MAKALAH MIKROBIOLOGI
“EFEKTIFITAS AGEN HAYATI (Gliocladium sp) DALAM
MENGENDALIKAN PENYAKIT BUSUK AKAR PADA
JAMBU METE.”
Disusun oleh
Nama : Ekal Kurniawan
NIM : A. 1411129
PROGRAM STUDY AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS DJUANDA
BOGOR
2016
Page | i
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penyusun ucapkan kehadirat Allah SWT atas limpahan
rahmat dan karunia-Nya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“EFEKTIFITAS AGEN HAYATI (Gliocladium sp) DALAM
MENGENDALIKAN PENYAKIT BUSUK AKAR PADA JAMBU METE’’.
Tugas ini ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Mikrobiologi Pertanian.
Tugas ini disusun agar pembaca dapat mengetahui secara mendalam
mengenai agen hayati pengendali penyakit yang terjadi pada tanaman. Penyusun
mengucapkan terimakasih kepada Bapak Ir. Nur Rochman, MP. Selaku dosen
mata kuliah Mikrobiologi Pertanian yang memberikan ilmu dasar mengenai
Mikrobiologi, serta pihak-pihak terkait yang membantu dalam menyelesaikan
makalah ini.
Penyusun mengakui masih banyak kekurangan dalam makalah ini karena
keterbatasan ilmu, pengetahuan dan pengalaman. Semoga dengan makalah ini
dapat memberikan manfaat kepada penyusun khususnya dan kepada setiap
pembaca umumnya.
Page | ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..........................................................................................i
DAFTAR ISI .......................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...........................................................................................1
1.2 Tujuan........................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Gliocladium sp..........................................................................................3
2.2 Klasifikasi ..................................................................................................3
2.3 Morfologi...................................................................................................4
2.4 Peranan ......................................................................................................4
BAB III PEMBAHASAN
BAB IV KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Page | 1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) merupakan salah satu
faktor pembatas dalam peningkatan produksi pertanian. Untuk pengendalian OPT,
jalan pintas yang sering dilakukan adalah menggunakan pestisida kimia. Padahal
penggunaan pestisida yang tidak bijaksana banyak menimbulkan dampak negatif,
antara lain terhadap kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan hidup.
Memperhatikan pengaruh negatif pestisida tersebut, perlu dicari cara-cara
pengendalian yang lebih aman dan akrab dengan lingkungan. Hal ini sesuai
dengan konsepsi Pengendalian Hama Terpadu (PHT), bahwa pengendalian OPT
dilaksanakan dengan mempertahankan kelestarian lingkungan, aman bagi
produsen dan konsumen serta menguntungkan bagi petani. Salah satu alternatif
pengendalian adalah pemanfaatan jamur antagonis patogen tumbuhan, yaitu jamur
Gliocladium sp.
Jambu mete (Anacardium occidentale) adalah komoditas ekspor dan
mempunyai prospek pasar dalam negeri cukup besar. Tanaman ini berpotensi
untuk dikembangkan dikawasan Indonesia Timur atau lahan marginal. Salah satu
kendala dalam pengembangan jambu mete di Indonesia adalah serangan penyakit
yang disebabkan oleh patogen tanaman. Salah satu penyakit utama pada jambu
mete adalah penyakit busuk akar yang disebabkan oleh beberapa jenis jamur
patogenik. Sejak tahun 1992 tanaman jambu mete usia produktif yang
dikembangkan dikawasan Bali, NTT, dan NTB banyak terserang penyakit busuk
akar, dan jumlahnya meningkat dari tahun ke tahun sehingga diperlukan teknologi
pengendalian yang efisien dan efektif untuk menekan penyebaran penyakit
tersebut.
Pada tahun 2001, melalui proyek PHT Perkebunan Rakyat, telah dilakukan
serang-kaian penelitian untuk memperoleh paket teknologi pengendalian penyakit
busuk akar. Komponen yang diuji adalah pestisida nabati, agen hayati dan bahan
Page | 2
organik dari limbah tanaman disertai pemupukan NPK yang dilaksanakan selama
3 tahun anggaran. Hasil pembibitan menunjukkan bahwa kombinasi penggunaan
komponen teknologi tersebut dapat menghambat serangan jamur busuk akar dan
memperbaiki produksi tanaman yang terserang. Efektivitas terbaik dihasilkan oleh
kombinasi penggunaan fungisida nabati Mitol 20 EC, kompos Bio-TRIBA
(limbah organik diolah dengan menggunakan Bacillus pantot kenticus dan
Trichoderma lactae) disertai pemberian pupuk NPK pada tahun ke 2 dan 3.
Kemajuan ilmu pengetahuan berdampak pada lingkungan, tidak terkecuali
pertanian yaitu budidaya tanaman. salah satu masalah utama yaitu serangan OPT
mikroba antagonis merupakan suatu jasad renik yang dapat menekan,
menghambat atau memusnahkan mikroba lainnya.
1.2 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah mengetahui peran gliocladium sp
pada tanaman jambu mete.
Page | 3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Cendawan Gliocladium sp.
Cendawan Gliocladium sp. adalah salah satu agens hayati yang telah
banyak dimanfaatkan untuk mengendalikan berbagai patogen yang menginfeksi
berbagai tanaman budidaya. Sebagai agens hayati, Gliocladium sp. dapat tumbuh
sebagai saprofit ketika tidak ada tanaman inangnya, sehingga keberadaannya di
alam relatif lebih lama sehingga potensial untuk digunakan sebagai agens hayati
untuk mengendalikan patogen dilapangan.
Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa pengunaan Gliocladium
sp. terbukti mampu menekan kejadian penyakit pada berbagai tanaman budidaya
seperti layu akar pada tanaman tomat, penyebab hawar Sclerotium roflsi pada
tanaman kacang tanah dan Cylindrocladium sp. penyebab penyakit lodoh pada
persemaian tanaman hutan. Menurut Yuliawati (2002) kemampuan Gliocladium
sp. sebagai agens hayati adalah dengan menurunkan jumlah dan aktivitas patogen
tanah melalui mekanisme kompetisi, parasitisme, antibiosis dan induksi
ketahanan. Gliocladium sp. juga dapat menghasilkan senyawa metabolit seperti
gliotoksin, viridin dan paraquinon yang bersifat fungitoksik terhadap patogen.
Gliotoksin dapat menghambat cendawan dan bakteri, sedangkan viridin dapat
menghambat cendawan.
2.2 Klasifikasi
Kingdom : Fungi
Divisi : Amastigomycota
Class : Deuteromycitina
Ordo : Hypocreales
Famili : Hypocreaceae
Page | 4
Genus : Gliocladium
Spesiaes : Gliocladium sp.
2.3 Morfologi
Konidiofor Gliocladium sp. berwarna hialin.
Bagian atas membentuk cabang-cabang yang kompak
Bentuk konidia Gliocladium sp. kecil, tidak simetris dan berwarna hijau
cerah.
Tumbuh baik pada suhu 20–35oC, suhu optimum untuk pertumbuhannya
pada suhu 25 o
C, pH optimum antara 6,4 – 8.
Sangat toleran terhadap CO2. koloninya berwana hijau muda dengan
miselia panjang dan halus, diameter 5-8 cm dalam waktu 5 hari di medium
OA.
Bersifat mikroparasit terhadap jamur pathogen (tular tanah) yang
membunuh jamur dengan enzim-enzim atau bersifat racun.
Cara kerja jamur ini adalah dengan memarasit, memproduksi antibiotik
dan secara aktif membunuh atau melawan pathogen penyakit.
2.4 Peranan Gliocladium sp.
Gliocladium sp. Merupakan agens antagonis tumbuhan yang dapat
berperan menekan populasi atau aktivitas patogen tumbuhan. Agens antagonis
patogen tumbuhan adalah patogen yang dapat menimbulkan penyakit. Agens
tersebut tidak dapat mengejar inang yang telah masuk ke dalam tanaman.
Efektivitasnya dapat dilihat dengan tidak berkembangnya penyakit tersebut.
Peran antagonis Gliocladium sp. terhadap patogen tular tanah adalah
dengan cara kerja berupa parasitisme, kompetisi, dan antibiosis. Dilaporkan
Gliocladium sp. dapat memproduksi gliovirin dan viridian yang merupakan
antibiotik yang bersifat fungisistik. Gliovirin merupakan senyawa yang dapat
menghambat pertumbuhan beberapa jamur patogen dan bakteri.
Page | 5
BAB III
PEMBAHASAN
Tanaman jambu mete (Anacardium occidentale L.) merupakan salah satu
komoditas perkebunan strategis yang dapat meningkatkan pendapatan petani
terutama di lahan- lahan marginal yang banyak terdapat di Indonesia. Timur
seperti NTB, NTT, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku dan Bali.
Pengembangan tanaman jambu mete di daerah tersebut telah dilaksanakan secara
luas melaluiproyek pemerintah bekerjasama dengan beberapa badan keungan
dunia. Sejalan dengan perluasan areal pengembangan, telah dilaporkan adanya
tanaman yang terserang berbagai jenis Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)
yang merugikan petani, yang apabila tidak segera dikendalikan dikhawatirkan
akan menjadi masalah serius di kemudian hari.
Penyakit- penyakit yang disebabkan oleh beberapa jamur patogen yang
telah dilaporkan menyerang jambu mete antara lain : Fusarium oxysporum, F.
solani (Tombe et al., 1997), Phytium sp., Phytophtora sp., dan
Cylindrocladiaum sp. (Sastrahidayat dan Sumarno, 1990; Sitepu, 1994) yang
menyebabkan gejala busuk akar, layu maupun damping off (Murkerji dan Bhasin,
1986), Botryodiplodia theobromae penyebab gumosis (Supriadi et al.,1995), dan
penyakit jamur akar yang disebabkan oleh Rigidoporus lignosis (Arya dan
Temaja, 1996). Dari OPT tersebut di atas yang paling berpotensi dalam menim-
bulkan kerusakan adalah serangga hama Helopeltis spp dan jamur busuk akar.
Gliocladium sp. disamping sebagai agen hayati juga telah dilaporkan
sebagai fungi yang dapat dimanfaatkan dalam pembuatan fungisida yang bermutu.
Gliocladium sp., dapat memproduksi gliovirin dan viridian yang merupakan
antibiotik yang bersifat fungisistik. Gliovirin merupakan senyawa yang dapat
menghambat pertumbuhan beberapa jamur patogen dan bakteri.
Penyakit Busuk Batang dan Akar. Gejala serangan yang disebabkan oleh Pythium
sp. ialah menguningnya daun bagian bawah dan tanaman menjadi kerdil. Bibit
yang terserang akarnya membusuk mulai dari ujung akar. Gejala serangan yang
Page | 6
disebabkan oleh Phytophthora sp. ialah bibit yang terserang menjadi pucat dengan
jaringan berwarna gelap sepanjang tangkai, dan pada serangan lanjut bibit
membengkak, layu akhirnya busuk/roboh. Gejala serangan yang disebabkan oleh
Fusarium sp. ialah terjadinya pemucatan daun yang diikuti meruntuhnya tangkai
daun dan layu. Batang yang terserang berwarna coklat, hitam dan kuning.
Kelayuan terjadi mulai dari daun terbawah dan terus kebagian atas. Bibit yang
terserang segera layu dan mati.
Pengendalian penyakit dilakukan dengan membongkar akar pohon yang
terserang berat atau mati dan di bakar. Bekas bongkaran tersebut ditaburi dengan
serbuk belerang sirus dengan dosis 200g/pohon dan dibiarkan terbuka sampai 6
bulan. Pohon disekitarnya ditaburi dengan jamur Gliocladius sp. yang
menghambat perkembangan penyakit busuk batang dan akar, kemudian diberi
pupuk organik 1,5 kali dosis anjuran.
Penyebaran penyakit terjadi melalui spora yang terbawa oleh air, alat-alat
pertanian yang sudah terkontaminasi, bibit sakit dan tanah yang sudah terinfeksi.
Bibit atau tanaman yang terserang dicabut dan dibakar. Tanah atau lubang bekas
tanaman dicampur kapur dan dibiarkan terkena sinar matahari. Membuat selokan
drainase dan mengatur naungan dipembibitan perlu dilakukan untuk mengurangi
kelembaban.
Page | 7
BAB IV
KESIMPULAN
Kesimpulan dari penulisan makalah yang berjudul “EFEKTIFITAS AGEN
HAYATI (Gliocladium sp) DALAM MENGENDALIKAN PENYAKIT BUSUK
AKAR PADA JAMBU METE”. Bahwa, gliocladium sp. Merupakan agens
antagonis tumbuhan yang dapat berperan menekan populasi atau aktivitas patogen
tumbuhan. Agens antagonis patogen tumbuhan adalah patogen yang dapat
menimbulkan penyakit. Agens tersebut tidak dapat mengejar inang yang telah
masuk ke dalam tanaman. Efektivitasnya dapat dilihat dengan tidak
berkembangnya penyakit tersebut.
Penyakit busu batang dan akar adalah penyakit yang disebabkan oleh
Pythium sp., Phytophthora sp., Ordo Peronosporales, Kelas Oomycetes dan
Fusarium sp., Ordo Sphaeriales, Kelas Ascomycetes.
Pengendalian penyakit dilakukan dengan membongkar akar pohon yang
terserang berat atau mati dan di bakar. Bekas bongkaran tersebut ditaburi dengan
serbuk belerang sirus dengan dosis 200g/pohon dan dibiarkan terbuka sampai 6
bulan. Pohon disekitarnya ditaburi dengan jamur Gliocladius sp. yang
menghambat perkembangan penyakit busuk batang dan akar, kemudian diberi
pupuk organik 1,5 kali dosis anjuran.
Page | 8
DAFTAR PUSTAKA
Tombe, M. dkk. 2002. PENGENDALIAN PENYAKIT JAMUR AKAR PUTIH
(JAP)JAMBU METE SECARATERPADU. http://balittro.litbang.per
tanian .go. id /ind/images/file/Perkembangan%20TRO/edsusvol17no1/3-
Mesak-Mente.pdf. Diakses 26 Juni 2016.
Gusnawaty, dkk. Juli 2013. UJI EFEKTIVITAS BEBERAPA MEDIA UNTUK
PERBANYAKAN AGENSHAYATI Gliocladium sp. Jurnal. Volume 3,
No. 2. http://faperta.uho.ac.id/agroteknos/Daftar_Jurnal/2013/2013-2-02-
GUSNAWATY-medium%20glio%20(OK).pdf. 26 Juni 2016.
Anonim. 2001. MUSUH ALAMI, HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN
JAMBU METE. Direktorat Perlindungan Perkebunan, Direktorat Jenderal
Bina Produksi Perkebunan Departemen Pertanian Jakarta.
http://www.mamud.com/Docs/Cashew.pdf. 26 Juni 2016.

Makalah (anacardium occidentale)

  • 1.
    MAKALAH MIKROBIOLOGI “EFEKTIFITAS AGENHAYATI (Gliocladium sp) DALAM MENGENDALIKAN PENYAKIT BUSUK AKAR PADA JAMBU METE.” Disusun oleh Nama : Ekal Kurniawan NIM : A. 1411129 PROGRAM STUDY AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS DJUANDA BOGOR 2016
  • 2.
    Page | i KATAPENGANTAR Puji dan syukur penyusun ucapkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “EFEKTIFITAS AGEN HAYATI (Gliocladium sp) DALAM MENGENDALIKAN PENYAKIT BUSUK AKAR PADA JAMBU METE’’. Tugas ini ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Mikrobiologi Pertanian. Tugas ini disusun agar pembaca dapat mengetahui secara mendalam mengenai agen hayati pengendali penyakit yang terjadi pada tanaman. Penyusun mengucapkan terimakasih kepada Bapak Ir. Nur Rochman, MP. Selaku dosen mata kuliah Mikrobiologi Pertanian yang memberikan ilmu dasar mengenai Mikrobiologi, serta pihak-pihak terkait yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Penyusun mengakui masih banyak kekurangan dalam makalah ini karena keterbatasan ilmu, pengetahuan dan pengalaman. Semoga dengan makalah ini dapat memberikan manfaat kepada penyusun khususnya dan kepada setiap pembaca umumnya.
  • 3.
    Page | ii DAFTARISI KATA PENGANTAR ..........................................................................................i DAFTAR ISI .......................................................................................................ii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ...........................................................................................1 1.2 Tujuan........................................................................................................2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gliocladium sp..........................................................................................3 2.2 Klasifikasi ..................................................................................................3 2.3 Morfologi...................................................................................................4 2.4 Peranan ......................................................................................................4 BAB III PEMBAHASAN BAB IV KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA
  • 4.
    Page | 1 BABI PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) merupakan salah satu faktor pembatas dalam peningkatan produksi pertanian. Untuk pengendalian OPT, jalan pintas yang sering dilakukan adalah menggunakan pestisida kimia. Padahal penggunaan pestisida yang tidak bijaksana banyak menimbulkan dampak negatif, antara lain terhadap kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan hidup. Memperhatikan pengaruh negatif pestisida tersebut, perlu dicari cara-cara pengendalian yang lebih aman dan akrab dengan lingkungan. Hal ini sesuai dengan konsepsi Pengendalian Hama Terpadu (PHT), bahwa pengendalian OPT dilaksanakan dengan mempertahankan kelestarian lingkungan, aman bagi produsen dan konsumen serta menguntungkan bagi petani. Salah satu alternatif pengendalian adalah pemanfaatan jamur antagonis patogen tumbuhan, yaitu jamur Gliocladium sp. Jambu mete (Anacardium occidentale) adalah komoditas ekspor dan mempunyai prospek pasar dalam negeri cukup besar. Tanaman ini berpotensi untuk dikembangkan dikawasan Indonesia Timur atau lahan marginal. Salah satu kendala dalam pengembangan jambu mete di Indonesia adalah serangan penyakit yang disebabkan oleh patogen tanaman. Salah satu penyakit utama pada jambu mete adalah penyakit busuk akar yang disebabkan oleh beberapa jenis jamur patogenik. Sejak tahun 1992 tanaman jambu mete usia produktif yang dikembangkan dikawasan Bali, NTT, dan NTB banyak terserang penyakit busuk akar, dan jumlahnya meningkat dari tahun ke tahun sehingga diperlukan teknologi pengendalian yang efisien dan efektif untuk menekan penyebaran penyakit tersebut. Pada tahun 2001, melalui proyek PHT Perkebunan Rakyat, telah dilakukan serang-kaian penelitian untuk memperoleh paket teknologi pengendalian penyakit busuk akar. Komponen yang diuji adalah pestisida nabati, agen hayati dan bahan
  • 5.
    Page | 2 organikdari limbah tanaman disertai pemupukan NPK yang dilaksanakan selama 3 tahun anggaran. Hasil pembibitan menunjukkan bahwa kombinasi penggunaan komponen teknologi tersebut dapat menghambat serangan jamur busuk akar dan memperbaiki produksi tanaman yang terserang. Efektivitas terbaik dihasilkan oleh kombinasi penggunaan fungisida nabati Mitol 20 EC, kompos Bio-TRIBA (limbah organik diolah dengan menggunakan Bacillus pantot kenticus dan Trichoderma lactae) disertai pemberian pupuk NPK pada tahun ke 2 dan 3. Kemajuan ilmu pengetahuan berdampak pada lingkungan, tidak terkecuali pertanian yaitu budidaya tanaman. salah satu masalah utama yaitu serangan OPT mikroba antagonis merupakan suatu jasad renik yang dapat menekan, menghambat atau memusnahkan mikroba lainnya. 1.2 Tujuan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah mengetahui peran gliocladium sp pada tanaman jambu mete.
  • 6.
    Page | 3 BABII TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Cendawan Gliocladium sp. Cendawan Gliocladium sp. adalah salah satu agens hayati yang telah banyak dimanfaatkan untuk mengendalikan berbagai patogen yang menginfeksi berbagai tanaman budidaya. Sebagai agens hayati, Gliocladium sp. dapat tumbuh sebagai saprofit ketika tidak ada tanaman inangnya, sehingga keberadaannya di alam relatif lebih lama sehingga potensial untuk digunakan sebagai agens hayati untuk mengendalikan patogen dilapangan. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa pengunaan Gliocladium sp. terbukti mampu menekan kejadian penyakit pada berbagai tanaman budidaya seperti layu akar pada tanaman tomat, penyebab hawar Sclerotium roflsi pada tanaman kacang tanah dan Cylindrocladium sp. penyebab penyakit lodoh pada persemaian tanaman hutan. Menurut Yuliawati (2002) kemampuan Gliocladium sp. sebagai agens hayati adalah dengan menurunkan jumlah dan aktivitas patogen tanah melalui mekanisme kompetisi, parasitisme, antibiosis dan induksi ketahanan. Gliocladium sp. juga dapat menghasilkan senyawa metabolit seperti gliotoksin, viridin dan paraquinon yang bersifat fungitoksik terhadap patogen. Gliotoksin dapat menghambat cendawan dan bakteri, sedangkan viridin dapat menghambat cendawan. 2.2 Klasifikasi Kingdom : Fungi Divisi : Amastigomycota Class : Deuteromycitina Ordo : Hypocreales Famili : Hypocreaceae
  • 7.
    Page | 4 Genus: Gliocladium Spesiaes : Gliocladium sp. 2.3 Morfologi Konidiofor Gliocladium sp. berwarna hialin. Bagian atas membentuk cabang-cabang yang kompak Bentuk konidia Gliocladium sp. kecil, tidak simetris dan berwarna hijau cerah. Tumbuh baik pada suhu 20–35oC, suhu optimum untuk pertumbuhannya pada suhu 25 o C, pH optimum antara 6,4 – 8. Sangat toleran terhadap CO2. koloninya berwana hijau muda dengan miselia panjang dan halus, diameter 5-8 cm dalam waktu 5 hari di medium OA. Bersifat mikroparasit terhadap jamur pathogen (tular tanah) yang membunuh jamur dengan enzim-enzim atau bersifat racun. Cara kerja jamur ini adalah dengan memarasit, memproduksi antibiotik dan secara aktif membunuh atau melawan pathogen penyakit. 2.4 Peranan Gliocladium sp. Gliocladium sp. Merupakan agens antagonis tumbuhan yang dapat berperan menekan populasi atau aktivitas patogen tumbuhan. Agens antagonis patogen tumbuhan adalah patogen yang dapat menimbulkan penyakit. Agens tersebut tidak dapat mengejar inang yang telah masuk ke dalam tanaman. Efektivitasnya dapat dilihat dengan tidak berkembangnya penyakit tersebut. Peran antagonis Gliocladium sp. terhadap patogen tular tanah adalah dengan cara kerja berupa parasitisme, kompetisi, dan antibiosis. Dilaporkan Gliocladium sp. dapat memproduksi gliovirin dan viridian yang merupakan antibiotik yang bersifat fungisistik. Gliovirin merupakan senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan beberapa jamur patogen dan bakteri.
  • 8.
    Page | 5 BABIII PEMBAHASAN Tanaman jambu mete (Anacardium occidentale L.) merupakan salah satu komoditas perkebunan strategis yang dapat meningkatkan pendapatan petani terutama di lahan- lahan marginal yang banyak terdapat di Indonesia. Timur seperti NTB, NTT, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku dan Bali. Pengembangan tanaman jambu mete di daerah tersebut telah dilaksanakan secara luas melaluiproyek pemerintah bekerjasama dengan beberapa badan keungan dunia. Sejalan dengan perluasan areal pengembangan, telah dilaporkan adanya tanaman yang terserang berbagai jenis Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang merugikan petani, yang apabila tidak segera dikendalikan dikhawatirkan akan menjadi masalah serius di kemudian hari. Penyakit- penyakit yang disebabkan oleh beberapa jamur patogen yang telah dilaporkan menyerang jambu mete antara lain : Fusarium oxysporum, F. solani (Tombe et al., 1997), Phytium sp., Phytophtora sp., dan Cylindrocladiaum sp. (Sastrahidayat dan Sumarno, 1990; Sitepu, 1994) yang menyebabkan gejala busuk akar, layu maupun damping off (Murkerji dan Bhasin, 1986), Botryodiplodia theobromae penyebab gumosis (Supriadi et al.,1995), dan penyakit jamur akar yang disebabkan oleh Rigidoporus lignosis (Arya dan Temaja, 1996). Dari OPT tersebut di atas yang paling berpotensi dalam menim- bulkan kerusakan adalah serangga hama Helopeltis spp dan jamur busuk akar. Gliocladium sp. disamping sebagai agen hayati juga telah dilaporkan sebagai fungi yang dapat dimanfaatkan dalam pembuatan fungisida yang bermutu. Gliocladium sp., dapat memproduksi gliovirin dan viridian yang merupakan antibiotik yang bersifat fungisistik. Gliovirin merupakan senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan beberapa jamur patogen dan bakteri. Penyakit Busuk Batang dan Akar. Gejala serangan yang disebabkan oleh Pythium sp. ialah menguningnya daun bagian bawah dan tanaman menjadi kerdil. Bibit yang terserang akarnya membusuk mulai dari ujung akar. Gejala serangan yang
  • 9.
    Page | 6 disebabkanoleh Phytophthora sp. ialah bibit yang terserang menjadi pucat dengan jaringan berwarna gelap sepanjang tangkai, dan pada serangan lanjut bibit membengkak, layu akhirnya busuk/roboh. Gejala serangan yang disebabkan oleh Fusarium sp. ialah terjadinya pemucatan daun yang diikuti meruntuhnya tangkai daun dan layu. Batang yang terserang berwarna coklat, hitam dan kuning. Kelayuan terjadi mulai dari daun terbawah dan terus kebagian atas. Bibit yang terserang segera layu dan mati. Pengendalian penyakit dilakukan dengan membongkar akar pohon yang terserang berat atau mati dan di bakar. Bekas bongkaran tersebut ditaburi dengan serbuk belerang sirus dengan dosis 200g/pohon dan dibiarkan terbuka sampai 6 bulan. Pohon disekitarnya ditaburi dengan jamur Gliocladius sp. yang menghambat perkembangan penyakit busuk batang dan akar, kemudian diberi pupuk organik 1,5 kali dosis anjuran. Penyebaran penyakit terjadi melalui spora yang terbawa oleh air, alat-alat pertanian yang sudah terkontaminasi, bibit sakit dan tanah yang sudah terinfeksi. Bibit atau tanaman yang terserang dicabut dan dibakar. Tanah atau lubang bekas tanaman dicampur kapur dan dibiarkan terkena sinar matahari. Membuat selokan drainase dan mengatur naungan dipembibitan perlu dilakukan untuk mengurangi kelembaban.
  • 10.
    Page | 7 BABIV KESIMPULAN Kesimpulan dari penulisan makalah yang berjudul “EFEKTIFITAS AGEN HAYATI (Gliocladium sp) DALAM MENGENDALIKAN PENYAKIT BUSUK AKAR PADA JAMBU METE”. Bahwa, gliocladium sp. Merupakan agens antagonis tumbuhan yang dapat berperan menekan populasi atau aktivitas patogen tumbuhan. Agens antagonis patogen tumbuhan adalah patogen yang dapat menimbulkan penyakit. Agens tersebut tidak dapat mengejar inang yang telah masuk ke dalam tanaman. Efektivitasnya dapat dilihat dengan tidak berkembangnya penyakit tersebut. Penyakit busu batang dan akar adalah penyakit yang disebabkan oleh Pythium sp., Phytophthora sp., Ordo Peronosporales, Kelas Oomycetes dan Fusarium sp., Ordo Sphaeriales, Kelas Ascomycetes. Pengendalian penyakit dilakukan dengan membongkar akar pohon yang terserang berat atau mati dan di bakar. Bekas bongkaran tersebut ditaburi dengan serbuk belerang sirus dengan dosis 200g/pohon dan dibiarkan terbuka sampai 6 bulan. Pohon disekitarnya ditaburi dengan jamur Gliocladius sp. yang menghambat perkembangan penyakit busuk batang dan akar, kemudian diberi pupuk organik 1,5 kali dosis anjuran.
  • 11.
    Page | 8 DAFTARPUSTAKA Tombe, M. dkk. 2002. PENGENDALIAN PENYAKIT JAMUR AKAR PUTIH (JAP)JAMBU METE SECARATERPADU. http://balittro.litbang.per tanian .go. id /ind/images/file/Perkembangan%20TRO/edsusvol17no1/3- Mesak-Mente.pdf. Diakses 26 Juni 2016. Gusnawaty, dkk. Juli 2013. UJI EFEKTIVITAS BEBERAPA MEDIA UNTUK PERBANYAKAN AGENSHAYATI Gliocladium sp. Jurnal. Volume 3, No. 2. http://faperta.uho.ac.id/agroteknos/Daftar_Jurnal/2013/2013-2-02- GUSNAWATY-medium%20glio%20(OK).pdf. 26 Juni 2016. Anonim. 2001. MUSUH ALAMI, HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN JAMBU METE. Direktorat Perlindungan Perkebunan, Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan Departemen Pertanian Jakarta. http://www.mamud.com/Docs/Cashew.pdf. 26 Juni 2016.