ASUHAN KEPERAWATAN
PENYAKIT UVEITIS

Oleh : HEALCORP
MATERI KULIAH KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
PENGERTIAN
UVEITIS ADALAH
INFLAMASI YANG
TERJADI PADA UVEA
(IRIS, KORPUS SILIARIS,
Uveitis anterior merupakan peradangan
DAN KOROID) DENGAN
iris dan bagian depan badan siliar (pars
BERBAGAI
plicata), kadang-kadang menyertai
PENYEBABNYA.
peradangan bagian belakang bola mata,
kornea dan sklera.
Anatomi uvea

Uvea terdiri atas iris, korpus
siliaris, dan khoroid. Bagian ini
tersusun atas serabut saraf,
jaringan ikat, otot dan lapisan
vaskular tengah mata yang ikut
memasok darah ke retina.
Penyebab uveitis
1) Autoimun : arthritis rheumatoid juvenilis, spondilitis
ankilosa, sindrom Reiter, colitis
ulserativa, uveitis terinduksi lensa, sarkoidosis, penyakit
Crohn, psoriasis
2) Infeksi
: sifilis, tuberkulosis, lepra (Morbus Hansen),
herpes zoster, herpes simpleks,
onkoserkiasis, adenovirus
3) Keganasan
: sindrom Masquerade, retinoblastoma,
leukimia, limfoma, melanoma maligna
4) Lain-lain : idiopatik, uveitis traumatika, ablasio retina,
iridosiklitis heterokromik Fuchs,
gout, krisis glaukomatosiklitik
Manifestasi klinis
Monifestasi klinis dari uveitis meliputi :
Anterior : nyeri mata, fotofobia, lakrimasi penglihatan
kabur, pupil kecil
Posterior :
penurunan penglihatan, tidak nyaman yang ringan
pada mata
Klasifikasi uveitis
 Non-Granulomatosa: diduga peradangan ini adalah

suatu fenomena hipersensitivitas
 Ganulomatosa: umumnya mengikuti invasi mikroba
aktif ke jaringan oleh organisme penyebab.
) Injeksi perilimbus (silier)

Keratik presipitat

Uveitis anterior dengan keratik
presipitat dan nodul Busacca pada
iris
Uveitis anterior dengan hipopion
pada kamera okuli anterior

Sinekia posterior dengan
pupil tampak ireguler
pengkajian

Riwayat nyeri, Fotofobia,
Pandangan kabur, mengeluh
penurunan atau distorsi penglihatan,
Mata merah Floating spot” dalam
lapang pandang.
 LATAR BELAKANG YANG

BERHUBUNGAN
Berbagai macam penyakit
sistemik, seperti: Diabetes Mellitus,
AIDS, Herpes simpleks atau zoster,
Toksoplasmosis, Tuberkulosis, atau
Sarkoidosis.
Diagnosa keperawatan
 Perubahan persepsi sensori yang berhubungan

dengan kerusakan penglihatan.
 Potensial cidera, trauma yang berhubungan dengan
kerusakan penglihatan.
 Ansietas yang berhubungan dengan tingkat
kerusakan penglihatan
 Gangguan citra diri yang berhubungan dengan
kerusakan penglihatan.
Pengobatan spesifik diperlukan jika kuman
penyebab diketahui. Uveitis yang penyebabnya
autoimun perlu diberikan kortikosteroid sistemik
disamping obat tetes mata steroid dan midriatikum.
Pemeriksaan penunjang
 Pemeriksaan tajam penglihatan
 Pemeriksaan dengan uji konfrontasi, kampimeter

dan perimeter (sebagai alat pemeriksaan lapang
pandangan)
 Pemeriksaan dengan melakukan uji fluoresein
(untuk melihat adanya efek epitel kornea)
 Pemeriksaan dengan melakukan uji festel (untuk

mengetahui letak dan adanya kebocoran kornea)
 Pemeriksaan oftalmoskop
 Pemeriksaan dengan slitlamp dan loupe dengan
sentolop (untuk melihat benda menjadi lebih besar
dibanding ukuran normalnya)
 Therapi Medik Uveitis : Scopoto lamine atau
atropine untuk melebarkan pupil, kompres basah
kortitkosteroid.
TERIMA
KASIH

ASUHAN KEPERAWATAN PENYAKIT UVEITIS MATA

  • 1.
    ASUHAN KEPERAWATAN PENYAKIT UVEITIS Oleh: HEALCORP MATERI KULIAH KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
  • 2.
    PENGERTIAN UVEITIS ADALAH INFLAMASI YANG TERJADIPADA UVEA (IRIS, KORPUS SILIARIS, Uveitis anterior merupakan peradangan DAN KOROID) DENGAN iris dan bagian depan badan siliar (pars BERBAGAI plicata), kadang-kadang menyertai PENYEBABNYA. peradangan bagian belakang bola mata, kornea dan sklera.
  • 3.
    Anatomi uvea Uvea terdiriatas iris, korpus siliaris, dan khoroid. Bagian ini tersusun atas serabut saraf, jaringan ikat, otot dan lapisan vaskular tengah mata yang ikut memasok darah ke retina.
  • 5.
    Penyebab uveitis 1) Autoimun: arthritis rheumatoid juvenilis, spondilitis ankilosa, sindrom Reiter, colitis ulserativa, uveitis terinduksi lensa, sarkoidosis, penyakit Crohn, psoriasis 2) Infeksi : sifilis, tuberkulosis, lepra (Morbus Hansen), herpes zoster, herpes simpleks, onkoserkiasis, adenovirus 3) Keganasan : sindrom Masquerade, retinoblastoma, leukimia, limfoma, melanoma maligna 4) Lain-lain : idiopatik, uveitis traumatika, ablasio retina, iridosiklitis heterokromik Fuchs, gout, krisis glaukomatosiklitik
  • 6.
    Manifestasi klinis Monifestasi klinisdari uveitis meliputi : Anterior : nyeri mata, fotofobia, lakrimasi penglihatan kabur, pupil kecil Posterior : penurunan penglihatan, tidak nyaman yang ringan pada mata
  • 7.
    Klasifikasi uveitis  Non-Granulomatosa:diduga peradangan ini adalah suatu fenomena hipersensitivitas  Ganulomatosa: umumnya mengikuti invasi mikroba aktif ke jaringan oleh organisme penyebab.
  • 8.
    ) Injeksi perilimbus(silier) Keratik presipitat Uveitis anterior dengan keratik presipitat dan nodul Busacca pada iris
  • 9.
    Uveitis anterior denganhipopion pada kamera okuli anterior Sinekia posterior dengan pupil tampak ireguler
  • 10.
    pengkajian Riwayat nyeri, Fotofobia, Pandangankabur, mengeluh penurunan atau distorsi penglihatan, Mata merah Floating spot” dalam lapang pandang.
  • 11.
     LATAR BELAKANGYANG BERHUBUNGAN Berbagai macam penyakit sistemik, seperti: Diabetes Mellitus, AIDS, Herpes simpleks atau zoster, Toksoplasmosis, Tuberkulosis, atau Sarkoidosis.
  • 12.
    Diagnosa keperawatan  Perubahanpersepsi sensori yang berhubungan dengan kerusakan penglihatan.  Potensial cidera, trauma yang berhubungan dengan kerusakan penglihatan.  Ansietas yang berhubungan dengan tingkat kerusakan penglihatan  Gangguan citra diri yang berhubungan dengan kerusakan penglihatan.
  • 13.
    Pengobatan spesifik diperlukanjika kuman penyebab diketahui. Uveitis yang penyebabnya autoimun perlu diberikan kortikosteroid sistemik disamping obat tetes mata steroid dan midriatikum.
  • 14.
    Pemeriksaan penunjang  Pemeriksaantajam penglihatan  Pemeriksaan dengan uji konfrontasi, kampimeter dan perimeter (sebagai alat pemeriksaan lapang pandangan)  Pemeriksaan dengan melakukan uji fluoresein (untuk melihat adanya efek epitel kornea)
  • 15.
     Pemeriksaan denganmelakukan uji festel (untuk mengetahui letak dan adanya kebocoran kornea)  Pemeriksaan oftalmoskop  Pemeriksaan dengan slitlamp dan loupe dengan sentolop (untuk melihat benda menjadi lebih besar dibanding ukuran normalnya)  Therapi Medik Uveitis : Scopoto lamine atau atropine untuk melebarkan pupil, kompres basah kortitkosteroid.
  • 16.