Triana Septianti P, M.Keb
By. Triana Septianti P 1
pengambilan keputusan yg sulit terkait etik
akan memunculkan
By. Triana Septianti P 2
Konflik moral pertentangan
batin (nilai yg diyakini dg kenyataan yg ada)
situasi yang mengharuskan seseorang melakukan pilihan antar 2 kemungkinan,
sukar dan dan membingungkan, sdgkan MORAL adl ajaran tentang baik buruk
perbuatan dan kelakuan.
By. Triana Septianti P 3
Dilema dan konflik terkait moral: 1)
agama/kepercayaan; 2) hub.dg pasien;
3) hub.bidan dg dokter;
4) kebenaran;
5) pengambilan keputusan;
6) pengambilan data; 7) kematian yg tenang/eutanasia;
8) kerahasiaan; 9) aborsi;
10) AIDS;
11) fertilisasi in fitro;
12) transplantasi organ.
By. Triana Septianti P 4
5 masalah kesehatan terkait dilema & konflik: 1) kuantitas vs kualitas
hidup; 2) kebebasan vs penanganan dan pencegahan bahaya; 3) berkata jujur vs bohong; 4)
keinginan thdp pengetahuan yg bertentangan dg agama, falsafah, ekonomi, ideologi & politik;
5) terapi ilmiah konvensional vs pengobatan alternatif.
By. Triana Septianti P 5
1. Persetujuan dlm proses melahirkan
2. Memilih/pengambil keputusan
dlm persalinan
3. USG dlm kehamilan
4. Kegagalan dlm proses persalinan
5. Konsep normal dlm pely.kebidanan
6. Bidan & pendidikan seks
By. Triana Septianti P 6
By. Triana Septianti P 7
apakah itu
• Berarti membuat pilihan setelah mendapatkan penjelasan tentang
alternatif asuhan yang akan dialaminya, PILIHAN (choice) harus
dibedakan dari PERSETUJUAN (concent).
By. Triana Septianti P 8
By. Triana Septianti P 9
Persetujuan penting dari sudut pandang bidan, karena itu
berkaitan dengan aspek HUKUM yang memberikan otoritas
untuk semua prosedur yang dilakukan oleh bidan, sedangkan
PILIHAN (choice) lebih penting dari sudut pandang wanita
(pasien) sebagai konsumen penerima jasa asuhan kebidanan.
• Untuk mendorong wanita memilih asuhannya.
• Peran bidan tidak hanya membuat asuhan dalam manajemen asuhan
kebidanan tetapi juga menjamin bahwa hak wanita untuk memilih asuhan
dan keinginannya terpenuhi.
By. Triana Septianti P 10
• Hal ini sejalan dengan kode etik internasional bidan yang dinyatakan oleh ICM 1993,
bahwa bidan harus menghormati hak wanita setelah mendapatkan penjelasan dan
mendorong wanita untuk menerima tanggung jawab untuk hasil dari pilihannya.
By. Triana Septianti P 11
Bidan dlm memberikan informed
choice:
a. Memperlakukan ps dg baik
b. Berinteraksi dg nyaman
c. Memberi info yg obyektif, mudah dimengerti, mudah
diingat dan tdk berlebihan
d. Membantu mengenali kebutuhannya dan membuat
keputusan ssi kondisinya
e. Mendorong ps memilih asuhannya.
By. Triana Septianti P 12
1. Bidan harus terus meningkatkan
pengetahuan dan keterampilannya
dalam berbagai aspek agar dapat
membuat keputusan klinis dan secara
teoritis agar dapat memberikan
pelayanan yang aman dan dapat
memuaskan kliennya.
By. Triana Septianti P 13
2. Bidan wajib memberikan informasisecara
rincidan jujurdalam bentuk yang dapat
dimengerti oleh wanita dengan menggunakan
media alternatif dan penerjemah,
kalau perlu dalam bentuk tatap muka
secara langsung.
By. Triana Septianti P 14
3. Bidan dan petugas kesehatan lainnya perlu belajar untuk
membantuwanita melatih diri dalam menggunakan haknya
dan menerima tanggung jawab untuk keputusan yang
mereka ambil sendiri By. Triana Septianti P 15
4. Dengan berfokus pada asuhan yang berpusat pada wanita
dan berdasarkan fakta, diharapkan bahwa konflik
dapat ditekan serendah mungkin
5. Tidak perlu takut akan konflik tapi menganggapnya
sebagai suatu kesempatan untuk saling memberi dan
mungkin suatu penilaian ulang yang objektif, bermitra
dengan wanita dari sistem asuhan dan suatu tekanan
positif.
By. Triana Septianti P 16
By. Triana Septianti P 17
Lalu apakah
• Informed choice bukan sekedar mengetahui berbagai pilihan
tetapi mengerti manfaat dan risiko dari pilihan yang
ditawarkan.
By. Triana Septianti P 18
• Informed choice tidak sama dengan membujuk/memaksa
klien mengambil keputusan yang menurut orang lain benar/baik.
By. Triana Septianti P 19
BENTUK PILIHAN (CHOICE) YANG ADA
DALAM ASUHAN KEBIDANAN
1. Gaya, bentuk pemeriksaan antenatal dan pemeriksaan
laboratorium/screening antenatal
2. Tempat bersalin (rumah, polindes, RB, RSB, atau RS) dan kelas
perawatan di RS
3. Masuk kamar bersalin pada tahap awal persalinan
4. Pendampingan waktu bersalin
By. Triana Septianti P
20
By. Triana Septianti P
21
5. Clisma dan cukur daerah pubis
6. Metode monitor denyut jantung janin
7. Percepatan persalinan
8. Diet selama proses persalinan
By. Triana Septianti P
22
9. Mobilisasi selama proses persalinan
10. Pemakaian obat pengurang rasa sakit
11. Pemecahan ketuban secara rutin
12. Posisi ketika bersalin
By. Triana Septianti P
23
13. Episiotomi
14. Penolong persalinan
15. Keterlibatan suami waktu bersalin, misalnya pemotongan
tali pusat
16. Cara memberikan minuman bayi
17. Metode pengontrolan kesuburan
By. Triana Septianti P
24
Triana Septianti P, M.Keb
By. Triana Septianti P 25
apa itu
By. Triana Septianti P 26
ď‚— Informed concent bukan hal yang baru dalam bidang pelayanan kesehatan.
Informed concent telah diakui sebagai langkah yang paling penting untuk
mencegah terjadinya konflik dalam masalah etik.
By. Triana Septianti P 27
ď‚— Informed concent berasal dari dua kata, yaitu informed (telah mendapat
penjelasan/keterangan/informasi) dan concent (memberikan
persetujuan/mengizinkan).
ď‚— Informed concent adalah suatu persetujuan yang diberikan setelah
mendapatkan informasi.
By. Triana Septianti P 28
• Menurut Veronika Komalawati pengertian informed concent adalah suatu
kesepakatan/persetujuan pasien atas upaya medis yang akan dilakukan
dokter terhadap dirinya setelah pasien mendapatkan informasi dari dokter
mengenai upaya medis yang dapat dilakukan untuk menolong dirinya
disertai informasi mengenai segala resiko yang mungkin terjadi.
By. Triana Septianti P 29
Dalam PERMENKES no 585 tahun 1989 (pasal 1)
• Informed concent ditafsirkan sebagai persetujuan
tindakan medis adalah persetujuan yang diberikan pasien
atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medik
yang dilakukan terhadap pasien tersebut.
By. Triana Septianti P 30
ď‚— Dalam pencegahan konflik etik dikenal ada 4, yang urutannya adalah sebagai
berikut :
1) Informed concent
2) Negosiasi
3) Persuasi
4) Komite etik
ď‚— Informed concent merupakan butir yang paling penting, kalau informed
concent gagal, maka butir selanjutnya perlu dipergunakan secara berurutan sesuasi
dengan kebutuhan.
ď‚— Informed concent adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien/walinya
yang berhak terhadap bidan untuk melakukan suatu tindakan kebidanan terhadap
pasien sesudah memperoleh informasi lengkap dan yang dipahaminya mengenai
tindakan itu.
By. Triana Septianti P 31
Informed concent merupakan perlindungan bagi pasien terhadap bidan yang
berperilaku memaksakan kehendak, dimana proses informed concent sudah memuat
:
1. Keterbukaan informasi dari bidan kepada pasien
2. Informasi tersebut harus dimengerti pasien
3. Memberikan kesempatan kepada pasien untuk memberikan kesempatan
yang baik
1. DIMENSI HUKUM
By. Triana Septianti P 32
Proses informed concent terkandung nilai etik sebagai berikut :
1. Menghargai kemandirian/otonomi pasien
2. Tidak melakukan intervensi melainkan membantu pasien bila
dibutuhkan/diminta sesuai dengan informasi yang telah dibutuhkan
3. Bidan menggali keinginan pasien baik yang dirasakan secara
subjektif maupun sebagai hasil pemikiran yang rasional
2. DIMENSI ETIK
By. Triana Septianti P 33
Peraturan pemerintah no.18 th 1981
By. Triana Septianti P 34
Ketentuan
1. Manusia dewasa sehat jasmani dan rohani berhak
sepenuhnya menentukan apa yg akan dilakukan thdp tubuhnya.
2. Semua tindakan medis memerlukan informed consent scr
lisan maupun tertulis.
3. Setiap tindakan medis yg berisiko cukup besar mengharuskan adanya
persetujuan scr tertulis yg ditandatangani pasien setelah
sebelumnya mdapatkan informasi yg adekuat.
4. Untuk tindakan yg tdk termasuk dlm point 3 hanya dibutuhkan
persetujuan lisan atau sikap diam.
Peraturan pemerintah no.18 th 1981
By. Triana Septianti P 35
Ketentuan
5. Informasi ttg tindakan medis harus diberikan kpd pasien
baik diminta maupun tidak. Menahan info tidak boleh,
kecuali bila dokter/bidan menilai bhw info tsbt akan
membahayakan kesehatan ps. Pemberian info dpt
disampaikan pada keluarga terdekat pasien dengan
didampingi saksi (tenakes lain)
6. Isi informasi mencakup keuntungan dan kerugian
tindakan medis yang direncanakan.
By. Triana Septianti P 36
Bagaimana bentuk
Persetujuan yang dianggap telah diberikan walaupun
tanpa pernyataan resmi yaitu pada keadaan
gawat darurat yang mengancam jiwa pasien, tindakan
penyelamatan kehidupan tidak memerlukan persetujuan
tindakan medis.
By. Triana Septianti P 37
Persetujuan tindakan medik yang diberikan secara eksplisit
baik secara lisan maupun tertulis.
By. Triana Septianti P 38
Apakah fungsi
By. Triana Septianti P 39
1. Penghormatan harkat dan martabat pasien
2. Promosi thdp hak utk menentukan nasibnya sendiri
3. Membantu kelancaran tindakan medis shg diharapkan dpt
mempercepat proses pemulihan
4. Mendorong dokter melakukan kehati-hatian dlm mengobati pasien.
By. Triana Septianti P 40
5. Menghindari penipuan oleh dokter
6. Mendorong diambilnya keputusan yg rasional
7. Mendorong keterlibatan publik dlm masalah
kedokteran dan kesehatan.
8. Proses edukasi masyarakat dlm bid.kedokteran dan kesh.
9. Meningkatkan mutu layanan.
By. Triana Septianti P 41
Melindungi pasien & tenakes dlm mberikan tindakan
medik (pembedahan, invasif, tind.yg mengandung risiko tinggi),
tind./pemeriksaan bukan mpembedahan (tdk invasif, tdk
mengandung risiko tinggi), pasien tidak sadar, dan dlm
keadaan darurat utk penyelamatan jiwa pasien.
By. Triana Septianti P 42
Tujuan
By. Triana Septianti P 43
Dinyatakan sah jika:
1. Keterbukaan informasi
2. Kompetensi pasien dlm mberikan persetujuan
3. Kesukarelaan
By. Triana Septianti P 44
• Baik persetujuan maupun penolakan sebaiknya dituangkan dalam
bentuk tertulis, jika terjadi permasalahan, maka secara hukum
bidan mempunyai kekuatan hukum karena mempunyai
bukti tertulis, yang menunjukkan bahwa prosedur pemberian
informasi telah dilalui dan keputusan ada ditangan klien untuk
menyetujui atau menolak.
By. Triana Septianti P 45
• Hal ini sesuai dengan hak pasien untuk menentukan diri sendiri,
yaitu pasien berhak menerima atau menolak tindakan atas
dirinya setelah diberi penjelasan sejelas-jelasnya.
By. Triana Septianti P 46
By. Triana Septianti P 47
Bagaimana
Informed consent
di
SK Dirjen Pelayanan Medik no: HR.00.06.3.5.1866 tgl 21 April 1999
1. Persetujuan atau penolakan tindakan medik harus kebijakan dan prosedur
(SOP) dan ditetapkan tertulis oleh pimpinan RS.
2. Memperoleh informasi dan pengelolaan, kewajiban dokter.
By. Triana Septianti P 48
Masalah yang dihadapi oleh pihak
bidan/RS atau RB, yaitu:
1. Pengertian kemampuan secara hukum dari orang
yang akan menjalani tindakan, serta siapa yang berhak
menandatangani surat persetujuan, batasan usia,
kesadaran, kondisi mentalnya dsb.
By. Triana Septianti P 49
2. Masalah wali yang sah. Timbul apabila pasien atau ibu tidak
mampu secara hukum untuk menyatakan persetujuannya.
3. Masalah informasi yang diberikan yaitu seberapa jauh
informasi dianggap telah dijelaskan dengan cukup jelas, tetapi
juga tidak terlalu terinci sehingga dianggap menakut-nakuti.
4. Dalam memberikan persetujuan, apakah diperlukan saksi,
apabila diperlukan apakah saksi tersebut perlu menandatangani
formulir yang ada. Bagaimana menentukan saksi.
By. Triana Septianti P 50
5. Dalam keadaan darurat, misalnya kasus perdarahan pada ibu
hamil, dan keluarganya belum dapat dihubungi, dalam keadaan
seperti ini siapakah yang berhak memberikan
persetujuan, sementara pasien perlu segera ditolong.
Bagaimana perlindungan hukum kepada si bidan yang
melakukan tindakan atas dasar keadaan darurat dan dalam upaya
penyelamatan jiwa ibu dan janinnya.
By. Triana Septianti P 51
Hal yg harus diperhatikan dlm pembuatan
Informed consent
a. Tidak harus tertulis
b. Tindakan invasif (pembedahan) sebaiknya tertulis
c. Tertulis memudahkan dlm pembuktian bila ada
tuntutan
d. Informed consent bukan berarti lepas
tanggungjawab/tuntutan bila dokter melakukan
kelalaian
By. Triana Septianti P 52
(Culver dan Gert)
yang harus DIPAHAMI dalam
By. Triana Septianti P 53
a. Sukarela : tanpa paksaan
b. Informasi : info lengkap sangat dibutuhkan
c. Kompetensi: membutuhan suatu hal utl mampu
membuat keputusan
d. Keputusan
Lalu apa
By. Triana Septianti P 54
• Alasan perlunya tindakan medik
• Sifat tindakan: eksperimen/non eksperimen
• Tujuan tindakan medik
• Risiko
• Persetujuan/ penolakan oleh seseorang yg dianggap sehat
mental dan berhak scr hukum
• Setelah cukup diberi penjelasan/informasi
By. Triana Septianti P 55
• Informasi:
a. Tujuan dan prospek keberhasilan
b. Tata cara tindakan medis
c. Risiko tindakan
d. Komplikasi
e. Alternatif tindakan lain
f. Prognosis penyakit
g. Diagnosis
By. Triana Septianti P 56
PASIEN – BIDAN
INFORMASI
CHOICE
KEPUTUSAN
MENOLAK (REFUSAL)
PERSETUJUAN (CONSENT)
TTD FORM TTD FORM
By. Triana Septianti P 57
1. Pasien dptkan informasi
2. Kesempatan bertanya
3. Waktu berdiskusi dg keluarga
4. Ps dpt menggunakan informasi utk mbuat keputusan
5. Keputusan dikomunikasikan dg tim medis
6. Pasien berhak menolak rencana tindakan
7. Format ditandatangani pasien
8. Membaca ulang form yang telah ditandatangani
dihadapan pasien dan keluarga secara langsung
9. Proses tindakan dilakukan
By. Triana Septianti P 58
“Manfaat INFORMED CONSENT adalah untuk
mengurangi keadaan MALPRAKTEK dan agar bidan lebih
berhati-hati serta berupaya agar alur pemberian informasi
benar-benar dilakukan dalam memberikan pelayanan
kebidanan.”
By. Triana Septianti P 59
Tugas ROLE PLAY
Bagi dalam 6 kelompok dan beri isian
jawaban atas skenario yang telah
dibagikan pada masing2 kelompok lalu
buat video role play!
By. Triana Septianti P 60
Tugas ROLE PLAY
1. Rencana IVA test
2. Rencana operasi SC pada psien gawatdarurat
3. Rencana pencabutan Implant ganti cara IUD
4. Rencana rujukan RS khusus kanker serviks
5. Rencana operasi tumor payudara
6. Rencana rujukan bayi dengan asphiksia
By. Triana Septianti P 61

Informed choice & informed consent

  • 1.
    Triana Septianti P,M.Keb By. Triana Septianti P 1
  • 2.
    pengambilan keputusan ygsulit terkait etik akan memunculkan By. Triana Septianti P 2 Konflik moral pertentangan batin (nilai yg diyakini dg kenyataan yg ada)
  • 3.
    situasi yang mengharuskanseseorang melakukan pilihan antar 2 kemungkinan, sukar dan dan membingungkan, sdgkan MORAL adl ajaran tentang baik buruk perbuatan dan kelakuan. By. Triana Septianti P 3
  • 4.
    Dilema dan konflikterkait moral: 1) agama/kepercayaan; 2) hub.dg pasien; 3) hub.bidan dg dokter; 4) kebenaran; 5) pengambilan keputusan; 6) pengambilan data; 7) kematian yg tenang/eutanasia; 8) kerahasiaan; 9) aborsi; 10) AIDS; 11) fertilisasi in fitro; 12) transplantasi organ. By. Triana Septianti P 4
  • 5.
    5 masalah kesehatanterkait dilema & konflik: 1) kuantitas vs kualitas hidup; 2) kebebasan vs penanganan dan pencegahan bahaya; 3) berkata jujur vs bohong; 4) keinginan thdp pengetahuan yg bertentangan dg agama, falsafah, ekonomi, ideologi & politik; 5) terapi ilmiah konvensional vs pengobatan alternatif. By. Triana Septianti P 5
  • 6.
    1. Persetujuan dlmproses melahirkan 2. Memilih/pengambil keputusan dlm persalinan 3. USG dlm kehamilan 4. Kegagalan dlm proses persalinan 5. Konsep normal dlm pely.kebidanan 6. Bidan & pendidikan seks By. Triana Septianti P 6
  • 7.
    By. Triana SeptiantiP 7 apakah itu
  • 8.
    • Berarti membuatpilihan setelah mendapatkan penjelasan tentang alternatif asuhan yang akan dialaminya, PILIHAN (choice) harus dibedakan dari PERSETUJUAN (concent). By. Triana Septianti P 8
  • 9.
    By. Triana SeptiantiP 9 Persetujuan penting dari sudut pandang bidan, karena itu berkaitan dengan aspek HUKUM yang memberikan otoritas untuk semua prosedur yang dilakukan oleh bidan, sedangkan PILIHAN (choice) lebih penting dari sudut pandang wanita (pasien) sebagai konsumen penerima jasa asuhan kebidanan.
  • 10.
    • Untuk mendorongwanita memilih asuhannya. • Peran bidan tidak hanya membuat asuhan dalam manajemen asuhan kebidanan tetapi juga menjamin bahwa hak wanita untuk memilih asuhan dan keinginannya terpenuhi. By. Triana Septianti P 10
  • 11.
    • Hal inisejalan dengan kode etik internasional bidan yang dinyatakan oleh ICM 1993, bahwa bidan harus menghormati hak wanita setelah mendapatkan penjelasan dan mendorong wanita untuk menerima tanggung jawab untuk hasil dari pilihannya. By. Triana Septianti P 11
  • 12.
    Bidan dlm memberikaninformed choice: a. Memperlakukan ps dg baik b. Berinteraksi dg nyaman c. Memberi info yg obyektif, mudah dimengerti, mudah diingat dan tdk berlebihan d. Membantu mengenali kebutuhannya dan membuat keputusan ssi kondisinya e. Mendorong ps memilih asuhannya. By. Triana Septianti P 12
  • 13.
    1. Bidan harusterus meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dalam berbagai aspek agar dapat membuat keputusan klinis dan secara teoritis agar dapat memberikan pelayanan yang aman dan dapat memuaskan kliennya. By. Triana Septianti P 13
  • 14.
    2. Bidan wajibmemberikan informasisecara rincidan jujurdalam bentuk yang dapat dimengerti oleh wanita dengan menggunakan media alternatif dan penerjemah, kalau perlu dalam bentuk tatap muka secara langsung. By. Triana Septianti P 14
  • 15.
    3. Bidan danpetugas kesehatan lainnya perlu belajar untuk membantuwanita melatih diri dalam menggunakan haknya dan menerima tanggung jawab untuk keputusan yang mereka ambil sendiri By. Triana Septianti P 15
  • 16.
    4. Dengan berfokuspada asuhan yang berpusat pada wanita dan berdasarkan fakta, diharapkan bahwa konflik dapat ditekan serendah mungkin 5. Tidak perlu takut akan konflik tapi menganggapnya sebagai suatu kesempatan untuk saling memberi dan mungkin suatu penilaian ulang yang objektif, bermitra dengan wanita dari sistem asuhan dan suatu tekanan positif. By. Triana Septianti P 16
  • 17.
    By. Triana SeptiantiP 17 Lalu apakah
  • 18.
    • Informed choicebukan sekedar mengetahui berbagai pilihan tetapi mengerti manfaat dan risiko dari pilihan yang ditawarkan. By. Triana Septianti P 18
  • 19.
    • Informed choicetidak sama dengan membujuk/memaksa klien mengambil keputusan yang menurut orang lain benar/baik. By. Triana Septianti P 19
  • 20.
    BENTUK PILIHAN (CHOICE)YANG ADA DALAM ASUHAN KEBIDANAN 1. Gaya, bentuk pemeriksaan antenatal dan pemeriksaan laboratorium/screening antenatal 2. Tempat bersalin (rumah, polindes, RB, RSB, atau RS) dan kelas perawatan di RS 3. Masuk kamar bersalin pada tahap awal persalinan 4. Pendampingan waktu bersalin By. Triana Septianti P 20
  • 21.
  • 22.
    5. Clisma dancukur daerah pubis 6. Metode monitor denyut jantung janin 7. Percepatan persalinan 8. Diet selama proses persalinan By. Triana Septianti P 22
  • 23.
    9. Mobilisasi selamaproses persalinan 10. Pemakaian obat pengurang rasa sakit 11. Pemecahan ketuban secara rutin 12. Posisi ketika bersalin By. Triana Septianti P 23
  • 24.
    13. Episiotomi 14. Penolongpersalinan 15. Keterlibatan suami waktu bersalin, misalnya pemotongan tali pusat 16. Cara memberikan minuman bayi 17. Metode pengontrolan kesuburan By. Triana Septianti P 24
  • 25.
    Triana Septianti P,M.Keb By. Triana Septianti P 25
  • 26.
    apa itu By. TrianaSeptianti P 26
  • 27.
    ď‚— Informed concentbukan hal yang baru dalam bidang pelayanan kesehatan. Informed concent telah diakui sebagai langkah yang paling penting untuk mencegah terjadinya konflik dalam masalah etik. By. Triana Septianti P 27
  • 28.
    ď‚— Informed concentberasal dari dua kata, yaitu informed (telah mendapat penjelasan/keterangan/informasi) dan concent (memberikan persetujuan/mengizinkan). ď‚— Informed concent adalah suatu persetujuan yang diberikan setelah mendapatkan informasi. By. Triana Septianti P 28
  • 29.
    • Menurut VeronikaKomalawati pengertian informed concent adalah suatu kesepakatan/persetujuan pasien atas upaya medis yang akan dilakukan dokter terhadap dirinya setelah pasien mendapatkan informasi dari dokter mengenai upaya medis yang dapat dilakukan untuk menolong dirinya disertai informasi mengenai segala resiko yang mungkin terjadi. By. Triana Septianti P 29
  • 30.
    Dalam PERMENKES no585 tahun 1989 (pasal 1) • Informed concent ditafsirkan sebagai persetujuan tindakan medis adalah persetujuan yang diberikan pasien atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medik yang dilakukan terhadap pasien tersebut. By. Triana Septianti P 30
  • 31.
    ď‚— Dalam pencegahankonflik etik dikenal ada 4, yang urutannya adalah sebagai berikut : 1) Informed concent 2) Negosiasi 3) Persuasi 4) Komite etik ď‚— Informed concent merupakan butir yang paling penting, kalau informed concent gagal, maka butir selanjutnya perlu dipergunakan secara berurutan sesuasi dengan kebutuhan. ď‚— Informed concent adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien/walinya yang berhak terhadap bidan untuk melakukan suatu tindakan kebidanan terhadap pasien sesudah memperoleh informasi lengkap dan yang dipahaminya mengenai tindakan itu. By. Triana Septianti P 31
  • 32.
    Informed concent merupakanperlindungan bagi pasien terhadap bidan yang berperilaku memaksakan kehendak, dimana proses informed concent sudah memuat : 1. Keterbukaan informasi dari bidan kepada pasien 2. Informasi tersebut harus dimengerti pasien 3. Memberikan kesempatan kepada pasien untuk memberikan kesempatan yang baik 1. DIMENSI HUKUM By. Triana Septianti P 32
  • 33.
    Proses informed concentterkandung nilai etik sebagai berikut : 1. Menghargai kemandirian/otonomi pasien 2. Tidak melakukan intervensi melainkan membantu pasien bila dibutuhkan/diminta sesuai dengan informasi yang telah dibutuhkan 3. Bidan menggali keinginan pasien baik yang dirasakan secara subjektif maupun sebagai hasil pemikiran yang rasional 2. DIMENSI ETIK By. Triana Septianti P 33
  • 34.
    Peraturan pemerintah no.18th 1981 By. Triana Septianti P 34 Ketentuan 1. Manusia dewasa sehat jasmani dan rohani berhak sepenuhnya menentukan apa yg akan dilakukan thdp tubuhnya. 2. Semua tindakan medis memerlukan informed consent scr lisan maupun tertulis. 3. Setiap tindakan medis yg berisiko cukup besar mengharuskan adanya persetujuan scr tertulis yg ditandatangani pasien setelah sebelumnya mdapatkan informasi yg adekuat. 4. Untuk tindakan yg tdk termasuk dlm point 3 hanya dibutuhkan persetujuan lisan atau sikap diam.
  • 35.
    Peraturan pemerintah no.18th 1981 By. Triana Septianti P 35 Ketentuan 5. Informasi ttg tindakan medis harus diberikan kpd pasien baik diminta maupun tidak. Menahan info tidak boleh, kecuali bila dokter/bidan menilai bhw info tsbt akan membahayakan kesehatan ps. Pemberian info dpt disampaikan pada keluarga terdekat pasien dengan didampingi saksi (tenakes lain) 6. Isi informasi mencakup keuntungan dan kerugian tindakan medis yang direncanakan.
  • 36.
    By. Triana SeptiantiP 36 Bagaimana bentuk
  • 37.
    Persetujuan yang dianggaptelah diberikan walaupun tanpa pernyataan resmi yaitu pada keadaan gawat darurat yang mengancam jiwa pasien, tindakan penyelamatan kehidupan tidak memerlukan persetujuan tindakan medis. By. Triana Septianti P 37
  • 38.
    Persetujuan tindakan medikyang diberikan secara eksplisit baik secara lisan maupun tertulis. By. Triana Septianti P 38
  • 39.
  • 40.
    1. Penghormatan harkatdan martabat pasien 2. Promosi thdp hak utk menentukan nasibnya sendiri 3. Membantu kelancaran tindakan medis shg diharapkan dpt mempercepat proses pemulihan 4. Mendorong dokter melakukan kehati-hatian dlm mengobati pasien. By. Triana Septianti P 40
  • 41.
    5. Menghindari penipuanoleh dokter 6. Mendorong diambilnya keputusan yg rasional 7. Mendorong keterlibatan publik dlm masalah kedokteran dan kesehatan. 8. Proses edukasi masyarakat dlm bid.kedokteran dan kesh. 9. Meningkatkan mutu layanan. By. Triana Septianti P 41
  • 42.
    Melindungi pasien &tenakes dlm mberikan tindakan medik (pembedahan, invasif, tind.yg mengandung risiko tinggi), tind./pemeriksaan bukan mpembedahan (tdk invasif, tdk mengandung risiko tinggi), pasien tidak sadar, dan dlm keadaan darurat utk penyelamatan jiwa pasien. By. Triana Septianti P 42 Tujuan
  • 43.
  • 44.
    Dinyatakan sah jika: 1.Keterbukaan informasi 2. Kompetensi pasien dlm mberikan persetujuan 3. Kesukarelaan By. Triana Septianti P 44
  • 45.
    • Baik persetujuanmaupun penolakan sebaiknya dituangkan dalam bentuk tertulis, jika terjadi permasalahan, maka secara hukum bidan mempunyai kekuatan hukum karena mempunyai bukti tertulis, yang menunjukkan bahwa prosedur pemberian informasi telah dilalui dan keputusan ada ditangan klien untuk menyetujui atau menolak. By. Triana Septianti P 45
  • 46.
    • Hal inisesuai dengan hak pasien untuk menentukan diri sendiri, yaitu pasien berhak menerima atau menolak tindakan atas dirinya setelah diberi penjelasan sejelas-jelasnya. By. Triana Septianti P 46
  • 47.
    By. Triana SeptiantiP 47 Bagaimana Informed consent di
  • 48.
    SK Dirjen PelayananMedik no: HR.00.06.3.5.1866 tgl 21 April 1999 1. Persetujuan atau penolakan tindakan medik harus kebijakan dan prosedur (SOP) dan ditetapkan tertulis oleh pimpinan RS. 2. Memperoleh informasi dan pengelolaan, kewajiban dokter. By. Triana Septianti P 48
  • 49.
    Masalah yang dihadapioleh pihak bidan/RS atau RB, yaitu: 1. Pengertian kemampuan secara hukum dari orang yang akan menjalani tindakan, serta siapa yang berhak menandatangani surat persetujuan, batasan usia, kesadaran, kondisi mentalnya dsb. By. Triana Septianti P 49
  • 50.
    2. Masalah waliyang sah. Timbul apabila pasien atau ibu tidak mampu secara hukum untuk menyatakan persetujuannya. 3. Masalah informasi yang diberikan yaitu seberapa jauh informasi dianggap telah dijelaskan dengan cukup jelas, tetapi juga tidak terlalu terinci sehingga dianggap menakut-nakuti. 4. Dalam memberikan persetujuan, apakah diperlukan saksi, apabila diperlukan apakah saksi tersebut perlu menandatangani formulir yang ada. Bagaimana menentukan saksi. By. Triana Septianti P 50
  • 51.
    5. Dalam keadaandarurat, misalnya kasus perdarahan pada ibu hamil, dan keluarganya belum dapat dihubungi, dalam keadaan seperti ini siapakah yang berhak memberikan persetujuan, sementara pasien perlu segera ditolong. Bagaimana perlindungan hukum kepada si bidan yang melakukan tindakan atas dasar keadaan darurat dan dalam upaya penyelamatan jiwa ibu dan janinnya. By. Triana Septianti P 51
  • 52.
    Hal yg harusdiperhatikan dlm pembuatan Informed consent a. Tidak harus tertulis b. Tindakan invasif (pembedahan) sebaiknya tertulis c. Tertulis memudahkan dlm pembuktian bila ada tuntutan d. Informed consent bukan berarti lepas tanggungjawab/tuntutan bila dokter melakukan kelalaian By. Triana Septianti P 52
  • 53.
    (Culver dan Gert) yangharus DIPAHAMI dalam By. Triana Septianti P 53 a. Sukarela : tanpa paksaan b. Informasi : info lengkap sangat dibutuhkan c. Kompetensi: membutuhan suatu hal utl mampu membuat keputusan d. Keputusan
  • 54.
    Lalu apa By. TrianaSeptianti P 54
  • 55.
    • Alasan perlunyatindakan medik • Sifat tindakan: eksperimen/non eksperimen • Tujuan tindakan medik • Risiko • Persetujuan/ penolakan oleh seseorang yg dianggap sehat mental dan berhak scr hukum • Setelah cukup diberi penjelasan/informasi By. Triana Septianti P 55
  • 56.
    • Informasi: a. Tujuandan prospek keberhasilan b. Tata cara tindakan medis c. Risiko tindakan d. Komplikasi e. Alternatif tindakan lain f. Prognosis penyakit g. Diagnosis By. Triana Septianti P 56
  • 57.
    PASIEN – BIDAN INFORMASI CHOICE KEPUTUSAN MENOLAK(REFUSAL) PERSETUJUAN (CONSENT) TTD FORM TTD FORM By. Triana Septianti P 57
  • 58.
    1. Pasien dptkaninformasi 2. Kesempatan bertanya 3. Waktu berdiskusi dg keluarga 4. Ps dpt menggunakan informasi utk mbuat keputusan 5. Keputusan dikomunikasikan dg tim medis 6. Pasien berhak menolak rencana tindakan 7. Format ditandatangani pasien 8. Membaca ulang form yang telah ditandatangani dihadapan pasien dan keluarga secara langsung 9. Proses tindakan dilakukan By. Triana Septianti P 58
  • 59.
    “Manfaat INFORMED CONSENTadalah untuk mengurangi keadaan MALPRAKTEK dan agar bidan lebih berhati-hati serta berupaya agar alur pemberian informasi benar-benar dilakukan dalam memberikan pelayanan kebidanan.” By. Triana Septianti P 59
  • 60.
    Tugas ROLE PLAY Bagidalam 6 kelompok dan beri isian jawaban atas skenario yang telah dibagikan pada masing2 kelompok lalu buat video role play! By. Triana Septianti P 60
  • 61.
    Tugas ROLE PLAY 1.Rencana IVA test 2. Rencana operasi SC pada psien gawatdarurat 3. Rencana pencabutan Implant ganti cara IUD 4. Rencana rujukan RS khusus kanker serviks 5. Rencana operasi tumor payudara 6. Rencana rujukan bayi dengan asphiksia By. Triana Septianti P 61