Asuhan keperawatan dm bu yani

1,831 views

Published on

asuhan keperawatan

Published in: Education
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
1,831
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
44
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Asuhan keperawatan dm bu yani

  1. 1. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DIABETES MELLITUS Achmad Teguh Sulis Ratnawati
  2. 2. DIABETES MELLITUS DEFINISI • Diabetes Mellitus ( DM ) adalah penyakit metabolik yang kebanyakan herediter, tanda – tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai dengan atau tidak adanya gejala klinik akut ataupun kronik, sebagai akibat dari kuranganya insulin efektif di dalam tubuh, gangguan primer terletak pada metabolisme karbohidrat yang biasanya disertai juga gangguan metabolisme lemak dan protein.
  3. 3. ETIOLOGI • DM mempunyai etiologi yang heterogen, dimana berbagai lesi dapat menyebabkan insufisiensi insulin, tetapi determinan genetik biasanya memegang peranan penting pada mayoritas DM.
  4. 4. Faktor lain yang dianggap sebagai kemungkinan etiologi DM yaitu : • Kelainan sel beta pankreas, berkisar dari hilangnya sel beta sampai kegagalan sel beta melepas insulin. • Faktor – faktor lingkungan yang mengubah fungsi sel beta, antara lain agen yang dapat menimbulkan infeksi, diet dimana pemasukan karbohidrat dan gula yang diproses secara berlebihan, obesitas dan kehamilan. • Gangguan sistem imunitas. Sistem ini dapat dilakukan oleh autoimunitas yang disertai pembentukan sel – sel antibodi antipankreatik dan mengakibatkan kerusakan sel - sel penyekresi insulin, kemudian peningkatan kepekaan sel beta oleh virus. • Kelainan insulin. Pada pasien obesitas, terjadi gangguan kepekaan jaringan terhadap insulin akibat kurangnya reseptor insulin yang terdapat pada membran sel yang responsir terhadap insulin.
  5. 5. TIPE DM Klasifikasi diabetes mellitus American Diabet Association (1997) sesuai anjuran PERKENI (Perkumpulan Endrokonologi Indonesia) : 1. 2. Diabetes tipe 1 (Insulin Dependent Diabetes Melitus (IDDM) / Diabetes Mellitus Tergantung Insulin (DMTI)). Disebabkan oleh distruksi sel Beta pulau langerhans akibat proses auto imun dan idiopatik. Diabetes tipe 2 (Non Insulin Dependent Diabetes Melitus (NIDDM) / Diabetes Melitus Tidak Tergantung Insulin (DMTTI). Disebabkan kegagalan relatif sel beta dan resistensi insulin. Resistensi Insulin adalah turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati. Sel beta tidak mampu mengimbangi resistensi insulin ini sepenuhnya, artinya terjadi defisiensi insulin, ketidakmampuan ini terlihat dari berkurangnya sekresi insulin pada rangsangan glukosa maupun pada rangsangan glukosa bersama bahan perangsang sekresi insulin lain, berarti sel beta pankreas mengalami desentisisasi terhadap glukosa.
  6. 6. 3. Diabetes Tipe Lain Defek genetic fungsi sel beta : - Maturity Onset Diabetes of the young (MODY) 1,2. - DNA mitokondria Defek genetik kerja insulin. Penyakit eksokrin pancreas - Pancreatitis - Tumor / Pankreatektomi - Pankreatopati fibrokalkulus 4. Diabetes Melitus Gestasional (DMG).
  7. 7. PATOFISIOLOGI • Pasien – pasien yang mengalami defisiensi insulin tidak dapat mempertahankan kadar glukosa plasma puasa yang normal atau toleransi sesudah makan. • Pada hiperglikemia yang parah yang melebihi ambang ginjal normal ( konsentrasi glukosa darah sebesar 160 – 180 mg/100 ml ), akan timbul glikosuria karena tubulus – tubulus renalis tidak dapat menyerap kembali semua glukosa. • Glukosuria ini akan mengakibatkan diuresis osmotik yang menyebabkan poliuri disertai kehilangan sodium, klorida, potasium, dan pospat. • Adanya poliuri menyebabkan dehidrasi dan timbul polidipsi.
  8. 8. Cont.. • Akibat glukosa yang keluar bersama urine maka pasien akan mengalami keseimbangan protein negatif dan berat badan menurun serta cenderung terjadi polifagi • Akibat yang lain adalah astenia atau kekurangan energi sehingga pasien menjadi cepat telah dan mengantuk yang disebabkan oleh berkurangnya atau hilangnya protein tubuh dan juga berkurangnya penggunaan karbohidrat untuk energi. • Hiperglikemia yang lama akan menyebabkan arterosklerosis, penebalan membran basalis dan perubahan pada saraf perifer. Ini akan memudahkan terjadinya gangren.
  9. 9. ASUHAN KEPERAWATAN • Proses keperawatan terdiri dari lima tahapan, yaitu : - pengkajian - diagnosa keperawatan - perencanaan - pelaksanaan - evaluasi
  10. 10. 1. PENGKAJIAN
  11. 11. A. Pengumpulan Data  Anamnese Identitas penderita Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat, status perkawinan, suku bangsa, nomor register, tanggal masuk rumah sakit dan diagnosa medis. Keluhan Utama Adanya rasa kesemutan pada kaki / tungkai bawah, rasa raba yang menurun, adanya luka yang tidak sembuh – sembuh dan berbau, adanya nyeri pada luka.
  12. 12. Riwayat kesehatan sekarang Berisi tentang kapan terjadinya luka, penyebab terjadinya luka serta upaya yang telah dilakukan oleh penderita untuk mengatasinya. Riwayat kesehatan dahulu Adanya riwayat penyakit DM atau penyakit – penyakit lain yang ada kaitannya dengan defisiensi insulin misalnya penyakit pankreas. Adanya riwayat penyakit jantung, obesitas, maupun arterosklerosis, tindakan medis yang pernah di dapat maupun obat-obatan yang biasa digunakan oleh penderita.
  13. 13. Riwayat kesehatan keluarga Dari genogram keluarga biasanya terdapat salah satu anggota keluarga yang juga menderita DM atau penyakit keturunan yang dapat menyebabkan terjadinya defisiensi insulin misal hipertensi, jantung. Riwayat psikososial Meliputi informasi mengenai perilaku, perasaan dan emosi yang dialami penderita sehubungan dengan penyakitnya serta tanggapan keluarga terhadap penyakit penderita.
  14. 14. Pemeriksaan Fisik • Status kesehatan umum Meliputi keadaan penderita, kesadaran, suara bicara, tinggi badan, berat badan dan tanda – tanda vital. • Kepala dan leher Kaji bentuk kepala, keadaan rambut, adakah pembesaran pada leher, telinga kadang-kadang berdenging, adakah gangguan pendengaran, lidah sering terasa tebal, ludah menjadi lebih kental, gigi mudah goyah, gusi mudah bengkak dan berdarah, apakah penglihatan kabur / ganda, diplopia, lensa mata keruh.
  15. 15. • Sistem integument Turgor kulit menurun, adanya luka atau warna kehitaman bekas luka, kelembaban dan shu kulit di daerah sekitar ulkus dan gangren, kemerahan pada kulit sekitar luka, tekstur rambut dan kuku. • Sistem pernafasan Adakah sesak nafas, batuk, sputum, nyeri dada. Pada penderita DM mudah terjadi infeksi.
  16. 16. • Sistem kardiovaskuler Perfusi jaringan menurun, nadi perifer lemah atau berkurang, takikardi/bradikardi, hipertensi/hipotensi, aritmia, kardiomegalis. • Sistem gastrointestinal Terdapat polifagi, polidipsi, mual, muntah, diare, konstipasi, dehidrase, perubahan berat badan, peningkatan lingkar abdomen, obesitas. • Sistem urinary Poliuri, retensio urine, inkontinensia urine, rasa panas atau sakit saat berkemih.
  17. 17. • Sistem musculoskeletal Penyebaran lemak, penyebaran masa otot, perubahn tinggi badan, cepat lelah, lemah dan nyeri, adanya gangren di ekstrimitas. • Sistem neurologis Terjadi penurunan sensoris, paresthesia, letargi, mengantuk, reflek lambat, kacau mental, disorientasi.
  18. 18. DIAGNOSA KEPERAWATAN
  19. 19. Adapun diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien gangren kaki diabetik adalah sebagai berikut : • Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan iskemik jaringan. • Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri pada luka. • Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang kurang. • Gangguan gambaran diri berhubungan dengan perubahan bentuk salah satu anggota tubuh. • Ganguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki.
  20. 20. INTERVENSI
  21. 21. Ganguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan iskemik jaringan • Tujuan : rasa nyeri hilang/berkurang • Kriteria hasil : – Penderita secara verbal mengatakan nyeri berkurang – Penderita dapat melakukan metode atau tindakan untuk mengatasi atau mengurangi nyeri .
  22. 22. RENCANA TINDAKAN RASIONAL Kaji tingkat, frekuensi, dan reaksi nyeri yang Untuk mengetahui berapa berat nyeri yang dialami pasien. dialami pasien. Jelaskan pada pasien tentang sebab-sebab timbulnya nyeri. Pemahaman pasien tentang penyebab nyeri yang terjadi akan mengurangi ketegangan pasien dan memudahkan pasien untuk diajak bekerjasama dalam melakukan tindakan. Ciptakan lingkungan yang tenang Rangasangan yang berlebihan dari lingkungan akan memperberat rasa nyeri. Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi Teknik distraksi dan relaksasi dapat mengurangi rasa nyeri yang dirasakan pasien. Atur posisi pasien senyaman mungkin sesuai keinginan pasien. Posisi yang nyaman akan membantu memberikan kesempatan pada otot untuk relaksasi seoptimal mungkin. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik. Obat –obat analgesik dapat membantu mengurangi nyeri pasien.
  23. 23. Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki. • Tujuan : Pasien dapat mencapai tingkat kemampuan aktivitas yang optimal. • Kriteria Hasil : – Pergerakan pasien bertambah luas – Pasien dapat melaksanakan aktivitas sesuai dengan kemampuan ( duduk, berdiri, berjalan ) – Rasa nyeri berkurang – Pasien dapat memenuhi kebutuhan sendiri secara bertahap sesuai dengan kemampuan.
  24. 24. RENCANA TINDAKAN RASIONAL Kaji dan identifikasi tingkat kekuatan otot pada kaki pasien. Untuk mengetahui derajat kekuatan otototot kaki pasien. Beri penjelasan tentang pentingnya melakukan aktivitas untuk menjaga kadar gula darah dalam keadaan normal. Pasien mengerti pentingnya aktivitas sehingga dapat kooperatif dalam tindakan keperawatan. Anjurkan pasien untuk menggerakkan/mengangkat ekstrimitas bawah sesui kemampuan. Untuk melatih otot – otot kaki sehingg berfungsi dengan baik. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhannya. Agar kebutuhan pasien tetap dapat terpenuhi. Kerja sama dengan tim kesehatan lain : dokter ( pemberian analgesik ) dan tenaga fisioterapi. Analgesik dapat membantu mengurangi rasa nyeri, fisioterapi untuk melatih pasien melakukan aktivitas secara bertahap dan benar.
  25. 25. Gangguan pemenuhan nutrisi ( kurang dari ) kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang kurang. • Tujuan : Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi • Kriteria hasil : – Berat badan dan tinggi badan ideal. – Pasien mematuhi dietnya. – Kadar gula darah dalam batas normal. – Tidak ada tanda-tanda hiperglikemia/hipoglikemia.
  26. 26. RENCANA TINDAKAN RASIONAL Kaji status nutrisi dan kebiasaan makan. Untuk mengetahui tentang keadaan dan kebutuhan nutrisi pasien sehingga dapat diberikan tindakan dan pengaturan diet yang adekuat. Anjurkan pasien untuk mematuhi diet yang telah diprogramkan. Kepatuhan terhadap diet dapat mencegah komplikasi terjadinya hipoglikemia/hiperglikemia. Timbang berat badan setiap seminggu sekali. Mengetahui perkembangan berat badan pasien ( berat badan merupakan salah satu indikasi untuk menentukan diet ) Identifikasi perubahan pola makan. Mengetahui apakah pasien telah melaksanakan program diet yang ditetapkan. Kerja sama dengan tim kesehatan lain Pemberian insulin akan meningkatkan untuk pemberian insulin dan diet diabetik. pemasukan glukosa ke dalam jaringan sehingga gula darah menurun,pemberian diet yang sesuai dapat mempercepat penurunan gula darah dan mencegah komplikasi.
  27. 27. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan, dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi. • Tujuan : Pasien memperoleh informasi yang jelas dan benar tentang penyakitnya. • Kriteria Hasil : – Pasien mengetahui tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatannya dan dapat menjelaskan kembali bila ditanya. – Pasien dapat melakukan perawatan diri sendiri berdasarkan pengetahuan yang diperoleh.
  28. 28. RENCANA TINDAKAN RASIONAL Kaji tingkat pengetahuan pasien/keluarga tentang penyakit DM dan gangren. Untuk memberikan informasi pada pasien/keluarga, perawat perlu mengetahui sejauh mana informasi atau pengetahuan yang diketahui pasien/keluarga. Kaji latar belakang pendidikan pasien. Agar perawat dapat memberikan penjelasan dengan menggunakan kata-kata dan kalimat yang dapat dimengerti pasien sesuai tingkat pendidikan pasien. Jelaskan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan pada pasien dengan bahasa dan kata-kata yang mudah dimengerti. Agar informasi dapat diterima dengan mudah dan tepat sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman. Jelasakan prosedur yang kan dilakukan, manfaatnya bagi pasien dan libatkan pasien didalamnya. Dengan penjelasan dan ikut secara langsung dalam tindakan yang dilakukan, pasien akan lebih kooperatif dan cemasnya berkurang. Gunakan gambar-gambar dalam memberikan penjelasan ( jika ada / memungkinkan). Gambar-gambar dapat membantu mengingat penjelasan yang telah diberikan.
  29. 29. Gangguan gambaran diri berhubungan dengan perubahan bentuk salah satu anggota tubuh. • Tujuan : Pasien dapat menerima perubahan bentuk salah satu anggota tubuhnya secar positif. • Kriteria Hasil : – Pasien mau berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan – Tanpa rasa malu dan rendah diri. – Pasien yakin akan kemampuan yang dimiliki.
  30. 30. RENCANA TINDAKAN RASIONAL Lakukan pendekatan dan bina hubungan saling percaya dengan pasien. Memudahkan dalam menggali permasalahan pasien. Kaji perasaan/persepsi pasien tentang perubahan gambaran diri berhubungan dengan keadaan anggota tubuhnya yang kurang berfungsi secara normal. Mengetahui adanya rasa negatif pasien terhadap dirinya. Tunjukkan rasa empati, perhatian dan penerimaan pada pasien. Pasien akan merasa dirinya di hargai. Bantu pasien untuk mengadakan hubungan dengan orang lain. Dapat meningkatkan kemampuan dalam mengadakan hubungan dengan orang lain dan menghilangkan perasaan terisolasi. Beri kesempatan kepada pasien untuk mengekspresikan perasaan kehilangan. Untuk mendapatkan dukungan dalam proses berkabung yang normal. Beri dorongan pasien untuk berpartisipasi dalam perawatan diri dan hargai pemecahan masalah yang konstruktif dari pasien. Untuk meningkatkan perilaku yang adiktif dari pasien.
  31. 31. Gangguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki Tujuan : Gangguan pola tidur pasien akan teratasi. Kriteria hasil : – Pasien mudah tidur dalam waktu 30 – 40 menit. – Pasien tenang dan wajah segar. – Pasien mengungkapkan dapat beristirahat dengan cukup.
  32. 32. RENCANA TINDAKAN RASIONAL Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang. Lingkungan yang nyaman dapat membantu meningkatkan tidur/istirahat. Kaji tentang kebiasaan tidur pasien di rumah. Mengetahui perubahan dari hal-hal yang merupakan kebiasaan pasien ketika tidur akan mempengaruhi pola tidur pasien. Kaji adanya faktor penyebab gangguan pola tidur yang lain seperti cemas, efek obatobatan dan suasana ramai. Mengetahui faktor penyebab gangguan pola tidur yang lain dialami dan dirasakan pasien. Anjurkan pasien untuk menggunakan pengantar tidur dan teknik relaksasi Pengantar tidur akan memudahkan pasien dalam jatuh dalam tidur, teknik relaksasi akan mengurangi ketegangan dan rasa nyeri. Kaji tanda-tanda kurangnya pemenuhan kebutuhan tidur pasien. Untuk mengetahui terpenuhi atau tidaknya kebutuhan tidur pasien akibat gangguan pola tidur sehingga dapat diambil tindakan yang tepat.
  33. 33. Implementasi (Pelaksanaan) • Pelaksanaan adalah tahap pelaksananan terhadap rencana tindakan keperawatan yang telah ditetapkan untuk perawat bersama pasien. • Implementasi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi, disamping itu juga dibutuhkan ketrampilan interpersonal, intelektual, teknikal yang dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat dengan selalu memperhatikan keamanan fisik dan psikologis. • Setelah selesai implementasi, dilakukan dokumentasi yang meliputi intervensi yang sudah dilakukan dan bagaimana respon pasien.
  34. 34. Evaluasi • Evaluasi merupakan tahap terakhir dari proses keperawatan. Kegiatan evaluasi ini adalah membandingkan hasil yang telah dicapai setelah implementasi keperawatan dengan tujuan yang diharapkan dalam perencanaan. • Perawat mempunyai tiga alternatif dalam menentukan sejauh mana tujuan tercapai: – Berhasil : prilaku pasien sesuai pernyatan tujuan dalam waktu atau tanggal yang ditetapkan di tujuan. – Tercapai sebagian : pasien menunujukan prilaku tetapi tidak sebaik yang ditentukan dalam pernyataan tujuan. – Belum tercapai. : pasien tidak mampu sama sekali menunjukkan prilaku yang diharapakan sesuai dengan pernyataan tujuan.

×