TUGAS AKHIR PENGANTAR PENDIDIKAN
 BAB 1
 BAB 2, dan
 BAB 3
DI SUSUN
O
L
E
H :
NILAM SARI
ENGLISH III A
DOSEN: Dra. ELDARNI M,Pd
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP)
YDB LUBUK ALUNG
2012
BAB 1
“ Hakekat manusia
dan Dimensi-
dimensinya ”
BAB 2
“ Hakekat Pendidikan “
BAB 3
“ Lingkungan
Pendidikan “
BAB 1
“ HAKEKAT MANUSIA DAN
DIMENSI-DIMENSINYA ”
A. sifat hakekat manusia
Terminology, istilah term berasal dari bahasa arab dengan
kata dasarnya “haq” yang berarti kebenaran yang
sesungguhnya (mendasar).
Istilah manusia juga berasal dari bahasa arab yaitu dari kata
“man” yang artinya manusia.penggalan kata yang kedua yaitu
“nasia” yang artinya pelupa. Jadi, istilah manusia berarti orang
yang sering lupa tentang aturan atau peringatan-peringatan
tuhan.
Beberapa istilah lain yang digunakan
untuk Manusia
1. Al insane : manusia yang punya hati (“insane kamil =
nurani).
2. Al basyar : manusia alam bentuk lahiriyah
3. Annas : manusia secara umum (people)
4. Baniadam : artinya turunan atau anak cucu adam
B. Hakekat Manusia dalam Berbagai Pandangan
a. Pandangan Islam/Al-Qur’an
Islam memandang hakekat manusia berdasarkan pandangan
pribadi atau individu orang yang memandang, akan tetapi pandangan
yang berdasarkan atas ayat-ayat Tuhan yang terkandung didalam Al-
Qur’an atau pandangan islam dapat di jelaskan sebagai beikut:
 Manusia sebagai Makhluk Ciptaan Tuhan/Allah
Tuhan sebagai pencipta (khalik) dan selain Tuhan disebut makhluk.
Idealnya setiap makhluk harus patuh bertingkah laku sesuai dengan aturan
yang ditetapkan penciptanya. Contohnya: kalau seorang insinyur membuat
sebuah roda, maka tugas atau “tingkah laku” roda itu adalah berputar
sesuai dengan ketentuan yang dikehendaki oleh insinyur tersebut. Bila roda
tersebut tidak dapat berputar sesuai dengan ketentuan insinyur, roda yang
semacam itu dinamakan cacat atau rusak.
 Hakekat manusia sebagai khalifah “manager”
Tuhan Yang Maha Esa memposisikan manusia pada tempat paling tinggi
dari semua makhluknya yaitu sebagai khalifah “pemimpin” untuk
mengatur alam ini.
b. Pandangan Ilmuan Barat
1. Pandangan Pisiko Analitik “S. Freud “
Menurut Freud dan Akta Mengajar V oleh Universitas
Terbuka, secara hakiki kepribadian manusia ada 3 komponen :
• Id atau Das Es ialah peliputan berbagai jenis
keinginan, dorongan, kehendak, instink manusia yang mendasari
perkembangan individu, yang sering juga disebut libido sexsual atau
dorongan untuk mencapai kenikmatan hidup. Dan terdapat 2 unsur
yang paling utama yaitu unsur sexsual dan unsur agresif sebagai
penggerak jiwa atau tingkah laku.
• Ego atau Das Ich ialah jembatan Id dengan dunia luar dari individu
itu. Sehingga yang muncul kedunia luar dari perbuatan individu
adalah egonya. Ego mengatur gerak gerik Id dalam memuaskan
libidonya, dengan cara tidak memunculkan semua dorongan yang
timbul atau yang ada didalam Id.
• Superego atau Uber Ich ialah pengawas tingkah laku individu dalam
berinteraksi dengan lingkungan. Superego tumbuh dan berkembang
berkat interaksi antara individu dengan lingkungannya yang bersifat
mengatur nilai moral, adat, tradisi, hukum, dan norma yang sejenis
lainnya.
2. Pandangan humanistik
Pandangan humanistic ditokohi oleh : Roger, Hansen, Adlet,
dan Martin Buber (UT 1985). Human artinnya manusia yaitu yang
memahami secara hakiki keberadaan manusia, oleh manusia dari
manusia berdasarkan ratio (pemikiran manusia). Pandangan tersebut
ialah :
• Dalam batas tertentu manusia mempunyai otonomi untuk
menentukan nasibnya
• Manusia bukan makhluk jahat atau baik, tetapi memiliki potensi
untuk keduanya
• Manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab atas
perbuatannya
• Manusia adalah makhluk yang senantiasa akan menjadi (on going
process) dan tak pernah sempurna.
3.Pandangan Behavioristik
Pelopor aliran Behavioristik ini antara
lain:
Skinner, Thorndike, Watson, Pavlov, Gagne(
Bigge, 1982: 10-11). Pandangan ini menjelaskan
bahwa Behavior(tingkah laku) ditentukan oleh
pengaruh lingkungan yang dialami oleh
individu yang bersangkutan. Lingkungan adalah
penentu tunggal dari tingkah laku manusia. Jika
ingin merubah tingkah laku manusia,perlu
dipersiapkan kondisi lingkungan yang
mendukung kearah itu.
C. hakekat manusia dengan di mensi-dimensinya
1. Dimensi keindividualan
Manusia sebagai makhluk individu dimaksudkan sebagai orang yang
utuh (individual:in-devide: tidak terbagi) yang terdiri dari kesatuan fisik dan
psikis. Keberadaan ini bersifat unik (unique), artinya berbeda antara yang
satu dari yang lainnya.
2. Dimensi kesosialan
Seseorang akan menemukan “akunya” , manakala berada ditengah
aku yang lainnya. Artinya manusia tidak akan mengenali dirinya dan dapat
mewujudkan potensinya sebelum dia berinteraksi dengan manusia yang
lain.manusia adalah makhluk sosial sekaligus makhluk individu. Esensi
manusia sebagai makhluk sosial adalah adanya kesadaran manusia tentang
status dan posisi dirinya dalam kehidupan bersama, serta tanggung jawabnya
dalam kebersamaan tersebut.
3. Dimensi kesusilaan
Istilah susila berasal dari dua kata, yaitu Su berarti
baik dan sila berarti dasar. Jadi kesusilaan merupakan
ukuran baik buruk. Driyarkara memandang bahwa manusia
susila adalah manusia yang memiliki nilai-nilai, menghayati
dan melaksanakan nilai-nilai tersebut dalam perbuatannya.
4. Dimensi keberagamaan
Dalam islam dikatakan pada saat roh ditiupkan
kerahim ibu maka pada saat itu ia berjanji akan
menghambakan diri kepada-Nya. Lalu kesempatan berada
dipermukaan bumi ini adalah untuk membuktikan janjinya.
Allah berfirman bahwa tidaklah diakui seseorang itu beriman
sebelum keimanannya diuji selama dimuka bumi.
BAB 2
“ HAKEKAT PENDIDIKAN ”
Hakikat pendidikan tidak terlepas dari hakikat
manusia.beberapa asumsi dasar yang berkenaan dengan
hakikat pendidikan dinyatakan oleh Raka Joni (1985:2)
sebagai berikut:
a. Pendidikan merupakan proses interaksi manusia yang
ditandai oleh keseimbangan antara kedaulatan subjek didik
dengan kewibawaan pendidikan.
b. Pendidikan merupakan usaha penyiapan subjek didik
menghadapi lingkungan hidup yang mengalami perubahan
yang semakin pesat.
c. Pendidikan meningkatkan kualitas kehidupan pribadi dan
masyarakat
d. Pendidikan berlangsung seumur hidup
e. Pendidikan merupakan kiat dalam menerapkan prinsip-
prinsip ilmu pengetahuan dan teknologi bagi pembentukan
manusia seutuhnya.
a. Menurut Pandangan Indonesia
• Driyarkara
Pendidikan adalah hidup bersama dalam kesatuan
tri tunggal ayah, ibu, dan anak dimana terjadi
pembudayaan anak, sehingga anak berproses
yang akhirnya bisa membudaya sendiri sebagai
manusia purnawan.
• Ki Hajar Dewantara
Pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk
memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan
batin, karakter), pikiran (intelek dan tubuh anak)
dalam Taman Siswa tidak boleh dipisah-pisahkan
bagian-bagian itu supaya kita memajukan
kesempurnaan hidup, kehidupan dan penghidupan
anak-anak yang kita didik, selaras dengan
dunianya.
b. Menurut Pandangan Barat
• Langeveld
Seorang ahli Pendidikan bangsa Belanda yang
pendidikannya berorientasi ke Eropa dan lebih
menekankan kepada teori-teori (ilmu).
Menurutnya “Pendidikan adalah bimbingan atau
pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa kepada
perkembangan anak untuk mencapai kedewasaannya
dengan tujuan agar anak cukup cakap melaksanakan
tugas hidupnya sendiri tidak dengan bantuan orang
lain.”
• John Dewey
Seorang ahli filsafat pendidikan amerika, yang lebih
menekankan pada kegunaan (pragmatis).
Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-
kecakapan fundamental secara intelektual dan
emosional kearah alam dan sesama manusia.
• J.J. Rousseau
Pendidikan adalah memberi kita perbekalan yang tidak
ada pada masa kanak-kanak, akan tetapi kita
membutuhkannya pada waktu dewasa.
• Carter V.Good
Pendidikan adalah seni, praktik, atau profesi pengajar.
serta Ilmu yang sistematis atau pengajaran yang
berhubungan dengan prinsip dan metode-metode
mengajar, pengawasan dan bimbingan murid, dalam arti
luas digantikan dengan istilah pendidikan.
Menurut pandangan Undang-Undang
• Menurut UU Nomor 2 Tahun 1989
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik
melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi
peranannya di masa yang akan datang.
• Menurut UU No. 20 tahun 2003
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.
GBHN (Tap MPR NO.II/MPR/1988)
Pendidikan pada hakekatnya adalah usaha sadar untuk
mengembangkan kepribadian dengan kemampuan didalam dan di
luar sekolah dan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan
dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Karena itu
pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara
keluarga, masyarakat, dan pemerintah.
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) NO.20 Tahun
2003 bab I Pasal I
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual,keagamaan,pengendalian
diri,kepribdian,kecerdasan,akhlak mulia,serta keterampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Komponen-komponen pendidikan
Komponen-komponen pendidikan terdiri dari 7
komponen, yaitu
1. Tujuan pendidikan
2. Peserta didik
3. Pendidik
4. Metode pendidikan
5. Isi pendidikan/materi pendidikan
6. Lingkungan pendidikan
7. Alat dan fasilitas pendidikan
1. Tujuan pendidikan
Tingkah laku manusia, secara sadar maupun tidak sadar tentu
berarah pada tujuan. Demikian juga halnya tingkah laku manusia
yang bersifat dan bernilai pendidikan. Keharusan terdapatnya
tujuan pada tindakan pendidikan didasari oleh sifat ilmu pendidikan
yang normative dan praktis.
a. Ilmu pengetahuan normatif
Sebagai ilmu pengetahuan normative, ilmu pendidikan
merumuskan kaidah-kaidah, norma-norma atau ukuran tingkah
laku perbuatan yang sebenarnya dilaksanakan oleh manusia
b. Ilmu pengetahuan praktis
Tugas pendidikan atau pendidik maupun guru ialah menanamkan
sistem-sistem norma tingkah laku perbuatan yang didasarkan
kepada dasar-dasar filsafat yang dijunjung oleh lembaga pendidikan
dan pendidik dalam suatu masyarakat
2. Peserta didik
Peserta didik sangat menunjang dalam proses
pendidikan, dengan perkembangan konsep
pendidikan yang tidak hanya terbatas pada usia
sekolah saja memberikan konsekuensi pada
pengertian peserta didik. Kalau dulu orang
mengansumsikan peserta didik terdiri dari anak-
anak pada usia sekolah, maka sekarang peserta
didik dimungkinkan termasuk juga didalamnya
orang dewasa.
3. pendidik
Salah satu komponen penting dalam pendidikan adalah pendidik.
Terdapat beberapa jenis pendidik dalam konsep pendidikan
sebagai gejala kebudayaan, yang tidak terbatas pada pendidik di
sekolah saja. Ditinjau dari lembaga pendidikan muncullah
beberapa individu yang tergolong pada pendidik, yaitu:
a. Orang Dewasa
Orang dewasa sebagai pendidik dilandasi oleh sifat umum
kepribadian orang dewasa, sebagaimana dikemukakan oleh
Syaifullah yaitu, manusia yang memiliki pandangan hidup yang
pasti dan tetap, manusia yang telah memiliki tujuan hidup atau
cita-cita hidup tertentu termasuk cita-cita untuk mendidik.
b. Orang Tua
Kedudukan orang tua sebagai pendidik, merupakan pendidik
yang kodrati dalam lingkungan keluarga. Artinya orang tua
sebagai pendidik utama dan yang pertama yang berlandaskan
pada hubungan cinta kasih bagi keluarga atau anak yang lahir di
lingkungan keluarga mereka.
c. Guru/Pendidik di Sekolah
Guru sebagai pendidik di sekolah yang secara langsung maupun tidak
langsung mendapat tugas dari orang tua atau masyarakat untuk
melaksanakan pendidikan. Karena itu kedudukan guru sebagai pendidik
harus memenuhi persyaratan-persyaratan baik persyaratan pribadi
maupun persyaratan jabatan. Persyaratan pribadi didasarkan pada
ketentuan yang terkait dengan nilai dari tingkah laku yang
dianut, kemampuan intelektual, sikap dan emosional. Persyaratan jabatan
(profesi) terkait dengan pengetahuan yang dimiliki baik yang berhubungan
dengan pesan yang ingin disampaikan maupun cara penyampaiannya dan
memiliki filsafat pendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan.
d. Pemimpin Masyarakat dan Pemimpin Keagamaan
Peran pemimpin masyarakat menjadi pendidik didasarkan pada aktifitas
pemimpin dalam mengadakan pembinaan atau bimbingan kepada
anggota yang dipimpin. Pemimpin keagamaan sebagai pendidik tampak
pada aktifitas pembinaan atau pengembangan sifat kerokhanian
manusia, yang didasarkan pada nilai-nilai keagamaan.
4. Metode pendidikan
Dalam interaksi pendidikan tidak terlepas dari
metode atau bagaimana pendidikan dilaksanakan.
Terdapat beberapa metode yang dilakukan dalam
mendidik, yaitu :
A. Metode Diktatoral
Metode ini bersumber dari teori empiris yang
menyatakan bahwa perkembangan manusia
semata-mata ditentukan oleh faktor luar manusia.
Metode ini menimbulkan sikap diktator dan
otoriter, pendidik yang menentukan segalanya.
B. Metode Liberal
Bersumber dari pendirian Naturalisme yang berpendapat
bahwa perkembangan manusia itu sebagian besar
ditentukan oleh kekuatan dari dalam yang secara wajar ada
pada diri manusia. Pandangan ini menimbulkan sikap
bahwa pendidik jangan terlalu banyak ikut campur terhadap
perkembangan anak. Membiarkan anak berkembang sesuai
dengan kodratnya secara bebas.
C. Metode Demokratis
Bersumber dari teori konvergen yang mengatakan bahwa
perkembangan manusia itu tergantung pada faktor dari
dalam dan dari luar. Didalam perkembangan anak kita tidak
boleh bersifat menguasai anak, tetapi harus bersifat
membimbing perkembangan anak. Disini tampak bahwa
pendidik dan anak didik sama-sama penting dalam proses
pendidikan untuk mencapai tujuan.
5. Isi Pendidikan/Materi Pendidikan
Isi pendidikan memiliki kaitan yang erat dengan
tujuan pendidikan. Untuk mencapai tujuan
pendidikan perlu disampaikan kepada peserta
didik isi/materi yang biasanya disebut kurikulum
dalam pendidikan formal.Macam-macam
pendidikan tersebut terdiri dari pendidikan agama,
pendidikan sosial, pendidikan keterampilan,
pendidikan jasmani dll.
6. Lingkungan Pendidikan
Lingkungan pendidikan meliputi segala segi
kehidupan atau kebudayaan. Hal ini
didasarkan pada pendapat bahwa pendidikan
sebagai gejala kebudayaan, yang tidak
membatasi pendidikan pada sekolah saja.
Dalam artian yang sederhana lingkungan
pendidikan adalah segala sesuatu yang ada di
sekeliling anak didik dan komponen-
komponen pendidikan yang lain.
7. Alat dan Fasilitas Pendidikan
Alat dan fasilitas pendidikan sangat
dibutuhkan dalam proses pendidikan, dengan
adanya fasilitas-fasilitas pendidikan maka
proses pendidikan akan berjalan dengan lancar
sehingga tujuan pendidikan akan mudah
dicapai. Misalnya laboratorium lengkap
dengan alat-alat percobaannya, internet dll.
BAB 3
“ LINGKUNGAN PENDIDIKAN ”
A. Pengertian Lingkungan pendidikan
Lingkungan pendidikan merupakan lingkungan tempat berlangsungnya
proses pendidikan yang merupakan bagian dari lingkungan sosial.
B. Jenis lingkungan pendidikan
1. Lingkungan keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama
karena manusia pertama kalinya memperoleh pendidikan di lingkungan
ini sebelum mengenal lingkungan yang lain. Selain itu manusia mengalami
proses pendidikan sejak lahir bahkan sejak dalam kandungan.
Pendidikan keluarga dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
a) Pendidikan prenatal (pendidikan dalam kandungan atau sebelum lahir)
Merupakan pendidikan yang berlangsung selama anak belum lahir atau
masih dalam kandungan.Pendidikan prenatal lebih dipengaruhi kepada
kebudayaan lingkungan setempat.
Secara sederhana pendidikan prenatal dalam keluarga bertujuan
untuk menjamin agar si jabang bayi sehat selama dalam
kandungan hingga nanti pada akhirnya dapat terlahir dengan
proses yang lancar dan selamat.
b) Pendidikan postnatal (pendidikan setelah lahir)
Merupakan pendidikan manusia dalam lingkungan keluarga di
mulai dari manusia lahir hingga akhir hayatnya. Segala macam
ilmu kehidupan yang diperoleh dari keluarga merupakan hasil
dari proses pendidikan keluarga postnatal. Dari manusia lahir
sudah diajari bagaimana caranya
tengkurap, minum, makan, berjalan hingga tentang ilmu agama.
2. Lingkungan sekolah
Karena perkembangan peradaban manusia, orang tidak
mampu lagi untuk mendidik anaknya.Pada masyarakat
yang semakin komplek, anak perlu persiapan khusus
untuk mencapai masa dewasa. Persiapan ini perlu
waktu, tempat dan proses yang khusus. Dengan
demikian orang perlu lembaga tertentu untuk
menggantikan sebagian fungsinya sebagai pendidik.
Lembaga ini disebut sekolah.
Dasar tanggung jawab sekolah akan pendidikan meliputi:
- tanggung jawab formal kelembagaan
- tanggung jawab keilmuan
- tanggung jawab fungsional
3.Lingkungan masyarakat
Masyarakat adalah salah satu lingkungan pendidikan yang
besar pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi
seseorang. Masyarakat mempunyai peranan yang penting
dalam mencapai tujun pendidikan nasional. Kaitan antara
masyarakat dan pendidikan dapat ditinjau dari beberapa
segi yakni:
a) Masyarakat adalah sebagai penyelenggara pendidikan,baik
yang dilembagakan maupun yang tidak dilembagakan.
b) Lembaga-lembaga kemasyarakatan atau kelompok sosial di
masyarakat,baik langsung maupun tidak langsung ikut
mempunyai peran dan fungsi edukatif.
c) Dalam masyarakat tersedia berbagai sumber belajar baik
yang dirancang maupun yang dimanfaatkan.
Maisyaroh (2003) mengelompokkan
masyarakat secara umum, yaitu:
(1)Masyarakat orang tua, adalah gabungan dari
orang tua yang menyekolahkan anaknya di
sekolah tertentu
(2)Masyarakat yang terorganisasi dalam
organisasi tertentu
(3) Masyarakat luas yang terdiri dari individu-
individu yang tidak terkait secara langsung
terhadap penyelenggaraan program
pendidikan.
C. Fungsi lingkungan pendidikan
Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu
peserta didik dalam interaksi dengan berbagai lingkungan
sekitarnya, utamanaya berbagai sumber daya pendidikan
yang tersedia, agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang
optimal.
Fungsi lingkungan pendidikan menurut Tirtarahardja (2000)
untuk membantu peserta didik dalam berinteraksi dengan
berbagai lingkungan sekitarnya (fisik/sosial/budaya) dan
mengajarkan tingkah laku umum serta menyeleksi atau
mempersiapkan individu untuk peranan-peranan tertentu.
Fungsi Lingkungan keluarga
• Sebagai pengalaman pertama masa kanak-kanak
• Menjamin kehidupan emosional anak
• Menanamkan dasar pendidikan moral
• Memberikan dasar pendidikan sosial.
• Meletakkan dasar-dasar pendidikan agama bagi
anak-anak.
Fungsi lingkungan sekolah
• Sekolah membantu orang tua mengerjakan kebiasaan-kebiasaan
yang baik serta menanamkan budi pekerti yang baik.
• Sekolah memberikan pendidikan untuk kehidupan di dalam
masyarakat yang sukar atau tidak dapat diberikan di rumah.
• Sekolah melatih anak-anak memperoleh kecakapan-kecakapan
seperti membaca, menulis, berhitung, menggambar serta ilmu-
ilmu lain sifatnya mengembangkan kecerdasan dan pengetahuan.
• Di sekolah diberikan pelajaran etika, keagamaan, estetika,
membenarkan benar atau salah, dan sebagainya.
 Fungsi Lingkungan Masyarakat
• Memberikan kemampuan profesional untuk
mengembangkan karier melalui kursus penyegaran,
penataran, lokakarya, seminar, konferensi ilmiah dan
sebagainya
• Memberikan kemampuan teknis akademik dalam suatu
sistem pendidikan nasional seperti sekolah terbuka,
kursus tertulis, pendidikan melalui radio dan televisi
• Ikut serta mengembangkan kemampuan kehidupan
beragama melalui pesantren, pengajian, pendidikan
agama disurau, biara, dan sekolah minggu
• Mengembangkan kemampuan kehidupan
sosial budaya melalui bengkel
seni, teater, olahraga, seni bela diri, lembaga
pendidikan spiritual dan sebagainya
• Mengembangkan keahlian dan keterampilan
melalui sistem magang untuk menjadi ahli
bangunan, montir, dan sebagainya.
PENGARUH TIMBAL BALIK ANTAR KETIGA LINGKUNGAN
PENDIDIKAN TERHADAP PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
Hubungan sekolah dengan masyarakat
1. Hubungan transaksional antara sekolah dengan masyarakat
* Sekolah sebagai partner masyarakat dalam melakukan fungsi
pendidikan.
* Sekolah sebagai produsen yang melayani pesanan-pesanan
pendidikan dari masyarakat.
Caranya:
- aktivitas kurikuler para siswa (mengumpulkan bahan
pengajaran dari masyarakat, kegiatan pengabdian pada
masyarakat, magang, dsb)
- aktivitas para guru (kunjungan ke rumah siswa, dll)
- kegiatan ekstrakurikuler (melakukan kegiatan ekstrakurikuler
dengan melibatkan masyarakat)
- kunjungan orangtua/anggota masyarakat ke
sekolah (saat kenaikan kelas, ultah sekolah, dsb)
- melalui media massa (publikasi mengenai kegiatan
sekolah lewat televisi, dsb)
2. Hubungan transmisif dan transformasif
Hubungan transmisif terjadi manakala sekolah
berperan sebagai pewarisan kebudayaan.
Hubungan transformasif terjadi manakala sekolah
berperan sebagai agen pembaharu dalam
kebudayaan masyarakat.
Sekolah tidak akan bisa melaksanakan kegiatan
pendidikannya dengan lancar tanpa adanya
dukungan dan keterlibatan dari masyarakat.
Sehingga pihak sekolah hendaknya mampu
menganalisis kelompok masyarakat mana yang
bisa dilibatkan dalam mendukung
penyelenggaraan dan pengembangan program
pendidikan di sekolah. Kreativitas pihak
sekolah/pengelola pendidikan dalam hal ini sangat
diperlukan untuk menjalin kerjasama sekolah
dengan lingkungan keluarga/orang tua siswa dan
lingkungan masyarakat di sekitar sekolah.
Setiap pusat pendidikan dapat berpeluang
memberikan kontribusi yang besar dalam ketiga
kegiatan pendidikan, yakni:
1. pembimbingan dalam upaya pemantapan pribadi
yang berbudaya
2. pengajaran dalam upaya penguasaan pengetahuan
3. pelatihan dalam upaya pemahiran keterampilan.
Thank You

Powerpoint tgz akhir peng.pendidikan

  • 1.
    TUGAS AKHIR PENGANTARPENDIDIKAN  BAB 1  BAB 2, dan  BAB 3 DI SUSUN O L E H : NILAM SARI ENGLISH III A DOSEN: Dra. ELDARNI M,Pd SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) YDB LUBUK ALUNG 2012
  • 2.
    BAB 1 “ Hakekatmanusia dan Dimensi- dimensinya ” BAB 2 “ Hakekat Pendidikan “ BAB 3 “ Lingkungan Pendidikan “
  • 3.
    BAB 1 “ HAKEKATMANUSIA DAN DIMENSI-DIMENSINYA ” A. sifat hakekat manusia Terminology, istilah term berasal dari bahasa arab dengan kata dasarnya “haq” yang berarti kebenaran yang sesungguhnya (mendasar). Istilah manusia juga berasal dari bahasa arab yaitu dari kata “man” yang artinya manusia.penggalan kata yang kedua yaitu “nasia” yang artinya pelupa. Jadi, istilah manusia berarti orang yang sering lupa tentang aturan atau peringatan-peringatan tuhan.
  • 4.
    Beberapa istilah lainyang digunakan untuk Manusia 1. Al insane : manusia yang punya hati (“insane kamil = nurani). 2. Al basyar : manusia alam bentuk lahiriyah 3. Annas : manusia secara umum (people) 4. Baniadam : artinya turunan atau anak cucu adam
  • 5.
    B. Hakekat Manusiadalam Berbagai Pandangan a. Pandangan Islam/Al-Qur’an Islam memandang hakekat manusia berdasarkan pandangan pribadi atau individu orang yang memandang, akan tetapi pandangan yang berdasarkan atas ayat-ayat Tuhan yang terkandung didalam Al- Qur’an atau pandangan islam dapat di jelaskan sebagai beikut:  Manusia sebagai Makhluk Ciptaan Tuhan/Allah Tuhan sebagai pencipta (khalik) dan selain Tuhan disebut makhluk. Idealnya setiap makhluk harus patuh bertingkah laku sesuai dengan aturan yang ditetapkan penciptanya. Contohnya: kalau seorang insinyur membuat sebuah roda, maka tugas atau “tingkah laku” roda itu adalah berputar sesuai dengan ketentuan yang dikehendaki oleh insinyur tersebut. Bila roda tersebut tidak dapat berputar sesuai dengan ketentuan insinyur, roda yang semacam itu dinamakan cacat atau rusak.  Hakekat manusia sebagai khalifah “manager” Tuhan Yang Maha Esa memposisikan manusia pada tempat paling tinggi dari semua makhluknya yaitu sebagai khalifah “pemimpin” untuk mengatur alam ini.
  • 6.
    b. Pandangan IlmuanBarat 1. Pandangan Pisiko Analitik “S. Freud “ Menurut Freud dan Akta Mengajar V oleh Universitas Terbuka, secara hakiki kepribadian manusia ada 3 komponen : • Id atau Das Es ialah peliputan berbagai jenis keinginan, dorongan, kehendak, instink manusia yang mendasari perkembangan individu, yang sering juga disebut libido sexsual atau dorongan untuk mencapai kenikmatan hidup. Dan terdapat 2 unsur yang paling utama yaitu unsur sexsual dan unsur agresif sebagai penggerak jiwa atau tingkah laku. • Ego atau Das Ich ialah jembatan Id dengan dunia luar dari individu itu. Sehingga yang muncul kedunia luar dari perbuatan individu adalah egonya. Ego mengatur gerak gerik Id dalam memuaskan libidonya, dengan cara tidak memunculkan semua dorongan yang timbul atau yang ada didalam Id. • Superego atau Uber Ich ialah pengawas tingkah laku individu dalam berinteraksi dengan lingkungan. Superego tumbuh dan berkembang berkat interaksi antara individu dengan lingkungannya yang bersifat mengatur nilai moral, adat, tradisi, hukum, dan norma yang sejenis lainnya.
  • 7.
    2. Pandangan humanistik Pandanganhumanistic ditokohi oleh : Roger, Hansen, Adlet, dan Martin Buber (UT 1985). Human artinnya manusia yaitu yang memahami secara hakiki keberadaan manusia, oleh manusia dari manusia berdasarkan ratio (pemikiran manusia). Pandangan tersebut ialah : • Dalam batas tertentu manusia mempunyai otonomi untuk menentukan nasibnya • Manusia bukan makhluk jahat atau baik, tetapi memiliki potensi untuk keduanya • Manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab atas perbuatannya • Manusia adalah makhluk yang senantiasa akan menjadi (on going process) dan tak pernah sempurna.
  • 8.
    3.Pandangan Behavioristik Pelopor aliranBehavioristik ini antara lain: Skinner, Thorndike, Watson, Pavlov, Gagne( Bigge, 1982: 10-11). Pandangan ini menjelaskan bahwa Behavior(tingkah laku) ditentukan oleh pengaruh lingkungan yang dialami oleh individu yang bersangkutan. Lingkungan adalah penentu tunggal dari tingkah laku manusia. Jika ingin merubah tingkah laku manusia,perlu dipersiapkan kondisi lingkungan yang mendukung kearah itu.
  • 9.
    C. hakekat manusiadengan di mensi-dimensinya 1. Dimensi keindividualan Manusia sebagai makhluk individu dimaksudkan sebagai orang yang utuh (individual:in-devide: tidak terbagi) yang terdiri dari kesatuan fisik dan psikis. Keberadaan ini bersifat unik (unique), artinya berbeda antara yang satu dari yang lainnya. 2. Dimensi kesosialan Seseorang akan menemukan “akunya” , manakala berada ditengah aku yang lainnya. Artinya manusia tidak akan mengenali dirinya dan dapat mewujudkan potensinya sebelum dia berinteraksi dengan manusia yang lain.manusia adalah makhluk sosial sekaligus makhluk individu. Esensi manusia sebagai makhluk sosial adalah adanya kesadaran manusia tentang status dan posisi dirinya dalam kehidupan bersama, serta tanggung jawabnya dalam kebersamaan tersebut.
  • 10.
    3. Dimensi kesusilaan Istilahsusila berasal dari dua kata, yaitu Su berarti baik dan sila berarti dasar. Jadi kesusilaan merupakan ukuran baik buruk. Driyarkara memandang bahwa manusia susila adalah manusia yang memiliki nilai-nilai, menghayati dan melaksanakan nilai-nilai tersebut dalam perbuatannya. 4. Dimensi keberagamaan Dalam islam dikatakan pada saat roh ditiupkan kerahim ibu maka pada saat itu ia berjanji akan menghambakan diri kepada-Nya. Lalu kesempatan berada dipermukaan bumi ini adalah untuk membuktikan janjinya. Allah berfirman bahwa tidaklah diakui seseorang itu beriman sebelum keimanannya diuji selama dimuka bumi.
  • 11.
    BAB 2 “ HAKEKATPENDIDIKAN ” Hakikat pendidikan tidak terlepas dari hakikat manusia.beberapa asumsi dasar yang berkenaan dengan hakikat pendidikan dinyatakan oleh Raka Joni (1985:2) sebagai berikut: a. Pendidikan merupakan proses interaksi manusia yang ditandai oleh keseimbangan antara kedaulatan subjek didik dengan kewibawaan pendidikan. b. Pendidikan merupakan usaha penyiapan subjek didik menghadapi lingkungan hidup yang mengalami perubahan yang semakin pesat. c. Pendidikan meningkatkan kualitas kehidupan pribadi dan masyarakat d. Pendidikan berlangsung seumur hidup e. Pendidikan merupakan kiat dalam menerapkan prinsip- prinsip ilmu pengetahuan dan teknologi bagi pembentukan manusia seutuhnya.
  • 12.
    a. Menurut PandanganIndonesia • Driyarkara Pendidikan adalah hidup bersama dalam kesatuan tri tunggal ayah, ibu, dan anak dimana terjadi pembudayaan anak, sehingga anak berproses yang akhirnya bisa membudaya sendiri sebagai manusia purnawan. • Ki Hajar Dewantara Pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek dan tubuh anak) dalam Taman Siswa tidak boleh dipisah-pisahkan bagian-bagian itu supaya kita memajukan kesempurnaan hidup, kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik, selaras dengan dunianya.
  • 13.
    b. Menurut PandanganBarat • Langeveld Seorang ahli Pendidikan bangsa Belanda yang pendidikannya berorientasi ke Eropa dan lebih menekankan kepada teori-teori (ilmu). Menurutnya “Pendidikan adalah bimbingan atau pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa kepada perkembangan anak untuk mencapai kedewasaannya dengan tujuan agar anak cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri tidak dengan bantuan orang lain.” • John Dewey Seorang ahli filsafat pendidikan amerika, yang lebih menekankan pada kegunaan (pragmatis). Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan- kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia.
  • 14.
    • J.J. Rousseau Pendidikanadalah memberi kita perbekalan yang tidak ada pada masa kanak-kanak, akan tetapi kita membutuhkannya pada waktu dewasa. • Carter V.Good Pendidikan adalah seni, praktik, atau profesi pengajar. serta Ilmu yang sistematis atau pengajaran yang berhubungan dengan prinsip dan metode-metode mengajar, pengawasan dan bimbingan murid, dalam arti luas digantikan dengan istilah pendidikan.
  • 15.
    Menurut pandangan Undang-Undang •Menurut UU Nomor 2 Tahun 1989 Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. • Menurut UU No. 20 tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.
  • 16.
    GBHN (Tap MPRNO.II/MPR/1988) Pendidikan pada hakekatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dengan kemampuan didalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Karena itu pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) NO.20 Tahun 2003 bab I Pasal I Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual,keagamaan,pengendalian diri,kepribdian,kecerdasan,akhlak mulia,serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
  • 17.
    Komponen-komponen pendidikan Komponen-komponen pendidikanterdiri dari 7 komponen, yaitu 1. Tujuan pendidikan 2. Peserta didik 3. Pendidik 4. Metode pendidikan 5. Isi pendidikan/materi pendidikan 6. Lingkungan pendidikan 7. Alat dan fasilitas pendidikan
  • 18.
    1. Tujuan pendidikan Tingkahlaku manusia, secara sadar maupun tidak sadar tentu berarah pada tujuan. Demikian juga halnya tingkah laku manusia yang bersifat dan bernilai pendidikan. Keharusan terdapatnya tujuan pada tindakan pendidikan didasari oleh sifat ilmu pendidikan yang normative dan praktis. a. Ilmu pengetahuan normatif Sebagai ilmu pengetahuan normative, ilmu pendidikan merumuskan kaidah-kaidah, norma-norma atau ukuran tingkah laku perbuatan yang sebenarnya dilaksanakan oleh manusia b. Ilmu pengetahuan praktis Tugas pendidikan atau pendidik maupun guru ialah menanamkan sistem-sistem norma tingkah laku perbuatan yang didasarkan kepada dasar-dasar filsafat yang dijunjung oleh lembaga pendidikan dan pendidik dalam suatu masyarakat
  • 19.
    2. Peserta didik Pesertadidik sangat menunjang dalam proses pendidikan, dengan perkembangan konsep pendidikan yang tidak hanya terbatas pada usia sekolah saja memberikan konsekuensi pada pengertian peserta didik. Kalau dulu orang mengansumsikan peserta didik terdiri dari anak- anak pada usia sekolah, maka sekarang peserta didik dimungkinkan termasuk juga didalamnya orang dewasa.
  • 20.
    3. pendidik Salah satukomponen penting dalam pendidikan adalah pendidik. Terdapat beberapa jenis pendidik dalam konsep pendidikan sebagai gejala kebudayaan, yang tidak terbatas pada pendidik di sekolah saja. Ditinjau dari lembaga pendidikan muncullah beberapa individu yang tergolong pada pendidik, yaitu: a. Orang Dewasa Orang dewasa sebagai pendidik dilandasi oleh sifat umum kepribadian orang dewasa, sebagaimana dikemukakan oleh Syaifullah yaitu, manusia yang memiliki pandangan hidup yang pasti dan tetap, manusia yang telah memiliki tujuan hidup atau cita-cita hidup tertentu termasuk cita-cita untuk mendidik. b. Orang Tua Kedudukan orang tua sebagai pendidik, merupakan pendidik yang kodrati dalam lingkungan keluarga. Artinya orang tua sebagai pendidik utama dan yang pertama yang berlandaskan pada hubungan cinta kasih bagi keluarga atau anak yang lahir di lingkungan keluarga mereka.
  • 21.
    c. Guru/Pendidik diSekolah Guru sebagai pendidik di sekolah yang secara langsung maupun tidak langsung mendapat tugas dari orang tua atau masyarakat untuk melaksanakan pendidikan. Karena itu kedudukan guru sebagai pendidik harus memenuhi persyaratan-persyaratan baik persyaratan pribadi maupun persyaratan jabatan. Persyaratan pribadi didasarkan pada ketentuan yang terkait dengan nilai dari tingkah laku yang dianut, kemampuan intelektual, sikap dan emosional. Persyaratan jabatan (profesi) terkait dengan pengetahuan yang dimiliki baik yang berhubungan dengan pesan yang ingin disampaikan maupun cara penyampaiannya dan memiliki filsafat pendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan. d. Pemimpin Masyarakat dan Pemimpin Keagamaan Peran pemimpin masyarakat menjadi pendidik didasarkan pada aktifitas pemimpin dalam mengadakan pembinaan atau bimbingan kepada anggota yang dipimpin. Pemimpin keagamaan sebagai pendidik tampak pada aktifitas pembinaan atau pengembangan sifat kerokhanian manusia, yang didasarkan pada nilai-nilai keagamaan.
  • 22.
    4. Metode pendidikan Dalaminteraksi pendidikan tidak terlepas dari metode atau bagaimana pendidikan dilaksanakan. Terdapat beberapa metode yang dilakukan dalam mendidik, yaitu : A. Metode Diktatoral Metode ini bersumber dari teori empiris yang menyatakan bahwa perkembangan manusia semata-mata ditentukan oleh faktor luar manusia. Metode ini menimbulkan sikap diktator dan otoriter, pendidik yang menentukan segalanya.
  • 23.
    B. Metode Liberal Bersumberdari pendirian Naturalisme yang berpendapat bahwa perkembangan manusia itu sebagian besar ditentukan oleh kekuatan dari dalam yang secara wajar ada pada diri manusia. Pandangan ini menimbulkan sikap bahwa pendidik jangan terlalu banyak ikut campur terhadap perkembangan anak. Membiarkan anak berkembang sesuai dengan kodratnya secara bebas. C. Metode Demokratis Bersumber dari teori konvergen yang mengatakan bahwa perkembangan manusia itu tergantung pada faktor dari dalam dan dari luar. Didalam perkembangan anak kita tidak boleh bersifat menguasai anak, tetapi harus bersifat membimbing perkembangan anak. Disini tampak bahwa pendidik dan anak didik sama-sama penting dalam proses pendidikan untuk mencapai tujuan.
  • 24.
    5. Isi Pendidikan/MateriPendidikan Isi pendidikan memiliki kaitan yang erat dengan tujuan pendidikan. Untuk mencapai tujuan pendidikan perlu disampaikan kepada peserta didik isi/materi yang biasanya disebut kurikulum dalam pendidikan formal.Macam-macam pendidikan tersebut terdiri dari pendidikan agama, pendidikan sosial, pendidikan keterampilan, pendidikan jasmani dll.
  • 25.
    6. Lingkungan Pendidikan Lingkunganpendidikan meliputi segala segi kehidupan atau kebudayaan. Hal ini didasarkan pada pendapat bahwa pendidikan sebagai gejala kebudayaan, yang tidak membatasi pendidikan pada sekolah saja. Dalam artian yang sederhana lingkungan pendidikan adalah segala sesuatu yang ada di sekeliling anak didik dan komponen- komponen pendidikan yang lain.
  • 26.
    7. Alat danFasilitas Pendidikan Alat dan fasilitas pendidikan sangat dibutuhkan dalam proses pendidikan, dengan adanya fasilitas-fasilitas pendidikan maka proses pendidikan akan berjalan dengan lancar sehingga tujuan pendidikan akan mudah dicapai. Misalnya laboratorium lengkap dengan alat-alat percobaannya, internet dll.
  • 27.
    BAB 3 “ LINGKUNGANPENDIDIKAN ” A. Pengertian Lingkungan pendidikan Lingkungan pendidikan merupakan lingkungan tempat berlangsungnya proses pendidikan yang merupakan bagian dari lingkungan sosial. B. Jenis lingkungan pendidikan 1. Lingkungan keluarga Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama karena manusia pertama kalinya memperoleh pendidikan di lingkungan ini sebelum mengenal lingkungan yang lain. Selain itu manusia mengalami proses pendidikan sejak lahir bahkan sejak dalam kandungan. Pendidikan keluarga dapat dibedakan menjadi dua yaitu: a) Pendidikan prenatal (pendidikan dalam kandungan atau sebelum lahir) Merupakan pendidikan yang berlangsung selama anak belum lahir atau masih dalam kandungan.Pendidikan prenatal lebih dipengaruhi kepada kebudayaan lingkungan setempat.
  • 28.
    Secara sederhana pendidikanprenatal dalam keluarga bertujuan untuk menjamin agar si jabang bayi sehat selama dalam kandungan hingga nanti pada akhirnya dapat terlahir dengan proses yang lancar dan selamat. b) Pendidikan postnatal (pendidikan setelah lahir) Merupakan pendidikan manusia dalam lingkungan keluarga di mulai dari manusia lahir hingga akhir hayatnya. Segala macam ilmu kehidupan yang diperoleh dari keluarga merupakan hasil dari proses pendidikan keluarga postnatal. Dari manusia lahir sudah diajari bagaimana caranya tengkurap, minum, makan, berjalan hingga tentang ilmu agama.
  • 29.
    2. Lingkungan sekolah Karenaperkembangan peradaban manusia, orang tidak mampu lagi untuk mendidik anaknya.Pada masyarakat yang semakin komplek, anak perlu persiapan khusus untuk mencapai masa dewasa. Persiapan ini perlu waktu, tempat dan proses yang khusus. Dengan demikian orang perlu lembaga tertentu untuk menggantikan sebagian fungsinya sebagai pendidik. Lembaga ini disebut sekolah. Dasar tanggung jawab sekolah akan pendidikan meliputi: - tanggung jawab formal kelembagaan - tanggung jawab keilmuan - tanggung jawab fungsional
  • 30.
    3.Lingkungan masyarakat Masyarakat adalahsalah satu lingkungan pendidikan yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi seseorang. Masyarakat mempunyai peranan yang penting dalam mencapai tujun pendidikan nasional. Kaitan antara masyarakat dan pendidikan dapat ditinjau dari beberapa segi yakni: a) Masyarakat adalah sebagai penyelenggara pendidikan,baik yang dilembagakan maupun yang tidak dilembagakan. b) Lembaga-lembaga kemasyarakatan atau kelompok sosial di masyarakat,baik langsung maupun tidak langsung ikut mempunyai peran dan fungsi edukatif. c) Dalam masyarakat tersedia berbagai sumber belajar baik yang dirancang maupun yang dimanfaatkan.
  • 31.
    Maisyaroh (2003) mengelompokkan masyarakatsecara umum, yaitu: (1)Masyarakat orang tua, adalah gabungan dari orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah tertentu (2)Masyarakat yang terorganisasi dalam organisasi tertentu (3) Masyarakat luas yang terdiri dari individu- individu yang tidak terkait secara langsung terhadap penyelenggaraan program pendidikan.
  • 32.
    C. Fungsi lingkunganpendidikan Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu peserta didik dalam interaksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya, utamanaya berbagai sumber daya pendidikan yang tersedia, agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang optimal. Fungsi lingkungan pendidikan menurut Tirtarahardja (2000) untuk membantu peserta didik dalam berinteraksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya (fisik/sosial/budaya) dan mengajarkan tingkah laku umum serta menyeleksi atau mempersiapkan individu untuk peranan-peranan tertentu.
  • 33.
    Fungsi Lingkungan keluarga •Sebagai pengalaman pertama masa kanak-kanak • Menjamin kehidupan emosional anak • Menanamkan dasar pendidikan moral • Memberikan dasar pendidikan sosial. • Meletakkan dasar-dasar pendidikan agama bagi anak-anak.
  • 34.
    Fungsi lingkungan sekolah •Sekolah membantu orang tua mengerjakan kebiasaan-kebiasaan yang baik serta menanamkan budi pekerti yang baik. • Sekolah memberikan pendidikan untuk kehidupan di dalam masyarakat yang sukar atau tidak dapat diberikan di rumah. • Sekolah melatih anak-anak memperoleh kecakapan-kecakapan seperti membaca, menulis, berhitung, menggambar serta ilmu- ilmu lain sifatnya mengembangkan kecerdasan dan pengetahuan. • Di sekolah diberikan pelajaran etika, keagamaan, estetika, membenarkan benar atau salah, dan sebagainya.
  • 35.
     Fungsi LingkunganMasyarakat • Memberikan kemampuan profesional untuk mengembangkan karier melalui kursus penyegaran, penataran, lokakarya, seminar, konferensi ilmiah dan sebagainya • Memberikan kemampuan teknis akademik dalam suatu sistem pendidikan nasional seperti sekolah terbuka, kursus tertulis, pendidikan melalui radio dan televisi • Ikut serta mengembangkan kemampuan kehidupan beragama melalui pesantren, pengajian, pendidikan agama disurau, biara, dan sekolah minggu
  • 36.
    • Mengembangkan kemampuankehidupan sosial budaya melalui bengkel seni, teater, olahraga, seni bela diri, lembaga pendidikan spiritual dan sebagainya • Mengembangkan keahlian dan keterampilan melalui sistem magang untuk menjadi ahli bangunan, montir, dan sebagainya.
  • 37.
    PENGARUH TIMBAL BALIKANTAR KETIGA LINGKUNGAN PENDIDIKAN TERHADAP PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK Hubungan sekolah dengan masyarakat 1. Hubungan transaksional antara sekolah dengan masyarakat * Sekolah sebagai partner masyarakat dalam melakukan fungsi pendidikan. * Sekolah sebagai produsen yang melayani pesanan-pesanan pendidikan dari masyarakat. Caranya: - aktivitas kurikuler para siswa (mengumpulkan bahan pengajaran dari masyarakat, kegiatan pengabdian pada masyarakat, magang, dsb) - aktivitas para guru (kunjungan ke rumah siswa, dll) - kegiatan ekstrakurikuler (melakukan kegiatan ekstrakurikuler dengan melibatkan masyarakat)
  • 38.
    - kunjungan orangtua/anggotamasyarakat ke sekolah (saat kenaikan kelas, ultah sekolah, dsb) - melalui media massa (publikasi mengenai kegiatan sekolah lewat televisi, dsb) 2. Hubungan transmisif dan transformasif Hubungan transmisif terjadi manakala sekolah berperan sebagai pewarisan kebudayaan. Hubungan transformasif terjadi manakala sekolah berperan sebagai agen pembaharu dalam kebudayaan masyarakat.
  • 39.
    Sekolah tidak akanbisa melaksanakan kegiatan pendidikannya dengan lancar tanpa adanya dukungan dan keterlibatan dari masyarakat. Sehingga pihak sekolah hendaknya mampu menganalisis kelompok masyarakat mana yang bisa dilibatkan dalam mendukung penyelenggaraan dan pengembangan program pendidikan di sekolah. Kreativitas pihak sekolah/pengelola pendidikan dalam hal ini sangat diperlukan untuk menjalin kerjasama sekolah dengan lingkungan keluarga/orang tua siswa dan lingkungan masyarakat di sekitar sekolah.
  • 40.
    Setiap pusat pendidikandapat berpeluang memberikan kontribusi yang besar dalam ketiga kegiatan pendidikan, yakni: 1. pembimbingan dalam upaya pemantapan pribadi yang berbudaya 2. pengajaran dalam upaya penguasaan pengetahuan 3. pelatihan dalam upaya pemahiran keterampilan.
  • 41.