Siti Khusnul Khotimah, S.Gz
PENILAIAN
STATUS GIZI
SECARA
BIOKIMIA
1.Mahasiswa wajib hadir tepat waktu paling lambat 15 menit.
2.Wajib On Vidio
3.Memakai baju sopan ( laki2 tdk boleh menggunakan kaos (oblong), wanita
wajib berhijab.
4.Aktif Ketika diskusi dan tanya jawab
5.Jika peraturan no 1-3 tdk di laksanakan langsung out keluar dr zoom.
6.Mahasiswa yg tdk masuk mengikuti perkuliahan akan mendapatkan tugas (
apapun alasannya semua akan mendapatkan tugas )
Kontrak perkuliahan
PEMERIKSAAN BIOKIMIA
Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan
specimen yang diuji secara laboratories yang dilakukan pada
berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang sering
digunakan antara lain : darah, urine, feses dan jaringan tubuh
lain seperti hati & otot.
Pemeriksaan biokimia dalam penilaian status gizi
memberikan hasil yang lebih tepat dan objektif dari pada
pemeriksaan lain, karena dapat mendeteksi defisiensi zat gizi
lebih dini.
Cara Pemeriksaan
Hasil pengukuran di bandingkan dengan
standar normal yang telah di tetapkan.
Pemeriksaan Biokimia Zat Gizi
01 Penilaian Status Zat Besi
02 Penilaian Status Protein
03 Penilaian Status Vitamin
04 Penilaian Status Mineral
Beberapa jenis zat gizi yang di uji secara
biokimia :
01 Kurang Energi Protein (KEP)
02 Kurang Vitamin A (KVA)
03 Anemia Gizi Besi (AGB)
04 Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI)
Pemeriksaan status
zat besi (Fe)
1. Hemoglobin (Hb)
2. Hematokrit (HCT)
6. Free Eritrocytes protophophyrin (FEP)
5. Transferrin Saturation (TS)
4. Ferritin Serum (SF)
3. Besi Serum
Parameter yang di gunakan u/ menetapkan prevalensi anemia, hemoglobin
adalah senyawa pembawa O² pada sel darah merah. Kandungan Hb yg rendah
mengindikasi anemia.
Metode pemeriksaan :
1. Sederhana : Sahli
2. Modern : cyanmethemoglobin
Nilai normal:
Wanita - 14 - 18 g/dl
Laki2 - 12 - 16 g/dl
Anak2 ( 2-6 th ) - 11,5 – 13,5 g/dl
1. Hemoglobin (Hb)
HCT merupakan volume eritrosit (sel darah merah) yang di pisahkan dng plasma dan
dinyatakan dng %.
Nilai normal HCT :
Pria 40-54%
Wanita 37-47%
Nilai HCT biasanya 3x nilai HB ( dng menganggap tdk terdapat tanda hipokromia 
kadar O² rendah dlm darah )
Abnormal :
Kurang  Anemia
Lebih  Polisithademia
2. Hematokrit (HCT)
 Besi serum  Jumlah Fe yang terikat pd transferrin
 Total iron binding capacity (TIBC)  Jumlah besi yang diikat dari transferrin
bebas
 Kadar Fe berbanding terbalik dgn kadar TIBC
TS =
𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝐹𝑒 𝑆𝑒𝑟𝑢𝑚
𝑇𝐼𝐵𝐶
𝑥 100%
Apabila TS > 16 %, pembentukan sel-sel darah merah dalam sumsum tulang
berkurang dan keadaan ini disebut defisiensi besi untuk eritropoiesis.
*Eritropoiesis adalah proses produksi dan maturasi (pematangan) sel darah merah atau eritrosit.
Proses maturasi tersebut terjadi di dalam sumsum tulang.
3. Besi Serum 4. Transferrin Saturation (TS)
&
 Protein Fe simpanan  dalam hati dan plasma
 Ferritin dalam darah menggambarkan seberapa banyak simpanan zat Fe dalam hati.
Normal :
♀ : 40 µg/l
♂ : 30 µg/l 14
Apabila > 14 thn kadar SF < 12 µg/l  kurang cadangan besi
Anak sampai 14 thn : defisiensi bila SF < 10 µg/l
Metode :
Immuno Radio Metric Assay (IRMA)
Radio Immuno Assay (RIA)
Enzyme Linked Immuno Assay (ELISA)
Feritin serum (SF)
 Normal  FEP 35 ± 50 µg/dl sel darah merah
 FEP dalam darah > 100 µg/dl SDM  defisiensi Fe
 Meningkatnya protophophyrin = indikator ketidakcukupan
suplai besi
Free Eritrocytes protophophyrin (FEP)
Penilaian Status Protein
Sebagai transport yang penting untuk
zat-zat gizi tertentu.
Sebagai antibody dr berbagai penyakit
terutama dr gamma globulin ( antibody
u/ mencegah atau mengobati infeksi ).
Untuk mengatur aliran darah, dalam
membantu kerja jantung.
Untuk mengontrol pendarahan (
terutama dr fibrinogen).
Sebagai cadangan protein tubuh.
Untuk mengatur tekanan air, dengan
adanya tekanan osmosis dr plasma
protein.
Di dalam darah
terdapat 3
fraksi protein
Albumin  kadar normal : 3,5-5
g/100 ml
Globulin  kadar normal : 1,5-3
g/100 ml
Fibrinogen  kadar normal : 0,2-
0,6 g/100 ml
Pemeriksaan biokimia terhadap status protein di
bagi menjadi 2 bagian yaitu penilaian terhadap :
1. Protein somatic 75%
2. Protein viseral 25%
Protein somatik terdapat pada otot rangka,
sedangkan protein visseral terdapat di dlm hati.
Penentuan serum protein dalam tubuh meliputi :
albumin, transferin, prealbumin ( yang dikenal jg dengan
transthyertin dan thyroxin-binding prealbumin ), retinol
binding protein (RBP), insulin-like growth factor-1 dan
fibronektin.
Secara Somatic
Ekskresi creatinin urine :
CHI=
𝐸𝑥𝑘𝑟𝑒𝑠𝑖 𝑐𝑟𝑒𝑎𝑡𝑖𝑛𝑖𝑛 𝑈𝑟𝑖𝑛/24 𝑗𝑎𝑚
𝑒𝑥𝑘𝑟𝑒𝑠𝑖 𝑐𝑟𝑒𝑎𝑡𝑖𝑛𝑖𝑛 𝑝𝑒𝑟 𝑐𝑚 𝑇𝐵 (𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙)
𝑥 100%
Ket: CHI = creatinin high index
Persentase defisit: 100-CHI (%)
Kriteria:
CHI : 5-15% : Defisiensi ringan
CHI : 15-30% : Sedang
CHI : >30% : Berat
Persentase defisit
85-95 : Defisiensi ringan
70-85 : Sedang
<70 : Berat 20
Secara Somatic
 Mengukur status protein dng asumsi
penurunan serum protein akibat penurunan
produksi di dlm hati.
 Total serum protein
 Serum albumin
Prosedur Penentuan:
 Melakukan pengamatan pada percobaan secara kimia pada
reaksi ion CU2+ dalam reagen biuret beraksi dengan peptida (-
CONH)
 Reaksi  senyawa peptida berwarna violet
 Alat: Spectrophotometer
Serum Protein
Penilaian Status Vitamin
Penilaian status vitamin yang terkait dengan
penentuan status gizi meliputi, vitamin A, vitamin D,
vitamin E, vitamin C, tiamin, riboflavin, niasin, Vitamin
B⁶, dan Vitamin B¹².
Vitamin A
Kadar vitamin A dlm plasma bukan merupakan indikator kekurangan vitamin A yg
dini, sebab deplesi terjadi jauh sebelumnya. Apabila sudah terdapat kelainan mata, kadar
vit.A serum sudah sangat rendah (kurang dari 5 µg/100 ml), begitu jg kadar RBP-nya (<20
µg/100 ml).
Konsentrasi Vit.A dlm hati merupakan indikator yang baik untuk, menentukan status
vitamin A, pada umumnya konsentrasi vit.A penderita KEP rendah yaitu < 15 µg/g jaringan
hati.
Metode :
HPLC (high performance liquid chromatography)
Kolorimeter Method UV-Spektro Tehnik
Kekurangan ini dapat mengakibatkan penyakit rakitis dan
tetanus. Apabila terjadi pada masa pertumbuhan akan timbul
osteomalasia. Sangat jarang ditemukan rakitis bawaan, insidens
tertinggi terdapat pada umur 18 tahun.
Kekurangan vit.D menimbulkan klasifikasi tulang yg tidak
normal akibat rendahnya saturasi kalsium dan fosfor dalam cairan
tubuh. Keadaan resorpsi tulang akan melebihi pembentukannya
hingga menyebabkan demineralisasi umum pada rangka yang
berakibat menjadi lunaknya tulang-tulang serta deformitas toraks,
tulang punggung, pelvis, dan tulang-tulang Panjang.
Vitamin D
Beberapa zat yang berhubungan dng aktivitas vitamin D adalah:
1. Vitamin D₂ (ersokalsiferol) yg dihasilkan oleh radiasi ersoterol (dlm tumbuh2an)
secara artifisial dng sinar ultra violet.
2. Vitamin D₃ (kolekalsiferol) yg dihasilkan oleh radiasi pada kulit manusia dng
komponen ultraviolet sinar matahari dan jg terdapat secara alamiah pada sumber
makanan hewani. Kolekalsiferol di konversi di dlm hati dan mungkin usus mnjdi 25
(OH) kolekalsiferol.
Pada pemeriksaan biokimia penderita rakhitis di temukan hasil :
1. Kadar kalsium normal atau lebih
2. Kadar fosfor rendah
3. Kadar fosfatase meninggi
4. Kadar 25 (OH) vit.D di bawah 4 mg/ml
Penilaian Status Mineral
Meliputi: Iodine, Zink, Kalsium, Fosfor, Magnesium, Krom, Tembaga,
Selenium
Pemeriksaan Yodium
Indikator:
 Ekskresi dalam urine :
Normal > 50 µg/dl
Hipo (sedang) < 25-50 µg/dl
Kretin (berat) < 25 µg/dl
 TSH (tyroid stimulation hormone) dalam darah:
Normal 0,5-4,7 µg/dl
01 Kurang Energi Protein (KEP)
Pada masalah KEP analisis bikimia yg dilakukan  analisis
terkait nilai protein tertentu dlm darah / hasil metabolit
proten dalm darah & protein yg di keluarkan bersama-
sama urin. Jenis protein yang nilainya menggambarkan
status gizi seseorang berubah waktu-kewaktu. Status gizi
berdasarkan nilai pre albumin dapat dilihat pada tabel 17.
Kurang Vitamin A
Anemia Gizi Besi (AGB)
AG  suatu keadaan ketika kadar HB dlm darah <
normal, yg berbeda setiap kelompok umur & jenis
kelamin. AGB merupakan masalah gizi utama bagi
semua klmpok umur dng prevalensi paling tinggi pd
klmpok ibu hamil -- > 70% dan bekerja
berpenghasilan rendah (40%). Prevalensi anemia pd
usia sekolah sekitar 30%, dan pada anak balita
sekitar 40% .
Nilai ambang batas ( cut of point ) --> penentuan status anemia menurut WHO
dapat dilihat pada tabel :
Gangguan Akibat Kekurangan
Iodium (GAKI)
GAKI  rangkaian kondisi kekurangan iodium
pd tumbuh kembang manusia. Rangkaian
tersebut seluruhnya terdiri dr gondok dlm dlm
beragai stadium, kreatin endemik yg ditandai
terutama oleh gangguan mental, gangguan
pendengaran, gangguan pertumbuhan pd
anak & orang dewasa, kadar hormon rendah,
angka lahir & kematian bayi meningkat.
Beberapa cara untuk mengetahui masalah GAKI pada masyarakat
cukup dengan melakukan survei pada usia anak sekolah, usia 6-12 th.
Di samping itu cara lain adalah melakukan pemeriksaan kadar tiroit
stimulating hormon (TSH) dlm darah & mengukur ekskresi iodium dlm
urin.
Defisien iodium  penyebab utama gondok endmik.
Tahapan keparahan gondok endemik :
Tahap 1  rata-rata > 50 µg/dl kratinin dlm urin  suplay hormon
tiroid cukup u/ perkembangan fisik & mental normal.
Tahap 2  ekskresi iodium dlm urin rata2 25-50 µg/dl kreatinin
 tdk cukup sehingga risiko hipotiroidisme, tetapi tdk sampai
kreatinisme.
Tahap 3  ekskresi iodium dlm urin rata2 25 µg/dl kratinin  pd
kondisi ini populasi memiliki risiko menderita kreatinisme.
Keunggulan
1. Dapat mendeteksi defisiensi zat gizi
lebih dini
2. Lebih objectif krn menggunakan
peralatan yg selalu di tera (ukuran yg
pas/akurat)).
3. Harus dilakukan oleh tenaga ahli.
4. Dapat menujang pemeriksaan metode
lain dlm penilaian status gizi
Kelemahan
1. hanya dapat dilakukan setelah gangguan metabolisme
terjadi.
2. Biaya yg cukup mahal
3. Kurang praktis  memerlukan alat yg bbrapa tdk
mudah di bawa ke mana2.
4. Spesimen sulit di peroleh  penderita tdk mau di
ambil.
5. Tenaga ahli
6. Membutuhkan peralatan dan bahan yg lebih bnyak
7. Bbrpa pemeriksaan harus ke laboratorium pusat, tdk
dapat di lakukan di daerah.
8. Blm ada keseragamannilai rujukan ( nilai normal) yg
seragam, tdk sllu dikelompokkan menurut klmpok umur
yg terperinci.
Kesimpulan
THANK YOU!
Do you have any questions for us?

Psg biokimia

  • 1.
    Siti Khusnul Khotimah,S.Gz PENILAIAN STATUS GIZI SECARA BIOKIMIA
  • 2.
    1.Mahasiswa wajib hadirtepat waktu paling lambat 15 menit. 2.Wajib On Vidio 3.Memakai baju sopan ( laki2 tdk boleh menggunakan kaos (oblong), wanita wajib berhijab. 4.Aktif Ketika diskusi dan tanya jawab 5.Jika peraturan no 1-3 tdk di laksanakan langsung out keluar dr zoom. 6.Mahasiswa yg tdk masuk mengikuti perkuliahan akan mendapatkan tugas ( apapun alasannya semua akan mendapatkan tugas ) Kontrak perkuliahan
  • 3.
    PEMERIKSAAN BIOKIMIA Penilaian statusgizi dengan biokimia adalah pemeriksaan specimen yang diuji secara laboratories yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang sering digunakan antara lain : darah, urine, feses dan jaringan tubuh lain seperti hati & otot. Pemeriksaan biokimia dalam penilaian status gizi memberikan hasil yang lebih tepat dan objektif dari pada pemeriksaan lain, karena dapat mendeteksi defisiensi zat gizi lebih dini.
  • 4.
    Cara Pemeriksaan Hasil pengukurandi bandingkan dengan standar normal yang telah di tetapkan.
  • 5.
    Pemeriksaan Biokimia ZatGizi 01 Penilaian Status Zat Besi 02 Penilaian Status Protein 03 Penilaian Status Vitamin 04 Penilaian Status Mineral Beberapa jenis zat gizi yang di uji secara biokimia :
  • 6.
    01 Kurang EnergiProtein (KEP) 02 Kurang Vitamin A (KVA) 03 Anemia Gizi Besi (AGB) 04 Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI)
  • 7.
    Pemeriksaan status zat besi(Fe) 1. Hemoglobin (Hb) 2. Hematokrit (HCT) 6. Free Eritrocytes protophophyrin (FEP) 5. Transferrin Saturation (TS) 4. Ferritin Serum (SF) 3. Besi Serum
  • 8.
    Parameter yang digunakan u/ menetapkan prevalensi anemia, hemoglobin adalah senyawa pembawa O² pada sel darah merah. Kandungan Hb yg rendah mengindikasi anemia. Metode pemeriksaan : 1. Sederhana : Sahli 2. Modern : cyanmethemoglobin Nilai normal: Wanita - 14 - 18 g/dl Laki2 - 12 - 16 g/dl Anak2 ( 2-6 th ) - 11,5 – 13,5 g/dl 1. Hemoglobin (Hb)
  • 9.
    HCT merupakan volumeeritrosit (sel darah merah) yang di pisahkan dng plasma dan dinyatakan dng %. Nilai normal HCT : Pria 40-54% Wanita 37-47% Nilai HCT biasanya 3x nilai HB ( dng menganggap tdk terdapat tanda hipokromia  kadar O² rendah dlm darah ) Abnormal : Kurang  Anemia Lebih  Polisithademia 2. Hematokrit (HCT)
  • 10.
     Besi serum Jumlah Fe yang terikat pd transferrin  Total iron binding capacity (TIBC)  Jumlah besi yang diikat dari transferrin bebas  Kadar Fe berbanding terbalik dgn kadar TIBC TS = 𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝐹𝑒 𝑆𝑒𝑟𝑢𝑚 𝑇𝐼𝐵𝐶 𝑥 100% Apabila TS > 16 %, pembentukan sel-sel darah merah dalam sumsum tulang berkurang dan keadaan ini disebut defisiensi besi untuk eritropoiesis. *Eritropoiesis adalah proses produksi dan maturasi (pematangan) sel darah merah atau eritrosit. Proses maturasi tersebut terjadi di dalam sumsum tulang. 3. Besi Serum 4. Transferrin Saturation (TS) &
  • 11.
     Protein Fesimpanan  dalam hati dan plasma  Ferritin dalam darah menggambarkan seberapa banyak simpanan zat Fe dalam hati. Normal : ♀ : 40 µg/l ♂ : 30 µg/l 14 Apabila > 14 thn kadar SF < 12 µg/l  kurang cadangan besi Anak sampai 14 thn : defisiensi bila SF < 10 µg/l Metode : Immuno Radio Metric Assay (IRMA) Radio Immuno Assay (RIA) Enzyme Linked Immuno Assay (ELISA) Feritin serum (SF)
  • 12.
     Normal FEP 35 ± 50 µg/dl sel darah merah  FEP dalam darah > 100 µg/dl SDM  defisiensi Fe  Meningkatnya protophophyrin = indikator ketidakcukupan suplai besi Free Eritrocytes protophophyrin (FEP)
  • 13.
    Penilaian Status Protein Sebagaitransport yang penting untuk zat-zat gizi tertentu. Sebagai antibody dr berbagai penyakit terutama dr gamma globulin ( antibody u/ mencegah atau mengobati infeksi ). Untuk mengatur aliran darah, dalam membantu kerja jantung. Untuk mengontrol pendarahan ( terutama dr fibrinogen). Sebagai cadangan protein tubuh. Untuk mengatur tekanan air, dengan adanya tekanan osmosis dr plasma protein.
  • 14.
    Di dalam darah terdapat3 fraksi protein Albumin  kadar normal : 3,5-5 g/100 ml Globulin  kadar normal : 1,5-3 g/100 ml Fibrinogen  kadar normal : 0,2- 0,6 g/100 ml
  • 15.
    Pemeriksaan biokimia terhadapstatus protein di bagi menjadi 2 bagian yaitu penilaian terhadap : 1. Protein somatic 75% 2. Protein viseral 25% Protein somatik terdapat pada otot rangka, sedangkan protein visseral terdapat di dlm hati. Penentuan serum protein dalam tubuh meliputi : albumin, transferin, prealbumin ( yang dikenal jg dengan transthyertin dan thyroxin-binding prealbumin ), retinol binding protein (RBP), insulin-like growth factor-1 dan fibronektin.
  • 16.
    Secara Somatic Ekskresi creatininurine : CHI= 𝐸𝑥𝑘𝑟𝑒𝑠𝑖 𝑐𝑟𝑒𝑎𝑡𝑖𝑛𝑖𝑛 𝑈𝑟𝑖𝑛/24 𝑗𝑎𝑚 𝑒𝑥𝑘𝑟𝑒𝑠𝑖 𝑐𝑟𝑒𝑎𝑡𝑖𝑛𝑖𝑛 𝑝𝑒𝑟 𝑐𝑚 𝑇𝐵 (𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙) 𝑥 100% Ket: CHI = creatinin high index Persentase defisit: 100-CHI (%) Kriteria: CHI : 5-15% : Defisiensi ringan CHI : 15-30% : Sedang CHI : >30% : Berat Persentase defisit 85-95 : Defisiensi ringan 70-85 : Sedang <70 : Berat 20 Secara Somatic  Mengukur status protein dng asumsi penurunan serum protein akibat penurunan produksi di dlm hati.  Total serum protein  Serum albumin
  • 17.
    Prosedur Penentuan:  Melakukanpengamatan pada percobaan secara kimia pada reaksi ion CU2+ dalam reagen biuret beraksi dengan peptida (- CONH)  Reaksi  senyawa peptida berwarna violet  Alat: Spectrophotometer Serum Protein
  • 21.
    Penilaian Status Vitamin Penilaianstatus vitamin yang terkait dengan penentuan status gizi meliputi, vitamin A, vitamin D, vitamin E, vitamin C, tiamin, riboflavin, niasin, Vitamin B⁶, dan Vitamin B¹².
  • 22.
    Vitamin A Kadar vitaminA dlm plasma bukan merupakan indikator kekurangan vitamin A yg dini, sebab deplesi terjadi jauh sebelumnya. Apabila sudah terdapat kelainan mata, kadar vit.A serum sudah sangat rendah (kurang dari 5 µg/100 ml), begitu jg kadar RBP-nya (<20 µg/100 ml). Konsentrasi Vit.A dlm hati merupakan indikator yang baik untuk, menentukan status vitamin A, pada umumnya konsentrasi vit.A penderita KEP rendah yaitu < 15 µg/g jaringan hati. Metode : HPLC (high performance liquid chromatography) Kolorimeter Method UV-Spektro Tehnik
  • 23.
    Kekurangan ini dapatmengakibatkan penyakit rakitis dan tetanus. Apabila terjadi pada masa pertumbuhan akan timbul osteomalasia. Sangat jarang ditemukan rakitis bawaan, insidens tertinggi terdapat pada umur 18 tahun. Kekurangan vit.D menimbulkan klasifikasi tulang yg tidak normal akibat rendahnya saturasi kalsium dan fosfor dalam cairan tubuh. Keadaan resorpsi tulang akan melebihi pembentukannya hingga menyebabkan demineralisasi umum pada rangka yang berakibat menjadi lunaknya tulang-tulang serta deformitas toraks, tulang punggung, pelvis, dan tulang-tulang Panjang. Vitamin D
  • 24.
    Beberapa zat yangberhubungan dng aktivitas vitamin D adalah: 1. Vitamin D₂ (ersokalsiferol) yg dihasilkan oleh radiasi ersoterol (dlm tumbuh2an) secara artifisial dng sinar ultra violet. 2. Vitamin D₃ (kolekalsiferol) yg dihasilkan oleh radiasi pada kulit manusia dng komponen ultraviolet sinar matahari dan jg terdapat secara alamiah pada sumber makanan hewani. Kolekalsiferol di konversi di dlm hati dan mungkin usus mnjdi 25 (OH) kolekalsiferol. Pada pemeriksaan biokimia penderita rakhitis di temukan hasil : 1. Kadar kalsium normal atau lebih 2. Kadar fosfor rendah 3. Kadar fosfatase meninggi 4. Kadar 25 (OH) vit.D di bawah 4 mg/ml
  • 25.
    Penilaian Status Mineral Meliputi:Iodine, Zink, Kalsium, Fosfor, Magnesium, Krom, Tembaga, Selenium Pemeriksaan Yodium Indikator:  Ekskresi dalam urine : Normal > 50 µg/dl Hipo (sedang) < 25-50 µg/dl Kretin (berat) < 25 µg/dl  TSH (tyroid stimulation hormone) dalam darah: Normal 0,5-4,7 µg/dl
  • 26.
    01 Kurang EnergiProtein (KEP) Pada masalah KEP analisis bikimia yg dilakukan  analisis terkait nilai protein tertentu dlm darah / hasil metabolit proten dalm darah & protein yg di keluarkan bersama- sama urin. Jenis protein yang nilainya menggambarkan status gizi seseorang berubah waktu-kewaktu. Status gizi berdasarkan nilai pre albumin dapat dilihat pada tabel 17.
  • 27.
  • 28.
    Anemia Gizi Besi(AGB) AG  suatu keadaan ketika kadar HB dlm darah < normal, yg berbeda setiap kelompok umur & jenis kelamin. AGB merupakan masalah gizi utama bagi semua klmpok umur dng prevalensi paling tinggi pd klmpok ibu hamil -- > 70% dan bekerja berpenghasilan rendah (40%). Prevalensi anemia pd usia sekolah sekitar 30%, dan pada anak balita sekitar 40% .
  • 29.
    Nilai ambang batas( cut of point ) --> penentuan status anemia menurut WHO dapat dilihat pada tabel :
  • 30.
    Gangguan Akibat Kekurangan Iodium(GAKI) GAKI  rangkaian kondisi kekurangan iodium pd tumbuh kembang manusia. Rangkaian tersebut seluruhnya terdiri dr gondok dlm dlm beragai stadium, kreatin endemik yg ditandai terutama oleh gangguan mental, gangguan pendengaran, gangguan pertumbuhan pd anak & orang dewasa, kadar hormon rendah, angka lahir & kematian bayi meningkat.
  • 31.
    Beberapa cara untukmengetahui masalah GAKI pada masyarakat cukup dengan melakukan survei pada usia anak sekolah, usia 6-12 th. Di samping itu cara lain adalah melakukan pemeriksaan kadar tiroit stimulating hormon (TSH) dlm darah & mengukur ekskresi iodium dlm urin.
  • 32.
    Defisien iodium penyebab utama gondok endmik. Tahapan keparahan gondok endemik : Tahap 1  rata-rata > 50 µg/dl kratinin dlm urin  suplay hormon tiroid cukup u/ perkembangan fisik & mental normal. Tahap 2  ekskresi iodium dlm urin rata2 25-50 µg/dl kreatinin  tdk cukup sehingga risiko hipotiroidisme, tetapi tdk sampai kreatinisme. Tahap 3  ekskresi iodium dlm urin rata2 25 µg/dl kratinin  pd kondisi ini populasi memiliki risiko menderita kreatinisme.
  • 33.
    Keunggulan 1. Dapat mendeteksidefisiensi zat gizi lebih dini 2. Lebih objectif krn menggunakan peralatan yg selalu di tera (ukuran yg pas/akurat)). 3. Harus dilakukan oleh tenaga ahli. 4. Dapat menujang pemeriksaan metode lain dlm penilaian status gizi Kelemahan 1. hanya dapat dilakukan setelah gangguan metabolisme terjadi. 2. Biaya yg cukup mahal 3. Kurang praktis  memerlukan alat yg bbrapa tdk mudah di bawa ke mana2. 4. Spesimen sulit di peroleh  penderita tdk mau di ambil. 5. Tenaga ahli 6. Membutuhkan peralatan dan bahan yg lebih bnyak 7. Bbrpa pemeriksaan harus ke laboratorium pusat, tdk dapat di lakukan di daerah. 8. Blm ada keseragamannilai rujukan ( nilai normal) yg seragam, tdk sllu dikelompokkan menurut klmpok umur yg terperinci.
  • 34.
  • 35.
    THANK YOU! Do youhave any questions for us?