Idrus Abidin, Lc., M.A.
1. Hari Kiamat,
2. apakah hari Kiamat itu?
3. Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?
4. Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang
bertebaran,
5. dan gunung-gunung seperti bulu yang
dihambur-hamburkan.
6. Dan adapun orang-orang yang berat
timbangan (kebaikan) nya,
7. maka dia berada dalam kehidupan yang
memuaskan.
8. Dan adapun orang-orang yang ringan
timbangan (kebaikan) nya,
9. maka tempat kembalinya adalah neraka
Hawiyah.
10. Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah
itu?
11. (Yaitu) api yang sangat panas.
(1،ُ‫ة‬َ‫ع‬ِ‫ر‬‫ا‬َ‫ق‬ْ‫ل‬‫ا‬
(2،ُ‫ة‬َ‫ع‬ِ‫ر‬‫ا‬َ‫ق‬ْ‫ل‬‫ا‬ ‫ا‬َ‫م‬
(3،ُ‫ة‬َ‫ع‬ِ‫ر‬‫ا‬َ‫ق‬ْ‫ل‬‫ا‬ ‫ا‬َ‫م‬ َ‫اك‬َ‫ر‬ْ‫د‬َ‫أ‬ ‫ا‬َ‫م‬َ‫و‬
(4َ‫ف‬ْ‫ل‬‫ا‬َ‫ك‬ ُ‫َّاس‬‫ن‬‫ال‬ ُ‫ن‬‫و‬ُ‫ك‬َ‫ي‬ َ‫م‬ْ‫و‬َ‫ي‬ِِ‫و‬ََُُْْْ‫ل‬‫ا‬ ِِ‫ا‬َ‫َر‬،
(5ْ‫ه‬ِ‫ْع‬‫ل‬‫ا‬َ‫ك‬ ُ‫ال‬َِْْ‫ْل‬‫ا‬ ُ‫ن‬‫و‬ُ‫ك‬َ‫ت‬َ‫و‬، ِِ‫و‬ُ‫ف‬ْ‫ن‬ََْ‫ل‬‫ا‬ ِ‫ن‬
(6ِ‫ز‬‫ا‬َ‫و‬َ‫م‬ ْ‫ت‬َ‫ل‬ُ‫ق‬َ‫ث‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ ‫ا‬َّ‫َم‬‫أ‬َ‫ف‬،ُ‫ه‬ُ‫ين‬
(7ٍ‫ة‬َ‫ي‬ِ‫اض‬َ‫ر‬ ٍ‫ة‬َ‫ش‬‫ي‬ِ‫ع‬ ِ‫ِف‬ َ‫و‬ُ‫ه‬َ‫ف‬،
(8‫ي‬ِ‫ز‬‫ا‬َ‫و‬َ‫م‬ ْ‫ت‬َّ‫ف‬َ‫خ‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ ‫ا‬َّ‫َم‬‫أ‬َ‫و‬،ُ‫ه‬ُ‫ن‬
(9،ٌ‫ة‬َ‫ي‬ِ‫و‬‫ا‬َ‫ه‬ ُ‫ه‬ُّ‫ُم‬‫أ‬َ‫ف‬
(10،ْ‫ه‬َ‫ي‬ِ‫ه‬ ‫ا‬َ‫م‬ َ‫اك‬َ‫ر‬ْ‫د‬َ‫أ‬ ‫ا‬َ‫م‬َ‫و‬
(11ٌ‫ة‬َ‫ي‬ِ‫ام‬َ‫ح‬ ٌ‫ر‬َ‫َن‬
 Surat yang mulia ini adalah makkiyah, dan ayat-
ayatnya berjumlah sebelas ayat.
 Pada ayat yang pertama sampai ketiga, Allâh
Ta'ala mengulang-ulang kata al-Qâri’ah (ُ‫ة‬َ‫ع‬ ِ‫ار‬َ‫ق‬‫.)ال‬
Diawali dengan kalimat pernyataan atau berita,
kemudian dilanjutkan dengan dua kali kalimat
pertanyaan. Sebagaimana telah diterangkan oleh
para ulama, hal ini merupakan pengagungan
Allâh Ta'ala terhadap betapa besar dan
dahsyatnya hari Kiamat.
 Banyak penjelasan para ulama terhadap
penafsiran makna al-Qâri’ah (ُ‫ة‬َ‫ع‬ ِ‫ار‬َ‫ق‬‫,)ال‬ yang
seluruhnya kembali kepada satu makna, yaitu as-
Sa’ah (hari Kiamat).
 Atau sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Ali
radhiyallâhu'anhu, ia berkata, “Banyaknya nama (pada
sesuatu) menunjukkan agungnya perkara tersebut. Juga
telah diketahui, bahwa nama-nama tersebut bukanlah
sinonim, karena sesungguhnya setiap nama memiliki
makna tersendiri. Hari Kiamat dinamakan al-Wâqi’ah
(ُ‫ة‬َ‫ع‬ِ‫ق‬‫ا‬ َ‫,)الو‬ karena hari itu pasti kejadiannya. Juga
dinamakan al-Hâqqah (ُ‫ة‬َّ‫ق‬‫ا‬َ‫ح‬‫)ال‬ karena hari itu nyata dan
benar adanya. Juga dinamakan ath-Thâmmah (ُ‫ة‬َّ‫م‬‫ا‬َّ‫,)الط‬
karena bencana, malapetaka dan kehancuran pada hari
itu sangat umum dan menyeluruh. Juga dinamakan al-
Âzifah (ُ‫ة‬َ‫ف‬ ِ‫,)اآلز‬ karena kejadian hari itu sudah dekat,
(hal ini) seperti iqtarabatis sa’ah (ُ‫ة‬َ‫ع‬‫ا‬َّ‫س‬‫ُِال‬‫ت‬َ‫ب‬ َ‫ر‬َ‫ت‬ْ‫ق‬ِ‫ا‬).
Demikian pula surat ini (al-Qâri’ah, Pen).
Makna al-Qari’ah
 Lafazh al-Qâri’ah (ُ‫ة‬َ‫ع‬ ِ‫ار‬َ‫ق‬‫,)ال‬ berasal dari al-Qar’u (ُ‫ع‬ ْ‫ر‬َ‫ق‬‫)ال‬
yang bermakna adh-Dharb (ُ‫ب‬ ْ‫ر‬َّ‫ض‬‫,)ال‬ yakni pukulan.
(Sehingga, penamaan hari Kiamat dengan nama ini)
sesuai dengan penjelasan pada ayat berikutnya yang
menerangkan, bahwa hari itu melemahkan seluruh
kekuatan manusia, hingga manusia bagaikan kupu-
kupu yang bertebaran, juga melumpuhkan kekuatan
gunung-gunung, hingga gunung-gunung itu
bagaikan bulu yang beterbangan dan berhamburan.
Keterangan :
• Dari penjelasan di atas, menjadi jelaslah bahwa
makna al-Qâri’ah (ُ‫ة‬َ‫ع‬ ِ‫ار‬َ‫ق‬‫)ال‬ adalah hari Kiamat,
yang pada saat itu terjadi kehancuran, bencana,
dan malapetaka yang amat besar. Makna ini,
seperti ditunjukkan firman Allâh Ta'ala :
•ْ‫م‬ُ‫ه‬ُْ‫ي‬ِ‫ص‬ُ‫ت‬ ‫وا‬ُ‫َر‬َ‫ف‬َ‫ك‬ َ‫ين‬ِ‫ذ‬َّ‫ل‬‫ا‬ ُ‫ال‬َ‫ز‬َ‫ي‬ َ‫َل‬َ‫و‬ٌ‫ة‬َ‫ع‬ِ‫ر‬‫ا‬َ‫ق‬ ‫وا‬ُ‫ع‬َ‫ن‬َ‫ص‬ ‫ا‬َِ‫ِب‬
… dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa
bencana disebabkan perbuatan mereka
sendiri…(Qs. ar-Ra’d [13] : 31)
، ِِ‫و‬ََُُْْْ‫ل‬‫ا‬ ِِ‫ا‬َ‫َر‬َ‫ف‬ْ‫ل‬‫ا‬َ‫ك‬ ُ‫َّاس‬‫ن‬‫ال‬ ُ‫ن‬‫و‬ُ‫ك‬َ‫ي‬ َ‫م‬ْ‫و‬َ‫ي‬
4. Pada hari itu manusia seperti kupu-kupu yang
bertebaran
Terdapat tiga pendapat di kalangan ulama dalam menafsirkan
makna al-Farasy (ُ‫اش‬َ‫ر‬َ‫ف‬‫)ال‬ pada ayat ini :
 Pertama, maknanya ialah belalang-belalang kecil yang
beterbangan dan saling bercampur-baur antara satu dengan
lainnya. Makna ini ditunjukkan oleh firman Allâh Ta'ala :
ٌُ‫ر‬ِ‫ش‬َ‫ت‬ْ‫ن‬‫ٌُم‬‫د‬‫ا‬َ‫ر‬َ‫ج‬ُْ‫م‬‫ه‬َّ‫ن‬َ‫َأ‬‫ك‬(7)
…seakan-akan mereka belalang yang beterbangan.
(QS al-Qamar [54] : 7)
 Kedua, maknanya ialah sejenis burung kecil atau serangga
kecil, bukan nyamuk dan bukan pula lalat.
• Ketiga, maknanya ialah sesuatu yang berjatuhan dan bertebaran di sekitar
api, baik berupa nyamuk ataupun serangga-serangga kecil lainnya.
• Terdapat sebuah hadits shahih yang menunjukkan makna yang ketiga ini.
Yaitu :
•َُ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬ُ ٍ‫ر‬ِ‫ب‬‫ا‬َ‫ج‬ُْ‫َن‬‫ع‬:ُِ َّ‫ُاَّلل‬‫ول‬‫س‬َ‫ُر‬َ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬:َُ‫ث‬َ‫م‬َ‫يُو‬ِ‫ل‬َ‫ث‬َ‫م‬ُْ‫م‬‫ك‬‫ل‬,َُ‫ن‬َُ‫د‬َ‫ق‬ ْ‫و‬َ‫ُأ‬ٍ‫ل‬‫ج‬َ‫ُر‬ِ‫ل‬َ‫ث‬َ‫م‬َ‫ك‬‫ا‬ً‫ار‬,َُ‫ل‬َ‫ع‬َ‫ج‬َ‫ف‬
ُ‫ب‬ِ‫د‬‫ا‬َ‫ن‬َ‫ج‬ْ‫ل‬‫ا‬,ُ‫ب‬‫ذ‬َ‫ي‬َُ‫و‬‫ه‬َ‫اُو‬َ‫ه‬‫ي‬ِ‫ف‬َُ‫ن‬ْ‫ع‬َ‫ق‬َ‫ي‬ُ‫اش‬َ‫ر‬َ‫ف‬ْ‫ل‬‫ا‬َ‫و‬ُِ‫ز‬َ‫ج‬‫ح‬ِ‫ب‬ٌُ‫ذ‬ ِ‫اُآخ‬َ‫ن‬َ‫أ‬َ‫ا،ُو‬َ‫ه‬ْ‫ن‬َ‫ع‬َُّ‫ن‬‫ه‬ُ ِ‫ار‬َّ‫ن‬‫ُال‬ْ‫َن‬‫ع‬ُْ‫م‬‫ك‬
‫ي‬ِ‫د‬َ‫ي‬ُْ‫ن‬ِ‫ُم‬َ‫ون‬‫ت‬َّ‫ل‬َ‫ف‬َ‫ت‬ُْ‫م‬‫ت‬ْ‫ن‬َ‫أ‬َ‫و‬
Dari Jabir bin Abdillah radhiyallâhu'anhu, beliau berkata:Rasûlullâh
Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:“Perumpamaan diriku dengan
kalian bagaikan seseorang yang menyalakan api, lalu mulailah laron-laron
dan kupu-kupu berjatuhan pada api itu,
sedangkan ia selalu mengusirnya (serangga-serangga tersebut) dari api
tersebut. Dan aku (selalu berusaha) memegang (menarik) ujung-ujung
pakaian kalian agar kalian tidak terjerumus ke dalam neraka,
namun kalian (selalu) terlepas dari tanganku”. HR Muslim (4/1790 no.
2285), dan lain-lain. Hadits ini dibawakan pula oleh al-Imam al-Qurthubi
rahimahullâh di dalam tafsirnya (20/153).
‫و‬ُ‫ف‬ْ‫ن‬ََْ‫ل‬‫ا‬ ِ‫ن‬ْ‫ه‬ِ‫ْع‬‫ل‬‫ا‬َ‫ك‬ ُ‫ال‬َِْْ‫ْل‬‫ا‬ ُ‫ن‬‫و‬ُ‫ك‬َ‫ت‬َ‫و‬، ِِ
5. dan gunung-gunung seperti bulu yang
dihambur-hamburkan.
Sebagian besar ulama menafsirkan lafazh al-‘Ihn
(ُ‫ن‬ْ‫ح‬ِ‫ع‬‫)ال‬ dengan makna ash-Shuf (ُ‫وؤ‬ُّ‫ص‬‫.)ال‬ Yaitu bulu
atau kapas.
• Berdasarkan penjelasan ayat keempat dan kelima di atas, dapat kita
pahami, salah satu kejadian yang dahsyat pada hari Kiamat adalah
berubahnya keadaan manusia, sehingga ia bagaikan kupu-kupu atau
belalang yang beterbangan, bertebaran dengan bercampur-baur dan tidak
tentu arahnya. Demikian pula dengan gunung-gunung yang sebelumnya
berdiri tegak dan kokoh, maka pada hari itu, gunung-gunung bagaikan bulu
berhamburan. Seluruh makhluk Allâh Ta'ala yang kuat dan kokoh, pada
saat itu kehilangan seluruh kekuatannya, karena demikian dahsyatnya hari
Kiamat (Tafsir Adhwa’ul-Bayan (9/71) Syaikh Muhammad al-Amin asy-
Syinqithi rahimahullâh ).
• Adapun keadaan gunung-gunung secara khusus pada hari itu,
sebagaimana dijelaskan para ulama, mula-mulanya gunung-gunung
digerakkan dan dipindahkan dari tempatnya, kemudian benar-benar
diluluh-lantakkan bagaikan bulu-bulu yang dihambur-hamburkan,
sebagaimana diterangkan pada ayat kelima surat al-Qari'ah ini,
hingga akhirnya gunung-gunung itu menjadi debu yang bertebaran
dan bahkan menjadi fatamorgana.
ُ‫ال‬َِْْ‫ْل‬‫ا‬ ِ‫ت‬َ‫ن‬‫ا‬َ‫ك‬َ‫و‬ ُ‫ال‬َِْْ‫ْل‬‫ا‬َ‫و‬ ُ‫ض‬ْ‫ر‬َْ‫اْل‬ ُ‫ف‬ُ‫ج‬ْ‫َر‬َ‫ت‬ َ‫م‬ْ‫و‬َ‫ي‬‫ا‬ً‫ي‬ِ‫ه‬َ‫م‬ ‫ا‬‫ا‬ْ‫ي‬َُِ‫ك‬(14)
Pada hari bumi dan gunung-gunung bergoncangan,
dan menjadilah gunung-gunung itu tumpukan-tumpukan pasir yang
beterbangan. (QS al Muzzammil [73] : 14)
‫ا‬‫اب‬َ‫َر‬َ‫س‬ ْ‫ت‬َ‫ن‬‫ا‬َ‫ك‬َ‫ف‬ ُ‫ال‬َِْْ‫ْل‬‫ا‬ ِ‫ت‬َ‫ر‬ِ‫ِي‬ُ‫س‬َ‫و‬(20)
Dan dijalankanlah gunung-gunung,
maka menjadi fatamorganalah ia. (QS an Naba‘ [78] : 20)
ُ‫ه‬ُ‫ين‬ِ‫ز‬‫ا‬َ‫و‬َ‫م‬ ْ‫ت‬َ‫ل‬ُ‫ق‬َ‫ث‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ ‫ا‬َّ‫َم‬‫أ‬َ‫ف‬،
6. Dan adapun orang-orang
yang berat timbangan
(kebaikan) nya,
 Ayat ini menegaskan akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang
berkaitan dengan rukun iman kelima. Bahwa salah satu perwujudan
beriman kepada hari akhir adalah meyakini adanya mizan
(timbangan) pada hari Kiamat kelak. Barangsiapa yang berat
amalan kebaikannya, maka akan mendapatkan kehidupan yang
baik, dan demikian sebaliknya.
 Di antara dalil lainnya dari al Qur‘an yang menunjukkan adanya
mizan (timbangan) pada hari Akhir, yaitu firman Allâh Ta'ala , yang
artinya:
َُ‫ل‬َ‫ف‬ُِ‫ة‬َ‫م‬‫ا‬َ‫ي‬ِ‫ق‬ْ‫ل‬‫ُا‬ِ‫م‬ ْ‫و‬َ‫ي‬ِ‫ل‬َُ‫ط‬ْ‫س‬ِ‫ق‬ْ‫ل‬‫ُا‬َ‫ين‬ ِ‫از‬َ‫و‬َ‫م‬ْ‫ل‬‫ُا‬‫ع‬َ‫ض‬َ‫ن‬ َ‫و‬ُْ‫ث‬ِ‫ُم‬َ‫َان‬‫ك‬ُْ‫ن‬ِ‫إ‬َ‫ًاُو‬‫ئ‬ْ‫ي‬َ‫ش‬ُ ٌ‫س‬ْ‫ف‬َ‫ن‬ُ‫م‬َ‫ل‬ْ‫ظ‬‫ت‬ُْ‫ن‬ِ‫ُم‬ٍ‫ة‬َّ‫ب‬َ‫ح‬َُ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬
َُ‫ين‬ِ‫ب‬ِ‫س‬‫ا‬َ‫ح‬ُ‫ا‬َ‫ن‬ِ‫ب‬ُ‫ى‬َ‫ف‬َ‫ك‬َ‫اُو‬َ‫ه‬ِ‫ب‬ُ‫ا‬َ‫ن‬ْ‫ي‬َ‫ت‬َ‫ُأ‬ٍ‫ل‬َ‫د‬ْ‫ر‬َ‫خ‬(47)
 Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat,
maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun, dan jika
(amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan
(pahala)nya, dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.
(QS al-Anbiya‘ [21] : 47)
• Begitu pula banyak hadits shahih yang menunjukkan adanya mizan
(timbangan) pada Hari Akhir, sebagaimana hadits-hadits berikut
ini.
• Hadits Abu Hurairah radhiyallâhu'anhu, beliau berkata:
Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:
“(Ada) dua perkataan yang ringan, (namun) berat dalam mizan
(timbangan) dan dicintai oleh ar-Rahman (Allâh Ta'ala ), (yaitu)
Subhanallahi wa bihamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-
Nya), Subhanallahil ‘Azhim (Maha Suci Allah Yang Maha Agung)”.
HR al Bukhari (5/2352, 6/2459, 2749), Muslim (4/2072 no. 2694),
ٍ‫ة‬َ‫ي‬ِ‫اض‬َ‫ر‬ ٍ‫ة‬َ‫ش‬‫ي‬ِ‫ع‬ ِ‫ِف‬ َ‫و‬ُ‫ه‬َ‫ف‬
7. maka dia berada dalam kehidupan yang
memuaskan.
Para ulama menjelaskan, yang dimaksud dengan
kehidupan yang memuaskan adalah kehidupan di
surga. [Lihat Jami’ul-Bayan ‘an Ta’wil Ayil-Qur`an
(30/342), Tafsir Ibnu Katsir (8/468) dan Taisir al-
Karimir-Rahman (2/1192)].
Ayat : 8, 9 dan 10
8. Dan adapun orang-orang
yang ringan timbangan
(kebaikan) nya,
9. maka tempat kembalinya
adalah neraka Hawiyah.
10. Dan tahukah kamu
apakah neraka Hawiyah
itu?
11. (Yaitu) api yang sangat
panas.
.8َ‫خ‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ ‫ا‬َّ‫َم‬‫أ‬َ‫و‬ْ‫ت‬َّ‫ف‬
،ُ‫ه‬ُ‫ين‬ِ‫ز‬‫ا‬َ‫و‬َ‫م‬
.9ِ‫و‬‫ا‬َ‫ه‬ ُ‫ه‬ُّ‫م‬ُ‫أ‬َ‫ف‬،ٌ‫ة‬َ‫ي‬
.10‫ا‬َ‫م‬ َ‫اك‬َ‫ر‬ْ‫د‬َ‫أ‬ ‫ا‬َ‫وم‬ْ‫ه‬َ‫ي‬ِ‫ه‬
.11ٌ‫ة‬َ‫ي‬ِ‫ام‬َ‫ح‬ ٌ‫َنر‬
،ٌ‫ة‬َ‫ي‬ِ‫و‬‫ا‬َ‫ه‬ ُ‫ه‬ُّ‫ُم‬‫أ‬َ‫ف‬
9. maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.
• Terdapat tiga penafsiran di kalangan para ulama
terhadap makna ayat ke-9 :
• Pertama, maknanya adalah, ia jatuh dan masuk ke
dalam neraka dengan ujung kepalanya lebih dahulu.
Kedua, ayat tersebut merupakan ungkapan dalam
bahasa Arab, dilontarkan bagi orang yang terjatuh ke
dalam permasalahan yang berat dan menyulitkan.
Ketiga, maknanya, tempat tinggal dan kembalinya
adalah neraka. Sehingga, menurut penafsiran yang
ketiga ini, hawiyah (‫ة‬َ‫ي‬ِ‫و‬‫ا‬َ‫ه‬) merupakan salah satu dari
nama-nama neraka.
ٌ‫ة‬َ‫ي‬ِ‫ام‬َ‫ح‬ ٌ‫َنر‬
11. (Yaitu) api yang sangat panas.
• Ada beberapa hadits shahih yang maknanya berkaitan erat dengan ayat
terakhir ini, di antaranya sebagai berikut :
• Hadits Abu Hurairah radhiyallâhu'anhu, beliau berkata:
Sesungguhnya Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:
“Api kalian ini, yang dinyalakan manusia hanyalah sebagian dari tujuh
puluh bagian panasnya neraka Jahannam”. Mereka berkata: “Demi Allah,
api ini sudah cukup (panas), wahai Rasûlullâh!”. Beliau
bersabda,”Sesungguhnya api neraka Jahannam lebih (panas) sebanya
kenam puluh sembilan kali (dari api di dunia).
Tiap-tiap bagiannya sama panasnya”. HR al-Bukhari (3/1191), Muslim
(4/2184 no. 2843), dan lain-lain. Dan ini lafazh Shahih Muslim.

Tafsir Surah al-Qori'ah

  • 1.
  • 2.
    1. Hari Kiamat, 2.apakah hari Kiamat itu? 3. Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu? 4. Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran, 5. dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan. 6. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan) nya, 7. maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. 8. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan) nya, 9. maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. 10. Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? 11. (Yaitu) api yang sangat panas. (1،ُ‫ة‬َ‫ع‬ِ‫ر‬‫ا‬َ‫ق‬ْ‫ل‬‫ا‬ (2،ُ‫ة‬َ‫ع‬ِ‫ر‬‫ا‬َ‫ق‬ْ‫ل‬‫ا‬ ‫ا‬َ‫م‬ (3،ُ‫ة‬َ‫ع‬ِ‫ر‬‫ا‬َ‫ق‬ْ‫ل‬‫ا‬ ‫ا‬َ‫م‬ َ‫اك‬َ‫ر‬ْ‫د‬َ‫أ‬ ‫ا‬َ‫م‬َ‫و‬ (4َ‫ف‬ْ‫ل‬‫ا‬َ‫ك‬ ُ‫َّاس‬‫ن‬‫ال‬ ُ‫ن‬‫و‬ُ‫ك‬َ‫ي‬ َ‫م‬ْ‫و‬َ‫ي‬ِِ‫و‬ََُُْْْ‫ل‬‫ا‬ ِِ‫ا‬َ‫َر‬، (5ْ‫ه‬ِ‫ْع‬‫ل‬‫ا‬َ‫ك‬ ُ‫ال‬َِْْ‫ْل‬‫ا‬ ُ‫ن‬‫و‬ُ‫ك‬َ‫ت‬َ‫و‬، ِِ‫و‬ُ‫ف‬ْ‫ن‬ََْ‫ل‬‫ا‬ ِ‫ن‬ (6ِ‫ز‬‫ا‬َ‫و‬َ‫م‬ ْ‫ت‬َ‫ل‬ُ‫ق‬َ‫ث‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ ‫ا‬َّ‫َم‬‫أ‬َ‫ف‬،ُ‫ه‬ُ‫ين‬ (7ٍ‫ة‬َ‫ي‬ِ‫اض‬َ‫ر‬ ٍ‫ة‬َ‫ش‬‫ي‬ِ‫ع‬ ِ‫ِف‬ َ‫و‬ُ‫ه‬َ‫ف‬، (8‫ي‬ِ‫ز‬‫ا‬َ‫و‬َ‫م‬ ْ‫ت‬َّ‫ف‬َ‫خ‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ ‫ا‬َّ‫َم‬‫أ‬َ‫و‬،ُ‫ه‬ُ‫ن‬ (9،ٌ‫ة‬َ‫ي‬ِ‫و‬‫ا‬َ‫ه‬ ُ‫ه‬ُّ‫ُم‬‫أ‬َ‫ف‬ (10،ْ‫ه‬َ‫ي‬ِ‫ه‬ ‫ا‬َ‫م‬ َ‫اك‬َ‫ر‬ْ‫د‬َ‫أ‬ ‫ا‬َ‫م‬َ‫و‬ (11ٌ‫ة‬َ‫ي‬ِ‫ام‬َ‫ح‬ ٌ‫ر‬َ‫َن‬
  • 3.
     Surat yangmulia ini adalah makkiyah, dan ayat- ayatnya berjumlah sebelas ayat.  Pada ayat yang pertama sampai ketiga, Allâh Ta'ala mengulang-ulang kata al-Qâri’ah (ُ‫ة‬َ‫ع‬ ِ‫ار‬َ‫ق‬‫.)ال‬ Diawali dengan kalimat pernyataan atau berita, kemudian dilanjutkan dengan dua kali kalimat pertanyaan. Sebagaimana telah diterangkan oleh para ulama, hal ini merupakan pengagungan Allâh Ta'ala terhadap betapa besar dan dahsyatnya hari Kiamat.  Banyak penjelasan para ulama terhadap penafsiran makna al-Qâri’ah (ُ‫ة‬َ‫ع‬ ِ‫ار‬َ‫ق‬‫,)ال‬ yang seluruhnya kembali kepada satu makna, yaitu as- Sa’ah (hari Kiamat).
  • 4.
     Atau sebagaimanayang telah diriwayatkan dari Ali radhiyallâhu'anhu, ia berkata, “Banyaknya nama (pada sesuatu) menunjukkan agungnya perkara tersebut. Juga telah diketahui, bahwa nama-nama tersebut bukanlah sinonim, karena sesungguhnya setiap nama memiliki makna tersendiri. Hari Kiamat dinamakan al-Wâqi’ah (ُ‫ة‬َ‫ع‬ِ‫ق‬‫ا‬ َ‫,)الو‬ karena hari itu pasti kejadiannya. Juga dinamakan al-Hâqqah (ُ‫ة‬َّ‫ق‬‫ا‬َ‫ح‬‫)ال‬ karena hari itu nyata dan benar adanya. Juga dinamakan ath-Thâmmah (ُ‫ة‬َّ‫م‬‫ا‬َّ‫,)الط‬ karena bencana, malapetaka dan kehancuran pada hari itu sangat umum dan menyeluruh. Juga dinamakan al- Âzifah (ُ‫ة‬َ‫ف‬ ِ‫,)اآلز‬ karena kejadian hari itu sudah dekat, (hal ini) seperti iqtarabatis sa’ah (ُ‫ة‬َ‫ع‬‫ا‬َّ‫س‬‫ُِال‬‫ت‬َ‫ب‬ َ‫ر‬َ‫ت‬ْ‫ق‬ِ‫ا‬). Demikian pula surat ini (al-Qâri’ah, Pen).
  • 5.
    Makna al-Qari’ah  Lafazhal-Qâri’ah (ُ‫ة‬َ‫ع‬ ِ‫ار‬َ‫ق‬‫,)ال‬ berasal dari al-Qar’u (ُ‫ع‬ ْ‫ر‬َ‫ق‬‫)ال‬ yang bermakna adh-Dharb (ُ‫ب‬ ْ‫ر‬َّ‫ض‬‫,)ال‬ yakni pukulan. (Sehingga, penamaan hari Kiamat dengan nama ini) sesuai dengan penjelasan pada ayat berikutnya yang menerangkan, bahwa hari itu melemahkan seluruh kekuatan manusia, hingga manusia bagaikan kupu- kupu yang bertebaran, juga melumpuhkan kekuatan gunung-gunung, hingga gunung-gunung itu bagaikan bulu yang beterbangan dan berhamburan.
  • 6.
    Keterangan : • Daripenjelasan di atas, menjadi jelaslah bahwa makna al-Qâri’ah (ُ‫ة‬َ‫ع‬ ِ‫ار‬َ‫ق‬‫)ال‬ adalah hari Kiamat, yang pada saat itu terjadi kehancuran, bencana, dan malapetaka yang amat besar. Makna ini, seperti ditunjukkan firman Allâh Ta'ala : •ْ‫م‬ُ‫ه‬ُْ‫ي‬ِ‫ص‬ُ‫ت‬ ‫وا‬ُ‫َر‬َ‫ف‬َ‫ك‬ َ‫ين‬ِ‫ذ‬َّ‫ل‬‫ا‬ ُ‫ال‬َ‫ز‬َ‫ي‬ َ‫َل‬َ‫و‬ٌ‫ة‬َ‫ع‬ِ‫ر‬‫ا‬َ‫ق‬ ‫وا‬ُ‫ع‬َ‫ن‬َ‫ص‬ ‫ا‬َِ‫ِب‬ … dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri…(Qs. ar-Ra’d [13] : 31)
  • 7.
    ، ِِ‫و‬ََُُْْْ‫ل‬‫ا‬ ِِ‫ا‬َ‫َر‬َ‫ف‬ْ‫ل‬‫ا‬َ‫ك‬ُ‫َّاس‬‫ن‬‫ال‬ ُ‫ن‬‫و‬ُ‫ك‬َ‫ي‬ َ‫م‬ْ‫و‬َ‫ي‬ 4. Pada hari itu manusia seperti kupu-kupu yang bertebaran Terdapat tiga pendapat di kalangan ulama dalam menafsirkan makna al-Farasy (ُ‫اش‬َ‫ر‬َ‫ف‬‫)ال‬ pada ayat ini :  Pertama, maknanya ialah belalang-belalang kecil yang beterbangan dan saling bercampur-baur antara satu dengan lainnya. Makna ini ditunjukkan oleh firman Allâh Ta'ala : ٌُ‫ر‬ِ‫ش‬َ‫ت‬ْ‫ن‬‫ٌُم‬‫د‬‫ا‬َ‫ر‬َ‫ج‬ُْ‫م‬‫ه‬َّ‫ن‬َ‫َأ‬‫ك‬(7) …seakan-akan mereka belalang yang beterbangan. (QS al-Qamar [54] : 7)  Kedua, maknanya ialah sejenis burung kecil atau serangga kecil, bukan nyamuk dan bukan pula lalat.
  • 8.
    • Ketiga, maknanyaialah sesuatu yang berjatuhan dan bertebaran di sekitar api, baik berupa nyamuk ataupun serangga-serangga kecil lainnya. • Terdapat sebuah hadits shahih yang menunjukkan makna yang ketiga ini. Yaitu : •َُ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬ُ ٍ‫ر‬ِ‫ب‬‫ا‬َ‫ج‬ُْ‫َن‬‫ع‬:ُِ َّ‫ُاَّلل‬‫ول‬‫س‬َ‫ُر‬َ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬:َُ‫ث‬َ‫م‬َ‫يُو‬ِ‫ل‬َ‫ث‬َ‫م‬ُْ‫م‬‫ك‬‫ل‬,َُ‫ن‬َُ‫د‬َ‫ق‬ ْ‫و‬َ‫ُأ‬ٍ‫ل‬‫ج‬َ‫ُر‬ِ‫ل‬َ‫ث‬َ‫م‬َ‫ك‬‫ا‬ً‫ار‬,َُ‫ل‬َ‫ع‬َ‫ج‬َ‫ف‬ ُ‫ب‬ِ‫د‬‫ا‬َ‫ن‬َ‫ج‬ْ‫ل‬‫ا‬,ُ‫ب‬‫ذ‬َ‫ي‬َُ‫و‬‫ه‬َ‫اُو‬َ‫ه‬‫ي‬ِ‫ف‬َُ‫ن‬ْ‫ع‬َ‫ق‬َ‫ي‬ُ‫اش‬َ‫ر‬َ‫ف‬ْ‫ل‬‫ا‬َ‫و‬ُِ‫ز‬َ‫ج‬‫ح‬ِ‫ب‬ٌُ‫ذ‬ ِ‫اُآخ‬َ‫ن‬َ‫أ‬َ‫ا،ُو‬َ‫ه‬ْ‫ن‬َ‫ع‬َُّ‫ن‬‫ه‬ُ ِ‫ار‬َّ‫ن‬‫ُال‬ْ‫َن‬‫ع‬ُْ‫م‬‫ك‬ ‫ي‬ِ‫د‬َ‫ي‬ُْ‫ن‬ِ‫ُم‬َ‫ون‬‫ت‬َّ‫ل‬َ‫ف‬َ‫ت‬ُْ‫م‬‫ت‬ْ‫ن‬َ‫أ‬َ‫و‬ Dari Jabir bin Abdillah radhiyallâhu'anhu, beliau berkata:Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:“Perumpamaan diriku dengan kalian bagaikan seseorang yang menyalakan api, lalu mulailah laron-laron dan kupu-kupu berjatuhan pada api itu, sedangkan ia selalu mengusirnya (serangga-serangga tersebut) dari api tersebut. Dan aku (selalu berusaha) memegang (menarik) ujung-ujung pakaian kalian agar kalian tidak terjerumus ke dalam neraka, namun kalian (selalu) terlepas dari tanganku”. HR Muslim (4/1790 no. 2285), dan lain-lain. Hadits ini dibawakan pula oleh al-Imam al-Qurthubi rahimahullâh di dalam tafsirnya (20/153).
  • 9.
    ‫و‬ُ‫ف‬ْ‫ن‬ََْ‫ل‬‫ا‬ ِ‫ن‬ْ‫ه‬ِ‫ْع‬‫ل‬‫ا‬َ‫ك‬ ُ‫ال‬َِْْ‫ْل‬‫ا‬ُ‫ن‬‫و‬ُ‫ك‬َ‫ت‬َ‫و‬، ِِ 5. dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Sebagian besar ulama menafsirkan lafazh al-‘Ihn (ُ‫ن‬ْ‫ح‬ِ‫ع‬‫)ال‬ dengan makna ash-Shuf (ُ‫وؤ‬ُّ‫ص‬‫.)ال‬ Yaitu bulu atau kapas. • Berdasarkan penjelasan ayat keempat dan kelima di atas, dapat kita pahami, salah satu kejadian yang dahsyat pada hari Kiamat adalah berubahnya keadaan manusia, sehingga ia bagaikan kupu-kupu atau belalang yang beterbangan, bertebaran dengan bercampur-baur dan tidak tentu arahnya. Demikian pula dengan gunung-gunung yang sebelumnya berdiri tegak dan kokoh, maka pada hari itu, gunung-gunung bagaikan bulu berhamburan. Seluruh makhluk Allâh Ta'ala yang kuat dan kokoh, pada saat itu kehilangan seluruh kekuatannya, karena demikian dahsyatnya hari Kiamat (Tafsir Adhwa’ul-Bayan (9/71) Syaikh Muhammad al-Amin asy- Syinqithi rahimahullâh ).
  • 10.
    • Adapun keadaangunung-gunung secara khusus pada hari itu, sebagaimana dijelaskan para ulama, mula-mulanya gunung-gunung digerakkan dan dipindahkan dari tempatnya, kemudian benar-benar diluluh-lantakkan bagaikan bulu-bulu yang dihambur-hamburkan, sebagaimana diterangkan pada ayat kelima surat al-Qari'ah ini, hingga akhirnya gunung-gunung itu menjadi debu yang bertebaran dan bahkan menjadi fatamorgana. ُ‫ال‬َِْْ‫ْل‬‫ا‬ ِ‫ت‬َ‫ن‬‫ا‬َ‫ك‬َ‫و‬ ُ‫ال‬َِْْ‫ْل‬‫ا‬َ‫و‬ ُ‫ض‬ْ‫ر‬َْ‫اْل‬ ُ‫ف‬ُ‫ج‬ْ‫َر‬َ‫ت‬ َ‫م‬ْ‫و‬َ‫ي‬‫ا‬ً‫ي‬ِ‫ه‬َ‫م‬ ‫ا‬‫ا‬ْ‫ي‬َُِ‫ك‬(14) Pada hari bumi dan gunung-gunung bergoncangan, dan menjadilah gunung-gunung itu tumpukan-tumpukan pasir yang beterbangan. (QS al Muzzammil [73] : 14) ‫ا‬‫اب‬َ‫َر‬َ‫س‬ ْ‫ت‬َ‫ن‬‫ا‬َ‫ك‬َ‫ف‬ ُ‫ال‬َِْْ‫ْل‬‫ا‬ ِ‫ت‬َ‫ر‬ِ‫ِي‬ُ‫س‬َ‫و‬(20) Dan dijalankanlah gunung-gunung, maka menjadi fatamorganalah ia. (QS an Naba‘ [78] : 20)
  • 11.
    ُ‫ه‬ُ‫ين‬ِ‫ز‬‫ا‬َ‫و‬َ‫م‬ ْ‫ت‬َ‫ل‬ُ‫ق‬َ‫ث‬ ْ‫ن‬َ‫م‬‫ا‬َّ‫َم‬‫أ‬َ‫ف‬، 6. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan) nya,  Ayat ini menegaskan akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang berkaitan dengan rukun iman kelima. Bahwa salah satu perwujudan beriman kepada hari akhir adalah meyakini adanya mizan (timbangan) pada hari Kiamat kelak. Barangsiapa yang berat amalan kebaikannya, maka akan mendapatkan kehidupan yang baik, dan demikian sebaliknya.  Di antara dalil lainnya dari al Qur‘an yang menunjukkan adanya mizan (timbangan) pada hari Akhir, yaitu firman Allâh Ta'ala , yang artinya: َُ‫ل‬َ‫ف‬ُِ‫ة‬َ‫م‬‫ا‬َ‫ي‬ِ‫ق‬ْ‫ل‬‫ُا‬ِ‫م‬ ْ‫و‬َ‫ي‬ِ‫ل‬َُ‫ط‬ْ‫س‬ِ‫ق‬ْ‫ل‬‫ُا‬َ‫ين‬ ِ‫از‬َ‫و‬َ‫م‬ْ‫ل‬‫ُا‬‫ع‬َ‫ض‬َ‫ن‬ َ‫و‬ُْ‫ث‬ِ‫ُم‬َ‫َان‬‫ك‬ُْ‫ن‬ِ‫إ‬َ‫ًاُو‬‫ئ‬ْ‫ي‬َ‫ش‬ُ ٌ‫س‬ْ‫ف‬َ‫ن‬ُ‫م‬َ‫ل‬ْ‫ظ‬‫ت‬ُْ‫ن‬ِ‫ُم‬ٍ‫ة‬َّ‫ب‬َ‫ح‬َُ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬ َُ‫ين‬ِ‫ب‬ِ‫س‬‫ا‬َ‫ح‬ُ‫ا‬َ‫ن‬ِ‫ب‬ُ‫ى‬َ‫ف‬َ‫ك‬َ‫اُو‬َ‫ه‬ِ‫ب‬ُ‫ا‬َ‫ن‬ْ‫ي‬َ‫ت‬َ‫ُأ‬ٍ‫ل‬َ‫د‬ْ‫ر‬َ‫خ‬(47)  Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun, dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya, dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan. (QS al-Anbiya‘ [21] : 47)
  • 12.
    • Begitu pulabanyak hadits shahih yang menunjukkan adanya mizan (timbangan) pada Hari Akhir, sebagaimana hadits-hadits berikut ini. • Hadits Abu Hurairah radhiyallâhu'anhu, beliau berkata: Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda: “(Ada) dua perkataan yang ringan, (namun) berat dalam mizan (timbangan) dan dicintai oleh ar-Rahman (Allâh Ta'ala ), (yaitu) Subhanallahi wa bihamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi- Nya), Subhanallahil ‘Azhim (Maha Suci Allah Yang Maha Agung)”. HR al Bukhari (5/2352, 6/2459, 2749), Muslim (4/2072 no. 2694),
  • 13.
    ٍ‫ة‬َ‫ي‬ِ‫اض‬َ‫ر‬ ٍ‫ة‬َ‫ش‬‫ي‬ِ‫ع‬ ِ‫ِف‬َ‫و‬ُ‫ه‬َ‫ف‬ 7. maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Para ulama menjelaskan, yang dimaksud dengan kehidupan yang memuaskan adalah kehidupan di surga. [Lihat Jami’ul-Bayan ‘an Ta’wil Ayil-Qur`an (30/342), Tafsir Ibnu Katsir (8/468) dan Taisir al- Karimir-Rahman (2/1192)].
  • 14.
    Ayat : 8,9 dan 10 8. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan) nya, 9. maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. 10. Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? 11. (Yaitu) api yang sangat panas. .8َ‫خ‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ ‫ا‬َّ‫َم‬‫أ‬َ‫و‬ْ‫ت‬َّ‫ف‬ ،ُ‫ه‬ُ‫ين‬ِ‫ز‬‫ا‬َ‫و‬َ‫م‬ .9ِ‫و‬‫ا‬َ‫ه‬ ُ‫ه‬ُّ‫م‬ُ‫أ‬َ‫ف‬،ٌ‫ة‬َ‫ي‬ .10‫ا‬َ‫م‬ َ‫اك‬َ‫ر‬ْ‫د‬َ‫أ‬ ‫ا‬َ‫وم‬ْ‫ه‬َ‫ي‬ِ‫ه‬ .11ٌ‫ة‬َ‫ي‬ِ‫ام‬َ‫ح‬ ٌ‫َنر‬
  • 15.
    ،ٌ‫ة‬َ‫ي‬ِ‫و‬‫ا‬َ‫ه‬ ُ‫ه‬ُّ‫ُم‬‫أ‬َ‫ف‬ 9. makatempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. • Terdapat tiga penafsiran di kalangan para ulama terhadap makna ayat ke-9 : • Pertama, maknanya adalah, ia jatuh dan masuk ke dalam neraka dengan ujung kepalanya lebih dahulu. Kedua, ayat tersebut merupakan ungkapan dalam bahasa Arab, dilontarkan bagi orang yang terjatuh ke dalam permasalahan yang berat dan menyulitkan. Ketiga, maknanya, tempat tinggal dan kembalinya adalah neraka. Sehingga, menurut penafsiran yang ketiga ini, hawiyah (‫ة‬َ‫ي‬ِ‫و‬‫ا‬َ‫ه‬) merupakan salah satu dari nama-nama neraka.
  • 16.
    ٌ‫ة‬َ‫ي‬ِ‫ام‬َ‫ح‬ ٌ‫َنر‬ 11. (Yaitu)api yang sangat panas. • Ada beberapa hadits shahih yang maknanya berkaitan erat dengan ayat terakhir ini, di antaranya sebagai berikut : • Hadits Abu Hurairah radhiyallâhu'anhu, beliau berkata: Sesungguhnya Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda: “Api kalian ini, yang dinyalakan manusia hanyalah sebagian dari tujuh puluh bagian panasnya neraka Jahannam”. Mereka berkata: “Demi Allah, api ini sudah cukup (panas), wahai Rasûlullâh!”. Beliau bersabda,”Sesungguhnya api neraka Jahannam lebih (panas) sebanya kenam puluh sembilan kali (dari api di dunia). Tiap-tiap bagiannya sama panasnya”. HR al-Bukhari (3/1191), Muslim (4/2184 no. 2843), dan lain-lain. Dan ini lafazh Shahih Muslim.