KLASIFIKASI TANAH
Departemen Agroekoteknologi
Fakultas Pertanian
Universitas Tadulako
Palu
Tim Pengajar Dasar Ilmu Tanah
Fakultas Pertanan Universitas Tadulako
Kuliah Dasar Ilmu Tanah/ Pertemuan 12
Tujuan Instruksional
• Memahami prinsip dasar klasifikasi
tanah
• Menjelaskan sistem klasifikasi tanah di
dunia.
• Menjelaskan tentang sistem klasifikasi
tanah yang digunakan di Indonesia
pada saat sekarang (Soil Taxonomy)
• Memperkenalkan 12 Ordo tanah di
dunia.
PENDAHULUAN
Tanah terbentuk oleh :
 bahan induk,
 iklim,
 topografi,
 vegetasi dan
 waktu.
bahan induk,
iklim,
topografi,
vegetasi dan
waktu.
tidak sama di semua tempat
Tanah yang terbentuk tidak sama
(Berbagai macam Tanah)
Objek berbeda (Tanah)
Untuk memudahkan
mengingat dan
mengkomunikasikan
Objek (Tanah) diberi Nama
• Tanah Pasir
•Tanah Liat
•Tanah Merah
•Tanah Hitam
• Pengelompokan tanah-tanah atas
karakteristik yang sama dan
memberikan nama tertentu
diistilahkan sebagai
Klasifikasi Tanah.
Tujuan Klasifikasi tanah :
• membuat suatu kerangka hubungan
antara tanah dan lingkungan.
• menetapkan kelompok-kelompok tanah
yang berguna dan interpretasi yang dapat
dibuat.
Misal potensi produksi, bahaya erosi.
Pendekatan Klasifikasi Tanah
• Klasifikasi alami,
mengelompokan tanah atas dasar
beberapa sifat, ciri atau genesis
tanah, tanpa referensi penggunaanya.
Misal : Klasifikasi jenis tanah
• Klasifikasi tanah Teknikal,
mengelompokkan tanah berdasarkan
beberapa sifat atau fungsi tanah yang
berhubungan langsung dengan
penggunaan tertentu.
Misal : Klasifikasi kesesuaian lahan
Klasifikasi Tanah Alami
• Selalu dikatakan sebagai Klasifikasi
Tanah saja.
• Banyak sistem klasifikasi yang telah
dibuat, umumnya bersifat lokal.
Misal di Indonesia, dikenal :
Klasifikasi Dudal & Soepraptohardjo.
Klasifikasi Internasional
• Sekarang dikenal 2 sistem klasifikasi
yaitu :
1. World Reference Base for Soil
Classification
(WRB- Soil Classification)
2. Soil Taxonomy
(Taksonomi Tanah)
World Reference Base for Soil
Classication (WRB-Classification)
• Sistem klasifikasi didasarkan kepada
morfologi tanah yang merupakan
pengaruh genesis tanah.
• Menggabungkan konsep klasifikasi
tanah moderen, termasuk Soil
Taxonomy, Legenda Peta Tanah
Dunia FAO dan Rèfèrenctial
Pèdologigue.
Prinsip Klasifikasi
• Klasifikasi didasarkan pada sifat –sifat
tanah seperti horizon dan sifat penciri
yang dapat diamati dan diukur.
• Horizon dan sifat penciri diseleksi, yang
digunakan yang berhubungan dengan
proses pembentukan tanah.
• Mengakomodasi nama-nama tanah dari
beberapa negara.
Terdiri dari 2 kategori :
• Soil Group,
merupakan kategori tingkat tinggi,
dibedakan menurut proses pedogenesis
utama dan bahan induk tanah yang
spesifik.
terdiri atas 32 group tanah.
• Kategori lebih rendah,
dibedakan menurut kualifikasi
pembentukan tanah sekunder yang
mempengaruhi kemampuan tanah.
1 Tanah-tanah dengan lapisan organik yang tebal Histosol
Tanah-tanah dengan pengaruh manusia yang kuat
2 Tanah-tanah dengan penggunaan untuk peranian
yang intensif dan cukup lama
Anthrosol
3 Tanah-tanah yang mengandung banyak artefak Technosol
Tanah-tanah dengan perakaran terbatas karena permafrost atau
batuan tipis
4 Tanah-tanah yang dipengaruhi oleh es Cryosol
5 Tanah-tanah yang tipis atau sangat berkrikil Leptosol
Tanah-tanah yang dipengaruhi oleh air
6 Kondisi basah-kering bergantian, kaya akan liat yang
mengembang
Vertisol
7 Dataran banjir, rawa pasang surut Fluvisol
8 Tanah-tanah alkalin Solonetz
9 Diperkaya oleh garam selama evaporasi Solonchak
10 Tanah-tanah yang dipengaruhi oleh air tanah Gleysol
Tanah-tanah yang disusun oleh kimia Fe/Al
11 Alofan atau komplek Al-humus Andosol
12 Cheluviasi dan Chiluviasi Podzol
13 Akumulasi Fe pada keadaan hidromorfik Plinthosol
14 Liat aktivitas rendah, fiksasi P, struktur kuat Nitisol
15 Dominan Kaolinit dan Sesquioksida Ferralsol
Tanah-tana dengan air tergenang
16 Tekstur kasar terputus-putus (discontinuity) Planosol
17 Berstruktur atau tekstur sedang terputus-putus Stagnosol
Akumulasi bahan organik, berstatus basa tinggi
18 Tipikal mollik Chernozem
19 Transisi ke iklim kering Kastanozem
20 Transisi ke iklim lebih humid Phaeozem
Akumulasi garam kurang larut atau bahan-bahan non salin
21 Gypsum Gypsisol
22 Silika Durisol
23 Kalsium karbonat Calcisol
Tanah-tanah dengan sub soil yang diperkaya oleh liat
24 Lidah albeluvik Albeluvisol
25 Status basa rendah, liat aktivitas tinggi Alisol
26 Status basa rendah, liat aktivitas rendah Acrisol
27 Status basa tinggi, liat aktivitas tinggi Luvisol
28 Status basa tinggi, liat aktivitas rendah Lixisol
Tanah-tanah relatif muda atau tanah-tanah dengan sedikit atau
tanpa perkembangan profil
29 Dengan top soil gelap-asam Umbrisol
30 Tanah-tanah berpasir Arenosol
31 Tanah-tanah dengan perkembangan sedang Cambisol
32 Tanah-tanah dengan perkembangan profil yang tak
nyata
Regosol
• Sistem klasifikasi WRB digunakan di
negara-negara Eropa, jarang
digunakan di Indonesia, kecuali
projek FAO.
Soil Taxonomy
• Dikembangkan oleh USA, dengan
lembaga USDA
• Didasarkan kepada pengamatan horizon
dan sebagian sifat penciri tanah.
• Proses pembentukan tanah tidak
diperhatikan.
• Himpunan Ilmu Tanah Indonesia
(HITI) pada Kongres Nasional V di
Medan 1989, memutuskanuntuk
menggunakan Soil Taxonomy
(Taksonomi Tanah) secara nasional
di Indonesia.
• Juga dianut oleh beberapa negara
Asia.
Prinsip klasifikasi
• Terdiri atas beberapa kategori
(mulikategori), seperti taksonomi
tumbuhan.
Ordo
Sub Ordo
Great Group
Sub Group
Famili
Seri
Umum
Khusus
•Ordo, satu kata dan diakhiri
dengan ‘sol’.
•Sub ordo, menceritakan tentang
suatu sifat (misalnya iklim).
•Great Group, tiga kata,
penambahan informasi tentang
horizon.
•Sub Group, dua kata
penambahan banyak informasi.
•Famili, nama tercantum 5-6 kata.
•Seri, nama tunggal tanpa
informasi.
Andisol
Cryand
Duricryand
Aquic Duricryand
Medial-skeletal,
amorphic Aquic
Duricryand
Groushill
Contoh :
Ordo Inseptisol
Subordo Ochrept
Great Group Xerochrept
Sub Group Typic xerochrept
Famili Coarse-loamy,mixed, thermic
xerochrept
Seri Escondido
• Kriteria pembeda dapat diamati dan
diukur secara kuantitatip
• Batas klas tanah didefenisikan
dengan jelas
• Defenisi tanah memberi pengertian
yang sama bagi setiap pemakai.
• Air tanah dan rejim temperatur
digunakan secar bersama dengan
sifat tanah.
Ordo Deskripsi Dasar Elemen
Formatif
Alfisol Tanah-tanah iklim humid dan sub humid dengan horizon
permukaan terakumulasi liat, tidak tercuci kuat, umumnya
didaerah hutan
alf
Andisol Tanah-tanah yang terbentuk oleh abu volkanis dan
mengandung komponen alumunium-organik
and
Aridisol Tanah-tanah yang terbentuk di iklim kering, rendah bahan
organik dan selalu memiliki horizon permukaan dengan
akumulasi garam
id
Entisol Tanah-tanah yang horizon permukaan tak cukup karena
akumulasi bahan induk masih baru atau karena erosi terus-
menerus, umumnya pada dataran banjir dan di pegunungan
serta pada areal lahan yang buruk
ent
Gelisol Tanah-tanah dengan hancuran iklim (weathering) lemah
terbentuk di areal yang mengandung permafrost (es) di dalam
profil tanah.
el
Histosol Tanah-tanah dengan lapisan atas sangat kaya bahan organik
(> 25 %) dan kandungan bahan mineral relatif sedikit.
ist
Inseptisol Tanah-tanah dengan horizon lapisan bawah berkembang cukup
lemah, sedikit atau tanpa sub soil yang terakumulasi liat karena
tanah muda atau iklim tidak memungkinkan untuk percepatan
hancuran iklim.
ept
Mollisol Tanah-tanah mineral semiarid dan padang rumput berketinggian
sedang sub humid yang mempunyai horizon A gelap kaya bahan
organik dan tidak tercuci kuat.
oll
Oksisol Tanah-tanah sangat tua, sangat tercuci dan hancuran iklim yang
kuat dengan lapisan bawah yang terakumulasi Fe dan Al oksida.
ox
Spodosol Tanah-tanah yang terbentuk di iklim dingan, lembab yang
memiliki horizon B yang telah berkembang baik dengan
akumulasi Al dan Fe oksida, terbentuk dibawah vegetasi pinus
pada bahan induk berpasir
od
Ultisol Tanah-tanah dengan horizon lapisan bawah yang terakumulasi
liat, tercuci kuat (tetapi tidak sekuat Oksisol), umumnya
ditemukan di iklim humid dan sub tropis
ult
Vertisol Tanah yang berkembang cukup dalam, rekahan lebar bila
kering(mengkerut dan mengembang) karena tingginya
kandungan liat (> 35 %) dan tidak tercuci kuat
ert
Bo
Bk
ice
Alfisol
Konsepsi sentral Alfisol (pedalfer, tanah
mengandung Al dan Fe) adalah tanah-tanah yang
perkembangannya sudah cukup lanjut, dengan
profil yang dicirikan oleh sekuen horizon A/E/Bt/C,
bewarna merah kuning, dan menunjukkan adanya
kenaikan kandungan liat dengan bertambahnya
kedalaman, yaitu terbentuknya horizon bawah
akumulasi liat (disebut horizon B-argilik) yang
memiliki kandungan basa-basa tinggi, kejenuhan
basa pH 7 > 50 %.
Di Indonesia tanah ini menyebar di wilayah yang
relatif agak kering sampai kering. Dominan
ditemukan di Maluku 0,97 juta ha, Sulawesi
Tengah 0,63 juta ha, Sulawesi Utara 0,60 juta ha,
Sulawesi Selatan 0,57 juta ha, Nusa Tenggara
Barat 0,49 juta ha, dan Jawa Timur 0,45 juta ha.
Andisol
Konsep pokok dari Andisol (ando, tanah hitam)
adalah tanah-tanah yang muda dengan prodil
A/B/C atau A/C , gembur, ringan dan porous,
tanah bagian atas berwarna gelap/hitam,
bertekstur sedang ( lempung, lempung berdebu),
terasa licin seperti sabun (smeary) apa bila dipirid,
dan secara khusus terbentuk dari bahan piroklastik
yang kaya gelas volkan.
Asal Andosol adalah tanah abu volkanik kaya
bahan organik, yang terlihatkan horizon A
berwarna hitam, sebagai asal namanya. Nama asli
Andosol berasal dari bahasa Jepang ( an = black
dan do = tanah ).
Di Indonesia Andisol luasnya 5,39 juta ha (2,9 %
dari luas daratan), terdapat luas di Sumatera Utara
1,06 juta ha, Jawa Timur 0,73 juta ha, Jawa Barat
0,50 juta ha, Jawa Tengah 0,45 juta ha, dan
Maluku 0,32 juta ha.
Aridisol
Aridisol adalah tanah yang telah berkembang
dengan profil becirikan sekuen A/Bk/C,
A/Bn/C atau A/Btn/C. Dibentuk didaerah arid
dan semi arid, dimana keadaan yang kering
sesuai untuk akumulasi garam dan
komponen lain dipermukaan dan lapisan
bawah tanah.
Areal yang banyak ditemukan Aridisol adalah
gurun sahara Afrika, gurun Gobi dan gurun
Taklamakan Cina, dan gurun Turkestan Timur
Tengah, Australia. Di Rusia, tanah ini
dinamakan Solonchaks yang sama dengan
Tanah Alkali Putih dan Solonetz yang sama
dengan Tanah Alkali Hitam.
Entisol
Konsep pokok dari Entisol (recent, umur geologi
Holosin) adalah tanah-tanah mineral yang masih
muda atau yang berumur muda (Holosin), tanah
baru diendapkan, atau belum/masih sedikit
mengalami pelapukan atau berasal dari tanah
sisa hasil erosi dicirikan oleh profil A/C atau A/R
Tanah tidak memiliki banyak horizon hanya
berupa lapisan-lapisan tanah, karena beberapa
alasan seperti waktu pembentukannya masih
baru, berada pada lereng atau pada slope yang
tererosi, menerima deposit (endapan) banjir, dan
sebagainya.
Histosol
Konsepsi pokok tanah Histosol (histos, jaringan
tanaman) adalah tanah-tanah yang tersusun
sebagian besar dari bahan tanah organik
(kandungan C-organik > 12 % berat, jika
kandungan liat ≥ 60 % atau diantara
keduanya), yang bahan organiknya berasal dari
hasil dekomposisi jaringan sisa-sisa tumbuhan
alami dan berbagai produk dekomposisinya.
Histosol dicirikan oleh profil O/C atau O/Ab ( b
untuk buried = tertimbun ). Horizon O tanah
relatif tebal dan mengandung sedikitnya 12 %
Karbon organik. dibatasi oleh kondisi iklim
tertentu.
Di Indonesia Histosol terdapat seluas 13,20
juta ha tersebar di Riau 3,87 juta ha, Irian Jaya
3,30 juta ha, Kalimntan Tengah1,99 juta ha,
Kalimantan Barat1,70 juta ha, dan Sumatera
Selatan 1,45 juta ha.
Inseptisol
Konsepsi pokok dari Inseptisol (inceptum, mulai
berkembang) adalah tanah-tanah mineral yang
sudah mulai menunjukkan perkembangan horizon
pedogenik lain.
Inseptisol menandakan awal dari suatu tanah yang
matang dan dicirikan oleh profil A/Bw/C. Horizon B
terbentuk pada tingkat awal dan disebut horizon
Kambik (Bw), yaitu horizon yang hanya warna dan
strukturnya saja yang berbeda dari horizon A.
Tanah ini lebih berkembang dibandingkan dengan
Entisol.
Di Indonesia menyebar sekitar 70,52 juta ha atau
37,5 % dari wilayah daratannya. Menyebar di
semua provinsi, terluas ditemukan di provinsi Irian
Jaya 15,49 juta ha, Kalimantan Timur 6,12 juta ha,
Kalimantan Barat 4,21 juta ha dan Maluku 4,0 juta
ha.
Mollisol
Konsep pokok dari Mollisol (mollis, lunak) adalah
tanah-tanah yang mempunyai kenampakan
morfologi mirip tanah-tanah di padang rumput
(steppe dan praire) dicirikan oleh profil A/Bk/C, yaitu
mempunyai lapisan atas relatif tebal (10 – 40 cm)
berwarna kelabu gelap atau hitam, lunak atau
gembur dan kaya bahan organik (yang disebut
epipedon mollik), dengan reaksi tanah yang
umumnya netral, memiliki horizon bawah argilik
atau kandik, dan kandungan basa-basa tinggi pada
seluruh horizon tanahnya.
Di Indonesia Mollisol terdapat di kawasan Indonesia
Timur. Luasnya diperkirakan mencapai 9,91 juta ha
atau 5,3 %. Di Irian Jaya 5,57 juta ha, Nusa
Tenggara Timur 1,05 juta ha, Maluku 0,53 juta ha,
Kalimantan Timur 0,5 juta ha, Sulawesi Tengah 0,39
juta ha, dan Jawa Timur 0,37 juta ha.
Oksisol
Konsep pokok dari Oksisol (oxide, oksida-oksida)
adalah tanah-tanah di daerah tropika humid yang
sudah mengalami pelapukan atau proses
hancuran iklim yang sangat lanjut, penampang
tanah dalam sampai sangat dalam (> 2 m),
bertekstur liat dengan warna merah gelap sampai
kuning dan kandungan oksida-oksida Fe dan Al
relatif tinggi, sebaliknya kandungan mineral dapat
lapuk (sebagai cadangan mineral) sangat sedikit.
Oksisol adalah tanah yang telah berkembang
dengan profil A/B/C
Di Indonesia Oksisol terdapat luas di Sumatera
Selatan 2,82 juta ha, Irian Jaya 2,41 ha,
Kalimantan Tengah 2,06 juta ha, Kalimantan Barat
1,79 juta ha, Jambi 1,14 juta ha, dan Lampung
1,01 juta ha.
Spodosol
Konsep pokok dari Spodosol (spodos, berwarna
abu kayu) adalah tanah-tanah bertekstur lempung
kasar sampai pasir, yaitu berwarna putih atau putih
kekelabuan seperti warna abu kayu (disebut bahan
albik), dan memiliki horizon bawah yang merupakan
akumulasi humus dan/atau gabungan senyawa Fe
dan Al (disebut horizon spodik).
Spodosol adalah tanah yang berkembang dengan
profil yang dicirikan oleh horizon A/E/Bh atau Bhs/C.
Di Indonesia luasnya diperkirakan 2,16 juta ha, atau
1,1 % dari daratan Indonesia. Penyebaran yang
paling luas terdapat di Kalimantan Tengah sekitar
1,51 juta ha kemudian di Kalimantan Barat 0,42 juta
ha dan Kalimantan Timur 0,15 juta ha.
Ultisol
Konsep pokok dari Ultisol (ultimus, terakhir)
adalah tanah-tanah berwarna merah kuning, yang
sudah mengalami proses hancuran iklim lanjut
sehingga merupakan tanah yang berpenampang
dalam sampai sangat dalam (> 2 m),menunjukkan
adanya kenaikkan kandungan liat dengan
bertambahnya kedalaman yaitu terbentuknya
horizon bawah akumulasi liat (disebut horizon B-
argilik), dengan profil A/E/Bt/C , reaksi agak
masam sampai masam dengan kandungan basa-
basa rendah dengan kejenuhan basa pH 7 < 50
% pada kedalaman 125 cm di bawah batas atas
horizon argilik/kandik atau 180 cm dari
permukaan tanah (pilih yang terdangkal).
Tersebar paling luas di Kalimantan Timur 10,04
juta ha, Irian Jaya 7,62 juta ha, Kalimantan Barat
5,71 juta ha, Kalimantan Tengah 4,81 juta ha, dan
Riau 2,27 juta ha.
Vertisol
Konsepsi utama dari Verisol (verto, terbalik-balik)
adalah tanah-tanah yang sebagian terbesar
berwarna kelabu gelap/hitam, bertekstur liat/liat
berat, yang rekah-rekah (cracks) karena
mengkerut di musim kemarau dan sangat
memadat dan sangat lekat karena mengembang
di musim hujan. Pengaruh ini disebabkan oleh
adanya mineral smektit atau montmorillonit di
fraksi liat.
Di Indonesia tanah Vertisol luas ditemukan di
Jawa Timur 0,96 juta ha, Jawa Tengah 0,40 juta
ha, Sulawesi Selatan 0,22 juta ha, Nusa Tenggara
Timur 0,198 juta ha, dan Nusa Tenggara Barat
0,125 juta ha.
Gelisol
Gelisol adalah tanah yang berkembang di
daerah yang beriklim es (Cryos). Dicirikan
oleh adanya bahan gelik dan permafrost.
Bahan gelik adalah bahan tanah mineral
atau tanah organik yang menunjukkan
adanya Cryoturbasi (percampuran bahan
tanah oleh pembekuan air) atau segregasi
es pada lapisan aktif (lapisan yang
mengalami beku dan cair bergantian)
dan/atau bagian atas permafrost.
12. Klasifikasi Tanah -DIT.ppt
12. Klasifikasi Tanah -DIT.ppt

12. Klasifikasi Tanah -DIT.ppt

  • 1.
    KLASIFIKASI TANAH Departemen Agroekoteknologi FakultasPertanian Universitas Tadulako Palu Tim Pengajar Dasar Ilmu Tanah Fakultas Pertanan Universitas Tadulako Kuliah Dasar Ilmu Tanah/ Pertemuan 12
  • 2.
    Tujuan Instruksional • Memahamiprinsip dasar klasifikasi tanah • Menjelaskan sistem klasifikasi tanah di dunia. • Menjelaskan tentang sistem klasifikasi tanah yang digunakan di Indonesia pada saat sekarang (Soil Taxonomy) • Memperkenalkan 12 Ordo tanah di dunia.
  • 3.
    PENDAHULUAN Tanah terbentuk oleh:  bahan induk,  iklim,  topografi,  vegetasi dan  waktu.
  • 4.
    bahan induk, iklim, topografi, vegetasi dan waktu. tidaksama di semua tempat Tanah yang terbentuk tidak sama (Berbagai macam Tanah)
  • 8.
    Objek berbeda (Tanah) Untukmemudahkan mengingat dan mengkomunikasikan Objek (Tanah) diberi Nama • Tanah Pasir •Tanah Liat •Tanah Merah •Tanah Hitam
  • 9.
    • Pengelompokan tanah-tanahatas karakteristik yang sama dan memberikan nama tertentu diistilahkan sebagai Klasifikasi Tanah.
  • 10.
    Tujuan Klasifikasi tanah: • membuat suatu kerangka hubungan antara tanah dan lingkungan. • menetapkan kelompok-kelompok tanah yang berguna dan interpretasi yang dapat dibuat. Misal potensi produksi, bahaya erosi.
  • 11.
    Pendekatan Klasifikasi Tanah •Klasifikasi alami, mengelompokan tanah atas dasar beberapa sifat, ciri atau genesis tanah, tanpa referensi penggunaanya. Misal : Klasifikasi jenis tanah
  • 12.
    • Klasifikasi tanahTeknikal, mengelompokkan tanah berdasarkan beberapa sifat atau fungsi tanah yang berhubungan langsung dengan penggunaan tertentu. Misal : Klasifikasi kesesuaian lahan
  • 13.
    Klasifikasi Tanah Alami •Selalu dikatakan sebagai Klasifikasi Tanah saja. • Banyak sistem klasifikasi yang telah dibuat, umumnya bersifat lokal. Misal di Indonesia, dikenal : Klasifikasi Dudal & Soepraptohardjo.
  • 14.
    Klasifikasi Internasional • Sekarangdikenal 2 sistem klasifikasi yaitu : 1. World Reference Base for Soil Classification (WRB- Soil Classification) 2. Soil Taxonomy (Taksonomi Tanah)
  • 15.
    World Reference Basefor Soil Classication (WRB-Classification) • Sistem klasifikasi didasarkan kepada morfologi tanah yang merupakan pengaruh genesis tanah. • Menggabungkan konsep klasifikasi tanah moderen, termasuk Soil Taxonomy, Legenda Peta Tanah Dunia FAO dan Rèfèrenctial Pèdologigue.
  • 17.
    Prinsip Klasifikasi • Klasifikasididasarkan pada sifat –sifat tanah seperti horizon dan sifat penciri yang dapat diamati dan diukur. • Horizon dan sifat penciri diseleksi, yang digunakan yang berhubungan dengan proses pembentukan tanah. • Mengakomodasi nama-nama tanah dari beberapa negara.
  • 18.
    Terdiri dari 2kategori : • Soil Group, merupakan kategori tingkat tinggi, dibedakan menurut proses pedogenesis utama dan bahan induk tanah yang spesifik. terdiri atas 32 group tanah. • Kategori lebih rendah, dibedakan menurut kualifikasi pembentukan tanah sekunder yang mempengaruhi kemampuan tanah.
  • 19.
    1 Tanah-tanah denganlapisan organik yang tebal Histosol Tanah-tanah dengan pengaruh manusia yang kuat 2 Tanah-tanah dengan penggunaan untuk peranian yang intensif dan cukup lama Anthrosol 3 Tanah-tanah yang mengandung banyak artefak Technosol Tanah-tanah dengan perakaran terbatas karena permafrost atau batuan tipis 4 Tanah-tanah yang dipengaruhi oleh es Cryosol 5 Tanah-tanah yang tipis atau sangat berkrikil Leptosol
  • 20.
    Tanah-tanah yang dipengaruhioleh air 6 Kondisi basah-kering bergantian, kaya akan liat yang mengembang Vertisol 7 Dataran banjir, rawa pasang surut Fluvisol 8 Tanah-tanah alkalin Solonetz 9 Diperkaya oleh garam selama evaporasi Solonchak 10 Tanah-tanah yang dipengaruhi oleh air tanah Gleysol Tanah-tanah yang disusun oleh kimia Fe/Al 11 Alofan atau komplek Al-humus Andosol 12 Cheluviasi dan Chiluviasi Podzol 13 Akumulasi Fe pada keadaan hidromorfik Plinthosol 14 Liat aktivitas rendah, fiksasi P, struktur kuat Nitisol 15 Dominan Kaolinit dan Sesquioksida Ferralsol
  • 21.
    Tanah-tana dengan airtergenang 16 Tekstur kasar terputus-putus (discontinuity) Planosol 17 Berstruktur atau tekstur sedang terputus-putus Stagnosol Akumulasi bahan organik, berstatus basa tinggi 18 Tipikal mollik Chernozem 19 Transisi ke iklim kering Kastanozem 20 Transisi ke iklim lebih humid Phaeozem Akumulasi garam kurang larut atau bahan-bahan non salin 21 Gypsum Gypsisol 22 Silika Durisol 23 Kalsium karbonat Calcisol
  • 22.
    Tanah-tanah dengan subsoil yang diperkaya oleh liat 24 Lidah albeluvik Albeluvisol 25 Status basa rendah, liat aktivitas tinggi Alisol 26 Status basa rendah, liat aktivitas rendah Acrisol 27 Status basa tinggi, liat aktivitas tinggi Luvisol 28 Status basa tinggi, liat aktivitas rendah Lixisol Tanah-tanah relatif muda atau tanah-tanah dengan sedikit atau tanpa perkembangan profil 29 Dengan top soil gelap-asam Umbrisol 30 Tanah-tanah berpasir Arenosol 31 Tanah-tanah dengan perkembangan sedang Cambisol 32 Tanah-tanah dengan perkembangan profil yang tak nyata Regosol
  • 23.
    • Sistem klasifikasiWRB digunakan di negara-negara Eropa, jarang digunakan di Indonesia, kecuali projek FAO.
  • 24.
    Soil Taxonomy • Dikembangkanoleh USA, dengan lembaga USDA • Didasarkan kepada pengamatan horizon dan sebagian sifat penciri tanah. • Proses pembentukan tanah tidak diperhatikan.
  • 25.
    • Himpunan IlmuTanah Indonesia (HITI) pada Kongres Nasional V di Medan 1989, memutuskanuntuk menggunakan Soil Taxonomy (Taksonomi Tanah) secara nasional di Indonesia. • Juga dianut oleh beberapa negara Asia.
  • 27.
    Prinsip klasifikasi • Terdiriatas beberapa kategori (mulikategori), seperti taksonomi tumbuhan. Ordo Sub Ordo Great Group Sub Group Famili Seri Umum Khusus
  • 28.
    •Ordo, satu katadan diakhiri dengan ‘sol’. •Sub ordo, menceritakan tentang suatu sifat (misalnya iklim). •Great Group, tiga kata, penambahan informasi tentang horizon. •Sub Group, dua kata penambahan banyak informasi. •Famili, nama tercantum 5-6 kata. •Seri, nama tunggal tanpa informasi. Andisol Cryand Duricryand Aquic Duricryand Medial-skeletal, amorphic Aquic Duricryand Groushill
  • 29.
    Contoh : Ordo Inseptisol SubordoOchrept Great Group Xerochrept Sub Group Typic xerochrept Famili Coarse-loamy,mixed, thermic xerochrept Seri Escondido
  • 30.
    • Kriteria pembedadapat diamati dan diukur secara kuantitatip • Batas klas tanah didefenisikan dengan jelas • Defenisi tanah memberi pengertian yang sama bagi setiap pemakai. • Air tanah dan rejim temperatur digunakan secar bersama dengan sifat tanah.
  • 31.
    Ordo Deskripsi DasarElemen Formatif Alfisol Tanah-tanah iklim humid dan sub humid dengan horizon permukaan terakumulasi liat, tidak tercuci kuat, umumnya didaerah hutan alf Andisol Tanah-tanah yang terbentuk oleh abu volkanis dan mengandung komponen alumunium-organik and Aridisol Tanah-tanah yang terbentuk di iklim kering, rendah bahan organik dan selalu memiliki horizon permukaan dengan akumulasi garam id Entisol Tanah-tanah yang horizon permukaan tak cukup karena akumulasi bahan induk masih baru atau karena erosi terus- menerus, umumnya pada dataran banjir dan di pegunungan serta pada areal lahan yang buruk ent Gelisol Tanah-tanah dengan hancuran iklim (weathering) lemah terbentuk di areal yang mengandung permafrost (es) di dalam profil tanah. el Histosol Tanah-tanah dengan lapisan atas sangat kaya bahan organik (> 25 %) dan kandungan bahan mineral relatif sedikit. ist
  • 32.
    Inseptisol Tanah-tanah denganhorizon lapisan bawah berkembang cukup lemah, sedikit atau tanpa sub soil yang terakumulasi liat karena tanah muda atau iklim tidak memungkinkan untuk percepatan hancuran iklim. ept Mollisol Tanah-tanah mineral semiarid dan padang rumput berketinggian sedang sub humid yang mempunyai horizon A gelap kaya bahan organik dan tidak tercuci kuat. oll Oksisol Tanah-tanah sangat tua, sangat tercuci dan hancuran iklim yang kuat dengan lapisan bawah yang terakumulasi Fe dan Al oksida. ox Spodosol Tanah-tanah yang terbentuk di iklim dingan, lembab yang memiliki horizon B yang telah berkembang baik dengan akumulasi Al dan Fe oksida, terbentuk dibawah vegetasi pinus pada bahan induk berpasir od Ultisol Tanah-tanah dengan horizon lapisan bawah yang terakumulasi liat, tercuci kuat (tetapi tidak sekuat Oksisol), umumnya ditemukan di iklim humid dan sub tropis ult Vertisol Tanah yang berkembang cukup dalam, rekahan lebar bila kering(mengkerut dan mengembang) karena tingginya kandungan liat (> 35 %) dan tidak tercuci kuat ert
  • 34.
  • 35.
    Alfisol Konsepsi sentral Alfisol(pedalfer, tanah mengandung Al dan Fe) adalah tanah-tanah yang perkembangannya sudah cukup lanjut, dengan profil yang dicirikan oleh sekuen horizon A/E/Bt/C, bewarna merah kuning, dan menunjukkan adanya kenaikan kandungan liat dengan bertambahnya kedalaman, yaitu terbentuknya horizon bawah akumulasi liat (disebut horizon B-argilik) yang memiliki kandungan basa-basa tinggi, kejenuhan basa pH 7 > 50 %. Di Indonesia tanah ini menyebar di wilayah yang relatif agak kering sampai kering. Dominan ditemukan di Maluku 0,97 juta ha, Sulawesi Tengah 0,63 juta ha, Sulawesi Utara 0,60 juta ha, Sulawesi Selatan 0,57 juta ha, Nusa Tenggara Barat 0,49 juta ha, dan Jawa Timur 0,45 juta ha.
  • 36.
    Andisol Konsep pokok dariAndisol (ando, tanah hitam) adalah tanah-tanah yang muda dengan prodil A/B/C atau A/C , gembur, ringan dan porous, tanah bagian atas berwarna gelap/hitam, bertekstur sedang ( lempung, lempung berdebu), terasa licin seperti sabun (smeary) apa bila dipirid, dan secara khusus terbentuk dari bahan piroklastik yang kaya gelas volkan. Asal Andosol adalah tanah abu volkanik kaya bahan organik, yang terlihatkan horizon A berwarna hitam, sebagai asal namanya. Nama asli Andosol berasal dari bahasa Jepang ( an = black dan do = tanah ). Di Indonesia Andisol luasnya 5,39 juta ha (2,9 % dari luas daratan), terdapat luas di Sumatera Utara 1,06 juta ha, Jawa Timur 0,73 juta ha, Jawa Barat 0,50 juta ha, Jawa Tengah 0,45 juta ha, dan Maluku 0,32 juta ha.
  • 37.
    Aridisol Aridisol adalah tanahyang telah berkembang dengan profil becirikan sekuen A/Bk/C, A/Bn/C atau A/Btn/C. Dibentuk didaerah arid dan semi arid, dimana keadaan yang kering sesuai untuk akumulasi garam dan komponen lain dipermukaan dan lapisan bawah tanah. Areal yang banyak ditemukan Aridisol adalah gurun sahara Afrika, gurun Gobi dan gurun Taklamakan Cina, dan gurun Turkestan Timur Tengah, Australia. Di Rusia, tanah ini dinamakan Solonchaks yang sama dengan Tanah Alkali Putih dan Solonetz yang sama dengan Tanah Alkali Hitam.
  • 38.
    Entisol Konsep pokok dariEntisol (recent, umur geologi Holosin) adalah tanah-tanah mineral yang masih muda atau yang berumur muda (Holosin), tanah baru diendapkan, atau belum/masih sedikit mengalami pelapukan atau berasal dari tanah sisa hasil erosi dicirikan oleh profil A/C atau A/R Tanah tidak memiliki banyak horizon hanya berupa lapisan-lapisan tanah, karena beberapa alasan seperti waktu pembentukannya masih baru, berada pada lereng atau pada slope yang tererosi, menerima deposit (endapan) banjir, dan sebagainya.
  • 39.
    Histosol Konsepsi pokok tanahHistosol (histos, jaringan tanaman) adalah tanah-tanah yang tersusun sebagian besar dari bahan tanah organik (kandungan C-organik > 12 % berat, jika kandungan liat ≥ 60 % atau diantara keduanya), yang bahan organiknya berasal dari hasil dekomposisi jaringan sisa-sisa tumbuhan alami dan berbagai produk dekomposisinya. Histosol dicirikan oleh profil O/C atau O/Ab ( b untuk buried = tertimbun ). Horizon O tanah relatif tebal dan mengandung sedikitnya 12 % Karbon organik. dibatasi oleh kondisi iklim tertentu. Di Indonesia Histosol terdapat seluas 13,20 juta ha tersebar di Riau 3,87 juta ha, Irian Jaya 3,30 juta ha, Kalimntan Tengah1,99 juta ha, Kalimantan Barat1,70 juta ha, dan Sumatera Selatan 1,45 juta ha.
  • 40.
    Inseptisol Konsepsi pokok dariInseptisol (inceptum, mulai berkembang) adalah tanah-tanah mineral yang sudah mulai menunjukkan perkembangan horizon pedogenik lain. Inseptisol menandakan awal dari suatu tanah yang matang dan dicirikan oleh profil A/Bw/C. Horizon B terbentuk pada tingkat awal dan disebut horizon Kambik (Bw), yaitu horizon yang hanya warna dan strukturnya saja yang berbeda dari horizon A. Tanah ini lebih berkembang dibandingkan dengan Entisol. Di Indonesia menyebar sekitar 70,52 juta ha atau 37,5 % dari wilayah daratannya. Menyebar di semua provinsi, terluas ditemukan di provinsi Irian Jaya 15,49 juta ha, Kalimantan Timur 6,12 juta ha, Kalimantan Barat 4,21 juta ha dan Maluku 4,0 juta ha.
  • 41.
    Mollisol Konsep pokok dariMollisol (mollis, lunak) adalah tanah-tanah yang mempunyai kenampakan morfologi mirip tanah-tanah di padang rumput (steppe dan praire) dicirikan oleh profil A/Bk/C, yaitu mempunyai lapisan atas relatif tebal (10 – 40 cm) berwarna kelabu gelap atau hitam, lunak atau gembur dan kaya bahan organik (yang disebut epipedon mollik), dengan reaksi tanah yang umumnya netral, memiliki horizon bawah argilik atau kandik, dan kandungan basa-basa tinggi pada seluruh horizon tanahnya. Di Indonesia Mollisol terdapat di kawasan Indonesia Timur. Luasnya diperkirakan mencapai 9,91 juta ha atau 5,3 %. Di Irian Jaya 5,57 juta ha, Nusa Tenggara Timur 1,05 juta ha, Maluku 0,53 juta ha, Kalimantan Timur 0,5 juta ha, Sulawesi Tengah 0,39 juta ha, dan Jawa Timur 0,37 juta ha.
  • 42.
    Oksisol Konsep pokok dariOksisol (oxide, oksida-oksida) adalah tanah-tanah di daerah tropika humid yang sudah mengalami pelapukan atau proses hancuran iklim yang sangat lanjut, penampang tanah dalam sampai sangat dalam (> 2 m), bertekstur liat dengan warna merah gelap sampai kuning dan kandungan oksida-oksida Fe dan Al relatif tinggi, sebaliknya kandungan mineral dapat lapuk (sebagai cadangan mineral) sangat sedikit. Oksisol adalah tanah yang telah berkembang dengan profil A/B/C Di Indonesia Oksisol terdapat luas di Sumatera Selatan 2,82 juta ha, Irian Jaya 2,41 ha, Kalimantan Tengah 2,06 juta ha, Kalimantan Barat 1,79 juta ha, Jambi 1,14 juta ha, dan Lampung 1,01 juta ha.
  • 43.
    Spodosol Konsep pokok dariSpodosol (spodos, berwarna abu kayu) adalah tanah-tanah bertekstur lempung kasar sampai pasir, yaitu berwarna putih atau putih kekelabuan seperti warna abu kayu (disebut bahan albik), dan memiliki horizon bawah yang merupakan akumulasi humus dan/atau gabungan senyawa Fe dan Al (disebut horizon spodik). Spodosol adalah tanah yang berkembang dengan profil yang dicirikan oleh horizon A/E/Bh atau Bhs/C. Di Indonesia luasnya diperkirakan 2,16 juta ha, atau 1,1 % dari daratan Indonesia. Penyebaran yang paling luas terdapat di Kalimantan Tengah sekitar 1,51 juta ha kemudian di Kalimantan Barat 0,42 juta ha dan Kalimantan Timur 0,15 juta ha.
  • 44.
    Ultisol Konsep pokok dariUltisol (ultimus, terakhir) adalah tanah-tanah berwarna merah kuning, yang sudah mengalami proses hancuran iklim lanjut sehingga merupakan tanah yang berpenampang dalam sampai sangat dalam (> 2 m),menunjukkan adanya kenaikkan kandungan liat dengan bertambahnya kedalaman yaitu terbentuknya horizon bawah akumulasi liat (disebut horizon B- argilik), dengan profil A/E/Bt/C , reaksi agak masam sampai masam dengan kandungan basa- basa rendah dengan kejenuhan basa pH 7 < 50 % pada kedalaman 125 cm di bawah batas atas horizon argilik/kandik atau 180 cm dari permukaan tanah (pilih yang terdangkal). Tersebar paling luas di Kalimantan Timur 10,04 juta ha, Irian Jaya 7,62 juta ha, Kalimantan Barat 5,71 juta ha, Kalimantan Tengah 4,81 juta ha, dan Riau 2,27 juta ha.
  • 45.
    Vertisol Konsepsi utama dariVerisol (verto, terbalik-balik) adalah tanah-tanah yang sebagian terbesar berwarna kelabu gelap/hitam, bertekstur liat/liat berat, yang rekah-rekah (cracks) karena mengkerut di musim kemarau dan sangat memadat dan sangat lekat karena mengembang di musim hujan. Pengaruh ini disebabkan oleh adanya mineral smektit atau montmorillonit di fraksi liat. Di Indonesia tanah Vertisol luas ditemukan di Jawa Timur 0,96 juta ha, Jawa Tengah 0,40 juta ha, Sulawesi Selatan 0,22 juta ha, Nusa Tenggara Timur 0,198 juta ha, dan Nusa Tenggara Barat 0,125 juta ha.
  • 46.
    Gelisol Gelisol adalah tanahyang berkembang di daerah yang beriklim es (Cryos). Dicirikan oleh adanya bahan gelik dan permafrost. Bahan gelik adalah bahan tanah mineral atau tanah organik yang menunjukkan adanya Cryoturbasi (percampuran bahan tanah oleh pembekuan air) atau segregasi es pada lapisan aktif (lapisan yang mengalami beku dan cair bergantian) dan/atau bagian atas permafrost.