52
BAB V
WACANA
A. Pengertian Wacana
Wacana adalah satuan bahasa lisan maupun tulis yang memiliki
keterkaitan atau keruntutan antar bagian (kohesi), keterpaduan (koheren),
dan bermakna, digunakan untuk berkomunikasi dalam konteks sosial.
Berdasarkan pegertian tersebut, persyaratan terbentuknya wacana adalah
penggunaan bahasa dapat berupa rangkaian kalimat atau rangkaian
ujaran (meskipun wacana dapat berupa satu kalimat atau ujaran).
Wacana yang berupa rangkaian kalimat atau ujaran harus
mempertimbangkan prinsip-prinsip tertentu, prinsip keutuhan dan
kepaduan (koheren).
Wacana dikatakan utuh apabila kalimat-kalimat dalam wacana itu
mendukung satu topik yang sedang dibicarakan, sedangkan wacana
dikatakan padu apabila kalimat-kalimatnya disusun secara teratur dan
sistematis, sehingga menunjukkan keruntututan ide yang diungkapkan.
B. Pengertian Wacana Tulis
Wacana tulis adalah satuan bahasa dalam wujud verbal atau
berupa tulisan yang didalamnya terdapat konsep, gagasan serta ide,
53
yang dipikirkan secara matang agar pembaca dapat memahami maksud
penulis secara utuh.
C. Jenis-Jenis Wacana Tulis
Pengelompokkan wacana sangat bergantung pada sudut pandang
yang digunakan. Wacana dapat dikelompokkan atas dasar acuannya,
bentuk penyajiannya, saluran komunikasinya, peserta komunikasi, dan
bahasa yang digunakan. Pada dasarnya pengelompokkan wacana sangat
diperluan untuk memahami, mengurai, dan menganalisi dengan tepat.
1. Jenis Wacana Berdasarkan Acuan
Wacana pada dasarnya memuat sebuah informasi, informasi yang
disampaikan dalam wacana dapat berupa nonfiksi atau fiksi.
a. wacana nonfiksi
Wacana nonfiksi memiliki acuan yaitu informasi yang
terdapat didalamnya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Bahasa yang digunkan lugas, jelas dan denotatif, tidak
mementingkan keindahan karena menekankan pada pentingnya isi
yang terkandung. Contoh dari wacana nonfiksi ialah laporan hasil
penelitian, naskah bahan kuliah, dan petunjuk penggunaan
komputer.
54
b. wacana fiksi
Wacanan fiksi berorientasi pada keindahan dan imajinas.
Biasanya wacana lebih mengutamakan keindahan (estetika).
Wacana fiksi dapat berisi fakta atau kenyataan namun dikemas
dalam bentuk dan penyampaian yang indah. Bahasa yang
digunakan konotatif, analogis, dan multiinterpretatif.
2. Jenis Wacana Berdasarkan Penyajiannya
Jenis wacana berdasarkan penyajiannya yaitu wacana deskriptif,
dan naratif.
a. Wacana deskriptif
Deskripsi adalah suatu wacana yang mengemukakan
representasi atau gambaran tentang sesuatu atau seseorang, yang
biasanya ditampilkan secara rinci. Wacana deskriptif merupakan
hasil pengamatan serta kesan-kesan penulis tentang objek
pengamatan tersebut. Dalam deskripsi banyak ditemukan
enumerasi atau gambaran bagian per bagian. Dalam jenis wacana
ini, susunan sekuen bersifat fakultatif, artinya sampai batas-batas
tertentu, susunan dapat dipertukarkan, karena gambaran bersifat
permanen dan simultan.
Dapat dikatakan bahwa ciri deskripsi adalah hubungan
spasial (kesatuan tempat). Ini berarti bahwa detil-detil yang
digambarkan mempunyai hubungan satu sama lain, dan tidak
55
merupakan gambaran yang tercerai-berai. Deskripsi sering
dikaitkan dengan bentuk wacana lain. Dalam wacana naratif, sering
terdapat deskripsi tempat, orang, benda lain ataupun suasana
tertentu. Dengan adanya deskripsi, pembaca lebih mampu
membayangkan apa yang diceritakan dan imajinasi pembaca
menjadi lebih hidup. Demikian pula dalam wacana argumentatif,
wacana ekplikatif dan instruktif sering digunakan deskripsi sebagai
cara untuk menjelaskan sesuatu.
b. Wacana naratif
Wacana naratif adalah wacana yang menggambarkan dan
menceritakan sesuatu dan sejelas-jelasnya kepada pembaca
tentang urutan peristiwa yang terjadi pada suatu waktu. Unsur
terpenting dalam wacana naratid ialah tindakan atau laku
perbuatan.
Wacana naratif harus memenuhi beberapa kriteria yaitu;
 Adanya rangkaian peristiwa
Adegan peristiwa dalam wacana harus runtut dan memiliki
keterhubungan. Peristiwa disusun dalam fungsinya dari awal
hingga menuju suatu situasi akhir.
56
 Adanya kesatuan tindakan
Suatu cerita menghendaki setidaknya seorang tokoh, yang
ditempatkan dalam waktu tertentu. Hal ini dapat menyatukan
kriteria a dan b, karena kehadiran tokoh ini memungkinkan
adanya suatu kesatuan tindakan.
 Adanya suatu proses
Sebagaimana telah dikemukakan di atas, perlu adanya
kesatuan tindakan dalam cerita. Yang dimaksudkan adalah
adanya situasi awal, transformasi dan situasi akhir. Ketiganya
dikenal juga dengan nama eksposisi, pengembangan dan
peleraian.
 Adanya suatu hubungan kausal dalam suatu konflik
Dalam suatu cerita yang terpenting ternyata bukanlah
hubungan kronologis, melainkan hubungan logis atau hubungan
sebab-akibat antarsatuan cerita yang fungsional. Hubungan
sebab-akibat inilah yang membentuk kerangka cerita, yang
membentuk struktur cerita. Bagi para pengarang pada
umumnya, suatu alasan yang dapat ditangkap, menyebabkan
adanya suatu tindakan yang pada gilirannya juga menimbulkan
tindakan lainnya. Demikian seterusnya hingga cerita selesai.
57
c. wacana argumentative
Wacana argumentatif bertujuan memengaruhi sikap ataupun
pendapat pendengar atau pembaca. Wacana itu berisikan fakta
yang disusun demikian rupa sehingga dapat diketahui apakah fakta
itu benar atau tidak. Wacanan argumentatif menggunakan logika
sebagai alat bantu utama dalam menyelidiki masalah yang
dikemukakan, pakah menimbulkan masalah, apa tujuan
menyelidiki, apa manfaat dan dampaknya, dan bagaimana cara
mengatasinya.
3. Wacana Berdasarkan Saluran Komunikasi
a. Wacana tertulis
Wacana tertulis disampaikan melalui tulisan. Berbagai
bentuk wacanan sebenarnya dapat di wujudkan dalam bentuk
tulisan. Sampai sekarang tulisan tampak masih sangat efektif untuk
menyampaikan berbagai gagasan, pesan, wawasan, pengetahuan,
atau apapun hasil kreativitas manusia. Wacana ini sering dianggap
sama dengan teks atau naskah.
b. Wacana lisan
Wacana lisan adalah wacana yang penyampaiannya
dilakukan di media lisan. Untuk memahami wacanan lisan, sang
penerima harus menyimak dan mendengarkannya. Wacana lisan
58
biasanya merujuk pada komunikasi lisan antara dua pihak yang
biasanya melibatkan dua orang atau lebih pembicara.
4. Jenis Wacana Berdasarkan Peserta Komunikasi
Jenis wacana berdasarkan peserta komunikasi yang ikut berperan
didalamnya, wacana dapat dibedakan menjadi wacana monolog,
wacana dialog, dan wacana polilog
a. Wacana Monolog
Wacanan monolog adalah wacana yang dituturkan oleh satu
orang. Biasanya wacanan monolog tidak menyediakan waktu bagi
respons pendengar ataupun pembacanya. Wacana ini tidak
menghendaki adanya respons dari pihak lain. Penuturannya hanya
berlangsung satu arah, hanya dari penuturnya saja. Contoh
wacanan monolog ialah orasi, ceramah, khotbah dan pidati
pembaca berita atau tv dan pembaca puisi.
b. Wacana Dialog
Wacana dialog adalah wacanan dua arah yang didalamnya
terdapat timbal balik antara penutur dan penerima pesan. Secara
begantian mereka berperan sebagai pengirim dan penerima.
Wacana dialog dapat berupa pembicaran telepon, tanya jawab,
wawancara dan lain sebagainya.
59
c. Wacana Poilog
Wacana polilog adalah wacana yang dibentuk oleh lebih dari
dua orang penutur. Wacana polilog terjadi biasanya pada saat
diskusi mahasiswa, pada saat bermain drama, atau saat ngobrol
santai.
5. Jenis Wacana Berdasarkan Bahasa yang Digunakan
Jenis bahasa yang digunakan, wacanan dapat diklasifikasikan
menjadi : 1) wacana bahasa nasional (indonesia); 2) wacana
bahasa lokal atau daerah (bahasa jawa, bali, sunda, madura, dsb);
3) wacana bahasa internasional (bahasa inggris); dan 4) wacana
bahasa lainnya, seperti bahasa belanda, jeman, perancis, dan
sebagainya.
D. Proses Menulis Wacana
1. Unsur-unsur Wacana
Wacana memiliki dua unsur utama, yaitu unsur dalam (internal dan
unsur luar (eksternal). Unsur internal berkaitan dengan aspek formal
kebahasaan, sedangkan unsur eksternal berkenaan dengan hal-hal
diluar wacana itu sendiri. Kedua unsur tersebut membentuk satu
kepaduan dalam suatu struktur yang utuh dan lengkap.
2. Syarat Terbentuknya Wacana
60
Penggunaan bahasa dapat berupa rangkaian kalimat atau
rangkaian ujaran, meskipun sebuah wacana dapat berupa satu kalimat
atau satu ujaran. Wacana yang berupa rangkaian kalimat atau ujaran
harus mempertimbangkan prinsip penulisan wacana. prinsip penulisan
wacana yaitu prinsip keutuhan (unity) dan kepaduan (coherent).
3. Proses Penulisan Wacana
Menulis merupakan proses kreatif. Untuk membuat tulisan
diperlukan beberapa rangkaian proses yang harus dilewati. Menulis
wacana terbagi dalam 2 tahapan. Tahapan tersebut meliputi :
a. Prapenulisan
Menulis wacana bukanlah suatu hal yang mudah. Kita tidak bisa
begitu saja menuangkan isi pemikiran mengenai suatu hal yang
belum kita ketahui pasti isinya. Sebelum menulis wacana ada
beberapa langkah yang sebaiknya dilakukan untuk mempermudah
proses penulisan wacana. Langkah-langkah tersebut disebut tahap
prapenulisan wacana yang terdiri dari :
1) Menentukan topik atau judul, masalah, tujuan, dan kalimat
tesis,
2) Menyusun regangan (garis besar isi dan
menyempurnakannya menjadi kerangka karangan lengkap
setelah datanya lengkap),
3) Menetapkan landasan teoritis,
61
4) Menetapkan sumber data (primer, sekunder) dan cara
mengumpulkannya,
5) Menetapkan metode pembahasan,
6) Menyusun daftar pustaka sementara, dan
7) Menjadwalkan pelaksanaannya.
b. Penulisan
Dalam tahapan penulisan wacana penulis tinggal menuangkan
hasil dari tahapan prapenulisan. Tahapan penulisan terdiri dari :
1) Menulis keseluruhan naskah secara konseptual, disertai
kutipan atau data yang diperlukan;
2) Penyuntingan : dilakukan untuk memperbaiki naskah materi
dan penggunaan bahasa;
3) Penulisan naskah yang sudah sempurna tanpa kesalahan.

Bab v wacana

  • 1.
    52 BAB V WACANA A. PengertianWacana Wacana adalah satuan bahasa lisan maupun tulis yang memiliki keterkaitan atau keruntutan antar bagian (kohesi), keterpaduan (koheren), dan bermakna, digunakan untuk berkomunikasi dalam konteks sosial. Berdasarkan pegertian tersebut, persyaratan terbentuknya wacana adalah penggunaan bahasa dapat berupa rangkaian kalimat atau rangkaian ujaran (meskipun wacana dapat berupa satu kalimat atau ujaran). Wacana yang berupa rangkaian kalimat atau ujaran harus mempertimbangkan prinsip-prinsip tertentu, prinsip keutuhan dan kepaduan (koheren). Wacana dikatakan utuh apabila kalimat-kalimat dalam wacana itu mendukung satu topik yang sedang dibicarakan, sedangkan wacana dikatakan padu apabila kalimat-kalimatnya disusun secara teratur dan sistematis, sehingga menunjukkan keruntututan ide yang diungkapkan. B. Pengertian Wacana Tulis Wacana tulis adalah satuan bahasa dalam wujud verbal atau berupa tulisan yang didalamnya terdapat konsep, gagasan serta ide,
  • 2.
    53 yang dipikirkan secaramatang agar pembaca dapat memahami maksud penulis secara utuh. C. Jenis-Jenis Wacana Tulis Pengelompokkan wacana sangat bergantung pada sudut pandang yang digunakan. Wacana dapat dikelompokkan atas dasar acuannya, bentuk penyajiannya, saluran komunikasinya, peserta komunikasi, dan bahasa yang digunakan. Pada dasarnya pengelompokkan wacana sangat diperluan untuk memahami, mengurai, dan menganalisi dengan tepat. 1. Jenis Wacana Berdasarkan Acuan Wacana pada dasarnya memuat sebuah informasi, informasi yang disampaikan dalam wacana dapat berupa nonfiksi atau fiksi. a. wacana nonfiksi Wacana nonfiksi memiliki acuan yaitu informasi yang terdapat didalamnya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Bahasa yang digunkan lugas, jelas dan denotatif, tidak mementingkan keindahan karena menekankan pada pentingnya isi yang terkandung. Contoh dari wacana nonfiksi ialah laporan hasil penelitian, naskah bahan kuliah, dan petunjuk penggunaan komputer.
  • 3.
    54 b. wacana fiksi Wacananfiksi berorientasi pada keindahan dan imajinas. Biasanya wacana lebih mengutamakan keindahan (estetika). Wacana fiksi dapat berisi fakta atau kenyataan namun dikemas dalam bentuk dan penyampaian yang indah. Bahasa yang digunakan konotatif, analogis, dan multiinterpretatif. 2. Jenis Wacana Berdasarkan Penyajiannya Jenis wacana berdasarkan penyajiannya yaitu wacana deskriptif, dan naratif. a. Wacana deskriptif Deskripsi adalah suatu wacana yang mengemukakan representasi atau gambaran tentang sesuatu atau seseorang, yang biasanya ditampilkan secara rinci. Wacana deskriptif merupakan hasil pengamatan serta kesan-kesan penulis tentang objek pengamatan tersebut. Dalam deskripsi banyak ditemukan enumerasi atau gambaran bagian per bagian. Dalam jenis wacana ini, susunan sekuen bersifat fakultatif, artinya sampai batas-batas tertentu, susunan dapat dipertukarkan, karena gambaran bersifat permanen dan simultan. Dapat dikatakan bahwa ciri deskripsi adalah hubungan spasial (kesatuan tempat). Ini berarti bahwa detil-detil yang digambarkan mempunyai hubungan satu sama lain, dan tidak
  • 4.
    55 merupakan gambaran yangtercerai-berai. Deskripsi sering dikaitkan dengan bentuk wacana lain. Dalam wacana naratif, sering terdapat deskripsi tempat, orang, benda lain ataupun suasana tertentu. Dengan adanya deskripsi, pembaca lebih mampu membayangkan apa yang diceritakan dan imajinasi pembaca menjadi lebih hidup. Demikian pula dalam wacana argumentatif, wacana ekplikatif dan instruktif sering digunakan deskripsi sebagai cara untuk menjelaskan sesuatu. b. Wacana naratif Wacana naratif adalah wacana yang menggambarkan dan menceritakan sesuatu dan sejelas-jelasnya kepada pembaca tentang urutan peristiwa yang terjadi pada suatu waktu. Unsur terpenting dalam wacana naratid ialah tindakan atau laku perbuatan. Wacana naratif harus memenuhi beberapa kriteria yaitu;  Adanya rangkaian peristiwa Adegan peristiwa dalam wacana harus runtut dan memiliki keterhubungan. Peristiwa disusun dalam fungsinya dari awal hingga menuju suatu situasi akhir.
  • 5.
    56  Adanya kesatuantindakan Suatu cerita menghendaki setidaknya seorang tokoh, yang ditempatkan dalam waktu tertentu. Hal ini dapat menyatukan kriteria a dan b, karena kehadiran tokoh ini memungkinkan adanya suatu kesatuan tindakan.  Adanya suatu proses Sebagaimana telah dikemukakan di atas, perlu adanya kesatuan tindakan dalam cerita. Yang dimaksudkan adalah adanya situasi awal, transformasi dan situasi akhir. Ketiganya dikenal juga dengan nama eksposisi, pengembangan dan peleraian.  Adanya suatu hubungan kausal dalam suatu konflik Dalam suatu cerita yang terpenting ternyata bukanlah hubungan kronologis, melainkan hubungan logis atau hubungan sebab-akibat antarsatuan cerita yang fungsional. Hubungan sebab-akibat inilah yang membentuk kerangka cerita, yang membentuk struktur cerita. Bagi para pengarang pada umumnya, suatu alasan yang dapat ditangkap, menyebabkan adanya suatu tindakan yang pada gilirannya juga menimbulkan tindakan lainnya. Demikian seterusnya hingga cerita selesai.
  • 6.
    57 c. wacana argumentative Wacanaargumentatif bertujuan memengaruhi sikap ataupun pendapat pendengar atau pembaca. Wacana itu berisikan fakta yang disusun demikian rupa sehingga dapat diketahui apakah fakta itu benar atau tidak. Wacanan argumentatif menggunakan logika sebagai alat bantu utama dalam menyelidiki masalah yang dikemukakan, pakah menimbulkan masalah, apa tujuan menyelidiki, apa manfaat dan dampaknya, dan bagaimana cara mengatasinya. 3. Wacana Berdasarkan Saluran Komunikasi a. Wacana tertulis Wacana tertulis disampaikan melalui tulisan. Berbagai bentuk wacanan sebenarnya dapat di wujudkan dalam bentuk tulisan. Sampai sekarang tulisan tampak masih sangat efektif untuk menyampaikan berbagai gagasan, pesan, wawasan, pengetahuan, atau apapun hasil kreativitas manusia. Wacana ini sering dianggap sama dengan teks atau naskah. b. Wacana lisan Wacana lisan adalah wacana yang penyampaiannya dilakukan di media lisan. Untuk memahami wacanan lisan, sang penerima harus menyimak dan mendengarkannya. Wacana lisan
  • 7.
    58 biasanya merujuk padakomunikasi lisan antara dua pihak yang biasanya melibatkan dua orang atau lebih pembicara. 4. Jenis Wacana Berdasarkan Peserta Komunikasi Jenis wacana berdasarkan peserta komunikasi yang ikut berperan didalamnya, wacana dapat dibedakan menjadi wacana monolog, wacana dialog, dan wacana polilog a. Wacana Monolog Wacanan monolog adalah wacana yang dituturkan oleh satu orang. Biasanya wacanan monolog tidak menyediakan waktu bagi respons pendengar ataupun pembacanya. Wacana ini tidak menghendaki adanya respons dari pihak lain. Penuturannya hanya berlangsung satu arah, hanya dari penuturnya saja. Contoh wacanan monolog ialah orasi, ceramah, khotbah dan pidati pembaca berita atau tv dan pembaca puisi. b. Wacana Dialog Wacana dialog adalah wacanan dua arah yang didalamnya terdapat timbal balik antara penutur dan penerima pesan. Secara begantian mereka berperan sebagai pengirim dan penerima. Wacana dialog dapat berupa pembicaran telepon, tanya jawab, wawancara dan lain sebagainya.
  • 8.
    59 c. Wacana Poilog Wacanapolilog adalah wacana yang dibentuk oleh lebih dari dua orang penutur. Wacana polilog terjadi biasanya pada saat diskusi mahasiswa, pada saat bermain drama, atau saat ngobrol santai. 5. Jenis Wacana Berdasarkan Bahasa yang Digunakan Jenis bahasa yang digunakan, wacanan dapat diklasifikasikan menjadi : 1) wacana bahasa nasional (indonesia); 2) wacana bahasa lokal atau daerah (bahasa jawa, bali, sunda, madura, dsb); 3) wacana bahasa internasional (bahasa inggris); dan 4) wacana bahasa lainnya, seperti bahasa belanda, jeman, perancis, dan sebagainya. D. Proses Menulis Wacana 1. Unsur-unsur Wacana Wacana memiliki dua unsur utama, yaitu unsur dalam (internal dan unsur luar (eksternal). Unsur internal berkaitan dengan aspek formal kebahasaan, sedangkan unsur eksternal berkenaan dengan hal-hal diluar wacana itu sendiri. Kedua unsur tersebut membentuk satu kepaduan dalam suatu struktur yang utuh dan lengkap. 2. Syarat Terbentuknya Wacana
  • 9.
    60 Penggunaan bahasa dapatberupa rangkaian kalimat atau rangkaian ujaran, meskipun sebuah wacana dapat berupa satu kalimat atau satu ujaran. Wacana yang berupa rangkaian kalimat atau ujaran harus mempertimbangkan prinsip penulisan wacana. prinsip penulisan wacana yaitu prinsip keutuhan (unity) dan kepaduan (coherent). 3. Proses Penulisan Wacana Menulis merupakan proses kreatif. Untuk membuat tulisan diperlukan beberapa rangkaian proses yang harus dilewati. Menulis wacana terbagi dalam 2 tahapan. Tahapan tersebut meliputi : a. Prapenulisan Menulis wacana bukanlah suatu hal yang mudah. Kita tidak bisa begitu saja menuangkan isi pemikiran mengenai suatu hal yang belum kita ketahui pasti isinya. Sebelum menulis wacana ada beberapa langkah yang sebaiknya dilakukan untuk mempermudah proses penulisan wacana. Langkah-langkah tersebut disebut tahap prapenulisan wacana yang terdiri dari : 1) Menentukan topik atau judul, masalah, tujuan, dan kalimat tesis, 2) Menyusun regangan (garis besar isi dan menyempurnakannya menjadi kerangka karangan lengkap setelah datanya lengkap), 3) Menetapkan landasan teoritis,
  • 10.
    61 4) Menetapkan sumberdata (primer, sekunder) dan cara mengumpulkannya, 5) Menetapkan metode pembahasan, 6) Menyusun daftar pustaka sementara, dan 7) Menjadwalkan pelaksanaannya. b. Penulisan Dalam tahapan penulisan wacana penulis tinggal menuangkan hasil dari tahapan prapenulisan. Tahapan penulisan terdiri dari : 1) Menulis keseluruhan naskah secara konseptual, disertai kutipan atau data yang diperlukan; 2) Penyuntingan : dilakukan untuk memperbaiki naskah materi dan penggunaan bahasa; 3) Penulisan naskah yang sudah sempurna tanpa kesalahan.