OLEH :
Ns. Ade Rahman, S.Kep
NUPN : 9910677110
Pengertian Etika
Kata etika berasal dari kata yunani, yaitu ethos.
Menurut Araskar dan David (1978) berarti “kebiasaan”
model perilaku atau standar yang diharapkan dan
kriteria tertentu untuk suatu tindakan.
Etika berhubungan dengan hal yang baik dan dan hal
yang tidak baik serta kewajiban moral. Etika
berhubungan dengan peraturan untuk perbuatan
atau tindakan yang mempunyai prinsip benar dan
salah serta prinsip moralitas karena etika
mempunyai tanggung jawab moral.
Menyimpang dari kode etik berarti tidak memiliki
perilaku yang baik dan tidak memiliki moral yang
baik
Keperawatan adalah pelayanan vital terhadap
manusia yang menggunakan manusia juga, yaitu
perawat.
Pelayanan ini berdasarkan kepercayaan bahwa
perawat akan berbuat hal yang benar, hal yang
diperlukan , dan hal yang menguntungkan pasien
dan kesehatannya.
Kebutuhan pelayanan keperawatan adalah universal.
Pelayanan profesional berdasarkan kebutuhan
manusia, karena itu tidak mebedakan kebangsaan,
warna kulit, politik, status sosial, dll.
Kadang-kadang perawat dihadapkan pada situasi yang
memerlukan keputusan untuk mengambil tindakan.
Perawat memberi asuhan kepada klien, keluarga
dan masyarakat, menerima tanggung jawab untuk
membuat keadaan lingkungan fisik, sosial, dan
spiritual yang memungkinkan untuk penyembuhan
dan menekankan pencegahan penyakit, serta
meningkatkan kesehatan dengan penyuluhan
kesehatan.
Etika profesi keperawatan merupakan alat untuk
mengukur perilaku moral dalam keperawatan.
Dalam penyusunan alat ukur ini, keputusan diambil
berdasarkan kode etik sebagai standar yang
mengukur dan mengevaluasi perilaku moral
perawat.
Secara umum tujuan etika profesi keperawatan
adalah menciptakan dan mempertahankan
kepercayaan klien kepada perawat, kepercayaan di
antara sesama perawat, dan kepercayaan
masyarakat kepada profesi keparawatan.
Menurut American Ethics Commision Bureau on
Teaching, tujuan etika profesi keperawatan adalah
mampu:
 Mengenal dan mengidentifikasi unsur moral dalam
praktik keperawatan.
 Membentuk strategi / cara dan menganalisis
masalah moral yang terjadi dalam praktik
keperawatan.
 Menghubungkan prinsip moral / pelajaran yang baik
dan dapat dipertanggung jawabkan pada diri
sendiri, keluarga, masyarakat, dan kepada Tuhan,
sesuai dengan kepercayaannya.
KODE ETIK
KEPERAWATAN
Etika berbagai profesi digariskan dalam kode etik
yang bersumber dari martabat dan hak manusia
(yang memiliki sikap menerima) dan kepercayaan
dari profesi.
Profesi menyusun kode etik berdasarkan kode etik
penghormatan atas nilai dan situasi individu yang
dilayani.
Kode etik keperawatan merupakan bagian dari etika
kesehatan yang menerapkan nilai etika terhadap
bidang pemeliharaan atau pelayanan kesehatan
masyarakat. Kode etik keperawatan di Indonesia
telah disusun oleh Dewan Pimpinan Pusat Persatuan
Perawat Nasional Indonesia melalui Musyawarah
Nasional PPNI di Jakarta pada tanggal 29 November
1989.
Kode etik keperawatan Indonesia tersebut terdiri dari 5
bab dan 16 pasal
Bab 1, terdiri dari empat pasal, menjelaskan tentang
tanggung jawab perawat terhadap individu, keluarga,
dan masyarakat.
Bab 2 terdiri dari lima pasal, menjelaskan tentang
tanggung jawab perawat terhadap tugasnya.
Bab 3, terdiri dari dua pasal, menjelaskan tentang
tanggung jawab perawat terhadap sesama perawat dan
profesi kesehatan lain.
Bab 4, terdiri dari empat pasal, menjelaskan tentang
tanggung jawab perawat terhadap profesi keperawatan.
Bab 5, terdiri dari dua pasal, menjelaskan tentang tang-
gung jawab perawat terhadap pemerintah, bangsa, dan
tanah air.
Kode etik keperawatan menurut American Nurses
Association (ANA) adalah sebagai berikut.
 Perawat memberikan pelayanan dengan penuh
hormat bagi martabat kemanusiaan dan keunikan
klien yang tidak dibatasi oleh pertimbangan-
pertimbangan status sosial atau ekonomif atribut
personal, atau corak masalah kesehatannya.
 Perawat melindungi hak klien akan privasi dengan
memegang teguh informasi yang bersifat rahasia.
 Perawat melindungi klien dan publik bila kesehatan
dan keselamatannya terancam oleh praktik
seseorang yang tidak berkompeten, tidak etis, atau
ilegal.
 Perawat memikul tanggung jawab atas pertimbangan
dan tindakan perawatan yang dijalankan masing-masing
individu.
 Perawat memelihara kompetensi keperawatan.
 Perawat melaksanakan pertimbangan yang beralasan
dan menggunakan kompetensi dan kualifikasi individu
sebagai kriteria dalam mengusahakan konsultasi,
menerima tanggung jawab, dan melimpahkan kegiatan
keperawatan kepada orang lain.
 Perawat turut serta beraktivitas dalam membantu
pengembangan pengetahuan profesi.
 Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi untuk
melaksanakan dan meningkatkan standar keperawatan.
 Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi
untuk membentuk dan membina kondisi kerja yang
mendukung pelayanan keperawatan yang
berkualitas.
 Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi
untuk melindungi publik terhadap informasi dan
gambaran yang salah serta mempertahankan
integritas perawat.
 Perawat bekerjasama dengan anggota profesi
kesehatan atau warga masyarakat Iainnya dalam
meningkatkan upaya-upaya masyarakat dan
nasional untuk memenuhi kebutuhan kesehatan
publik.
 Tanggung jawab Keperawatan
PERMASALAHAN DASAR
ETIKA KEPERAWATAN
Lima masalah dasar etika keperawatan
1. Kuantitas vs kualitas hidup
2. Kebebasan vs penanganan dan pencegahan bahaya
3. Berkata secara jujur vs berkata bohong
4. Keinginan terhadap pengetahuan yang
bertentangan dengan falsafah, agama, politik,
ekonomi dan ideologi
5. Terapi konvensional vs terapi tidak ilmiah atau
coba-coba
Contoh :
1. Seorang bayi dilahirkan dengan penyakiy sindrom down
dan beberapa cacat bawaan lainnya. Untuk
menyelamatkan kehidupannya, suatu operasi dilakukan
dengan segera. Namun, kedua orang tua menolak dengan
alasan justru akan menambah penderitaan anak dan
mereka tidak dapat memeliharanya.
2. Seorang ibu meminta perawat untuk melepas semua
slang yang dipasang pada anaknya yang berusia 14 tahun,
yang telah koma selama delapan hari. Dalam keadaan
seperti ini, perawat menghadapi masalah tentang posisi
yang dimilikinya dalam menentukan keputusan secara
moral.
Disinilah perawat berada pada posisi masalah kuantitas vs
kualitas hidup karena keluarga menanyakan apakah slang
dipasang hampir pada semua bagian tubuh tersebut
dapat mempertahankan hidup klien.
Contoh :
Seorang klien berusia lanjut yang menolak
untuk mengenakan sabuk pengaman sewaktu
berjalan. Ia ingin berjalan dengan bebas.
Pada situasi ini, perawat menghadapi masalah
upaya menjaga keselamatan klien yang
bertentangan dengan kebebasan klien.
Contoh :
Seorang perawat yang mendapati teman
kerjanya menggunakan narkotika. Dalam
posisi ini, perawat tersebut berada pada
pilihan apakah mengatakan hal ini secara
terbuka atau diam karena diancam akan
dibuka pula rahasia yang dimilikinya bila
melaporkan hal itu pada orang lain.
Contoh :
1. Kampanye antirokok demi keselamatan
bertentangan dengan kebijakan ekonomi
2. Alokasi dana untuk penelitian militer lebih besar
daripada dana penelitian kesehatan
Dalam melakukan tindakan terapi
konvensional, masyarakat biasanya
menggunakan berbagai perantara, seperti
dukun, keris, batu akik dsb.
Contoh :
Di Irian Jaya sebagian masyarakat melakukan
tindakan untuk mengatasi nyeri dengan daun
daunan yang sifatnya gatal. Mereka percaya
bahwa daun tersebut terdapat “miang” yang
dapat melekat dan menghilangkan rasa nyeri
bila dipukul-pukulkan pada bagian tubuh
yang sakit.
Bagaimana penyelesaiannya
1. Metode otoritas
2. Metode consensum hominum
3. Metode pendekatan intuisi atau self-
evidence
4. Metode argumentasi atau metode sokratik
Metode ini menyatakan bahwa dasar setiap
tindakan atau keputusan adalah otoritas.
Otoritas dapat berasal dari manusia atau
kepercayaan supernatural, kelompok
manusia, atau suatu institusi, seperti majelis
ulama, dewan gereja, atau pemerintahan.
Penggunaan metode ini terbatas hanya pada
penganut yang percaya.
Metode ini menggunakan pendekatan
berdasarkan persetujuan masyarakat luas
atau sekelompok manusia yang terlibat
dalam pengkajian suatu masalah. Segela
sesuatu yang diyakini bijak dan secara etika
dapat diterima, dimasukan dalam keyakinan.
Metode ini dinyatakan oleh para ahli filsafat
berdasarkan pada apa yang mereka kenal
sebagai konsep teknik intuisi. Metode ini
terbatas hanya pada orang-orang yang
mempunyai intuisi tajam.
Metode ini menggunakan pendekatan dengan
mengajukan pertanyaan atau mencari
jawaban dengan alasan yang tepat. Metode
ini digunakan untuk memahami fenomena
etika.
SEKIAN

Konsep dasar etika profesi keperawatan

  • 1.
    OLEH : Ns. AdeRahman, S.Kep NUPN : 9910677110
  • 3.
    Pengertian Etika Kata etikaberasal dari kata yunani, yaitu ethos. Menurut Araskar dan David (1978) berarti “kebiasaan” model perilaku atau standar yang diharapkan dan kriteria tertentu untuk suatu tindakan. Etika berhubungan dengan hal yang baik dan dan hal yang tidak baik serta kewajiban moral. Etika berhubungan dengan peraturan untuk perbuatan atau tindakan yang mempunyai prinsip benar dan salah serta prinsip moralitas karena etika mempunyai tanggung jawab moral. Menyimpang dari kode etik berarti tidak memiliki perilaku yang baik dan tidak memiliki moral yang baik
  • 4.
    Keperawatan adalah pelayananvital terhadap manusia yang menggunakan manusia juga, yaitu perawat. Pelayanan ini berdasarkan kepercayaan bahwa perawat akan berbuat hal yang benar, hal yang diperlukan , dan hal yang menguntungkan pasien dan kesehatannya. Kebutuhan pelayanan keperawatan adalah universal. Pelayanan profesional berdasarkan kebutuhan manusia, karena itu tidak mebedakan kebangsaan, warna kulit, politik, status sosial, dll.
  • 5.
    Kadang-kadang perawat dihadapkanpada situasi yang memerlukan keputusan untuk mengambil tindakan. Perawat memberi asuhan kepada klien, keluarga dan masyarakat, menerima tanggung jawab untuk membuat keadaan lingkungan fisik, sosial, dan spiritual yang memungkinkan untuk penyembuhan dan menekankan pencegahan penyakit, serta meningkatkan kesehatan dengan penyuluhan kesehatan.
  • 6.
    Etika profesi keperawatanmerupakan alat untuk mengukur perilaku moral dalam keperawatan. Dalam penyusunan alat ukur ini, keputusan diambil berdasarkan kode etik sebagai standar yang mengukur dan mengevaluasi perilaku moral perawat. Secara umum tujuan etika profesi keperawatan adalah menciptakan dan mempertahankan kepercayaan klien kepada perawat, kepercayaan di antara sesama perawat, dan kepercayaan masyarakat kepada profesi keparawatan.
  • 7.
    Menurut American EthicsCommision Bureau on Teaching, tujuan etika profesi keperawatan adalah mampu:  Mengenal dan mengidentifikasi unsur moral dalam praktik keperawatan.  Membentuk strategi / cara dan menganalisis masalah moral yang terjadi dalam praktik keperawatan.  Menghubungkan prinsip moral / pelajaran yang baik dan dapat dipertanggung jawabkan pada diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan kepada Tuhan, sesuai dengan kepercayaannya.
  • 8.
  • 9.
    Etika berbagai profesidigariskan dalam kode etik yang bersumber dari martabat dan hak manusia (yang memiliki sikap menerima) dan kepercayaan dari profesi. Profesi menyusun kode etik berdasarkan kode etik penghormatan atas nilai dan situasi individu yang dilayani.
  • 10.
    Kode etik keperawatanmerupakan bagian dari etika kesehatan yang menerapkan nilai etika terhadap bidang pemeliharaan atau pelayanan kesehatan masyarakat. Kode etik keperawatan di Indonesia telah disusun oleh Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia melalui Musyawarah Nasional PPNI di Jakarta pada tanggal 29 November 1989.
  • 11.
    Kode etik keperawatanIndonesia tersebut terdiri dari 5 bab dan 16 pasal Bab 1, terdiri dari empat pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat terhadap individu, keluarga, dan masyarakat. Bab 2 terdiri dari lima pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat terhadap tugasnya. Bab 3, terdiri dari dua pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat terhadap sesama perawat dan profesi kesehatan lain. Bab 4, terdiri dari empat pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat terhadap profesi keperawatan. Bab 5, terdiri dari dua pasal, menjelaskan tentang tang- gung jawab perawat terhadap pemerintah, bangsa, dan tanah air.
  • 12.
    Kode etik keperawatanmenurut American Nurses Association (ANA) adalah sebagai berikut.  Perawat memberikan pelayanan dengan penuh hormat bagi martabat kemanusiaan dan keunikan klien yang tidak dibatasi oleh pertimbangan- pertimbangan status sosial atau ekonomif atribut personal, atau corak masalah kesehatannya.  Perawat melindungi hak klien akan privasi dengan memegang teguh informasi yang bersifat rahasia.  Perawat melindungi klien dan publik bila kesehatan dan keselamatannya terancam oleh praktik seseorang yang tidak berkompeten, tidak etis, atau ilegal.
  • 13.
     Perawat memikultanggung jawab atas pertimbangan dan tindakan perawatan yang dijalankan masing-masing individu.  Perawat memelihara kompetensi keperawatan.  Perawat melaksanakan pertimbangan yang beralasan dan menggunakan kompetensi dan kualifikasi individu sebagai kriteria dalam mengusahakan konsultasi, menerima tanggung jawab, dan melimpahkan kegiatan keperawatan kepada orang lain.  Perawat turut serta beraktivitas dalam membantu pengembangan pengetahuan profesi.  Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi untuk melaksanakan dan meningkatkan standar keperawatan.
  • 14.
     Perawat turutserta dalam upaya-upaya profesi untuk membentuk dan membina kondisi kerja yang mendukung pelayanan keperawatan yang berkualitas.  Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi untuk melindungi publik terhadap informasi dan gambaran yang salah serta mempertahankan integritas perawat.  Perawat bekerjasama dengan anggota profesi kesehatan atau warga masyarakat Iainnya dalam meningkatkan upaya-upaya masyarakat dan nasional untuk memenuhi kebutuhan kesehatan publik.  Tanggung jawab Keperawatan
  • 15.
  • 16.
    Lima masalah dasaretika keperawatan 1. Kuantitas vs kualitas hidup 2. Kebebasan vs penanganan dan pencegahan bahaya 3. Berkata secara jujur vs berkata bohong 4. Keinginan terhadap pengetahuan yang bertentangan dengan falsafah, agama, politik, ekonomi dan ideologi 5. Terapi konvensional vs terapi tidak ilmiah atau coba-coba
  • 17.
    Contoh : 1. Seorangbayi dilahirkan dengan penyakiy sindrom down dan beberapa cacat bawaan lainnya. Untuk menyelamatkan kehidupannya, suatu operasi dilakukan dengan segera. Namun, kedua orang tua menolak dengan alasan justru akan menambah penderitaan anak dan mereka tidak dapat memeliharanya. 2. Seorang ibu meminta perawat untuk melepas semua slang yang dipasang pada anaknya yang berusia 14 tahun, yang telah koma selama delapan hari. Dalam keadaan seperti ini, perawat menghadapi masalah tentang posisi yang dimilikinya dalam menentukan keputusan secara moral. Disinilah perawat berada pada posisi masalah kuantitas vs kualitas hidup karena keluarga menanyakan apakah slang dipasang hampir pada semua bagian tubuh tersebut dapat mempertahankan hidup klien.
  • 18.
    Contoh : Seorang klienberusia lanjut yang menolak untuk mengenakan sabuk pengaman sewaktu berjalan. Ia ingin berjalan dengan bebas. Pada situasi ini, perawat menghadapi masalah upaya menjaga keselamatan klien yang bertentangan dengan kebebasan klien.
  • 19.
    Contoh : Seorang perawatyang mendapati teman kerjanya menggunakan narkotika. Dalam posisi ini, perawat tersebut berada pada pilihan apakah mengatakan hal ini secara terbuka atau diam karena diancam akan dibuka pula rahasia yang dimilikinya bila melaporkan hal itu pada orang lain.
  • 20.
    Contoh : 1. Kampanyeantirokok demi keselamatan bertentangan dengan kebijakan ekonomi 2. Alokasi dana untuk penelitian militer lebih besar daripada dana penelitian kesehatan
  • 21.
    Dalam melakukan tindakanterapi konvensional, masyarakat biasanya menggunakan berbagai perantara, seperti dukun, keris, batu akik dsb. Contoh : Di Irian Jaya sebagian masyarakat melakukan tindakan untuk mengatasi nyeri dengan daun daunan yang sifatnya gatal. Mereka percaya bahwa daun tersebut terdapat “miang” yang dapat melekat dan menghilangkan rasa nyeri bila dipukul-pukulkan pada bagian tubuh yang sakit.
  • 22.
  • 23.
    1. Metode otoritas 2.Metode consensum hominum 3. Metode pendekatan intuisi atau self- evidence 4. Metode argumentasi atau metode sokratik
  • 24.
    Metode ini menyatakanbahwa dasar setiap tindakan atau keputusan adalah otoritas. Otoritas dapat berasal dari manusia atau kepercayaan supernatural, kelompok manusia, atau suatu institusi, seperti majelis ulama, dewan gereja, atau pemerintahan. Penggunaan metode ini terbatas hanya pada penganut yang percaya.
  • 25.
    Metode ini menggunakanpendekatan berdasarkan persetujuan masyarakat luas atau sekelompok manusia yang terlibat dalam pengkajian suatu masalah. Segela sesuatu yang diyakini bijak dan secara etika dapat diterima, dimasukan dalam keyakinan.
  • 26.
    Metode ini dinyatakanoleh para ahli filsafat berdasarkan pada apa yang mereka kenal sebagai konsep teknik intuisi. Metode ini terbatas hanya pada orang-orang yang mempunyai intuisi tajam.
  • 27.
    Metode ini menggunakanpendekatan dengan mengajukan pertanyaan atau mencari jawaban dengan alasan yang tepat. Metode ini digunakan untuk memahami fenomena etika.
  • 28.