KELOMPOK 4
AUTISME
ALLPPT.com _ Free PowerPoint Templates, Diagrams and Charts
PENDAHULUAN
DEFINISI
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
KLASIFIKASI
PATOFISIOLOGI
PATHWAY
MANIFESTASI
KLINIS
ETIOLOGI
PENATALAKSANAAN
DEFINISI
• Autis merupakan salah satu kelompok dari gangguan perkembangan pada anak. Menurut Veskarisyanti
(2008 : 17) dalam bahasa Yunani dikenal kata autis, “auto” berarti sendiri ditujukan pada seseorang
ketika menunjukkan gajala hidup dalam dunianya sendiri atau mempunyai dunia sendiri. Autisme
pertama kali ditemukan oleh Leo Kanner pada tahun 1943. Kanner mendeskripsikan gangguan ini
sebagai ketidakmampuan untuk berinteraksi dengan orang lain, gangguan berbahasa yang ditunjukkan
dengan penguasaan bahasa yang tertunda, echolalia, pembalikan kalimat, adanya aktivitas bermain
repetitive dan stereotype, rute ingatan yang kuat dan keinginan obsesif untuk mempertahankan
keteraturan di dalam lingkungannya.
• Istilah autisme dipergunakan untuk menunjukkan suatu gejala psikosis pada anak-anak yang unik dan
menonjol yang sering disebut sindrom Kanner yang dicirikan dengan ekspresi wajah yang kosong seolah-
olah sedang melamun, kehilangan pikiran dan sulit sekali bagi orang lain untuk menarik perhatian
mereka atau mengajak mereka berkomunikasi (Budiman, 1998).
• Definisi autisme adalah kelainan neuropsikiatrik yang menyebabkan kurangnya kemampuan berinteraksi
social dan komunikasi, minat yang terbatas, perilaku tidak wajar dan adanya gerakan stereotipik, dimana
kelainan ini muncul sebelum anak berusia 3 tahun (Teramihardja J, 2007).
• Jadi, dapat disimpulakn bahwa autism gangguan psikologis pada anak dimana anak memiliki atau merasa
tertarik dengan dunianya sendiri.
ETIOLOGI
1. Genetik
2. Kelainan kromosim (sindrom x yang mudah pecah atau fragil).
3. Keracunan logam
4. Terjadi kegagalan pertumbuhan otak karena nutrisi yang diperlukan dalam pertumbuhan otak
tidak diserap oleh tubuh, ini terjadi karena adanya jamur dalam lambung dan juga nutrisi
tidak terpenuhi karena factor ekonomi.
5. Terjadi autoimun pada tubuh penderita yang merugikan perkembangan tubuhnya
sendiri.imun adalah kekebalan tubuh terhadap virus/bakteri penyakit,sedangkan autoimun
adalah kekebalan yang dikembangkan oleh tubuh penderita itu sendiri yang justru kebal
terhadap zat-zat penting dalam tubuh dan menghancurkannya.
6. Cidera otak
7. Lingkungan terutama sikap orang tua, dan kepribadian anak.
8. Neurokimia (katekolamin, serotonin, dopamin belum pasti.
9. Penyakit otak organik dengan adanya gangguan komunikasi dan gangguan sensori serta
kejang epilepsi.
KLASIFIKASI
1 Autisme Persepsi
2
3
Autisme Reaksi
Autisme yang timbul kemudian
MANIFESTASI KLINIS
• Penarikan diri, Kemampuan komunukasi verbal (berbicara) dan non verbal yang tidak atau kurang berkembang
mereka tidak tuli karena dapat menirukan lagu-lagu dan istilah yang didengarnya, serta kurangnya sosialisasi
mempersulit estimasi potensi intelektual kelainan pola bicara, gangguan kemampuan mempertahankan
percakapan, permainan sosial abnormal, tidak adanya empati dan ketidakmampuan berteman. Dalam tes non
verbal yang memiliki kemampuan bicara cukup bagus namun masih dipengaruhi, dapat memperagakan
kapasitas intelektual yang memadai. Anak austik mungkin terisolasi, berbakat luar biasa, analog dengan bakat
orang dewasa terpelajar yang idiot dan menghabiskan waktu untuk bermain sendiri.
• Gerakan tubuh stereotipik, kebutuhan kesamaan yang mencolok, minat yang sempit, keasyikan dengan bagian-
bagian tubuh.
• Anak biasa duduk pada waktu lama sibuk pada tangannya, menatap pada objek. Kesibukannya dengan objek
berlanjut dan mencolok saat dewasa dimana anak tercenggang dengan objek mekanik.
• Perilaku ritualistik dan konvulsif tercermin pada kebutuhan anak untuk memelihara lingkungan yang tetap
(tidak menyukai perubahan), anak menjadi terikat dan tidak bisa dipisahkan dari suatu objek, dan dapat
diramalkan .
• Ledakan marah menyertai gangguan secara rutin.
• Kontak mata minimal atau tidak ada.
• Pengamatan visual terhadap gerakan jari dan tangan, pengunyahan benda, dan
menggosok permukaan menunjukkan penguatan kesadaran dan sensitivitas
terhadap rangsangan, sedangkan hilangnya respon terhadap nyeri dan kurangnya
respon terkejut terhadap suara keras yang mendadak menunjukan menurunnya
sensitivitas pada rangsangan lain.
• Keterbatasan kognitif, pada tipe defisit pemrosesan kognitif tampak pada
emosional
• Menunjukan echolalia (mengulangi suatu ungkapan atau kata secara tepat) saat
berbicara, pembalikan kata ganti pronomial, berpuisi yang tidak berujung pangkal,
bentuk bahasa aneh lainnya berbentuk menonjol. Anak umumnya mampu untuk
berbicara pada sekitar umur yang biasa, kehilangan kecakapan pada umur 2 tahun.
• Intelegensi dengan uji psikologi konvensional termasuk dalam retardasi secara
fungsional.
• Sikap dan gerakan yang tidak biasa seperti mengepakan tangan dan mengedipkan
mata, wajah yang menyeringai, melompat, berjalan berjalan berjingkat-jingkat.
Perbedaan perkembangan anak normal dan anak autis pada masa infant dan toddler
FAKTOR PEMBEDA PERKEMBANGAN NORMAL ANAK AUTIS
Pola tatapan mata Usia 6 bulan sudah mampu melakukan kontak sosial
melalui tatapan
Toddler: menggunakan gaze sebagai sinyal
pemenuhan vokalisasi mereka atau mengundang
partner untuk bicara
Pandangan mereka melewati orang
dewasa yang mencegah
perkembangan pola interaksi melalui
tatapan
Lebih sering melihat kemana-mana
daripada ke orang dewasa
Affect Usia 2,5-3 bulan sudah melakukan senyum sosial Tidak ada senyum sosial
Usia 30-70 bulan melihat dan
tersenyum terhadap ibunya, tapi tidak
disertai dengan kontak mata dan
kurang merespon senyuman ibunya
Vokalisasi Usia 2-4 bulan anak dan ibu terlibat dalam pola
yang simultan dan berganti vokal yang menjadi awal
bagi komunikasi verbal selanjutnya.
Karakter Autism mereka tampak dari
kurangnya babbling yang
menghambat jalan interaksi sosial ini
Imitasi Sosial: berkaitan dengan
responsifitas sosial, bermain
bebas dan bahasa
Langsung muncul setelah lahir Usia 8-26 bulan dapat meniru
ekspresi wajah tapi melalui
sejumlah keanehan dan respon
mekanikal yang mengindikasikan
sulitnya perilaku ini bagi mereka
Inisiatif dan Reciprocity Merespon stimulus yang ada
sehingga timbul reciprocity
Anak menjadi penerima pasif dari
permainan orang dewasa dan
tidak berinteraksi secara ktif
dengan mereka
Attachment Kelekatan pada anak autis diselingi
dengan karakteristik pengulangan
pergerakan motorik mereka
seperti tepukan tangan,
goncangan dan berputar-putar
Kepatuhan Anak autis patuh terhadap
permintaan. Jika permintaan
tersebut sesuai dengan kapasitas
intelektual mereka, mereka dapat
merespon secara pantas saat
Komunikasi 1. Perkembangan bicaranya terlambat, atau samasekali tidak berkembang.
2. Tidak adanya usaha untuk berkomunikasi dengan gerak atau mimik muka untuk mengatasi kekurangan
dalam kemampuan bicara.
3. Tidak mampu untuk memulai suatu pembicaraan atau memelihara suatu pembicaraan dua arah yang baik.
4. Bahasa yang tidak lazim yang diulang-ulang atau stereotipik.
5. Tidak mampu untuk bermain secara imajinatif, biasanya permainannya kurang variatif.
Interaksi Sosial 1. Kegagalan untuk bertatap mata, menunjukkan ekspresi fasial, maupun postur dan gerak tubuh, untuk
berinteraksi secara layak.
2. Kegagalan untuk membina hubungan sosial dengan teman sebaya, dimana mereka bisa berbagi emosi,
aktivitas, dan interes bersama.
3. Ketidak mampuan untuk berempati, untuk membaca emosi orang lain.
4. Ketidak mampuan untuk secara spontan mencari teman untuk berbagi kesenangan dan melakukan
sesuatu bersama-sama.
Perilaku 1. Adanya suatu preokupasi yang sangat terbatas pada suatu pola perilaku yang tidak normal, misalnya
duduk dipojok sambil menghamburkan pasir seperti air hujan, yang bisa dilakukannya berjam-jam.
2. Adanya suatu kelekatan pada suatu rutin atau ritual yang tidak berguna, misalnya kalau mau tidur harus
cuci kaki dulu, sikat gigi, pakai piyama, menggosokkan kaki dikeset, baru naik ketempat tidur. Bila ada satu
diatas yang terlewat atau terbalik urutannya, maka ia akan sangat terganggu dan nangis teriak-teriak
minta diulang.
3. Adanya gerakan-gerakan motorik aneh yang diulang-ulang, seperti misalnya mengepak-ngepak lengan,
menggerak-gerakan jari dengan cara tertentu dan mengetok-ngetokkan sesuatu.
4. Adanya preokupasi dengan bagian benda/mainan tertentu yang tak berguna, seperti roda sepeda yang
diputar-putar, benda dengan bentuk dan rabaan tertentu yang terus diraba-rabanya, suara-suara tertentu.
PATOFISIOLOGI
Sel saraf otak (neuron) terdiri atas badan sel dan serabut untuk mengalirkan impuls listrik (akson) serta serabut untuk
menerima impuls listrik (dendrit). Sel saraf terdapat di lapisan luar otak yang berwarna kelabu (korteks). Akson dibungkus selaput
bernama mielin, terletak di bagian otak berwarna putih. Sel saraf berhubungan satu sama lain lewat sinaps. Sel saraf terbentuk saat
usia kandungan tiga sampai tujuh bulan.
Pada trimester ketiga, pembentukan sel saraf berhenti dan dimulai pembentukan akson, dendrit, dan sinaps yang
berlanjut sampai anak berusia sekitar dua tahun. Setelah anak lahir, terjadi proses pengaturan pertumbuhan otak berupa bertambah
dan berkurangnya struktur akson, dendrit, dan sinaps. Proses ini dipengaruhi secara genetik melalui sejumlah zat kimia yang dikenal
sebagai brain growth factors dan proses belajar anak.
Makin banyak sinaps terbentuk, anak makin cerdas. Pembentukan akson, dendrit, dan sinaps sangat tergantung pada
stimulasi dari lingkungan. Bagian otak yang digunakan dalam belajar menunjukkan pertambahan akson, dendrit, dan sinaps.
Sedangkan bagian otak yang tak digunakan menunjukkan kematian sel, berkurangnya akson, dendrit, dan sinaps. Kelainan genetis,
keracunan logam berat, dan nutrisi yang tidak adekuat dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada proses tersebut. Sehingga akan
menyebabkan abnormalitas pertumbuhan sel saraf.
Pada pemeriksaan darah bayi-bayi yang baru lahir, diketahui pertumbuhan abnormal pada penderita autis dipicu oleh
berlebihnya neurotropin dan neuropeptida otak (brain-derived neurotrophic factor, neurotrophin-4, vasoactive intestinal peptide,
calcitonin-related gene peptide) yang merupakan zat kimia otak yang bertanggung jawab untuk mengatur penambahan selsaraf,
migrasi, diferensiasi, pertumbuhan, dan perkembangan jalinan sel saraf. Braingrowth factors ini penting bagi pertumbuhan otak.
Peningkatan neurokimia otak secara abnormal menyebabkan pertumbuhan abnormal pada daerah tertentu. Pada gangguan autistik
terjadi kondisi growth without guidance, di mana bagian-bagian otak tumbuh dan mati secara tak beraturan.
Pertumbuhan abnormal bagian otak tertentu menekan pertumbuhan sel saraf lain. Hampir semua
peneliti melaporkan berkurangnya sel Purkinye (sel saraf tempat keluar hasil pemrosesan indera dan impuls saraf)
di otak kecil pada autisme. Berkurangnya sel Purkinye diduga merangsang pertumbuhan akson, glia (jaringan
penunjang pada system saraf pusat), dan mielin sehingga terjadi pertumbuhan otak secara abnormal atau
sebaliknya, pertumbuhan akson secara abnormal mematikan sel Purkinye. Yang jelas, peningkatan brain derived
neurotrophic factor dan neurotrophin-4 menyebabkan kematian sel Purkinye. Gangguan pada sel Purkinye dapat
terjadi secara primer atau sekunder.
Bila autisme disebabkan faktor genetik, gangguan sel Purkinye merupakan gangguan primer yang terjadi
sejak awal masa kehamilan. Degenerasi sekunder terjadi bila sel Purkinye sudah berkembang, kemudian terjadi
gangguan yang menyebabkan kerusakan sel Purkinye. Kerusakan terjadi jika dalam masa kehamilan ibu minum
alcohol berlebihan atau obat seperti thalidomide. Penelitian dengan MRI menunjukkan, otak kecil anak normal
mengalami aktivasi selama melakukan gerakan motorik, belajar sensori-motor, atensi, proses mengingat, serta
kegiatan bahasa.
Gangguan pada otak kecil menyebabkan reaksi atensi lebih lambat, kesulitan memproses persepsi atau
membedakan target, over selektivitas, dan kegagalan mengeksplorasi lingkungan. Pembesaran otak secara
abnormal juga terjadi pada otak besar bagian depan yang dikenal sebagai lobus frontalis. Kemper dan Bauman
menemukan berkurangnya ukuran sel neuron di hipokampus (bagian depan otak besaryang berperan dalam fungsi
luhur dan proses memori) dan amigdala (bagian samping depan otak besar yang berperan dalam proses memori).
Penelitian pada monyet dengan merusak hipokampus dan amigdala mengakibatkan bayi monyet berusia dua bulan
menunjukkan perilaku pasif-agresif. Mereka tidak memulai kontak sosial, tetapi tidak menolaknya.
Namun, pada usia enam bulan perilaku berubah. Mereka menolak pendekatan sosial monyet lain,
menarik diri, mulai menunjukkan gerakan stereotipik dan hiperaktivitas mirip penyandang autisme. Selain itu,
mereka memperlihatkan gangguan kognitif.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1 4
2
3
5
6
Neutrologis MRI(Magnetic resonance imaging)
EEG(elektro encepalogram)
Test neupsikologis
Test pendengaran Pemeriksaan darah
7
Pemeriksaan urine
PENATALAKSANAAN
1. Terapi wicara: membantu anak melancarkan otot-otot mulut sehingga membantu anak berbicara yang le
bih baik.
2. Terapi okupasi: untuk melatih motorik halus anak
3. Terapi perilaku:anak autis sringkali merasa frustasi.teman-temannya sringkali tidak memahami mereka.m
ereka merasa sulit mengekspresikan kebutuhannya,mereka banyak yang hipersensitif terhadap suara,cah
aya dan sentuhan.Maka tak heran mereka sering mengamuk.Seorang terapis perilaku terlatih untuk men
cari latarbelakang dari perilaku negative tersebut dan mencari solusinya dengan merekomendasikan peru
bahan lingkungan dan rutin anak tersebut untuk memperbaiki perilakunya.
Kimia otak yang kadarnya abnormal pada penyandang autis adalah serotonin 5-Hydroxytryptamine(5HT) y
aitu neurotransmitter atau penghantar singnal ke sel-sel saraf.Sekitar 30-50% penyandang autis mempunyai kadar seroto
nin dalam darah. Kadar norepinefrin,dopamin,dan serotonin 5-HT pada anak normal dalam keadaan stabil dan saling ber
hubungan.Akan tetapi,tidak demikian pada penyandang autis. Terapi psikofarmakologi tidak mengubah riwayat keadaan
atau perjalanan autis tetapi efektif mengurangi perilaku autistic seperti hiperaktivitas,penarikan diri,stereotipik,menyakit
i diri sendiri,agresifsifitas dan gangguan tidur. Risperidone bias digunakan sebagai antagonis reseptor dopamine D2 dan s
eroton 5-HT untuk mengurangi agresifitas,hiperaktivitas,dan tingkalaku yang menyakiti diri sendiri.
MEDIS
KEPERAWATAN
ASUHAN KEPERAWATAN
1
2
3
PENGKAJIAN
DIAGNOSA KEPERAWATAN
RENCANA KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
Pengkajian data focus pada anak dengan gangguan perkembangan pervasive menurut Isaac, A (2005) dan Townsend,
M.C (1998) antara lain:
1. Tidak suka dipegang
2. Rutinitas yang berulang
3. Tangan digerak-gerakkan dan kepala diangguk-anggukan
4. Terpaku pada benda mati
5. Sulit berbahasa dan berbicara
6. 50% diantaranya mengalami retardasi mental
7. Ketidakmampuan untuk memisahkan kebutuhan fisiologis dan emosi diri sendiri dengan orang lain
8. Tingkat ansietas yang bertambah akibat dari kontak dengan dengan orang lain Ketidakmampuan untuk
membedakan batas-batas tubuh diri sendiri dengan orang lain Mengulangi kata-kata yang dia dengar dari yang
diucapkan orang lain atau gerakkan-gerakkan mimik orang lain
9. Penolakan atau ketidakmampuan berbicara yang ditandai dengan ketidakmatangan stuktur gramatis, ekolali,
pembalikan pengucapan, ketidakmampun untuk menamai benda-benda, ketidakmampuan untuk menggunakan
batasan-batasan abstrak, tidak adanya ekspresi nonverbal seperti kontak mata, sifat responsif pada wajah,
gerak isyarat.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
RESIKO MUTILASI DIRI
GANGGUAN INTERAKSI SOSIAL
GANGGUAN KOMUNIKASI VERBAL
GANGGUAN IDENTITAS DIRI
4
3
2
1
RESIKO MUTILASI DIRI
Tujuan : Pasien akan mendemonstrasikan perilaku-perilaku alternative (missalnya memulai interaksi antara diri dengan perawat) se
bagai respons terhadap kecemasan dengan criteria hasil:
1. Rasa gelisah dipertahankan pada tingkat anak merasa tidak memerlukan perilaku-perilaku mutilatif diri
2. Pasien memulai interaksi antara diri dan perawat apabila merasa cemas
1. Jamin keselamatan anak dengan memberi rasa aman, lingkungan yang kondusif untuk mencegah peri
laku merusak diri . Rasional: Perawat bertanggun jawab untuk menjamin keselamatan anak)
2. Kaji dan tentukan penyebab perilaku – perilaku mutilatif sebagai respon terhadap kecemasan. Rasion
al : pengkajian kemungkinan penyebab dapat memilih cara /alternative pemecahan yang tepat
3. Pakaikan helm pada anak untuk menghindari trauma saat anak memukul-mukul kepala, sarung tanga
n untuk mencegah menarik – narik rambut, pemberian bantal yang sesuai untuk mencegah luka pada
ekstremitas saat gerakan-gerakan histeris . Rasional : Untuk menjaga bagian-bagian vital dari cidera
4. Membentuk kepercayaan satu anak dirawat oleh satu perawat. Rasional : Untuk dapat bisa lebih menj
alin hubungan saling percaya dengan pasien
5. Tawarkan pada anak untuk menemani selama waktu - waktu mening-katnya kecemasan agar tidak ter
jadi mutilasi . Rasional : Dalam upaya untuk menurunkan kebutuhan pada perilaku-perilaku mutilasi di
ri dan memberikan rasa aman
GANGGUAN INTERAKSI SOSIAL
Tujuan : Anak akan mendemonstrasikan kepercayaan pada seorang pemberi perawatan yang ditandai dengan sikap responsive
pada wajah dan kontak mata dalam waktu yang ditentukan dengan criteria hasil :
1. Anak mulai berinteraksi dengan diri dan orang lain
2. Pasien menggunakan kontak mata, sifat responsive pada wajah dan perilaku-perilaku nonverbal lainnya dalam berinteraksi deng
an orang lain
3. Pasien tidak menarik diri dari kontak fisik dengan orang lain
1. Jalin hubungan satu – satu dengan anak untuk meningkatkan kepercayaan. Rasional : Interaksi staf
dengan pasien yang konsisten meningkatkan pembentukan kepercayaan.
2. Berikan benda-benda yang dikenal (misalnya: mainan kesukaan, selimut) untuk memberikan rasa
aman dalam waktu-waktu tertentu agar anak tidak mengalami distress. Rasional : Benda-benda ini
memberikan rasa aman dalam waktu-waktu aman bila anak merasa distres.
3. Sampaikan sikap yang hangat, dukungan, dan kebersediaan ketika anak berusaha untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan dasarnya untuk meningkatkan pembentukan dan mempertahankan hubungan
saling percaya. Rasional: Karakteristik-karakteritik ini meningkatkan pembentukan dan mempertahank
an hubungan saling percaya.
4. Lakukan dengan perlahan-lahan, jangan memaksakan interaksi-interaksi, mulai dengan penguatan
yang positif pada kontak mata, perkenalkan dengan berangsur-angsur dengan sentuhan, senyuman,
dan pelukan. Rasional : Pasien autisme dapat merasa terncam oleh suatu rangsangan yang gencar
pada pasien yang tidak terbiasa.
5. Dengan kehadiran anda beri dukungan pada pasien yang berusaha keras untuk membentuk hubunga
n dengan orang lain dilingkungannya. Rasional :Kehadiran seorang yang telah terbentuk hubungan
saling percaya dapat memberikan rasa aman.
GANGGUAN KOMUNIKASI VERBAL
Tujuan : Anak akan membentuk kepercayaan dengan seorang pemberi perawatan ditandai dengan sikap responsive dan kontak
mata dalam waktu yang telah ditentukan dengan kriteria hasil:
1. Pasien mampu berkomunikasi dengan cara yang dimengerti oleh orang lain
2. Pesan-pesan nonverbal pasien sesuai dengan pengungkapan verbal
3. Pasien memulai berinteraksi verbal dan non verbal dengan orang lain
1. Pertahankan konsistensi tugas staf untuk memahami tindakan-tindakan dan komunikasi
anak. Rasional: Hal ini memudahkan kepercayaan dan kemampuan untuk memahami tinda-
kan-tindakan dan komunikasi pasien.
2. Antisipasi dan penuhi kebutuhan-kebutuhan anak sampai kepuasan pola komunikasi terben
-tuk. Rasional : Pemenuhan kebutuhan pasien akan dapat mengurangi kecemasan anak se-
hingga anak akan dapat mulai menjalin komunikasi dengan orang lain dengan asertif.
3. Gunakan tehnik validasi konsensual dan klarifikasi untuk menguraikan kode pola
komunikasi ( misalnya :" Apakah anda bermaksud untuk mengatakan bahwa..?"). Rasional:
Teknik-teknik ini digunakan untuk memastikan akurasi dari pesan yang diterima, menjelaska
n pengertian-pengertian yang tersembunyi di dalam pesan. Hati-hati untuk tidak "berbicara
atas nama pasien tanpa seinzinnya".
4. Gunakan pendekatan tatap muka berhadapan untuk menyampaikan ekspresi-ekspresi non-
verbal yang benar dengan menggunakan contoh. Rasional: Kontak mata mengekspresikan
minat yang murni terhadap dan hormat kepada seseorang
GANGGUAN IDENTITAS DIRI
Tujuan: Pasien akan menyebutkan bagian-bagian tubuh diri sendiri dan bagian-bagian tubuh dari pemberi perawatan dalam waktu
yang ditentukan untuk mengenali fisik dan emosi diri terpisah dari orang lain saat pulang dengan kriteria hasil:
1. Pasien mampu untuk membedakan bagian-bagian dari tubuhnya dengan bagian-bagian dari tubuh orang lain
2. Pasien menceritakan kemampuan untuk memisahkan diri dari lingkungannya dengan menghentikan ekolalia (mengulangi kata-k
ata yang di dengar) dan ekopraksia (meniru gerakan-gerakan yang dilihatnya)
1. Fungsi pada hubungan satu-satu dengan anak. Rasional: Interaksi pasien staf meningkatkan pemben-
tukan data kepercayaan.
2. Membantu anak untuk mengetahui hal-hal yang terpisah selama kegiatan-kegiatan perawatan diri,
seperti berpakaian dan makan. Rasional : Kegiatan-kegiatan ini dapat meningkatkan kewaspadaan
anda terhadap diri sebagai sesuatu yang terpisah dari orang lain.
3. Jelaskan dan bantu anak dalam menyebutkan bagian-bagian tubuhnya. Rasional : Kegiatan-kegiatan
ini dapat meningkatkan kewaspadaan anak terhadap diri sebagai sesuatu yang terpisah dari orang
lain.
4. Tingkatkan kontak fisik secara bertahap demi tahap, menggunakan sentuhan untuk menjelaskan
perbedaan-perbedaan antara pasien dengan perawat. Berhati-hati dengans entuhan sampai keperca-
yaan anak telah terbentuk. Rasional: Bila gerak isyarat ini dapat diintepretasikan sebagai suatu
ancaman oleh pasien.
5. Tingkatkan upaya anak untuk mempelajari bagian-bagian dari batas-batas tubuh dengan mengguna-
kan cermin dan lukisan serta gambar-gambar dari anak. Rasional: Dapat memberikan gambaran
tentang bentuk tubuh dan gambaran diri pada anak secara tepat
TERIMA KASIH

AUTISME.pptx

  • 1.
    KELOMPOK 4 AUTISME ALLPPT.com _Free PowerPoint Templates, Diagrams and Charts
  • 2.
  • 3.
    DEFINISI • Autis merupakansalah satu kelompok dari gangguan perkembangan pada anak. Menurut Veskarisyanti (2008 : 17) dalam bahasa Yunani dikenal kata autis, “auto” berarti sendiri ditujukan pada seseorang ketika menunjukkan gajala hidup dalam dunianya sendiri atau mempunyai dunia sendiri. Autisme pertama kali ditemukan oleh Leo Kanner pada tahun 1943. Kanner mendeskripsikan gangguan ini sebagai ketidakmampuan untuk berinteraksi dengan orang lain, gangguan berbahasa yang ditunjukkan dengan penguasaan bahasa yang tertunda, echolalia, pembalikan kalimat, adanya aktivitas bermain repetitive dan stereotype, rute ingatan yang kuat dan keinginan obsesif untuk mempertahankan keteraturan di dalam lingkungannya. • Istilah autisme dipergunakan untuk menunjukkan suatu gejala psikosis pada anak-anak yang unik dan menonjol yang sering disebut sindrom Kanner yang dicirikan dengan ekspresi wajah yang kosong seolah- olah sedang melamun, kehilangan pikiran dan sulit sekali bagi orang lain untuk menarik perhatian mereka atau mengajak mereka berkomunikasi (Budiman, 1998). • Definisi autisme adalah kelainan neuropsikiatrik yang menyebabkan kurangnya kemampuan berinteraksi social dan komunikasi, minat yang terbatas, perilaku tidak wajar dan adanya gerakan stereotipik, dimana kelainan ini muncul sebelum anak berusia 3 tahun (Teramihardja J, 2007). • Jadi, dapat disimpulakn bahwa autism gangguan psikologis pada anak dimana anak memiliki atau merasa tertarik dengan dunianya sendiri.
  • 4.
    ETIOLOGI 1. Genetik 2. Kelainankromosim (sindrom x yang mudah pecah atau fragil). 3. Keracunan logam 4. Terjadi kegagalan pertumbuhan otak karena nutrisi yang diperlukan dalam pertumbuhan otak tidak diserap oleh tubuh, ini terjadi karena adanya jamur dalam lambung dan juga nutrisi tidak terpenuhi karena factor ekonomi. 5. Terjadi autoimun pada tubuh penderita yang merugikan perkembangan tubuhnya sendiri.imun adalah kekebalan tubuh terhadap virus/bakteri penyakit,sedangkan autoimun adalah kekebalan yang dikembangkan oleh tubuh penderita itu sendiri yang justru kebal terhadap zat-zat penting dalam tubuh dan menghancurkannya. 6. Cidera otak 7. Lingkungan terutama sikap orang tua, dan kepribadian anak. 8. Neurokimia (katekolamin, serotonin, dopamin belum pasti. 9. Penyakit otak organik dengan adanya gangguan komunikasi dan gangguan sensori serta kejang epilepsi.
  • 5.
    KLASIFIKASI 1 Autisme Persepsi 2 3 AutismeReaksi Autisme yang timbul kemudian
  • 6.
    MANIFESTASI KLINIS • Penarikandiri, Kemampuan komunukasi verbal (berbicara) dan non verbal yang tidak atau kurang berkembang mereka tidak tuli karena dapat menirukan lagu-lagu dan istilah yang didengarnya, serta kurangnya sosialisasi mempersulit estimasi potensi intelektual kelainan pola bicara, gangguan kemampuan mempertahankan percakapan, permainan sosial abnormal, tidak adanya empati dan ketidakmampuan berteman. Dalam tes non verbal yang memiliki kemampuan bicara cukup bagus namun masih dipengaruhi, dapat memperagakan kapasitas intelektual yang memadai. Anak austik mungkin terisolasi, berbakat luar biasa, analog dengan bakat orang dewasa terpelajar yang idiot dan menghabiskan waktu untuk bermain sendiri. • Gerakan tubuh stereotipik, kebutuhan kesamaan yang mencolok, minat yang sempit, keasyikan dengan bagian- bagian tubuh. • Anak biasa duduk pada waktu lama sibuk pada tangannya, menatap pada objek. Kesibukannya dengan objek berlanjut dan mencolok saat dewasa dimana anak tercenggang dengan objek mekanik. • Perilaku ritualistik dan konvulsif tercermin pada kebutuhan anak untuk memelihara lingkungan yang tetap (tidak menyukai perubahan), anak menjadi terikat dan tidak bisa dipisahkan dari suatu objek, dan dapat diramalkan . • Ledakan marah menyertai gangguan secara rutin. • Kontak mata minimal atau tidak ada.
  • 7.
    • Pengamatan visualterhadap gerakan jari dan tangan, pengunyahan benda, dan menggosok permukaan menunjukkan penguatan kesadaran dan sensitivitas terhadap rangsangan, sedangkan hilangnya respon terhadap nyeri dan kurangnya respon terkejut terhadap suara keras yang mendadak menunjukan menurunnya sensitivitas pada rangsangan lain. • Keterbatasan kognitif, pada tipe defisit pemrosesan kognitif tampak pada emosional • Menunjukan echolalia (mengulangi suatu ungkapan atau kata secara tepat) saat berbicara, pembalikan kata ganti pronomial, berpuisi yang tidak berujung pangkal, bentuk bahasa aneh lainnya berbentuk menonjol. Anak umumnya mampu untuk berbicara pada sekitar umur yang biasa, kehilangan kecakapan pada umur 2 tahun. • Intelegensi dengan uji psikologi konvensional termasuk dalam retardasi secara fungsional. • Sikap dan gerakan yang tidak biasa seperti mengepakan tangan dan mengedipkan mata, wajah yang menyeringai, melompat, berjalan berjalan berjingkat-jingkat.
  • 8.
    Perbedaan perkembangan anaknormal dan anak autis pada masa infant dan toddler FAKTOR PEMBEDA PERKEMBANGAN NORMAL ANAK AUTIS Pola tatapan mata Usia 6 bulan sudah mampu melakukan kontak sosial melalui tatapan Toddler: menggunakan gaze sebagai sinyal pemenuhan vokalisasi mereka atau mengundang partner untuk bicara Pandangan mereka melewati orang dewasa yang mencegah perkembangan pola interaksi melalui tatapan Lebih sering melihat kemana-mana daripada ke orang dewasa Affect Usia 2,5-3 bulan sudah melakukan senyum sosial Tidak ada senyum sosial Usia 30-70 bulan melihat dan tersenyum terhadap ibunya, tapi tidak disertai dengan kontak mata dan kurang merespon senyuman ibunya Vokalisasi Usia 2-4 bulan anak dan ibu terlibat dalam pola yang simultan dan berganti vokal yang menjadi awal bagi komunikasi verbal selanjutnya. Karakter Autism mereka tampak dari kurangnya babbling yang menghambat jalan interaksi sosial ini
  • 9.
    Imitasi Sosial: berkaitandengan responsifitas sosial, bermain bebas dan bahasa Langsung muncul setelah lahir Usia 8-26 bulan dapat meniru ekspresi wajah tapi melalui sejumlah keanehan dan respon mekanikal yang mengindikasikan sulitnya perilaku ini bagi mereka Inisiatif dan Reciprocity Merespon stimulus yang ada sehingga timbul reciprocity Anak menjadi penerima pasif dari permainan orang dewasa dan tidak berinteraksi secara ktif dengan mereka Attachment Kelekatan pada anak autis diselingi dengan karakteristik pengulangan pergerakan motorik mereka seperti tepukan tangan, goncangan dan berputar-putar Kepatuhan Anak autis patuh terhadap permintaan. Jika permintaan tersebut sesuai dengan kapasitas intelektual mereka, mereka dapat merespon secara pantas saat
  • 10.
    Komunikasi 1. Perkembanganbicaranya terlambat, atau samasekali tidak berkembang. 2. Tidak adanya usaha untuk berkomunikasi dengan gerak atau mimik muka untuk mengatasi kekurangan dalam kemampuan bicara. 3. Tidak mampu untuk memulai suatu pembicaraan atau memelihara suatu pembicaraan dua arah yang baik. 4. Bahasa yang tidak lazim yang diulang-ulang atau stereotipik. 5. Tidak mampu untuk bermain secara imajinatif, biasanya permainannya kurang variatif. Interaksi Sosial 1. Kegagalan untuk bertatap mata, menunjukkan ekspresi fasial, maupun postur dan gerak tubuh, untuk berinteraksi secara layak. 2. Kegagalan untuk membina hubungan sosial dengan teman sebaya, dimana mereka bisa berbagi emosi, aktivitas, dan interes bersama. 3. Ketidak mampuan untuk berempati, untuk membaca emosi orang lain. 4. Ketidak mampuan untuk secara spontan mencari teman untuk berbagi kesenangan dan melakukan sesuatu bersama-sama. Perilaku 1. Adanya suatu preokupasi yang sangat terbatas pada suatu pola perilaku yang tidak normal, misalnya duduk dipojok sambil menghamburkan pasir seperti air hujan, yang bisa dilakukannya berjam-jam. 2. Adanya suatu kelekatan pada suatu rutin atau ritual yang tidak berguna, misalnya kalau mau tidur harus cuci kaki dulu, sikat gigi, pakai piyama, menggosokkan kaki dikeset, baru naik ketempat tidur. Bila ada satu diatas yang terlewat atau terbalik urutannya, maka ia akan sangat terganggu dan nangis teriak-teriak minta diulang. 3. Adanya gerakan-gerakan motorik aneh yang diulang-ulang, seperti misalnya mengepak-ngepak lengan, menggerak-gerakan jari dengan cara tertentu dan mengetok-ngetokkan sesuatu. 4. Adanya preokupasi dengan bagian benda/mainan tertentu yang tak berguna, seperti roda sepeda yang diputar-putar, benda dengan bentuk dan rabaan tertentu yang terus diraba-rabanya, suara-suara tertentu.
  • 11.
    PATOFISIOLOGI Sel saraf otak(neuron) terdiri atas badan sel dan serabut untuk mengalirkan impuls listrik (akson) serta serabut untuk menerima impuls listrik (dendrit). Sel saraf terdapat di lapisan luar otak yang berwarna kelabu (korteks). Akson dibungkus selaput bernama mielin, terletak di bagian otak berwarna putih. Sel saraf berhubungan satu sama lain lewat sinaps. Sel saraf terbentuk saat usia kandungan tiga sampai tujuh bulan. Pada trimester ketiga, pembentukan sel saraf berhenti dan dimulai pembentukan akson, dendrit, dan sinaps yang berlanjut sampai anak berusia sekitar dua tahun. Setelah anak lahir, terjadi proses pengaturan pertumbuhan otak berupa bertambah dan berkurangnya struktur akson, dendrit, dan sinaps. Proses ini dipengaruhi secara genetik melalui sejumlah zat kimia yang dikenal sebagai brain growth factors dan proses belajar anak. Makin banyak sinaps terbentuk, anak makin cerdas. Pembentukan akson, dendrit, dan sinaps sangat tergantung pada stimulasi dari lingkungan. Bagian otak yang digunakan dalam belajar menunjukkan pertambahan akson, dendrit, dan sinaps. Sedangkan bagian otak yang tak digunakan menunjukkan kematian sel, berkurangnya akson, dendrit, dan sinaps. Kelainan genetis, keracunan logam berat, dan nutrisi yang tidak adekuat dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada proses tersebut. Sehingga akan menyebabkan abnormalitas pertumbuhan sel saraf. Pada pemeriksaan darah bayi-bayi yang baru lahir, diketahui pertumbuhan abnormal pada penderita autis dipicu oleh berlebihnya neurotropin dan neuropeptida otak (brain-derived neurotrophic factor, neurotrophin-4, vasoactive intestinal peptide, calcitonin-related gene peptide) yang merupakan zat kimia otak yang bertanggung jawab untuk mengatur penambahan selsaraf, migrasi, diferensiasi, pertumbuhan, dan perkembangan jalinan sel saraf. Braingrowth factors ini penting bagi pertumbuhan otak. Peningkatan neurokimia otak secara abnormal menyebabkan pertumbuhan abnormal pada daerah tertentu. Pada gangguan autistik terjadi kondisi growth without guidance, di mana bagian-bagian otak tumbuh dan mati secara tak beraturan.
  • 12.
    Pertumbuhan abnormal bagianotak tertentu menekan pertumbuhan sel saraf lain. Hampir semua peneliti melaporkan berkurangnya sel Purkinye (sel saraf tempat keluar hasil pemrosesan indera dan impuls saraf) di otak kecil pada autisme. Berkurangnya sel Purkinye diduga merangsang pertumbuhan akson, glia (jaringan penunjang pada system saraf pusat), dan mielin sehingga terjadi pertumbuhan otak secara abnormal atau sebaliknya, pertumbuhan akson secara abnormal mematikan sel Purkinye. Yang jelas, peningkatan brain derived neurotrophic factor dan neurotrophin-4 menyebabkan kematian sel Purkinye. Gangguan pada sel Purkinye dapat terjadi secara primer atau sekunder. Bila autisme disebabkan faktor genetik, gangguan sel Purkinye merupakan gangguan primer yang terjadi sejak awal masa kehamilan. Degenerasi sekunder terjadi bila sel Purkinye sudah berkembang, kemudian terjadi gangguan yang menyebabkan kerusakan sel Purkinye. Kerusakan terjadi jika dalam masa kehamilan ibu minum alcohol berlebihan atau obat seperti thalidomide. Penelitian dengan MRI menunjukkan, otak kecil anak normal mengalami aktivasi selama melakukan gerakan motorik, belajar sensori-motor, atensi, proses mengingat, serta kegiatan bahasa. Gangguan pada otak kecil menyebabkan reaksi atensi lebih lambat, kesulitan memproses persepsi atau membedakan target, over selektivitas, dan kegagalan mengeksplorasi lingkungan. Pembesaran otak secara abnormal juga terjadi pada otak besar bagian depan yang dikenal sebagai lobus frontalis. Kemper dan Bauman menemukan berkurangnya ukuran sel neuron di hipokampus (bagian depan otak besaryang berperan dalam fungsi luhur dan proses memori) dan amigdala (bagian samping depan otak besar yang berperan dalam proses memori). Penelitian pada monyet dengan merusak hipokampus dan amigdala mengakibatkan bayi monyet berusia dua bulan menunjukkan perilaku pasif-agresif. Mereka tidak memulai kontak sosial, tetapi tidak menolaknya. Namun, pada usia enam bulan perilaku berubah. Mereka menolak pendekatan sosial monyet lain, menarik diri, mulai menunjukkan gerakan stereotipik dan hiperaktivitas mirip penyandang autisme. Selain itu, mereka memperlihatkan gangguan kognitif.
  • 13.
    PEMERIKSAAN PENUNJANG 1 4 2 3 5 6 NeutrologisMRI(Magnetic resonance imaging) EEG(elektro encepalogram) Test neupsikologis Test pendengaran Pemeriksaan darah 7 Pemeriksaan urine
  • 14.
    PENATALAKSANAAN 1. Terapi wicara:membantu anak melancarkan otot-otot mulut sehingga membantu anak berbicara yang le bih baik. 2. Terapi okupasi: untuk melatih motorik halus anak 3. Terapi perilaku:anak autis sringkali merasa frustasi.teman-temannya sringkali tidak memahami mereka.m ereka merasa sulit mengekspresikan kebutuhannya,mereka banyak yang hipersensitif terhadap suara,cah aya dan sentuhan.Maka tak heran mereka sering mengamuk.Seorang terapis perilaku terlatih untuk men cari latarbelakang dari perilaku negative tersebut dan mencari solusinya dengan merekomendasikan peru bahan lingkungan dan rutin anak tersebut untuk memperbaiki perilakunya. Kimia otak yang kadarnya abnormal pada penyandang autis adalah serotonin 5-Hydroxytryptamine(5HT) y aitu neurotransmitter atau penghantar singnal ke sel-sel saraf.Sekitar 30-50% penyandang autis mempunyai kadar seroto nin dalam darah. Kadar norepinefrin,dopamin,dan serotonin 5-HT pada anak normal dalam keadaan stabil dan saling ber hubungan.Akan tetapi,tidak demikian pada penyandang autis. Terapi psikofarmakologi tidak mengubah riwayat keadaan atau perjalanan autis tetapi efektif mengurangi perilaku autistic seperti hiperaktivitas,penarikan diri,stereotipik,menyakit i diri sendiri,agresifsifitas dan gangguan tidur. Risperidone bias digunakan sebagai antagonis reseptor dopamine D2 dan s eroton 5-HT untuk mengurangi agresifitas,hiperaktivitas,dan tingkalaku yang menyakiti diri sendiri. MEDIS KEPERAWATAN
  • 15.
  • 16.
    PENGKAJIAN Pengkajian data focuspada anak dengan gangguan perkembangan pervasive menurut Isaac, A (2005) dan Townsend, M.C (1998) antara lain: 1. Tidak suka dipegang 2. Rutinitas yang berulang 3. Tangan digerak-gerakkan dan kepala diangguk-anggukan 4. Terpaku pada benda mati 5. Sulit berbahasa dan berbicara 6. 50% diantaranya mengalami retardasi mental 7. Ketidakmampuan untuk memisahkan kebutuhan fisiologis dan emosi diri sendiri dengan orang lain 8. Tingkat ansietas yang bertambah akibat dari kontak dengan dengan orang lain Ketidakmampuan untuk membedakan batas-batas tubuh diri sendiri dengan orang lain Mengulangi kata-kata yang dia dengar dari yang diucapkan orang lain atau gerakkan-gerakkan mimik orang lain 9. Penolakan atau ketidakmampuan berbicara yang ditandai dengan ketidakmatangan stuktur gramatis, ekolali, pembalikan pengucapan, ketidakmampun untuk menamai benda-benda, ketidakmampuan untuk menggunakan batasan-batasan abstrak, tidak adanya ekspresi nonverbal seperti kontak mata, sifat responsif pada wajah, gerak isyarat.
  • 17.
    DIAGNOSA KEPERAWATAN RESIKO MUTILASIDIRI GANGGUAN INTERAKSI SOSIAL GANGGUAN KOMUNIKASI VERBAL GANGGUAN IDENTITAS DIRI 4 3 2 1
  • 18.
    RESIKO MUTILASI DIRI Tujuan: Pasien akan mendemonstrasikan perilaku-perilaku alternative (missalnya memulai interaksi antara diri dengan perawat) se bagai respons terhadap kecemasan dengan criteria hasil: 1. Rasa gelisah dipertahankan pada tingkat anak merasa tidak memerlukan perilaku-perilaku mutilatif diri 2. Pasien memulai interaksi antara diri dan perawat apabila merasa cemas 1. Jamin keselamatan anak dengan memberi rasa aman, lingkungan yang kondusif untuk mencegah peri laku merusak diri . Rasional: Perawat bertanggun jawab untuk menjamin keselamatan anak) 2. Kaji dan tentukan penyebab perilaku – perilaku mutilatif sebagai respon terhadap kecemasan. Rasion al : pengkajian kemungkinan penyebab dapat memilih cara /alternative pemecahan yang tepat 3. Pakaikan helm pada anak untuk menghindari trauma saat anak memukul-mukul kepala, sarung tanga n untuk mencegah menarik – narik rambut, pemberian bantal yang sesuai untuk mencegah luka pada ekstremitas saat gerakan-gerakan histeris . Rasional : Untuk menjaga bagian-bagian vital dari cidera 4. Membentuk kepercayaan satu anak dirawat oleh satu perawat. Rasional : Untuk dapat bisa lebih menj alin hubungan saling percaya dengan pasien 5. Tawarkan pada anak untuk menemani selama waktu - waktu mening-katnya kecemasan agar tidak ter jadi mutilasi . Rasional : Dalam upaya untuk menurunkan kebutuhan pada perilaku-perilaku mutilasi di ri dan memberikan rasa aman
  • 19.
    GANGGUAN INTERAKSI SOSIAL Tujuan: Anak akan mendemonstrasikan kepercayaan pada seorang pemberi perawatan yang ditandai dengan sikap responsive pada wajah dan kontak mata dalam waktu yang ditentukan dengan criteria hasil : 1. Anak mulai berinteraksi dengan diri dan orang lain 2. Pasien menggunakan kontak mata, sifat responsive pada wajah dan perilaku-perilaku nonverbal lainnya dalam berinteraksi deng an orang lain 3. Pasien tidak menarik diri dari kontak fisik dengan orang lain 1. Jalin hubungan satu – satu dengan anak untuk meningkatkan kepercayaan. Rasional : Interaksi staf dengan pasien yang konsisten meningkatkan pembentukan kepercayaan. 2. Berikan benda-benda yang dikenal (misalnya: mainan kesukaan, selimut) untuk memberikan rasa aman dalam waktu-waktu tertentu agar anak tidak mengalami distress. Rasional : Benda-benda ini memberikan rasa aman dalam waktu-waktu aman bila anak merasa distres. 3. Sampaikan sikap yang hangat, dukungan, dan kebersediaan ketika anak berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya untuk meningkatkan pembentukan dan mempertahankan hubungan saling percaya. Rasional: Karakteristik-karakteritik ini meningkatkan pembentukan dan mempertahank an hubungan saling percaya. 4. Lakukan dengan perlahan-lahan, jangan memaksakan interaksi-interaksi, mulai dengan penguatan yang positif pada kontak mata, perkenalkan dengan berangsur-angsur dengan sentuhan, senyuman, dan pelukan. Rasional : Pasien autisme dapat merasa terncam oleh suatu rangsangan yang gencar pada pasien yang tidak terbiasa. 5. Dengan kehadiran anda beri dukungan pada pasien yang berusaha keras untuk membentuk hubunga n dengan orang lain dilingkungannya. Rasional :Kehadiran seorang yang telah terbentuk hubungan saling percaya dapat memberikan rasa aman.
  • 20.
    GANGGUAN KOMUNIKASI VERBAL Tujuan: Anak akan membentuk kepercayaan dengan seorang pemberi perawatan ditandai dengan sikap responsive dan kontak mata dalam waktu yang telah ditentukan dengan kriteria hasil: 1. Pasien mampu berkomunikasi dengan cara yang dimengerti oleh orang lain 2. Pesan-pesan nonverbal pasien sesuai dengan pengungkapan verbal 3. Pasien memulai berinteraksi verbal dan non verbal dengan orang lain 1. Pertahankan konsistensi tugas staf untuk memahami tindakan-tindakan dan komunikasi anak. Rasional: Hal ini memudahkan kepercayaan dan kemampuan untuk memahami tinda- kan-tindakan dan komunikasi pasien. 2. Antisipasi dan penuhi kebutuhan-kebutuhan anak sampai kepuasan pola komunikasi terben -tuk. Rasional : Pemenuhan kebutuhan pasien akan dapat mengurangi kecemasan anak se- hingga anak akan dapat mulai menjalin komunikasi dengan orang lain dengan asertif. 3. Gunakan tehnik validasi konsensual dan klarifikasi untuk menguraikan kode pola komunikasi ( misalnya :" Apakah anda bermaksud untuk mengatakan bahwa..?"). Rasional: Teknik-teknik ini digunakan untuk memastikan akurasi dari pesan yang diterima, menjelaska n pengertian-pengertian yang tersembunyi di dalam pesan. Hati-hati untuk tidak "berbicara atas nama pasien tanpa seinzinnya". 4. Gunakan pendekatan tatap muka berhadapan untuk menyampaikan ekspresi-ekspresi non- verbal yang benar dengan menggunakan contoh. Rasional: Kontak mata mengekspresikan minat yang murni terhadap dan hormat kepada seseorang
  • 21.
    GANGGUAN IDENTITAS DIRI Tujuan:Pasien akan menyebutkan bagian-bagian tubuh diri sendiri dan bagian-bagian tubuh dari pemberi perawatan dalam waktu yang ditentukan untuk mengenali fisik dan emosi diri terpisah dari orang lain saat pulang dengan kriteria hasil: 1. Pasien mampu untuk membedakan bagian-bagian dari tubuhnya dengan bagian-bagian dari tubuh orang lain 2. Pasien menceritakan kemampuan untuk memisahkan diri dari lingkungannya dengan menghentikan ekolalia (mengulangi kata-k ata yang di dengar) dan ekopraksia (meniru gerakan-gerakan yang dilihatnya) 1. Fungsi pada hubungan satu-satu dengan anak. Rasional: Interaksi pasien staf meningkatkan pemben- tukan data kepercayaan. 2. Membantu anak untuk mengetahui hal-hal yang terpisah selama kegiatan-kegiatan perawatan diri, seperti berpakaian dan makan. Rasional : Kegiatan-kegiatan ini dapat meningkatkan kewaspadaan anda terhadap diri sebagai sesuatu yang terpisah dari orang lain. 3. Jelaskan dan bantu anak dalam menyebutkan bagian-bagian tubuhnya. Rasional : Kegiatan-kegiatan ini dapat meningkatkan kewaspadaan anak terhadap diri sebagai sesuatu yang terpisah dari orang lain. 4. Tingkatkan kontak fisik secara bertahap demi tahap, menggunakan sentuhan untuk menjelaskan perbedaan-perbedaan antara pasien dengan perawat. Berhati-hati dengans entuhan sampai keperca- yaan anak telah terbentuk. Rasional: Bila gerak isyarat ini dapat diintepretasikan sebagai suatu ancaman oleh pasien. 5. Tingkatkan upaya anak untuk mempelajari bagian-bagian dari batas-batas tubuh dengan mengguna- kan cermin dan lukisan serta gambar-gambar dari anak. Rasional: Dapat memberikan gambaran tentang bentuk tubuh dan gambaran diri pada anak secara tepat
  • 22.