Kejang Demam
Pembimbing :
dr. Fajar Yuniftiadi Sp.A
Disusun oleh :
dr. Calista Demonti
Program Internsip Dokter Periode Mei 2023 - November 2023
RSUD BATANG
Definisi
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada :
• Anak berumur 6 bulan - 5 tahun
• Kenaikan suhu tubuh (>38⁰C, dengan metode pengukuran suhu tubuh apa pun)
• Tidak disebabkan oleh proses intrakranial
Epidemiologi
• Angka kejadian kejang demam di Amerika Serikat dan Eropa 2-7%, sedangkan di Jepang 9-10%
• Menurut IDAI 2016, kejang demam terjadi pada 2-5% anak berumur 6 bulan sampai 5 tahun
• Umumnya kejang demam timbul pada tahun kedua kehidupan (17-23 bulan)
• Kejang demam lebih sering pada anak laki-laki daripada perempuan dengan perbandingan 1.2-1.6 : 1
Faktor Risiko
• Demam : Disebabkan oleh adanya infeksi saluran pernapasan, infeksi THT, infeksi saluran
pencernaan, ISK, pasca imunisasi, dan infeksi lainnya (bakteri, virus, maupun parasit)
• Genetik : Risiko meningkat 2-3x bila saudara kandung mengalami kejang demam dan
meningkat 5% bila orang tua pernah mengalami kejang demam
Klasifikasi
• Kejang demam yang berlangsung singkat
<15 menit
• Bentuk kejang umum (tonik dan atau klonik)
• Kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam.
Kejang Demam Simplek
• Kejang demam yang berlangsung >15 menit
• Bentuk kejang fokal atau parsial satu sisi, atau
kejang umum didahului kejang parsial
• Kejang berulang atau >1x dalam waktu 24 jam
Kejang Demam Komplek
Manifestasi Klinis
• Suhu badan meningkat
• Anggota tubuh terutama tungkai dan lengan terlihat gemetar, kaku atau menyentak
tidak terkontrol
• Tatapan mata kosong atau mata berkedip berulang
• Tidak merespon saat diajak bicara, bingung, dan sulit mengingat yang sudah terjadi
• Kehilangan kesadaran
Patogenesis
Diagnosis
Anamnesis
• Pemeriksaan keadaan umum
• Pemeriksaan kesadaran : GCS
• Pemeriksaan tonus otot
• Pemeriksaan neurologi : Rangsang
meningeal, reflek fisiologis, reflek patologis
• Pemeriksaan tanda peningkatan TIK : UUB
membonjol
• Pemeriksaan infeksi luar SSP : ISPA, OMA,
ISK, dll
Pemeriksaan Fisik
• Deskripsi kejang : bentuk, lama, frekuensi
(berulang atau tidak), kesadaran pasca kejang
• Faktor pencetus kejang
• Riwayat kejang demam sebelumnya, riwayat
kejang tanpa demam
• Riwayat kejang demam dan epilepsi dalam
keluarga
• Kondisi medis yang berhubungan, trauma,
gejala infeksi, riwayat kehamilan, riwayat
persalinan, perkembangan mental dan motorik
Diagnosis
Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium tidak
dikerjakan secara rutin pada kejang
demam, tetapi dapat dikerjakan untuk
mengevaluasi sumber infeksi penyebab
demam. Pemeriksaan laboratorium yang
dapat dikerjakan atas indikasi misalnya
darah perifer, elektrolit, dan gula darah.
2. Pungsi lumbal
Pemeriksaan cairan serebrospinal
dilakukan untuk menegakkan atau
menyingkirkan kemungkinan meningitis.
Berdasarkan bukti-bukti terbaru, saat ini
pemeriksaan pungsi lumbal tidak dilakukan
secara rutin pada anak berusia <12 bulan
yang mengalami kejang demam sederhana
dengan keadaan umum baik.
Diagnosis
Pemeriksaan Penunjang
3. Elektroensefalografi (EEG)
Indikasi pemeriksaan EEG :
• Pemeriksaan EEG tidak diperlukan untuk
kejang demam, kecuali apabila bangkitan
bersifat fokal.
EEG hanya dilakukan pada kejang fokal
untuk menentukan adanya fokus kejang di otak
yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut.
4. Pencitraan
Pemeriksaan neuroimaging (CT scan
atau MRI kepala) tidak rutin dilakukan pada
anak dengan kejang demam sederhana.
Pemeriksaan tersebut dilakukan bila
terdapat indikasi, seperti kelainan
neurologis fokal yang menetap, misalnya
hemiparesis atau paresis nervus kranialis.
Tatalaksana
Tatalaksana
Yang dimaksud dengan obat antikonvulsan intermiten adalah obat antikonvulsan yang
diberikan hanya pada saat demam.
Profilaksis intermiten diberikan pada kejang demam dengan salah satu faktor risiko di bawah ini :
• Kelainan neurologis berat, misalnya palsi serebral
• Berulang 4x atau lebih dalam setahun
• Usia <6 bulan
• Bila kejang terjadi pada suhu tubuh <39°C
• Apabila pada episode kejang demam sebelumnya, suhu tubuh meningkat dengan cepat
Obat :
Diazepam oral 0,3 mg/kg/kali per oral atau rektal 0,5 mg/kg/kali (5 mg untuk berat badan <12 kg
dan 10 mg untuk berat badan >12 kg) sebanyak 3x sehari, dengan dosis maksimum diazepam 7,5
mg/kali dan diberikan selama 48 jam pertama demam.
ESO :
Ataksia, sedasi
Pemberian Obat Antikonvulsan Intermiten
Tatalaksana
Indikasi pengobatan rumat :
• Kejang fokal
• Kejang lama >15 menit
• Terdapat kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang, misalnya palsi serebral, hidrosefalus,
hemiparesis
Pemberian obat fenobarbital atau asam valproat setiap hari efektif dalam menurunkan risiko berulangnya kejang.
Obat :
Asam valproat 15-40 mg/kg/hari dibagi dalam 2 dosis atau fenobarbital 3-4 mg/kg/hari dalam 1-2 dosis.
Pengobatan diberikan selama 1 tahun, penghentian pengobatan rumat untuk kejang demam tidak membutuhkan
tapering off, namun dilakukan pada saat anak tidak sedang demam.
ESO :
Asam valproat → sebagian kecil kasus, terutama yang berumur <2 tahun dapat menyebabkan gangguan fungsi hati
Fenobarbital → pemakaian setiap hari dapat menimbulkan gangguan perilaku dan kesulitan belajar pada 40-50% kasus
Pemberian Obat Antikonvulsan Rumat
Daftar Pustaka
1. Ismael, sofyan, dkk. 2016. Rekomendasi Penatalaksanaan Kejang Demam. Jakarta : IDAI
2. Gupta, mehul, et al. 2013. Simple Febrile Seizure. University of Calgary : The Calgary
Guide to Understanding Disease
3. Deliana, melda. 2002. Tatalaksana Kejang Demam pada Anak, Sari Pediatri, Vol. 4, No.
2. Medan : Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK. USU / RSUP H. Adam Malik Medan
4. Arief, RF. 2015. Penatalaksanaan Kejang Demam, CDK-232 / Vol. 42, No. 9. Jakarta :
Rumah Sakit Islam Cempaka Putih
TERIMAKASIH

Kejang Demam.pptx

  • 1.
    Kejang Demam Pembimbing : dr.Fajar Yuniftiadi Sp.A Disusun oleh : dr. Calista Demonti Program Internsip Dokter Periode Mei 2023 - November 2023 RSUD BATANG
  • 2.
    Definisi Kejang demam adalahbangkitan kejang yang terjadi pada : • Anak berumur 6 bulan - 5 tahun • Kenaikan suhu tubuh (>38⁰C, dengan metode pengukuran suhu tubuh apa pun) • Tidak disebabkan oleh proses intrakranial
  • 3.
    Epidemiologi • Angka kejadiankejang demam di Amerika Serikat dan Eropa 2-7%, sedangkan di Jepang 9-10% • Menurut IDAI 2016, kejang demam terjadi pada 2-5% anak berumur 6 bulan sampai 5 tahun • Umumnya kejang demam timbul pada tahun kedua kehidupan (17-23 bulan) • Kejang demam lebih sering pada anak laki-laki daripada perempuan dengan perbandingan 1.2-1.6 : 1
  • 4.
    Faktor Risiko • Demam: Disebabkan oleh adanya infeksi saluran pernapasan, infeksi THT, infeksi saluran pencernaan, ISK, pasca imunisasi, dan infeksi lainnya (bakteri, virus, maupun parasit) • Genetik : Risiko meningkat 2-3x bila saudara kandung mengalami kejang demam dan meningkat 5% bila orang tua pernah mengalami kejang demam
  • 5.
    Klasifikasi • Kejang demamyang berlangsung singkat <15 menit • Bentuk kejang umum (tonik dan atau klonik) • Kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam. Kejang Demam Simplek • Kejang demam yang berlangsung >15 menit • Bentuk kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial • Kejang berulang atau >1x dalam waktu 24 jam Kejang Demam Komplek
  • 6.
    Manifestasi Klinis • Suhubadan meningkat • Anggota tubuh terutama tungkai dan lengan terlihat gemetar, kaku atau menyentak tidak terkontrol • Tatapan mata kosong atau mata berkedip berulang • Tidak merespon saat diajak bicara, bingung, dan sulit mengingat yang sudah terjadi • Kehilangan kesadaran
  • 7.
  • 8.
    Diagnosis Anamnesis • Pemeriksaan keadaanumum • Pemeriksaan kesadaran : GCS • Pemeriksaan tonus otot • Pemeriksaan neurologi : Rangsang meningeal, reflek fisiologis, reflek patologis • Pemeriksaan tanda peningkatan TIK : UUB membonjol • Pemeriksaan infeksi luar SSP : ISPA, OMA, ISK, dll Pemeriksaan Fisik • Deskripsi kejang : bentuk, lama, frekuensi (berulang atau tidak), kesadaran pasca kejang • Faktor pencetus kejang • Riwayat kejang demam sebelumnya, riwayat kejang tanpa demam • Riwayat kejang demam dan epilepsi dalam keluarga • Kondisi medis yang berhubungan, trauma, gejala infeksi, riwayat kehamilan, riwayat persalinan, perkembangan mental dan motorik
  • 9.
    Diagnosis Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaanlaboratorium Pemeriksaan laboratorium tidak dikerjakan secara rutin pada kejang demam, tetapi dapat dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab demam. Pemeriksaan laboratorium yang dapat dikerjakan atas indikasi misalnya darah perifer, elektrolit, dan gula darah. 2. Pungsi lumbal Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan kemungkinan meningitis. Berdasarkan bukti-bukti terbaru, saat ini pemeriksaan pungsi lumbal tidak dilakukan secara rutin pada anak berusia <12 bulan yang mengalami kejang demam sederhana dengan keadaan umum baik.
  • 10.
    Diagnosis Pemeriksaan Penunjang 3. Elektroensefalografi(EEG) Indikasi pemeriksaan EEG : • Pemeriksaan EEG tidak diperlukan untuk kejang demam, kecuali apabila bangkitan bersifat fokal. EEG hanya dilakukan pada kejang fokal untuk menentukan adanya fokus kejang di otak yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut. 4. Pencitraan Pemeriksaan neuroimaging (CT scan atau MRI kepala) tidak rutin dilakukan pada anak dengan kejang demam sederhana. Pemeriksaan tersebut dilakukan bila terdapat indikasi, seperti kelainan neurologis fokal yang menetap, misalnya hemiparesis atau paresis nervus kranialis.
  • 11.
  • 12.
    Tatalaksana Yang dimaksud denganobat antikonvulsan intermiten adalah obat antikonvulsan yang diberikan hanya pada saat demam. Profilaksis intermiten diberikan pada kejang demam dengan salah satu faktor risiko di bawah ini : • Kelainan neurologis berat, misalnya palsi serebral • Berulang 4x atau lebih dalam setahun • Usia <6 bulan • Bila kejang terjadi pada suhu tubuh <39°C • Apabila pada episode kejang demam sebelumnya, suhu tubuh meningkat dengan cepat Obat : Diazepam oral 0,3 mg/kg/kali per oral atau rektal 0,5 mg/kg/kali (5 mg untuk berat badan <12 kg dan 10 mg untuk berat badan >12 kg) sebanyak 3x sehari, dengan dosis maksimum diazepam 7,5 mg/kali dan diberikan selama 48 jam pertama demam. ESO : Ataksia, sedasi Pemberian Obat Antikonvulsan Intermiten
  • 13.
    Tatalaksana Indikasi pengobatan rumat: • Kejang fokal • Kejang lama >15 menit • Terdapat kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang, misalnya palsi serebral, hidrosefalus, hemiparesis Pemberian obat fenobarbital atau asam valproat setiap hari efektif dalam menurunkan risiko berulangnya kejang. Obat : Asam valproat 15-40 mg/kg/hari dibagi dalam 2 dosis atau fenobarbital 3-4 mg/kg/hari dalam 1-2 dosis. Pengobatan diberikan selama 1 tahun, penghentian pengobatan rumat untuk kejang demam tidak membutuhkan tapering off, namun dilakukan pada saat anak tidak sedang demam. ESO : Asam valproat → sebagian kecil kasus, terutama yang berumur <2 tahun dapat menyebabkan gangguan fungsi hati Fenobarbital → pemakaian setiap hari dapat menimbulkan gangguan perilaku dan kesulitan belajar pada 40-50% kasus Pemberian Obat Antikonvulsan Rumat
  • 14.
    Daftar Pustaka 1. Ismael,sofyan, dkk. 2016. Rekomendasi Penatalaksanaan Kejang Demam. Jakarta : IDAI 2. Gupta, mehul, et al. 2013. Simple Febrile Seizure. University of Calgary : The Calgary Guide to Understanding Disease 3. Deliana, melda. 2002. Tatalaksana Kejang Demam pada Anak, Sari Pediatri, Vol. 4, No. 2. Medan : Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK. USU / RSUP H. Adam Malik Medan 4. Arief, RF. 2015. Penatalaksanaan Kejang Demam, CDK-232 / Vol. 42, No. 9. Jakarta : Rumah Sakit Islam Cempaka Putih
  • 15.