Kelompok 11
 Edo Desvardha Fadillah
 Rachmad Nurdiansyah
 Shafa Nabilah Eka Puteri
 Takwani Suci Prestanti
Adalah pandangan masyarakat tentang
perbedaan peran, fungsi & tanggung
jawab antara perempuan dan laki–laki
yang merupakan hasil konstruksi sosial
budaya dan dapat berubah dan atau
diubah sesuai dengan perkembangan
zaman.
Peran gender adalah peran sosial yang
tidak ditentukan oleh perbedaan kelamin
seperti halnya peran kodrati.
Peran kodrati bersifat statis, sedangkan
peran gender bersifat dinamis
Peran Kodrati
 Wanita
• Menstruasi
• Mengandung
• Melahirkan
• Menyusui
• Menopause
 Pria
• Membuahi sel telur
wanita
Peran Gender
• Mencari nafkah
• Memasak
• Mengasuh anak
• Mencuci pakaian dan
alat-alat rumah tangga
• Tolong-menolong antar
tetangga dan gotong
royong dalam
menyelesaikan
pekerjaan milik
bersama.
 Diskriminasi gender adalah ketidakadilan gender
yang merupakan akibat dari adanya sistem
(struktur) sosial di mana salah satu jenis kelamin
(laki-laki atau perempuan) menjadi korban. Hal
ini terjadi karena adanya keyakinan dan
pembenaran yang ditanamkan sepanjang
peradaban manusia dalam berbagai bentuk dan
cara yang menimpa kedua belah pihak,
walaupun dalam kehidupan sehari-hari lebih
banyak dialami oleh perempuan.
 Marginalisasi (peminggiran)
 Subordinasi (penomorduaan)
 Stereotip (citra buruk)
 Violence (kekerasan)
 Beban kerja berlebihan
 Keluarga Berencana
 Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir (Safe
Motherhood)
 Penyakit Menular Seksual
 Kesehatan Reproduksi Remaja
 Kesehatan Reproduksi Lansia
 Keluarga Berencana dalam hal ini adalah
penggunaan alat kontrasepsi. Seperti diketahui
selama ini ada anggapan bahwa KB adalah
identik dengan urusan perempuan.
 Hal ini juga menunjukkan adanya budaya kuasa
dalam pengambilan keputusan untuk ber-KB.
 Dari peserta KB aktif sebanyak 425.960 peserta,
peserta KB wanita sebanyak 402.017 (94,38%),
sedangkan peserta KB pria sebanyak 23.943
(5,62%)
 Lingkungan sosial budaya yang menganggap
bahwa KB urusan perempuan, bukan urusan
pria/suami.
 Pelaksanaan program KB yang sasarannya
cenderung diarahkan kepada kaum perempuan.
 Terbatasnya tempat pelayanan KB pria.
 Rendahnya pengetahuan pria tentang KB.
 Terbatasnya informasi KB bagi pria serta informasi
tentang hak reproduksi bagi pria/suami dan
perempuan/istri.
 Sangat terbatasnya jenis kontrasepsi pria.
 Kurang berminatnya penyedia pelayanan pada KB
pria.
 Upaya peningkatan derajat kesehatan ibu, bayi
(kesehatan ibu dan bayi baru lahir) dan anak dipengaruhi
oleh kesadaran dalam perawatan dan pengasuhan anak.
 Sebagian besar kematian ibu disebabkan oleh faktor
kesehatan, antara lain :
• Perdarahan saat melahirkan
• Eklamsia.
• Infeksi.
• Persalinan macet.
• Keguguran.
 Sedangkan faktor non kesehatan antara lain kurangnya
pengetahuan ibu yang berkaitan dengan kesehatan
termasuk pola makan dan kebersihan diri.
 Budaya yg masih membedakan pemberian
makanan kepada anggota keluarga.
 Masih kurangnya pengetahuan suami dan anggota
keluarga tentang perencanaan kehamilan.
 Perempuan kurang memperoleh informasi dan
pelayanan yang memadai karena alasan ekonomi
maupun waktu
 Status dan posisi perempuan yg masih dianggap
lebih rendah dan tidak mempunyai posisi tawar yg
kuat dalam pengambilan keputusan.
 Sementara itu tahun 2008, kasus gizi buruk
mencapai 0,94 persen dan 2.254 berstatus
kurang gizi. Dari total tersebut, 56,39 persen
berasal dari keluarga miskin, 29,50 persen
karena penyakit penyerta dan12,82 persen
karena pola asuh orang tua yang salah. Oleh
karena itu, untuk menekan tingginya angka
kematian ibu hamil dan balita akibat gizi buruk,
diperlukan langkah optimal dari berbagai pihak.
 Khusus masalah aborsi, walaupun pemerintah
telah melarang tapi pada kenyataannya masih
banyak aborsi yang dilakukan secara illegal dan
secara diam–diam dan tidak aman misalnya
dengan menggunakan jamu-jamuan atau pijat.
Hal ini akan berpengaruh dan berakibat pada
kesehatan ibu juga akan dapat menyebabkan
kematian ibu.
 Menurut SDKI 2004 tentang aborsi atau
pengguguran kandungan, tingkat aborsi di
Indonesia sekitar 2 sampai 2,6 juta kasus per
tahun.
Dari berbagai jenis PMS yang dikenal,
dampak yang sangat berat dirasakan oleh
perempuan, yaitu berupa rasa sakit yang
hebat pada kemaluan, panggul dan
vagina, sampai pada komplikasi dengan
akibat kemandulan, kehamilan di luar
kandungan serta kanker mulut rahim.
 Pengetahuan suami/istri tentang PMS,
HIV/AIDS masih rendah.
 Rendahnya kesadaran suami/pria akan perilaku
seksual sehat.
 Adanya kecenderungan kelompok
masyarakat/budaya yang membolehkan suami
melakukan apa saja.
 Suami/pria sering tidak mau disalahkan,
termasuk dalam penularan PMS, HIV/AIDS
karena sikap egois dan dominan pria.
 Adalah suatu keadaan dimana pasangan
yang telah menikah dan ingin punya anak
tetapi tidak dapat mewujudkannya karena
ada masalah kesehatan reproduksi, baik
pada suami maupun istri atau keduanya.
 Informasi menunjukkan penyebab
infertilitas adalah 40% pria, 40% wanita
dan 20% kedua belah pihak.
 Dalam kasus infertilitas, istri menjadi pihak pertama
yang disalahkan, ada kecenderungan orang yang
diminta oleh keluarga untuk memeriksakan diri
adalah istri.
 Faktor kesenjangan gender dalam infertilitas:
• Norma dalam masyarakat bahwa ketidaksuburan
disebabkan oleh pihak istri.
• Superioritas suami (merasa “jantan”) sehingga
dianggap selalu mampu memberi keturunan.
• Infertilitas diindentik dengan mandul.
• Dominasi suami/pria (budaya kuasa) dalam
pengambilan keputusan keluarga, termasuk
perintah, memeriksakan diri.
• Pengetahuan suami tentang infertilitas terbatas.
 Seringkali pihak suami/pria yang mengalami infertilitas,
yang disebabkan oleh perilaku sendiri antara lain :
• Merokok.
• Penggunaan Napza.
• Minum-minuman keras/beralkohol.
• Adanya penyakit yang disebabkan karena sering
melakukan hubungan seks sebelum menikah.
 Hal-hal tersebut tanpa disadari sehingga sering
menyebabkan menurunnya kualitas dan kuantitas
sperma.
 Padahal seorang laki–laki secara normal akan
mengeluarkan sebanyak antara 2–6 cc sperma dan
setiap cc mengandung 20 juta ekor spermatozoa.
Menurut WHO batasan usia remaja adalah
10 -19 tahun.
Berdasarkan UN (PBB) batasan usia
remaja15 –24 tahun.
Sedangkan BKKBN menggunakan
batasan usia remaja10 –24 tahun.
 Ketidakadilan dalam membagi tanggung jawab. Pada
pergaulan yang terlalu bebas, remaja putri selalu
menjadi korban dan menanggung segala akibatnya
(misalnya KTD dan putus sekolah). Ada kecenderungan
pula untuk menyalahkan pihak perempuan, sedangkan
remaja putranya seolah-olah terbebaskan dari segala
permasalahan, walaupun ikut andil dalam menciptakan
permasalahan tersebut.
 Ketidakadilan dalam aspek hukum. Dalam tindakan
aborsi illegal, yang diancam oleh sanksi dan hukuman
adalah perempuan yang menginginkan tindakan aborsi
tersebut, sedangkan laki-laki yang menyebabkan
kehamilan tidak tersentuh oleh hukum.
WHO menggolongkan lanjut usia menjadi
empat,
• Usia pertengahan (middle age) 45 –59
thn,
• Lanjut usia (elderly) 60–74 tahun,
• Lanjut usia tua (old) 75-90 tahun, dan
• Uusia sangat tua (very old) diatas 90
tahun.
 Menopause adalah salah satu fase dalam
kehidupan normal seorang wanita. Masa
menopause ditandai oleh berhentinya
kapasitas reproduksi seorang wanita.
Ovarium tidak berfungsi dan produksi hormon
steroid serta peptida berangsur-angsur
hilang. Sementara itu, sejumlah perubahan
fisiologikpun terjadi. Hal itu terjadi sebagian
disebabkan oleh berhentinya fungsi ovarium
dan sebagian lagi disebabkan oleh proses
penuaan.
Keluhan–keluhan:
 Gejolak panas
 Sakit kepala
 Panas dari dada ke atas
 Sukar Tidur
 Rasa ditusuk di
punggung
 Jantung berdebar
 Pegal linu
 Libido menurun
 Keringat dingin
Gangguan psikis:
 Sulit tidur
 Mudah cemburu
 Sulit konsentrasi
 Mudah marah
 Mudah tersinggung
 Banyak masyarakat yang belum siap menghadapi
menopause sehingga sering mengalami depresi,
marah–marah, uring-uringan dan tidak mau lagi
melayani suami.
 Ada anggapan di masyarakat, perempuan kalau
sudah menopause menganggap tugas sebagai istri
sudah selesai.
 Sementara di pihak laki–laki masih menginginkan
adanya hubungan sex, sebagai akibatnya
penyaluran hasrat seksual tersebut dilakukan di luar
rumah.
 Masalah kesehatan reproduksi dapat terjadi
sepanjang siklus hidup manusia
 Perempuan lebih rentan dalam menghadapi risiko
kesehatan reproduksi
 Masalah kesehatan reproduksi tidak terpisahkan dari
hubungan laki-laki dan perempuan
 Laki-laki mempunyai masalah kesehatan reproduksi
 Perempuan rentan terhadap kekerasan dalam
rumah tangga
 Kesehatan reproduksi lebih banyak dikaitkan
dengan “urusan perempuan”
 Peningkatan kondisi kesehatan perempuan dan
peningkatan kesempatan kerja.
 Pendekatan target pada program KB harus disertai
dengan adanya tenaga dan peralatan medis yang cukup.
 Peningkatan partisipasi laki-laki dalam menurunkan
angka kelahiran.
 Penyadaran akan kesetaraan dalam menentukan
hubungan seksual dengan laki-laki.
 Penyuluhan tentang jenis, guna, dan resiko penggunaan
alat kontrasepsi.
 Penyuluhan tentang HIV/AIDS dan PMS
 Pendidikan seks pada remaja perempuan dan laki-laki.
Thanks for
Your
Attention

Konsep gender dalam Kesehatan Reproduksi

  • 1.
    Kelompok 11  EdoDesvardha Fadillah  Rachmad Nurdiansyah  Shafa Nabilah Eka Puteri  Takwani Suci Prestanti
  • 2.
    Adalah pandangan masyarakattentang perbedaan peran, fungsi & tanggung jawab antara perempuan dan laki–laki yang merupakan hasil konstruksi sosial budaya dan dapat berubah dan atau diubah sesuai dengan perkembangan zaman.
  • 3.
    Peran gender adalahperan sosial yang tidak ditentukan oleh perbedaan kelamin seperti halnya peran kodrati. Peran kodrati bersifat statis, sedangkan peran gender bersifat dinamis
  • 4.
    Peran Kodrati  Wanita •Menstruasi • Mengandung • Melahirkan • Menyusui • Menopause  Pria • Membuahi sel telur wanita Peran Gender • Mencari nafkah • Memasak • Mengasuh anak • Mencuci pakaian dan alat-alat rumah tangga • Tolong-menolong antar tetangga dan gotong royong dalam menyelesaikan pekerjaan milik bersama.
  • 5.
     Diskriminasi genderadalah ketidakadilan gender yang merupakan akibat dari adanya sistem (struktur) sosial di mana salah satu jenis kelamin (laki-laki atau perempuan) menjadi korban. Hal ini terjadi karena adanya keyakinan dan pembenaran yang ditanamkan sepanjang peradaban manusia dalam berbagai bentuk dan cara yang menimpa kedua belah pihak, walaupun dalam kehidupan sehari-hari lebih banyak dialami oleh perempuan.
  • 6.
     Marginalisasi (peminggiran) Subordinasi (penomorduaan)  Stereotip (citra buruk)  Violence (kekerasan)  Beban kerja berlebihan
  • 7.
     Keluarga Berencana Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir (Safe Motherhood)  Penyakit Menular Seksual  Kesehatan Reproduksi Remaja  Kesehatan Reproduksi Lansia
  • 8.
     Keluarga Berencanadalam hal ini adalah penggunaan alat kontrasepsi. Seperti diketahui selama ini ada anggapan bahwa KB adalah identik dengan urusan perempuan.  Hal ini juga menunjukkan adanya budaya kuasa dalam pengambilan keputusan untuk ber-KB.  Dari peserta KB aktif sebanyak 425.960 peserta, peserta KB wanita sebanyak 402.017 (94,38%), sedangkan peserta KB pria sebanyak 23.943 (5,62%)
  • 9.
     Lingkungan sosialbudaya yang menganggap bahwa KB urusan perempuan, bukan urusan pria/suami.  Pelaksanaan program KB yang sasarannya cenderung diarahkan kepada kaum perempuan.  Terbatasnya tempat pelayanan KB pria.  Rendahnya pengetahuan pria tentang KB.  Terbatasnya informasi KB bagi pria serta informasi tentang hak reproduksi bagi pria/suami dan perempuan/istri.  Sangat terbatasnya jenis kontrasepsi pria.  Kurang berminatnya penyedia pelayanan pada KB pria.
  • 10.
     Upaya peningkatanderajat kesehatan ibu, bayi (kesehatan ibu dan bayi baru lahir) dan anak dipengaruhi oleh kesadaran dalam perawatan dan pengasuhan anak.  Sebagian besar kematian ibu disebabkan oleh faktor kesehatan, antara lain : • Perdarahan saat melahirkan • Eklamsia. • Infeksi. • Persalinan macet. • Keguguran.  Sedangkan faktor non kesehatan antara lain kurangnya pengetahuan ibu yang berkaitan dengan kesehatan termasuk pola makan dan kebersihan diri.
  • 11.
     Budaya ygmasih membedakan pemberian makanan kepada anggota keluarga.  Masih kurangnya pengetahuan suami dan anggota keluarga tentang perencanaan kehamilan.  Perempuan kurang memperoleh informasi dan pelayanan yang memadai karena alasan ekonomi maupun waktu  Status dan posisi perempuan yg masih dianggap lebih rendah dan tidak mempunyai posisi tawar yg kuat dalam pengambilan keputusan.
  • 12.
     Sementara itutahun 2008, kasus gizi buruk mencapai 0,94 persen dan 2.254 berstatus kurang gizi. Dari total tersebut, 56,39 persen berasal dari keluarga miskin, 29,50 persen karena penyakit penyerta dan12,82 persen karena pola asuh orang tua yang salah. Oleh karena itu, untuk menekan tingginya angka kematian ibu hamil dan balita akibat gizi buruk, diperlukan langkah optimal dari berbagai pihak.
  • 13.
     Khusus masalahaborsi, walaupun pemerintah telah melarang tapi pada kenyataannya masih banyak aborsi yang dilakukan secara illegal dan secara diam–diam dan tidak aman misalnya dengan menggunakan jamu-jamuan atau pijat. Hal ini akan berpengaruh dan berakibat pada kesehatan ibu juga akan dapat menyebabkan kematian ibu.  Menurut SDKI 2004 tentang aborsi atau pengguguran kandungan, tingkat aborsi di Indonesia sekitar 2 sampai 2,6 juta kasus per tahun.
  • 14.
    Dari berbagai jenisPMS yang dikenal, dampak yang sangat berat dirasakan oleh perempuan, yaitu berupa rasa sakit yang hebat pada kemaluan, panggul dan vagina, sampai pada komplikasi dengan akibat kemandulan, kehamilan di luar kandungan serta kanker mulut rahim.
  • 15.
     Pengetahuan suami/istritentang PMS, HIV/AIDS masih rendah.  Rendahnya kesadaran suami/pria akan perilaku seksual sehat.  Adanya kecenderungan kelompok masyarakat/budaya yang membolehkan suami melakukan apa saja.  Suami/pria sering tidak mau disalahkan, termasuk dalam penularan PMS, HIV/AIDS karena sikap egois dan dominan pria.
  • 16.
     Adalah suatukeadaan dimana pasangan yang telah menikah dan ingin punya anak tetapi tidak dapat mewujudkannya karena ada masalah kesehatan reproduksi, baik pada suami maupun istri atau keduanya.  Informasi menunjukkan penyebab infertilitas adalah 40% pria, 40% wanita dan 20% kedua belah pihak.
  • 17.
     Dalam kasusinfertilitas, istri menjadi pihak pertama yang disalahkan, ada kecenderungan orang yang diminta oleh keluarga untuk memeriksakan diri adalah istri.  Faktor kesenjangan gender dalam infertilitas: • Norma dalam masyarakat bahwa ketidaksuburan disebabkan oleh pihak istri. • Superioritas suami (merasa “jantan”) sehingga dianggap selalu mampu memberi keturunan. • Infertilitas diindentik dengan mandul. • Dominasi suami/pria (budaya kuasa) dalam pengambilan keputusan keluarga, termasuk perintah, memeriksakan diri. • Pengetahuan suami tentang infertilitas terbatas.
  • 18.
     Seringkali pihaksuami/pria yang mengalami infertilitas, yang disebabkan oleh perilaku sendiri antara lain : • Merokok. • Penggunaan Napza. • Minum-minuman keras/beralkohol. • Adanya penyakit yang disebabkan karena sering melakukan hubungan seks sebelum menikah.  Hal-hal tersebut tanpa disadari sehingga sering menyebabkan menurunnya kualitas dan kuantitas sperma.  Padahal seorang laki–laki secara normal akan mengeluarkan sebanyak antara 2–6 cc sperma dan setiap cc mengandung 20 juta ekor spermatozoa.
  • 19.
    Menurut WHO batasanusia remaja adalah 10 -19 tahun. Berdasarkan UN (PBB) batasan usia remaja15 –24 tahun. Sedangkan BKKBN menggunakan batasan usia remaja10 –24 tahun.
  • 20.
     Ketidakadilan dalammembagi tanggung jawab. Pada pergaulan yang terlalu bebas, remaja putri selalu menjadi korban dan menanggung segala akibatnya (misalnya KTD dan putus sekolah). Ada kecenderungan pula untuk menyalahkan pihak perempuan, sedangkan remaja putranya seolah-olah terbebaskan dari segala permasalahan, walaupun ikut andil dalam menciptakan permasalahan tersebut.  Ketidakadilan dalam aspek hukum. Dalam tindakan aborsi illegal, yang diancam oleh sanksi dan hukuman adalah perempuan yang menginginkan tindakan aborsi tersebut, sedangkan laki-laki yang menyebabkan kehamilan tidak tersentuh oleh hukum.
  • 21.
    WHO menggolongkan lanjutusia menjadi empat, • Usia pertengahan (middle age) 45 –59 thn, • Lanjut usia (elderly) 60–74 tahun, • Lanjut usia tua (old) 75-90 tahun, dan • Uusia sangat tua (very old) diatas 90 tahun.
  • 22.
     Menopause adalahsalah satu fase dalam kehidupan normal seorang wanita. Masa menopause ditandai oleh berhentinya kapasitas reproduksi seorang wanita. Ovarium tidak berfungsi dan produksi hormon steroid serta peptida berangsur-angsur hilang. Sementara itu, sejumlah perubahan fisiologikpun terjadi. Hal itu terjadi sebagian disebabkan oleh berhentinya fungsi ovarium dan sebagian lagi disebabkan oleh proses penuaan.
  • 23.
    Keluhan–keluhan:  Gejolak panas Sakit kepala  Panas dari dada ke atas  Sukar Tidur  Rasa ditusuk di punggung  Jantung berdebar  Pegal linu  Libido menurun  Keringat dingin Gangguan psikis:  Sulit tidur  Mudah cemburu  Sulit konsentrasi  Mudah marah  Mudah tersinggung
  • 24.
     Banyak masyarakatyang belum siap menghadapi menopause sehingga sering mengalami depresi, marah–marah, uring-uringan dan tidak mau lagi melayani suami.  Ada anggapan di masyarakat, perempuan kalau sudah menopause menganggap tugas sebagai istri sudah selesai.  Sementara di pihak laki–laki masih menginginkan adanya hubungan sex, sebagai akibatnya penyaluran hasrat seksual tersebut dilakukan di luar rumah.
  • 25.
     Masalah kesehatanreproduksi dapat terjadi sepanjang siklus hidup manusia  Perempuan lebih rentan dalam menghadapi risiko kesehatan reproduksi  Masalah kesehatan reproduksi tidak terpisahkan dari hubungan laki-laki dan perempuan  Laki-laki mempunyai masalah kesehatan reproduksi  Perempuan rentan terhadap kekerasan dalam rumah tangga  Kesehatan reproduksi lebih banyak dikaitkan dengan “urusan perempuan”
  • 26.
     Peningkatan kondisikesehatan perempuan dan peningkatan kesempatan kerja.  Pendekatan target pada program KB harus disertai dengan adanya tenaga dan peralatan medis yang cukup.  Peningkatan partisipasi laki-laki dalam menurunkan angka kelahiran.  Penyadaran akan kesetaraan dalam menentukan hubungan seksual dengan laki-laki.  Penyuluhan tentang jenis, guna, dan resiko penggunaan alat kontrasepsi.  Penyuluhan tentang HIV/AIDS dan PMS  Pendidikan seks pada remaja perempuan dan laki-laki.
  • 27.