BAB II 
PEMBAHASAN 
3 
2.1 Isi Bahasan 
2.1.1 Pengertian Perawatan Payudara 
Perawatan payudara adalah perawatan yang dilakukan semasa ibu hamil usia 7-9 
bulan (Depkes, 1991). Perawatan payudara merupakan suatu tindakan untuk merawat 
payudara terutama pada masa kehamilan dan menyusui untuk memperlancar 
pengeluaran ASI. Selama kehamilan payudara harus dipersiapkan untuk fungsi uniknya 
dalam menghasilkan ASI bagi bayi neonatus segera setelah lahir. Karena payudara 
mungkin meningkat beratnya lebih dari 1 pound, BH yang dapat menyangga payudara 
dengan baik digunakan untuk perlindungan sejak kehamilan 6-8 minggu terjadi 
perubahan pada payudara berupa pembesaran payudara, terasa lebih padat, kencang, 
sakit dan tampak jelas gambaran pembuluh darah dipermukaan kulit bertambah serta 
melebar. Kelenjar-kelenjar motgomer daerah areola tampak lebih nyata dan menonjol 
(Hamilton, 2005). 
Perawatan payudara sangat penting dilakukan selama hamil sampai masa 
menyusui. Hal ini karena payudara merupakan satu-satu penghasil ASI yang merupakan 
makanan pokok bayi yang baru lahir sehingga harus dilakukan sedini mungkin (Anwar, 
2008). Perawatan payudara saat hamil bisa dilakukan dengan cara sederhana, dan 
dilakukan di rumah. 
2.1.2 Tujuan Perawatan Payudara 
 Memelihara kebersihan payudara agar terhindar dari infeksi 
 Melenturkan dan menguatkan puting susu sehingga puting tidak mudah lecet dan 
bayi mudah menyusu 
 Mengeluarkan puting susu yang masuk kedalam atau datar 
 Mempersiapkan produksi ASI
4 
Prinsip 
Dalam perawatan payudara harus diperhatikan prinsip-prinsip berikut ini: 
 Dikerjakan dengan sistematis dan teratur 
 Menjaga kebersihan sehari-hari 
 Nutrisi harus lebih baik dari sebelum hamil 
 Memakai bra yang bersih dan menopang payudara 
 Dilakukan setelah usia kehamilan lebih dari 6 bulan 
2.1.3 Manfaat Perawatan Payudara 
Manfaat perawatan payudara saat hamil diantaranya adalah: 
1. Menjaga kebersihan terutama puting susu, sebagai jalur keluarnya ASI, 
2. Mencegah berbagai penyakit, seperti infeksi dan kelainan payudara, 
3. Memperkuat puting susu agar bayi mudah untuk menyusu, 
4. Merangsang kelenjar-kelenjar air susu yang ada didalam payudara sehingga 
produksi ASI lebih banyak dan lancar, 
5. Mendeteksi apabila ada kelainan pada payudara secara dini dan melakukan 
pengobatan secepatnya, 
6. Mempersiapkan mental calon ibu untuk menyusui bayinya. 
2.1.4 Cara Merawat Payudara 
Cara Merawat Payudara 
1. Menjaga payudara tetap bersih dan kering, terutama bagian puting susu. 
2. Menggunakan BH yang menyokong payudara. 
3. Apabila puting susu lecet, oleskan kolostrum atau ASI yang keluar di sekitar 
puting setiap kali selesai menyusui. Menyusui tetap dilakukan dimulai dari 
puting susu yang tidak lecet. 
4. Apabila lecet sangat berat, dapat diistirahatkan Selama 24 jam. ASI di keluarkan 
dan diminumkan menggunakan sendok.
5 
5. Untuk menghilangkan nyeri, ibu dapat minum parasetamol 1 tablet setiap 4-6 
jam. 
6. Apabila payudara bengkak akibat pembendungan ASI maka ibu dapat 
melakukan: 
a. Pemgompresan payudara dengan menggunakan kain basah dan hangat 
selama 5 menit. 
b. Urut payudara dari arah pangkal ke putig atau gunakan sisir untuk mengurut 
payudara dengan arah “Z” menuju puting. 
c. Keluarkan ASI sebagian dari bagian depan payudara sehingga puting susu 
menjadi lunak. 
d. Susukan bayi setiap 2-3 jam. Apabila bayi tidak dapat mengisap seluruh 
ASI, sisanya keluarkan dengan tangan. 
e. Letakkan kain dingin pada payudara setelah menyusui. 
1. Masase payudara untuk pemeliharaan payudara 
Bagi sebagian ibu, aktivitas menyusui sering dihubungkan dengan keindahan 
payudara. Alasan ini yang membuat mereka enggan berlama-lama menyusui. 
Pakar ASI Dr. utami Roesli Sp.A dalam sebuah seminar ASI mengungkapkan 
bahwa sesungguhnya bukan menyusui yang mengubah bentuk payudara, tapi proses 
kehamilanlah yang menyebabkan perubahan itu. Dan bila ada keinginan untuk 
mengembalikan bentuknya seperti saat masih gadis. 
Namun, bukan berarti tidak ada cara membuat payudara agar tetap terlihat indah 
dan kencang. Apalagi setelah persalinan dan di saat menyusui. Selain terlihat indah 
perwatan payudara teratur akan memudahkan si kecil mengkonsumsi ASI. 
Pemeliharaan ini juga meransang produksi ASI dan mengurangi resiko luka saat 
menyusui. 
Berikut ini kiat masase payudara yang dapat anda praktekkan sejak hari ke-2 
usai persalinan, sebanyak 2 kali sehari. Cucilah tangan sebelum masase. Lalu 
tuangkan minyak kedua belah tangan secukupnya. Pengurutan dimulai dengan ujung 
jari, caranya :
6 
a. Sokong payudara kiri dengan tangan kiri. Lakukan gerakan kecil dengan dua 
atau tiga jari tangan kanan, mulai dari pangkal payudara dan berakhir dengan 
gerakan spiral pada daerah putting susu. 
b. Selanjutnya buatlah gerakan memutar sambil menekan dari pangkal payudara 
dan berakhir pada putting susu diseluruh bagian payudara. Lakukan gerakan 
seperti ini pada payudara kanan. 
c. Gerakan selanjutnya letakkan kedua telapak tangan di antara dua payudara. 
Urutlah dari tengah ke atas sambil mengangkat kedua payudara dan lepaskan 
keduanya perlahan. Lakukan gerakan ini kurang lebih 30 kali. Variasi lainnya 
adalah gerakan payudara kiri dengan kedua tangan, ibu jari diatas dan empat jari 
lainnya dibawah. Peras dengan lembut payudara sambil meluncurkan kedua 
tangan ke depan kearah puting susu. Lakukan hal yang sama pada payudara 
kanan.
7 
d. Lalu cobalah posisi tangan parallel. Sangga payudara dengan satu tangan, 
sedangkan tangan lain mengurut payudara dengan sisi kelingking dari arah 
pangkal payudara ke arah putting susu. Setelah itu, letakkan satu tangan di 
sebelah atas dan satu lagi di bawah payudara. Luncurkan kedua tangan secara 
bersamaan kearah putting susu dengan cara memutar tangan. Ulangi gerakan ini 
sampai semua bagian payudara terkena urutan. 
e. Semua gerakan itu bermanfaat melancarkan reflex pengeluaran ASI. Selain itu 
jug merupakan cara efektif meningkatkan volume ASI. Terakhir yang tak kalah 
penting, mencegah bendungan pada payudara. 
2. Memerah ASI 
Bagi para ibu-ibu menyusui baik yang masih bekerja ataupun yang sepenuhnya di 
rumah, ada baiknya mengetahui tentang tehnik memerah ASI. 
Alasan kenapa ASI perlu diperah adalah : 
a. Bagi ibu pekerja, memerah ASI berarti menyediakan stok ASI untuk bayi 
agar selalu mendapatkan ASI meskipun sang ibu tidak ada di 
sampingnya.
8 
b. Bagi ibu yang tidak bekerja, memerah ASI juga penting karena jika suatu 
saat ibu dalam kondisi sakit dan tidak bisa memberikan ASI langsung 
bagi banyinya, tentunya ASI eksklusif masih bisa dilakukan karena ibu 
punya stok ASI untuk bayinya. 
c. Mempertahankan suplai ASI, karena ASI dihasilkan sesuai kebutuhan 
dan psikologis ibu. Semakin sering ASI diperah, semakin banyak ASI 
yang diproduksi dan juga sebaliknya. 
d. Mencegah ASI menetes atau merembes keluar di kala ibu dan bayi 
berjauhan. 
e. Menjaga agar putting susu dan areola agar tidak kering atau lecet. 
Tiga tehnik memerah ASI adalah sebagai berikut : 
a. Manual menggunakan tangan dan jari 
Cara ini disukai karena cukup praktis dan tidak repot menyiapkan peralatan. 
Cukup menyediakan tangan yang bersih dan wadah. 
Caranya : 
1. Cuci tangan sampai bersih 
2. Pegang cangkir yang bersih untuk menampung ASI 
3. Condongkan badan ke depan dan sangga payudara dengan tangan 
4. Letakkan ibu jari pada batas areola mammae dan letakkan jari telunjuk 
pada batas areola bagian bawah sehingga berhadapan 
5. Tekan kedua jari ini kedalam kearah dinding dada tanpa menggeser letak 
kedua jari tadi 
6. Pijat daerah diantara kedua jari tadi kearah depan sehingga akan 
memeras dan mengeluarkan ASI yang berada didalam sinus lacteferus 
7. Ulangi gerakan tekan, pijat dan lepas beberapa kali 
8. Setelah pancaran ASI berkurang pindahkan posisi ibu jari dan telunjuk 
tadi dengan cara diputar pada sisi lain dari batas areola dengan kedua jari 
selalu berhadapan 
9. Lakukan hal yang sama pada setiap posisi sehingga ASI akan terperah 
dari semua bagian payudara
9 
b. Menggunakan pompa manual 
Pompa ini banyak tersedia dipasaran namun perlu dicermati bahwa ada 
beberapa pompa yang tidak dianjurkan karena cara kerjanya meremas 
sehingga dapat merusak jaringan payudara. 
Cara memeras ASI menggunakan pompa, adalah sebagai berikut : 
1. Pilih tempat yang tenang dan nyaman pada saat memerah ASI, tempat 
yang ideal seharusnya dimana ibu tidak diganggu oleh suara bel pintu 
atau telepon masuk 
2. Cuci tangan dengan air sabun sedangkan payudara dibersihkan dengan 
air 
3. Sebelum memulai pemerahan, minumlah air atau cairan lain seperti susu, 
jus, teh/kopi, sup, dan disarankan minuman hangat agar membantu 
menstimulasi payudara 
4. Saat memerah ASI, ibu harus dalam kondisi santai. Kondisi psikologis 
akan mempengaruhi keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Menurut 
penelitian, lebih dari 80% kegagalan adalah faktor ketegangan dan beban 
target seberapa banyak ASI akan dihasilkan 
5. Jika ada masalah dalam ASI jangan ragu untuk menghubungi atau 
konsultasi ke bidan atau klinik laktasi.
10 
c. Menggunakan pompa listrik 
Sebaiknya gunakan alat yang cara kerjanya mirip dengan cara menghisap 
bayi. Tidak memutar dan memeras payudara. 
2.1.5 Masalah dalam Menyusui 
a. Abses payudara (mastitis) 
Mastitis adalah peradangan pada payudara. Ada dua jenis mastitis,yaitu 
non-infective mastitis (hanya karena pembendungan ASI / milk statis ) dan 
infective mastitis (telah terinfeksi bakteri). Lecet pada puting dan trauma 
pada kulit juga dapat mengundang infeksi infeksi bakteri. Gejala yang 
ditemukan adalah payudara menjadi merah,bengkak,kadang disertai rasa 
nyeri dan panas,serta suhu tubuh meningkat. Di bagian dalam terasa ada
11 
massa padat (lump) dan dibagian luarnya,kulit menjadi merah. Kejadian ini 
terjadi pada massa nifas 1-3 minggu setelah persalinan diakibatkan oleh 
sumbatan saluran ASI yang berlanjut. 
Keadaan tersebut dapat disebabkan beberapa hal, antara lain : 
1. Kurangnya ASI yang dikeluarkan atau diisap 
2. Pangisapan yang tidak efektif 
3. Kebiasaan menekan payudara dengan jari atau karena tekanan baju 
4. Pengeluaran ASI yang kurang baik pada payudara yang 
besar,terutama pada bagian bawah payudara yang menggantung. 
Beberapa tindakan yang dapat dilakukan, antara lain : 
1. Kompres hangat/panas dan lakukan pemijatan 
2. Rangsang oksitosin dengan pemijatan punggung dan kompres 
3. Pemberian antibiotik flucloxacillin atau erythromycin selama 7-10 
hari 
4. Bila perlu, istirahat total dan konsumsi obat untuk menghilangkan rasa 
nyeri 
5. Kalau sudah terjadi abses, sebaiknya payudara yang sakit tidak boleh 
disusukan karena mungkin akan memerlukan tindakan bedah.
12 
b. Putting susu lecet 
Seorang ibu sering menghentikan proses menyusui karena 
putingnya sakit. Dalam hal ini, yang perlu dilakukan oleh ibu adalah 
mengecek bagaimana perlekatan ibu dan bayi, serta mengecek apakah 
terdapat infeksi candida (di mulut bayi). Jika gejala berikut ditemui, maka 
berikan nistatin. Biasanya, kulit akan merah, berkilat, kadang gatal, terasa 
sakit yang menetap, dan kulit bersisik ( flaky). 
Saat putting susu ibu lecet atau luka, ibu dapat melakukan beberapa 
cara, antara lain: 
a. Terus memberikan ASI pada bagian luka yang tidak begitu sakit. 
b. Mengoles putting susu dengan ASI akhir (hind milk), jangan sekali-kali 
memberikan obat lain, seperti krim, salep. 
c. Mengistirahatkan putting susu yang sakit untuk sementara waktu, 
kurang lebih 1 x 24 jam dan biasanya akan sembuh dalam waktu 
sekitar 2 x 24 jam. 
d. Selama putting susu diistirahatkan, ASI tetap dikeluarkan dengan 
tangan dan tidak dianjurkan dengan pompa karena akan nyeri. 
e. Berikan ASI kepada bayi dengan sendok 
f. Cuci payudara sekali saja dalam sehari dan jangan menggunakan 
sabun.
13 
c. Payudara bengkak 
Pada payudara bengkak akan terlihat payudara odema, terasa sakit, putting 
susu kencang, kulit mengkilat walau tidak merah, ASI tidak keluar bila 
diperiksa atau diisap, dan baadan demam setelah 24 jam. Hal ini 
dikarenakan: 
a. Produksi ASI meningkat 
b. Terlambat menyusukan dini 
c. Pelekatan kurang baik 
d. Kurang sering mengeluarkan ASI. 
Untuk merangsang reflex oksitosin, dapat dilakukan langkah-langkah berikut 
ini: 
a. Kompres panas untuk mengurangi rasa sakit 
b. Ibu harus rileks 
c. Dekatkan bayi kepada ibu agar ibu dapat memandangnya. 
d. Pijat leher dan punggung belakang (sejajar daerah payudara) 
menggunakan ibu jari dengan teknik gerakan memutar searah jarum 
jam kurang lebih selama 3 menit. 
e. Belai kedua lembut kedua payudara menggunakan minyak pelumas. 
f. Pegang putting dengan dua jari pada arah yang berlawanan kemudian 
putar putting searah jarum jam. 
g. Kompres dengan air hangat dan dingin untuk mengurangi udem.
14 
h. Pakai BH sesuai dengan ukuran dan bentuk payudara, yang dapat 
menyangga oayudara dengan baik. 
i. Bila terlalu sakit, dapat diberikan obat analgesic parasetamol 500 mg. 
d. Sindrom ASI kurang 
Tanda-tanda yang mungkin ASI kurang antara lain : 
1. Bayi tidak puas setiap kali menyusu , menyusu dengan waktu yang 
sangat lama atau terkadang lebih cepat menyusu. Dikira produksi ASI 
kurang , padahal karena bayi telah pandai menyusu. 
2. Bayi sering menangis atau menolak jika disusui 
3. Tinja bayi keras,kering, atau berwarna hijau 
4. Payudara tidak membesar selama hammil atau ASI tidak datang 
setelah bayi lahir. 
Walaupun ada tanda-tanda tersebut, tapi tetap perlu diperiksa apakah tanda-tanda 
tersebut dapat dipercaya. Tanda bahwa ASI benar-benar kurang , 
antara lain : 
1. Berat badan bayi meningkat kurang dari rata-rata 500 gram per bulan 
2. Berat badan setelah lahir dalam waktu 2 minggu belum kembali 
3. Ngompol rata-rata kurang dari 6 kali dalam 24 jam. Cairan urin 
pekat,bau,dan berwarna kuning. 
Cara mengatasinya disesuaikan dengan penyebab, terutama dicari 
berdasarkan faktor penyebab berikut ini : 
1. Faktor teknik menyusui 
Keadaan ini yang paling sering dijumpai , antara lain karena masalah 
frekuensi , pelekatan,penggunaan dot atau botol dll 
2. Faktor psikologis 
Inim juga sering terjadi. Biasanya ini erat kaitannya dengan pelekatan 
antara ibu dan bayi atau karena ibu tidak dapat berkonsentrasi pada 
perannya sebagai ibu, misalnya pada ibu yang berkarir sukses.
15 
3. Faktor fisik ibu 
Hal ini jarang dijumpai,misalnya karena penggunaan alat 
kontrasepsi,hamil.merokok,kurang gizi dll 
4. Afaktor kondisi bayi 
Hal ini sangat jarang dijumpai,misalnya penyakit,abnormalitaS 
BAYI. 
Ibu dan bayi dapat saling membantu agar produksi ASI meningkat 
dan bayi dapat terus memberikan isapan efektifnya. Pada keadaan 
tertentu ,ketika produksi ASI memang sangat tidak memadai,perlu 
upaya lebih ,misalnyaI relaktasi dan bila perlu dapat dilakukan 
pemberian ASI suplementer, yaitu dengan menggunakan pipa 
nasogatik atau pipa halus lainnya yang ditempelkan pada puting 
untuk diisap bayi dan ujung lainnya dihubungkan dengan ASI atau 
susu formula. 
2.2 Kegiatan Belajar 
Penuntun Belajar Dalam Melakukan Perawatan Payudara Pada Ibu Nifas 
Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sebagai 
berikut: 
0 : Perlu perbaikan : langkah atau tugas tidak di kerjakan dengan benar atau 
dihilangkan. 
1 : Mampu (dapat diterima dengan bimbingan) : langkah yang dikerjakan kurang 
benar atau kurang tepat atau perlu bimbingan. 
2 : Mahir : langkah yang dikerjakan benar dan tepat, tanpa ragu-ragu, sesuai 
dengan urutan, tanpa bimbingan.
16 
Tanggal Penilaian : 
Nama Mahasiswa : 
NIM : 
Beri tanda checklist (√) pada kolom ini ! 
NO KOMPONEN 
NILAI 
0 1 2 
A. PERSIAPAN ALAT 
1. Baskom berisi air hangat 
2. Wash lap 
3. Handuk 
4. Minuman hangat 
5. Sampiran 
6. Status pasien/ kertas dan alat tulis 
B. PERSIAPAN RUANGAN 
Pasang sampiran/ pintu dan jendela ditutup 
C. PERSIAPAN IBU 
1. Ibu diberitahu tujuan dan prosedur tindakan 
yang akan dilakukan 
2. Melepaskan pakaian atas dan BH 
3. Ibu duduk di kursi, bayi didekatkan 
4. Bantu ibu secara psikologis: 
a. Tumbuhkan rasa percaya dirinya 
b. Usahakan untuk mengurangi sumber rasa 
takut/ kecemasan 
c. Bantu ibu untuk mengembangkan pikiran 
dan perasaan positif kepada bayinya. 
D. PELAKSANAAN 
1. Mencuci tangan
17 
2. Mempersilahkan ibu untuk duduk dengan tenang, jika 
memungkinkan dengan diikuti oleh seorang teman (suami) 
yang memberika dukungan 
3. Ibu dipersilahkan untuk menggendong bayinya agar terjadi 
kontak kulit antara ibu dan bayinya. Ibu dapat menaruh 
bayi di pangkuannya, namun jika tidak memungkinkan, ia 
cukup melihatnya dari dekat 
4. Ibu dipersilahkan untuk minum air hangat 
5. Menghangatkan payudara ibu dengan menggunakan 
kompres hangat, usapan air hangat, atau mandi dengan air 
hangat 
6. Memberikan rangsangan kepada payudara ibu dengan cara 
menarik atau memutar-mutar puting susu dengan jari 
7. Pijat dan elus payudara ibu dengan perlahan 
8. Pijat bagian punggung ibu untuk merangsang reflex 
oksitosin dengan cara: 
a. Ibu membungkuk ke depan, serta duduk dan 
bersandar pada meja dengan lengan terlipat dan 
kepala diletakkan di atas tangannya. Payudara 
dibiarkan menggantung dan terlepas dari kain 
penutupnya. 
b. Usap bagian punggug ibu, kemudian beri tekanan 
memutar dengan ibu jari mengarah ke bagian 
bawah sepanjang tulang belakang yang dimulai dari 
leher dan punggung, kemudian kea rah bawah 
selama 3 menit. 
9. Pijat areola mamae untuk mengetahui bagaimana 
pengeluaran ASI 
10. Ajarkan teknik menyusu dan menyendawakan yang benar 
11. Pakai BH yang menopang payudara 
12. Observasi dan catat reaksi ibu
18 
13. Membereskan alat 
14. Mencuci tangan 
TOTAL NILAI: 
NILAI:…………………….. 
Dosen 
( ) 
2.3 Rangkuman 
Perawatan payudara adalah perawatan yang dilakukan semasa ibu hamil 
usia 7-9 bulan (Depkes, 1991). Perawatan payudara merupakan suatu tindakan 
untuk merawat payudara terutama pada masa kehamilan dan menyusui untuk 
memperlancar pengeluaran ASI. Adapun tujuan dari perawatan payudara adalah 
untuk memperlancar produksi ASI. Selain itu menguatkan payudara dan 
mencegah agar putting susu lecet. Manfaat yang diperoleh dari perawatan 
payudara adalah menjaga kebersihan vulva, mencegah berbagai penyakit, 
merangsang kelenjar air susu, dan dapat mendeteksi adanya kelainan dan 
melakukan pengobatan segera. 
Cara-cara yang bisa digunakan untuk merawat payudara adalah dengan 
menjaga kebersihan. Selain itu bisa juga dengan cara masase, memeras ASI, dan 
untuk beberapa masalah yang terjadi selama masa nifas terdapat penangan 
ataupun perawatan khusus sesuai dengan masalah yang terjadi. 
2.4 Sumber Media yang Digunakan 
1. Media elektronik : Laptop, LCD proyektor, kamera (untuk 
pendokumentasian) 
2. Media cetak : Literatur buku-buku ilmiah dan buku popular
19 
2.5 Tes Akhir 
Pilihan Ganda 
1. Masalah yang biasa terjadi pada payudara ibu selama masa nifas dan menyusui, 
kecuali…. 
a. Putting susu lecet 
b. Payudara bengkak 
c. Bayi tidak mau menyusu 
d. Abses payudara / mastitis 
Pilihan berikut untuk soal no.2… 
1) Mengecek perlekatan ibu dan bayi 
2) Membersihkan putting susu dengan sabun 
3) Mengecek adanya infeksi candida 
4) Mengobati luka lecet dengan salep 
2. Dua hal yang perlu dilakukan oleh ibu ketika terjadi putting susu lecet yaitu…. 
a. 1 dan 2 
b. 1 dan 3 
c. 3 dan 4 
d. 1 dan 4 
Pilihan berikut untuk soal no.3… 
1) Manual dengan tangan dan jari 
2) Pompa manual 
3) Pompa listrik 
4) Pompa bimanual 
3. Berikut cara-cara memerah ASI, yaitu… 
a. 1, 2, dan 3 
b. 1 dan 3 
c. 2 dan 4 
d. 4 saja
20 
4. Apa yang di maksud mastitis? 
a. Mastitis adalah peradangan pada payudara. 
b. Mastitis adalah lecet pada payudara 
c. Mastitis adalah pengecilan payudara 
d. Mastitis adalah cacat payudara 
Essay 
1. Apa sajakah yang perlu dipersiapkan sebelum melakukan perawatan payudara 
pada ibu nifas dan menyusui? 
2. Bagaimana cara melakukan perawatan payudara normal pada ibu nifas dan 
menyusui? 
Bagaimana cara melakukan perawatan terhadap payudara yang bermasalah selama 
masa nifas dan menyusui 
2.6 Umpan Balik 
Mencocokkan jawaban dengan kunci jawaban pada tes akhir. Kemudian, mengukur 
tingkat penguasaan materi dengan rumus sebagai berikut : 
Tingkat penguasaan = (Jumlah jawaban benar : Jumlah soal) x 100% 
Arti tingkat penguasaan yang diperoleh : 
Baik sekali = 90-100% 
Baik = 80-89% 
Cukup =70-79% 
Kurang =0-69% 
Bila tingkat penguasaan mencapai 80% ke atas, dapat dikatakan menguasai tumbuh 
kembang anak. Namun bila tingkat penguasaan masih di bawah 80%, harus 
mengulangi kegiatan belajar terutama pada bagian yang belum dikuasai. 
2.7 Rancangan pengajaran remedial 
1. Mahasiswa mendapat bimbingan dan pengarahan lebih lanjut secara intensif 
2. Mahasiswa melakukan uji ulang

PERAWATAN PAYUDARA

  • 1.
    BAB II PEMBAHASAN 3 2.1 Isi Bahasan 2.1.1 Pengertian Perawatan Payudara Perawatan payudara adalah perawatan yang dilakukan semasa ibu hamil usia 7-9 bulan (Depkes, 1991). Perawatan payudara merupakan suatu tindakan untuk merawat payudara terutama pada masa kehamilan dan menyusui untuk memperlancar pengeluaran ASI. Selama kehamilan payudara harus dipersiapkan untuk fungsi uniknya dalam menghasilkan ASI bagi bayi neonatus segera setelah lahir. Karena payudara mungkin meningkat beratnya lebih dari 1 pound, BH yang dapat menyangga payudara dengan baik digunakan untuk perlindungan sejak kehamilan 6-8 minggu terjadi perubahan pada payudara berupa pembesaran payudara, terasa lebih padat, kencang, sakit dan tampak jelas gambaran pembuluh darah dipermukaan kulit bertambah serta melebar. Kelenjar-kelenjar motgomer daerah areola tampak lebih nyata dan menonjol (Hamilton, 2005). Perawatan payudara sangat penting dilakukan selama hamil sampai masa menyusui. Hal ini karena payudara merupakan satu-satu penghasil ASI yang merupakan makanan pokok bayi yang baru lahir sehingga harus dilakukan sedini mungkin (Anwar, 2008). Perawatan payudara saat hamil bisa dilakukan dengan cara sederhana, dan dilakukan di rumah. 2.1.2 Tujuan Perawatan Payudara  Memelihara kebersihan payudara agar terhindar dari infeksi  Melenturkan dan menguatkan puting susu sehingga puting tidak mudah lecet dan bayi mudah menyusu  Mengeluarkan puting susu yang masuk kedalam atau datar  Mempersiapkan produksi ASI
  • 2.
    4 Prinsip Dalamperawatan payudara harus diperhatikan prinsip-prinsip berikut ini:  Dikerjakan dengan sistematis dan teratur  Menjaga kebersihan sehari-hari  Nutrisi harus lebih baik dari sebelum hamil  Memakai bra yang bersih dan menopang payudara  Dilakukan setelah usia kehamilan lebih dari 6 bulan 2.1.3 Manfaat Perawatan Payudara Manfaat perawatan payudara saat hamil diantaranya adalah: 1. Menjaga kebersihan terutama puting susu, sebagai jalur keluarnya ASI, 2. Mencegah berbagai penyakit, seperti infeksi dan kelainan payudara, 3. Memperkuat puting susu agar bayi mudah untuk menyusu, 4. Merangsang kelenjar-kelenjar air susu yang ada didalam payudara sehingga produksi ASI lebih banyak dan lancar, 5. Mendeteksi apabila ada kelainan pada payudara secara dini dan melakukan pengobatan secepatnya, 6. Mempersiapkan mental calon ibu untuk menyusui bayinya. 2.1.4 Cara Merawat Payudara Cara Merawat Payudara 1. Menjaga payudara tetap bersih dan kering, terutama bagian puting susu. 2. Menggunakan BH yang menyokong payudara. 3. Apabila puting susu lecet, oleskan kolostrum atau ASI yang keluar di sekitar puting setiap kali selesai menyusui. Menyusui tetap dilakukan dimulai dari puting susu yang tidak lecet. 4. Apabila lecet sangat berat, dapat diistirahatkan Selama 24 jam. ASI di keluarkan dan diminumkan menggunakan sendok.
  • 3.
    5 5. Untukmenghilangkan nyeri, ibu dapat minum parasetamol 1 tablet setiap 4-6 jam. 6. Apabila payudara bengkak akibat pembendungan ASI maka ibu dapat melakukan: a. Pemgompresan payudara dengan menggunakan kain basah dan hangat selama 5 menit. b. Urut payudara dari arah pangkal ke putig atau gunakan sisir untuk mengurut payudara dengan arah “Z” menuju puting. c. Keluarkan ASI sebagian dari bagian depan payudara sehingga puting susu menjadi lunak. d. Susukan bayi setiap 2-3 jam. Apabila bayi tidak dapat mengisap seluruh ASI, sisanya keluarkan dengan tangan. e. Letakkan kain dingin pada payudara setelah menyusui. 1. Masase payudara untuk pemeliharaan payudara Bagi sebagian ibu, aktivitas menyusui sering dihubungkan dengan keindahan payudara. Alasan ini yang membuat mereka enggan berlama-lama menyusui. Pakar ASI Dr. utami Roesli Sp.A dalam sebuah seminar ASI mengungkapkan bahwa sesungguhnya bukan menyusui yang mengubah bentuk payudara, tapi proses kehamilanlah yang menyebabkan perubahan itu. Dan bila ada keinginan untuk mengembalikan bentuknya seperti saat masih gadis. Namun, bukan berarti tidak ada cara membuat payudara agar tetap terlihat indah dan kencang. Apalagi setelah persalinan dan di saat menyusui. Selain terlihat indah perwatan payudara teratur akan memudahkan si kecil mengkonsumsi ASI. Pemeliharaan ini juga meransang produksi ASI dan mengurangi resiko luka saat menyusui. Berikut ini kiat masase payudara yang dapat anda praktekkan sejak hari ke-2 usai persalinan, sebanyak 2 kali sehari. Cucilah tangan sebelum masase. Lalu tuangkan minyak kedua belah tangan secukupnya. Pengurutan dimulai dengan ujung jari, caranya :
  • 4.
    6 a. Sokongpayudara kiri dengan tangan kiri. Lakukan gerakan kecil dengan dua atau tiga jari tangan kanan, mulai dari pangkal payudara dan berakhir dengan gerakan spiral pada daerah putting susu. b. Selanjutnya buatlah gerakan memutar sambil menekan dari pangkal payudara dan berakhir pada putting susu diseluruh bagian payudara. Lakukan gerakan seperti ini pada payudara kanan. c. Gerakan selanjutnya letakkan kedua telapak tangan di antara dua payudara. Urutlah dari tengah ke atas sambil mengangkat kedua payudara dan lepaskan keduanya perlahan. Lakukan gerakan ini kurang lebih 30 kali. Variasi lainnya adalah gerakan payudara kiri dengan kedua tangan, ibu jari diatas dan empat jari lainnya dibawah. Peras dengan lembut payudara sambil meluncurkan kedua tangan ke depan kearah puting susu. Lakukan hal yang sama pada payudara kanan.
  • 5.
    7 d. Lalucobalah posisi tangan parallel. Sangga payudara dengan satu tangan, sedangkan tangan lain mengurut payudara dengan sisi kelingking dari arah pangkal payudara ke arah putting susu. Setelah itu, letakkan satu tangan di sebelah atas dan satu lagi di bawah payudara. Luncurkan kedua tangan secara bersamaan kearah putting susu dengan cara memutar tangan. Ulangi gerakan ini sampai semua bagian payudara terkena urutan. e. Semua gerakan itu bermanfaat melancarkan reflex pengeluaran ASI. Selain itu jug merupakan cara efektif meningkatkan volume ASI. Terakhir yang tak kalah penting, mencegah bendungan pada payudara. 2. Memerah ASI Bagi para ibu-ibu menyusui baik yang masih bekerja ataupun yang sepenuhnya di rumah, ada baiknya mengetahui tentang tehnik memerah ASI. Alasan kenapa ASI perlu diperah adalah : a. Bagi ibu pekerja, memerah ASI berarti menyediakan stok ASI untuk bayi agar selalu mendapatkan ASI meskipun sang ibu tidak ada di sampingnya.
  • 6.
    8 b. Bagiibu yang tidak bekerja, memerah ASI juga penting karena jika suatu saat ibu dalam kondisi sakit dan tidak bisa memberikan ASI langsung bagi banyinya, tentunya ASI eksklusif masih bisa dilakukan karena ibu punya stok ASI untuk bayinya. c. Mempertahankan suplai ASI, karena ASI dihasilkan sesuai kebutuhan dan psikologis ibu. Semakin sering ASI diperah, semakin banyak ASI yang diproduksi dan juga sebaliknya. d. Mencegah ASI menetes atau merembes keluar di kala ibu dan bayi berjauhan. e. Menjaga agar putting susu dan areola agar tidak kering atau lecet. Tiga tehnik memerah ASI adalah sebagai berikut : a. Manual menggunakan tangan dan jari Cara ini disukai karena cukup praktis dan tidak repot menyiapkan peralatan. Cukup menyediakan tangan yang bersih dan wadah. Caranya : 1. Cuci tangan sampai bersih 2. Pegang cangkir yang bersih untuk menampung ASI 3. Condongkan badan ke depan dan sangga payudara dengan tangan 4. Letakkan ibu jari pada batas areola mammae dan letakkan jari telunjuk pada batas areola bagian bawah sehingga berhadapan 5. Tekan kedua jari ini kedalam kearah dinding dada tanpa menggeser letak kedua jari tadi 6. Pijat daerah diantara kedua jari tadi kearah depan sehingga akan memeras dan mengeluarkan ASI yang berada didalam sinus lacteferus 7. Ulangi gerakan tekan, pijat dan lepas beberapa kali 8. Setelah pancaran ASI berkurang pindahkan posisi ibu jari dan telunjuk tadi dengan cara diputar pada sisi lain dari batas areola dengan kedua jari selalu berhadapan 9. Lakukan hal yang sama pada setiap posisi sehingga ASI akan terperah dari semua bagian payudara
  • 7.
    9 b. Menggunakanpompa manual Pompa ini banyak tersedia dipasaran namun perlu dicermati bahwa ada beberapa pompa yang tidak dianjurkan karena cara kerjanya meremas sehingga dapat merusak jaringan payudara. Cara memeras ASI menggunakan pompa, adalah sebagai berikut : 1. Pilih tempat yang tenang dan nyaman pada saat memerah ASI, tempat yang ideal seharusnya dimana ibu tidak diganggu oleh suara bel pintu atau telepon masuk 2. Cuci tangan dengan air sabun sedangkan payudara dibersihkan dengan air 3. Sebelum memulai pemerahan, minumlah air atau cairan lain seperti susu, jus, teh/kopi, sup, dan disarankan minuman hangat agar membantu menstimulasi payudara 4. Saat memerah ASI, ibu harus dalam kondisi santai. Kondisi psikologis akan mempengaruhi keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Menurut penelitian, lebih dari 80% kegagalan adalah faktor ketegangan dan beban target seberapa banyak ASI akan dihasilkan 5. Jika ada masalah dalam ASI jangan ragu untuk menghubungi atau konsultasi ke bidan atau klinik laktasi.
  • 8.
    10 c. Menggunakanpompa listrik Sebaiknya gunakan alat yang cara kerjanya mirip dengan cara menghisap bayi. Tidak memutar dan memeras payudara. 2.1.5 Masalah dalam Menyusui a. Abses payudara (mastitis) Mastitis adalah peradangan pada payudara. Ada dua jenis mastitis,yaitu non-infective mastitis (hanya karena pembendungan ASI / milk statis ) dan infective mastitis (telah terinfeksi bakteri). Lecet pada puting dan trauma pada kulit juga dapat mengundang infeksi infeksi bakteri. Gejala yang ditemukan adalah payudara menjadi merah,bengkak,kadang disertai rasa nyeri dan panas,serta suhu tubuh meningkat. Di bagian dalam terasa ada
  • 9.
    11 massa padat(lump) dan dibagian luarnya,kulit menjadi merah. Kejadian ini terjadi pada massa nifas 1-3 minggu setelah persalinan diakibatkan oleh sumbatan saluran ASI yang berlanjut. Keadaan tersebut dapat disebabkan beberapa hal, antara lain : 1. Kurangnya ASI yang dikeluarkan atau diisap 2. Pangisapan yang tidak efektif 3. Kebiasaan menekan payudara dengan jari atau karena tekanan baju 4. Pengeluaran ASI yang kurang baik pada payudara yang besar,terutama pada bagian bawah payudara yang menggantung. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan, antara lain : 1. Kompres hangat/panas dan lakukan pemijatan 2. Rangsang oksitosin dengan pemijatan punggung dan kompres 3. Pemberian antibiotik flucloxacillin atau erythromycin selama 7-10 hari 4. Bila perlu, istirahat total dan konsumsi obat untuk menghilangkan rasa nyeri 5. Kalau sudah terjadi abses, sebaiknya payudara yang sakit tidak boleh disusukan karena mungkin akan memerlukan tindakan bedah.
  • 10.
    12 b. Puttingsusu lecet Seorang ibu sering menghentikan proses menyusui karena putingnya sakit. Dalam hal ini, yang perlu dilakukan oleh ibu adalah mengecek bagaimana perlekatan ibu dan bayi, serta mengecek apakah terdapat infeksi candida (di mulut bayi). Jika gejala berikut ditemui, maka berikan nistatin. Biasanya, kulit akan merah, berkilat, kadang gatal, terasa sakit yang menetap, dan kulit bersisik ( flaky). Saat putting susu ibu lecet atau luka, ibu dapat melakukan beberapa cara, antara lain: a. Terus memberikan ASI pada bagian luka yang tidak begitu sakit. b. Mengoles putting susu dengan ASI akhir (hind milk), jangan sekali-kali memberikan obat lain, seperti krim, salep. c. Mengistirahatkan putting susu yang sakit untuk sementara waktu, kurang lebih 1 x 24 jam dan biasanya akan sembuh dalam waktu sekitar 2 x 24 jam. d. Selama putting susu diistirahatkan, ASI tetap dikeluarkan dengan tangan dan tidak dianjurkan dengan pompa karena akan nyeri. e. Berikan ASI kepada bayi dengan sendok f. Cuci payudara sekali saja dalam sehari dan jangan menggunakan sabun.
  • 11.
    13 c. Payudarabengkak Pada payudara bengkak akan terlihat payudara odema, terasa sakit, putting susu kencang, kulit mengkilat walau tidak merah, ASI tidak keluar bila diperiksa atau diisap, dan baadan demam setelah 24 jam. Hal ini dikarenakan: a. Produksi ASI meningkat b. Terlambat menyusukan dini c. Pelekatan kurang baik d. Kurang sering mengeluarkan ASI. Untuk merangsang reflex oksitosin, dapat dilakukan langkah-langkah berikut ini: a. Kompres panas untuk mengurangi rasa sakit b. Ibu harus rileks c. Dekatkan bayi kepada ibu agar ibu dapat memandangnya. d. Pijat leher dan punggung belakang (sejajar daerah payudara) menggunakan ibu jari dengan teknik gerakan memutar searah jarum jam kurang lebih selama 3 menit. e. Belai kedua lembut kedua payudara menggunakan minyak pelumas. f. Pegang putting dengan dua jari pada arah yang berlawanan kemudian putar putting searah jarum jam. g. Kompres dengan air hangat dan dingin untuk mengurangi udem.
  • 12.
    14 h. PakaiBH sesuai dengan ukuran dan bentuk payudara, yang dapat menyangga oayudara dengan baik. i. Bila terlalu sakit, dapat diberikan obat analgesic parasetamol 500 mg. d. Sindrom ASI kurang Tanda-tanda yang mungkin ASI kurang antara lain : 1. Bayi tidak puas setiap kali menyusu , menyusu dengan waktu yang sangat lama atau terkadang lebih cepat menyusu. Dikira produksi ASI kurang , padahal karena bayi telah pandai menyusu. 2. Bayi sering menangis atau menolak jika disusui 3. Tinja bayi keras,kering, atau berwarna hijau 4. Payudara tidak membesar selama hammil atau ASI tidak datang setelah bayi lahir. Walaupun ada tanda-tanda tersebut, tapi tetap perlu diperiksa apakah tanda-tanda tersebut dapat dipercaya. Tanda bahwa ASI benar-benar kurang , antara lain : 1. Berat badan bayi meningkat kurang dari rata-rata 500 gram per bulan 2. Berat badan setelah lahir dalam waktu 2 minggu belum kembali 3. Ngompol rata-rata kurang dari 6 kali dalam 24 jam. Cairan urin pekat,bau,dan berwarna kuning. Cara mengatasinya disesuaikan dengan penyebab, terutama dicari berdasarkan faktor penyebab berikut ini : 1. Faktor teknik menyusui Keadaan ini yang paling sering dijumpai , antara lain karena masalah frekuensi , pelekatan,penggunaan dot atau botol dll 2. Faktor psikologis Inim juga sering terjadi. Biasanya ini erat kaitannya dengan pelekatan antara ibu dan bayi atau karena ibu tidak dapat berkonsentrasi pada perannya sebagai ibu, misalnya pada ibu yang berkarir sukses.
  • 13.
    15 3. Faktorfisik ibu Hal ini jarang dijumpai,misalnya karena penggunaan alat kontrasepsi,hamil.merokok,kurang gizi dll 4. Afaktor kondisi bayi Hal ini sangat jarang dijumpai,misalnya penyakit,abnormalitaS BAYI. Ibu dan bayi dapat saling membantu agar produksi ASI meningkat dan bayi dapat terus memberikan isapan efektifnya. Pada keadaan tertentu ,ketika produksi ASI memang sangat tidak memadai,perlu upaya lebih ,misalnyaI relaktasi dan bila perlu dapat dilakukan pemberian ASI suplementer, yaitu dengan menggunakan pipa nasogatik atau pipa halus lainnya yang ditempelkan pada puting untuk diisap bayi dan ujung lainnya dihubungkan dengan ASI atau susu formula. 2.2 Kegiatan Belajar Penuntun Belajar Dalam Melakukan Perawatan Payudara Pada Ibu Nifas Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sebagai berikut: 0 : Perlu perbaikan : langkah atau tugas tidak di kerjakan dengan benar atau dihilangkan. 1 : Mampu (dapat diterima dengan bimbingan) : langkah yang dikerjakan kurang benar atau kurang tepat atau perlu bimbingan. 2 : Mahir : langkah yang dikerjakan benar dan tepat, tanpa ragu-ragu, sesuai dengan urutan, tanpa bimbingan.
  • 14.
    16 Tanggal Penilaian: Nama Mahasiswa : NIM : Beri tanda checklist (√) pada kolom ini ! NO KOMPONEN NILAI 0 1 2 A. PERSIAPAN ALAT 1. Baskom berisi air hangat 2. Wash lap 3. Handuk 4. Minuman hangat 5. Sampiran 6. Status pasien/ kertas dan alat tulis B. PERSIAPAN RUANGAN Pasang sampiran/ pintu dan jendela ditutup C. PERSIAPAN IBU 1. Ibu diberitahu tujuan dan prosedur tindakan yang akan dilakukan 2. Melepaskan pakaian atas dan BH 3. Ibu duduk di kursi, bayi didekatkan 4. Bantu ibu secara psikologis: a. Tumbuhkan rasa percaya dirinya b. Usahakan untuk mengurangi sumber rasa takut/ kecemasan c. Bantu ibu untuk mengembangkan pikiran dan perasaan positif kepada bayinya. D. PELAKSANAAN 1. Mencuci tangan
  • 15.
    17 2. Mempersilahkanibu untuk duduk dengan tenang, jika memungkinkan dengan diikuti oleh seorang teman (suami) yang memberika dukungan 3. Ibu dipersilahkan untuk menggendong bayinya agar terjadi kontak kulit antara ibu dan bayinya. Ibu dapat menaruh bayi di pangkuannya, namun jika tidak memungkinkan, ia cukup melihatnya dari dekat 4. Ibu dipersilahkan untuk minum air hangat 5. Menghangatkan payudara ibu dengan menggunakan kompres hangat, usapan air hangat, atau mandi dengan air hangat 6. Memberikan rangsangan kepada payudara ibu dengan cara menarik atau memutar-mutar puting susu dengan jari 7. Pijat dan elus payudara ibu dengan perlahan 8. Pijat bagian punggung ibu untuk merangsang reflex oksitosin dengan cara: a. Ibu membungkuk ke depan, serta duduk dan bersandar pada meja dengan lengan terlipat dan kepala diletakkan di atas tangannya. Payudara dibiarkan menggantung dan terlepas dari kain penutupnya. b. Usap bagian punggug ibu, kemudian beri tekanan memutar dengan ibu jari mengarah ke bagian bawah sepanjang tulang belakang yang dimulai dari leher dan punggung, kemudian kea rah bawah selama 3 menit. 9. Pijat areola mamae untuk mengetahui bagaimana pengeluaran ASI 10. Ajarkan teknik menyusu dan menyendawakan yang benar 11. Pakai BH yang menopang payudara 12. Observasi dan catat reaksi ibu
  • 16.
    18 13. Membereskanalat 14. Mencuci tangan TOTAL NILAI: NILAI:…………………….. Dosen ( ) 2.3 Rangkuman Perawatan payudara adalah perawatan yang dilakukan semasa ibu hamil usia 7-9 bulan (Depkes, 1991). Perawatan payudara merupakan suatu tindakan untuk merawat payudara terutama pada masa kehamilan dan menyusui untuk memperlancar pengeluaran ASI. Adapun tujuan dari perawatan payudara adalah untuk memperlancar produksi ASI. Selain itu menguatkan payudara dan mencegah agar putting susu lecet. Manfaat yang diperoleh dari perawatan payudara adalah menjaga kebersihan vulva, mencegah berbagai penyakit, merangsang kelenjar air susu, dan dapat mendeteksi adanya kelainan dan melakukan pengobatan segera. Cara-cara yang bisa digunakan untuk merawat payudara adalah dengan menjaga kebersihan. Selain itu bisa juga dengan cara masase, memeras ASI, dan untuk beberapa masalah yang terjadi selama masa nifas terdapat penangan ataupun perawatan khusus sesuai dengan masalah yang terjadi. 2.4 Sumber Media yang Digunakan 1. Media elektronik : Laptop, LCD proyektor, kamera (untuk pendokumentasian) 2. Media cetak : Literatur buku-buku ilmiah dan buku popular
  • 17.
    19 2.5 TesAkhir Pilihan Ganda 1. Masalah yang biasa terjadi pada payudara ibu selama masa nifas dan menyusui, kecuali…. a. Putting susu lecet b. Payudara bengkak c. Bayi tidak mau menyusu d. Abses payudara / mastitis Pilihan berikut untuk soal no.2… 1) Mengecek perlekatan ibu dan bayi 2) Membersihkan putting susu dengan sabun 3) Mengecek adanya infeksi candida 4) Mengobati luka lecet dengan salep 2. Dua hal yang perlu dilakukan oleh ibu ketika terjadi putting susu lecet yaitu…. a. 1 dan 2 b. 1 dan 3 c. 3 dan 4 d. 1 dan 4 Pilihan berikut untuk soal no.3… 1) Manual dengan tangan dan jari 2) Pompa manual 3) Pompa listrik 4) Pompa bimanual 3. Berikut cara-cara memerah ASI, yaitu… a. 1, 2, dan 3 b. 1 dan 3 c. 2 dan 4 d. 4 saja
  • 18.
    20 4. Apayang di maksud mastitis? a. Mastitis adalah peradangan pada payudara. b. Mastitis adalah lecet pada payudara c. Mastitis adalah pengecilan payudara d. Mastitis adalah cacat payudara Essay 1. Apa sajakah yang perlu dipersiapkan sebelum melakukan perawatan payudara pada ibu nifas dan menyusui? 2. Bagaimana cara melakukan perawatan payudara normal pada ibu nifas dan menyusui? Bagaimana cara melakukan perawatan terhadap payudara yang bermasalah selama masa nifas dan menyusui 2.6 Umpan Balik Mencocokkan jawaban dengan kunci jawaban pada tes akhir. Kemudian, mengukur tingkat penguasaan materi dengan rumus sebagai berikut : Tingkat penguasaan = (Jumlah jawaban benar : Jumlah soal) x 100% Arti tingkat penguasaan yang diperoleh : Baik sekali = 90-100% Baik = 80-89% Cukup =70-79% Kurang =0-69% Bila tingkat penguasaan mencapai 80% ke atas, dapat dikatakan menguasai tumbuh kembang anak. Namun bila tingkat penguasaan masih di bawah 80%, harus mengulangi kegiatan belajar terutama pada bagian yang belum dikuasai. 2.7 Rancangan pengajaran remedial 1. Mahasiswa mendapat bimbingan dan pengarahan lebih lanjut secara intensif 2. Mahasiswa melakukan uji ulang