1
1
PERADILAN AGAMA
Oleh :
I Putu Harry Suandana Putra, SH., MH.
Nidn : 0831128026
PRODI HUKUM
FAKULTAS SOCIAL BISNIS TEKNOLOGI HUMANIORA
UNIVERSITAS BALI INTERNATIONAL
2024
2
PERADILAN AGAMA
KEWENANGAN MENGADILI BADAN PERADILAN AGAMA
DAPAT DIBAGI MENJADI 2 (DUA) KEWENANGAN YAITU:
Kewenangan Mutlak (Absolute Competensi) yaitu
kewenangan yang menyangkut kekuasaan mutlak untuk
mengadili suatu perkara, artinya perkara tersebut hanya bisa
diperiksa dan diadili oleh Pengadilan Agama. Dalam istilah
lain disebut “Atribut Van Rechsmacht”. Contoh perkara
perceraian bagi orang-orang yang beragama Islam dan
perkawinannya dilakukan secara Islam menjadi kewenangan
absolute Pengadilan Agama
Kewenangan Mengadili Peradilan Agama
3
PERADILAN AGAMA
Kewenangan Relatif (Relative Competensi) yaitu kewenangan
mengadili suatu perkara yang menyangkut wilayah/daerah hukum
(yurisdiksi), hal ini dikaitkan dengan tempat tinggal pihak-pihak
berperkara. Ketentuan umum menentukan gugatan diajukan
kepada pengadilan yang mewilayahi tempat tinggal tergugat (Pasal
120 ayat (1) HIR/Pasal 142 ayat (1) RBg. Dalam Perkara perceraian
gugatan diajukan ke pengadilan yang daerah hukumnya meliputi
tempat tinggal isteri (Pasal 66 ayat (2) dan Pasal 73 ayat (1)
Undang-undang Nomor 7 tahun 1989). Dalam istilah lain
kewenangan relatif ini disebut “Distribute van Rechtsmacht”.
Pengadilan yang berhak mengadili suatu perkara dalam bahasa
latin disebut dengan istilah “Actor Sequitur Forum Rei”.
Kewenangan Mengadili Peradilan Agama
4
PERADILAN AGAMA
Tugas Pokok Badan Peradilan Agama
Menerima, memeriksa, mengadili dan memutus serta menyelesaikan
perkara antara orang-orang yang beragama Islam dalam bidang:
•Perkawinan.
•Waris.
•Wasiat.
•Hibah.
•Wakaf.
•Zakat.
•Infaq.
•Shadaqoh.
•Ekonomi Syari’ah.
(Pasal 49 Undang-undang Nomor 3 tahun 2006 Tentang Perubahan atas
Undang-Undang-ndang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama).
5
PERADILAN AGAMA
Tugas Pokok Badan Peradilan Agama
“Pengadilan Agama berkuasa atas perkara
perkawinan bagi mereka yang beragama Islam
sedangkan bagi yang selain Islam menjadi
kekuasaan Peradilan Umum”.
6
PERADILAN AGAMA
Tugas Lain Dari Badan Peradilan Agama
Selain dari tugas pokok sebagaimana diuraikan di atas, Peradilan Agama mempunyai
tugas tambahan baik yang diatur dalam Undang-undang maupun dalam peraturan-
peraturan lainnya yaitu :
1. Memberikan pertimbangan dan nasehat tentang hukum Islam kepada instansi
pemerintah apabila diminta. (Pasal 52 ayat (1) Undang-undang No. 7/1989.
2. Menyelesaikan permohonan pertolongan pembagian harta peninggalan di luar
sengketa antara orang-orang Islam. (Pasal 107 ayat (2) Undang-undang No. 7/1989).
Hal ini sudah jarang dilakukan karena Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 telah
mengatur dibolehkannya penetapan ahli waris dalam perkara volunteer.
3. Memberikan isbat kesaksian rukyat hilal dalam penentuan awal bulan tahun
hijriyah (Pasal 52 A UU No.3 Tahun 2006).
4. Melaksanakan tugas lainnya seperti pelayanan riset/penelitian dan tugas-tugas
lainnya.
7
PERADILAN AGAMA
Jenis Perkara di Lingkungan Peradilan Agama
Selain dari tugas pokok sebagaimana diuraikan di atas, Peradilan Agama mempunyai
tugas tambahan baik yang diatur dalam Undang-undang maupun dalam peraturan-
peraturan lainnya yaitu :
1. Memberikan pertimbangan dan nasehat tentang hukum Islam kepada instansi
pemerintah apabila diminta. (Pasal 52 ayat (1) Undang-undang No. 7/1989.
2. Menyelesaikan permohonan pertolongan pembagian harta peninggalan di luar
sengketa antara orang-orang Islam. (Pasal 107 ayat (2) Undang-undang No. 7/1989).
Hal ini sudah jarang dilakukan karena Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 telah
mengatur dibolehkannya penetapan ahli waris dalam perkara volunteer.
3. Memberikan isbat kesaksian rukyat hilal dalam penentuan awal bulan tahun
hijriyah (Pasal 52 A UU No.3 Tahun 2006).
4. Melaksanakan tugas lainnya seperti pelayanan riset/penelitian dan tugas-tugas
lainnya.
URUTAN BERACARA DI
PERADILAN AGAMA
9
URUTAN BERACARA DI
PERADILAN AGAMA
A. URUTAN BERACARA DI PERADILAN UMUM
Urutan beracara pada hukum acara (Peradilan Umum)
a. Gugatan
b. Mediasi
c. Jawaban (eksepsi, pokok perkara, rekopensi)
d. Replik (penggugat, lugas)
e. Duplik (tergugat, penggugat rekopensi)
f. Pembuktian (pembuktian oleh masing-masing pihak apakah
benar/ tidak statemen masing2)
g. Kesimpulan
h. Putusan
10
URUTAN BERACARA DI
PERADILAN AGAMA
B. URUTAN BERACARA DI PERADILAN AGAMA
Hukum Acara Khusus dalam Undang-undang
Nomor 7 Tahun 1989 jo. Undang-undang Nomor 3
Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009
Dalam buku II Pedoman Pelaksanaan Tugas dan
Administrasi Pengadilan, Bagian Kedua, Bidang
Teknis Peradilan, Peradilan Agama diatur hal-hal
yang ringkasnya sebagai berikut :
11
URUTAN BERACARA DI
PERADILAN AGAMA
B. URUTAN BERACARA DI PERADILAN AGAMA
1) Bidang Perkawinan
Beberapa perkara berikut dapat diajukan dan diperiksa serta diputus secara
voluntoir, maksudnya : berbentuk permohonan yang hanya terdiri dari
pihak Pemohon saja dan tidak terdapat sengketa. Padahal menurut azasnya
perkara terdiri dari dua pihak yang sedang bersengketa atau disebut perkara
contensios. Perkara voluntoir tersebut adalah :
a)Permohonan dispensasi umur kawin
b)Permohonan izin kawin
c)Permohonan penetapan wali adhol
d)Permohonan penetapan perwalian
e)Permohonan penetapan asal-usul anak
12
URUTAN BERACARA DI
PERADILAN AGAMA
B. URUTAN BERACARA DI PERADILAN AGAMA
2) Bidang Perceraian
a) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 jo. UU Nomor 3 Tahun 2006 dan
UU Nomor 50 Tahun 2009 memberi kemudahan dan perlindungan
kepada isteri dalam hal di Pengadilan Agama mana perceraian diajukan.
(1) Suami mengajukan cerai talak di Pengadilan Agama yang di daerah
hukumnya meliputi tempat kediaman Termohon (isteri) (Pasal 66 (2)).
(2) Isteri mengajukan cerai gugat di Pengadilan Agama yang di daerah
hukumnya meliputi tempat kediaman Penggugat (isteri) (pasal 73 (2)).
13
URUTAN BERACARA DI
PERADILAN AGAMA
B. URUTAN BERACARA DI PERADILAN AGAMA
2) Bidang Perceraian
b) Dalam perkara perceraian tidak ada pihak yang kalah atau
menang, sehingga biaya perkara dibebankan kepada Penggugat
atau Pemohon (Pasal 89 ayat (1))
c) Pemeriksaan perkara perceraian dalam sidang tertutup (pasal 68
(2) dan 80). Hal ini dimaksudkan untuk menjaga rahasia pribadi para
pihak.
d) Permohonan penguasaan anak, nafkah anak, nafkah isteri dan
harta bersama-sama dengan permohonan cerai talak/ gugat cerai
ataupun sesudahnya (Pasal 66 ayat (5) 86 ayat (1)
14
URUTAN BERACARA DI
PERADILAN AGAMA
B. URUTAN BERACARA DI PERADILAN AGAMA
2) Bidang Perceraian
e) Untuk melindungi isteri maupun anak, Hakim Pengadilan
Agama baik diminta atau tidak, dalam perkara perceraian dapat
menghukum pihak suami untuk memberi nafkah isteri maupun
anaknya (Pasal 44 c UU Nomor 1 Tahun 1974 jo. 78 a UU Nomor
7 Tahun 1989 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 3
Tahun 2006 dan 45 ayat (2) dan 49 ayat (2) UU Nomor 1 Tahun
1974 jo. 78 huruf b UU Nomor 7 Tahun 1989 jo. UU Nomor 3
Tahun 2006.
15
URUTAN BERACARA DI
PERADILAN AGAMA
B. URUTAN BERACARA DI PERADILAN AGAMA
2) Bidang Perceraian
e) Untuk melindungi isteri maupun anak, Hakim Pengadilan Agama baik
diminta atau tidak, dalam perkara perceraian dapat menghukum pihak
suami untuk memberi nafkah isteri maupun anaknya (Pasal 44 c UU
Nomor 1 Tahun 1974 jo. 78 a UU Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana telah
diubah dengan UU Nomor 3 Tahun 2006 dan 45 ayat (2) dan 49 ayat (2) UU
Nomor 1 Tahun 1974 jo. 78 huruf b UU Nomor 7 Tahun 1989 jo. UU Nomor
3 Tahun 2006.
f) Hak bekas isteri maupun anaknya atas bagian bekas suaminya yang
Pegawai Negeri, dapat dituntut dan diputus dalam perkara perceraiannya
(PP 10 Tahun 1983 jo. PP 45 Tahun 1990).
16
URUTAN BERACARA DI
PERADILAN AGAMA
B. URUTAN BERACARA DI PERADILAN AGAMA
3) Bidang Waris, Wasiat dan Hibah yang Dilakukan Berdasarkan
Hukum Islam
a) Undang-undang Nomor 7 tahun 1989 jo. UU Nomor 3 Tahun
2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009 menganut azas personalitas
keislaman, oleh karena itu Pengadilan Agama berwenang
memeriksa dan mengadili perkara waris/ wasiat apabila pewaris (si
mayit) beragama Islam.
b) Hibah yang dilakukan oleh orang Islam kepada orang Islam
apabila timbul sengketa adalah menjadi kewenangan Pengadilan
Agama.
17
URUTAN BERACARA DI
PERADILAN AGAMA
B. URUTAN BERACARA DI PERADILAN AGAMA
3) Bidang Waris, Wasiat dan Hibah yang Dilakukan Berdasarkan
Hukum Islam
c) Bagi orang yang menghendaki surat keterangan ahli waris
misalnya untuk mengambil deposito di Bank, dapat dibuat akta di
bawah tangan kemudian dimintakan pengesahan (gewaasmarker)
kepada Ketua Pengadilan Agama
d) Akta comparisi pembagian harta waris di luar sengketa dapat
dilakukan berdasarkan pasal 107 UU Peradilan Agama jo. 236 a
HIR.
18
URUTAN BERACARA DI
PERADILAN AGAMA
B. URUTAN BERACARA DI PERADILAN AGAMA
4) Sengketa Milik
Pasal 50 UU Nomor 7 Tahun 1989 jo. UU Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor
50 Tahun 2009 menyatakan :
(1) Dalam hal terjadi sengketa hak milik atau sengketa lain dalam perkara
sebagaimana dimaksud dalam pasal 49, khusus mengenai objek sengketa
tersebut harus diputus lebih dahulu oleh Pengadilan dalam lingkungan
Peradilan Umum.
(2) Apabila terjadi sengketa hak milik sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
yang subyek hukumnya antara orang-orang yang beragama Islam, obyek
sengketa tersebut diputus oleh Pengadilan Agama bersama-sama perkara
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49.
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
20
BERPERKARA DI PENGADILAN
AGAMA
Seseorang yang akan berperkara di Pengadilan Agama datang secara pribadi
atau melalui kuasannya yang sah (dengan Surat Kuasa) mengajukan surat
gugatan atau permohonan yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan Agama
dan mendaftarkannya kepada petugas yang ditunjuk menerima surat
gugatan atau permohonan tersebut.
Kemudian petugas yang menerima surat gugatan atau permohonan tersebut
menaksir uang muka/panjar biaya perkara yang harus dibayar dengan
membuat Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM) lalu penggugat atau
pemohon membayar uang muka/panjar biaya perkara ke kasir.
PROSES BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA
21
Proses Berperkara di Pengadilan Agama
Selanjutnya petugas kasir memberi nomor perkara pada surat
gugatan atau permohonan tersebut dan menyerahkan satu
eksemplar salinan surat gugatan atau permohonan dan lembar
pertama (asli) SKUM kepada yang mengajukan perkara.
Setelah itu perkara tersebut didaftarkan ke dalam buku induk
perkara oleh petugas yang ditunjuk sesuai dengan jenis
perkaranya, dengan demikian perkara tersebut telah didaftar
secara resmi dan akan ditentukan Majelis Hakim yang akan
memerikasanya oleh Ketua Pengadilan.
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
22
A. TATA CARA GUGAT MENGGUGAT
Pengertian surat gugatan ialah surat yang diajukan kepada Ketua
Pengadilan yang berkompeten yang memuat tuntutan hak dan adanya
kepentingan hukum serta mengandung sengketa.
Yang mengajukan disebut Penggugat sedang pihak yang digugat
disebut Tergugat. Dalam praktek sering ditemukan Penggugat tidak
hanya satu orang tetapi bisa lebih, demikian juga Tergugat bahkan
kemungkinan terdapat orang lain atau pihak ketiga yang tidak masuk
kepada kelompok Penggugat maupun Tergugat tetapi mempunyai
hubungan atau keterkaitan dengan perkara yang diajukan tetapi pihak
ketiga tersebut tidak mau bergabung dengan penggugat maupun
dengan Tergugat oleh karena itu pihak ketiga tersebut harus dilibatkan
dalam perkara dan dalam surat gugatan disebut sebagai Turut Tergugat.
BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA
23
1. Bentuk dan Kelengkapan Gugatan/Permohonan
Adapun bentuk gugatan atau permohonan dapat dibagi 2 (dua) yaitu :
a. Bentuk Tertulis
Gugatan atau permohonan bentuk tertulis harus memenuhi syarat formil, dibuat
dengan jelas dan terang serta ditanda tangani oleh yang mengajukan
(Penggugat/Pemohon) atau kuasanya yang telah mendapat surat kuasa khusus.
b. Bentuk Lisan
Gugatan atau permohonan bentuk lisan ialah gugatan atau permohonan yang
diajukan secara lisan kepada Ketua Pengadilan oleh mereka yang buta huruf dan
Ketua Pengadilan mencatat atau menyuruh mencatat kepada salah seorang
pejabat pengadilan, kemudian catatan tersebut diformulasikan menjadi surat
gugatan atau permohonan. (Pasal 120 HIR/Pasal 144 ayat (1) RBg.)
BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA
A. TATA CARA GUGAT MENGGUGAT
24
Syarat-syarat Gugatan
Berupa Tuntutan
Yaitu merupakan suatu aksi atau tindakan hukum yang bertujuan untuk memperoleh
perlindungan hukum dari Pengadilan dan untuk mencegah tindakan main hakim
sendiri.
Ada Kepentingan Hukum
Maksudnya yaitu setiap gugatan harus merupakan tuntutan hak dan mempunyai
kepentingan hukum yang cukup.
Sengketa
Yaitu tuntutan hak tersebut harus merupakan sengketa. Tidak ada sengketa maka tidak
ada perkara (geen belang, geen actie)
Dibuat dengan Cermat dan Terang
Yaitu dengan alasan atau dasar hukumnya harus jelas dan dapat dibuktikan apabila
disangkal, pihak-pihaknya juga harus jelas demikian juga obyeknya. Jika tidak jelas
maka surat gugatan tersebut akan dinyatakan gugatan kabur (Obscure Libel).
BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA
A. TATA CARA GUGAT MENGGUGAT
25
Unsur-unsur Surat Gugatan
Unsur-unsur surat gugatan ada 3 (tiga) yaitu :
1. Identitas dan kedudukan para pihak
Menurut ketentuan pasal 67 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989,
Identitas seseorang adalah nama lengkap, umur dan tempat tinggal,
tetapi untuk lebih lengkapnya identitas seseorang sebaiknya ditulis
juga jenis kelamin, agama dan pekerjaan. Kebiasaan di Peradilan
Agama jenis kelamin seseorang dapat diketahui dari nama yang
bersangkutan diiringi dengan kata Bin berarti anak laki-laki dari dan
kata Binti artinya anak perempuan.
BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA
A. TATA CARA GUGAT MENGGUGAT
26
Unsur-unsur Surat Gugatan
2. Posita yaitu penjelasan tentang keadaan atau peristiwa yang
berhubungan dengan hukum yang dijadikan sebagai landasan atau dasar
dari gugatan tersebut serta dibuat dengan jelas dan terang. Dalam bahasa
lain posita disebut Fundamentum Fetendi. Jadi suatu surat gugatan harus
memuat peristiwa hukum dan dasar hukum yang dijadikan alasan untuk
mengajukan tuntutan.
.
3.Petitum yaitu tuntutan yang diminta oleh Penggugat supaya dikabulkan
oleh Hakim.
Suatu petitum harus didukung dengan posita dan suatu petitum yang
tidak didasarkan pada posita maka petitum tidak akan dikabulkan oleh
hakim.
BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA
A. TATA CARA GUGAT MENGGUGAT
27
Penggabungan (Kumulasi) Gugatan/Permohonan
Ada beberapa macam penggabungan (kumulasi) yaitu:
A. Kumulasi Subjektif yaitu jika dalam surat
gugatan/permohonan terdapat beberapa orang penggugat
atau Tergugat.
B. Kumulasi Obyektif yaitu Penggugat mengajukan beberapa
tuntutan atau gugatan terhadap Tergugat.
BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA
A. TATA CARA GUGAT MENGGUGAT
28
Penggabungan (Kumulasi) Gugatan/Permohonan
BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA
C. Intervensi yaitu ikut sertanya pihak ketiga ke dalam suatu proses perkara karena
ada kepentingan hukum atau ditarik sebagai pihak. Kumulasi atau Penggabungan
gugatan/permohonan dalam satu surat gugatan/ permohonan berarti terdapat
beberapa tuntutan/permohonan.
Intervensi diatur dalam pasal 279 -282 R.V. dan ada 3 (tiga) macam bentuk intervensi
yang dikenal dalam hukum acara perdata yaitu :
v Tussenkomst ialah masuknya pihak ketiga ke dalam perkara yang sedang
berlangsung untuk membela kepentingannya sendiri, oleh karena itu ia melawan
kedua belah pihak (Penggugat dan Tergugat) yang sedang berperkara.
v Voeging adalah suatu aksi hukum oleh pihak yang berkepentingan dengan jalan
memasuki perkara yang sedang berlangsung antara penggugat dan tergugat dengan
memihak kepada penggugat atau tergugat.
v Vrijwaring adalah suatu aksi hukum yang dilakukan oleh tergugat untuk menarik
pihak ketiga ke dalam perkara yang sedang berlangsung guna menjamin kepentingan
tergugat dalam menghadapi gugatan Penggugat
A. TATA CARA GUGAT MENGGUGAT
29
Gugatan Rekonvensi
Yang dimaksud dengan gugatan rekonpensi ialah gugatan balik yang
diajukan oleh Tergugat terhadap Penggugat tentang sengketa antara
mereka menyangkut hukum kebendaan. Dasar hukum Pasal 132 a dan 132
b HIR/Pasal 157 dan 158 RBg.
BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA
Syarat-syarat gugatan rekonvensi :
1. Diajukan bersama-sama jawaban, tetapi ada yang berpendapat selama
dalam tahap jawab menjawab dan belum sampai ke pembuktian bisa diajukan
gugatan rekonpensi.
2. Diajukan terhadap Penggugat inpersona tidak kepada kuasa Penggugat.
3. Menyangkut hukum kebendaan, dalam hal ini sepanjang masih dalam
kewenangan Pengadilan Agama.
Bukan mengenai pelaksanaan putusan.
A. TATA CARA GUGAT MENGGUGAT
30
Gugatan secara cuma-cuma (prodeo).
BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA
Gugatan secara cuma-cuma (prodeo)
Pada dasarnya beracara di Pengadilan dalam gugatan perdata,
dikenakan biaya perkara (pasal 121 ayat (4) dan pasal 182 HIR,
pasal 4 ayat (2) Undang-undang Nomor 4 tahun 2004). Namun
dalam hal Penggugat dan Tergugat tidak mampu, ia dapat
mohon kepada Ketua Pengadilan untuk berperkara secara
cuma-cuma, sebelum perkara pokok diperiksa oleh Pengadilan
(pasal 237 HIR, pasal 273 RBg). Permohonan diajukan dengan
melampirkan Surat Keterangan Tidak Mampu yang dibuat oleh
Kepala Desa dan diketahui Camat.
A. TATA CARA GUGAT MENGGUGAT
31
Surat permohonan ialah surat yang diajukan kepada Ketua Pengadilan yang
berkompeten yang memuat tuntutan hak perdata yang diajukan oleh
seseorang atau lebih yang mempunyai kepentingan hukum terhadap suatu
hal yang tidak mengandung sengketa dan diatur dalam Undang-undang atau
ada aturan hukumnya. Contoh perwalian, pengangkatan anak dan lain-lain.
Ciri-ciri Surat Permohonan yaitu :
Ada kepentingan hukum.
Tidak mengandung sengketa
Diatur dalam Undang-undang atau Peraturan Tata Cara Pemerikasaan
Perkara
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
B. TATA CARA SURAT PERMOHONAN
32
Setelah surat gugatan atau permohonan didaftar atau dicatat dalam register
induk perkara, maka Panitera Pengadlan Agama selambat-lambatnya 7 (tujuh)
hari harus sudah menyampaikan berkas perkara tersebut kepada Ketua
Pengadilan Agama, lalu Ketua Pengadilan memeriksa kelengakapan berkas
perkara tersebut, selanjutnya menunjuk Majelis Hakim yang akan memeriksa
perkara tersebut dengan membuat Penetapan Majelis Hakim (PMH).
Kemudian perkara tersebut diserahkan kepada Majelis Hakim melalui Panitera,
lalu Ketua Majelis Hakim yang ditunjuk tersebut membuat Penetapan Hari
Sidang (PHS) dengan menetapkan Hari Sidang dan memerintahkan Juru
sita/Juru sita Pengganti untuk memanggil pihak-pihak yang berperkara.
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
C. TATA CARA PEMERIKASAAN PERKARA
Persiapan Persidangan
33
Tenggang waktu pemanggilan pihak-pihak berperkara tersebut, tidak boleh
kurang dari 3 (tiga) hari antara hari pemanggilan dan hari sidang yang telah
ditentukan, artinya panggilan sidang harus sudah diterimakan kepada pihak-
pihak berperkara selambat-lambatnya 3 (tiga) hari sebelum hari sidang, apabila
panggilan disampaikan kepada pihak-pihak berperkara kurang dari 3 (tiga) hari,
misalnya 2 (dua) hari sebelum hari sidang, maka panggilan tersebut harus
dinyatakan tidak patut/tidak sah. Perkara yang telah resmi terdaftar harus
sudah disidangkan selambat-lambatnya 1 (satu) bulan dari pendaftaran
perkara, kecuali ada alasan hukum yang membenarkan, misalnya pihak
Tergugat berada di luar Negeri
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
C. TATA CARA PEMERIKASAAN PERKARA
Persiapan Persidangan
34
Tata Cara Pemanggilan Pihak-pihak Berperkara Untuk menghadirkan pihak-pihak
berperkara di muka persidangan, harus dilakukan dengan surat panggilan resmi (relaas
panggilan) dengan cara sebagai berikut :
1.Pemanggilan dilakukan oleh Juru Sita/Juru Sita Pengganti.
2.Disampaikan kepada pribadi yang bersangkutan di tempat tinggalnya.
Jika yang dipanggil tidak ditemui di tempat tinggalnya panggilan disampaikan 3.melalui
Kepala Desa/Lurah setempat.
4.Panggilan sudah disampaikan minimal 3 (tiga) hari sebelum hari sidang.
5.Panggilan pertama kepada Tergugat harus dilampirkan salinan surat gugatan.
Dasar hukumnya Pasal 145 dan pasal 718 RBg, Pasal 121 dan Pasal 390 HIR, pasal 26
dan 27 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975.
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
C. TATA CARA PEMERIKASAAN PERKARA
Persiapan Persidangan
35
Sebelum memeriksa perkara, Majelis Hakim harus membaca dan
mepelajari berkas perkara, dan dalam persidangan Ketua Majelis
berada di tengah/diantara dua hakim anggota lalu membuka sidang
dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim diiringi dengan
mengetukkan palu sebanyak 3 (tiga) kali, selanjutnya Para pihak
dipanggil masuk ke ruang sidang, kemudian Majelis Hakim
memeriksa identitas para pihak, jika diwakili oleh kuasanya, maka
penerima kuasa tersebut harus diperiksa identitasnya dan juga
surat kuasanya
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
C. TATA CARA PEMERIKASAAN PERKARA
Tahap-Tahap Pemerikasaan
36
Secara teoritis pemeriksaan suatu perkara dilakukan dengan cara
sebagai berikut:
1.Sidang pertama usaha Perdamaian.
2.Sidang kedua Pembacaan surat gugatan.
3.Sidang ketiga Jawaban Tergugat.
4.Sidang keempat Replik Penggugat.
5.Sidang kelima Duplik Tergugat.
6.Sidang keenam Pembuktian dari Penggugat.
7.Sidang ketujuh Pembuktian dari Tergugat.
8.Sidang kedelapan Kesimpulan pihak-pihak berperkara.
9.Sidang kesembilan Pembacaan putusan
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
C. TATA CARA PEMERIKASAAN PERKARA
Tahap-Tahap Pemerikasaan
37
Tahapan-tahapan seperti diuraikan di atas (1 s/d 9 ) tidak bersifat
baku, bisa lebih singkat dan bisa juga lebih lama, cepat dan lamanya
penyelesaian suatu perkara sangat tergantung dari kehadiran dan
kesiapan pihak-pihak berperkara karena pada dasarnya dalam
perkara perdata hakim bersifat pasif, akan tetapi harus diingat bahwa
suatu perkara perdata pada peradilan tingkat pertama dan peradilan
tingkat banding harus sudah selesai selambat-lambatnya 6 (enam)
bulan sejak didaftarkan. (SEMA RI No. 6 Tahun 1992 tanggal 21
Oktober 1992, terakhir SEMA Nomor 3 Tahun 1998).
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
C. TATA CARA PEMERIKASAAN PERKARA
Tahap-Tahap Pemerikasaan
38
Catatan: Pada sidang pertama sebelum memeriksa pokok
perkara, Hakim wajib mendamaikan pihak-pihak berperkara.
Jika perdamaian tersebut berhasil, maka dibuatkan akta
perdamaian (Acta van vergelijk) yang isinya menghukum kedua
belah pihak untuk melaksanakan isi perdamaian. Akan tetapi
dalam perkara perceraian tidak dibuatkan akta perdamaian
melainkan perkara dicabut
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
C. TATA CARA PEMERIKASAAN PERKARA
Tahap-Tahap Pemerikasaan
39
Hakim tanpa diminta oleh pihak berperkarapun sebenarnya
harus mengundurkan diri dari perkara apabila:
Ia secara pribadi mempunyai kepentingan baik langsung atau
tidak langsung dalam perkara itu.
Suami/Isteri, keluarga atau keluarga semendanya dalam garis
keturunan lurus, atau sampai derajat ke empat ke samping
tersangkut dalam perkara itu. Hal ini dimaksudkan untuk
menjamin peradilan yang obyektif dan tidak memihak. (Pasal
374 HIR/702 RBg.
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
C. TATA CARA PEMERIKASAAN PERKARA
Tahap-Tahap Pemerikasaan
40
Eksepsi adalah sanggahan terhadap suatu gugatan atau
perlawanan yang tidak mengenai pokok perkara dengan
maksud untuk menghindari gugatan agar Hakim
menetapkan gugatan tidak dapat diterima atau ditolak
(Pasal 136 HIR/Pasal 162 RBg Pasal 356 R.V.
Pada dasarnya eksepsi terbagi 2 (dua) yaitu:
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
C. TATA CARA PEMERIKASAAN PERKARA
EKSEPSI
41
1) Eksepsi Formil (Prosesual Eksepsi) yaitu eksepsi berdasarkan
hukum formil atau hukum acara. Eksepsi formil ini terbagi 5
macam yaitu :
1. Eksepsi tentang kewenangan absolute
2. Eksepsi tentang kewenangan relatif.
3. Eksepsi tentang nebis is idem (eksepsi van gewisde zaak)
4. Eksepsi diskwalifikator.
5. Eksepsi gugatan kabur (obscure libel).
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
C. TATA CARA PEMERIKASAAN PERKARA
EKSEPSI
42
2) Eksepsi Materil yaitu eksepsi berdasarkan hukum materil yang
meliputi :
- Dilatoir eksepsi. (Belum waktunya diajukan)
- Prematoir eksepsi. (Terlambat mengajukan)
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
C. TATA CARA PEMERIKASAAN PERKARA
EKSEPSI
43
Eksepsi tidak berwenang secara absolut, eksepsi menyangkut
kewenangan mutlak yaitu sanggahan tentang kewenangan
absolute pengadilan yang tidak berwenang mengadili perkara
tersebut melainkan menjadi wewenang Pengadilan lain.
Eksepsi kewenangan relatif, eksepsi mengenai kewenangan
relatif.
Eksepsi Nebis in idem, suatu perkara tidak dapat diputus dua kali
sehingga suatu perkara yang sama antara pihak-pihak yang sama
dan di pengadilan yang sama pula.
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
C. TATA CARA PEMERIKASAAN PERKARA
EKSEPSI
44
v Eksepsi diskwlifikator, yaitu eksepsi yang menyatakan Penggugat tidak
mempunyai kedudukan/hak untuk mengajukan gugatan atau Pengugat salah
menentukan Tergugat baik mengenai orangnya maupun identitasnya
v Eksepsi gugatan obscure libel, yaitu karena surat gugatan kabur, tidak jelas,
tidak dapat dipahami baik mengenai susunan kalimatnya, formatnya atau
hubungan hukumnya satu sama lain yang tidak saling mendukung atau
mungkin bertentangan sama sekali. Eksepsi dilatoir, eksepsi yang menyatakan
bahwa perkara tersebut bersifat prematur, belum waktunya diajukan, misalnya
mengenai perjanjian belum habis waktunya.
v Eksepsi prematoir, adalah eksepsi yang menyatakan
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
C. TATA CARA PEMERIKASAAN PERKARA
EKSEPSI
45
Terhadap hal-hal yang telah diakui atau setidak-tidaknya
tidak disangkal tidak perlu dibuktikan, selain itu masih
ada satu hal lagi yang tidak harus dibuktikan, yaitu
berupa hal-hal atau keadaan-keadaan yang telah
diketahui oleh khalayak ramai (umum) yang dalam istilah
hukum disebut fakta notoir.
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
C. TATA CARA PEMERIKASAAN PERKARA
EKSEPSI
46
Dalam hukum acara perdata ada 5 (lima macam) alat
bukti yaitu :
1. Surat
2. Saksi
3. Persangkaan
4. Pengakuan.
5. Sumpah
Dasar Hukum : Pasal 164 HI/Pasal 284 RBg/ Pasal 1866
BW
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
C. TATA CARA PEMERIKASAAN PERKARA
ALAT BUKTI
47
Putusan adalah produk Hakim dari hasil pemeriksaan dan penyelesaian perkara di
persidangan. Ada 3 (tiga) macam produk Hakim yaitu :
Putusan ialah pernyatan Hakim yang dituangkan dalam bentuk tertulis dan diucapkan
dalam sidang yang terbuka untuk umum sebagai hasil dari pemeriksaan perkara
gugatan (kontensius)
Penetapan ialah pernyataan Hakim yang dituangkan dalam bentuk tertulis dan
diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum sebagai hasil dari pemeriksaan
perkara permohonan (volunteer)
Akta Perdamaian ialah akta yang dibuat oleh Hakim berisi hasil musyawarah/
kesepakatan antara para pihak dalam sengketa kebendaan untuk mengakhiri sengketa
dan berlaku sebagai putusan.
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
D. PUTUSAN
48
Dari segi fungsinya dalam mengakhiri perkara ada 2 (dua) macam putusan yaitu :
1. Putusan Akhir Putusan akhir ialah putusan yang mengakhiri pemeriksaan di
persidangan baik melalui semua tahapan pemerikasaan maupun yang belum
melalui semua tahapan pemeriksaan.
2. Putusan sela Putusan sela ialah putusan yang dijatuhkan pada saat masih
dalam proses pemerikasaan perkara dengan tujuan memperlancar jalannya
pemeriksaan, putusan sela tidak mengakhiri pemerikasaan tetapi akan
berpengaruh terhadap arah dan jalannya pemeriksaan. Putusan sela ini dibuat
seperti putusan biasa lengkap dengan identitas pihak-pihak, duduk perkara dan
pertimbangan hkum tetapi tidak terpisah dari berita acara persidangan dan
ditandatangani oleh Majelis Hakim serta Panitera sidang.
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
D. PUTUSAN
Macam dan Jenis Putusan
49
Dilihat dari hadir tidaknya para pihak berperkara pada saat putusan dijatuhkan/diucapkan
maka dapat dibagi menjadi 3 (tiga) macam yaitu :
Putusan Gugur adalah putusan yang menyatakan bahwa gugatan/permohonan gugur karena
penggugat/pemohon tidak hadir dalam sidang dan telah dipanggil dengan patut dan tidak
menyuruh orang lain sebagai wakilnya yang sah serta ketidak hadirannya itu bukan karena
halangan yang sah. (Pasal 148 RBg dan Pasal 124 HIR)
Putusan Verstek ialah putusan yang dijatuhan karena tergugat/termohon tidak hadir meskipun
telah dipanggil dengan patut dan tidak menyuruh orang lain sebagai wakilnya yang sah serta
ketidak hadirannya bukan karena halangan yang sah dan juga tidak mengajukan eksepsi
mengenai kewenangan. (Pasal 148 RBg/Pasal 125 HIR)
Putusan Kontradiktoir ialah putusan akhir yang pada saat dijatuhkan/diucapkan dalam sidang
tidak dihadiri oleh salah satu pihak atau para pihak akan tetapi dalam pemeriksaan penggugat
dan tergugat pernah hadir.
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
D. PUTUSAN
Macam dan Jenis Putusan
50
Dilihat dari segi Sifatnya terhadap akibat hukum yang ditimbulkan maka putusan
dapat dibagi menjadi 3 (tiga) macam putusan yaitu :
Putusan Diklatoir ialah putusan yang menyatakan suatu keadaan tertentu sebagai suatu
yang resmi menurut hukum. Misalnya putusan tentang gugatan cerai dengan alasan
ta’lik talak.
Putusan Konstitutif ialah putusan yang menciptakan atau menimbulkan hukum baru,
berbeda dengan keadaan hukum sebelumnya. Misalnya menetapkan sahnya pernikahan
(isbat nikah)
Putusan kondemnatoir ialah putusan yang bersifat menghukum kepada salah satu pihak
untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu atau menyerahkan sesuatu kepada
pihak lawan untuk memenuhi prestasi. Misalnya Menghukum Tergugat untuk
menyerahkan seperdua bagian dari harta bersama kepada Penggugat.
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
D. PUTUSAN
Macam dan Jenis Putusan
51
Dilihat dari Isinya terhadap gugatan putusan terbagi kepada
3 macam yaitu :
1.Putusan negatif yaitu menolak atau tidak menerima
gugatan.
2.Putusan Positif yaitu mengabulkan atau menerima seluruh
isi gugatan.
3.Putusan Positif-negatif yaitu menerima atau mengabulkan
sebagian dan tidak menerima atau menolak sebagian.
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
D. PUTUSAN
Macam dan Jenis Putusan
52
Putusan Hakim harus dibuat dengan tertulis dan harus
ditanda tangani oleh Hakim/Majelis Hakim termasuk
Panitera/Panitera Pengganti sebagi dokumen resmi. Suatu
putusan hakim terdiri dari :
1. Kepala Putusan
2.Identitas Para Pihak
3.Pertimbangan (konsideran) yang memuat tentang
4.Duduk Perkaranya dan Pertimbangan Hukum
5.Amar atau dictum putusan
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
D. PUTUSAN
Susunan dan Isi Putusan
53
Pelaksanaan putusan atau yang lebih dikenal dengan eksekusi
ialah tindakan yang dilakukan secara paksa terhadap pihak
yang kalah dalam perkara apabila pihak yang dikalahkan tidak
menjalankan putusan secara sukarela sedang putusan
tersebut sudah mempunyai kekuatan hukum tetap dan yang
bersangkutan telah ditegur atau dianmaning untuk
melaksanakan secara sukarela.
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
D. PUTUSAN
Pelaksanaan Putusan
54
Putusan yang dapat dieksekusi ialah putusan yang bersifat
komdemnatoir yaitu :
1.Putusan yang menghukum salah satu pihak untuk membayar
sejumlah uang. (Pasal 196HIR/208 RBg)
2.Putusan yang menghukum salah satu pihak untuk melakukan suatu
perbuatan. (Pasal 225 HIR/259 RBg)
3.Putusan yang menghukum salah satu pihak mengosongkan suatu
benda tetap. (Pasal 1033 RV)
4.Eksekusi riil dalam bentuk lelang. (Pasal 200 ayat (1) HIR/218 RBg..
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
D. PUTUSAN
Pelaksanaan Putusan
55
Adapun tatacara eksekusi ialah :
1.Adanya permohonan eksekusi dari pihak yang bersangkutan.
2.Eksekusi atas dasar perintah Ketua Pengadilan Agama, surat perintah ini
dikekluarkan setelah Tergugat tidak mau menghadiri panggilan peringatan
(anmaning) tanpa alasan yang sah dan Tergugat tidak mau melaksanakan
amar putusan selama masa peringatan.
3.Dilaksanakan oleh Panitera atau Juru Sita dengan dibantu 2 (dua) orang
saksi
4.Sita eksekusi dilakukan di tempat obyek sengketa.
5.Membuat berita acara sita eksekusi
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
D. PUTUSAN
Pelaksanaan Putusan
56
Apabila pihak-pihak berperkara (Penggugat dan Tergugat) tidak dapat menerima
putusan pengadilan, maka ia dapat menempuh upaya hukum agar putusan pengadilan
tersebut dibatalkan dengan cara sebagai berikut:
1.Mengajukan verzet yaitu upaya hukum atau perlawanan terhadap putusan verstek.
Dasar Hukum Verstek : Pasal 149 ayat (1) RBg, pasal 125 ayat (1) HIR
Dasar Hukum Verzet : Pasal 153 ayat (1) RBg, Pasal 129 ayat (1) HIR.
2.Mengajukan Banding ke Pengadilan Tinggi melalui Pengadilan yang memutus perkara
tersebut, yaitu upaya hukum atau perlawanan terhadap putusan yang dijatuhkan secara
kontradiktur.
3.Mengajukan Kasasi ke Mahkamah Agung melalui Pengadilan yang memutus perkara
yaitu upaya hukum atau perlawanan terhadap putusan yang dijatuhkan oleh Pengadilan
Tingkat Banding (Pengadilan Tinggi) apabila tidak dapat menerima putusan banding.
4.Mengajukan upaya hukum luar biasa yaitu Permohonan Peninjauan Kembali (PK) ke
Mahkamah Agung RI melalui Pengadilan yang memutus perkara tersebut yaitu upaya
hukum atau perlawanan terhadap putusan yang telah mempunyai hukum tetap.
BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA
E. UPAYA HUKUM Pelaksanaan Putusan
57
Dasar Hukum PK : Pasal 23 UU No.4 Tahun 2004, Pasal 77 UU No.14 Tahun
1985. Permohonan Peninjauan Kembali atas putusan suatu perkara
diperlukan syarat-syarat sebagai berikut :
1.Putusan telah mempunyai kekuatan hukum (inkrach)
2.Harus ada bukti baru (novum)
3.Tidak lebih dari 6 (enam) bulan setelah Novum ditemukan.
4,Pemohon PK harus disumpah atas penemuan novum tersebut.
Catatan : Upaya hukum perkara volunteer adalah kasasi dengan perkataan lain
apabila pemohon tidak dapat menerima penetapan yang dijatuhkan hakim,
maka ia dapat mengajukan kasasi tanpa melalui proses banding terlebih
dahulu.
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
D. PUTUSAN
Pelaksanaan Putusan
58
Putusan Sela tidak dapat diajukan banding kecuali sekaligus diajukan bersama
dengan putusan akhir. Pengajuan Banding Pengertian banding ialah
permohonan pemeriksaan ulang kepada pengadilan yang lebih tinggi (dalam
hal ini Pengadilan Tinggi Agama) terhadap suatu perkara yang telah diputus
oleh tingkat pertama (Pengadilan Agama) karena merasa tidak puas atau tidak
menerima putusan pengadilan tingkat pertama tersebut, dengan ketentuan
sebagai berikut:
1.Permohonan banding diajukan kepada pengadilan tinggi dalam daerah
hukum meliputi pengadilan tingkat pertama yang memutus perkara.
2.Permohonan banding diajukan melalui pengadilan yang memutus perkara
tersebut.
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
D. PUTUSAN
Pelaksanaan Putusan
59
Syarat-syarat banding.
1. Diajukan oleh pihak-pihak dalam perkara.
2. Diajukan masih dalam tenggang waktu banding.
3. Putusan tersebut menurut hukum diperbolehkan banding.
4. Membayar panjar biaya banding.
5. Membuat akta permohonan banding dengan menghadap
pejabat kepaniteraan pengadilan
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
D. PUTUSAN
Pelaksanaan Putusan
60
Masa Pengajuan banding :
1. Bagi pihak berperkara yang berada dalam wilayah hukum pengadilan
yang memutus perkara adalah selama 14 hari terhitung mulai hari
berikutnya sejak putusan dijatuhkan atau diberitahukan kepada yang
bersangkutan.
2. Bagi pihak yang berada di luar wilayah pengadilan agama yang
memutus perkara tersebut, masa bandingnya selama 30 hari
terhitung hari berikutnya isi putusan disampaikan kepada yang
bersangkutan. (Pasal 7 ayat (1), (2) dan (3) UU No.20/1947
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
D. PUTUSAN
Pelaksanaan Putusan
61
Pengajuan Kasasi
Pengertian Kasasi ialah pembatalan putusan oleh Mahkamah
Agung terhadap putusan pengadilan yang lebih rendah (pengadilan
agama dan pengadilan tinggi agama) karena kesalahan dalam
penerapan hukum.Pihak yang tidak menerima atau tidak puas atas
putusan pengadilan tinggi agama atau pengadilan agama (dalam
perkara volunteer) dapat mengajukan permohonan kasasi ke
Mahkamah Agung dengan syarat-syarat tertentu
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
D. PUTUSAN
Pelaksanaan Putusan
62
Syarat-syarat kasasi
1. Diajukan oleh yang berhak.
2. Diajukan masih dalam tenggang waktu kasasi.
3. Putusan yang dijatuhkan oleh pengadilan tingkat banding
menurut hukum dapat dimintakan kasasi.
4. Membuat memori kasasi.
5. Membayar panjar biaya kasasi.
6. Membuat akta permohonan kasasi di kepaniteraan pengadilan
agama yang bersangkutan.
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
D. PUTUSAN
Pelaksanaan Putusan
63
Adapun tenggang waktu pengajuan kasasi sama dengan pengajuan
banding.Apabila syarat-syarat kasasi tersebut tidak terpenuhi, maka
berkas perkaranya tidak dikirim ke Mahkamah Agung, Panitera
Pengadilan Agama yang memutus perkara tersebut membuat
keterangan bahwa permohonan kasasi atas perkara tersbut tidak
memenuhi syarat formal.
Ketua PA melaporkan ke Mahkamah Agung bahwa permohonan kasasi
tidak diteruskan ke MA (Peraturan MARI Nomor 1 Tahun 2001)
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
D. PUTUSAN
Pelaksanaan Putusan
64
Peninjauan Kembali.
Pengertian Peninjauan Kembali ialah meninjau kembali
putusan perkara perdata yang telah mempunyai kekuatan
hukum tetap karena diketemukan hal-hal atau bukti baru
yang pada pemeriksaan terdahulu tidak diketahui oleh
Hakim. Peninjaun Kembali hanya dapat diperiksa oleh
Mahkamah Agung..
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
D. PUTUSAN
Pelaksanaan Putusan
65
Syarat-syarat permohonan PK
1. Diajukan oleh pihak yang berperkara.
2. Putusan telah mempunyai kekuatan hukum tetap.
3. Membuat permohonan peninjauan kembali yang memuat alasan-
alasannya.
4. Diajukan dalam tenggang waktu menurut undang-undang.
5. Membayar panjar biaya peninjauan kembali.
6. Membuat akta permohonan Peninjauan Kembali di Kepaniteraan
Pengadilan Agama.
7. Ada bukti baru yang belum pernah diajukan pada pemeriksaan terdahulu
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
D. PUTUSAN
Pelaksanaan Putusan
66
Masa pengajuan permohonan Peninjauan Kembali
adalah 180 hari terhitung mulai ditemukannya novum
atau bukti baru
Dan sebelum berkas permohoan Peninjauan Kembali
dikirim ke Mahkamah Agung, Pemohon harus
disumpah oleh Ketua Pengadilan tentang penemuan
novum tersebut.
BERPERKARA DI
PENGADILAN AGAMA
D. PUTUSAN
Pelaksanaan Putusan
67
Di indonesia, pengadilan yang berwenang menyelesaikan sengketa
perbankan syariah adalah pengadilan agama.
Semenjak tahun 2006, dengan diamendemennya UU no. 7 tahun 1989 dengan
UU no. 3 tahun 2006 tentang peradilan agama, kewenangan peradilan
agama diperluas.
Di samping berwenang memeriksa, memutus dan menyelesaikan sengketa di
tingkat pertama antara orang-orang yang beragama islam di bidang
perkawaninan, waris, wasiat, hibah, wakaf, zakat, infak, dan shadaqah,
pengadilan agama juga berwenang untuk memeriksa, memutus, dan
menyelesaikan sengketa di bidang ekonomi syariah [pasal 49 ayat [i] uu no.
3 tahun 2006].
PENYELESAIAN SENGKETA
EKONOMI SYARI'AH
PENDAHULUAN
68
Ekonomi syariah : adalah perbuatan atau kegiatan usaha
yang dilaksanakan menurut prinsip syariah,
Meliputi: (a) bank syariah; (b) lembaga keuangan mikro
syari’ah; (c) asuransi syariah; (d) reasuransi syariah; (e)
reksa dana syariah; (f) obligasi syariah dan surat berharga
berjangka menengah syariah; (g) sekuritas syariah; (h)
pembiayaan syariah; (i) pegadaian syariah; (j) dana
pensiunan lembaga keuangan syariah; dan (k) bisnis
syariah.”
PENYELESAIAN SENGKETA
EKONOMI SYARI'AH
PENGERTIAN
69
Sehubungan dengan jenis dan macamnya mengenai ekonomi
syari’ah yang disebut dalam Penjelasan Pasal 49 UU No.3 Th. 2006
huruf (i) di atas, hanya menyebutkan 11 jenis. Sebaiknya, harus
dilihat terlebih dahulu mengenai rumusan awalnya yang
menyebutkan, bahwa ekonomi syari’ah adalah perbuatan atau
kegiatan usaha yang dilaksanakan menurut prinsip syari’ah, kata
antara lain yang menunjukkan bahwa 11 jenis yang disebutkan
bukan dalam arti limitatif,tetapi hanya sebagai contoh. Di
samping itu, mungkin saja ada bentuk-bentuk lain dari ekonomi
syari’ah yang tidak dapat atau belum dapat disebutkan ketika
merumuskan pengertian ekonomi syari’ah.
PENYELESAIAN SENGKETA
EKONOMI SYARI'AH
PENGERTIAN
70
Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa Pengadilan Agama
berwenang menyelesaikan sengketa perbankan syariah.
Kewenangan tersebut tidak hanya dibatasi di bidang perbankan syariah
saja, tapi juga di bidang ekonomi syariah lainnya. Kemudian,
kewenangan Pengadilan Agama diperkuat kembali dalam Pasal 55 [1]
UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah yang menyatakan
bahwa penyelesaian sengketa perbankan syariah dilakukan oleh
Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama.
PENYELESAIAN SENGKETA
EKONOMI SYARI'AH
PENGERTIAN
71
Namun, Pasal 55 [2] UU ini memberi peluang kepada para
pihak yang bersengketa untuk menyelesaikan perkara
mereka di luar Pengadilan Agama apabila disepakati
bersama dalam isi akad.
Sengketa tersebut bisa diselesaikan melalui :
musyawarah, mediasi perbankan, Badan Arbitrase
Syariah Nasional (Basyarnas) atau lembaga arbitrase lain
dan/atau melalui pengadilan dalam lingkungan
Peradilan Umum.
PENYELESAIAN SENGKETA
EKONOMI SYARI'AH
PENGERTIAN
72
Penyelesaian sengketa perbankan syariah
melalui mekanisme penyelesaian sengketa
alternatif di luar pengadilan seperti
musyawarah, mediasi, dan arbitrase syariah
merupakan langkah yang tepat dan layak untuk
diapresasi.
PENYELESAIAN SENGKETA
EKONOMI SYARI'AH
PENGERTIAN
73
Akan tetapi, masalah muncul ketika Pengadilan Negeri juga diberikan
kewenangan yang sama dalam menyelesaikan sengketa perbankan
syariah.
Terjadi dualisme penyelesaian sengketa dan ketidakpastian hukum serta
tumpang tindih kewenangan dalam menyelesaikan suatu perkara yang
sama oleh dua lembaga peradilan yang berbeda.
Padahal, kewenangan ini jelas merupakan kewenangan Pengadilan
Agama sebagaimana diatur dalam Pasal 49 (i) UU No. 3 Tahun 2006
tentang Peradilan Agama.
PENYELESAIAN SENGKETA
EKONOMI SYARI'AH
PENGERTIAN
74
Karena adanya ketidakpastian hukum seperti inilah, maka
Dadang Achmad, Direktur CV Benua Engineering Consultant,
pernah mengajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi,
Memohon pembatalan Pasal 55 ayat [2]&[3] UU No. 21
Tahun 2008 tentang Perbankan syariah dengan
alasan bertentangan dengan Pasal 28 UUD 1945.
PENYELESAIAN SENGKETA
EKONOMI SYARI'AH
PENGERTIAN
75
Pada tanggal 29 Agustus 2013, Majelis Mahkamah
Konstitusi membuat putusan atas perkara Nomor
93/PUU-X/2012, mengabulkan sebagian permohonan
Dadang Achmad,
Menyatakan bahwa penjelasan Pasal 55 ayat [2] UU 21
Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah bertentangan
dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan
hukum mengikat.
PENYELESAIAN SENGKETA
EKONOMI SYARI'AH
PENGERTIAN
76
Lebih lanjut dalam salah satu pertimbangannya, Mahkamah Konstitusi
menyatakan bahwa adanya pilihan tempat penyelesaian sengketa
(choice of forum) untuk menyelesaikan sengketa perbankan syariah
sebagaimana tersebut dalam Penjelasan Pasal 55 ayat (2) UU 21 Tahun
2008 pada akhirnya akan menyebabkan adanya tumpang tindih
kewenangan untuk mengadili, karena ada dua peradilan yang diberikan
kewenangan untuk menyelesaikan sengketa perbankan syariah,
Padahal dalam UU 3 Tahun 2006 tentang Peradilan Agama secara tegas
dinyatakan bahwa peradilan agama yang berwenang menyelesaikan
tersebut.
PENYELESAIAN SENGKETA
EKONOMI SYARI'AH
PENGERTIAN
77
Dengan adanya putusan Mahkamah Kontitusi tersebut, maka tidak
ada lagi dualisme dalam penyelesaian sengketa Perbankan
Syariah. Pengadilan Agama menjadi satu-satunya pengadilan
yang berwenang dalam menyelesaikan sengketa Perbankan
syariah.
Hal ini semakin mengokohkan eksistensi Pengadilan Agama di
Indonesia, akan tetapi di sisi lain menjadi tantangan tersendiri,
karena bidang perbankan syariah secara khusus dan ekonomi
secara umum merupakan bidang baru yang sangat kompleks
permasalahannya
PENYELESAIAN SENGKETA
EKONOMI SYARI'AH
PENGERTIAN
78
Keraguan banyak pihak akan kemampuan Peradilan Agama dalam
menyelesaikan sengketa perbankan syariah harus dihilangkan dengan
membuktikan kecakapan para hakim di lingkungan peradilan agama
dalam menyelesaikan sengketa-sengketa yang diputuskanya.
Para hakim harus memiliki pengetahuan yang mendalam tentang ilmu
ekonomi syariah, baik dari segi teori maupun praktik. Apabila
diperlukan, di setiap pengadilan dibentuk hakim khusus dalam
menyelesaikan sengketa perbankan dan keuangan syariah.
PENYELESAIAN SENGKETA
EKONOMI SYARI'AH
PENGERTIAN
79
Penandatangan Surat Keputusan Bersama [SKB] yang
dilakukan oleh Mahkamah Agung dengan Otoritas Jasa
Keuangan dan Bank Indonesia tentang Kerjasama
Pelatihan Hakim di Bidang Kebanksentralan dan Sektor
Jasa Keuangan pada bulan Juli 2014 lalu adalah langkah
yang patut diapresiasi dan harus ditindaklanjuti.
PENYELESAIAN SENGKETA
EKONOMI SYARI'AH
PENGERTIAN
80
Subjek hukum pelaku ekonomi syari’ah menurut
penjelasan pasal tersebut antara lain disebutkan bahwa
yang dimaksud dengan orang-orang yang beragama
Islam adalah termasuk orang atau badan hukum yang
dengan sendirinya menundukkan diri dengan suka rela
kepada hukum Islam mengenai hal-hal yang menjadi
kewenangan Pengadilan Agama sesuai ketentuan pasal
ini.
PENYELESAIAN SENGKETA
EKONOMI SYARI'AH
SUBJEK HUKUM PELAKU EKONOMI SYARI’AH
81
Berdasarkan penjelasan Pasal 49 UU. No.3 Th. 2006
tersebut, maka seluruh nasabah lembaga keuangan dan
lembaga pembiayaan syari’ah dan atau bank-bank
konvensional yang membuka sektor usaha syari’ah maka
dengan sendirinya terikat dengan ketentuan ekonomi
syari’ah, baik dalam hal pelaksanaan akadnya maupun
dalam hal penyelesaian perselisihannya.
Ahmad Mujahidin, Prosedur Penyelesaian Sengketa Ekonomi
Syari’ah di Indonesia (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010), 18-19.
PENYELESAIAN SENGKETA
EKONOMI SYARI'AH
SUBJEK HUKUM PELAKU EKONOMI SYARI’AH
82
Secara rinci, dapat dikemukakan mengenai bentuk-bentuk
sengketa bank syari’ah yang disebabkan karena adanya
pengingkaran atau pelanggaran terhadap perikatan (akad)
yang telah dibuat, yaitu disebabkan karena :
1. Kelalaian Bank untuk mengembalikan dana titipan
nasabah dalam akad wadi’ah
2. Bank mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa
persetujuan yang bersangkutan dalam akad mudlorobah
PENYELESAIAN SENGKETA
EKONOMI SYARI'AH
SENGKETA EKONOMI SYARI’AH
83
3. Nasabah melakukan kegiatan usaha minuman keras
dan usaha-usaha lain yang diharamkan menurut
syari’at Islam yang bersumber dari dana pinjaman
bank syari’ah, akad qirah dan lain-lain
4. Pengadilan agama berwenang menghukum kepada
pihak nasabah atau pihak bank yang melakukan
wanprestasi yang menyebabkan kerugian riil (real
lose).
PENYELESAIAN SENGKETA
EKONOMI SYARI'AH
SENGKETA EKONOMI SYARI’AH
84
Secara garis besar, sengketa ekonomi syari’ah dapat diklasifikasikan
menjadi tiga, yakni:
1. Sengketa di bidang ekonomi syari’ah antara lembaga keuangan dan
lembaga pembiayaan syari’ah dengan nasabahnya,
2. Sengketa di bidang ekonomi syari’ah antara lembaga keuangan dan
lembaga pembiayaan syari’ah,
3. Sengketa di bidang ekonomi syari’ah antara orang-orang yang
beragama Islam, yang mana akad perjanjiannya disebutkan dengan
tegas bahwa kegiatan usaha yang dilakukan adalah berdasarkan
prinsip-prinsip syari’ah.
PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI
SYARI'AH
SENGKETA EKONOMI SYARI’AH
85
Sengketa ekonomi syari’ah juga bisa dalam bentuk
perkara Permohonan Pernyataan Pailit (PPP) dan juga
bisa berupa Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
(PKPU) di bidang ekonomi syari’ah, di samping itu juga
perkara derivatif kepailitan (perkara tidak murni
sebagai perkara kepailitan).
PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI
SYARI'AH
SENGKETA EKONOMI SYARI’AH
86
Perdamaian(Sulhu)
Langkah pertama yang perlu diupayakan ketika hendak
menyelesaikan perselisihan, ialah melalui cara damai. Untuk
mencapai hakekat perdamaian, prinsip utama yang perlu
dikedepankan adalah kesadaran para pihak untuk kembali kepada
Allah (Al-Qur’an) dan RosulNya (Al-Sunnah) dalam menyelesaikan
segala persoalan.
Upaya damai tersebut biasanya ditempuh melalui musyawarah
(syuura) untuk mencapai mufakat di antara para pihak yang
berselisih. Dengan musyawarah yang mengedepankan prinsip-
prinsip syari’at, diharapkan apa yang menjadi persoalan para pihak
dapat diselesaikan
PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI
SYARI'AH
PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARI’AH
87
Arbitrase Syari’ah (Tahkim)
Untuk menyelesaikan perkara/ perselisihan secara damai dalam
hal keperdataan, selain dapat dicapai melalui inisiatif sendiri dari
para pihak, juga dapat dicapai melalui keterlibatan pihak ketiga
sebagai wasit (mediator). Upaya ini biasanya akan ditempuh
apabila para pihak yang berperkara itu sendiri ternyata tidak
mampu mencapai kesepakatan damai.
Institusi formal yang khusus dibentuk untuk menangani
perselisihan/ sengketa disebut arbitrase, yaitu cara penyelesaian
sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada
perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak
yang bersengketa.
PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARI'AH
PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARI’AH
88
Lembaga Peradilan Syari’ah (Qadha)
Dengan disahkannya UU No. 3 Th. 2006 tentang perubahan UU No. 7
Th. 1989 tentang Peradilan Agama telah membawa perubahan besar
dalam eksistensi lembaga Peradilan Agama saat ini. Salah satu
perubahan mendasar adalah penambahan wewenang lembaga
Peradilan Agama antara lain di bidang perkawinan, waris, wasiat,
hibah, wakaf, zakat, infaq, shadaqah, dan ekonomi syari’ah (pasal49).
Dengan adanya kewenangan ini maka perkara yang timbul terkait
dengan penyelesaian sengketa syari’ah selain dapat diselesaikan
melalui cara damai (sulhu) dan arbitrase syari’ah (tahkim), juga dapat
diselesaikan melalui lembaga peradilan (qadha).
PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARI'AH
PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARI’AH
89
SEKIAN & TERIMA KASIH

peradilan agama hsp peradilan agama hsp.pptx

  • 1.
    1 1 PERADILAN AGAMA Oleh : IPutu Harry Suandana Putra, SH., MH. Nidn : 0831128026 PRODI HUKUM FAKULTAS SOCIAL BISNIS TEKNOLOGI HUMANIORA UNIVERSITAS BALI INTERNATIONAL 2024
  • 2.
    2 PERADILAN AGAMA KEWENANGAN MENGADILIBADAN PERADILAN AGAMA DAPAT DIBAGI MENJADI 2 (DUA) KEWENANGAN YAITU: Kewenangan Mutlak (Absolute Competensi) yaitu kewenangan yang menyangkut kekuasaan mutlak untuk mengadili suatu perkara, artinya perkara tersebut hanya bisa diperiksa dan diadili oleh Pengadilan Agama. Dalam istilah lain disebut “Atribut Van Rechsmacht”. Contoh perkara perceraian bagi orang-orang yang beragama Islam dan perkawinannya dilakukan secara Islam menjadi kewenangan absolute Pengadilan Agama Kewenangan Mengadili Peradilan Agama
  • 3.
    3 PERADILAN AGAMA Kewenangan Relatif(Relative Competensi) yaitu kewenangan mengadili suatu perkara yang menyangkut wilayah/daerah hukum (yurisdiksi), hal ini dikaitkan dengan tempat tinggal pihak-pihak berperkara. Ketentuan umum menentukan gugatan diajukan kepada pengadilan yang mewilayahi tempat tinggal tergugat (Pasal 120 ayat (1) HIR/Pasal 142 ayat (1) RBg. Dalam Perkara perceraian gugatan diajukan ke pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat tinggal isteri (Pasal 66 ayat (2) dan Pasal 73 ayat (1) Undang-undang Nomor 7 tahun 1989). Dalam istilah lain kewenangan relatif ini disebut “Distribute van Rechtsmacht”. Pengadilan yang berhak mengadili suatu perkara dalam bahasa latin disebut dengan istilah “Actor Sequitur Forum Rei”. Kewenangan Mengadili Peradilan Agama
  • 4.
    4 PERADILAN AGAMA Tugas PokokBadan Peradilan Agama Menerima, memeriksa, mengadili dan memutus serta menyelesaikan perkara antara orang-orang yang beragama Islam dalam bidang: •Perkawinan. •Waris. •Wasiat. •Hibah. •Wakaf. •Zakat. •Infaq. •Shadaqoh. •Ekonomi Syari’ah. (Pasal 49 Undang-undang Nomor 3 tahun 2006 Tentang Perubahan atas Undang-Undang-ndang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama).
  • 5.
    5 PERADILAN AGAMA Tugas PokokBadan Peradilan Agama “Pengadilan Agama berkuasa atas perkara perkawinan bagi mereka yang beragama Islam sedangkan bagi yang selain Islam menjadi kekuasaan Peradilan Umum”.
  • 6.
    6 PERADILAN AGAMA Tugas LainDari Badan Peradilan Agama Selain dari tugas pokok sebagaimana diuraikan di atas, Peradilan Agama mempunyai tugas tambahan baik yang diatur dalam Undang-undang maupun dalam peraturan- peraturan lainnya yaitu : 1. Memberikan pertimbangan dan nasehat tentang hukum Islam kepada instansi pemerintah apabila diminta. (Pasal 52 ayat (1) Undang-undang No. 7/1989. 2. Menyelesaikan permohonan pertolongan pembagian harta peninggalan di luar sengketa antara orang-orang Islam. (Pasal 107 ayat (2) Undang-undang No. 7/1989). Hal ini sudah jarang dilakukan karena Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 telah mengatur dibolehkannya penetapan ahli waris dalam perkara volunteer. 3. Memberikan isbat kesaksian rukyat hilal dalam penentuan awal bulan tahun hijriyah (Pasal 52 A UU No.3 Tahun 2006). 4. Melaksanakan tugas lainnya seperti pelayanan riset/penelitian dan tugas-tugas lainnya.
  • 7.
    7 PERADILAN AGAMA Jenis Perkaradi Lingkungan Peradilan Agama Selain dari tugas pokok sebagaimana diuraikan di atas, Peradilan Agama mempunyai tugas tambahan baik yang diatur dalam Undang-undang maupun dalam peraturan- peraturan lainnya yaitu : 1. Memberikan pertimbangan dan nasehat tentang hukum Islam kepada instansi pemerintah apabila diminta. (Pasal 52 ayat (1) Undang-undang No. 7/1989. 2. Menyelesaikan permohonan pertolongan pembagian harta peninggalan di luar sengketa antara orang-orang Islam. (Pasal 107 ayat (2) Undang-undang No. 7/1989). Hal ini sudah jarang dilakukan karena Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 telah mengatur dibolehkannya penetapan ahli waris dalam perkara volunteer. 3. Memberikan isbat kesaksian rukyat hilal dalam penentuan awal bulan tahun hijriyah (Pasal 52 A UU No.3 Tahun 2006). 4. Melaksanakan tugas lainnya seperti pelayanan riset/penelitian dan tugas-tugas lainnya.
  • 8.
  • 9.
    9 URUTAN BERACARA DI PERADILANAGAMA A. URUTAN BERACARA DI PERADILAN UMUM Urutan beracara pada hukum acara (Peradilan Umum) a. Gugatan b. Mediasi c. Jawaban (eksepsi, pokok perkara, rekopensi) d. Replik (penggugat, lugas) e. Duplik (tergugat, penggugat rekopensi) f. Pembuktian (pembuktian oleh masing-masing pihak apakah benar/ tidak statemen masing2) g. Kesimpulan h. Putusan
  • 10.
    10 URUTAN BERACARA DI PERADILANAGAMA B. URUTAN BERACARA DI PERADILAN AGAMA Hukum Acara Khusus dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 jo. Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009 Dalam buku II Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan, Bagian Kedua, Bidang Teknis Peradilan, Peradilan Agama diatur hal-hal yang ringkasnya sebagai berikut :
  • 11.
    11 URUTAN BERACARA DI PERADILANAGAMA B. URUTAN BERACARA DI PERADILAN AGAMA 1) Bidang Perkawinan Beberapa perkara berikut dapat diajukan dan diperiksa serta diputus secara voluntoir, maksudnya : berbentuk permohonan yang hanya terdiri dari pihak Pemohon saja dan tidak terdapat sengketa. Padahal menurut azasnya perkara terdiri dari dua pihak yang sedang bersengketa atau disebut perkara contensios. Perkara voluntoir tersebut adalah : a)Permohonan dispensasi umur kawin b)Permohonan izin kawin c)Permohonan penetapan wali adhol d)Permohonan penetapan perwalian e)Permohonan penetapan asal-usul anak
  • 12.
    12 URUTAN BERACARA DI PERADILANAGAMA B. URUTAN BERACARA DI PERADILAN AGAMA 2) Bidang Perceraian a) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 jo. UU Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009 memberi kemudahan dan perlindungan kepada isteri dalam hal di Pengadilan Agama mana perceraian diajukan. (1) Suami mengajukan cerai talak di Pengadilan Agama yang di daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Termohon (isteri) (Pasal 66 (2)). (2) Isteri mengajukan cerai gugat di Pengadilan Agama yang di daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Penggugat (isteri) (pasal 73 (2)).
  • 13.
    13 URUTAN BERACARA DI PERADILANAGAMA B. URUTAN BERACARA DI PERADILAN AGAMA 2) Bidang Perceraian b) Dalam perkara perceraian tidak ada pihak yang kalah atau menang, sehingga biaya perkara dibebankan kepada Penggugat atau Pemohon (Pasal 89 ayat (1)) c) Pemeriksaan perkara perceraian dalam sidang tertutup (pasal 68 (2) dan 80). Hal ini dimaksudkan untuk menjaga rahasia pribadi para pihak. d) Permohonan penguasaan anak, nafkah anak, nafkah isteri dan harta bersama-sama dengan permohonan cerai talak/ gugat cerai ataupun sesudahnya (Pasal 66 ayat (5) 86 ayat (1)
  • 14.
    14 URUTAN BERACARA DI PERADILANAGAMA B. URUTAN BERACARA DI PERADILAN AGAMA 2) Bidang Perceraian e) Untuk melindungi isteri maupun anak, Hakim Pengadilan Agama baik diminta atau tidak, dalam perkara perceraian dapat menghukum pihak suami untuk memberi nafkah isteri maupun anaknya (Pasal 44 c UU Nomor 1 Tahun 1974 jo. 78 a UU Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 3 Tahun 2006 dan 45 ayat (2) dan 49 ayat (2) UU Nomor 1 Tahun 1974 jo. 78 huruf b UU Nomor 7 Tahun 1989 jo. UU Nomor 3 Tahun 2006.
  • 15.
    15 URUTAN BERACARA DI PERADILANAGAMA B. URUTAN BERACARA DI PERADILAN AGAMA 2) Bidang Perceraian e) Untuk melindungi isteri maupun anak, Hakim Pengadilan Agama baik diminta atau tidak, dalam perkara perceraian dapat menghukum pihak suami untuk memberi nafkah isteri maupun anaknya (Pasal 44 c UU Nomor 1 Tahun 1974 jo. 78 a UU Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 3 Tahun 2006 dan 45 ayat (2) dan 49 ayat (2) UU Nomor 1 Tahun 1974 jo. 78 huruf b UU Nomor 7 Tahun 1989 jo. UU Nomor 3 Tahun 2006. f) Hak bekas isteri maupun anaknya atas bagian bekas suaminya yang Pegawai Negeri, dapat dituntut dan diputus dalam perkara perceraiannya (PP 10 Tahun 1983 jo. PP 45 Tahun 1990).
  • 16.
    16 URUTAN BERACARA DI PERADILANAGAMA B. URUTAN BERACARA DI PERADILAN AGAMA 3) Bidang Waris, Wasiat dan Hibah yang Dilakukan Berdasarkan Hukum Islam a) Undang-undang Nomor 7 tahun 1989 jo. UU Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009 menganut azas personalitas keislaman, oleh karena itu Pengadilan Agama berwenang memeriksa dan mengadili perkara waris/ wasiat apabila pewaris (si mayit) beragama Islam. b) Hibah yang dilakukan oleh orang Islam kepada orang Islam apabila timbul sengketa adalah menjadi kewenangan Pengadilan Agama.
  • 17.
    17 URUTAN BERACARA DI PERADILANAGAMA B. URUTAN BERACARA DI PERADILAN AGAMA 3) Bidang Waris, Wasiat dan Hibah yang Dilakukan Berdasarkan Hukum Islam c) Bagi orang yang menghendaki surat keterangan ahli waris misalnya untuk mengambil deposito di Bank, dapat dibuat akta di bawah tangan kemudian dimintakan pengesahan (gewaasmarker) kepada Ketua Pengadilan Agama d) Akta comparisi pembagian harta waris di luar sengketa dapat dilakukan berdasarkan pasal 107 UU Peradilan Agama jo. 236 a HIR.
  • 18.
    18 URUTAN BERACARA DI PERADILANAGAMA B. URUTAN BERACARA DI PERADILAN AGAMA 4) Sengketa Milik Pasal 50 UU Nomor 7 Tahun 1989 jo. UU Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009 menyatakan : (1) Dalam hal terjadi sengketa hak milik atau sengketa lain dalam perkara sebagaimana dimaksud dalam pasal 49, khusus mengenai objek sengketa tersebut harus diputus lebih dahulu oleh Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum. (2) Apabila terjadi sengketa hak milik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang subyek hukumnya antara orang-orang yang beragama Islam, obyek sengketa tersebut diputus oleh Pengadilan Agama bersama-sama perkara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49.
  • 19.
  • 20.
    20 BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA Seseorangyang akan berperkara di Pengadilan Agama datang secara pribadi atau melalui kuasannya yang sah (dengan Surat Kuasa) mengajukan surat gugatan atau permohonan yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan Agama dan mendaftarkannya kepada petugas yang ditunjuk menerima surat gugatan atau permohonan tersebut. Kemudian petugas yang menerima surat gugatan atau permohonan tersebut menaksir uang muka/panjar biaya perkara yang harus dibayar dengan membuat Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM) lalu penggugat atau pemohon membayar uang muka/panjar biaya perkara ke kasir. PROSES BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA
  • 21.
    21 Proses Berperkara diPengadilan Agama Selanjutnya petugas kasir memberi nomor perkara pada surat gugatan atau permohonan tersebut dan menyerahkan satu eksemplar salinan surat gugatan atau permohonan dan lembar pertama (asli) SKUM kepada yang mengajukan perkara. Setelah itu perkara tersebut didaftarkan ke dalam buku induk perkara oleh petugas yang ditunjuk sesuai dengan jenis perkaranya, dengan demikian perkara tersebut telah didaftar secara resmi dan akan ditentukan Majelis Hakim yang akan memerikasanya oleh Ketua Pengadilan. BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA
  • 22.
    22 A. TATA CARAGUGAT MENGGUGAT Pengertian surat gugatan ialah surat yang diajukan kepada Ketua Pengadilan yang berkompeten yang memuat tuntutan hak dan adanya kepentingan hukum serta mengandung sengketa. Yang mengajukan disebut Penggugat sedang pihak yang digugat disebut Tergugat. Dalam praktek sering ditemukan Penggugat tidak hanya satu orang tetapi bisa lebih, demikian juga Tergugat bahkan kemungkinan terdapat orang lain atau pihak ketiga yang tidak masuk kepada kelompok Penggugat maupun Tergugat tetapi mempunyai hubungan atau keterkaitan dengan perkara yang diajukan tetapi pihak ketiga tersebut tidak mau bergabung dengan penggugat maupun dengan Tergugat oleh karena itu pihak ketiga tersebut harus dilibatkan dalam perkara dan dalam surat gugatan disebut sebagai Turut Tergugat. BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA
  • 23.
    23 1. Bentuk danKelengkapan Gugatan/Permohonan Adapun bentuk gugatan atau permohonan dapat dibagi 2 (dua) yaitu : a. Bentuk Tertulis Gugatan atau permohonan bentuk tertulis harus memenuhi syarat formil, dibuat dengan jelas dan terang serta ditanda tangani oleh yang mengajukan (Penggugat/Pemohon) atau kuasanya yang telah mendapat surat kuasa khusus. b. Bentuk Lisan Gugatan atau permohonan bentuk lisan ialah gugatan atau permohonan yang diajukan secara lisan kepada Ketua Pengadilan oleh mereka yang buta huruf dan Ketua Pengadilan mencatat atau menyuruh mencatat kepada salah seorang pejabat pengadilan, kemudian catatan tersebut diformulasikan menjadi surat gugatan atau permohonan. (Pasal 120 HIR/Pasal 144 ayat (1) RBg.) BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA A. TATA CARA GUGAT MENGGUGAT
  • 24.
    24 Syarat-syarat Gugatan Berupa Tuntutan Yaitumerupakan suatu aksi atau tindakan hukum yang bertujuan untuk memperoleh perlindungan hukum dari Pengadilan dan untuk mencegah tindakan main hakim sendiri. Ada Kepentingan Hukum Maksudnya yaitu setiap gugatan harus merupakan tuntutan hak dan mempunyai kepentingan hukum yang cukup. Sengketa Yaitu tuntutan hak tersebut harus merupakan sengketa. Tidak ada sengketa maka tidak ada perkara (geen belang, geen actie) Dibuat dengan Cermat dan Terang Yaitu dengan alasan atau dasar hukumnya harus jelas dan dapat dibuktikan apabila disangkal, pihak-pihaknya juga harus jelas demikian juga obyeknya. Jika tidak jelas maka surat gugatan tersebut akan dinyatakan gugatan kabur (Obscure Libel). BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA A. TATA CARA GUGAT MENGGUGAT
  • 25.
    25 Unsur-unsur Surat Gugatan Unsur-unsursurat gugatan ada 3 (tiga) yaitu : 1. Identitas dan kedudukan para pihak Menurut ketentuan pasal 67 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989, Identitas seseorang adalah nama lengkap, umur dan tempat tinggal, tetapi untuk lebih lengkapnya identitas seseorang sebaiknya ditulis juga jenis kelamin, agama dan pekerjaan. Kebiasaan di Peradilan Agama jenis kelamin seseorang dapat diketahui dari nama yang bersangkutan diiringi dengan kata Bin berarti anak laki-laki dari dan kata Binti artinya anak perempuan. BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA A. TATA CARA GUGAT MENGGUGAT
  • 26.
    26 Unsur-unsur Surat Gugatan 2.Posita yaitu penjelasan tentang keadaan atau peristiwa yang berhubungan dengan hukum yang dijadikan sebagai landasan atau dasar dari gugatan tersebut serta dibuat dengan jelas dan terang. Dalam bahasa lain posita disebut Fundamentum Fetendi. Jadi suatu surat gugatan harus memuat peristiwa hukum dan dasar hukum yang dijadikan alasan untuk mengajukan tuntutan. . 3.Petitum yaitu tuntutan yang diminta oleh Penggugat supaya dikabulkan oleh Hakim. Suatu petitum harus didukung dengan posita dan suatu petitum yang tidak didasarkan pada posita maka petitum tidak akan dikabulkan oleh hakim. BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA A. TATA CARA GUGAT MENGGUGAT
  • 27.
    27 Penggabungan (Kumulasi) Gugatan/Permohonan Adabeberapa macam penggabungan (kumulasi) yaitu: A. Kumulasi Subjektif yaitu jika dalam surat gugatan/permohonan terdapat beberapa orang penggugat atau Tergugat. B. Kumulasi Obyektif yaitu Penggugat mengajukan beberapa tuntutan atau gugatan terhadap Tergugat. BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA A. TATA CARA GUGAT MENGGUGAT
  • 28.
    28 Penggabungan (Kumulasi) Gugatan/Permohonan BERPERKARADI PENGADILAN AGAMA C. Intervensi yaitu ikut sertanya pihak ketiga ke dalam suatu proses perkara karena ada kepentingan hukum atau ditarik sebagai pihak. Kumulasi atau Penggabungan gugatan/permohonan dalam satu surat gugatan/ permohonan berarti terdapat beberapa tuntutan/permohonan. Intervensi diatur dalam pasal 279 -282 R.V. dan ada 3 (tiga) macam bentuk intervensi yang dikenal dalam hukum acara perdata yaitu : v Tussenkomst ialah masuknya pihak ketiga ke dalam perkara yang sedang berlangsung untuk membela kepentingannya sendiri, oleh karena itu ia melawan kedua belah pihak (Penggugat dan Tergugat) yang sedang berperkara. v Voeging adalah suatu aksi hukum oleh pihak yang berkepentingan dengan jalan memasuki perkara yang sedang berlangsung antara penggugat dan tergugat dengan memihak kepada penggugat atau tergugat. v Vrijwaring adalah suatu aksi hukum yang dilakukan oleh tergugat untuk menarik pihak ketiga ke dalam perkara yang sedang berlangsung guna menjamin kepentingan tergugat dalam menghadapi gugatan Penggugat A. TATA CARA GUGAT MENGGUGAT
  • 29.
    29 Gugatan Rekonvensi Yang dimaksuddengan gugatan rekonpensi ialah gugatan balik yang diajukan oleh Tergugat terhadap Penggugat tentang sengketa antara mereka menyangkut hukum kebendaan. Dasar hukum Pasal 132 a dan 132 b HIR/Pasal 157 dan 158 RBg. BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA Syarat-syarat gugatan rekonvensi : 1. Diajukan bersama-sama jawaban, tetapi ada yang berpendapat selama dalam tahap jawab menjawab dan belum sampai ke pembuktian bisa diajukan gugatan rekonpensi. 2. Diajukan terhadap Penggugat inpersona tidak kepada kuasa Penggugat. 3. Menyangkut hukum kebendaan, dalam hal ini sepanjang masih dalam kewenangan Pengadilan Agama. Bukan mengenai pelaksanaan putusan. A. TATA CARA GUGAT MENGGUGAT
  • 30.
    30 Gugatan secara cuma-cuma(prodeo). BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA Gugatan secara cuma-cuma (prodeo) Pada dasarnya beracara di Pengadilan dalam gugatan perdata, dikenakan biaya perkara (pasal 121 ayat (4) dan pasal 182 HIR, pasal 4 ayat (2) Undang-undang Nomor 4 tahun 2004). Namun dalam hal Penggugat dan Tergugat tidak mampu, ia dapat mohon kepada Ketua Pengadilan untuk berperkara secara cuma-cuma, sebelum perkara pokok diperiksa oleh Pengadilan (pasal 237 HIR, pasal 273 RBg). Permohonan diajukan dengan melampirkan Surat Keterangan Tidak Mampu yang dibuat oleh Kepala Desa dan diketahui Camat. A. TATA CARA GUGAT MENGGUGAT
  • 31.
    31 Surat permohonan ialahsurat yang diajukan kepada Ketua Pengadilan yang berkompeten yang memuat tuntutan hak perdata yang diajukan oleh seseorang atau lebih yang mempunyai kepentingan hukum terhadap suatu hal yang tidak mengandung sengketa dan diatur dalam Undang-undang atau ada aturan hukumnya. Contoh perwalian, pengangkatan anak dan lain-lain. Ciri-ciri Surat Permohonan yaitu : Ada kepentingan hukum. Tidak mengandung sengketa Diatur dalam Undang-undang atau Peraturan Tata Cara Pemerikasaan Perkara BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA B. TATA CARA SURAT PERMOHONAN
  • 32.
    32 Setelah surat gugatanatau permohonan didaftar atau dicatat dalam register induk perkara, maka Panitera Pengadlan Agama selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari harus sudah menyampaikan berkas perkara tersebut kepada Ketua Pengadilan Agama, lalu Ketua Pengadilan memeriksa kelengakapan berkas perkara tersebut, selanjutnya menunjuk Majelis Hakim yang akan memeriksa perkara tersebut dengan membuat Penetapan Majelis Hakim (PMH). Kemudian perkara tersebut diserahkan kepada Majelis Hakim melalui Panitera, lalu Ketua Majelis Hakim yang ditunjuk tersebut membuat Penetapan Hari Sidang (PHS) dengan menetapkan Hari Sidang dan memerintahkan Juru sita/Juru sita Pengganti untuk memanggil pihak-pihak yang berperkara. BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA C. TATA CARA PEMERIKASAAN PERKARA Persiapan Persidangan
  • 33.
    33 Tenggang waktu pemanggilanpihak-pihak berperkara tersebut, tidak boleh kurang dari 3 (tiga) hari antara hari pemanggilan dan hari sidang yang telah ditentukan, artinya panggilan sidang harus sudah diterimakan kepada pihak- pihak berperkara selambat-lambatnya 3 (tiga) hari sebelum hari sidang, apabila panggilan disampaikan kepada pihak-pihak berperkara kurang dari 3 (tiga) hari, misalnya 2 (dua) hari sebelum hari sidang, maka panggilan tersebut harus dinyatakan tidak patut/tidak sah. Perkara yang telah resmi terdaftar harus sudah disidangkan selambat-lambatnya 1 (satu) bulan dari pendaftaran perkara, kecuali ada alasan hukum yang membenarkan, misalnya pihak Tergugat berada di luar Negeri BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA C. TATA CARA PEMERIKASAAN PERKARA Persiapan Persidangan
  • 34.
    34 Tata Cara PemanggilanPihak-pihak Berperkara Untuk menghadirkan pihak-pihak berperkara di muka persidangan, harus dilakukan dengan surat panggilan resmi (relaas panggilan) dengan cara sebagai berikut : 1.Pemanggilan dilakukan oleh Juru Sita/Juru Sita Pengganti. 2.Disampaikan kepada pribadi yang bersangkutan di tempat tinggalnya. Jika yang dipanggil tidak ditemui di tempat tinggalnya panggilan disampaikan 3.melalui Kepala Desa/Lurah setempat. 4.Panggilan sudah disampaikan minimal 3 (tiga) hari sebelum hari sidang. 5.Panggilan pertama kepada Tergugat harus dilampirkan salinan surat gugatan. Dasar hukumnya Pasal 145 dan pasal 718 RBg, Pasal 121 dan Pasal 390 HIR, pasal 26 dan 27 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975. BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA C. TATA CARA PEMERIKASAAN PERKARA Persiapan Persidangan
  • 35.
    35 Sebelum memeriksa perkara,Majelis Hakim harus membaca dan mepelajari berkas perkara, dan dalam persidangan Ketua Majelis berada di tengah/diantara dua hakim anggota lalu membuka sidang dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim diiringi dengan mengetukkan palu sebanyak 3 (tiga) kali, selanjutnya Para pihak dipanggil masuk ke ruang sidang, kemudian Majelis Hakim memeriksa identitas para pihak, jika diwakili oleh kuasanya, maka penerima kuasa tersebut harus diperiksa identitasnya dan juga surat kuasanya BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA C. TATA CARA PEMERIKASAAN PERKARA Tahap-Tahap Pemerikasaan
  • 36.
    36 Secara teoritis pemeriksaansuatu perkara dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1.Sidang pertama usaha Perdamaian. 2.Sidang kedua Pembacaan surat gugatan. 3.Sidang ketiga Jawaban Tergugat. 4.Sidang keempat Replik Penggugat. 5.Sidang kelima Duplik Tergugat. 6.Sidang keenam Pembuktian dari Penggugat. 7.Sidang ketujuh Pembuktian dari Tergugat. 8.Sidang kedelapan Kesimpulan pihak-pihak berperkara. 9.Sidang kesembilan Pembacaan putusan BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA C. TATA CARA PEMERIKASAAN PERKARA Tahap-Tahap Pemerikasaan
  • 37.
    37 Tahapan-tahapan seperti diuraikandi atas (1 s/d 9 ) tidak bersifat baku, bisa lebih singkat dan bisa juga lebih lama, cepat dan lamanya penyelesaian suatu perkara sangat tergantung dari kehadiran dan kesiapan pihak-pihak berperkara karena pada dasarnya dalam perkara perdata hakim bersifat pasif, akan tetapi harus diingat bahwa suatu perkara perdata pada peradilan tingkat pertama dan peradilan tingkat banding harus sudah selesai selambat-lambatnya 6 (enam) bulan sejak didaftarkan. (SEMA RI No. 6 Tahun 1992 tanggal 21 Oktober 1992, terakhir SEMA Nomor 3 Tahun 1998). BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA C. TATA CARA PEMERIKASAAN PERKARA Tahap-Tahap Pemerikasaan
  • 38.
    38 Catatan: Pada sidangpertama sebelum memeriksa pokok perkara, Hakim wajib mendamaikan pihak-pihak berperkara. Jika perdamaian tersebut berhasil, maka dibuatkan akta perdamaian (Acta van vergelijk) yang isinya menghukum kedua belah pihak untuk melaksanakan isi perdamaian. Akan tetapi dalam perkara perceraian tidak dibuatkan akta perdamaian melainkan perkara dicabut BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA C. TATA CARA PEMERIKASAAN PERKARA Tahap-Tahap Pemerikasaan
  • 39.
    39 Hakim tanpa dimintaoleh pihak berperkarapun sebenarnya harus mengundurkan diri dari perkara apabila: Ia secara pribadi mempunyai kepentingan baik langsung atau tidak langsung dalam perkara itu. Suami/Isteri, keluarga atau keluarga semendanya dalam garis keturunan lurus, atau sampai derajat ke empat ke samping tersangkut dalam perkara itu. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin peradilan yang obyektif dan tidak memihak. (Pasal 374 HIR/702 RBg. BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA C. TATA CARA PEMERIKASAAN PERKARA Tahap-Tahap Pemerikasaan
  • 40.
    40 Eksepsi adalah sanggahanterhadap suatu gugatan atau perlawanan yang tidak mengenai pokok perkara dengan maksud untuk menghindari gugatan agar Hakim menetapkan gugatan tidak dapat diterima atau ditolak (Pasal 136 HIR/Pasal 162 RBg Pasal 356 R.V. Pada dasarnya eksepsi terbagi 2 (dua) yaitu: BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA C. TATA CARA PEMERIKASAAN PERKARA EKSEPSI
  • 41.
    41 1) Eksepsi Formil(Prosesual Eksepsi) yaitu eksepsi berdasarkan hukum formil atau hukum acara. Eksepsi formil ini terbagi 5 macam yaitu : 1. Eksepsi tentang kewenangan absolute 2. Eksepsi tentang kewenangan relatif. 3. Eksepsi tentang nebis is idem (eksepsi van gewisde zaak) 4. Eksepsi diskwalifikator. 5. Eksepsi gugatan kabur (obscure libel). BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA C. TATA CARA PEMERIKASAAN PERKARA EKSEPSI
  • 42.
    42 2) Eksepsi Materilyaitu eksepsi berdasarkan hukum materil yang meliputi : - Dilatoir eksepsi. (Belum waktunya diajukan) - Prematoir eksepsi. (Terlambat mengajukan) BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA C. TATA CARA PEMERIKASAAN PERKARA EKSEPSI
  • 43.
    43 Eksepsi tidak berwenangsecara absolut, eksepsi menyangkut kewenangan mutlak yaitu sanggahan tentang kewenangan absolute pengadilan yang tidak berwenang mengadili perkara tersebut melainkan menjadi wewenang Pengadilan lain. Eksepsi kewenangan relatif, eksepsi mengenai kewenangan relatif. Eksepsi Nebis in idem, suatu perkara tidak dapat diputus dua kali sehingga suatu perkara yang sama antara pihak-pihak yang sama dan di pengadilan yang sama pula. BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA C. TATA CARA PEMERIKASAAN PERKARA EKSEPSI
  • 44.
    44 v Eksepsi diskwlifikator,yaitu eksepsi yang menyatakan Penggugat tidak mempunyai kedudukan/hak untuk mengajukan gugatan atau Pengugat salah menentukan Tergugat baik mengenai orangnya maupun identitasnya v Eksepsi gugatan obscure libel, yaitu karena surat gugatan kabur, tidak jelas, tidak dapat dipahami baik mengenai susunan kalimatnya, formatnya atau hubungan hukumnya satu sama lain yang tidak saling mendukung atau mungkin bertentangan sama sekali. Eksepsi dilatoir, eksepsi yang menyatakan bahwa perkara tersebut bersifat prematur, belum waktunya diajukan, misalnya mengenai perjanjian belum habis waktunya. v Eksepsi prematoir, adalah eksepsi yang menyatakan BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA C. TATA CARA PEMERIKASAAN PERKARA EKSEPSI
  • 45.
    45 Terhadap hal-hal yangtelah diakui atau setidak-tidaknya tidak disangkal tidak perlu dibuktikan, selain itu masih ada satu hal lagi yang tidak harus dibuktikan, yaitu berupa hal-hal atau keadaan-keadaan yang telah diketahui oleh khalayak ramai (umum) yang dalam istilah hukum disebut fakta notoir. BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA C. TATA CARA PEMERIKASAAN PERKARA EKSEPSI
  • 46.
    46 Dalam hukum acaraperdata ada 5 (lima macam) alat bukti yaitu : 1. Surat 2. Saksi 3. Persangkaan 4. Pengakuan. 5. Sumpah Dasar Hukum : Pasal 164 HI/Pasal 284 RBg/ Pasal 1866 BW BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA C. TATA CARA PEMERIKASAAN PERKARA ALAT BUKTI
  • 47.
    47 Putusan adalah produkHakim dari hasil pemeriksaan dan penyelesaian perkara di persidangan. Ada 3 (tiga) macam produk Hakim yaitu : Putusan ialah pernyatan Hakim yang dituangkan dalam bentuk tertulis dan diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum sebagai hasil dari pemeriksaan perkara gugatan (kontensius) Penetapan ialah pernyataan Hakim yang dituangkan dalam bentuk tertulis dan diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum sebagai hasil dari pemeriksaan perkara permohonan (volunteer) Akta Perdamaian ialah akta yang dibuat oleh Hakim berisi hasil musyawarah/ kesepakatan antara para pihak dalam sengketa kebendaan untuk mengakhiri sengketa dan berlaku sebagai putusan. BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA D. PUTUSAN
  • 48.
    48 Dari segi fungsinyadalam mengakhiri perkara ada 2 (dua) macam putusan yaitu : 1. Putusan Akhir Putusan akhir ialah putusan yang mengakhiri pemeriksaan di persidangan baik melalui semua tahapan pemerikasaan maupun yang belum melalui semua tahapan pemeriksaan. 2. Putusan sela Putusan sela ialah putusan yang dijatuhkan pada saat masih dalam proses pemerikasaan perkara dengan tujuan memperlancar jalannya pemeriksaan, putusan sela tidak mengakhiri pemerikasaan tetapi akan berpengaruh terhadap arah dan jalannya pemeriksaan. Putusan sela ini dibuat seperti putusan biasa lengkap dengan identitas pihak-pihak, duduk perkara dan pertimbangan hkum tetapi tidak terpisah dari berita acara persidangan dan ditandatangani oleh Majelis Hakim serta Panitera sidang. BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA D. PUTUSAN Macam dan Jenis Putusan
  • 49.
    49 Dilihat dari hadirtidaknya para pihak berperkara pada saat putusan dijatuhkan/diucapkan maka dapat dibagi menjadi 3 (tiga) macam yaitu : Putusan Gugur adalah putusan yang menyatakan bahwa gugatan/permohonan gugur karena penggugat/pemohon tidak hadir dalam sidang dan telah dipanggil dengan patut dan tidak menyuruh orang lain sebagai wakilnya yang sah serta ketidak hadirannya itu bukan karena halangan yang sah. (Pasal 148 RBg dan Pasal 124 HIR) Putusan Verstek ialah putusan yang dijatuhan karena tergugat/termohon tidak hadir meskipun telah dipanggil dengan patut dan tidak menyuruh orang lain sebagai wakilnya yang sah serta ketidak hadirannya bukan karena halangan yang sah dan juga tidak mengajukan eksepsi mengenai kewenangan. (Pasal 148 RBg/Pasal 125 HIR) Putusan Kontradiktoir ialah putusan akhir yang pada saat dijatuhkan/diucapkan dalam sidang tidak dihadiri oleh salah satu pihak atau para pihak akan tetapi dalam pemeriksaan penggugat dan tergugat pernah hadir. BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA D. PUTUSAN Macam dan Jenis Putusan
  • 50.
    50 Dilihat dari segiSifatnya terhadap akibat hukum yang ditimbulkan maka putusan dapat dibagi menjadi 3 (tiga) macam putusan yaitu : Putusan Diklatoir ialah putusan yang menyatakan suatu keadaan tertentu sebagai suatu yang resmi menurut hukum. Misalnya putusan tentang gugatan cerai dengan alasan ta’lik talak. Putusan Konstitutif ialah putusan yang menciptakan atau menimbulkan hukum baru, berbeda dengan keadaan hukum sebelumnya. Misalnya menetapkan sahnya pernikahan (isbat nikah) Putusan kondemnatoir ialah putusan yang bersifat menghukum kepada salah satu pihak untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu atau menyerahkan sesuatu kepada pihak lawan untuk memenuhi prestasi. Misalnya Menghukum Tergugat untuk menyerahkan seperdua bagian dari harta bersama kepada Penggugat. BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA D. PUTUSAN Macam dan Jenis Putusan
  • 51.
    51 Dilihat dari Isinyaterhadap gugatan putusan terbagi kepada 3 macam yaitu : 1.Putusan negatif yaitu menolak atau tidak menerima gugatan. 2.Putusan Positif yaitu mengabulkan atau menerima seluruh isi gugatan. 3.Putusan Positif-negatif yaitu menerima atau mengabulkan sebagian dan tidak menerima atau menolak sebagian. BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA D. PUTUSAN Macam dan Jenis Putusan
  • 52.
    52 Putusan Hakim harusdibuat dengan tertulis dan harus ditanda tangani oleh Hakim/Majelis Hakim termasuk Panitera/Panitera Pengganti sebagi dokumen resmi. Suatu putusan hakim terdiri dari : 1. Kepala Putusan 2.Identitas Para Pihak 3.Pertimbangan (konsideran) yang memuat tentang 4.Duduk Perkaranya dan Pertimbangan Hukum 5.Amar atau dictum putusan BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA D. PUTUSAN Susunan dan Isi Putusan
  • 53.
    53 Pelaksanaan putusan atauyang lebih dikenal dengan eksekusi ialah tindakan yang dilakukan secara paksa terhadap pihak yang kalah dalam perkara apabila pihak yang dikalahkan tidak menjalankan putusan secara sukarela sedang putusan tersebut sudah mempunyai kekuatan hukum tetap dan yang bersangkutan telah ditegur atau dianmaning untuk melaksanakan secara sukarela. BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA D. PUTUSAN Pelaksanaan Putusan
  • 54.
    54 Putusan yang dapatdieksekusi ialah putusan yang bersifat komdemnatoir yaitu : 1.Putusan yang menghukum salah satu pihak untuk membayar sejumlah uang. (Pasal 196HIR/208 RBg) 2.Putusan yang menghukum salah satu pihak untuk melakukan suatu perbuatan. (Pasal 225 HIR/259 RBg) 3.Putusan yang menghukum salah satu pihak mengosongkan suatu benda tetap. (Pasal 1033 RV) 4.Eksekusi riil dalam bentuk lelang. (Pasal 200 ayat (1) HIR/218 RBg.. BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA D. PUTUSAN Pelaksanaan Putusan
  • 55.
    55 Adapun tatacara eksekusiialah : 1.Adanya permohonan eksekusi dari pihak yang bersangkutan. 2.Eksekusi atas dasar perintah Ketua Pengadilan Agama, surat perintah ini dikekluarkan setelah Tergugat tidak mau menghadiri panggilan peringatan (anmaning) tanpa alasan yang sah dan Tergugat tidak mau melaksanakan amar putusan selama masa peringatan. 3.Dilaksanakan oleh Panitera atau Juru Sita dengan dibantu 2 (dua) orang saksi 4.Sita eksekusi dilakukan di tempat obyek sengketa. 5.Membuat berita acara sita eksekusi BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA D. PUTUSAN Pelaksanaan Putusan
  • 56.
    56 Apabila pihak-pihak berperkara(Penggugat dan Tergugat) tidak dapat menerima putusan pengadilan, maka ia dapat menempuh upaya hukum agar putusan pengadilan tersebut dibatalkan dengan cara sebagai berikut: 1.Mengajukan verzet yaitu upaya hukum atau perlawanan terhadap putusan verstek. Dasar Hukum Verstek : Pasal 149 ayat (1) RBg, pasal 125 ayat (1) HIR Dasar Hukum Verzet : Pasal 153 ayat (1) RBg, Pasal 129 ayat (1) HIR. 2.Mengajukan Banding ke Pengadilan Tinggi melalui Pengadilan yang memutus perkara tersebut, yaitu upaya hukum atau perlawanan terhadap putusan yang dijatuhkan secara kontradiktur. 3.Mengajukan Kasasi ke Mahkamah Agung melalui Pengadilan yang memutus perkara yaitu upaya hukum atau perlawanan terhadap putusan yang dijatuhkan oleh Pengadilan Tingkat Banding (Pengadilan Tinggi) apabila tidak dapat menerima putusan banding. 4.Mengajukan upaya hukum luar biasa yaitu Permohonan Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung RI melalui Pengadilan yang memutus perkara tersebut yaitu upaya hukum atau perlawanan terhadap putusan yang telah mempunyai hukum tetap. BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA E. UPAYA HUKUM Pelaksanaan Putusan
  • 57.
    57 Dasar Hukum PK: Pasal 23 UU No.4 Tahun 2004, Pasal 77 UU No.14 Tahun 1985. Permohonan Peninjauan Kembali atas putusan suatu perkara diperlukan syarat-syarat sebagai berikut : 1.Putusan telah mempunyai kekuatan hukum (inkrach) 2.Harus ada bukti baru (novum) 3.Tidak lebih dari 6 (enam) bulan setelah Novum ditemukan. 4,Pemohon PK harus disumpah atas penemuan novum tersebut. Catatan : Upaya hukum perkara volunteer adalah kasasi dengan perkataan lain apabila pemohon tidak dapat menerima penetapan yang dijatuhkan hakim, maka ia dapat mengajukan kasasi tanpa melalui proses banding terlebih dahulu. BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA D. PUTUSAN Pelaksanaan Putusan
  • 58.
    58 Putusan Sela tidakdapat diajukan banding kecuali sekaligus diajukan bersama dengan putusan akhir. Pengajuan Banding Pengertian banding ialah permohonan pemeriksaan ulang kepada pengadilan yang lebih tinggi (dalam hal ini Pengadilan Tinggi Agama) terhadap suatu perkara yang telah diputus oleh tingkat pertama (Pengadilan Agama) karena merasa tidak puas atau tidak menerima putusan pengadilan tingkat pertama tersebut, dengan ketentuan sebagai berikut: 1.Permohonan banding diajukan kepada pengadilan tinggi dalam daerah hukum meliputi pengadilan tingkat pertama yang memutus perkara. 2.Permohonan banding diajukan melalui pengadilan yang memutus perkara tersebut. BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA D. PUTUSAN Pelaksanaan Putusan
  • 59.
    59 Syarat-syarat banding. 1. Diajukanoleh pihak-pihak dalam perkara. 2. Diajukan masih dalam tenggang waktu banding. 3. Putusan tersebut menurut hukum diperbolehkan banding. 4. Membayar panjar biaya banding. 5. Membuat akta permohonan banding dengan menghadap pejabat kepaniteraan pengadilan BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA D. PUTUSAN Pelaksanaan Putusan
  • 60.
    60 Masa Pengajuan banding: 1. Bagi pihak berperkara yang berada dalam wilayah hukum pengadilan yang memutus perkara adalah selama 14 hari terhitung mulai hari berikutnya sejak putusan dijatuhkan atau diberitahukan kepada yang bersangkutan. 2. Bagi pihak yang berada di luar wilayah pengadilan agama yang memutus perkara tersebut, masa bandingnya selama 30 hari terhitung hari berikutnya isi putusan disampaikan kepada yang bersangkutan. (Pasal 7 ayat (1), (2) dan (3) UU No.20/1947 BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA D. PUTUSAN Pelaksanaan Putusan
  • 61.
    61 Pengajuan Kasasi Pengertian Kasasiialah pembatalan putusan oleh Mahkamah Agung terhadap putusan pengadilan yang lebih rendah (pengadilan agama dan pengadilan tinggi agama) karena kesalahan dalam penerapan hukum.Pihak yang tidak menerima atau tidak puas atas putusan pengadilan tinggi agama atau pengadilan agama (dalam perkara volunteer) dapat mengajukan permohonan kasasi ke Mahkamah Agung dengan syarat-syarat tertentu BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA D. PUTUSAN Pelaksanaan Putusan
  • 62.
    62 Syarat-syarat kasasi 1. Diajukanoleh yang berhak. 2. Diajukan masih dalam tenggang waktu kasasi. 3. Putusan yang dijatuhkan oleh pengadilan tingkat banding menurut hukum dapat dimintakan kasasi. 4. Membuat memori kasasi. 5. Membayar panjar biaya kasasi. 6. Membuat akta permohonan kasasi di kepaniteraan pengadilan agama yang bersangkutan. BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA D. PUTUSAN Pelaksanaan Putusan
  • 63.
    63 Adapun tenggang waktupengajuan kasasi sama dengan pengajuan banding.Apabila syarat-syarat kasasi tersebut tidak terpenuhi, maka berkas perkaranya tidak dikirim ke Mahkamah Agung, Panitera Pengadilan Agama yang memutus perkara tersebut membuat keterangan bahwa permohonan kasasi atas perkara tersbut tidak memenuhi syarat formal. Ketua PA melaporkan ke Mahkamah Agung bahwa permohonan kasasi tidak diteruskan ke MA (Peraturan MARI Nomor 1 Tahun 2001) BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA D. PUTUSAN Pelaksanaan Putusan
  • 64.
    64 Peninjauan Kembali. Pengertian PeninjauanKembali ialah meninjau kembali putusan perkara perdata yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap karena diketemukan hal-hal atau bukti baru yang pada pemeriksaan terdahulu tidak diketahui oleh Hakim. Peninjaun Kembali hanya dapat diperiksa oleh Mahkamah Agung.. BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA D. PUTUSAN Pelaksanaan Putusan
  • 65.
    65 Syarat-syarat permohonan PK 1.Diajukan oleh pihak yang berperkara. 2. Putusan telah mempunyai kekuatan hukum tetap. 3. Membuat permohonan peninjauan kembali yang memuat alasan- alasannya. 4. Diajukan dalam tenggang waktu menurut undang-undang. 5. Membayar panjar biaya peninjauan kembali. 6. Membuat akta permohonan Peninjauan Kembali di Kepaniteraan Pengadilan Agama. 7. Ada bukti baru yang belum pernah diajukan pada pemeriksaan terdahulu BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA D. PUTUSAN Pelaksanaan Putusan
  • 66.
    66 Masa pengajuan permohonanPeninjauan Kembali adalah 180 hari terhitung mulai ditemukannya novum atau bukti baru Dan sebelum berkas permohoan Peninjauan Kembali dikirim ke Mahkamah Agung, Pemohon harus disumpah oleh Ketua Pengadilan tentang penemuan novum tersebut. BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA D. PUTUSAN Pelaksanaan Putusan
  • 67.
    67 Di indonesia, pengadilanyang berwenang menyelesaikan sengketa perbankan syariah adalah pengadilan agama. Semenjak tahun 2006, dengan diamendemennya UU no. 7 tahun 1989 dengan UU no. 3 tahun 2006 tentang peradilan agama, kewenangan peradilan agama diperluas. Di samping berwenang memeriksa, memutus dan menyelesaikan sengketa di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama islam di bidang perkawaninan, waris, wasiat, hibah, wakaf, zakat, infak, dan shadaqah, pengadilan agama juga berwenang untuk memeriksa, memutus, dan menyelesaikan sengketa di bidang ekonomi syariah [pasal 49 ayat [i] uu no. 3 tahun 2006]. PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARI'AH PENDAHULUAN
  • 68.
    68 Ekonomi syariah :adalah perbuatan atau kegiatan usaha yang dilaksanakan menurut prinsip syariah, Meliputi: (a) bank syariah; (b) lembaga keuangan mikro syari’ah; (c) asuransi syariah; (d) reasuransi syariah; (e) reksa dana syariah; (f) obligasi syariah dan surat berharga berjangka menengah syariah; (g) sekuritas syariah; (h) pembiayaan syariah; (i) pegadaian syariah; (j) dana pensiunan lembaga keuangan syariah; dan (k) bisnis syariah.” PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARI'AH PENGERTIAN
  • 69.
    69 Sehubungan dengan jenisdan macamnya mengenai ekonomi syari’ah yang disebut dalam Penjelasan Pasal 49 UU No.3 Th. 2006 huruf (i) di atas, hanya menyebutkan 11 jenis. Sebaiknya, harus dilihat terlebih dahulu mengenai rumusan awalnya yang menyebutkan, bahwa ekonomi syari’ah adalah perbuatan atau kegiatan usaha yang dilaksanakan menurut prinsip syari’ah, kata antara lain yang menunjukkan bahwa 11 jenis yang disebutkan bukan dalam arti limitatif,tetapi hanya sebagai contoh. Di samping itu, mungkin saja ada bentuk-bentuk lain dari ekonomi syari’ah yang tidak dapat atau belum dapat disebutkan ketika merumuskan pengertian ekonomi syari’ah. PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARI'AH PENGERTIAN
  • 70.
    70 Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa Pengadilan Agama berwenang menyelesaikan sengketa perbankan syariah. Kewenangan tersebut tidak hanya dibatasi di bidang perbankan syariah saja, tapi juga di bidang ekonomi syariah lainnya. Kemudian, kewenangan Pengadilan Agama diperkuat kembali dalam Pasal 55 [1] UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah yang menyatakan bahwa penyelesaian sengketa perbankan syariah dilakukan oleh Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama. PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARI'AH PENGERTIAN
  • 71.
    71 Namun, Pasal 55[2] UU ini memberi peluang kepada para pihak yang bersengketa untuk menyelesaikan perkara mereka di luar Pengadilan Agama apabila disepakati bersama dalam isi akad. Sengketa tersebut bisa diselesaikan melalui : musyawarah, mediasi perbankan, Badan Arbitrase Syariah Nasional (Basyarnas) atau lembaga arbitrase lain dan/atau melalui pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum. PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARI'AH PENGERTIAN
  • 72.
    72 Penyelesaian sengketa perbankansyariah melalui mekanisme penyelesaian sengketa alternatif di luar pengadilan seperti musyawarah, mediasi, dan arbitrase syariah merupakan langkah yang tepat dan layak untuk diapresasi. PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARI'AH PENGERTIAN
  • 73.
    73 Akan tetapi, masalahmuncul ketika Pengadilan Negeri juga diberikan kewenangan yang sama dalam menyelesaikan sengketa perbankan syariah. Terjadi dualisme penyelesaian sengketa dan ketidakpastian hukum serta tumpang tindih kewenangan dalam menyelesaikan suatu perkara yang sama oleh dua lembaga peradilan yang berbeda. Padahal, kewenangan ini jelas merupakan kewenangan Pengadilan Agama sebagaimana diatur dalam Pasal 49 (i) UU No. 3 Tahun 2006 tentang Peradilan Agama. PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARI'AH PENGERTIAN
  • 74.
    74 Karena adanya ketidakpastianhukum seperti inilah, maka Dadang Achmad, Direktur CV Benua Engineering Consultant, pernah mengajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi, Memohon pembatalan Pasal 55 ayat [2]&[3] UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan syariah dengan alasan bertentangan dengan Pasal 28 UUD 1945. PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARI'AH PENGERTIAN
  • 75.
    75 Pada tanggal 29Agustus 2013, Majelis Mahkamah Konstitusi membuat putusan atas perkara Nomor 93/PUU-X/2012, mengabulkan sebagian permohonan Dadang Achmad, Menyatakan bahwa penjelasan Pasal 55 ayat [2] UU 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARI'AH PENGERTIAN
  • 76.
    76 Lebih lanjut dalamsalah satu pertimbangannya, Mahkamah Konstitusi menyatakan bahwa adanya pilihan tempat penyelesaian sengketa (choice of forum) untuk menyelesaikan sengketa perbankan syariah sebagaimana tersebut dalam Penjelasan Pasal 55 ayat (2) UU 21 Tahun 2008 pada akhirnya akan menyebabkan adanya tumpang tindih kewenangan untuk mengadili, karena ada dua peradilan yang diberikan kewenangan untuk menyelesaikan sengketa perbankan syariah, Padahal dalam UU 3 Tahun 2006 tentang Peradilan Agama secara tegas dinyatakan bahwa peradilan agama yang berwenang menyelesaikan tersebut. PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARI'AH PENGERTIAN
  • 77.
    77 Dengan adanya putusanMahkamah Kontitusi tersebut, maka tidak ada lagi dualisme dalam penyelesaian sengketa Perbankan Syariah. Pengadilan Agama menjadi satu-satunya pengadilan yang berwenang dalam menyelesaikan sengketa Perbankan syariah. Hal ini semakin mengokohkan eksistensi Pengadilan Agama di Indonesia, akan tetapi di sisi lain menjadi tantangan tersendiri, karena bidang perbankan syariah secara khusus dan ekonomi secara umum merupakan bidang baru yang sangat kompleks permasalahannya PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARI'AH PENGERTIAN
  • 78.
    78 Keraguan banyak pihakakan kemampuan Peradilan Agama dalam menyelesaikan sengketa perbankan syariah harus dihilangkan dengan membuktikan kecakapan para hakim di lingkungan peradilan agama dalam menyelesaikan sengketa-sengketa yang diputuskanya. Para hakim harus memiliki pengetahuan yang mendalam tentang ilmu ekonomi syariah, baik dari segi teori maupun praktik. Apabila diperlukan, di setiap pengadilan dibentuk hakim khusus dalam menyelesaikan sengketa perbankan dan keuangan syariah. PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARI'AH PENGERTIAN
  • 79.
    79 Penandatangan Surat KeputusanBersama [SKB] yang dilakukan oleh Mahkamah Agung dengan Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia tentang Kerjasama Pelatihan Hakim di Bidang Kebanksentralan dan Sektor Jasa Keuangan pada bulan Juli 2014 lalu adalah langkah yang patut diapresiasi dan harus ditindaklanjuti. PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARI'AH PENGERTIAN
  • 80.
    80 Subjek hukum pelakuekonomi syari’ah menurut penjelasan pasal tersebut antara lain disebutkan bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang beragama Islam adalah termasuk orang atau badan hukum yang dengan sendirinya menundukkan diri dengan suka rela kepada hukum Islam mengenai hal-hal yang menjadi kewenangan Pengadilan Agama sesuai ketentuan pasal ini. PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARI'AH SUBJEK HUKUM PELAKU EKONOMI SYARI’AH
  • 81.
    81 Berdasarkan penjelasan Pasal49 UU. No.3 Th. 2006 tersebut, maka seluruh nasabah lembaga keuangan dan lembaga pembiayaan syari’ah dan atau bank-bank konvensional yang membuka sektor usaha syari’ah maka dengan sendirinya terikat dengan ketentuan ekonomi syari’ah, baik dalam hal pelaksanaan akadnya maupun dalam hal penyelesaian perselisihannya. Ahmad Mujahidin, Prosedur Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syari’ah di Indonesia (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010), 18-19. PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARI'AH SUBJEK HUKUM PELAKU EKONOMI SYARI’AH
  • 82.
    82 Secara rinci, dapatdikemukakan mengenai bentuk-bentuk sengketa bank syari’ah yang disebabkan karena adanya pengingkaran atau pelanggaran terhadap perikatan (akad) yang telah dibuat, yaitu disebabkan karena : 1. Kelalaian Bank untuk mengembalikan dana titipan nasabah dalam akad wadi’ah 2. Bank mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan dalam akad mudlorobah PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARI'AH SENGKETA EKONOMI SYARI’AH
  • 83.
    83 3. Nasabah melakukankegiatan usaha minuman keras dan usaha-usaha lain yang diharamkan menurut syari’at Islam yang bersumber dari dana pinjaman bank syari’ah, akad qirah dan lain-lain 4. Pengadilan agama berwenang menghukum kepada pihak nasabah atau pihak bank yang melakukan wanprestasi yang menyebabkan kerugian riil (real lose). PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARI'AH SENGKETA EKONOMI SYARI’AH
  • 84.
    84 Secara garis besar,sengketa ekonomi syari’ah dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yakni: 1. Sengketa di bidang ekonomi syari’ah antara lembaga keuangan dan lembaga pembiayaan syari’ah dengan nasabahnya, 2. Sengketa di bidang ekonomi syari’ah antara lembaga keuangan dan lembaga pembiayaan syari’ah, 3. Sengketa di bidang ekonomi syari’ah antara orang-orang yang beragama Islam, yang mana akad perjanjiannya disebutkan dengan tegas bahwa kegiatan usaha yang dilakukan adalah berdasarkan prinsip-prinsip syari’ah. PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARI'AH SENGKETA EKONOMI SYARI’AH
  • 85.
    85 Sengketa ekonomi syari’ahjuga bisa dalam bentuk perkara Permohonan Pernyataan Pailit (PPP) dan juga bisa berupa Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) di bidang ekonomi syari’ah, di samping itu juga perkara derivatif kepailitan (perkara tidak murni sebagai perkara kepailitan). PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARI'AH SENGKETA EKONOMI SYARI’AH
  • 86.
    86 Perdamaian(Sulhu) Langkah pertama yangperlu diupayakan ketika hendak menyelesaikan perselisihan, ialah melalui cara damai. Untuk mencapai hakekat perdamaian, prinsip utama yang perlu dikedepankan adalah kesadaran para pihak untuk kembali kepada Allah (Al-Qur’an) dan RosulNya (Al-Sunnah) dalam menyelesaikan segala persoalan. Upaya damai tersebut biasanya ditempuh melalui musyawarah (syuura) untuk mencapai mufakat di antara para pihak yang berselisih. Dengan musyawarah yang mengedepankan prinsip- prinsip syari’at, diharapkan apa yang menjadi persoalan para pihak dapat diselesaikan PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARI'AH PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARI’AH
  • 87.
    87 Arbitrase Syari’ah (Tahkim) Untukmenyelesaikan perkara/ perselisihan secara damai dalam hal keperdataan, selain dapat dicapai melalui inisiatif sendiri dari para pihak, juga dapat dicapai melalui keterlibatan pihak ketiga sebagai wasit (mediator). Upaya ini biasanya akan ditempuh apabila para pihak yang berperkara itu sendiri ternyata tidak mampu mencapai kesepakatan damai. Institusi formal yang khusus dibentuk untuk menangani perselisihan/ sengketa disebut arbitrase, yaitu cara penyelesaian sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa. PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARI'AH PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARI’AH
  • 88.
    88 Lembaga Peradilan Syari’ah(Qadha) Dengan disahkannya UU No. 3 Th. 2006 tentang perubahan UU No. 7 Th. 1989 tentang Peradilan Agama telah membawa perubahan besar dalam eksistensi lembaga Peradilan Agama saat ini. Salah satu perubahan mendasar adalah penambahan wewenang lembaga Peradilan Agama antara lain di bidang perkawinan, waris, wasiat, hibah, wakaf, zakat, infaq, shadaqah, dan ekonomi syari’ah (pasal49). Dengan adanya kewenangan ini maka perkara yang timbul terkait dengan penyelesaian sengketa syari’ah selain dapat diselesaikan melalui cara damai (sulhu) dan arbitrase syari’ah (tahkim), juga dapat diselesaikan melalui lembaga peradilan (qadha). PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARI'AH PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARI’AH
  • 89.