BAB I 
PENDAHULUAN 
A. Latar Belakang 
Pemilihan umum (pemilu) di Indonesia pada awalnya ditujukan untuk memilih anggota 
lembaga perwakilan, yaitu DPR, DPRD, dan DPD. Setelah amandemen ke-IV UUD 1945 
pada 2002, pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres), yang semula dilakukan oleh 
MPR, disepakati untuk dilakukan langsung oleh rakyat sehingga pilpres pun dimasukan ke 
dalam rezim pemilihan umum. Pilpres sebagai bagian dari pemilihan umum diadakan 
pertama kali pada pemilu 2004. pada 2007, berdasarkan UU No.22 Tahun 2007, pemilihan 
Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (Pilkada) juga dimasukan sebagai bagian dari rezim 
pemilihan umum. Ditengah masyarakat, istilah “pemilu” lebih sering merujuk kepada pemilu 
legislatif dan pemilu presiden dan wakil presiden yang diadakan lima tahun sekali. 
Pemilihan umum telah dianggap menjadi ukuran demokrasi karena rakyat dapat berpartisipasi 
menentukan sikapnya terhadap pemerintahan dan negaranya. Pemilihan umum adalah suatu 
hal yang penting dalam kehidupan kenegaraan. Pemilu adalah pengejewantahan sistem 
demokrasi, melalui pemilihan umum rakyat memilih wakilnya untuk duduk dalam parlemen, 
dan dalam struktur pemerintahan. Ada negara yang menyelenggarakan pemilihan umum 
hanya apabila memilih wakil rakyat duduk dalam parlemen, akan tetapi adapula negara yang 
juga menyelenggarakan pemilihan umum untuk memilih para pejabat tinggi negara. 
Umumnya yang berperan dalam pemilu dan menjadi peserta pemilu adalah partai-partai 
politik. Partai politik yang menyalurkan aspirasi rakyat dan mengajukan calon-calon untuk 
dipilih oleh rakyat melalui pemilihan itu. Dalam ilmu politik dikenal bermacam-macam 
sistem pemilihan umum, akan tetapi umumnya berkisar pada dua prinsip pokok, yaitu: singel 
member constituency (satu daerah pemilihan memilih satu wakil, biasanya disebut sistem 
distrik). Multy member constituenty (satu daerah pemilihan memilih beberapa wakil; 
biasanya dinamakan proporsional representation atau sistem perwakilan berimbang).
B. Rumusan Masalah 
Salah satu aspek yang menentukan keberhasilan pemilikhan umum yang bisa memberikan 
kontribusi bagi sistem politik yang demokratis, dan efektif yang sedang giat-giatnya 
dilaksanakan adalah sistem proses pemilihan umum yang luber, yang matang mengenai 
sistem pemilu proporsional dan pemehaman yang luas dari pemerintah. Berdasarkan 
pernyataan ini maka rumusan masalah yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah sebagai 
berikut : 
1. Bagaimanakah sistem pemilu proporsional? 
2. Faktor-faktor apa yang menmjadi kelebihan dan kekurangan pada pemilu sistem 
proporsiona?
BAB II 
PEMBAHASAN 
2. Pengertian Sistem 
Sebuah sistem pada dasarnya adalah suatu organisasi besar yang menjalin berbagai subjek 
atau objek serta perangkat kelembagaan dalam suatu tatanan tertentu. Subjek atau objek 
pembentuk sebuah sistem dapat berupa orang-orang atau masyarakat. Kehadiran subjek atau 
objek semata belumlah cukup untuk membentuk sebuah sistem, itu baru merupakan 
himpunan subjek atau objek. Himpunan subjek atau objek tadi baru membentuk sebuah 
sistem jika lengkap dengan perangkat kelembagaan yang mengatur dan menjalin tentang 
bagaimana subjek-objek bekerja, berhubungan dan berjalan. 
Sebuah sistem sederhana apapun senantiasa mengandung kadar kompleksitas tertentu. Dari 
uraian diatas cukup jelas bahwa sebuah sistem bukan sekedar himpunan suatu subjek atau 
himpunan suatu objek. Sebuah sistem adalah jalinan semua itu, mencakup objek dan 
perangkat-perangkat kelembagaan yang membentuknya. Selanjutnya perlu disadari bahwa, 
seringkali suatu sistem tidak bisa berdiri sendiri, melainkan terkait dengan sistem yang lain. 
3. Pemilihan Umum 
a. Makna Pemilu 
Makna pemilihan umum yang paling esensial bagi suatu kehidupan politik yang demokratis 
adalah sebagai institusi pergantian dan perebutan kekuasaan yang dilakukan dengan regulasi, 
norma, dan etika sehingga sirkulasi elite politik dapat dilakukan secara damai dan beradab. 
Lembaga itu adalah produk dari pengalaman sejarah umat manusia dalam mengelola 
kekuasaan. Suatu fenomena yang mempunyai daya tarik dan pesona luar biasa. Siapapun 
akan amat mudah tergoda untuk tidak hanya berkuasa, tetapi akan mempertahankan 
kekuasaan yang dimilikinya. Sedemikian mempesonanya daya tarik kekuasaan sehingga 
tataran apa saja kekuasaan tidak akan diserahkan oleh pemilik kekuasaan tanpa melalui 
perebutan atau kompetisi. 
Selain mempesona, kekuasaan mempunyai daya rusak yang dahsyat. Kekuatan daya rusak
kekuasaan melampaui nilai- nilai yang terkandung dalam ikatan-ikatan etnis, ras, ikatan 
persaudaraan, agama dan lainnya. Transformasi dan kompetisi merebutkan kekuasaan tanpa 
disertai norma, aturan, dan etika; nilai-nilai dalam ikatan-ikatan itu seakan tidak berdaya 
menjinakan kekuasaan. Daya rusak kekuasaan telah lama diungkap dalam suatu adagium 
ilmu politik, power tends to corrupt, absolute power tends to corrupt absoluteny. 
Pemilu 2004 adalah pemilu kedua dalam masa transisi demokrasi. Pemilu mendatang 
diharapkan dapat menjadi pelajaran dan pengalaman berharga untuk membangun suatu 
institusi yang dapat menjamin transfer of power dan power competition dapat berjalan secara 
damai dan beradab. Untuk itu, pemilu 2004 harus diatur dalam suatu kerangka regulasi dan 
etika yang dapat memberi jaminan agar pemilu tidak saja dapat berlangsung secara jujur dan 
adil, tetapi juga dapat menghasilkan wakil-wakil yang kredibel, akuntabel, dan kapabel serta 
sanggup menerima kepercayaan dan kehormatan dari rakyat, dalam mengelola kekuasaan 
yang dipercayakan kepada mereka untuk mewujudkan kesejahteraan umum. 
Agar pemilu 2004 dapat menjadi anggeda pelembagaan proses politik yang demokratis, 
diperlukan kesungguhan, terutama dari anggota parlemen, untuk tidak terjebak dalam 
permainan politik yang oportunistik, khususnya dalam memperjuangkan agenda subjektif 
masing-masing. Orientasi sempit dan egoisme politik harus dibuang jauh-jauh. 
Kerangka hukum perlu didukung niat politik yang sehat sehingga regulasi bukan sekedar 
hasil kompromi politik oportunistik dari partai-partai besar untuk menjaga kepentingannya. 
Bila hal itu yang terjadi, dikhwatirkan hasil pemilu akan memperkuat oligarki politik. Karena 
itu, partisipasi masyarakat amat diperlukan. Bahkan, tekanan publik perlu dilakukan agar 
kerangka hukum yang merupakan aturan permainan benar-benar menjadi sarana 
menghasilkan pemilu yang demokratis. Untuk itu, perlu diberikan beberapa catatan mengenai 
perkembangan konsensus politik dari peraturan kepentingan di parlemen serta saran 
mengenai regulasi penyelenggaraan pemilu yang akan datang. 
Pertama, diperlukan penyelenggaraan pemilu yang benar-benar independen. Parsyaratan ini 
amat penting bagi terselenggaranya pemilu yang adil dan jujur. Harapan itu tampaknya 
memperlihatkan tanda-tanda akan menjadi kenyataan setelah pansus pemilu menyetujui 
bahwa kondisi pemilihan umum (KPU) benar-benar menjadi lembaga independen dan 
berwewenang penuh dalam menyelenggarakan pemilu. Sekretariat KPU yang semula
mempunyai dua atasan: untuk urusan operasional bertanggung jawab kepada KPU, telah 
disatukan dalam struktur yang tidak lagi bersifat dualistik. Struktur yang sama diterapkan 
pula ditingkat propinsi serta kabupaten dan kota. 
Kedua, kesepakatan mengenai sistem proporsional terbuka, kesepakatan partai-partai 
menerima sistem pemilu proporsional terbuka adalah suatu kemajuan. Sejak semula, 
sebenarnya argumen kontra terhadap sistem proporsional terbuka dengan menyatakan sistem 
ini terlalu rumit gugur dengan sendirinya. 
Begitu suatu masyarakat atau bangsa sepakat memilih sistem demokrasi, saat itu harus 
menyadari bahwa mewujudkan tatanan politik yang demokratis itu selain rumit, diperlukan 
kesabaran melakukan pendidikan politik bagi rakyat. Sebab, partai politik bukan saja 
instrumen untuk melakukan perburuan kekuasaan, tetapi juga institusi yang mempunyai tugas 
melakukan pendidikan dan sosialisasi politik kepada masyarakat. 
Ketiga, pengawasan terhadap penyelenggaraan pemilu supaya kebih efektif dari pemilu 2004. 
Caranya antara lain, agar pengawas pemilu selain terdiri dari aparat penegak hukum dan 
KPU, juga melibatkan unsur-unsur masyarakat. Selain itu, perlu semacam koordinasi diantara 
lembaga pemantau dan pengawas pemilu sehingga tidak tumpang tindih. Pengawasan 
dilakukan terhadap seluruh tahapan kegiatan pemilu. Tugas lembaga pengawas adalah 
menampung, menindak lanjuti, membuat penyilidikan dan memberi saksi terhadap 
pelanggaran pemilu. 
Keempat, Money politics mencegas habis-habisan permainan uang dalam pemilu mendatang 
amat penting sekali. Upaya itu amat perlu dilakukan mengingat money politics dewasa ini 
telah merebak luas dan mendalam dalam kehidupan pilih memilih pemimpin mulai dari elite 
politik sampai dibeberapa organisasi sosial dan kemahasiswaan. Karena itu, kontrol terhadap 
dana kampanye harus lebih ketat. Misalnya, Batasan sumbangan berupa uang, 
mengonversikan utang dan sumbangan barang dalam bentuk perhitungan rupiah, dilarang 
memperoleh bantuan dari sumber asing dan APBN/APBD lebih-lebih sumber ilegal dan tentu 
saja hukuman pidana yang tegas dan setimpal bagi para pelanggarannya. 
Kelima, pendidikan politik perlu segera dilakukan baik oleh organisasi masyarakat dan partai 
politik. Bagaimanapun, pemilihan mendatang mengandung unsur-unsur baru serta detail-detail 
yang sangat perlu diketahui oleh masyarakat.
b. Pemilih dan Hak Pilih 
Persyaratan mendasar dari pemerintahan perwakilan daerah adalah bahwa rakyat mempunyai 
peluang untuk memilih anggota dewan yang memegang peranan dan bertanggung jawab 
dalam proses pemerintahan. Masken Jie (1961) berpendapat bahwa pemilihan bebas, 
walaupun bukan puncak dari segalanya, masih merupakan suatu cara yang bernilai paling 
tinggi, karena belum ada pihak yang dapat mencipatakan suatu rancangan politik yang lebih 
baik dari cara tersebut untuk kepentingan berbagai kondisi yang diperlukan guna 
penyelenggaraan pemerintahan dalam masyarakat manapun. Pertama, pemilihan dapat 
menciptakan suatu suasana dimana masyarakat mampu menilai arti dan manfaat sebuah 
pemerintahan. Kedua, pemilihan dapat memberikan suksesi yang tertib dalam pemerintahan, 
melalui transfer kewenangan yang damai kepada pemimpin yang baru ketika tiba waktunya 
bagi pemimpin lama untuk melepaskan jabatannya, baik karena berhalanga tetap atau karena 
berakhirnya suatu periode kepemimpinan. 
Pada sistem pemerintahan nonperwakilan daerah, peranan warga daerah terbatas pada hal-hal 
yang relatif tidak terorganisasi dan tidak langsung dalam urusan pemerintahan daerahnya. 
Rakyat harus memainkan peranan yang aktif dan langsung jika pemerintahan perwakilan 
diinginkan untuk menjadi dinamis dan bukan merupakan proses statis. Ada banyak 
kepentingan dan pengaruh warga daerah untuk melibatkan diri dalam proses pemerintahan 
daerah, tetapi yang paling mendasar adalah melalui pemilihan para wakilnya dalam 
kepemimpinan daerah. 
c. Hak Untuk Memilih 
Suatu hak pilih yang umum merupakan dasar dari pemerintahan perwakilan dan 
pengembangannya diberbagai negara merupakan fenomena yang paling penting dalam 
kaitannya dengan pemerintahan perwakilan daerah yang modern. Pada abad 19, banyak 
negara belum mempunyai proses pemilihan untuk posisi-posisi pada pemerintahan daerah. Di 
negara lainnya, hak untuk memilih seringkali dibatasi pada sejumlah kecil penduduknya. 
Namun perkembangan selama satu abad terakhir ini menunjukan adanya kemajuan yang 
berarti dalam mengalihkan hak dari beberapa orang saja menjadi hak bagi semua, atau lebih 
tepat lagi berupa hak bagi hampir semua, karena pada sistem hak pilih yang paling luas pun 
masih ada beberapa diantaranya yang tidak memenuhi syarat untuk memilih. 
Dalam banyak hal, hak untuk memilih bagi perwakilan pada lembaga daerah terbatas pada
satu orang yang merupakan warga daerah tersebut. Namun pengecualiannya dapat dijumpai 
pada persemakmuran Inggris yang hukum kewarganegaraannya menyatakan bahwa warga 
negara dalam persemakmuran manapun dapat memilih di Inggris Raya, bila ia dinayatakan 
memenuhi syarat (HMSO, 1965). Dewasa ini sudah menjadi fenomena yang umum untuk 
memberikan hak pilih kepada seseorang yang sudah mencapai “umur yang bertanggung 
jawab”. Ada dua persyaratan lain yang sering diungkapkan dalam cara yang agak negatif. 
Diketahui bahwa sudah menjadi hal yang biasa disetiap negara untuk menghapus hal pilih 
dari mereka yang tidak waras atau catat mental dan mereka yang sedang menjalani hukuman 
penjara. Demikian pula, ada beberapa negara yang tidak membolehkan warganya yang telah 
menjalani masa tahanan dalam penjara selama waktu yang cukup lama untuk ikut memilih. 
Di indonesia, mereka yang dihukum diatas lima tahun tidak diperkenankan mengikuti 
pemilihan umum. 
d. Pemilu Sistem Proporsional 
Umumnya ada dua sistem pelaksanaan pemilihan umum yang dipakai, yaitu: pemilu sistem 
distrik dan pemilu sistem proporsional. Namun yang akan dibahas penulis ialah pemilu 
sistem proporsional. 
Sistem ini perjumlah penduduk pemilih misalnya setiap 40.000 penduduk pemilih 
memperoleh satu wakil (suara berimbang), sedangkan yang dipilih adalah sekelompok orang 
yang diajukan kontekstan pemilu (multy member constituency), sehingga wakil dan pemilih 
kurang akrab. Tetapi sisah dapat digabung secara nasional untuk kursi tambahan, dengan 
begitu partai kecil dapat dihargai tanpa harus beraliansi, karena suara pemilih dihargai. 
Indonesia berada ditengah-tengah sistem ini (sistem campuran) dalam pemilihan selama orde 
baru, tetapi sedikit cenderung agak mirip pada sistem proporsional. 
e. Kelemahan dan Kelebihan Sistem Proporsional 
Kelemahan 
1. Sistem ini mempermudah fragmentasi partai dan timbulnya partai-partai baru. Sistem ini 
tidak menjurus kearah integrasi bermacam-macam golongan dalam masyarakat, mereka lebih 
cenderung lebih mempertajam perbedaan-perbedaan yang ada dan kurang terdorong untuk 
mencari dan memanfaatkan persamaan-persamaan. Umumnya diaggap bahwa sistem ini 
mempunyai akibat memperbanyak jumlah partai; 
2. Wakil yang terpilih merasa dirinya lebih terikat kepada partai dan kurang merasakan
loyalitas kepada daerah yang telah memilihnya. Hal-hal semacam ini partai lebih menonjol 
perannya dari pad kepribadian seseorang. Hal ini memperkuat kedudukan pimpinan partai. 
Kelebihan 
1. Partai politik bisa leluasa menentukan siapa yang bakal calon. 
2. integritas secara citra partai lebih “solid” karana para pemilih mendukung atau mencoblos 
partai politik serta calonnya. 
3. pencalonan perempuan okeh partai politik sebagai anggota legislatif sebanyak 30 %. 
BAB III 
PENUTUP 
Kesimpulan 
Dalam ilmu politik dikenal bermacam-macam sistem pemilu, akan tetapi umumnya ada dua 
prinsip pokok yaitu: sistem distrik dan sistem proporsional, namun pada pemilu 2009 
menggunakan sistem pemilu proporsional. Sebagai catatan penutup perlu dikemukakan, 
perjalanan yang akan ditempuh bangsa Indonesia dalam mengukir demokrasi masih amat 
panjang dan melelahkan. Kebiasaan melakukan pergantian kekuasaan dan sirkulasi elite 
penguasa yang reguler, aman dan beradab hanya dapat dilakukan melalui serangkaian pemilu 
yang jujur dan adil. 
Politik merupakan kualitas yang paling penting untuk membangkitkan dan 
mengorganisasikan minat dan partisipasi rakyat dalam penyelenggaraan pemerintahan 
ditingkat daerah. Pada unit pemerintahan yang lebih besar, politik memegang peranan
penting dalam proses pemerintahan perwakilan. Untuk mewujudkan aspirasi masyarakat guna 
mewujudkan good governance. Dalam rangka hal tersebut, diperlukan pengembangan dan 
penerapan sistem pertanggung jawaban yang tepat, jelas dan nyata sehingga penyelenggaraan 
pemerintah dan pembangunan dapat berlangsung secara berdaya guna, berhasil guna, bersih 
dan bertanggung jawab serta bebas KKN.

Makalah pemilu

  • 1.
    BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemilihan umum (pemilu) di Indonesia pada awalnya ditujukan untuk memilih anggota lembaga perwakilan, yaitu DPR, DPRD, dan DPD. Setelah amandemen ke-IV UUD 1945 pada 2002, pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres), yang semula dilakukan oleh MPR, disepakati untuk dilakukan langsung oleh rakyat sehingga pilpres pun dimasukan ke dalam rezim pemilihan umum. Pilpres sebagai bagian dari pemilihan umum diadakan pertama kali pada pemilu 2004. pada 2007, berdasarkan UU No.22 Tahun 2007, pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (Pilkada) juga dimasukan sebagai bagian dari rezim pemilihan umum. Ditengah masyarakat, istilah “pemilu” lebih sering merujuk kepada pemilu legislatif dan pemilu presiden dan wakil presiden yang diadakan lima tahun sekali. Pemilihan umum telah dianggap menjadi ukuran demokrasi karena rakyat dapat berpartisipasi menentukan sikapnya terhadap pemerintahan dan negaranya. Pemilihan umum adalah suatu hal yang penting dalam kehidupan kenegaraan. Pemilu adalah pengejewantahan sistem demokrasi, melalui pemilihan umum rakyat memilih wakilnya untuk duduk dalam parlemen, dan dalam struktur pemerintahan. Ada negara yang menyelenggarakan pemilihan umum hanya apabila memilih wakil rakyat duduk dalam parlemen, akan tetapi adapula negara yang juga menyelenggarakan pemilihan umum untuk memilih para pejabat tinggi negara. Umumnya yang berperan dalam pemilu dan menjadi peserta pemilu adalah partai-partai politik. Partai politik yang menyalurkan aspirasi rakyat dan mengajukan calon-calon untuk dipilih oleh rakyat melalui pemilihan itu. Dalam ilmu politik dikenal bermacam-macam sistem pemilihan umum, akan tetapi umumnya berkisar pada dua prinsip pokok, yaitu: singel member constituency (satu daerah pemilihan memilih satu wakil, biasanya disebut sistem distrik). Multy member constituenty (satu daerah pemilihan memilih beberapa wakil; biasanya dinamakan proporsional representation atau sistem perwakilan berimbang).
  • 2.
    B. Rumusan Masalah Salah satu aspek yang menentukan keberhasilan pemilikhan umum yang bisa memberikan kontribusi bagi sistem politik yang demokratis, dan efektif yang sedang giat-giatnya dilaksanakan adalah sistem proses pemilihan umum yang luber, yang matang mengenai sistem pemilu proporsional dan pemehaman yang luas dari pemerintah. Berdasarkan pernyataan ini maka rumusan masalah yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagaimanakah sistem pemilu proporsional? 2. Faktor-faktor apa yang menmjadi kelebihan dan kekurangan pada pemilu sistem proporsiona?
  • 3.
    BAB II PEMBAHASAN 2. Pengertian Sistem Sebuah sistem pada dasarnya adalah suatu organisasi besar yang menjalin berbagai subjek atau objek serta perangkat kelembagaan dalam suatu tatanan tertentu. Subjek atau objek pembentuk sebuah sistem dapat berupa orang-orang atau masyarakat. Kehadiran subjek atau objek semata belumlah cukup untuk membentuk sebuah sistem, itu baru merupakan himpunan subjek atau objek. Himpunan subjek atau objek tadi baru membentuk sebuah sistem jika lengkap dengan perangkat kelembagaan yang mengatur dan menjalin tentang bagaimana subjek-objek bekerja, berhubungan dan berjalan. Sebuah sistem sederhana apapun senantiasa mengandung kadar kompleksitas tertentu. Dari uraian diatas cukup jelas bahwa sebuah sistem bukan sekedar himpunan suatu subjek atau himpunan suatu objek. Sebuah sistem adalah jalinan semua itu, mencakup objek dan perangkat-perangkat kelembagaan yang membentuknya. Selanjutnya perlu disadari bahwa, seringkali suatu sistem tidak bisa berdiri sendiri, melainkan terkait dengan sistem yang lain. 3. Pemilihan Umum a. Makna Pemilu Makna pemilihan umum yang paling esensial bagi suatu kehidupan politik yang demokratis adalah sebagai institusi pergantian dan perebutan kekuasaan yang dilakukan dengan regulasi, norma, dan etika sehingga sirkulasi elite politik dapat dilakukan secara damai dan beradab. Lembaga itu adalah produk dari pengalaman sejarah umat manusia dalam mengelola kekuasaan. Suatu fenomena yang mempunyai daya tarik dan pesona luar biasa. Siapapun akan amat mudah tergoda untuk tidak hanya berkuasa, tetapi akan mempertahankan kekuasaan yang dimilikinya. Sedemikian mempesonanya daya tarik kekuasaan sehingga tataran apa saja kekuasaan tidak akan diserahkan oleh pemilik kekuasaan tanpa melalui perebutan atau kompetisi. Selain mempesona, kekuasaan mempunyai daya rusak yang dahsyat. Kekuatan daya rusak
  • 4.
    kekuasaan melampaui nilai-nilai yang terkandung dalam ikatan-ikatan etnis, ras, ikatan persaudaraan, agama dan lainnya. Transformasi dan kompetisi merebutkan kekuasaan tanpa disertai norma, aturan, dan etika; nilai-nilai dalam ikatan-ikatan itu seakan tidak berdaya menjinakan kekuasaan. Daya rusak kekuasaan telah lama diungkap dalam suatu adagium ilmu politik, power tends to corrupt, absolute power tends to corrupt absoluteny. Pemilu 2004 adalah pemilu kedua dalam masa transisi demokrasi. Pemilu mendatang diharapkan dapat menjadi pelajaran dan pengalaman berharga untuk membangun suatu institusi yang dapat menjamin transfer of power dan power competition dapat berjalan secara damai dan beradab. Untuk itu, pemilu 2004 harus diatur dalam suatu kerangka regulasi dan etika yang dapat memberi jaminan agar pemilu tidak saja dapat berlangsung secara jujur dan adil, tetapi juga dapat menghasilkan wakil-wakil yang kredibel, akuntabel, dan kapabel serta sanggup menerima kepercayaan dan kehormatan dari rakyat, dalam mengelola kekuasaan yang dipercayakan kepada mereka untuk mewujudkan kesejahteraan umum. Agar pemilu 2004 dapat menjadi anggeda pelembagaan proses politik yang demokratis, diperlukan kesungguhan, terutama dari anggota parlemen, untuk tidak terjebak dalam permainan politik yang oportunistik, khususnya dalam memperjuangkan agenda subjektif masing-masing. Orientasi sempit dan egoisme politik harus dibuang jauh-jauh. Kerangka hukum perlu didukung niat politik yang sehat sehingga regulasi bukan sekedar hasil kompromi politik oportunistik dari partai-partai besar untuk menjaga kepentingannya. Bila hal itu yang terjadi, dikhwatirkan hasil pemilu akan memperkuat oligarki politik. Karena itu, partisipasi masyarakat amat diperlukan. Bahkan, tekanan publik perlu dilakukan agar kerangka hukum yang merupakan aturan permainan benar-benar menjadi sarana menghasilkan pemilu yang demokratis. Untuk itu, perlu diberikan beberapa catatan mengenai perkembangan konsensus politik dari peraturan kepentingan di parlemen serta saran mengenai regulasi penyelenggaraan pemilu yang akan datang. Pertama, diperlukan penyelenggaraan pemilu yang benar-benar independen. Parsyaratan ini amat penting bagi terselenggaranya pemilu yang adil dan jujur. Harapan itu tampaknya memperlihatkan tanda-tanda akan menjadi kenyataan setelah pansus pemilu menyetujui bahwa kondisi pemilihan umum (KPU) benar-benar menjadi lembaga independen dan berwewenang penuh dalam menyelenggarakan pemilu. Sekretariat KPU yang semula
  • 5.
    mempunyai dua atasan:untuk urusan operasional bertanggung jawab kepada KPU, telah disatukan dalam struktur yang tidak lagi bersifat dualistik. Struktur yang sama diterapkan pula ditingkat propinsi serta kabupaten dan kota. Kedua, kesepakatan mengenai sistem proporsional terbuka, kesepakatan partai-partai menerima sistem pemilu proporsional terbuka adalah suatu kemajuan. Sejak semula, sebenarnya argumen kontra terhadap sistem proporsional terbuka dengan menyatakan sistem ini terlalu rumit gugur dengan sendirinya. Begitu suatu masyarakat atau bangsa sepakat memilih sistem demokrasi, saat itu harus menyadari bahwa mewujudkan tatanan politik yang demokratis itu selain rumit, diperlukan kesabaran melakukan pendidikan politik bagi rakyat. Sebab, partai politik bukan saja instrumen untuk melakukan perburuan kekuasaan, tetapi juga institusi yang mempunyai tugas melakukan pendidikan dan sosialisasi politik kepada masyarakat. Ketiga, pengawasan terhadap penyelenggaraan pemilu supaya kebih efektif dari pemilu 2004. Caranya antara lain, agar pengawas pemilu selain terdiri dari aparat penegak hukum dan KPU, juga melibatkan unsur-unsur masyarakat. Selain itu, perlu semacam koordinasi diantara lembaga pemantau dan pengawas pemilu sehingga tidak tumpang tindih. Pengawasan dilakukan terhadap seluruh tahapan kegiatan pemilu. Tugas lembaga pengawas adalah menampung, menindak lanjuti, membuat penyilidikan dan memberi saksi terhadap pelanggaran pemilu. Keempat, Money politics mencegas habis-habisan permainan uang dalam pemilu mendatang amat penting sekali. Upaya itu amat perlu dilakukan mengingat money politics dewasa ini telah merebak luas dan mendalam dalam kehidupan pilih memilih pemimpin mulai dari elite politik sampai dibeberapa organisasi sosial dan kemahasiswaan. Karena itu, kontrol terhadap dana kampanye harus lebih ketat. Misalnya, Batasan sumbangan berupa uang, mengonversikan utang dan sumbangan barang dalam bentuk perhitungan rupiah, dilarang memperoleh bantuan dari sumber asing dan APBN/APBD lebih-lebih sumber ilegal dan tentu saja hukuman pidana yang tegas dan setimpal bagi para pelanggarannya. Kelima, pendidikan politik perlu segera dilakukan baik oleh organisasi masyarakat dan partai politik. Bagaimanapun, pemilihan mendatang mengandung unsur-unsur baru serta detail-detail yang sangat perlu diketahui oleh masyarakat.
  • 6.
    b. Pemilih danHak Pilih Persyaratan mendasar dari pemerintahan perwakilan daerah adalah bahwa rakyat mempunyai peluang untuk memilih anggota dewan yang memegang peranan dan bertanggung jawab dalam proses pemerintahan. Masken Jie (1961) berpendapat bahwa pemilihan bebas, walaupun bukan puncak dari segalanya, masih merupakan suatu cara yang bernilai paling tinggi, karena belum ada pihak yang dapat mencipatakan suatu rancangan politik yang lebih baik dari cara tersebut untuk kepentingan berbagai kondisi yang diperlukan guna penyelenggaraan pemerintahan dalam masyarakat manapun. Pertama, pemilihan dapat menciptakan suatu suasana dimana masyarakat mampu menilai arti dan manfaat sebuah pemerintahan. Kedua, pemilihan dapat memberikan suksesi yang tertib dalam pemerintahan, melalui transfer kewenangan yang damai kepada pemimpin yang baru ketika tiba waktunya bagi pemimpin lama untuk melepaskan jabatannya, baik karena berhalanga tetap atau karena berakhirnya suatu periode kepemimpinan. Pada sistem pemerintahan nonperwakilan daerah, peranan warga daerah terbatas pada hal-hal yang relatif tidak terorganisasi dan tidak langsung dalam urusan pemerintahan daerahnya. Rakyat harus memainkan peranan yang aktif dan langsung jika pemerintahan perwakilan diinginkan untuk menjadi dinamis dan bukan merupakan proses statis. Ada banyak kepentingan dan pengaruh warga daerah untuk melibatkan diri dalam proses pemerintahan daerah, tetapi yang paling mendasar adalah melalui pemilihan para wakilnya dalam kepemimpinan daerah. c. Hak Untuk Memilih Suatu hak pilih yang umum merupakan dasar dari pemerintahan perwakilan dan pengembangannya diberbagai negara merupakan fenomena yang paling penting dalam kaitannya dengan pemerintahan perwakilan daerah yang modern. Pada abad 19, banyak negara belum mempunyai proses pemilihan untuk posisi-posisi pada pemerintahan daerah. Di negara lainnya, hak untuk memilih seringkali dibatasi pada sejumlah kecil penduduknya. Namun perkembangan selama satu abad terakhir ini menunjukan adanya kemajuan yang berarti dalam mengalihkan hak dari beberapa orang saja menjadi hak bagi semua, atau lebih tepat lagi berupa hak bagi hampir semua, karena pada sistem hak pilih yang paling luas pun masih ada beberapa diantaranya yang tidak memenuhi syarat untuk memilih. Dalam banyak hal, hak untuk memilih bagi perwakilan pada lembaga daerah terbatas pada
  • 7.
    satu orang yangmerupakan warga daerah tersebut. Namun pengecualiannya dapat dijumpai pada persemakmuran Inggris yang hukum kewarganegaraannya menyatakan bahwa warga negara dalam persemakmuran manapun dapat memilih di Inggris Raya, bila ia dinayatakan memenuhi syarat (HMSO, 1965). Dewasa ini sudah menjadi fenomena yang umum untuk memberikan hak pilih kepada seseorang yang sudah mencapai “umur yang bertanggung jawab”. Ada dua persyaratan lain yang sering diungkapkan dalam cara yang agak negatif. Diketahui bahwa sudah menjadi hal yang biasa disetiap negara untuk menghapus hal pilih dari mereka yang tidak waras atau catat mental dan mereka yang sedang menjalani hukuman penjara. Demikian pula, ada beberapa negara yang tidak membolehkan warganya yang telah menjalani masa tahanan dalam penjara selama waktu yang cukup lama untuk ikut memilih. Di indonesia, mereka yang dihukum diatas lima tahun tidak diperkenankan mengikuti pemilihan umum. d. Pemilu Sistem Proporsional Umumnya ada dua sistem pelaksanaan pemilihan umum yang dipakai, yaitu: pemilu sistem distrik dan pemilu sistem proporsional. Namun yang akan dibahas penulis ialah pemilu sistem proporsional. Sistem ini perjumlah penduduk pemilih misalnya setiap 40.000 penduduk pemilih memperoleh satu wakil (suara berimbang), sedangkan yang dipilih adalah sekelompok orang yang diajukan kontekstan pemilu (multy member constituency), sehingga wakil dan pemilih kurang akrab. Tetapi sisah dapat digabung secara nasional untuk kursi tambahan, dengan begitu partai kecil dapat dihargai tanpa harus beraliansi, karena suara pemilih dihargai. Indonesia berada ditengah-tengah sistem ini (sistem campuran) dalam pemilihan selama orde baru, tetapi sedikit cenderung agak mirip pada sistem proporsional. e. Kelemahan dan Kelebihan Sistem Proporsional Kelemahan 1. Sistem ini mempermudah fragmentasi partai dan timbulnya partai-partai baru. Sistem ini tidak menjurus kearah integrasi bermacam-macam golongan dalam masyarakat, mereka lebih cenderung lebih mempertajam perbedaan-perbedaan yang ada dan kurang terdorong untuk mencari dan memanfaatkan persamaan-persamaan. Umumnya diaggap bahwa sistem ini mempunyai akibat memperbanyak jumlah partai; 2. Wakil yang terpilih merasa dirinya lebih terikat kepada partai dan kurang merasakan
  • 8.
    loyalitas kepada daerahyang telah memilihnya. Hal-hal semacam ini partai lebih menonjol perannya dari pad kepribadian seseorang. Hal ini memperkuat kedudukan pimpinan partai. Kelebihan 1. Partai politik bisa leluasa menentukan siapa yang bakal calon. 2. integritas secara citra partai lebih “solid” karana para pemilih mendukung atau mencoblos partai politik serta calonnya. 3. pencalonan perempuan okeh partai politik sebagai anggota legislatif sebanyak 30 %. BAB III PENUTUP Kesimpulan Dalam ilmu politik dikenal bermacam-macam sistem pemilu, akan tetapi umumnya ada dua prinsip pokok yaitu: sistem distrik dan sistem proporsional, namun pada pemilu 2009 menggunakan sistem pemilu proporsional. Sebagai catatan penutup perlu dikemukakan, perjalanan yang akan ditempuh bangsa Indonesia dalam mengukir demokrasi masih amat panjang dan melelahkan. Kebiasaan melakukan pergantian kekuasaan dan sirkulasi elite penguasa yang reguler, aman dan beradab hanya dapat dilakukan melalui serangkaian pemilu yang jujur dan adil. Politik merupakan kualitas yang paling penting untuk membangkitkan dan mengorganisasikan minat dan partisipasi rakyat dalam penyelenggaraan pemerintahan ditingkat daerah. Pada unit pemerintahan yang lebih besar, politik memegang peranan
  • 9.
    penting dalam prosespemerintahan perwakilan. Untuk mewujudkan aspirasi masyarakat guna mewujudkan good governance. Dalam rangka hal tersebut, diperlukan pengembangan dan penerapan sistem pertanggung jawaban yang tepat, jelas dan nyata sehingga penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan dapat berlangsung secara berdaya guna, berhasil guna, bersih dan bertanggung jawab serta bebas KKN.