OLEH KELOMPOK III :
 ADRIANUS PANDONG
 AISYAH
 IYAN TOMIA
 IRMAWATI
 NUZULYA RAHMADHANI
 RUSDIN
 SRI NALA
 YOVITA SELA PARUBANG
 YULIKE SARIMANELLA
S1 Keperawatan
STIKES GRAHA EDUKASI MAKASSAR
2014
Asuhan Keperawatan Mastoiditis Page 2
KATA PENGANTAR
Segala Puji dan Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha
Esa karena atas berkat dan pertolongan-Nya, kami dapat menyelesaikan
makalah ini tepat pada waktunya.
Makalah ini berisi tentang konsep medis dan konsep keperawatan dari
Sistem Persepsi Sensori.Makalah ini menjelaskan secara terperinci tentang
Mastoiditis.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan
untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun dari pembaca demi penyempurnaan makalah ini kedepan.
Harapan kami semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua
khususnya kita selaku Mahasiswa Keperawatan.
Makassar, Maret 2014
Penyusun
Asuhan Keperawatan Mastoiditis Page 3
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ............................................................................................................................ 2
Daftar Isi...................................................................................................................................... 3
Bab I Pendahuluan........................................................................................................................ 4
Bab II Tinjauan Pustaka ................................................................................................................ 6
Bab III Penutup............................................................................................................................21
Daftar Pustaka.............................................................................................................................22
Asuhan Keperawatan Mastoiditis Page 4
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Telinga merupakan salah satu dari kelima alat indera manusia.
Gangguan yang terjadi pada organ ini dapat berakibat buruk bagi si penderita, yaitu
ia tidak dapat melakukan kegiatan mendengar secara optimal. Beberapa diantara
gangguan tersebut adalah otitis media baik itu otitis media akut (OMA) maupun otitis
media kronis(OMK) dan juga mastoiditis. Selain itu, terdapat satu gangguan lagi
pada telinga yaitu mastoiditis. Mastoiditis adalah inflamasi mastoid yang diakibatkan
oleh suatu infeksi pada telinga tengah, jika tak diobati dapat terjadi osteomyelitis
(Smeltzer, 2001).
Berdasarkan survey yang dilakukan oleh WHO, diperkirakan sekitar 90%
manusia pernah mengalami setidaknya satu episode otitis media sebelum umur
2 tahun dan puncak insidens kedua adalah tahun pertama sekolah dasar (Healy,
1996; Paparella et al,1997). Di Indonesia, berdasarkan survei
Departemen Kesehatan tahun 1996 7 propinsi di Indonesia, ditemukan insiden OM
(atau yang dikenal orang awam sebagai“congek” atau “curikan”) sebesar 3% dari
penduduk Indonesia. Penduduk Indonesiasaat itu berjumlah 220
juta, dengan demikian diperkirakan terdapat 6,6 juta penderita OM (Surheyanto,
2000). Insidens otitis media pada anak-anak di Indonesia berbeda-beda,
disimpulkan rata-rata 14-62 %.
Gangguan pada telinga bagian tengah bukan termasuk hal yang kecil.
Kurangnya kebersihan dan penanganan yang salah dapat menjadikan gangguan
tersebut bertambah parah dan telinga kehilangan fungsinya. Oleh karena itu, perlu
dilakukan usaha preventif dan penanganan yang tepat terhadap gangguan-
gangguan tersebut.
B. Tujuan
a. Mengetahui pengertian
b. Mengetahui etiologi
c. Mempelajari patofisiologi
d. Mengetahui manifestasi klinik
Asuhan Keperawatan Mastoiditis Page 5
e. Mengetahui pemeriksaan penunjang
f. Mengetahui bagaimana Asuhan Keperawatan
1) Melakukan pengkajian
2) Menentukan masalah keperawatan
3) Merencanakan Asuhan keperawatan
4) Pelaksanaan tindakan keperawatan sesuai perencanaan
5) Melakukan evaluasi keperawatan
Asuhan Keperawatan Mastoiditis Page 6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
KONSEP MEDIS
A. Pengertian
Mastoiditis adalah segala proses peradangan pada sel- sel mastoid yang
terletak pada tulang temporal. Mastoiditis terjadi karena Streptococcus ß hemoliticus
/ pneumococcus. Selain itu kurang dalam menjaga kebersihan pada telinga seperti
masuknya air ke dalam telinga serta bakteri yang masuk dan bersarang yang dapat
menyebabkan infeksi traktus respiratorius. Pada pemeriksaan telinga akan
menunjukkan bahwa terdapat pus yang berbau busuk akibat infeksi traktus
respiratorius.
Mastoiditis adalah inflamasi mastoid yang diakibatkan oleh suatu infeksi pada
telinga tengah, jika tak diobati dapat terjadi osteomielitis ( Kep.Medikal-Bedah : 348)
B. Etiologi
Mastoiditis terjadi karena Streptococcus ß hemoliticus / pneumococcus. Selain
itu kurang dalam menjaga kebersihan pada telinga seperti masuknya air ke dalam
telinga serta bakteri yang masuk dan bersarang yang dapat menyebabkan infeksi
traktus respiratorius. Pada pemeriksaan telinga akan menunjukkan bahwa terdapat
pus yang berbau busuk akibat infeksi traktus respiratorius. Mastoiditis merupakan
hasil dari infeksi yang lama pada telinga tengah, bakteri yang didapat pada
mastoiditis biasanya sama dengan bakteri yang didapat pada infeksi telinga tengah.
Bakteri gram negative dan streptococcus aureus adalah beberapa bakteri yang
paling sering didapatkan pada infeksi ini. Seperti telah disebutkan diatas, bahwa
keadaan-keadaan yang menyebabkan penurunan dari system imunologi dari
seseorang juga dapat menjadi faktor predisposisi mastoiditis. Pada
beberapa penelitian terakhir, hampir sebagian dari anak-anak yang menderita
mastoiditis, tidak memiliki penyakit infeksi telinga tengah sebelumnya. Bakteri yang
berperan pada penderita anak-anak ini adalah S. Pnemonieae.
Mastoiditis kronik lebih sering, dan beberapa ahli mengatakan infeksi kronik ini
dapat mengakibatkan pembentukan kolesteatoma, yang merupakan pertumbuhan
Asuhan Keperawatan Mastoiditis Page 7
kulit ke dalam (epitel skuamosa) dari lapisan luar membran timpani ke telinga
tengah. Kulit dari membran timpani lateral membentuk kantong luar, yang akan
berisi kulit yang telah rusak dan bahan sebaseus. Kantong dapat melekat ke struktur
telinga tengah dan mastoid.
C. Patofisiologi
Mastoiditis adalah hasil dari infeksi yang lama pada telinga tengah, bakteri
yang didapat pada mastoiditis biasanya sama dengan bakteri yang didapat pada
infeksi telinga tengah. streptococcus aureus adalah beberapa bakteri yang paling
sering didapatkan pada infeksi ini. Seperti telah disebutkan diatas, bahwa keadaan-
keadaan yang menyebabkan penurunan dari system imunologi dari seseorang juga
dapat menjadi faktor predisposisi mastoiditis. Seperti semua penyakit infeksi,
beberapa hal yang mempengaruhi berat dan ringannya penyakit adalah faktor tubuh
penderita dan faktor dari bakteri itu sendiri. Dapat dilihat dari angka kejadian anak-
anak yang biasanya berumur di bawah dua tahun, pada usia inilah imunitas belum
baik. Beberapa faktor lainnya seperti bentuk tulang, dan jarak antar organ juga dapat
menyebabkan timbulnya penyakit. Faktor-faktor dari bakteri sendiri adalah, lapisan
pelindung pada dinding bakteri, pertahanan terhadap antibiotic dan kekuatan
penetrasi bakteri terhadap jaringan keras dan lunak dapat berperan pada berat dan
ringannya penyakit.
Menurut Iskandar, H. Nurbaiti,dkk, (1997) Keradangan pada mukosa kavum
timpani pada otitis media supuratif akut dapat menjalar ke mukosa antrum mastroid.
Bila terjadi gangguan pengaliran sekret melalui aditus ad antrum dan epitimpanum
menimbulkan penumpukan sekret di antrum sehingga terjadi empiema dan
menyebabkan kerusakan pada sel – sel mastoid.
Timbul dari infeksi yang berulang dari Otitis Media Akut.
Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya infeksi berulang.
1. Eksogen : infeksi dari luar melalui perforasi membran timpani.
2.Rinogen : dari penyakit rongga hidung dan sekitarnya.
3. Endogen : alergi, DM, TBC paru.
D. Manifestasi Klinis
Asuhan Keperawatan Mastoiditis Page 8
1. Febris/subfebris
2. Nyeri pada telinga
3. Hilangnya sensasi pendengaran
4. Bahkan kadang timbul suara berdenging pada satu sisi telinga (dapat juga
pada sisi telinga yang lainnya)
5. Kemerahan pada kompleks mastoid
6. Keluarnya cairan baik bening maupun berupa lender
E. Penatalaksanaan
Pengobatan radang mastoid dengan antibiotic intravena
seperti pennisilin,cefriaxone (rhocepin), dan metronidazole (flogil)
selama 14 hari.
1. Jika pasien tidak membaik dengan antibiotic maka dilakukan
operasimastoidektomy. Tindakan ini untuk menghilangkan sel–sel
tulang mastoid yang terinfeksi dan untuk mengalirkan nanah. Beberapa
struktur telinga bagian tengah (inkus dan maleus) mungkin perlu
dipotong.
2. Tympanoplasty yang merupakan pembedahan rekonstruksi telinga
bagian tengah untuk memelihara pendengaran
Pemeriksaan Diagnostik Mastoiditis
a. CT scan
Mendiagnosis kelainan telinga tengah, mastoid dan telinga dalam. Biasanya
memperlihatkan penebalan mukosa dalam rongga telinga tengah di samping dalam
rongga mastoid.
b. Pemeriksaan radiologis
Mengetahui adanya apasifikasi sel-sel udara mastoid oleh cairan dan hilangnya
trabekulasi normal dan sel-sel tersebut.
Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Darah
2. Foto Mastoid
3. Kultur Bakteri Telinga
4. MRI
5. CT Scant
6. Radiologi
Asuhan Keperawatan Mastoiditis Page 9
7. Tympanocintesis & myringotomi
F. Komplikasi
Komplikasi mastoiditis meliputi kerusakan di abducens dan syaraf-syaraf
kranial wajah (syaraf-syaraf kranial VI dan VII), menurunnya kemampuan klien untuk
melihat ke arah samping/lateral (syaraf kranial VI) dan menyebabkan mulut
mencong, seolah-olah ke samping (syaraf kranial VII). Komplikasi-komplikasi lain
meliputi vertigo, meningitis, abses otak, otitis media purulen yang kronis dan luka
infeksi (Thane, 1993).
G. Pencegahan
Menjaga kebersihan telinga agar tetap bersih
Asuhan Keperawatan Mastoiditis Page 10
H. Penyimpangan KDM
Invasi agen – agen penyebap inveksi
(Bakteri)
Iritasi pada mastoid
Pengeluaransekretberlebihan
Ansietas
Proses peradangan
Pengeluaran mediator kimia
(Histamin, serotonin, prostaglandin
dan bradikinin)
Impuls disampaikan ke
talamus
Kurang pengetahuan tentang
penyakitnya
Perubahan status
kesehatan
Resiko tinggi cedera
Penurunan pendengaran
Menghalangi proses
pendengaran
Nyeri
Di teruskan ke
korteks serebri
Keterbatasan
Pendengaran
Menyerang Mastoid
Merupakan stresor
psikologis
Asuhan Keperawatan Mastoiditis Page 11
Konsep Keperawatan
1. Pengkajian
a. Pengumpulan data
1) Data Demografi
Biodata
- Nama :
- Usia :
- Jenis kelamin :
- Alamat :
- Suku / bangsa :
- Status pernikahan :
- Agama / keyakinan :
- Pekerjaan :
2) Riwayat Kesehatan
a) Riwayat kesehatan sekarang
- Keluhan Utama
- Riwayat Keluhan Utama
b) Riwayat kesehatan lalu
- Apakah ada riwayat alergi terjadap makanan dan obat - obatan.
- Apakah Klien pernah mengkonsumsi minuman beralkohol dan
apakah klien merokok.
c) Riwayat kesehatan keluarga
- Apakah ada anggota keluarga yang mengalami penyakit yang
sama.
3) Pemeriksaan fisik
a) Keadaan umum klien : Baik atau tidak
Kesadaran :
Tanda-tanda vital :
Suhu : (N:36,5-37,5˚C)
Nadi : (N: 60-100x/menit)
Pernafasan : (N: 16-24 x/menit)
Tekanan darah : (N: 110-120/70-80)
b) Sistem pernapasan
Asuhan Keperawatan Mastoiditis Page 12
Bentuk hidung simetris atau asimetris, ada atau tidak terdapat
sekret, mukosa hidung kering atau lembab, tidak atau ada nyeri
tekan pada hidung, tidak atau ada pernapasan cuping hidung,
bentuk leher simetris atau asimetris, ada atau tidak ada benjolan
atau massa, bentuk dada simetris atau asimetris, frekuensi
pernapasan, ada atau tidak terdengar suara napas tambahan, ada
atau tidak ada retraksi otot - otot dada.
c) Sistem kardiovaskuler
Bunyi jantung, perkusi jantung, palpasi denyut nadi, tekanan darah,
ada atau tidak ada pembesaran area jantung.
d) Sistem pencernaan
Bentuk lembap atau tidak, ada atau tidak ada stomatitis, jumlah gigi
lengkap (32), lidah bebas bergerak atau tidak, refleks menelan baik
atau buruk, ada atau tidak ada nyeri tekan pada abdomen, tidak
teraba pembesaran hepar dan lien.
e) Sistem indra
Mata
- Warna konjungtiva
- Tidak atau ada sekret
- Lapang pandang bebas
- Tidak terdapat udema pada kelopak mata
Hidung
- Mampu membedakan berbagai macam aroma atau tidak
- Tidak atau ada sekret.
Telinga
- Telinga tampak kotor, terdapat nyeri tekan, terdapat
pembengkakan di belakang telinga, terdapat sekret, daun
telinga tampak merah, memakai alat bantu dengar .
f) Sistem saraf
- Nervus I (olvactorius) : Fungsi penciuman baik atau tidak
- Nervus II ( Optikus ) : Fungsi penglihatan baik atau tidak
- Nervus III, IV, VI (Okulomotorius, troklearis, abdusen )
: fungsi kontraksi terhadap
cahaya baik atau tidak
Asuhan Keperawatan Mastoiditis Page 13
- Nervus V (Trigeminus) : dapat merasakan usapan atau tidak
- Nervus VII (fasialis) : mampu merasakan rasa asin,
manis dan pahit atau mati rasa
- Nervus VIII (Auditorius) : mendengar jelas, kurang atau tidak
terdengar
- Nervus IX (Glasofaringeus): Mampu menelan atau tidak
- Nervus X (Vagus) : Mampu bersuara atau tidak
- Nervus XI (Assesorius) : Mampu menoleh dan
mengangkat bahu atau tidak
- Nervus XII (Hipoglosus) : Mampu menggerakan lidah atau
tidak
g) Sistem muskuloskeletal
- Ekstremitas Atas
Bentuk simetris atau asimetris kiri dan kanan, pergerakan bebas
atau tidak
- Ekstremitas Bawah
Bentuk simetris atau asimetris kiri dan kanan, pergerakan
bebas atau tidak
h) Sistem integumen
Warna rambut, penyebaran merata, bersih atau tidak, tidak mudah
rontok, ada atau tidak ada nyeri tekan, kuku bersih atau kotor, suhu
tubuh
i) Sistem endokrin
Ada atau tidaknya pembesaran kelenjar getah bening, ginjal tidak
teraba atau teraba
j) Sistem perkemihan
Teraba atau tidak adanya pembesaran ginjal, ada atau tidaknya
distensi kandung kemih.
4) Aktivitas Sehari-Hari (ADL)
a) Nutrisi
Pola makan teratur atau tidak, frekuensi dalam sehari
Cairan
Klien mengonsumsi air putih sebanyak berapa gelas/hari.
b) Eliminasi ( BAB & BAK )
Asuhan Keperawatan Mastoiditis Page 14
c) Istirahat Tidur
Klien cepat tidur dan rutin atau tidak
d) Olahraga
Olahraga yang sering dilakukan
e) Rokok / alkohol dan obat-obatan
f) Personal hygiene
Klien mandi teratur atau tidak, gosok gigi setiap kali mandi dan
keramas atau tidak
5) Data psikososial
- Klien hidup rukun dengan sesama anggota masyarakat di
lingkunganya dan saling membutuhkan satu sama yang lain atau
tidak
6) Data psikologis
Klien tampak cemas, gelisah dan ekspresi wajah meringis atau tidak.
Klien sering menanyakan tentang penyakitnya atau tidak
7) Data spritual
Apakah taat beragama atau tidak
2. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut (00132) berhubungan dengan peradangan, agens-agens
penyebab cedera fisik
2. Gangguan persepsi sensori : pendengaran berkurang berhubungan
dengan kerusakan pendengaran, perubahan resepsi, transmisi,
dan/atau integrasi sensori
3. Ansietas (00146) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan
tentang penyakitnya, perubahan pada status kesehatan
Asuhan Keperawatan Mastoiditis Page 15
3. Intervensi Keperawatan
No. Diagnosa Tujuan & Kriteria
Hasil
Intervensi Rasional
1. Nyeri akut (00132)
Defenisi :
Pengalaman sensori
dan emosi yang
tidak menyenangkan
akibat adanya
kerusakan jaringan
yang aktual atau
potensial, atau
digambarkan
dengan istilah
seperti (International
Association for the
Study of Pain);
awitan yang tiba-tiba
atau perlahan
dengan intensitas
ringan sampai berat
dengan akhir yang
dapat diantisipasi
atau dapat
diramalkan dan
durasinya kurang
dari enam bulan
Faktor yang
berhubungan :
Agens-agens
penyebab cedera
Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan
selama 3x24 jam
nyeri pada klien
berkurang
Kriteria Hasil :
Klien
mengatakan
nyeri berkurang
 Ekspresi
wajah
tenang
1. Kaji nyeri yang
komprehensif
meliputi lokasi,
karakteristik,
awitan dan
durasi,
frekuensi,
kualitas,
intensitas atau
keparahan
nyeri, dan
faktor
presipitasinya
2. Anjurkan
pasien untuk
melakukan
tindakan
kenyamanan
yang efektif
seperti :
distraksi,
relaksasi, atau
kompres
hangat/dingin
Lakukan
perubahan
posisi
Bantu pasien
1. Dapat
membantu
dalam
menentuk
an
intervensi
selanjutny
a
2. Bisa
menguran
gi nyeri
yang
diderita
klien.
Asuhan Keperawatan Mastoiditis Page 16
fisik
Batasan
Karakteristik :
 Klien
mengungkapk
an secara
verbal nyeri
yang
dirasakan
 Perilaku
ekspresif :
gelisah dan
merintih
 Perilaku
menjaga atau
sikap
melindungi
untuk lebih
berfokus pada
aktivitas, bukan
pada nyeri dan
rasa tidak
nyaman
dengan
melakukan
pengalihan
melalui televisi,
radio, tape, dan
interaksi dngan
pengunjung
3. Berikan
informasi
tentang nyeri,
seperti
penyebab nyeri,
berapa lama
akan
berlangsung,
dan antisipasi
ketidaknyaman
an akibat
prosedur.
4. Kolaborasi :
berikan obat
anti nyeri
(analgetik)
3. Agar klien
dan
keluarga
mengerti
dengan
nyeri yang
dialami
oleh klien
4. Pereda
nyeri yang
efektif
pada
pasien
Asuhan Keperawatan Mastoiditis Page 17
untuk
menguran
gi sensasi
nyeri dari
dalam.
Asuhan Keperawatan Mastoiditis Page 18
2. Gangguan persepsi
sensori :
pendengaran
Defenisi :
Perubahan pada
jumlah atau pola
stimulus yang
diterima, yang
desertai respons
terhadap stimulus
tersebut yang
dihilangkan,
dilebihkan,
disimpangkan, atau
dirusakkan.
Faktor yang
berhubungan :
kerusakan
pendengaran,
perubahan resepsi,
transmisi, dan/atau
integrasi sensori
Batasan Karakteristik
:
 Perubahan
respons yang
biasanya
terhadap
stimulus
 Perubahan
pola perilaku
Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan
selama 3x24 jam
gangguan
persepsi sensori :
pendengaran
dapat teratasi
Kriteria Hasil :
 Respons
terhadap
stimulus
baik
 Pasien
menerima
dan
mengatasi
sesuai
dengan
keterbatas
an
penglihata
n
1. Kaji faktor yang
menimbulkan
Gangguan
persepsi
sensori, seperti
: medikasi
2. Tingkatkan
jumlah stimulus
misalnya
sediakan radio
3. Ajarkan pasien
bahwa suara
dapat dirasakan
berbeda dengan
penggunaan
alat bantu
dengar
4. Mulai perujukan
terapi okupasi
1. Untuk
mengetah
ui
penyebab
timbulnya
gangguan
2. untuk
mencapai
input sensori
yang sesuai
3. membantu
pasien untuk
dapat
mendengar
4.
Asuhan Keperawatan Mastoiditis Page 19
3. Ansietas (00146)
Defenisi :
Perasaan tidak nyaman
atau kekhawatiran yang
samar disertai respons
autonom (sumber
sering kali tidak spesifik
atau tidak diketahui oleh
individu); perasaan
takut yang disebabkan
oleh antisipasi terhadap
bahaya. Perasaan ini
merupakan asyarat
kewaspadaan yang
memperingatkan
bahaya yang akan
terjadi dan
memampukan individu
melakukan tindakan
untuk menghadapi
ancaman.
Faktor yang
berhubungan :
Perubahan pada status
kesehatan
Batasan Karakteristik :
 Mengekspresikan
kekhawatiran
akibat perubahan
dalam peristiwa
hidup
 Gelisah
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selama 3x24 jam
ansietas klien
dapat teratasi
Kriteria Hasil :
 Klien tidak
gelisah
 Ekspresi
wajah
tenang
1.Kaji dan
dokumentasikan
tingkat kecemasan
pasien, termasuk
reaksi fisik, setiap 2
jam.
2. Bantu pasien untuk
mengidentifikasi
situasi yang
mencetuskan
ansietas
3. instruksikan pasien
tentang penggunaan
teknik relaksasi
4. berikan obat untuk
menurunkan ansietas
1.untuk
mengetahui
tingkat
kecemasan klien
2. mengetahui
pencetus
ansietas
3.Mengurangi
tingkat
kecemasan
4. mengurangi
ansietas
Asuhan Keperawatan Mastoiditis Page 20
4. Implementasi
Implementasi disesuaikan dengan intervensi/tindakan yang ada.
5. Evaluasi
1. Dx 1 : Nyeri akut (00132) berhubungan dengan peradangan, agens-agens
penyebab cedera fisik
o Klien mengatakan nyeri berkurang
o Ekspresi wajah tenang
2. Dx 2 : Gangguan persepsi sensori : pendengaran berkurang berhubungan
dengan kerusakan pendengaran, perubahan resepsi, transmisi, dan/atau
integrasi sensori
 Respons terhadap stimulus baik
 Pasien menerima dan mengatasi sesuai dengan keterbatasan
penglihatan
3. Dx 3 : Ansietas (00146) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan
tentang penyakitnya, perubahan pada status kesehatan
 Klien tidak gelisah
 Wajah klien tenang
Asuhan Keperawatan Mastoiditis Page 21
BAB III
PENUTUP
a. Kesimpulan
Mastoiditis adalah sel-sel udara mastoid sering kali terlibat, menimbulkan
peradangan dan nekrosis tulang yang terlokalisasi dan ekstensif (osteomyelitis)
Mastoiditis diakibatkan oleh menyebarnya infeksi dari telinga bagian
tengah, infeksi dan nanah mengumpul di sel-sel udara mastoid. Mastoiditis kronik
dapat mengakibatkan pembentukan kolesteatoma, yang merupakan pertumbuhan
kulit ke dalam (epitel skuamosa) dari lapisan luar membran timpani ke tengah.
Mastoiditis dibagi menjadi 2 macam, yaitu bentuk jinak (benigna) dan bentuk ganas
(maligna)
Mastoiditis terjadi sebagai komplikasi otitis media akut yang telah diobati
secara tidak memadai dan merupakan perluasan infeksi ke dalam sistem sel udara
mastoid yang berisi udara dengan osteoporosis hiperemik
b. Saran
Penulis menghimbau kepada semua pembaca pada umumnya dan
mahasiswa S1 keperawatan pada khususnya agar selalu menjaga kebersihan
telinga dari virus agar kuman, sebaliknya apabila seorang terkena otitis harus diobati
secara tuntas agar tidak terjadi infeksi pada prosesus mastoiditis yang dapat
komplikasi yang lebih parah.
Asuhan Keperawatan Mastoiditis Page 22
DAFTAR PUSTAKA
Katumbu, 2012, Askep mastoiditis, 4 Maret 2014
(file:///D:/materi%20kuliah/semester%20IV/kelompok%203/data%20masto
iditis/ASKEP%20MASTOIDITIS%20%20%20KATUMBU.htm)
Yudiarpandi, 2011, Asuhan keperawatan dengan klien mastoiditis, 4
Maret 2014
(file:///D:/materi%20kuliah/semester%20IV/kelompok%203/data%20masto
iditis/Yudi%20Arpandi%20%20ASUHAN%20KEPERAWATAN%20PADA
%20KLIEN%20DENGAN%20MASTOIDITIS.htm)
Anonim, 2014, Mastoiditis, 4 Maret 2014
(file:///D:/materi%20kuliah/semester%20IV/kelompok%203/data%20masto
iditis/ASUHAN%20KEPERAWATAN%20%20Mastoiditis.htm)

Askep Mastoiditis

  • 1.
    OLEH KELOMPOK III:  ADRIANUS PANDONG  AISYAH  IYAN TOMIA  IRMAWATI  NUZULYA RAHMADHANI  RUSDIN  SRI NALA  YOVITA SELA PARUBANG  YULIKE SARIMANELLA S1 Keperawatan STIKES GRAHA EDUKASI MAKASSAR 2014
  • 2.
    Asuhan Keperawatan MastoiditisPage 2 KATA PENGANTAR Segala Puji dan Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan pertolongan-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini berisi tentang konsep medis dan konsep keperawatan dari Sistem Persepsi Sensori.Makalah ini menjelaskan secara terperinci tentang Mastoiditis. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca demi penyempurnaan makalah ini kedepan. Harapan kami semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya kita selaku Mahasiswa Keperawatan. Makassar, Maret 2014 Penyusun
  • 3.
    Asuhan Keperawatan MastoiditisPage 3 DAFTAR ISI Kata Pengantar ............................................................................................................................ 2 Daftar Isi...................................................................................................................................... 3 Bab I Pendahuluan........................................................................................................................ 4 Bab II Tinjauan Pustaka ................................................................................................................ 6 Bab III Penutup............................................................................................................................21 Daftar Pustaka.............................................................................................................................22
  • 4.
    Asuhan Keperawatan MastoiditisPage 4 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Telinga merupakan salah satu dari kelima alat indera manusia. Gangguan yang terjadi pada organ ini dapat berakibat buruk bagi si penderita, yaitu ia tidak dapat melakukan kegiatan mendengar secara optimal. Beberapa diantara gangguan tersebut adalah otitis media baik itu otitis media akut (OMA) maupun otitis media kronis(OMK) dan juga mastoiditis. Selain itu, terdapat satu gangguan lagi pada telinga yaitu mastoiditis. Mastoiditis adalah inflamasi mastoid yang diakibatkan oleh suatu infeksi pada telinga tengah, jika tak diobati dapat terjadi osteomyelitis (Smeltzer, 2001). Berdasarkan survey yang dilakukan oleh WHO, diperkirakan sekitar 90% manusia pernah mengalami setidaknya satu episode otitis media sebelum umur 2 tahun dan puncak insidens kedua adalah tahun pertama sekolah dasar (Healy, 1996; Paparella et al,1997). Di Indonesia, berdasarkan survei Departemen Kesehatan tahun 1996 7 propinsi di Indonesia, ditemukan insiden OM (atau yang dikenal orang awam sebagai“congek” atau “curikan”) sebesar 3% dari penduduk Indonesia. Penduduk Indonesiasaat itu berjumlah 220 juta, dengan demikian diperkirakan terdapat 6,6 juta penderita OM (Surheyanto, 2000). Insidens otitis media pada anak-anak di Indonesia berbeda-beda, disimpulkan rata-rata 14-62 %. Gangguan pada telinga bagian tengah bukan termasuk hal yang kecil. Kurangnya kebersihan dan penanganan yang salah dapat menjadikan gangguan tersebut bertambah parah dan telinga kehilangan fungsinya. Oleh karena itu, perlu dilakukan usaha preventif dan penanganan yang tepat terhadap gangguan- gangguan tersebut. B. Tujuan a. Mengetahui pengertian b. Mengetahui etiologi c. Mempelajari patofisiologi d. Mengetahui manifestasi klinik
  • 5.
    Asuhan Keperawatan MastoiditisPage 5 e. Mengetahui pemeriksaan penunjang f. Mengetahui bagaimana Asuhan Keperawatan 1) Melakukan pengkajian 2) Menentukan masalah keperawatan 3) Merencanakan Asuhan keperawatan 4) Pelaksanaan tindakan keperawatan sesuai perencanaan 5) Melakukan evaluasi keperawatan
  • 6.
    Asuhan Keperawatan MastoiditisPage 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA KONSEP MEDIS A. Pengertian Mastoiditis adalah segala proses peradangan pada sel- sel mastoid yang terletak pada tulang temporal. Mastoiditis terjadi karena Streptococcus ß hemoliticus / pneumococcus. Selain itu kurang dalam menjaga kebersihan pada telinga seperti masuknya air ke dalam telinga serta bakteri yang masuk dan bersarang yang dapat menyebabkan infeksi traktus respiratorius. Pada pemeriksaan telinga akan menunjukkan bahwa terdapat pus yang berbau busuk akibat infeksi traktus respiratorius. Mastoiditis adalah inflamasi mastoid yang diakibatkan oleh suatu infeksi pada telinga tengah, jika tak diobati dapat terjadi osteomielitis ( Kep.Medikal-Bedah : 348) B. Etiologi Mastoiditis terjadi karena Streptococcus ß hemoliticus / pneumococcus. Selain itu kurang dalam menjaga kebersihan pada telinga seperti masuknya air ke dalam telinga serta bakteri yang masuk dan bersarang yang dapat menyebabkan infeksi traktus respiratorius. Pada pemeriksaan telinga akan menunjukkan bahwa terdapat pus yang berbau busuk akibat infeksi traktus respiratorius. Mastoiditis merupakan hasil dari infeksi yang lama pada telinga tengah, bakteri yang didapat pada mastoiditis biasanya sama dengan bakteri yang didapat pada infeksi telinga tengah. Bakteri gram negative dan streptococcus aureus adalah beberapa bakteri yang paling sering didapatkan pada infeksi ini. Seperti telah disebutkan diatas, bahwa keadaan-keadaan yang menyebabkan penurunan dari system imunologi dari seseorang juga dapat menjadi faktor predisposisi mastoiditis. Pada beberapa penelitian terakhir, hampir sebagian dari anak-anak yang menderita mastoiditis, tidak memiliki penyakit infeksi telinga tengah sebelumnya. Bakteri yang berperan pada penderita anak-anak ini adalah S. Pnemonieae. Mastoiditis kronik lebih sering, dan beberapa ahli mengatakan infeksi kronik ini dapat mengakibatkan pembentukan kolesteatoma, yang merupakan pertumbuhan
  • 7.
    Asuhan Keperawatan MastoiditisPage 7 kulit ke dalam (epitel skuamosa) dari lapisan luar membran timpani ke telinga tengah. Kulit dari membran timpani lateral membentuk kantong luar, yang akan berisi kulit yang telah rusak dan bahan sebaseus. Kantong dapat melekat ke struktur telinga tengah dan mastoid. C. Patofisiologi Mastoiditis adalah hasil dari infeksi yang lama pada telinga tengah, bakteri yang didapat pada mastoiditis biasanya sama dengan bakteri yang didapat pada infeksi telinga tengah. streptococcus aureus adalah beberapa bakteri yang paling sering didapatkan pada infeksi ini. Seperti telah disebutkan diatas, bahwa keadaan- keadaan yang menyebabkan penurunan dari system imunologi dari seseorang juga dapat menjadi faktor predisposisi mastoiditis. Seperti semua penyakit infeksi, beberapa hal yang mempengaruhi berat dan ringannya penyakit adalah faktor tubuh penderita dan faktor dari bakteri itu sendiri. Dapat dilihat dari angka kejadian anak- anak yang biasanya berumur di bawah dua tahun, pada usia inilah imunitas belum baik. Beberapa faktor lainnya seperti bentuk tulang, dan jarak antar organ juga dapat menyebabkan timbulnya penyakit. Faktor-faktor dari bakteri sendiri adalah, lapisan pelindung pada dinding bakteri, pertahanan terhadap antibiotic dan kekuatan penetrasi bakteri terhadap jaringan keras dan lunak dapat berperan pada berat dan ringannya penyakit. Menurut Iskandar, H. Nurbaiti,dkk, (1997) Keradangan pada mukosa kavum timpani pada otitis media supuratif akut dapat menjalar ke mukosa antrum mastroid. Bila terjadi gangguan pengaliran sekret melalui aditus ad antrum dan epitimpanum menimbulkan penumpukan sekret di antrum sehingga terjadi empiema dan menyebabkan kerusakan pada sel – sel mastoid. Timbul dari infeksi yang berulang dari Otitis Media Akut. Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya infeksi berulang. 1. Eksogen : infeksi dari luar melalui perforasi membran timpani. 2.Rinogen : dari penyakit rongga hidung dan sekitarnya. 3. Endogen : alergi, DM, TBC paru. D. Manifestasi Klinis
  • 8.
    Asuhan Keperawatan MastoiditisPage 8 1. Febris/subfebris 2. Nyeri pada telinga 3. Hilangnya sensasi pendengaran 4. Bahkan kadang timbul suara berdenging pada satu sisi telinga (dapat juga pada sisi telinga yang lainnya) 5. Kemerahan pada kompleks mastoid 6. Keluarnya cairan baik bening maupun berupa lender E. Penatalaksanaan Pengobatan radang mastoid dengan antibiotic intravena seperti pennisilin,cefriaxone (rhocepin), dan metronidazole (flogil) selama 14 hari. 1. Jika pasien tidak membaik dengan antibiotic maka dilakukan operasimastoidektomy. Tindakan ini untuk menghilangkan sel–sel tulang mastoid yang terinfeksi dan untuk mengalirkan nanah. Beberapa struktur telinga bagian tengah (inkus dan maleus) mungkin perlu dipotong. 2. Tympanoplasty yang merupakan pembedahan rekonstruksi telinga bagian tengah untuk memelihara pendengaran Pemeriksaan Diagnostik Mastoiditis a. CT scan Mendiagnosis kelainan telinga tengah, mastoid dan telinga dalam. Biasanya memperlihatkan penebalan mukosa dalam rongga telinga tengah di samping dalam rongga mastoid. b. Pemeriksaan radiologis Mengetahui adanya apasifikasi sel-sel udara mastoid oleh cairan dan hilangnya trabekulasi normal dan sel-sel tersebut. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan Darah 2. Foto Mastoid 3. Kultur Bakteri Telinga 4. MRI 5. CT Scant 6. Radiologi
  • 9.
    Asuhan Keperawatan MastoiditisPage 9 7. Tympanocintesis & myringotomi F. Komplikasi Komplikasi mastoiditis meliputi kerusakan di abducens dan syaraf-syaraf kranial wajah (syaraf-syaraf kranial VI dan VII), menurunnya kemampuan klien untuk melihat ke arah samping/lateral (syaraf kranial VI) dan menyebabkan mulut mencong, seolah-olah ke samping (syaraf kranial VII). Komplikasi-komplikasi lain meliputi vertigo, meningitis, abses otak, otitis media purulen yang kronis dan luka infeksi (Thane, 1993). G. Pencegahan Menjaga kebersihan telinga agar tetap bersih
  • 10.
    Asuhan Keperawatan MastoiditisPage 10 H. Penyimpangan KDM Invasi agen – agen penyebap inveksi (Bakteri) Iritasi pada mastoid Pengeluaransekretberlebihan Ansietas Proses peradangan Pengeluaran mediator kimia (Histamin, serotonin, prostaglandin dan bradikinin) Impuls disampaikan ke talamus Kurang pengetahuan tentang penyakitnya Perubahan status kesehatan Resiko tinggi cedera Penurunan pendengaran Menghalangi proses pendengaran Nyeri Di teruskan ke korteks serebri Keterbatasan Pendengaran Menyerang Mastoid Merupakan stresor psikologis
  • 11.
    Asuhan Keperawatan MastoiditisPage 11 Konsep Keperawatan 1. Pengkajian a. Pengumpulan data 1) Data Demografi Biodata - Nama : - Usia : - Jenis kelamin : - Alamat : - Suku / bangsa : - Status pernikahan : - Agama / keyakinan : - Pekerjaan : 2) Riwayat Kesehatan a) Riwayat kesehatan sekarang - Keluhan Utama - Riwayat Keluhan Utama b) Riwayat kesehatan lalu - Apakah ada riwayat alergi terjadap makanan dan obat - obatan. - Apakah Klien pernah mengkonsumsi minuman beralkohol dan apakah klien merokok. c) Riwayat kesehatan keluarga - Apakah ada anggota keluarga yang mengalami penyakit yang sama. 3) Pemeriksaan fisik a) Keadaan umum klien : Baik atau tidak Kesadaran : Tanda-tanda vital : Suhu : (N:36,5-37,5˚C) Nadi : (N: 60-100x/menit) Pernafasan : (N: 16-24 x/menit) Tekanan darah : (N: 110-120/70-80) b) Sistem pernapasan
  • 12.
    Asuhan Keperawatan MastoiditisPage 12 Bentuk hidung simetris atau asimetris, ada atau tidak terdapat sekret, mukosa hidung kering atau lembab, tidak atau ada nyeri tekan pada hidung, tidak atau ada pernapasan cuping hidung, bentuk leher simetris atau asimetris, ada atau tidak ada benjolan atau massa, bentuk dada simetris atau asimetris, frekuensi pernapasan, ada atau tidak terdengar suara napas tambahan, ada atau tidak ada retraksi otot - otot dada. c) Sistem kardiovaskuler Bunyi jantung, perkusi jantung, palpasi denyut nadi, tekanan darah, ada atau tidak ada pembesaran area jantung. d) Sistem pencernaan Bentuk lembap atau tidak, ada atau tidak ada stomatitis, jumlah gigi lengkap (32), lidah bebas bergerak atau tidak, refleks menelan baik atau buruk, ada atau tidak ada nyeri tekan pada abdomen, tidak teraba pembesaran hepar dan lien. e) Sistem indra Mata - Warna konjungtiva - Tidak atau ada sekret - Lapang pandang bebas - Tidak terdapat udema pada kelopak mata Hidung - Mampu membedakan berbagai macam aroma atau tidak - Tidak atau ada sekret. Telinga - Telinga tampak kotor, terdapat nyeri tekan, terdapat pembengkakan di belakang telinga, terdapat sekret, daun telinga tampak merah, memakai alat bantu dengar . f) Sistem saraf - Nervus I (olvactorius) : Fungsi penciuman baik atau tidak - Nervus II ( Optikus ) : Fungsi penglihatan baik atau tidak - Nervus III, IV, VI (Okulomotorius, troklearis, abdusen ) : fungsi kontraksi terhadap cahaya baik atau tidak
  • 13.
    Asuhan Keperawatan MastoiditisPage 13 - Nervus V (Trigeminus) : dapat merasakan usapan atau tidak - Nervus VII (fasialis) : mampu merasakan rasa asin, manis dan pahit atau mati rasa - Nervus VIII (Auditorius) : mendengar jelas, kurang atau tidak terdengar - Nervus IX (Glasofaringeus): Mampu menelan atau tidak - Nervus X (Vagus) : Mampu bersuara atau tidak - Nervus XI (Assesorius) : Mampu menoleh dan mengangkat bahu atau tidak - Nervus XII (Hipoglosus) : Mampu menggerakan lidah atau tidak g) Sistem muskuloskeletal - Ekstremitas Atas Bentuk simetris atau asimetris kiri dan kanan, pergerakan bebas atau tidak - Ekstremitas Bawah Bentuk simetris atau asimetris kiri dan kanan, pergerakan bebas atau tidak h) Sistem integumen Warna rambut, penyebaran merata, bersih atau tidak, tidak mudah rontok, ada atau tidak ada nyeri tekan, kuku bersih atau kotor, suhu tubuh i) Sistem endokrin Ada atau tidaknya pembesaran kelenjar getah bening, ginjal tidak teraba atau teraba j) Sistem perkemihan Teraba atau tidak adanya pembesaran ginjal, ada atau tidaknya distensi kandung kemih. 4) Aktivitas Sehari-Hari (ADL) a) Nutrisi Pola makan teratur atau tidak, frekuensi dalam sehari Cairan Klien mengonsumsi air putih sebanyak berapa gelas/hari. b) Eliminasi ( BAB & BAK )
  • 14.
    Asuhan Keperawatan MastoiditisPage 14 c) Istirahat Tidur Klien cepat tidur dan rutin atau tidak d) Olahraga Olahraga yang sering dilakukan e) Rokok / alkohol dan obat-obatan f) Personal hygiene Klien mandi teratur atau tidak, gosok gigi setiap kali mandi dan keramas atau tidak 5) Data psikososial - Klien hidup rukun dengan sesama anggota masyarakat di lingkunganya dan saling membutuhkan satu sama yang lain atau tidak 6) Data psikologis Klien tampak cemas, gelisah dan ekspresi wajah meringis atau tidak. Klien sering menanyakan tentang penyakitnya atau tidak 7) Data spritual Apakah taat beragama atau tidak 2. Diagnosa Keperawatan 1. Nyeri akut (00132) berhubungan dengan peradangan, agens-agens penyebab cedera fisik 2. Gangguan persepsi sensori : pendengaran berkurang berhubungan dengan kerusakan pendengaran, perubahan resepsi, transmisi, dan/atau integrasi sensori 3. Ansietas (00146) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya, perubahan pada status kesehatan
  • 15.
    Asuhan Keperawatan MastoiditisPage 15 3. Intervensi Keperawatan No. Diagnosa Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi Rasional 1. Nyeri akut (00132) Defenisi : Pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau digambarkan dengan istilah seperti (International Association for the Study of Pain); awitan yang tiba-tiba atau perlahan dengan intensitas ringan sampai berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau dapat diramalkan dan durasinya kurang dari enam bulan Faktor yang berhubungan : Agens-agens penyebab cedera Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam nyeri pada klien berkurang Kriteria Hasil : Klien mengatakan nyeri berkurang  Ekspresi wajah tenang 1. Kaji nyeri yang komprehensif meliputi lokasi, karakteristik, awitan dan durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau keparahan nyeri, dan faktor presipitasinya 2. Anjurkan pasien untuk melakukan tindakan kenyamanan yang efektif seperti : distraksi, relaksasi, atau kompres hangat/dingin Lakukan perubahan posisi Bantu pasien 1. Dapat membantu dalam menentuk an intervensi selanjutny a 2. Bisa menguran gi nyeri yang diderita klien.
  • 16.
    Asuhan Keperawatan MastoiditisPage 16 fisik Batasan Karakteristik :  Klien mengungkapk an secara verbal nyeri yang dirasakan  Perilaku ekspresif : gelisah dan merintih  Perilaku menjaga atau sikap melindungi untuk lebih berfokus pada aktivitas, bukan pada nyeri dan rasa tidak nyaman dengan melakukan pengalihan melalui televisi, radio, tape, dan interaksi dngan pengunjung 3. Berikan informasi tentang nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama akan berlangsung, dan antisipasi ketidaknyaman an akibat prosedur. 4. Kolaborasi : berikan obat anti nyeri (analgetik) 3. Agar klien dan keluarga mengerti dengan nyeri yang dialami oleh klien 4. Pereda nyeri yang efektif pada pasien
  • 17.
    Asuhan Keperawatan MastoiditisPage 17 untuk menguran gi sensasi nyeri dari dalam.
  • 18.
    Asuhan Keperawatan MastoiditisPage 18 2. Gangguan persepsi sensori : pendengaran Defenisi : Perubahan pada jumlah atau pola stimulus yang diterima, yang desertai respons terhadap stimulus tersebut yang dihilangkan, dilebihkan, disimpangkan, atau dirusakkan. Faktor yang berhubungan : kerusakan pendengaran, perubahan resepsi, transmisi, dan/atau integrasi sensori Batasan Karakteristik :  Perubahan respons yang biasanya terhadap stimulus  Perubahan pola perilaku Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam gangguan persepsi sensori : pendengaran dapat teratasi Kriteria Hasil :  Respons terhadap stimulus baik  Pasien menerima dan mengatasi sesuai dengan keterbatas an penglihata n 1. Kaji faktor yang menimbulkan Gangguan persepsi sensori, seperti : medikasi 2. Tingkatkan jumlah stimulus misalnya sediakan radio 3. Ajarkan pasien bahwa suara dapat dirasakan berbeda dengan penggunaan alat bantu dengar 4. Mulai perujukan terapi okupasi 1. Untuk mengetah ui penyebab timbulnya gangguan 2. untuk mencapai input sensori yang sesuai 3. membantu pasien untuk dapat mendengar 4.
  • 19.
    Asuhan Keperawatan MastoiditisPage 19 3. Ansietas (00146) Defenisi : Perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar disertai respons autonom (sumber sering kali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu); perasaan takut yang disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya. Perasaan ini merupakan asyarat kewaspadaan yang memperingatkan bahaya yang akan terjadi dan memampukan individu melakukan tindakan untuk menghadapi ancaman. Faktor yang berhubungan : Perubahan pada status kesehatan Batasan Karakteristik :  Mengekspresikan kekhawatiran akibat perubahan dalam peristiwa hidup  Gelisah Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam ansietas klien dapat teratasi Kriteria Hasil :  Klien tidak gelisah  Ekspresi wajah tenang 1.Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien, termasuk reaksi fisik, setiap 2 jam. 2. Bantu pasien untuk mengidentifikasi situasi yang mencetuskan ansietas 3. instruksikan pasien tentang penggunaan teknik relaksasi 4. berikan obat untuk menurunkan ansietas 1.untuk mengetahui tingkat kecemasan klien 2. mengetahui pencetus ansietas 3.Mengurangi tingkat kecemasan 4. mengurangi ansietas
  • 20.
    Asuhan Keperawatan MastoiditisPage 20 4. Implementasi Implementasi disesuaikan dengan intervensi/tindakan yang ada. 5. Evaluasi 1. Dx 1 : Nyeri akut (00132) berhubungan dengan peradangan, agens-agens penyebab cedera fisik o Klien mengatakan nyeri berkurang o Ekspresi wajah tenang 2. Dx 2 : Gangguan persepsi sensori : pendengaran berkurang berhubungan dengan kerusakan pendengaran, perubahan resepsi, transmisi, dan/atau integrasi sensori  Respons terhadap stimulus baik  Pasien menerima dan mengatasi sesuai dengan keterbatasan penglihatan 3. Dx 3 : Ansietas (00146) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya, perubahan pada status kesehatan  Klien tidak gelisah  Wajah klien tenang
  • 21.
    Asuhan Keperawatan MastoiditisPage 21 BAB III PENUTUP a. Kesimpulan Mastoiditis adalah sel-sel udara mastoid sering kali terlibat, menimbulkan peradangan dan nekrosis tulang yang terlokalisasi dan ekstensif (osteomyelitis) Mastoiditis diakibatkan oleh menyebarnya infeksi dari telinga bagian tengah, infeksi dan nanah mengumpul di sel-sel udara mastoid. Mastoiditis kronik dapat mengakibatkan pembentukan kolesteatoma, yang merupakan pertumbuhan kulit ke dalam (epitel skuamosa) dari lapisan luar membran timpani ke tengah. Mastoiditis dibagi menjadi 2 macam, yaitu bentuk jinak (benigna) dan bentuk ganas (maligna) Mastoiditis terjadi sebagai komplikasi otitis media akut yang telah diobati secara tidak memadai dan merupakan perluasan infeksi ke dalam sistem sel udara mastoid yang berisi udara dengan osteoporosis hiperemik b. Saran Penulis menghimbau kepada semua pembaca pada umumnya dan mahasiswa S1 keperawatan pada khususnya agar selalu menjaga kebersihan telinga dari virus agar kuman, sebaliknya apabila seorang terkena otitis harus diobati secara tuntas agar tidak terjadi infeksi pada prosesus mastoiditis yang dapat komplikasi yang lebih parah.
  • 22.
    Asuhan Keperawatan MastoiditisPage 22 DAFTAR PUSTAKA Katumbu, 2012, Askep mastoiditis, 4 Maret 2014 (file:///D:/materi%20kuliah/semester%20IV/kelompok%203/data%20masto iditis/ASKEP%20MASTOIDITIS%20%20%20KATUMBU.htm) Yudiarpandi, 2011, Asuhan keperawatan dengan klien mastoiditis, 4 Maret 2014 (file:///D:/materi%20kuliah/semester%20IV/kelompok%203/data%20masto iditis/Yudi%20Arpandi%20%20ASUHAN%20KEPERAWATAN%20PADA %20KLIEN%20DENGAN%20MASTOIDITIS.htm) Anonim, 2014, Mastoiditis, 4 Maret 2014 (file:///D:/materi%20kuliah/semester%20IV/kelompok%203/data%20masto iditis/ASUHAN%20KEPERAWATAN%20%20Mastoiditis.htm)