PENGEMBANGAN MODUL ELEKTRONIK SEBAGAI        SUMBER BELAJAR UNTUK     MATA KULIAH MULTIMEDIA DESIGN                   ANAN...
“For my Mom,                               thanks for everything you’ve done for me”                                      ...
ABSTRAKANANDA GUNADHARMA. Pengembangan Modul Elektronik SebagaiSumber Belajar untuk Mata Kuliah Multimedia Design. Skripsi...
ABSTRACTAnanda Gunadharma. Electronic Module (e-Module) Development as aLearning Resource for Multimedia Design. Script. J...
KATA PENGANTAR       Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segalaberkat-Nya kepada penulis sehingga penulis d...
Mas Rully dan Mas Zayn Hamdan yang telah memberikan izin,membantu dan memberikan kemudahan kepada penulis terutama dalamme...
DAFTAR ISIPERSETUJUAN KOMISI PEMBIMBING & PANITIA UJIAN S1 ........                                              iiSURAT P...
8. Prinsip           Mengembangkan                    Materi          dalam                Lingkungan Belajar Tidak Langsu...
4. Instrumen..................................................................      102      B. Prosedur Pengembangan .......
DAFTAR TABELTabel2. 1    Perbandingan antara modul elektronik dengan modul cetak ...                              192. 2  ...
DAFTAR GAMBARGambar2. 1 Perbedaan tingkat realitas unsur visual ....................................            432. 2 Ker...
DAFTAR LAMPIRANLampiran1 Silabus mata kuliah multimedia design 1 IDS ...............................                1542. ...
BAB I                        PENDAHULUANA. Analisis Masalah      Pendidikan merupakan hal yang sangat fundamental dalammen...
2(audio, video, multimedia, web, rich media/new media, dsb) untukmenjawab berbagai kebutuhan klien. Untuk itu, peserta did...
3IDS sebagai akibat terhadap penurunan kreativitas peserta didik merekadalam mata kuliah ini.      Pengajar/instruktur mer...
4        Salah satu komponen yang mempengaruhi pembelajaran tersebutantara lain adalah penggunaan media dan sumber belajar...
5kelengkapan yang disajikan tersebut pemelajar diharapkan dapat belajardan memahami bahan pelajaran tanpa atau dengan sedi...
6kualitasnya masih jauh dari standar. Kebanyakan modul yang dibuat masihkurang memfasilitasi peserta didik dalam mempelaja...
7yang disajikan dengan jelas, tanpa kebingungan karena petunjuk verbalyang memungkinkan salah penafsiran dan sebagainya. D...
8pembelajaran. Hal ini karena sifat modul yang dirancang khusus untuksarana belajar mandiri, ditambah lagi dengan beberapa...
9referensi-referensi   lainnya   yang     diperlukan     peserta   didik    untukmemperkaya kreativitas mereka.       Dala...
10       4. Dapatkan bahan ajar dalam bentuk modul elektronik mengubah           peranan dosen dalam proses belajar?      ...
11E. Kegunaan Hasil Pengembangan1. PraktisSecara   praktis   pengembangan   ini   bermanfaat   dalam    memberikansumbanga...
12   e. Peneliti   lain,   sebagai   bahan   referensi   atau   rujukan   dalam      mengembangkan penelitian lebih lanjut...
BAB II                          KAJIAN PUSTAKA      Di dalam BAB II ini dikaji sejumlah teori yang berkaitan denganpengemb...
14Penyajian bahan belajar dalam bentuk elektronik ini tentunya akan menjadilebih menarik dan memberikan berbagai kemudahan...
15       Smaldino, dkk dalam Instructional Technology and Media for Learningmendefinisikan an instructional module is any ...
16pembelajaran tertentu yang telah ditetapkan. Modul harus mencakup semuakebutuhan belajar bagi pemelajar, mulai dari petu...
17menggunakan komputer atau alat pembaca buku elektronik (e-book vieweratau e-book reader).6         Definisi lain menjela...
18mandiri yang disusun secara sistematis ke dalam unit pembelajaran terkeciluntuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu, y...
19                                          Tabel 2.1                                                                     ...
20Tahan lama dan tidak lapuk dimakan      Daya tahan kertas terbatas olehwaktu.                                  waktu, se...
21       3. Karakteristik Modul Elektronik           Adapun modul sebagai media pembelajaran mandiri memiliki berbagaiciri...
22b. Utuh (Self-contained)   Yang dimaksud dengan self-contained yaitu, seluruh materi   pembelajaran dari satu unit kompe...
23                teknologi dalam kurun waktu tertentu (up to date) serta fleksibel                digunakan.           e....
24                                         Tabel 2.2            Perbandingan Bahan Belajar Konvensional dengan Bahan Belaj...
25        ASPEK              KONVENSIONAL                 MANDIRI7. Evaluasi Hasil        Dilakukan oleh          Dilakuka...
26       4. Komponen-Komponen Modul Elektronik           Modul terdiri dari berbagai komponen-komponen yang menyusunnyaseh...
27c. Tes AwalTes ini berguna untuk menetapkan posisi siswa, dan mengetahuikemampuan awalnya, untuk menentukan dari mana ia...
28          Selain itu Smaldino, dkk mengemukakan komponen modul terdiridari:12          a. Rasional, menyediakan informas...
29           h. Tes akhir, menilai apakah pemelajar sudah menguasai tujuan dari              modul.      Menurut B.P. Site...
30      c. Bagian akhir berisi penutup modul, tes sumatif, glosarium, dan        lampiran-lampiran yang terkait dengan isi...
31Modul elektronik yang akan dikembangkan dalam penelitian ini setidaknyaakan memiliki komponen-komponen tersebut. Penerap...
32               menggunakan beberapa bahan belajar terpisah untuk memenuhi               tujuan pembelajaran.           c...
33       f. Modul mengurangi atau menghilangkan sedapat mungkin rasa           persaingan di kalangan siswa oleh sebab sem...
34           e. Jika dibandingkan dengan bahan ajar elektronik, modul dianggap                  lebih mudah disimpan, lebi...
35          menyusunnya secara runtut dan jelas memerlukan kepekaan          khusus dari penulisnya.       f. Bahan dasar ...
36     6. Prinsip Desain Pesan pada Modul Elektronik       Modul merupakan media pembelajaran mandiri bagi peserta didik.T...
37kesalahan dalam menyampaikan pesan maka akan menimbulkan kekeliruanjuga pada pemelajar yang menggunakan media tersebut. ...
38          mempengaruhi minat serta motivasi belajar pemelajar serta turut          mendukung keberhasilan pencapaian tuj...
39  bahasa      berdasarkan    karakteristik   pemelajar   yang    akan  dihadapi.2) Kaidah-kaidah bahasa  Kaidah-kaidah y...
40                dilihat dari sejauh mana bahasa yang digunakan dalam                menyampaikan materi sesuai dengan ke...
41                    istilah-istilah dan contoh-contoh yang umum agar dimengerti                    pemelajar dari berbag...
42        deskriptif untuk membantu memahami teks.25 Penggunaan visualisasi        dimaksudkan untuk mempermudah penyerapa...
43visual sebagai berikut sebagai bahan masukan bagi pembelajar dalammengembangkan bahan pelajaran.    1) Elemen visual    ...
44                       b) Analogic visual, adalah visual yang digunakan untuk                          menyampaikan kons...
45                        menimbulkan perbedaan antara satu komponen lain                        atau satu benda dengan be...
46                     Berikut adalah tabel kesesuaian penggunaan warna yang                     dapat diterapkan dalam se...
47penggunaan ukuran, spasi dan penggunaan jenis huruf yangkonsisten di dalam menyampaikan pesan pembelajaran.Berikut adala...
48                    c) Ukuran huruf                        Ukuran huruf dan penggunaan huruf kapital juga merupakan     ...
49             d) Jarak spasi                Jarak antar baris dalam sebuah bahan ajar cetak atau                elektroni...
50     7. Pembelajaran Tidak Langsung (Asynchronous Learning) dengan       Modul Elektronik       Pembelajaran dengan meng...
51kapan saja sesuai dengan kebutuhan mereka, begitulah keuntungan daripembelajaran asynchronous ini.33 Dalam bahan belajar...
52dari sebuah modul. Dengan demikian, modul yang dikemas dalam formatelektronik ini merupakan bentuk pengembangan dari str...
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma

18,607 views
18,377 views

Published on

Skripsi pengembangan media pembelajaran dalam bentuk modul elektronik untuk mata pelajaran multimedia design

Published in: Education, Design, Business
11 Comments
50 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
18,607
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
40
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
11
Likes
50
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Pengembangan modul elektronik sebagai sumber belajar untuk mata kuliah multimedia design | ananda gunadharma

  1. 1. PENGEMBANGAN MODUL ELEKTRONIK SEBAGAI SUMBER BELAJAR UNTUK MATA KULIAH MULTIMEDIA DESIGN ANANDA GUNADHARMA 1215051060 Teknologi PendidikanSkripsi yang Ditulis untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA 2011
  2. 2. “For my Mom, thanks for everything you’ve done for me” Anak Belajar dari Kehidupannya Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diriJika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mengasihi Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan kasih dalam kehidupan Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar damai dengan pikiran -Dorothy Law Nolte “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka.” (Pengk. 3: 11) iv
  3. 3. ABSTRAKANANDA GUNADHARMA. Pengembangan Modul Elektronik SebagaiSumber Belajar untuk Mata Kuliah Multimedia Design. Skripsi. Jakarta:Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta, 2011.Penelitian pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan sebuahprototipe media pembelajaran berbentuk modul elektronik sebagai sumberbelajar dalam mata kuliah Multimedia Design I di Internasional DesignSchool (IDS), Jakarta. Penelitian ini dilakukan karena perkembanganindustri kreatif, terlebih dalam hal digital media yang sangat pesat. Dimana industri memerlukan banyak sumber daya kreatif yang belummampu didukung oleh IDS sebagai penghasil institusi pendidikanpenghasil insan kreatif. Adanya berbagai hambatan, salah satunya adalahbelum terdapatnya sumber belajar pendukung mata kuliah terkaitmerupakan salah satu faktor dilakukannya penelitian pengembangan ini.Pengembangan produk pembelajaran berupa modul elektronik inimengacu pada model pengembangan instruksional Dynamic InstructionalDesign Model dan model pengembangan produk Interactive MultimediaDevelopment Model (The IMM Development Model). Kedua modelpengembangan ini digunakan untuk saling menguatkan dan melengkapi,baik dari segi pembelajaran maupun segi desain produk secarakeseluruhan. Produk dievaluasi secara formatif dengan melibatkan tigaorang ahli, yaitu ahli materi, ahli media dan ahli desain instruksionaldengan hasil rata-rata dari ahli sebesar 3,14 termasuk dalam kategori baikdalam skala 4. Evaluasi formatif juga dilakukan kepada calon pengguna,yaitu tiga orang pada tahap uji coba one-to-one dan lima orang siswapada tahap small group, dengan hasil rata-rata 3,15 termasuk dalamkategori baik berdasarkan skala 4.Produk telah melalui tahap revisi dan penyesuaian beberapa kali,berdasarkan masukan-masukan yang di dapat selama prosespengembangan. Secara umum, produk pembelajaran modul elektronik inidapat dikatakan baik dan sesuai untuk digunakan sebagai bahan belajarmandiri bagi siswa di IDS, dan siswa DKV lainnya yang tertarik denganmateri pengantar online advertising. v
  4. 4. ABSTRACTAnanda Gunadharma. Electronic Module (e-Module) Development as aLearning Resource for Multimedia Design. Script. Jakarta: Faculty ofEducation, State University of Jakarta, 2011.This research & development purposes to produce a prototype learningmedia in form of electronic module (e-module) as learning resource inMultimedia Design I at International Design School, Jakarta. This researchhas done because of rapid growth of creative industries, especially in digitalmedia, where the industries need a lot of creative resource to participate in.But, IDS as educational institution which well-known as produce so manytalented and creative people havent been able to contribute more resource inthis category yet. Therere various obstacles, one of them is lack of learningresource related, which support this subject. This condition gone worst whenthe instructor became lack of time because of their business outside theschool to support any make up class for student. This is one of the reasonswhy the researcher wants to doing any development process to support thelearning.This development research in form of e-module refers to DynamicInstructional Design Model as instructional development model and The IMMDevelopment Model as the guidance of the whole product developmentprocess. Both of them used to reinforce and complement each other, in termsof learning design process as well as the product design overall. The Productis evaluated formatively by involving three experts, which are subject-matterexpert, media expert and instructional designer expert. At this step of expertsreview, the product gain average point 3.14 from scale of 4, which means togood category. The formative evaluation also carried out to our prospectiveusers, which are IDS student. This evaluation engaged three persons on theone-to-one evaluation, and five students on small group evaluation. At thisend-users review, the product gain average score 3.17 from scale 4, whichmeans as good category as experts review before.This product has been through stages of revision and adjustment severaltimes, based on inputs and comments collected during the developmentprocess. Generally, this e-module is good and suitable used as individuallearning resources for IDSʼs college student, and also another DKVʼs studentswho interested in the introductory online advertising material (subject). vi
  5. 5. KATA PENGANTAR Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segalaberkat-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsiini sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar SarjanaPendidikan. Penulis menyadari sepenuhnya, terselesaikannya skripsi ini bukansemata-mata hasil kerja penulis sendiri, namun juga berkat dukungandari berbagai pihak, khususnya kedua pembimbing yang telah membantupenulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, penulismengucapkan rasa terimakasih kepada: Bapak Dr. Karnadi, M.Si dan Ibu Dr. Yuliani Nurani Sujiono, M.Pdselaku Dekan dan Pembantu Dekan Bidang Akademik Fakultas IlmuPendidikan, Ibu Dra. Dewi S. Prawiradilaga M.Sc.Ed. dan Ibu Dra.Eveline Siregar, M.Pd selaku Ketua Jurusan dan Sekretaris JurusanTeknologi Pendidikan, Ibu R.A. Murti Kusuma Wirasti, M.Si dan BapakDrs. Khaerudin, M.Pd selaku Dosen Pembimbing I dan II penulis.Terimakasih karena Ibu dan Bapak telah bersedia membimbing,meluangkan sedikit waktunya untuk memberikan masukan-masukan danmengarahkan penulis dengan sangat baik dalam menyusun skripsi ini.Bapak Dr. Robinson Situmorang yang telah bersedia meluangkanwaktunya untuk mereview produk yang penulis kembangkan. Tidak lupajuga penulis ucapakan terimakasih untuk Bapak R.A. HirmanaWargahadibrata, M.Sc.Ed. selaku Dosen Pembimbing Akademis penulisselama penulis mengenyam pendidikan di Universitas ini. Untuk Ibu Asih,Ibu Santi, Mba Diana dan seluruh staff jurusan, terimakasih karena telahmemberikan banyak kemudahan selama penulis menjadi mahasiswa disana dan selama penulis menyusun skripsi ini. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada pihak InternationalDesign School (IDS), khususnya Mas Arianto Bigman, Ibu Suryaningsih, vii
  6. 6. Mas Rully dan Mas Zayn Hamdan yang telah memberikan izin,membantu dan memberikan kemudahan kepada penulis terutama dalammelakukan penelitian ini di sana. Tidak lupa juga untuk Mama atas segalanya yang pernah diberikankepada anaknya, kasih sayang dan do’a yang tulus ikhlas. Untuk Om,yang pernah mengisi kehidupan ini dengan penuh arti dan untuk Papayang pernah membuat saya terlahir di dunia ini, terimakasih atasdukungan finansialnya beberapa saat selama saya kuliah. Untuk teman-teman saya di Teknologi Pendidikan, terutamaangkatan 2005 yang kebanyakan sudah lebih dulu memulai lembaranbaru di luar kampus, terimakasih sudah menjadi teman dan mengisi hari-hari penulis selama kita jadi mahasiswa di kampus ini dan untuk temanseperjuangan yang berjuang bersama melewati waktu menyelesaikanskripsi ini, serta untuk yang baru mulai menulis skripsinya, ayo cepatselesaikan. Juga untuk Astri Windy Octavia, thanks for filling my life fromthe first i stepped on this university until i stepped out from this phase,and forced me to be better person time by time. Thanks for alwaysbesides and support me whatever my condition, in my sadness orhappiness, good or bad, sucks or well-done, everthing...you’ll never bereplaced whatever happen in the future. Dan juga untuk semua pihakyang tidak bisa disebutkan satu per satu, semoga kebaikan kalian dapatdibalas oleh Tuhan Yang Maha Esa. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, baiksecara langsung maupun tidak langsung. Jakarta, Januari 2011 AG viii
  7. 7. DAFTAR ISIPERSETUJUAN KOMISI PEMBIMBING & PANITIA UJIAN S1 ........ iiSURAT PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI.................................... iiiLEMBAR PERSEMBAHAN................................................................ ivABSTRAK .......................................................................................... vKATA PENGANTAR .......................................................................... viiDAFTAR ISI ....................................................................................... ixDAFTAR TABEL ............................................................................... xiiDAFTAR GAMBAR ........................................................................... xiiiDAFTAR LAMPIRAN ........................................................................ xivBAB I PENDAHULUAN A. Analisis Masalah ........................................................... 1 B. Identifikasi Masalah ....................................................... 9 C. Pembatasan Masalah .................................................... 10 D. Perumusan Masalah ..................................................... 10 E. Kegunaan Hasil Pengembangan ................................... 11BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Hakikat Modul Elektronik................................................ 13 1. Pengertian Modul ................................................... 14 2. Pengertian Modul Elektronik ................................... 16 3. Karakteristik Modul Elektronik................................. 21 4. Komponen-komponen Modul Elektronik ................. 26 5. Kelebihan dan Keterbatasan Modul Elektronik ....... 31 6. Prinsip Desain Pesan pada Modul Elektronik ......... 36 7. Pembelajaran Tidak Langsung dengan Modul Elektronik ................................................................ 50 ix
  8. 8. 8. Prinsip Mengembangkan Materi dalam Lingkungan Belajar Tidak Langsung....................... 52 B. Hakikat Sumber Belajar.................................................. 59 1. Pengertian Sumber Belajar ..................................... 59 2. Manfaat Sumber Belajar ......................................... 62 3. Jenis-jenis Sumber Belajar ..................................... 63 4. Modul Elektronik sebagai Media Pembelajaran Terpadu................................................................... 67 5. Multimedia Interaktif ................................................ 71 6. Format Penyajian Bahan Belajar Elektronik ........... 75 C. Pengembangan Modul Elektronik .................................. 78 1. Pengertian Pengembangan .................................... 78 2. Model Pengembangan Produk Pembelajaran ........ 80 3. Model Pengembangan Modul Elektronik ................ 89 D. Hakikat Multimedia Design sebagai Mata Kuliah .......... 94 1. Deskripsi Mata Kuliah Multimedia Design............... 94 2. Tujuan Pembelajaran Mata Kuliah Multimedia Design ..................................................................... 95 3. Konsep Ekonomi Kreatif serta Definisi Industri Kreatif beserta Klasifikasinya .................................. 96 4. Aplikasi Multimedia Design dalam Beberapa Sub Sektor Industri Kreatif.............................................. 98BAB III STRATEGI DAN PROSEDUR PENGEMBANGAN A. Strategi Pengembangan ............................................... 100 1. Tujuan....................................................................... 100 2. Metode Pengembangan ........................................... 100 3. Responden ............................................................... 102 x
  9. 9. 4. Instrumen.................................................................. 102 B. Prosedur Pengembangan ............................................. 103 1. Startup/Permulaan.................................................... 103 2. Desain ...................................................................... 104 3. Pengembangan ........................................................ 116 4. Evaluasi .................................................................... 119 5. Implementasi ............................................................ 121 C. Teknik Evaluasi ............................................................. 121BAB IV HASIL PENGEMBANGAN A. Nama Produk ................................................................. 125 B. Karakteristik Produk ....................................................... 125 1. Spesifikasi Sistem .................................................. 125 2. Kelebihan Program ................................................. 126 3. Kekurangan Program .............................................. 128 4. Keterbatasan Pengembangan ................................ 128 C. Prosedur Pemanfaatan .................................................. 129 D. Hasil Uji Coba................................................................. 133 E. Revisi.............................................................................. 138BAB V PENUTUP A. Kesimpulan .................................................................... 143 B. Implikasi ........................................................................ 143 C. Saran ............................................................................. 147DAFTAR PUSTAKA 149LAMPIRAN-LAMPIRAN 153 xi
  10. 10. DAFTAR TABELTabel2. 1 Perbandingan antara modul elektronik dengan modul cetak ... 192. 2 Perbandingan bahan belajar konvensional dengan mandiri .... 242. 3 Kesesuaian penggunaan warna .............................................. 462. 4 Ukuran huruf berdasarkan usia sekolah ................................. 483. 1 Tujuan pembelajaran program ................................................. 1104. 1 Hasil rekapitulasi review ahli .................................................... 1334. 2 Hasil revisi uji coba ahli............................................................ 1384. 3 Hasil revisi uji coba pengguna ................................................. 141 xii
  11. 11. DAFTAR GAMBARGambar2. 1 Perbedaan tingkat realitas unsur visual .................................... 432. 2 Kerucut pengalaman Edgar Dale .............................................. 602. 3 Model Instruksional Seels and Glasgow .................................. 812. 4 CAI Design Model .................................................................... 832. 5 The IMM development model ................................................... 852. 6 Model pengembangan instruksional DID .................................. 903. 1 The IMM development model ................................................... 1013. 2 Model pengembangan instruksional DID .................................. 106 xiii
  12. 12. DAFTAR LAMPIRANLampiran1 Silabus mata kuliah multimedia design 1 IDS ............................... 1542. Dynamic Instructional Design Model Result ................................. 1583 Flowchart program modul elektronik ........................................... 1674 Layout dan tampilan modul elektronik (storyboard) ..................... 1685 Kisi-kisi instrumen uji coba untuk ahli .......................................... 1806 Kisi-kisi instrumen uji coba untuk pengguna ................................. 1827 Instrumen uji coba modul elektronik untuk ahli materi .................. 1848 Instrumen uji coba modul elektronik untuk ahli media .................. 1869 Instrumen uji coba modul elektronik untuk ahli disnal................... 18910 Instrumen uji coba modul elektronik untuk pengguna................... 19211 Rekapitulasi hasil uji coba ahli ...................................................... 19611 Rekapitulasi hasil uji coba pengguna............................................ 19912 Surat keterangan penelitian IDS ................................................... 202Daftar Riwayat Hidup 203 xiv
  13. 13. BAB I PENDAHULUANA. Analisis Masalah Pendidikan merupakan hal yang sangat fundamental dalammeningkatkan kualitas kehidupan manusia dan menjamin perkembanganpembangunan bangsa. Kebutuhan untuk memperoleh pendidikan dalamberbagai bidang memunculkan banyak lembaga pendidikan, baik itulembaga formal, maupun non formal, tak terkecuali dalam bidang kreatif,khususnya Desain Komunikasi Visual (DKV). Adanya lembaga pendidikanharus diseimbangkan dengan adanya peningkatan kualitas pendidikan.Maka akan menjadi tanggung jawab besar sebuah institusi pendidikandalam memasuki era globalisasi dan komunikasi digital adalah denganmempersiapkan para peserta didik yang berkualitas untuk menghadapiberbagai tantangan yang ada di dalam masyarakat setelah merekamenyelesaikan masa studinya. IDS sebagai salah satu lembaga pendidikan yang bergerak dalambidang komunikasi visual mempersiapkan para lulusannya untuk memilikiberbagai portofio yang berkualitas dan dapat diterima industri. Dengankondisi demikian, seorang lulusan DKV harus mempunyai kompetensidalam mengemas konsep komunikasi ke dalam bentuk visual yang kreatifserta ke dalam berbagai format media, baik itu cetak maupun non cetak 1
  14. 14. 2(audio, video, multimedia, web, rich media/new media, dsb) untukmenjawab berbagai kebutuhan klien. Untuk itu, peserta didik dibekalidengan berbagai mata kuliah, baik itu dalam mengembangkan konsepkomunikasi visual pada media cetak, maupun pada media digital. Salah satu mata kuliah yang membekali peserta didik dalam konsepkomunikasi digital adalah multimedia design. Mata kuliah ini mempelajariprogram aplikasi komputer dalam perancangan dan pengembangan digitalcontent/web/multimedia berserta konsep-konsep dasar yang melandasinya.Mata kuliah ini bertujuan agar peserta didik pada akhirnya mampumengembangkan sebuah konsep komunikasi yang terintegrasi (teks, grafik,foto, audio, video, animasi, games, dsb) dalam media baru (new media/richmedia) dari sebuah brand/produk kepada user atau konsumennya.Tentunya, mata kuliah ini bukan merupakan mata kuliah yang mudah bagiseorang pengajar/instruktur untuk menyampaikannya kepada peserta didikdalam jangka waktu perkuliahan yang terbatas. Banyaknya hambatan yang menjadi kendala atas kelancarankegiatan belajar. Di antaranya kelengkapan fasilitas belajar, minimnyamedia dan sumber belajar yang digunakan, metode mengajar yangdigunakan, kesibukan pengajar, serta ketidakmandirian peserta didik dalammencari informasi pendukung merupakan beberapa faktor yangmenyebabkan tidak tercapainya tujuan pembelajaran yang telah ditetapkansecara maksimal. Berbagai hambatan ini diakui oleh Head Program Design
  15. 15. 3IDS sebagai akibat terhadap penurunan kreativitas peserta didik merekadalam mata kuliah ini. Pengajar/instruktur merupakan satu-satunya sumber informasi bagipeserta didik. Hal ini tidak jarang menimbulkan sikap tidak kreatif dan tidakmandiri bagi peserta didik. Tidak jauh berbeda dengan peserta didik,pengajar pun pada umumnya hanya memanfaatkan sumber belajarseadanya. Kesibukan mereka di luar kegiatan belajar mengajar terkadangmenyulitkan mereka untuk mengembangkan bahan belajar mandiri bagipeserta didik. Selain itu, padatnya materi yang harus disampaikan sertasempitnya waktu perkuliahan terkadang mengakibatkan materi perkuliahantidak tersampaikan seluruhnya dengan baik. Dengan adanya berbagai hambatan tersebut, diperlukanpengelolaan strategi pembelajaran yang baik untuk meningkatkan kualitaspembelajaran serta mencapai tujuan pembelajaran yang optimal dalammata kuliah ini. Teknologi Pendidikan mempunyai cara tersendiri untukmeningkatkan kualitas pembelajaran yaitu dengan menciptakan interaksiantara unsur-unsur yang terdapat dalam proses pembelajaran. Sepertidiketahui bahwa strategi pembelajaran merupakan suatu kondisi yangsengaja diciptakan oleh instruktur atau perancang pembelajaran (meliputimetode, sarana dan prasarana, materi, media dan sebagainya) agarpeserta didik difasilitasi dan dipermudah dalam mencapai tujuanpembelajaran tersebut.
  16. 16. 4 Salah satu komponen yang mempengaruhi pembelajaran tersebutantara lain adalah penggunaan media dan sumber belajar. Pemanfaatanmedia seharusnya merupakan bagian yang mendapat perhatianpembelajar dalam mengelola kegiatan pembelajaran. Begitu pula bagipemelajar sebaiknya dilibatkan dalam memanfaatkan media dan teknologisebagai sumber belajar agar proses pembelajaran menjadi lebih kaya dandapat berhasil dengan baik. Media dapat digunakan pada pembelajaran konvensional maupunpembelajaran mandiri. Penggunaan media sebagai sumber belajar mandiridapat memperkaya pengalaman belajar peserta didik (pengayaan) selainpengalaman belajar yang di dapat dari pembelajaran konvensional (tatapmuka). Selain itu, media sebagai sumber belajar mandiri juga dapatmempersiapkan peserta didik sebelum memulai pokok bahasan tertentu didalam pertemuan kelas. Terdapat ciri khusus pada media untuk pembelajaran mandiri yangmembedakannya dengan media pembelajaran konvensional. Mediapembelajaran mandiri harus memiliki sifat self-contained (memuat semuayang dibutuhkan oleh pemelajar) dan self instruction (belajar secaramandiri). Dengan ciri tersebut, media yang dipergunakan untukpembelajaran mandiri menyediakan hampir semua yang dibutuhkanpeserta didik, diantaranya tujuan pembelajaran, panduan penggunaan,uraian materi, intisari, evaluasi dan umpan balik serta tindak lanjut. Dengan
  17. 17. 5kelengkapan yang disajikan tersebut pemelajar diharapkan dapat belajardan memahami bahan pelajaran tanpa atau dengan sedikit mungkinbantuan dari orang lain. Salah satu media yang memenuhi kriteria tersebut adalah modul.Dengan berbagai ciri tersebut, dapat dikatakan bahwa modul merupakansuatu unit yang lengkap yang berdiri sendiri dan terdiri atas suaturangkaian kegiatan belajar yang disusun untuk membantu peserta didikmencapai sejumlah tujuan yang dirumuskan secara khusus dan jelas.Dengan modul, peserta didik dapat mencapai taraf mastery (tuntas)dengan belajar secara individual. Peserta didik tidak dapat melanjutkan keunit pelajaran berikutnya sebelum mencapai taraf belajar tuntas pada unitsebelumnya. Dalam hal penggunaan, modul dapat digunakan secara fleksibel.Modul dapat memfasilitasi peserta didik dalam belajar mandiri ataupunkonvensional. Dengan menggunakan modul, peserta didik dapatmengontrol kemampuan dan intensitas belajarnya sendiri. Modul jugadapat dipelajari di mana saja, dapat digunakan dengan kondisi waktu yangtidak terikat, juga dapat dilakukan secara tersendiri, small group, atau divariasikan dengan metode lain. Adanya modul dapat menjadi salah satusumber belajar yang direncanakan (by design) bagi para peserta didik. Akan tetapi, masih banyak modul yang dikembangkan tanpamemperhatikan prosedur pengembangan bahan belajar mandiri, sehingga
  18. 18. 6kualitasnya masih jauh dari standar. Kebanyakan modul yang dibuat masihkurang memfasilitasi peserta didik dalam mempelajari materi yang adapada modul secara mandiri. Serta kondisi fisik modul yang kebanyakanberbentuk cetak dengan jumlah halaman yang cukup tebal, penyajianinformasi yang terlalu terlalu verbal, serta biaya pencetakan yang tidaksedikit, menyebabkan modul cetak menjadi kurang diminati. Kemajuan teknologi informasi telah memungkinkan seorangpengembang pembelajaran dalam mengubah penyajian bahan ajar, dalamhal ini modul cetak, menjadi modul yang dikemas dalam format digital, ataudikenal dengan istilah modul elektronik (e-modul). Istilah ini termasukdalam konsep pembelajaran elektronik atau e-learning. E-learningmerupakan suatu pengembangan teknologi dalam pembelajaran, yaitudengan memanfaatkan kemampuan komputer serta perangkat informasilainnya seperti multimedia dan internet. Bentuk pembelajaran inidipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi yang pesat. Padaintinya, perkembangan e-learning tersebut mengarah pada kemudahan dankelengkapan, serta konsep umum penerapan dalam pembelajaran tetapsama, yaitu memberikan penyajian informasi, yang lengkap, terstruktur danmenarik. Dengan modul elektronik, penyampaian materi yang berupa tekniklangkah-langkah atau prosedur dapat disajikan dengan menggunakansimulasi video tutorial. Dengan begitu peserta didik dapat mengikuti materi
  19. 19. 7yang disajikan dengan jelas, tanpa kebingungan karena petunjuk verbalyang memungkinkan salah penafsiran dan sebagainya. Dalam kegiatanbelajar, sebaiknya peserta didik diajak untuk memanfaatkan semua alatinderanya. Belajar dengan menggunakan indera ganda (pandang dandengar) akan memberikan keuntungan bagi peserta didik. Peserta didikakan belajar lebih banyak pada situasi ini daripada ketika materi pelajaranhanya disajikan dengan stimulus pandang atau hanya dengan stimulusdengar. Kelebihan lain dari bentuk penyajian modul elektronik ini antara lainadalah ukuran file yang relatif kecil, mudah dibawa hanya denganmenggunakan USB flashdrive, dsb. Modul elektronik ini dapat digunakansecara off-line maupun on-line tergantung pada kesiapan instansipendidikan maupun peserta didik sebagai pengguna secara langsung.Peserta didik dapat mempelajari modul di mana saja dan kapan sajaasalkan terdapat komputer. Peserta didik dapat menelusuri materi yangterdapat di dalam modul baik secara linear maupun non linear di dalamprogram melalui link yang berupa navigasi untuk mengarahkan pesertamenuju informasi tertentu. Peserta didik juga dapat mengetahui ketuntasanbelajar masing-masing dengan mengikuti evaluasi yang telah disediakandalam program. Berdasarkan rumusan penjelasan di atas, terlihat bahwa modulelektronik memiliki potensi yang besar untuk digunakan dalam proses
  20. 20. 8pembelajaran. Hal ini karena sifat modul yang dirancang khusus untuksarana belajar mandiri, ditambah lagi dengan beberapa keunggulan formatelektronik, yang memungkinkan untuk mengintegrasikan berbagai simulasivideo tutorial dalam penyajian materi teknis dan proses evaluasinya.Selain itu modul elektronik ini juga dapat menyajikan informasi secara lebihterstruktur, serta memiliki sistem navigasi yang dapat memudahkan pesertadidik menelusuri materi sesuai dengan kecepatan belajarnya masing-masing. Dengan demikian penelitian ini bertujuan untuk mengembangkansebuah prototipe media pembelajaran berupa modul elektronik (e-modul)sebagai salah satu sumber belajar mandiri peserta didik di InternationalDesign School khususnya dalam mempelajari multimedia design I.Mengingat karakteristik dalam mata kuliah ini yang terdiri dari pengenalankonsep-konsep serta sebagian praktik pengenalan dasar-dasarpenggunaan program untuk mengembangkan konsep-konsep yang ada,maka tentunya pemilihan format media ini dirasa cukup sesuai. Integrasiberbagai bentuk informasi, seperti teks, audio, video tutorial dan berbagainavigasi lainnya yang mengarahkan peserta didik menelusuri informasibaik di dalam maupun di luar dari program (modul) tentunya akanmemperkaya pengalaman belajar peserta didik. Ditambah lagi denganpenyajian materi yang berupa contoh kasus dan beberapa resources atau
  21. 21. 9referensi-referensi lainnya yang diperlukan peserta didik untukmemperkaya kreativitas mereka. Dalam penelitian ini, fokus pengembangan terletak pada bentukpenyajian bahan belajar mandiri yang di dalamnya terdapat pengelolaanmateri, pengelolaan tampilan, dan kontrol pemelajar. Dengandikembangkannya prototipe modul elektronik sebagai sumber belajarmandiri dalam mempelajari mata kuliah Multimedia Design I di InternationalDesign School, diharapkan orientasi pembelajaran tidak lagi teacher-centered melainkan mengarah kepada sistem pembelajaran yang student-centered. Serta dapat menunjang kompetensi lulusan yang mampumengembangkan sebuah konsep komunikasi visual dalam media digital.B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, terdapatbeberapa masalah yang dapat diidentifikasi, antara lain: 1. Materi perkuliahan seperti apa yang dapat disajikan dalam bentuk modul elektronik? 2. Sejauh mana bahan ajar dalam bentuk modul elektronik dapat meningkatkan hasil belajar? 3. Apakah bahan ajar berbentuk modul elektronik mampu memperlancar proses belajar peserta didik?
  22. 22. 10 4. Dapatkan bahan ajar dalam bentuk modul elektronik mengubah peranan dosen dalam proses belajar? 5. Bagaimanakah pengembangan modul elektronik yang dibutuhkan sebagai salah satu sumber belajar mandiri yang lengkap dan jelas?C. Pembatasan Masalah Berdasarkan sejumlah permasalahan yang teridentifikasi, makadapat dilihat bahwa modul elektronik memiliki cakupan permasalahan yangluas dalam pengembangannya. Agar penelitian ini menjadi lebih fokus,maka penelitian ini dibatasi pada bagaimana pengembangan modulelektronik yang dibutuhkan sebagai sumber belajar untuk mempelajarimata kuliah multimedia design di International Design School?D. Perumusan Masalah Berdasarkan pembatasan masalah di atas maka perumusanmasalah pada penelitian ini adalah “Bagaimana mengembangkan modulelektronik sebagai sumber belajar untuk mempelajari mata kuliahMultimedia Design?”
  23. 23. 11E. Kegunaan Hasil Pengembangan1. PraktisSecara praktis pengembangan ini bermanfaat dalam memberikansumbangan yang berarti kepada: a. Peserta didik, khususnya peserta didik jurusan Digital Design International Design School agar dapat memanfaatkan modul ini sebagai salah satu sumber belajar mandiri dalam mempelajari pengenalan online advertising dan beberapa hal teknis terkait dengan banner advertisements yang diberikan pada mata kuliah Multimedia Design 1. b. Peserta didik Desain Komunikasi Visual lain, atau masyarakat umum khususnya yang tertarik dengan materi mengenai pengantar/pengenalan online advertising. c. Dosen, agar dapat memanfaatkan bahan ajar ini sebagai media dan sumber belajar siswa dalam mempelajari materi perkuliahan. d. International Design School, agar dapat memberikan sumbangan berupa pengembangan media pembelajaran dalam bentuk Modul Elektronik yang bisa diintegrasikan dengan perkuliahan ataupun dijadikan sumber referensi & sumber belajar mandiri bagi peserta didik. Dan juga dapat dijadikan dasar bagi pengembangan- pengembangan media pembelajaran lainnya.
  24. 24. 12 e. Peneliti lain, sebagai bahan referensi atau rujukan dalam mengembangkan penelitian lebih lanjut agar produk yang dihasilkan bisa lebih baik dari yang sudah dikembangkan peneliti saat ini.2. TeoritisSecara teoritis dengan adanya pengembangan modul elektronik inidiharapkan dapat: a. Menjelaskan penyajian bahan ajar sehingga lebih menarik dan mudah digunakan sebagai salah satu sumber belajar mandiri peserta didik. b. Memprediksi agar pemelajar lebih tertarik dan berminat dalam mempelajari bahan ajar serta mampu menambah kreativitas peserta didik dalam berkarya.
  25. 25. BAB II KAJIAN PUSTAKA Di dalam BAB II ini dikaji sejumlah teori yang berkaitan denganpengembangan modul elektronik. Teori-teori tersebut dikemukakan untukmenjelaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan pengembanganmodul elektronik, seperti hakikat modul elektronik, hakikat modul elektroniksebagai media dan sumber belajar, hakikat multimedia design sertakaitannya dengan industri kreatif dan proses pengembangan modul elektroniktersebut.A. Hakikat Modul Elektronik Modul merupakan salah satu media pembelajaran tertua. Meskipundemikian, tidak berarti penggunaan modul dalam kegiatan pembelajaran saatini menjadi sebuah hal yang sangat kuno dan ketinggalan zaman. Modulterbukti efektif digunakan sebagai alternatif bahan belajar mandiri maupunbahan belajar konvensional. Modul yang disusun secara sistematis denganmemperhatikan pengorganisasian materi pelajaran dapat digunakan sesuaigaya dan kecepatan belajar masing-masing pengguna. Dengan perkembangan teknologi informasi yang dapat diaplikasikandalam kegiatan pembelajaran, banyak cara yang dapat digunakan untukmengubah penyajian bahan belajar ke dalam format elektronik atau digital.
  26. 26. 14Penyajian bahan belajar dalam bentuk elektronik ini tentunya akan menjadilebih menarik dan memberikan berbagai kemudahan. Keberadaan mediapembelajaran ini pada akhirnya dapat menunjang dan melengkapi peran gurusebagai satu-satunya sumber informasi bagi peserta didik. 1. Pengertian Modul Modul merupakan salah satu jenis media pembelajaran berbentukcetak. Namun modul berbeda dengan bahan belajar cetak lainnya, sepertibuku teks atau hand out. Perbedaanya adalah terletak pada penyajian isimateri di dalam modul itu sendiri yang dirancang khusus. Berikut adalahbeberapa definisi modul menurut para ahli. Mulyasa mendefinisikan modul sebagai paket belajar mandiri yangmeliputi serangkaian pengalaman belajar yang direncanakan dan dirancangsecara sistematis untuk membantu peserta didik mencapai tujuan belajar.1Sejalan dengan Mulyasa, Nasution juga mendefinisikan modul sebagai suatuunit yang lengkap yang berdiri sendiri dan terdiri atas suatu rangkaiankegiatan belajar yang disusun untuk membantu siswa mencapai sejumlahtujuan yang dirumuskan secara khusus dan jelas.21 E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Jakarta: PT Remaja Rosda Karya, 2003).h.432 Nasution, Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar (Jakarta: Bumi Aksara,2006), h.205
  27. 27. 15 Smaldino, dkk dalam Instructional Technology and Media for Learningmendefinisikan an instructional module is any self-contained instructional unitdesigned for use by a single learner or a small group of learners withoutteacher’s presence.3 Berdasarkan pengertian dari Smaldino tersebut dapatdijelaskan bahwa modul pembelajaran merupakan sebuah unit pembelajaranyang lengkap yang dirancang khusus untuk pembelajaran yang digunakanoleh siswa secara individu maupun kelompok kecil tanpa kehadiran guru. Purwanto, dkk mendefinisikan modul sebagai bahan belajar yangdirancang secara sistematis berdasarkan kurikulum tertentu dan dikemasdalam bentuk satuan pembelajaran terkecil dan memungkinkan dipelajarisecara mandiri dalam satuan waktu tertentu.4 Tujuan utama dari sebuahmodul adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran disekolah, baik waktu, dana, fasilitas, maupun tenaga guna mencapai tujuansecara optimal. Berdasarkan pengertian-pengertian yang telah diuraikan para ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa modul adalah bahan belajar yangdisiapkan secara khusus dan dirancang secara sistematis berdasarkankurikulum tertentu yang dikemas menjadi sebuah unit pembelajaran terkecilyang dapat digunakan pemelajar secara mandiri untuk mencapai tujuan3 Sharon E. Smaldino, Instructional Technology and Media for Learning, 9’th edition (NewJersey: Pearson, Prentice Hall, 2008), p. 2144 Purwanto, Aristo Rahadi, dan Suharto Lasmono, Pengembangan Modul (Jakarta:PUSTEKKOM DEPDIKNAS, 2007), h. 9.
  28. 28. 16pembelajaran tertentu yang telah ditetapkan. Modul harus mencakup semuakebutuhan belajar bagi pemelajar, mulai dari petunjuk belajar, tujuanpembelajaran, materi pembelajaran, evaluasi, pembahasan, sampai umpanbalik. 2. Pengertian Modul Elektronik Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menjelang akhirabad ke 20 telah berangsur menggeser era Guttenberg dengan mesincetaknya dan menggantikannya dengan era digital. Informasi dan publikasiyang semula hanya didokumentasikan dan disebarluaskan melalui lembaran-lembaran kertas tercetak kini mulai menggunakan media elektronik sebagaialternatif penggantinya. Dalam dunia pendidikan, pemanfaatan teknologiinformasi dan komunikasi tersebut dalam pembelajaran dikenal dengan istilahe-learning. E-learning merujuk pada pembelajaran dengan menggunakanjasa perangkat elektronika.5 Salah satu bentuk penyajian bahan belajar dalam format digital atauelektronik tersebut adalah e-book. Buku elektronik atau yang biasa dikenaldengan istilah e-book ini merupakan tampilan informasi atau naskah dalamformat buku yang direkam secara elektronik dengan menggunakan hard disk,disket, CD, atau flash disk dan dapat dibuka dan dibaca dengan5 Soekartawi, Prinsip Dasar E-Learning dan Aplikasinya di Indonesia, (Jurnal teknodik EdisiNo. 12/VII/Oktober/2003), h. 3.
  29. 29. 17menggunakan komputer atau alat pembaca buku elektronik (e-book vieweratau e-book reader).6 Definisi lain menjelaskan bahwa, electronic book is a portablehardware and software system that can display large quantities of readabletextual information to the user, and lets the user navigate through thisinformation.7 Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa buku elektronikmerupakan sebuah perangkat keras portabel dan sistem perangkat lunakyang dapat menampilkan informasi berupa teks dalam jumlah besar kepadapengguna, dan memungkinkan pengguna untuk menelusuri informasi yangterdapat di dalamnya. Perkembangan teknologi e-book ini mendorong terjadinya perpaduanantara teknologi cetak dengan teknologi komputer dalam kegiatanpembelajaran. Berbagai media pembelajaran cetak, salah satunya modul,dapat ditransformasikan penyajiannya ke dalam bentuk elektronik, sehinggamelahirkan istilah modul elektronik atau yang dikenal dengan istilah e-module. Tidak ada definisi pasti mengenai modul elektronik sampai sejauhini. Dengan mengacu pada berbagai istilah yang berhubungan tersebut dapatdiidentifikasi bahwa modul elektronik merupakan penggabungan istilah moduldalam bentuk bahan belajar elektronik (e-book). Dengan demikian, modulelektronik dapat didefinisikan sebagai sebuah bentuk penyajian bahan belajar6 B.P. Sitepu, Penyusunan Buku Pelajaran, (Jakarta: Verbum Publishing, 2006), h. 142.7 Jan O. Borchers, Electronic Books: Definition, Genres, Interaction Design Patterns, (Austria:Linz University, 1999), p. 1.
  30. 30. 18mandiri yang disusun secara sistematis ke dalam unit pembelajaran terkeciluntuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu, yang disajikan dalam formatelektronik, di mana setiap kegiatan pembelajaran di dalamnya dihubungkandengan link-link sebagai navigasi yang membuat peserta didik menjadi lebihinteraktif dengan program, dilengkapi dengan penyajian video tutorial,animasi dan audio untuk memperkaya pengalaman belajar. Berdasarkan pengertian mengenai modul dan modul elektroniktersebut, terlihat bahwa tidak ada perbedaan prinsip pengembangan antaramodul konvensional (cetak) dengan modul elektronik. Perbedaan hanyaterdapat pada format penyajian secara fisik saja, sedangkan komponen-komponen penyusun modul tersebut tidak memiliki perbedaan. Modulelektronik mengadaptasi komponen-komponen yang terdapat di dalam modulcetak pada umumnya. Perbedaan hanya pada penyajian fisik modulelektronik yang membutuhkan perangkat komputer untuk menggunakannya. Berikut ini merupakan tabel perbandingan yang akan membedakanantara modul cetak dengan modul elektronik dari segi penyajian fisiknya.
  31. 31. 19 Tabel 2.1 8 Perbandingan antara Modul Elektronik dengan Modul Cetak Modul Elektronik Modul CetakDitampilkan dengan menggunakan Tampilannya berupa kumpulan kertasmonitor atau layar komputer. yang berisi informasi tercetak, dijilid dan diberi cover.Lebih praktis untuk dibawa kemana- Jika semakin banyak jumlahmana, tidak peduli berapa banyak halamannya maka akan semakinmodul yang disimpan dan dibawa tebal dan semakin besar pulatidak akan memberatkan kita dalam ukurannya, serta semakin berat. Halmembawanya ini akan merepotkan kita dalam membawanya.Menggunakan CD, USB Flashdisk, Tidak menggunakan CD atau memoriatau memori card sebagai medium card sebagai medium penyimpananpenyimpanan datanya. datanya.Biaya produksinya lebih murah Biaya produksinya jauh lebih mahal,dibandingkan dengan modul cetak. terlebih lagi jika menggunakanTidak diperlukan biaya tambahan banyak warna. Begitu juga denganuntuk memperbanyaknya, hanya biaya untuk memperbanyak dandengan copy antara user satu menyebarluaskannya (distribusi),dengan lainnya. Pengiriman atau diperlukan biaya tambahanproses distribusi pun bisa dilakukandengan menggunakan e-mailMenggunakan sumber daya berupa Cukup paktis, tidak membutuhkantenaga listrik dan komputer atau sumber daya khusus untuknotebook untuk mengoperasikannya. menggunakanya.8 Modifikasi dari: Ardhi Saputro, Pengembangan Modul Elektronik Untuk Mata Kuliah Dasar-Dasar Fotografi, Skripsi Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan-Universitas NegeriJakarta, 2009. h. 55-56
  32. 32. 20Tahan lama dan tidak lapuk dimakan Daya tahan kertas terbatas olehwaktu. waktu, semakin lama warna kertas akan memudar dan lapuk, selain itu juga kertas dapat dimakan rayap dan mudah sobek.Naskahnya dapat disusun secara Naskahnya hanya dapat disusunlinear maupun non linear. secara linear.Dapat dilengkapi dengan audio dan Tidak dapat dilengkapi dengan audiovideo dalam satu bundle dan video dalam satu bundlepenyajiannya penyajiannya. Hanya dapat dilengkapi dengan ilustrasi dalam penyajiannya. Jika ditambah dengan video terpisah akan menjadi paket pembelajaran, bukan lagi hanya sekedar modul.Pada tiap kegiatan belajar dapat Tidak dapat diberkan password,diberikan kata kunci atau password peserta didik bebas mempelajariyang berguna untuk mengunci setiap kegiatan belajar. Sehinggakegiatan belajar. Peserta didik harus terdapat sedikit kelemahan dalammenguasai satu kegiatan belajar kontrol jenjang kompetensi yangsebelum melanjutkan ke kegiatan harus diperoleh pemelajar.belajar selanjutnya. Dengan demikianpeserta didik dapat menuntaskankegiatan belajar secara berjenjang.
  33. 33. 21 3. Karakteristik Modul Elektronik Adapun modul sebagai media pembelajaran mandiri memiliki berbagaiciri. Karakteristik yang dimiliki modul cetak tersebut kemudian dapatdiadaptasikan ke dalam modul elektronik, berikut merupakan beberapa cirimodul elektronik yang diadaptasi dari modul cetak:9 a. Belajar Mandiri (Self-instruction) Modul disusun sedemikian rupa sehingga pemelajar dapat memahaminya tanpa atau sesedikit mungkin bantuan dari orang lain. Untuk memenuhi prinsip tersebut, maka modul harus: 1) Terdapat tujuan yang dirumuskan dengan jelas, baik tujuan umum maupun tujuan khusus. 2) Materi pelajaran dikemas ke dalam unit-unit terkecil atau spesifik sehingga memudahkan siswa belajar secara tuntas. 3) Tersedia contoh dan ilustrasi yang mendukung kejelasan pemaparan materi pembelajaran. 4) Terdapat soal-soal latihan, tugas dan sejenisnya yang memungkinkan siswa memberikan respon dan mengukur penguasaannya. 5) Kontekstual, yaitu materi-materi yang disajikan terkait dengan suasana atau konteks tugas dan lingkungan siswa. 6) Menggunakan bahasa yang sederhana dan komunikatif. 7) Terdapat rangkuman materi pembelajaran. 8) Terdapat instrumen penilaian. yang memungkinkan siswa melakukan “self assesment”. 9) Terdapat instrumen yang digunakan siswa untuk mengukur atau mengevaluasi tingkat penguasaan materi diri sendiri. 10) Tersedia informasi tentang rujukan atau pengayaan atau referensi yang mendukung materi pembelajaran yang dimaksud.9 Sitepu, op.cit., h. 109
  34. 34. 22b. Utuh (Self-contained) Yang dimaksud dengan self-contained yaitu, seluruh materi pembelajaran dari satu unit kompetensi atau sub kompetensi yang dipelajari terdapat di dalam satu modul secara utuh. Tujuan dari prinsip ini adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempelajari materi pembelajaran yang tuntas, karena materi dikemas ke dalam satu kesatuan yang utuh. Jika harus dilakukan pembagian, atau pemisahan materi dari satu unit kompetensi harus dilakukan dengan hati-hati dan memperhatikan keluasan kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa.c. Berdiri sendiri (Stand alone) Stand alone atau berdiri sendiri berarti modul yang dikembangkan tidak tergantung pada media lain atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan media lain. Dalam menggunakan modul, siswa tidak tergantung dan harus menggunakan media yang lain untuk mempelajari dan atau mengerjakan tugas pada modul tersebut. Walaupun demikian, jika dikehendaki siswa dapat juga menggunakan sumber belajar lain sebagai bahan pengayaan.d. Dapat disesuaikan (Adaptif) Modul hendaknya memiliki daya adaptif yang tinggi terhadap perkembangan ilmu dan teknologi. Dikatakan adaptif jika media tesebut dapat menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan
  35. 35. 23 teknologi dalam kurun waktu tertentu (up to date) serta fleksibel digunakan. e. Akrab dengan pemakainya (User friendly) Modul hendaknya mudah digunakan. Media yang digunakan mudah dioperasikan, instruksi yang disampaikan mudah dimengerti dan mudah ditanggapi oleh pemelajar. Bahasa yang digunakan bersifat umum, sederhana dan mudah dimengerti oleh pemelajar. Media, penyajian bahan pelajaran, dan bahasa yang digunakan membuat pemelajar merasa akrab dengan modul serta termotivasi untuk mempelajarinya. Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa modul berbeda denganbuku teks atau buku cetak pada umumnya. Berikut adalah tabelperbandingan antara bahan belajar konvensional (misalnya buku teks/bukucetak) dengan bahan belajar mandiri (dalam hal ini modul).1010 ibid., h. 108.
  36. 36. 24 Tabel 2.2 Perbandingan Bahan Belajar Konvensional dengan Bahan Belajar Mandiri ASPEK KONVENSIONAL MANDIRI1.Tujuan Pembelajaran • Jelas dan terukur • Jelas dan terukur • Diketahui oleh • Diketahui/dipahami pembelajar dan oleh pemelajar pemelajar • Selalu tertulis dalam • Sering tidak tertulis bahan pelajaran dalam bahan pelajaran2. Pokok Bahasan Berdasarkan Berdasarkan tujuan/kompetensi tujuan/kompetensi3. Kedalaman dan Mengacu pada Mengacu pada Keluasan indikator indikator tujuan/kompetensi tujuan/kompetensi4. Metode Mengacu pada tujuan, Mengacu pada tujuan, Pembelajaran karakteristik pemelajar, karakteristik pemelajar, dan lingkungan belajar dan lingkungan belajar5. Bahasa • Formal dan baku • Luwes • Lugas/efisien dan • Lebih komunikatif ilmiah dan menarik menggunakan kata- kata sapaan dan gaya bahasa retorika • Kadang-kadang menggunakan bahasa sehari-hari • Kaya informasi6. Ilustrasi Seperlunya Lebih banyak ilustrasi dalam bentuk narasi dan grafis, lebih menarik
  37. 37. 25 ASPEK KONVENSIONAL MANDIRI7. Evaluasi Hasil Dilakukan oleh Dilakukan sendiri oleh Belajar pembelajar pemelajar, sesuai dengan petunjuk yang diberikan dalam bahan pelajaran8. Tampilan Fisik Standar dan ekonomis Praktis, menarik, dan menyenangkan untuk digunakan Dari tabel perbandingan tersebut terlihat bahwa perbedaan antarabuku teks dengan modul tidak hanya terlihat pada format tampilan fisiknyasaja, tetapi juga pada orientasi dan pendekatan yang digunakan dalampenyusunannya. Untuk itu diperlukan pemahaman mengenai karakteristikmodul beserta komponen penyusunnya dengan baik, agar modul lebihbersifat interaktif dan bukan hanya terlalu bergaya ceramah seperti padabuku teks kebanyakan.
  38. 38. 26 4. Komponen-Komponen Modul Elektronik Modul terdiri dari berbagai komponen-komponen yang menyusunnyasehingga bahan pembelajaran tersebut dapat dipelajari secara mandiri olehsiswa. Secara garis besar, baik modul cetak maupun modul elektronikmemiliki beberapa komponen yang sama seperti: (1) tujuan pembelajaran, (2)materi pelajaran, (3) latihan untuk menguji keterampilan atau kompetensiyang sudah dipelajari, (4) umpan balik yang menjadi indikator tentangpencapaian hasil belajar yang dilakukan siswa. Secara rinci, Mulyasa menyebutkan komponen modul sebagaiberikut:11 a. Pendahuluan Bagian ini berisi deskripsi umum, seperti materi yang disajikan, pengetahuan, keterampilan dan sikap yang akan dicapai setelah belajar, termasuk kemampuan awal yang harus dimiliki siswa untuk mempelajari modul tersebut. b. Tujuan Pembelajaran Bagian ini harus berisi tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang harus dicapai oleh setiap siswa setelah mempelajari modul. Dalam bagian ini dimuat pula tujuan akhir, serta kondisi untuk mencapai tujuan.11 Mulyasa, op.cit., h. 43.
  39. 39. 27c. Tes AwalTes ini berguna untuk menetapkan posisi siswa, dan mengetahuikemampuan awalnya, untuk menentukan dari mana ia harus memulaibelajar, dan apakah perlu untuk mempelajari modul tersebut atautidak.d. Pengalaman BelajarBagian ini merupakan rincian materi untuk setiap tujuanpembelajaran khusus, yang berisi sejumlah materi, diikuti denganpenilaian formatif sebagai balikan bagi siswa tentang tujuan belajaryang dicapainya.e. Sumber BelajarPada bagian ini disajikan tentang sumber-sumber belajar yangdapat ditelusuri untuk digunakan oleh siswa. Penetapan sumberbelajar ini perlu dilakukan dengan baik oleh pengembang modul,sehingga siswa tidak kesulitan memperolehnya.f. Tes AkhirTes akhir ini instrumennya sama dengan tes awal, hanya lebihdifokuskan pada tujuan akhir setiap modul.
  40. 40. 28 Selain itu Smaldino, dkk mengemukakan komponen modul terdiridari:12 a. Rasional, menyediakan informasi garis besar modul dan alasan mengapa pemelajar harus mempelajari modul tersebut. b. Tujuan, Menyatakan performa yang harus dicapai pemelajar setelah mempelajari modul tersebut. c. Tes awal, menetukan apakah pemelajar sudah menguasai keterampilan prasyarat yang diperlukan untuk mempelajari modul. d. Bahan-bahan multimedia, penggunaan berbagai teknologi dan media pendukung yang melibatkan partisipasi pemelajar secara aktif untuk menggunakan berbagai indera mereka. e. Kegiatan belajar, berisikan penjelasan mengenai strategi yang dipergunakan dalam mempelajari modul. Menggunakan berbagai media dan strategi dapat meningkatkan ketertarikan dan memenuhi kebutuhan pemelajar. f. Latihan dengan umpan balik, menyediakan pemelajar dengan latihan-latihan dan umpan balik atas ketepatan jawaban yang diberikan. g. Tes mandiri, memberikan pemelajar kesempatan untuk menilai perkembangan belajar mereka secara mandiri.12 Sharon E. Smaldino, dkk, op.cit., h. 214
  41. 41. 29 h. Tes akhir, menilai apakah pemelajar sudah menguasai tujuan dari modul. Menurut B.P. Sitepu, pada dasarnya modul terdiri atas tiga bagian utama. Bagian awal modul berisi pendahuluan, bagian inti berisi bahan pelajaran, dan bagian akhir berisi tes formatif.13 a. Bagian awal memberikan informasi umum tentang bahan pelajaran, kegunaan, tujuan pembelajaran umum, susunan dan keterkaitan antar judul modul, bahan pendukung lainnya, dan petunjuk untuk mempelajari bahan pelajaran. b. Bagian inti terdiri atas unit-unit pelajaran. Masing-masing unit terdiri atas: 1) Pendahuluan, berisi cakupan materi (deskripsi singkat), tujuan pembelajaran khusus, perilaku/kemampuan awal, manfaat dan urutan pokok bahasan, serta petunjuk/cara mempelajari modul. 2) Kegiatan belajar, mencakup uraian bahan pelajaran, contoh- contoh, latihan, rangkuman, tes formatif dan kunci jawaban. 3) Daftar pustaka, berisi daftar sumber dan bacaan yang dapat digunakan pemelajar untuk memperkaya isi pokok bahasan.13 Sitepu, op.cit., h. 110
  42. 42. 30 c. Bagian akhir berisi penutup modul, tes sumatif, glosarium, dan lampiran-lampiran yang terkait dengan isi modul.Berdasarkan berbagai penjelasan mengenai komponen yang seharusnyaterdapat di dalam sebuah modul, dapat ditarik garis besar komponen yangumumnya terdapat dalam sebuah modul, yaitu: a. Penjelasan mengenai materi dan tujuan mempelajari materi yang terdapat di dalam modul (tujuan pembelajaran umum dan khusus). b. Tes awal (pre-test) untuk mengetahui kemampuan awal siswa sebelum mempelajari modul, apakah siswa sudah memiliki kompetensi yang diperlukan untuk mempelajari unit tersebut di dalam modul. c. Materi inti, adalah unit/materi pembelajaran terkecil yang disajikan di dalam modul untuk mencapai kompetensi tertentu seperti yang dicantumkan dalam tujuan pembelajaran. d. Evaluasi mandiri, bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pencapaian kompetensi yang sudah dikuasai siswa setelah mempelajari materi yang terdapat di dalam modul (post-test). e. Umpan balik, berisi informasi yang dapat menyampaikan tingkat pencapaian belajar siswa berdasarkan skor yang diperoleh melalui tes atau evaluasi mandiri yang dilakukan siswa.
  43. 43. 31Modul elektronik yang akan dikembangkan dalam penelitian ini setidaknyaakan memiliki komponen-komponen tersebut. Penerapan komponen secaralebih detail akan disesuaikan dengan kondisi materi pembelajaran yang akandikembangkan dalam modul. 5. Kelebihan dan Keterbatasan Modul Elektronik Sama dengan media pembelajaran lainnya, sebuah modul dengankarakteristik dan komponen-komponen pembangunnya yang begitu lengkapsebagai bahan pembelajaran mandiri memiliki berbagai kelebihan yang tidakdimiliki oleh media lain. Namun disamping itu, modul juga memiliki beberapakekurangan dan keterbatasannya. Akan tetapi, jika digunakan dengan kondisibelajar yang sesuai modul terbukti dapat membantu mewujudkan tujuanpembelajaran yang telah ditetapkan oleh pengembang pembelajaran karenamodul sudah teruji dan valid sebelum disebarluaskan.14 Berikut adalahmanfaat belajar dengan menggunakan modul.15 a. Belajar mandiri. Pemelajar dapat mempelajari bahan berdasarkan kecepatan mereka masing-masing, melakukan tes secara mandiri. b. Paket yang lengkap. Keuntungan utama adalah bahwa modul merupakan paket pembelajaran yang terintegrasi. Tidak perlu14 Sharon E Smaldino, dkk. op.cit., h. 21515 Ibid., h. 215
  44. 44. 32 menggunakan beberapa bahan belajar terpisah untuk memenuhi tujuan pembelajaran. c. Valid. Modul sudah teruji dan sudah di validasi sebelum disebarkan.Manfaat lainnya dari penggunaan modul juga disebutkan oleh Nasutionsebagai berikut:16 a. Modul memberikan feedback yang banyak dan segera sehingga siswa dapat mengetahui hasil belajarnya. b. Penguasaan tuntas, setiap siswa mendapat kesempatan untuk mencapai angka tertinggi dengan menguasai bahan pelajaran secara tuntas. c. Modul disusun sedemikian rupa sehingga tujuannya jelas, spesifik dan dapat dicapai oleh siswa. Dengan tujuan yang jelas, usaha siswa teratah untuk mencapainya dengan segera. d. Pembelajaran yang membimbing siswa untuk mencapai sukses melalui langkah-langkah yang teratur akan menimbulkan motivasi yang kuat untuk berusaha segiat-giatnya. e. Fleksibilitas, modul dapat disesuaikan dengan perbedaan siswa antara lain kecepatan belajar dan cara belajar.16 Nasution, op.cit., h. 206-207
  45. 45. 33 f. Modul mengurangi atau menghilangkan sedapat mungkin rasa persaingan di kalangan siswa oleh sebab semua dapat mencapai hasil tertinggi. Dengan sendirinya lebih terbuka jalan ke arah kerjasama. g. Modul dengan sengaja memberi kesempatan untuk remedial, yakni memperbaiki kelemahan, kesalahan atau kekurangan siswa yang segera dapat ditemukan sendiri oleh siswa berdasarkan evaluasi yang diberikan secara kontinu.Sejalan dengan manfaat penggunaan modul yang disebutkan oleh Nasution,Prawiradilaga juga menambahkan beberapa manfaat modul:17 a. Modul dapat menyajikan isi/pengetahuan aspek kognitif dengan baik, seperti fakta, konsep, prinsip, prosedur, serta sebagian sikap. b. Dapat dibaca berulang kali tidak terbatas. c. Tidak dibatasi oleh waktu sehingga cukup kesempatan untuk melatih daya ingat dan menyerap materi. d. Dengan kreativitas, modul dapat ditampilkan dengan menarik sehingga menimbulkan motivasi bagi pembaca.17 Dewi Salma Prawiradilaga, Modul Penulisan Modul Untuk Pelatihan Peneliti, (Jakarta:LIPI, 2006), h. 11-12
  46. 46. 34 e. Jika dibandingkan dengan bahan ajar elektronik, modul dianggap lebih mudah disimpan, lebih murah dan dapat diproduksi lebih mudah dan cepat.Dengan berbagai kelebihan yang dimiliki modul, dapat dilihat bahwa modulmemang cukup ideal digunakan sebagai media pembelajaran mandiriataupun media pembelajaran jarak jauh. Disamping kelebihan yang telahdisebutkan, modul juga memiliki beberapa keterbatasan, seperti yangdiungkapkan oleh Prawiradilaga, sebagai berikut:18 a. Materi mengandung unsur verbalisme yang tinggi jika pesan tidak diimbangi dengan pesan visual secara memadai. b. Memerlukan konsentrasi yang tinggi dan kerja keras dalam menyerap materi bagi pembacanya. c. Penyajian bersifat statis, tidak dapat diubah. Kemungkinan bosan bisa saja timbul pada diri pembaca. d. Tidak semua ragam pengetahuan dapat dijabarkan melalui modul. Termasuk di dalamnya ragam pengetahuan interpersonal, motorik, metakognisi, dan sebagian dari sikap. e. Penyusunan modul ternyata lebih sulit jika dibandingkan dengan materi ajar elektronik. Menyederhanakan pembahasan atau uraian,18 Ibid. h.12
  47. 47. 35 menyusunnya secara runtut dan jelas memerlukan kepekaan khusus dari penulisnya. f. Bahan dasar kertas sangat rentan. Jika terkena air, modul menjadi basah dan bisa hancur. Selain itu, kertas ternyata sangat rentan terhadap debu, rayap, atau faktor perusak lain walau hal ini ditentukan juga oleh mutu kertas dan teknik penyimpanan. Pengembangan modul ini dapat digunakan untuk menyampaikanmateri konsep dasar multimedia design atau yang kini dikenal dengan istilahnew media secara kognitif, baik itu mengenai pemahaman konsep-konsepnya, maupun prosedur dasar pengembangannya dengan penyajianbeberapa contoh. Setelah para pemelajar memahami konsep secara kognitif,maka akan lebih mudah untuk mereka mengembangkan konsep-konseptersebut menjadi sebuah produk yang akan dikembangkan pada tahapselanjutnya. Modul yang akan dikemas dalam bentuk elektronik ini tentunya akansangat mendukung penyajian materi pelajaran tersebut. Penyajian bersifatstatis pada modul cetak dapat diubah menjadi lebih dinamis dan lebihinteraktif dengan menggunakan format elektronik. Selain itu, unsurverbalisme yang terlalu tinggi pada modul cetak juga dapat dikurangi denganmenyajikan unsur visual dengan penggunaan video tutorial di dalam modulelektronik tersebut.
  48. 48. 36 6. Prinsip Desain Pesan pada Modul Elektronik Modul merupakan media pembelajaran mandiri bagi peserta didik.Tentunya dengan sedikit mungkin bantuan dari pihak lain, peserta didikdiharapkan mampu mempelajari modul dengan baik dan memahami pesanpembelajaran yang terkandung di dalamnya tanpa menemukan kesulitandalam menginterpretasikan pesan yang dimuat. Untuk itu, penggunaanprinsip desain pesan dalam sebuah media pembelajaran mandiri sepertimodul dirasa sangat diperlukan. Penerapan prinsip desain pesan dalammodul ini bertujuan untuk menghasilkan proses komunikasi yang baik antarapemelajar dengan modul sebagai pembawa pesan, oleh sebab itu sebuahmodul harus didesain sebaik mungkin. Fleming dan Levie (1993) membatasi pesan pada pola-pola isyaratatau simbol yang memodifikasi perilaku kognitif, afektif dan psikomotorik.19Sementara itu, Grabowski mendefinisikan desain pesan sebagaiperencanaan untuk merekayasa bentuk fisik dari pesan.20 Berdasarkanpenjelasan tersebut terlihat bahwa pesan sangat penting dalam kegiatanpembelajaran. Pesan dalam sebuah materi pembelajaran bisa berupa fakta,konsep, prinsip ataupun prosedur. Untuk dapat menyajikan materi pelajarandengan baik, maka diperlukan desain pesan yang baik pula. Jika terdapat19 Barbara B. Seels dan Rita C. Richey, Teknologi Pembelajaran Definisi dan KawasannyaTerjemahan oleh Yusufhadi Miarso, dkk, (Jakarta: Unit Percetakan Universitas NegeriJakarta), h. 34.20 Ibid, h. 33.
  49. 49. 37kesalahan dalam menyampaikan pesan maka akan menimbulkan kekeliruanjuga pada pemelajar yang menggunakan media tersebut. Sebagai sebuah media, modul memiliki dua aspek penting yang dapatmenunjang tersampaikannya informasi/pesan pembelajaran kepadapemelajar. Aspek tersebut adalah aspek verbal dan aspek visual. Aspekverbal berkaitan dengan penggunaan huruf, penggunaan bahasa dansusunan kalimat yang membangun isi dari modul sedangkan aspek visualberkaitan dengan tampilan dari modul, termasuk di dalamnya penggunaangambar atau ilustrasi yang dapat memperjelas aspek verbal. Berikut ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai aspek verbal danvisual dalam modul, yang dapat diterapkan baik pada modul cetak maupunmodul elektronik. a. Aspek Verbal Dalam kegiatan pembelajaran konvensional, aspek verbal seringkali kita temui melalui metode pembelajaran guru yang dominan dilakukan dengan ceramah dalam menyampaikan materi pelajaran. Namun dalam modul, aspek verbal berkaitan dengan penggunaan bahasa dan tata kalimat yang disajikan dalam sebuah bentuk tulisan, yang digunakan sebagai sebuah alat komunikasi untuk menyampaikan informasi/pesan kepada pemelajar. Penggunaan bahasa juga turut
  50. 50. 38 mempengaruhi minat serta motivasi belajar pemelajar serta turut mendukung keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran.21 Menurut Prawiradilaga, bahasa yang digunakan dalam menyusun modul sebaiknya meliputi kesederhanaan dan struktur kalimat yang tidak terlalu panjang atau beragam. Pengecualian dilakukan jika memang suatu uraian memerlukan pengenalan istilah baru kepada pemelajar karena materi yang dibahas mencakup konsep atau prinsip. Selain itu penggunaan interaksi semu dalam modul sangat diperlukan, agar pembaca tidak merasa sendiri dalam belajar. Interaksi semu dapat dikembangkan melalui sapaan dan isyarat belajar.22 Sitepu menjelaskan ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pembelajar dalam penggunaan bahasa ketika menyampaikan materi, antara lain: 1) Kemampuan berbahasa pemelajar Kemampuan berbahasa berhubungan sangat erat dengan kemampuan berpikir dan menalar seseorang dan kemampuan ini dipengaruhi oleh berbagai unsur seperti tingkat intelegensi, usia, pengalaman dan lingkungan. Pertimbangkan penggunaan21 B.P. Sitepu, op.cit., h. 9822 Dewi Salma Prawiradilaga, op.cit., h. 12-13.
  51. 51. 39 bahasa berdasarkan karakteristik pemelajar yang akan dihadapi.2) Kaidah-kaidah bahasa Kaidah-kaidah yang berkaitan dengan bahasa ragam tulis termasuk tata kalimat, susunan kata dan ejaan. Modul sebagai salah satu bahan belajar mandiri, dalam penyusunannya perlu memperhatikan kaidah-kaidah bahasa tersebut agar pesan yang disampaikan dalam modul dapat dipahami oleh pemelajar.3) Pilihan kata Di samping kalimat dan ejaan yang mempengaruhi keberhasilan komunikasi, pilihan kata dapat mempermudah dan juga mempersulit komunikasi. Hendaknya dipergunakan pemilihan kata seumum mungkin, kata-kata yang akrab atau sudah dikenal baik oleh pemelajar.4) Gaya bahasa Penggunaan gaya bahasa hendaknya dapat membantu pemahaman pemelajar mengenai konsep yang sedang dipelajari serta memotivasinya untuk belajar lebih lanjut.5) Keterbacaan Keterbacaan dipengaruhi oleh pola dan struktur kalimat, penggunaan ejaan, dan pilihan kata. Tingkat keterbacaan
  52. 52. 40 dilihat dari sejauh mana bahasa yang digunakan dalam menyampaikan materi sesuai dengan kemampuan membaca pemelajar sehingga dapat dipahami oleh pemelajar. Earl R. Misanchuk juga mengemukakan, dalam menulis bahan pembelajaran khususnya modul, perlu diperhatikan beberapa prinsip yang berkaitan dengan aspek verbal dalam modul, yaitu:23 1) Menggunakan kalimat pendek 2) Menghindari kalimat gabungan 3) Menghindari informasi yang berlebihan pada kalimat 4) Menggunakan kata ganti orang 5) Menggunakan kalimat aktif 6) Berbentuk poin-poin 7) Menggunakan contoh-contoh yang umum (sudah dikenal) 8) Menulis seperti akan berbicara 9) Menghindari kata-kata yang sulit dan tidak perlu 10) Meletakkan paragraf dan kalimat ke dalam urutan yang logis. Jadi, dapat disimpulkan, secara garis besar beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait dengan aspek verbal dalam penyusunan sebuah modul antara lain adalah: 1) Menggunakan bahasa yang sederhana, struktur kalimat aktif, tidak terlalu panjang dan komunikatif. 2) Menggunakan pemilihan kata yang tepat, gaya bahasa yang dapat meningkatkan motivasi peserta didik serta menggunakan23 Earl. R Misanchuk, Distance Education Strategies and Tools (Engle Cliffs New Jersey:Educational Technology Publications, 1994), p. 127
  53. 53. 41 istilah-istilah dan contoh-contoh yang umum agar dimengerti pemelajar dari berbagai latar belakang yang berbeda. 3) Menghindari penggunaan kata/istilah dan kalimat yang sulit dimengerti, menggunakan kata ganti personal serta interaksi semu dalam bertutur terhadap pemelajar sehingga pemelajar merasa terlibat dalam komunikasi. b. Aspek Visual Bahan pelajaran, bagaimanapun bentuknya tidak terlepas dari aspek visual, hanya saja kadar visual setiap bahan pelajaran berbeda- beda. Visualisasi dalam bahan pelajaran digunakan untuk mengatasi verbalisme dalam menyajikan informasi. Penggunaan pesan verbal yang terlalu tinggi di dalam proses pembelajaran maupun di dalam bahan pelajaran dapat mengakibatkan mispersepsi antara pembelajar dengan pemelajar. Menurut Prawiradilaga, proses visualisasi adalah upaya untuk menyusun uraian dengan menggunakan gambar atau visual.24 Gambar atau visual yang digunakan dapat berupa foto, grafik, sketsa, skema, bagan, denah, peta atau ilustrasi. Ilustrasi dalam penyusunan bahan ajar dapat diartikan sebagai satu gambar yang bersifat24 Dewi Salma Prawiradilaga, op.cit., h. 41.
  54. 54. 42 deskriptif untuk membantu memahami teks.25 Penggunaan visualisasi dimaksudkan untuk mempermudah penyerapan informasi ataupun membantu pembaca untuk memahami isi dari teks, jika gambar digunakan di dalam sebuah teks. Smaldino, dkk mengemukakan bahwa dalam proses belajar visual memiliki peranan untuk membuat ide yang abstrak menjadi konkrit, memotivasi pemelajar, mengulang informasi dalam format yang berbeda, mengingatkan pembelajaran sebelumnya, dan mempermudah dalam belajar.26 Smaldino juga menyebutkan, untuk tujuan informasi dan pembelajaran, desain visual yang baik paling tidak, dapat memenuhi empat tujuan dalam meningkatkan komunikasi, yaitu:27 1. Memastikan keterbacaan. 2. Mengurangi usaha pemelajar untuk menginterpretasikan pesan. 3. Meningkatkan keterlibatan aktif pemelajar dengan pesan. 4. Memberikan fokus pada bagian pesan yang paling penting. Dalam melakukan pemilihan terhadap penyajian elemen gambar atau teks, harus dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai tujuan yang harus dicapai dari penggunaan desain visual tersebut. Oleh karenanya, Smaldino mengelompokkan beberapa elemen tampilan25 B.P. Sitepu, op.cit.,h. 10126 Sharon E Smaldino, dkk, op. cit., h. 55 – 56.27 Sharon E Smaldino, dkk, op.cit., h. 87
  55. 55. 43visual sebagai berikut sebagai bahan masukan bagi pembelajar dalammengembangkan bahan pelajaran. 1) Elemen visual Jenis elemen visual yang dipilih untuk digunakan pada situasi tertentu bergantung pada tugas belajar. Simbol visual ini dapat dibagi ke dalam tiga kategori, yaitu: Gambar 2.1 Perbedaan tingkat realitas unsur visual a) Realistic visual, adalah visual yang menggambarkan objek yang sebenarnya dari materi yang sedang dipelajari. Penggunaan warna yang realistis dalam sebuah objek visual dapat meningkatkan tingkat realitas dari sebuah objek.
  56. 56. 44 b) Analogic visual, adalah visual yang digunakan untuk menyampaikan konsep atau topik tertentu dengan menampilkan sesuatu yang lain dan menarik kesamaan. c) Organizational visual, termasuk ke dalam kategori ini antara lain flowcharts, grafik, peta, skema, dan chart. Jenis visual ini berfungsi untuk menggambarkan hubungan antara konsep-konsep yang saling terintegrasi, mengorganisasikan konten yang bersifat struktural, dan sebagainya. Warna Penggunaan warna dalam modul memiliki berbagai fungsi, yaitu:28 i. Dampak psikologis: warna memberikan dampak tertentu. Warna sering kali memberi kesan tertentu seperti cerah, meriah, berani, menyolok mata atau berkesan redup. ii. Pemilah: warna dapat berarti sebaga pembagi, batas, atau pembeda dari satu konsep ke konsep lainnya. iii. Rincian: warna dapat menjelaskan atau merincikan hal- hal tertentu seperti tingkat kepentingan. Warna28 Dewi Salma Prawiradilaga, op.cit., h. 5.
  57. 57. 45 menimbulkan perbedaan antara satu komponen lain atau satu benda dengan benda lain. Dengan demikian berfikir analisis dapat dikembangkan melalui penggunaan warna. iv. Hiasan: warna dapat memperindah penyajian visual sehingga pengguna menjadi lebih tertarik. Penggunaan skema warna yang tepat dalam desain tampilan dapat memberikan efek yang hebat. Warna-warna hangat dapat memberikan impresi psikologis tentang kehangatan, memberikan energi dan terkadang membangkitkan agresi. Palet warna ini sangat baik jika diterapkan di dalam sebuah game, akan menimbulkan impresi yang mendalam terhadap penggunanya. Namun, untuk tujuan pembelajaran, palet warna ini dapat menimbulkan rasa tidak nyaman kepada penggunanya. Hindari penggunaan palet warna ini pada bagian-bagian tertenru. Warna-warna dingin seperti hijau, biru, dan abu-abu ringan (light grey) biasanya sangat baik digunakan pada tampilan untuk menciptakan perasaan tenang/nyaman bagi penggunanya.2929 Rob Philips, The Developer’s Handbook to Interactive Multimedia: A Practical Guide forEducational Applications, (London, Stirling, USA: Kogan Page, 1997) p. 84
  58. 58. 46 Berikut adalah tabel kesesuaian penggunaan warna yang dapat diterapkan dalam sebuah tampilan.30 Tabel 2.3 Tabel kesesuaian penggunaan warna Background Suggested Colours Colors to Avoid Dark blue Yellow, pale orange, Bright oranges and reds, white, light blue black Dark green Soft pink, white Bright oranges and reds, black Pale yellow Medium to dark blue, White, warm colours, medium to dark violet, light shades of most black colours White Black, medium to dark Light shades of most shades of most colours colours, especially yellow 2) Elemen verbal (elemen teks) Kebanyakan tampilan terdiri dari informasi verbal yang melengkapi elemen visual. Untuk tujuan pembelajaran, penggunaan elemen verbal seperti teks juga harus diperhatikan seperti juga dalam menggunakan elemen visual dalam menyampaikan pesan, agar kedua elemen tersebut dapat mengkomunikasikan pesan dengan baik. Paling tidak, keterbacaan tulisan harus diperhatikan, khususnya dalam hal30 Ibid, p. 85
  59. 59. 47penggunaan ukuran, spasi dan penggunaan jenis huruf yangkonsisten di dalam menyampaikan pesan pembelajaran.Berikut adalah beberapa hal yang harus diperhatikan darielemen verbal:a) Jenis huruf Jenis huruf yang digunakan dalam penulisan bahan pelajaran harus konsisten dan harmonis dengan elemen visual lainnya. Jenis huruf sans serif seperti Helvetica cocok digunakan untuk tampilan monitor sedangkan jenis huruf serif cocok digunakan untuk bahan pelajaran tercetak seperti handout.b) Jumlah jenis huruf Jumlah jenis huruf yang digunakan dalam tampilan bahan pelajaran sebaiknya tidak lebih dari dua jenis huruf yang berbeda, dan harus harmonis satu dengan lainnya. Penggunaan huruf dapat dilakukan dengan berbagai kombinasi seperti italic, underline dan bold untuk memberikan penekanan terhadap sesuatu. Sebaiknya jangan gunakan lebih dari 20-30 kata dengan jumlah maksimal 7-10 kata per baris.
  60. 60. 48 c) Ukuran huruf Ukuran huruf dan penggunaan huruf kapital juga merupakan sesuatu yang perlu diperhatikan. Penggunaan ukuran huruf dalam sebuah modul harus disesuaikan dengan usia pembaca atau sasaran modul. 31 Tabel 2.4 Ukuran huruf berdasarkan usia sekolah Usia Sekolah Ukuran Huruf Jenis Huruf Sekolah Dasar Kelas 1 16-24 pt Sans Serif Kelas 2 14-16 pt Sans Serif & Serif Kelas 3-4 12-14 pt Sans Serif & Serif Kelas 5-6 10-11 pt Sans Serif & Serif SMP dan SMA 10-11 pt Serif Selain itu, untuk keterbacaan yang baik gunakan huruf kecil, gunakan huruf kapital hanya sesuai kebutuhan. Judul singkat dapat dituliskan dengan menggunakan huruf kapital semua. Tetapi untuk frase yang lebih dari tiga kata dan kalimat lengkap sebaiknya menggunakan huruf kecil.31 Sitepu, op.cit., h. 103.
  61. 61. 49 d) Jarak spasi Jarak antar baris dalam sebuah bahan ajar cetak atau elektronik harus diperhatikan untuk memastikan tingkat keterbacaannya. Jika jarak antar baris terlalu dekat dapat membuat tulisan terlihat blur pada jarak tertentu, sedangkan jika terlalu jauh akan membuat kalimat seperti bukan dalam satu kesatuan dengan baris di atasnya. Dari berbagai penjelasan yang telah diuraikan di atas, dapatdisimpulkan bahwa dalam mengembangkan bahan pelajaran mandiri sepertimodul, perlu diperhatikan berbagai aspek verbal dan aspek visualnya.Pemilihan gaya penulisan, penggunaan bahasa, serta berbagai aspek yangterlihat secara visual, seperti pemilihan jenis huruf, ukuran huruf, pemilihanwarna dan lainnya harus dilakukan dengan hati-hati agar modul yangdikembangkan mampu menarik perhatian dan minat pemelajar untukmempelajari, serta untuk memastikan bahwa keterbacaan modul tersebutdapat membatu pemelajar memperoleh informasi atau pesan dari materiyang disampaikan dalam modul sehingga dapat mencapai tujuanpembelajaran yang sudah ditentukan.
  62. 62. 50 7. Pembelajaran Tidak Langsung (Asynchronous Learning) dengan Modul Elektronik Pembelajaran dengan menggunakan e-learning merupakan modelpembelajaran yang menggunakan bantuan perangkat komputer atauperangkat elektronika dalam melakukan kegiatan belajarnya. Baik itu secaraonline dengan menggunakan teknlogi internet dan perangkat telekomunikasi(web based training) ataupun secara offline dengan menggunakan programpembelajaran berbantuan komputer yang terprogram (technology basedtraining) seperti kaset audio pembelajaran, video pembelajaran, CAI, CBTdan sebagainya. Dalam pembelajaran dengan menggunakan e-learning ini,terdapat tiga strategi dalam penyampaian bahan pembelajaran yang dapatditerapkan, diantaranya asynchronous learning, synchronous learning danblended learning. Semuanya dapat diterapkan dalam pembelajaran mandirimaupun dikombinasikan dengan sistem pembelajaran konvensional. Pembelajaran tidak langsung (asynchronous e-learning) merupakanmodel pembelajaran mandiri yang memanfaatkan sumber belajar secaraonline dalam memperoleh informasi di mana pengajar dan siswa biasanyatidak terikat dalam satu waktu dan ruang yang sama.32 Hal ini berarti tidakterdapat instruktur atau pengajar untuk menjawab pertanyaan ataupermasalahan pemelajar secara langsung, dan pemelajar dapat belajar32 Saul Carliner and Patti Shank, The E-Learning Handbook: Past Promises, PresentChallenges, (San Fransisco: Pfeiffer Publishing, 2008), p. 341.
  63. 63. 51kapan saja sesuai dengan kebutuhan mereka, begitulah keuntungan daripembelajaran asynchronous ini.33 Dalam bahan belajar tidak langsung(asynchronous e-learning materials), materi yang disajikan bisa berupapembelajaran utama, seperti tutorial, beberapa berupa informasi, sepertireferensi online, dan beberapa berupa petunjuk kerja atau tugas untukpemelajar. Keuntungan dengan menerapkan strategi pembelajaran tidaklangsung ini adalah asynchronous learning sangat memungkinkanpembelajaran individu secara mandiri. Pemelajar dapat mempelajari materisendiri, mengulang sesi, maupun mengulang pembelajaran secarakeseluruhan. Pemelajar dapat memanfaatkan fasilitas remediasi, kosa kataistilah, dan sebagainya yang semua itu tergantung pada desain sistempembelajaran itu sendiri. Asynchronous e-learning dapat menjadi pilihan yangtepat untuk diterapkan bagi para pemelajar dengan kondisi heterogenitasyang tinggi atau berbeda level pengetahuan terhadap materi yang harusdipelajari. Metode ini juga menyediakan opsi pengayaan atau latihan individuyang dapat mendorong pemelajar untuk memahami materi dengan cepat danakurat. Keuntungan yang ditawarkan pada strategi pembelajaran tidaklangsung atau asynchronous ini sejalan dengan karakteristik yang ditawarkan33 nd George M, Piskurich, Rapid Instructional Design: Learning ID Fast and Right, 2 edition,(San Fransisco: Pfeiffer Publishing, 2006), p. 306
  64. 64. 52dari sebuah modul. Dengan demikian, modul yang dikemas dalam formatelektronik ini merupakan bentuk pengembangan dari strategi penyajianbahan ajar secara tidak langsung (asynchronous) di dalam lingkungan belajarmandiri dengan memanfaatkan e-learning. Model pembelajaran denganmenggunakan modul elektronik ini dirasa cukup sesuai jika diterapkankepada pemelajar yang telah memiliki tanggung jawab terhadap dirinyasendiri, salah satunya adalah mahasiswa. Namun, tidak terlepas darikeuntungan yang ada, bagi pemelajar dengan tingkat tanggung jawabterhadap diri sendiri yang masih rendah, tentunya akan menyulitkan merekadalam memotivasi diri untuk belajar mandiri. 8. Prinsip Mengembangkan Materi Dalam Lingkungan Belajar Tidak Langsung (Asynchronous Learning) Dalam mengembangkan bahan belajar mandiri atau yang bersifat tidaklangsung (asynchronous), di mana pemelajar tidak dapat menanyakansecara langsung kesulitan atau masalah kepada pengajar, maka adabeberapa hal yang harus diperhatikan pada saat merancang danmengembangkan materi dalam lingkungan pembelajaran asynchronous e-learning tersebut.

×