PENDAHULUAN 
FISIKA ADALAH ILMU PENGETAHUAN YANG MEMPELAJARI DAN 
MENYELIDIKI TENTANG KOMPONENKOMPONEN MATERI 
DANINTERAKSI ANTAR KOMPONEN TERSEBUT. 
CONTOH : -BAGAIMANA ENERGI MEMPENGARUHI SUATU 
MATERI. 
-BAGAIMANA MENGUBAH BENTUK SAUTU ENERGI KE 
BENTUK YANG LAIN. 
-DLL. 
UNTUK DAPAT MEMECAHKAN MASALAH MASALAH TERSEBUT, 
MAKA DIBUTUHKAN SUATU SISTEM STANDART YANG DAPAT DI 
TERIMA OLEH BERBAGAI KALANGAN YANG MEMPELAJARI DAN 
MENGEMBANGKAN ILMU FISIKA.
PENDAHULUAN 
MAKA UNTUK DAPAT MENYELESAIKAN MASALAH-MASALAH 
DALAM FISIKA DIBUTUHKAN SUATU PENGUKURAN YANG 
TELAH DIPAKAI OLEH PARA AHLI SAMPAI SEKARANG INI 
YANG KITA SEBUT DENGAN BESARAN DAN SATUAN. SETELAH 
KITA DAPAT MENGETAHUI TENTANG BESARAN DAN SATUAN 
KITA DAPAT MEMECAHKAN MASALAH-MASALAH TADI, 
SEPERTI VEKTOR ,GAYA, ENERGI, DLL. KARENA PADA BAB INI 
KITA MEMBAHAS BESARAN, SATUAN DAN VEKTOR MAKA 
KITA AKANLEBIH DALAM MEMBAHAS TENTANG 
BESARAN,SATUAN DAN VEKTOR.
PENDAHULUAN 
TUJUAN DARI PEMBAHASAN KAJIAN TENTANG BESARAN, 
SATUAN, DAN VEKTOR BERDASARKAN MATERI YANG TELAH 
ADA KAMI GOLONGKAN MENJADI DUA YAITU: 
TUJUAN DARI PEMBAHASAN BESARAN DAN SATUAN 
TUJUAN DARI PEMBAHASAN VEKTOR
PENDAHULUAN 
TUJUAN DARI PEMBAHASAN BESARAN DAN SATUAN ADALAH 
SEBAGAI BERIKUT : 
AGAR KITA DAPAT MENGETAHUI STANDART-STANDART 
PENGUKURAN YANG ADA DI DUNIA YAN TELAH DISETUJUI DAN 
DIGUNAKAN OLEH SELURUH ILMUAN DIDUNIA. 
AGAR KITA DAPAT MENGUKUR SUATU MASALAH DALAM RUANG 
LINGKUP FISIKA. 
TUJUAN DARI PEMBAHASAN VEKTOR ADALAH SEBAGAI BERIKUT : 
DIGUNAKAN UNTUK MENGAGNBARKAN PERPINDAHAN SUATU 
PARTIKEL ATAU BENDA YANG BERGERAK 
DIGUNAKAN UNTUK MENGGAMBARKAN GAYA 
MENGUKUR BESAR GAYA
DASAR TEORI 
1. BESARAN 
Besaran adalah segala sesuatu yang dapat diukur, mempunyainilai 
yang dapat dinyatakan dengan angka dan memiliki satuan tertentu. 
Satuan adalah pernyataan yang menjelaskan tentang arti dari suatu 
besaran. Besaran-besaran dalam fisika dapat dikelompokkan 
menjadi dua macam, yaitu besaran pokok dan besaran turunan. 
1.1 BESARAN POKOK 
Besaran pokok adalah besaran yang satuannya didefinisikan atau 
ditetapkan terlebih dahulu, yang berdiri sendiri, dan tidak 
tergantung pada besaran lain. Para ahli merumuskan tujuh macam 
besaran pokok dan dua buh tambahan yang tidak berdimensi, 
seperti yang ditunjukkan pada Tabel:
DASAR TEORI 
BESARAN DASAR SATUAN SI 
Nama Lambang Rumus Dimensi 
1. Panjang Meter m L 
2. Massa Kilogram kg M 
3. Waktu Sekon s T 
4. Arus listrik Ampere A I 
5. Suhu termodinamika Kelvin K  
6. Jumlah zat Mola mol N 
7. Intensitas cahaya Kandela cd J 
BESARAN TAMBAHAN SATUAN SI 
1. Sudut datar radian rad 
2. Sudut ruang steradian sr
DASAR TEORI 
1.2 BESARAN TURUNAN 
Besaran turunan adalah besaran yang diturunkan dan diperoleh dari 
besaran-besaran pokok. Misalkan luas didefinikan sebagai hasil kali dua 
besaran panjang (yaitu panjang kali lebar). Jika satuan panjang dan 
lebar masing –masing adalah meter, maka besaran luas adalah besaran 
turunam yang mempunyai stuan meter X meter atau m2 . Contoh yang 
lain adalah besaran kecepatan yang diperoleh dari hasil bagi jarak 
dengan waktu. Jarak merupakan besaran panjang yang mempinyai 
satuan meter,sedangkan waktu mempunyai satuan sekon. Maka besran 
kecepatan merupakan besaran turunan dari besaran pokok waktu, 
sehingga satuannya meter/sekon (m/s). Berikut ini adalah tabel 
beberapa contoh besaran turunan beserta satuannya.
DASAR TEORI
DASAR TEORI 
2. SATUAN 
Satuan merupakan salah satu komponen besaran yang menjadi 
standar dari suatu besaran. Adanya berbagai macam satuan untuk 
besaran yang sama akan menimbulkan kesulitan. Kalian harus 
melakukan penyesuaian-penyesuaian tertentu untuk memecahkan 
persoalan yang ada. Dengan adanya kesulitan tersebut, para ahli sepakat 
untuk menggunakan satu sistem satuan, yaitu menggunakan satuan 
standar Sistem Internasional, disebut Systeme Internationale 
d’Unites(SI). 
Satuan Internasional adalah satuan yang diakui penggunaannya 
secara internasional serta memiliki standar yang sudah baku. Satuan ini 
dibuat untuk menghindari kesalahpahaman yang timbul dalam bidang 
ilmiah karena adanya perbedaan satuan yang digunakan. Pada awalnya, 
Sistem Internasional disebut sebagai Metre – Kilogram – Second (MKS).
DASAR TEORI 
Selanjutnya pada Konferensi Berat dan Pengukuran Tahun 1948, tiga 
satuan yaitu newton (N), joule (J), dan watt (W) ditambahkan ke dalam SI. 
Akan tetapi, pada tahun 1960, tujuh Satuan Internasional dari besaran 
pokok telah ditetapkan yaitu meter, kilogram, sekon, ampere, kelvin, mol, 
dan kandela. 
Sistem MKS menggantikan sistem metrik, yaitu suatu sistem 
satuan desimal yang mengacu pada meter, gram yang didefinisikan 
sebagai massa satu sentimeter kubik air, dan detik. Sistem itu juga 
disebut sistem Centimeter – Gram – Second (CGS). 
Satuan dibedakan menjadi dua jenis, yaitu satuan tidak baku dan 
satuan baku. Standar satuan tidak baku tidak sama di setiap tempat, 
misalnya jengkal dan hasta. Sementara itu, standar satuan baku telah 
ditetapkan sama di setiap tempat.
DASAR TEORI 
3. ANGKA PENTING 
► Jumlah digit yang muncul dalam setiap hasil pengukuran atau 
penghitungan yang masih dapat ditentukan 
► Semua digit yang tidak nol adalah angka penting. 
► Nol adalah angka penting ketika: 
- diantara digit yang bukan nol 
- setelah koma dan angka penting yang lain 
► Semua digit dalam notasi ilmiah adalah angka penting 
Contoh : 
3.03 : 3 Angka Penting 
0.0031 : 2 Angka Penting 
4.0 x 101 : 2 Angka Penting 
1.70 x 102 : 3 Angka Penting 
1.7000 x 102 : 5 Angka Penting
DASAR TEORI 
3.1 OPERASI DENGAN ANGKA PENTING 
► Ketika mengalikan atau membagi, hasil yang diperoleh harus 
memiliki angka penting yang sama dengan salah satu kuantitas 
(yang dioperasikan)yangmemilikiangkapentingpalingkecil. 
► Untuk penjumlahan atau pengurangan, hasil yang diperoleh 
harus memiliki jumlah digit dibelakang koma yang sama 
dengan salah satu kuantitas (yang dioperasikan) yang memiliki 
jumlah digit dibelakang koma paling sedikit. 
Contoh : 
2 x 3,1 = 6 
3,1 + 0,004 = 3,1 
4.0 x 101 : 2,04 x 10² = 1,9 X 10¯¹
DASAR TEORI 
4. ANALISIS DIMENSI 
►Dimensi menyatakan sifat fisis dari suatu kuantitas. 
►Teknik untuk mengoreksi suatu persamaan 
►Dimensi (panjang, massa, waktu & kombinasinya) dapat 
diperlakukan sebagai kuantitas aljabar. 
- jumlah, kurang, kali, bagi 
- penjumlahan dan pengurangan hanya untuk satuan yang sama 
Dimensi kuantitas yang biasa digunakan: 
Panjang L m (SI) 
Luas L² m² (SI) 
Volume L³ m³ (SI) 
Kecepatan (laju) L/T m/s (SI) 
Percepatan L/T² m/s² (SI) 
Contoh Analisis Dimensi : 
Jarak = Kecepatan X Waktu 
L = (L/T) · T 
L = L
DASAR TEORI 
5. VEKTOR 
Vektor biasanya digunakan untuk menggambarkan perpindahan 
suatu partikel atau benda yang bergerak, atau juga untuk menggambarkan 
suatu gaya. Vektor digambarkan menggunakan suatu garis dengan anak 
panah pada salah satu ujungnya, yang menunjukan arah 
perpindahan/pergeseran dari partikel tersebut. 
5.1 NOTASI VEKTOR 
Vektor A dapat dituliskan dalam bentuk komponen-komponen vektor 
satuan sebagai 
A = Axax + Ayay + Azaz 
Dalam bentuk komponen-komponennya, magnituda vektor A 
didefinisikan sebagai 
|A| =A= 
2 2 2 Ax  Ay  Az 
Vektor satuan sepanjang arah A diberikan oleh 
A 
A 
aA   
| A 
| A'
DASAR TEORI 
5.2 KOMPONEN VEKTOR 
Komponen sebuah vektor adalah proyeksi vektor itu pada garis dalam ruang 
yang diperoleh dengan menarik garis tegak lurusdari kepala vektor tersebut 
ke garis tadi. Lihat gambar vektor A berada pada bidang XY. Vektor ini 
mempunyai komponen dan . Secara umumkomponen-komponen ini 
dapat bernilai positif dan negatif. Jika θ adalah sudut antara vektor A 
dengan sumbu X, maka; ; ;
DASAR TEORI 
Dimana A adalah besar dari vektor A, sehingga komponen-komponen 
vektor A diperoleh : dan 
Tetapi kita telah mngetahui komponen dan , sudut θ, maka besar 
vektor dapat diperolehdengan menggunakan teorema Pythagoras :
DASAR TEORI 
Penjumlahan vektor denagn metode ini, dilakukan dengan menyatakan 
vektor- vektor dalam sebuah diagram. Panjang anak panah harus sesuai 
dengan panjang vektor (sesuai skala) dan arah vektor ditunjukkan oleh 
kepalanya. 
Aturan yang harus diikuti dalam penjumlahan poligon : 
Pada diagram yang telah ada skalanya letakkan vektor A, kemudian gambarg 
vektor B pada pangkalnya kemudian tarik garis dari pangkal A ke B, yang 
menyatakan vektor hasil penjumlahan R. 
B
DASAR TEORI 
VEKTOR KOMUTATIF DAN ASSOSIATIF 
Komunikatif Contoh : C= A+B=B+A 
B 
Assosiatif Contoh : D = A+(B+C) = (A+B)+C
DASAR TEORI 
Penjumlahan dua buah vektor dengan menggunakan metode jajar 
genjang,dilakukan dengan cara menggambarkan kedua vektor tersebut saling 
berimpit pangkalnya sebagai dua sisi yang berdekatan dari sebuah jajar 
genjang maka jumlah vektor adalah vektor diagonal yang pangkalnya sama 
dengan pangkal kedua penyusunnya. Nilai penjumlahan diperoleh dari : 
C² = A² + B² + 2ABcosθ ket : 
A = besar vektor yang pertama 
B = besar vektor yang kedua 
C = besar vektor hasil 
θ = sudau antara vektor A dan B 
METODE JAJAR GENJANG
DASAR TEORI 
Pada kasus penjumlahan tiga vektor ataupaun dalam penjumlahan vektor 
dalam tiga dimensi seringkali kurang menguntungkan dibandingkan 
penjumlahan dua vektor dalam-dua dimensi.cara lain yang dapat digunakan 
untuk menjumlahkan vektor adalahmetode analitik (rumus). Dengan metode 
ini, vektor-vektor yang akan dijumlahkan, masing-masing dijumlahkan dalam 
komponen-komponen vektor yang arahnya. Jika R merupakan besar vektor 
resultannya, maka besarnya adalah : 
Ket : 
Dengan arah : 
Dimana θ sudut yang dibentuk antara sumbu x dengan vektor resultan
DASAR TEORI 
5.4 PERKALIAN VEKTOR 
5.4.1 PERKALIAN VETOR DENGAN SKALAR 
Hasil perkalian vektor dengan skalar adalah vektor 
Besar perkalian vektor dengan skalar adalah kelipatan a (skalar) dari nilai vektor asli 
Arah vektor yang dihasilkan adalah sama dengan arah vektor asal bila a > 0, dan 
berlawanan dengan arah vektor asal bila 
Perkalian vektor dengan skalar memenuhi hukum distributif , yaitu 
a (A +B ) = aA + aB 
Contoh : 
B = aA 
a<0, 
B berlawanan A 
B = aA 
a > 0, 
B searah A
DASAR TEORI 
5.4.2 PERKALIAN TITIK (DOT) DUA VEKTOR 
A • B = AB cos  (dibaca sebagai "A titik B") 
Hasil perkalian titik atau dot product adalah besaran skalar 
A.B  A B cos 
Perkalian titik adalah komutatif 
Perkalian titik adalah distributif 
Perkalian titik memenuhi perkalian skalar 
A.B = B.A 
A.(B+C) = A.B + A.C 
A • kB = k(A •B) 
C  A B cos 
di mana  adalah sudut antara A dan B yang lebih kecil. 
Dalam bentuk komponen, perkalian titik adalah sama dengan 
A • B = AxBx + AyBy + AzBz 
Contoh :
DASAR TEORI 
3.4.3 PERKALIAN SILANG (CROSS) DUA VEKTOR 
Hasil perkalian silang atau cross product adalah besaran vektor yang arah 
nya tegak lurus kedua vektor asal dengan aturan tangan kanan. 
C  AXB  A B sin 
Perkalian silang tidak memenuhi hukum komutatif 
Perkalian silang adalah distributif 
AXB = -BXA 
AX(B+C) = AXB + AXC 
C  AXB  A B sin 
  = sudut antara A dan B yang lebih kecil. 
 an = Vektor satuan adalah normal terhadap bidang datar A dan B 
 Hasil perkalian silang memenuhi aturan tangan kanan / putaran 
skrup 
Contoh :
DASAR TEORI 
Perluasan perkalian silang dalam bentuk komponen-komponen vektor 
akan menghasilkan, 
A x B = (Axax + Ayay + Azaz) x (Bxax + Byay + Bzaz) 
= (AYBZ – AzBz)ax + (AzBx - AxBz)ay + (AxBy – AyBx)az 
Jika A = 2ax + 4ay – 3aZ dan B = ax – ay, carilah A • B dan A x B ! 
Penyelesaian! 
AB  (2)(1)  (4)(1) (3)(0)  2 
ax ay az 
ax ay az 
A  B  2 4  
3   3  3  
6 
1  
1 0 
Contoh :
CONTOH SOAL 
SOAL BESARAN DAN SATUAN
CONTOH SOAL 
SOAL BESARAN DAN SATUAN
CONTOH SOAL 
SOAL VEKTOR : 
1. 
2. 
PEYELESAIAN 
PEYELESAIAN
PENYELESAIAN 
PENYELESAIAN BESARAN DAN SATUAN 
1.
PENYELESAIAN 
PENYELESAIAN BESARAN DAN SATUAN 
1.
PENYELESAIAN 
PENYELESAIAN VEKTOR 
1.
PENYELESAIAN 
PENYELESAIAN VEKTOR 
2.
PENYELESAIAN

1. besaran, satuan dan vektor

  • 2.
    PENDAHULUAN FISIKA ADALAHILMU PENGETAHUAN YANG MEMPELAJARI DAN MENYELIDIKI TENTANG KOMPONENKOMPONEN MATERI DANINTERAKSI ANTAR KOMPONEN TERSEBUT. CONTOH : -BAGAIMANA ENERGI MEMPENGARUHI SUATU MATERI. -BAGAIMANA MENGUBAH BENTUK SAUTU ENERGI KE BENTUK YANG LAIN. -DLL. UNTUK DAPAT MEMECAHKAN MASALAH MASALAH TERSEBUT, MAKA DIBUTUHKAN SUATU SISTEM STANDART YANG DAPAT DI TERIMA OLEH BERBAGAI KALANGAN YANG MEMPELAJARI DAN MENGEMBANGKAN ILMU FISIKA.
  • 3.
    PENDAHULUAN MAKA UNTUKDAPAT MENYELESAIKAN MASALAH-MASALAH DALAM FISIKA DIBUTUHKAN SUATU PENGUKURAN YANG TELAH DIPAKAI OLEH PARA AHLI SAMPAI SEKARANG INI YANG KITA SEBUT DENGAN BESARAN DAN SATUAN. SETELAH KITA DAPAT MENGETAHUI TENTANG BESARAN DAN SATUAN KITA DAPAT MEMECAHKAN MASALAH-MASALAH TADI, SEPERTI VEKTOR ,GAYA, ENERGI, DLL. KARENA PADA BAB INI KITA MEMBAHAS BESARAN, SATUAN DAN VEKTOR MAKA KITA AKANLEBIH DALAM MEMBAHAS TENTANG BESARAN,SATUAN DAN VEKTOR.
  • 4.
    PENDAHULUAN TUJUAN DARIPEMBAHASAN KAJIAN TENTANG BESARAN, SATUAN, DAN VEKTOR BERDASARKAN MATERI YANG TELAH ADA KAMI GOLONGKAN MENJADI DUA YAITU: TUJUAN DARI PEMBAHASAN BESARAN DAN SATUAN TUJUAN DARI PEMBAHASAN VEKTOR
  • 5.
    PENDAHULUAN TUJUAN DARIPEMBAHASAN BESARAN DAN SATUAN ADALAH SEBAGAI BERIKUT : AGAR KITA DAPAT MENGETAHUI STANDART-STANDART PENGUKURAN YANG ADA DI DUNIA YAN TELAH DISETUJUI DAN DIGUNAKAN OLEH SELURUH ILMUAN DIDUNIA. AGAR KITA DAPAT MENGUKUR SUATU MASALAH DALAM RUANG LINGKUP FISIKA. TUJUAN DARI PEMBAHASAN VEKTOR ADALAH SEBAGAI BERIKUT : DIGUNAKAN UNTUK MENGAGNBARKAN PERPINDAHAN SUATU PARTIKEL ATAU BENDA YANG BERGERAK DIGUNAKAN UNTUK MENGGAMBARKAN GAYA MENGUKUR BESAR GAYA
  • 6.
    DASAR TEORI 1.BESARAN Besaran adalah segala sesuatu yang dapat diukur, mempunyainilai yang dapat dinyatakan dengan angka dan memiliki satuan tertentu. Satuan adalah pernyataan yang menjelaskan tentang arti dari suatu besaran. Besaran-besaran dalam fisika dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu besaran pokok dan besaran turunan. 1.1 BESARAN POKOK Besaran pokok adalah besaran yang satuannya didefinisikan atau ditetapkan terlebih dahulu, yang berdiri sendiri, dan tidak tergantung pada besaran lain. Para ahli merumuskan tujuh macam besaran pokok dan dua buh tambahan yang tidak berdimensi, seperti yang ditunjukkan pada Tabel:
  • 7.
    DASAR TEORI BESARANDASAR SATUAN SI Nama Lambang Rumus Dimensi 1. Panjang Meter m L 2. Massa Kilogram kg M 3. Waktu Sekon s T 4. Arus listrik Ampere A I 5. Suhu termodinamika Kelvin K  6. Jumlah zat Mola mol N 7. Intensitas cahaya Kandela cd J BESARAN TAMBAHAN SATUAN SI 1. Sudut datar radian rad 2. Sudut ruang steradian sr
  • 8.
    DASAR TEORI 1.2BESARAN TURUNAN Besaran turunan adalah besaran yang diturunkan dan diperoleh dari besaran-besaran pokok. Misalkan luas didefinikan sebagai hasil kali dua besaran panjang (yaitu panjang kali lebar). Jika satuan panjang dan lebar masing –masing adalah meter, maka besaran luas adalah besaran turunam yang mempunyai stuan meter X meter atau m2 . Contoh yang lain adalah besaran kecepatan yang diperoleh dari hasil bagi jarak dengan waktu. Jarak merupakan besaran panjang yang mempinyai satuan meter,sedangkan waktu mempunyai satuan sekon. Maka besran kecepatan merupakan besaran turunan dari besaran pokok waktu, sehingga satuannya meter/sekon (m/s). Berikut ini adalah tabel beberapa contoh besaran turunan beserta satuannya.
  • 9.
  • 10.
    DASAR TEORI 2.SATUAN Satuan merupakan salah satu komponen besaran yang menjadi standar dari suatu besaran. Adanya berbagai macam satuan untuk besaran yang sama akan menimbulkan kesulitan. Kalian harus melakukan penyesuaian-penyesuaian tertentu untuk memecahkan persoalan yang ada. Dengan adanya kesulitan tersebut, para ahli sepakat untuk menggunakan satu sistem satuan, yaitu menggunakan satuan standar Sistem Internasional, disebut Systeme Internationale d’Unites(SI). Satuan Internasional adalah satuan yang diakui penggunaannya secara internasional serta memiliki standar yang sudah baku. Satuan ini dibuat untuk menghindari kesalahpahaman yang timbul dalam bidang ilmiah karena adanya perbedaan satuan yang digunakan. Pada awalnya, Sistem Internasional disebut sebagai Metre – Kilogram – Second (MKS).
  • 11.
    DASAR TEORI Selanjutnyapada Konferensi Berat dan Pengukuran Tahun 1948, tiga satuan yaitu newton (N), joule (J), dan watt (W) ditambahkan ke dalam SI. Akan tetapi, pada tahun 1960, tujuh Satuan Internasional dari besaran pokok telah ditetapkan yaitu meter, kilogram, sekon, ampere, kelvin, mol, dan kandela. Sistem MKS menggantikan sistem metrik, yaitu suatu sistem satuan desimal yang mengacu pada meter, gram yang didefinisikan sebagai massa satu sentimeter kubik air, dan detik. Sistem itu juga disebut sistem Centimeter – Gram – Second (CGS). Satuan dibedakan menjadi dua jenis, yaitu satuan tidak baku dan satuan baku. Standar satuan tidak baku tidak sama di setiap tempat, misalnya jengkal dan hasta. Sementara itu, standar satuan baku telah ditetapkan sama di setiap tempat.
  • 12.
    DASAR TEORI 3.ANGKA PENTING ► Jumlah digit yang muncul dalam setiap hasil pengukuran atau penghitungan yang masih dapat ditentukan ► Semua digit yang tidak nol adalah angka penting. ► Nol adalah angka penting ketika: - diantara digit yang bukan nol - setelah koma dan angka penting yang lain ► Semua digit dalam notasi ilmiah adalah angka penting Contoh : 3.03 : 3 Angka Penting 0.0031 : 2 Angka Penting 4.0 x 101 : 2 Angka Penting 1.70 x 102 : 3 Angka Penting 1.7000 x 102 : 5 Angka Penting
  • 13.
    DASAR TEORI 3.1OPERASI DENGAN ANGKA PENTING ► Ketika mengalikan atau membagi, hasil yang diperoleh harus memiliki angka penting yang sama dengan salah satu kuantitas (yang dioperasikan)yangmemilikiangkapentingpalingkecil. ► Untuk penjumlahan atau pengurangan, hasil yang diperoleh harus memiliki jumlah digit dibelakang koma yang sama dengan salah satu kuantitas (yang dioperasikan) yang memiliki jumlah digit dibelakang koma paling sedikit. Contoh : 2 x 3,1 = 6 3,1 + 0,004 = 3,1 4.0 x 101 : 2,04 x 10² = 1,9 X 10¯¹
  • 14.
    DASAR TEORI 4.ANALISIS DIMENSI ►Dimensi menyatakan sifat fisis dari suatu kuantitas. ►Teknik untuk mengoreksi suatu persamaan ►Dimensi (panjang, massa, waktu & kombinasinya) dapat diperlakukan sebagai kuantitas aljabar. - jumlah, kurang, kali, bagi - penjumlahan dan pengurangan hanya untuk satuan yang sama Dimensi kuantitas yang biasa digunakan: Panjang L m (SI) Luas L² m² (SI) Volume L³ m³ (SI) Kecepatan (laju) L/T m/s (SI) Percepatan L/T² m/s² (SI) Contoh Analisis Dimensi : Jarak = Kecepatan X Waktu L = (L/T) · T L = L
  • 15.
    DASAR TEORI 5.VEKTOR Vektor biasanya digunakan untuk menggambarkan perpindahan suatu partikel atau benda yang bergerak, atau juga untuk menggambarkan suatu gaya. Vektor digambarkan menggunakan suatu garis dengan anak panah pada salah satu ujungnya, yang menunjukan arah perpindahan/pergeseran dari partikel tersebut. 5.1 NOTASI VEKTOR Vektor A dapat dituliskan dalam bentuk komponen-komponen vektor satuan sebagai A = Axax + Ayay + Azaz Dalam bentuk komponen-komponennya, magnituda vektor A didefinisikan sebagai |A| =A= 2 2 2 Ax  Ay  Az Vektor satuan sepanjang arah A diberikan oleh A A aA   | A | A'
  • 16.
    DASAR TEORI 5.2KOMPONEN VEKTOR Komponen sebuah vektor adalah proyeksi vektor itu pada garis dalam ruang yang diperoleh dengan menarik garis tegak lurusdari kepala vektor tersebut ke garis tadi. Lihat gambar vektor A berada pada bidang XY. Vektor ini mempunyai komponen dan . Secara umumkomponen-komponen ini dapat bernilai positif dan negatif. Jika θ adalah sudut antara vektor A dengan sumbu X, maka; ; ;
  • 17.
    DASAR TEORI DimanaA adalah besar dari vektor A, sehingga komponen-komponen vektor A diperoleh : dan Tetapi kita telah mngetahui komponen dan , sudut θ, maka besar vektor dapat diperolehdengan menggunakan teorema Pythagoras :
  • 18.
    DASAR TEORI Penjumlahanvektor denagn metode ini, dilakukan dengan menyatakan vektor- vektor dalam sebuah diagram. Panjang anak panah harus sesuai dengan panjang vektor (sesuai skala) dan arah vektor ditunjukkan oleh kepalanya. Aturan yang harus diikuti dalam penjumlahan poligon : Pada diagram yang telah ada skalanya letakkan vektor A, kemudian gambarg vektor B pada pangkalnya kemudian tarik garis dari pangkal A ke B, yang menyatakan vektor hasil penjumlahan R. B
  • 19.
    DASAR TEORI VEKTORKOMUTATIF DAN ASSOSIATIF Komunikatif Contoh : C= A+B=B+A B Assosiatif Contoh : D = A+(B+C) = (A+B)+C
  • 20.
    DASAR TEORI Penjumlahandua buah vektor dengan menggunakan metode jajar genjang,dilakukan dengan cara menggambarkan kedua vektor tersebut saling berimpit pangkalnya sebagai dua sisi yang berdekatan dari sebuah jajar genjang maka jumlah vektor adalah vektor diagonal yang pangkalnya sama dengan pangkal kedua penyusunnya. Nilai penjumlahan diperoleh dari : C² = A² + B² + 2ABcosθ ket : A = besar vektor yang pertama B = besar vektor yang kedua C = besar vektor hasil θ = sudau antara vektor A dan B METODE JAJAR GENJANG
  • 21.
    DASAR TEORI Padakasus penjumlahan tiga vektor ataupaun dalam penjumlahan vektor dalam tiga dimensi seringkali kurang menguntungkan dibandingkan penjumlahan dua vektor dalam-dua dimensi.cara lain yang dapat digunakan untuk menjumlahkan vektor adalahmetode analitik (rumus). Dengan metode ini, vektor-vektor yang akan dijumlahkan, masing-masing dijumlahkan dalam komponen-komponen vektor yang arahnya. Jika R merupakan besar vektor resultannya, maka besarnya adalah : Ket : Dengan arah : Dimana θ sudut yang dibentuk antara sumbu x dengan vektor resultan
  • 22.
    DASAR TEORI 5.4PERKALIAN VEKTOR 5.4.1 PERKALIAN VETOR DENGAN SKALAR Hasil perkalian vektor dengan skalar adalah vektor Besar perkalian vektor dengan skalar adalah kelipatan a (skalar) dari nilai vektor asli Arah vektor yang dihasilkan adalah sama dengan arah vektor asal bila a > 0, dan berlawanan dengan arah vektor asal bila Perkalian vektor dengan skalar memenuhi hukum distributif , yaitu a (A +B ) = aA + aB Contoh : B = aA a<0, B berlawanan A B = aA a > 0, B searah A
  • 23.
    DASAR TEORI 5.4.2PERKALIAN TITIK (DOT) DUA VEKTOR A • B = AB cos  (dibaca sebagai "A titik B") Hasil perkalian titik atau dot product adalah besaran skalar A.B  A B cos Perkalian titik adalah komutatif Perkalian titik adalah distributif Perkalian titik memenuhi perkalian skalar A.B = B.A A.(B+C) = A.B + A.C A • kB = k(A •B) C  A B cos di mana  adalah sudut antara A dan B yang lebih kecil. Dalam bentuk komponen, perkalian titik adalah sama dengan A • B = AxBx + AyBy + AzBz Contoh :
  • 24.
    DASAR TEORI 3.4.3PERKALIAN SILANG (CROSS) DUA VEKTOR Hasil perkalian silang atau cross product adalah besaran vektor yang arah nya tegak lurus kedua vektor asal dengan aturan tangan kanan. C  AXB  A B sin Perkalian silang tidak memenuhi hukum komutatif Perkalian silang adalah distributif AXB = -BXA AX(B+C) = AXB + AXC C  AXB  A B sin   = sudut antara A dan B yang lebih kecil.  an = Vektor satuan adalah normal terhadap bidang datar A dan B  Hasil perkalian silang memenuhi aturan tangan kanan / putaran skrup Contoh :
  • 25.
    DASAR TEORI Perluasanperkalian silang dalam bentuk komponen-komponen vektor akan menghasilkan, A x B = (Axax + Ayay + Azaz) x (Bxax + Byay + Bzaz) = (AYBZ – AzBz)ax + (AzBx - AxBz)ay + (AxBy – AyBx)az Jika A = 2ax + 4ay – 3aZ dan B = ax – ay, carilah A • B dan A x B ! Penyelesaian! AB  (2)(1)  (4)(1) (3)(0)  2 ax ay az ax ay az A  B  2 4  3   3  3  6 1  1 0 Contoh :
  • 26.
    CONTOH SOAL SOALBESARAN DAN SATUAN
  • 27.
    CONTOH SOAL SOALBESARAN DAN SATUAN
  • 28.
    CONTOH SOAL SOALVEKTOR : 1. 2. PEYELESAIAN PEYELESAIAN
  • 29.
  • 30.
  • 31.
  • 32.
  • 33.

Editor's Notes

  • #10 Jika mungkin ditambahkan rumusnya.
  • #20 Tambahkan cara penjumlahan vektor