PENYUSUNAN KARYA TULIS ILMIAH
1.1 Penentuan Topik, Tema, Judul, Tujuan, dan Rumusan Masalah
Topik adalah pokok masalah yang akan dibahas. Topik yang baik minimal terdiri
atas dua kata; satu kata sebagai pusat (D=diterangkan) dan satu kata lagi sebagai atribut
(M=menerangkan). Contoh topik: industri kayu; pencemaran limbah rumah sakit;
eksplorasi sumber daya mineral; krisis air.
Tema adalah topik yang mengandung tujuan. “apanya” tentang topik. Berilah kata
operasional sebelum topik. Contoh topik tersebut di atas jika dijadikan tema menjadi
pengembangan industri kayu; penanggulangan pencemaran limbah rumah sakit;
pengoptimalan eksplorasi sumber daya mineral; penanggulangan krisis air.
Judul (karangan ilmiah) adalah penamaan karya (karangan ilmiah). Judul karya tulis
ilmiah adalah tema yang diberi keterangan (tempat, waktu, alat, tujuan). Judul karya tulis
ilmiah harus memenuhi syarat (a) menggambarkan isi, (b) singkat, (c) menarik minat
pembaca, dan (d) tidak provokatif. Contoh tema di atas dapat menjadi judul, misalnya.
1. Pengembangan Industri Kayu di Kalimantan Timur
2. Penanggulangan Pencemaran Limbah Rumah Sakit Hasan Sadikin
3. Pengoptimalan Eksplorasi Sumber Daya Mineral sampai Tahun 2020
4. Alternatif Penanggulangan Krisis Air di Kota Bandung
Penentuan topik, tema, dan judul harus berdasarkan asumsi sebagai berikut.
a. Problematis, artinya menuntut pemecahan masalah, tidak hanya membicarakan
sesuatu tetapi harus mencari pemecahannya. Dengan kata lain, sebuah topik tidak
hanya dideskripsikan, tetapi dianalisis dan dicari solusinya sampai pada akhirnya
ditegaskan pada simpulan dan bila perlu dilanjutkan dengan saran. Misalnya, topik
pengembangan industri kayu. Di sini kita tidak hanya membicarakan apa dan
bagaimana perkembangan industri kayu itu. Akan tetapi, kita harus mencari upaya
yang harus ditempuh untuk mengembangkan industri kayu sebagai salah satu
kegiatan ekonomi masyarakat.
b. Terbatas, maksudnya pokok bahasan tidak terlalu melebar jauh sehingga penulis
tidak mungkin mengkajinya dan data tidak mungkin diperoleh secara lengkap. Topik
yang terlalu luas harus dibatasi dengan pembatasan substansi, lokal, waktu, dsb.
Misalnya, urusan penanggulangan pencemaran harus dibatasi pencemaran apa,
misalnya, limbah, lalu limbah apa misalnya limbah rumah sakit. Pada judul dapat
dibatasi lagi dengan menambahkan lokasi penelitiannya. Dengan pembatasan
demikian, penulis dapat mengkaji dan membahas masalah tersebut secara mendalam
dan tuntas dengan data yang jelas. Dengan demikian, karangan memenuhi salah satu
ciri karangan ilmiah yaitu tuntas dan mendalam.
c. Syarat lain yang tidak kurang pentingnya adalah topik itu menarik, penting, faktual,
aktual, dan data dapat diperoleh baik data literatur maupun lapangan.
Rumusan masalah perlu dituangkan dengan jelas agar pembahasan masalah terarah
sesuai dengan tujuan. Biasanya rumusan masalah diungkapkan dalam bentuk pertanyaan
pokok untuk mencapai tujuan. Misalnya, jika judul dan tujuan seperti di atas, rumusan
masalahnya adalah upaya atau metode apa yang harus dilakukan agar eksplorasi sumber
daya mineral di Jawa Barat mencapai titik optimal?
Tujuan perlu dirumuskan dengan gamblang agar jelas hal yang akan dicapai dengan
tulisan atau penelitian itu. Tujuan di sini adalah tujuan praktis dari topik yang diangkat
menjadi judul karangan. Tujuan dimaksud bukan tujuan akademis, misalnya, untuk
memenuhi tugas kuliah tertentu, untuk persyaratan sidang sarjana atau pascasarjana.
tujuan dapat diungkapkan dengan kata operasional seperti menanggulangi, mengurangi,
menemukan, meningkatkan, mengoptimalkan, mengevaluasi, dan mengendalikan.
Misalnya,
Judul: Pengoptimalan Eksplorasi Sumber Daya Mineral di Jawa Barat
Tujuan: Menemukan upaya optimal dalam mengeksplorasi sumber daya yang memadai
dengan dampak negatif yang minimal.
Manfaat adalah kegunaan praktis yang dapat dipetik dari hasil
pengkajian/penelitian, baik untuk pengembangan ilmu itu sendiri maupun untuk
kepentingan sosial. Dari rumusan masalah dan tujuan dapat diturunkan aspek yang akan
dikaji, yaitu aspek yang harus diteliti agar tujuan tercapai aspek yang diteliti ini menjadi
pokok bahasan yang dapat dituangkan dalam bentuk bab atau pasal dalam karya ilmiah
yang dibuat. Jika kita membahas penanggulangan pencemaran udara di Kota Bandung,
aspek yang diteliti berupa volume dan kondisi kendaraan bermotor, aktivasi industri,
moda angkutan, jumlah penduduk, kawasan hijau, emisi kendaraan bermotor, kesehatan
lingkungan, upaya yang telah dilakukan, dsb.
Metode penelitian dan teknik pengumpulan data sebagai penunjang utama dalam
penulisan karangan ilmiah. Untuk mengenal metode penelitian dan teknik pengumpulan
data secara lengkap, diperlukan ilmu khusus yang disebut metodologi penelitian. Akan
tetapi, pada dasarnya, metode penelitian adalah cara yang efektif untuk menemukan
data/fakta yang diperlukan untuk dapat membahas masalah dan mencari solusi dari
permasalahan yang dihadapi. Untuk memperoleh data ini dapat ditempuh berbagai cara
di antaranya studi literatur dan survei yang mencakup observasi, wawancara, dan
kuesioner. Metode penelitian tersebut bersifat deskriptif, yaitu mendeskripsikan data baik
dari literatur maupun lapangan kemudian dianalisis sehingga sering disebut deskriptif
analitis. Selain itu, metode yang sering digunakan dalam penelitian adalah metode
historis (komparatif) dan eksperimen.
Pada laporan penelitian kerap juga dikemukakan anggapan dasar dan hipotesis.
Anggapan dasar adalah konsep yang kebenarannya tidak perlu dibuktikan lagi. Biasanya
konsep tersebut berupa aksioma, teori, dalil, rumus, dan sebagainya yang dapat dijadikan
landasan/acuan dalam mengajukan suatu konsep-konsep yang tali-temali; diambil dari
berbagai rujukan/pustaka, ditafsirkan, dan dibuat simpulan sehingga menjadi konsep
baru (simpulan sementara). Dalam hal ini, berarti sebelum membuat rumusan-rumusan
anggapan dasar dan hipotesis, mutlak diperlukan pengkajian atau tinjauan pustaka.
Simpulan sementara atau hipotesis harus menjadi jawaban rumusan persoalan. Akan
tetapi, karena sifatnya sementara, kebenarannya harus diuji lagi melalui penelitian
lapangan/laboratorium. Bila hasil pengujian ini sesuai dengan simpulan sementara,
berarti hipotesis tersebut benar.
Tidak semua karya tulis ilmiah mencantumkan anggapan dasar dan hipotesis. Kedua
proposisi ini biasanya hanya diperlukan dalam laporan penelitian. Selanjutnya, hal yang
dikemukakan dalam simpulan adalah butir-butir dari hasil pembahasan. Butir-butir ini
harus menjadi jawaban atas persoalan yang dikemukakan dalam rumusan masalah. Bila
ada hipotesis yang diajukan, simpulan merupakan butir-butir yang menyatakan bahwa
hipotesis itu terbukti atau tidak terbukti kebenarannya.
Saran adalah pendapat lebih lanjut setelah ada simpulan atau setelah ada butir-butir
yang menyatakan bahwa hipotesis itu benar atau tidak.
1.2 Penyusunan Kerangka Karangan
Setelah rancangan karangan jelas dalam bentuk topik, tema, judul, tujuan, dsb.,
dibuatlah kerangka. Bila perlu sebelumnya diadakan eksplorasi pengetahuan tentang topik
tersebut melalui studi pustaka atau observasi awal ke lapangan. Kerangka karangan
adalah rencana karangan secara garis besar yang memuat pokok-pokok bahasan yang
disusun menurut tingkat kepentingan dan relevansinya. Fungsi kerangka bagi penulis agar
ia dapat mengungkapkan idenya secara terperinci, sistematis, dan lengkap. Selain itu,
kerangka juga berfungsi sebagai pedoman untuk mengumpulkan data, baik dari literatur
maupun lapangan atau laboratorium. Secara umum kerangka merupakan pola dasar untuk
menuangkan gagasan yang akan ditulis dalam bentuk karangan. Kerangka yang baik
(lengkap, terarah, tersusun) cenderung melahirkan karangan yang baik.
Ada tiga tahap penyusunan kerangka yang dapat dijadikan pedoman yaitu:
a. Curah ide atau inventarisasi ide, maksudnya semua ide yang berkaitan ditulis
tanpa penyaringan secara cermat.
b. Pengoreksian dan penyempurnaan ide, maksudnya ide yang ditulis dikoreksi,
ditambah, dikurang, diganti, dsb. sesuai dengan ide baru yang lebih baik.
c. Pengelompokan ide, artinya semua ide dikelompokkan menurut jenis dan
tingkatannya dan disusun menurut bab, pasal, subpasal, dst.
Dilihat dari modelnya, kerangka ada dua yaitu kerangka organisasi dan kerangka isi.
Kerangka organisasi hanya memuat pokok-pokok yang berupa pola pikir yang
mencerminkan hakikat sebuah karangan ilmiah. Setiap karangan dalam hal ini
makalah misalnya, memuat kerangka organisasi yang sama, apapun judulnya yaitu:
bab I Pendahuluan
bab II Deskripsi masalah yang memuat permasalahan, data literatur (kajian teori),
dan data lapangan (hasil survei)
bab III Pembahasan yang memuat analisis dan solusi
bab IV Simpulan dan saran
Bab I Pendahuluan
Bab ini lazimnya memuat latar belakang dan rumusan masalah, tujuan, manfaat,
lingkup kajian, anggapan dasar dan hipotesis, metode penelitian, dan sistematika
penulisan. Pendahuluan harus memberikan gambaran tentang penelitian secara
keseluruhan.
Bab II Deskripsi masalah (masalah/kajian teori/hasil survei)
Organ ini memuat deskripsi atau gambaran masalah berdasarkan data yang diperoleh
baik dari literatur maupun lapangan. Data yang diperoleh dapat berupa data kuantitatif
maupun kualitatif. Deskripsi masalah harus objektif dalam arti apa adanya menurut data
yang diperoleh. Deskripsi masalah untuk makalah biasanya lebih menekankan rujukan
dari literatur. Dalam hal ini berbagai teori dipaparkan sebagai tolok ukur untuk
membahas dan mencari pemecahan masalah yang dihadapi.
Bab III Pembahasan
Bab ini memuat pembahasan, penafsiran, dan penilaian penulis tentang segala
masalah yang dideskripsikan. Pembahasan diarahkan pada terjawabnya persoalan yang
telah diajukan pada rumusan masalah dan tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.
Keluasan dan kedalaman pembahasaan sangat menentukan bobot karangan secara
keseluruhan. Di sinilah peran penting kecerdasaan penalaran penulis dalam upaya
memecahkan persoalan.
Bab IV Simpulan dan saran
Bab terakhir ini bukan rangkuman atau ringkasan tiap bab melainkan pokok-pokok
pikiran yang diambil dari proses menyimpulkan persoalan dari hasil pembahasan.
Simpulan ini terutama berisi jawab atas persoalan yang tertuang dalam rumusan masalah
dan capaian tujuan. Untuk laporan penelitian yang mengajukan hipotesis, simpulan
berupa pembuktian hipotesis.
Saran merupakan pendapat penulis sebagai konsekuensi atau implikasi dari
simpulan. Biasanya penulis menganjurkan atau memberikan masukan kepada pihak
terkait untuk melakukan tindakan dan mengeluarkan kebijakan sesuai dengan pendapat
yang tercantum pada simpulan.
Kerangka organisasi laporan penelitian berbeda dari kerangka di atas. Kerangka
organisasi laporan penelitian terdiri atas bab pendahuluan, tinjauan pustaka, pelaksanaan
dan hasil penelitian, pembahasan hasil penelitian, serta simpulan dan saran. Kerangka isi
berangkat dari kerangka organisasi yang dioperasionalkan selaras dengan substansi
masalah yang dibahas sehingga jelas pokok-pokok yang akan diuraikan. Contoh, jika
pada kerangka organisasi ada bab deskripsi atau kompilasi data, pada kerangka isi
tertuang bab keadaan umum lalu lintas di Kota Bandung, pencemaran udara, dan
dampaknya.
Contoh kerangka isi (berupa topik):
Judul: Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di ITB
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang dan Rumusan Masalah
1.1.1 Latar Belakang
1.1.2 Rumusan Masalah
1.2 Tujuan Penulisan dan Manfaat
1.3 Ruang Lingkup Kajian
1.4 Anggapan Dasar
1.5 Hipotesis
1.6 Metode dan Teknik Pengumpulan Data
1.6.1 Metode Penelitian
1.6.2 Teknik Pengumpulan Data
1.7 Sistematika Penulisan
BAB II TEORI DASAR RUANG TERBUKA HIJAU
1.1 Pengertian Ruang Terbuka Hijau
1.2 Fungsi Ruang Terbuka Hijau
1.3 Manfaat Ruang Terbuka
1.4 Regulasi Ruang Terbuka Hijau
1.5 Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau
1.6 Keefektifan Ruang Terbuka Hijau
BAB III PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU DI ITB
1.1 Area Ruang Terbuka Hijau ITB
1.2 Luas Ruang Terbuka Hijau di ITB
1.3 Pengoptimalan Ruang Terbuka Hijau di ITB
1.4 Model Ruang Terbuka Hijau di ITB
1.5 Penyesuaian Fungsi Ruang Terbuka Hijau di ITB
1.6 Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di ITB
1.7 Perilaku Civitas Akademik ITB terhadap Ruang Terbuka Hijau
1.8 Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau bagi Aktivitas Mahasiswa ITB
BAB IV SIMPULAN DAN SARAN
4.1 Simpulan
4.2 Saran
1.3 Organisasi Karya Tulis Ilmiah
Organisasi karya tulis ilmiah disebut pula pembabakan karangan yang menuntun
penulis untuk menyusun organ atau komponen karangan yang diperlukan dan
ditempatkannya sesuai dengan konvensi naskah. Ada tiga komponen utama dalam
karangan sesuai dengan konvensi seperti terlihat pada diagram berikut.
ORGANISASI KARYA TULIS ILMIAH
Penjelasan singkat beberapa organ karangan
1. Halaman Judul Karangan
Halaman ini memuat judul karangan, pertelaan untuk apa karangan itu dibuat,
misalnya tujuan akademis, nama penulis dan jati diri yang diperlukan, lambang atau
logo lembaga, nama lembaga, kota, dan tahun. Muatan itu ditulis sesuai dengan
konvensi.
2. Prakata
Prakata dibuat oleh penulis dengan muatan pernyataan syukur, latar belakang,
pembahasan masalah disertai tujuan singkat, hambatan yang dialami, bantuan yang
diterima, ucapan terima kasih, keterbukaan menerima saran perbaikan, harapan penulis,
dsb. Jika dipandang penting dan banyak pihak yang terlibat, ucapan terima kasih dibuat
pada halaman tersendiri yang disebut sanwacana (acknowledgement). Sebelum atau
sesudah prakata jika perlu dimuat kata persembahan atau kata mutiara (moto) yang
sesuai dengan isi karangan.
3. Kata Pengantar
Kata pengantar dibuat oleh pihak lain (bukan pengarang) yang memiliki otoritas
di bidang keilmuan ataupun kelembagaan. Kata pengantar berupa rekomendasi
mengenai masalah yang ditulis dalam buku tersebut, nilai manfaatnya, kelebihan buku,
dsb. Kata pengantar biasa ditulis untuk sebuah buku.
KOMPONEN PELENGKAP
AWAL
BAGIAN PENDAHULUAN
KOMPONEN UTAMA
BAGIAN ISI
KOMPONEN PELENGKAP
AKHIR
BAGIAN PENYUDAH
1. Halaman Judul
2. Halaman Pengesahan
3. Prakata
4. Kata Pengantar (bila perlu)
5. Sari (Abstrak)
6. Abstark (dalam bahasa Inggris)
7. Daftar Isi
8. Daftar Tabel
9. Daftar Gambar
10. Daftar Lampiran
11. Daftar Lambang dan Singkatan
12. Daftar Istilah
1. Bab Pendahuluan
2. Bab Deskripsi
3. Bab Analisis
4. Bab Simpulan dan Saran
1. Daftar Pustaka
2. Lampiran
3. Indeks (penjurus) dapat berupa indeks
istilah atau nama
4. Riwayat Hidup Penulis
4. Sari
Sari atau abstrak harus berisi pokok masalah, sumber data, analisis dan
pemecahan masalah, serta hasil yang diperoleh. Jumlah kata pada sari atau abstrak
maksimal berjumlah dua ratus kata. Untuk kepentingan yang lebih luas, sari sering
diterjemahkan ke dalam salah satu bahasa internasional, misalnya bahasa Inggris. Pada
sari atau abstrak harus disertakan kata kunci maksimal lima kata atau kelompok kata.
5. Daftar Pustaka
Daftar pustaka memuat berbagai sumber informasi tertulis yang dijadikan rujukan
atau acuan dalam penulisan sebuah karya tulis ilmiah. Sumber informasi ini dapat
berupa buku (dengan segala jenis), majalah, jurnal, surat kabar, makalah, laporan
(penelitian) tugas akhir/tesis/disertasi, kamus (dengan segala jenis), ensiklopedi, dsb.
Sumber informasi melalui internet masih termasuk pustaka dengan konvensi
(penulisan) yang berbeda.
6. Lampiran
Bagian ini memuat tabel, peta, gambar, dan ilustrasi lain sebagai penunjang.
Selain itu, dapat dimuat contoh kuesioner, tes, pedoman wawancara, contoh
perhitungan, surat yang berkaitan, dsb.
7. Indeks (Penjurus)
Indeks memuat daftar istilah yang disusun alfabetis dan dirujuk ke nomor
halaman tempat istilah itu berbeda. Selain itu, indeks dapat memuat daftar nama yang
ada pada karangan dan ditulis seperti daftar istilah.
8. Riwayat Hidup
Bagian ini memuat nama lengkap penulis beserta jati dirinya, riwayat pendidikan,
pekerjaan, karya tulis, pengalaman profesi, dsb. Riwayat hidup ada yang ditulis dalam
bentuk daftar (makalah, laporan, dsb.) dan bentuk narasi (buku dsb.).
Sumber:
Alwi, H. dkk. 2010. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. 2016. Pedoman Umum Ejaan Bahasa
Indonesia (PUEBI). Kemedikbud.
Sosiokomunikasi, KK Ilmu Kemanusiaan, FSRD-ITB 2008. Metode Penulisan Ipteks.
Bandung Penerbit ITB.

Bab ix penyusunan kti

  • 1.
    PENYUSUNAN KARYA TULISILMIAH 1.1 Penentuan Topik, Tema, Judul, Tujuan, dan Rumusan Masalah Topik adalah pokok masalah yang akan dibahas. Topik yang baik minimal terdiri atas dua kata; satu kata sebagai pusat (D=diterangkan) dan satu kata lagi sebagai atribut (M=menerangkan). Contoh topik: industri kayu; pencemaran limbah rumah sakit; eksplorasi sumber daya mineral; krisis air. Tema adalah topik yang mengandung tujuan. “apanya” tentang topik. Berilah kata operasional sebelum topik. Contoh topik tersebut di atas jika dijadikan tema menjadi pengembangan industri kayu; penanggulangan pencemaran limbah rumah sakit; pengoptimalan eksplorasi sumber daya mineral; penanggulangan krisis air. Judul (karangan ilmiah) adalah penamaan karya (karangan ilmiah). Judul karya tulis ilmiah adalah tema yang diberi keterangan (tempat, waktu, alat, tujuan). Judul karya tulis ilmiah harus memenuhi syarat (a) menggambarkan isi, (b) singkat, (c) menarik minat pembaca, dan (d) tidak provokatif. Contoh tema di atas dapat menjadi judul, misalnya. 1. Pengembangan Industri Kayu di Kalimantan Timur 2. Penanggulangan Pencemaran Limbah Rumah Sakit Hasan Sadikin 3. Pengoptimalan Eksplorasi Sumber Daya Mineral sampai Tahun 2020 4. Alternatif Penanggulangan Krisis Air di Kota Bandung Penentuan topik, tema, dan judul harus berdasarkan asumsi sebagai berikut. a. Problematis, artinya menuntut pemecahan masalah, tidak hanya membicarakan sesuatu tetapi harus mencari pemecahannya. Dengan kata lain, sebuah topik tidak hanya dideskripsikan, tetapi dianalisis dan dicari solusinya sampai pada akhirnya ditegaskan pada simpulan dan bila perlu dilanjutkan dengan saran. Misalnya, topik pengembangan industri kayu. Di sini kita tidak hanya membicarakan apa dan bagaimana perkembangan industri kayu itu. Akan tetapi, kita harus mencari upaya yang harus ditempuh untuk mengembangkan industri kayu sebagai salah satu kegiatan ekonomi masyarakat. b. Terbatas, maksudnya pokok bahasan tidak terlalu melebar jauh sehingga penulis tidak mungkin mengkajinya dan data tidak mungkin diperoleh secara lengkap. Topik yang terlalu luas harus dibatasi dengan pembatasan substansi, lokal, waktu, dsb. Misalnya, urusan penanggulangan pencemaran harus dibatasi pencemaran apa, misalnya, limbah, lalu limbah apa misalnya limbah rumah sakit. Pada judul dapat dibatasi lagi dengan menambahkan lokasi penelitiannya. Dengan pembatasan demikian, penulis dapat mengkaji dan membahas masalah tersebut secara mendalam dan tuntas dengan data yang jelas. Dengan demikian, karangan memenuhi salah satu ciri karangan ilmiah yaitu tuntas dan mendalam. c. Syarat lain yang tidak kurang pentingnya adalah topik itu menarik, penting, faktual, aktual, dan data dapat diperoleh baik data literatur maupun lapangan. Rumusan masalah perlu dituangkan dengan jelas agar pembahasan masalah terarah sesuai dengan tujuan. Biasanya rumusan masalah diungkapkan dalam bentuk pertanyaan pokok untuk mencapai tujuan. Misalnya, jika judul dan tujuan seperti di atas, rumusan
  • 2.
    masalahnya adalah upayaatau metode apa yang harus dilakukan agar eksplorasi sumber daya mineral di Jawa Barat mencapai titik optimal? Tujuan perlu dirumuskan dengan gamblang agar jelas hal yang akan dicapai dengan tulisan atau penelitian itu. Tujuan di sini adalah tujuan praktis dari topik yang diangkat menjadi judul karangan. Tujuan dimaksud bukan tujuan akademis, misalnya, untuk memenuhi tugas kuliah tertentu, untuk persyaratan sidang sarjana atau pascasarjana. tujuan dapat diungkapkan dengan kata operasional seperti menanggulangi, mengurangi, menemukan, meningkatkan, mengoptimalkan, mengevaluasi, dan mengendalikan. Misalnya, Judul: Pengoptimalan Eksplorasi Sumber Daya Mineral di Jawa Barat Tujuan: Menemukan upaya optimal dalam mengeksplorasi sumber daya yang memadai dengan dampak negatif yang minimal. Manfaat adalah kegunaan praktis yang dapat dipetik dari hasil pengkajian/penelitian, baik untuk pengembangan ilmu itu sendiri maupun untuk kepentingan sosial. Dari rumusan masalah dan tujuan dapat diturunkan aspek yang akan dikaji, yaitu aspek yang harus diteliti agar tujuan tercapai aspek yang diteliti ini menjadi pokok bahasan yang dapat dituangkan dalam bentuk bab atau pasal dalam karya ilmiah yang dibuat. Jika kita membahas penanggulangan pencemaran udara di Kota Bandung, aspek yang diteliti berupa volume dan kondisi kendaraan bermotor, aktivasi industri, moda angkutan, jumlah penduduk, kawasan hijau, emisi kendaraan bermotor, kesehatan lingkungan, upaya yang telah dilakukan, dsb. Metode penelitian dan teknik pengumpulan data sebagai penunjang utama dalam penulisan karangan ilmiah. Untuk mengenal metode penelitian dan teknik pengumpulan data secara lengkap, diperlukan ilmu khusus yang disebut metodologi penelitian. Akan tetapi, pada dasarnya, metode penelitian adalah cara yang efektif untuk menemukan data/fakta yang diperlukan untuk dapat membahas masalah dan mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi. Untuk memperoleh data ini dapat ditempuh berbagai cara di antaranya studi literatur dan survei yang mencakup observasi, wawancara, dan kuesioner. Metode penelitian tersebut bersifat deskriptif, yaitu mendeskripsikan data baik dari literatur maupun lapangan kemudian dianalisis sehingga sering disebut deskriptif analitis. Selain itu, metode yang sering digunakan dalam penelitian adalah metode historis (komparatif) dan eksperimen. Pada laporan penelitian kerap juga dikemukakan anggapan dasar dan hipotesis. Anggapan dasar adalah konsep yang kebenarannya tidak perlu dibuktikan lagi. Biasanya konsep tersebut berupa aksioma, teori, dalil, rumus, dan sebagainya yang dapat dijadikan landasan/acuan dalam mengajukan suatu konsep-konsep yang tali-temali; diambil dari berbagai rujukan/pustaka, ditafsirkan, dan dibuat simpulan sehingga menjadi konsep baru (simpulan sementara). Dalam hal ini, berarti sebelum membuat rumusan-rumusan anggapan dasar dan hipotesis, mutlak diperlukan pengkajian atau tinjauan pustaka. Simpulan sementara atau hipotesis harus menjadi jawaban rumusan persoalan. Akan tetapi, karena sifatnya sementara, kebenarannya harus diuji lagi melalui penelitian lapangan/laboratorium. Bila hasil pengujian ini sesuai dengan simpulan sementara, berarti hipotesis tersebut benar.
  • 3.
    Tidak semua karyatulis ilmiah mencantumkan anggapan dasar dan hipotesis. Kedua proposisi ini biasanya hanya diperlukan dalam laporan penelitian. Selanjutnya, hal yang dikemukakan dalam simpulan adalah butir-butir dari hasil pembahasan. Butir-butir ini harus menjadi jawaban atas persoalan yang dikemukakan dalam rumusan masalah. Bila ada hipotesis yang diajukan, simpulan merupakan butir-butir yang menyatakan bahwa hipotesis itu terbukti atau tidak terbukti kebenarannya. Saran adalah pendapat lebih lanjut setelah ada simpulan atau setelah ada butir-butir yang menyatakan bahwa hipotesis itu benar atau tidak. 1.2 Penyusunan Kerangka Karangan Setelah rancangan karangan jelas dalam bentuk topik, tema, judul, tujuan, dsb., dibuatlah kerangka. Bila perlu sebelumnya diadakan eksplorasi pengetahuan tentang topik tersebut melalui studi pustaka atau observasi awal ke lapangan. Kerangka karangan adalah rencana karangan secara garis besar yang memuat pokok-pokok bahasan yang disusun menurut tingkat kepentingan dan relevansinya. Fungsi kerangka bagi penulis agar ia dapat mengungkapkan idenya secara terperinci, sistematis, dan lengkap. Selain itu, kerangka juga berfungsi sebagai pedoman untuk mengumpulkan data, baik dari literatur maupun lapangan atau laboratorium. Secara umum kerangka merupakan pola dasar untuk menuangkan gagasan yang akan ditulis dalam bentuk karangan. Kerangka yang baik (lengkap, terarah, tersusun) cenderung melahirkan karangan yang baik. Ada tiga tahap penyusunan kerangka yang dapat dijadikan pedoman yaitu: a. Curah ide atau inventarisasi ide, maksudnya semua ide yang berkaitan ditulis tanpa penyaringan secara cermat. b. Pengoreksian dan penyempurnaan ide, maksudnya ide yang ditulis dikoreksi, ditambah, dikurang, diganti, dsb. sesuai dengan ide baru yang lebih baik. c. Pengelompokan ide, artinya semua ide dikelompokkan menurut jenis dan tingkatannya dan disusun menurut bab, pasal, subpasal, dst. Dilihat dari modelnya, kerangka ada dua yaitu kerangka organisasi dan kerangka isi. Kerangka organisasi hanya memuat pokok-pokok yang berupa pola pikir yang mencerminkan hakikat sebuah karangan ilmiah. Setiap karangan dalam hal ini makalah misalnya, memuat kerangka organisasi yang sama, apapun judulnya yaitu: bab I Pendahuluan bab II Deskripsi masalah yang memuat permasalahan, data literatur (kajian teori), dan data lapangan (hasil survei) bab III Pembahasan yang memuat analisis dan solusi bab IV Simpulan dan saran Bab I Pendahuluan Bab ini lazimnya memuat latar belakang dan rumusan masalah, tujuan, manfaat, lingkup kajian, anggapan dasar dan hipotesis, metode penelitian, dan sistematika penulisan. Pendahuluan harus memberikan gambaran tentang penelitian secara keseluruhan.
  • 4.
    Bab II Deskripsimasalah (masalah/kajian teori/hasil survei) Organ ini memuat deskripsi atau gambaran masalah berdasarkan data yang diperoleh baik dari literatur maupun lapangan. Data yang diperoleh dapat berupa data kuantitatif maupun kualitatif. Deskripsi masalah harus objektif dalam arti apa adanya menurut data yang diperoleh. Deskripsi masalah untuk makalah biasanya lebih menekankan rujukan dari literatur. Dalam hal ini berbagai teori dipaparkan sebagai tolok ukur untuk membahas dan mencari pemecahan masalah yang dihadapi. Bab III Pembahasan Bab ini memuat pembahasan, penafsiran, dan penilaian penulis tentang segala masalah yang dideskripsikan. Pembahasan diarahkan pada terjawabnya persoalan yang telah diajukan pada rumusan masalah dan tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Keluasan dan kedalaman pembahasaan sangat menentukan bobot karangan secara keseluruhan. Di sinilah peran penting kecerdasaan penalaran penulis dalam upaya memecahkan persoalan. Bab IV Simpulan dan saran Bab terakhir ini bukan rangkuman atau ringkasan tiap bab melainkan pokok-pokok pikiran yang diambil dari proses menyimpulkan persoalan dari hasil pembahasan. Simpulan ini terutama berisi jawab atas persoalan yang tertuang dalam rumusan masalah dan capaian tujuan. Untuk laporan penelitian yang mengajukan hipotesis, simpulan berupa pembuktian hipotesis. Saran merupakan pendapat penulis sebagai konsekuensi atau implikasi dari simpulan. Biasanya penulis menganjurkan atau memberikan masukan kepada pihak terkait untuk melakukan tindakan dan mengeluarkan kebijakan sesuai dengan pendapat yang tercantum pada simpulan. Kerangka organisasi laporan penelitian berbeda dari kerangka di atas. Kerangka organisasi laporan penelitian terdiri atas bab pendahuluan, tinjauan pustaka, pelaksanaan dan hasil penelitian, pembahasan hasil penelitian, serta simpulan dan saran. Kerangka isi berangkat dari kerangka organisasi yang dioperasionalkan selaras dengan substansi masalah yang dibahas sehingga jelas pokok-pokok yang akan diuraikan. Contoh, jika pada kerangka organisasi ada bab deskripsi atau kompilasi data, pada kerangka isi tertuang bab keadaan umum lalu lintas di Kota Bandung, pencemaran udara, dan dampaknya. Contoh kerangka isi (berupa topik): Judul: Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di ITB BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Rumusan Masalah 1.1.1 Latar Belakang 1.1.2 Rumusan Masalah 1.2 Tujuan Penulisan dan Manfaat 1.3 Ruang Lingkup Kajian 1.4 Anggapan Dasar 1.5 Hipotesis 1.6 Metode dan Teknik Pengumpulan Data
  • 5.
    1.6.1 Metode Penelitian 1.6.2Teknik Pengumpulan Data 1.7 Sistematika Penulisan BAB II TEORI DASAR RUANG TERBUKA HIJAU 1.1 Pengertian Ruang Terbuka Hijau 1.2 Fungsi Ruang Terbuka Hijau 1.3 Manfaat Ruang Terbuka 1.4 Regulasi Ruang Terbuka Hijau 1.5 Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau 1.6 Keefektifan Ruang Terbuka Hijau BAB III PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU DI ITB 1.1 Area Ruang Terbuka Hijau ITB 1.2 Luas Ruang Terbuka Hijau di ITB 1.3 Pengoptimalan Ruang Terbuka Hijau di ITB 1.4 Model Ruang Terbuka Hijau di ITB 1.5 Penyesuaian Fungsi Ruang Terbuka Hijau di ITB 1.6 Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di ITB 1.7 Perilaku Civitas Akademik ITB terhadap Ruang Terbuka Hijau 1.8 Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau bagi Aktivitas Mahasiswa ITB BAB IV SIMPULAN DAN SARAN 4.1 Simpulan 4.2 Saran 1.3 Organisasi Karya Tulis Ilmiah Organisasi karya tulis ilmiah disebut pula pembabakan karangan yang menuntun penulis untuk menyusun organ atau komponen karangan yang diperlukan dan ditempatkannya sesuai dengan konvensi naskah. Ada tiga komponen utama dalam karangan sesuai dengan konvensi seperti terlihat pada diagram berikut.
  • 6.
    ORGANISASI KARYA TULISILMIAH Penjelasan singkat beberapa organ karangan 1. Halaman Judul Karangan Halaman ini memuat judul karangan, pertelaan untuk apa karangan itu dibuat, misalnya tujuan akademis, nama penulis dan jati diri yang diperlukan, lambang atau logo lembaga, nama lembaga, kota, dan tahun. Muatan itu ditulis sesuai dengan konvensi. 2. Prakata Prakata dibuat oleh penulis dengan muatan pernyataan syukur, latar belakang, pembahasan masalah disertai tujuan singkat, hambatan yang dialami, bantuan yang diterima, ucapan terima kasih, keterbukaan menerima saran perbaikan, harapan penulis, dsb. Jika dipandang penting dan banyak pihak yang terlibat, ucapan terima kasih dibuat pada halaman tersendiri yang disebut sanwacana (acknowledgement). Sebelum atau sesudah prakata jika perlu dimuat kata persembahan atau kata mutiara (moto) yang sesuai dengan isi karangan. 3. Kata Pengantar Kata pengantar dibuat oleh pihak lain (bukan pengarang) yang memiliki otoritas di bidang keilmuan ataupun kelembagaan. Kata pengantar berupa rekomendasi mengenai masalah yang ditulis dalam buku tersebut, nilai manfaatnya, kelebihan buku, dsb. Kata pengantar biasa ditulis untuk sebuah buku. KOMPONEN PELENGKAP AWAL BAGIAN PENDAHULUAN KOMPONEN UTAMA BAGIAN ISI KOMPONEN PELENGKAP AKHIR BAGIAN PENYUDAH 1. Halaman Judul 2. Halaman Pengesahan 3. Prakata 4. Kata Pengantar (bila perlu) 5. Sari (Abstrak) 6. Abstark (dalam bahasa Inggris) 7. Daftar Isi 8. Daftar Tabel 9. Daftar Gambar 10. Daftar Lampiran 11. Daftar Lambang dan Singkatan 12. Daftar Istilah 1. Bab Pendahuluan 2. Bab Deskripsi 3. Bab Analisis 4. Bab Simpulan dan Saran 1. Daftar Pustaka 2. Lampiran 3. Indeks (penjurus) dapat berupa indeks istilah atau nama 4. Riwayat Hidup Penulis
  • 7.
    4. Sari Sari atauabstrak harus berisi pokok masalah, sumber data, analisis dan pemecahan masalah, serta hasil yang diperoleh. Jumlah kata pada sari atau abstrak maksimal berjumlah dua ratus kata. Untuk kepentingan yang lebih luas, sari sering diterjemahkan ke dalam salah satu bahasa internasional, misalnya bahasa Inggris. Pada sari atau abstrak harus disertakan kata kunci maksimal lima kata atau kelompok kata. 5. Daftar Pustaka Daftar pustaka memuat berbagai sumber informasi tertulis yang dijadikan rujukan atau acuan dalam penulisan sebuah karya tulis ilmiah. Sumber informasi ini dapat berupa buku (dengan segala jenis), majalah, jurnal, surat kabar, makalah, laporan (penelitian) tugas akhir/tesis/disertasi, kamus (dengan segala jenis), ensiklopedi, dsb. Sumber informasi melalui internet masih termasuk pustaka dengan konvensi (penulisan) yang berbeda. 6. Lampiran Bagian ini memuat tabel, peta, gambar, dan ilustrasi lain sebagai penunjang. Selain itu, dapat dimuat contoh kuesioner, tes, pedoman wawancara, contoh perhitungan, surat yang berkaitan, dsb. 7. Indeks (Penjurus) Indeks memuat daftar istilah yang disusun alfabetis dan dirujuk ke nomor halaman tempat istilah itu berbeda. Selain itu, indeks dapat memuat daftar nama yang ada pada karangan dan ditulis seperti daftar istilah. 8. Riwayat Hidup Bagian ini memuat nama lengkap penulis beserta jati dirinya, riwayat pendidikan, pekerjaan, karya tulis, pengalaman profesi, dsb. Riwayat hidup ada yang ditulis dalam bentuk daftar (makalah, laporan, dsb.) dan bentuk narasi (buku dsb.). Sumber: Alwi, H. dkk. 2010. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. 2016. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Kemedikbud. Sosiokomunikasi, KK Ilmu Kemanusiaan, FSRD-ITB 2008. Metode Penulisan Ipteks. Bandung Penerbit ITB.