PERBANKAN SYARIAH
ISLAM: PANDANGAN HIDUP KOMPREHENSIF
                                         ISLAM


                 AQIDAH                SHARIAH              AKHLAQ



                    MUAMALAH                         IBADAH MAHDLAH


       SPECIAL RIGHTS          PUBLIC RIGHTS


CIVIL LAWS     CRIMINAL LAWS      INTERIOR AFFAIRS    EXTERIOR AFFAIRS

                                                                     INT RELATION

POLITICS     ECONOMICS     SOCIAL         CULTURE         ETC


              FINANCE


LEASING      INSURANCE    BANKING        MORTGAGE       VENTURE CAPITAL
• Al-Qashash: 77. Dan carilah pada apa yang
  telah dianugerahkan Allah kepadamu
  (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah
  kamu melupakan bahagianmu dari
  (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah
  (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah
  berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu
Hadist Turmidzi 2341 dan Darimi 536
ARTINYA:
• Dari Abu Barzah Al-Aslami berkata:
  bahwasanya Rasulullah SAW telah berkata:
  “Pada hari kiamat kelak seorang hamba tidak
  akan melangkahkan kakinya kecuali akan
  ditanya tentang empat perkara; tentang
  umurnya untuk apa ia habiskan, tentang
  ilmunya sejauhmana ia mengamalkannya,
  tentang hartanya darimana ia
  mendapatkannya dan untuk apa ia
  pergunakan, serta tentang semua anggota
• QS. At-Taghabun 15: Sesungguhnya hartamu dan anak-
  anakmu hanyalah cobaan/fitnah (bagimu), dan di sisi Allahlah
  pahala yang besar, dan QS Al-’Anfaal: 28 (dan ketahuilah …)
• Harta sebagai fitnah, Fitanah=
   – ‘Azab (Adz-Dzaariyaat: 14)
   –   Cobaan (Thaahaa: 40)
   –   Keberpalingan dari ibadah kepada Allah SWT (at-Taghaabun: 15)
   –   Pemaksaan untuk tidak kembali kepada agama (al-Buruuj: 10)
   –   Kesesatan (al-Muddatstsir: 31)
   –   Kekufuran (al_baqarah: 19)
   –   Dosa (at-Taubah: 49)
PROSES PENGELOLAAN HARTA


  BAGAIMANA CARA               DIGUNAKAN
                    HARTA
   MENDAPATKAN                 UNTUK APA
                    YANG
                   DIMILIKI
a. HARAM                      a. ZIS
   ZATNYA                     b. BAYAR
b. HARAM BUKAN                   KEWAJIBAN
   ZATNYA                     c. INVESTASI/
c. TIDAK SYAH                    TABUNGAN
   AKADNYA                    d. KONSUMSI
Sistem Produksi dalam Islam
    INPUT         PROSES   OUTPUT
     Halal         Halal     Halal
     Halal        Haram     Haram
    Haram          Halal    Haram
    Haram         Haram     Haram

APA CONTOHNYA?:
1.
2.
3.
4.
ISLAM DAN PERBANKAN
KAIDAH USHUL FIQH:
Maa laa yatim al-wajib illa bihi fa huwa wajib
Sesuatu yang harus ada untuk mempurnakan yang wajib,
maka ia wajib diadakan.

Hadits:
Antum a’lamu bi umuri al-dunyakum? (kalian lebih mengetahui
tentang urusan dunia kalian)

Masalah ekonomi dan perbankan adalah bab muamalah, maka
selama ia memberikan perbaikan kehidupan umat manusia
maka wajib dijalankan dengan sesuai kaidah Islam
ALASAN PERLUNYA BANK SYARI’AH

Secara praktis, sistem perbankan berbasis bunga atau konvensional
   mengandung beberapa kelemahan, sebagai berikut :
  Transaksi berbasis bunga melanggar keadilan atau kewajaran bisnis.
  Tidak fleksibelnya sistem transaksi berbasis bunga menyebabkan
  kebangkrutan.
  Komitmen bank untuk menjaga keamanan uang deposan berikut
  bunganya membuat bank cemas untuk mengembalikan pokok dan
  bunganya.
  Sistem transaksi berbasis bunga menghalangi munculnya inovasi oleh
  usaha kecil.
  Dalam sistem bunga, bank tidak akan tertarik dalam kemitraan usaha
  kecuali bila ada jaminan kepastian pengembalian modal dan
  pendapatan bunga mereka.
Islam dan Perbankan Syari’ah
              Al-Qur’ an memberikan nilai-nilai dalam menjalankan
                                       aktivitas perbankan syari’ ah

          Pada masa Rasulullah telah didirikan lembaga keuangan :
          Baitul Mal; Wilayatul Hisbah; Pengembangan etika bisnis

             Para khulafa’ urrasyidin melanjutkan mengembangkan
                                                        baitul mal

        Pada masa dinasti Islam, baitul mal terus dikembangkan dan
                            mulai adanya pemikiran tentang ekonomi

         Pada masa modern telah berdiri lo cal saving bank, I  slamic
          De ve lo pme nt Bank, Bank Syari’ ah, dan lembaga keuangan
                                                      non bank lainnya
PRAKTEK PERBANKAN DI ZAMAN NABI

Bank : lembaga yang melaksanakan 3 fungsi utama:
• Menerima simpanan uang
• Meminjamkan uang
• Memberikan jasa pengiriman uang
Contoh yang dilakukan Nabi:
Rasulullah saw dikenal sebagai al-amin, dipercaya masyarakat
Mekah menerima simpanan harta, sehingga pada saat terakhir
sebelum Rasul hijrah ke Madinah, beliau meminta Sayidina Ali
ra. untuk mengembalikan semua titipan itu kepada yang
memilikinya
Sahabat Rasul Zubair bin al-Awwam  lebih suka menerima
uang dalam bentuk pinjaman
PRAKTEK PERBANKAN DI ZAMAN BANI UMAYYAH DAN
                    BANI ABASIAH
Mulai ada orang yang memiliki keahlian di bidang keuangan, yang disebut
dengan jihbiz :


Jihbiz vs Bank: Persamaan dan Perbedaannya:
Persamaannya:
Jihbiz dan Bank sama-sama melakukan fungsi berikut:
    •To accept deposits
    •To channel financing
    •To tranfer money
Perbedaannya:
    •Jihbiz dikelola oleh individu
    •Bank dikelola oleh institusi
EVOLUSI KEGIATAN PERBANKAN DALAM MASYARAKAT
                    ISLAM

      1. Individu (Nabi/sahabat melakukan suatu fungsi
                          perbakan

      2. Jihbiz (seorang melakukan suatu fungsi perbakan


       3. Bank (sebuah institusi melakukan ketiga fungsi
     perbankan)  diadopsi oleh masyarakat Eropa abad
   pertengahan, namun kegiatannya mulai dilakukan dengan
                         basis bunga


    4. Bank syari’ah modern (sebuah institusi melakukan
   kegitiga fungsi perbankan dengan berlandaskan syari’ah
                            Islam)
Perkembangan Bank Syari’ah di Luar Negeri

Mit Ghamr Bank  dirintis pada tahun 1960-an sebagai rural-so cial bank,
berdiri di sekitar sungai Nil, didirikan oleh Prof. Dr. Ahmad Najjar
Islamic development Bank,  dirintis pada sidang Menlu Negara OKI di
Karachi Pakistan Desember 1970.
Islamic Research and Training Institute  lembaga milik IDB yang bertugas
membantu melakukan riset dan pelatihan untuk pengembangan
ekonomi/bank syari’ ah
Pembantukan bank-bank syari’ ah di luar negeri :
    Kategori I  bank komersial
    Kategori II  lembaga investasi dalam bentuk inte rnatio nal ho lding
    co mpanie s
Perkembangan Landasan
         Hukum
      UU No 7/92 tentang Perbankan
PP No 72/92 tentang Bank         UU No 10/98 tentang
 Berdasarkan Bagi Hasil           perubahan UU 7/92




                                     UU No 21/08 tentang
             Dicabut dg PP           perubahan UU 10/98
                30/99



                      BANK SYARIAH
Definisi Bank dan Perbankan Syariah
   menurut UU No. 21 tahun 2008
• Bank adalah badan usaha yang menghimpun d
  ana dari masyarakat dalam bentuk Simpanan dan
  menyalurkannya kepada masyarakat dalam
  bentuk kredit dan/atau bentuklainnya dalam
  rangka meningkatkan taraf hidup rakyat.

• Perbankan Syariah adalah segala sesuatu yang
  menyangkut tentang Bank Syariah dan Unit
  Usaha Syariah, mencakup kelembagaan, kegiatan
  usaha, serta cara dan proses dalam
  melaksanakan kegiatan usahanya
Bank Syariah
• Bank Syariah adalah Bank yang menjalankan
  kegiatan usahanya berdasarkan Prinsip Syariah
  dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum
  Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah
• Bank Umum Syariah adalah Bank Syariah yang
  dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu
  lintas pembayaran
• Bank Pembiayaan Rakyat Syariah adalah Bank
  Syariahyang dalam kegiatannya tidak
  memberikan jasa dalamlalu lintas pembayaran
Perbedaan bank Syariah dan konvenSional

Permasalahan                    Bank Syariah                   Bank Konvensional

Landasan            Berdasarkan prinsip syariah Islam        Berdasarkan prinsip dan
operassional        Uang sebagai alat tukar bukan             nilai materialistis
                     komoditi.                                Uang sebagai komditi
                    Bunga dalam berbagai bentuknya            yang diperdagangkan.
                     dilarang                                 Bunga sebagai instrumen
                    Menggunakan prinsip bagi hasil dan        imbalan terhadap pemilik
                     keuntungan atas transaksi riel            uang yang ditetapkan
                                                               dimuka
Fungsi dan          Lembaga intermediari.                    Lembaga intermediari
Peran               Agen investasi /manager investasi.       Penghimpun dana
                    Investor                                  masyarkat dan
                                                               meminjamkan kembali
                    Penyedian jasa lalu lintas
                                                               kepada masyarakat dalam
                     pembayaran (tidak bertentangan
                                                               kredit dengan imbalan
                     syariah).
                                                               bunga.
                    Pengelola dana kebajikan, ZIS,
                     (fungsi sosial)
                                                              Penyedia jasa / lalu lintas
                                                               pembayaran
                    Hubungan dengan nasabah adalah
                                                              Hubungan bank dengan
                     hubungan kemitraan (investor timbal
Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional

Permasalahan           Bank Syariah                      Bank Konvensional
Risiko Usaha      Dihadapi bersama antara bank         Risiko bank tidak terkait
                   dengan nasabah dengan                 langsung dengan debitur ,
                   prinsip keadilan dan kejujuran.       risiko debitur tidak terkait
                  Tidak mengenal kemungkinan            langsung dengan bank.
                   terjadinya selisih negatif           Kemungkinan terjadi
                   (negatif spread) karena sistem        selisih negatif antara
                   yang digunakan.                       pendapatan bunga dan
                                                         beban bunga

Sistem            Adanya dewan pengawas                Aspek moralitas sering kali
Pengawasan         syariah untuk memastikan              terlanggar karena tidak
                   operasional bank tidak                adanya nilai-nilai religius
                   menyimpang dari syariah               yang mendasari
                   disamping tuntutan moralitas          operasional.
                   pengelola bank dan nasabah
                   sesuai dengan akhlakul
                   kharimah
PERBEDAAN BUNGA DENGAN BAGI HASIL


BUNGA                           BAGI HASIL
   Dihitung dari pokok (uang      Dihitungan dari
    yg dipinjamkan)                 keuntungan
   Berubah sesuai kondisi         Nisbah tetap sesuai
    (bunga) pasar                   akad
   Nominal tetap sesuai suku      Nominal berubah
    bunga                           sesuai kondisi usaha
   Diragukan                      Tidak ada keraguan
Karakteristik Bank Syariah
•   Berdasarkan prinsip syariah
•   Implementasi prinsip ekonomi Islam dg ciri:
     – pelarangan riba dalam berbagai bentuknya
     – Tidak mengenal konsep “time-value of money”
     – Uang sebagai alat tukar bukan komoditi yg diperdagangkan.
•   Beroperasi atas dasar bagi hasil
•   Kegiatan usaha untuk memperoleh imbalan atas jasa
•   Tidak menggunakan “bunga” sebagai alat untuk memperoleh pendapatan
•   Azas utama => kemitraan, keadilan, transparansi dan universal
•   Tidak membedakan secara tegas sektor moneter dan sektor riil=> dapat
    melakukan transaksi-2 sektor riil
Syarat transaksi sesuai syariah a.l :               (pr 7)




•   Tidak mengandung unsur kedzaliman
•   Bukan riba
•   Tidak membahayakan pihak sendiri atau pihak lain.
•   Tidak ada penipuan (gharar)
•   Tidak mengandung materi-materi yg diharamkan
•   Tidak mengandung unsur judi (maisyir)
FIQH MUAMALAH UNTUK
      PERBANKAN
PRINSIP-PRINSIP MUAMALAH ISLAM


     Bidang yang diperbolehkan syari’ah


                    Tadlis

            Bidang yang dilarang
Taghrir                               Riba
                  syari’ah


          Persaingan tidak sempurna
             Ikhtikar & bai’ najasy
PENYEBAB TRANSAKSI DILARANG
                             Penyebab dilarangnya
                                  transaksi




       Haram zatnya                 Haram selain           Tidak sah akadnya
                                       zatnya



1.   Darah                    1.   Tadlis             1.     Rukunnya tidak
2.   Bangkai (kecuali ikan                                   terpenuhi
     & belalang)              2.   Ikhtikar
                                                      2.     Syarat tidak
3.   Daging babi              3.   Bai’ Najasy
                                                             terpenuhi
4.   Binatang yang            4.   Taghrir (Gharar)
     disembelih tidak                                 3.     Terjadi Ta’alluq
     menyebut asma Allah      5.   Riba
                                                      4.     Terjadi “2 in 1”
5.   Khamer (minuman
     keras)                   6.   Risywah
HARAM ZATNYA
Transaksi dilarang karena obyek yang ditransaksikan juga
dilarang
Misalnya: minuman keras, bangkai (kecuali ikan dan belalang),
babi
Transaksi barang atau jasa yang demikian ini tetap haram
walaupun akad jual-belinya sah.


Contoh:
Pembelian minuman keras dengan akad murabahah melalui
Bank Syari’ah.
(Zat barangnya haram, namun akadnya sah)
HARAM SELAIN ZATNYA

1.   Tadlis (melanggar prinsip “an taraddin minkum”

     Setiap transaksi dalam Islam harus dilandasi pada prinsip kerelaan
     kedua pihak yang bertransaksi
     Mereka harus memiliki informasi yang sama tentang barang/jasa yang
     diperjual belikan, sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan
     Unknown to one party dalam bahasa fiqh disebut tadlis.
     Tadlis terjadi karena empat hal:
     a.   Kuantitas  pengurangan timbangan
     b.   Kualitas  penyembunyian kecacatan obyek
     c.   Harga  memanfaatkan ketidaktahuan harga pasar
     d.   Waktu penyerahan  penjual tidak mengetahui secara pasti
          barang akan diserahkan kepada pembeli
HARAM SELAIN ZATNYA

b. Taghrir (Gharar)

Gharar adalah situasi dimana terjadi incomplete information karena adanya
   ketidakpastian dari kedua belah pihak yang bertransaksi.
Taghrir terjadi bila kita merubah sesuatu yang seharusnya bersifat pasti
    menjadi tidak pasti.
Gharar/taghrir terjadi karena empat hal, yaitu:
1) Kuantitas  kasus ijon
2) Kualitas  menjual sapi masih dalam perut induknya
3) Harga  pengambilan margin 20% untuk 1 tahun atau 40% untuk 2
   tahun
4) Waktu penyerahan  menjual barang hilang seharga Rp. X dan
   disetujui oleh pembelinya
HARAM SELAIN ZATNYA

2. Melanggar prinsip “la tazhlimuna wa la tuzhlamun”

    Jangan menzalimi dan jangan dizalimi
                                                                      S2
Praktek yang melanggar prinsip ini adalah:
a. Rekayasa pasar dalam Supply (Ikhtikar)                                  S1

   - Mengupayakan adanya kelangkaan barang
                                                       P”
     dengan menimbun atau entry barier
                                                       P’
   - Menjual harga lebih tinggi dibandingkan harga
     sebelum munculnya kelangkaan                                      D
   - Mengambil keuntungan lebih dibandingkan
     keuntungan sebelum kejadian I dan II                   Q2   Q1
HARAM SELAIN ZATNYA
b. Rekayasa Pasar dalam demand (Bai’ Najasy)

Rekayasa pasar dalam demand terjadi bila seorang
    produsen/ pembeli menciptakan permintaan
    palsu, seolah-olah ada banyak permintaan
    terhadap suatu produk sehingga harga jual
                                                                 S1
    produk akan naik.
Cara ini dapat dilakukan dengan cara:               P”

1) Penyerbaran isu                                  P’           D2
2) Melakukan order pembelian
                                                                 D1
3) Pembelian pancingan sehingga tercipta sentimen
   pasar, bila harga sudah naik sampai level yang
   diinginkan, maka yang bersangkutan akan               Q1 Q2
   melakukan aksi ambil untung dengan melepas
   kembali obyek yang sudah dibeli
HARAM SELAIN ZATNYA
d. Riba

Dalam ilmu fiqh dikenal jenis riba:
1) Fadl (riba buyu’) riba karena pertukaran barang sejenis yang tidak
   memenuhi kriteria sama kualitasnya (mistlan bi mistlin), sama
   kuantitasnya (sawa-an bi sawa-in) dan sama waktu penyerahannya
   (yadan bi yadin).
2) Nasi’ah (riba duyun)  riba yang timbul akibat hutang-piutang yang
   tidak memenuhi kriteria untuk muncul renturn bersama risiko (al
   ghunmu bil ghurmi) dan hasil usaha muncul bersama biaya (al kharaj bi
   la dhaman). Transaksi semisal ini mengandung pertukaran kewajiban
   menanggung beban, hanya berjalannya waktu. Nasi’ah adalah
   memastikan sesuatu yang tidak pasti menjadi pasti
3) Qard dan Jahiliyah  hutang yang dibayar melebihi dari pokok
   pinjaman, karena si peminjam tidak mampu mengembalikan dana
   pinjaman pada waktu yang ditetapkan.
RINGKASAN MENGENAI RIBA
Tipe Riba        Faktor penyebab      Cara Menghilangkan Faktor Penyebab
Riba Fadl        Gharar (uncertain    Kedua belah pihak harus memastikan
                 to both parties)     faktor berikut: 1) Kuantitas; 2) Kualitas; 3)
                                      Harga; 4) Waktu penyerahan

Riba Nasi’ah     Return tanpa         Kedua belah pihak membuat kontrak yang
                 risiko, pendapatan   merinci hak dan kewajiban masing-masing
                 tanpa biaya          untuk menjamin tidak adanya pihak
                                      manapun yang mendapatkan return tanpa
                                      menanggung risiko, atau menikmati
                                      pendapatan tanpa menanggung biaya

Riba Jahiliyah   Memberi pinjaman     Jangan mengambil manfaat apapun dari
                 sukarela secara      akad kebaikan (tabarru)
                 komersiil, karena    Kalaupun ingin mengambil manfaat maka
                 setiap pinjaman      gunakan akad bisnis (tijarah), bukan akad
                 yang mengambil       kebaikan (tabarru)
                 manfaat adalah
                 riba
HARAM SELAIN ZATNYA

e. Risywah
  Menyuap orang lain untuk meloloskan atau
  memudahkan urusan yang bersangkutan
TIDAK SAH/LENGKAP AKADNYA

Suatu transaksi yang tidak termasuk dalam kategori haram li dzatihi maupun haram li
    ghairihi, belum tentu serta merta menjadi halal.
Sesuatu tersebut menjadi haram bila akad atas transaksi itu tidak sah atau tidak lengkap.
Suatu transaksi dikatakan tidak sah atau tidak lengkap akadnya bila terjadi salah satu atau
    lebih faktor berikut:
1)   Rukun dan syarat tidak terpenuhi  Rukun jual beli meliputi: (a) Pelaku; (b) Obyek; ©
     Ijab-qabul. Syarat jual beli, tidak: (a) Menghalalkan yang haram; (b) Mengharamkan
     yang halal; © Menggugurkan rukun; (d) Bertentangan dengan rukun; (e) Mencegah
     berlakunya rukun
2)   Terjadi Ta’alluq  Terjadi bila kita dihadapkan pada dua akad yang saling dikaitkan.
     Dengan maksud, berlakunya akad 1 tergantung pada akad ke 2. Dalam terminologi
     fiqh disebut bai’ al-’inah.
3)   Terjadi two in one  Satu transaksi mewadahi dua akad sekaligus, sehingga terjadi
     ketidakpastian. Dalam terminologi fiqh disebut: shafqatain fi al-shafqah. Two in one
     terjadi karena: (a) obyek sama; (b) pelaku sama; © jangka waktu sama. Bila salah satu
     dari faktor tersebut tidak ada maka tidak terjadi two in one
WA’AD DAN AQAD
ANTARA WA’AD DENGAN AQAD
• Ada perbedaan antara wa’ad dengan aqad
• Wa’ad
  – Wa’ad= janji (promis) antara satu pihak kepada pihak
    lainnya (hanya mengikat satu pihak = one way)
  – Terms and condition-nya tidak well-defined
  – Belum ada kewajiban yang ditunaikan oleh pihak manapun,
    walaupun term & condition-nya sudah well-defined
• Aqad
  – Aqad mengingat kedua belah pihak yang saling bersepakat
  – Term & condition sudah ditetapkan secara rinci dan spesifik
  – Ada sanksi bagi pihak yang tidak memenuhi kewajiban yang
    disepakati
ANTARA TABARRU’ DENGAN TIJARAH

• Tabarru’ berasal dari kata birr = kebaikan
• Tabarru’ = segala macam perjanjian yang
  menyangkut transaksi nirlaba (not for profit
  transaction)
• Tabarru’ merupakan transaksi yang dilakukan
  dengan tujuan tolong menolong dalam rangka
  berbuat kebaikan
• Contoh: qard, rahn, hiwalah, wakalah, kafalah,
  hibah, wakaf, shadaqah, hadiah
AQAD TABARRU’
   Lending $

          Lending $                                Qard

          Lending $ + Collateral                   Rahn

          Lending $ to take over loan from         Hiwalah
          other party


   Lending
   yourself
          Lending yourself now to do              Wakalah
          something on behalf of other

          Wakalah, by specifying the job          Wadi’ah

          Contingent wakalah, I.e preparing
                                                   Hiwalah
          yourself to do something if something
          happens

   Giving something                               Hibah, shadaqah,
                                                       waqf
ANTARA TABARRU’ DENGAN TIJARAH

• Tijarah = perdagangan = comersiil
• Tijarah = segala macam perjanjian yang
  menyangkut transaksi yang mendatangkan
  keuntungan (for profit transaction)
• Contoh: akad investasi, jual beli, sewa-
  menyewa, dll.
• Aqad Tijarah dilihat dari kepastian hasil yang
  diperoleh:
  – Natural Uncertainty Contract
  – Natural Certainty Contract
AQAD TIJARAH
   Natural Certainty Contract

                      Murabahah
                      Salam
                                             Teori
                      Istishna’            Pertukaran
                      Ijarah



   Natural Uncertainty
   Contract
                      Musyarakah: Wujuh,
                      ‘inan, abdan,
                      mufawadah)                 Teori
                      Muzara’ah
                                             Percampuran
                      Musaqah
                      Mukhabarah
TEORI PERTUKARAN &
          PERCAMPURAN
Berdasarkan tingkat kepastian hasil yang
   diperoleh, kontrak bisnis dapat dibedakan
   menjadi
1. Natural Certainty Contracts (Teori
   Pertukaran)
2. Natural Uncertainty Contracts (Teori
   Percampuran)
TEORI PERTUKARAN DALAM ISLAM


Natural Certainty Contracts/teori pertukaran, adalah
kontrak dalam bisnis yang memberikan kepastian
pembayaran, baik dari segi jumlah maupun waktu. Dalam
bentuk ini:
  Cash-flownya pasti atau sudah disepakati di awal
    kontrak
  Obyek pertukarannya juga pasti secara jumlah, mutu,
    waktu maupun harganya
TEORI PERTUKARAN
                ‘AYN (aset riil) BI ‘AYN (aset
                riil)

   OBYEK        ‘AYN (aset riil) BI DAYN (aset
PERTUKARAN      keuangan)

                DAYN (aset keuangan) BI
                DAYN (aset keuangan)

                      NAQDAN
  WAKTU           (Sekarang/Tunai)
PERTUKARAN
                 GHAIRU NAQDAN
                   (Masa YAD)
TEORI PERTUKARAN
                                    JENIS BEDA

                                      upah tenaga kerja yang dibayar dengan sejumlah
                                      beras
                                                                          Kasat Mata
      ‘AYN BI ‘AYN
                                                                          Kualitas dapat
                                                                          dibedakan
                                                                       Pertukaran kuda dengan kuda

real asset (‘ayn) dengan real
         asset (‘ayn)               JENIS SAMA                             Kasat Mata
                                                                           Kualitas tidak
                                                                           dapat dibedakan
                                                      Jika tidak dapat dibedakan mutunya, pertukaran
                                                                                        dibolehkan, jika:
                                                                  Sawa-an bi sawa-in (sama jumlahnya)
                                                                    Mistlan bi mistlin (sama mutunya)
                                                          Yadan bi yadin (sama waktu penyerahannya)
TEORI PERTUKARAN
                                    Naqdan

                                                         Salam
                       Barang
                                     Order
                       Al-Bai’                          Istishna’
                                    Mu’ajjal
   ‘AYN BI
    DAYN
real asset (‘ayn)
dengan financial                               Ijarah
  asset (dayn)
                          Jasa
                        Al-Ijarah              Ju’alah
TEORI PERTUKARAN
                                                    Jenis sama
                                              Sawa-an bi sawa-in (sama
                                              jumlahnya)
                               Uang           Yadan bi yadin (diserahkan saat
                                              itu juga)
                                                    Jenis Beda
     DAYN BI
      DAYN                                    Yadan bi yadin
                                              (diserahkan saat itu juga)
Pertukaran financial asset
 (dayn) dengan financial
      asset (dayn)
                               Non-Uang
                             Surat berharga
TEORI PERCAMPURAN DALAM ISLAM
Natural Uncertainty Contracts/teori percampuran adalah kontrak
dalam bisnis yang tidak memberikan kepastian pendapatan, baik
dari segi jumlah maupun waktunya. Tingkat returnnya bisa positif,
negatif maupun nol.
Kontrak-kontrak investasi ini secara sunatullah tidak menawarkan :
  Return yang tetap dan pasti. `
  Sifatnya tidak fixed dan predetermined.

Dalam kontrak jenis ini, pihak-pihak yang bertransaksi saling
mencampurkan asetnya (baik real asset maupun financial assets)
menjadi satu kesatuan, dan kemudian menanggung risiko bersama-
sama untuk mendapatkan keuntungan.

Dalam kontrak demikian ini, keuntungan dan kerugian ditanggung
bersama.
TEORI PERCAMPURAN
                ‘AYN BI ‘AYN

    OBYEK
PERCAMPURAN      ‘AYN BI DAYN

                 DAYN BI DAYN



                      NAQDAN
   WAKTU
PERCAMPURAN
                  GHAIRU NAQDAN
TEORI PERCAMPURAN



  ‘AYN BI                    ‘AYN BI                          DAYN BI
   ‘AYN                       DAYN                             DAYN
Menyumbangkan
keahlian Syirkah         Jasa/keahlian (real asset)      Percampuran financial asset
    ‘Abdan           dicampur dengan uang (financial    (dayn) dengan financial asset
                      asset) Bentuk percampuran ini                 (dayn)
                       disebut syirkah mudharabah      Jika percampuran antara uang
                        Seorang penyandang dana         dengan uang dengan jumlah
                     memberikan dana dan yang lain          sama disebut syirkah
                         memberikan reputasinya        mufawadah; atau jumlah uang
                     Bentuk percampuran ini disebut         yang dipercampurkan
                               syirkah wujuh             jumlahnya berbeda disebut
                                                                syirkah ‘inan.
APLIKASI AKAD
DALAM PRODUK – PRODUK BANK SYARIAH



                           BANK SYARIAH




 PENGHIMPUNAN DANA            PENYALURAN DANA       JASA



   PRINSIP WADIAH            PRINSIP JUALBELI
   - Giro                    - Murabahah         - Wakalah
   - Tabungan                - Istishna          - Kafalah
                             - Salam             - Sharf
                             - Ijarah            - Rahn
                                                 - Hiwalah


  PRINSIP MUDHARABAH         PRINSIP BAGIHASIL
  -Giro                      - Mudharabah
  -Tabungan                  - Musyarakah
  - Deposito                                                 53
54
PRODUK PENGHIMPUNAN DANA:
GIRO SYARIAH


LANDASAN HUKUM:
Fatwa DSN – MUI No.01/DSN-MUI/IV/2000,
Tanggal 1 April 2000.



                                           GIRO
                                         SYARIAH


          GIRO                                                           GIRO
         WADIAH                                                       MUDHARABAH

   Bersifat titipan                   Bank selaku Mudharib, Nasabah selaku Shahibul Mal
   On call                            Mudharib boleh melakukan berbagai macam usaha, asal
   Keuntungan dan kerugian dari        tidak melanggar prinsip syariah
    penyaluran dana wadiah menjadi     Dana giro harus dinyatakan jelas, tunai bukan piutang
    hak milik atau ditanggung bank.    Pembagian keuntungan dinyatakan dalam Nisbah
   Tidak ada imbalan (bonus) yang     Tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan
    dipersyaratkan                      nasabah tanpa persetujuan nasabah
                                                                                                55
PRODUK PENGHIMPUNAN DANA:
GIRO SYARIAH (Lanjutan...)


  SKEMA GIRO WADIAH


                       4       Pooling Fund                             5   Penyaluran pembiayaan



                           1       Akad Wadi’ah

                                                                                                    Nasabah Pembyn A
                           2
                                  Setoran awal


                           3
                                  Mutasi giro


                                                                                                    Nasabah Pembyn B
 Nasabah Giro                                            Bank Syariah
   Wadi’ah


                    Dapat diberikan imbalan atau bonus                      Pendapatan
                7                                                       6   bank
                    namun tidak boleh diperjanjikan


                                                                                                    Nasabah Pembyn C



                                                                                                                       56
PRODUK PENGHIMPUNAN DANA:
GIRO SYARIAH (Lanjutan...)


   SKEMA GIRO MUDHARABAH


                4    Pooling Fund                                       5   Penyaluran pembiayaan



                      1       Akad Mudharabah

                                                                                                    Nasabah Pembyn A
                      2       Setoran awal



                      3       Mutasi giro



 Nasabah Giro                                                                                        Nasabah Pembyn B
 Mudharabah                                              Bank Syariah


                    Distribusi Bagihasil sesuai nisbah                      Pendapatan
                7                                                       6
                    yang disepakati                                         yang akan dibagikan



                                                                                                    Nasabah Pembyn C


                                                                                                                        57
PRODUK PENGHIMPUNAN DANA:
TABUNGAN SYARIAH


LANDASAN HUKUM:
Fatwa DSN – MUI No.02/DSN-MUI/IV/2000,
Tanggal 1 April 2000.



                                     TABUNGAN
                                      SYARIAH


      TABUNGAN                                                          TABUNGAN
       WADIAH                                                          MUDHARABAH

  Bersifat titipan                   Bank selaku Mudharib, Nasabah selaku Shahibul Maal
  On call                            Mudharib boleh melakukan berbagai macam usaha, asal tidak
  Keuntungan dan kerugian dari        melanggar prinsip syariah
   penyaluran dana wadiah menjadi     Dana tabungan harus dinyatakan jelas, tunai bukan piutang
   hak milik atau ditanggung bank.    Pembagian keuntungan dinyatakan dalam Nisbah
  Tidak ada imbalan (bonus) yang     Tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah
   dipersyaratkan                      tanpa persetujuan nasabah
                                                                                                   58
PRODUK PENGHIMPUNAN DANA:
TABUNGAN SYARIAH (Lanjutan...)


     SKEMA TABUNGAN WADIAH


                          4       Pooling Fund                             5   Penyaluran pembiayaan



                              1       Akad Wadi'ah

                                                                                                       Nasabah Pembyn A
                              2
                                      Setoran awal


                              3
                                      Setoran tabungan


                              8       Penarikan tabungan                                               Nasabah Pembyn B
Nasabah Pemilik Dana                                        Bank Syariah
 Tabungan Wadiah



                 7     Dapat diberikan imbalan atau bonus                      Pendapatan
                       namun tidak boleh diperjanjikan                     6
                                                                               Bank


                                                                                                       Nasabah Pembyn C



                                                                                                                          59
PRODUK PENGHIMPUNAN DANA:
TABUNGAN SYARIAH (Lanjutan...)


   SKEMA TABUNGAN MUDHARABAH



                           4      Pooling Fund                                   5    Penyaluran pembiayaan


                           1      Akad Mudharabah


                                                                                                              Nasabah Pembyn A
                           2      Setoran awal



                           3      Mutasi tabungan


                                                                                                              Nasabah Pembyn B
  Nasabah Pemilik Dana
 Tabungan Mudharabah                                          Bank Syariah


                         Distribusi Bagihasil sesuai nisbah                  6
                    7                                                                Pendapatan yang
                         yang disepakati                                             akan dibagikan
                                                                                                              Nasabah Pembyn C



                                                                                                                                 60
PRODUK PENGHIMPUNAN DANA:
DEPOSITO SYARIAH


LANDASAN HUKUM:
Fatwa DSN – MUI No.03/DSN-MUI/IV/2000,
Tanggal 1 April 2000.


                                            DEPOSITO
                                            SYARIAH

        DEPOSITO                                                               DEPOSITO
       MUDHARABAH                                                             MUDHARABAH
        MUTLAQAH                                                              MUQAYYADAH

    Bank selaku Mudharib, Nasabah selaku Shahibul    Bank selaku Mudharib, Nasabah selaku Shahibul
     Maal                                              Maal
    Mudharib boleh melakukan berbagai macam          Mudharib hanya boleh melakukan usaha yang
     usaha, asal tidak melanggar prinsip syariah       dipersyaratkan oleh nasabah
    Dana deposito harus dinyatakan jelas, tunai      Dana deposito harus dinyatakan jelas, tunai
     bukan piutang                                     bukan piutang
    Pembagian keuntungan dinyatakan dalam            Pembagian keuntungan dinyatakan dalam
     Nisbah                                            Nisbah
    Tidak diperkenankan mengurangi nisbah            Tidak diperkenankan mengurangi nisbah
     keuntungan nasabah tanpa persetujuan nasabah      keuntungan nasabah tanpa persetujuan nasabah
                                                                                                       61
PRODUK PENGHIMPUNAN DANA:
DEPOSITO SYARIAH (Lanjutan...)


     SKEMA DEPOSITO MUDHARABAH MUTHLAQAH


                       3       Pooling Fund                         4   Penyaluran pembiayaan




                           1     Akad Mudharabah
                                                                                                Nasabah Pembyn A

                           2     Setoran Deposito


                           7    Pencairan Deposito


                                                                                                Nasabah Pembyn B
Nasabah pemilik dana                                 Bank Syariah
Deposito Mudharabah
    Muthlaqah
                       Distribusi Bagihasil sesuai
                 6                                                      Pendapatan yang
                       nisbah yang disepakati                       5   akan dibagikan
                                                                                                Nasabah Pembyn C



                                                                                                                   62
PRODUK PENGHIMPUNAN DANA:
DEPOSITO SYARIAH (Lanjutan...)


      SKEMA DEPOSITO MUDHARABAH MUQAYYADAH


                                                                    3       Penyaluran
                                                                        pembiayaan sesuai
                                                                        dengan persyaratan
                                                                         nasabah deposan
                               Akad Mudharabah
                         1
                               Muqayyadah
                                                                                             Nasabah Pembyn A

                         2      Setoran Deposito


                         6      Pencairan Deposito


                                                                                             Nasabah Pembyn B
Nasabah pemilik dana                                 Bank Syariah
Deposito Mudharabah
    Muqayyadah
                       Distribusi Bagihasil sesuai
                 5                                                      Pendapatan yang
                       nisbah yang disepakati                       4   akan dibagikan
                                                                                             Nasabah Pembyn C



                                                                                                                63
64
PEMBIAYAAN MURABAHAH




DEFINISI
Murabahah adalah menjual suatu barang dengan menegaskan harga belinya
kepada pembeli dan pembeli membayarnya dengan harga yang lebih sebagai
laba.
(Fatwa DSN-MUI No. 04/DSN-MUI/IV/2000)

LANDASAN HUKUM
a. No. 04/DSN-MUI/IV/2000, Tanggal 1 April 2000, tentang Murabahah;
b. No. 13/DSN-MUI/IX/2000, Tanggal 16 September 2000, tentang Uang Muka Dalam
   Murabahah;
c. No. 16/DSN-MUI/IX/2000, Tanggal 16 September 2000, tentang Diskon dalam Murabahah;
d. No. 17/DSN-MUI/IX/2000, Tanggal 16 September 2000, tentang Sanksi atas Nasabah Mampu
   yang Menunda-nunda Pembayaran;
e. No.43/DSN-MUI/VIII/2004, Tanggal 11 Agustus 2004, tentang Ganti Rugi (Ta’widh).


                                                                                          65
POKOK-POKOK ATURAN MURABAHAH
FATWA DSN-MUI No.04/DSN-MUI/IV/2000




1. PELAKU   BANK membeli barang yang diperlukan NASABAH atas nama BANK sendiri dan
            pembelian ini harus sah dan bebas riba (Ps 1: 4)
            BANK kemudian menjual barang tersebut kepada NASABAH (pemesan) dengan
            harga jual senilai harga beli plus keuntungannya (Ps 1: 6)
2. OBJEK    Barang yang diperjualbelikan tidak diharamkan oleh syari’ah Islam (Ps 1: 2)
3. HARGA    HARGA BELI
            … Dalam kaitan ini Bank harus memberitahu secara jujur harga pokok barang
            kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan (Ps 1: 6)
            HARGA JUAL
            BANK kemudian menjual barang tersebut kepada NASABAH (pemesan) dengan
            harga jual senilai harga beli plus keuntungannya (Ps 1: 6)

            Fatwa DSN No.16/IX/2000:
            Harga dalam jualbeli murabahah adalah harga beli dan biaya yang diperlukan
            ditambah keuntungan sesuai dengan kesepakatan
            (Ps.1:1)




                                                                                          66
POKOK-POKOK ATURAN MURABAHAH
FATWA DSN-MUI No.04/DSN-MUI/IV/2000 (Lanjutan...)


 4. AKAD        Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang, akad jual
                beli murabahah harus dilakukan setelah barang secara prinsip menjadi milik bank.
                (Ps. 1:9)

                Jika Bank menerima permohonan tersebut, ia harus membeli terlebih dahulu aset
                yang dipesannya secara sah dengan pedagang.
                Bank kemudian menawarkan aset tersebut kepada nasabah dan nasabah harus
                menerimanya (membelinya) sesuai dengan perjanjian yang disepakati, karena
                secara hukum perjanjian tersebut mengikat: kemudian kedua belah pihak harus
                membuat kontrak jual beli (Ps 2: 2,3)

 5. UANG MUKA   Dalam jualbeli ini bank dibolehkan meminta nasabah untuk membayar uang muka
                saat menadatangani kesepakatan awal pemesanan (Ps. 2 : 4)

 6. JAMINAN     Jaminan dalam murabahah dibolehkan agar nasabah serius dengan pesanannya
                (Ps.3:1)

 7. DISCOUNT    Jika dalam jualbeli murabahah LKS mendapat diskon dari supplier, harga
                sebenarnya adalah harga setelah diskon; karena itu diskon adalah hak nasabah
                Jika pemberian diskon terjadi setelah akad, pembagian diskon tersebut dilakukan
                berdasarkan perjanjian (persetujuan) yang dimuat dalam akad. (Ps 1:3-4, Fatwa
                No. 16/2000)

                                                                                                   67
POKOK-POKOK ATURAN MURABAHAH
FATWA DSN-MUI No.04/DSN-MUI/IV/2000 (Lanjutan...)


8. PELUNASAN DINI   Jika nasabah dalam transaksi murabahah melakukan pelunasan
                    pembayaran tepat waktu atau lebih cepat dari waktu yang telah disepakati,
                    LKS boleh memberikan potongan dari kewajiban pembayaran tersebut,
                    dengan syarat tidak diperjanjikan dalam akad.
                    Besar potongan sebagaimana dimaksud diatas diserahkan pada kebijakan
                    dan pertimbangan LKS (Ps.1:1-2, Fatwa No.23/2002)

9. DENDA / SANKSI   Nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran dan/atau tidak
                    mempunyai kemauan dan itikad baik untuk membayar hutangnya boleh
                    dikenakan sanksi.
                    Sanksi didasarkan pada prinsip ta’zir yaitu bertujuan agar nasabah lebih
                    disiplin dalam melaksanakan kewajibannya
                    Sanksi dapat berupa denda sejumlah uang yang besarnya ditentukan atas
                    dasar kesepakatan dan dibuat saat akad ditandatangani
                    Dana yang berasal dari denda diperuntukan sebagai dana sosial
                    (Ps.1:3-6, Fatwa No.17/2000)

6. TA’WIDH          (Fatwa No.43/2004)
                    • Sengaja atau lalai menyimpang dari akad dan menimbulkan kerugian
                    • Kerugian riil adalah biaya-biaya yang dikeluarkan dalam rangka
                       penagihan hak yang seharusnya diterima
                    • Real Lost not Opportunity Lost
                    • Besarnya gantirugi tidak boleh dicantumkan dalam akad
                                                                                                68
APLIKASI PERBANKAN
JENIS PENGGUNAAN (BERDASARKAN PRODUK)



                              KPR SYARIAH



                                            PEMBIAYAAN
          PEMBIAYAAN                        KENDARAAN
          MULTIGUNA                          BERMOTOR




                            MURABAHAH


                                                KOMBINASI AKAD :
         PEMBIAYAAN                               -LINE FACILITY
         MODAL KERJA                           - 2 STEP FINANCING
                                                -JOINT FINANCING
                                                    - TAKEOVER
                                                        -Dll




                               PEMBIAYAAN
                                INVESTASI


                                                                    69
SKEMA MURABAHAH
UNTUK PEMBIAYAAN KENDARAAN BERMOTOR




                                       1 Negosiasi butuh beli mobil )
                                         (nasabah
                                                   dan Persyaratan




                                       Wa’ad beli
                                2
                                       Penandatanganan       akad jual beli
                               6
                                       Bayar angsuran atau tempo
                                   9
      Bank Syariah                                                                 Nasabah
                                                                                NASABAH
                                          Bank Syariah      mewakilkan
                                        3 ke Nasabah untuk beli mobil ke
                                          Dealer
                         7                                       Nasabah sebagai
                           Bank Syariah                          wakil
                           mewakilkan ke Dealer                4 Bank Syariah , beli
     Bank Syariah    5     untuk serahkan mobil ke               mobil ke Dealer
  bayar pembelian          Nasabah
             mobil
                                                                         8 Mobil dikirim
                                                                            langsung oleh
                                                                            dealer atau
                                                                            Bank Syariah

                                                    DEALER                    Akad Murabahah
                                                                                               70
SKEMA MURABAHAH
UNTUK PEMBIAYAAN RUMAH




                                                                   Akad Murabahah


                         1. Permohonan dan pemenuhan persyaratan




                           2. Wa’ad beli

                             4. Akad Murabahah

                             7. Bayar angsuran atau tempo



     Bank Syariah                                                       Nasabah




                                           Developer

                                                                                    71
SKEMA MURABAHAH
UNTUK PEMBIAYAAN MULTIGUNA




                                                                                            Akad Murabahah


                        1. Pengajuan dan Pemenuhan Persyaratan (mis : pembelian komputer)



                                       2. Wa’ad beli

                                      4. Pelaksanaan akad Murabahah

                                      7. Bayar angsuran atau tempo



       Bank Syariah
                                                                                            Nasabah
                5. Bank Syariah mewakilkan ke
               supplier untuk serahkan komputer
                       kepada Nasabah.




                                                       Supplier

                                                                                                             72
SKEMA MURABAHAH DENGAN WAKALAH
UNTUK PEMBIAYAAN MULTIGUNA




                                                                                             Akad Murabahah


                                            1.      Pengajuan dan Pemenuhan Persyaratan
                                                    (mis : pembelian komputer)

                                              2. Wa’ad beli

                                     3. Bank Syariah mewakilkan ke Nasabah untuk melakukan
                                                     transaksi dengan supplier

                                              5. Pelaksanaan akad Murabahah

                                                 8. Bayar angsuran atau tempo
                                                                                             Nasabah
          Bank Syariah


             6. Bank Syariah mewakilkan ke
             supplier untuk serahkan komputer ke
             Nasabah.




                                                                Supplier

 KETERANGAN:
 Dalam prakteknya, alur nomor 4 menjadi nomor 5 dan nomor 5 menjadi nomor 4.
                                                                                                              73
SKEMA MURABAHAH
UNTUK PEMBIAYAAN MODAL KERJA




                                                                                Akad Murabahah


                              1. Pengajuan dan Pemenuhan Persyaratan
                      (Misal pembelian barang dagangan untuk stock penjualan)

                             2. Wa’ad beli

                              4. Pelaksanaan akad Murabahah

                              7. Bayar angsuran atau tempo



      Bank Syariah
                                                                                Nasabah




                                               Supplier

                                                                                                 74
SKEMA MURABAHAH DENGAN WAKALAH
UNTUK PEMBIAYAAN MODAL KERJA




                                                                                              Akad Murabahah


                                          1. Pengajuan dan Pemenuhan Persyaratan (misal
                                           Pembelian barang dagangan untuk stock penjualan)

                                            2. Wa’ad beli

                               3. Bank Syariah mewakilkan kepada Nasabah untuk melakukan
                                                 transaksi dengan supplier

                                            5. Pelaksanaan akad Murabahah

                                             8. Bayar angsuran atau tempo

         Bank Syariah                                                                             Nasabah
                        6. Bank Syariah mewakilkan ke
                        supplier untuk serahkan barang
                               kepada Nasabah.




                                                            Supplier
 KETERANGAN:
 Dalam prakteknya, alur nomor 4 menjadi nomor 5 dan nomor 5 menjadi nomor 4.
                                                                                                               75
SKEMA MURABAHAH
UNTUK PEMBIAYAAN INVESTASI




                                                                                                 Akad Murabahah


                                     1.   Pengajuan dan Pemenuhan Persyaratan (misal Nasabah
                                              butuh sarana penunjang usaha berupa f ork lif t)


                                                2. Wa’ad beli

                                               4. Pelaksanaan akad Murabahah

                                               7. Bayar angsuran atau tempo



       Bank Syariah                                                                               Nasabah
                       5. Bank Syariah mewakilkan ke
                      supplier untuk serahkan f ork lif t ke
                                   Nasabah.




                                                                Supplier


                                                                                                                  76
SKEMA MURABAHAH DENGAN WAKALAH
UNTUK PEMBIAYAAN INVESTASI




                                                                                   Akad Murabahah


                          1. Pengajuan dan Pemenuhan Persyaratan (misal Nasabah
                                 butuh sarana penunjang usaha berupa f ork lift)

                                     2. Wa’ad beli

                             3. Bank Syariah mewakilkan kepada Nasabah untuk
                                    melakukan transaksi dengan supplier


                                     5. Pelaksanaan akad Murabahah

                                      8. Bayar angsuran atau tempo
                                                                                          Nasabah
      Bank Syariah




                                                     Supplier

 KETERANGAN:
 Dalam prakteknya, alur nomor 4 menjadi nomor 5 dan nomor 5 menjadi nomor 4.
                                                                                                    77
PEMBIAYAAN ISTISHNA’


Istishna’ adalah jual beli dalam bentuk pemesanan
pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan
persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan
(pembeli, mustashni’) dan penjual (pembuat, shani’).
(Fatwa DSN No. 06/DSN-MUI/IV/2000)




                                                       78
POKOK-POKOK ATURAN ISTISHNA



 1. PELAKU       Jika LKS melakukan transaksi Istishna untuk memenuhi kewajibannya kepada
                 NASABAH ia dapat melakukan istishna lagi dengan PIHAK LAIN pada objek
                 yang sama, dengan syarat istishna pertama tidak bergantung (mu’allaq) pada
                 istishna kedua (Ps 1;1, Fatwa No. 22/2002)
 2. OBJEK          Harus jelas ciri-cirinya dan dapat diakui sebagai hutang.
                   Harus dapat dijelaskan spesifikasinya.
                   Penyerahan dilakukan kemudian.
                   Waktu dan tempat penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan
                    kesepakatan
                  Pembeli (mustashni) tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya.
                 (Ps.2:1-5, fatwa No.06/2000)

 3. HARGA        LKS selaku mustashni tidak diperkenankan untuk memungut MDC (margin during
                 construction) dari nasabah (shani) karena hal ini tidak sesuai dengan prinsip
                 syariah (Ps.1:2, Fatwa No.22/2002)
 4. PEMBATALAN   Jika semua atau sebagian barang tidak tersedia pada waktu penyerahan, atau
                 kualitasnya lebih rendah dan pembeli tidak rela menerimanya, maka ia memiliki
 PESANAN         dua pilihan :
                 a. Membatalkan kontrak dan meminta kembali uangnya.
                 b. Menunggu sampai barang tersedia.
                 (Fatwa No..05/2000, Ps. 4:5)

                                                                                                 79
MEKANISME PEMBIAYAAN ISTISHNA




                                                                                                       Akad Istishna’ 1
                                                      Negosiasi dan Persyaratan
                                                   1 (nasabah butuh renovasi rumah
                                                      yang dikerjakan oleh kontraktor)



                                                Penandatanganan Akad Istishna’
                                           2
                                                Bayar secara cicilan (taqsith) atau
                                                tangguh (muajjal)
                                            8


                        BankSyariah             Form Wakalah ke Nasabah untuk                       NASABAH
                                                negosiasi dengan kontraktor
                                                               3
                                           6                                4 Nasabah sebagai
       Bayar secara            Form Wakalah ke Kontraktor
             termin 5                                                         wakil Bank Syariah
                                                                                               ,
                                untuk serahkan rumahyang                      renovasi rumah ke
                               telah direnovasi ke Nasabah                    Kontraktor

                                                                                      7
                                                                                          Penyerahan rumah yang
                                                                                          telah direnovasi oleh
                                                                                          Kontraktor atau Bank Syariah
   Akad Istishna’ 2
                                                      KONTRAKTOR

                                                                                                                          80
APLIKASI PERBANKAN:
JENIS PENGGUNAAN (BERDASARKAN PRODUK)



                               KPR SYARIAH
                               SIAP BANGUN


           PEMBIAYAAN
            RENOVASI                          PROJECT
             RUMAH                           FINANCING




                              ISTISHNA



           PEMBIAYAAN
          MODAL KERJA




                                PEMBIAYAAN
                                 INVESTASI


                                                         81
PEMBIAYAAN IJARAH




 Ijarah adalah akad pemindahan hak guna (manfaat)
 atas suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu
 melalui pembayaran sewa/upah, tanpa diikuti dengan
 pemindahan kepemilikan barang itu sendiri.
 (Fatwa DSN – MUI No. 09/DSN-MUI/IV/2000)




                                                      82
POKOK-POKOK ATURAN IJARAH
FATWA DSN – MUI No. 09/DSN-MUI/IV/2000



1. PELAKU         Pihak-pihak yang berakad (berkontrak) terdiri atas pemberi sewa (lessor,
                  pemilik asset, LKS) dan penyewa (lessee, pihak yang mengambil manfaat dari
                  penggunaan aset, nasabah)
2. OBJEK          Objek kontrak : pembayaran (sewa) dan manfaat dari penggunaan aset (Ps 1:
                  2)
3. HARGA          Sewa adalah sesuatu yang dijanjikan dan dibayar nasabah kepada LKS
                  sebagai pembayaran manfaat. Sesuatu yang dapat dijadikan harga dalam jual
                  beli dapat pula dijadikan sewa dalam Ijarah (Ps 2: 8)
                  Ketentuan (flexibility) dalam menetukan sewa dapat diwujudkan dalam ukuran,
                  waktu tempat dan jarak (Ps. 2:9)

4. AKAD           Sighat Ijarah adalah berupa pernyataan dari kedua belah pihak yang
                  berkontrak, baik secara verbal atau dalam bentuk lain yang equivalent, dengan
                  cara penawaran dari pemilik asset (LKS) dan penerimaan yang diyatakan oleh
                  penyewa (nasabah) (Ps:1:5)
5. PEMELIHARAAN   Kewajiban LKS sebagai pemberi sewa :
   ASET           b. Menanggung biaya pemeliharaan asset

                  Kewajiban nasabah sebagai penyewa :
                   a. Membayar sewa dan bertanggungjawab untuk menjaga keutuhan asset
                      yang disewa serta menggunakannya sesuai kontrak
                   b. Menanggung biaya pemeliharaan asset yang sifatnya ringan
                                                                                                  83
PEMBIAYAAN MULTIJASA IJARAH
FATWA DSN NO.44/DSN/MUI



• Pembiayaan Multijasa hukumnya boleh (jaiz) dengan
  menggunakan akad Ijarah atau Kafalah.
• Dalam hal LKS menggunakan akad ijarah, maka harus
  mengikuti semua ketentuan yang ada dalam Fatwa Ijarah.
• Dalam hal LKS menggunakan akad Kafalah, maka harus
  mengikuti semua ketentuan yang ada dalam Fatwa Kafalah.
• Dalam kedua pembiayaan multijasa tersebut, LKS dapat
  memperoleh imbalan jasa (ujrah) atau fee.
• Besar ujrah atau fee harus disepakati di awal dan dinyatakan
  dalam bentuk nominal bukan dalam bentuk prosentase.



                                                                 84
MEKANISME PEMBIAYAAN IJARAH




                                             Negosiasi dan Persyaratan
                                           1 (nasabah butuh alat-alat berat)



                                                  Akad Ijarah
                                           2

                                                  Bayar angsuran sewa
                                           8
                                                                                                  Akad Ijarah 2
                Bank Syariah                                                       NASABAH

                                               Wakalah ke Nasabah untuk cari
                                            3 penyewaan alat2 berat
                                                                                     Barang diserahkan
                                 5
                                     Transaksi                        4            7 langsung oleh
                                                                                     pemilik atau melalui
          Wakalah ke Pemilik         Pembayaran                  Nasabah sebagai     Bank Syariah
       barang untuk serahkan 6                                   wakil Bank
     barang sewa ke Nasabah                                      Syariah,
                                                                 melakukan
                                                                 transaksi sewa



   Akad Ijarah 1
                                                     PEMILIK OBJEK
                                                        SEWA
                                                                                                                  85
APLIKASI PERBANKAN:
JENIS PENGGUNAAN (BERDASARKAN PRODUK)




                                            PEMBIAYAAN
                                             MULTIJASA
          PEMBIAYAAN                      -Biaya pendidikan
       MULTIGUNA MANFAAT                     - Kesehatan
            BARANG                           - Wisata, dll



                              IJARAH




      PEMBIAYAAN                        KOMBINASI AKAD
      MODAL KERJA                        -SHARIA CARD




                                                              86
PEMBIAYAAN IJARAH MUNTAHIA BIT TAMLIK (IMBT)




 Ijarah Muntahia Bit Tamlik (IMBT) adalah perjanjian
 sewa-menyewa yang disertai dengan opsi pemindahan
  hak milik atau benda yang disewa, kepada penyewa
 setelah selesai masa sewa.
 (Fatwa DSN – MUI No. 27/DSN-MUI/III/2000).




                                                       87
POKOK-POKOK ATURAN PEMBIAYAAN IMBT FATWA
DSN – MUI No. 27/DSN-MUI/III/2000




                 Semua rukun dan syarat yang berlaku dalam akad Ijarah (fatwa
                 No.09/2000) berlaku pula dalam akad IMBT
                 (Ps. 1:1)
  AKAD           Pihak yang melakukan IMBT harus melaksanakan akad Ijarah
                 terlebih dahulu. Akad pemindahan kepemilikan baik dengan
                 jualbeli atau pemberian hanya dapat dilakukan setelah masa
                 Ijarah selesai
                 Janji pemindahan kepemilikan yang disepakati di awal akad Ijarah
                 adalah waad yang hukumnya tidak mengikat. Apabila janji itu ingin
                 dilaksanakan maka harus ada pemindahan kepemilikan yang
                 dilakukan setelah masa Ijarah selesai (Ps. 2: 1-2)




                                                                                     88
POKOK-POKOK ATURAN PEMBIAYAAN IMBT FATWA
DSN – MUI No. 56/DSN-MUI



  Review Ujrah boleh dilakukan antara para pihak yang melakukan akad Ijarah
   apabila memenuhi syarat-syarat sbb:
  Terjadi perubahan periode akad Ijarah;
  Ada indikasi sangat kuat bahwa bila tidak dilakukan review, maka akan timbul
   kerugian bagi salah satu pihak;
  Disepakati oleh kedua belah pihak.

  Review atas besaran ujrah setelah periode tertentu :
  Ujrah yang telah disepakati untuk suatu periode akad Ijarah tidak boleh dinaikkan;
      Besaran ujrah boleh ditinjau ulang untuk periode berikutnya dengan cara
           yang diketahui dengan jelas (formula tertentu) oleh kedua belah pihak;
      Peninjauan kembali besaran ujrah setelah jangka waktu tertentu harus
           disepakati kedua pihak sebelumnya dan disebutkan dalam akad.
      Dalam keadaan sewa yang berubah-ubah, sewa untuk periode akad
           pertama harus dijelaskan jumlahnya. Untuk periode akad berikutnya boleh
           berdasarkan rumusan yang jelas dengan ketentuan tidak menimbulkan
           perselisihan.


                                                                                        89
MEKANISME PEMBIAYAAN IMBT




   Akad Hibah
                                           1    Negosiasi dan persyaratan
                                                (nasabah butuh beli rumah)

                                               Wa’ad IMBT
                                          2
                                               Penandatanganan akad
                                          4
                                                               Bayar sewa bulanan
                                                                   7
                                      hibah rumah
                                      (pada akhir masa sewa)
                                  8


         BankSyariah
                                                                                        NASABAH          Akad Ijarah
                                                5

                                  5 wakalah ke developer
                                    Untuk serahkan rumah ke nasabah


  Beli dan bayar ke developer 3                                                     6 Obyek sewa (rumah)
  untuk disewa oleh nasabah                                                           Diserahkan oleh
                                                                                      Developer atau Bank Syariah

                                                     DEVELOPER

                                                                                                                       90
APLIKASI PERBANKAN:
JENIS PENGGUNAAN (BERDASARKAN PRODUK)




            KPR SYARIAH
              (Jangka
              Panjang)




                                IMBT
                                        PEMBIAYAAN
                                         INVESTASI
                                           (Jangka
                                          Panjang)




                                                     91
PEMBIAYAAN MUDHARABAH




Mudharabah adalah akad kerjasama suatu usaha antara dua piak
dimana pihak pertama (malik, shahib al-mal, LKS) menyediakan
seluruh modal, sedangkan pihak kedua (‘amil, mudharib,
nasabah) bertindak selaku pengelola, dana keuntungan usaha
bagi diantara mereka sesuai kesepakatan yang dituangkan dalam
kontrak.
(Fatwa DSN – MUI No. 07/DSN-MUI/IV/2000).




                                                                92
POKOK-POKOK ATURAN PEMBIAYAAN MUDHARABAH
FATWA DSN – MUI No. 07/DSN-MUI/IV/2000



 1. PELAKU DAN MODAL    LKS sebagai shahibul maal membiayai 100% kebutuhan suatu
                         proyek, sedangkan pengusaha bertindak sebagai mudharib atau
                         pengelola usaha (Ps.1:1)
                        Modal dapat berbentuk uang atau barang yang dinilai (Ps.2:3b)
                        Modal tdk dapat berbentuk piutang dan harus dibayarkan kepada
                         Mudharib, baik secara bertahap maupun tidak, (Ps.2:3c)

 2. NISBAH             Bagian keuntungan proporsional bagi setiap pihak harus diketahui
                       dan dinyatakan pada waktu kontrak disepakati dan harus dalam
                       bentuk prosentasi (nisbah) dari keuntungan sesuai kesepakatan.
                       Perurubahan nisbah harus berdasarkan kesepakatan. (Ps.2:4b)

 3. KEUNTUNGAN         Harus diperuntukkan bagi kedua belah pihak dan tidak boleh
                       disyaratkan hanya satu pihak saja (Ps.2:4a)

 4. KERUGIAN           Penyedia dana menanggung semua kerugian akibat dari
                       mudharabah, kecuali diakibatkan kesalahan disengaja, kelalaian atau
                       pelanggaran. (Ps.2:4c)

 5. JAMINAN            Pada prinsipnya dalam pembiayaan mudharabah tidak ada jaminan,
                       namun agar mudharib tidak melakukan penyimpangan LKS dapat
                       meminta jaminan dari mudharib atau pihak ke3. Jaminan hanya dapat
                       dicairkan apabila mudharib terbukti melakukan pelanggaran terhadap
                       hal-hal yang telah dispekati bersama (Ps.1: 7)

                                                                                             93
POKOK-POKOK ATURAN PEMBIAYAAN MUDHARABAH
FATWA DSN – MUI No. 07/DSN-MUI/IV/2000




 6. MANAJEMEN      …LKS tidak ikut serta dalam manajemen perusahaan atau proyek tetapi
                   mempunyai hak untuk melakukan pembinaan d an pengawasan (Ps 1:4)


 7. JANGKA WAKTU   Mudharabah boleh dibatasi pada periode tertentu (Ps 3:1)




                                                                                         94
MEKANISME PEMBIAYAAN MUDHARABAH




                                          Negosiasi dan Persyaratan
                                      2 (nasabah butuh modal kerja
                                          75 unit mobil)                                   Kontrak Penyewaan Mobil

                                             Akad Mudharabah
                                      3
                                                                                                  1


                                                                                Nasabah     bayar sewa
       Bank Syariah           Menyerahkan                                                                Perusahaan ABC
                              modal                                   Mengelola
                          4                                                 5

                                                                                        Nisbah
    Nisbah   7   9                                                                  8
                                             Usaha                                      Nasabah
      Bank                                                 Pendistribusan
                      Pengembalian
                      Pokok                                Modal & Keuntungan
                                                       6


                                                                 Tingkat
                                                               Keuntungan


                                     Modal

                                                                                                                          95
APLIKASI PERBANKAN:
JENIS PENGGUNAAN (BERDASARKAN PRODUK)




                                        VARIASI MUDHARABAH:
                                             -LINE FACILITY
                                          - 2 STEP FINANCING
                                           -JOINT FINANCING
                                                   -Dll




                          MUDHARABAH



        PEMBIAYAAN
        MODAL KERJA




                                                               96
PEMBIAYAAN MUSYARAKAH




 Musyarakah adalah pembiayaan berdasarkan akad kerjasama
 antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu, dimana
 masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan
 ketentuan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung
 bersama sesuai dengan kesepakatan.
 (Fatwa DSN – MUI No. 08/DSN-MUI/IV/2000).




                                                                  97
POKOK-POKOK ATURAN PEMBIAYAAN MUSYARAKAH
FATWA DSN – MUI No. 08/DSN-MUI/IV/2000




1. PELAKU DAN MODAL   Setiap mitra harus menyediakan dana dan pekerjaan dan setiap mitra
                      melaksanakan kerja sebagai wakil. (Ps.2b)

2. NISBAH             Setiap keuntungan mitra harus dibagikan secara proporsional atas dasar
                      seluruh keuntungan dan tidak ada jumlah yang ditentukan di awal yang
                      ditetapkan bagi seorang mitra (Ps.3c.3)

3. KEUNTUNGAN         Harus diperuntukkan bagi kedua belah pihak dan tidak boleh disyaratkan
                      hanya satu pihak saja (Ps2:4a)

4. KERUGIAN           Kerugian harus dibagi di antara para mitra secara proporsional menurut
                      saham masing-masing dalam modal (Ps3d)

5. JAMINAN            Pada prinsipnya dalam pembiayaan musyarakah tidak ada jaminan,
                      namun menghindari terjadinya penyimpangan LKS dapat meminta
                      jaminan (Ps 3:a3)
6. MANAJEMEN          Setiap mitra memiliki hak untuk mengelola asset musyarakah dalam
                      proses bisnis normal (ps.2c)




                                                                                               98
99
PRODUK JASA PERBANKAN SYARIAH




                  AKAD                      PRODUK

                 WAKALAH            Kliring, Inkaso, Transfer

                   SHARF                Transaksi Valas


                 KAFALAH                 Bank Garansi


                 HIWALAH                Anjak Piutang


             IJARAH & WADIAH           Safe Deposit Box


            QARDH & IJARAH (RAHN)
                                             Gadai



                                                                100
PRODUK JASA PERBANKAN SYARIAH:
KAFALAH – BANK GARANSI


   SKEMA KAFALAH (BANK GARANSI)




                                 2. Negosiasi dan Persyaratan




                                       3 . Akad Kaf alah

                                       5. Ujrah dan jaminan




         Bank Syariah                                           Nasabah




                                        Pemilik Proyek
                                                                          101
PRODUK JASA PERBANKAN SYARIAH:
SAFE DEPOSIT BOX


    SKEMA IJARAH/WADIAH (SAFE DEPOSIT BOX)




                           1. Negosiasi dan Persyaratan
                              (Nasabah butuh Safe Deposit Box)


                                   2 . Akad Ijarah

                            4. Bayar sewa Safe Deposit Box



         Bank Syariah                                            Nasabah


                             3. Bank serahkan Safe Deposit Box
                                  ke nasabah untuk disewa




                                                                           102
PRODUK JASA PERBANKAN SYARIAH:
GADAI SYARIAH


   SKEMA QARDH DAN IJARAH (RAHN)




                           1. Negosiasi dan Persyaratan.


                                2. Pelaksanaan Akad Qard dan Ijarah

                         3 . Nasabah serahkan barang berupa emas (marhun)

                                 4. Bank memberikan pinjaman dana

                         5. Nasabah bayar sewa penyimpanan barang (ujrah)

                      6. Setelah jatuh tempo, Nasabah mengembalikan dana pinjaman

                             7. Bank mengembalikan marhun kepada nasabah


       Bank Syariah                                                                 Nasabah



                                                                                              103
SISTEM OPERASIONAL
    BANK SYARIAH
Konsep & Sistem Perbankan
    Konsep & Sistem Perbankan

Fungsi Bank adalah menghimpun dana dari masyarakat
   dan menyalurkan kembali dana tersebut kepada
          masyarakat lain yang memerlukan

                    Proses
               Penghimpunan Dana
 Masyarakat                                            Masyarakat
Pemilik Dana                           Proses
                                                     Pengguna Dana
                                   Penyaluran Dana
Konsep & Sistem
                        Konsep & Sistem
                       Bank Konvensional
                       Bank Konvensional


                    Proses                   Proses
               Penghimpunan Dana         Penyaluran Dana
 Masyarakat                                                  Masyarakat
Pemilik Dana                                               Pengguna Dana


                  Penetapan Imbalan   Penetapan Beban
Konsep & Sistem
                      Konsep & Sistem
                     Perbankan Syariah
                     Perbankan Syariah
                                        BAGI HASIL


                       Proses             Proses
                  Penghimpunan Dana   Penyaluran Dana
 Masyarakat                                                   Masyarakat
Pemilik Dana                                                Pengguna Dana

                 BAGI HASIL
                                                Konsep Penyaluran Dana :
  Konsep Penghimpunan Dana :                1. Bagi Hasil (Mudharabah &
  1. Al Wadiah                                               Musyarakah)
  2. Mudharabah                       2. Jual Beli (Murabahah, Istishna &
                                                                    Salam)
                                      3. Ujroh (Ijarah & Ijarah Muntahiah
                                                                 Bitamlik)
alur kerja
  Pembayaran bagi hasil                 Bank Syariah           Menerima pendapatan

     Tergantung pendapatan / hasil yg
     diterima                                              Bagi hasil /
     Hanya dana mudharabah                                 Margin
                                       Shahibul maal                          Mudharib
Shahibul Maal                            Mudharib


                                                          Penyaluran
                  Penghimpunan                               dana
                      dana



   Deposan                                     Bank                            Nasabah
                                                                                debitur
         Membayar bunga tetap                          Menerima bunga tetap

      Tidak ada pengaruh pendapatan yang diterima


                                    BANK KONVENSIONAL
Struktur Organisasi
                                   Annual Shareholders
                                        Meeting

                          Sharia                           Board of
                     Supervisory Board                   Commissioners


                                    President Director

                Internal Audit Group                      Assistant Director

     Compliance &                                                 Business
Corporate Support Director                                        Director
                              Direktur Muda
                                Financing
          Compliance Staff

Corporate Support      Financing       Business    Administration             Business
     Group               Group          Units         Group              Development Group
Contoh Bagan Organisasi Bank Umum
                 Syariah
                                    RUPS / Rapat
                                      Anggota


                  Dewan Komisaris                   Dewan Pengawas Syariah



   Dewan Audit                      Dewan Direksi



Divisi / Urusan        Divisi / Urusan        Divisi / Urusan       Divisi / Urusan



             Kantor Cabang          Kantor Cabang          Kantor Cabang
Struktur Organisasi BPRS
                               Rapat Umum
                             Pemegang Saham



                  Dewan                       Dewan Pengawas
                 Komisaris                        Syariah

                              Dewan Direksi

 Internal
   Audit



             Bidang             Bagian                Bidang
            Marketing           Umum                Operasional

      Financing                                  Customer Service
                               Sekretariat

      Funding                                         Teller
                             Kerumahtangga
                                  an
                                                    Accounting
                                                   (Pembukuan)

                                                   Administrasi
Job Description
• Tugas dan Kewajiban
  – Dewan Pengawas Syariah
  – Dewan Komisari
  – Dewan Direksi
  – Bagian Pemasaran
  – Bagian Operasional
  – Internal Audit
TEORI BAGI HASIL DAN PROFIT
         MARGIN
Konsep & Sistem Perbankan
      Konsep & Sistem Perbankan
Fungsi Bank adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan
   kembali dana tersebut kepada masyarakat lain yang memerlukan




                    Proses
               Penghimpunan Dana
 Masyarakat                                                   Masyarakat
Pemilik Dana                                  Proses
                                                            Pengguna Dana
                                          Penyaluran Dana
Konsep & Sistem
                        Konsep & Sistem
                       Bank Konvensional
                       Bank Konvensional


                    Proses                   Proses
               Penghimpunan Dana         Penyaluran Dana
 Masyarakat                                                  Masyarakat
Pemilik Dana                                               Pengguna Dana


                  Penetapan Imbalan   Penetapan Beban
Konsep & Sistem
                       Konsep & Sistem
                      Perbankan Syariah
                      Perbankan Syariah
                                        BAGI HASIL/Profit Margin/Pndpt
                                                   Sewa


                       Proses             Proses
                  Penghimpunan Dana   Penyaluran Dana
 Masyarakat                                                       Masyarakat
Pemilik Dana                                                    Pengguna Dana

                 BAGI HASIL/Bonus
                                                Konsep Penyaluran Dana :
  Konsep Penghimpunan Dana :                1. Bagi Hasil (Mudharabah &
  1. Al Wadiah                                               Musyarakah)
  2. Mudharabah                       2. Jual Beli (Murabahah, Istishna &
                                                                    Salam)
                                      3. Ujroh (Ijarah & Ijarah Muntahiah
                                                                 Bitamlik)
Alur Operasional Bank Syariah                                Mudharib
                                                                                       Tabel
                                                                      Bagi
                                                                      hasi
Penghimpunan dana                          Penyaluran dana Pendapatan
                                                                      l




                            POOLING DANA
  Wadiah yad dhamanah                         Prinsip bagi hasil         Bagi hasil/laba

  Mudharabah Mutlaqah                         Prinsip Ujroh             Sewa
  (Investasi Tdk Terikat)

  Lainnya (modal dsb)                         Prinsip jual beli            Margin


                                                      Tabel
Laporan Laba Rugi
Pendapatan Mdh Mutlaqah
(Investasi Tidak Terikat)
                                           Agen : Mdh Muqayyadah / investasi terikat
Pendapatan berbasis
imbalan (fee base income)
                                           Jasa keuangan: wakalah, kafalah, sharf
SISTEM DAN PERHITUNGAN BAGI HASIL

• Dari sudut pandang Nasabah sebagai Investor
  – Mudharabah Muqayyadah off Balance Sheet
    (Chanelling)
  – Mudharabah Muqayyadah on Balance Sheet
    (Executing)
  – Mudharabah Mutlaqah


• Dari sudut Pandangan Bank
  – Perhitungan Saldo Akhir Bulan
  – Perhitungan Saldo Rata-rata Harian
SKEMA-SKEMA MUDHARABAH
Skema Mudharabah Muqayyadah Off Balance Sheet (Channelling)

  Satu Nasabah                                        Satu Pelaksana
     Investor                                             Usaha
                             Bank Syari’ah

Skema Mudharabah Muqayyadah On Balance Sheet (executing) berdasar
sektor
                                                       Pertanian
  Satu Nasabah
                         Bank Syari’ah
     Investor                                         Manufaktur
                                                           Jasa
Skema Mudharabah Muqayyadah On Balance Sheet (executing) berdasar
akad yg digunakan
                                                    Penjualan Cicilan
  Satu Nasabah
                         Bank Syari’ah
     Investor                                         Penyewaan Cicilan
                                                    Kerjasama Usaha
SKEMA-SKEMA MUDHARABAH
Skema Mudharabah Mutlaqah On Balance Sheet
                                                Penjualan 1

 Nasabah 1                                      Penjualan 2
                                       Jual
 Nasabah 2                                           .
                                                Penjualan n
 Nasabah 3
                     Bank
                                                Penyewaan 1
     .              Syari’ah
                                      Sewa      Penyewaan 2
     .
                                                     .
 Nasabah n                                      Penyewaan n


                                                Kerjasama 1
                                    Kerjasama
                                                Kerjasama 2
                                      Usaha
                                                     .
                                                Kerjasama n
KASUS MENGHITUNG BUNGA

KASUS:
Pada tanggal 1 Mei 2002, Bapak Johanes membuka deposito
sebesar Rp. 10.000.000, jangka waktu satu bulan, dengan tingkat
bunga 9% p.a. Berapa bunga yang diperoleh pada saat jatuh
tempo?


JAWAB
Bunga yang diperoleh bapak Johanes adalah:
Rp. 10.000.000 x 31 hari x 9% / 365 hari = Rp. 76.438
KASUS BAGI HASIL DEPOSITO
Bapak Ahmad membuka deposito sebesar Rp. 10.000.000, jangka waktu satu
bulan (tanggal 1 Mei s/d 1 Juni 2003), nisbah bagi hasil antara nasabah dan
bank 57% : 43%. Jika keuntungan bank yang diperoleh untuk deposito satu
bulan per 31 Mei 2003 adalah Rp. 20.000.000 dan total deposito jangka waktu
satu bulan adanya Rp. 950.000.000, berapa keuntungan yang diperoleh bapak
Ahmad?

JAWAB
Bunga yang diperoleh bapak Johanes adalah:
Rp. 10.000.000 x 31 hari x 9% / 365 hari = Rp. 76.438


JAWAB
Bagi hasil yang diperoleh bapak Ahmad adalah:
(Rp. 10 juta/Rp. 950 juta) x Rp. 20 juta x 57% = Rp. 120.000
KASUS MENGHITUNG BAGI
    HASIL FUNDING
TABEL DISTRIBUSI PENDAPATAN (BAGI HASIL)
              Rata-rata            Saldo Rata-                                      Distribusi
  Jenis       Sebulan                  rata
               Saldo               Tertimbang*                     Penyimpan Dana                      Bank
 Produk                   Bobot*                   Distri-busi
               Harian        )
                                        *)
                                                                 Porsi    Pendapatan         Porsi      Pendapatan




   (0)           (1)        (2)        (3)              (4)       (5)         (6)                (7)          (8)
                 (A)        (B)    (A)x(B) = (C)        (D)       (E)     (F)=(D)x(E)            (G)    (H)=(D)x(G)

Rekening     10000000      0,700     7000000            D1       0,250        F1             0,750            H1
Giro
Rek.         60000000      1,000    60000000            D2       0,550        F2             0,450            H2
Tabungan
Deposito     10000000      0,800     8000000            D3       0,570        F3             0,430            H3
Mudharab
ah
1 bulan

3 bulan      20000000      0,850    17000000            D4       0,600        F4             0,400            H4
6 bulan       5000000      0,900     4500000            D5       0,580        F5             0,420            H5
12 bulan     10000000      1,000    10000000            D6       0,570        F6             0,430            H6
Grand        115000000      (B)     106500000         (D)                    (F)                              (H)
Total                                              20000000
Keterangan : D1=C1/Grand Total C x Grand Total D, dst
 *) Bobot = 1 – (GWM + Excess Reserve + Floating)
MENGHITUNG SALDO RATA-RATA HARIAN

•    Saldo rata-rata harian untuk jenis produk funding di
     bank syari’ah ditentukan sebagai berikut:
    1. Menentukan tanggal berapa keuntungan yang diperoleh
       dari penempatan dana akan dibagi-hasilkan. Misalnya
       setiap buLan ditentukan pada tanggal 25 bulan ybs, maka
       pendapatan yang akan dibagihasilkan kepada penyimpan
       dana adalah pendapatan yang diperoleh sejak tanggal 26
       bulan sebelumnya sampai dengan tanggal 25 pada bulan di
       mana pendapatan tersebut dibagi hasilkan
    2. Jumlah hari yang dihitung dalam satu bulan adalah sesuai
       dengan hitungan kalender. Oleh karena itu, saldo rata-rata
       harian per bulan dihitung sejak tanggal 26 sampai dengan
       tanggal 25 bulan berikutnya.
MENGHITUNG SALDO RATA-RATA HARIAN
•   Contoh kasus :
    – Tuan Amir adalah nasabah Bank Syari’ah at-
      Taqwa, berupa tabungan Mudharabah. Catatan
      kartu tabungannya menunjukkan transaksi sebagai
      berikut:
          Tanggal    Debet      Kredit      Saldo
        26/6/02                   575.000      575.000
        02/7/02       125.000                  450.000
        10/7/02                   250.000      700.000
        15/7/02       100.000                  600.000
        21/7/02                   400.000    1.000.000
MENGHITUNG SALDO RATA-RATA HARIAN
•    Hitungan saldo rata-rata harian per bulan pada tanggal 25
     Juli 2002, sebagai berikut:

    1.   Tgl. 26/6/02 s/d tgl. 1/7/02        = 6 hari x 575.000          = 3450000
    2.   Tgl. 02/7/02 s/d tgl. 9/7/02        = 8 hari x 450.000          = 3600000
    3.   Tgl. 10/7/02 s/d tgl. 14/7/02       = 5 hari x 700.000          = 3500000
    4.   Tgl. 15/7/02 s/d tgl. 20/7/02       = 6 hari x 600.000          = 3600000
    5.   Tgl. 21/7/02 s/d tgl. 25/7/02       = 5 hari x 1.000.000= 5000000
                  Jumlah                     = 30 hari                  = 19150000


                                 Saldo rata-rata harian = 19.150.000/30 = 638.333

•Cara perhitungan di atas, juga digunakan untuk menghitung jenis simpanan yang lain.
•Jika terjadi penutupan rekening, maka saldo rata-rata yang dihitung adalah sejak
tanggal 26 sampai tanggal penutupan rekening tersebut, kemudian dihitung berapa
bagi hasilnya
PERHITUNGAN BAGI HASIL POLA BARU

       Penetapan
    Pendapatan yang                  Perhitungan Hasil
   akan dibagihasikan:                Investasi untuk
    Jenis dan Jumlah                setiap rupiah 1000             Distribusi ke tiap
                                       dana nasabah                    nasabah




Kelebihan cara ini:
    Penyertaan dana shohibul maal dalam investasi dikoreksi dengan GWM
    Bobot dihilangkan/diseragamkan = 1
    Cara perhitungan relatif lebih mudah
    Mempermudah perencanaan
    Penggunaan ekuivalent rate hasil investasi per-Rp. 1000 dana nasabah
CONTOH: Perhitungan Bagi Hasil Pola Baru

Apabila bank syari’ah mampu mengumpulkan dana pihak ketiga
(DPK) sebanyak Rp. 90.000.000. DPK yang dapat disalurkan pada
pembiayaan sebanyak Rp. 85.500.000 (karena ada Giro Wajib
Minumum sebesar 5%). Pembiayaan yang harus disalurkan ke
masyarakat sebanyak Rp. 100.000.000. Dari pembiayaan Rp.
100.000.000 diperoleh pendapatan dari penyaluran pembiayaan
sebesar Rp. 6.000.000. Nisbah bagi hasil 65% (nasabah): 35%
(bank). Saldo rata-rata harian dana nasabah (Pak Amir) sebesar
Rp. 1.000.000. (1) Berapa pendapatan bagi setiap Rp. 1000 dana
nasabah? (2) Berapa pendapatan bagi hasil pak Amir?
CONTOH: Perhitungan Bagi Hasil Pola Baru

Dana Pihak Ketiga (DPK Mudharabah)      A    90,000,000.00
DPK yang disalurkan untuk Pembiayaan    B    85,500,000.00
   (= DPK x (1 - GWM) --> GWM = 5%)
Pembiayaan Yang Disalurkan              C   100,000,000.00
Dana Bank                                    14,500,000.00
Pendapatan dari Penyaluran Pembiayaan   D     6,000,000.00
Pendapatan bagi setiap Rp. 1000 DPK     E           57.00



E= B/C * D * 1/A * 1000
CONTOH: Perhitungan Bagi Hasil Pola Baru
 Pendapatan Investasi untuk setiap Rp. 1000             E                57.00
     DPK Mudharabah
 Saldo rata-rata Harian Nasabah                         F       1,000,000.00
 Nisbah Bagi Hasil                                      G                    65
 Porsi Bagi Hasil untuk Nasabah bulan ini               H           37,050.00




             H= E/1000 * F * G/100


Dari hasil perhitungan di atas, ditemukan pendapatan nasabah untuk bulan ini dengan
dananya sebesar Rp. 1.000.000, bagi hasilnya sebesar Rp. 37,050.00
PENENTUAN NISBAH BAGI HASIL
Nisbah bagi hasil dihitung berdasarkan profit sharing dari usaha pengadaan
kacang kedelai yang dibiayai dengan fasilitas Mudharabah Muqayyadah
sebesar Rp. 125.000.000, dengan data sebagai berikut:
Harga Jual Kacang Kedelai                           = Rp. 2.150/kg
Harga jual kepada nasabah                           = setara 16% p.a
Volume Penjualan Kedelai per bulan                  = 65.000 kg
Nilai Penjualan (65.000 x Rp. 2.150)                        = Rp.
139.750.000
Harga Pokok Pembelian                               = Rp. 125.000.000
PENDAPATAN penjualan kedelai                        = Rp. 14.750.000
Berapa Nisbah bagi hasilnya?
PENENTUAN NISBAH PEMBIAYAAN

Perhitungan Nisbah:
Volume Penjualan                                                      = 65.000 kg
Profit Margin (Rp. 14.750.000/139.750.000)x 100%                      = 10,55%
Lama Piutang (data neraca 31-07-2003)                                 = 65 hari
Lama persediaan (data neraca 31-08-2003)                              = 2 hari
Lama hutang dagang (pembayaran ke suplier & carry)                    =0
Cash to cash periode = 360/(DI+DR-DP)                                 = 5,4
        DI= Days Inventories; DR= Days Receivable; DP= Days Payable

Profit margin per tahun = 5,4 x 10,55                                 = 57%
Nisbah Bank Syari’ah: (16%)/(57%)x100%                                = 28%
Nisbah untuk Nasabah: 100% - 28%                                      = 72%
CONTOH:
      Perhitungan Bagi Hasil Pembiayaan


Seorang nasabah mengajukan pembiayaan
untuk modal kerja dagang sebesar Rp.
125.000.000 selama 1 tahun, dengan
perbandingan bagi hasil antara nasabah dan
bank 72 : 28 %. Bagaimana cara
perhitungannya?
Kasus Perhitungan Bagi Hasil Mudharabah

Penyelesaian Pertama :

                                    NISBAH
  BULAN PENDAPATAN             BANK      NASABAH            CICILAN           TOTAL
               NASABAH         28%            72%            POKOK          ANGSURAN
           1 6,000,000.00   1,680,000.00   4,320,000.00                     1,680,000.00
           2 5,000,000.00   1,400,000.00   3,600,000.00                     1,400,000.00
           3 7,000,000.00   1,960,000.00   5,040,000.00                     1,960,000.00
           4 4,000,000.00   1,120,000.00   2,880,000.00                     1,120,000.00
           5 2,500,000.00    700,000.00    1,800,000.00                       700,000.00
           6 3,000,000.00    840,000.00    2,160,000.00                       840,000.00
           7 3,500,000.00    980,000.00    2,520,000.00                       980,000.00
           8 6,500,000.00   1,820,000.00   4,680,000.00                     1,820,000.00
           9 5,500,000.00   1,540,000.00   3,960,000.00                     1,540,000.00
         10 4,250,000.00    1,190,000.00   3,060,000.00                     1,190,000.00
         11 4,500,000.00    1,260,000.00   3,240,000.00                     1,260,000.00
         12 4,575,000.00    1,281,000.00   3,294,000.00   125,000,000.00   126,281,000.00
Kasus Perhitungan Bagi Hasil Mudharabah Mutanaqisah

                                                       NISBAH                 CICILAN       SETORAN
BULAN    PENDAPATAN       PENDAPATAN YANG       BANK         NASABAH          POKOK            KE
            USAHA          DIBAGIHASILKAN        28%            72%                           BANK
   1       6,000,000.00       6,000,000.00   1,680,000.00   4,320,000.00   5,000,000.00    6,680,000.00
   2       5,000,000.00       4,800,000.00   1,344,000.00   3,456,000.00   5,000,000.00    6,344,000.00
   3       7,000,000.00       6,440,000.00   1,803,200.00   4,636,800.00   5,000,000.00    6,803,200.00
   4       4,000,000.00       3,520,000.00    985,600.00    2,534,400.00   5,000,000.00    5,985,600.00
   5       2,500,000.00       2,100,000.00    588,000.00    1,512,000.00   5,000,000.00    5,588,000.00
   6       3,000,000.00       2,400,000.00    672,000.00    1,728,000.00   5,000,000.00    5,672,000.00
   7       3,500,000.00       2,660,000.00    744,800.00    1,915,200.00   5,000,000.00    5,744,800.00
   8       6,500,000.00       4,680,000.00   1,310,400.00   3,369,600.00   5,000,000.00    6,310,400.00
   9       5,500,000.00       3,740,000.00   1,047,200.00   2,692,800.00   5,000,000.00    6,047,200.00
  10       4,250,000.00       2,720,000.00    761,600.00    1,958,400.00   5,000,000.00    5,761,600.00
  11       4,500,000.00       2,700,000.00    756,000.00    1,944,000.00   5,000,000.00    5,756,000.00
  12       4,575,000.00       2,562,000.00    717,360.00    1,844,640.00   70,000,000.00   70,717,360.00


Modal   125,000,000.00
TEORI PRICING
PENENTUAN RETURN
          PEMBIAYAAN
• Mark-up Pricing  Biaya produksi
• Target-Return Pricing  ROI (Return on
  Investment)
• Perceived-Value Pricing  persepsi nasabah
• Value Pricing  ono rego ono rupo
• Going Rate Pricing  tingkat bunga yang
  berlaku
Penentuan Harga dalam
          Pembiayaan Syari’ah
• Penentuan harga dalam pembiayaan di bank syari’ah
  dapat menggunakan salah satu di antara lima model
  tersebut di atas
• Namun yang lazim digunakan oleh bank syari’ah saat
  ini adalah dengan menggunakan metode going rate
  pricing, yaitu menggunakan tingkat suku bunga pasar
  sebagai rujukan (benchmark). Mengapa diterapkan?
  Karena bank syari’ah berkompetisi dengan bank
  konvensional. Di samping itu bank syari’ah juga
  berkeinginan untuk mendapatkan customer yang
  bersifat floating customer.
Penerapan Mark-up Pricing dalam
         Pembiayaan Syari’ah
• Mark-up pricing hanya tepat jika digunakan
  untuk pembiayaan yang sumber dananya dari
  Restricted Investment Account (RIA) atau
  Mudharabah Muqayyadah.
Penerapan Target-Return Pricing
          dalam Pembiayaan Syari’ah
•   Bank syari’ah beroperasi dengan tidak menggunakan bunga, di dalamnya
    juga diklasifikasikan akad yang menghasilkan keuntungan secara pasti,
    disebut natural certainty contract, dan akad yang menghasilkan keuntungan
    yang tidak pasti, disebut natural uncertainty contract.
•   Jika pembiayaan dilakukan dengan akad natural certainty contract, maka
    metode yang digunakan adalah required profit rate (rpr)
      – rpr = n. v (n = tingkat keuntungan dalam transaksi tunai; v = jumlah
        transaksi dalam satu periode
•   Jika pembiayaan dilakukan dengan akad natural uncertainty contract, maka
    metode yang digunakan adalah expected profit rate (epr)
      – epr diperoleh berdasarkan: (1) tingkat keuntungan rata-rata pada
        industri sejenis; (2) pertumbuhan ekonomi; (3) dihitung dari nilai rpr yang
        berlaku di bank yang bersangkutan;
      – Perhitungannya:
         • Nisbah bank = epr/actual return bisnis yang dibiayai * 100%
         • Aktual return bank = nsibah bank + aktual return bisnis
275. Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti
berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan
mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat),
sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli
dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari
Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah
diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah.
Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni
neraka; mereka kekal di dalamnya.
Letak haramnya Riba…
…Adalah disebabkan mereka berkata sesungguhnya jual beli
sama dengan riba, padahal ALLAH telah menghalalkan jual beli
dan mengharamkan riba. QS 2 : 275

                                Riba             Jual Beli
       Kelebihan            Ada - bunga        Ada – laba
       Ditetapkan             dimuka           Dibelakang
    Unsur Pemastian             Ada             Tidak ada
     Efek Ekonomi           Menurunkan       Meningkatkan
                           agregat supply    agregat supply
POKOK-POKOK ATURAN MURABAHAH
FATWA DSN-MUI No.04/DSN-MUI/IV/2000




3. HARGA    HARGA BELI
            … Dalam kaitan ini Bank harus memberitahu secara jujur harga
            pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan (Ps
            1: 6)
            HARGA JUAL
            BANK kemudian menjual barang tersebut kepada NASABAH
            (pemesan) dengan harga jual senilai harga beli plus
            keuntungannya (Ps 1: 6)

            Fatwa DSN No.16/IX/2000:
            Harga dalam jualbeli murabahah adalah harga beli dan biaya yang
            diperlukan ditambah keuntungan sesuai dengan kesepakatan
            (Ps.1:1)




                                                                              144
Menentukan Harga Jual
1. Harga    Jual Bank = Harga Beli + (Harga beli * % * Waktu)  Gharar
                  = 150000000 + (150jt* 10%* 2 th)
                    = 180000000


2. Harga Jual Bank = Harga Beli Bank + (waktu * Cost Recovery)
                         + Keuntungan

Cost Recovery = (Pemby MRB/Estimasi Tot Pemby)
                     x Estimasi Biaya Ops 1 Tahun

Mark Up/Profit Margin      = Persentase x Pembiayaan

                        Cost Recovery + keuntungan
Margin dalam % = ----------------------------------------- x 100%
                           Harga Barang di Toko
Menentukan Harga Jual
Data pembiayaan
Estimasi Tot Pembiayaan       = 5 milyar
Required Profit Rate          = 10% (Pricing)
Estimasi biaya operasi 1 th   = 200.000.000
Masa pembiayaan               = 2 tahun
Harga Pokok Mobil             = 150.000.000
Uang Muka                     = 30.000.000
Kekurangan Bank               = 120.000.000
Cost Recovery                         = 120 jt/5 mil x 200 jt =
4.800.000
Profit Margin              = 10% x 120 jt = 12.000.000
Harga jual                 = 120 juta + (1 x 4.800.000) + 12 jt
                           = 136.800.000
Jika menggunakan waktu 2 tahun, maka:
Harga jual                 = 120 juta + (2 x 4.800.000) + 12 jt
                           = 141.600.000
Menentukan Profit Margin
                 Cost Recovery + keuntungan
Margin dalam % = -------------------------------- x 100%
                  Harga Beli Barang di Dealer

                           4.800.000 + 12.000.000
Margin dalam % = ---------------------------------- x 100%
                                       150.000.000
                   = 11,2%
Margin per bulan= 11,2%/12
                   = 0,933
Menentukan Harga Jual
1. Harga Jual Bank = Harga Beli + (Harga beli * % * Waktu)  Gharar
                             = 150000000 + (150jt* 10%* 2 th)
                             = 180000000

2. Harga Jual Bank = Harga Beli Bank + (waktu * Cost Recovery) + Keuntungan

Cost Recovery         = (Pemby MRB/Estimasi Tot Pemby)
                           x Estimasi Biaya Ops 1 Tahun

Mark Up/Profit Margin       = Persentase x Pembiayaan

                         Cost Recovery + keuntungan
Margin dalam % = ----------------------------------------- x 100%
                            Harga Barang di Toko
Menentukan Harga Jual
Data pembiayaan
Estimasi Tot Pembiayaan          = 5 milyar
Required Profit Rate             = 10% (Pricing)
Estimasi biaya operasi 1 th      = 200.000.000
Masa pembiayaan                  = 2 tahun
Harga Pokok Mobil                = 150.000.000
Uang Muka                        = 30.000.000
Kekurangan Bank                  = 120.000.000
Cost Recovery            = 120 jt/5 mil x 200 jt = 4.800.000
Profit Margin                    = 10% x 120 jt = 12.000.000
Harga jual                       = 120 juta + (1 x 4.800.000) + 12 jt
                                 = 136.800.000
Jika menggunakan waktu 2 tahun, maka:
Harga jual                       = 120 juta + (2 x 4.800.000) + 12 jt
                                 = 141.600.000
Menentukan Profit Margin
               Cost Recovery + keuntungan
Margin dalam % = -------------------------------- x 100%
               Harga Beli Barang di Dealer

                     4.800.000 + 12.000.000
Margin dalam % = ---------------------------------- x 100%
                               150.000.000
                 = 11,2%
Margin per bulan= 11,2%/12
                 = 0,933
MANAJEMEN DANA DAN MODAL
      BANK SYARIAH
SUMBER DANA BANK SYARI’AH


            MODAL               BANK SYARI’AH


       TITIPAN WADI’AH


    INVESTASI MUDHARABAH



INVESTASI KHUSUS ( MUDHARABAH
         MUQAYYADAH)
SISTEM & MEKANISME PENGGUNAAN DANA
           DI BANK SYARI’AH

• Tujuan pengalokasian dana di bank syari’ah:
   – Mencapai tingkat profitabilitas yang cukup dan tingkat
     risiko yang rendah
   – Mempertahankan kepercayaan masyarakat dengan
     menjaga agar posisi likuiditas tetap aman


• Alokasi penggunaan dana dibagi dalam:
   – Aktiva yang menghasilkan (Earning Assets)
   – Aktiva yang tidak menghasilkan (Non Earning Assets)
SISTEM & MEKANISME PENGGUNAAN DANA
       DI BANK SYARI’AH (Cont’d …)

• Earning Asset, meliputi:
   – Pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (Mudharabah)
   – Pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan (Musyarakah)
   – Pembiayaan berdasarkan prinsip jual beli (al-Bai’u)
   – Pembiayaan berdasarkan prinsip sewa (Ijarah & Ijarah
     Muntahia Bittamalik)
   – Surat berharga syari’ah dan investasi lainnya

• Non Earning Assets, meliputi:
   – Aktiva tunai (cash assets)
   – Pinjaman (Qard)
   – Penanaman dalam aktiva tetap
SISTEM & MEKANISME PENGGUNAAN DANA
       DI BANK SYARI’AH (Cont’d …)

• Pendekatan penggunaan dana di bank syari’ah
   – Pusat Pengumpulan Dana (Pool of Funds)
   – Alokasi Aktiva (Assets Allocation Approach)

• Sumber dan alokasi pendapatan di bank syari’ah
   – Sumber Pendapatan
      •   Bagi hasil atas kontrak mudharabah dan musyarakah
      •   Keuntungan atas kontrak jual beli (al-bai’u)
      •   Hasil sewa atas kontrak ijarah dan ijarah muntahia bittamlik
      •   Fee dan biaya administrasi atas jasa-jasa lainnya
   – Pembagian keuntungan , dapat dilakukan:
      • Revenue sharing
      • Profit sharing
PENGGUNAAN DANA POOL OF FUND APPROACH
Sumber Dana               Penggunaan Dana

                         PRIMARY RESERVE
      WADIAH             SECONDARY RESERVE
                         QARD

               DANA      MUSYARAKAH
 MUDHARABAH
               POOL      MUDHARABAH
   MUTLAQAH
                         MURABAHAH
                         BAI AS-SALAM
 MUSYARAKAH
                         BAI ISTISHNA’
                         IJARAH/IMBT
                         AKTIVA TETAP
 MUDHARABAH
                         SPECIAL PROJECT
 MUQAYYADAH
PENGGUNAAN DANA ASSET ALLOCATION APPROACH
 Sumber Dana                Penggunaan Dana

                           PRIMARY RESERVE
       WADIAH              SECONDARY RESERVE
                           QARD

  MUDHARABAH               MURABAHAH
    MUTLAQAH               BAI AS-SALAM

                           BAI ISTISHNA’
  MUDHARABAH
                           IJARAH
  MUQAYYADAH
                           MUDHARABAH

                           MUSYARAKAH
   MUSYARAKAH
                           AKTIVA TETAP
SOURCES AND APPLICATION OF FUNDS
                    AND PROFIT DISTRIBUTION
                                                                           PAYMENT OF
SOURCES OF      APPLICATION     POOL OF                       PROFIT        PROFIT TO
  FUNDS          OF FUNDS        PROFIT                    DISTRIBUTION    DEPOSITORS

  Current         Statutory
  Accounts        Reserve                                    Customers’     Pay to Customers
                                                             Deposits By   on Maturity based
  Savings         Liquidity
                                                                Type       on current monthly
  Accounts       Requirement
                                                                              rates of profit
                                Customers’
                  Financing      Deposit
   General
 Investment         Trade                        Less
  Accounts        Financing
                                               Operating
                  Investment
                                               Expenses
                                                                                Bank Profit
                 Pool of fund                                                 before Zakat &
Shareholders’
                 Managed by
                                Shareholders                  Bank
                                                               BANK
                                                                                  Taxes
    fund                          ’ funds
                  Treasury

                  Liquidity        Special
   Special       Requirement     Investment
 Investment                       Accounts                    Special            Pay to
  Accounts        Statutory                                  Customers’       Customers on
                  Reserve                                     Deposits          Maturity
MANAJEMEN MODAL BANK SYARI’AH

• Modal merupakan aspek penting dalam pendirian
  bank syari’ah
• Modal = sesuatu yang mewakili kepentingan pemilik
  dalam suatu perusahaan
• Fungsi modal
   – Penyangga untuk menyerap kerugian operasional dan
     kerugian lainnya;
   – Dasar menetapan batas minimum pemberian pembiayaan
     (BMPP)
   – Dasar pertimbangan bagi para partisipasi pasar untuk
     mengevaluasi tingkat kemampuan bank secara relatif untuk
     menghasilkan keuntungan
MANAJEMEN MODAL BANK SYARI’AH

• Sumber modal:
  – Modal inti (core capital)
     • Saham
     • Cadangan
     • Laba ditahan
  – Kuasi ekuitas
     • Dana-dana yang tercatat dalam rekening bagi hasil
  – Fungsi Modal inti penyangga dan penyerap kerugian
    bank dan melindungi kepentingan para pemegang
    rekening wadi’ah atau qard
  – Fungsi Kuasi Equitas  penyangga kerugian akibat
    dana rekening mudarabah
Kecukupan Modal Bank Syari’ah
• Kecukupan Modal Bank Syari’ah merupakan indikator
  sehat-tidaknya bank syari’ah
• Kecukupan modal diukur:
   – Membandingkan modal dengan dana pihak ketiga, dihitung
     dengan:
      • Modal & Cadangan/Giro+Tabungan+Deposito = 10%
   – Membandingkan modal dengan aktiva berisiko
      • Kesepakatan BIS (Bank for International Settlements), dihitung
        dari: Modal/Aktiva Berisiko = 8%
• Ketentuan perhitungan CAR sebagai aturan main
  dalam kompetisi yang fair di pasar keuangan global
Aktiva Tertimbang Menurut Risiko
              (ATMR)
• ATMR dihitung dengan pertimbangan aktiva bank
  syari’ah:
   – Aktiva yang dibiayai dengan modal sendiri dan/atau
     kewajiban (wadi’ah & qard)
   – Aktiva yang didanai oleh rekening bagi hasil: mudharabah
     mutlaqah maupun muqayyadah
• Pendanaannya:
   – Aktiva yang dibiayai dengan modal sendiri dan/atau
     kewajiban (wadi’ah & qard)  modal sendiri
   – Aktiva yang didanai oleh rekening bagi hasil: mudharabah
     mutlaqah maupun muqayyadah  rekening bagi hasi
KualitasAktiva Produktif
• Keunikan bank syari’ah, karena mekanisme:
  – Jual beli
  – Dana untuk investasi
• Aktiva Produktif Bank Syari’ah:
  – Piutang Penjualan Murabahah dan Ijarah
  – Investasi, pada:
     •   Musyarakah
     •   Mudharabah
     •   Salam
     •   Istishna’
     •   Persediaan
     •   Aktiva yang disewakan
MANAJEMEN PEMBIAYAAN
PENGERTIAN PEMBIAYAAN
• Pembiayaan adalah penyediaan dana atau tagihan yang
  dipersamakan dengan itu berupa:
   – transaksi bagi hasil dalam bentuk mudharabah dan
     musyarakah;
   – transaksi sewa-menyewa dalam bentuk ijarah atau sewa beli
     dalam bentuk ijarah muntahiya bittamlik;
   – transaksi jual beli dalam bentuk piutang murabahah, salam,
     dan istishna’;
   – transaksi pinjam meminjam dalam bentuk piutang qardh; dan
   – transaksi sewa-menyewa jasa dalam bentuk ijarah untuk
     transaksi multijasa
  berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara Bank
  Syariah dan/atau UUS dan pihak lain yang mewajibkan
  pihak yang dibiayai dan/atau diberi fasilitas dana untuk
  mengembalikan dana tersebut setelah jangka waktu
  tertentu dengan imbalan ujrah, tanpa imbalan, atau
  bagi hasil
PERANAN PEMBIAYAAN
 DLM SISTEM PERBANKAN SYARIAH
• Fungsi pembiayaan sebagai “penyumbang”
  pendapatan terbesar bagi bank syariah.
• Besar-kecilnya pendapatan dari pembiayaan akan
  menentukan besar-kecilnya bagi hasil untuk nasabah
  dana.
• Tingkat kesehatan pembiayaan (NPF) ikut
  mempengaruhi pencapaian laba bank.
• FDR (Financing to Deposit Ratio) Bank Syariah > LDR
  (Loan to Deposit Ratio) Bank Konvensional.
PROSES PEMBIAYAAN


                          Proses Pembiayaan

inisiasi                dokumentasi             monitoring

           solisitasi             Pre-signing                Regular

           evaluasi            Pre-disbursement         Restrukturisasi

           approval
INISIASI
•   Adalah proses awal menetapkan
    kriteria nasabah pembiayaan sesuai
    dengan kriteria yang ditetapkan Bank
    Muamalat, kemudian melakukan
    evaluasi, serta memberikan keputusan
    hasil evaluasi.
•   Proses inisiasi terdiri dari 3 hal
    1.   Solisitasi
    2.   Evaluasi
    3.   Approval
SOLISITASI

•    Adalah proses mencari nasabah sesuai
     kriteria yang telah ditetapkan Bank
     Muamalat
•    Tahapan solisitasi :
    1. Penetapan target market, misal
         sektor industri
    2. Penetapan sektor bisnis, misal
         industri bidang semen.
    3. Penetapan risk acceptance assets
         criteria (RAAC), misal resiko dibidang
         semen beserta turunannya.
    4. Penetapan nasabah yang dibiayai,
         misal PT. Semen Gresik, Semen
         Padang.
EVALUASI
1. Kunjungan ke nasabah, dengan
   laporan kunjungan nasabah (call
   report) :
        Tujuan
        Hasil Kunjungan
        Rencana Tindak lanjut.

2.   Pengumpulan data-data :
        Surat permohonan nasabah
        Data legalitas
        Data Keuangan nasabah
        Data Jaminan
        Proposal proyek yang dibiayai
        Proyeksi cashflow proyek.
EVALUASI
3.   Data dimasukkan ke dalam financing file :
        Persetujuan           Keterangan Ringkas
                             Nasabah
        Kolektibilitas        Laporan kunjungan
        Permintaan informasi Korespondensi intern
        Penyidikan           Korespondensi extern
        Penilaian jaminan      Permanen

3.   Tahapan evaluasi :
        Evaluasi kelayakan usaha yang akan dibiayai.
        Evaluasi dokumentasi legalitas, taksasi jaminan,
        checking (BI,Trade, Personal)
EVALUASI

6.   Evaluasi data disajikan kedalam USULAN
     PEMBIAYAAN (UP), dgn outline sbb :
        Tujuan
        Latarbelakang Nasabah (legalitas,
        kepemilikan, kepengurusan, track record,
        dll).
        Hubungan perbankan nasabah
        Usaha Nasabah (sarana, proses produksi,
        supplier, konsumen, industri nasabah).
        Deskripsi Proyek yang dibiayai
        Analisa Cashflow, dan penentuan plafond
        pembiayaan.
EVALUASI

Analisa Jaminan
Aspek syariah
Kesimpulan
Rekomendasi Struktur Fasilitas.
APPROVAL
A/M mempresentasikan UP di depan komite
pembiayaan (minimal 3 orang, yg salah
satunya mempunyai limit approval).

Keputusan Komite Pembiayaan :
   DITOLAK, seluruh dokumen nasabah
   dikembalikan disertai surat penolakan
   DISETUJUI, A/M membuat Offering letter
   (OL)/surat persetujuan prinsip pembiayaan
   yg ditanda tangani oleh Direksi/Pemimpin
   Cabang/Kepala Divisi
   OL adalah dokumentasi legal berisi
   komitmen bank utk membiayai usaha
   nasabah.
DOKUMENTASI
1.   Pre-sign Documentation
        OFFERING LETTER
        Akad Pembiayaan
        Akad dan dokumen Jaminan
        Dokumen Pendukung : kontrak kerja,
        asuransi, dll

1.   Pre-disbursement Documentation
        Surat permohonan realisasi Pembiayaan.
        (SPRP)
        Tanda Terima Barang
        Surat perintah transfer dana
        Dokumen pendukung lainnya yang
        disyaratkan dalam OL.
MONITORING

1.   REGULAR MONITORING
        Monitoring Aktif, yaitu mengunjungi
        nasabah secara reguler dan memberikan
        laporan kunjungan nasabah/ call report
        kepada komite pembiayaan/ supervisor
        A/M
        Monitoring pasif, yaitu memonitoring
        pembayaran kewajiban nasabah kepada
        bank setiap akhir bulan.
1.   Restrukturisasi Pembiayaan
        Restrukturisasi, Rekondisi, Reschedule.
        Penjualan Jaminan (sukarela atau litigasi)
ANALISA PEMBIAYAAN
ANALISIS KELAYAKAN PEMBIAYAAN
    PEMBIAYAAN YANG DIHINDARI :

1. TIDAK SESUAI SYARI’AH
2. BERSIFAT GHARAR (SPEKULASI)
3. TANPA INFORMASI KEUANGAN
4. BIDANG YANG TIDAK DIKUASAI
5. NASABAH BERMASALAH (BLACK LIST)
6. TIDAK MEMADAI (JAHALAH)
1. CHARACTER (KARAKTER)
      2. CONDITION (KONDISI UMUM)         Prinsip ini
      3. CAPABILITY (KEMAMPUAN)         secara umum
      4. CAPITAL (MODAL)               masih digunakan
      5. COLLATERAL (JAMINAN)          oleh Perbankan


             1. PEOPLE (KARAKTER)                       Prinsip lain
             2. PURPOSE (TUJUAN)                      mulai diterapkan
             3. PROSPECT (PROSPEK BISNIS)             oleh Perbankan
             4. PAYMENT (KEMAMPUAN MEMBAYAR)
1.   SHIDIK (BENAR/JUJUR)
•    AMANAH (DIPERCAYA/TRANSPARAN)   Prinsip tambahan yang
•    FATHONAH (PANDAI)                   Diterapkan oleh
•    TABLIGH (KOMUNIKASI)                  bank syariah
1. CHARACTER (KARAKTER)
“Tabiat dan kemauan si pemohon pembiayaan untuk memenuhi
kewajiban-keawajiban yang telah dijanjikan”

2. CONDITION (KONDISI UMUM)
“Keadaan umum bisnis yang diajukan si pemohon pembiayaan
untuk dibiayai bank”

3. CAPABILITY (KEMAMPUAN)
“Kesanggupan si pemohon pembiayaan untuk mengembalikan
Pembiayaan dan kewajiban lainnya”

4. CAPITAL (MODAL)
“Kondisi permodalan usaha si pemohon pembiayaan, yang akan
menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan besar pembiayaan
yang dapat diberikan”

5. COLLATERAL (JAMINAN)
“Jaminan berupa cash, fixed asset atau bentuk lainnya yang dapat
diberikan oleh si pemohon pembiayaan untuk menjamin pembiayaan
yang diberikan oleh bank”
I. ANALISA KARAKTER (Character)            Jujur nggak ya...??.

1. BI Checking
   “Pengecekan melalui BI mengenai kondisi
    pembiayaan yang sedang diterima melalui bank lain”

2. Bank Checking
   “Pengecekan ke bank lain dimana si pemohon
    mempunyai rekening maupun pembiayaan”
3. Trade Checking
   “Pengecekan kepada rekanan bisnis si pemohon pembiayaan
   mengenai hubungannya dengan rekanan terutama terhadap
   ketepatan pemenuhan kewajiban”

4. Personal Checking
   “Pengecekan informasi kepada saudara, kawan atau rekanan
   bisnis si pemohon pembiayaan mengenai karakternya termasuk
   moralitasnya”
II. ANALISA KONDISI MAKRO & INTERNAL BANK (Condition)

Lihat nih...   1. Penyesuaian dengan target market bank
                  “Bisnis yang akan dibiayai apakah masuk
                  ke dalam target market yang sudah ditetapkan atau tidak”

               2. Pengecekan dengan negative list business
                  “Umumnya bank mempunyai daftar bisnis yang masuk
                  daftar hitam, baik karena kondisi umum
                  ataupun kebijakan internal bank”

               3. Penggunaan data eksternal mengenai prospek bisnis
                  “Bank dapat menggunakan data eksternal,
                  misalnya data statistik atau data bisnis untuk mengetahui
                  kondisi umum terhadap sektor bisnis tertentu”

               4. Meminimalisir pemusatan resiko
                  “Umumnya bank meminimalisir pemusatan resiko
                  dengan memberikan kredit yang tidak terpusat
                  pada sektor bisnis tertentu
III. ANALISA KEMAMPUAN USAHA (Capability)
 Oke deh
pokoknya...
              1. Pengalaman usaha
                 “Bank akan menilai pengalaman usaha si pemohon pembiayaan
                 baik mengenai lama pengalaman dan hasil yang dicapai
                 (melalui analisa keuangan yg akan dibahas lebih lanjut)

              2. Kemampuan menyajikan laporan/dokumentasi usaha
                 “Semakian tertib administrasi dokumentasi usaha,
                 maka indikasi bisnis yang dikelola semakin baik

              3. Kemampuan memberikan keterangan bisnisnya yang wajar
                 “Pelaku bisnis yang kompeten akan mampu memberikan
                 keterangan mengenai bisnis yang dikelola secara wajar

              4. Kemampuan membuat perencanaan bisnis
                 “Hal ini dapat dilihat dari cara penyajian proposal pembiayaan
                 atau penyampainan keterangan mengenai rencana bisnisnya”
IV. ANALISA PERMODALAN (Capital)

                  1. Melakukan analisa keuangan
                    “Analisa keuangan dilakukan untuk melihat
                     struktur permodalan, alokasi modal      Modal saya dengkul,
                     dan kemampuan permodalan untuk           maklum penjahit...
                     mem - back up – pembiayaan yang diberikan”

                  V. ANALISA JAMINAN (Collateral)
Jaminan saya..
 Bis tingkat...
                  1. Melakukan penelitian aspek legal jaminan
                    “untuk mengetahui status hukum sebuah jaminan”

                  2. Melakukan penelitian aspek ekonomis & nilai likuidasi jaminan
                     “Untuk mengetahui nilai pasar & nilai likuidasi jaminan”

                  3. Memilih jenis jaminan
                    “Asset yang dapat dijaminkan a.l. uang tunai, logam mulia,
                   surat berharga, fixed asset, kendaraan, persediaan barang,
                   jaminan asuransi pembiayaan, LC
KERANGKA KERJA ANALISA
     PEMBIAYAAN
Meliputi Kegiatan :
• Kunjungan Ketempat Nasabah, dengan
  berbincang-bincang dgn nasabah shg
  mengetahui apa yang dibutuhkan
  nasabah.
Yaitu suatu kegiatan :
Mengumpulkan data-data dari
nasabah yang meliputi :
# Data Keuangan
# Data Legalitas
# Data Jaminan
# Data Pendukung lainnya
Analisa             Analisa
      Yuridis            Jaminan
        (1)                 (2)
                               Analisa
Analisa
                              Keuangan
Resiko
                                 (3)
  (5)
                Analisa
            Pasar & Pesaing
                  (4)
-Analisa Yuridis
-Analisa Keuangan
-Analisa Jaminan


-Laporan Neraca        Spreadsheet
-Laporan Rugi Laba
                            Ratio-ratio
                            -Likuiditas
Perhitungan Cashflow        -Solvabilitas
Perhitungan IRR             -Rentabilitas
PROSES ANALISIS
ANALISIS KUALITATIF :
•   ASPEK SYARI’AH
•   PROFIL USAHA
•   HUBUNGAN PERBANKAN
•   ASPEK MANAJEMEN
•   ASPEK PEMASARAN
•   ASPEK PENGADAAN BARANG
•   ASPEK TEKNIS DAN PRODUKSI
•   ANALISA PROYEKSI USAHA
•   ASPEK RISIKO
•   ASPEK LEGALITAS
ANALISIS KUANTITATIF :

a. PROFITABILITAS USAHA (Profit Margin, ROI, ROE)
b. STRUKTUR PENDANAAN (LEVERAGE)
c. LIKUIDITAS KEUANGAN JK PENDEK
   (Current Ratio, Quick Ratio)
d. EFISIENSI PENGELOLAAN HARTA
   (Days Receivable, Days Inventory, Days Payable)
e. ANALISA LAPORAN KEUANGAN
f. CASH FLOW (ARUS KAS)
g. ACCOUNT PROFITABILITY RATIO (APR)
h. ANALISA KEBUTUHAN DANA
• Mengkaji/membandingkan kelengkapan
  dokumen dengan peraturan yang berlaku.
• Melakukan Analisa siapa yang berwenang dan
  bertindak atas nama Perusahaan (Badan
  Hukum/Badan Usaha)
• Mengkaji dan menganalisa apakah jaminan
  yang akan diberikan ke Bank layak secara
  hukum dan memberikan nilai sebagai
  pedoman Bank.
• Menganalisa apakah jaminan yg akan
  disimpan Bank mempunyai kekuatan hukum
  sebagai jaminan
• Menganalisa dan membandingkan kondisi
  keuangan antara tahun berjalan dengan tahun
  sebelumnya.
• Menganlisa kemampuan pembayaran
  angsuran berdasarkan pendapatan yg
  diperoleh.
•Tujuan Pembiayaan
•Latar Belakang Nasabah
•Kondisi Usaha Nasabah
•Analisa Keuangan
•Permasalahan
•Analisa Pengembalian Pembiayaan
•Analisa Agunan
•Analisa Resiko
•Kesimpulan
•Rekomendasi
Analisa
          Analisa             Keuangan
          Yuridis                &
                              Cashflow



Analisa                               Anlisa
Resiko                               Jaminan


                    Analisa
                     Pasar
Merupakan persetujuan prinsip yang pada
 dasarnya permohonan pembiayaan dari
 nasabah disetujui oleh pihak Bank, yang
               meliputi :

           # Jenis Fasilitas
           # Jangka Waktu
             # Kegunaan
          # Harga Jual & Beli
              # Jaminan
Adalah perjanjian antara pihak nasabah dengan pihak
    Bank biasanya dilakukan dihadapan Notaris.
     Isi Akad bersumber dari isi Offering Letter

CONTOH :



 “Hai orang-orang beriman penuhilah akad Perjanjian itu
 (Surat Al-Maidah ayat 1)
 Perjanjiian Pembiayaan Murabahah
 Nomor :………...
Dropping pembiayaan dilakukan setelah
nasabah melengkapi semua persyaratan yang
               tertuang di
           Offering Letter (OL)
Adapun dokumen yang harus dilengkapin sebelum dilakukan
dropping, adalah :
1.    Surat Permohonan Realisasi Pembiayaan (SPRP)
2.   Tanda terima barang (TTB)
3.   Surat Sanggup
4.   Dokumen Pendukung Lainnya.
Memantau
                     Pesaing

Tanggal &
                                         Memantau
 Sistem
                                         Kebutuhan
angsuran             Monitoring
                    Pembiayaan


            Jatuh                 Menambah
            Tempo                  Fasilitas
PEMBIAYAAN BERMASALAH
    PENYEBAB & CARA
  PENANGGULANGANNYA
PEMBIAYAAN BERMASALAH


               Basic Approach

Tidak mungkin terjadi suatu pembiayaan turun
mutunya secara tiba - tiba, akan tetapi selalu
memberikan “ WARNING SIGN “ atau faktor
-faktor penyebab terlebih dahulu dalam perjalanan
pembiayaan tersebut.
I. PENGERTIAN
Pembiayaan Bermasalah adalah “ Suatu kondisi
Pembiayaan, dimana ada suatu penyimpangan utama dalam
pembayaran kembali pembiayaan      yang menyebabkan
kelambatan dalam pengembalian , atau diperlukan
tindakan yuridis dalam pengembalian atau kemungkinan
potensial loss “ .

Atau dengan kata lain, pembiayaan bermasalah adalah
pembiayaan yang berada pada Collectibility : Dalam
Perhatian Khusus, Kurang Lancar, Diragukan dan Macet.
II. FAKTOR PENYEBAB PEMBIAYAAN BERMASALAH
                       Cuplikan Menurut Para Ahli
Robert H.Behrens,Commercial Problem Loan Bankers               Publishing
Company,Boston Page 46

1. ADVERSITY
    Perubahan dari siklus usaha ( Business Cycle ) diluar kontrol BANK dan
    Nasabah, seperti : Bencana Alam,sakit dan kematian

2. MISMANAGEMENT
    Ketidakmampuan Nasabah mengelola kegiatan usahanya dan
    menjaga kondisi keuangan sesuai dengan cara-cara kegiatan usaha yang
    sehat dari hari-hari .


3. FRAUD
    Ketidakjujuran debitur dalam memberikan       informasi   dan     laporan
    -laporannya tentang kegiatan usahanya,         posisi           keuangan
    ,hutang,piutang,persediaan dll
Moh.Tjoekam,LPPI

1. MANAJEMEN :
    Tidak Kompeten, Keterbatasan pengetahuan atas usaha, Waktu yang
    diberikan tidak cukup, Penyertaan pada perusahaan lain, Sering terjadi wan
    prestasi Serakah / tamak

2. INDUSTRY :
  Mudah dimasuki oleh pengusaha lain, Muncul pesaing baru, Raw Material
   terbatas, Tehnologi ketinggalan, Market Share menurun


3. PRODUK :
    Permintaan menurun, Mutu tidak stabil, Pelanggan Utama menurun, Tidak
    dapat bersaing baik kwalitas/kwantitas


4. EKONOMI :
    Lesu kehidupan perekonomian, Pasar lokal/International turun,

   Kebijakan uang ketat, Pertumbuhan ekonomi rendah
III. GEJALA     DINI    PEMBIAYAAN BERMASALAH

A. KELAINAN MANAGEMENT
  o   Perubahan Kebiasaan Pemegang Peran di Perusahaan
  o   Persoalan Rumah Tangga Pemegang Peran di Perusahaan
  o   Tidak Lagi Kooperatif dengan Bank
  o   Meninggalnya Pemegang Kunci Perusahaan
  o   Perubahan Dalam Manajemen, Kepemilikan
  o   Masalah Buruh / Karyawan
  o   Kontinuitas Manajemen Tidak Jelas
  o   One-Man Show
  o   Ketidakmampuan Memenuhi Kewajiban Komitmen Pribadi
  o   Lamban Bereaksi Terhadap Kelesuan Pasar atau Ekonomi
  o   Bersikeras Mengambil Resiko Business yang Kurang Wajar
  o   Tidak Mampu Menyusun Rencana Usaha
  o   Kegiatan Produk-Produk yang Menguntungkan Terhenti
  o   Pengawasan & Penyusunan Laporan keuangan Lemah
  o   Perubahan Kegiatan Usaha
  o   Lain-Lain
B. HUBUNGAN PERBANKAN & KELAINAN KEGIATAN OPERASIONIL
  DEBITUR
•   Evergreen Loans
•   Penurunan Kontinyu Saldo di Bank
•   Ketergantungan yang Berat Pada Hutang Jangka Pendek
•   Peningkatan Jumlah & Frekwensi Permintaan Kredit
•   Perubahan Timing untuk Seasonal Loans
•   Supplier (Baru) Minta Informasi untuk Pemberian Kredit Pada
    Debitur
•   Suppliers (Existing) Minta Informasi untuk Peningkatan
•   Pemberian Kredit Pada Debitur
•   Penerbitan Cek-Cek Kosong (Terhadap Tagihan)
•   Pengadaan Persediaan dengan Unsur Spekulatip
•   Kehilangan Langganan-Langganan Utama
•   Fasilitas Produksi Tidak Terawat Baik
•   Penangguhan Penggantian Fasilitas Produksi yang Sudah Ketinggalan
    Zaman
•   Kehilangan Supply Bahan Baku
•   Produk-Produk Utama, Hak Distribusi, DLL
•   Kenaikan Menyolok Volume Order yang Dapat Mengakibatkan
    Ketidakseimbangan dengan Kemampuan Produksi
C. KELAINAN POSISI KEUANGAN
    Penyerahan Laporan Keuangan Tidak Reguler
    Piutang Dagang membengkak
    Tagihan Makin Lamban
    Persediaan Membengkak
    Perputaran Persediaan Makin Lamban
    Penurunan Aktiva Lancar Secara % Terhadap Total Aktiva
     (Negative Working Capital)
    Peningkatan Passiva Lancar yang Tidak Proporsionil
    Peningkatan Leverage
    Peningkatan Mencolok Hutang Jangka Panjang
    Perubahan Praktek-Praktek Akuntansi
    Penurunan Omzet Konsistent
    Peningkatan Omzet Sangat Cepat
    Omzet Naik, Untung Turun
    Peningkatan Mencolok Biaya-Biaya
    Kenaikan Tingkat Piutang Macet
    Meningkatnya Total Aktiva Terhadap Omzet/Laba
    Rugi Operasional
IV. DAMPAK PEMBIAYAAN BERMASALAH
1. Rentabilitas & Solvabilitas
    a. Collectibility dan Perhitungan Bad Debt menjadi naik
    b. PPAP semakin meningkat
    % Tase Perhitungan Bed Debt & PPAP ( Sesuai SE BI )
                % Tase Perhitungan     % Tase Perhitungan
 Collectibity
                     Bad Debt                 PPAP
      1                 0 %                     1 %
      2                25 %                     5 %
      3                50 %                    15 %
      4                75 %                    50 %
      5               100 %                   100 %
  c. Kerugian semakin besar atau laba menurun.
  d. Modal semakin turun
e.   Pelampauan Pembiayaan BMPK menjadi semakin bertambah, yang
       berakibat kepada :
          - Adanya kewajiban membuat Action Plan sekaligus
            melaporkan Perkembangan ke BI
          - Keterlambatan Pelaporan ke BI, Bank dikenakan denda
             Rp 1 Juta. 23
  f. CAR dan TINGKAT KESEHATAN PEMBIAYAAN semakin turun dan
     memburuk
  g. Bank dapat dilikuidasi / TAKE OVER
2. Peningkatan Biaya
    - Pengacara
    - Personalia
3. Lainnya
     - Hilangnya kesempatan Usaha ( tidak bisa melakukan Expansi )
     - Reputasi Bank Semakin buruk yang berakibat
     - Berkurangnya/ pindahnya Investor dana
     - Investor lain tidak berminat menanamkan modalnya
4. Aspek Moral
    Bank Telah BERTINDAK ZALIM kepada Investor dana karena tidak
    prudentialnya Aparat Bank didalam menyalurkan pembiayaan, sehingga
    Bank tidak memberikan bagi hasil yang baik kepada Investor Dana.
V.PENANGANAN PEMBIAYAAN BERMASALAH
 Lakukan evaluasi ulang pembiayaan yang menyangkut :
  Aspek   Management
  Aspek   Pemasaran
  Aspek   Produksi
  Aspek   Keuangan
  Aspek   Yuridis
  Aspek   Jaminan
  Aspek   Nilai Jaminan (Retaksasi)

Khusus untuk aspek Yuridis dan Jaminan mintakan Opini
Legal, untuk penyempurnaan kelemahan-kelemahan yang
mungkin ada dalam pengikatan pembiayaan maupun jaminan,
agar tidak terdapat peluang bagi nasabah dan pihak ketiga
untuk melakukan usaha-usaha yang dapat menimbulkan
kerugian bagi bank.
CARA PENYELESAIAN
PEMBIAYAAN BERMASALAH

                                  PEMBIAYAAN BERMASALAH                       •Aspek Management
                                                                              •Aspek Pemasaran
                                    Evaluasi Ulang Pembiayaan                 •Aspek Produksi
                                    Oleh Account Manager                      •Aspek Keuangan
                                                                              •Aspek Yuridis
                                                                              •Aspek Jaminan


       REVITALISASI               PENYELESAIAN            COLLECTION                 WRITE OFF
       •Restructuring               MELALUI                 AGENT                     FINAL
       •Rescheduling                JAMINAN
       •Reconditioning
       •Bantuan Management



                 Non Litigasi        Write Off           Litigasi
                                     Sementara

       Off-Set        BASYARNAS      BASYARNAS                      Pengadilan


                                   Pengadilan        Gugat      Eksekusi          Pidana     Kepailitan


                                                                     Lelang
                                        Cash/HEJP
LAPORAN KEUANGAN BANK
       SYARIAH
PENDAHULUAN
• Gambaran kinerja suatu bank baik umum
  maupun syariah biasanya tercermin dalam
  laporan keuangannya.
• Laporan keuangan bertujuan untuk
  menyediakan informasi yang bermanfaat bagi
  pihak – pihak yang berkepentingan dalam
  pengambilan keputusan ekonomi
Pihak Pengguna LK BS
• Pemilik dana/ shahibul maal
• Pihak-pihak yang memanfaatkan dan
  menerima penyaluran dana
• Pembayar zakat, infak dan shadaqah
• Pemegang saham
• Otoritas pengawasan
• Bank Indonesia
• Pemerintah
• Lembaga penjamin simpanan
• Masyarakat
Karakteristik Bank Syariah

• Kegiatan bank syariah, antara lain, sebagai:
  –   manajer investasi;
  –   investor;
  –   penyedia jasa keuangan dan lalu lintas pembayaran; dan
  –   pengemban fungsi sosial.
• Pemakai dan Kebutuhan Informasi
  – sama seperti dinyatakan KDPPLK umum: investor;
    karyawan; kreditur; pemasok; pelanggan; pemerintah;
    masyarakat ditambah, antara lain:
  – pemilik dana investasi;
  – pembayar zakat, infaq dan shadaqah;
  – dewan pengawas syariah.
Karakteristik Bank Syariah
   • PENGHIMPUNAN DANA                • PENYALURAN DANA
           – Simpanan Masyarakat         – Investasi (pembiayaan)
                                            • musyarakah
                • wadiah
                                            • mudharabah
                • mudharabah
                                         – Jual beli
           – Prinsip lainnya sesuai         • murabahah
             syariah                        • salam
                                            • istishna
                                         – Sewa-menyewa
                                            • ijarah
                                            • ijarah muntahiyyah bittamlik
                                         – prinsip lainnya sesuai
                                           syariah


July 4th 2003
Laporan Keuangan Bank Syariah

• Neraca                                    Bank Syariah:
• Laporan Laba Rugi                         Investor
• Laporan Perubahan Ekuitas
• Laporan Arus Kas                          Manajer Investasi

•   Laporan Perubahan Investasi              Bank Syariah:
    Terikat                                  Agen Investasi
Laporan Sumber dan Penggunaan
Dana ZIS                                     Bank Syariah:
                                             Pengemban
Laporan Sumber dan Penggunaan
Dana Qardhul Hasan                           Fungsi Sosial


                  Catatan atas Laporan Keuangan
Tujuan Akuntansi Keuangan Bank Syariah

• menentukan hak dan kewajiban pihak
  terkait, sesuai prinsip syariah: kejujuran,
  kebajikan, dan kepatuhan terhadap nilai-nilai
  bisnis yang Islami;
• menyediakan informasi keuangan bagi para
  pemakai laporan dalam pengambilan
  keputusan; dan
• meningkatkan kepatuhan terhadap prinsip
  syariah dalam semua transaksi dan kegiatan
  usaha.
Tujuan Laporan Keuangan Bank
                Syariah
- menyediakan informasi keuangan yang
  menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta
  perubahan posisi keuangan suatu entitas yang
  bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam
  pengambilan keputusan ekonomi;
- menunjukan apa yang telah dilakukan oleh
  manajemen (stewardship), atau
  pertanggungjawaban manajemen atas sumber
  daya yang telah dipercayakan kepadanya;
Tujuan Laporan Keuangan Bank
            Syariah
Khusus bank syariah, perlu ditambah poin tujuan sbb:
- informasi kepatuhan bank terhadap prinsip syariah;
- informasi pendapatan dan beban tidak sesuai prinsip
  syariah dan cara memperoleh serta menggunakannya;
- informasi untuk mengevaluasi pemenuhan bank
  terhadap:
       • tanggung jawab amanah mengamankan dana;
       • menginvestasikan pada tingkat keuntungan
         rasional; serta
       • informasi tingkat keuntungan investasi yang
         diperoleh pemilik dan pemilik dana investasi
         terikat; dan
- informasi pemenuhan fungsi sosial bank, termasuk
  pengelolaan dan penyaluran zakat.
Keterbatasan –Keterbatasan Laporan
            Keuangan
• Pengambilan keputusan ekonomi tidak dapat semata-
  mata didasarkan atas informasi yang terdapat dalam
  laporan keuangan. Hal ini disebabkan karena laporan
  keuangan memiliki keterbatasan, antara lain:
   – Bersifat historis yang menunjukkan transaksi dan peristiwa
     yang telah lampau.
   – Bersifat umum, baik dari sisi informasi maupun manfaat
     bagi pihak pengguna.
   – Bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian .
     Apabila terdapat beberapa kemungkinan kesimpulan yang
     tidak pasti mengenai penilaian suatu pos, maka lazimnya
     dipilih alternatif yang menghasilkan laba bersih atau nilai
     aktiva yang paling kecil.
Keterbatasan ……….
• Lebih menekankan pada penyajian suatu peristiwa
  atau transaksi sesuai substansinya dan realitas ekonomi
  daripada bentuk hukumnya.(formalitas)
• Disusun dengan menggunakan istilah-istilah teknis akuntansi
  dan pemakai laporan diasumsikan memahami bahasa teknis
  akuntansi dan sifat dari informasi yang dilaporkan.
• Tidak luput dari penggunaan berbagai pertimbangan dan
  taksiran.
• Hanya melaporkan informasi yang material.
• Adanya berbagai alternatif metode akuntansi yang dapat
  digunakan sehingga menimbulkan variasi dalam pengukuran
  sumber daya ekonomis dan tingkat kesuksesan antar bank.
• Informasi yang bersifat kualitatif dan fakta yang tidak dapat
  dikualifikasikan umumnya diabaikan
Asumsi Dasar Konsep Akuntansi Bank
              Syariah
 • Dasar Akrual
 Pengaruh transaksi dan peristiwa lain diakui
   pada saat kejadian dan diungkapkan dalam
   catatan akuntansi serta dilaporkan dalam
   laporan keuangan pada periode yang
   bersangkutan
 • Kelangsungan Usaha (going concern)
 kelangsungan usaha entitas dipandang akan
   berlansung terus di masa datang, karena itu
   entitas dipandang tidak bermaksud atau
   berkeinginan melikuidasi atau mengurangi
   secara material skala usahanya
Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan

                            Kebermanfaatan dalam keputusan


                         Relevan                Terandalkan



Bernilai prediktif      Bernilai balikan        Teruji            Tepat menyimbolkan


               Tepat waktu                               Netral


                                   Keterbandingan

           Ketelitian                  Bentuk                 Tempat
Karakterisktik Kualitatif Laporan
               Keuangan
• Dapat dipahami
 Pemakai diasumsikan memiliki pengetahuan
  yang memadai tentang aktivitas ekonomi dan
  bisnis, akuntansi, serta kemauan untuk
  mempelajari informasi dengan ketekunan
  yang wajar
• Relevan
   – Bernilai prediktif
   – Bernilai balikan
   – Tepat Waktu
Karakterisktik Kualitatif Laporan
              Keuangan
• Keandalan
  – Teruji (reliable)
  – Netral
  – Tepat Menyimbolkan (faithfulness
    representation)
• Dapat Diperbandingkan
Karakterisktik Kualitatif Laporan
                      Keuangan
• Materialitas
• Ketelitian (Prudent)
• Substansi Menggungguli Bentuk (substance
  over form)
• Kelengkapan




July 4th 2003
Ketentuan Umum Laporan Keuangan (LK)
            Bank Syariah
• Tanggung jawab atas LK  Manajemen bank
  syariah
• Komponen LK  lihat slide sebelumnya
• Bahasa LK
  – Bahasa Indonesia
  – Bahasa selain Bahasa Indonesia  memuat
    informasi yg sama dan waktu yg sama, dan
    diterbitkan dalam waktu yg sama seperti LK dlm
    Bahasa Indonesia
• Mata Uang Pelaporan
  – Dalam satuan rupiah
  – Selain satuan rupiah maka harus dijabarkan
    dalam satuan rupiah dengan menggunakan kurs
    BI
Ketentuan Umum Laporan Keuangan (LK)
              Bank Syariah
Penyajian
• Laporan keuangan harus menyajikan secara wajar
  posisi keuangan; kinerja keuangan; perubahan
  ekuitas; arus kas; perubahan investasi terikat;
  sumber dan penggunaan dana zis; sumber dan
  penggunaan dana qardhul hasan disertai
  pengungkapan yang diharuskan sesuai dengan
  ketentuan yang berlaku
Ketentuan Umum Laporan Keuangan (LK)
              Bank Syariah
• Aktiva disajikan berdasarkan karakteristiknya
  menurut urutan likuiditas, kewajiban
  diurutkan menurut urutan jatuh temponya,
  dan investasi tidak terikat disajikan dalam
  unsur sendiri
• Saldo transaksi sehubungan dengan kegiatan
  operasi normal bank disajikan dan
  diungkapkan secara terpisah antara pihak-
  pihak yang mempunyai hubungan istimewa
  dengan pihak-pihak yang tidak mempunyai
  hubungan istimewa
Ketentuan Umum Laporan Keuangan (LK)
              Bank Syariah
• Laporan Lab Rugi menggambarkan
  pendapatan dan beban menurut
  karakteristiknya yang dikelompokkan secara
  berjenjang (multiple steps) dari kegiatan
  utama bank dan lainnya
• Catatan atas laporan keuangan harus disajikan
  secara sistematis dengan urutan penyajian
  sesuai dengan komponen utamanya
Ketentuan Umum Laporan Keuangan (LK)
              Bank Syariah
• Informasi yang diungkapkan dalam catatan
  atas laporan keuangan, antara lain, mengenai:
  – Gambaran umum bank syariah
  – Ikhtisar kebijakan akuntasi yang digunakan dalam
    penyusunan LK
  – Penjelasan atas pos-pos yang terdapat dalam
    setiap komponen LK
  – Pengungkapan hal-hal penting lainnya yang
    berguna untuk pengambilan keputusan
Ketentuan Umum Laporan Keuangan
          (LK) Bank Syariah
• Perubahan akuntansi wajib
  memperhatikan hal-hal berikut:
  – Perubahan estimasi akuntansi
  – Perubahan kebijakan akuntansi
  – Terdapat kesalahan mendasar
• Pada setiap elemen LK harus diberi
  pernyataan bahwa: “catatan atas LK
  merupakan bagian tak terpisahkan dari
  LK”
Rasio–Rasio Keuangan Bank Syariah
            di Indonesia
• Hingga saat ini analisis rasio keungan bank syariah
  masih menggunakan aturan yang berlaku di bank
  konvensional.
• Jenis analisis rasio keuangan dapat dilakukan melalui
  dua cara, yaitu:
   – Perbandingan internal. Analisis dengan membandingkan
     rasio periode sekarang dengan periode yang lalu dan yang
     akan datang untuk perusahaan yang sama.
   – Perbandingan esternal. Analisis dilakukan dengan
     membandingkan rasio perusahaan dengan perusahaan
     lain yang sejenis dengan rata-rata
     industri pada suatu titik yang sama
Jenis – jenis Rasio Keuangan Bank
• Rasio Likuiditas, adalah ukuran kemampuan bank
  dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya,
  meliputi :
   – Rasio Lancar (current ratio), adalah kemampuan bank
     untuk membayar utang dengan menggunakan aktiva
     lancar yang dimiliki.
      • Rasio lancar = Kas + Penempatan / Utang lancar


   – Rasio Cepat (quick ratio), adalah ukuran untuk mengetahui
     kemampuan bank dalam utang jangka pendeknya dengan
     aktiva lancar yang lebih likuid
      • Rasio cepat = Kas / Utang lancar


   – Rasio Pembiayaan terhadap Dana Pihak Ketiga (financiang
     Deposit Ratio), menunjukkan kesehatan bank dalam
     memberikan pembiayaan
      • Rasio Pembiayaan Terhadap Pihak Ketiga = Total Pembiayaan /
        Total DPK
• Rasio Aktivitas, adalah ukuran untuk menilai
  tingkat efesiensi bank dalam memanfaatkan
  sumber dana yang dimilikinya, rasio ini meliputi :
   – Perputaran Aktiva Tetap, adalah kemampuan aktivitas
     (efesiensi) dana yang tertanam dalam keseluruhan
     aktiva tetap bank dalam suatu periode tertentu
     dengan jumlah keseluruhan aktiva.
      • Perputaran aktiva tetap = Aktiva tetap / Total aktiva

   – Perputaran Aktiva Total, adalah rasio yang
     menunjukkan kemampuan dana yang tertanam dalam
     keseluruhan aktiva berputar dalam suatu periode
     tertentu atau kemampuan bank dalam mengelola
     sumberdana dalam menghasilkan pendapatan.
      • Perputaran aktiva total = Pendapatan operasional / Total
        aktiva
• Rasio Profitabilitas, adalah rasio yang
  menunjukkan tingkat efektivitas yang dicapai
  melalui usaha operasional bank, yang
  meliputi:
  – Margin laba (profit margin), adalah gambaran
    efesiensi suatu bank dalam menghasilkan laba.
     • Margin laba = Laba / Total pendapatan
  – Pengembalian atas aktiva (return on asset), adalah
    rasio yang menggarkan kemampuan bank dalam
    mengelola dana yang diinvestasikan dalam
    keseluruhan aktiva yang menghasilkan
    keuntungan.
     • Pengembalian atas aktiva = Laba / total aktiva
• Rasio Biaya, adalah menunjukkan tingkat
  efesiensi kinerja operasional bank.
• Penentuan besarnya rasio ini dihitung dengan
  rumus sebagai berikut:
  – Rasio biaya = Biaya opersional / Pendapatan
    operasional

Perbankan Syariah

  • 1.
  • 3.
    ISLAM: PANDANGAN HIDUPKOMPREHENSIF ISLAM AQIDAH SHARIAH AKHLAQ MUAMALAH IBADAH MAHDLAH SPECIAL RIGHTS PUBLIC RIGHTS CIVIL LAWS CRIMINAL LAWS INTERIOR AFFAIRS EXTERIOR AFFAIRS INT RELATION POLITICS ECONOMICS SOCIAL CULTURE ETC FINANCE LEASING INSURANCE BANKING MORTGAGE VENTURE CAPITAL
  • 4.
    • Al-Qashash: 77.Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu
  • 5.
    Hadist Turmidzi 2341dan Darimi 536
  • 6.
    ARTINYA: • Dari AbuBarzah Al-Aslami berkata: bahwasanya Rasulullah SAW telah berkata: “Pada hari kiamat kelak seorang hamba tidak akan melangkahkan kakinya kecuali akan ditanya tentang empat perkara; tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya sejauhmana ia mengamalkannya, tentang hartanya darimana ia mendapatkannya dan untuk apa ia pergunakan, serta tentang semua anggota
  • 7.
    • QS. At-Taghabun15: Sesungguhnya hartamu dan anak- anakmu hanyalah cobaan/fitnah (bagimu), dan di sisi Allahlah pahala yang besar, dan QS Al-’Anfaal: 28 (dan ketahuilah …) • Harta sebagai fitnah, Fitanah= – ‘Azab (Adz-Dzaariyaat: 14) – Cobaan (Thaahaa: 40) – Keberpalingan dari ibadah kepada Allah SWT (at-Taghaabun: 15) – Pemaksaan untuk tidak kembali kepada agama (al-Buruuj: 10) – Kesesatan (al-Muddatstsir: 31) – Kekufuran (al_baqarah: 19) – Dosa (at-Taubah: 49)
  • 8.
    PROSES PENGELOLAAN HARTA BAGAIMANA CARA DIGUNAKAN HARTA MENDAPATKAN UNTUK APA YANG DIMILIKI a. HARAM a. ZIS ZATNYA b. BAYAR b. HARAM BUKAN KEWAJIBAN ZATNYA c. INVESTASI/ c. TIDAK SYAH TABUNGAN AKADNYA d. KONSUMSI
  • 9.
    Sistem Produksi dalamIslam INPUT PROSES OUTPUT Halal Halal Halal Halal Haram Haram Haram Halal Haram Haram Haram Haram APA CONTOHNYA?: 1. 2. 3. 4.
  • 10.
    ISLAM DAN PERBANKAN KAIDAHUSHUL FIQH: Maa laa yatim al-wajib illa bihi fa huwa wajib Sesuatu yang harus ada untuk mempurnakan yang wajib, maka ia wajib diadakan. Hadits: Antum a’lamu bi umuri al-dunyakum? (kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian) Masalah ekonomi dan perbankan adalah bab muamalah, maka selama ia memberikan perbaikan kehidupan umat manusia maka wajib dijalankan dengan sesuai kaidah Islam
  • 11.
    ALASAN PERLUNYA BANKSYARI’AH Secara praktis, sistem perbankan berbasis bunga atau konvensional mengandung beberapa kelemahan, sebagai berikut : Transaksi berbasis bunga melanggar keadilan atau kewajaran bisnis. Tidak fleksibelnya sistem transaksi berbasis bunga menyebabkan kebangkrutan. Komitmen bank untuk menjaga keamanan uang deposan berikut bunganya membuat bank cemas untuk mengembalikan pokok dan bunganya. Sistem transaksi berbasis bunga menghalangi munculnya inovasi oleh usaha kecil. Dalam sistem bunga, bank tidak akan tertarik dalam kemitraan usaha kecuali bila ada jaminan kepastian pengembalian modal dan pendapatan bunga mereka.
  • 12.
    Islam dan PerbankanSyari’ah  Al-Qur’ an memberikan nilai-nilai dalam menjalankan aktivitas perbankan syari’ ah  Pada masa Rasulullah telah didirikan lembaga keuangan : Baitul Mal; Wilayatul Hisbah; Pengembangan etika bisnis  Para khulafa’ urrasyidin melanjutkan mengembangkan baitul mal  Pada masa dinasti Islam, baitul mal terus dikembangkan dan mulai adanya pemikiran tentang ekonomi  Pada masa modern telah berdiri lo cal saving bank, I slamic De ve lo pme nt Bank, Bank Syari’ ah, dan lembaga keuangan non bank lainnya
  • 13.
    PRAKTEK PERBANKAN DIZAMAN NABI Bank : lembaga yang melaksanakan 3 fungsi utama: • Menerima simpanan uang • Meminjamkan uang • Memberikan jasa pengiriman uang Contoh yang dilakukan Nabi: Rasulullah saw dikenal sebagai al-amin, dipercaya masyarakat Mekah menerima simpanan harta, sehingga pada saat terakhir sebelum Rasul hijrah ke Madinah, beliau meminta Sayidina Ali ra. untuk mengembalikan semua titipan itu kepada yang memilikinya Sahabat Rasul Zubair bin al-Awwam  lebih suka menerima uang dalam bentuk pinjaman
  • 14.
    PRAKTEK PERBANKAN DIZAMAN BANI UMAYYAH DAN BANI ABASIAH Mulai ada orang yang memiliki keahlian di bidang keuangan, yang disebut dengan jihbiz : Jihbiz vs Bank: Persamaan dan Perbedaannya: Persamaannya: Jihbiz dan Bank sama-sama melakukan fungsi berikut: •To accept deposits •To channel financing •To tranfer money Perbedaannya: •Jihbiz dikelola oleh individu •Bank dikelola oleh institusi
  • 15.
    EVOLUSI KEGIATAN PERBANKANDALAM MASYARAKAT ISLAM 1. Individu (Nabi/sahabat melakukan suatu fungsi perbakan 2. Jihbiz (seorang melakukan suatu fungsi perbakan 3. Bank (sebuah institusi melakukan ketiga fungsi perbankan)  diadopsi oleh masyarakat Eropa abad pertengahan, namun kegiatannya mulai dilakukan dengan basis bunga 4. Bank syari’ah modern (sebuah institusi melakukan kegitiga fungsi perbankan dengan berlandaskan syari’ah Islam)
  • 16.
    Perkembangan Bank Syari’ahdi Luar Negeri Mit Ghamr Bank  dirintis pada tahun 1960-an sebagai rural-so cial bank, berdiri di sekitar sungai Nil, didirikan oleh Prof. Dr. Ahmad Najjar Islamic development Bank,  dirintis pada sidang Menlu Negara OKI di Karachi Pakistan Desember 1970. Islamic Research and Training Institute  lembaga milik IDB yang bertugas membantu melakukan riset dan pelatihan untuk pengembangan ekonomi/bank syari’ ah Pembantukan bank-bank syari’ ah di luar negeri : Kategori I  bank komersial Kategori II  lembaga investasi dalam bentuk inte rnatio nal ho lding co mpanie s
  • 17.
    Perkembangan Landasan Hukum UU No 7/92 tentang Perbankan PP No 72/92 tentang Bank UU No 10/98 tentang Berdasarkan Bagi Hasil perubahan UU 7/92 UU No 21/08 tentang Dicabut dg PP perubahan UU 10/98 30/99 BANK SYARIAH
  • 18.
    Definisi Bank danPerbankan Syariah menurut UU No. 21 tahun 2008 • Bank adalah badan usaha yang menghimpun d ana dari masyarakat dalam bentuk Simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuklainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat. • Perbankan Syariah adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya
  • 19.
    Bank Syariah • BankSyariah adalah Bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan Prinsip Syariah dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah • Bank Umum Syariah adalah Bank Syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran • Bank Pembiayaan Rakyat Syariah adalah Bank Syariahyang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalamlalu lintas pembayaran
  • 20.
    Perbedaan bank Syariahdan konvenSional Permasalahan Bank Syariah Bank Konvensional Landasan  Berdasarkan prinsip syariah Islam  Berdasarkan prinsip dan operassional  Uang sebagai alat tukar bukan nilai materialistis komoditi.  Uang sebagai komditi  Bunga dalam berbagai bentuknya yang diperdagangkan. dilarang  Bunga sebagai instrumen  Menggunakan prinsip bagi hasil dan imbalan terhadap pemilik keuntungan atas transaksi riel uang yang ditetapkan dimuka Fungsi dan  Lembaga intermediari.  Lembaga intermediari Peran  Agen investasi /manager investasi.  Penghimpun dana  Investor masyarkat dan meminjamkan kembali  Penyedian jasa lalu lintas kepada masyarakat dalam pembayaran (tidak bertentangan kredit dengan imbalan syariah). bunga.  Pengelola dana kebajikan, ZIS, (fungsi sosial)  Penyedia jasa / lalu lintas pembayaran  Hubungan dengan nasabah adalah  Hubungan bank dengan hubungan kemitraan (investor timbal
  • 21.
    Perbedaan Bank Syariahdan Bank Konvensional Permasalahan Bank Syariah Bank Konvensional Risiko Usaha  Dihadapi bersama antara bank  Risiko bank tidak terkait dengan nasabah dengan langsung dengan debitur , prinsip keadilan dan kejujuran. risiko debitur tidak terkait  Tidak mengenal kemungkinan langsung dengan bank. terjadinya selisih negatif  Kemungkinan terjadi (negatif spread) karena sistem selisih negatif antara yang digunakan. pendapatan bunga dan beban bunga Sistem  Adanya dewan pengawas  Aspek moralitas sering kali Pengawasan syariah untuk memastikan terlanggar karena tidak operasional bank tidak adanya nilai-nilai religius menyimpang dari syariah yang mendasari disamping tuntutan moralitas operasional. pengelola bank dan nasabah sesuai dengan akhlakul kharimah
  • 22.
    PERBEDAAN BUNGA DENGANBAGI HASIL BUNGA BAGI HASIL  Dihitung dari pokok (uang  Dihitungan dari yg dipinjamkan) keuntungan  Berubah sesuai kondisi  Nisbah tetap sesuai (bunga) pasar akad  Nominal tetap sesuai suku  Nominal berubah bunga sesuai kondisi usaha  Diragukan  Tidak ada keraguan
  • 23.
    Karakteristik Bank Syariah • Berdasarkan prinsip syariah • Implementasi prinsip ekonomi Islam dg ciri: – pelarangan riba dalam berbagai bentuknya – Tidak mengenal konsep “time-value of money” – Uang sebagai alat tukar bukan komoditi yg diperdagangkan. • Beroperasi atas dasar bagi hasil • Kegiatan usaha untuk memperoleh imbalan atas jasa • Tidak menggunakan “bunga” sebagai alat untuk memperoleh pendapatan • Azas utama => kemitraan, keadilan, transparansi dan universal • Tidak membedakan secara tegas sektor moneter dan sektor riil=> dapat melakukan transaksi-2 sektor riil
  • 24.
    Syarat transaksi sesuaisyariah a.l : (pr 7) • Tidak mengandung unsur kedzaliman • Bukan riba • Tidak membahayakan pihak sendiri atau pihak lain. • Tidak ada penipuan (gharar) • Tidak mengandung materi-materi yg diharamkan • Tidak mengandung unsur judi (maisyir)
  • 25.
  • 26.
    PRINSIP-PRINSIP MUAMALAH ISLAM Bidang yang diperbolehkan syari’ah Tadlis Bidang yang dilarang Taghrir Riba syari’ah Persaingan tidak sempurna Ikhtikar & bai’ najasy
  • 27.
    PENYEBAB TRANSAKSI DILARANG Penyebab dilarangnya transaksi Haram zatnya Haram selain Tidak sah akadnya zatnya 1. Darah 1. Tadlis 1. Rukunnya tidak 2. Bangkai (kecuali ikan terpenuhi & belalang) 2. Ikhtikar 2. Syarat tidak 3. Daging babi 3. Bai’ Najasy terpenuhi 4. Binatang yang 4. Taghrir (Gharar) disembelih tidak 3. Terjadi Ta’alluq menyebut asma Allah 5. Riba 4. Terjadi “2 in 1” 5. Khamer (minuman keras) 6. Risywah
  • 28.
    HARAM ZATNYA Transaksi dilarangkarena obyek yang ditransaksikan juga dilarang Misalnya: minuman keras, bangkai (kecuali ikan dan belalang), babi Transaksi barang atau jasa yang demikian ini tetap haram walaupun akad jual-belinya sah. Contoh: Pembelian minuman keras dengan akad murabahah melalui Bank Syari’ah. (Zat barangnya haram, namun akadnya sah)
  • 29.
    HARAM SELAIN ZATNYA 1. Tadlis (melanggar prinsip “an taraddin minkum” Setiap transaksi dalam Islam harus dilandasi pada prinsip kerelaan kedua pihak yang bertransaksi Mereka harus memiliki informasi yang sama tentang barang/jasa yang diperjual belikan, sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan Unknown to one party dalam bahasa fiqh disebut tadlis. Tadlis terjadi karena empat hal: a. Kuantitas  pengurangan timbangan b. Kualitas  penyembunyian kecacatan obyek c. Harga  memanfaatkan ketidaktahuan harga pasar d. Waktu penyerahan  penjual tidak mengetahui secara pasti barang akan diserahkan kepada pembeli
  • 30.
    HARAM SELAIN ZATNYA b.Taghrir (Gharar) Gharar adalah situasi dimana terjadi incomplete information karena adanya ketidakpastian dari kedua belah pihak yang bertransaksi. Taghrir terjadi bila kita merubah sesuatu yang seharusnya bersifat pasti menjadi tidak pasti. Gharar/taghrir terjadi karena empat hal, yaitu: 1) Kuantitas  kasus ijon 2) Kualitas  menjual sapi masih dalam perut induknya 3) Harga  pengambilan margin 20% untuk 1 tahun atau 40% untuk 2 tahun 4) Waktu penyerahan  menjual barang hilang seharga Rp. X dan disetujui oleh pembelinya
  • 31.
    HARAM SELAIN ZATNYA 2.Melanggar prinsip “la tazhlimuna wa la tuzhlamun” Jangan menzalimi dan jangan dizalimi S2 Praktek yang melanggar prinsip ini adalah: a. Rekayasa pasar dalam Supply (Ikhtikar) S1 - Mengupayakan adanya kelangkaan barang P” dengan menimbun atau entry barier P’ - Menjual harga lebih tinggi dibandingkan harga sebelum munculnya kelangkaan D - Mengambil keuntungan lebih dibandingkan keuntungan sebelum kejadian I dan II Q2 Q1
  • 32.
    HARAM SELAIN ZATNYA b.Rekayasa Pasar dalam demand (Bai’ Najasy) Rekayasa pasar dalam demand terjadi bila seorang produsen/ pembeli menciptakan permintaan palsu, seolah-olah ada banyak permintaan terhadap suatu produk sehingga harga jual S1 produk akan naik. Cara ini dapat dilakukan dengan cara: P” 1) Penyerbaran isu P’ D2 2) Melakukan order pembelian D1 3) Pembelian pancingan sehingga tercipta sentimen pasar, bila harga sudah naik sampai level yang diinginkan, maka yang bersangkutan akan Q1 Q2 melakukan aksi ambil untung dengan melepas kembali obyek yang sudah dibeli
  • 33.
    HARAM SELAIN ZATNYA d.Riba Dalam ilmu fiqh dikenal jenis riba: 1) Fadl (riba buyu’) riba karena pertukaran barang sejenis yang tidak memenuhi kriteria sama kualitasnya (mistlan bi mistlin), sama kuantitasnya (sawa-an bi sawa-in) dan sama waktu penyerahannya (yadan bi yadin). 2) Nasi’ah (riba duyun)  riba yang timbul akibat hutang-piutang yang tidak memenuhi kriteria untuk muncul renturn bersama risiko (al ghunmu bil ghurmi) dan hasil usaha muncul bersama biaya (al kharaj bi la dhaman). Transaksi semisal ini mengandung pertukaran kewajiban menanggung beban, hanya berjalannya waktu. Nasi’ah adalah memastikan sesuatu yang tidak pasti menjadi pasti 3) Qard dan Jahiliyah  hutang yang dibayar melebihi dari pokok pinjaman, karena si peminjam tidak mampu mengembalikan dana pinjaman pada waktu yang ditetapkan.
  • 34.
    RINGKASAN MENGENAI RIBA TipeRiba Faktor penyebab Cara Menghilangkan Faktor Penyebab Riba Fadl Gharar (uncertain Kedua belah pihak harus memastikan to both parties) faktor berikut: 1) Kuantitas; 2) Kualitas; 3) Harga; 4) Waktu penyerahan Riba Nasi’ah Return tanpa Kedua belah pihak membuat kontrak yang risiko, pendapatan merinci hak dan kewajiban masing-masing tanpa biaya untuk menjamin tidak adanya pihak manapun yang mendapatkan return tanpa menanggung risiko, atau menikmati pendapatan tanpa menanggung biaya Riba Jahiliyah Memberi pinjaman Jangan mengambil manfaat apapun dari sukarela secara akad kebaikan (tabarru) komersiil, karena Kalaupun ingin mengambil manfaat maka setiap pinjaman gunakan akad bisnis (tijarah), bukan akad yang mengambil kebaikan (tabarru) manfaat adalah riba
  • 35.
    HARAM SELAIN ZATNYA e.Risywah Menyuap orang lain untuk meloloskan atau memudahkan urusan yang bersangkutan
  • 36.
    TIDAK SAH/LENGKAP AKADNYA Suatutransaksi yang tidak termasuk dalam kategori haram li dzatihi maupun haram li ghairihi, belum tentu serta merta menjadi halal. Sesuatu tersebut menjadi haram bila akad atas transaksi itu tidak sah atau tidak lengkap. Suatu transaksi dikatakan tidak sah atau tidak lengkap akadnya bila terjadi salah satu atau lebih faktor berikut: 1) Rukun dan syarat tidak terpenuhi  Rukun jual beli meliputi: (a) Pelaku; (b) Obyek; © Ijab-qabul. Syarat jual beli, tidak: (a) Menghalalkan yang haram; (b) Mengharamkan yang halal; © Menggugurkan rukun; (d) Bertentangan dengan rukun; (e) Mencegah berlakunya rukun 2) Terjadi Ta’alluq  Terjadi bila kita dihadapkan pada dua akad yang saling dikaitkan. Dengan maksud, berlakunya akad 1 tergantung pada akad ke 2. Dalam terminologi fiqh disebut bai’ al-’inah. 3) Terjadi two in one  Satu transaksi mewadahi dua akad sekaligus, sehingga terjadi ketidakpastian. Dalam terminologi fiqh disebut: shafqatain fi al-shafqah. Two in one terjadi karena: (a) obyek sama; (b) pelaku sama; © jangka waktu sama. Bila salah satu dari faktor tersebut tidak ada maka tidak terjadi two in one
  • 37.
  • 38.
    ANTARA WA’AD DENGANAQAD • Ada perbedaan antara wa’ad dengan aqad • Wa’ad – Wa’ad= janji (promis) antara satu pihak kepada pihak lainnya (hanya mengikat satu pihak = one way) – Terms and condition-nya tidak well-defined – Belum ada kewajiban yang ditunaikan oleh pihak manapun, walaupun term & condition-nya sudah well-defined • Aqad – Aqad mengingat kedua belah pihak yang saling bersepakat – Term & condition sudah ditetapkan secara rinci dan spesifik – Ada sanksi bagi pihak yang tidak memenuhi kewajiban yang disepakati
  • 39.
    ANTARA TABARRU’ DENGANTIJARAH • Tabarru’ berasal dari kata birr = kebaikan • Tabarru’ = segala macam perjanjian yang menyangkut transaksi nirlaba (not for profit transaction) • Tabarru’ merupakan transaksi yang dilakukan dengan tujuan tolong menolong dalam rangka berbuat kebaikan • Contoh: qard, rahn, hiwalah, wakalah, kafalah, hibah, wakaf, shadaqah, hadiah
  • 40.
    AQAD TABARRU’ Lending $ Lending $ Qard Lending $ + Collateral Rahn Lending $ to take over loan from Hiwalah other party Lending yourself Lending yourself now to do Wakalah something on behalf of other Wakalah, by specifying the job Wadi’ah Contingent wakalah, I.e preparing Hiwalah yourself to do something if something happens Giving something Hibah, shadaqah, waqf
  • 41.
    ANTARA TABARRU’ DENGANTIJARAH • Tijarah = perdagangan = comersiil • Tijarah = segala macam perjanjian yang menyangkut transaksi yang mendatangkan keuntungan (for profit transaction) • Contoh: akad investasi, jual beli, sewa- menyewa, dll. • Aqad Tijarah dilihat dari kepastian hasil yang diperoleh: – Natural Uncertainty Contract – Natural Certainty Contract
  • 42.
    AQAD TIJARAH Natural Certainty Contract Murabahah Salam Teori Istishna’ Pertukaran Ijarah Natural Uncertainty Contract Musyarakah: Wujuh, ‘inan, abdan, mufawadah) Teori Muzara’ah Percampuran Musaqah Mukhabarah
  • 43.
    TEORI PERTUKARAN & PERCAMPURAN Berdasarkan tingkat kepastian hasil yang diperoleh, kontrak bisnis dapat dibedakan menjadi 1. Natural Certainty Contracts (Teori Pertukaran) 2. Natural Uncertainty Contracts (Teori Percampuran)
  • 44.
    TEORI PERTUKARAN DALAMISLAM Natural Certainty Contracts/teori pertukaran, adalah kontrak dalam bisnis yang memberikan kepastian pembayaran, baik dari segi jumlah maupun waktu. Dalam bentuk ini: Cash-flownya pasti atau sudah disepakati di awal kontrak Obyek pertukarannya juga pasti secara jumlah, mutu, waktu maupun harganya
  • 45.
    TEORI PERTUKARAN ‘AYN (aset riil) BI ‘AYN (aset riil) OBYEK ‘AYN (aset riil) BI DAYN (aset PERTUKARAN keuangan) DAYN (aset keuangan) BI DAYN (aset keuangan) NAQDAN WAKTU (Sekarang/Tunai) PERTUKARAN GHAIRU NAQDAN (Masa YAD)
  • 46.
    TEORI PERTUKARAN JENIS BEDA upah tenaga kerja yang dibayar dengan sejumlah beras Kasat Mata ‘AYN BI ‘AYN Kualitas dapat dibedakan Pertukaran kuda dengan kuda real asset (‘ayn) dengan real asset (‘ayn) JENIS SAMA Kasat Mata Kualitas tidak dapat dibedakan Jika tidak dapat dibedakan mutunya, pertukaran dibolehkan, jika: Sawa-an bi sawa-in (sama jumlahnya) Mistlan bi mistlin (sama mutunya) Yadan bi yadin (sama waktu penyerahannya)
  • 47.
    TEORI PERTUKARAN Naqdan Salam Barang Order Al-Bai’ Istishna’ Mu’ajjal ‘AYN BI DAYN real asset (‘ayn) dengan financial Ijarah asset (dayn) Jasa Al-Ijarah Ju’alah
  • 48.
    TEORI PERTUKARAN Jenis sama Sawa-an bi sawa-in (sama jumlahnya) Uang Yadan bi yadin (diserahkan saat itu juga) Jenis Beda DAYN BI DAYN Yadan bi yadin (diserahkan saat itu juga) Pertukaran financial asset (dayn) dengan financial asset (dayn) Non-Uang Surat berharga
  • 49.
    TEORI PERCAMPURAN DALAMISLAM Natural Uncertainty Contracts/teori percampuran adalah kontrak dalam bisnis yang tidak memberikan kepastian pendapatan, baik dari segi jumlah maupun waktunya. Tingkat returnnya bisa positif, negatif maupun nol. Kontrak-kontrak investasi ini secara sunatullah tidak menawarkan : Return yang tetap dan pasti. ` Sifatnya tidak fixed dan predetermined. Dalam kontrak jenis ini, pihak-pihak yang bertransaksi saling mencampurkan asetnya (baik real asset maupun financial assets) menjadi satu kesatuan, dan kemudian menanggung risiko bersama- sama untuk mendapatkan keuntungan. Dalam kontrak demikian ini, keuntungan dan kerugian ditanggung bersama.
  • 50.
    TEORI PERCAMPURAN ‘AYN BI ‘AYN OBYEK PERCAMPURAN ‘AYN BI DAYN DAYN BI DAYN NAQDAN WAKTU PERCAMPURAN GHAIRU NAQDAN
  • 51.
    TEORI PERCAMPURAN ‘AYN BI ‘AYN BI DAYN BI ‘AYN DAYN DAYN Menyumbangkan keahlian Syirkah Jasa/keahlian (real asset) Percampuran financial asset ‘Abdan dicampur dengan uang (financial (dayn) dengan financial asset asset) Bentuk percampuran ini (dayn) disebut syirkah mudharabah Jika percampuran antara uang Seorang penyandang dana dengan uang dengan jumlah memberikan dana dan yang lain sama disebut syirkah memberikan reputasinya mufawadah; atau jumlah uang Bentuk percampuran ini disebut yang dipercampurkan syirkah wujuh jumlahnya berbeda disebut syirkah ‘inan.
  • 53.
    APLIKASI AKAD DALAM PRODUK– PRODUK BANK SYARIAH BANK SYARIAH PENGHIMPUNAN DANA PENYALURAN DANA JASA PRINSIP WADIAH PRINSIP JUALBELI - Giro - Murabahah - Wakalah - Tabungan - Istishna - Kafalah - Salam - Sharf - Ijarah - Rahn - Hiwalah PRINSIP MUDHARABAH PRINSIP BAGIHASIL -Giro - Mudharabah -Tabungan - Musyarakah - Deposito 53
  • 54.
  • 55.
    PRODUK PENGHIMPUNAN DANA: GIROSYARIAH LANDASAN HUKUM: Fatwa DSN – MUI No.01/DSN-MUI/IV/2000, Tanggal 1 April 2000. GIRO SYARIAH GIRO GIRO WADIAH MUDHARABAH  Bersifat titipan  Bank selaku Mudharib, Nasabah selaku Shahibul Mal  On call  Mudharib boleh melakukan berbagai macam usaha, asal  Keuntungan dan kerugian dari tidak melanggar prinsip syariah penyaluran dana wadiah menjadi  Dana giro harus dinyatakan jelas, tunai bukan piutang hak milik atau ditanggung bank.  Pembagian keuntungan dinyatakan dalam Nisbah  Tidak ada imbalan (bonus) yang  Tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan dipersyaratkan nasabah tanpa persetujuan nasabah 55
  • 56.
    PRODUK PENGHIMPUNAN DANA: GIROSYARIAH (Lanjutan...) SKEMA GIRO WADIAH 4 Pooling Fund 5 Penyaluran pembiayaan 1 Akad Wadi’ah Nasabah Pembyn A 2 Setoran awal 3 Mutasi giro Nasabah Pembyn B Nasabah Giro Bank Syariah Wadi’ah Dapat diberikan imbalan atau bonus Pendapatan 7 6 bank namun tidak boleh diperjanjikan Nasabah Pembyn C 56
  • 57.
    PRODUK PENGHIMPUNAN DANA: GIROSYARIAH (Lanjutan...) SKEMA GIRO MUDHARABAH 4 Pooling Fund 5 Penyaluran pembiayaan 1 Akad Mudharabah Nasabah Pembyn A 2 Setoran awal 3 Mutasi giro Nasabah Giro Nasabah Pembyn B Mudharabah Bank Syariah Distribusi Bagihasil sesuai nisbah Pendapatan 7 6 yang disepakati yang akan dibagikan Nasabah Pembyn C 57
  • 58.
    PRODUK PENGHIMPUNAN DANA: TABUNGANSYARIAH LANDASAN HUKUM: Fatwa DSN – MUI No.02/DSN-MUI/IV/2000, Tanggal 1 April 2000. TABUNGAN SYARIAH TABUNGAN TABUNGAN WADIAH MUDHARABAH  Bersifat titipan  Bank selaku Mudharib, Nasabah selaku Shahibul Maal  On call  Mudharib boleh melakukan berbagai macam usaha, asal tidak  Keuntungan dan kerugian dari melanggar prinsip syariah penyaluran dana wadiah menjadi  Dana tabungan harus dinyatakan jelas, tunai bukan piutang hak milik atau ditanggung bank.  Pembagian keuntungan dinyatakan dalam Nisbah  Tidak ada imbalan (bonus) yang  Tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah dipersyaratkan tanpa persetujuan nasabah 58
  • 59.
    PRODUK PENGHIMPUNAN DANA: TABUNGANSYARIAH (Lanjutan...) SKEMA TABUNGAN WADIAH 4 Pooling Fund 5 Penyaluran pembiayaan 1 Akad Wadi'ah Nasabah Pembyn A 2 Setoran awal 3 Setoran tabungan 8 Penarikan tabungan Nasabah Pembyn B Nasabah Pemilik Dana Bank Syariah Tabungan Wadiah 7 Dapat diberikan imbalan atau bonus Pendapatan namun tidak boleh diperjanjikan 6 Bank Nasabah Pembyn C 59
  • 60.
    PRODUK PENGHIMPUNAN DANA: TABUNGANSYARIAH (Lanjutan...) SKEMA TABUNGAN MUDHARABAH 4 Pooling Fund 5 Penyaluran pembiayaan 1 Akad Mudharabah Nasabah Pembyn A 2 Setoran awal 3 Mutasi tabungan Nasabah Pembyn B Nasabah Pemilik Dana Tabungan Mudharabah Bank Syariah Distribusi Bagihasil sesuai nisbah 6 7 Pendapatan yang yang disepakati akan dibagikan Nasabah Pembyn C 60
  • 61.
    PRODUK PENGHIMPUNAN DANA: DEPOSITOSYARIAH LANDASAN HUKUM: Fatwa DSN – MUI No.03/DSN-MUI/IV/2000, Tanggal 1 April 2000. DEPOSITO SYARIAH DEPOSITO DEPOSITO MUDHARABAH MUDHARABAH MUTLAQAH MUQAYYADAH  Bank selaku Mudharib, Nasabah selaku Shahibul  Bank selaku Mudharib, Nasabah selaku Shahibul Maal Maal  Mudharib boleh melakukan berbagai macam  Mudharib hanya boleh melakukan usaha yang usaha, asal tidak melanggar prinsip syariah dipersyaratkan oleh nasabah  Dana deposito harus dinyatakan jelas, tunai  Dana deposito harus dinyatakan jelas, tunai bukan piutang bukan piutang  Pembagian keuntungan dinyatakan dalam  Pembagian keuntungan dinyatakan dalam Nisbah Nisbah  Tidak diperkenankan mengurangi nisbah  Tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan nasabah keuntungan nasabah tanpa persetujuan nasabah 61
  • 62.
    PRODUK PENGHIMPUNAN DANA: DEPOSITOSYARIAH (Lanjutan...) SKEMA DEPOSITO MUDHARABAH MUTHLAQAH 3 Pooling Fund 4 Penyaluran pembiayaan 1 Akad Mudharabah Nasabah Pembyn A 2 Setoran Deposito 7 Pencairan Deposito Nasabah Pembyn B Nasabah pemilik dana Bank Syariah Deposito Mudharabah Muthlaqah Distribusi Bagihasil sesuai 6 Pendapatan yang nisbah yang disepakati 5 akan dibagikan Nasabah Pembyn C 62
  • 63.
    PRODUK PENGHIMPUNAN DANA: DEPOSITOSYARIAH (Lanjutan...) SKEMA DEPOSITO MUDHARABAH MUQAYYADAH 3 Penyaluran pembiayaan sesuai dengan persyaratan nasabah deposan Akad Mudharabah 1 Muqayyadah Nasabah Pembyn A 2 Setoran Deposito 6 Pencairan Deposito Nasabah Pembyn B Nasabah pemilik dana Bank Syariah Deposito Mudharabah Muqayyadah Distribusi Bagihasil sesuai 5 Pendapatan yang nisbah yang disepakati 4 akan dibagikan Nasabah Pembyn C 63
  • 64.
  • 65.
    PEMBIAYAAN MURABAHAH DEFINISI Murabahah adalahmenjual suatu barang dengan menegaskan harga belinya kepada pembeli dan pembeli membayarnya dengan harga yang lebih sebagai laba. (Fatwa DSN-MUI No. 04/DSN-MUI/IV/2000) LANDASAN HUKUM a. No. 04/DSN-MUI/IV/2000, Tanggal 1 April 2000, tentang Murabahah; b. No. 13/DSN-MUI/IX/2000, Tanggal 16 September 2000, tentang Uang Muka Dalam Murabahah; c. No. 16/DSN-MUI/IX/2000, Tanggal 16 September 2000, tentang Diskon dalam Murabahah; d. No. 17/DSN-MUI/IX/2000, Tanggal 16 September 2000, tentang Sanksi atas Nasabah Mampu yang Menunda-nunda Pembayaran; e. No.43/DSN-MUI/VIII/2004, Tanggal 11 Agustus 2004, tentang Ganti Rugi (Ta’widh). 65
  • 66.
    POKOK-POKOK ATURAN MURABAHAH FATWADSN-MUI No.04/DSN-MUI/IV/2000 1. PELAKU BANK membeli barang yang diperlukan NASABAH atas nama BANK sendiri dan pembelian ini harus sah dan bebas riba (Ps 1: 4) BANK kemudian menjual barang tersebut kepada NASABAH (pemesan) dengan harga jual senilai harga beli plus keuntungannya (Ps 1: 6) 2. OBJEK Barang yang diperjualbelikan tidak diharamkan oleh syari’ah Islam (Ps 1: 2) 3. HARGA HARGA BELI … Dalam kaitan ini Bank harus memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan (Ps 1: 6) HARGA JUAL BANK kemudian menjual barang tersebut kepada NASABAH (pemesan) dengan harga jual senilai harga beli plus keuntungannya (Ps 1: 6) Fatwa DSN No.16/IX/2000: Harga dalam jualbeli murabahah adalah harga beli dan biaya yang diperlukan ditambah keuntungan sesuai dengan kesepakatan (Ps.1:1) 66
  • 67.
    POKOK-POKOK ATURAN MURABAHAH FATWADSN-MUI No.04/DSN-MUI/IV/2000 (Lanjutan...) 4. AKAD Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang, akad jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang secara prinsip menjadi milik bank. (Ps. 1:9) Jika Bank menerima permohonan tersebut, ia harus membeli terlebih dahulu aset yang dipesannya secara sah dengan pedagang. Bank kemudian menawarkan aset tersebut kepada nasabah dan nasabah harus menerimanya (membelinya) sesuai dengan perjanjian yang disepakati, karena secara hukum perjanjian tersebut mengikat: kemudian kedua belah pihak harus membuat kontrak jual beli (Ps 2: 2,3) 5. UANG MUKA Dalam jualbeli ini bank dibolehkan meminta nasabah untuk membayar uang muka saat menadatangani kesepakatan awal pemesanan (Ps. 2 : 4) 6. JAMINAN Jaminan dalam murabahah dibolehkan agar nasabah serius dengan pesanannya (Ps.3:1) 7. DISCOUNT Jika dalam jualbeli murabahah LKS mendapat diskon dari supplier, harga sebenarnya adalah harga setelah diskon; karena itu diskon adalah hak nasabah Jika pemberian diskon terjadi setelah akad, pembagian diskon tersebut dilakukan berdasarkan perjanjian (persetujuan) yang dimuat dalam akad. (Ps 1:3-4, Fatwa No. 16/2000) 67
  • 68.
    POKOK-POKOK ATURAN MURABAHAH FATWADSN-MUI No.04/DSN-MUI/IV/2000 (Lanjutan...) 8. PELUNASAN DINI Jika nasabah dalam transaksi murabahah melakukan pelunasan pembayaran tepat waktu atau lebih cepat dari waktu yang telah disepakati, LKS boleh memberikan potongan dari kewajiban pembayaran tersebut, dengan syarat tidak diperjanjikan dalam akad. Besar potongan sebagaimana dimaksud diatas diserahkan pada kebijakan dan pertimbangan LKS (Ps.1:1-2, Fatwa No.23/2002) 9. DENDA / SANKSI Nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran dan/atau tidak mempunyai kemauan dan itikad baik untuk membayar hutangnya boleh dikenakan sanksi. Sanksi didasarkan pada prinsip ta’zir yaitu bertujuan agar nasabah lebih disiplin dalam melaksanakan kewajibannya Sanksi dapat berupa denda sejumlah uang yang besarnya ditentukan atas dasar kesepakatan dan dibuat saat akad ditandatangani Dana yang berasal dari denda diperuntukan sebagai dana sosial (Ps.1:3-6, Fatwa No.17/2000) 6. TA’WIDH (Fatwa No.43/2004) • Sengaja atau lalai menyimpang dari akad dan menimbulkan kerugian • Kerugian riil adalah biaya-biaya yang dikeluarkan dalam rangka penagihan hak yang seharusnya diterima • Real Lost not Opportunity Lost • Besarnya gantirugi tidak boleh dicantumkan dalam akad 68
  • 69.
    APLIKASI PERBANKAN JENIS PENGGUNAAN(BERDASARKAN PRODUK) KPR SYARIAH PEMBIAYAAN PEMBIAYAAN KENDARAAN MULTIGUNA BERMOTOR MURABAHAH KOMBINASI AKAD : PEMBIAYAAN -LINE FACILITY MODAL KERJA - 2 STEP FINANCING -JOINT FINANCING - TAKEOVER -Dll PEMBIAYAAN INVESTASI 69
  • 70.
    SKEMA MURABAHAH UNTUK PEMBIAYAANKENDARAAN BERMOTOR 1 Negosiasi butuh beli mobil ) (nasabah dan Persyaratan Wa’ad beli 2 Penandatanganan akad jual beli 6 Bayar angsuran atau tempo 9 Bank Syariah Nasabah NASABAH Bank Syariah mewakilkan 3 ke Nasabah untuk beli mobil ke Dealer 7 Nasabah sebagai Bank Syariah wakil mewakilkan ke Dealer 4 Bank Syariah , beli Bank Syariah 5 untuk serahkan mobil ke mobil ke Dealer bayar pembelian Nasabah mobil 8 Mobil dikirim langsung oleh dealer atau Bank Syariah DEALER Akad Murabahah 70
  • 71.
    SKEMA MURABAHAH UNTUK PEMBIAYAANRUMAH Akad Murabahah 1. Permohonan dan pemenuhan persyaratan 2. Wa’ad beli 4. Akad Murabahah 7. Bayar angsuran atau tempo Bank Syariah Nasabah Developer 71
  • 72.
    SKEMA MURABAHAH UNTUK PEMBIAYAANMULTIGUNA Akad Murabahah 1. Pengajuan dan Pemenuhan Persyaratan (mis : pembelian komputer) 2. Wa’ad beli 4. Pelaksanaan akad Murabahah 7. Bayar angsuran atau tempo Bank Syariah Nasabah 5. Bank Syariah mewakilkan ke supplier untuk serahkan komputer kepada Nasabah. Supplier 72
  • 73.
    SKEMA MURABAHAH DENGANWAKALAH UNTUK PEMBIAYAAN MULTIGUNA Akad Murabahah 1. Pengajuan dan Pemenuhan Persyaratan (mis : pembelian komputer) 2. Wa’ad beli 3. Bank Syariah mewakilkan ke Nasabah untuk melakukan transaksi dengan supplier 5. Pelaksanaan akad Murabahah 8. Bayar angsuran atau tempo Nasabah Bank Syariah 6. Bank Syariah mewakilkan ke supplier untuk serahkan komputer ke Nasabah. Supplier KETERANGAN: Dalam prakteknya, alur nomor 4 menjadi nomor 5 dan nomor 5 menjadi nomor 4. 73
  • 74.
    SKEMA MURABAHAH UNTUK PEMBIAYAANMODAL KERJA Akad Murabahah 1. Pengajuan dan Pemenuhan Persyaratan (Misal pembelian barang dagangan untuk stock penjualan) 2. Wa’ad beli 4. Pelaksanaan akad Murabahah 7. Bayar angsuran atau tempo Bank Syariah Nasabah Supplier 74
  • 75.
    SKEMA MURABAHAH DENGANWAKALAH UNTUK PEMBIAYAAN MODAL KERJA Akad Murabahah 1. Pengajuan dan Pemenuhan Persyaratan (misal Pembelian barang dagangan untuk stock penjualan) 2. Wa’ad beli 3. Bank Syariah mewakilkan kepada Nasabah untuk melakukan transaksi dengan supplier 5. Pelaksanaan akad Murabahah 8. Bayar angsuran atau tempo Bank Syariah Nasabah 6. Bank Syariah mewakilkan ke supplier untuk serahkan barang kepada Nasabah. Supplier KETERANGAN: Dalam prakteknya, alur nomor 4 menjadi nomor 5 dan nomor 5 menjadi nomor 4. 75
  • 76.
    SKEMA MURABAHAH UNTUK PEMBIAYAANINVESTASI Akad Murabahah 1. Pengajuan dan Pemenuhan Persyaratan (misal Nasabah butuh sarana penunjang usaha berupa f ork lif t) 2. Wa’ad beli 4. Pelaksanaan akad Murabahah 7. Bayar angsuran atau tempo Bank Syariah Nasabah 5. Bank Syariah mewakilkan ke supplier untuk serahkan f ork lif t ke Nasabah. Supplier 76
  • 77.
    SKEMA MURABAHAH DENGANWAKALAH UNTUK PEMBIAYAAN INVESTASI Akad Murabahah 1. Pengajuan dan Pemenuhan Persyaratan (misal Nasabah butuh sarana penunjang usaha berupa f ork lift) 2. Wa’ad beli 3. Bank Syariah mewakilkan kepada Nasabah untuk melakukan transaksi dengan supplier 5. Pelaksanaan akad Murabahah 8. Bayar angsuran atau tempo Nasabah Bank Syariah Supplier KETERANGAN: Dalam prakteknya, alur nomor 4 menjadi nomor 5 dan nomor 5 menjadi nomor 4. 77
  • 78.
    PEMBIAYAAN ISTISHNA’ Istishna’ adalahjual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli, mustashni’) dan penjual (pembuat, shani’). (Fatwa DSN No. 06/DSN-MUI/IV/2000) 78
  • 79.
    POKOK-POKOK ATURAN ISTISHNA 1. PELAKU Jika LKS melakukan transaksi Istishna untuk memenuhi kewajibannya kepada NASABAH ia dapat melakukan istishna lagi dengan PIHAK LAIN pada objek yang sama, dengan syarat istishna pertama tidak bergantung (mu’allaq) pada istishna kedua (Ps 1;1, Fatwa No. 22/2002) 2. OBJEK  Harus jelas ciri-cirinya dan dapat diakui sebagai hutang.  Harus dapat dijelaskan spesifikasinya.  Penyerahan dilakukan kemudian.  Waktu dan tempat penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan  Pembeli (mustashni) tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya. (Ps.2:1-5, fatwa No.06/2000) 3. HARGA LKS selaku mustashni tidak diperkenankan untuk memungut MDC (margin during construction) dari nasabah (shani) karena hal ini tidak sesuai dengan prinsip syariah (Ps.1:2, Fatwa No.22/2002) 4. PEMBATALAN Jika semua atau sebagian barang tidak tersedia pada waktu penyerahan, atau kualitasnya lebih rendah dan pembeli tidak rela menerimanya, maka ia memiliki PESANAN dua pilihan : a. Membatalkan kontrak dan meminta kembali uangnya. b. Menunggu sampai barang tersedia. (Fatwa No..05/2000, Ps. 4:5) 79
  • 80.
    MEKANISME PEMBIAYAAN ISTISHNA Akad Istishna’ 1 Negosiasi dan Persyaratan 1 (nasabah butuh renovasi rumah yang dikerjakan oleh kontraktor) Penandatanganan Akad Istishna’ 2 Bayar secara cicilan (taqsith) atau tangguh (muajjal) 8 BankSyariah Form Wakalah ke Nasabah untuk NASABAH negosiasi dengan kontraktor 3 6 4 Nasabah sebagai Bayar secara Form Wakalah ke Kontraktor termin 5 wakil Bank Syariah , untuk serahkan rumahyang renovasi rumah ke telah direnovasi ke Nasabah Kontraktor 7 Penyerahan rumah yang telah direnovasi oleh Kontraktor atau Bank Syariah Akad Istishna’ 2 KONTRAKTOR 80
  • 81.
    APLIKASI PERBANKAN: JENIS PENGGUNAAN(BERDASARKAN PRODUK) KPR SYARIAH SIAP BANGUN PEMBIAYAAN RENOVASI PROJECT RUMAH FINANCING ISTISHNA PEMBIAYAAN MODAL KERJA PEMBIAYAAN INVESTASI 81
  • 82.
    PEMBIAYAAN IJARAH Ijarahadalah akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa/upah, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri. (Fatwa DSN – MUI No. 09/DSN-MUI/IV/2000) 82
  • 83.
    POKOK-POKOK ATURAN IJARAH FATWADSN – MUI No. 09/DSN-MUI/IV/2000 1. PELAKU Pihak-pihak yang berakad (berkontrak) terdiri atas pemberi sewa (lessor, pemilik asset, LKS) dan penyewa (lessee, pihak yang mengambil manfaat dari penggunaan aset, nasabah) 2. OBJEK Objek kontrak : pembayaran (sewa) dan manfaat dari penggunaan aset (Ps 1: 2) 3. HARGA Sewa adalah sesuatu yang dijanjikan dan dibayar nasabah kepada LKS sebagai pembayaran manfaat. Sesuatu yang dapat dijadikan harga dalam jual beli dapat pula dijadikan sewa dalam Ijarah (Ps 2: 8) Ketentuan (flexibility) dalam menetukan sewa dapat diwujudkan dalam ukuran, waktu tempat dan jarak (Ps. 2:9) 4. AKAD Sighat Ijarah adalah berupa pernyataan dari kedua belah pihak yang berkontrak, baik secara verbal atau dalam bentuk lain yang equivalent, dengan cara penawaran dari pemilik asset (LKS) dan penerimaan yang diyatakan oleh penyewa (nasabah) (Ps:1:5) 5. PEMELIHARAAN Kewajiban LKS sebagai pemberi sewa : ASET b. Menanggung biaya pemeliharaan asset Kewajiban nasabah sebagai penyewa : a. Membayar sewa dan bertanggungjawab untuk menjaga keutuhan asset yang disewa serta menggunakannya sesuai kontrak b. Menanggung biaya pemeliharaan asset yang sifatnya ringan 83
  • 84.
    PEMBIAYAAN MULTIJASA IJARAH FATWADSN NO.44/DSN/MUI • Pembiayaan Multijasa hukumnya boleh (jaiz) dengan menggunakan akad Ijarah atau Kafalah. • Dalam hal LKS menggunakan akad ijarah, maka harus mengikuti semua ketentuan yang ada dalam Fatwa Ijarah. • Dalam hal LKS menggunakan akad Kafalah, maka harus mengikuti semua ketentuan yang ada dalam Fatwa Kafalah. • Dalam kedua pembiayaan multijasa tersebut, LKS dapat memperoleh imbalan jasa (ujrah) atau fee. • Besar ujrah atau fee harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal bukan dalam bentuk prosentase. 84
  • 85.
    MEKANISME PEMBIAYAAN IJARAH Negosiasi dan Persyaratan 1 (nasabah butuh alat-alat berat) Akad Ijarah 2 Bayar angsuran sewa 8 Akad Ijarah 2 Bank Syariah NASABAH Wakalah ke Nasabah untuk cari 3 penyewaan alat2 berat Barang diserahkan 5 Transaksi 4 7 langsung oleh pemilik atau melalui Wakalah ke Pemilik Pembayaran Nasabah sebagai Bank Syariah barang untuk serahkan 6 wakil Bank barang sewa ke Nasabah Syariah, melakukan transaksi sewa Akad Ijarah 1 PEMILIK OBJEK SEWA 85
  • 86.
    APLIKASI PERBANKAN: JENIS PENGGUNAAN(BERDASARKAN PRODUK) PEMBIAYAAN MULTIJASA PEMBIAYAAN -Biaya pendidikan MULTIGUNA MANFAAT - Kesehatan BARANG - Wisata, dll IJARAH PEMBIAYAAN KOMBINASI AKAD MODAL KERJA -SHARIA CARD 86
  • 87.
    PEMBIAYAAN IJARAH MUNTAHIABIT TAMLIK (IMBT) Ijarah Muntahia Bit Tamlik (IMBT) adalah perjanjian sewa-menyewa yang disertai dengan opsi pemindahan hak milik atau benda yang disewa, kepada penyewa setelah selesai masa sewa. (Fatwa DSN – MUI No. 27/DSN-MUI/III/2000). 87
  • 88.
    POKOK-POKOK ATURAN PEMBIAYAANIMBT FATWA DSN – MUI No. 27/DSN-MUI/III/2000 Semua rukun dan syarat yang berlaku dalam akad Ijarah (fatwa No.09/2000) berlaku pula dalam akad IMBT (Ps. 1:1) AKAD Pihak yang melakukan IMBT harus melaksanakan akad Ijarah terlebih dahulu. Akad pemindahan kepemilikan baik dengan jualbeli atau pemberian hanya dapat dilakukan setelah masa Ijarah selesai Janji pemindahan kepemilikan yang disepakati di awal akad Ijarah adalah waad yang hukumnya tidak mengikat. Apabila janji itu ingin dilaksanakan maka harus ada pemindahan kepemilikan yang dilakukan setelah masa Ijarah selesai (Ps. 2: 1-2) 88
  • 89.
    POKOK-POKOK ATURAN PEMBIAYAANIMBT FATWA DSN – MUI No. 56/DSN-MUI  Review Ujrah boleh dilakukan antara para pihak yang melakukan akad Ijarah apabila memenuhi syarat-syarat sbb:  Terjadi perubahan periode akad Ijarah;  Ada indikasi sangat kuat bahwa bila tidak dilakukan review, maka akan timbul kerugian bagi salah satu pihak;  Disepakati oleh kedua belah pihak.  Review atas besaran ujrah setelah periode tertentu :  Ujrah yang telah disepakati untuk suatu periode akad Ijarah tidak boleh dinaikkan;  Besaran ujrah boleh ditinjau ulang untuk periode berikutnya dengan cara yang diketahui dengan jelas (formula tertentu) oleh kedua belah pihak;  Peninjauan kembali besaran ujrah setelah jangka waktu tertentu harus disepakati kedua pihak sebelumnya dan disebutkan dalam akad.  Dalam keadaan sewa yang berubah-ubah, sewa untuk periode akad pertama harus dijelaskan jumlahnya. Untuk periode akad berikutnya boleh berdasarkan rumusan yang jelas dengan ketentuan tidak menimbulkan perselisihan. 89
  • 90.
    MEKANISME PEMBIAYAAN IMBT Akad Hibah 1 Negosiasi dan persyaratan (nasabah butuh beli rumah) Wa’ad IMBT 2 Penandatanganan akad 4 Bayar sewa bulanan 7 hibah rumah (pada akhir masa sewa) 8 BankSyariah NASABAH Akad Ijarah 5 5 wakalah ke developer Untuk serahkan rumah ke nasabah Beli dan bayar ke developer 3 6 Obyek sewa (rumah) untuk disewa oleh nasabah Diserahkan oleh Developer atau Bank Syariah DEVELOPER 90
  • 91.
    APLIKASI PERBANKAN: JENIS PENGGUNAAN(BERDASARKAN PRODUK) KPR SYARIAH (Jangka Panjang) IMBT PEMBIAYAAN INVESTASI (Jangka Panjang) 91
  • 92.
    PEMBIAYAAN MUDHARABAH Mudharabah adalahakad kerjasama suatu usaha antara dua piak dimana pihak pertama (malik, shahib al-mal, LKS) menyediakan seluruh modal, sedangkan pihak kedua (‘amil, mudharib, nasabah) bertindak selaku pengelola, dana keuntungan usaha bagi diantara mereka sesuai kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak. (Fatwa DSN – MUI No. 07/DSN-MUI/IV/2000). 92
  • 93.
    POKOK-POKOK ATURAN PEMBIAYAANMUDHARABAH FATWA DSN – MUI No. 07/DSN-MUI/IV/2000 1. PELAKU DAN MODAL  LKS sebagai shahibul maal membiayai 100% kebutuhan suatu proyek, sedangkan pengusaha bertindak sebagai mudharib atau pengelola usaha (Ps.1:1)  Modal dapat berbentuk uang atau barang yang dinilai (Ps.2:3b)  Modal tdk dapat berbentuk piutang dan harus dibayarkan kepada Mudharib, baik secara bertahap maupun tidak, (Ps.2:3c) 2. NISBAH Bagian keuntungan proporsional bagi setiap pihak harus diketahui dan dinyatakan pada waktu kontrak disepakati dan harus dalam bentuk prosentasi (nisbah) dari keuntungan sesuai kesepakatan. Perurubahan nisbah harus berdasarkan kesepakatan. (Ps.2:4b) 3. KEUNTUNGAN Harus diperuntukkan bagi kedua belah pihak dan tidak boleh disyaratkan hanya satu pihak saja (Ps.2:4a) 4. KERUGIAN Penyedia dana menanggung semua kerugian akibat dari mudharabah, kecuali diakibatkan kesalahan disengaja, kelalaian atau pelanggaran. (Ps.2:4c) 5. JAMINAN Pada prinsipnya dalam pembiayaan mudharabah tidak ada jaminan, namun agar mudharib tidak melakukan penyimpangan LKS dapat meminta jaminan dari mudharib atau pihak ke3. Jaminan hanya dapat dicairkan apabila mudharib terbukti melakukan pelanggaran terhadap hal-hal yang telah dispekati bersama (Ps.1: 7) 93
  • 94.
    POKOK-POKOK ATURAN PEMBIAYAANMUDHARABAH FATWA DSN – MUI No. 07/DSN-MUI/IV/2000 6. MANAJEMEN …LKS tidak ikut serta dalam manajemen perusahaan atau proyek tetapi mempunyai hak untuk melakukan pembinaan d an pengawasan (Ps 1:4) 7. JANGKA WAKTU Mudharabah boleh dibatasi pada periode tertentu (Ps 3:1) 94
  • 95.
    MEKANISME PEMBIAYAAN MUDHARABAH Negosiasi dan Persyaratan 2 (nasabah butuh modal kerja 75 unit mobil) Kontrak Penyewaan Mobil Akad Mudharabah 3 1 Nasabah bayar sewa Bank Syariah Menyerahkan Perusahaan ABC modal Mengelola 4 5 Nisbah Nisbah 7 9 8 Usaha Nasabah Bank Pendistribusan Pengembalian Pokok Modal & Keuntungan 6 Tingkat Keuntungan Modal 95
  • 96.
    APLIKASI PERBANKAN: JENIS PENGGUNAAN(BERDASARKAN PRODUK) VARIASI MUDHARABAH: -LINE FACILITY - 2 STEP FINANCING -JOINT FINANCING -Dll MUDHARABAH PEMBIAYAAN MODAL KERJA 96
  • 97.
    PEMBIAYAAN MUSYARAKAH Musyarakahadalah pembiayaan berdasarkan akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu, dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan ketentuan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan. (Fatwa DSN – MUI No. 08/DSN-MUI/IV/2000). 97
  • 98.
    POKOK-POKOK ATURAN PEMBIAYAANMUSYARAKAH FATWA DSN – MUI No. 08/DSN-MUI/IV/2000 1. PELAKU DAN MODAL Setiap mitra harus menyediakan dana dan pekerjaan dan setiap mitra melaksanakan kerja sebagai wakil. (Ps.2b) 2. NISBAH Setiap keuntungan mitra harus dibagikan secara proporsional atas dasar seluruh keuntungan dan tidak ada jumlah yang ditentukan di awal yang ditetapkan bagi seorang mitra (Ps.3c.3) 3. KEUNTUNGAN Harus diperuntukkan bagi kedua belah pihak dan tidak boleh disyaratkan hanya satu pihak saja (Ps2:4a) 4. KERUGIAN Kerugian harus dibagi di antara para mitra secara proporsional menurut saham masing-masing dalam modal (Ps3d) 5. JAMINAN Pada prinsipnya dalam pembiayaan musyarakah tidak ada jaminan, namun menghindari terjadinya penyimpangan LKS dapat meminta jaminan (Ps 3:a3) 6. MANAJEMEN Setiap mitra memiliki hak untuk mengelola asset musyarakah dalam proses bisnis normal (ps.2c) 98
  • 99.
  • 100.
    PRODUK JASA PERBANKANSYARIAH AKAD PRODUK WAKALAH Kliring, Inkaso, Transfer SHARF Transaksi Valas KAFALAH Bank Garansi HIWALAH Anjak Piutang IJARAH & WADIAH Safe Deposit Box QARDH & IJARAH (RAHN) Gadai 100
  • 101.
    PRODUK JASA PERBANKANSYARIAH: KAFALAH – BANK GARANSI SKEMA KAFALAH (BANK GARANSI) 2. Negosiasi dan Persyaratan 3 . Akad Kaf alah 5. Ujrah dan jaminan Bank Syariah Nasabah Pemilik Proyek 101
  • 102.
    PRODUK JASA PERBANKANSYARIAH: SAFE DEPOSIT BOX SKEMA IJARAH/WADIAH (SAFE DEPOSIT BOX) 1. Negosiasi dan Persyaratan (Nasabah butuh Safe Deposit Box) 2 . Akad Ijarah 4. Bayar sewa Safe Deposit Box Bank Syariah Nasabah 3. Bank serahkan Safe Deposit Box ke nasabah untuk disewa 102
  • 103.
    PRODUK JASA PERBANKANSYARIAH: GADAI SYARIAH SKEMA QARDH DAN IJARAH (RAHN) 1. Negosiasi dan Persyaratan. 2. Pelaksanaan Akad Qard dan Ijarah 3 . Nasabah serahkan barang berupa emas (marhun) 4. Bank memberikan pinjaman dana 5. Nasabah bayar sewa penyimpanan barang (ujrah) 6. Setelah jatuh tempo, Nasabah mengembalikan dana pinjaman 7. Bank mengembalikan marhun kepada nasabah Bank Syariah Nasabah 103
  • 104.
    SISTEM OPERASIONAL BANK SYARIAH
  • 105.
    Konsep & SistemPerbankan Konsep & Sistem Perbankan Fungsi Bank adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali dana tersebut kepada masyarakat lain yang memerlukan Proses Penghimpunan Dana Masyarakat Masyarakat Pemilik Dana Proses Pengguna Dana Penyaluran Dana
  • 106.
    Konsep & Sistem Konsep & Sistem Bank Konvensional Bank Konvensional Proses Proses Penghimpunan Dana Penyaluran Dana Masyarakat Masyarakat Pemilik Dana Pengguna Dana Penetapan Imbalan Penetapan Beban
  • 107.
    Konsep & Sistem Konsep & Sistem Perbankan Syariah Perbankan Syariah BAGI HASIL Proses Proses Penghimpunan Dana Penyaluran Dana Masyarakat Masyarakat Pemilik Dana Pengguna Dana BAGI HASIL Konsep Penyaluran Dana : Konsep Penghimpunan Dana : 1. Bagi Hasil (Mudharabah & 1. Al Wadiah Musyarakah) 2. Mudharabah 2. Jual Beli (Murabahah, Istishna & Salam) 3. Ujroh (Ijarah & Ijarah Muntahiah Bitamlik)
  • 108.
    alur kerja Pembayaran bagi hasil Bank Syariah Menerima pendapatan Tergantung pendapatan / hasil yg diterima Bagi hasil / Hanya dana mudharabah Margin Shahibul maal Mudharib Shahibul Maal Mudharib Penyaluran Penghimpunan dana dana Deposan Bank Nasabah debitur Membayar bunga tetap Menerima bunga tetap Tidak ada pengaruh pendapatan yang diterima BANK KONVENSIONAL
  • 109.
    Struktur Organisasi Annual Shareholders Meeting Sharia Board of Supervisory Board Commissioners President Director Internal Audit Group Assistant Director Compliance & Business Corporate Support Director Director Direktur Muda Financing Compliance Staff Corporate Support Financing Business Administration Business Group Group Units Group Development Group
  • 110.
    Contoh Bagan OrganisasiBank Umum Syariah RUPS / Rapat Anggota Dewan Komisaris Dewan Pengawas Syariah Dewan Audit Dewan Direksi Divisi / Urusan Divisi / Urusan Divisi / Urusan Divisi / Urusan Kantor Cabang Kantor Cabang Kantor Cabang
  • 111.
    Struktur Organisasi BPRS Rapat Umum Pemegang Saham Dewan Dewan Pengawas Komisaris Syariah Dewan Direksi Internal Audit Bidang Bagian Bidang Marketing Umum Operasional Financing Customer Service Sekretariat Funding Teller Kerumahtangga an Accounting (Pembukuan) Administrasi
  • 112.
    Job Description • Tugasdan Kewajiban – Dewan Pengawas Syariah – Dewan Komisari – Dewan Direksi – Bagian Pemasaran – Bagian Operasional – Internal Audit
  • 113.
    TEORI BAGI HASILDAN PROFIT MARGIN
  • 114.
    Konsep & SistemPerbankan Konsep & Sistem Perbankan Fungsi Bank adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali dana tersebut kepada masyarakat lain yang memerlukan Proses Penghimpunan Dana Masyarakat Masyarakat Pemilik Dana Proses Pengguna Dana Penyaluran Dana
  • 115.
    Konsep & Sistem Konsep & Sistem Bank Konvensional Bank Konvensional Proses Proses Penghimpunan Dana Penyaluran Dana Masyarakat Masyarakat Pemilik Dana Pengguna Dana Penetapan Imbalan Penetapan Beban
  • 116.
    Konsep & Sistem Konsep & Sistem Perbankan Syariah Perbankan Syariah BAGI HASIL/Profit Margin/Pndpt Sewa Proses Proses Penghimpunan Dana Penyaluran Dana Masyarakat Masyarakat Pemilik Dana Pengguna Dana BAGI HASIL/Bonus Konsep Penyaluran Dana : Konsep Penghimpunan Dana : 1. Bagi Hasil (Mudharabah & 1. Al Wadiah Musyarakah) 2. Mudharabah 2. Jual Beli (Murabahah, Istishna & Salam) 3. Ujroh (Ijarah & Ijarah Muntahiah Bitamlik)
  • 117.
    Alur Operasional BankSyariah Mudharib Tabel Bagi hasi Penghimpunan dana Penyaluran dana Pendapatan l POOLING DANA Wadiah yad dhamanah Prinsip bagi hasil Bagi hasil/laba Mudharabah Mutlaqah Prinsip Ujroh Sewa (Investasi Tdk Terikat) Lainnya (modal dsb) Prinsip jual beli Margin Tabel Laporan Laba Rugi Pendapatan Mdh Mutlaqah (Investasi Tidak Terikat) Agen : Mdh Muqayyadah / investasi terikat Pendapatan berbasis imbalan (fee base income) Jasa keuangan: wakalah, kafalah, sharf
  • 118.
    SISTEM DAN PERHITUNGANBAGI HASIL • Dari sudut pandang Nasabah sebagai Investor – Mudharabah Muqayyadah off Balance Sheet (Chanelling) – Mudharabah Muqayyadah on Balance Sheet (Executing) – Mudharabah Mutlaqah • Dari sudut Pandangan Bank – Perhitungan Saldo Akhir Bulan – Perhitungan Saldo Rata-rata Harian
  • 119.
    SKEMA-SKEMA MUDHARABAH Skema MudharabahMuqayyadah Off Balance Sheet (Channelling) Satu Nasabah Satu Pelaksana Investor Usaha Bank Syari’ah Skema Mudharabah Muqayyadah On Balance Sheet (executing) berdasar sektor Pertanian Satu Nasabah Bank Syari’ah Investor Manufaktur Jasa Skema Mudharabah Muqayyadah On Balance Sheet (executing) berdasar akad yg digunakan Penjualan Cicilan Satu Nasabah Bank Syari’ah Investor Penyewaan Cicilan Kerjasama Usaha
  • 120.
    SKEMA-SKEMA MUDHARABAH Skema MudharabahMutlaqah On Balance Sheet Penjualan 1 Nasabah 1 Penjualan 2 Jual Nasabah 2 . Penjualan n Nasabah 3 Bank Penyewaan 1 . Syari’ah Sewa Penyewaan 2 . . Nasabah n Penyewaan n Kerjasama 1 Kerjasama Kerjasama 2 Usaha . Kerjasama n
  • 121.
    KASUS MENGHITUNG BUNGA KASUS: Padatanggal 1 Mei 2002, Bapak Johanes membuka deposito sebesar Rp. 10.000.000, jangka waktu satu bulan, dengan tingkat bunga 9% p.a. Berapa bunga yang diperoleh pada saat jatuh tempo? JAWAB Bunga yang diperoleh bapak Johanes adalah: Rp. 10.000.000 x 31 hari x 9% / 365 hari = Rp. 76.438
  • 122.
    KASUS BAGI HASILDEPOSITO Bapak Ahmad membuka deposito sebesar Rp. 10.000.000, jangka waktu satu bulan (tanggal 1 Mei s/d 1 Juni 2003), nisbah bagi hasil antara nasabah dan bank 57% : 43%. Jika keuntungan bank yang diperoleh untuk deposito satu bulan per 31 Mei 2003 adalah Rp. 20.000.000 dan total deposito jangka waktu satu bulan adanya Rp. 950.000.000, berapa keuntungan yang diperoleh bapak Ahmad? JAWAB Bunga yang diperoleh bapak Johanes adalah: Rp. 10.000.000 x 31 hari x 9% / 365 hari = Rp. 76.438 JAWAB Bagi hasil yang diperoleh bapak Ahmad adalah: (Rp. 10 juta/Rp. 950 juta) x Rp. 20 juta x 57% = Rp. 120.000
  • 123.
  • 124.
    TABEL DISTRIBUSI PENDAPATAN(BAGI HASIL) Rata-rata Saldo Rata- Distribusi Jenis Sebulan rata Saldo Tertimbang* Penyimpan Dana Bank Produk Bobot* Distri-busi Harian ) *) Porsi Pendapatan Porsi Pendapatan (0) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (A) (B) (A)x(B) = (C) (D) (E) (F)=(D)x(E) (G) (H)=(D)x(G) Rekening 10000000 0,700 7000000 D1 0,250 F1 0,750 H1 Giro Rek. 60000000 1,000 60000000 D2 0,550 F2 0,450 H2 Tabungan Deposito 10000000 0,800 8000000 D3 0,570 F3 0,430 H3 Mudharab ah 1 bulan 3 bulan 20000000 0,850 17000000 D4 0,600 F4 0,400 H4 6 bulan 5000000 0,900 4500000 D5 0,580 F5 0,420 H5 12 bulan 10000000 1,000 10000000 D6 0,570 F6 0,430 H6 Grand 115000000 (B) 106500000 (D) (F) (H) Total 20000000 Keterangan : D1=C1/Grand Total C x Grand Total D, dst *) Bobot = 1 – (GWM + Excess Reserve + Floating)
  • 125.
    MENGHITUNG SALDO RATA-RATAHARIAN • Saldo rata-rata harian untuk jenis produk funding di bank syari’ah ditentukan sebagai berikut: 1. Menentukan tanggal berapa keuntungan yang diperoleh dari penempatan dana akan dibagi-hasilkan. Misalnya setiap buLan ditentukan pada tanggal 25 bulan ybs, maka pendapatan yang akan dibagihasilkan kepada penyimpan dana adalah pendapatan yang diperoleh sejak tanggal 26 bulan sebelumnya sampai dengan tanggal 25 pada bulan di mana pendapatan tersebut dibagi hasilkan 2. Jumlah hari yang dihitung dalam satu bulan adalah sesuai dengan hitungan kalender. Oleh karena itu, saldo rata-rata harian per bulan dihitung sejak tanggal 26 sampai dengan tanggal 25 bulan berikutnya.
  • 126.
    MENGHITUNG SALDO RATA-RATAHARIAN • Contoh kasus : – Tuan Amir adalah nasabah Bank Syari’ah at- Taqwa, berupa tabungan Mudharabah. Catatan kartu tabungannya menunjukkan transaksi sebagai berikut: Tanggal Debet Kredit Saldo 26/6/02 575.000 575.000 02/7/02 125.000 450.000 10/7/02 250.000 700.000 15/7/02 100.000 600.000 21/7/02 400.000 1.000.000
  • 127.
    MENGHITUNG SALDO RATA-RATAHARIAN • Hitungan saldo rata-rata harian per bulan pada tanggal 25 Juli 2002, sebagai berikut: 1. Tgl. 26/6/02 s/d tgl. 1/7/02 = 6 hari x 575.000 = 3450000 2. Tgl. 02/7/02 s/d tgl. 9/7/02 = 8 hari x 450.000 = 3600000 3. Tgl. 10/7/02 s/d tgl. 14/7/02 = 5 hari x 700.000 = 3500000 4. Tgl. 15/7/02 s/d tgl. 20/7/02 = 6 hari x 600.000 = 3600000 5. Tgl. 21/7/02 s/d tgl. 25/7/02 = 5 hari x 1.000.000= 5000000 Jumlah = 30 hari = 19150000 Saldo rata-rata harian = 19.150.000/30 = 638.333 •Cara perhitungan di atas, juga digunakan untuk menghitung jenis simpanan yang lain. •Jika terjadi penutupan rekening, maka saldo rata-rata yang dihitung adalah sejak tanggal 26 sampai tanggal penutupan rekening tersebut, kemudian dihitung berapa bagi hasilnya
  • 128.
    PERHITUNGAN BAGI HASILPOLA BARU Penetapan Pendapatan yang Perhitungan Hasil akan dibagihasikan: Investasi untuk Jenis dan Jumlah setiap rupiah 1000 Distribusi ke tiap dana nasabah nasabah Kelebihan cara ini: Penyertaan dana shohibul maal dalam investasi dikoreksi dengan GWM Bobot dihilangkan/diseragamkan = 1 Cara perhitungan relatif lebih mudah Mempermudah perencanaan Penggunaan ekuivalent rate hasil investasi per-Rp. 1000 dana nasabah
  • 129.
    CONTOH: Perhitungan BagiHasil Pola Baru Apabila bank syari’ah mampu mengumpulkan dana pihak ketiga (DPK) sebanyak Rp. 90.000.000. DPK yang dapat disalurkan pada pembiayaan sebanyak Rp. 85.500.000 (karena ada Giro Wajib Minumum sebesar 5%). Pembiayaan yang harus disalurkan ke masyarakat sebanyak Rp. 100.000.000. Dari pembiayaan Rp. 100.000.000 diperoleh pendapatan dari penyaluran pembiayaan sebesar Rp. 6.000.000. Nisbah bagi hasil 65% (nasabah): 35% (bank). Saldo rata-rata harian dana nasabah (Pak Amir) sebesar Rp. 1.000.000. (1) Berapa pendapatan bagi setiap Rp. 1000 dana nasabah? (2) Berapa pendapatan bagi hasil pak Amir?
  • 130.
    CONTOH: Perhitungan BagiHasil Pola Baru Dana Pihak Ketiga (DPK Mudharabah) A 90,000,000.00 DPK yang disalurkan untuk Pembiayaan B 85,500,000.00 (= DPK x (1 - GWM) --> GWM = 5%) Pembiayaan Yang Disalurkan C 100,000,000.00 Dana Bank 14,500,000.00 Pendapatan dari Penyaluran Pembiayaan D 6,000,000.00 Pendapatan bagi setiap Rp. 1000 DPK E 57.00 E= B/C * D * 1/A * 1000
  • 131.
    CONTOH: Perhitungan BagiHasil Pola Baru Pendapatan Investasi untuk setiap Rp. 1000 E 57.00 DPK Mudharabah Saldo rata-rata Harian Nasabah F 1,000,000.00 Nisbah Bagi Hasil G 65 Porsi Bagi Hasil untuk Nasabah bulan ini H 37,050.00 H= E/1000 * F * G/100 Dari hasil perhitungan di atas, ditemukan pendapatan nasabah untuk bulan ini dengan dananya sebesar Rp. 1.000.000, bagi hasilnya sebesar Rp. 37,050.00
  • 132.
    PENENTUAN NISBAH BAGIHASIL Nisbah bagi hasil dihitung berdasarkan profit sharing dari usaha pengadaan kacang kedelai yang dibiayai dengan fasilitas Mudharabah Muqayyadah sebesar Rp. 125.000.000, dengan data sebagai berikut: Harga Jual Kacang Kedelai = Rp. 2.150/kg Harga jual kepada nasabah = setara 16% p.a Volume Penjualan Kedelai per bulan = 65.000 kg Nilai Penjualan (65.000 x Rp. 2.150) = Rp. 139.750.000 Harga Pokok Pembelian = Rp. 125.000.000 PENDAPATAN penjualan kedelai = Rp. 14.750.000 Berapa Nisbah bagi hasilnya?
  • 133.
    PENENTUAN NISBAH PEMBIAYAAN PerhitunganNisbah: Volume Penjualan = 65.000 kg Profit Margin (Rp. 14.750.000/139.750.000)x 100% = 10,55% Lama Piutang (data neraca 31-07-2003) = 65 hari Lama persediaan (data neraca 31-08-2003) = 2 hari Lama hutang dagang (pembayaran ke suplier & carry) =0 Cash to cash periode = 360/(DI+DR-DP) = 5,4 DI= Days Inventories; DR= Days Receivable; DP= Days Payable Profit margin per tahun = 5,4 x 10,55 = 57% Nisbah Bank Syari’ah: (16%)/(57%)x100% = 28% Nisbah untuk Nasabah: 100% - 28% = 72%
  • 134.
    CONTOH: Perhitungan Bagi Hasil Pembiayaan Seorang nasabah mengajukan pembiayaan untuk modal kerja dagang sebesar Rp. 125.000.000 selama 1 tahun, dengan perbandingan bagi hasil antara nasabah dan bank 72 : 28 %. Bagaimana cara perhitungannya?
  • 135.
    Kasus Perhitungan BagiHasil Mudharabah Penyelesaian Pertama : NISBAH BULAN PENDAPATAN BANK NASABAH CICILAN TOTAL NASABAH 28% 72% POKOK ANGSURAN 1 6,000,000.00 1,680,000.00 4,320,000.00 1,680,000.00 2 5,000,000.00 1,400,000.00 3,600,000.00 1,400,000.00 3 7,000,000.00 1,960,000.00 5,040,000.00 1,960,000.00 4 4,000,000.00 1,120,000.00 2,880,000.00 1,120,000.00 5 2,500,000.00 700,000.00 1,800,000.00 700,000.00 6 3,000,000.00 840,000.00 2,160,000.00 840,000.00 7 3,500,000.00 980,000.00 2,520,000.00 980,000.00 8 6,500,000.00 1,820,000.00 4,680,000.00 1,820,000.00 9 5,500,000.00 1,540,000.00 3,960,000.00 1,540,000.00 10 4,250,000.00 1,190,000.00 3,060,000.00 1,190,000.00 11 4,500,000.00 1,260,000.00 3,240,000.00 1,260,000.00 12 4,575,000.00 1,281,000.00 3,294,000.00 125,000,000.00 126,281,000.00
  • 136.
    Kasus Perhitungan BagiHasil Mudharabah Mutanaqisah NISBAH CICILAN SETORAN BULAN PENDAPATAN PENDAPATAN YANG BANK NASABAH POKOK KE USAHA DIBAGIHASILKAN 28% 72% BANK 1 6,000,000.00 6,000,000.00 1,680,000.00 4,320,000.00 5,000,000.00 6,680,000.00 2 5,000,000.00 4,800,000.00 1,344,000.00 3,456,000.00 5,000,000.00 6,344,000.00 3 7,000,000.00 6,440,000.00 1,803,200.00 4,636,800.00 5,000,000.00 6,803,200.00 4 4,000,000.00 3,520,000.00 985,600.00 2,534,400.00 5,000,000.00 5,985,600.00 5 2,500,000.00 2,100,000.00 588,000.00 1,512,000.00 5,000,000.00 5,588,000.00 6 3,000,000.00 2,400,000.00 672,000.00 1,728,000.00 5,000,000.00 5,672,000.00 7 3,500,000.00 2,660,000.00 744,800.00 1,915,200.00 5,000,000.00 5,744,800.00 8 6,500,000.00 4,680,000.00 1,310,400.00 3,369,600.00 5,000,000.00 6,310,400.00 9 5,500,000.00 3,740,000.00 1,047,200.00 2,692,800.00 5,000,000.00 6,047,200.00 10 4,250,000.00 2,720,000.00 761,600.00 1,958,400.00 5,000,000.00 5,761,600.00 11 4,500,000.00 2,700,000.00 756,000.00 1,944,000.00 5,000,000.00 5,756,000.00 12 4,575,000.00 2,562,000.00 717,360.00 1,844,640.00 70,000,000.00 70,717,360.00 Modal 125,000,000.00
  • 137.
  • 138.
    PENENTUAN RETURN PEMBIAYAAN • Mark-up Pricing  Biaya produksi • Target-Return Pricing  ROI (Return on Investment) • Perceived-Value Pricing  persepsi nasabah • Value Pricing  ono rego ono rupo • Going Rate Pricing  tingkat bunga yang berlaku
  • 139.
    Penentuan Harga dalam Pembiayaan Syari’ah • Penentuan harga dalam pembiayaan di bank syari’ah dapat menggunakan salah satu di antara lima model tersebut di atas • Namun yang lazim digunakan oleh bank syari’ah saat ini adalah dengan menggunakan metode going rate pricing, yaitu menggunakan tingkat suku bunga pasar sebagai rujukan (benchmark). Mengapa diterapkan? Karena bank syari’ah berkompetisi dengan bank konvensional. Di samping itu bank syari’ah juga berkeinginan untuk mendapatkan customer yang bersifat floating customer.
  • 140.
    Penerapan Mark-up Pricingdalam Pembiayaan Syari’ah • Mark-up pricing hanya tepat jika digunakan untuk pembiayaan yang sumber dananya dari Restricted Investment Account (RIA) atau Mudharabah Muqayyadah.
  • 141.
    Penerapan Target-Return Pricing dalam Pembiayaan Syari’ah • Bank syari’ah beroperasi dengan tidak menggunakan bunga, di dalamnya juga diklasifikasikan akad yang menghasilkan keuntungan secara pasti, disebut natural certainty contract, dan akad yang menghasilkan keuntungan yang tidak pasti, disebut natural uncertainty contract. • Jika pembiayaan dilakukan dengan akad natural certainty contract, maka metode yang digunakan adalah required profit rate (rpr) – rpr = n. v (n = tingkat keuntungan dalam transaksi tunai; v = jumlah transaksi dalam satu periode • Jika pembiayaan dilakukan dengan akad natural uncertainty contract, maka metode yang digunakan adalah expected profit rate (epr) – epr diperoleh berdasarkan: (1) tingkat keuntungan rata-rata pada industri sejenis; (2) pertumbuhan ekonomi; (3) dihitung dari nilai rpr yang berlaku di bank yang bersangkutan; – Perhitungannya: • Nisbah bank = epr/actual return bisnis yang dibiayai * 100% • Aktual return bank = nsibah bank + aktual return bisnis
  • 142.
    275. Orang-orang yangmakan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
  • 143.
    Letak haramnya Riba… …Adalahdisebabkan mereka berkata sesungguhnya jual beli sama dengan riba, padahal ALLAH telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. QS 2 : 275 Riba Jual Beli Kelebihan Ada - bunga Ada – laba Ditetapkan dimuka Dibelakang Unsur Pemastian Ada Tidak ada Efek Ekonomi Menurunkan Meningkatkan agregat supply agregat supply
  • 144.
    POKOK-POKOK ATURAN MURABAHAH FATWADSN-MUI No.04/DSN-MUI/IV/2000 3. HARGA HARGA BELI … Dalam kaitan ini Bank harus memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan (Ps 1: 6) HARGA JUAL BANK kemudian menjual barang tersebut kepada NASABAH (pemesan) dengan harga jual senilai harga beli plus keuntungannya (Ps 1: 6) Fatwa DSN No.16/IX/2000: Harga dalam jualbeli murabahah adalah harga beli dan biaya yang diperlukan ditambah keuntungan sesuai dengan kesepakatan (Ps.1:1) 144
  • 145.
    Menentukan Harga Jual 1.Harga Jual Bank = Harga Beli + (Harga beli * % * Waktu)  Gharar = 150000000 + (150jt* 10%* 2 th) = 180000000 2. Harga Jual Bank = Harga Beli Bank + (waktu * Cost Recovery) + Keuntungan Cost Recovery = (Pemby MRB/Estimasi Tot Pemby) x Estimasi Biaya Ops 1 Tahun Mark Up/Profit Margin = Persentase x Pembiayaan Cost Recovery + keuntungan Margin dalam % = ----------------------------------------- x 100% Harga Barang di Toko
  • 146.
    Menentukan Harga Jual Datapembiayaan Estimasi Tot Pembiayaan = 5 milyar Required Profit Rate = 10% (Pricing) Estimasi biaya operasi 1 th = 200.000.000 Masa pembiayaan = 2 tahun Harga Pokok Mobil = 150.000.000 Uang Muka = 30.000.000 Kekurangan Bank = 120.000.000 Cost Recovery = 120 jt/5 mil x 200 jt = 4.800.000 Profit Margin = 10% x 120 jt = 12.000.000 Harga jual = 120 juta + (1 x 4.800.000) + 12 jt = 136.800.000 Jika menggunakan waktu 2 tahun, maka: Harga jual = 120 juta + (2 x 4.800.000) + 12 jt = 141.600.000
  • 147.
    Menentukan Profit Margin Cost Recovery + keuntungan Margin dalam % = -------------------------------- x 100% Harga Beli Barang di Dealer 4.800.000 + 12.000.000 Margin dalam % = ---------------------------------- x 100% 150.000.000 = 11,2% Margin per bulan= 11,2%/12 = 0,933
  • 148.
    Menentukan Harga Jual 1.Harga Jual Bank = Harga Beli + (Harga beli * % * Waktu)  Gharar = 150000000 + (150jt* 10%* 2 th) = 180000000 2. Harga Jual Bank = Harga Beli Bank + (waktu * Cost Recovery) + Keuntungan Cost Recovery = (Pemby MRB/Estimasi Tot Pemby) x Estimasi Biaya Ops 1 Tahun Mark Up/Profit Margin = Persentase x Pembiayaan Cost Recovery + keuntungan Margin dalam % = ----------------------------------------- x 100% Harga Barang di Toko
  • 149.
    Menentukan Harga Jual Datapembiayaan Estimasi Tot Pembiayaan = 5 milyar Required Profit Rate = 10% (Pricing) Estimasi biaya operasi 1 th = 200.000.000 Masa pembiayaan = 2 tahun Harga Pokok Mobil = 150.000.000 Uang Muka = 30.000.000 Kekurangan Bank = 120.000.000 Cost Recovery = 120 jt/5 mil x 200 jt = 4.800.000 Profit Margin = 10% x 120 jt = 12.000.000 Harga jual = 120 juta + (1 x 4.800.000) + 12 jt = 136.800.000 Jika menggunakan waktu 2 tahun, maka: Harga jual = 120 juta + (2 x 4.800.000) + 12 jt = 141.600.000
  • 150.
    Menentukan Profit Margin Cost Recovery + keuntungan Margin dalam % = -------------------------------- x 100% Harga Beli Barang di Dealer 4.800.000 + 12.000.000 Margin dalam % = ---------------------------------- x 100% 150.000.000 = 11,2% Margin per bulan= 11,2%/12 = 0,933
  • 151.
    MANAJEMEN DANA DANMODAL BANK SYARIAH
  • 152.
    SUMBER DANA BANKSYARI’AH MODAL BANK SYARI’AH TITIPAN WADI’AH INVESTASI MUDHARABAH INVESTASI KHUSUS ( MUDHARABAH MUQAYYADAH)
  • 153.
    SISTEM & MEKANISMEPENGGUNAAN DANA DI BANK SYARI’AH • Tujuan pengalokasian dana di bank syari’ah: – Mencapai tingkat profitabilitas yang cukup dan tingkat risiko yang rendah – Mempertahankan kepercayaan masyarakat dengan menjaga agar posisi likuiditas tetap aman • Alokasi penggunaan dana dibagi dalam: – Aktiva yang menghasilkan (Earning Assets) – Aktiva yang tidak menghasilkan (Non Earning Assets)
  • 154.
    SISTEM & MEKANISMEPENGGUNAAN DANA DI BANK SYARI’AH (Cont’d …) • Earning Asset, meliputi: – Pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (Mudharabah) – Pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan (Musyarakah) – Pembiayaan berdasarkan prinsip jual beli (al-Bai’u) – Pembiayaan berdasarkan prinsip sewa (Ijarah & Ijarah Muntahia Bittamalik) – Surat berharga syari’ah dan investasi lainnya • Non Earning Assets, meliputi: – Aktiva tunai (cash assets) – Pinjaman (Qard) – Penanaman dalam aktiva tetap
  • 155.
    SISTEM & MEKANISMEPENGGUNAAN DANA DI BANK SYARI’AH (Cont’d …) • Pendekatan penggunaan dana di bank syari’ah – Pusat Pengumpulan Dana (Pool of Funds) – Alokasi Aktiva (Assets Allocation Approach) • Sumber dan alokasi pendapatan di bank syari’ah – Sumber Pendapatan • Bagi hasil atas kontrak mudharabah dan musyarakah • Keuntungan atas kontrak jual beli (al-bai’u) • Hasil sewa atas kontrak ijarah dan ijarah muntahia bittamlik • Fee dan biaya administrasi atas jasa-jasa lainnya – Pembagian keuntungan , dapat dilakukan: • Revenue sharing • Profit sharing
  • 156.
    PENGGUNAAN DANA POOLOF FUND APPROACH Sumber Dana Penggunaan Dana PRIMARY RESERVE WADIAH SECONDARY RESERVE QARD DANA MUSYARAKAH MUDHARABAH POOL MUDHARABAH MUTLAQAH MURABAHAH BAI AS-SALAM MUSYARAKAH BAI ISTISHNA’ IJARAH/IMBT AKTIVA TETAP MUDHARABAH SPECIAL PROJECT MUQAYYADAH
  • 157.
    PENGGUNAAN DANA ASSETALLOCATION APPROACH Sumber Dana Penggunaan Dana PRIMARY RESERVE WADIAH SECONDARY RESERVE QARD MUDHARABAH MURABAHAH MUTLAQAH BAI AS-SALAM BAI ISTISHNA’ MUDHARABAH IJARAH MUQAYYADAH MUDHARABAH MUSYARAKAH MUSYARAKAH AKTIVA TETAP
  • 158.
    SOURCES AND APPLICATIONOF FUNDS AND PROFIT DISTRIBUTION PAYMENT OF SOURCES OF APPLICATION POOL OF PROFIT PROFIT TO FUNDS OF FUNDS PROFIT DISTRIBUTION DEPOSITORS Current Statutory Accounts Reserve Customers’ Pay to Customers Deposits By on Maturity based Savings Liquidity Type on current monthly Accounts Requirement rates of profit Customers’ Financing Deposit General Investment Trade Less Accounts Financing Operating Investment Expenses Bank Profit Pool of fund before Zakat & Shareholders’ Managed by Shareholders Bank BANK Taxes fund ’ funds Treasury Liquidity Special Special Requirement Investment Investment Accounts Special Pay to Accounts Statutory Customers’ Customers on Reserve Deposits Maturity
  • 159.
    MANAJEMEN MODAL BANKSYARI’AH • Modal merupakan aspek penting dalam pendirian bank syari’ah • Modal = sesuatu yang mewakili kepentingan pemilik dalam suatu perusahaan • Fungsi modal – Penyangga untuk menyerap kerugian operasional dan kerugian lainnya; – Dasar menetapan batas minimum pemberian pembiayaan (BMPP) – Dasar pertimbangan bagi para partisipasi pasar untuk mengevaluasi tingkat kemampuan bank secara relatif untuk menghasilkan keuntungan
  • 160.
    MANAJEMEN MODAL BANKSYARI’AH • Sumber modal: – Modal inti (core capital) • Saham • Cadangan • Laba ditahan – Kuasi ekuitas • Dana-dana yang tercatat dalam rekening bagi hasil – Fungsi Modal inti penyangga dan penyerap kerugian bank dan melindungi kepentingan para pemegang rekening wadi’ah atau qard – Fungsi Kuasi Equitas  penyangga kerugian akibat dana rekening mudarabah
  • 161.
    Kecukupan Modal BankSyari’ah • Kecukupan Modal Bank Syari’ah merupakan indikator sehat-tidaknya bank syari’ah • Kecukupan modal diukur: – Membandingkan modal dengan dana pihak ketiga, dihitung dengan: • Modal & Cadangan/Giro+Tabungan+Deposito = 10% – Membandingkan modal dengan aktiva berisiko • Kesepakatan BIS (Bank for International Settlements), dihitung dari: Modal/Aktiva Berisiko = 8% • Ketentuan perhitungan CAR sebagai aturan main dalam kompetisi yang fair di pasar keuangan global
  • 162.
    Aktiva Tertimbang MenurutRisiko (ATMR) • ATMR dihitung dengan pertimbangan aktiva bank syari’ah: – Aktiva yang dibiayai dengan modal sendiri dan/atau kewajiban (wadi’ah & qard) – Aktiva yang didanai oleh rekening bagi hasil: mudharabah mutlaqah maupun muqayyadah • Pendanaannya: – Aktiva yang dibiayai dengan modal sendiri dan/atau kewajiban (wadi’ah & qard)  modal sendiri – Aktiva yang didanai oleh rekening bagi hasil: mudharabah mutlaqah maupun muqayyadah  rekening bagi hasi
  • 163.
    KualitasAktiva Produktif • Keunikanbank syari’ah, karena mekanisme: – Jual beli – Dana untuk investasi • Aktiva Produktif Bank Syari’ah: – Piutang Penjualan Murabahah dan Ijarah – Investasi, pada: • Musyarakah • Mudharabah • Salam • Istishna’ • Persediaan • Aktiva yang disewakan
  • 164.
  • 165.
    PENGERTIAN PEMBIAYAAN • Pembiayaanadalah penyediaan dana atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berupa: – transaksi bagi hasil dalam bentuk mudharabah dan musyarakah; – transaksi sewa-menyewa dalam bentuk ijarah atau sewa beli dalam bentuk ijarah muntahiya bittamlik; – transaksi jual beli dalam bentuk piutang murabahah, salam, dan istishna’; – transaksi pinjam meminjam dalam bentuk piutang qardh; dan – transaksi sewa-menyewa jasa dalam bentuk ijarah untuk transaksi multijasa berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara Bank Syariah dan/atau UUS dan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai dan/atau diberi fasilitas dana untuk mengembalikan dana tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan ujrah, tanpa imbalan, atau bagi hasil
  • 166.
    PERANAN PEMBIAYAAN DLMSISTEM PERBANKAN SYARIAH • Fungsi pembiayaan sebagai “penyumbang” pendapatan terbesar bagi bank syariah. • Besar-kecilnya pendapatan dari pembiayaan akan menentukan besar-kecilnya bagi hasil untuk nasabah dana. • Tingkat kesehatan pembiayaan (NPF) ikut mempengaruhi pencapaian laba bank. • FDR (Financing to Deposit Ratio) Bank Syariah > LDR (Loan to Deposit Ratio) Bank Konvensional.
  • 167.
    PROSES PEMBIAYAAN Proses Pembiayaan inisiasi dokumentasi monitoring solisitasi Pre-signing Regular evaluasi Pre-disbursement Restrukturisasi approval
  • 168.
    INISIASI • Adalah proses awal menetapkan kriteria nasabah pembiayaan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan Bank Muamalat, kemudian melakukan evaluasi, serta memberikan keputusan hasil evaluasi. • Proses inisiasi terdiri dari 3 hal 1. Solisitasi 2. Evaluasi 3. Approval
  • 169.
    SOLISITASI • Adalah proses mencari nasabah sesuai kriteria yang telah ditetapkan Bank Muamalat • Tahapan solisitasi : 1. Penetapan target market, misal sektor industri 2. Penetapan sektor bisnis, misal industri bidang semen. 3. Penetapan risk acceptance assets criteria (RAAC), misal resiko dibidang semen beserta turunannya. 4. Penetapan nasabah yang dibiayai, misal PT. Semen Gresik, Semen Padang.
  • 170.
    EVALUASI 1. Kunjungan kenasabah, dengan laporan kunjungan nasabah (call report) : Tujuan Hasil Kunjungan Rencana Tindak lanjut. 2. Pengumpulan data-data : Surat permohonan nasabah Data legalitas Data Keuangan nasabah Data Jaminan Proposal proyek yang dibiayai Proyeksi cashflow proyek.
  • 171.
    EVALUASI 3. Data dimasukkan ke dalam financing file : Persetujuan Keterangan Ringkas Nasabah Kolektibilitas Laporan kunjungan Permintaan informasi Korespondensi intern Penyidikan Korespondensi extern Penilaian jaminan Permanen 3. Tahapan evaluasi : Evaluasi kelayakan usaha yang akan dibiayai. Evaluasi dokumentasi legalitas, taksasi jaminan, checking (BI,Trade, Personal)
  • 172.
    EVALUASI 6. Evaluasi data disajikan kedalam USULAN PEMBIAYAAN (UP), dgn outline sbb : Tujuan Latarbelakang Nasabah (legalitas, kepemilikan, kepengurusan, track record, dll). Hubungan perbankan nasabah Usaha Nasabah (sarana, proses produksi, supplier, konsumen, industri nasabah). Deskripsi Proyek yang dibiayai Analisa Cashflow, dan penentuan plafond pembiayaan.
  • 173.
  • 174.
    APPROVAL A/M mempresentasikan UPdi depan komite pembiayaan (minimal 3 orang, yg salah satunya mempunyai limit approval). Keputusan Komite Pembiayaan : DITOLAK, seluruh dokumen nasabah dikembalikan disertai surat penolakan DISETUJUI, A/M membuat Offering letter (OL)/surat persetujuan prinsip pembiayaan yg ditanda tangani oleh Direksi/Pemimpin Cabang/Kepala Divisi OL adalah dokumentasi legal berisi komitmen bank utk membiayai usaha nasabah.
  • 175.
    DOKUMENTASI 1. Pre-sign Documentation OFFERING LETTER Akad Pembiayaan Akad dan dokumen Jaminan Dokumen Pendukung : kontrak kerja, asuransi, dll 1. Pre-disbursement Documentation Surat permohonan realisasi Pembiayaan. (SPRP) Tanda Terima Barang Surat perintah transfer dana Dokumen pendukung lainnya yang disyaratkan dalam OL.
  • 176.
    MONITORING 1. REGULAR MONITORING Monitoring Aktif, yaitu mengunjungi nasabah secara reguler dan memberikan laporan kunjungan nasabah/ call report kepada komite pembiayaan/ supervisor A/M Monitoring pasif, yaitu memonitoring pembayaran kewajiban nasabah kepada bank setiap akhir bulan. 1. Restrukturisasi Pembiayaan Restrukturisasi, Rekondisi, Reschedule. Penjualan Jaminan (sukarela atau litigasi)
  • 177.
  • 178.
    ANALISIS KELAYAKAN PEMBIAYAAN PEMBIAYAAN YANG DIHINDARI : 1. TIDAK SESUAI SYARI’AH 2. BERSIFAT GHARAR (SPEKULASI) 3. TANPA INFORMASI KEUANGAN 4. BIDANG YANG TIDAK DIKUASAI 5. NASABAH BERMASALAH (BLACK LIST) 6. TIDAK MEMADAI (JAHALAH)
  • 179.
    1. CHARACTER (KARAKTER) 2. CONDITION (KONDISI UMUM) Prinsip ini 3. CAPABILITY (KEMAMPUAN) secara umum 4. CAPITAL (MODAL) masih digunakan 5. COLLATERAL (JAMINAN) oleh Perbankan 1. PEOPLE (KARAKTER) Prinsip lain 2. PURPOSE (TUJUAN) mulai diterapkan 3. PROSPECT (PROSPEK BISNIS) oleh Perbankan 4. PAYMENT (KEMAMPUAN MEMBAYAR) 1. SHIDIK (BENAR/JUJUR) • AMANAH (DIPERCAYA/TRANSPARAN) Prinsip tambahan yang • FATHONAH (PANDAI) Diterapkan oleh • TABLIGH (KOMUNIKASI) bank syariah
  • 180.
    1. CHARACTER (KARAKTER) “Tabiatdan kemauan si pemohon pembiayaan untuk memenuhi kewajiban-keawajiban yang telah dijanjikan” 2. CONDITION (KONDISI UMUM) “Keadaan umum bisnis yang diajukan si pemohon pembiayaan untuk dibiayai bank” 3. CAPABILITY (KEMAMPUAN) “Kesanggupan si pemohon pembiayaan untuk mengembalikan Pembiayaan dan kewajiban lainnya” 4. CAPITAL (MODAL) “Kondisi permodalan usaha si pemohon pembiayaan, yang akan menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan besar pembiayaan yang dapat diberikan” 5. COLLATERAL (JAMINAN) “Jaminan berupa cash, fixed asset atau bentuk lainnya yang dapat diberikan oleh si pemohon pembiayaan untuk menjamin pembiayaan yang diberikan oleh bank”
  • 181.
    I. ANALISA KARAKTER(Character) Jujur nggak ya...??. 1. BI Checking “Pengecekan melalui BI mengenai kondisi pembiayaan yang sedang diterima melalui bank lain” 2. Bank Checking “Pengecekan ke bank lain dimana si pemohon mempunyai rekening maupun pembiayaan” 3. Trade Checking “Pengecekan kepada rekanan bisnis si pemohon pembiayaan mengenai hubungannya dengan rekanan terutama terhadap ketepatan pemenuhan kewajiban” 4. Personal Checking “Pengecekan informasi kepada saudara, kawan atau rekanan bisnis si pemohon pembiayaan mengenai karakternya termasuk moralitasnya”
  • 182.
    II. ANALISA KONDISIMAKRO & INTERNAL BANK (Condition) Lihat nih... 1. Penyesuaian dengan target market bank “Bisnis yang akan dibiayai apakah masuk ke dalam target market yang sudah ditetapkan atau tidak” 2. Pengecekan dengan negative list business “Umumnya bank mempunyai daftar bisnis yang masuk daftar hitam, baik karena kondisi umum ataupun kebijakan internal bank” 3. Penggunaan data eksternal mengenai prospek bisnis “Bank dapat menggunakan data eksternal, misalnya data statistik atau data bisnis untuk mengetahui kondisi umum terhadap sektor bisnis tertentu” 4. Meminimalisir pemusatan resiko “Umumnya bank meminimalisir pemusatan resiko dengan memberikan kredit yang tidak terpusat pada sektor bisnis tertentu
  • 183.
    III. ANALISA KEMAMPUANUSAHA (Capability) Oke deh pokoknya... 1. Pengalaman usaha “Bank akan menilai pengalaman usaha si pemohon pembiayaan baik mengenai lama pengalaman dan hasil yang dicapai (melalui analisa keuangan yg akan dibahas lebih lanjut) 2. Kemampuan menyajikan laporan/dokumentasi usaha “Semakian tertib administrasi dokumentasi usaha, maka indikasi bisnis yang dikelola semakin baik 3. Kemampuan memberikan keterangan bisnisnya yang wajar “Pelaku bisnis yang kompeten akan mampu memberikan keterangan mengenai bisnis yang dikelola secara wajar 4. Kemampuan membuat perencanaan bisnis “Hal ini dapat dilihat dari cara penyajian proposal pembiayaan atau penyampainan keterangan mengenai rencana bisnisnya”
  • 184.
    IV. ANALISA PERMODALAN(Capital) 1. Melakukan analisa keuangan “Analisa keuangan dilakukan untuk melihat struktur permodalan, alokasi modal Modal saya dengkul, dan kemampuan permodalan untuk maklum penjahit... mem - back up – pembiayaan yang diberikan” V. ANALISA JAMINAN (Collateral) Jaminan saya.. Bis tingkat... 1. Melakukan penelitian aspek legal jaminan “untuk mengetahui status hukum sebuah jaminan” 2. Melakukan penelitian aspek ekonomis & nilai likuidasi jaminan “Untuk mengetahui nilai pasar & nilai likuidasi jaminan” 3. Memilih jenis jaminan “Asset yang dapat dijaminkan a.l. uang tunai, logam mulia, surat berharga, fixed asset, kendaraan, persediaan barang, jaminan asuransi pembiayaan, LC
  • 185.
  • 187.
    Meliputi Kegiatan : •Kunjungan Ketempat Nasabah, dengan berbincang-bincang dgn nasabah shg mengetahui apa yang dibutuhkan nasabah.
  • 188.
    Yaitu suatu kegiatan: Mengumpulkan data-data dari nasabah yang meliputi : # Data Keuangan # Data Legalitas # Data Jaminan # Data Pendukung lainnya
  • 189.
    Analisa Analisa Yuridis Jaminan (1) (2) Analisa Analisa Keuangan Resiko (3) (5) Analisa Pasar & Pesaing (4)
  • 190.
    -Analisa Yuridis -Analisa Keuangan -AnalisaJaminan -Laporan Neraca Spreadsheet -Laporan Rugi Laba Ratio-ratio -Likuiditas Perhitungan Cashflow -Solvabilitas Perhitungan IRR -Rentabilitas
  • 191.
    PROSES ANALISIS ANALISIS KUALITATIF: • ASPEK SYARI’AH • PROFIL USAHA • HUBUNGAN PERBANKAN • ASPEK MANAJEMEN • ASPEK PEMASARAN • ASPEK PENGADAAN BARANG • ASPEK TEKNIS DAN PRODUKSI • ANALISA PROYEKSI USAHA • ASPEK RISIKO • ASPEK LEGALITAS
  • 192.
    ANALISIS KUANTITATIF : a.PROFITABILITAS USAHA (Profit Margin, ROI, ROE) b. STRUKTUR PENDANAAN (LEVERAGE) c. LIKUIDITAS KEUANGAN JK PENDEK (Current Ratio, Quick Ratio) d. EFISIENSI PENGELOLAAN HARTA (Days Receivable, Days Inventory, Days Payable) e. ANALISA LAPORAN KEUANGAN f. CASH FLOW (ARUS KAS) g. ACCOUNT PROFITABILITY RATIO (APR) h. ANALISA KEBUTUHAN DANA
  • 193.
    • Mengkaji/membandingkan kelengkapan dokumen dengan peraturan yang berlaku. • Melakukan Analisa siapa yang berwenang dan bertindak atas nama Perusahaan (Badan Hukum/Badan Usaha)
  • 194.
    • Mengkaji danmenganalisa apakah jaminan yang akan diberikan ke Bank layak secara hukum dan memberikan nilai sebagai pedoman Bank. • Menganalisa apakah jaminan yg akan disimpan Bank mempunyai kekuatan hukum sebagai jaminan
  • 195.
    • Menganalisa danmembandingkan kondisi keuangan antara tahun berjalan dengan tahun sebelumnya. • Menganlisa kemampuan pembayaran angsuran berdasarkan pendapatan yg diperoleh.
  • 196.
    •Tujuan Pembiayaan •Latar BelakangNasabah •Kondisi Usaha Nasabah •Analisa Keuangan •Permasalahan •Analisa Pengembalian Pembiayaan •Analisa Agunan •Analisa Resiko •Kesimpulan •Rekomendasi
  • 197.
    Analisa Analisa Keuangan Yuridis & Cashflow Analisa Anlisa Resiko Jaminan Analisa Pasar
  • 198.
    Merupakan persetujuan prinsipyang pada dasarnya permohonan pembiayaan dari nasabah disetujui oleh pihak Bank, yang meliputi : # Jenis Fasilitas # Jangka Waktu # Kegunaan # Harga Jual & Beli # Jaminan
  • 199.
    Adalah perjanjian antarapihak nasabah dengan pihak Bank biasanya dilakukan dihadapan Notaris. Isi Akad bersumber dari isi Offering Letter CONTOH : “Hai orang-orang beriman penuhilah akad Perjanjian itu (Surat Al-Maidah ayat 1) Perjanjiian Pembiayaan Murabahah Nomor :………...
  • 200.
    Dropping pembiayaan dilakukansetelah nasabah melengkapi semua persyaratan yang tertuang di Offering Letter (OL)
  • 201.
    Adapun dokumen yangharus dilengkapin sebelum dilakukan dropping, adalah : 1. Surat Permohonan Realisasi Pembiayaan (SPRP) 2. Tanda terima barang (TTB) 3. Surat Sanggup 4. Dokumen Pendukung Lainnya.
  • 202.
    Memantau Pesaing Tanggal & Memantau Sistem Kebutuhan angsuran Monitoring Pembiayaan Jatuh Menambah Tempo Fasilitas
  • 203.
    PEMBIAYAAN BERMASALAH PENYEBAB & CARA PENANGGULANGANNYA
  • 204.
    PEMBIAYAAN BERMASALAH Basic Approach Tidak mungkin terjadi suatu pembiayaan turun mutunya secara tiba - tiba, akan tetapi selalu memberikan “ WARNING SIGN “ atau faktor -faktor penyebab terlebih dahulu dalam perjalanan pembiayaan tersebut.
  • 205.
    I. PENGERTIAN Pembiayaan Bermasalahadalah “ Suatu kondisi Pembiayaan, dimana ada suatu penyimpangan utama dalam pembayaran kembali pembiayaan yang menyebabkan kelambatan dalam pengembalian , atau diperlukan tindakan yuridis dalam pengembalian atau kemungkinan potensial loss “ . Atau dengan kata lain, pembiayaan bermasalah adalah pembiayaan yang berada pada Collectibility : Dalam Perhatian Khusus, Kurang Lancar, Diragukan dan Macet.
  • 206.
    II. FAKTOR PENYEBABPEMBIAYAAN BERMASALAH Cuplikan Menurut Para Ahli Robert H.Behrens,Commercial Problem Loan Bankers Publishing Company,Boston Page 46 1. ADVERSITY Perubahan dari siklus usaha ( Business Cycle ) diluar kontrol BANK dan Nasabah, seperti : Bencana Alam,sakit dan kematian 2. MISMANAGEMENT Ketidakmampuan Nasabah mengelola kegiatan usahanya dan menjaga kondisi keuangan sesuai dengan cara-cara kegiatan usaha yang sehat dari hari-hari . 3. FRAUD Ketidakjujuran debitur dalam memberikan informasi dan laporan -laporannya tentang kegiatan usahanya, posisi keuangan ,hutang,piutang,persediaan dll
  • 207.
    Moh.Tjoekam,LPPI 1. MANAJEMEN : Tidak Kompeten, Keterbatasan pengetahuan atas usaha, Waktu yang diberikan tidak cukup, Penyertaan pada perusahaan lain, Sering terjadi wan prestasi Serakah / tamak 2. INDUSTRY : Mudah dimasuki oleh pengusaha lain, Muncul pesaing baru, Raw Material terbatas, Tehnologi ketinggalan, Market Share menurun 3. PRODUK : Permintaan menurun, Mutu tidak stabil, Pelanggan Utama menurun, Tidak dapat bersaing baik kwalitas/kwantitas 4. EKONOMI : Lesu kehidupan perekonomian, Pasar lokal/International turun, Kebijakan uang ketat, Pertumbuhan ekonomi rendah
  • 208.
    III. GEJALA DINI PEMBIAYAAN BERMASALAH A. KELAINAN MANAGEMENT o Perubahan Kebiasaan Pemegang Peran di Perusahaan o Persoalan Rumah Tangga Pemegang Peran di Perusahaan o Tidak Lagi Kooperatif dengan Bank o Meninggalnya Pemegang Kunci Perusahaan o Perubahan Dalam Manajemen, Kepemilikan o Masalah Buruh / Karyawan o Kontinuitas Manajemen Tidak Jelas o One-Man Show o Ketidakmampuan Memenuhi Kewajiban Komitmen Pribadi o Lamban Bereaksi Terhadap Kelesuan Pasar atau Ekonomi o Bersikeras Mengambil Resiko Business yang Kurang Wajar o Tidak Mampu Menyusun Rencana Usaha o Kegiatan Produk-Produk yang Menguntungkan Terhenti o Pengawasan & Penyusunan Laporan keuangan Lemah o Perubahan Kegiatan Usaha o Lain-Lain
  • 209.
    B. HUBUNGAN PERBANKAN& KELAINAN KEGIATAN OPERASIONIL DEBITUR • Evergreen Loans • Penurunan Kontinyu Saldo di Bank • Ketergantungan yang Berat Pada Hutang Jangka Pendek • Peningkatan Jumlah & Frekwensi Permintaan Kredit • Perubahan Timing untuk Seasonal Loans • Supplier (Baru) Minta Informasi untuk Pemberian Kredit Pada Debitur • Suppliers (Existing) Minta Informasi untuk Peningkatan • Pemberian Kredit Pada Debitur • Penerbitan Cek-Cek Kosong (Terhadap Tagihan) • Pengadaan Persediaan dengan Unsur Spekulatip • Kehilangan Langganan-Langganan Utama • Fasilitas Produksi Tidak Terawat Baik • Penangguhan Penggantian Fasilitas Produksi yang Sudah Ketinggalan Zaman • Kehilangan Supply Bahan Baku • Produk-Produk Utama, Hak Distribusi, DLL • Kenaikan Menyolok Volume Order yang Dapat Mengakibatkan Ketidakseimbangan dengan Kemampuan Produksi
  • 210.
    C. KELAINAN POSISIKEUANGAN  Penyerahan Laporan Keuangan Tidak Reguler  Piutang Dagang membengkak  Tagihan Makin Lamban  Persediaan Membengkak  Perputaran Persediaan Makin Lamban  Penurunan Aktiva Lancar Secara % Terhadap Total Aktiva (Negative Working Capital)  Peningkatan Passiva Lancar yang Tidak Proporsionil  Peningkatan Leverage  Peningkatan Mencolok Hutang Jangka Panjang  Perubahan Praktek-Praktek Akuntansi  Penurunan Omzet Konsistent  Peningkatan Omzet Sangat Cepat  Omzet Naik, Untung Turun  Peningkatan Mencolok Biaya-Biaya  Kenaikan Tingkat Piutang Macet  Meningkatnya Total Aktiva Terhadap Omzet/Laba  Rugi Operasional
  • 211.
    IV. DAMPAK PEMBIAYAANBERMASALAH 1. Rentabilitas & Solvabilitas a. Collectibility dan Perhitungan Bad Debt menjadi naik b. PPAP semakin meningkat % Tase Perhitungan Bed Debt & PPAP ( Sesuai SE BI ) % Tase Perhitungan % Tase Perhitungan Collectibity Bad Debt PPAP 1 0 % 1 % 2 25 % 5 % 3 50 % 15 % 4 75 % 50 % 5 100 % 100 % c. Kerugian semakin besar atau laba menurun. d. Modal semakin turun
  • 212.
    e. Pelampauan Pembiayaan BMPK menjadi semakin bertambah, yang berakibat kepada : - Adanya kewajiban membuat Action Plan sekaligus melaporkan Perkembangan ke BI - Keterlambatan Pelaporan ke BI, Bank dikenakan denda Rp 1 Juta. 23 f. CAR dan TINGKAT KESEHATAN PEMBIAYAAN semakin turun dan memburuk g. Bank dapat dilikuidasi / TAKE OVER 2. Peningkatan Biaya - Pengacara - Personalia 3. Lainnya - Hilangnya kesempatan Usaha ( tidak bisa melakukan Expansi ) - Reputasi Bank Semakin buruk yang berakibat - Berkurangnya/ pindahnya Investor dana - Investor lain tidak berminat menanamkan modalnya 4. Aspek Moral Bank Telah BERTINDAK ZALIM kepada Investor dana karena tidak prudentialnya Aparat Bank didalam menyalurkan pembiayaan, sehingga Bank tidak memberikan bagi hasil yang baik kepada Investor Dana.
  • 213.
    V.PENANGANAN PEMBIAYAAN BERMASALAH Lakukan evaluasi ulang pembiayaan yang menyangkut :  Aspek Management  Aspek Pemasaran  Aspek Produksi  Aspek Keuangan  Aspek Yuridis  Aspek Jaminan  Aspek Nilai Jaminan (Retaksasi) Khusus untuk aspek Yuridis dan Jaminan mintakan Opini Legal, untuk penyempurnaan kelemahan-kelemahan yang mungkin ada dalam pengikatan pembiayaan maupun jaminan, agar tidak terdapat peluang bagi nasabah dan pihak ketiga untuk melakukan usaha-usaha yang dapat menimbulkan kerugian bagi bank.
  • 214.
    CARA PENYELESAIAN PEMBIAYAAN BERMASALAH PEMBIAYAAN BERMASALAH •Aspek Management •Aspek Pemasaran Evaluasi Ulang Pembiayaan •Aspek Produksi Oleh Account Manager •Aspek Keuangan •Aspek Yuridis •Aspek Jaminan REVITALISASI PENYELESAIAN COLLECTION WRITE OFF •Restructuring MELALUI AGENT FINAL •Rescheduling JAMINAN •Reconditioning •Bantuan Management Non Litigasi Write Off Litigasi Sementara Off-Set BASYARNAS BASYARNAS Pengadilan Pengadilan Gugat Eksekusi Pidana Kepailitan Lelang Cash/HEJP
  • 215.
  • 216.
    PENDAHULUAN • Gambaran kinerjasuatu bank baik umum maupun syariah biasanya tercermin dalam laporan keuangannya. • Laporan keuangan bertujuan untuk menyediakan informasi yang bermanfaat bagi pihak – pihak yang berkepentingan dalam pengambilan keputusan ekonomi
  • 217.
    Pihak Pengguna LKBS • Pemilik dana/ shahibul maal • Pihak-pihak yang memanfaatkan dan menerima penyaluran dana • Pembayar zakat, infak dan shadaqah • Pemegang saham • Otoritas pengawasan • Bank Indonesia • Pemerintah • Lembaga penjamin simpanan • Masyarakat
  • 218.
    Karakteristik Bank Syariah •Kegiatan bank syariah, antara lain, sebagai: – manajer investasi; – investor; – penyedia jasa keuangan dan lalu lintas pembayaran; dan – pengemban fungsi sosial. • Pemakai dan Kebutuhan Informasi – sama seperti dinyatakan KDPPLK umum: investor; karyawan; kreditur; pemasok; pelanggan; pemerintah; masyarakat ditambah, antara lain: – pemilik dana investasi; – pembayar zakat, infaq dan shadaqah; – dewan pengawas syariah.
  • 219.
    Karakteristik Bank Syariah • PENGHIMPUNAN DANA • PENYALURAN DANA – Simpanan Masyarakat – Investasi (pembiayaan) • musyarakah • wadiah • mudharabah • mudharabah – Jual beli – Prinsip lainnya sesuai • murabahah syariah • salam • istishna – Sewa-menyewa • ijarah • ijarah muntahiyyah bittamlik – prinsip lainnya sesuai syariah July 4th 2003
  • 220.
    Laporan Keuangan BankSyariah • Neraca Bank Syariah: • Laporan Laba Rugi Investor • Laporan Perubahan Ekuitas • Laporan Arus Kas Manajer Investasi • Laporan Perubahan Investasi Bank Syariah: Terikat Agen Investasi Laporan Sumber dan Penggunaan Dana ZIS Bank Syariah: Pengemban Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Qardhul Hasan Fungsi Sosial Catatan atas Laporan Keuangan
  • 221.
    Tujuan Akuntansi KeuanganBank Syariah • menentukan hak dan kewajiban pihak terkait, sesuai prinsip syariah: kejujuran, kebajikan, dan kepatuhan terhadap nilai-nilai bisnis yang Islami; • menyediakan informasi keuangan bagi para pemakai laporan dalam pengambilan keputusan; dan • meningkatkan kepatuhan terhadap prinsip syariah dalam semua transaksi dan kegiatan usaha.
  • 222.
    Tujuan Laporan KeuanganBank Syariah - menyediakan informasi keuangan yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu entitas yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi; - menunjukan apa yang telah dilakukan oleh manajemen (stewardship), atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang telah dipercayakan kepadanya;
  • 223.
    Tujuan Laporan KeuanganBank Syariah Khusus bank syariah, perlu ditambah poin tujuan sbb: - informasi kepatuhan bank terhadap prinsip syariah; - informasi pendapatan dan beban tidak sesuai prinsip syariah dan cara memperoleh serta menggunakannya; - informasi untuk mengevaluasi pemenuhan bank terhadap: • tanggung jawab amanah mengamankan dana; • menginvestasikan pada tingkat keuntungan rasional; serta • informasi tingkat keuntungan investasi yang diperoleh pemilik dan pemilik dana investasi terikat; dan - informasi pemenuhan fungsi sosial bank, termasuk pengelolaan dan penyaluran zakat.
  • 224.
    Keterbatasan –Keterbatasan Laporan Keuangan • Pengambilan keputusan ekonomi tidak dapat semata- mata didasarkan atas informasi yang terdapat dalam laporan keuangan. Hal ini disebabkan karena laporan keuangan memiliki keterbatasan, antara lain: – Bersifat historis yang menunjukkan transaksi dan peristiwa yang telah lampau. – Bersifat umum, baik dari sisi informasi maupun manfaat bagi pihak pengguna. – Bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian . Apabila terdapat beberapa kemungkinan kesimpulan yang tidak pasti mengenai penilaian suatu pos, maka lazimnya dipilih alternatif yang menghasilkan laba bersih atau nilai aktiva yang paling kecil.
  • 225.
    Keterbatasan ………. • Lebihmenekankan pada penyajian suatu peristiwa atau transaksi sesuai substansinya dan realitas ekonomi daripada bentuk hukumnya.(formalitas) • Disusun dengan menggunakan istilah-istilah teknis akuntansi dan pemakai laporan diasumsikan memahami bahasa teknis akuntansi dan sifat dari informasi yang dilaporkan. • Tidak luput dari penggunaan berbagai pertimbangan dan taksiran. • Hanya melaporkan informasi yang material. • Adanya berbagai alternatif metode akuntansi yang dapat digunakan sehingga menimbulkan variasi dalam pengukuran sumber daya ekonomis dan tingkat kesuksesan antar bank. • Informasi yang bersifat kualitatif dan fakta yang tidak dapat dikualifikasikan umumnya diabaikan
  • 226.
    Asumsi Dasar KonsepAkuntansi Bank Syariah • Dasar Akrual Pengaruh transaksi dan peristiwa lain diakui pada saat kejadian dan diungkapkan dalam catatan akuntansi serta dilaporkan dalam laporan keuangan pada periode yang bersangkutan • Kelangsungan Usaha (going concern) kelangsungan usaha entitas dipandang akan berlansung terus di masa datang, karena itu entitas dipandang tidak bermaksud atau berkeinginan melikuidasi atau mengurangi secara material skala usahanya
  • 227.
    Karakteristik Kualitatif LaporanKeuangan Kebermanfaatan dalam keputusan Relevan Terandalkan Bernilai prediktif Bernilai balikan Teruji Tepat menyimbolkan Tepat waktu Netral Keterbandingan Ketelitian Bentuk Tempat
  • 228.
    Karakterisktik Kualitatif Laporan Keuangan • Dapat dipahami  Pemakai diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai tentang aktivitas ekonomi dan bisnis, akuntansi, serta kemauan untuk mempelajari informasi dengan ketekunan yang wajar • Relevan – Bernilai prediktif – Bernilai balikan – Tepat Waktu
  • 229.
    Karakterisktik Kualitatif Laporan Keuangan • Keandalan – Teruji (reliable) – Netral – Tepat Menyimbolkan (faithfulness representation) • Dapat Diperbandingkan
  • 230.
    Karakterisktik Kualitatif Laporan Keuangan • Materialitas • Ketelitian (Prudent) • Substansi Menggungguli Bentuk (substance over form) • Kelengkapan July 4th 2003
  • 231.
    Ketentuan Umum LaporanKeuangan (LK) Bank Syariah • Tanggung jawab atas LK  Manajemen bank syariah • Komponen LK  lihat slide sebelumnya • Bahasa LK – Bahasa Indonesia – Bahasa selain Bahasa Indonesia  memuat informasi yg sama dan waktu yg sama, dan diterbitkan dalam waktu yg sama seperti LK dlm Bahasa Indonesia • Mata Uang Pelaporan – Dalam satuan rupiah – Selain satuan rupiah maka harus dijabarkan dalam satuan rupiah dengan menggunakan kurs BI
  • 232.
    Ketentuan Umum LaporanKeuangan (LK) Bank Syariah Penyajian • Laporan keuangan harus menyajikan secara wajar posisi keuangan; kinerja keuangan; perubahan ekuitas; arus kas; perubahan investasi terikat; sumber dan penggunaan dana zis; sumber dan penggunaan dana qardhul hasan disertai pengungkapan yang diharuskan sesuai dengan ketentuan yang berlaku
  • 233.
    Ketentuan Umum LaporanKeuangan (LK) Bank Syariah • Aktiva disajikan berdasarkan karakteristiknya menurut urutan likuiditas, kewajiban diurutkan menurut urutan jatuh temponya, dan investasi tidak terikat disajikan dalam unsur sendiri • Saldo transaksi sehubungan dengan kegiatan operasi normal bank disajikan dan diungkapkan secara terpisah antara pihak- pihak yang mempunyai hubungan istimewa dengan pihak-pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa
  • 234.
    Ketentuan Umum LaporanKeuangan (LK) Bank Syariah • Laporan Lab Rugi menggambarkan pendapatan dan beban menurut karakteristiknya yang dikelompokkan secara berjenjang (multiple steps) dari kegiatan utama bank dan lainnya • Catatan atas laporan keuangan harus disajikan secara sistematis dengan urutan penyajian sesuai dengan komponen utamanya
  • 235.
    Ketentuan Umum LaporanKeuangan (LK) Bank Syariah • Informasi yang diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan, antara lain, mengenai: – Gambaran umum bank syariah – Ikhtisar kebijakan akuntasi yang digunakan dalam penyusunan LK – Penjelasan atas pos-pos yang terdapat dalam setiap komponen LK – Pengungkapan hal-hal penting lainnya yang berguna untuk pengambilan keputusan
  • 236.
    Ketentuan Umum LaporanKeuangan (LK) Bank Syariah • Perubahan akuntansi wajib memperhatikan hal-hal berikut: – Perubahan estimasi akuntansi – Perubahan kebijakan akuntansi – Terdapat kesalahan mendasar • Pada setiap elemen LK harus diberi pernyataan bahwa: “catatan atas LK merupakan bagian tak terpisahkan dari LK”
  • 237.
    Rasio–Rasio Keuangan BankSyariah di Indonesia • Hingga saat ini analisis rasio keungan bank syariah masih menggunakan aturan yang berlaku di bank konvensional. • Jenis analisis rasio keuangan dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu: – Perbandingan internal. Analisis dengan membandingkan rasio periode sekarang dengan periode yang lalu dan yang akan datang untuk perusahaan yang sama. – Perbandingan esternal. Analisis dilakukan dengan membandingkan rasio perusahaan dengan perusahaan lain yang sejenis dengan rata-rata industri pada suatu titik yang sama
  • 238.
    Jenis – jenisRasio Keuangan Bank • Rasio Likuiditas, adalah ukuran kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya, meliputi : – Rasio Lancar (current ratio), adalah kemampuan bank untuk membayar utang dengan menggunakan aktiva lancar yang dimiliki. • Rasio lancar = Kas + Penempatan / Utang lancar – Rasio Cepat (quick ratio), adalah ukuran untuk mengetahui kemampuan bank dalam utang jangka pendeknya dengan aktiva lancar yang lebih likuid • Rasio cepat = Kas / Utang lancar – Rasio Pembiayaan terhadap Dana Pihak Ketiga (financiang Deposit Ratio), menunjukkan kesehatan bank dalam memberikan pembiayaan • Rasio Pembiayaan Terhadap Pihak Ketiga = Total Pembiayaan / Total DPK
  • 239.
    • Rasio Aktivitas,adalah ukuran untuk menilai tingkat efesiensi bank dalam memanfaatkan sumber dana yang dimilikinya, rasio ini meliputi : – Perputaran Aktiva Tetap, adalah kemampuan aktivitas (efesiensi) dana yang tertanam dalam keseluruhan aktiva tetap bank dalam suatu periode tertentu dengan jumlah keseluruhan aktiva. • Perputaran aktiva tetap = Aktiva tetap / Total aktiva – Perputaran Aktiva Total, adalah rasio yang menunjukkan kemampuan dana yang tertanam dalam keseluruhan aktiva berputar dalam suatu periode tertentu atau kemampuan bank dalam mengelola sumberdana dalam menghasilkan pendapatan. • Perputaran aktiva total = Pendapatan operasional / Total aktiva
  • 240.
    • Rasio Profitabilitas,adalah rasio yang menunjukkan tingkat efektivitas yang dicapai melalui usaha operasional bank, yang meliputi: – Margin laba (profit margin), adalah gambaran efesiensi suatu bank dalam menghasilkan laba. • Margin laba = Laba / Total pendapatan – Pengembalian atas aktiva (return on asset), adalah rasio yang menggarkan kemampuan bank dalam mengelola dana yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva yang menghasilkan keuntungan. • Pengembalian atas aktiva = Laba / total aktiva
  • 241.
    • Rasio Biaya,adalah menunjukkan tingkat efesiensi kinerja operasional bank. • Penentuan besarnya rasio ini dihitung dengan rumus sebagai berikut: – Rasio biaya = Biaya opersional / Pendapatan operasional