Perang Salib dimulai pada 1095 sebagai respons terhadap ancaman dinasti Seljuk terhadap Byzantium dan faktor-faktor agama, ekonomi, serta sosial-politik di Eropa Barat. Pasukan Salib menaklukkan wilayah seperti Palestina dan melakukan pembantaian besar-besaran, tetapi konflik ini juga menghasilkan serangkaian perang salib, dimana kekuatan Muslim, khususnya di bawah Shalahuddin, akhirnya merebut kembali Yerusalem pada 1187. Seiring waktu, reputasi Pasukan Salib menurun dan berbagai konflik berkepanjangan menggambarkan kompleksitas keadaan politik dan religius saat itu.