Kholid A.Harras
FPBS UPI 2017
Apa itu Autisme ?
gangguan perkembangan yang sangat
kompleks pada anak, yang gejalanya sudah
timbul sebelum anak itu mencapai usia tiga
tahun.
Penyebab autisme
gangguan neurobiologis yang
mempengaruhi fungsi otak sedemikian rupa
sehingga anak tidak mampu berinteraksi
dan berkomunikasi dengan dunia luar
secara efektif.
Gejala yang sangat menonjol adalah sikap anak yang
cenderung tidak mempedulikan lingkungan dan
orang-orang di sekitarnya, seolah menolak
berkomunikasi dan berinteraksi, serta seakan hidup
dalam dunianya sendiri.
Anak autistik juga mengalami kesulitan dalam
memahami bahasa dan berkomunikasi secara verbal.
Disamping itu seringkali (prilaku stimulasi diri)
seperti berputar-putar, mengepak-ngepakan tangan
seperti sayap, berjalan berjinjit dan lain sebagainya.
 Gejala yang sangat menonjol adalah sikap anak
yang cenderung tidak mempedulikan lingkungan
dan orang-orang di sekitarnya, seolah menolak
berkomunikasi dan berinteraksi, serta seakan
hidup dalam dunianya sendiri.
 Anak autistik juga mengalami kesulitan dalam
memahami bahasa dan berkomunikasi secara
verbal.
 Gejala autisme sangat bervariasi. Sebagian anak
berperilaku hiperaktif dan agresif atau menyakiti
diri, tapi ada pula yang pasif. Mereka cenderung
sangat sulit mengendalikan emosinya dan sering
tempertantrum (menangis dan mengamuk).
Kadang-kadang mereka menangis, tertawa atau
marah-marah tanpa sebab yang jelas.
 Selain berbeda dalam jenis gejalanya, intensitas
gejala autisme juga berbeda-beda, dari sangat
ringan sampai sangat berat. Oleh karena
banyaknya perbedaan-perbedaan tersebut di
antara masing-masing individu, maka saat ini
gangguan perkembangan ini lebih sering dikenal
sebagai Autistic Spectrum Disorder (ASD) atau
Gangguan Spektrum Autistik (GSA).
 Autisme dapat terjadi pada siapa saja, tanpa
membedakan warna kulit, status sosial ekonomi
maupun pendidikan seseorang.
 Tidak semua individu ASD/GSA memiliki IQ yang
rendah. Sebagian dari mereka dapat mencapai
pendidikan di perguruan tinggi. Bahkan ada pula yang
memiliki kemampuan luar biasa di bidang tertentu
(musik, matematika, menggambar).
 Prevalensi autisme menigkat dengan sangat
mengkhawatirkan dari tahun ke tahun. Menurut
Autism Research Institute di San Diego, jumlah
individu autistik pada tahun 1987 diperkirakan 1:5000
anak. Jumlah ini meningkat dengan sangat pesat dan
pada tahun 2005 sudah menjadi 1:160 anak.
 Di Indonesia belum ada data yang akurat oleh karena
belum ada pusat registrasi untuk autisme. Namun
diperkirakan angka di Indonesia pun mendekati angka
di atas.
 Autisme lebih banyak terjadi pada pria daripada
wanita, dengan perbandingan 4:1
Deteksi Dini Autisme
 Bila gejala autisme dapat dideteksi sejak dini dan
kemudian dilakukan penanganan yang tepat dan
intensif, kita dapat membantu anak autis untuk
berkembang secara optimal.
 Untuk dapat mengetahui gejala autisme sejak dini,
telah dikembangkan suatu checklist yang dinamakan
M-CHAT (Modified Checklist for Autism in Toddlers).
Berikut adalah pertanyaan penting bagi orangtua:
1. Apakah anak anda tertarik pada anak-anak lain?
2. Apakah anak anda dapat menunjuk untuk
memberitahu ketertarikannya pada sesuatu?
3. Apakah anak anda pernah membawa suatu benda
untuk diperlihatkan pada orangtua?
4. Apakah anak anda dapat meniru tingkah laku
anda?
5. Apakah anak anda berespon bila dipanggil
namanya?
6. Bila anda menunjuk mainan dari jarak jauh,
apakah anak anda akan melihat ke arah mainan
tersebut?
Bila jawaban anda TIDAK pada
2 pertanyaan atau lebih, maka
anda sebaiknya berkonsultasi
dengan profesional yang ahli
dalam perkembangan anak dan
mendalami bidang autisme.
Kenali Autisme
Sulit bersosialisasi dengan anak-anak
lainnya
Tertawa atau tergelak tidak pada tempatnya
Tidak pernah atau jarang sekali kontak mata
Tidak peka terhadap rasa sakit
Lebih suka menyendiri; sifatnya agak
menjauhkan diri
Suka benda-benda yang berputar / memutarkan
benda
Ketertarikan pada satu benda secara berlebihan
Hiperaktif/melakukan kegiatan fisik secara berlebihan atau
malah tidak melakukan apapun (terlalu pendiam)
Kesulitan dalam mengutarakan kebutuhannya; suka
menggunakan isyarat atau menunjuk dengan tangan
daripada kata-kata
Menuntut hal yang sama; menentang perubahan atas
hal-hal yang bersifat rutin
Tidak peduli bahaya
Menekuni permainan dengan cara aneh dalam waktu lama
Echolalia (mengulangi kata atau kalimat, tidak berbahasa
biasa)
Tidak suka dipeluk (disayang) atau menyayangi
Tidak tanggap terhadap isyarat kata-kata; bersikap seperti
orang tuli
Tidak berminat terhadap metode pengajaran yang
biasa
Tentrums – suka mengamuk/memperlihatkan kesedihan
tanpa alasan yang jelas
Kecakapan motorik kasar/motorik halus yang seimbang
(seperti tidak mau menendang bola namun dapat
menumpuk balok-balok)
Daftar di atas bukan pengganti diagnosa. Hubungi
profesional yang ahli untuk memperoleh diagnosa lengkap
Mitos Tentang Autisme
 Mitos: Semua anak dengan autisme memiliki
kesulitan belajar.
Fakta: Autisme memiliki manifestasi yang berbeda
pada setiap orang. Simtom gangguan ini dapat
bervariasi secara signifikan dan meski beberapa anak
memiliki kesulitan belajar yang berat, beberapa anak
lain dapat memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi
dan mampu menyelesaikan materi pembelajaran yang
sulit, seperti persoalan matematika. Contohnya, anak
dengan sindrom Asperger biasanya berhasil di sekolah
dan dapat menjadi mandiri ketika ia dewasa.
 Mitos: Anak dengan autisme tidak pernah melakukan
kontak mata.
 Fakta: Banyak anak dengan autisme mampu
melakukan kontak mata. Kontak mata yang dilakukan
mungkin lebih singkat durasinya atau berbeda dari
anak normal, tetapi mereka mampu melihat orang
lain, tersenyum dan mengekspresikan banyak
komunikasi nonverbal lainnya.
 Mitos: Anak dengan autisme sulit melakukan
komunikasi secara verbal.
 Fakta: Banyak anak dengan autisme mampu
mengembangkan kemampuan berbahasa yang
fungsional. Mereka mengembangkan beberapa
keterampilan berkomunikasi, seperti dengan
menggunakan bahasa isyarat, gambar, komputer, atau
peralatan elektronik lainnya.
 Mitos: Anak dengan autisme tidak dapat
menunjukkan afeksi.
 Fakta: Salah satu mitos tentang autisme yang paling
menyedihkan adalah miskonsepsi bahwa anak dengan
autisme tidak dapat memberi dan menerima afeksi
dan kasih sayang. Stimulasi sensoris diproses secara
berbeda oleh beberapa anak dengan autisme,
menyebabkan mereka memiliki kesulitan dalam
menunjukkan afeksi dalam cara yang konvensional.
 Memberi dan menerima kasih sayang dari seorang
anak dengan autisme akan membutuhkan penerimaan
untuk menerima dan memberi kasih sayang sesuai
dengan konsep dan cara anak.
 Orang tua terkadang merasa sulit untuk
berkomunikasi hingga anak mau mulai membangun
hubungan yang lebih dalam. Keluarga dan teman
mungkin tidak memahami kecenderungan anak untuk
sendiri, tetapi dapat belajar untuk menghargai dan
menghormati kapasitas anak untuk menjalin
hubungan dengan orang lain.
 Mitos: Anak dan orang dewasa dengan autisme lebih
senang sendirian dan menutup diri serta tidak peduli
dengan orang lain.
 Fakta: Anak dan orang dewasa dengan autisme pada
dasarnya ingin berinteraksi secara sosial tetapi kurang
mampu mengembangkan keterampilan interaksi
sosial yang efektif. Mereka sering kali sangat peduli
tetapi kurang mampu untuk menunjukkan tingkah
laku sosial dan berempati secara spontan.
 Mitos: Anak dan orang dewasa dengan autisme tidak
dapat mempelajari keterampilan bersosialisasi.
 Fakta: Anak dan orang dewasa dengan autisme dapat
mempelajari keterampilan bersosialisasi jika mereka
menerima pelatihan yang dikhususkan untuk mereka.
Keterampilan bersosialisasi pada anak dan orang
dewasa dengan autisme tidak berkembang dengan
sendirinya karena pengalaman hidup sehari-hari.
 Mitos: Autisme hanya sebuah fase kehidupan, anak-
anak akan melaluinya.
 Fakta: Anak dengan autisme tidak dapat sembuh.
Meski demikian, banyak anak dengan simtom autisme
yang ringan, seperti sindrom Asperger, dapat hidup
mandiri dengan dukungan dan pendidikan yang tepat.
Anak-anak lain dengan simtom yang lebih berat akan
selalu membutuhkan bantuan dan dukungan, serta
tidak dapat hidup mandiri sepenuhnya.
 Hal itu menyebabkan kekhawatiran bagi sebagian
orang tua, terutama ketika mereka menyadari bahwa
mereka mungkin tidak dapat mendampingi anak
memasuki masa dewasanya. Oleh karena itu, anak
dengan autisme membutuhkan bantuan.
 Untuk itu, diperlukan suatu diagnosis yang tepat dan
benar untuk seorang anak dikatakan sebagai autisme.
Setelah mendapatkan diagnosis yang tepat, anak
tersebut dapat melakukan suatu terapi. Anak dengan
autisme dapat dibantu dengan memberikan terapi
yang sesuai dengan kebutuhannya. Salah satu terapi
yang dapat dilakukan adalah dengan terapi okupasi.
Autisme Masa Kanak
 Autisme Masa Kanak adalah gangguan
perkembangan pada anak yang gejalanya sudah
tampak sebelum anak tersebut mencapai umur 3
tahun. Perkembangan yang terganggu adalah
dalam bidang :
1. Komunikasi : kualitas komunikasinya yang tidak normal,
seperti ditunjukkan di bawah ini :
 Perkembangan bicaranya terlambat, atau samasekali
tidak berkembang.
 Tidak adanya usaha untuk berkomunikasi dengan
gerak atau mimik muka untuk mengatasi kekurangan
dalam kemampuan bicara.
 Tidak mampu untuk memulai suatu pembicaraan atau
memelihara suatu pembicaraan dua arah yang baik.
 Bahasa yang tidak lazim yang diulang-ulang atau
stereotipik.
 Tidak mampu untuk bermain secara imajinatif,
biasanya permainannya kurang variatif.
2. Interaksi sosial : adanya gangguan dalam kualitas
interaksi sosial
 Kegagalan untuk bertatap mata, menunjukkan
ekspresi fasial, maupun postur dan gerak tubuh, untuk
berinteraksi secara layak.
 Kegagalan untuk membina hubungan sosial dengan
teman sebaya, dimana mereka bisa berbagi emosi,
aktivitas, dan interes bersama.
 Ketidak mampuan untuk berempati, untuk membaca
emosi orang lain.
 Ketidak mampuan untuk secara spontan mencari
teman untuk berbagi kesenangan dan melakukan
sesuatu bersama-sama.
3. Perilaku : aktivitas, perilaku dan interesnya sangat
terbatas, diulang-ulang dan stereotipik seperti ini :
 Adanya suatu preokupasi yang sangat terbatas pada
suatu pola perilaku yang tidak normal, misalnya
duduk dipojok sambil menghamburkan pasir seperti
air hujan, yang bisa dilakukannya berjam-jam.
 Adanya suatu kelekatan pada suatu rutin atau ritual
yang tidak berguna, misalnya kalau mau tidur harus
cuci kaki dulu, sikat gigi, pakai piyama,
menggosokkan kaki dikeset, baru naik ketempat tidur.
Bila ada satu diatas yang terlewat atau terbalik
urutannya, maka ia akan sangat terganggu dan nangis
teriak-teriak minta diulang.
 Adanya gerakan-gerakan motorik aneh yang diulang-ulang,
seperti misalnya mengepak-ngepak lengan, menggerak-gerakan
jari dengan cara tertentu dan mengetok-ngetokkan sesuatu.
 Adanya preokupasi dengan bagian benda/mainan tertentu yang
tak berguna, seperti roda sepeda yang diputar-putar, benda
dengan bentuk dan rabaan tertentu yang terus diraba-rabanya,
suara-suara tertentu.
 Anak-anak ini sering juga menunjukkan emosi yang tak wajar,
temper tantrum (ngamuk tak terkendali), tertawa dan menangis
tanpa sebab, ada juga rasa takut yang tak wajar.
 Kecuali gangguan emosi sering pula anak-anak ini menunjukkan
gangguan sensoris, seperti adanya kebutuhan untuk mencium-
cium/menggigit-gigit benda, tak suka kalau dipeluk atau dielus.
Autisme Masa Kanak lebih sering terjadi pada anak laki-laki
daripada anak perempuan dengan perbandingan 3 : 1.
SILAKANANDA GUNAKANTAYANGANINI
UNTUKBERBAGAIKEPERLUANAKADEMIK.
JIKAAKAN DIMODIFIKASIMOHON AGAR
MENULISKAN TAYANGANINISEBAGAI
SUMBERNYA.
MARIMENJADIAKADEMISIYANGJUJURDAN
SALINGMENGHARGAI…
TERIMAKASIH
Kholid A.Harras : Kahar_64@yahoo.com

Mengenal Autisme

  • 1.
  • 2.
    Apa itu Autisme? gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak, yang gejalanya sudah timbul sebelum anak itu mencapai usia tiga tahun. Penyebab autisme gangguan neurobiologis yang mempengaruhi fungsi otak sedemikian rupa sehingga anak tidak mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan dunia luar secara efektif.
  • 3.
    Gejala yang sangatmenonjol adalah sikap anak yang cenderung tidak mempedulikan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya, seolah menolak berkomunikasi dan berinteraksi, serta seakan hidup dalam dunianya sendiri. Anak autistik juga mengalami kesulitan dalam memahami bahasa dan berkomunikasi secara verbal. Disamping itu seringkali (prilaku stimulasi diri) seperti berputar-putar, mengepak-ngepakan tangan seperti sayap, berjalan berjinjit dan lain sebagainya.
  • 4.
     Gejala yangsangat menonjol adalah sikap anak yang cenderung tidak mempedulikan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya, seolah menolak berkomunikasi dan berinteraksi, serta seakan hidup dalam dunianya sendiri.  Anak autistik juga mengalami kesulitan dalam memahami bahasa dan berkomunikasi secara verbal.
  • 5.
     Gejala autismesangat bervariasi. Sebagian anak berperilaku hiperaktif dan agresif atau menyakiti diri, tapi ada pula yang pasif. Mereka cenderung sangat sulit mengendalikan emosinya dan sering tempertantrum (menangis dan mengamuk). Kadang-kadang mereka menangis, tertawa atau marah-marah tanpa sebab yang jelas.  Selain berbeda dalam jenis gejalanya, intensitas gejala autisme juga berbeda-beda, dari sangat ringan sampai sangat berat. Oleh karena banyaknya perbedaan-perbedaan tersebut di antara masing-masing individu, maka saat ini gangguan perkembangan ini lebih sering dikenal sebagai Autistic Spectrum Disorder (ASD) atau Gangguan Spektrum Autistik (GSA).
  • 6.
     Autisme dapatterjadi pada siapa saja, tanpa membedakan warna kulit, status sosial ekonomi maupun pendidikan seseorang.  Tidak semua individu ASD/GSA memiliki IQ yang rendah. Sebagian dari mereka dapat mencapai pendidikan di perguruan tinggi. Bahkan ada pula yang memiliki kemampuan luar biasa di bidang tertentu (musik, matematika, menggambar).
  • 7.
     Prevalensi autismemenigkat dengan sangat mengkhawatirkan dari tahun ke tahun. Menurut Autism Research Institute di San Diego, jumlah individu autistik pada tahun 1987 diperkirakan 1:5000 anak. Jumlah ini meningkat dengan sangat pesat dan pada tahun 2005 sudah menjadi 1:160 anak.  Di Indonesia belum ada data yang akurat oleh karena belum ada pusat registrasi untuk autisme. Namun diperkirakan angka di Indonesia pun mendekati angka di atas.  Autisme lebih banyak terjadi pada pria daripada wanita, dengan perbandingan 4:1
  • 8.
    Deteksi Dini Autisme Bila gejala autisme dapat dideteksi sejak dini dan kemudian dilakukan penanganan yang tepat dan intensif, kita dapat membantu anak autis untuk berkembang secara optimal.  Untuk dapat mengetahui gejala autisme sejak dini, telah dikembangkan suatu checklist yang dinamakan M-CHAT (Modified Checklist for Autism in Toddlers). Berikut adalah pertanyaan penting bagi orangtua:
  • 9.
    1. Apakah anakanda tertarik pada anak-anak lain? 2. Apakah anak anda dapat menunjuk untuk memberitahu ketertarikannya pada sesuatu? 3. Apakah anak anda pernah membawa suatu benda untuk diperlihatkan pada orangtua? 4. Apakah anak anda dapat meniru tingkah laku anda? 5. Apakah anak anda berespon bila dipanggil namanya? 6. Bila anda menunjuk mainan dari jarak jauh, apakah anak anda akan melihat ke arah mainan tersebut?
  • 10.
    Bila jawaban andaTIDAK pada 2 pertanyaan atau lebih, maka anda sebaiknya berkonsultasi dengan profesional yang ahli dalam perkembangan anak dan mendalami bidang autisme.
  • 11.
    Kenali Autisme Sulit bersosialisasidengan anak-anak lainnya Tertawa atau tergelak tidak pada tempatnya Tidak pernah atau jarang sekali kontak mata Tidak peka terhadap rasa sakit Lebih suka menyendiri; sifatnya agak menjauhkan diri
  • 12.
    Suka benda-benda yangberputar / memutarkan benda Ketertarikan pada satu benda secara berlebihan Hiperaktif/melakukan kegiatan fisik secara berlebihan atau malah tidak melakukan apapun (terlalu pendiam) Kesulitan dalam mengutarakan kebutuhannya; suka menggunakan isyarat atau menunjuk dengan tangan daripada kata-kata Menuntut hal yang sama; menentang perubahan atas hal-hal yang bersifat rutin
  • 13.
    Tidak peduli bahaya Menekunipermainan dengan cara aneh dalam waktu lama Echolalia (mengulangi kata atau kalimat, tidak berbahasa biasa) Tidak suka dipeluk (disayang) atau menyayangi Tidak tanggap terhadap isyarat kata-kata; bersikap seperti orang tuli
  • 14.
    Tidak berminat terhadapmetode pengajaran yang biasa Tentrums – suka mengamuk/memperlihatkan kesedihan tanpa alasan yang jelas Kecakapan motorik kasar/motorik halus yang seimbang (seperti tidak mau menendang bola namun dapat menumpuk balok-balok) Daftar di atas bukan pengganti diagnosa. Hubungi profesional yang ahli untuk memperoleh diagnosa lengkap
  • 15.
    Mitos Tentang Autisme Mitos: Semua anak dengan autisme memiliki kesulitan belajar. Fakta: Autisme memiliki manifestasi yang berbeda pada setiap orang. Simtom gangguan ini dapat bervariasi secara signifikan dan meski beberapa anak memiliki kesulitan belajar yang berat, beberapa anak lain dapat memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi dan mampu menyelesaikan materi pembelajaran yang sulit, seperti persoalan matematika. Contohnya, anak dengan sindrom Asperger biasanya berhasil di sekolah dan dapat menjadi mandiri ketika ia dewasa.
  • 16.
     Mitos: Anakdengan autisme tidak pernah melakukan kontak mata.  Fakta: Banyak anak dengan autisme mampu melakukan kontak mata. Kontak mata yang dilakukan mungkin lebih singkat durasinya atau berbeda dari anak normal, tetapi mereka mampu melihat orang lain, tersenyum dan mengekspresikan banyak komunikasi nonverbal lainnya.
  • 17.
     Mitos: Anakdengan autisme sulit melakukan komunikasi secara verbal.  Fakta: Banyak anak dengan autisme mampu mengembangkan kemampuan berbahasa yang fungsional. Mereka mengembangkan beberapa keterampilan berkomunikasi, seperti dengan menggunakan bahasa isyarat, gambar, komputer, atau peralatan elektronik lainnya.
  • 18.
     Mitos: Anakdengan autisme tidak dapat menunjukkan afeksi.  Fakta: Salah satu mitos tentang autisme yang paling menyedihkan adalah miskonsepsi bahwa anak dengan autisme tidak dapat memberi dan menerima afeksi dan kasih sayang. Stimulasi sensoris diproses secara berbeda oleh beberapa anak dengan autisme, menyebabkan mereka memiliki kesulitan dalam menunjukkan afeksi dalam cara yang konvensional.
  • 19.
     Memberi danmenerima kasih sayang dari seorang anak dengan autisme akan membutuhkan penerimaan untuk menerima dan memberi kasih sayang sesuai dengan konsep dan cara anak.  Orang tua terkadang merasa sulit untuk berkomunikasi hingga anak mau mulai membangun hubungan yang lebih dalam. Keluarga dan teman mungkin tidak memahami kecenderungan anak untuk sendiri, tetapi dapat belajar untuk menghargai dan menghormati kapasitas anak untuk menjalin hubungan dengan orang lain.
  • 20.
     Mitos: Anakdan orang dewasa dengan autisme lebih senang sendirian dan menutup diri serta tidak peduli dengan orang lain.  Fakta: Anak dan orang dewasa dengan autisme pada dasarnya ingin berinteraksi secara sosial tetapi kurang mampu mengembangkan keterampilan interaksi sosial yang efektif. Mereka sering kali sangat peduli tetapi kurang mampu untuk menunjukkan tingkah laku sosial dan berempati secara spontan.
  • 21.
     Mitos: Anakdan orang dewasa dengan autisme tidak dapat mempelajari keterampilan bersosialisasi.  Fakta: Anak dan orang dewasa dengan autisme dapat mempelajari keterampilan bersosialisasi jika mereka menerima pelatihan yang dikhususkan untuk mereka. Keterampilan bersosialisasi pada anak dan orang dewasa dengan autisme tidak berkembang dengan sendirinya karena pengalaman hidup sehari-hari.
  • 22.
     Mitos: Autismehanya sebuah fase kehidupan, anak- anak akan melaluinya.  Fakta: Anak dengan autisme tidak dapat sembuh. Meski demikian, banyak anak dengan simtom autisme yang ringan, seperti sindrom Asperger, dapat hidup mandiri dengan dukungan dan pendidikan yang tepat. Anak-anak lain dengan simtom yang lebih berat akan selalu membutuhkan bantuan dan dukungan, serta tidak dapat hidup mandiri sepenuhnya.
  • 23.
     Hal itumenyebabkan kekhawatiran bagi sebagian orang tua, terutama ketika mereka menyadari bahwa mereka mungkin tidak dapat mendampingi anak memasuki masa dewasanya. Oleh karena itu, anak dengan autisme membutuhkan bantuan.  Untuk itu, diperlukan suatu diagnosis yang tepat dan benar untuk seorang anak dikatakan sebagai autisme. Setelah mendapatkan diagnosis yang tepat, anak tersebut dapat melakukan suatu terapi. Anak dengan autisme dapat dibantu dengan memberikan terapi yang sesuai dengan kebutuhannya. Salah satu terapi yang dapat dilakukan adalah dengan terapi okupasi.
  • 24.
    Autisme Masa Kanak Autisme Masa Kanak adalah gangguan perkembangan pada anak yang gejalanya sudah tampak sebelum anak tersebut mencapai umur 3 tahun. Perkembangan yang terganggu adalah dalam bidang :
  • 25.
    1. Komunikasi :kualitas komunikasinya yang tidak normal, seperti ditunjukkan di bawah ini :  Perkembangan bicaranya terlambat, atau samasekali tidak berkembang.  Tidak adanya usaha untuk berkomunikasi dengan gerak atau mimik muka untuk mengatasi kekurangan dalam kemampuan bicara.  Tidak mampu untuk memulai suatu pembicaraan atau memelihara suatu pembicaraan dua arah yang baik.  Bahasa yang tidak lazim yang diulang-ulang atau stereotipik.  Tidak mampu untuk bermain secara imajinatif, biasanya permainannya kurang variatif.
  • 26.
    2. Interaksi sosial: adanya gangguan dalam kualitas interaksi sosial  Kegagalan untuk bertatap mata, menunjukkan ekspresi fasial, maupun postur dan gerak tubuh, untuk berinteraksi secara layak.  Kegagalan untuk membina hubungan sosial dengan teman sebaya, dimana mereka bisa berbagi emosi, aktivitas, dan interes bersama.  Ketidak mampuan untuk berempati, untuk membaca emosi orang lain.  Ketidak mampuan untuk secara spontan mencari teman untuk berbagi kesenangan dan melakukan sesuatu bersama-sama.
  • 27.
    3. Perilaku :aktivitas, perilaku dan interesnya sangat terbatas, diulang-ulang dan stereotipik seperti ini :  Adanya suatu preokupasi yang sangat terbatas pada suatu pola perilaku yang tidak normal, misalnya duduk dipojok sambil menghamburkan pasir seperti air hujan, yang bisa dilakukannya berjam-jam.  Adanya suatu kelekatan pada suatu rutin atau ritual yang tidak berguna, misalnya kalau mau tidur harus cuci kaki dulu, sikat gigi, pakai piyama, menggosokkan kaki dikeset, baru naik ketempat tidur. Bila ada satu diatas yang terlewat atau terbalik urutannya, maka ia akan sangat terganggu dan nangis teriak-teriak minta diulang.
  • 28.
     Adanya gerakan-gerakanmotorik aneh yang diulang-ulang, seperti misalnya mengepak-ngepak lengan, menggerak-gerakan jari dengan cara tertentu dan mengetok-ngetokkan sesuatu.  Adanya preokupasi dengan bagian benda/mainan tertentu yang tak berguna, seperti roda sepeda yang diputar-putar, benda dengan bentuk dan rabaan tertentu yang terus diraba-rabanya, suara-suara tertentu.  Anak-anak ini sering juga menunjukkan emosi yang tak wajar, temper tantrum (ngamuk tak terkendali), tertawa dan menangis tanpa sebab, ada juga rasa takut yang tak wajar.  Kecuali gangguan emosi sering pula anak-anak ini menunjukkan gangguan sensoris, seperti adanya kebutuhan untuk mencium- cium/menggigit-gigit benda, tak suka kalau dipeluk atau dielus. Autisme Masa Kanak lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan dengan perbandingan 3 : 1.
  • 29.
    SILAKANANDA GUNAKANTAYANGANINI UNTUKBERBAGAIKEPERLUANAKADEMIK. JIKAAKAN DIMODIFIKASIMOHONAGAR MENULISKAN TAYANGANINISEBAGAI SUMBERNYA. MARIMENJADIAKADEMISIYANGJUJURDAN SALINGMENGHARGAI… TERIMAKASIH Kholid A.Harras : Kahar_64@yahoo.com