ULASAN JURNAL ILMIAH FARMASETIKA II            LAKTOSA SEBAGAI BAHAN PENGISI TABLET                                  dalam...
BAB I                               PENDAHULUAN     Perkembangan       ilmu   pengetahuan     dan   teknologi     telah   ...
komplementer dan atau sinergisme dalam ramuan obat tradisional/komponenbioaktif tanaman obat, pada satu tanaman bisa memil...
tentang laktosa sebagai bahan pengisi. Sedangkan avicel menjadi bahanpendukung untuk laktosa.     Lewat ulasan jurnal ilmi...
BAB II                                         ISI        Sebelum membahas lebih lanjut mengenai optimasi formulasi tablet...
terminal, 2,5-14 cm, di ketiak daun ujung, daun pelindung elip atau bulat telur,panjang 0,5-1 cm. Kelopak : 5, berlekatan ...
bahan atau zat memiliki potensi bersifat toksik tergantung takarannya dalam tubuhserta sulitnya standarisasi obat tradisio...
edisi IV, tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpabahan pengisi (Syamsuni, 2007).     Adanya fo...
Bahan pengisi harus memenuhi beberapa kriteria yaitu :1.    Harus non toksik dan dapat memenuhi peraturan-peraturan dari n...
Laktosa merupakan eksipien yang baik sekali digunakan dalam tablet yangmengandung     zat   aktif   berkonsentrasi   kecil...
laktosa. Avicel biasanya tidak digunakan tunggal dalam tablet sebagai pengisiutama kecuali formulasi membutuhkan khusus si...
4)    Bertindak sebagai pembantu mengikat, menghasilkan granul yang keras      dengan sedikit fines.5)    Bisa bersifat pe...
Bahan pelicin (lubrikan) digunakan magnesium stearat. Magnesium stearatmerupakan campuran magnesium dengan asam organik so...
dagang natrium amilum glicolate: Explotab. Penggunaannya dalam pembuatantablet sebagai bahan penghancur yang lebih murah d...
untuk memperoleh granul dengan ukuran yang diperlukan dan ditambahkanbahan pelicin dan dicetak menjadi tablet dengan mesin...
ditambahkan dalam larutan pengikat -         Stabilitas menjadi perhatian untuk - Debu berkurang                          ...
7.    Granul yang telah kering diekstruksi dalam mesin “oscillating granulator”      dengan lempeng penyaring 18-20 mesh a...
dalam sediaan padat, semi padat atau pemilihan pelarut. Simplex lattice designmerupakan desain untuk optimasi campuran pad...
Waktu alir merupakan waktu yang digunakan untuk mengalir dari sejumlah      granul atau serbuk pada alat yang dipakai. Mud...
Kompaktibilitas sangat erat kaitannya dengan kemudahan suatu serbuk untukdikempa sehingga dapat menghasilkan tablet yang k...
b.   Kekerasan tablet          Tablet harus mempunyai kekuatan atau kekerasan tertentu serta tahan     atas kerapuhan agar...
berpengaruh terhadap waktu hancur antara lain bahan pengisi, jumlah danjenis bahan pengikat, bahan penghancur serta tekana...
BAB III                                   PENUTUPa.   Kesimpulan     Adapun kesimpulan yang dapat diperoleh antara lain :1...
DAFTAR PUSTAKAAnonim, 1979, Farmakope Indonesia Edisi Ketiga, DEPKES RI : Jakarta.Anonim, 1995, Farmakope Indonesia Edisi ...
Siregar M. Sc.,Apt, Prof. Dr. Charles J.P, 2010, Teknologi Farmasi Sediaan     Tablet Dasar-Dasar Praktis, EGC : Jakarta.S...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Resume jurnal ilmiah laktosa

16,617 views

Published on

Resume ini berkaitan dengan jurnal ilmiah berjudul OPTIMASI FORMULASI TABLET EKSTRAK DAUN KEMANGI (Ocimum sanctum L.) dengan CAMPURAN AVICEL PH 101 dan LAKTOSA SECARA SLD ( Simple Lattice Design)

Published in: Health & Medicine
0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
16,617
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
15
Actions
Shares
0
Downloads
225
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Resume jurnal ilmiah laktosa

  1. 1. ULASAN JURNAL ILMIAH FARMASETIKA II LAKTOSA SEBAGAI BAHAN PENGISI TABLET dalamOptimasi Formulasi Tablet Ekstrak Daun Kemangi (Ocimum sanctum L.) dengan Campuran Avicel PH 101 dan Laktosa secara SLD (Simplex Lattice Design) Disusun oleh: Kelompok I Kelas A Debby Syaray Eka Erningsih Eva Apriliyana Rizki Laudawati Lisa Apriyanti Priskilla Paetong FARMASETIKA II AKADEMI FARMASI SAMARINDA 2012/2013
  2. 2. BAB I PENDAHULUAN Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menunjangpeningkatan sumber daya alam juga sumber daya manusia termasuk dalam bidangpengobatan. Dahulu, pengobatan dilakukan secara tradisional denganmenggunakan bahan-bahan alami berupa tanaman maupun hewan yang dianggapberkhasiat. Pengolahan bahan-bahan tersebut agar dapat memberikan efek terapidilakukan secara sederhana yaitu menumbuk, merebus, atau teknik lainnyaberdasarkan pengalaman seseorang. Tumbuhan khususnya di Indonesia merupakan jenis makhluk hidup yangmemiliki tingkat diversitas paling tinggi dengan pola penyebaran yang bervariasitergantung ekologi daerahnya dan dalam jumlah yang banyak. Dalam bidang tanaman obat, Indonesia dikenal sebagai salah satu dari 7negara yang keanekaragaman hayatinya terbesar kedua setelah Brazil, tentu sangatpotensial dalam mengembangkan obat herbal yang berbasis pada tanaman obatkita sendiri. Lebih dari 1000 spesies tumbuhan dapat dimanfaatkan sebagai bahanbaku obat. Tumbuhan tersebut menghasilkan metabolit sekunder dengan strukturmolekul dan aktivitas biologik yang beraneka ragam, memiliki potensi yangsangat baik untuk dikembangkan menjadi obat berbagai penyakit. Beberapa upayadilakukan untuk meramu obat tradisional sehingga dapat dikonsumsi dalambentuk produk olahan siap pakai (Radji, 2005). Masyarakat Indonesia telah lama memanfaatkan tanaman obat sebagai obattradisional. Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berasal daritumbuh-tumbuhan, hewan, dan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campurandari bahan tersebut yang secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan(Dirjen POM, 2000). Penggunaan obat tradisional sebagai upaya kesehatanpromotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif cenderung meningkat. Hal inidikarenakan adanya isu back to nature dan kepercayaan masyarakat terhadapkelebihan obat tradisional dibandingkan dengan obat modern, antara lain efeksampingnya relatif kecil bila digunakan secara benar dan tepat, adanya efek
  3. 3. komplementer dan atau sinergisme dalam ramuan obat tradisional/komponenbioaktif tanaman obat, pada satu tanaman bisa memiliki lebih dari satu efekfarmakologi, serta obat tradisional lebih sesuai untuk penyakit-penyakit metabolikdan degeneratif. Salah satu tanaman obat yang ada di Indonesia adalah kemangi (Ocimumsanctum Linn.). Tanaman kemangi mudah didapatkan, tersebar hampir di seluruhIndonesia, dan dapat tumbuh secara liar atau pun dibudidayakan. Daun kemangibanyak digunakan sebagai sayur mentah (lalapan), peluruh air susu ibu, obatpenurun panas, memperbaiki pencernaan, encok, urat saraf, sariawan, panu,radang telinga, perut kotor, muntah-muntah, mual, peluruh kentut, peluruh haidsetelah bersalin, borok, memperbaiki fungsi lambung (Batlibang, 1987;Syamsuhidayat, 1991; Sudarsono, 2002). Kini, inovasi dalam pembuatan produk siap pakai dari tanaman obat kianberagam sesuai dengan kebutuhan konsumen yang memakainya. Ada yang berupajamu, pil, sirup atau sediaan farmasi lainnya. Hal ini dimaksudkan untukmempermudah pemakaian tanaman obat agar dapat dikonsumsi secara praktis.Berkenaan dengan hal ini, penulis tertarik untuk membahas lebih jauh jurnalilmiah yang berjudul “Optimasi Formulasi Tablet Ekstrak Daun Kemangi(Ocimum sanctum L.) dengan Campuran Avicel PH 101 dan Laktosa secara SLD(Simplex Lattice Design)”. Seperti yang telah dikemukakan di atas, dalam jurnal ilmiah tersebut,peneliti memilih sediaan tablet sebagai alternatif dalam meramu daun kemangimenjadi obat penurun panas. Alasannya terkait dengan penggunaannya yang lebihefisien, dapat diubah-ubah dan praktis untuk pengobatan. Untuk itu, penelitimencoba mencari formulasi tablet yang baik bagi daun kemangi agar bisa menjadiproduk farmasi layak pakai. Tablet merupakan sediaan padat yang mengandung bahan obat dengan atautanpa bahan pengisi. Artinya tablet terdiri dari satu atau lebih zat aktif dibantudengan bahan eksipien. Bahan eksipien yang digunakan pada jurnal ilmiah iniadalah laktosa dan avicel. Namun, penulis hanya akan membahas lebih luas
  4. 4. tentang laktosa sebagai bahan pengisi. Sedangkan avicel menjadi bahanpendukung untuk laktosa. Lewat ulasan jurnal ilmiah ini, diharapkan agar masyarakat khususnyatenaga teknis kefarmasian dapat mengetahui secara rinci bagaimana mengolahtanaman obat menjadi bentuk sediaan farmasi sesuai kebutuhan konsumen. Selainitu, ulasan ini juga dimaksudkan sebagai tolak ukur bagi pengolahan tanaman obatlainnya sehingga tak hanya bertumpu pada satu paradigma bahwa tanaman obathanya dibuat secara tradisional. Akan tetapi, tanaman obat dapat digunakan secaramudah dengan bentuk yang lebih baik, sederhana juga praktis. Selanjutnya,diperlukan penelitian-penelitian lebih mendetail untuk menganalisis apakahtanaman obat tersebut layak dibuat dalam bentuk sediaan obat lainnya.
  5. 5. BAB II ISI Sebelum membahas lebih lanjut mengenai optimasi formulasi tabletkemangi secara rinci. Terlebih dahulu mengenal hal-hal yang perlu diketahuiberkenaan pada formulasi tablet ini seperti pada jurnal ilmiah di atas. Dalamjurnal ilmiah tersebut, zat aktif yang hendak dijadikan tablet berasal dari daunkemangi, di mana daun kemangi diduga sebagai obat penurun panas. Olehpeneliti, daun kemangi yang digunakan berupa ekstrak kental dengan bantuanetanol 70 % melalui metode soxhletasi. Berikut penjelasan mengenai daunkemangi, ekstrak dan metode ektraksi yang digunakan dalam proses pembuatantablet kemangi. Kemangi merupakan salah satu tanaman berkhasiat yang tidak hanyatumbuh di Indonesia tetapi juga di India, Taiwan, Cina, dan Asia Tenggara.Kemangi disebut juga tulsi, tulasi, holy basil, sacred basil.Menurut taksonominya, kemangi diklasifikasikan sebagai berikut :Divisi : SpermatophytaSub divisi : AngiospermaeKelas : DicotyledonaeBangsa : TubifloraeSuku : LabiataeMarga : OcimumJenis : Ocimum sanctum L. (Syamsuhidayat, 1991). Deskripsi tanaman kemangi adalah sebagai berikut : Perawakan : herbategak atau semak, tajuk membulat, bercabang banyak, sangat harum, tinggi 0,3-1,5 meter. Batang : batang pokok tidak jelas, bercabang banyak, hijau seringkeunguan, berambut atau tidak. Daun : tunggal, berhadapan, tangkai daun 0,25-3cm, helaian daun, bulat telur–elip–memanjang, ujung meruncing-runcing, atautumpul, pangkal bangun pasak sampai membulat, di kedua permukaan berambuthalus, berbinti-bintik kelenjar rapat 0,75-7,5 x 0,5-2,75 cm, tepi daun : bergerigilemah-bergelombang-rata. Bunga: susunan majemuk berkarang atau tandan,
  6. 6. terminal, 2,5-14 cm, di ketiak daun ujung, daun pelindung elip atau bulat telur,panjang 0,5-1 cm. Kelopak : 5, berlekatan berbentuk bibir, 1 membentuk bibiratas, bentuk bulat telur 2-3,5 mm, 1 bibir bawah membentuk 4 gigi, sisi luarberambut kelenjar, ungu atau hijau. Mahkota : berbibir 3 bibir atas 2 bibir bawah,panjang tabung 1,5-2 mm, cuping mahkota 3-5 mm, putih. Benang sari: 4, tersisipdi dasar mahkota, 2 panjang. Putik : kepala putik bercabang dua, tidak sama.Buah: kelopak ikut menyusun buah, buah tegak dan tertekan, ujung bentuk kaitmelingkar, panjang kelopak buah 6-9 mm. Biji: tipe keras, coklat tua, gundul,waktu dibasahi segera membengkak (Sudarsono, 2002). Kemangi mengandung tanin (4,6%), flavonoid, steroid/triterpenoid, minyakatsiri (2%), asam heksauronat, pentosa, xilosa, asam metil homoanisat,molludistin serta asam ursolat. Pada jurnal ilmiah ini, peneliti menduga senyawa flavonoida dalam daunkemangi yang berperan penting dalam formulasi tablet penurun panas. Senyawaflavonoida adalah suatu kelompok senyawa fenol yang terbesar yang ditemukan dialam. Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu dan biru dansebagai zat warna kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan. Flavonoida mempunyai kerangka dasar karbon yang terdiri dari 15 atomkarbon, di mana dua cincin benzen (C6) terikat pada suatu rantai propana (C3)sehingga membentuk suatu susunan C6-C3-C6. Flavonoidnya terdiri dari flavonepigenin, luteolin, flavon-O-glikosida apigenin 7-O-glukoronida, luteolin 7-O-glukoronida, flavon C-glukosida orientin, vicenin, cirsilineol, cirsimaritin,isothymusin, isothymonin (Depkes, 1995). Kemangi mempunyai beragam khasiat antara lain : analgesik, antiamnesik,dan nootropik, anthelmintik, anti bakterial, anti katarak, anti fertilitas, antihiperlipidemi, anti inflamasi, anti lipidperoksidatif, anti oksidan, anti stress, antithyroid, antitusif, anti ulkus, kemoprotektif, imunomodulator, radioprotektif,aktivitas hipoglikemik, aktivitas hipotensif, dan anti kanker. Penggunaan Ocimumsanctum yang sudah didukung oleh preliminary data klinik adalah untukpengobatan diabetes. Namun perlu diingat pula bahwa obat bahan alam yangdianggap aman oleh masyarakat juga perlu diwaspadai. Hal ini dikarenakan setiap
  7. 7. bahan atau zat memiliki potensi bersifat toksik tergantung takarannya dalam tubuhserta sulitnya standarisasi obat tradisional. Mengingat pemanfaatan daun kemangiyang beragam tetapi masih berdasarkan pengalaman secara turun-temurun, makamasih perlu didukung oleh informasi ilmiah mengenai khasiat dan efek sampingyang ditimbulkan. Untuk membuat daun kemangi menjadi tablet, peneliti memilih menjadikanlebih dulu daun kemangi dalam bentuk ekstrak. Apa itu ekstrak ? Ekstrak adalahsediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simplisia nabatiatau hewani dengan menggunakan pelarut yang sesuai (Anonim, 1995). Ekstrakkental (extractum spissum) merupakan sediaan liat dalam keadaan dingin dantidak dapat dituang. Metode pembuatan ekstrak dipilih berdasarkan beberapa faktor seperti sifatdari bahan mentah obat dan daya penyesuaian dengan tiap macam metodeekstraksi dan kepentingan dalam memperoleh ekstrak yang sempurna (Ansel etal., 1995). Cara sokhletasi dapat dilakukan dengan meletakkan bahan yang akandiekstraksi dalam sebuah kantung ekstraksi di bagian dalam alat ekstraksi dangelas yang bekerja secara kontinyu (perkolator). Wadah gelas yang mengandungkantung diletakkan di antara labu penyulingan dengan pendingin aliran balik dandihubungkan dengan labu melalui pipa. Labu tersebut berisi bahan pelarut yangmenguap dan mencapai ke dalam pendingin aliran balik melalui pipa,berkondensasi di dalamnya, menetes ke atas bahan yang diekstraksi dan menarikkeluar bahan yang diekstraksi larutan berkumpul di dalam wadah gelas dansetelah mencapai tinggi maksimalnya, secara otomatis dipindahkan ke dalam labu.Dengan demikian, zat yang terakumulasi melalui penguapan bahan pelarut murniberikutnya (Voigt, 1984). Tablet itu sendiri adalah sediaan padat, dibuat secara kempa - cetakberbentuk rata atau cembung rangkap, umumnya bulat mengandung satu jenisobat atau lebih dengan atau tanpa bahan tambahan. Bahan tambahan yangdigunakan dapat berfungsi sebagai bahan pengisi, bahan pengembang, bahanpengikat, bahan pelican, bahan pembasah atau bahan lain yang cocok. Menurut FI
  8. 8. edisi IV, tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpabahan pengisi (Syamsuni, 2007). Adanya formulasi pada sediaan tablet bertujuan antara lain :1. Tujuan utama memformulasi dan mendesain tablet adalah suatu proses ketika formulator memastikan agar jumlah zat aktif yang benar mencapai tempat yang benar dalam tubuh, dihantarkan dalam jangka waktu yang memadai, sedangkan keutuhan kimia zat aktif terlindung sampai ke tempat yang diinginkan. Hal ini akan berbeda tergantung pada tujuan zat aktif yang dipersyaratkan untuk digunakan efek lokalnya.2. Formulasi tablet digunakan untuk memodifikasi kerja zat aktif dalam hal kecepatan (temporal) atau keruangan (spatial). Pada modifikasi temporal, kecepatan pelepasan zat aktif dikendalikan untuk memberikan karateristik pelepasan yang dipersyaratkan (misalnya bentuk sediaan lepas kontinu/lepas diperlambat). Pada modifikasi keruangan, zat aktif dapat diformulasikan dalam suatu cara agar mempermudah transpor ke tempat tertentu dalam tubuh sebelum dilepaskan (misalnya tablet enterik).3. Formulasi tablet didesain untuk memberikan suatu zat aktif yang dapat diterima oleh pasien dan sesuai bagi dokter penulis resep. Dalam hal ini, pilihan jenis bentuk sediaan yang paling utama adalah tablet atau kapsul.4. Dari sudut produksi farmasetik, hal penting yang harus diperhatikan adalah bentuk sediaan dapat dibuat dengan mudah, ekonomis, dan reprodusibel. Hasilnya harus bagus (Siregar, 2010). Pada jurnal ilmiah ini, penulis akan lebih mengulas tentang zat pengisiberupa laktosa. Lalu, kaitan antara laktosa dan avicel PH 101 sebagai kombinasizat pengisi juga hubungannya dengan beberapa eksipien lainnya untukmendapatkan optimasi formulasi tablet kemangi yang memenuhi persyaratansebagai tablet yang baik dan layak digunakan. Zat pengisi atau pengencer adalah suatu zat inert secara farmakologis yangditambahkan ke dalam suatu formulasi sediaan tablet bertujuan untuk penyesuaianbobot, ukuran tablet sesuai yang dipersyaratkan, untuk membantu kemudahandalam pembuatan tablet, dan meningkatkan mutu sediaan tablet.
  9. 9. Bahan pengisi harus memenuhi beberapa kriteria yaitu :1. Harus non toksik dan dapat memenuhi peraturan-peraturan dari negara di mana produk akan dipasarkan.2. Harus tersedia dalam jumlah yang cukup di semua negara tempat produk itu dibuat.3. Harganya harus cukup murah.4. Tidak boleh saling berkontraindikasi (misalnya sukrosa) atau karena komponen (misalnya natrium) dalam tiap segmen atau bagian dari populasi.5. Secara fisiologis harus inert/netral.6. Harus stabil secara fisik dan kimia, baik dalam kombinasi dengan berbagai obat atau komponen tablet lain.7. Harus bebas dari segala jenis mikroba.8. Harus color compatible (tidak boleh mengganggu warna).9. Bila obat itu termasuk sebagai makanan (produk-produk vitamin tertentu), pengisi dan bahan pembantu lainnnya harus mendapat persetujuan sebagai bahan aditif pada makanan.10. Tidak boleh mengganggu bioavailabilitas obat (Lachman, 1994). Penulis menduga bahwa peneliti menggunakan laktosa hidrat. Laktosahidrat merupakan pengisi yang paling luas digunakan dalam formulasi sediaantablet. Zat ini menunjukkan stabilitas yang baik dalam gabungan dengankebanyakan zat aktif hidrat ataupun anhidrat. Laktosa hidrat mengandung kira-kira 5 % air kristal. Bentuk hidrat biasanya digunakan dalam sistem granulasibasah dan granulasi kering (Siregar, 2010). Selain itu, untuk metode granulasibasah, lebih baik menggunakan laktosa hidrat, karena meski laktosa anhidrat tidakbereaksi dengan pereaksi Maillard (dengan zat aktif mengandung amina denganadanya logam stearat), bentuk anhidrat dapat menyerap lembab. Formula laktosa biasanya menunjukkan kecepatan pelepasan zat aktifdengan baik, mudah dikeringkan (dalam penampan atau alat pengering lapismengalir (PLM) atau fluidized bed dryers atau (FBD)), dan tidak peka terhadapvariasi moderat dalam kekerasan tablet dalam pengempaan (Siregar, 2010).
  10. 10. Laktosa merupakan eksipien yang baik sekali digunakan dalam tablet yangmengandung zat aktif berkonsentrasi kecil karena mudah melakukanpencampuran yang homogen. Harga laktosa lebih murah daripada bahan pengisilainnya (Siregar, 2010). Laktosa merupakan suatu gula reduksi yang dapat bereaksi dengan senyawaamin untuk menghasilkan reaksi khas kecoklatan Maillard. Laktosa juga akanberubah menjadi coklat dengan adanya senyawa alkali berupa lubrikan alkali.Laktosa juga tidak dapat bergabung (inkompatibel) dengan asam askorbat,salisilamida, pirilamin maleat, dan fenilefrin hidroklorida (Siregar, 2010). Secara kimia laktosa terdiri atas dua bentuk isomer, α dan β. α-laktosamonohidrat tersedia komersial sebagai serbuk tak berasa dalam suatu rentangukuran partikel 200-400 mesh (Siregar, 2010). Ada dua jenis laktosa yaitu yang berukuran mesh 60-80 (kasar) dan mesh80-100 (biasa). Umumnya formulasi memakai laktosa menunjukkan lajupenglepasan obat yang baik, granulnya cepat kering, dan waktu hancurnya tidakterlalu peka terhadap perubahan pada kekerasan tablet (Lachman, 1994). Laktosa adalah gula yang diperoleh dari susu. Dalam bentuk anhidrat ataumengandung satu molekul air hidrat. Konsentrasi laktosa yang digunakan dalamformulasi adalah 65% - 85%. Laktosa merupakan serbuk atau masa hablur, keras,putih, atau putih krem. Tidak berbau dan rasa sedikit manis, stabil di udara, tetapimudah menyerap bau. Mudah larut dalam air dan lebih mudah larut dalam airmendidih, praktis tidak larut dalam kloroform, etanol dan eter (Kibbe, 2000). Laktosa dalam formulasi tablet berfungsi sebagai bahan pengisi yang baikkarena dapat memadatkan massa granul dalam granulasi basah atau metodekempa langsung (Edge et al., 2006). Laktosa adalah bahan yang bersifatkompresibel, sifat alirnya kurang baik, dapat menyerap kelembaban dari udarasehingga kemungkinan dapat berpengaruh pada sifat fisik tablet (Sulaiman, 2007). Avicel PH 101 dalam bentuk serbuk digunakan secara luas dalampembuatan tablet kempa langsung dan menunjukkan kekerasan dan friabilitasyang baik. Sifat mengalirnya baik dan sifat-sifat pencetakan langsungnya bagussekali. Avicel itu merupakan pengisi yang relatif mahal jika dibandingkan dengan
  11. 11. laktosa. Avicel biasanya tidak digunakan tunggal dalam tablet sebagai pengisiutama kecuali formulasi membutuhkan khusus sifat-sifat ikatan Avicel. Avicelmampu menahan (memegang) lebih dari 50 % zat aktif. Sebagai pengisi, avicelmemberikan banyak kemungkinan menarik untuk pengendalian kecepatanpelepasan zat aktif jika dikombinasi laktosa, amilum, dan kalsium fosfat dibasik. Pada granulasi basah, avicel menghasilkan tablet keras dengan tekanankempa yang rendah pada pengempaan tablet. Zat ini menghasilkan pembasahanyang cepat dan merata karena adanya wicking acting sehingga cairanpenggranulasi terdistribusi di seluruh onggokan serbuk. Menurut peneliti, avicel memiliki sifat alir yang kurang baik sedangkanlaktosa memiliki sifat alir yang baik sehingga untuk menutupi kekurangan dariavicel dikombinasikan dengan laktosa. Dalam literatur lain dikatakan bahwalaktosa lah yang memiliki sifat alir yang kurang baik daripada avicel. Biladiperhatikan, peneliti merujuk pada ukuran partikel antara laktosa dan avicel PH101, di mana avicel PH 101 dalam bentuk serbuk berukuran kecil sedangkanlaktosa denga ukuran yang lebih besar juga berupa granul sehingga dapatmempermudah proses granulasi basah terlaksana. Selain itu alasan pemilihanlaktosa sebagai kombinasi dari avicel karena laktosa mmiliki harga relatif murah,lebih mudah larut dalam air dibandingkan avicel. Akan tetapi laktosa dapat larutdengan bantuan disintegran. Dalam hal ini avicel juga bersifat sebagai disintegranatau penghancur. Sebagai tambahan dengan adanya avicel pada formulasi tabletkemangi mampu menahan atau memegang lebih dari 50% zat aktif atau sifatmengikat yang baik. Lalu kecepatan pelepasan zat aktif dapat dikendalikandengan baik apabila laktosa dikombinasikan dengan avicel. Berikut ini karakteristik dari avicel (mikrokristalin selulosa) :1) Insoluble, non-reaktif, aliran kurang baik, kapasitas pegang 50%.2) Menghasilkan tablet yang keras dengan tekanan kecil (kompresibilitas baik) dan friabilitas tablet rendah, waktu stabilitas panjang.3) Menghasilkan pembasahan yang cepat dan rata sehingga mendistribusikan cairan penggranul ke seluruh massa serbuk; menghasilkan distribusi warna dan obat yang merata.
  12. 12. 4) Bertindak sebagai pembantu mengikat, menghasilkan granul yang keras dengan sedikit fines.5) Bisa bersifat pengikat kering, disintegran, lubrikan dan glidan.6) Penggunaannya membutuhkan lubrikan; penggunaannya dapat dikombinasi dengan laktosa, manitol, starch, kalsium sulfat.7) Membantu mengatasi zat-zat yang jika overwetting (terlalu basah) menjadi seperti “clay” yang sukar digranulasi dan ketika kering granulnya menjadi keras dan resisten terhadap disintegrasi. Contoh: kaolin, kalsium karbonat.8) Avicel dalam GB memperbaiki ikatan pada pengempaan, mengurangi capping dan friabilitas tablet.9) Avicel membantu obat larut dengan air agar homogen, mencegah migrasi pewarna larut air dan membantu agar evaporasi cepat dan seragam.10) Untuk obat dengan dosis kecil, Avicel digunakan sebagai pengisi dan pengikat tambahan.11) 60% avicel PH 101 dan 40% amilum sebagai pasta 10% membuat massa lembab mudah digranulasi, membentuk granul yang kuat pada pengeringan dengan sedikit fine daripada pasta yang hanya terbuat dari amilum.12) Bentuk PH 101: serbuk, PH 102: granul, PH 103: serbuk. Sedangkan bahan pengikat yang digunakan adalah gelatin. Gelatinmerupakan pengikat yang baik dan memberikan tablet dengan kekerasan miripdari yang dihasilkan akasia atau tragakan. Bahan ini digunakan pada konsentrasi5-10% sebanyak 1-5% dari formula. Gelatin ini sendiri sudah jarang digunakan,digantikan PVP, MC cenderung menghasilkan tablet yang keras dan memerlukandisintegran yang aktif. Kelebihan dari gelatin ini adalah dapat digunakan untuksenyawa yang sulit diikat sedangkan kelemahan dari bahan ini adalah rentanbakteri dan jamur. Jika masih diperlukan pengikat yang lebih kuat, dapatdigunakan larutan gelatin dalam air 2-10%, yang dibuat dengan menghidrasigelatin dalam air dingin selama beberapa jam/semalam kemudian dipanaskansampai mendidih, larutan gelatin harus dipertahankan hangat sampai digunakankarena akan menjadi gel pada pendinginan.
  13. 13. Bahan pelicin (lubrikan) digunakan magnesium stearat. Magnesium stearatmerupakan campuran magnesium dengan asam organik solid yang mengandungmagnesium stearat dan magnesium palmitat (C32H62MgO4). Magnesium stearatdigunakan sebagai bahan pelicin (lubrikan) dalam kapsul dan tablet dengankonsentrasi 0,25% - 5,0% w/w. Pemerian: serbuk CH2OH-CH2OH-OH-OH-H-H,halus, licin, putih, dan mudah melekat pada kulit, bau lemah khas. Kelarutanpraktis tidak larut dalam air, etanol (95%) P dan dalam eter P, sukar larut dalambenzen dan etanol (95%) (Rowe et al., 2003). Magnesium stearat merupakan senyawa magnesium dengan campuranasam-asam organik padat yang diperoleh dari lemak, terutama terdiri darimagnesium stearat dan magnesium palmitat dalam berbagai perbandingan.Magnesium stearat berupa serbuk halus, putih dan voluminus; bau lemah khas;mudah melekat di kulit; bebas dari butiran. Magnesium stearat tidak larut dalamair, dalam etanol, dan dalam eter (Anonim, 1995). Magnesium stearat umumnya digunakan pada sediaan kosmetik, makanan,dan formula farmasetik. Magnesium stearat berfungsi sebagai bahan pelicin padapembuatan kapsul dan tablet dengan konsentrasi antara 0,25%-5,0% sertadigunakan sebagai bahan pembawa dalam krim. Magnesium stearat berupaserbuk, bercahaya, berbau dan berasa seperti asam stearat. Serbuk magnesiumstearat berminyak jika dipegang dan mudah melekat di kulit. Magnesium stearatkurang larut dalam benzen hangat dan etanol hangat (95%) (Allen dan Luner,2006). Nama lain aerosil adalah silium dioksida. Terdispersi tinggi, memiliki luaspermukaan spesifik yang tinggi dan terbukti sangat menguntungkan sebagai bahanpengatur aliran. Aerosil dapat mengatasi lengketnya partikel satu sama lainnyasehingga mengurangi gesekan antar partikel. Selain itu, aerosil mampu mengikatlembab, melalui gugus sianolnya (menyerap air 40 % dari massanya) dan sebagaiserbuk masih mampu mempertahankan daya alirnya yang baik (Voigt, 1984). Explotab® merupakan serbuk bebas mengalir mengandung sodium Na 2,8% sampai 4,2 %, pH antara 5,8 dan 7,5 mengandung natrium klorida tidak lebihdari 0,002 %, berwarna putih tidak berbau, tidak berasa sebagai salah satu merk
  14. 14. dagang natrium amilum glicolate: Explotab. Penggunaannya dalam pembuatantablet sebagai bahan penghancur yang lebih murah dari karboksimetilselulosa,digunakan dengan konsentrasi rendah yaitu 1-8 % dilaporkan 4 % optimum(Banker and Anderson, 1994). Explotab® merupakan derivat dari amilum kentang. Nama lain dariExplotab® adalah sodium starch glycolat, merupakan serbuk putih yang freeflowing. Explotab® merupakan salah satu superdisintegrant yang efektifdigunakan dalam pembuatan tablet secara granulasi maupun cetak langsung.Bahan penghancur ini sangat baik karena kemampuan mengembangnya yangcukup besar sehingga dapat membantu proses pecahnya tablet (Edge dan Miller,2006). Sodium starch glycolate adalah garam dari carboxymethylcelulose eter patiyang sangat halus, putih, dan tidak berbau. Sodium starch glycolate digunakandalam farmaseutikal oral sebagai bahan penghancur dalam formula kapsul dantablet. Konsentrasi dalam formula antara 2–8% dengan konsentrasi optimal 4%meskipun dalam banyak formula menggunakan konsentrasi 2% sudah cukupmemadai. Kelarutan: praktis tidak larut dalam air dan tidak dapat dicairkan padapelarut organik. Sodium starch glycolate memiliki berat molekul 500.000-11.000.000, terdiri dari granul bulat atau lonjong dengan diameter 30–100 μm(Kibbe, 2000). Dalam jurnal ilmiah, metode yang digunakan dalam pembuatan tabletadalah granulasi basah. Granulasi basah adalah proses menambahkan cairan padasuatu serbuk atau campuran serbuk dalam suatu wadah yang dilengkapi denganpengadukan yang akan menghasilkan aglomerasi atau granul (Siregar, 2010). Metode pembuatan tablet secara granulasi basah bisa diketahui daripernyataan di bawah ini. Zat berkhasiat, zat pengisi, dan zat penghancur itu dicampur sampaihomogen, lalu dibasahi dengan bahan pengikat, bila perlu ditambahkan bahanpewarna. Setelah itu, diayak menjadi granul dan dikeringkan dalam lemaripengering (oven) pada suhu 40 °C-50 °C, setelah dikeringkan lalu diayak lagi
  15. 15. untuk memperoleh granul dengan ukuran yang diperlukan dan ditambahkanbahan pelicin dan dicetak menjadi tablet dengan mesin tablet. Sedangkan pada jurnal ilmiah, tata cara pembuatan tablet kemangi dengangranulasi basah dapat diamati seperti di bawah ini. Ekstrak daun kemangi yang telah dikeringkan dengan aerosil, ditambahAvicel PH 101 dan laktosa dengan jumlah konsentrasi yang berbeda, diadukhingga homogen. Larutan gelatin 10 % ( gelatin dilarutkan dengan aquadest )ditambahkan sampai terbentuk massa yang siap digranulasi. Massa granul diayakdengan ayakan no. 16, hasilnya dikeringkan dalam oven dengan suhu 40 °C-50°C. Setelah kering, granul diayak kembali dengan ayakan no. 18, kemudiandilakukan uji sifat fisik meliputi susut pengeringan granul, kecepatan alir, dayaserap air dan kompaktibilitas. Setelah diketahui sifat fisik granul optimum makadicetak menjadi tablet dan dilakukan uji sifat fisik meliputi keseragaman bobot,kekerasan, kerapuhan dan waktu hancur. Alasan formulator memilih menggunakan metode granulasi basah karenapenggunaannya yang luas di masa lampau dan metode masih terus berlaku untukproduk yang sudah mantap karena untuk satu alasan dan lainnya, metode ini tidakdapat diganti dengan kempa langsung. Selain itu, untuk memastikan keseragamankandungan tablet dengan mendispersikan dosis kecil zat aktif dan/atau zattambahan pewarna dengan melarutkannya dalam pengikat cair. Prosedur inimenghasilkan distribusi zat terlarut lebih baik dan seragam. Adapun keuntungan dan keterbatasan granulasi basah dapat dilihat padatabel di bawah, sebagai berikut. Keuntungan Keterbatasan - Sifat-sifat mengalir lebih baik - Tahapan multiproses lebih rumit (diperbaiki) dan membuat validasi dan - Pemadatan pengendalian sulit - Karateristik pengempan diperbaiki - Waktu, ruangan, dan peralatan - Distribusi zat pewarna dan zat aktif yang digunakan memerlukan biaya yang larut lebih baik/jika yang mahal
  16. 16. ditambahkan dalam larutan pengikat - Stabilitas menjadi perhatian untuk - Debu berkurang zat aktif peka lembap atau - Pencegahan pemisahan campuran termolabil serbuk - Kehilangan bahan selama berbagai - Permukaan hidrofobik menjadi tahapan proses lebih hidrofilik Berbagai tahap (unit proses) dalam pembuatan tablet metode granulasibasah adalah sebagai berikut.1. Zat aktif dan eksipien masing-masing dihaluskan terlebih dahulu dalam mesin penggiling, misalnya menggunakan mesin “tornado mill”.2. a. Pencampuran zat aktif, zat pengisi, sebagian zat disintegran dalam mesin pencampur misalnya “planetary mixer” atau “twin-shell blender”. b. Pencampuran zat aktif, zat pengisi, zat pengikat kering/sebagian zat disintegran (penambahan pengikat kering) dalam mesin “planetary mixer” atau “twin-shell blender”.3. a. Penyiapan cairan penggranulasi basah, larutan musilago, atau suspensi, atau larutan gel, dll. b. Penyiapan air, alkohol atau hidroalkohol untuk mengaktifkan pengikat kering.4. Pembuatan massa granulasi basah dengan cairan penggranulasi dalam mesin seperti “sigma blade mixer”.5. Massa lembap dibentuk menjadi granul dengan mengekstruksi melalui mesin “oscillating granulator” dengan lempeng penyaring 6-12 mesh atau melalui mesin “fitz mill” dilengkapi dengan lempeng penyaring besi yang diperforasi.6. Granul lembap dikeringkan di atas penampan dalam oven pada suhu 50 °C- 60 °C atau dalam pengering lapis mengalir (fluid bed dryer).
  17. 17. 7. Granul yang telah kering diekstruksi dalam mesin “oscillating granulator” dengan lempeng penyaring 18-20 mesh atau dengan mesin “fitz mill” dengan lempeng penyaring 18-20 mesh.8. Granul ditapis melalui penyaring 18-20 mesh, kemudian dipindahkan ke mesin “twin-shell blender” atau mesin pencampur kubik dan dicampur dengan disintegran, glidan, dan lubrikan. (Lubrikan dan glidan diayak terlebih dahulu dengan pengayak 200 mesh).9. Massa kempa (butir viii) dikempa menjadi tablet. Berbagai sifat atau keuntungan dan keterbatasan eksipien dalam metodegranulasi basah tertera dalam tabel di bawah ini.Karateristik Pengisi Laktosa Monohidrat (Hidrat) Laktosa Monohidrat (Hidrat) - Tidak dapat dikempa langsung sehingga digunakan dalam formulasi granulasi basah - Menghasilkan tablet keras - Kekerasan tablet cenderung meningkat pada penyimpanan - Waktu disintegrasi tidak dipengaruhi oleh kekerasan tablet - Dapat larut, tetapi diperlukan suatu disintegran - Pelepasan zat aktif biasanya tidak dipengaruhi oleh zat ini - Tidak reaktif, kecuali perubahan warna jika diformulasi dengan zat amin dan basa - Mengandung lembap kira-kira 5 % sehingga kemungkinan merupakan sumber ketidakstabilan dengan zat aktif peka lembap - Mampu alirnya buruk - Tidak mahal Optimasi model simplex lattice design (SLD) Optimasi adalah suatu metode atau desain eksperimental untukmemudahkan dalam penyusunan dan interpretasi data secara matematis(Armstrong and James, 1986). SLD adalah salah satu metode analisis statistikuntuk melakukan optimasi yang digunakan untuk optimasi campuran: antar bahan
  18. 18. dalam sediaan padat, semi padat atau pemilihan pelarut. Simplex lattice designmerupakan desain untuk optimasi campuran pada berbagai perbedaan jumlahkomposisi bahan yang dinyatakan dalam berapa bagian dan jumlah totalnya dibuattetap yaitu sama dengan satu bagian. Prosedur dari simplex lattice design meliputi penyiapan variasi kombinasidari bahan tambahan yang akan dioptimasi. Hasil kombinasi formulasi darisimplex lattice design dapat digunakan untuk menetapkan respon yang optimaldari variasi kombinasi bahan tambahan, sehingga dapat digunakan untukmemproduksi suatu sediaan yang memenuhi persyaratan.Persamaan yang digunakan adalah Y a( A) b( B) ab( A)(B) ........................ (1)Keterangan : Y = respon ( hasil percobaan ) (A),(B) = kadar komponen dimana (A) + (B) = 1 a,b,ab = koefisien yang dapat dihitung dari hasil percobaan untuk mendapatkan nilai koefisien, bila digunakan 2 faktor diperlukan 3 macam percobaan yaitu menggunakan 100%A, 100%B dan campuran 50%A dan 50%B. Granul adalah gumpalan-gumpalan dari partikel-partikel yang lebih kecil.Ukuran biasanya berkisar antara ayakan nomor 4-12, walaupun demikian granuldari macam-macam ukuran lubang ayakan mungkin dapat dibuat tergantung padatujuan pemakaian (Ansel, 1995). Sifat fisik granul yaitu :1. Sifat alir Pada umumnya serbuk dikatakan mempunyai sifat yang baik jika 100 gram serbuk yang diuji mempunyai waktu alir ≤ 10 detik atau mempunyai kecepatan alir 10 gram/detik. Sifat alir suatu zat padat (partikel atau granul) dapat diketahui dengan 3 cara, yaitu dengan pengukuran secara langsung (kecepatan alir) dan pengukuran secara tidak langsung (sudut diam dan pengetapan).2. Waktu alir
  19. 19. Waktu alir merupakan waktu yang digunakan untuk mengalir dari sejumlah granul atau serbuk pada alat yang dipakai. Mudah tidaknya granul mengalir dipengaruhi oleh bentuk granul, sifat permukaan granul, density, dan kelembapan granul (Fassihi dan Kanfer, 1986). Menurut Guyot Cit. Fudholi (1983), untuk 100 g granul atau serbuk dengan waktu alir lebih dari 10 detik akan mengalami kesulitan dalam penabletan. Pada jurnal ilmiah, penentuan profil sifat fisik granul dilakukan dengan 3 ujiyakni uji kecepatan alir, uji kompaktibilitas, dan uji daya serap air. Uji sifat alir atau kecepatan alir massa komponen tablet ataupuncampurannya penting untuk keseragaman pengisian massa tablet ke dalam ruangkompresi/die ataupun untuk homogenitas massa tabletnya. Pada grafik,digambarkan bahwa intensitas kecepatan alir semakin meningkat ketika beradapada level 100 % laktosa. Artinya, kadar laktosa dengan sifat alir yang baik jugainteraksinya terhadap komponen tablet memberikan pengaruh cukup besar dalamformulasi optimum tablet kemangi yaitu memperbaiki sifat alir granul sehinggaakan diperoleh tablet dengan keseragaman massa dan dosis yang baik. Kompaktibilitas adalah kemampuan bahan untuk membentuk massa yangkompak setelah diberi tekanan. Uji dilakukan dengan menguji kekerasan tablethasil pengempaan suatu bahan dengan volume dan tekanan tertentu.Kompaktibilitas merupakan parameter untuk mengetahui kekerasan dankerapuhan suatu tablet. Suatu tablet dikehendaki memiliki kekuatan yang cukupkeras sehingga dapat tahan terhadap guncangan selama proses pengangkutan danpenyimpanan hingga saat digunakan pasien. Semakin besar tekanan yangdiberikan semakin keras suatu tablet. Hasil profil yang diperoleh dari kurvahubungan antara kompaktibilitas dengan formula, dapat diketahui bahwa tabletyang dibuat dengan formula 100% avicel PH 101 mempunyai kompaktibilitasyang lebih baik daripada tablet yang dibuat dengan formula 100% laktosa.Interaksi antara kedua bahan yaitu 50% avicel PH 101 dengan 50% laktosa akanmenurunkan kompaktibilitas tablet. Dari sini dapat disimpulkan bahwa semakinbesar kadar laktosa dalam tablet akan semakin mengurangi kompaktibilitas, danadanya avicel PH 101 akan memperbaiki sifat kompaktibilitas tablet.
  20. 20. Kompaktibilitas sangat erat kaitannya dengan kemudahan suatu serbuk untukdikempa sehingga dapat menghasilkan tablet yang keras. Daya serap bahan terhadap air dinyatakan dalam kecepatan/kapasitaspenyerapan air. Kecepatan dan jumlah air yang diserap di antaranya berpengaruhpada kelembaban massa tablet dan proses hancurnya tablet dalam tubuh. Dayaserap air berkaitan dengan disintegrasi tablet, disintegrasi tablet tidak dapat terjadijika air tidak masuk ke dalam tablet, di mana tergantung pada kompresi dankemampuan penyerapan air dari material yang dipakai. Air dapat berpenetrasi kedalam pori- pori tablet karena adanya aksi kapiler. Bahan penghancur tablet mulaiberfungsi di antaranya melalui proses pengembangan, reaksi kimia maupun secaraenzimatis setelah air masuk ke dalam tablet. Dari sini dapat disimpulkan bahwasemakin tinggi daya serap air, semakin cepat tablet tersebut hancur di dalamcairan lambung, sehingga obat lebih mudah dan lebih cepat untuk diabsorbsi.Hasil percobaan membuktikan bahwa penggunaan avicel PH 101 sebagaidisintegran, memberikan pengaruh lebih besar daya serap airnya dibandingkanlaktosa. Selanjutnya, peneliti mencanangkan penentuan profil formula optimum, dimana granul ekstrak daun kemangi dari campuran avicel PH 101 dan laktosadengan perbandingan 90 % : 10 %, mempunyai respon total tertinggi sehinggadianggap perbandingan ini merupakan campuran yang optimum pada pembuatantablet kemangi. Sifat fisik tableta. Keseragaman bobot tablet Jumlah bahan yang dimasukkan ke dalam cetakan yang akan dicetak menentukan berat tablet yang dihasilkan. Volume bahan yang diisikan (granul dan serbuk) yang mungkin masuk ke dalam cetakan harus disesuaikan dengan beberapa tablet yang telah lebih dahulu dicetak supaya tercapai berat tablet yang diharapkan (Ansel et al., 1995). Keseragaman bobot tablet ditentukan berdasarkan banyaknya penyimpangan bobot tiap tablet terhadap bobot rata-rata dari semua tablet sesuai syarat yang ditentukan dalam Farmakope Indonesia.
  21. 21. b. Kekerasan tablet Tablet harus mempunyai kekuatan atau kekerasan tertentu serta tahan atas kerapuhan agar dapat bertahan terdapat berbagai guncangan mekanik pada saat pembuatan, pengepakan dan pengiriman (Lieberman et al., 1994). Kekerasan digunakan sebagai parameter tekanan mekanik seperti guncangan dari tekanan pengempaan. Kekerasan adalah parameter yang menggambarkan ketahanan tablet dalam melawan tekanan mekanik seperti goncangan, kikisan dan terjadi keretakan tablet selama pembungkusan, pengangkutan dan pemakaian. Kekerasan ini dapat dipakai sebagai ukuran dari tekanan pengempaan (Banker and Anderson, 1986). Penambahan kekerasan akan menghasilkan tablet yang kurang rapuh, sehingga bila terlalu keras akan mengakibatkan sukar hancur. Kekerasan tablet yang baik berkisar antara 4-6 kg (Parrott, 1971). Pada penelitian dalam jurnal ilmiah di atas, kombinasi avicel PH 101 90 % dan laktosa 10 % memberikan kekerasan yang baik. Avicel PH 101 sebagai bagian yang besar dalam kombinasi mampu memberikan kekuatan antar partikel yang sangat kuat sehingga tablet yang dihasilkan menjadi kompak.c. Kerapuhan tablet Kerapuhan adalah parameter lain dari ketahanan tablet dalam pengikisan dan guncangan. Besaran yang dipakai adalah persen bobot yang hilang selama pengujian dengan alat friabilator. Faktor-faktor yang mempengaruhi kerapuhan antara lain banyaknya kandungan serbuk (fines). Kerapuhan di atas 1,0% menunjukkan tablet yang rapuh dan dianggap kurang baik (Parrott, 1971). Kerapuhan tablet memenuhi syarat bila kerapuhan kurang dari 0,8% (Banker dkk, 1986).d. Waktu hancur tablet Supaya komponen obat sepenuhnya tersedia untuk diapsorbsi dalam saluran pencernaan, maka tablet harus hancur dan melepaskan obatnya ke dalam cairan tubuh untuk dilarutkan (Ansel et al., 1995). Faktor-faktor yang
  22. 22. berpengaruh terhadap waktu hancur antara lain bahan pengisi, jumlah danjenis bahan pengikat, bahan penghancur serta tekanan kompresi (Fonner etal., 1981). Waktu hancur tablet tergantung pada sifat fisika dan kimia granulserta kekerasan dan porositas tablet. Kecuali dinyatakan lain waktu hancursuatu tablet tidak lebih dari 15 menit (Anonim, 1979). Peneliti menyimpulkan bahwa dengan adanya avicel PH 101 sebagaipenghancur, mampu menyerap air dengan baik sehingga perlawananterhadap kekuatan ikatan antar partikel semakin besar. Akibatnya tabletakan cepat hancur.
  23. 23. BAB III PENUTUPa. Kesimpulan Adapun kesimpulan yang dapat diperoleh antara lain :1. Penggunaan kombinasi bahan pengisi antara avicel PH 101 dan laktosa dengan perbandingan 90 % : 10 % merupakan perbandingan konsentrasi yang optimum bagi formulasi tablet ekstrak kemangi.2. Pembuatan tablet ekstrak kemangi menggunakan metode granulasi basah.3. Metode penentuan optimasi formulasi tablet dengan ekstrak kemangi menggunakan SLD (Simple Lattice Design).4. Penentuan profil sifat fisik granul dari ekstrak kemangi dilakukan dengan 3 uji yaitu uji kecepatan alir, kompaktibilitas, dan daya serap air5. Uji sifat fisik tablet ekstrak kemangi di antaranya keseragaman bobot tablet, kekerasan tablet, kerapuhan tablet, dan waktu hancur tablet.b. Saran Sebaiknya perlu dilakukan penelitian lebih lanjut juga studi literatur secarakondusif dimaksudkan agar hasil penelitian ini dapat memberikan pemahamanyang lebih baik khususnya dalam formulasi tablet dengan bahan lainnya. Selainitu, perlu adanya sikap kehati-hatian dan teliti untuk mendukung penelitiandengan hasil yang diinginkan.
  24. 24. DAFTAR PUSTAKAAnonim, 1979, Farmakope Indonesia Edisi Ketiga, DEPKES RI : Jakarta.Anonim, 1995, Farmakope Indonesia Edisi Keempat, DEPKES RI : Jakarta.Ansel, H. C, 1995, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Ed. IV, UI Press : Jakarta.Armstrong, N. A, 1986, Tableting in Pharmaceutics the Science of Dosage Form Design, ELBS : Hongkong.Badan Litbang Kehutanan, 1987, Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid III. Yayasan Sarana Wana Jaya : Jakarta.Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995, Materia Medika Indonesia Jilid VI, Departemen Kesehatan Republik Indonesia : Jakarta.Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Direktorat Pengawasan Obat Tradisional, 2000, Pedoman Pelaksanaan Uji Klinik Obat Tradisional Edisi 1, Departemen Kesehatan Republik Indonesia : Jakarta.Fassihi, A.R; Kanfer, I; 1986, Effect of Compressibility and Powder Flow Properties on Tablet Weight Variation : Drug Development and Industrial Pharmacy, Twelvefifth Edition, Marcel Dekker : New York.Kibbe, Arthur H, 2000, Handbook of Pharmaceutical Excipient, The Pharmaceutical Association : New York.Kuncahyo, Ilham, 2010, Petunjuk Praktikum Formulasi dan Teknologi Sediaan Padat, Fakultas Farmasi, Universitas Setia Budi : Surakarta.Lachman, Leon; Lieberman; et all, 1994, Teori dan Praktek Farmasi Industri Edisi Ketiga, UI Press : Jakarta.Parrot, E. L, 1971, Pharmaceutical Statistics, Practical and Clinical Applications 3rd Ed, Marcel Dekker Inc : New York.Radji, Maksum, 2005, Peranan Bioteknologi dan Mikroba Endofit dalam Pengembangan Obat Herbal, Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. II, No.3 : Departemen Farmasi, FMIPA-UI : Jakarta.Rowe, R.C; Sheskey, P.J and Owen, S.C, 2003, Handbook of Pharmaceutical Excipient. Pharmaceutical Press : America.
  25. 25. Siregar M. Sc.,Apt, Prof. Dr. Charles J.P, 2010, Teknologi Farmasi Sediaan Tablet Dasar-Dasar Praktis, EGC : Jakarta.Sudarsono, et all, 2002, Tumbuhan Obat II (Hasil Penelitian, Sifat-Sifat, dan Penggunaannya), Pusat Studi Obat Tradisional Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta.Sulaiman, T.N.S dan Rina Kuswahyuning, 2007, Sediaan Cair Semi Padat, Laboratorium Teknologi Formulasi Fakultas Farmasi Gadjah Mada University : Yogyakarta.Syamsuhidayat SS, dan Hutapea JR, 1991, Inventaris Tanaman Obat Indonesia I, Departemen Kesehatan RI : Jakarta.Syamsuni, 2007, Ilmu Resep, EGC : Jakarta.Voight, R, 1984, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi Edisi V, Gadjah Mada University Press : Yogyakarta.Widyapranata, Rika, et all, 2010, Optimasi Formulasi Tablet Ekstrak Daun Kemangi (Ocimum sanctum L.) dengan Campuran Avicel PH 101 dan Laktosa secara SLD (Simplex Lattice Design), Universitas Setia Budi : Surakarta.

×