FAUNA TANAH
Biologi 2017 D
Nama Kelompok 1 :
Fauziah Khoirun Nisa 17030244003
Lintang Aurelia Syahri 17030244024
Helda Dwiya Lestari 17030244025
LATAR BELAKANG
 Tanah merupakan lingkungan yang terdiri dari gabungan
antara lingkungan abiotik dan biotik yang dapat dijadikan
sebagai tempat tinggal bagi bermacam makhluk hidup,
salah satunya adalah fauna tanah.
 Keberadaan dan kepadatan populasi suatu jenis hewan
tanah di suatu daerah sangat tergantung dari faktor
lingkungan, yaitu lingkungan abiotik dan lingkungan biotik
(Sugiyarto, 2007).
Rumusan Masalah
1. Bagaimana mengidentifikasi fauna tanah?
2. Bagaimana mengukur kelimpahan fauna tanah?
3. Bagaimana mendeskripsikan fauna tanah?
Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengidentifikasi fauna tanah
2. Mahasiswa dapat mengukur kelimpahan fauna tanah
3. Mahasiswa dapat mendeskripsikan fauna tanah
Alat dan Bahan
 Cangkul atau cetok
 Kertas dan pensil
 Kamera
 Termometer tanah
 pH meter tanah
 Kelembaban tanah
Prosedur
Ambil lokasi
dua tempat
dalam
tumpukan
serasah daun
di Rumah
Kompos
Unesa
Ukur masing-
masing
tempat
dengan
panjang,
lebar,
kedalaman
0,5 meter
Identifikasi
Fauna Tanah
dalam
tumpukan
serasah daun
Hitung
masing-
masing fauna
tanah
Catat
hasilnya
Hasil
Plot Nama Fauna Tanah Jumlah
1
Suhu : 31 °C
pH : 7,5
Kelembapan : 6,7
Ulat Gagak (Polydesmida sp.)
Tidak
terhingga
Cacing Tanah (Lumbricus terrestris) 30
Keong Semak (Bradybaena similaris) 7
Larva Kumbang Tanduk (Tenebrio molitor) 5
Kaki Seribu (Trigoniulus corrallinus) 3
Semut (Oechophila smaragdina)
Tidak
terhingga
Kutu Kayu (Oniscidea)
Tidak
terhingga
Hasil
Plot Nama Fauna Tanah Jumlah
2
Suhu : 31 °C
pH : 7
Kelembapan : 6,5
Kumbang Tanduk (Tenebrio molitor) 1
Ulat Gagak (Polydesmida sp.)
Tidak
terhingga
Cacing Tanah (Lumbricus terrestris) 6
Keong Semak (Bradybaena similaris) 1
Larva Kumbang Tanduk (Tenebrio molitor) 3
Kaki Seribu (Trigoniulus corrallinus) 1
Semut (Oechophila smaragdina)
Tidak
terhingga
Hasil
Nama Spesies Peran
Ulat Gagak (Polydesmida sp.) Sebagai penyeimbang ekositem dan rantai
makanan.
Cacing Tanah (Lumbricus terrestris) Spesies alami yang terbesar dari cacing
tanah, biasanya mencapai 20-25 cm ketika
dewasa, merupakan pengurai, sering
ditemukan di lingkungan yang mengandung
organik tinggi.
Kaki Seribu (Trigoniulus corrallinus) Peranannya sebagai penyeimbang
ekosistem dan rantai makanan, apabila
jumlahnya tidak stabil dapat terjadi
ketidakseimbangan predator dan mangsa
yang dapat menyebabkan mikroorganisme
berbahaya dapat berkembang.
Kutu Kayu (Oniscidea) Serangga sosial, sumber makanan
dari selulosa, merupakan pengurai.
Hasil
Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa peranan utama dari makrofauna tanah adalah untuk
menjaga stabilitas ekosistem, selain itu juga untuk menyuburkan tanah . Proses penyuburan
tanah dilakukan melalui beberapa proses antara lain.
(1) Menghancurkan jaringan secara fisik dan meningkatkan ketersediaan daerah bagi
akvifitas bakteri dan jamur
(2) Melakukan perombakan pada bahan pilihan seperti gula, selulosa dan sejenis lignin
(3) Mengubah sisa-sisa tumbuhan menjadi humus
(4) Menggabungkan bahan yang membusuk pada lapisan tanah bagian atas
(5) Membentuk bahan organik dan bahan mineral tanah.
Nama Spesies Peran
Semut (Oechophila smaragdina) Merupakan predator karna capit pada
mulut nya merupakan tipe pemotong
Larva Kumbang Tanduk (Tenebrio molitor)
dan Kumbang Tanduk (Oryctes rhinoceros)
Fase larva berwarna putih kekuningan
dengan panjang 7-10 cm. Daat dewasa
berwarna coklat kehitaman, bagian kepala
ada tanduk kecil. Merupakan hama bagi
tanaman.
Pembahasan
 Pada tanah alami, yang berperan sebagai bahan organik adalah
pembusukan tanaman dan binatang yang telah mati. Secara alami
proses penguraian bahan organik tergantung dari jumlah bahan organik,
keberadaan bakteri, pH, suhu, oksigen, waktu dan lain-lain.
 Keanekaragaman jenis fauna plot ke 1 lebih banyak daripada plot 2. Hal
ini karena kondisi lingkungan plot 1 tertutup oleh dedaunan (sampah
tanaman) yang mengering sehingga sangat kaya akan zat organik.
 Adanya bahan organik tanaman dimungkinkan dapat meningkatkan
aktivitas fauna tanah, karena bahan organik digunakan sebagai sumber
energi dan sumber makanan untuk kelangsungan hidupnya (Rasyid,
2014).
Pembahasan
Apablia terjadi kebakaran pada tumpukan serasah daun, kerugian
yang akan timbul terhadap keanekaragaman hayati dan kesehatan.
Apabila kebakaran ini terjadi, maka seluruh makhluk hidup akan
hangus terbakar dan makhluk hidup yang berhabitat di lingkungan
tersebut akan kehilangan tempat tinggal mereka. Seperti kebakaran
di Kalimantan yang menghanguskan lahan seluas 8,13 juta hektar
berdampak langsung dengan hilangnya sejumlah spesies flora dan
fauna tertentu (Tacconi, 2003).
Kebakaran ini juga berdampak buruk bagi masyarakat sekitar karena
timbulnya asap yang mengganggu kesehatan masyarakat terutama
masyarakat miskin, lanjut usia, ibu hamil dan anak balita seperti
infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), asma bronkial, bronkitis,
pneumonia, iritasi mata dan kulit. Selain itu, diduga kebakaran hutan
ini dapat menghasilkan racun dioksin, yang dapat menyebabkan
kanker dan kemandulan bagi wanita (Rumajomi, 2006).
KESIMPULAN
 Fauna tanah yang ada dalam tumpukan serasah daun di Rumah
Kompos Unesa terdiri dari:
1. Ulat Gagak (Polydesmida sp.)
2. Cacing Tanah (Lumbricus terrestris)
3. Keong Semak (Bradybaena similaris)
4. Larva Kumbang Tanduk (Tenebrio molitor)
5. Kaki Seribu (Trigoniulus corrallinus)
6. Semut (Oechophila smaragdina)
7. Kutu Kayu (Oniscidea)
8. Kumbang Tanduk (Tenebrio molitor)
 Fauna dengan kelimpahan terbanyak adalah ulat gagak, semut, dan
kutu kayu dengan jumlah tidak terhingga.
Daftar Pustaka
Rasyid, Fachmi. 2014. Permasalahan dan Dampak Kebakaran
Hutan. Jurnal Lingkar Widyaiswara. Vol 1 (4). Hal 47-59.
Rumajomi, H. B. 2006. Kebakaran Hutan Di Indonesia Dan
Dampaknya Terhadap Kesehatan. Institut Pertanian Bogor.
Sugiyarto, dkk. 2007. Preferensi Berbagai Jenis Makrofauna
Tanah Terhadap Sisa Bahan Organik Tanaman pada
Intensitas Cahaya Berbeda. Biodiversitas. Vol 7 (4). Hal 96
100
Tacconi, T., 2003. Kebakaran Hutan di Indonesia, Penyebab,
biaya dan implikasi kebijakan. Center for International
Forestry Research (CIFOR), Bogor, Indonesia. 22 hal.

PPT Ekologi: Fauna Tanah

  • 1.
    FAUNA TANAH Biologi 2017D Nama Kelompok 1 : Fauziah Khoirun Nisa 17030244003 Lintang Aurelia Syahri 17030244024 Helda Dwiya Lestari 17030244025
  • 2.
    LATAR BELAKANG  Tanahmerupakan lingkungan yang terdiri dari gabungan antara lingkungan abiotik dan biotik yang dapat dijadikan sebagai tempat tinggal bagi bermacam makhluk hidup, salah satunya adalah fauna tanah.  Keberadaan dan kepadatan populasi suatu jenis hewan tanah di suatu daerah sangat tergantung dari faktor lingkungan, yaitu lingkungan abiotik dan lingkungan biotik (Sugiyarto, 2007).
  • 3.
    Rumusan Masalah 1. Bagaimanamengidentifikasi fauna tanah? 2. Bagaimana mengukur kelimpahan fauna tanah? 3. Bagaimana mendeskripsikan fauna tanah? Tujuan 1. Mahasiswa dapat mengidentifikasi fauna tanah 2. Mahasiswa dapat mengukur kelimpahan fauna tanah 3. Mahasiswa dapat mendeskripsikan fauna tanah
  • 4.
    Alat dan Bahan Cangkul atau cetok  Kertas dan pensil  Kamera  Termometer tanah  pH meter tanah  Kelembaban tanah
  • 5.
    Prosedur Ambil lokasi dua tempat dalam tumpukan serasahdaun di Rumah Kompos Unesa Ukur masing- masing tempat dengan panjang, lebar, kedalaman 0,5 meter Identifikasi Fauna Tanah dalam tumpukan serasah daun Hitung masing- masing fauna tanah Catat hasilnya
  • 6.
    Hasil Plot Nama FaunaTanah Jumlah 1 Suhu : 31 °C pH : 7,5 Kelembapan : 6,7 Ulat Gagak (Polydesmida sp.) Tidak terhingga Cacing Tanah (Lumbricus terrestris) 30 Keong Semak (Bradybaena similaris) 7 Larva Kumbang Tanduk (Tenebrio molitor) 5 Kaki Seribu (Trigoniulus corrallinus) 3 Semut (Oechophila smaragdina) Tidak terhingga Kutu Kayu (Oniscidea) Tidak terhingga
  • 7.
    Hasil Plot Nama FaunaTanah Jumlah 2 Suhu : 31 °C pH : 7 Kelembapan : 6,5 Kumbang Tanduk (Tenebrio molitor) 1 Ulat Gagak (Polydesmida sp.) Tidak terhingga Cacing Tanah (Lumbricus terrestris) 6 Keong Semak (Bradybaena similaris) 1 Larva Kumbang Tanduk (Tenebrio molitor) 3 Kaki Seribu (Trigoniulus corrallinus) 1 Semut (Oechophila smaragdina) Tidak terhingga
  • 8.
    Hasil Nama Spesies Peran UlatGagak (Polydesmida sp.) Sebagai penyeimbang ekositem dan rantai makanan. Cacing Tanah (Lumbricus terrestris) Spesies alami yang terbesar dari cacing tanah, biasanya mencapai 20-25 cm ketika dewasa, merupakan pengurai, sering ditemukan di lingkungan yang mengandung organik tinggi. Kaki Seribu (Trigoniulus corrallinus) Peranannya sebagai penyeimbang ekosistem dan rantai makanan, apabila jumlahnya tidak stabil dapat terjadi ketidakseimbangan predator dan mangsa yang dapat menyebabkan mikroorganisme berbahaya dapat berkembang. Kutu Kayu (Oniscidea) Serangga sosial, sumber makanan dari selulosa, merupakan pengurai.
  • 9.
    Hasil Dari tabel diatas, dapat diketahui bahwa peranan utama dari makrofauna tanah adalah untuk menjaga stabilitas ekosistem, selain itu juga untuk menyuburkan tanah . Proses penyuburan tanah dilakukan melalui beberapa proses antara lain. (1) Menghancurkan jaringan secara fisik dan meningkatkan ketersediaan daerah bagi akvifitas bakteri dan jamur (2) Melakukan perombakan pada bahan pilihan seperti gula, selulosa dan sejenis lignin (3) Mengubah sisa-sisa tumbuhan menjadi humus (4) Menggabungkan bahan yang membusuk pada lapisan tanah bagian atas (5) Membentuk bahan organik dan bahan mineral tanah. Nama Spesies Peran Semut (Oechophila smaragdina) Merupakan predator karna capit pada mulut nya merupakan tipe pemotong Larva Kumbang Tanduk (Tenebrio molitor) dan Kumbang Tanduk (Oryctes rhinoceros) Fase larva berwarna putih kekuningan dengan panjang 7-10 cm. Daat dewasa berwarna coklat kehitaman, bagian kepala ada tanduk kecil. Merupakan hama bagi tanaman.
  • 10.
    Pembahasan  Pada tanahalami, yang berperan sebagai bahan organik adalah pembusukan tanaman dan binatang yang telah mati. Secara alami proses penguraian bahan organik tergantung dari jumlah bahan organik, keberadaan bakteri, pH, suhu, oksigen, waktu dan lain-lain.  Keanekaragaman jenis fauna plot ke 1 lebih banyak daripada plot 2. Hal ini karena kondisi lingkungan plot 1 tertutup oleh dedaunan (sampah tanaman) yang mengering sehingga sangat kaya akan zat organik.  Adanya bahan organik tanaman dimungkinkan dapat meningkatkan aktivitas fauna tanah, karena bahan organik digunakan sebagai sumber energi dan sumber makanan untuk kelangsungan hidupnya (Rasyid, 2014).
  • 11.
    Pembahasan Apablia terjadi kebakaranpada tumpukan serasah daun, kerugian yang akan timbul terhadap keanekaragaman hayati dan kesehatan. Apabila kebakaran ini terjadi, maka seluruh makhluk hidup akan hangus terbakar dan makhluk hidup yang berhabitat di lingkungan tersebut akan kehilangan tempat tinggal mereka. Seperti kebakaran di Kalimantan yang menghanguskan lahan seluas 8,13 juta hektar berdampak langsung dengan hilangnya sejumlah spesies flora dan fauna tertentu (Tacconi, 2003). Kebakaran ini juga berdampak buruk bagi masyarakat sekitar karena timbulnya asap yang mengganggu kesehatan masyarakat terutama masyarakat miskin, lanjut usia, ibu hamil dan anak balita seperti infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), asma bronkial, bronkitis, pneumonia, iritasi mata dan kulit. Selain itu, diduga kebakaran hutan ini dapat menghasilkan racun dioksin, yang dapat menyebabkan kanker dan kemandulan bagi wanita (Rumajomi, 2006).
  • 12.
    KESIMPULAN  Fauna tanahyang ada dalam tumpukan serasah daun di Rumah Kompos Unesa terdiri dari: 1. Ulat Gagak (Polydesmida sp.) 2. Cacing Tanah (Lumbricus terrestris) 3. Keong Semak (Bradybaena similaris) 4. Larva Kumbang Tanduk (Tenebrio molitor) 5. Kaki Seribu (Trigoniulus corrallinus) 6. Semut (Oechophila smaragdina) 7. Kutu Kayu (Oniscidea) 8. Kumbang Tanduk (Tenebrio molitor)  Fauna dengan kelimpahan terbanyak adalah ulat gagak, semut, dan kutu kayu dengan jumlah tidak terhingga.
  • 13.
    Daftar Pustaka Rasyid, Fachmi.2014. Permasalahan dan Dampak Kebakaran Hutan. Jurnal Lingkar Widyaiswara. Vol 1 (4). Hal 47-59. Rumajomi, H. B. 2006. Kebakaran Hutan Di Indonesia Dan Dampaknya Terhadap Kesehatan. Institut Pertanian Bogor. Sugiyarto, dkk. 2007. Preferensi Berbagai Jenis Makrofauna Tanah Terhadap Sisa Bahan Organik Tanaman pada Intensitas Cahaya Berbeda. Biodiversitas. Vol 7 (4). Hal 96 100 Tacconi, T., 2003. Kebakaran Hutan di Indonesia, Penyebab, biaya dan implikasi kebijakan. Center for International Forestry Research (CIFOR), Bogor, Indonesia. 22 hal.