilitas - investasi ekspansi, produk dan jasa baru, serta teknologi baru yang akan
menghasilkan pengembalian yang lebih tinggi dari biaya modal.
b. Efisiensi operasi - meningkatkan marjin operasi, penggunaan modal dan produktivitas
c. Alokasi aset - investasi dalam aset yang membantu menciptakan nilai dan mengurangi atau
menghilangkan modal dalam produksi serta operasi yang tidak mempunyai prospek cerah di masa depan
d. Pembiayaan - mengurangi biaya modal melalui kebijakan menaikkan penggunaan utang pajak yang
dapat dikurangkan.
Hasil Penilaian Kinerja menggunakan EVA dikelompokkan yaitu :
a. Nilai EVA > 0 atau EVA Bernilai Positif
Berarti perusahaan telah berhasil menciptakan nilai tambah ekonomis bagi perusahaan
b. Nilai EVA = 0
Berarti perusahaan berada dalam titik impas, tidak mengalami kemunduran ataupun kemajuan
secara ekonomi
c. Nilai EVA < 0 atau Bernilai Negatif
Berarti tidak terjadi proses pertambahan nilai ekonomis bagi perusahaan, yaitu laba yang dihasilkan
tidak dapat memenuhi harapan para kreditor dan pemegang perusahaan (investor).
11
Langkah Perbaikan dan Manfaatnya
1.Meningkatkan keuntungan tanpa menggunakan penambahan modal
2. Merestrukturisasi pendanaan perusahaan yang dapat meminimalkan biaya modalnya
3. Menginvestasikan modal pada proyek-proyek dengan return yang tinggi
3 cara untuk meningkatkan EVA dari tahun ke tahun yaitu :
Keunggulan dan Kelemahan EVA
EVA menyelaraskan tujuan manajemen dan kepentingan pemegang saham, EVA digunakan sebagai ukuran
operasi yang mencerminkan keberhasilan perusahaan dan memberikan nilai tambah
EVA memberikan pedoman untuk meningkatkan laba operasi tanpa tambahan dana/modal, mengeksposur
pemberian pinjaman (piutang), investasi dana dengan imbalan tinggi
EVA memecahkan semua masalah bisnis, dimulai strategi dan pergerakan hingga keputusan operasi
Keunggulan EVA :
Kelemahan EVA :
Sulitnya menentukan biaya modal yang akurat, khusunya biaya modal sendiri.
Analisa EVA hanya mengukur faktor kuantitatif saja, sedangkan untuk mengukur kinerja perusahaan
secara optimum, perusahaan harus diukur berdasarkan faktor kuantitatif dan kualitatif
13
Residual
Income
Part 03
07
Residual Income
adalah laba yang dihasilkan di atas
target pengembalian investasi
pada suatu pusat laba.
RI = Laba - (Investasi x Target ROI
Menunjukan bahwa laba yang
diperoleh harus lebih tinggi dari
target bunga modal minimum.
Pengertian Rumus Penjelasan
15
PT SJ, memiliki dua divisi yaitu divisi A dan B. Divisi A menghasilkan laba Rp.240.000.000 atas investasi sebesar
Rp.1.000.000.000. Sedangkan divisi B menghasilkan laba Rp.800.000.000 atas investasi sebesar
Rp.5.000.000.000. Jadi ROI divisi A sebesar 240.000.000 : 1.000.000.000 = 24%, sedangkan ROI divisi B sebesar
800.000.000 : 5.000.000.000 = 16%. Walaupun nominal laba yang diperoleh divisi B lebih besar dari divisi A,
tetapi ROI divisi A lebih tinggi daripada ROI divisi B.
Contoh Kasus
Kinerja kedua divisi terseut akan berbeda jika digunakan Residual Income sebagai tolak ukurnya karena pemilik
modal menetapkan standar pengembalian minimal atas modal yang ditanamkannya dalam perusahaan.
15
Jika pemilik modal menetapkan tingkat pengembalian (ROI) minimal
sebesar 12%, maka akan menghasilkan perhitungan berikut :
Jika pemilik modal menetapkan tingkat pengembalian (ROI) minimal
sebesar 19%, maka akan menghasilkan perhitungan berikut :
Perhitungan kinerja dengan RI menyebabkan
prestasi divisi B menjadi tidak istimewa dibanding
divisi A. Karena jumlah investasi 5 kali lebih
banyak dibanding divisi A, ternyata divisi B hanya
menghasilkan RI 66% lebih banyak dibanding
divisi A.
Perhitungan kinerja dengan RI menyebabkan
prestasi divisi B menjadi sangat kurang dibanding
divisi A, karena dengan jumlah investasi 5 kali
lebih banyak dibanding divisi A, ternyata divisi B
malah menghasilkan RI negatif.
14
Contoh Kasus
Jika manajemen puncak perusahaan menetapkan target pengembalian atas investasi (ROI)
minimal sebesar 20%, sementara kedua divisi mampu menghasilkan ROI sebesar 25%,
maka divisi A akan menghasilan RI sebesar Rp.50.000.000. Sedangkan divisi B yang
memiliki investasi 5 kali lebih banyak dari divisi A dan mampu menghasilkan ROI sebesar
25% juga, akan menghasilkan RI sebesar Rp.250.000.000, atau 5 kali lebih banyak
dibanding divisi A, sesuai dengan proporsi investasinya. Jika kedua divisi ini memiliki
prestasi yang setara.
Keunggulan
Residual Income
1 Membuat semua Pusat Laba memiliki sasaran yang sama untuk Investasi yang sebanding.
2. Dapat digunakan tarif beban modal yang berbeda untuk aset yang memiliki risiko
berbeda.
06
Kelemahan
Residual
Income
1.RI akan mendorong manajer pusat laba memusatkan
orientasinya pada tujuan jangka pendek, karena kinerjanya
dibatasi hanya untuk satu periode akuntansi saja.
2. Hasil dari RI sangat dipengaruhi oleh metode penyusutan
yang digunakan perusahaan, karena dijadikan dasar
perhitungan penilaian adalah laba usaha akuntansi seperti
yang tercantum dalam laporan laba rugi.
3. Karena hasil dari RI berupa angka absolut, bukan rasio,
maka sulit untuk membandingkan RI dari satu pusat laba
dengan RI dari pusat laba lainnya yang memiliki jumlah
investasi berbeda
Biaya Modal
Part 04
17
16
Item 1 Item 2 Item 3 Item 4 Item 5
50
40
30
20
10
0
Biaya Modal
(Cost of Capital)
Biaya atas penggunaan dana yang digunakan untuk investasi
dalam suatu perusahaan disebut biaya modal (cost of capital).
Biaya modal adalah biaya yang harus dibayar oleh perusahaan
atas penggunaan dana untuk investasi yang dilakukan
perusahaan, baik dana yang berasal dari utang maupun dari
pemegang saham.
Suatu investasi dianggap akan menguntungkan jika investasi
tersebut akan menghasilkan tingkat pengembalian (rate of
return) yang lebih besar dari biaya modal yang ditanamkan.
Oleh karena itu, analisis keputusan investasi tergantung pada
pengertian manajemen mengenai biaya modalnya.
06
Biaya Modal
Berdasarkan cara
menghitung dibagi 2
kelompok :
Biaya modal pinjaman/utang (cost of debt)
Biaya Modal Saham Preferen (cost of preferred stock)
Biaya Modal Saham Biasa (Cost of Common Stock)
A. BIAYA MODAL KHUSUS ( SPECIFIC COST OF CAPITAL)
adalah biaya yang berhubungan dengan sumber
pembelanjaan tertentu pada saat tertentu, seperti :
1.
2.
3.
B. BIAYA MODAL RATA-RATA TERTIMBANG (WEIGHT
AVERAGE COST OF CAPITAL)
adalah rata-rata tertimbang dari berbagai biaya modal khusus
pada saat tertentu. Dihitung dengan cara menjumlahkan biaya
modal proporsional dari setiap jenis modal yang digunakan
perusahaan untuk berinvestasi.
06
Biaya Modal
Pinjaman/Utang
(Cost od Debt)
Adalah biaya atas penggunaan dana untuk investasi yang
dilakukan perusahaan yang berasal dari utang atau pinjaman
pihak lain. Biaya modal pinjaman dihitung dengan cara
menentukan suku bunga efektif setelah pajak.
Contoh Kasus :
PT NPI sedang merencanakan investasi dalam divisi baru.
Dana yang diperlukan sebesar Rp.1.000.000.000. Divisi baru
tersebut diperkirakan akan menghasilkan laba usaha sebelum
bunga dan pajak (EBIT) sebesar Rp.400.000.000 per tahun.
Jika perusahaan memilih investasi tersebut dengan pinjaman
dari kreditor, suku bunga yang ditetapkan 20%. Sedangkan
tarif pajak penghasilan menjadi tanggungan perusahaan 35%.
Jadi atas penggunaan dana pinjaman biaya modal yang harus
dibayar perusahaan adalah :
Biaya Modal = Suku Bunga Pinjaman - (Tarif Pajak x Suku
Bunga Pinjaman)
= 20% - (35% x 20%)
= 13%
06
Biaya Modal
Saham Preferen
(Cost of
Preferred
Stock)
Adalah biaya atas penggunaan dana yang digunakan untuk
investasi yang dilakukan perusahaan, yang berasal dari
saham preferen. Biaya modal saham preferen dihitung
dengan cara membagi deviden saham preferen dengan harga
pasarnya pada saat ini
Contoh Kasus :
PT NPI sedang atas kebutuhan dana investasi, perusahaan
memutuskan akan menerbitkan saham preferen dengan tarif
deviden ditetapkan sebesar 18% per tahun. Saham preferen
dengan nilai nominal Rp.1.000 per lembar tersebut memiliki
harga pasar Rp.900 per lembar, sehingga besarnya biaya
modal saham preferen adalah :
Biaya Modal = (Tarif Deviden x Nilai Nominal Saham) : Harga
Pasar Saham
= (18% x 1.000) : 900
= 20%
06
Biaya Modal
Saham Biasa
(Cost of
Common Stock)
Adalah biaya atas penggunaan dana yang digunakan untuk
investasi yang dilakukan perusahaan, yang berasal dari
saham biasa. Biaya modal saham biasa dihitung dengan cara
membagi deviden saham yang saat ini diberikan kepada
pemegang saham dengan harga pasar saham, ditambah
tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata yang diharapkan.
Contoh Kasus :
PT NPI sedang atas kebutuhan dana investasi, perusahaan
memutuskan akan menerbitkan saham biasa. Deviden atas
saham biasa yang dibayarkan ada saat ini sebesar Rp.150 per
lembar, tetapi diharapkan akan mengalami pertumbuhan
deviden sebesar 20% per tahun. Saham biasa dengan nilai
nominal Rp.1.000 per lembar dengan harga pasar Rp.1.200
per lembar, sehingga besarnya biaya modal saham biasa :
Biaya Modal = (15 / 1.200) + 0.2
= 32.5%
06
Contoh Kasus :
PT NPI , dimana perusahaan membutuhkan dana investasi
sebesar Rp.1.000.000.000 untuk pembukaan divisi barunya.
Perusahaan pada akhirnya memutuskan untuk menggunakan
dana pinjaman (utang) sebesar Rp.400.000.000, menerbitkan
saham preferen sebesar Rp.250.000.000 dan saham biasa
sebesar Rp.350.000.000. Jadi besarnya biaya modal rata-
rata tertimbang adalah:
Biaya Modal
Rata-rata
Tertimbang
(Weight
Average Cost
of Capital)
Dari tabel perhitungan tersebut, jika proporsi masing-masing sumber modal khusus
dikalikan dengan biaya modal khusus akan menghasilkan biaya modal rata-rata
tertimbang sebesar 21,6%
Terima Kasih
budiharto@gmail.com
Address
Phone Number 19

EVA dan residual income

  • 1.
  • 2.
    02 Bahasan : Akuntansi danPenilaian Kinerja EVA Ukuran Kinerja Langkah Perbaikan dan Manfaatnya Keunggulan dan Kelamahan EVA Residual Income Biaya Modal (Cost Of Capital)
  • 3.
  • 4.
    Akuntansi & Penilaian Kinerja Melakukaninterpretasi/ analisis terhadap laporan keuangan perusahaan akan sangat bermanfaat bagi para analis agar dapat mengetahui keadaan dan perkembangan kinerja perusahaan. 04 Selama ini untuk mengukur tingkat pengembalian atas investasi, para pelaku dan analis keuangan lebih banyak mengandalkan Return on Investment (ROI). Untuk mengukur tingkat pengembalian atas investasi atau modal, terdapat beberapa alat ukur mulai dari ROI (Return on Investment), ROE (Return on Equity), EPS (Earning Per Share), dan lain-lain. Earning Per Share (EPS) atau laba per saham hanya dapat mengukur kuantitas laba per saham.
  • 5.
    05 ROI mempunyai kelemahan : KenaikanROI terkadang bukan karena prestasi kerja meningkat, tetapi akibat dari jumlah investasinya menurun karena semakin tuanya umur investasi atau faktor lainnya. ROI tidak membawa keadilan bagi sesama pusat pendapatan Biaya-biaya yang dibebankan pada suatu pusat laba tetapi berada diluar kemampuan pusat laba untuk mengendalikannya, dapat menjadi beban berat bagi pusat laba tersebut. Banyaknya biaya diluar kendali pusat laba Untuk meningkatkan ROI dengan 3 cara : meningkatkan penjualan atau mengurangi biaya atau mengurangi aset operasi. Dampak jangka panjang
  • 6.
  • 7.
    09 EVA (Economic Value Added) adalahpengukuran kinerja keuangan perusahaan yang dapat dengan mudah diintegrasikan dalam aktivitas perusahaan sehari-hari, karena semua pengurangan biaya dan kenaikan pendapatan ada dalam istilah EVA (pengurangan biaya dalam suatu periode sama dengan kenaikan EVA dalam periode yang sama). EVA merupakan pengukuran kinerja keuangan berdasarkan nilai yang merefleksikan jumlah absolut dari nilai kekayaan pemegang saham yang dihasilkan, baik bertambah maupun berkurang setiap tahunnya. EVA merupakan alat pengukur kinerja perusahaan, dimana kinerja perusahaan diukur dengan melihat selisih antara tingkat pengembalian modal dan biaya modal dikalikan dengan modal yang beredar pada awal tahun (atau rata-rata selama 1 tahun bila modal tersebut digunakan dalam menghitung tingkat pengembalian modal). EVA adalah suatu sistem manajemen keuangan untuk mengukur laba ekonomi perusahaan, yang menyatakan bahwa kesejahteraan hanya dapat tercipta jika perusahaan mampu memenuhi semua biaya operasi (operating cost) dan biaya modal (cost of capital) .
  • 8.
    10 NOPAT = NetOperating Profit After Tax Capital Charges = Invested Capital x Cost of Capital EVA = NOPAT - Capital Charge EBIT = Earning Before Interest & Tax Tax = Pajak Penghasilan Perusahaan WACC = Weight Average Cost of Capital (Biaya Modal Rata- rata tertimbang) EVA = EBIT - Tax - WACC
  • 9.
    11 Langkah Manajemen Mengukur Kinerjadengan EVA : Meliputi biaya utang (cost of debt), biaya saham preferen (cost of prefered stock), biaya saham biasa (cost of common stock), dan biaya laba ditahan (cost of retairned earning) a. Menghitung Biaya Modal Modal perusahaan dapat dibangun dengan berbagai alternatif komposisi modal b. Menghitung Besarnya Strukur Permodalan/Pendanaan (Capital Structur) c. Menghitung Biaya Modal Rata-Rata Tertimbang (Weight Average Cost of Capital - WACC) d. Menghitung Nilai EVA
  • 10.
    12 Laba usaha PTLSD setelah beban bunga (EBT) pada tahun 2014 yang lalu adalah Rp.1.000.000.000. Pajak penghasilan perusahaan yang harus dibayarkan sebesar 35% atau sebesar Rp.350.000.000. Biaya modal ditetapkan sebesar 18% dari jumlah modal keseluruhan yang diinvestasikan sebesar Rp.2.500.000.000. berdasarkan data dan keterangan tersebut, maka penciptaan nilai ekonomi yang dilakukan PT LSD adalah : EVA = (1.000.000.000 - 350.000.000) - (18% x 2.500.000.000) = 650.000.000 - 450.000.000 = 200.000.000 Dari perhitungan tersebut, bahwa berdasarkan asumsi pertama PT LSD menghasilkan tambahan modal (creating capital) sebesar Rp.200.000.000 dari kegiatan usahanya pada tahun 2013 yang lalu. Kasus 1 Penyelesaia
  • 11.
    12 Kasus 2 Perbandingan PendapatanRp.1.000.000.000 Biaya operasi Rp. 750.000.000 Invested capital Rp.1.700.000.000 Biaya Bunga Rp. 50.000.000 Cost of capital 10% Tarif pajak penghasilan 40% PT DRM perusahaan jasa berlokasi di Jakarta akhir tahun 2013 menyajikan data keuangan : Berdasarkan data tersebut, perbandingan kinerja perusahaan dengan susunan laporan laba rugi konvensional dan EVA. Laba tersebut dikenakan pajak penghasilan Rp,80.000.000 (200.000.000 x 40%), sehingga laba bersih setelah pajak (NOPAT) sebesar Rp.120.000.000 Dalam kasus ini, Kinerja PT DRM dihitung dengan menggunakan struktur laba rugi konvensional akan dihasilkan kinerja positif yang baik. Tetapi pada saat digunakan struktur EVA, malah menghasilkan kinerja negatif. Itu berarti manajemen PT DRM tidak menciptakan nilai (creating value), melainkan destructing value karena EVA nya negatif.
  • 12.
    12 Kasus 3 Penyelesaian Padaawal tahun 2013, PT MFS menyajikan laporan keuangan sebagai berikut : Berdasarkan data tersebut, jika kinerja PT MFS dinilai dengan menggunakan EVA harus dibuat serangkaian langkah berikut : # Laba Operasi Rp.300.000.000 Pendapatan Bunga Rp. 35.000.000 Pendapatan Total Rp. 335.000.000 untuk menghitung NOPAT dengan menggunakan EVA, biaya bunga diabaikan sehingga : NOPAT = Rp.335.000.000 - (335.000.000 x 30%) = Rp.234.500.000 # Untuk menghitung modal rata-rata digunakan : Invested capital (awal) = 1.850.000.000 - 70.000.000 = 1.780.000.000 Invested capital (akhir) = 2.000.000.000 - 85.000.000 = 1.915.000.000 Invested capital (rata2) = 1.780.000.000 + 1.915.000.000 = 1.847.500.000 2
  • 13.
    12 Penyelesaian # Sedangkan menghitungbiaya modal rata-rata, digunakan rumus berikut : Capital Charges = Invested Capital x Cost of Capital = Rp.1.847.500.000 x 10% = Rp.184.750.000 # Setelah serangkaian langkah tersebut, baru dapat dihitung EVA dengan menggunakan rumus berikut : EVA = NOPAT - Capital Charges = Rp.234.500.000 - (10% x Rp.1.847.500.000 = Rp.49.750.000 Dari hasil perhitungan tersebutm dapat diketahui bahwa manajemen PT MFS menciptakan nilai ekonomi, karena nilai EVA nya positif yaitu sebesar Rp,49.750.000
  • 14.
    11 Ukuran Kinerja Cara untukmenciptakan nilai jangka panjang bagi investor sebagai berikut : a. Perhitungan profitabilitas - investasi ekspansi, produk dan jasa baru, serta teknologi baru yang akan menghasilkan pengembalian yang lebih tinggi dari biaya modal. b. Efisiensi operasi - meningkatkan marjin operasi, penggunaan modal dan produktivitas c. Alokasi aset - investasi dalam aset yang membantu menciptakan nilai dan mengurangi atau menghilangkan modal dalam produksi serta operasi yang tidak mempunyai prospek cerah di masa depan d. Pembiayaan - mengurangi biaya modal melalui kebijakan menaikkan penggunaan utang pajak yang dapat dikurangkan. Hasil Penilaian Kinerja menggunakan EVA dikelompokkan yaitu : a. Nilai EVA > 0 atau EVA Bernilai Positif Berarti perusahaan telah berhasil menciptakan nilai tambah ekonomis bagi perusahaan b. Nilai EVA = 0 Berarti perusahaan berada dalam titik impas, tidak mengalami kemunduran ataupun kemajuan secara ekonomi c. Nilai EVA < 0 atau Bernilai Negatif Berarti tidak terjadi proses pertambahan nilai ekonomis bagi perusahaan, yaitu laba yang dihasilkan tidak dapat memenuhi harapan para kreditor dan pemegang perusahaan (investor).
  • 15.
    11 Langkah Perbaikan danManfaatnya 1.Meningkatkan keuntungan tanpa menggunakan penambahan modal 2. Merestrukturisasi pendanaan perusahaan yang dapat meminimalkan biaya modalnya 3. Menginvestasikan modal pada proyek-proyek dengan return yang tinggi 3 cara untuk meningkatkan EVA dari tahun ke tahun yaitu : Keunggulan dan Kelemahan EVA EVA menyelaraskan tujuan manajemen dan kepentingan pemegang saham, EVA digunakan sebagai ukuran operasi yang mencerminkan keberhasilan perusahaan dan memberikan nilai tambah EVA memberikan pedoman untuk meningkatkan laba operasi tanpa tambahan dana/modal, mengeksposur pemberian pinjaman (piutang), investasi dana dengan imbalan tinggi EVA memecahkan semua masalah bisnis, dimulai strategi dan pergerakan hingga keputusan operasi Keunggulan EVA : Kelemahan EVA : Sulitnya menentukan biaya modal yang akurat, khusunya biaya modal sendiri. Analisa EVA hanya mengukur faktor kuantitatif saja, sedangkan untuk mengukur kinerja perusahaan secara optimum, perusahaan harus diukur berdasarkan faktor kuantitatif dan kualitatif
  • 16.
  • 17.
    07 Residual Income adalah labayang dihasilkan di atas target pengembalian investasi pada suatu pusat laba. RI = Laba - (Investasi x Target ROI Menunjukan bahwa laba yang diperoleh harus lebih tinggi dari target bunga modal minimum. Pengertian Rumus Penjelasan
  • 18.
    15 PT SJ, memilikidua divisi yaitu divisi A dan B. Divisi A menghasilkan laba Rp.240.000.000 atas investasi sebesar Rp.1.000.000.000. Sedangkan divisi B menghasilkan laba Rp.800.000.000 atas investasi sebesar Rp.5.000.000.000. Jadi ROI divisi A sebesar 240.000.000 : 1.000.000.000 = 24%, sedangkan ROI divisi B sebesar 800.000.000 : 5.000.000.000 = 16%. Walaupun nominal laba yang diperoleh divisi B lebih besar dari divisi A, tetapi ROI divisi A lebih tinggi daripada ROI divisi B. Contoh Kasus Kinerja kedua divisi terseut akan berbeda jika digunakan Residual Income sebagai tolak ukurnya karena pemilik modal menetapkan standar pengembalian minimal atas modal yang ditanamkannya dalam perusahaan.
  • 19.
    15 Jika pemilik modalmenetapkan tingkat pengembalian (ROI) minimal sebesar 12%, maka akan menghasilkan perhitungan berikut : Jika pemilik modal menetapkan tingkat pengembalian (ROI) minimal sebesar 19%, maka akan menghasilkan perhitungan berikut : Perhitungan kinerja dengan RI menyebabkan prestasi divisi B menjadi tidak istimewa dibanding divisi A. Karena jumlah investasi 5 kali lebih banyak dibanding divisi A, ternyata divisi B hanya menghasilkan RI 66% lebih banyak dibanding divisi A. Perhitungan kinerja dengan RI menyebabkan prestasi divisi B menjadi sangat kurang dibanding divisi A, karena dengan jumlah investasi 5 kali lebih banyak dibanding divisi A, ternyata divisi B malah menghasilkan RI negatif.
  • 20.
    14 Contoh Kasus Jika manajemenpuncak perusahaan menetapkan target pengembalian atas investasi (ROI) minimal sebesar 20%, sementara kedua divisi mampu menghasilkan ROI sebesar 25%, maka divisi A akan menghasilan RI sebesar Rp.50.000.000. Sedangkan divisi B yang memiliki investasi 5 kali lebih banyak dari divisi A dan mampu menghasilkan ROI sebesar 25% juga, akan menghasilkan RI sebesar Rp.250.000.000, atau 5 kali lebih banyak dibanding divisi A, sesuai dengan proporsi investasinya. Jika kedua divisi ini memiliki prestasi yang setara. Keunggulan Residual Income 1 Membuat semua Pusat Laba memiliki sasaran yang sama untuk Investasi yang sebanding. 2. Dapat digunakan tarif beban modal yang berbeda untuk aset yang memiliki risiko berbeda.
  • 21.
    06 Kelemahan Residual Income 1.RI akan mendorongmanajer pusat laba memusatkan orientasinya pada tujuan jangka pendek, karena kinerjanya dibatasi hanya untuk satu periode akuntansi saja. 2. Hasil dari RI sangat dipengaruhi oleh metode penyusutan yang digunakan perusahaan, karena dijadikan dasar perhitungan penilaian adalah laba usaha akuntansi seperti yang tercantum dalam laporan laba rugi. 3. Karena hasil dari RI berupa angka absolut, bukan rasio, maka sulit untuk membandingkan RI dari satu pusat laba dengan RI dari pusat laba lainnya yang memiliki jumlah investasi berbeda
  • 22.
  • 23.
    16 Item 1 Item2 Item 3 Item 4 Item 5 50 40 30 20 10 0 Biaya Modal (Cost of Capital) Biaya atas penggunaan dana yang digunakan untuk investasi dalam suatu perusahaan disebut biaya modal (cost of capital). Biaya modal adalah biaya yang harus dibayar oleh perusahaan atas penggunaan dana untuk investasi yang dilakukan perusahaan, baik dana yang berasal dari utang maupun dari pemegang saham. Suatu investasi dianggap akan menguntungkan jika investasi tersebut akan menghasilkan tingkat pengembalian (rate of return) yang lebih besar dari biaya modal yang ditanamkan. Oleh karena itu, analisis keputusan investasi tergantung pada pengertian manajemen mengenai biaya modalnya.
  • 24.
    06 Biaya Modal Berdasarkan cara menghitungdibagi 2 kelompok : Biaya modal pinjaman/utang (cost of debt) Biaya Modal Saham Preferen (cost of preferred stock) Biaya Modal Saham Biasa (Cost of Common Stock) A. BIAYA MODAL KHUSUS ( SPECIFIC COST OF CAPITAL) adalah biaya yang berhubungan dengan sumber pembelanjaan tertentu pada saat tertentu, seperti : 1. 2. 3. B. BIAYA MODAL RATA-RATA TERTIMBANG (WEIGHT AVERAGE COST OF CAPITAL) adalah rata-rata tertimbang dari berbagai biaya modal khusus pada saat tertentu. Dihitung dengan cara menjumlahkan biaya modal proporsional dari setiap jenis modal yang digunakan perusahaan untuk berinvestasi.
  • 25.
    06 Biaya Modal Pinjaman/Utang (Cost odDebt) Adalah biaya atas penggunaan dana untuk investasi yang dilakukan perusahaan yang berasal dari utang atau pinjaman pihak lain. Biaya modal pinjaman dihitung dengan cara menentukan suku bunga efektif setelah pajak. Contoh Kasus : PT NPI sedang merencanakan investasi dalam divisi baru. Dana yang diperlukan sebesar Rp.1.000.000.000. Divisi baru tersebut diperkirakan akan menghasilkan laba usaha sebelum bunga dan pajak (EBIT) sebesar Rp.400.000.000 per tahun. Jika perusahaan memilih investasi tersebut dengan pinjaman dari kreditor, suku bunga yang ditetapkan 20%. Sedangkan tarif pajak penghasilan menjadi tanggungan perusahaan 35%. Jadi atas penggunaan dana pinjaman biaya modal yang harus dibayar perusahaan adalah : Biaya Modal = Suku Bunga Pinjaman - (Tarif Pajak x Suku Bunga Pinjaman) = 20% - (35% x 20%) = 13%
  • 26.
    06 Biaya Modal Saham Preferen (Costof Preferred Stock) Adalah biaya atas penggunaan dana yang digunakan untuk investasi yang dilakukan perusahaan, yang berasal dari saham preferen. Biaya modal saham preferen dihitung dengan cara membagi deviden saham preferen dengan harga pasarnya pada saat ini Contoh Kasus : PT NPI sedang atas kebutuhan dana investasi, perusahaan memutuskan akan menerbitkan saham preferen dengan tarif deviden ditetapkan sebesar 18% per tahun. Saham preferen dengan nilai nominal Rp.1.000 per lembar tersebut memiliki harga pasar Rp.900 per lembar, sehingga besarnya biaya modal saham preferen adalah : Biaya Modal = (Tarif Deviden x Nilai Nominal Saham) : Harga Pasar Saham = (18% x 1.000) : 900 = 20%
  • 27.
    06 Biaya Modal Saham Biasa (Costof Common Stock) Adalah biaya atas penggunaan dana yang digunakan untuk investasi yang dilakukan perusahaan, yang berasal dari saham biasa. Biaya modal saham biasa dihitung dengan cara membagi deviden saham yang saat ini diberikan kepada pemegang saham dengan harga pasar saham, ditambah tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata yang diharapkan. Contoh Kasus : PT NPI sedang atas kebutuhan dana investasi, perusahaan memutuskan akan menerbitkan saham biasa. Deviden atas saham biasa yang dibayarkan ada saat ini sebesar Rp.150 per lembar, tetapi diharapkan akan mengalami pertumbuhan deviden sebesar 20% per tahun. Saham biasa dengan nilai nominal Rp.1.000 per lembar dengan harga pasar Rp.1.200 per lembar, sehingga besarnya biaya modal saham biasa : Biaya Modal = (15 / 1.200) + 0.2 = 32.5%
  • 28.
    06 Contoh Kasus : PTNPI , dimana perusahaan membutuhkan dana investasi sebesar Rp.1.000.000.000 untuk pembukaan divisi barunya. Perusahaan pada akhirnya memutuskan untuk menggunakan dana pinjaman (utang) sebesar Rp.400.000.000, menerbitkan saham preferen sebesar Rp.250.000.000 dan saham biasa sebesar Rp.350.000.000. Jadi besarnya biaya modal rata- rata tertimbang adalah: Biaya Modal Rata-rata Tertimbang (Weight Average Cost of Capital) Dari tabel perhitungan tersebut, jika proporsi masing-masing sumber modal khusus dikalikan dengan biaya modal khusus akan menghasilkan biaya modal rata-rata tertimbang sebesar 21,6%
  • 29.