TUGAS 
DISKRIMINASI DALAM PENGHAYATAN GENDER 
KELOMPOK VI : 
NAMA : 1. Ana M. Sengga ( 1301182044) 
2. Bernadete D. Bussa 
3. Nunnia Guteres 
4. Nurkhayati D. Astuti 
5. Patresia Bekak 
6. Ratoe C. Benu 
7.Yemima Kobbo 
SEMESTER : II (Dua) 
FAKULTAS KEGURUAN & ILMU PENDIDIKAN 
UNIVERSITAS NUSA CENDANA 
PG-PAUD 
2014
KATA PENGANTAR 
Puji syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas Berkat, 
Rahmat dan Bimbingan-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan Makalah Diskriminasi 
Dalam Penghayatan Gender ini dengan baik. 
Penulis menyadari, dalam penulisan Makalah ini penulis memiliki keterbatasan dalam 
penyajian materi dan obyeknya. Sehingga Makalah ini masih jauh dari Kesempurnaan. 
Untuk itu penulis sangat mengharapkan usul, saran atau kritikan yang membangun, 
demi kemajuan dan kamatangan makalah ini ke dapannya. 
Kupang,…………. 2014 
Panulis
BAB I 
PENDAHULUAN 
A. Latar Belakang 
Saat ini tindak pidana pemerkosaan merupakan kejahatan yang cukup mendapat 
perhatian di kalangan masyarakat. Sering di TV, surat kabar, Majalah diberitakan terjadi 
tindak pidana pemerkosaan. Jika mempelajari sejarah sebenarnya jenis tindak pidana ini 
sudah ada sejak dulu, atau dapat dikatakan sebagai suatu bentuk kejahatan klasik yang akan 
selalu mengikuti perkembangan budaya manusia itu sendiri,ia akan selalu ada dan 
berkembang setiap saat walaupun mungkin tidak terlalu berbeda jauh dengan sebelumnya. 
Pemerkosaan merupakan peristiwa yang menyebabkan beban berat , masalah bagi 
korban yang mengalaminya seperti trauma psikis yang intensif, serta reaksi fisik dan 
emosional, sebagai contoh rasa takut terhadap keluarga dan teman-teman, takut orang lain 
tidak mempercayai, takut diperiksa oleh dokter, takut melapor pada aparat atau takut 
pemerkosa melakukan balas dendam 
B. Rumusan masalah 
 Apa itu diskriminasi gender? 
 Bentuk-bentuk diskriminasi gender? 
 Faktor –faktor yang mempengaruhi deskriminasi gender. 
 Dampak diskriminasi gender. 
C. Tujuan 
 Untuk mengetahui pengertian diskriminasi gender 
 Untuk mengetehui bentuk-bentuk diskriminasi gender 
 Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi diskriminasi gender 
 Untuk mengetahui dampak yang disebabkan oleh suatu tindakan diskriminasi 
gender 
 Untuk mengetahui cara-cara memperjuangkan kesetaraan gender 
D. Manfaat makalah 
Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada semua pihak, 
khususnya tentang diskriminasi gender terhadap perempuan.
BAB II 
LANDASAN TEORI 
A. Diskriminasi 
Diskriminasi yang berasal dari kata latin “dis” yang berarti memilih atau 
memisah dan “crimen” yang berarti diputusi berdasarkan suatu pertimbangan 
baik-buruk. 
Diskriminasi adalah sebuah istilah yang secara harfiah berarti memilih untuk 
menegaskan perbedaan atas dasar suatu tolok nilai. 
UU No. 39/1998 tentang HAM menyebutkan pengertian diskriminasi adalah 
“setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung ataupun tak 
langsung didasarkan pada perbedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, 
kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, 
keyakinan politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan atau penghapusan 
pengakuan, pelaksanaan atau penggunaan HAM dan kebebasan dasar dalam 
kehidupan, baik individual maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, 
hukum, sosial, budaya, dan aspek kehidupan lainnya. 
Diskriminasi merupakan suatu kejadian yang biasa dijumpai dalam 
masyarakat manusia, ini disebabkan kecenderungan manusia untuk membeda-bedakan 
yang lain.
Diskriminasi langsung terjadi saat hukum, peraturan atau kebijakan jelas-jelas 
menyebutkan karakteristik tertentu, seperti jenis kelamin, ras, dan 
sebagainya, dan menghambat adanya peluang yang sama. 
Diskriminasi tidak langsung terjadi saat peraturan yang bersifat netral 
menjadi diskriminasi saat diterapkan dilapangan. 
B. Gender 
Berikut ini pengertian gender menurut para ahli, antara lain: 
1. Gender adalah peran sosial dimana peran laki-laki dan peran perempuan 
ditentukan (Suprijadi dan Siskel, 2004). 
2. Gender adalah perbedaan status dan peran antara perempuan dan laki-laki 
yang dibentuk oleh masyarakat sesuai dengan nilai budaya yang berlaku 
dalam periode waktu tertentu (WHO, 2001) 
3. Gender adalah perbedaan peran dan tanggung jawab sosial bagi perempuan 
dan laki-laki yang dibentuk oleh budaya (Azwar, 2001). 
4. Gender adalah jenis kelamin sosial atau konotasi masyarakat untuk 
menentukan peran sosial berdasarkan jenis kelamin (Suryadi dan Idris, 2004). 
C. Gender menurut teori 
1. Teori Kodrat Alam 
Menurut teori ini perbedaan biologis yang membedakan jenis kelamin 
dalam memandang gender (Suryadi dan Idris, 2004). Teori ini dibagi menjadi 
dua yaitu: 
a. Teori Nature 
Teori ini memandang perbedaan gender sebagai kodrat alam yang 
tidak perlu dipermasalahkan. 
b. Teori Nurture 
Teori ini lebih memandang perbedaan gender sebagai hasil rekayasa 
budaya dan bukan kodrati, sehingga perbedaan gender tidak berlaku 
universal dan dapat dipertukarkan. 
2. Teori Kebudayaan
Teori ini memandang gender sebagai akibat dari kontruksi budaya 
(Suryadi dan Idris, 2004). Menurut teori ini terjadi keunggulan laki-laki 
terhadap perempuan karena kontruksi budaya, materi, atau harta kekayaan. 
Gender itu merupakan hasil proses budaya masyarakat yang 
membedakan peran sosial laki-laki dan perempuan. Pemilahan peran sosial 
berdasarkan jenis kelamin dapat dipertukarkan, dibentuk dan dilatih. 
3. Teori Fungsional Struktural 
Berdasarkan teori ini munculnya tuntutan untuk kesetaraan gender 
dalam peran sosial di masyarakat sebagai akibat adanya perubahan struktur 
nilai sosial ekonomi masyarakat. 
Dalam era globalisasi yang penuh dengan berbagai persaingan peran 
seseorang tidak lagi mengacu kepada norma-norma kehidupan sosial yang 
lebih banyak mempertimbangkan faktor jenis kelamin, akan tetapi ditentukan 
oleh daya saing dan keterampilan (Suryadi dan Idris, 2004). 
Heddy Shri Ahimsha Putra (2000) menegaskan bahwa istilah gender dapat dibedakan kedalam 
beberapa pengertian berikut ini: 
· Gender sebagai suatu istilah asing dengan makna tertentu. 
· Gender sebagai suatu fenomena sosial budaya. 
· Gender sebagai suatu kesadaran sosial. 
· Gender sebagai suatu persoalan sosial budaya. 
· Gender sebagai sebuah konsep untuk analisis. 
· Gender sebagai sebuah perspektif untuk memandang kenyataan. 
Dari Wikipedia Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa gender merupakan aspek hubungan sosial yang 
dikaitkan dengan diferensiasi seksual pada manusia. 
Kata gender belum masuk dalam perbendaharaan Kamus Besar Bahasa Indonesia, 
tetapi istilah tersebut sudah lazim digunakan, khususnya di Kantor Menteri Negara Urusan 
Peranan Wanita dengan istilah “jender”. Jender diartikan sebagai “interpretasi mental dan 
kultural terhadap perbedaan kelamin yakni laki-laki dan perempuan. Jender biasanya 
dipergunakan untuk menunjukkan pembagian kerja yang dianggap tepat bagi laki-laki dan 
perempuan”. 
Dari berbagai definisi di atas dapat disimpulkan bahwa gender adalah suatu konsep 
yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari segi 
pengaruh sosial budaya. Gender dalam arti ini adalah suatu bentuk rekayasa masyarakat 
(social constructions), bukannya sesuatu yang bersifat kodrati.
Kalau gender secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan 
perempuan dari segi sosial budaya, maka sex secara umum digunakan untuk mengidentifikasi 
perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi. 
Istilah sex (dalam kamus bahasa Indonesia juga berarti “jenis kelamin”) lebih banyak 
berkonsentrasi kepada aspek biologi seseorang, meliputi perbedaan komposisi kimia dan 
hormon dalam tubuh, anatomi fisik, reproduksi, dan karakteristik biologis lainnya. Sedangkan 
gender lebih banyak berkonsentrasi kepada aspek sosial, budaya, psikologis, dan aspek-aspek 
non biologis lainnya. 
Studi gender lebih menekankan pada aspek maskulinitas (masculinity) atau feminitas 
(femininity) seseorang. Berbeda dengan studi sex yang lebih menekankan kepada aspek 
anatomi biologi dan komposisi kimia dalam tubuh laki-laki (maleness) dan perempuan 
(femaleness). 
Proses pertumbuhan anak (child) menjadi seorang laki-laki (being a man) atau 
menjadi seorang perempuan (being a woman), lebih banyak digunakan istilah gender dari 
pada istilah sex. Istilah sex umumnya digunakan untuk merujuk kepada persoalan reproduksi 
dan aktivitas seksual (making love activities), selebihnya digunakan istilah gender. 
D. Gender dan Seks 
Banyak yang kita mungkin belum mengerti benar ataupun malah tidak 
tahu apa itu gender. Bahkan ada yang salah kaprah menganggap gender itu 
makhluk yang tidak perlu ada karena banyak merugikan pihak tertentu. 
Dan banyak juga yang salah paham mengenai gender dan seks. 
Sebernarnya gender dan seks itu merupakan hal yang berbeda. 
Kata gender berasal dari bahasa Inggris berarti “jenis kelamin” 
kelamin (John M. echols dan Hassan Sadhily, 1983: 256). Dalam 
Webster’s New World Dictionary, gender diartikan sebagai perbedaan 
yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan 
tingkah laku. 
Di dalam Women’s Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender 
adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan 
(distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik 
emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam 
masyarakat. 
Hilary M. Lips dalam bukunya yang terkenal Sex & Gender: an 
Introduction mengartikan gender sebagai harapan-harapan budaya 
terhadap laki-laki dan perempuan (cultural expectations for women and 
men). 
Misalnya; perempuan dikenal dengan lemah lembut, cantik, emosional 
dan keibuan. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan dan 
perkasa. Pendapat ini sejalan dengan pendapat kaum feminis, seperti 
Lindsey yang menganggap semua ketetapan masyarakat perihal penentuan 
seseorang sebagai laki-laki atau perempuan adalah termasuk bidang kajian
gender (What a given society defines as masculine or feminin is a 
component of gender). 
Ciri-ciri dari sifat itu merupakan sifat yang dapat dipertukarkan, 
misalnya ada laki-laki yang lemah lembut, ada perempuan yang kuat, 
rasional dan perkasa. Perubahan ciri dari sifat-sifat tersebut dapat terjadi 
dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat yang lain (Mansour Fakih 
1999: 8-9). 
H. T. Wilson dalam Sex and Gender mengartikan gender sebagai suatu 
dasar untuk menentukan pengaruh faktor budaya dan kehidupan kolektif 
dalam membedakan laki-laki dan perempuan. Agak sejalan dengan 
pendapat yang dikutip Showalter yang mengartikan gender lebih dari 
sekedar pembedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari konstruksi sosial 
budaya, tetapi menekankan gender sebagai konsep analisa dalam mana kita 
dapat menggunakannya untuk menjelaskan sesuatu (Gender is an analityc 
concept whose meanings we work to elucidate, and a subject matter we 
proceed to study as we try to define it). 
Lihatlah perbedaan gender dan seks berikut ini: 
GENDER SEKS/ JENIS KELAMIN 
Bisa berubah Tidak bisa berubah 
Dapat dipertukarkan Tidak dapat dipertukarkan 
Tergantung musim Berlaku sepanjang masa 
Tergantung budaya masingmasing Berlaku di mana saja 
Bukan kodrat (buatan masyarakat) Kodrat (ciptaan Tuhan) 
Bagaimana pula bentuk hubungan gender dengan seks (jenis kelamin) itu sendiri? 
Hubungannya adalah sebagai hubungan sosial antara laki-laki dengan perempuan yang 
bersifat saling membantu atau sebaliknya malah merugikan, serta memiliki banyak perbedaan 
dan ketidaksetaraan. 
Hubungan gender berbeda dari waktu ke waktu, dan antara masyarakat satu dengan 
masyarakat lain, akibat perbedan suku, agama, status sosial maupun nilai tradisi dan norma 
yang dianut. 
E. Bentuk-Bentuk Diskriminasi Gender Terhadap Perempuan 
1. Marginalisasi ( Peminggiran ) Perempuan 
Proses marginalisasi (Peminggiran) yang mengakibatkan kemiskinan 
banyak terjadi dalam masyarakat dinegara berkembang seperti 
penggusuran dari kampung halamannya. Dari segi gender pekerja 
perempuan tersingkir dan menjadi miskin. Banyak lapangan pekerjaan 
yang menutup pintu bagi laki–laki karena anggapan bahwa mereka kurang 
teliti melakukan pekerjaan yang memerlukan kecermatan dan kesabaran
Contoh dari marjinalisasi 
a) Usaha konveksi yang lebih suka menyerap tenaga perempuan. 
b) Peluang menjadi pembantu RT lebih banyak diberikan pada perempuan. 
c) Pemupukan dan pengendalian hama dengan tekhnologi baru yang 
dikerjakan laki – laki. 
d) Pemotongan padi dengan peralatan mesin yang membutuhkan tenaga 
dan keterampilan laki – laki, menggantikan tenaga perempuan dengan ani 
– ani. 
e) Banyak pekerjaan perempuan yang dianggap sebagai pekerjaan 
perempuan Guru taman kanak – kanak, sekretaris, atau perawat dinilai 
lebih rendah dibanding pekerjaan laki – laki, dan juga berpengaruh pada 
pembedaan gaji yang diterima oleh perempuan. 
2. Sub Ordinasi (Penomorduaan) 
Pada dasarnya adalah keyakinan bahwa salah satu jenis kelamin dianggap 
lebih penting atau lebih utama dibanding jenis kelamin lainnya. Sejak 
dahulu ada pandangan yang menempatkan kedudukan dan peran 
perempuan lebih rendah dari laki – laki. Dalam tradisi budaya, agama dan 
birokrasi memperlihatkan bahwa masih ada nilai – nilai dalam masyarakat 
yang membatasi ruang gerak perempuan dalam berbagai kehidupan. 
Contoh dari sub ordinasi 
Seorang isteri yang hendak mengikuti tugas belajar atau hendak bepergian 
keluar negeri, ia harus mendapat izin dari suami, tetapi apabila suami akan 
pergi ia bisa mengambil keputusannya sendiri tanpa harus mendapat izin 
dari isteri. Kondisi seperti ini membuat perempuan pada posisi yang tidak 
penting. Perempuan bisa menempati posisi penting sebagai pimpinan 
bawahannya laki-laki sering merasa tertekan, merasa lemah dan kurang 
macho (kurang laki – laki) inilah bentuk ketidak adilan gender yang 
dialami oleh perempuan namun yang dampaknya mengenai laki – laki. 
3. Pandangan Stereotype 
Pelabelan atau penandaan atau citra buruk ( stereotype ) yang sering sekali 
bersifat negatif secara umum selalu melahirkan ketidak adilan. 
Contoh pandangan stereotype 
Misalnya perempuan yang pulang larut malam adalah pelacur, jalang dan 
berbagai sebutan buruk lainnya. 
Perbedaan Standar Penilaian Terhadap Prilaku Perempuan Dan Laki - Laki 
Label perempuan sebagai ibu rumah tangga sangat merugikan jika hendak 
aktif dalam kegiatan laki – laki dalam kegiatan politik, Bisnis maupun 
birokrasi. 
Label laki – laki sebagai pencari nafkah mengakibatkan apa saja yang 
dihasilkan perempuan dianggap sebagai sambilan sehingga kurang 
dihargai. 
Keramah - tamaan laki – laki dianggap merayu dan keramah – tamaan 
perempuan dinilai genit. 
Perempuan dianggap pandai merayu maka pekerjaanya dianggap pantas 
bekerja dibagian penjualan. 
Laki – laki marah dianggap tegas, perempuan marah atau tersinggung 
dianggap emosional. 
4. Violence (Kekerasan)
Kekerasan terhadap perempuan sebagai akibat perbedaan peran muncul 
dalam berbagai bentuk. Kata kekerasan (violence) adalah suatu serangan 
terhadap fisik maupun integritas mental psikologi seseorang. 
Contoh serangan fisik : perkosaan, pemukulan, dan penyiksaan. Contoh 
serangan non fisik : pelecehan seksual, ancaman dan paksaan secara 
emosional perempuan atau laki-laki yang mengalaminya akan tertekan 
bathinnya. 
Pelaku kekerasan karena gender : 
a) Suami membatasi uang belanja dan memonitor pengeluarannya secara 
ketat. 
b) Isteri menghina/ mencela kemampuan seksual atau kegagalan karir 
suami 
5. Beban Kerja Berlebihan 
Yaitu tugas dan tanggung jawab perempuan yang berat dan terus menerus. 
Misalnya, seorang perempuan selain melayani suami (seks), hamil, 
melahirkan, menyusui, juga harus menjaga rumah. Disamping itu, kadang 
ia juga ikut mencari nafkah (di rumah), dimana hal tersebut tidak berarti 
menghilangkan tugas dan tanggung jawab diatas. 
F. Faktor-Faktor Penyebab Diskriminasi Terhadap Perempuan 
Beberapa faktor penyebab diskriminasi terhadap kaum perempuan antara 
lain disebabkan oleh : 
1.Nilai-nilai dan budaya patriarkhi. 
2.Rendahnya kapasitas perempuan. 
3.Kebijakan hukum, peraturan dan sistem yang diskriminatif. 
4.Kebijakan-program yang diskriminatif. 
G. Dampak Diskriminasi Terhadap Perempuan 
Akibat diskriminasi terhadap perempuan, seringkali akan membawa 
dampak antara lain: 
1. Traumatik dan ketakutan (phobia) yang berlebihan terhadap hal-hal 
buruk yang pernah menimpanya. 
2. Rasa dendam dan amarah yang tidak dapat dikendalikan baik itu atas 
dirinya sendiri ataupun terhadap orang lain karena perlakuan diskriminasi 
yang diterimanya. 
3. Rasa rendah diri atau kurang percaya diri misalnya karena akibat 
dipinggirkan. 
4. Cacat fisik ataupun bekas kekerasan lainnya yang diterima perempuan, 
misalnya dalam kasus KDRT (kekerasan dalam rumah tangga). 
5. Berperilaku menyimpang, misalnya seseorang merasa dikucilkan di 
keluarga, maka ia akan mencari pelarian lain seperti masuk geng-geng 
ataupun terjerat dalam narkoba. 
H. Memperjuangkan kesetaraan 
Memperjuangkan kesetaraan bukanlah berarti mempertentangkan dua jenis 
kelamin, laki-laki dan perempuan. Tetapi, ini lebih kepada membangun
hubungan (relasi) yang setara. Kesempatan harus terbuka sama luasnya 
bagi laki-laki ataupun perempuan, sama pentingnya, untuk mendapatkan 
pendidikan, makanan yang bergizi, kesehatan, kesempatan kerja, termasuk 
terlibat aktif dalam organisasi sosial-politik dan proses-proses 
pengambilan keputusan. 
Hal ini mungkin bisa terjadi jika mitos-mitos seputar citra (image) menjadi 
“perempuan” dan “laki-laki” dapat diperbaiki. Memang tidak ada cara lain. 
Sebagai laki-laki ataupun perempuan, kita harus menyadari bahwa kita 
adalah pemain dalam kondisi (hubungan) ini. Jadi, untuk bisa mengubah 
kondisi-kondisi yang tidak menguntungkan ini, maka baik sebagai laki-laki 
atau perempuan kita harus terlibat. 
Berkenaan dengan hal ini, pemerintah Indonesia bahkan telah 
mengeluarkan Inpres no. 9 tahun 2001 tentang Pengarus-Utamaan Gender 
(PUG), yang menyatakan bahwa seluruh program kegiatan pemerintah 
harus mengikutsertakan PUG dengan tujuan untuk menjamin penerapan 
kebijakan yang berperspektif jender. 
Tetapi bagaimana kita sebaiknya memulainya ?. Mungkin langkah-langkah ini dapat 
membantu. 
1. Bangun kesadaran diri 
Hal pertama yang harus kita lakukan adalah membangun kesadaran diri. Ini bisa dilakukan 
melalui pendidikan. Karena peran-peran yang menimbulkan relasi tak setara terjadi akibat 
pengajaran dan sosialisasi, cara mengubahnya juga melalui pengajaran dan sosialisasi baru. 
Kita bisa melakukan latihan atau diskusi secara kritis. Minta profesional, aktivis kesetaraan 
gender, atau siapa pun yang kita pandang mampu membantu untuk memandu pelatihan dan 
diskusi yang kita adakan bersama. 
2. Bukan urusan perempuan semata 
Kita harus membangun pemahaman dan pendekatan baru bahwa ini juga menyangkut laki-laki. 
Tidak mungkin akan terjadi perubahan jika laki-laki tidak terlibat dalam usaha ini. 
perempuan bisa dilatih untuk lebih aktif, berani, dan mampu mengambil keputusan, 
sedangkan laki-laki pun perlu dilatih untuk menghormati dan menghargai kemampuan 
perempuan dan mau bermitra untuk maju. 
3. Bicarakan 
Salah satu cara untuk memulai perubahan adalah dengan mengungkapkan hal-hal yang 
menimbulkan tekanan atau diskriminasi. Cara terbaik adalah bersuara dan membicarakannya 
secara terbuka dan bersahabat. Harus ada media untuk membangun dialog untuk menyepakati 
cara-cara terbaik membangun relasi yang setara dan adil antar jenis kelamin. Bukankah ini 
jauh lebih membahagiakan ?. 
4. Kampanyekan 
Karena ini menyangkut sistem sosial-budaya yang besar, hasil dialog atau kesepakatan untuk 
perubahan yang lebih baik harus kita kampanyekan sehingga masyarakat dapat memahami 
idenya dan dapat memberikan dukungan yang dibutuhkan. Termasuk di dalamnya mengubah 
cara pikir dan cara pandang masyarakat melihat “laki-laki” dan “perempuan” dalam ukuran 
“kepantasan” yang mereka pahami. Masyarakat harus memahami bahwa beberapa sistem 
sosial-budaya yang merupakan produk cara berpikir sering kali tidak berpihak, menekan, dan
menghambat peluang perempuan untuk memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki. 
Jadi ini memang merupakan soal mengubah cara pikir. 
5. Terapkan dalam kehidupan sehari-hari 
Tidak ada cara terbaik untuk merealisasikan kondisi yang lebih baik selain menerapkan pola 
relasi yang setara dalam kehidupan kita masing-masing. Tentu saja semua harus dimulai dari 
diri kita sendiri, lalu kemudian kita dorong orang terdekat kita untuk menerapkannya. 
Mudah-mudahan dampaknya akan lebih meluas. 
PENUTUP 
A. Kesimpulan 
1.Diskriminasi gender merujuk kepada bentuk ketidakadilan terhadap individu tertentu, 
dimana bentuknya seperti pelayanan (fasilitas) yang dibuat berdasarkan karakteristik yang 
diwakili oleh individu tersebut. 
2.Bentuk-bentuk diskriminasi gender terhadap perempuan adalah marginalisasi 
(peminggiran), sub ordinasi (penomorduaan), pandangan stereotype (Pelabelan atau 
penandaan atau citra buruk), violence (kekerasan) dan beban kerja yang berlebihan. 
a.Faktor-faktor penyebab diskriminasi gender terhadap perempuan antara lain : nilai-nilai dan 
budaya patriarkhi, rendahnya kapasitas perempuan, kebijakan hukum, peraturan dan sistem 
yang diskriminatif, kebijakan-program yang diskriminatif. 
b.Dampak dari diskriminasi gender terhadap perempuan antara lain : traumatik dan ketakutan 
yang berlebih, dendam dan amarah yang tidak terkendali, rasa rendah diri dan kurang percaya 
diri, berperilaku menyimpang serta luka fisik maupun batin. 
c.Cara memperjuangkan kesetaraan gender bagi perempuan yaitu : bangun kesadaran diri, 
membangun pemahaman dan pendekatan baru bahwa ini juga menyangkut laki-laki, 
mengungkapkan hal-hal yang menimbulkan tekanan atau diskriminasi, kampanyekan dan 
terapkan dalam kehidupan sehari-hari. 
B.Saran 
Semoga dengan adanya makalah ini, tidak hanya perempuan, bahkan tiap orang lebih 
menghargai sesama, lebih menghargai kesetaraan gender agar tidak ada lagi diskriminasi 
gender. Kami mohon kritik dan saran yang membangun untuk terciptanya makalah yang 
lebih baik dan tentunya akan bermanfaat bagi kita semua.

MAKALAH GENDER

  • 1.
    TUGAS DISKRIMINASI DALAMPENGHAYATAN GENDER KELOMPOK VI : NAMA : 1. Ana M. Sengga ( 1301182044) 2. Bernadete D. Bussa 3. Nunnia Guteres 4. Nurkhayati D. Astuti 5. Patresia Bekak 6. Ratoe C. Benu 7.Yemima Kobbo SEMESTER : II (Dua) FAKULTAS KEGURUAN & ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA PG-PAUD 2014
  • 2.
    KATA PENGANTAR Pujisyukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas Berkat, Rahmat dan Bimbingan-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan Makalah Diskriminasi Dalam Penghayatan Gender ini dengan baik. Penulis menyadari, dalam penulisan Makalah ini penulis memiliki keterbatasan dalam penyajian materi dan obyeknya. Sehingga Makalah ini masih jauh dari Kesempurnaan. Untuk itu penulis sangat mengharapkan usul, saran atau kritikan yang membangun, demi kemajuan dan kamatangan makalah ini ke dapannya. Kupang,…………. 2014 Panulis
  • 3.
    BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saat ini tindak pidana pemerkosaan merupakan kejahatan yang cukup mendapat perhatian di kalangan masyarakat. Sering di TV, surat kabar, Majalah diberitakan terjadi tindak pidana pemerkosaan. Jika mempelajari sejarah sebenarnya jenis tindak pidana ini sudah ada sejak dulu, atau dapat dikatakan sebagai suatu bentuk kejahatan klasik yang akan selalu mengikuti perkembangan budaya manusia itu sendiri,ia akan selalu ada dan berkembang setiap saat walaupun mungkin tidak terlalu berbeda jauh dengan sebelumnya. Pemerkosaan merupakan peristiwa yang menyebabkan beban berat , masalah bagi korban yang mengalaminya seperti trauma psikis yang intensif, serta reaksi fisik dan emosional, sebagai contoh rasa takut terhadap keluarga dan teman-teman, takut orang lain tidak mempercayai, takut diperiksa oleh dokter, takut melapor pada aparat atau takut pemerkosa melakukan balas dendam B. Rumusan masalah  Apa itu diskriminasi gender?  Bentuk-bentuk diskriminasi gender?  Faktor –faktor yang mempengaruhi deskriminasi gender.  Dampak diskriminasi gender. C. Tujuan  Untuk mengetahui pengertian diskriminasi gender  Untuk mengetehui bentuk-bentuk diskriminasi gender  Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi diskriminasi gender  Untuk mengetahui dampak yang disebabkan oleh suatu tindakan diskriminasi gender  Untuk mengetahui cara-cara memperjuangkan kesetaraan gender D. Manfaat makalah Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada semua pihak, khususnya tentang diskriminasi gender terhadap perempuan.
  • 4.
    BAB II LANDASANTEORI A. Diskriminasi Diskriminasi yang berasal dari kata latin “dis” yang berarti memilih atau memisah dan “crimen” yang berarti diputusi berdasarkan suatu pertimbangan baik-buruk. Diskriminasi adalah sebuah istilah yang secara harfiah berarti memilih untuk menegaskan perbedaan atas dasar suatu tolok nilai. UU No. 39/1998 tentang HAM menyebutkan pengertian diskriminasi adalah “setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung ataupun tak langsung didasarkan pada perbedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan atau penghapusan pengakuan, pelaksanaan atau penggunaan HAM dan kebebasan dasar dalam kehidupan, baik individual maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya, dan aspek kehidupan lainnya. Diskriminasi merupakan suatu kejadian yang biasa dijumpai dalam masyarakat manusia, ini disebabkan kecenderungan manusia untuk membeda-bedakan yang lain.
  • 5.
    Diskriminasi langsung terjadisaat hukum, peraturan atau kebijakan jelas-jelas menyebutkan karakteristik tertentu, seperti jenis kelamin, ras, dan sebagainya, dan menghambat adanya peluang yang sama. Diskriminasi tidak langsung terjadi saat peraturan yang bersifat netral menjadi diskriminasi saat diterapkan dilapangan. B. Gender Berikut ini pengertian gender menurut para ahli, antara lain: 1. Gender adalah peran sosial dimana peran laki-laki dan peran perempuan ditentukan (Suprijadi dan Siskel, 2004). 2. Gender adalah perbedaan status dan peran antara perempuan dan laki-laki yang dibentuk oleh masyarakat sesuai dengan nilai budaya yang berlaku dalam periode waktu tertentu (WHO, 2001) 3. Gender adalah perbedaan peran dan tanggung jawab sosial bagi perempuan dan laki-laki yang dibentuk oleh budaya (Azwar, 2001). 4. Gender adalah jenis kelamin sosial atau konotasi masyarakat untuk menentukan peran sosial berdasarkan jenis kelamin (Suryadi dan Idris, 2004). C. Gender menurut teori 1. Teori Kodrat Alam Menurut teori ini perbedaan biologis yang membedakan jenis kelamin dalam memandang gender (Suryadi dan Idris, 2004). Teori ini dibagi menjadi dua yaitu: a. Teori Nature Teori ini memandang perbedaan gender sebagai kodrat alam yang tidak perlu dipermasalahkan. b. Teori Nurture Teori ini lebih memandang perbedaan gender sebagai hasil rekayasa budaya dan bukan kodrati, sehingga perbedaan gender tidak berlaku universal dan dapat dipertukarkan. 2. Teori Kebudayaan
  • 6.
    Teori ini memandanggender sebagai akibat dari kontruksi budaya (Suryadi dan Idris, 2004). Menurut teori ini terjadi keunggulan laki-laki terhadap perempuan karena kontruksi budaya, materi, atau harta kekayaan. Gender itu merupakan hasil proses budaya masyarakat yang membedakan peran sosial laki-laki dan perempuan. Pemilahan peran sosial berdasarkan jenis kelamin dapat dipertukarkan, dibentuk dan dilatih. 3. Teori Fungsional Struktural Berdasarkan teori ini munculnya tuntutan untuk kesetaraan gender dalam peran sosial di masyarakat sebagai akibat adanya perubahan struktur nilai sosial ekonomi masyarakat. Dalam era globalisasi yang penuh dengan berbagai persaingan peran seseorang tidak lagi mengacu kepada norma-norma kehidupan sosial yang lebih banyak mempertimbangkan faktor jenis kelamin, akan tetapi ditentukan oleh daya saing dan keterampilan (Suryadi dan Idris, 2004). Heddy Shri Ahimsha Putra (2000) menegaskan bahwa istilah gender dapat dibedakan kedalam beberapa pengertian berikut ini: · Gender sebagai suatu istilah asing dengan makna tertentu. · Gender sebagai suatu fenomena sosial budaya. · Gender sebagai suatu kesadaran sosial. · Gender sebagai suatu persoalan sosial budaya. · Gender sebagai sebuah konsep untuk analisis. · Gender sebagai sebuah perspektif untuk memandang kenyataan. Dari Wikipedia Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa gender merupakan aspek hubungan sosial yang dikaitkan dengan diferensiasi seksual pada manusia. Kata gender belum masuk dalam perbendaharaan Kamus Besar Bahasa Indonesia, tetapi istilah tersebut sudah lazim digunakan, khususnya di Kantor Menteri Negara Urusan Peranan Wanita dengan istilah “jender”. Jender diartikan sebagai “interpretasi mental dan kultural terhadap perbedaan kelamin yakni laki-laki dan perempuan. Jender biasanya dipergunakan untuk menunjukkan pembagian kerja yang dianggap tepat bagi laki-laki dan perempuan”. Dari berbagai definisi di atas dapat disimpulkan bahwa gender adalah suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari segi pengaruh sosial budaya. Gender dalam arti ini adalah suatu bentuk rekayasa masyarakat (social constructions), bukannya sesuatu yang bersifat kodrati.
  • 7.
    Kalau gender secaraumum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosial budaya, maka sex secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi. Istilah sex (dalam kamus bahasa Indonesia juga berarti “jenis kelamin”) lebih banyak berkonsentrasi kepada aspek biologi seseorang, meliputi perbedaan komposisi kimia dan hormon dalam tubuh, anatomi fisik, reproduksi, dan karakteristik biologis lainnya. Sedangkan gender lebih banyak berkonsentrasi kepada aspek sosial, budaya, psikologis, dan aspek-aspek non biologis lainnya. Studi gender lebih menekankan pada aspek maskulinitas (masculinity) atau feminitas (femininity) seseorang. Berbeda dengan studi sex yang lebih menekankan kepada aspek anatomi biologi dan komposisi kimia dalam tubuh laki-laki (maleness) dan perempuan (femaleness). Proses pertumbuhan anak (child) menjadi seorang laki-laki (being a man) atau menjadi seorang perempuan (being a woman), lebih banyak digunakan istilah gender dari pada istilah sex. Istilah sex umumnya digunakan untuk merujuk kepada persoalan reproduksi dan aktivitas seksual (making love activities), selebihnya digunakan istilah gender. D. Gender dan Seks Banyak yang kita mungkin belum mengerti benar ataupun malah tidak tahu apa itu gender. Bahkan ada yang salah kaprah menganggap gender itu makhluk yang tidak perlu ada karena banyak merugikan pihak tertentu. Dan banyak juga yang salah paham mengenai gender dan seks. Sebernarnya gender dan seks itu merupakan hal yang berbeda. Kata gender berasal dari bahasa Inggris berarti “jenis kelamin” kelamin (John M. echols dan Hassan Sadhily, 1983: 256). Dalam Webster’s New World Dictionary, gender diartikan sebagai perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku. Di dalam Women’s Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat. Hilary M. Lips dalam bukunya yang terkenal Sex & Gender: an Introduction mengartikan gender sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan (cultural expectations for women and men). Misalnya; perempuan dikenal dengan lemah lembut, cantik, emosional dan keibuan. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan dan perkasa. Pendapat ini sejalan dengan pendapat kaum feminis, seperti Lindsey yang menganggap semua ketetapan masyarakat perihal penentuan seseorang sebagai laki-laki atau perempuan adalah termasuk bidang kajian
  • 8.
    gender (What agiven society defines as masculine or feminin is a component of gender). Ciri-ciri dari sifat itu merupakan sifat yang dapat dipertukarkan, misalnya ada laki-laki yang lemah lembut, ada perempuan yang kuat, rasional dan perkasa. Perubahan ciri dari sifat-sifat tersebut dapat terjadi dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat yang lain (Mansour Fakih 1999: 8-9). H. T. Wilson dalam Sex and Gender mengartikan gender sebagai suatu dasar untuk menentukan pengaruh faktor budaya dan kehidupan kolektif dalam membedakan laki-laki dan perempuan. Agak sejalan dengan pendapat yang dikutip Showalter yang mengartikan gender lebih dari sekedar pembedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari konstruksi sosial budaya, tetapi menekankan gender sebagai konsep analisa dalam mana kita dapat menggunakannya untuk menjelaskan sesuatu (Gender is an analityc concept whose meanings we work to elucidate, and a subject matter we proceed to study as we try to define it). Lihatlah perbedaan gender dan seks berikut ini: GENDER SEKS/ JENIS KELAMIN Bisa berubah Tidak bisa berubah Dapat dipertukarkan Tidak dapat dipertukarkan Tergantung musim Berlaku sepanjang masa Tergantung budaya masingmasing Berlaku di mana saja Bukan kodrat (buatan masyarakat) Kodrat (ciptaan Tuhan) Bagaimana pula bentuk hubungan gender dengan seks (jenis kelamin) itu sendiri? Hubungannya adalah sebagai hubungan sosial antara laki-laki dengan perempuan yang bersifat saling membantu atau sebaliknya malah merugikan, serta memiliki banyak perbedaan dan ketidaksetaraan. Hubungan gender berbeda dari waktu ke waktu, dan antara masyarakat satu dengan masyarakat lain, akibat perbedan suku, agama, status sosial maupun nilai tradisi dan norma yang dianut. E. Bentuk-Bentuk Diskriminasi Gender Terhadap Perempuan 1. Marginalisasi ( Peminggiran ) Perempuan Proses marginalisasi (Peminggiran) yang mengakibatkan kemiskinan banyak terjadi dalam masyarakat dinegara berkembang seperti penggusuran dari kampung halamannya. Dari segi gender pekerja perempuan tersingkir dan menjadi miskin. Banyak lapangan pekerjaan yang menutup pintu bagi laki–laki karena anggapan bahwa mereka kurang teliti melakukan pekerjaan yang memerlukan kecermatan dan kesabaran
  • 9.
    Contoh dari marjinalisasi a) Usaha konveksi yang lebih suka menyerap tenaga perempuan. b) Peluang menjadi pembantu RT lebih banyak diberikan pada perempuan. c) Pemupukan dan pengendalian hama dengan tekhnologi baru yang dikerjakan laki – laki. d) Pemotongan padi dengan peralatan mesin yang membutuhkan tenaga dan keterampilan laki – laki, menggantikan tenaga perempuan dengan ani – ani. e) Banyak pekerjaan perempuan yang dianggap sebagai pekerjaan perempuan Guru taman kanak – kanak, sekretaris, atau perawat dinilai lebih rendah dibanding pekerjaan laki – laki, dan juga berpengaruh pada pembedaan gaji yang diterima oleh perempuan. 2. Sub Ordinasi (Penomorduaan) Pada dasarnya adalah keyakinan bahwa salah satu jenis kelamin dianggap lebih penting atau lebih utama dibanding jenis kelamin lainnya. Sejak dahulu ada pandangan yang menempatkan kedudukan dan peran perempuan lebih rendah dari laki – laki. Dalam tradisi budaya, agama dan birokrasi memperlihatkan bahwa masih ada nilai – nilai dalam masyarakat yang membatasi ruang gerak perempuan dalam berbagai kehidupan. Contoh dari sub ordinasi Seorang isteri yang hendak mengikuti tugas belajar atau hendak bepergian keluar negeri, ia harus mendapat izin dari suami, tetapi apabila suami akan pergi ia bisa mengambil keputusannya sendiri tanpa harus mendapat izin dari isteri. Kondisi seperti ini membuat perempuan pada posisi yang tidak penting. Perempuan bisa menempati posisi penting sebagai pimpinan bawahannya laki-laki sering merasa tertekan, merasa lemah dan kurang macho (kurang laki – laki) inilah bentuk ketidak adilan gender yang dialami oleh perempuan namun yang dampaknya mengenai laki – laki. 3. Pandangan Stereotype Pelabelan atau penandaan atau citra buruk ( stereotype ) yang sering sekali bersifat negatif secara umum selalu melahirkan ketidak adilan. Contoh pandangan stereotype Misalnya perempuan yang pulang larut malam adalah pelacur, jalang dan berbagai sebutan buruk lainnya. Perbedaan Standar Penilaian Terhadap Prilaku Perempuan Dan Laki - Laki Label perempuan sebagai ibu rumah tangga sangat merugikan jika hendak aktif dalam kegiatan laki – laki dalam kegiatan politik, Bisnis maupun birokrasi. Label laki – laki sebagai pencari nafkah mengakibatkan apa saja yang dihasilkan perempuan dianggap sebagai sambilan sehingga kurang dihargai. Keramah - tamaan laki – laki dianggap merayu dan keramah – tamaan perempuan dinilai genit. Perempuan dianggap pandai merayu maka pekerjaanya dianggap pantas bekerja dibagian penjualan. Laki – laki marah dianggap tegas, perempuan marah atau tersinggung dianggap emosional. 4. Violence (Kekerasan)
  • 10.
    Kekerasan terhadap perempuansebagai akibat perbedaan peran muncul dalam berbagai bentuk. Kata kekerasan (violence) adalah suatu serangan terhadap fisik maupun integritas mental psikologi seseorang. Contoh serangan fisik : perkosaan, pemukulan, dan penyiksaan. Contoh serangan non fisik : pelecehan seksual, ancaman dan paksaan secara emosional perempuan atau laki-laki yang mengalaminya akan tertekan bathinnya. Pelaku kekerasan karena gender : a) Suami membatasi uang belanja dan memonitor pengeluarannya secara ketat. b) Isteri menghina/ mencela kemampuan seksual atau kegagalan karir suami 5. Beban Kerja Berlebihan Yaitu tugas dan tanggung jawab perempuan yang berat dan terus menerus. Misalnya, seorang perempuan selain melayani suami (seks), hamil, melahirkan, menyusui, juga harus menjaga rumah. Disamping itu, kadang ia juga ikut mencari nafkah (di rumah), dimana hal tersebut tidak berarti menghilangkan tugas dan tanggung jawab diatas. F. Faktor-Faktor Penyebab Diskriminasi Terhadap Perempuan Beberapa faktor penyebab diskriminasi terhadap kaum perempuan antara lain disebabkan oleh : 1.Nilai-nilai dan budaya patriarkhi. 2.Rendahnya kapasitas perempuan. 3.Kebijakan hukum, peraturan dan sistem yang diskriminatif. 4.Kebijakan-program yang diskriminatif. G. Dampak Diskriminasi Terhadap Perempuan Akibat diskriminasi terhadap perempuan, seringkali akan membawa dampak antara lain: 1. Traumatik dan ketakutan (phobia) yang berlebihan terhadap hal-hal buruk yang pernah menimpanya. 2. Rasa dendam dan amarah yang tidak dapat dikendalikan baik itu atas dirinya sendiri ataupun terhadap orang lain karena perlakuan diskriminasi yang diterimanya. 3. Rasa rendah diri atau kurang percaya diri misalnya karena akibat dipinggirkan. 4. Cacat fisik ataupun bekas kekerasan lainnya yang diterima perempuan, misalnya dalam kasus KDRT (kekerasan dalam rumah tangga). 5. Berperilaku menyimpang, misalnya seseorang merasa dikucilkan di keluarga, maka ia akan mencari pelarian lain seperti masuk geng-geng ataupun terjerat dalam narkoba. H. Memperjuangkan kesetaraan Memperjuangkan kesetaraan bukanlah berarti mempertentangkan dua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan. Tetapi, ini lebih kepada membangun
  • 11.
    hubungan (relasi) yangsetara. Kesempatan harus terbuka sama luasnya bagi laki-laki ataupun perempuan, sama pentingnya, untuk mendapatkan pendidikan, makanan yang bergizi, kesehatan, kesempatan kerja, termasuk terlibat aktif dalam organisasi sosial-politik dan proses-proses pengambilan keputusan. Hal ini mungkin bisa terjadi jika mitos-mitos seputar citra (image) menjadi “perempuan” dan “laki-laki” dapat diperbaiki. Memang tidak ada cara lain. Sebagai laki-laki ataupun perempuan, kita harus menyadari bahwa kita adalah pemain dalam kondisi (hubungan) ini. Jadi, untuk bisa mengubah kondisi-kondisi yang tidak menguntungkan ini, maka baik sebagai laki-laki atau perempuan kita harus terlibat. Berkenaan dengan hal ini, pemerintah Indonesia bahkan telah mengeluarkan Inpres no. 9 tahun 2001 tentang Pengarus-Utamaan Gender (PUG), yang menyatakan bahwa seluruh program kegiatan pemerintah harus mengikutsertakan PUG dengan tujuan untuk menjamin penerapan kebijakan yang berperspektif jender. Tetapi bagaimana kita sebaiknya memulainya ?. Mungkin langkah-langkah ini dapat membantu. 1. Bangun kesadaran diri Hal pertama yang harus kita lakukan adalah membangun kesadaran diri. Ini bisa dilakukan melalui pendidikan. Karena peran-peran yang menimbulkan relasi tak setara terjadi akibat pengajaran dan sosialisasi, cara mengubahnya juga melalui pengajaran dan sosialisasi baru. Kita bisa melakukan latihan atau diskusi secara kritis. Minta profesional, aktivis kesetaraan gender, atau siapa pun yang kita pandang mampu membantu untuk memandu pelatihan dan diskusi yang kita adakan bersama. 2. Bukan urusan perempuan semata Kita harus membangun pemahaman dan pendekatan baru bahwa ini juga menyangkut laki-laki. Tidak mungkin akan terjadi perubahan jika laki-laki tidak terlibat dalam usaha ini. perempuan bisa dilatih untuk lebih aktif, berani, dan mampu mengambil keputusan, sedangkan laki-laki pun perlu dilatih untuk menghormati dan menghargai kemampuan perempuan dan mau bermitra untuk maju. 3. Bicarakan Salah satu cara untuk memulai perubahan adalah dengan mengungkapkan hal-hal yang menimbulkan tekanan atau diskriminasi. Cara terbaik adalah bersuara dan membicarakannya secara terbuka dan bersahabat. Harus ada media untuk membangun dialog untuk menyepakati cara-cara terbaik membangun relasi yang setara dan adil antar jenis kelamin. Bukankah ini jauh lebih membahagiakan ?. 4. Kampanyekan Karena ini menyangkut sistem sosial-budaya yang besar, hasil dialog atau kesepakatan untuk perubahan yang lebih baik harus kita kampanyekan sehingga masyarakat dapat memahami idenya dan dapat memberikan dukungan yang dibutuhkan. Termasuk di dalamnya mengubah cara pikir dan cara pandang masyarakat melihat “laki-laki” dan “perempuan” dalam ukuran “kepantasan” yang mereka pahami. Masyarakat harus memahami bahwa beberapa sistem sosial-budaya yang merupakan produk cara berpikir sering kali tidak berpihak, menekan, dan
  • 12.
    menghambat peluang perempuanuntuk memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki. Jadi ini memang merupakan soal mengubah cara pikir. 5. Terapkan dalam kehidupan sehari-hari Tidak ada cara terbaik untuk merealisasikan kondisi yang lebih baik selain menerapkan pola relasi yang setara dalam kehidupan kita masing-masing. Tentu saja semua harus dimulai dari diri kita sendiri, lalu kemudian kita dorong orang terdekat kita untuk menerapkannya. Mudah-mudahan dampaknya akan lebih meluas. PENUTUP A. Kesimpulan 1.Diskriminasi gender merujuk kepada bentuk ketidakadilan terhadap individu tertentu, dimana bentuknya seperti pelayanan (fasilitas) yang dibuat berdasarkan karakteristik yang diwakili oleh individu tersebut. 2.Bentuk-bentuk diskriminasi gender terhadap perempuan adalah marginalisasi (peminggiran), sub ordinasi (penomorduaan), pandangan stereotype (Pelabelan atau penandaan atau citra buruk), violence (kekerasan) dan beban kerja yang berlebihan. a.Faktor-faktor penyebab diskriminasi gender terhadap perempuan antara lain : nilai-nilai dan budaya patriarkhi, rendahnya kapasitas perempuan, kebijakan hukum, peraturan dan sistem yang diskriminatif, kebijakan-program yang diskriminatif. b.Dampak dari diskriminasi gender terhadap perempuan antara lain : traumatik dan ketakutan yang berlebih, dendam dan amarah yang tidak terkendali, rasa rendah diri dan kurang percaya diri, berperilaku menyimpang serta luka fisik maupun batin. c.Cara memperjuangkan kesetaraan gender bagi perempuan yaitu : bangun kesadaran diri, membangun pemahaman dan pendekatan baru bahwa ini juga menyangkut laki-laki, mengungkapkan hal-hal yang menimbulkan tekanan atau diskriminasi, kampanyekan dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari. B.Saran Semoga dengan adanya makalah ini, tidak hanya perempuan, bahkan tiap orang lebih menghargai sesama, lebih menghargai kesetaraan gender agar tidak ada lagi diskriminasi gender. Kami mohon kritik dan saran yang membangun untuk terciptanya makalah yang lebih baik dan tentunya akan bermanfaat bagi kita semua.