Banyak sekali definisi yang beredar tentang Autis. Tetapi secara garis besar, Autis, adalah
gangguan perkembangan khususnya terjadi pada masa anak-anak, yang membuat seseorang tidak
mampu mengadakan interaksi sosial dan seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri. Pada anak-
anak biasa disebut dengan Autis Infantil. Schizophrenia juga merupakan gangguan yang
membuat seseorang menarik diri dari dunia luar dan menciptakan dunia fantasinya sendiri:
berbicara, tertawa, menangis, dan marah-marah sendiri.

Tetapi, ada perbedaan yang jelas antara penyebab dari Autis pada penderita Schizophrenia dan
penyandang Autis Infantil. Schizophrenia disebabkan oleh proses regresi karena penyakit jiwa,
sedangkan pada anak-anak penyandang Autis Infantil terdapat kegagalan perkembangan.

Gejala Autis Infantil timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun. Pada sebagian anak, gejala-
gejala itu sudah ada sejak lahir. Seorang ibu yang sangat cermat memantau perkembangan
anaknya sudah akan melihat beberapa keganjilan sebelum anaknya mencapai usia 1 tahun. Yang
sangat menonjol adalah tidak adanya atau sangat kurangnya tatap mata.

Untuk memeriksa apakah seorang anak menderita autis atau tidak,digunakan standar
internasional tentang autis. ICD-10 (InternationalClassification of Diseases) 1993 dan DSM-IV
(Diagnostic andStatistical Manual) 1994 merumuskan kriteria diagnosis untuk Autis Infantil
yang isinya sama, yang saat ini dipakai di seluruh dunia.

Kriteria tersebut adalah:

Untuk hasil diagnosa, diperlukan total 6 gejala (atau lebih) dari
no. (1), (2), dan (3), termasuk setidaknya 2 gejala dari no. (1) dan
masing-masing 1 gejala dari no. (2) dan (3).

   1. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik.

       Minimal harus ada dua dari gejala-gejala di bawah ini:Tak mampu menjalin interaksi
       sosial yang cukup memadai:
       kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak-
       gerik kurang tertuju.
       Tidak bisa bermain dengan teman sebaya. – Tak ada empati (tak dapat merasakan apa
       yang dirasakan orang
       lain).
       Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang
       timbal balik.

2. Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi. Minimal harus adasatu dari gejala-gejala di
bawah ini:

       Perkembangan bicara terlambat atau sama sekali tak berkembang.Anak tidak berusaha
       untuk berkomunikasi secara non-verbal. Bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak
       dipakai untuk berkomunikasi.
       Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang.
Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif, dan kurang dapat meniru.

3. Adanya suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam perilaku, minat, dan kegiatan.
Minimal harus ada satu dari gejala di bawah ini:

       Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan.
       Terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas yang tidak ada gunanya.
       Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang.
       Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda.

Sebelum umur 3 tahun tampak adanya keterlambatan atau gangguan dalam
bidang:

a. interaksi sosial,
b. bicara dan berbahasa,
c. cara bermain yang monoton, kurang variatif.

Autis bukan disebabkan oleh Sindroma Rett atau Gangguan
Disintegratif Masa Kanak. Namun, kemungkinan kesalahan diagnosis
selalu ada, terutama pada autis ringan. Hal ini biasanya disebabkan
karena adanya gangguan atau penyakit lain yang menyertai gangguan
autis yang ada, seperti retardasi mental yang berat atau
hiperaktivitas.

Autis memiliki kemungkinan untuk dapat disembuhkan, tergantung dari
berat tidaknya gangguan yang ada. Berdasarkan kabar terakhir, di
Indonesia ada 2 penyandang autis yang berhasil disembuhkan, dan kini
dapat hidup dengan normal dan berprestasi. Di Amerika, dimana
penyandang autis ditangani secara lebih serius, persentase
kesembuhannya lebih besar.

Bila Anda membutuhkan informasi yang lebih detail tentang autis,
silakan menghubungi alamat di bawah ini:

- Pusat Pelayanan Gangguan Perkembangan Anak Fakultas Psikologi
(P2GPA) Unika Soegijapranata Jl. Imam Bonjol 186 A, Semarang 50132
Telp. (024) 554613

- Perkumpulan Orangtua Pembina Anak Autistik (POPAA)
Jl. Erlangga Tengah III/34, Semarang
Telp. (024) 313083

- Yayasan Autisma Indonesia
Jl. Buncit Raya No. 55, Jakarta Pusat
Telp. (021) 7971945 – 7991355
Sumber diambil dari:

Kumpulan Artikel Psikologi yang terdapat di Situs Angelfire

http://www.angelfire.com/mt/matrixs/psikologi.htm#Mengenal%20Autisme


Read more: http://doktersehat.com/mengenal-autis-dan-ciri-ciri-nya/#ixzz2OPwDqkHS




Penyebab, Faktor, dan Jenis Autisme
Seorang pakar kesehatan, Neil K. Kaneshiro, MD., MHA., menyebutkan bahwa "Autisme adalah
sebuah kondisi fisik yang berhubungan dengan kelainan secara biologis dan kinerja otak
seseorang."

Seorang bayi yang baru lahir tidak bisa divonis bahwa ia menderita autisme ketika lahir, karena
kondisi ini hanya dapat diketahui ketika anak tersebut menginjak tahun kedua dalam hidupnya.

Kebanyakan orang tua menganggap bahwa anaknya tersebut menderita autisme dikarenakan
pemberian vaksin dan juga obat-obatan yang telah menyebabkan anaknya menderita kelainan
tersebut.

Namun, beberapa studi tentang autisme menyebutkan bahwa hal tersebut tidak benar adanya.
Bahkan, The American Academy of Pediatrics dan The Institute of Medicine (IOM) juga
membenarkan bahwa seorang anak yang terjangkit autisme bukanlah dikarenakan pemberian
vaksin dan obat-obatan lainnya.

Akan tetapi, autisme lebih dikarenakan oleh kelainan pada kromosom anak tersebut dan juga
permasalahan yang terjadi pada sistem saraf (neurological) dan juga faktor genetik atau
keturunan dari anak tersebut.

Terdapat pula sumber yang mengatakan bahwa ada kecurigaan yang menyebabkan seorang anak
menderita kelainan autisme namun hal tersebut belum terbukti kebenarannya, yaitu diet,
keracunan merkuri, ketidakmampuan tubuh dalam mengkonsumsi vitamin dan mineral tertentu,
sensitif terhadap jenis vaksin tertentu.



Berdasarkan bukti yang ada, kebanyakan anak laki-laki yang menderita autisme dibandingkan
dengan wanita dan terdapat beberapa jenis dari kelainan dalam perkembangan fisik dari
seseorang itu sendiri, misalnya :

1. Asperger syndrome, layaknya autisme, namun perkembangan bahasanya normal.
2. Rett syndrome, berbeda dengan autisme, hanya dialami oleh wanita.

3. Childhood disintegrative disorder, kondisi yang sangat langka dimana sang anak hanya dapat
melatih kemampuan belajarnya hingga umur sepuluh tahun saja, setelah itu ia akan kehilangan
kemampuan yang telah dipelajarinya.

4. Pervasive developmental disoreder - not otherwise specified (PDD-NOS), yang disebut juga
sebagai atypical autisme.


Gejala-gejalanya
Kelainan autisme hanya dapat diketahui ketika anak tersebut telah berumur dua tahun dan
kebanyakan dari penderita autisme akan bertingkah seakan-akan ia memiliki dunianya sendiri
tanpa menyadari kehadiran orang lain.

Kesulitan dalam berinteraksi sosial dengan lingkungannya, kemampuan bicaranya yang lambat
dari orang normal, tidak dapat diajak berbicara dalam waktu yang lama, tidak ada kontak mata
dengan lawan bicara, selalu mengulang kata yang telah diucapkannya, dan juga kesulitan
berkomunikasi baik secara verbal maupun non-verbal.

Seorang anak penderita autisme memiliki tingkat kesensitifitasan yang melebihi dari manusia
normal, khususnya indra penglihatannya, pendengaran, sentuhan, penciuman, ataupun rasa.

Hal ini ditunjukkan ketika mereka merasa terganggu dengan suara berisik maka ia akan menutup
kedua telinganya erat-erat.

Mereka lebih menyenangi suatu hal yang itu-itu saja, penderita autisme akan lebih fokus pada
suatu hal saja misalkan ia suka akan musik, maka ia akan lebih cepat mempelajari hal yang
berhubungan dengan musik saja.

Melakukan gerakan yang sama berulang kali, menunjukan sesuatu ketertarikan yang berlebihan
pada suatu objek tertentu.


Autisme, Kekurangan atau Kelebihan?
Mungkin kelainan autisme ini justru memberikan suatu kelebihan bagi sang penderitanya, hal ini
terbukti dari kasus yang terjadi pada, Jacob Barnett, seorang anak yang berumur 12 tahun di
Amerika yang dapat memecahkan teori "Big Bang" (teori konsep rumusan matematika yang
sangatlah rumit), dan setelah dilakukan serangkaian tes ternyata ia memiliki IQ melebihi Albert
Einstein (170).
Jacob mengidap Aspergers syndrome, Kristine Barnett, ibu dari Jacob sempat heran ketika
anaknya tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun hingga ia menginjak usia dua tahun.

Akibat kelainan yang dideritanya tersebut, Jacob menjadi pengajar di Universitas Indiana. Ia
mengajar tentang hal-hal yang berhubungan dengan dunia matematika (kalkulus, aljebra,
geometri, dan trigonometri) yang mungkin bagi kita sendiri pelajaran tersebut sangatlah
membosankan sekali.



Tidak hanya itu saja, ia juga sedang mengembangkan teori relativitas dari Einstein saat ini.



   1. PENGENALAN,PERKEMBANGAN, PENYEBABDAN PENCEGAHAN AUTISME BY
. TRIYONO
   2. Autisme berasal dari kata autis yang berarti sendiri, pasien penderita autisme
merasamemiliki dunianya sendiri. Biasanya mereka masa bodoh dengan apa yang terjadi di
lingkungannya.
   3. Gangguan Gangguan kualitatif komunikasi Gangguan Pada Anak Autisme Gangguan
sensori Gangguan perilaku kualitatif interaksi sosial Sensori Seeker (sensori Sensori Avoider
(sensori respon berlebih) respon kurang/butuh).
   4. kehilangan kemampuan sistem imunitassehingga terjadi inflamatory. Cytokinediproduksi
secara berlebihan dalam darahputih, kadarnya meningkat dan hal itumenyebabkan terjadinya
abnormalneurology.
   5. Peningkatan cytokine penyebab secara genetik yangkelak akan timbulkan penyakit autisme.
Reaksi Opioidadalah suatu reaksi yang paling merusak. Hal itubiasanya diakibatkan oleh
terjadinya kebocoran usus(leaky guts). Sekitar 50% pasien autis mengalami kebocoran
usussehingga terjadi ketidakseimbangan flora usus. Peptidahasil pemecahan gluten atau kasein
dikirim ke otak dankemudian ditangkap reseptor opioid. Hal inimenyebabkan autisme, kondisi
reaksi opioidmenyerupai kondisi seperti baru mengkonsumsi obat-obatan serupa morphin atau
heroin.
   6. Pada saat dalam kandungan ternyata penderita autismengalami peningkatan jumlah protein
dalam darah,yaitu 3X lebih besar dari anak yang kemudian terlahirnormal dan setelah kelahiran
terus meningkat hinggamencapai 10X normal. Pada anak normal tidak terjadimengalami
kenaikan.Peningkatan jumlah protein darah yang abnormal padapenderita ini dapat mengacaukan
proses migrasi selnormal atau bahkan mematikan sel selama masaperkembangan sistem saraf
berlangsung. Perlu diingatbahwa pertumbuhan saraf selama embrio pentinguntuk membentuk
formasi sistem saraf pusat dan selotak yang baru.
   7. Jadi Autisme merupakan spektrum dari kelainan (disorder) bagi otak danpengembangannya.
Disorder otak tersebut tidak jelas tanda-tandanya. Danbila hal itu diabaikan akan menjadi
malapetaka bagi keluarganya.Sebetulnya terjadinya autisme sendiri bukan merupakan tragedy.
yangmenjadi tragedi adalah akibat ketidak pedulian terhadap gejala-gejala awalyang timbul pada
bayi dan anak-anak kita di usia dini. Gejala diniautisme sebetulnya dapat mulai diketahui pada
usia kurang dari 18bulan. Karena itu para orang tahu harus jeli dan peduli bila ada sedikit
sajakelainan muncul. Konsep Tiga Cepat harus diikuti, yaitu cepat melihat,cepat memutuskan,
dan cepat bertindak.Gejala-Gejala autis antara lain: sakit perut, sakit kepala,menangis berlebihan,
sensitif pada suara,depresi, hiperaktif,dan sangat agresif.
   8. 1. Kerentanan Genetik2. Infeksi, diantaranya virus rubella yang menginfeksi jamur dalam
kandungan yang menyebabkan cytomegallo3. Bahan Pangan (pengawet, pewarna, perasa)4.
Polusi (udara Pb dalam knalpot, merkuri pada ikan laut)Dan lain lain karena penyebab autis
sangat multi faktor
   9. Cara penanganan pasien autis dapat dilakukan denganbeberapa cara diantaranya dengan
Diet autism, yaitudengan pemberian probiotik, diet bebas jamur, diet bebasgluten, diet bebas
kasein, dan diet pemberian suplemenvitamin A, C, B6, B12, Mg, asam folat, dan omega-3
    1. Susu sapi: diusahan 10. Pencegahan Autis susu yang non laktosa atau 2. Makanan
dari diganti susu kedelai tepung terigu: diganti dengan tepung beras, tepung ketan, tepung
tapioka, tepung maizena 3. Hindari: minuman dan tepung kacang hijau. manis dan makanan
dengan pemanis, pengawet dan pewarna. Hindari permen, coklat, es krim, soft drink dan banyak
minum air 4. Hindarkan putih. diri dari seafood yang terkontaminasi limbah industri.
   11. Mengatasi Autisme - Diet SCD (Specific Carbohydrate Diet) yang berarti tanpa
mengkonsumsi karbohidrat kompleks. - Body Ecology Diet (untuk mengindahkan Candida,
darah tipe A tidak boleh makan kentang) Kentang mengandung: starch (gula kompleks) yang tak
tercerna sehingga menjadi makin menguntungkan mikroba jahat candida dan memperburuk
kondisi autisme.

http://www.slideshare.net/lintangwatupadas/pengenalan-perkembangan-penyebab-dan-pencegahan-
autisme

Autis

  • 1.
    Banyak sekali definisiyang beredar tentang Autis. Tetapi secara garis besar, Autis, adalah gangguan perkembangan khususnya terjadi pada masa anak-anak, yang membuat seseorang tidak mampu mengadakan interaksi sosial dan seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri. Pada anak- anak biasa disebut dengan Autis Infantil. Schizophrenia juga merupakan gangguan yang membuat seseorang menarik diri dari dunia luar dan menciptakan dunia fantasinya sendiri: berbicara, tertawa, menangis, dan marah-marah sendiri. Tetapi, ada perbedaan yang jelas antara penyebab dari Autis pada penderita Schizophrenia dan penyandang Autis Infantil. Schizophrenia disebabkan oleh proses regresi karena penyakit jiwa, sedangkan pada anak-anak penyandang Autis Infantil terdapat kegagalan perkembangan. Gejala Autis Infantil timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun. Pada sebagian anak, gejala- gejala itu sudah ada sejak lahir. Seorang ibu yang sangat cermat memantau perkembangan anaknya sudah akan melihat beberapa keganjilan sebelum anaknya mencapai usia 1 tahun. Yang sangat menonjol adalah tidak adanya atau sangat kurangnya tatap mata. Untuk memeriksa apakah seorang anak menderita autis atau tidak,digunakan standar internasional tentang autis. ICD-10 (InternationalClassification of Diseases) 1993 dan DSM-IV (Diagnostic andStatistical Manual) 1994 merumuskan kriteria diagnosis untuk Autis Infantil yang isinya sama, yang saat ini dipakai di seluruh dunia. Kriteria tersebut adalah: Untuk hasil diagnosa, diperlukan total 6 gejala (atau lebih) dari no. (1), (2), dan (3), termasuk setidaknya 2 gejala dari no. (1) dan masing-masing 1 gejala dari no. (2) dan (3). 1. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik. Minimal harus ada dua dari gejala-gejala di bawah ini:Tak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai: kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak- gerik kurang tertuju. Tidak bisa bermain dengan teman sebaya. – Tak ada empati (tak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain). Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang timbal balik. 2. Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi. Minimal harus adasatu dari gejala-gejala di bawah ini: Perkembangan bicara terlambat atau sama sekali tak berkembang.Anak tidak berusaha untuk berkomunikasi secara non-verbal. Bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak dipakai untuk berkomunikasi. Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang.
  • 2.
    Cara bermain kurangvariatif, kurang imajinatif, dan kurang dapat meniru. 3. Adanya suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam perilaku, minat, dan kegiatan. Minimal harus ada satu dari gejala di bawah ini: Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan. Terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas yang tidak ada gunanya. Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang. Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda. Sebelum umur 3 tahun tampak adanya keterlambatan atau gangguan dalam bidang: a. interaksi sosial, b. bicara dan berbahasa, c. cara bermain yang monoton, kurang variatif. Autis bukan disebabkan oleh Sindroma Rett atau Gangguan Disintegratif Masa Kanak. Namun, kemungkinan kesalahan diagnosis selalu ada, terutama pada autis ringan. Hal ini biasanya disebabkan karena adanya gangguan atau penyakit lain yang menyertai gangguan autis yang ada, seperti retardasi mental yang berat atau hiperaktivitas. Autis memiliki kemungkinan untuk dapat disembuhkan, tergantung dari berat tidaknya gangguan yang ada. Berdasarkan kabar terakhir, di Indonesia ada 2 penyandang autis yang berhasil disembuhkan, dan kini dapat hidup dengan normal dan berprestasi. Di Amerika, dimana penyandang autis ditangani secara lebih serius, persentase kesembuhannya lebih besar. Bila Anda membutuhkan informasi yang lebih detail tentang autis, silakan menghubungi alamat di bawah ini: - Pusat Pelayanan Gangguan Perkembangan Anak Fakultas Psikologi (P2GPA) Unika Soegijapranata Jl. Imam Bonjol 186 A, Semarang 50132 Telp. (024) 554613 - Perkumpulan Orangtua Pembina Anak Autistik (POPAA) Jl. Erlangga Tengah III/34, Semarang Telp. (024) 313083 - Yayasan Autisma Indonesia Jl. Buncit Raya No. 55, Jakarta Pusat Telp. (021) 7971945 – 7991355
  • 3.
    Sumber diambil dari: KumpulanArtikel Psikologi yang terdapat di Situs Angelfire http://www.angelfire.com/mt/matrixs/psikologi.htm#Mengenal%20Autisme Read more: http://doktersehat.com/mengenal-autis-dan-ciri-ciri-nya/#ixzz2OPwDqkHS Penyebab, Faktor, dan Jenis Autisme Seorang pakar kesehatan, Neil K. Kaneshiro, MD., MHA., menyebutkan bahwa "Autisme adalah sebuah kondisi fisik yang berhubungan dengan kelainan secara biologis dan kinerja otak seseorang." Seorang bayi yang baru lahir tidak bisa divonis bahwa ia menderita autisme ketika lahir, karena kondisi ini hanya dapat diketahui ketika anak tersebut menginjak tahun kedua dalam hidupnya. Kebanyakan orang tua menganggap bahwa anaknya tersebut menderita autisme dikarenakan pemberian vaksin dan juga obat-obatan yang telah menyebabkan anaknya menderita kelainan tersebut. Namun, beberapa studi tentang autisme menyebutkan bahwa hal tersebut tidak benar adanya. Bahkan, The American Academy of Pediatrics dan The Institute of Medicine (IOM) juga membenarkan bahwa seorang anak yang terjangkit autisme bukanlah dikarenakan pemberian vaksin dan obat-obatan lainnya. Akan tetapi, autisme lebih dikarenakan oleh kelainan pada kromosom anak tersebut dan juga permasalahan yang terjadi pada sistem saraf (neurological) dan juga faktor genetik atau keturunan dari anak tersebut. Terdapat pula sumber yang mengatakan bahwa ada kecurigaan yang menyebabkan seorang anak menderita kelainan autisme namun hal tersebut belum terbukti kebenarannya, yaitu diet, keracunan merkuri, ketidakmampuan tubuh dalam mengkonsumsi vitamin dan mineral tertentu, sensitif terhadap jenis vaksin tertentu. Berdasarkan bukti yang ada, kebanyakan anak laki-laki yang menderita autisme dibandingkan dengan wanita dan terdapat beberapa jenis dari kelainan dalam perkembangan fisik dari seseorang itu sendiri, misalnya : 1. Asperger syndrome, layaknya autisme, namun perkembangan bahasanya normal.
  • 4.
    2. Rett syndrome,berbeda dengan autisme, hanya dialami oleh wanita. 3. Childhood disintegrative disorder, kondisi yang sangat langka dimana sang anak hanya dapat melatih kemampuan belajarnya hingga umur sepuluh tahun saja, setelah itu ia akan kehilangan kemampuan yang telah dipelajarinya. 4. Pervasive developmental disoreder - not otherwise specified (PDD-NOS), yang disebut juga sebagai atypical autisme. Gejala-gejalanya Kelainan autisme hanya dapat diketahui ketika anak tersebut telah berumur dua tahun dan kebanyakan dari penderita autisme akan bertingkah seakan-akan ia memiliki dunianya sendiri tanpa menyadari kehadiran orang lain. Kesulitan dalam berinteraksi sosial dengan lingkungannya, kemampuan bicaranya yang lambat dari orang normal, tidak dapat diajak berbicara dalam waktu yang lama, tidak ada kontak mata dengan lawan bicara, selalu mengulang kata yang telah diucapkannya, dan juga kesulitan berkomunikasi baik secara verbal maupun non-verbal. Seorang anak penderita autisme memiliki tingkat kesensitifitasan yang melebihi dari manusia normal, khususnya indra penglihatannya, pendengaran, sentuhan, penciuman, ataupun rasa. Hal ini ditunjukkan ketika mereka merasa terganggu dengan suara berisik maka ia akan menutup kedua telinganya erat-erat. Mereka lebih menyenangi suatu hal yang itu-itu saja, penderita autisme akan lebih fokus pada suatu hal saja misalkan ia suka akan musik, maka ia akan lebih cepat mempelajari hal yang berhubungan dengan musik saja. Melakukan gerakan yang sama berulang kali, menunjukan sesuatu ketertarikan yang berlebihan pada suatu objek tertentu. Autisme, Kekurangan atau Kelebihan? Mungkin kelainan autisme ini justru memberikan suatu kelebihan bagi sang penderitanya, hal ini terbukti dari kasus yang terjadi pada, Jacob Barnett, seorang anak yang berumur 12 tahun di Amerika yang dapat memecahkan teori "Big Bang" (teori konsep rumusan matematika yang sangatlah rumit), dan setelah dilakukan serangkaian tes ternyata ia memiliki IQ melebihi Albert Einstein (170).
  • 5.
    Jacob mengidap Aspergerssyndrome, Kristine Barnett, ibu dari Jacob sempat heran ketika anaknya tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun hingga ia menginjak usia dua tahun. Akibat kelainan yang dideritanya tersebut, Jacob menjadi pengajar di Universitas Indiana. Ia mengajar tentang hal-hal yang berhubungan dengan dunia matematika (kalkulus, aljebra, geometri, dan trigonometri) yang mungkin bagi kita sendiri pelajaran tersebut sangatlah membosankan sekali. Tidak hanya itu saja, ia juga sedang mengembangkan teori relativitas dari Einstein saat ini. 1. PENGENALAN,PERKEMBANGAN, PENYEBABDAN PENCEGAHAN AUTISME BY . TRIYONO 2. Autisme berasal dari kata autis yang berarti sendiri, pasien penderita autisme merasamemiliki dunianya sendiri. Biasanya mereka masa bodoh dengan apa yang terjadi di lingkungannya. 3. Gangguan Gangguan kualitatif komunikasi Gangguan Pada Anak Autisme Gangguan sensori Gangguan perilaku kualitatif interaksi sosial Sensori Seeker (sensori Sensori Avoider (sensori respon berlebih) respon kurang/butuh). 4. kehilangan kemampuan sistem imunitassehingga terjadi inflamatory. Cytokinediproduksi secara berlebihan dalam darahputih, kadarnya meningkat dan hal itumenyebabkan terjadinya abnormalneurology. 5. Peningkatan cytokine penyebab secara genetik yangkelak akan timbulkan penyakit autisme. Reaksi Opioidadalah suatu reaksi yang paling merusak. Hal itubiasanya diakibatkan oleh terjadinya kebocoran usus(leaky guts). Sekitar 50% pasien autis mengalami kebocoran usussehingga terjadi ketidakseimbangan flora usus. Peptidahasil pemecahan gluten atau kasein dikirim ke otak dankemudian ditangkap reseptor opioid. Hal inimenyebabkan autisme, kondisi reaksi opioidmenyerupai kondisi seperti baru mengkonsumsi obat-obatan serupa morphin atau heroin. 6. Pada saat dalam kandungan ternyata penderita autismengalami peningkatan jumlah protein dalam darah,yaitu 3X lebih besar dari anak yang kemudian terlahirnormal dan setelah kelahiran terus meningkat hinggamencapai 10X normal. Pada anak normal tidak terjadimengalami kenaikan.Peningkatan jumlah protein darah yang abnormal padapenderita ini dapat mengacaukan proses migrasi selnormal atau bahkan mematikan sel selama masaperkembangan sistem saraf berlangsung. Perlu diingatbahwa pertumbuhan saraf selama embrio pentinguntuk membentuk formasi sistem saraf pusat dan selotak yang baru. 7. Jadi Autisme merupakan spektrum dari kelainan (disorder) bagi otak danpengembangannya. Disorder otak tersebut tidak jelas tanda-tandanya. Danbila hal itu diabaikan akan menjadi malapetaka bagi keluarganya.Sebetulnya terjadinya autisme sendiri bukan merupakan tragedy. yangmenjadi tragedi adalah akibat ketidak pedulian terhadap gejala-gejala awalyang timbul pada bayi dan anak-anak kita di usia dini. Gejala diniautisme sebetulnya dapat mulai diketahui pada usia kurang dari 18bulan. Karena itu para orang tahu harus jeli dan peduli bila ada sedikit sajakelainan muncul. Konsep Tiga Cepat harus diikuti, yaitu cepat melihat,cepat memutuskan,
  • 6.
    dan cepat bertindak.Gejala-Gejalaautis antara lain: sakit perut, sakit kepala,menangis berlebihan, sensitif pada suara,depresi, hiperaktif,dan sangat agresif. 8. 1. Kerentanan Genetik2. Infeksi, diantaranya virus rubella yang menginfeksi jamur dalam kandungan yang menyebabkan cytomegallo3. Bahan Pangan (pengawet, pewarna, perasa)4. Polusi (udara Pb dalam knalpot, merkuri pada ikan laut)Dan lain lain karena penyebab autis sangat multi faktor 9. Cara penanganan pasien autis dapat dilakukan denganbeberapa cara diantaranya dengan Diet autism, yaitudengan pemberian probiotik, diet bebas jamur, diet bebasgluten, diet bebas kasein, dan diet pemberian suplemenvitamin A, C, B6, B12, Mg, asam folat, dan omega-3 1. Susu sapi: diusahan 10. Pencegahan Autis susu yang non laktosa atau 2. Makanan dari diganti susu kedelai tepung terigu: diganti dengan tepung beras, tepung ketan, tepung tapioka, tepung maizena 3. Hindari: minuman dan tepung kacang hijau. manis dan makanan dengan pemanis, pengawet dan pewarna. Hindari permen, coklat, es krim, soft drink dan banyak minum air 4. Hindarkan putih. diri dari seafood yang terkontaminasi limbah industri. 11. Mengatasi Autisme - Diet SCD (Specific Carbohydrate Diet) yang berarti tanpa mengkonsumsi karbohidrat kompleks. - Body Ecology Diet (untuk mengindahkan Candida, darah tipe A tidak boleh makan kentang) Kentang mengandung: starch (gula kompleks) yang tak tercerna sehingga menjadi makin menguntungkan mikroba jahat candida dan memperburuk kondisi autisme. http://www.slideshare.net/lintangwatupadas/pengenalan-perkembangan-penyebab-dan-pencegahan- autisme