YUNI 
ORNELA 
ASTRIANI 
SUTISNA 
RINI 
MARYAMAH
PENDAHULUAN 
Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan YME yang telah 
memberikan rahmat-Nya kepada kami semua khususnya bagi kami 
selaku tim kelompok. Yang telah dapat menyelesaikan tugas bidang 
study Sejarah untuk memenuhi nilai kelompok kami yang 
diajukan/ditugaskan oleh guru Sejarah yaitu bapak Drs. Zainal 
Mutakin, MM.Pd. kepada kami dalam bentuk format presentasi 
Power Point. Mengenai Islam masuk Kerajaan Nusantara khususnya 
pulau Kalimantan dan Sulawesi. 
Untuk mengetahui lebih lengkap Islam masuk Istana 
Kalimantan dan Sulawesi. 
Mari kita pelajarai materi ini. 
Sebelumnya tugas dalam bentuk format Power Point ini masih 
banyak kekurangan seperti dalam peribahasa yaitu “Tidak ada 
gading yang tidak retak.” 
Jadi kami sangat mengharapkan koreksi dari teman-teman 
sekalian. Tujuannya untuk menyempurnakan tugas ini. 
Tim Kelompok
MATERI 
ISLAM MASUK 
ISTANA 
KALIMANTAN SULAWESI
KESULTANAN 
PASIR (1516) 
KESULTANAN 
BANJAR 
(1526-1905) 
KERAJAAN 
PAGATAN 
(1750) 
KESULTANAN 
SAMBALIUNG 
(1810) 
KESULTANAN 
BERAU 
(1400) 
KESULTANAN 
SAMBAS 
(1750) 
KESULTANAN 
GUNUNG 
TABUR (1820) 
KESULTANAN 
PONTIANAK 
(1771) 
KESULTANAN 
BULUNGAN 
(1731) 
ISLAM MASUK ISTANA 
KALIMANTAN
Kerajaan-kerajaan yang terletak di daerah 
Kalimantan Barat antara lain Tanjungpura dan Lawe. 
Kedua kerajaan tersebut pernah diberitakan Tome 
Pires (1512-1551). Tanjungpura dan Lawe menurut 
berita musafir Portugis sudah mempunyai kegiatan 
dalam perdagangan baik dengan Malaka dan Jawa, 
bahkan kedua daerah yang diperintah oleh Pate 
atau mungkin adipati kesemuanya tunduk kepada 
kerajaan di Jawa yang diperintah Pati Unus. 
Tanjungpura dan Lawe (daerah Sukadana) 
menghasilkan komoditi seperti emas, berlian, padi, 
dan banyak bahan makanan. Banyak barang 
dagangan dari Malaka yang dimasukkan ke daerah 
itu, demikian pula jenis pakaian dari Bengal dan 
Keling yang berwarna merah dan hitam dengan 
harga yang mahal dan yang murah. Pada abad ke-17 
kedua kerajaan itu telah berada di bawah pengaruh 
kekuasaan Kerajaan Mataram terutama dalam 
menghadapai ekspansi politik VOC.
Demikian pula Kotawaringin yang kini sudah termasuk wilayah 
Kalimantan Barat pada masa Kerajaan Banjar juga sudah masuk dalam 
pengaruh Mataram, sekurang-kurangnya sejak abad ke-16. meskipun kita 
tidak mengetahui dengan pasti kehadiran Islam di Pontianak, konon ada 
pemberitaan bahwa sekitar abad ke-18 atau 1720 ada rombongan pendakwah 
dari Tarim (Hadramaut) yang di antaranya datang ke daerah Kalimantan Barat 
untuk mengajarkan membaca al-Qur'an, ilmu fikih, dan ilmu hadis. Mereka di 
antaranya Syarif Idrus bersama anak buahnya pergi ke Mampawah, tetapi 
kemudian menelusuri sungai ke arah laut memasuki Kapuas Kecil sampailah ke 
suatu tempat yang yang menjadi cikal bakal kota Pontianak. Syarif Idrus 
kemudian diangkat menjadi pimpinan utama masyarakat di tempat itu dengan 
gelar Syarif Idrus ibn Abdurrahman al-Aydrus yang kemudian memindahkan 
kota dengan pembuatan benteng atau kubu dari kayu-kayuan untuk 
pertahanan. Sejak itu Syarif Idrus ibn Abdurrahman al-Aydrus dikenal sebagai 
Raja Kubu. Daerah itu mengalamai kemajuan di bidang perdagangan dan 
keagamaan, sehingga banyak para pedagang yang berdatangan dari berbagai 
negeri. Pemerintahan Syarif Idrus (lengkapnya: Syarif Idrus al-Aydrus ibn 
Abdurrahman ibn Ali ibn Hassan ibn Alwi ibn Abdullah ibn Ahmad ibn Husin ibn 
Abdullah al-Aydrus) memerintah pada 1199-1209 H atau 1779-1789 M.
Cerita lainnya mengatakan bahwa pendakwah dari Tarim 
(Hadramaut) yang mengajarkan Islam dan datang ke Kalimantan bagian 
barat terutama ke Sukadana ialah Habib Husin al-Gadri. Ia semula 
singgah di Aceh dan kemudian ke Jawa sampai di Semarang dan di 
tempat itulah ia bertemu dengan pedagang Arab namanya Syaikh, 
karena itulah maka Habib al-Gadri berlayar ke Sukadana. Dengan 
kesaktian Habib Husin al-Gadri menyebabkan ia mendapat banyak 
simpati dari raja, Sultan Matan dan rakyatnya. Kemudian Habib Husin 
al-Gadri pindah dari Matan ke Mempawah untuk mmeneruskan syiar 
Islam. Setelah wafat ia diganti oleh salah seorang putranya yang 
bernama Pangeran Sayid Abdurrahman Nurul Alam. Ia pergi dengan 
sejumlah rakyatnya ke tempat yang kemudidan dinamakan Pontianak dan 
di tempat inilah ia mendirikan keratondan masjid agung. Pemerintah 
Syarif Abdurrahman Nur Alam ibn Habib Husin al-Gadri pada 1773-1808, 
digantikan oleh Syarif Kasim ibn Abdurrahman al-Gadri pada 1808-1828 
dan selanjutnya Kesultanan Ponianak di bawah pemerintah sultan-sultan 
keluarga Habib Husin al-Gadri. 
BACK
Kesultanan Banjar atau Kesultanan 
Banjarmasin (berdiri 1520, dihapuskan sepihak 
oleh Belanda pada 11 Juni 1860. Namun rakyat 
Banjar tetap mengakui ada pemerintahan 
darurat/pelarian yang baru berakhir pada 24 
Januari 1905. Namun sejak 24 Juli 2010, 
Kesultanan Banjar hidup kembali dengan 
dilantiknya Sultan Khairul Saleh. 
Kerajaan Banjar adalah sebuah 
kesultanan wilayahnya saat ini termasuk ke 
dalam provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. 
Kesultanan ini semula beribukota di Banjarmasin 
kemudian dipindahkan ke beberapa tempat dan 
terkahir di Martapura. Ketika beribukota di 
Martapura disebut juga Kerajaan Kayu Tangi. 
Ketika ibukotanya masih di 
Banjarmasin, maka kesultanan ini disebut 
Kesultanan Banjarmasin. Kesultanan Banjar 
merupakan penerus dari Kerajaan Negara Daha 
yaitu kerajaan Hindu yang beribukota di kota 
Negara, sekarang merupakan ibukota 
kecamatan Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan.
Pemimpin Yang Memerintah di Kesultanan Banjar 
• 1520-1546Raja Banjarmasih. Nama lahirnya Raden Samudra, Raja Banjar 
pertama sebagai perampas kekuasaan yang memindahkan pusat 
pemerintahan di Kampung Banjarmasih yang menggantikan pamannya raja 
Pangeran Tumenggung (Raden Panjang), menurutnya dia ahli waris yang 
sah sesuai wasiat kakeknya Maharaja Sukarama (Raden Paksa) dari 
Kerajaan Negara Daha, padahal ia garis keturunan perempuan (menurut 
Hikayat Banjar versi resensi I). 
• *1546-1570 Raja Banjarmasih. Pemerintahannya dibantu mangkubumi Aria 
Taranggana. [24]Makamnya di Komplek Makam Sultan Suriansyah dengan 
gelar anumerta Panembahan Batu Putih. 
• * 1570-1595 Raja Banjarmasih. Pemerintahannya dibantu mangkubumi Kiai 
Anggadipa.[24] Makamnya di Komplek Makam Sultan Suriansyah dengan 
gelar anumerta Panembahan Batu Irang 
• *1595-1641 Raja Banjarmasih/Raja Martapura. Nama lahirnya Raden 
Senapati, diduga ia perampas kekuasaan, sebab ia bukanlah anak dari 
permaisuri meskipun ia anak tertua. 
• *1641-1646 Raja Martapura. Gelarnya sebelum menjadi Sultan adalah 
Pangeran Dipati Tuha [ke-1]. Pemerintahannya dibantu adiknya Pangeran di 
Darat sebagai mangkubumi. 
*
• 1646-1660 Raja Martapura. Nama lahirnya Raden Kasuma Alam. Pemerintahannya 
dibantu mangkubumi pamannya Panembahan di Darat, dilanjutkan pamannya 
Pangeran Dipati Anta-Kasuma, terakhir dilanjutkan paman tirinya Pangeran Dipati 
Mangkubumi (Raden Halit) 
Back 
• *1660-1663 Raja Martapura. Nama lahirnya Raden Halit. Ia sebagai 
temporary king/badal menjadi pelaksana tugas bagi Raden Bagus, Putra 
Mahkota yang belum dewasa 
• *1663-1679 Nama lahirnya Raden Bagus. Masa pemerintahannya sering 
ditulis tahun 1660-1700. Pada tahun 1660-1663 ia diwakilkan oleh Sultan 
Rakyatullah dalam menjalankan pemerintahan karena ia belum dewasa 
• *1663-1679 Raja Banjarmasih. Nama lahirnya Raden Kasuma Lalana. 
Mengkudeta/mengambil hak kemenakannya Raden Bagus sebagai Sultan 
Banjar. Ia dengan bantuan suku Biaju, memindahkan pusat pemerintahan ke 
Sungai Pangeran (Banjarmasin). 
• *2010 Sultan Haji Khairul Saleh Al-Mu'tashim Billah zuriat dari Pangeran 
Singosari bin Sultan Sulaiman. Pada masa kemelut Perang Banjar, hanya 
Pangeran Singosari (saudara Sultan Adam) dan Pangeran Surya Mataram 
(anak Sultan Adam) yang masih dipercaya oleh rakyat Banjar sebagai 
tempat mengadukan segala permasalahan pada masa itu. Pangeran 
Singosari merupakan "perwakilan" Kesultanan Banjar di Banua Lima.
KERAJAAN 
GOA TALLO 
KERAJAAN 
BONE 
KERAJAAN 
WAJO 
KERAJAAN 
SOPENG 
KESULTANAN 
BUTON
a. Letak Kerajaan Gowa dan Tallo 
Kerajaan Gowa dan Tallo lebih dikenal 
dengan sebutan Kerajaan Makassar. Kerajaan ini 
terletak didaerah Sulawesi Selatan. Secara 
geografis Sulawesi Selatan memiliki posisi yang 
penting, karena dekat dengan jalur pelayaran 
perdagangan Nusantara. Bahkan, daerah Makassar 
menjadi pusat persinggahan para pedagang, baik 
yang berasal dari Indonesia bagian timur, maupun 
para pedagang yang berasal dari daerah Indonesia 
bagian barat. Dengan letak seperti ini 
mengakibatkan Kerajaan Makassar berkembang 
menjadi kerajaan besar dan berkuasa atas jalur 
perdagangan Nusantara.
Kerajaan Gowa Tallo sebelum menjadi kerajaan Islam sering 
berperang dengan kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan, seperti 
dengan Luwu, Bone, Soppeng, dan Wajo. Kerajaan Luwu yang 
bersekutu dengan Wajo ditaklukan oleh Kerajaan Gowa Tallo. 
Kemudian Kerajaan Wajo menjadi daerah taklukan Gowa menurut 
Hikayat Wajo. Dalam serangan terhadap Kerajaan Gowa Tallo Karaeng 
Gowa meninggal dan seorang lagi terbunuh sekitar pada 1565. Ketiga 
ker ajaan Bone, Wajo, dan Soppeng mengadakan persatuan untuk 
mempertahankan kemerdekaannya yang disebut perjanjian 
Tellumpocco, sekitar 1582. Sejak Kerajaan Gowa resmi sebagai 
kerajaan bercorak Islam pada 1605, maka Gowa meluaskan pengaruh 
politiknya, agar-agar kerajaan lainnya juga memeluk Islam dan tunduk 
kepada Kerajaan Gowa Tallo. Kerajaan-kerajaan yang tunduk kepada 
Kerajaan Gowa Tallo antara lain Wajo pada 10 Mei 1610, dan Bone 
pada 23 November 1611.
Di daerah Sulawesi Selatan proses Islami makin mantap dengan 
adanya para mubalig yang disebut Datto Tallu (Tiga Dato), yaitu Dato' Ri 
Bandang (Abdul Makmur atau Khatib Tunggal) Dato' Ri Pattimang (Dato’ 
Sulaemana atau Khatib Sulung), dan Dato’ Ri Tiro (Abdul Jawad alias Khatib 
Bungsu), ketiganya bersaudara dan berasal dari Kolo Tengah, Minangkabau. 
Para mubalig itulah yang mengislamkan Raja Luwu yaitu Datu’ La Patiware’ 
Daeng Parabung dengan gelar sultan Muhammad pada 15-16 Ramadhan 
1013 H (4-5 Februari 1605 M). Kemudian disusul oleh Raja Gowa dan Tallo 
yaitu Karaeng Matowaya dari Tallo yang bernama I Malingkang Daeng 
Manyonri (Karaeng Tallo) mengucapkan syahadat pada Jumat sore, 9 
Jumadil Awal 1014 H atau 22 September 1605 M dengan gelar Sultan 
Abdullah. Selanjutnya Kareng Gowa I Manga’ rangi Daeng Manrabbia 
mengucapkan syahadat pada Jumat, 19 Rajab 1016 H atau 9 November 
1607 M. Perkembangan agama Islamdi daerah Sulawesi Selatan mendapat 
teman sebaik-baiknya bahkan ajaran sufisme Khalwatiyah dari Syaikh Yusuf 
al-Makassari juga tersebar di Kerajaan Gowa dan kerjaan lainnya pada 
pertengahan abad ke-17. Karena banyaknya tantangan dari kaum 
bangsawan Gowa maka ia meninggalkan Sulawesi Selatan dan pergi ke 
Banten. Di Banten ia diterima oleh Sultan Ageng Tritayasa bahkan dijadikan 
menantu dan diangkat sebagai mufti di Kesultanan Banten.
Dalam sejarah Kerajaan Gowa perlu dicatat tentang sejarah 
perjuangan Sultan Hasanuddin dalam mempertahankan kedaulatannya 
terhadadap upaya penjajahan politik dan ekonomi kompeni (VOC) Belanda. 
Semula VOC tidak menaruh perhatian terhadap Kerajaan Gowa Tallo yang 
telah mengalami kemajuan dalam bidang perdagangan. Setlah kapal 
Portugis yang dirampas oleh VOC pada masa Gubernur Jendral J. P. Coen 
di dekat perairan Malaka ternyata di kapal tersebut ada orang Makassar. Dari 
orang Makassar itulah ia mendapat berita tentang pentingnya pelabuhan 
Sombaopu sebagai pelabuhan transit terutama untuk mendatangkan 
rempah-rempah dari Maluku. Pada 1634 VOC memblokir Kerajaan Gowa 
tetapi tidak berhasil. Peristiwa peperangan dari waktu ke waktu berjalan 
terus dan baru berhenti antara 1637-1638. Tetapi perjanjian damai itu tidak 
kekal karena pada 1638 terjadi perampokan kapal orang Bugis yang 
bermuatan kayu cendana, dan muatannya tersebut telah dijual kepada orang 
Portugis. Perang di Sulawesi Selatan ini berhenti setelah terjadi perjanjian 
Bongaya pada 1667 yang sangat merugikan pihak Gowa Tallo.
b. Kehidupan Politik 
Perkembangan pesat Kerajaan Makassar tidak terlepas dari Raja-raja 
yang pernah memerintah seperti: 
Raja Alauddin Dalam abad ke-17 M, agama Islam berkembang 
cukup pesat di Sulawesi Selatan. Raja Makassar yang pertama memeluk 
agama Islam bernama Raja Alauddin yang memerintah Makassar dari tahun 
1591-1638 M. Dibawah pemerintahannya, Kerajaaan Makassar, mulai terjun 
dalam dunia pelayaran-perdagangan (dunia maritim). Perkembangan ini 
menyebabkan meningkatkannya kesejahteraan rakyat Kerajaan Makassar. 
Namun setelah wafatnya Raja Alauddin, keadaan pemerintahan kerajaaan 
tidak dapat diketahui dengan pasti.
Sultan Hasanuddin Pada masa pemerintahan 
Sultan Hasanuddin, Kerajaan Makassar mencapai 
masa kejayaannya. Dalam waktu yang cukup singkat, 
kerajaan Makassar telah berhasil menguasai hampir 
seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Cita-cita Sultan 
Hasanuddin untuk menguasai sepenuhnya jalur 
perdagangan Nusantara, mendorong perluasan 
kekuasaannya kepulauan Nusa Tenggara, seperti 
Sumbawa dan sebagian Flores. Dengan demikian, 
seluruh aktivitas pelayaran perdagangan yang melalui 
laut Flores harus singgah lebih dulu di ibukota Kerajaan 
Makassar.
Keadaan seperti itu ditentang oleh Belanda yang memiliki 
daerah kekuasaan di Maluku dengan pusatnya Ambon. 
Hubungan Batavia dengan Ambon terhalang oleh kekuasaan 
Kerajaan Makassar. Pertentangan antara Makassar dan 
Belanda sering menimbulkan peperangan. Keberanian Sultan 
Hasanuddin memimpin pasukan Kerajaan Makassar untuk 
memporak-porandakan pasukan Belanda di Maluku, 
mengakibatkan Belanda semakin terdesak . Atas 
keberaniannya, Belanda memberi julukan kepada Sultan 
Hassanudin dengan sebutan “Ayam Jantan dari Timur”. 
Dalam upaya menguasai Kerajaan Makassar, Belanda 
menjalin hubungan dengan Kerajaan Bone, dengan rajanya 
Arung Palaka. Dengan bantuan Arung Palaka, pasukan 
Belanda berhasil mendesak Kerajaan Makassar dan 
menguasai ibukota kerajaan. Akhirnya dilanjutkan dengan 
Perjanjian Bongaya (1667 M).
Mapasomba Setelah Sultan Hasanuddin 
turun tahta, ia digantikan oleh putranya yang bernama 
Mapasomba. Sultan Hasanuddin sangat berharap agar 
Mapasomba dapat bekerja sama dengan Belanda. 
Tujuannya agar Kerajaan Makassar tetap dapat 
bertahan. Ternyata Mapasomba jauh lebih keras dari 
ayahnya sehingga Belanda mengerahkan pasukan 
secara besar-besaran untuk menghadapi Mapasomba. 
Pasukan Mapasomba berhasil dihancurkan dan ia 
tidak diketahui nasibnya. Dengan kemenangan itu, 
akhirnya Belanda berkuasa atas Kerajaan Makassar. 
Back
KESIMPULAN 
Perkembangan Islam di Nusantara tidak pernah 
terlepas dari dinamika Islam di kawasan-kawasan lain. 
Karena itu, adalah keliru pandangan yang menganggap 
seolah-olah Islam Nusantara berkembang secara 
tersendiri serta terisolasi dari perkembangan dinamika 
Islam di tempat-tempat lain. 
Peradaban Islam Nusantara juga menampilkan 
ciri-ciri dari karakter yang khas, relatif berbeda dengan 
peradaban Islam di wilayah-wilayah peradaban Muslim 
lainnya, misalnya Arab, Turki, Persia, dan lainnya.
SEKIAN TERIMAKASIH 
MOHON MAAF BILA ADA BANYAK 
KESALAHAN!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! 
‘’KARENA KEBENARAN DATANG-NYA 
DARI ALLAH DAN KESALAHAN 
DATANG DARI KAMI SENDIRI’’

ISLAM MASUK ISTANA KALIMANTAN DAN SULAWESI

  • 1.
    YUNI ORNELA ASTRIANI SUTISNA RINI MARYAMAH
  • 2.
    PENDAHULUAN Puji syukurkami panjatkan atas kehadirat Tuhan YME yang telah memberikan rahmat-Nya kepada kami semua khususnya bagi kami selaku tim kelompok. Yang telah dapat menyelesaikan tugas bidang study Sejarah untuk memenuhi nilai kelompok kami yang diajukan/ditugaskan oleh guru Sejarah yaitu bapak Drs. Zainal Mutakin, MM.Pd. kepada kami dalam bentuk format presentasi Power Point. Mengenai Islam masuk Kerajaan Nusantara khususnya pulau Kalimantan dan Sulawesi. Untuk mengetahui lebih lengkap Islam masuk Istana Kalimantan dan Sulawesi. Mari kita pelajarai materi ini. Sebelumnya tugas dalam bentuk format Power Point ini masih banyak kekurangan seperti dalam peribahasa yaitu “Tidak ada gading yang tidak retak.” Jadi kami sangat mengharapkan koreksi dari teman-teman sekalian. Tujuannya untuk menyempurnakan tugas ini. Tim Kelompok
  • 3.
    MATERI ISLAM MASUK ISTANA KALIMANTAN SULAWESI
  • 4.
    KESULTANAN PASIR (1516) KESULTANAN BANJAR (1526-1905) KERAJAAN PAGATAN (1750) KESULTANAN SAMBALIUNG (1810) KESULTANAN BERAU (1400) KESULTANAN SAMBAS (1750) KESULTANAN GUNUNG TABUR (1820) KESULTANAN PONTIANAK (1771) KESULTANAN BULUNGAN (1731) ISLAM MASUK ISTANA KALIMANTAN
  • 5.
    Kerajaan-kerajaan yang terletakdi daerah Kalimantan Barat antara lain Tanjungpura dan Lawe. Kedua kerajaan tersebut pernah diberitakan Tome Pires (1512-1551). Tanjungpura dan Lawe menurut berita musafir Portugis sudah mempunyai kegiatan dalam perdagangan baik dengan Malaka dan Jawa, bahkan kedua daerah yang diperintah oleh Pate atau mungkin adipati kesemuanya tunduk kepada kerajaan di Jawa yang diperintah Pati Unus. Tanjungpura dan Lawe (daerah Sukadana) menghasilkan komoditi seperti emas, berlian, padi, dan banyak bahan makanan. Banyak barang dagangan dari Malaka yang dimasukkan ke daerah itu, demikian pula jenis pakaian dari Bengal dan Keling yang berwarna merah dan hitam dengan harga yang mahal dan yang murah. Pada abad ke-17 kedua kerajaan itu telah berada di bawah pengaruh kekuasaan Kerajaan Mataram terutama dalam menghadapai ekspansi politik VOC.
  • 6.
    Demikian pula Kotawaringinyang kini sudah termasuk wilayah Kalimantan Barat pada masa Kerajaan Banjar juga sudah masuk dalam pengaruh Mataram, sekurang-kurangnya sejak abad ke-16. meskipun kita tidak mengetahui dengan pasti kehadiran Islam di Pontianak, konon ada pemberitaan bahwa sekitar abad ke-18 atau 1720 ada rombongan pendakwah dari Tarim (Hadramaut) yang di antaranya datang ke daerah Kalimantan Barat untuk mengajarkan membaca al-Qur'an, ilmu fikih, dan ilmu hadis. Mereka di antaranya Syarif Idrus bersama anak buahnya pergi ke Mampawah, tetapi kemudian menelusuri sungai ke arah laut memasuki Kapuas Kecil sampailah ke suatu tempat yang yang menjadi cikal bakal kota Pontianak. Syarif Idrus kemudian diangkat menjadi pimpinan utama masyarakat di tempat itu dengan gelar Syarif Idrus ibn Abdurrahman al-Aydrus yang kemudian memindahkan kota dengan pembuatan benteng atau kubu dari kayu-kayuan untuk pertahanan. Sejak itu Syarif Idrus ibn Abdurrahman al-Aydrus dikenal sebagai Raja Kubu. Daerah itu mengalamai kemajuan di bidang perdagangan dan keagamaan, sehingga banyak para pedagang yang berdatangan dari berbagai negeri. Pemerintahan Syarif Idrus (lengkapnya: Syarif Idrus al-Aydrus ibn Abdurrahman ibn Ali ibn Hassan ibn Alwi ibn Abdullah ibn Ahmad ibn Husin ibn Abdullah al-Aydrus) memerintah pada 1199-1209 H atau 1779-1789 M.
  • 7.
    Cerita lainnya mengatakanbahwa pendakwah dari Tarim (Hadramaut) yang mengajarkan Islam dan datang ke Kalimantan bagian barat terutama ke Sukadana ialah Habib Husin al-Gadri. Ia semula singgah di Aceh dan kemudian ke Jawa sampai di Semarang dan di tempat itulah ia bertemu dengan pedagang Arab namanya Syaikh, karena itulah maka Habib al-Gadri berlayar ke Sukadana. Dengan kesaktian Habib Husin al-Gadri menyebabkan ia mendapat banyak simpati dari raja, Sultan Matan dan rakyatnya. Kemudian Habib Husin al-Gadri pindah dari Matan ke Mempawah untuk mmeneruskan syiar Islam. Setelah wafat ia diganti oleh salah seorang putranya yang bernama Pangeran Sayid Abdurrahman Nurul Alam. Ia pergi dengan sejumlah rakyatnya ke tempat yang kemudidan dinamakan Pontianak dan di tempat inilah ia mendirikan keratondan masjid agung. Pemerintah Syarif Abdurrahman Nur Alam ibn Habib Husin al-Gadri pada 1773-1808, digantikan oleh Syarif Kasim ibn Abdurrahman al-Gadri pada 1808-1828 dan selanjutnya Kesultanan Ponianak di bawah pemerintah sultan-sultan keluarga Habib Husin al-Gadri. BACK
  • 8.
    Kesultanan Banjar atauKesultanan Banjarmasin (berdiri 1520, dihapuskan sepihak oleh Belanda pada 11 Juni 1860. Namun rakyat Banjar tetap mengakui ada pemerintahan darurat/pelarian yang baru berakhir pada 24 Januari 1905. Namun sejak 24 Juli 2010, Kesultanan Banjar hidup kembali dengan dilantiknya Sultan Khairul Saleh. Kerajaan Banjar adalah sebuah kesultanan wilayahnya saat ini termasuk ke dalam provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Kesultanan ini semula beribukota di Banjarmasin kemudian dipindahkan ke beberapa tempat dan terkahir di Martapura. Ketika beribukota di Martapura disebut juga Kerajaan Kayu Tangi. Ketika ibukotanya masih di Banjarmasin, maka kesultanan ini disebut Kesultanan Banjarmasin. Kesultanan Banjar merupakan penerus dari Kerajaan Negara Daha yaitu kerajaan Hindu yang beribukota di kota Negara, sekarang merupakan ibukota kecamatan Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan.
  • 9.
    Pemimpin Yang Memerintahdi Kesultanan Banjar • 1520-1546Raja Banjarmasih. Nama lahirnya Raden Samudra, Raja Banjar pertama sebagai perampas kekuasaan yang memindahkan pusat pemerintahan di Kampung Banjarmasih yang menggantikan pamannya raja Pangeran Tumenggung (Raden Panjang), menurutnya dia ahli waris yang sah sesuai wasiat kakeknya Maharaja Sukarama (Raden Paksa) dari Kerajaan Negara Daha, padahal ia garis keturunan perempuan (menurut Hikayat Banjar versi resensi I). • *1546-1570 Raja Banjarmasih. Pemerintahannya dibantu mangkubumi Aria Taranggana. [24]Makamnya di Komplek Makam Sultan Suriansyah dengan gelar anumerta Panembahan Batu Putih. • * 1570-1595 Raja Banjarmasih. Pemerintahannya dibantu mangkubumi Kiai Anggadipa.[24] Makamnya di Komplek Makam Sultan Suriansyah dengan gelar anumerta Panembahan Batu Irang • *1595-1641 Raja Banjarmasih/Raja Martapura. Nama lahirnya Raden Senapati, diduga ia perampas kekuasaan, sebab ia bukanlah anak dari permaisuri meskipun ia anak tertua. • *1641-1646 Raja Martapura. Gelarnya sebelum menjadi Sultan adalah Pangeran Dipati Tuha [ke-1]. Pemerintahannya dibantu adiknya Pangeran di Darat sebagai mangkubumi. *
  • 10.
    • 1646-1660 RajaMartapura. Nama lahirnya Raden Kasuma Alam. Pemerintahannya dibantu mangkubumi pamannya Panembahan di Darat, dilanjutkan pamannya Pangeran Dipati Anta-Kasuma, terakhir dilanjutkan paman tirinya Pangeran Dipati Mangkubumi (Raden Halit) Back • *1660-1663 Raja Martapura. Nama lahirnya Raden Halit. Ia sebagai temporary king/badal menjadi pelaksana tugas bagi Raden Bagus, Putra Mahkota yang belum dewasa • *1663-1679 Nama lahirnya Raden Bagus. Masa pemerintahannya sering ditulis tahun 1660-1700. Pada tahun 1660-1663 ia diwakilkan oleh Sultan Rakyatullah dalam menjalankan pemerintahan karena ia belum dewasa • *1663-1679 Raja Banjarmasih. Nama lahirnya Raden Kasuma Lalana. Mengkudeta/mengambil hak kemenakannya Raden Bagus sebagai Sultan Banjar. Ia dengan bantuan suku Biaju, memindahkan pusat pemerintahan ke Sungai Pangeran (Banjarmasin). • *2010 Sultan Haji Khairul Saleh Al-Mu'tashim Billah zuriat dari Pangeran Singosari bin Sultan Sulaiman. Pada masa kemelut Perang Banjar, hanya Pangeran Singosari (saudara Sultan Adam) dan Pangeran Surya Mataram (anak Sultan Adam) yang masih dipercaya oleh rakyat Banjar sebagai tempat mengadukan segala permasalahan pada masa itu. Pangeran Singosari merupakan "perwakilan" Kesultanan Banjar di Banua Lima.
  • 11.
    KERAJAAN GOA TALLO KERAJAAN BONE KERAJAAN WAJO KERAJAAN SOPENG KESULTANAN BUTON
  • 12.
    a. Letak KerajaanGowa dan Tallo Kerajaan Gowa dan Tallo lebih dikenal dengan sebutan Kerajaan Makassar. Kerajaan ini terletak didaerah Sulawesi Selatan. Secara geografis Sulawesi Selatan memiliki posisi yang penting, karena dekat dengan jalur pelayaran perdagangan Nusantara. Bahkan, daerah Makassar menjadi pusat persinggahan para pedagang, baik yang berasal dari Indonesia bagian timur, maupun para pedagang yang berasal dari daerah Indonesia bagian barat. Dengan letak seperti ini mengakibatkan Kerajaan Makassar berkembang menjadi kerajaan besar dan berkuasa atas jalur perdagangan Nusantara.
  • 13.
    Kerajaan Gowa Tallosebelum menjadi kerajaan Islam sering berperang dengan kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan, seperti dengan Luwu, Bone, Soppeng, dan Wajo. Kerajaan Luwu yang bersekutu dengan Wajo ditaklukan oleh Kerajaan Gowa Tallo. Kemudian Kerajaan Wajo menjadi daerah taklukan Gowa menurut Hikayat Wajo. Dalam serangan terhadap Kerajaan Gowa Tallo Karaeng Gowa meninggal dan seorang lagi terbunuh sekitar pada 1565. Ketiga ker ajaan Bone, Wajo, dan Soppeng mengadakan persatuan untuk mempertahankan kemerdekaannya yang disebut perjanjian Tellumpocco, sekitar 1582. Sejak Kerajaan Gowa resmi sebagai kerajaan bercorak Islam pada 1605, maka Gowa meluaskan pengaruh politiknya, agar-agar kerajaan lainnya juga memeluk Islam dan tunduk kepada Kerajaan Gowa Tallo. Kerajaan-kerajaan yang tunduk kepada Kerajaan Gowa Tallo antara lain Wajo pada 10 Mei 1610, dan Bone pada 23 November 1611.
  • 14.
    Di daerah SulawesiSelatan proses Islami makin mantap dengan adanya para mubalig yang disebut Datto Tallu (Tiga Dato), yaitu Dato' Ri Bandang (Abdul Makmur atau Khatib Tunggal) Dato' Ri Pattimang (Dato’ Sulaemana atau Khatib Sulung), dan Dato’ Ri Tiro (Abdul Jawad alias Khatib Bungsu), ketiganya bersaudara dan berasal dari Kolo Tengah, Minangkabau. Para mubalig itulah yang mengislamkan Raja Luwu yaitu Datu’ La Patiware’ Daeng Parabung dengan gelar sultan Muhammad pada 15-16 Ramadhan 1013 H (4-5 Februari 1605 M). Kemudian disusul oleh Raja Gowa dan Tallo yaitu Karaeng Matowaya dari Tallo yang bernama I Malingkang Daeng Manyonri (Karaeng Tallo) mengucapkan syahadat pada Jumat sore, 9 Jumadil Awal 1014 H atau 22 September 1605 M dengan gelar Sultan Abdullah. Selanjutnya Kareng Gowa I Manga’ rangi Daeng Manrabbia mengucapkan syahadat pada Jumat, 19 Rajab 1016 H atau 9 November 1607 M. Perkembangan agama Islamdi daerah Sulawesi Selatan mendapat teman sebaik-baiknya bahkan ajaran sufisme Khalwatiyah dari Syaikh Yusuf al-Makassari juga tersebar di Kerajaan Gowa dan kerjaan lainnya pada pertengahan abad ke-17. Karena banyaknya tantangan dari kaum bangsawan Gowa maka ia meninggalkan Sulawesi Selatan dan pergi ke Banten. Di Banten ia diterima oleh Sultan Ageng Tritayasa bahkan dijadikan menantu dan diangkat sebagai mufti di Kesultanan Banten.
  • 15.
    Dalam sejarah KerajaanGowa perlu dicatat tentang sejarah perjuangan Sultan Hasanuddin dalam mempertahankan kedaulatannya terhadadap upaya penjajahan politik dan ekonomi kompeni (VOC) Belanda. Semula VOC tidak menaruh perhatian terhadap Kerajaan Gowa Tallo yang telah mengalami kemajuan dalam bidang perdagangan. Setlah kapal Portugis yang dirampas oleh VOC pada masa Gubernur Jendral J. P. Coen di dekat perairan Malaka ternyata di kapal tersebut ada orang Makassar. Dari orang Makassar itulah ia mendapat berita tentang pentingnya pelabuhan Sombaopu sebagai pelabuhan transit terutama untuk mendatangkan rempah-rempah dari Maluku. Pada 1634 VOC memblokir Kerajaan Gowa tetapi tidak berhasil. Peristiwa peperangan dari waktu ke waktu berjalan terus dan baru berhenti antara 1637-1638. Tetapi perjanjian damai itu tidak kekal karena pada 1638 terjadi perampokan kapal orang Bugis yang bermuatan kayu cendana, dan muatannya tersebut telah dijual kepada orang Portugis. Perang di Sulawesi Selatan ini berhenti setelah terjadi perjanjian Bongaya pada 1667 yang sangat merugikan pihak Gowa Tallo.
  • 16.
    b. Kehidupan Politik Perkembangan pesat Kerajaan Makassar tidak terlepas dari Raja-raja yang pernah memerintah seperti: Raja Alauddin Dalam abad ke-17 M, agama Islam berkembang cukup pesat di Sulawesi Selatan. Raja Makassar yang pertama memeluk agama Islam bernama Raja Alauddin yang memerintah Makassar dari tahun 1591-1638 M. Dibawah pemerintahannya, Kerajaaan Makassar, mulai terjun dalam dunia pelayaran-perdagangan (dunia maritim). Perkembangan ini menyebabkan meningkatkannya kesejahteraan rakyat Kerajaan Makassar. Namun setelah wafatnya Raja Alauddin, keadaan pemerintahan kerajaaan tidak dapat diketahui dengan pasti.
  • 17.
    Sultan Hasanuddin Padamasa pemerintahan Sultan Hasanuddin, Kerajaan Makassar mencapai masa kejayaannya. Dalam waktu yang cukup singkat, kerajaan Makassar telah berhasil menguasai hampir seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Cita-cita Sultan Hasanuddin untuk menguasai sepenuhnya jalur perdagangan Nusantara, mendorong perluasan kekuasaannya kepulauan Nusa Tenggara, seperti Sumbawa dan sebagian Flores. Dengan demikian, seluruh aktivitas pelayaran perdagangan yang melalui laut Flores harus singgah lebih dulu di ibukota Kerajaan Makassar.
  • 18.
    Keadaan seperti ituditentang oleh Belanda yang memiliki daerah kekuasaan di Maluku dengan pusatnya Ambon. Hubungan Batavia dengan Ambon terhalang oleh kekuasaan Kerajaan Makassar. Pertentangan antara Makassar dan Belanda sering menimbulkan peperangan. Keberanian Sultan Hasanuddin memimpin pasukan Kerajaan Makassar untuk memporak-porandakan pasukan Belanda di Maluku, mengakibatkan Belanda semakin terdesak . Atas keberaniannya, Belanda memberi julukan kepada Sultan Hassanudin dengan sebutan “Ayam Jantan dari Timur”. Dalam upaya menguasai Kerajaan Makassar, Belanda menjalin hubungan dengan Kerajaan Bone, dengan rajanya Arung Palaka. Dengan bantuan Arung Palaka, pasukan Belanda berhasil mendesak Kerajaan Makassar dan menguasai ibukota kerajaan. Akhirnya dilanjutkan dengan Perjanjian Bongaya (1667 M).
  • 19.
    Mapasomba Setelah SultanHasanuddin turun tahta, ia digantikan oleh putranya yang bernama Mapasomba. Sultan Hasanuddin sangat berharap agar Mapasomba dapat bekerja sama dengan Belanda. Tujuannya agar Kerajaan Makassar tetap dapat bertahan. Ternyata Mapasomba jauh lebih keras dari ayahnya sehingga Belanda mengerahkan pasukan secara besar-besaran untuk menghadapi Mapasomba. Pasukan Mapasomba berhasil dihancurkan dan ia tidak diketahui nasibnya. Dengan kemenangan itu, akhirnya Belanda berkuasa atas Kerajaan Makassar. Back
  • 20.
    KESIMPULAN Perkembangan Islamdi Nusantara tidak pernah terlepas dari dinamika Islam di kawasan-kawasan lain. Karena itu, adalah keliru pandangan yang menganggap seolah-olah Islam Nusantara berkembang secara tersendiri serta terisolasi dari perkembangan dinamika Islam di tempat-tempat lain. Peradaban Islam Nusantara juga menampilkan ciri-ciri dari karakter yang khas, relatif berbeda dengan peradaban Islam di wilayah-wilayah peradaban Muslim lainnya, misalnya Arab, Turki, Persia, dan lainnya.
  • 21.
    SEKIAN TERIMAKASIH MOHONMAAF BILA ADA BANYAK KESALAHAN!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! ‘’KARENA KEBENARAN DATANG-NYA DARI ALLAH DAN KESALAHAN DATANG DARI KAMI SENDIRI’’