Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Argentometri

10,209 views

Published on

Thanks for visiting. :)

Published in: Education
  • Be the first to comment

Argentometri

  1. 1. Titrasi pengendapan
  2. 2. Titrasi Pengendapan <ul><li>Berdasar pada pembentukan endapan yang terjadi antara titran dan titer </li></ul><ul><li>Titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna endapan </li></ul>Company name www.themegallery.com
  3. 3. Titrasi Pengendapan <ul><li>Paling sering dilakukan untuk menetapan kadar Halogen : </li></ul><ul><ul><li>Klorida </li></ul></ul><ul><ul><li>Bromida </li></ul></ul><ul><ul><li>Iodida </li></ul></ul><ul><ul><li>Sianida </li></ul></ul>Company name www.themegallery.com
  4. 4. Kurva Titrasi <ul><li>50 ml larutan NaCl 0,10 M dititrasi dengan larutan AgNO3 0,10 M. Hitung konsentrasi ion klorida selama titrasi dan buat kurva pCl vs ml AgNO3. Ksp AgCl = 1 x 10 -10 . </li></ul><ul><li>Awal sebelum titrasi : [Cl - ] = 0,10 M, maka pCl = 1,00 </li></ul><ul><li>Setelah penambahan 10 ml AgNO3 : </li></ul><ul><li>Ag + + Cl - -> AgCl (p) </li></ul><ul><li>awal 1,00 mmol 5,00 mmol </li></ul><ul><li>perubahan -1,0 mmol -1,0 mmol </li></ul><ul><li>kesetimbangan - 4,0 mmol </li></ul><ul><li>[Cl-] = 4,00 mmol / 60,0 ml = 0,067 M </li></ul><ul><li>pCl = 1,17 </li></ul>Company name www.themegallery.com
  5. 5. <ul><li>Setelah penambahan 49,9 ml AgNO3 : </li></ul><ul><li>Ag + + Cl - -> AgCl (p) </li></ul><ul><li>awal 4,99 mmol 5,00 mmol </li></ul><ul><li>perubahan -4,99 mmol -4,99 mmol </li></ul><ul><li>kesetimbangan - 0,01 mmol </li></ul><ul><li>[Cl-] = 0,01 mmol / 99,9 ml = 1,0 x 10-4 M </li></ul><ul><li>pCl = 4,00 </li></ul><ul><li>Pada titik ekivalen (TE) : </li></ul><ul><li>Ag + + Cl - -> AgCl (p) </li></ul><ul><li>awal 5,00 mmol 5,00 mmol </li></ul><ul><li>perubahan -5,00 mmol -5,00 mmol </li></ul><ul><li>kesetimbangan - - </li></ul><ul><li>[Ag+] = [Cl-] [Ag+][Cl-] = Ksp = 1,0 x 10-10 </li></ul><ul><li>[Cl-] = 1,0 x 10-5 maka pCl = 5,00 </li></ul>Company name
  6. 6. <ul><li>Setelah penambahan 60,0 ml AgNO3 : </li></ul><ul><li>Ag + + Cl - -> AgCl (p) </li></ul><ul><li>awal 6,00 mmol 5,00 mmol </li></ul><ul><li>perubahan -5,00 mmol -5,00 mmol </li></ul><ul><li>kesetimbangan 1,00 mmol - </li></ul><ul><li>[Ag+] = 1,00 mmol / 110 ml = 9,1 x 10-3 M </li></ul><ul><li>pAg = 2,04 maka pCl = 10,00 – 2,04 = 7,96 </li></ul><ul><li>Secara umum untuk halida : </li></ul><ul><li>Ag + + X - -> AgX (p) </li></ul><ul><li>Tetapan kesetimbangan : K = 1 / [Ag + ][X - ] = 1 / Ksp </li></ul><ul><li>Makin kecil Ksp makin besar K suatu titrasi. </li></ul>Company name www.themegallery.com
  7. 7. Kurva Titrasi Company name www.themegallery.com
  8. 8. ARGENTOMETRI <ul><li>Titrasi pengendapan yang paling banyak dipakai adalah Argentometri, karena hasil kali kelarutan garam perak halida (pseudohalida) sangat kecil : </li></ul><ul><ul><ul><li>Ksp AgCl = 1,82 . 10 -10 </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Ksp AgCN = 2,2 . 10 -16 </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Ksp AgCNS = 1,1 . 10 -12 </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Ksp AgI = 8,3 . 10 -17 </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Ksp AgBr = 5,0 . 10 -13 </li></ul></ul></ul><ul><li>Tiga cara penentuan titik akhir titrasi : </li></ul><ul><li>cara Mohr indikator CrO 4 -2 </li></ul><ul><li>cara Volhard indikator Fe 3+ </li></ul><ul><li>cara Fajans Fluorescein (indikator adsorpsi) </li></ul>Company name www.themegallery.com
  9. 9. ARGENTOMETRI – MOHR <ul><li>Titrasi Mohr digunakan untuk menentukan kadar halida atau pseudohalida di dalam larutan. Kromat (CrO 4 2- ) sbg indikator titik akhir karena membentuk endapan Ag 2 CrO 4 berwarna merah saat bereaksi dengan ion perak. </li></ul><ul><ul><li>Ksp Ag 2 CrO 4 = 1,2 . 10 -12 mol 3 .L -3 </li></ul></ul><ul><ul><li>Ksp AgCl = 1,82 . 10 -10 mol 2 .L -2 </li></ul></ul><ul><ul><li>[ Perhatikan satuan stoikiometrinya ] </li></ul></ul><ul><li>Meskipun tetapan hasilkali kelarutan (Ksp)AgCrO 4 hampir sama dengan Ksp perak (pseudo)halida, tetapi kelarutan kedua garam perak tsb berbeda. </li></ul>Company name www.themegallery.com
  10. 10. <ul><li>Titrasi Mohr dilakukan pada pH 7-9 (netral hingga basa lemah). </li></ul><ul><li>Jika pH terlalu kecil (asam) kesetimbangan kromat-dikromat akan menurunkan kepekaan [CrO 4 2- ] shg menghambat pembentukan endapan Ag 2 CrO 4 . </li></ul><ul><li>Jika pH terlalu besar (larutan basa) akan terbentuk endapan Ag 2 O. </li></ul>Company name www.themegallery.com
  11. 11. <ul><li>Ag + + Cl -  AgCl (p) </li></ul><ul><li>Ag + + CrO 4 2-  Ag 2 CrO 4 (p) merah </li></ul><ul><li>Kelarutan Ag 2 CrO 4 > Kelarutan AgCl </li></ul><ul><li>(8,4 x 10 -5 M) (1,35 x 10 -5 M) </li></ul><ul><li>Jika larutan Ag + ditambahkan ke dalam larutan Cl - yang mengandung sedikit CrO 4 2- , maka AgCl akan mengendap lebih dulu, sementara itu Ag 2 CrO 4 belum terbentuk, dan [Ag + ] naik hingga hasilkali kelarutan melampaui Ksp Ag 2 CrO 4 (2,0 x 10 -12 ) sehingga terbentuk endapan merah. </li></ul>Company name www.themegallery.com
  12. 12. <ul><li>Pada TE : pAg = pCl = 5,00 </li></ul><ul><li>[Ag+][CrO 4 2- ] = 2,00 x 10 -12 </li></ul><ul><li>[ CrO 4 2- ] = 2,00x10 -12 / (1,0x10 -5 ) 2 = 0,02 M </li></ul><ul><li>Konsentrasi tersebut terlalu tinggi karena warna kuning CrO 4 2- akan mengganggu pengamatan terbentuknya endapan Ag 2 CrO 4 (merah). Dalam praktek biasanya digunakan 0,005 s/d 0,01 M supaya kesalahan titrasi diperkecil, dan masih bisa dikoreksi dengan titrasi blanko indikator, atau dengan membakukan AgNO 3 terhadap suatu garam klorida yang murni (titrasi dilakukan dalam kondisi yang sama dengan titrasi sampel). </li></ul>Company name www.themegallery.com
  13. 13. <ul><li>Titrasi Mohr terbatas pada pH 6-10 (atau 7-9). </li></ul><ul><li>Dalam larutan basa akan terjadi reaksi : </li></ul><ul><li>Ag + + OH - -> 2AgOH -> Ag 2 O + H 2 O </li></ul><ul><li>Dalam larutan asam, jumlah [CrO 4 ] 2- turun sehingga hanya sedikit HCrO 4 - yang terionisasi, karena reaksi akan berlanjut sbb : </li></ul><ul><li>2H + + CrO 4 2-  2HCrO 4 -  Cr 2 O 7 2- + H 2 O </li></ul><ul><li> (kromat) (dikromat) </li></ul><ul><li>Jika [CrO 4 2- ] terlalu rendah ( < 0,005 M) akan memerlukan penambahan [Ag + ] yang berlebih untuk mengendapkan Ag 2 CrO 4 ; hal itu akan menjadi sumber kesalahan titrasi. </li></ul><ul><li>Cr 2 O 7 2- tidak dapat digunakan sebagai indikator argentometri karena Ag 2 Cr 2 O 7 mudah larut. </li></ul>Company name www.themegallery.com
  14. 14. <ul><li>Metode Mohr dapat digunakan untuk titrasi Br - dan CN - dalam larutan basa lemah, sedangkan untuk I - dan CNS - tidak feasible karena akan terjadi adsorpsi oleh endapan. Ag + tidak dapat dititrasi langsung oleh Cl menggunakan indikator CrO 4 2- , karena Ag 2 CrO 4 akan terbentuk lebih awal dan melarut lambat menjelang TE. </li></ul><ul><li>Untuk hal tsb dapat digunakan teknik titrasi balik : Ag + ditambah Cl - baku (berlebih), kemudian Cl - sisa dititrasi dengan larutan Ag + baku menggunakan indikator CrO 4 2- . </li></ul>Company name www.themegallery.com
  15. 15. ARGENTOMETRI - VOLHARD <ul><li>Titrasi Volhard merupakan teknik titrasi balik, digunakan jika reaksi berjalan lambat atau jika tidak ada indikator yang tepat utk pemastian TE. </li></ul><ul><li>Prinsip titrasi : </li></ul><ul><li>Larutan perak ditambahkan berlebih ke dalam larutan (pseudo)halida </li></ul><ul><li>Br - + Ag + -> AgBr (endapan) </li></ul><ul><li> berlebih </li></ul><ul><li>Setelah reaksi sempurna endapan disaring, kemudian larutan dititrasi dengan larutan baku tiosianat </li></ul><ul><li>Ag + + SCN - -> AgSCN (larutan) </li></ul>Company name www.themegallery.com
  16. 16. <ul><li>Indikator Fe(III) akan membentuk senyawa larut berwarna merah hasil reaksi Fe 3+ dgn ion tiosianat : </li></ul><ul><li>Fe 3+ + SCN - -> [Fe(SCN)] 2+ </li></ul><ul><li>Reaksi harus suasana asam, karena jika basa akan mudah sekali terbentuk endapan Fe(OH) 3 . </li></ul><ul><li>Ksp Fe(OH) 3 = 2.10 -39 mol 3 L -3 </li></ul><ul><li>(dalam titrasi biasa digunakan [Fe 3+ ] = 10 -2 M) </li></ul><ul><li>Soal : Larutan mengandung sejumlah tertentu KBr dititrasi secara Volhard. Diperlukan penambahan 100 ml [AgNO 3 ] 0,095 M berlebih, kemudian dititrasi dengan 18,3 ml larutan KSCN 0,100 M menggunakan indikator Fe 3+. Hitung berapa konsentrasi Br- yang terdapat dalam larutan awal. </li></ul>Company name www.themegallery.com
  17. 17. <ul><li>Metode Volhard banyak digunakan untuk reaksi Ag + dan Cl - karena selain kelarutan endapannya kecil, suasana asam akan mencegah hidrolisis indikator Fe 3+ . Jika metode ini dilakukan dalam suasana netral akan terganggu oleh endapan kation-kation lain. </li></ul><ul><li>Metode Volhard digunakan pada titrasi langsung Ag + dengan larutan CNS - atau titrasi tidak langsung pada penentuan kadar Cl - , Br - dan I - . </li></ul><ul><li>Pada titrasi tidak langsung Br - dan I - tidak terganggu oleh CNS - karena kelarutan AgBr = kelarutan AgCNS sedangkan kelarutan AgI < kelarutan AgCNS. </li></ul>Company name www.themegallery.com
  18. 18. <ul><li>Kesalahan titrasi Cl - dapat terjadi jika endapan AgCl bereaksi lanjut dengan CNS - : </li></ul><ul><li>AgCl (p) + CNS - -> AgCNS + Cl - </li></ul><ul><li>Karena kelarutan AgCNS < kelarutan AgCl maka reaksi di atas akan bergeser ke arah kiri, sehingga hasil analisis Cl - menjadi lebih kecil. Hal tsb dapat dicegah dengan penyaringan endapan AgCl atau dengan penambahan nitrobenzen (racun !) sebelum titrasi dengan CNS - . Nitrobenzen menjadi lapis minyak yang memisahkan endapan dari CNS - . </li></ul>Company name www.themegallery.com
  19. 19. ARGENTOMETRI – FAJANS <ul><li>Titrasi Fajans menggunakan indikator adsorpsi, yakni senyawa organik yg teradsorpsi ke permukaan padat endapan (koloidal) selama proses titrasi berlangsung. </li></ul><ul><li>Contoh : Fluoresens sbg anion fluoresenat (hijau kuning) bereaksi dg Ag + membentuk endapan merah intensif yg teradsorpsi ke permukaan endapan koloidal krn adanya pasangan muatan ion. </li></ul>Company name www.themegallery.com
  20. 20. <ul><li>Adsorpsi senyawa organik berwarna pada permukaan endapan dapat menginduksi pergeseran elektronik intramolekuler yang mengubah warna. </li></ul><ul><li>Gejala tsb digunakan untuk mendeteksi titik akhir titrasi pengendapan garam-garam perak. </li></ul>Company name www.themegallery.com
  21. 21. <ul><li>Suatu endapan cenderung mengadsorpsi lebih mudah ion-ion yang membentuk senyawa tidak larut dengan satu dari ion-ion dalam kisi endapan. </li></ul><ul><li>Jadi, Ag + ataupun Cl - akan lebih mudah diadsorpsi oleh endapan AgCl daripada oleh ion Na + ataupun NO 3 - . Anion yang ada dalam larutan akan tertarik membentuk lapisan sekunder. </li></ul><ul><li>Fluoresein adalah asam organik lemah, membentuk anion fluoreseinat yang tidak dapat diadsorpsi oleh endapan koloidal AgCl selama Cl - berlebih. Akan tetapi saat Ag + berlebih akan terjadi adsorpsi anion fluoreseinat ke lapisan Ag + yang melapisi endapan, diikuti dengan perubahan warna menjadi pink. </li></ul>Company name www.themegallery.com
  22. 22. Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam memilih indikator adsorpsi : <ul><li>1) Pada TE jangan dibiarkan AgCl menggumpal menjadi partikel besar, karena akanmenurunkan dengan tajam daya adsorpsi permukaan endapan terhadap indikator. Jika itu terjadi, diatasi dengan penambahan dextrin, sebagai koloid pelindung agar endapan terdispersi lebih banyak. Dengan adanya dextrin maka perubahan warna menjadi reversibel, dan setelah lewat TE dapat dilakukan titrasi balik dengan larutan baku Cl-. </li></ul>Company name www.themegallery.com
  23. 23. <ul><li>2) Adsorpsi indikator harus mulai terjadi sesaat sebelum TE dan makin cepat pada TE. Indikator yang jelek performansinya akan teradsorpsi kuat sehingga mensubstitusi ion-ion yang telah teradsorpsi sebelum TE. </li></ul><ul><li>3) pH larutan harus terkontrol agar dapat mempertahankan konsentrasi ion dari indikator asam lemah ataupun basa. Misalnya,fluoresein (Ka = 10 -7 ) dalam larutan yang lebih asam dari pH 7 melepas fluoreseinat sangat kecil sehingga perubahan warna tidak dapat diamati. Fluoresein hanya dapat digunakan pada pH 7-10, sedangan difluoresein (Ka=10 -4 ) digunakan pada pH 4-10. </li></ul>Company name www.themegallery.com
  24. 24. <ul><li>4) Sebaiknya dipilih ion indikator yang muatannya berl a wanan dengan ion penitrasi. Adsorpsi indikator tidak terjadi sebelum terjadi kelebihan titran. Pada titrasi Ag + dengan Cl - dapat digunakan metil violet (garam klorida dari suatu basa organik) sebagai indikator adsorpsi. Kation tidak teradsorpsi sebelum terjadi kelebihan Cl - dan koloid bermuatan negatif. Dalam hal tersebut dapat digunakan indikator diklorofluoresein, tetapi harus ditambahkan sesaat menjelang TE. </li></ul>Company name www.themegallery.com
  25. 25. Company name www.themegallery.com
  26. 26. Company name www.themegallery.com

×