SlideShare a Scribd company logo
1 of 44
KECELAKAAN KERJA
PENGERTIAN KECELAKAAN KERJA (1)
• KECELAKAAN ADALAH SUATU KEJADIAN YANG TIDAK
DIDUGA SEMULA DAN TIDAK DIKEHENDAKI YANG
MENGACAUKAN PROSES YANG TELAH DIATUR DARI
SUATU AKTIVITAS DAN DAPAT MENIMBULKAN KERUGIAN
BAIK KORBAN MANUSIA DAN ATAU HARTA BENDA
(DEPNAKER, 1999:4)
PENGERTIAN KECELAKAAN KERJA (2)
• KECELAKAAN KERJA ( ACCIDENT ) ADALAH SUATU KEJADIAN ATAUPERISTIWA
YANG TIDAK DIINGINKAN YANG MERUGIKAN TERHADAP MANUSIA, MERUSAK
HARTABENDA ATAU KERUGIAN TERHADAP PROSES (DIDI SUGANDI, 2003 : 171)
PENGERTIAN KECELAKAAN KERJA (3)
• KECELAKAAN KERJA ADALAH KECELAKAAN YANG TERJADI KETIKA
BERHUBUNGAN DENGAN HUBUNGAN KERJA, TERMASUK PENYAKIT
YANG TIMBUL KARENA HUBUNGAN KERJA DEMIKIAN PULA KECELAKAAN
YANG TERJADI DALAM PERJALANAN BERANGKAT DARI RUMAH MENUJU
TEMPAT KERJA DAAN PULANG KE RUMAH MELALUI JALAN BIASA ATAU
WAJAR DILALUI.
TEORI KECELAKAAN KERJA
1. TEORI HEINRICH ( TEORI DOMINO)
TEORI INI MENGATAKAN BAHWA SUATU KECELAKAAN TERJADI DARI
SUATU RANGKAIAN KEJADIAN . ADA LIMA FAKTOR YANG TERKAIT
DALAM RANGKAIAN KEJADIAN TERSEBUT YAITU : LINGKUNGAN,
KESALAHAN MANUSIA, PERBUATAN ATAU KONDISI YANG TIDAK
AMAN, KECELAKAAN, DAN CEDERA ATAU KERUGIAN ( RIDLEY, 1986 )
TEORI KECELAKAAN KERJA
2. TEORI MULTIPLE CAUSATION
TEORI INI BERDASARKAN PADA KENYATAAN BAHWA KEMUNGKINAN ADA LEBIH
DARI SATU PENYEBAB TERJADINYA KECELAKAAN. PENYEBAB INI MEWAKILI
PERBUATAN, KONDISI ATAU SITUASI YANG TIDAK AMAN. KEMUNGKINAN-
KEMUNGKINAN PENYEBAB TERJADINYA KECELAKAAN KERJA TERSEBUT PERLU
DITELITI.
TEORI KECELAKAAN KERJA
3. TEORI GORDON
MENURUT GORDON (1949), KECELAKAAN MERUPAKAN AKIBAT DARI INTERAKSI ANTARA KORBAN
KECELAKAAN, PERANTARA TERJADINYA KECELAKAAN, DAN LINGKUNGAN YANG KOMPLEKS, YANG TIDAK
DAPAT DIJELASKAN HANYA DENGAN MEMPERTIMBANGKAN SALAH SATUDARI 3 FAKTOR YANG TERLIBAT.
OLEH KARENA ITU,UNTUK LEBIH MEMAHAMI MENGENAI PENYEBAB-PENYEBAB TERJADINYAKECELAKAAN
MAKA KARAKTERISTIK DARI KORBAN KECELAKAAN, PERANTARA TERJADINYA KECELAKAAN, DAN
LINGKUNGAN YANG MENDUKUNG HARUS DAPAT DIKETAHUI SECARA DETAIL.
TEORI KECELAKAAN KERJA
4. TEORI DOMINO TERBARU
SETELAH TAHUN 1969 SAMPAI SEKARANG, TELAH BERKEMBANG SUATU TEORI
YANG
MENGATAKAN BAHWA PENYEBAB DASAR TERJADINYA KECELAKAAN KERJA ADALAH
KETIMPANGAN MANAJEMEN. WIDNERDAN BIRD DAN LOFTUS MENGEMBANGKAN
TEORI DOMINO HEINRICH UNTUK MEMPERLIHATKAN PENGARUH MANAJEMEN
DALAM
MENGAKIBATKAN TERJADINYA KECELAKAAN.
TEORI KECELAKAAN KERJA
5. TEORI FRANK E. BIRD PETERSEN
PENELUSURAN SUMBER YANG MENGAKIBATKAN KECELAKAAN . BIRD MENGADAKAN
MODIFIKASI DENGAN TEORI DOMINO HEINRICH DENGAN MENGGUNAKAN TEORI
MANAJEMEN, YANG INTINYA SEBAGAI BERIKUT (M.SULAKSMONO,1997) :
• MANAJEMEN KURANG CONTROL
• SUMBER PENYEBAB UTAMA
• GEJALA PENYEBAB LANGSUNG (PRAKTEK DI BAWAH STANDAR)
• KONTAK PERISTIWA ( KONDISI DI BAWAH STANDAR )
• KERUGIAN GANGGUAN ( TUBUH MAUPUN HARTA BENDA )
HAZARD CONTROL
Prinsip Dasar Pengendalian Kecelakaan
Risk assessment,
identifikasi &
analisa potensi
bahaya
Tindakan &
Pengendalian
bahaya
Keselamatan Dan Kesehatan Kerja 11
 Sebagian besar kecelakaan ternyata tidak
terjadi pada mesin-mesin atau bahan yang
berbahaya, tetapi terjadi pada tindakan
biasa-biasa saja seperti tersandung,
terjatuh, tertimpa benda jatuh,
penanganan barang dan alat-alat yang
keliru dll
 Di Inggris, dari total kecelakaan di pabrik :
30 % terjadi pada pekerjaan penanganan
barang
16 % akibat terjatuh
14 % akibat mesin
Keselamatan Dan Kesehatan Kerja 12
Analisis Sebab Kecelakaan
 Penentuan sebab-sebab kecelakaan sulit :
analisa kecelakaan tidak mudah
 Bagaimana dan mengapa terjadi
kecelakaan harus secara tepat dan jelas
diketahui
 Analisis perlu untuk: menentukan siapa
yang bertanggung jawab atas terjadinya
kecelakaan dan mencegah terulangnya
peristiwa yang serupa
Keselamatan Dan Kesehatan Kerja 13
 Contoh:
Seorang menaiki tangga dan terjatuh,
disebabkan
satu anak tangga tidak ada
Analisis kecelakaan menemukan:
1. Terdapat tangga diruang kerja dengan
salah satu anak tangga hilang
2. Seorang tenaga kerja mengambil tangga
itu dan menggunakannya
3. Sesudah pekerjaan selesai ia turun tanpa
mengingat ada satu anak tangga tidak
ada
Keselamatan Dan Kesehatan Kerja 14
 Faktor penyebab kecelakaan yang
perlu ditonjolkan adalah faktor yang
akan membantu pencegahan
selanjutnya
tangga yang tidak lengkap anak
tangganya adalah sebab utama
 Faktor lain merupakan penyebab
tambahan perlu ada peraturan
penggunaan tangga yang tidak baik
Keselamatan Dan Kesehatan Kerja 15
Pemeriksaan
Penyebab Kecelakaan:
 Harus dilakukan dilokasi kecelakaan
 Tempat kecelakaan tidak boleh dirubah
 Perlu diadakan rekonstruksi kecelakaan
 Pemeriksaan laboratorium (apabila perlu)
Keselamatan Dan Kesehatan Kerja 16
Asal Mula Upaya
Pencegahan Kecelakaan
 Dimulai pada masa revolusi industri di Eropa
 Pada awalnya ditujukan pada perlindungan tenaga kerja
anak-anak
 Dibentuk undang-undang perlindungan bagi para pekerja
tahun 1802 di Inggris
 Perundangan pabrik mula-mula tidak menganggap perlu
dibentuknya badan penegak hukum khusus tuntutan
dibuat oleh karyawan yang mengalami kecelakaan.
PENCEGAHAN KECELAKAAN KERJA
BERDASARKAN KONSEPSI SEBAB KECELAKAAN TERSEBUT DIATAS, MAKA DITINJAU DARI
SUDUT KESELAMATAN KERJA UNSUR-UNSUR PENYEBAB KECELAKAAN KERJA MENCAKUP 5 M
YAITU :
A. MANUSIA.
B. MANAJEMEN ( UNSUR PENGATUR ).
C. MATERIAL ( BAHAN-BAHAN ).
D. MESIN ( PERALATAN ).
E. MEDAN ( TEMPAT KERJA / LINGKUNGAN KERJA ).
IDENTIFIKASI BAHAYA DAN PENILAIAN RISIKO
TUJUAN
• MENGIDENTIFIKASI, MENGKLARIFIKASI, DAN
MENGENDALIKAN BAHAYA SERTA RISIKO DARI
SETIAP KEGIATAN OPERASIONAL DAN PRODUKSI
PERUSAHAAN, BAIK KEGIATAN RUTIN MAUPUN
NON RUTIN
Penilaian Risiko: Adalah keseluruhan proses dalam
mengestimasi besarnya suatu risiko
Likelyhood (Lh) : Kemungkinan terjadinya bahaya
dari suatu aktivitas
Severity (Sv) : Tingkat bahaya atau keseriusan dari
suatu aktivitas
TEKNIK & METODE IDENTIFIKASI BAHAYA
TIGA PERTANYAAN DASAR UNTUK IDENTIFIKASI BAHAYA
1.Apakah ada suatu sumber celaka atau bahaya?
2.Siapa/apa yang dapat celaka?
3.Bagaimana dapat terjadi?
JOB SAFETY ANALYSIS
Job Safety Analysis (Analisis Keselamatan Kerja) menurut definisi
National Safety Council USA adalah suatu prosedur yang
digunakan untuk meninjau ulang metode dan mengidentifikasi
praktek pekerjaan yang tidak selamat yang selanjutnya dapat
dilakukan suatu tindakan korektif sebelum kecelakaan benar-
benar terjadi.
• Secara lebih detail dapat dijelaskan bahwa analisis
keselamatan pekerjaan adalah suatu metode untuk meninjau
ulang suatu pekerjaan melalui identifikasi potensi bahaya yang
dapat mengakibatkan terjadinya kecelakaan yang terkait
dengan masing-masing tahapan pekerjaan dan pengembangan
langkah-langkah yang selamat untuk meniadakan,
mengendalikan atau mencegah potensi bahaya terjadinya
kecelakaan.
KONSEP DASAR JSA
konsep dasar pemikiran perlunya dilakukan suatu analisis keselamatan
pekerjaan adalah :
1. Setiap pekerjaan kecelakaan atau musibah selalu ada penyebabnya
2. Setiap jenis pekerjaan atau tugas-tugas dapatlah diuraikan ke dalam
suatu urutan tahapan proses kerja yang lebih sederhana
3. Setiap tahapan proses kerja akan dapat dikenali potensi bahayanya
4. Setiap potensi bahaya yang beresiko sebagai penyebab terjadinya
kecelakaan atau kerugian pada setiap tahapan proses kerja akan dapat
dicegah dan dikendalikan.
TAHAPAN JSA
1. Memilih Jenis Pekerjaan
2. Membentuk Tim Analisa Keselamatan Pekerjaan
3. Menguraikan Suatu Pekerjaan
4. Mengidentifikasi Bahaya yang Berpotensi
5. Membuat Penyelesaian
CONTOH JSA
STATISTIK DALAM PENILAIAN KINERJA PROGRAM K3
TUJUAN DAN MANFAAT STATISTIK DALAM PENERAPAN K3 ADALAH DIGUNAKAN UNTUK
MENILAI ‘OHS PERFORMANCE PROGRAMS’. DENGAN MENGGUNAKAN STATISTIK DAPAT
MEMBERIKAN MASUKAN KE MANAJEMEN MENGENAI TINGKAT KECELAKAAN KERJA
SERTA BERBAGAI FAKTOR YANG DAPAT DIGUNAKAN SEBAGAI DASAR UNTUK MENCEGAH
MENURUNNYA KINERJA K3.
KONKRITNYA STATISTIK DAPAT DIGUNAKAN UNTUK :
• MENGIDENTIFIKASI NAIK TURUNNYA (TREND) DARI SUATU TIMBULNYA KECELAKAAN
KERJA
• MENGETAHUI PENINGKATAN ATAU BERBAGAI HAL YANG MEMPERBURUK KINERJA K3
• MEMBANDINGKAN KINERJA ANTARA TEMPAT KERJA DAN INDUSTRI YANG SERUPA (T-
SAFE SCORE)
• MEMBERIKAN INFORMASI MENGENAI PRIORITAS PENGALOKASIAN DANA K3
• MEMONITOR KINERJA ORGANISASI, KHUSUSNYA MENGENAI PERSYARATAN UNTUK
PENYEDIAAN SISTIM/TEMPAT KERJA YANG AMAN
1. Ratio Kekerapan Cidera (Frequency Rate)
Frekwensi Rate digunakan untuk mengidentifikasi jumlah cidera yang
menyebabkan tidak bisa bekerja per sejuta orang pekerja. Ada dua data
penting yang harus ada untuk menghitung frekwensi rate, yaitu jumlah jam
kerja hilang akibat kecelakaan kerja (Lost Time Injury /LTI) dan jumlah jam
kerja orang yang telah dilakukan (man hours).
Angka LTI diperoleh dari catatan lama mangkirnya tenaga kerja akibat
kecelakaan kerja. Sedang jumlah jam kerja orang yang terpapar diperoleh
dari bagian absesnsi atau pembayaran gaji. Bila tidak memungkinkan,
angka ini dihitung dengan mengalikan jam kerja normal tenaga kerja
terpapar, hari kerja yang diterapkan dan jumlah tenaga kerja keseluruhan
yang beresiko.
Rumus:Frekwensi Rate = (Jumlah cidera dgn hilang waktu kerja x
1,000,000) / Total Person-hours Worked
Contoh:
Organisasi dengan tenaga kerja 500 orang, jumlah jam
kerja yang telah dicapai 1,150,000 juta jam kerja orang.
Pada saat yang sama cidera yang menyebabkan hilangnya
waktu kerja sebanyak 46. Berapa frekwensi ratenya ?
Frekwensi Rate = 46 x 1,000,000 / 1,150,000 = 40
Nilai frekwensi rate 40 berarti, bahwa pada periode orang
kerja tersebut terjadi hilangnya waktu kerja sebesar 40
jam per-sejuta orang kerja. Angka ini tidak
mengindikasikan tingkat keparahan kecelakaan kerja.
Angka ini mengindikasikan bahwa pekerja tidak berada di
tempat kerja setelah terjadinya kecelakaan kerja.
Ratio Keparahan Cidera (Severity Rate)
Indikator hilangnya hari kerja akibat kecelakaan kerja untuk per
sejuta jam kerja orang.
Rumus : Severity Rate = ( Jumlah hari kerja hilang x
1,000,000)/ Total Person-hours Worked
Contoh:
Sebuah tempat kerja telah bekerja 365,000 jam orang, selama
setahun telah terjadi 5 kasus kecelakaan kerja yang menyebabkan
175 hari kerja hilang. Tentukan rate waktu kerja hilang akibat
kecelakaan kerja tersebut.
Frekwensi Rate = ( 5 x 1,000,000) / 365,000 = 13,70
Severity Rate = (175 x 1,000,000) / 365,000 = 479
Nilai severity rate 479 mengindikasikan bahwa selama kurun waktu
tersebut berarti, pada tahun tersebut telah terjadi hilangnya waktu
kerja sebesar 479 hari per sejuta jam kerja orang.
Rerata Hilangnya Waktu Kerja (Average Time Lost
Rate/ALTR)
Ukuran indicator ini sering disebut juga ‘Duration Rate’
digunakan untuk mengidikasikan tingkat keparahan suatu
kecelakaan. Dengan penggunaan ALTR yang
dikombinasikan denga Frekwensi Rate akan lebih
menjelaskan hasil kinerja program K3. ALTR dihitung
dengan membagi jumlah hari yang hilang akibat
kecelakaan dengan jumlah jam kerja yang hilang (LTI).
Rumus: Average Time Lost Rate = (Number of LTI x
1,000,000) / Total Person-hours
Worked Atau Average Time Lost Rate = ( Frekwensi
Rate) / Severity Rate
Contoh:
Organisasi dengan tenaga kerja 500 orang, jumlah jam kerja yang telah dicapai
1,150,000 juta jam kerja orang dan Lost Time Injury-nya (LTI) sebesar 46. Misalkan
dari laporan Kecelakaan Kerja selama 6 bulan diperoleh informasi sbb:
10 kasus hilang waktu kerja dalam 3 hari sekali = 30
8 kasus hilang waktu kerja dalam 6 hari sekali = 48
12 kasus hilang waktu kerja dalam 14 hari sekali = 168
4 kasus hilang waktu kerja dalam 20 hari sekali = 80
10 kasus hilang waktu kerja dalam 28 hari sekali = 280
2 kasus hilang waktu kerja dalam 42 hari sekali = 84
Total keseluruhan = 690 hari kerja hilang
Dengan demikian,
Rerata Hilangnya Waktu kerja = 690 / 46 = 15
Dari informasi contoh diatas manajemen akan lebih jelas memperoleh informasi
bahwa organisasi mempunyai hilang waktu kerja kecelakaan sebesar 40 tiap sejuta
jam kerja orang dengan rata-rata menyebabkan 15 hari tidak masuk kerja. Dengan
informasi ini cukup bagi manajemen untuk membuat keputusan untuk pencegahan
lebih lanjut.
4. Incidence Rate
Incidence rate digunakan untuk
menginformasikan mengenai prosentase jumlah
kecelakaan yang terjadi ditempat kerja
Rumus: Incidence Rate = ( Jumlah Kasus x
100) / Jumlah tenaga kerja terpapar
Contoh : Masih melanjutkan kasus diatas
Incidence Rate = ( 46 x 100 ) / 500 = 9,2%
5. Frequency Severity Indicator (FSI)
Frequency Severity Indicator adalah
kombinasi dari frekwensi dan severity
rate.
Rumus: FSI = ( Frekwensi Rate x
Severity Rate) / 1,000
Contoh: Frekwensi Rate : Severity Rate :
FSI
2 125 0,5
4 250 1,0
8 500 2,0
Nilai FSI ini dapat kita jadikan rangking
kinerja antar bagian di tempat kerja
6. Safe-T Score
Safe T score adalah nilai indikator untuk menilai
tingkat perbedaan antara dua kelompok yang
dibandingkan. Apakah perbedaan pada dua
kelompok tersebut bermakna atau tidak. Dalam
statistik biasanya disebut sebagai t-test. Perbedaan
ini dinilai untuk membandingkan kinerja suatu
kelompok dengan kinerja sebelumnya. Hasil
perbedaan ini dapat dijadikan apakah terjadi
perbedaan yang mencolok atau tidak. Selanjutnya
dapat dipakai untuk menilai kinerja yang telah kita
lakukan.
Rumus: Safe-T Score =(Frekwensi Rate Sekarang – Frekwensi
Rate Sebelumnya ) / ( ( Frekwensi Rate Sebelumnya)/ Juta jam
kerja orang sekarang))
Interpretasi :
Score positif dari Safe T Score mengindikasikan jeleknya record
kejadian, sebaliknya score negatif menunjukkan peningkatan record
terdahulu. Interpretasi dari Score ini selengkapnya sebagai berikut:
• Safe T Score diantara +2.00 dan –2.00, artinya tidak ada perbedaan
atau perbedaan tidak bermakna.
• Safe T Score lebih besar atau sama dengan +2.00 menunjukkan
menurunnya performance/kinerja K3, atau ada sesuatu yang salah.
• Safe T Score lebih kecil atau sama dengan -2.00 menunjukkan
membaikknya performance/kinerja K3, atau ada sesuatu yang baik dan
perlu dipertahankan.
Contoh :
Lokasi A
-----------------------------------
Tahun lalu
10 kasus kecelakaan
10,000 jam orang kerja
Frekwensi Rate = 1,000
Tahun ini -15 kasus kecelakaan
10,000 jam orang kerja
Frekwensi Rate = 1,500
========================
Lokasi B
-------------------------------------------------
Tahun lalu – 1000 kasus kecelakaan
1000,000 jam orang kerja
Frekwensi Rate = 1,000
Tahun ini – 1,100 kasus kecelakaan
1000,000 jam orang kerja
Frekwensi Rate = 1,000
Jawab:
Frekwensi Rate Sekarang – Frekwensi Rate Sebelumnya
Safe-T Score = ----------------------------------------------------------------
-
Frekwensi Rate Sebelumnya
Juta jam kerja orang sekarang
Lokasi A
Safe-T Score = (1,500 – 1,000)/ akar dari ( 1000/0.01) = 500/ 317 =
Safe-T Score = +1,58
Artinya peningkatan 50% jumlah kasus pada lokasi A termasuk
peningkatan yang tidak bermakna
Lokasi B
Safe-T Score = 1,100 – 1,000/ akar dari ( 1000/0.01) = 100/ 317
=Safe-T Score = +3,17
Artinya peningkatan 10% jumlah kasus pada lokasi ini ada perbedaan
yang bermakna, artinya ada sesuatu yang salah, yang perlu mendapat
perhatian.
6. Pemantauan Dengan Grafik Statistik (Control Chart
Technique)
Fluktuasi kejadian dalam statistik merupakan hal yang biasa, yang
menjadi pertanyaan dalam hal ini apakah fluktuasi kejadian tersebut
masih dalam rentang sesuai ketentuan yang ditetapkan ataukah keluar
dari rentang yang ditetapkan. Dengan dasar ini kita dapat
menggunakan statistik untuk aplikasi pengendalian suatu aspek K3.
Dengan diketahuinya batas-batas rentang (batas atas dan batas bawah)
yang ditentukan dapat memberikan informasi kepada pengelola, bahwa
suatu aspek K3 tersebut terkendali atau tidak terkendali. Contoh
penggunaan statistik untuk pengendalian aspek K3 dapat dilihat di
lampiran.
Aspek-aspek K3 yang dapat ditetapkan batas-batasnya meliputi:
• Hasil pengamatan perilaku tidak selamat, Frekwensi rate, Severity
rate, FSI, Dll
Setelah data-data dihitung, kemudian dibuatlah grafik (chart), apabila
ditemukan dari salah satu aspek K3 yang melewati batas-batas yang
ditentukan, maka hal ini merupakan informasi untuk pengelola.
7. Safety Sampling (Survey K3)
Yang dimaksud Safety Sampling adalah mendapatkan
data dengan cara observasi ke lapangan. Sebelum
dilakukan observasi, terlebih dahulu ditetapkan apa
yang mau diobservasi. Setelah itu tulis semua elemen
yang akan menjadi obyek obaservasi. Misalnya
observasi cara kerja/perilaku yang tidak selamat,
maka sebelumnya kita tentukan jenis aktifitas apa
saja yang tergolong '‘unsafe-act'’ Baru setelah
ditentukan maka dilakukanlah observasi dengan turun
dilakukan. Setiap hasil observasi/temuan harus dicatat
dalam bentuk turus sehingga nantinya memudahkan
membuat prosentase hasil pengamatan.
Untuk mendapatkan hasil pengamatan yang akurat maka masing-masing aspek
amatan perlu divalidasi, dengan kata lain dihitung jumlah amatan minimum
sehingga hasil amatan tersebut merupakan hasil yang akurat. Untuk
menentukan jumlah amatan yang representatif digunakan rumus sebagai
berikut:
N = 4 (1 – P) / Y2 (P)
Keterangan:
N = Jumlah keseluruhan pengamatan yang dibutuhkan
P = Prosentase dari unsafe observation
Y = derajat akurasi yang diinginkan (biasanya 10% atau 5%)
Contoh:
Dari hasil survey awal ditemukan 126 jumlah observasi ditemukan 32 amatan
unsafe act, dengan demikian % unsafe act = 32 x 100/126 = 0,254. Untuk
mengetahui jumlah amatan yang sebenarnya untuk hasil yang akurat, maka
dimasukkanlah ke dalam rumus sebagai berikut:
N = 4 (1 – P) / Y2 (P)
N = 4 (1 – 0,25) / 0,102 (0,25)
= 3/0,0025 = 1,200 (jumlah observasi yang sebaiknya dilakukan)
HAL PENTING UNTUK DIINGAT
• Angka-angka Frekwensi Rate, Average Time Lost Rate dan
Incidence Rate merupakan tingkat pencapaian yang sifatnya
specifik per tempat kerja. Artinya angka perhitungan dari suatu
perusahaan bukan merupakan standard yang dapat dibuat
patokan, untuk tempat kerja yang lain. Ini disebabkan karena
jumlah tenaga kerja yang tidak sama dan kondisi yang
berlainan.
• Angka-angka ini tidak cocok diterapkan untuk jumlah tenaga
kerja yang sedikit, karena akan kesulitan mencapai tingkat
persejuta jam kerja orang terpapar.
• Rendahnya pencapaian angka ini tidak menggambarkan
performa penerapan K3 secara keseluruhan (hanya
mempertimbangkan insiden-insiden kecelakaan kerja saja).
Tapi tidak menekankan upaya-upaya apa saja yang telah
dilakukan untuk pencegahan kecelakaan kerja.
• Angka ini tidak memperhitungkan jenis-jenis kecelakaan minor
(tidak menyebabkan hilangnya hari kerja, termasuk didalamnya
‘near missess’ incident). Dengan demikian kecelakaan-
kecelakaan ringan seperti, lecet akibat terjatuh, tangan
HTTP://WWW.BPJSKETENAGAKERJAAN.GO.ID/PAGE/PROGRAM/PROGRAM-
JAMINAN-KECELAKAAN-KERJA-(JKK).HTML
SUMBER
• HTTP://WWW.SLIDESHARE.NET/RERULYANEE/IDENTIFIKASI-BAHAYA-DAN-
PENILAIAN-RESIKO
• JBPT UNIKOM

More Related Content

Similar to KECELAKAAN_KERJA.ppt

Keselamatan_Kerja_dan_Kecelakaan_Kerja.pptx
Keselamatan_Kerja_dan_Kecelakaan_Kerja.pptxKeselamatan_Kerja_dan_Kecelakaan_Kerja.pptx
Keselamatan_Kerja_dan_Kecelakaan_Kerja.pptx
NurCahyani13
 
K3 & Aspek HIK Pertemuan -1.pptx
K3 & Aspek HIK Pertemuan -1.pptxK3 & Aspek HIK Pertemuan -1.pptx
K3 & Aspek HIK Pertemuan -1.pptx
KimLangoday
 
Bahan-Bacaan-1-Dasar-dasar-K3.pdf
Bahan-Bacaan-1-Dasar-dasar-K3.pdfBahan-Bacaan-1-Dasar-dasar-K3.pdf
Bahan-Bacaan-1-Dasar-dasar-K3.pdf
afri7
 
Makalah jsa mesin bubut
Makalah jsa mesin bubutMakalah jsa mesin bubut
Makalah jsa mesin bubut
Muhammad Arham
 
Materi orientasi dan pengertian k3 mg 1 01
Materi orientasi dan pengertian k3 mg 1 01Materi orientasi dan pengertian k3 mg 1 01
Materi orientasi dan pengertian k3 mg 1 01
Uwai Shakespeare
 
Kharunia septia prima (1530118)
Kharunia septia prima (1530118)Kharunia septia prima (1530118)
Kharunia septia prima (1530118)
Yogi Asmamet
 
makalah stres dan keselamatan kerja
makalah stres dan keselamatan kerjamakalah stres dan keselamatan kerja
makalah stres dan keselamatan kerja
irvankhoirul
 
MAKALAH ISU ISU Kesehatan dan selanutnya3.docx
MAKALAH ISU ISU Kesehatan dan selanutnya3.docxMAKALAH ISU ISU Kesehatan dan selanutnya3.docx
MAKALAH ISU ISU Kesehatan dan selanutnya3.docx
AgnikaAr
 

Similar to KECELAKAAN_KERJA.ppt (20)

Makalah kesehatan keselamatan kerja
Makalah kesehatan keselamatan kerjaMakalah kesehatan keselamatan kerja
Makalah kesehatan keselamatan kerja
 
Keselamatan_Kerja_dan_Kecelakaan_Kerja.pptx
Keselamatan_Kerja_dan_Kecelakaan_Kerja.pptxKeselamatan_Kerja_dan_Kecelakaan_Kerja.pptx
Keselamatan_Kerja_dan_Kecelakaan_Kerja.pptx
 
01. Presentasi Pelatihan Manajemen Risiko.pdf
01. Presentasi Pelatihan Manajemen Risiko.pdf01. Presentasi Pelatihan Manajemen Risiko.pdf
01. Presentasi Pelatihan Manajemen Risiko.pdf
 
Modul K3
Modul K3Modul K3
Modul K3
 
K3 & Aspek HIK Pertemuan -1.pptx
K3 & Aspek HIK Pertemuan -1.pptxK3 & Aspek HIK Pertemuan -1.pptx
K3 & Aspek HIK Pertemuan -1.pptx
 
Makalah kesehatan dan keselamatan kerja
Makalah kesehatan dan keselamatan kerjaMakalah kesehatan dan keselamatan kerja
Makalah kesehatan dan keselamatan kerja
 
MATERI-KE-3-UPAYA-PENCEGAHAN-KECELAKAAN-KERJA.pptx
MATERI-KE-3-UPAYA-PENCEGAHAN-KECELAKAAN-KERJA.pptxMATERI-KE-3-UPAYA-PENCEGAHAN-KECELAKAAN-KERJA.pptx
MATERI-KE-3-UPAYA-PENCEGAHAN-KECELAKAAN-KERJA.pptx
 
MATERI K3 & KEBAKARAN.ppt
MATERI K3 & KEBAKARAN.pptMATERI K3 & KEBAKARAN.ppt
MATERI K3 & KEBAKARAN.ppt
 
Bahan-Bacaan-1-Dasar-dasar-K3.pdf
Bahan-Bacaan-1-Dasar-dasar-K3.pdfBahan-Bacaan-1-Dasar-dasar-K3.pdf
Bahan-Bacaan-1-Dasar-dasar-K3.pdf
 
presentasi-finish.ppt
presentasi-finish.pptpresentasi-finish.ppt
presentasi-finish.ppt
 
Inisiasi 8 new k3
Inisiasi 8 new k3Inisiasi 8 new k3
Inisiasi 8 new k3
 
Makalah jsa mesin bubut
Makalah jsa mesin bubutMakalah jsa mesin bubut
Makalah jsa mesin bubut
 
Materi orientasi dan pengertian k3 mg 1 01
Materi orientasi dan pengertian k3 mg 1 01Materi orientasi dan pengertian k3 mg 1 01
Materi orientasi dan pengertian k3 mg 1 01
 
Kharunia septia prima (1530118)
Kharunia septia prima (1530118)Kharunia septia prima (1530118)
Kharunia septia prima (1530118)
 
Inisiasi 7 new
Inisiasi 7 newInisiasi 7 new
Inisiasi 7 new
 
Analisa Kecelakaan Kerja pada Industri dan K3 Umum
Analisa Kecelakaan Kerja pada Industri dan K3 UmumAnalisa Kecelakaan Kerja pada Industri dan K3 Umum
Analisa Kecelakaan Kerja pada Industri dan K3 Umum
 
makalah stres dan keselamatan kerja
makalah stres dan keselamatan kerjamakalah stres dan keselamatan kerja
makalah stres dan keselamatan kerja
 
K3
K3K3
K3
 
MAKALAH ISU ISU Kesehatan dan selanutnya3.docx
MAKALAH ISU ISU Kesehatan dan selanutnya3.docxMAKALAH ISU ISU Kesehatan dan selanutnya3.docx
MAKALAH ISU ISU Kesehatan dan selanutnya3.docx
 
Pengembangan dan Aplikasi K3 dalam Perusahaan
Pengembangan dan Aplikasi K3 dalam PerusahaanPengembangan dan Aplikasi K3 dalam Perusahaan
Pengembangan dan Aplikasi K3 dalam Perusahaan
 

More from fajarnurcahyani (9)

mix method research quantitatif and qualitatif.pptx
mix method research quantitatif and qualitatif.pptxmix method research quantitatif and qualitatif.pptx
mix method research quantitatif and qualitatif.pptx
 
Metode penelitian campuran kuantitatif dan kualitatif.pptx
Metode penelitian campuran kuantitatif dan kualitatif.pptxMetode penelitian campuran kuantitatif dan kualitatif.pptx
Metode penelitian campuran kuantitatif dan kualitatif.pptx
 
Word classes. all about word clases.pptx
Word classes. all about word clases.pptxWord classes. all about word clases.pptx
Word classes. all about word clases.pptx
 
ANALISIS SWOT.pptx
ANALISIS SWOT.pptxANALISIS SWOT.pptx
ANALISIS SWOT.pptx
 
analisis korelasi.ppt
analisis korelasi.pptanalisis korelasi.ppt
analisis korelasi.ppt
 
ANALISIS REGRESI SEDERHANA.ppt
ANALISIS REGRESI SEDERHANA.pptANALISIS REGRESI SEDERHANA.ppt
ANALISIS REGRESI SEDERHANA.ppt
 
PPT 1.pptx
PPT 1.pptxPPT 1.pptx
PPT 1.pptx
 
mms.pptx
mms.pptxmms.pptx
mms.pptx
 
P2.pptx
P2.pptxP2.pptx
P2.pptx
 

Recently uploaded

Modul Ajar Ipa kelas 8 Struktur Bumi dan perkembangannya
Modul Ajar Ipa kelas 8 Struktur Bumi dan perkembangannyaModul Ajar Ipa kelas 8 Struktur Bumi dan perkembangannya
Modul Ajar Ipa kelas 8 Struktur Bumi dan perkembangannya
Novi Cherly
 
Presentasi-ruang-kolaborasi-modul-1.4.doc
Presentasi-ruang-kolaborasi-modul-1.4.docPresentasi-ruang-kolaborasi-modul-1.4.doc
Presentasi-ruang-kolaborasi-modul-1.4.doc
LeoRahmanBoyanese
 
Laporan Guru Piket Bukti Dukung PMM - www.kherysuryawan.id (1) (1).pdf
Laporan Guru Piket Bukti Dukung PMM - www.kherysuryawan.id (1) (1).pdfLaporan Guru Piket Bukti Dukung PMM - www.kherysuryawan.id (1) (1).pdf
Laporan Guru Piket Bukti Dukung PMM - www.kherysuryawan.id (1) (1).pdf
SriHandayaniLubisSpd
 
KISI KISI SAS GENAP-PAI 7- KUMER-2023.doc
KISI KISI SAS GENAP-PAI 7- KUMER-2023.docKISI KISI SAS GENAP-PAI 7- KUMER-2023.doc
KISI KISI SAS GENAP-PAI 7- KUMER-2023.doc
riska190321
 

Recently uploaded (20)

Modul Ajar Ipa kelas 8 Struktur Bumi dan perkembangannya
Modul Ajar Ipa kelas 8 Struktur Bumi dan perkembangannyaModul Ajar Ipa kelas 8 Struktur Bumi dan perkembangannya
Modul Ajar Ipa kelas 8 Struktur Bumi dan perkembangannya
 
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
 
Lokakarya Kepemimpinan Sekolah Penggerak 1.pptx
Lokakarya Kepemimpinan Sekolah Penggerak 1.pptxLokakarya Kepemimpinan Sekolah Penggerak 1.pptx
Lokakarya Kepemimpinan Sekolah Penggerak 1.pptx
 
Materi Penggolongan Obat Undang-Undang Kesehatan
Materi Penggolongan Obat Undang-Undang KesehatanMateri Penggolongan Obat Undang-Undang Kesehatan
Materi Penggolongan Obat Undang-Undang Kesehatan
 
PPT TUGAS DISKUSI KELOMPOK 3 KELAS 224 MODUL 1.4.pdf
PPT TUGAS DISKUSI KELOMPOK 3 KELAS 224 MODUL 1.4.pdfPPT TUGAS DISKUSI KELOMPOK 3 KELAS 224 MODUL 1.4.pdf
PPT TUGAS DISKUSI KELOMPOK 3 KELAS 224 MODUL 1.4.pdf
 
#05 SOSIALISASI JUKNIS BOK 2024 Canva_124438.pptx
#05 SOSIALISASI JUKNIS BOK 2024 Canva_124438.pptx#05 SOSIALISASI JUKNIS BOK 2024 Canva_124438.pptx
#05 SOSIALISASI JUKNIS BOK 2024 Canva_124438.pptx
 
MODUL AJAR PENDIDIKAN PANCASILA (PPKN) KELAS 3 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR PENDIDIKAN PANCASILA (PPKN) KELAS 3 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR PENDIDIKAN PANCASILA (PPKN) KELAS 3 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR PENDIDIKAN PANCASILA (PPKN) KELAS 3 KURIKULUM MERDEKA.pdf
 
RPP 1 Lembar Prakarya Kelas 8 Semester 2 (gurusekali.com).docx
RPP 1 Lembar Prakarya Kelas 8 Semester 2 (gurusekali.com).docxRPP 1 Lembar Prakarya Kelas 8 Semester 2 (gurusekali.com).docx
RPP 1 Lembar Prakarya Kelas 8 Semester 2 (gurusekali.com).docx
 
Materi: Mengapa tidak memanfaatkan Media ?
Materi: Mengapa tidak memanfaatkan Media ?Materi: Mengapa tidak memanfaatkan Media ?
Materi: Mengapa tidak memanfaatkan Media ?
 
Presentasi-ruang-kolaborasi-modul-1.4.doc
Presentasi-ruang-kolaborasi-modul-1.4.docPresentasi-ruang-kolaborasi-modul-1.4.doc
Presentasi-ruang-kolaborasi-modul-1.4.doc
 
PELAKSANAAN + Link2 MATERI Training_ "AUDIT INTERNAL + SISTEM MANAJEMEN MUTU ...
PELAKSANAAN + Link2 MATERI Training_ "AUDIT INTERNAL + SISTEM MANAJEMEN MUTU ...PELAKSANAAN + Link2 MATERI Training_ "AUDIT INTERNAL + SISTEM MANAJEMEN MUTU ...
PELAKSANAAN + Link2 MATERI Training_ "AUDIT INTERNAL + SISTEM MANAJEMEN MUTU ...
 
MODUL AJAR BAHASA INGGRIS KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR BAHASA INGGRIS KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR BAHASA INGGRIS KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR BAHASA INGGRIS KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
 
MODUL AJAR MATEMATIKA KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR MATEMATIKA KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR MATEMATIKA KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR MATEMATIKA KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
 
Modul Ajar Matematika Kelas 5 Fase C Kurikulum Merdeka [abdiera.com]
Modul Ajar Matematika Kelas 5 Fase C Kurikulum Merdeka [abdiera.com]Modul Ajar Matematika Kelas 5 Fase C Kurikulum Merdeka [abdiera.com]
Modul Ajar Matematika Kelas 5 Fase C Kurikulum Merdeka [abdiera.com]
 
MODUL AJAR PENDIDIKAN PANCASILA KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR PENDIDIKAN PANCASILA KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR PENDIDIKAN PANCASILA KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR PENDIDIKAN PANCASILA KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
 
Laporan Guru Piket Bukti Dukung PMM - www.kherysuryawan.id (1) (1).pdf
Laporan Guru Piket Bukti Dukung PMM - www.kherysuryawan.id (1) (1).pdfLaporan Guru Piket Bukti Dukung PMM - www.kherysuryawan.id (1) (1).pdf
Laporan Guru Piket Bukti Dukung PMM - www.kherysuryawan.id (1) (1).pdf
 
MODUL AJAR SENI TARI KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR SENI TARI KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR SENI TARI KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR SENI TARI KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
 
KISI KISI SAS GENAP-PAI 7- KUMER-2023.doc
KISI KISI SAS GENAP-PAI 7- KUMER-2023.docKISI KISI SAS GENAP-PAI 7- KUMER-2023.doc
KISI KISI SAS GENAP-PAI 7- KUMER-2023.doc
 
Aksi Nyata Pendidikan inklusi-Kompres.pdf
Aksi Nyata Pendidikan inklusi-Kompres.pdfAksi Nyata Pendidikan inklusi-Kompres.pdf
Aksi Nyata Pendidikan inklusi-Kompres.pdf
 
PPT PEMBELAJARAN KELAS 3 TEMATIK TEMA 3 SUBTEMA SUBTEMA 1 PEMBELAJARAN 1
PPT PEMBELAJARAN KELAS 3 TEMATIK TEMA 3 SUBTEMA SUBTEMA 1 PEMBELAJARAN 1PPT PEMBELAJARAN KELAS 3 TEMATIK TEMA 3 SUBTEMA SUBTEMA 1 PEMBELAJARAN 1
PPT PEMBELAJARAN KELAS 3 TEMATIK TEMA 3 SUBTEMA SUBTEMA 1 PEMBELAJARAN 1
 

KECELAKAAN_KERJA.ppt

  • 2. PENGERTIAN KECELAKAAN KERJA (1) • KECELAKAAN ADALAH SUATU KEJADIAN YANG TIDAK DIDUGA SEMULA DAN TIDAK DIKEHENDAKI YANG MENGACAUKAN PROSES YANG TELAH DIATUR DARI SUATU AKTIVITAS DAN DAPAT MENIMBULKAN KERUGIAN BAIK KORBAN MANUSIA DAN ATAU HARTA BENDA (DEPNAKER, 1999:4)
  • 3. PENGERTIAN KECELAKAAN KERJA (2) • KECELAKAAN KERJA ( ACCIDENT ) ADALAH SUATU KEJADIAN ATAUPERISTIWA YANG TIDAK DIINGINKAN YANG MERUGIKAN TERHADAP MANUSIA, MERUSAK HARTABENDA ATAU KERUGIAN TERHADAP PROSES (DIDI SUGANDI, 2003 : 171)
  • 4. PENGERTIAN KECELAKAAN KERJA (3) • KECELAKAAN KERJA ADALAH KECELAKAAN YANG TERJADI KETIKA BERHUBUNGAN DENGAN HUBUNGAN KERJA, TERMASUK PENYAKIT YANG TIMBUL KARENA HUBUNGAN KERJA DEMIKIAN PULA KECELAKAAN YANG TERJADI DALAM PERJALANAN BERANGKAT DARI RUMAH MENUJU TEMPAT KERJA DAAN PULANG KE RUMAH MELALUI JALAN BIASA ATAU WAJAR DILALUI.
  • 5. TEORI KECELAKAAN KERJA 1. TEORI HEINRICH ( TEORI DOMINO) TEORI INI MENGATAKAN BAHWA SUATU KECELAKAAN TERJADI DARI SUATU RANGKAIAN KEJADIAN . ADA LIMA FAKTOR YANG TERKAIT DALAM RANGKAIAN KEJADIAN TERSEBUT YAITU : LINGKUNGAN, KESALAHAN MANUSIA, PERBUATAN ATAU KONDISI YANG TIDAK AMAN, KECELAKAAN, DAN CEDERA ATAU KERUGIAN ( RIDLEY, 1986 )
  • 6. TEORI KECELAKAAN KERJA 2. TEORI MULTIPLE CAUSATION TEORI INI BERDASARKAN PADA KENYATAAN BAHWA KEMUNGKINAN ADA LEBIH DARI SATU PENYEBAB TERJADINYA KECELAKAAN. PENYEBAB INI MEWAKILI PERBUATAN, KONDISI ATAU SITUASI YANG TIDAK AMAN. KEMUNGKINAN- KEMUNGKINAN PENYEBAB TERJADINYA KECELAKAAN KERJA TERSEBUT PERLU DITELITI.
  • 7. TEORI KECELAKAAN KERJA 3. TEORI GORDON MENURUT GORDON (1949), KECELAKAAN MERUPAKAN AKIBAT DARI INTERAKSI ANTARA KORBAN KECELAKAAN, PERANTARA TERJADINYA KECELAKAAN, DAN LINGKUNGAN YANG KOMPLEKS, YANG TIDAK DAPAT DIJELASKAN HANYA DENGAN MEMPERTIMBANGKAN SALAH SATUDARI 3 FAKTOR YANG TERLIBAT. OLEH KARENA ITU,UNTUK LEBIH MEMAHAMI MENGENAI PENYEBAB-PENYEBAB TERJADINYAKECELAKAAN MAKA KARAKTERISTIK DARI KORBAN KECELAKAAN, PERANTARA TERJADINYA KECELAKAAN, DAN LINGKUNGAN YANG MENDUKUNG HARUS DAPAT DIKETAHUI SECARA DETAIL.
  • 8. TEORI KECELAKAAN KERJA 4. TEORI DOMINO TERBARU SETELAH TAHUN 1969 SAMPAI SEKARANG, TELAH BERKEMBANG SUATU TEORI YANG MENGATAKAN BAHWA PENYEBAB DASAR TERJADINYA KECELAKAAN KERJA ADALAH KETIMPANGAN MANAJEMEN. WIDNERDAN BIRD DAN LOFTUS MENGEMBANGKAN TEORI DOMINO HEINRICH UNTUK MEMPERLIHATKAN PENGARUH MANAJEMEN DALAM MENGAKIBATKAN TERJADINYA KECELAKAAN.
  • 9. TEORI KECELAKAAN KERJA 5. TEORI FRANK E. BIRD PETERSEN PENELUSURAN SUMBER YANG MENGAKIBATKAN KECELAKAAN . BIRD MENGADAKAN MODIFIKASI DENGAN TEORI DOMINO HEINRICH DENGAN MENGGUNAKAN TEORI MANAJEMEN, YANG INTINYA SEBAGAI BERIKUT (M.SULAKSMONO,1997) : • MANAJEMEN KURANG CONTROL • SUMBER PENYEBAB UTAMA • GEJALA PENYEBAB LANGSUNG (PRAKTEK DI BAWAH STANDAR) • KONTAK PERISTIWA ( KONDISI DI BAWAH STANDAR ) • KERUGIAN GANGGUAN ( TUBUH MAUPUN HARTA BENDA )
  • 10. HAZARD CONTROL Prinsip Dasar Pengendalian Kecelakaan Risk assessment, identifikasi & analisa potensi bahaya Tindakan & Pengendalian bahaya
  • 11. Keselamatan Dan Kesehatan Kerja 11  Sebagian besar kecelakaan ternyata tidak terjadi pada mesin-mesin atau bahan yang berbahaya, tetapi terjadi pada tindakan biasa-biasa saja seperti tersandung, terjatuh, tertimpa benda jatuh, penanganan barang dan alat-alat yang keliru dll  Di Inggris, dari total kecelakaan di pabrik : 30 % terjadi pada pekerjaan penanganan barang 16 % akibat terjatuh 14 % akibat mesin
  • 12. Keselamatan Dan Kesehatan Kerja 12 Analisis Sebab Kecelakaan  Penentuan sebab-sebab kecelakaan sulit : analisa kecelakaan tidak mudah  Bagaimana dan mengapa terjadi kecelakaan harus secara tepat dan jelas diketahui  Analisis perlu untuk: menentukan siapa yang bertanggung jawab atas terjadinya kecelakaan dan mencegah terulangnya peristiwa yang serupa
  • 13. Keselamatan Dan Kesehatan Kerja 13  Contoh: Seorang menaiki tangga dan terjatuh, disebabkan satu anak tangga tidak ada Analisis kecelakaan menemukan: 1. Terdapat tangga diruang kerja dengan salah satu anak tangga hilang 2. Seorang tenaga kerja mengambil tangga itu dan menggunakannya 3. Sesudah pekerjaan selesai ia turun tanpa mengingat ada satu anak tangga tidak ada
  • 14. Keselamatan Dan Kesehatan Kerja 14  Faktor penyebab kecelakaan yang perlu ditonjolkan adalah faktor yang akan membantu pencegahan selanjutnya tangga yang tidak lengkap anak tangganya adalah sebab utama  Faktor lain merupakan penyebab tambahan perlu ada peraturan penggunaan tangga yang tidak baik
  • 15. Keselamatan Dan Kesehatan Kerja 15 Pemeriksaan Penyebab Kecelakaan:  Harus dilakukan dilokasi kecelakaan  Tempat kecelakaan tidak boleh dirubah  Perlu diadakan rekonstruksi kecelakaan  Pemeriksaan laboratorium (apabila perlu)
  • 16. Keselamatan Dan Kesehatan Kerja 16 Asal Mula Upaya Pencegahan Kecelakaan  Dimulai pada masa revolusi industri di Eropa  Pada awalnya ditujukan pada perlindungan tenaga kerja anak-anak  Dibentuk undang-undang perlindungan bagi para pekerja tahun 1802 di Inggris  Perundangan pabrik mula-mula tidak menganggap perlu dibentuknya badan penegak hukum khusus tuntutan dibuat oleh karyawan yang mengalami kecelakaan.
  • 17. PENCEGAHAN KECELAKAAN KERJA BERDASARKAN KONSEPSI SEBAB KECELAKAAN TERSEBUT DIATAS, MAKA DITINJAU DARI SUDUT KESELAMATAN KERJA UNSUR-UNSUR PENYEBAB KECELAKAAN KERJA MENCAKUP 5 M YAITU : A. MANUSIA. B. MANAJEMEN ( UNSUR PENGATUR ). C. MATERIAL ( BAHAN-BAHAN ). D. MESIN ( PERALATAN ). E. MEDAN ( TEMPAT KERJA / LINGKUNGAN KERJA ).
  • 18. IDENTIFIKASI BAHAYA DAN PENILAIAN RISIKO TUJUAN • MENGIDENTIFIKASI, MENGKLARIFIKASI, DAN MENGENDALIKAN BAHAYA SERTA RISIKO DARI SETIAP KEGIATAN OPERASIONAL DAN PRODUKSI PERUSAHAAN, BAIK KEGIATAN RUTIN MAUPUN NON RUTIN
  • 19. Penilaian Risiko: Adalah keseluruhan proses dalam mengestimasi besarnya suatu risiko Likelyhood (Lh) : Kemungkinan terjadinya bahaya dari suatu aktivitas Severity (Sv) : Tingkat bahaya atau keseriusan dari suatu aktivitas
  • 20. TEKNIK & METODE IDENTIFIKASI BAHAYA
  • 21. TIGA PERTANYAAN DASAR UNTUK IDENTIFIKASI BAHAYA 1.Apakah ada suatu sumber celaka atau bahaya? 2.Siapa/apa yang dapat celaka? 3.Bagaimana dapat terjadi?
  • 22. JOB SAFETY ANALYSIS Job Safety Analysis (Analisis Keselamatan Kerja) menurut definisi National Safety Council USA adalah suatu prosedur yang digunakan untuk meninjau ulang metode dan mengidentifikasi praktek pekerjaan yang tidak selamat yang selanjutnya dapat dilakukan suatu tindakan korektif sebelum kecelakaan benar- benar terjadi.
  • 23. • Secara lebih detail dapat dijelaskan bahwa analisis keselamatan pekerjaan adalah suatu metode untuk meninjau ulang suatu pekerjaan melalui identifikasi potensi bahaya yang dapat mengakibatkan terjadinya kecelakaan yang terkait dengan masing-masing tahapan pekerjaan dan pengembangan langkah-langkah yang selamat untuk meniadakan, mengendalikan atau mencegah potensi bahaya terjadinya kecelakaan.
  • 24. KONSEP DASAR JSA konsep dasar pemikiran perlunya dilakukan suatu analisis keselamatan pekerjaan adalah : 1. Setiap pekerjaan kecelakaan atau musibah selalu ada penyebabnya 2. Setiap jenis pekerjaan atau tugas-tugas dapatlah diuraikan ke dalam suatu urutan tahapan proses kerja yang lebih sederhana 3. Setiap tahapan proses kerja akan dapat dikenali potensi bahayanya 4. Setiap potensi bahaya yang beresiko sebagai penyebab terjadinya kecelakaan atau kerugian pada setiap tahapan proses kerja akan dapat dicegah dan dikendalikan.
  • 25. TAHAPAN JSA 1. Memilih Jenis Pekerjaan 2. Membentuk Tim Analisa Keselamatan Pekerjaan 3. Menguraikan Suatu Pekerjaan 4. Mengidentifikasi Bahaya yang Berpotensi 5. Membuat Penyelesaian
  • 27. STATISTIK DALAM PENILAIAN KINERJA PROGRAM K3 TUJUAN DAN MANFAAT STATISTIK DALAM PENERAPAN K3 ADALAH DIGUNAKAN UNTUK MENILAI ‘OHS PERFORMANCE PROGRAMS’. DENGAN MENGGUNAKAN STATISTIK DAPAT MEMBERIKAN MASUKAN KE MANAJEMEN MENGENAI TINGKAT KECELAKAAN KERJA SERTA BERBAGAI FAKTOR YANG DAPAT DIGUNAKAN SEBAGAI DASAR UNTUK MENCEGAH MENURUNNYA KINERJA K3. KONKRITNYA STATISTIK DAPAT DIGUNAKAN UNTUK : • MENGIDENTIFIKASI NAIK TURUNNYA (TREND) DARI SUATU TIMBULNYA KECELAKAAN KERJA • MENGETAHUI PENINGKATAN ATAU BERBAGAI HAL YANG MEMPERBURUK KINERJA K3 • MEMBANDINGKAN KINERJA ANTARA TEMPAT KERJA DAN INDUSTRI YANG SERUPA (T- SAFE SCORE) • MEMBERIKAN INFORMASI MENGENAI PRIORITAS PENGALOKASIAN DANA K3 • MEMONITOR KINERJA ORGANISASI, KHUSUSNYA MENGENAI PERSYARATAN UNTUK PENYEDIAAN SISTIM/TEMPAT KERJA YANG AMAN
  • 28. 1. Ratio Kekerapan Cidera (Frequency Rate) Frekwensi Rate digunakan untuk mengidentifikasi jumlah cidera yang menyebabkan tidak bisa bekerja per sejuta orang pekerja. Ada dua data penting yang harus ada untuk menghitung frekwensi rate, yaitu jumlah jam kerja hilang akibat kecelakaan kerja (Lost Time Injury /LTI) dan jumlah jam kerja orang yang telah dilakukan (man hours). Angka LTI diperoleh dari catatan lama mangkirnya tenaga kerja akibat kecelakaan kerja. Sedang jumlah jam kerja orang yang terpapar diperoleh dari bagian absesnsi atau pembayaran gaji. Bila tidak memungkinkan, angka ini dihitung dengan mengalikan jam kerja normal tenaga kerja terpapar, hari kerja yang diterapkan dan jumlah tenaga kerja keseluruhan yang beresiko. Rumus:Frekwensi Rate = (Jumlah cidera dgn hilang waktu kerja x 1,000,000) / Total Person-hours Worked
  • 29. Contoh: Organisasi dengan tenaga kerja 500 orang, jumlah jam kerja yang telah dicapai 1,150,000 juta jam kerja orang. Pada saat yang sama cidera yang menyebabkan hilangnya waktu kerja sebanyak 46. Berapa frekwensi ratenya ? Frekwensi Rate = 46 x 1,000,000 / 1,150,000 = 40 Nilai frekwensi rate 40 berarti, bahwa pada periode orang kerja tersebut terjadi hilangnya waktu kerja sebesar 40 jam per-sejuta orang kerja. Angka ini tidak mengindikasikan tingkat keparahan kecelakaan kerja. Angka ini mengindikasikan bahwa pekerja tidak berada di tempat kerja setelah terjadinya kecelakaan kerja.
  • 30. Ratio Keparahan Cidera (Severity Rate) Indikator hilangnya hari kerja akibat kecelakaan kerja untuk per sejuta jam kerja orang. Rumus : Severity Rate = ( Jumlah hari kerja hilang x 1,000,000)/ Total Person-hours Worked Contoh: Sebuah tempat kerja telah bekerja 365,000 jam orang, selama setahun telah terjadi 5 kasus kecelakaan kerja yang menyebabkan 175 hari kerja hilang. Tentukan rate waktu kerja hilang akibat kecelakaan kerja tersebut. Frekwensi Rate = ( 5 x 1,000,000) / 365,000 = 13,70 Severity Rate = (175 x 1,000,000) / 365,000 = 479 Nilai severity rate 479 mengindikasikan bahwa selama kurun waktu tersebut berarti, pada tahun tersebut telah terjadi hilangnya waktu kerja sebesar 479 hari per sejuta jam kerja orang.
  • 31. Rerata Hilangnya Waktu Kerja (Average Time Lost Rate/ALTR) Ukuran indicator ini sering disebut juga ‘Duration Rate’ digunakan untuk mengidikasikan tingkat keparahan suatu kecelakaan. Dengan penggunaan ALTR yang dikombinasikan denga Frekwensi Rate akan lebih menjelaskan hasil kinerja program K3. ALTR dihitung dengan membagi jumlah hari yang hilang akibat kecelakaan dengan jumlah jam kerja yang hilang (LTI). Rumus: Average Time Lost Rate = (Number of LTI x 1,000,000) / Total Person-hours Worked Atau Average Time Lost Rate = ( Frekwensi Rate) / Severity Rate
  • 32. Contoh: Organisasi dengan tenaga kerja 500 orang, jumlah jam kerja yang telah dicapai 1,150,000 juta jam kerja orang dan Lost Time Injury-nya (LTI) sebesar 46. Misalkan dari laporan Kecelakaan Kerja selama 6 bulan diperoleh informasi sbb: 10 kasus hilang waktu kerja dalam 3 hari sekali = 30 8 kasus hilang waktu kerja dalam 6 hari sekali = 48 12 kasus hilang waktu kerja dalam 14 hari sekali = 168 4 kasus hilang waktu kerja dalam 20 hari sekali = 80 10 kasus hilang waktu kerja dalam 28 hari sekali = 280 2 kasus hilang waktu kerja dalam 42 hari sekali = 84 Total keseluruhan = 690 hari kerja hilang Dengan demikian, Rerata Hilangnya Waktu kerja = 690 / 46 = 15 Dari informasi contoh diatas manajemen akan lebih jelas memperoleh informasi bahwa organisasi mempunyai hilang waktu kerja kecelakaan sebesar 40 tiap sejuta jam kerja orang dengan rata-rata menyebabkan 15 hari tidak masuk kerja. Dengan informasi ini cukup bagi manajemen untuk membuat keputusan untuk pencegahan lebih lanjut.
  • 33. 4. Incidence Rate Incidence rate digunakan untuk menginformasikan mengenai prosentase jumlah kecelakaan yang terjadi ditempat kerja Rumus: Incidence Rate = ( Jumlah Kasus x 100) / Jumlah tenaga kerja terpapar Contoh : Masih melanjutkan kasus diatas Incidence Rate = ( 46 x 100 ) / 500 = 9,2%
  • 34. 5. Frequency Severity Indicator (FSI) Frequency Severity Indicator adalah kombinasi dari frekwensi dan severity rate. Rumus: FSI = ( Frekwensi Rate x Severity Rate) / 1,000 Contoh: Frekwensi Rate : Severity Rate : FSI 2 125 0,5 4 250 1,0 8 500 2,0 Nilai FSI ini dapat kita jadikan rangking kinerja antar bagian di tempat kerja
  • 35. 6. Safe-T Score Safe T score adalah nilai indikator untuk menilai tingkat perbedaan antara dua kelompok yang dibandingkan. Apakah perbedaan pada dua kelompok tersebut bermakna atau tidak. Dalam statistik biasanya disebut sebagai t-test. Perbedaan ini dinilai untuk membandingkan kinerja suatu kelompok dengan kinerja sebelumnya. Hasil perbedaan ini dapat dijadikan apakah terjadi perbedaan yang mencolok atau tidak. Selanjutnya dapat dipakai untuk menilai kinerja yang telah kita lakukan.
  • 36. Rumus: Safe-T Score =(Frekwensi Rate Sekarang – Frekwensi Rate Sebelumnya ) / ( ( Frekwensi Rate Sebelumnya)/ Juta jam kerja orang sekarang)) Interpretasi : Score positif dari Safe T Score mengindikasikan jeleknya record kejadian, sebaliknya score negatif menunjukkan peningkatan record terdahulu. Interpretasi dari Score ini selengkapnya sebagai berikut: • Safe T Score diantara +2.00 dan –2.00, artinya tidak ada perbedaan atau perbedaan tidak bermakna. • Safe T Score lebih besar atau sama dengan +2.00 menunjukkan menurunnya performance/kinerja K3, atau ada sesuatu yang salah. • Safe T Score lebih kecil atau sama dengan -2.00 menunjukkan membaikknya performance/kinerja K3, atau ada sesuatu yang baik dan perlu dipertahankan.
  • 37. Contoh : Lokasi A ----------------------------------- Tahun lalu 10 kasus kecelakaan 10,000 jam orang kerja Frekwensi Rate = 1,000 Tahun ini -15 kasus kecelakaan 10,000 jam orang kerja Frekwensi Rate = 1,500 ======================== Lokasi B ------------------------------------------------- Tahun lalu – 1000 kasus kecelakaan 1000,000 jam orang kerja Frekwensi Rate = 1,000 Tahun ini – 1,100 kasus kecelakaan 1000,000 jam orang kerja Frekwensi Rate = 1,000
  • 38. Jawab: Frekwensi Rate Sekarang – Frekwensi Rate Sebelumnya Safe-T Score = ---------------------------------------------------------------- - Frekwensi Rate Sebelumnya Juta jam kerja orang sekarang Lokasi A Safe-T Score = (1,500 – 1,000)/ akar dari ( 1000/0.01) = 500/ 317 = Safe-T Score = +1,58 Artinya peningkatan 50% jumlah kasus pada lokasi A termasuk peningkatan yang tidak bermakna Lokasi B Safe-T Score = 1,100 – 1,000/ akar dari ( 1000/0.01) = 100/ 317 =Safe-T Score = +3,17 Artinya peningkatan 10% jumlah kasus pada lokasi ini ada perbedaan yang bermakna, artinya ada sesuatu yang salah, yang perlu mendapat perhatian.
  • 39. 6. Pemantauan Dengan Grafik Statistik (Control Chart Technique) Fluktuasi kejadian dalam statistik merupakan hal yang biasa, yang menjadi pertanyaan dalam hal ini apakah fluktuasi kejadian tersebut masih dalam rentang sesuai ketentuan yang ditetapkan ataukah keluar dari rentang yang ditetapkan. Dengan dasar ini kita dapat menggunakan statistik untuk aplikasi pengendalian suatu aspek K3. Dengan diketahuinya batas-batas rentang (batas atas dan batas bawah) yang ditentukan dapat memberikan informasi kepada pengelola, bahwa suatu aspek K3 tersebut terkendali atau tidak terkendali. Contoh penggunaan statistik untuk pengendalian aspek K3 dapat dilihat di lampiran. Aspek-aspek K3 yang dapat ditetapkan batas-batasnya meliputi: • Hasil pengamatan perilaku tidak selamat, Frekwensi rate, Severity rate, FSI, Dll Setelah data-data dihitung, kemudian dibuatlah grafik (chart), apabila ditemukan dari salah satu aspek K3 yang melewati batas-batas yang ditentukan, maka hal ini merupakan informasi untuk pengelola.
  • 40. 7. Safety Sampling (Survey K3) Yang dimaksud Safety Sampling adalah mendapatkan data dengan cara observasi ke lapangan. Sebelum dilakukan observasi, terlebih dahulu ditetapkan apa yang mau diobservasi. Setelah itu tulis semua elemen yang akan menjadi obyek obaservasi. Misalnya observasi cara kerja/perilaku yang tidak selamat, maka sebelumnya kita tentukan jenis aktifitas apa saja yang tergolong '‘unsafe-act'’ Baru setelah ditentukan maka dilakukanlah observasi dengan turun dilakukan. Setiap hasil observasi/temuan harus dicatat dalam bentuk turus sehingga nantinya memudahkan membuat prosentase hasil pengamatan.
  • 41. Untuk mendapatkan hasil pengamatan yang akurat maka masing-masing aspek amatan perlu divalidasi, dengan kata lain dihitung jumlah amatan minimum sehingga hasil amatan tersebut merupakan hasil yang akurat. Untuk menentukan jumlah amatan yang representatif digunakan rumus sebagai berikut: N = 4 (1 – P) / Y2 (P) Keterangan: N = Jumlah keseluruhan pengamatan yang dibutuhkan P = Prosentase dari unsafe observation Y = derajat akurasi yang diinginkan (biasanya 10% atau 5%) Contoh: Dari hasil survey awal ditemukan 126 jumlah observasi ditemukan 32 amatan unsafe act, dengan demikian % unsafe act = 32 x 100/126 = 0,254. Untuk mengetahui jumlah amatan yang sebenarnya untuk hasil yang akurat, maka dimasukkanlah ke dalam rumus sebagai berikut: N = 4 (1 – P) / Y2 (P) N = 4 (1 – 0,25) / 0,102 (0,25) = 3/0,0025 = 1,200 (jumlah observasi yang sebaiknya dilakukan)
  • 42. HAL PENTING UNTUK DIINGAT • Angka-angka Frekwensi Rate, Average Time Lost Rate dan Incidence Rate merupakan tingkat pencapaian yang sifatnya specifik per tempat kerja. Artinya angka perhitungan dari suatu perusahaan bukan merupakan standard yang dapat dibuat patokan, untuk tempat kerja yang lain. Ini disebabkan karena jumlah tenaga kerja yang tidak sama dan kondisi yang berlainan. • Angka-angka ini tidak cocok diterapkan untuk jumlah tenaga kerja yang sedikit, karena akan kesulitan mencapai tingkat persejuta jam kerja orang terpapar. • Rendahnya pencapaian angka ini tidak menggambarkan performa penerapan K3 secara keseluruhan (hanya mempertimbangkan insiden-insiden kecelakaan kerja saja). Tapi tidak menekankan upaya-upaya apa saja yang telah dilakukan untuk pencegahan kecelakaan kerja. • Angka ini tidak memperhitungkan jenis-jenis kecelakaan minor (tidak menyebabkan hilangnya hari kerja, termasuk didalamnya ‘near missess’ incident). Dengan demikian kecelakaan- kecelakaan ringan seperti, lecet akibat terjatuh, tangan