KEJANG DEMAM
DEFINISI
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang
berhubungan dengan demam (suhu hingga > 38°C),
tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat atau
ketidakseimbangan elektrolit akut, pada anak berusia
lebih dari 1 bulan, yang tidak pernah mengalami kejang
tanpa demam sebelumnya
EPIDEMIOLOGI
Insiden di negara – negara barat berikisar antara 3 – 5
% di Asia berkisar antara 4,47% di Singapura sampai
9,9% di Jepang. Data di Indonesia belum ada secara
nasional. Sekitar 80% diantarnya adalah kejang demam
simpleks
ETIOLOGI
Ada beberapa faktor yang mungkin berperan dalam
menyebakan kejang demam:
1. Demam itu sendiri
2. Efek produk toksik daripada mikroorganisme
(kuman dan virus) terhadap otak
3. Respons alergik atau keadaan imun yang abnormal
oleh infeksi.
4. Perubahan keseimbangan cairan atau eletrolit.
Penyebab utama didasarkan atas bagian tubuh yang terlibat
peradangan. Ada penderita yang mengalami kelainan pada lebih
dari satu bagian tubuhnya, misalnya tonsilo-faringitis dan otitis
media akut (lihat tabel).
Penyebab demam Jumlah penderita
Tonsilitis dan/atau faringitis
Otitis media akut (radang liang telinga tengah)
Enteritis/gastroenteritis (radang saluran cerna)
Enteritis/gastroenteritis disertai dehidrasi
Bronkitis (radang saiuran nafas)
Bronkopeneumonia (radang paru dan saluran nafas)
Morbili (campak)
Varisela (cacar air)
Dengue (demam berdarah)
Tidak diketahui
100
91
22
44
17
38
12
1
1
66
Tabel 1. Penyebab demam pada 297 anak penderita kejang demam
KLASIFIKASI
Kejang demam simpleks:
• Kejang umum tonik, klonik atau tonik-klonik, anak
dapat terlihat mengantuk setelah kejang.
• Berlangsung singkat <15 menit.
• Tidak berulang dalam 24 jam.
Kejang demam kompleks:
• Kejang fokal/parsial, atau kejang fokal menjadi
umum.
• Berlangsung >15 menit.
• Berulang dalam 24 jam
MANIFESTASI KLINIS
Secara umum, gejala klinis kejang demam adalah
sebagai berikut:
• Demam (terutama demam tinggi atau kenaikan suhu
tubuh yang terjadi secara tiba-tiba)
• Kejang tonik-klonik
• Penurunan kesadaran yang berlangsung selama 30 detik-5
menit (hampir selalu terjadi pada anak-anak yang
mengalami kejang demam)
• Postur tonik
• Gerakan klonik
• Lidah atau pipi tergigit
• Gigi atau rahang terkatup rapat
• Inkontinensia
• Apnea
• Cyanosis
Setelah mengalami kejang biasanya:
• Akan kembali sadar dalam waktu beberapa menit
atau tertidur selama 1 jam atau lebih.
• Mengantuk
• Linglung
PATOFISIOLOGI
Infeksi ekstrakranial: suhu tubuh
Gangguan keseimbangan
membran sel neuron
Difusi Na dan Ca berlebih
Terjadinya lepas muatan listrik berlebihan
KEJANG
DIAGNOSIS
A. Anamnesa
• Adanya kejang, sifat kejang, bentuk kejang,
kesadaran selama dan setelah kejang, durasi
kejang, suhu sebelum/saat kejang, frekuensi,
interval antara 2 serangan kejang, penyebab
demam di luar susunan saraf pusat.
• Riwayat demam sebelumnya (sejak kapan, timbul
mendadak atau perlahan, menetap atau naik
turun).
• Riwayat kejang sebelumnya (kejang disertai
demam maupun tidak disertai demam atau
epilepsi).
Lanjutan
• Riwayat gangguan neurologis (menyingkirkan
diagnosis epilepsi).
• Riwayat trauma kepala.
• Riwayat kejang demam atau epilepsi dalam
keluarga.
• Menentukan penyakit yang mendasari
terjadinya demam.
• Singkirkan penyebab kejang lainnya.
B. Pemeriksaan Fisik dan Neurologis:
Pemeriksaan fisik yang harus dilakukan adalah:
• Tanda vital terutama suhu tubuh
• Manifestasi kejang yang terjadi
• Pada kepala apakah terdapat fraktur, depresi
• untuk menentukan penyakit yang mendasari
terjadinya demam
• Tanda peningkatan tekanan intrakranial
• Tanda infeksi di luar SSP
Lanjutan
Pemeriksaan neurologis antara lain:
• Tingkat kesadaran
• Tanda rangsang meningeal
• Tanda refleks patologis
C. Pemeriksaan penunjang:
• Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan darah tepi lengkap, gula darah,
elektrolit, kalsium serum, urinalisis, biakan darah, urin atau
feses. Pemeriksaan laboratorium tidak dianjurkan dan
dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi.
• Pungsi lumbal
Pungsi lumbal adalah pemeriksaan cairan
serebrospinal yang dilakukan untuk menyingkirkan
meningitis, terutama pada pasien kejang demam pertama.
• Electroencephalography (EEG)
EEG adalah pemeriksaan gelombang otak untuk
meneliti ketidaknormalan otak. Pemeriksaan EEG tidak
dapat memprediksi berulangnya kejang, atau
memperkirakan kemungkinan kejadian epilepsi pada pasien
kejang demam. Oleh karenanya tidak direkomendasikan.
Pemeriksaan EEG masih dapat dilakukan pada keadaan
kejang demam yang tidak khas. Misalnya: kejang demam
kompleks pada anak usia lebih dari 6 tahun, atau kejang
demam fokal.
• Pencitraan
Pencitraan seperti Computed Tomography Scan (CT-
scan). Jarang sekali dikerjakan dan tidak rutin, dan hanya
atas indikasi seperti :
• Kelainan neurologik fokal yang menetap (hemiparesis)
• Papil edema
• Riwayat atau tanda klinis trauma
PENATALAKSANAAN
Pemberian obat saat demam:
• Antipiretik
Antipiretik pada saat demam dianjurkan.
Antipiretik pilihan adalah parasetamol 10 mg/kg yang
sama efektifnya dengan ibuprofen 5 mg/kg, diberikan
4 kali sehari dan tidak lebih dari 5 kali.
Pemberian obat rumat
Indikasi pemberian obat rumat
Pengobatan rumat hanya diberikan bila kejang demam
menunjukkan ciri sebagai berikut (salah satu):
• Kejang lama > 15 menit
• Adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau
sesudah kejang.
• Kejang fokal
• Perngobatan rumat dipertimbangkan bila:.
Kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam.
Kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan.
kejang demam > 4 kali per tahun
Jenis obat antikonvulsan untuk pengobatan rumat
Pemberian obat fenobarbital atau asam valproat
setiap hari efektif dalam menurunkan risiko berulangnya
kejang. Dosis asam valproat 15 - 40 mg/kg/hari dalam 2- 3
dosis dan fenobarbital 3 - 4 mg/kg per hari dalam 1 - 2
dosis.
Lama pengobatan rumat
Pengobatan diberikan selama 1 tahun bebas
kejang, kemudian dihentikan secarabertahap selama
1-2 bulan.
Nonfarmakologi
Edukasi pada orang tua
Kejang selalu merupakan peristiwa yang menakutkan
bagi orang tua. Pada saat kejang sebagian besar orang tua
beranggapan bahwa anaknya telah meninggal.Kecemasan
ini harus dikurangi dengan cara yang diantaranya :
• Menyakinkan bahwa kejang demam umumnya
mempunyai prognosis baik
• Memberitahukan cara penanganan kejang
• Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang
kembali
• Pemberian obat untuk mencegah rekurensi memang
efektif tetapi harus diingat efek samping obat
Beberapa hal yang harus dikerjakan bila kembali
kejang:
• Tetap tenang dan tidak panic
• Kendorkan pakaian yang ketat terutama disekitar leher
• Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala
miring. Bersihkan muntahan atau lendir di mulut atau
hidung. Walaupun kemungkinan lidah tergigit, sebaiknya
jangan memasukkan sesuatu kedalam muluT
• Ukur suhu, observasi dan catat lama dan bentuk kejang
• Tetap bersama pasien selama kejang
• Berikan diazepam rektal dan jangan diberikan bila kejang
telah berhenti
• Bawa kedokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung
5 menit atau lebih
PENCEGAHAN
Pencegahan rekurensi kejang ada yang bersifat
intermiten dan terus-menerus
• Pencegahan intermiten
Pencegahan intermiten disarankan pada pasien
dengan kejang demam kompleks yang rekuren, tidak
disarankan pada pasien kejang demam simpleks. Caranya
berikan diazepam oral 0,3mg/KgBB sampai 3x sehari
(1mg/Kg/24hr), yang dapat diberikan sampai 2-3 hari
selama anak masih demam, disamping antipiretik.
• Pencegahan terus-menerus
Dilakukan dengan mengkonsumsi antikonvulsan
setiap hari, namun penggunaanya harus hati-hati mengingat
efek samping dari antikonvulsan yang digunakan. Terdapat
dua kategori rekomendasi profilaksis terus-menerus:
• Dianjurakn bila:
▫ Terdapat kelainan neurologis nyata sebelum atau
sesudah kejang
▫ Kejang berlangsung selama 15 menit
▫ Kejang fokal atau parsial
• Dipertimbangkan, bila:
▫ Kejang berulang dalam satu episode demam
▫ Kejang pada bayi usia <12 bulan
▫ Kejang demam kompleks berulang ≥ 4 kali dalam satu
tahun.
Antikonvulsan yang menjadi pilihan untuk profilaksis
terus-menerus adalah:
• Fenobarbital 3-4 mg/KgBB/hari. Dibagi 2x sehari, atau
• Sodium valproate 15-40 mg/KgBB/hari, dibagi 2-3x
dosis.
KOMPLIKASI
• Kerusakan sel otak
• Risiko kejang atipikal apabila kejang demam
sering berulang
PROGNOSIS
Dengan penanggulangan yang tepat dan cepat,
prognosisnya baik dan tidak perlu menyebabkan
kematian.
Apabila melihat kepada umur, jenis kelamin dan
riwayat keluarga, lennox-Buchtal (1973) mendapatkan:
- Pada anak berumur kurang dari 13 tahun, terulangnya
kejang pada wanita 50% dan pria 33%.
- Pada anak berumur antara 14 bulan dan 3 tahun
dengan riwayat keluarga adanya kejang, terulangnya
kejang adalah 50%, sedang pada tanpa riwayat kejang
adalah 25%.
Kemungkinan berulangnya kejang demam
Faktor resiko berulangnya kejang demam adalah:
• Riwayat kejang demam dalam keluarga
• Usia kurang dari 12 bulan
• Temperatur yang rendah saat kejang
• Cepatnya kejang setelah demam
Bila seluruh faktor di atas ada, kemungkinan
berulangnya kejang demam adalah 80%, sedangkan
bila tidak terdapat faktor tersebut kemungkinan
berulangnya kejang demam hanya 10-15%.
Kemungkinan berulangnya kejang demam paling besar
pada tahun pertama.
Faktor resiko terjadinya epilepsi
Faktor resiko lain adalah terjadinya epilepsi di
kemudian hari. Faktor resiko menjadi epilepsi adalah :
• Kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas
sebelum kejang demam pertama
• Kejang demam kompleks
• Riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara
kandung
Masing-masing faktor resiko meningkatkan
kemungkinan kejadian epilepsi sampai 4-6%,
kombinasi dari faktor resiko tersebut meningkatkan
kemungkianan epilepsi mejadi 10-49%.
Resep
R/ Ibuprofen Syr 200 mg/5ml fls No I
Sprn max T dd cth I
R/ diazepam inj 5 mg amp No I
Simm
Pro: An. X
Umur:
KESIMPULAN
Kejang demam merupakan bangkitan kejang yang
terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38°C)
yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang
demam umumnya disebabkan oleh infeksi yang
mempresipitasi terjadinya demam. Kejang demam terjadi
akibat lepasnya muatan listrik secara berlebihan sebagai
akibat perubahan membran potensial. Tatalaksana kejang
yaitu memberantas kejang secepat mungkin, pengobatan
penunjang,memberikan pengobatan rumatan dan mencari
dan mengobati penyebab. Prognosis kejang demam
umumnya baik.

PPT KEJANG DEMAM.pptx

  • 1.
  • 2.
    DEFINISI Kejang demam adalahbangkitan kejang yang berhubungan dengan demam (suhu hingga > 38°C), tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat atau ketidakseimbangan elektrolit akut, pada anak berusia lebih dari 1 bulan, yang tidak pernah mengalami kejang tanpa demam sebelumnya
  • 3.
    EPIDEMIOLOGI Insiden di negara– negara barat berikisar antara 3 – 5 % di Asia berkisar antara 4,47% di Singapura sampai 9,9% di Jepang. Data di Indonesia belum ada secara nasional. Sekitar 80% diantarnya adalah kejang demam simpleks
  • 4.
    ETIOLOGI Ada beberapa faktoryang mungkin berperan dalam menyebakan kejang demam: 1. Demam itu sendiri 2. Efek produk toksik daripada mikroorganisme (kuman dan virus) terhadap otak 3. Respons alergik atau keadaan imun yang abnormal oleh infeksi. 4. Perubahan keseimbangan cairan atau eletrolit.
  • 5.
    Penyebab utama didasarkanatas bagian tubuh yang terlibat peradangan. Ada penderita yang mengalami kelainan pada lebih dari satu bagian tubuhnya, misalnya tonsilo-faringitis dan otitis media akut (lihat tabel). Penyebab demam Jumlah penderita Tonsilitis dan/atau faringitis Otitis media akut (radang liang telinga tengah) Enteritis/gastroenteritis (radang saluran cerna) Enteritis/gastroenteritis disertai dehidrasi Bronkitis (radang saiuran nafas) Bronkopeneumonia (radang paru dan saluran nafas) Morbili (campak) Varisela (cacar air) Dengue (demam berdarah) Tidak diketahui 100 91 22 44 17 38 12 1 1 66 Tabel 1. Penyebab demam pada 297 anak penderita kejang demam
  • 6.
    KLASIFIKASI Kejang demam simpleks: •Kejang umum tonik, klonik atau tonik-klonik, anak dapat terlihat mengantuk setelah kejang. • Berlangsung singkat <15 menit. • Tidak berulang dalam 24 jam. Kejang demam kompleks: • Kejang fokal/parsial, atau kejang fokal menjadi umum. • Berlangsung >15 menit. • Berulang dalam 24 jam
  • 7.
    MANIFESTASI KLINIS Secara umum,gejala klinis kejang demam adalah sebagai berikut: • Demam (terutama demam tinggi atau kenaikan suhu tubuh yang terjadi secara tiba-tiba) • Kejang tonik-klonik • Penurunan kesadaran yang berlangsung selama 30 detik-5 menit (hampir selalu terjadi pada anak-anak yang mengalami kejang demam) • Postur tonik • Gerakan klonik • Lidah atau pipi tergigit • Gigi atau rahang terkatup rapat • Inkontinensia • Apnea • Cyanosis
  • 8.
    Setelah mengalami kejangbiasanya: • Akan kembali sadar dalam waktu beberapa menit atau tertidur selama 1 jam atau lebih. • Mengantuk • Linglung
  • 9.
    PATOFISIOLOGI Infeksi ekstrakranial: suhutubuh Gangguan keseimbangan membran sel neuron Difusi Na dan Ca berlebih Terjadinya lepas muatan listrik berlebihan KEJANG
  • 10.
    DIAGNOSIS A. Anamnesa • Adanyakejang, sifat kejang, bentuk kejang, kesadaran selama dan setelah kejang, durasi kejang, suhu sebelum/saat kejang, frekuensi, interval antara 2 serangan kejang, penyebab demam di luar susunan saraf pusat. • Riwayat demam sebelumnya (sejak kapan, timbul mendadak atau perlahan, menetap atau naik turun). • Riwayat kejang sebelumnya (kejang disertai demam maupun tidak disertai demam atau epilepsi).
  • 11.
    Lanjutan • Riwayat gangguanneurologis (menyingkirkan diagnosis epilepsi). • Riwayat trauma kepala. • Riwayat kejang demam atau epilepsi dalam keluarga. • Menentukan penyakit yang mendasari terjadinya demam. • Singkirkan penyebab kejang lainnya.
  • 12.
    B. Pemeriksaan Fisikdan Neurologis: Pemeriksaan fisik yang harus dilakukan adalah: • Tanda vital terutama suhu tubuh • Manifestasi kejang yang terjadi • Pada kepala apakah terdapat fraktur, depresi • untuk menentukan penyakit yang mendasari terjadinya demam • Tanda peningkatan tekanan intrakranial • Tanda infeksi di luar SSP
  • 13.
    Lanjutan Pemeriksaan neurologis antaralain: • Tingkat kesadaran • Tanda rangsang meningeal • Tanda refleks patologis C. Pemeriksaan penunjang: • Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan darah tepi lengkap, gula darah, elektrolit, kalsium serum, urinalisis, biakan darah, urin atau feses. Pemeriksaan laboratorium tidak dianjurkan dan dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi.
  • 14.
    • Pungsi lumbal Pungsilumbal adalah pemeriksaan cairan serebrospinal yang dilakukan untuk menyingkirkan meningitis, terutama pada pasien kejang demam pertama. • Electroencephalography (EEG) EEG adalah pemeriksaan gelombang otak untuk meneliti ketidaknormalan otak. Pemeriksaan EEG tidak dapat memprediksi berulangnya kejang, atau memperkirakan kemungkinan kejadian epilepsi pada pasien kejang demam. Oleh karenanya tidak direkomendasikan. Pemeriksaan EEG masih dapat dilakukan pada keadaan kejang demam yang tidak khas. Misalnya: kejang demam kompleks pada anak usia lebih dari 6 tahun, atau kejang demam fokal.
  • 15.
    • Pencitraan Pencitraan sepertiComputed Tomography Scan (CT- scan). Jarang sekali dikerjakan dan tidak rutin, dan hanya atas indikasi seperti : • Kelainan neurologik fokal yang menetap (hemiparesis) • Papil edema • Riwayat atau tanda klinis trauma
  • 16.
  • 18.
    Pemberian obat saatdemam: • Antipiretik Antipiretik pada saat demam dianjurkan. Antipiretik pilihan adalah parasetamol 10 mg/kg yang sama efektifnya dengan ibuprofen 5 mg/kg, diberikan 4 kali sehari dan tidak lebih dari 5 kali.
  • 19.
    Pemberian obat rumat Indikasipemberian obat rumat Pengobatan rumat hanya diberikan bila kejang demam menunjukkan ciri sebagai berikut (salah satu): • Kejang lama > 15 menit • Adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang. • Kejang fokal • Perngobatan rumat dipertimbangkan bila:. Kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam. Kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan. kejang demam > 4 kali per tahun
  • 20.
    Jenis obat antikonvulsanuntuk pengobatan rumat Pemberian obat fenobarbital atau asam valproat setiap hari efektif dalam menurunkan risiko berulangnya kejang. Dosis asam valproat 15 - 40 mg/kg/hari dalam 2- 3 dosis dan fenobarbital 3 - 4 mg/kg per hari dalam 1 - 2 dosis. Lama pengobatan rumat Pengobatan diberikan selama 1 tahun bebas kejang, kemudian dihentikan secarabertahap selama 1-2 bulan.
  • 21.
    Nonfarmakologi Edukasi pada orangtua Kejang selalu merupakan peristiwa yang menakutkan bagi orang tua. Pada saat kejang sebagian besar orang tua beranggapan bahwa anaknya telah meninggal.Kecemasan ini harus dikurangi dengan cara yang diantaranya : • Menyakinkan bahwa kejang demam umumnya mempunyai prognosis baik • Memberitahukan cara penanganan kejang • Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali • Pemberian obat untuk mencegah rekurensi memang efektif tetapi harus diingat efek samping obat
  • 22.
    Beberapa hal yangharus dikerjakan bila kembali kejang: • Tetap tenang dan tidak panic • Kendorkan pakaian yang ketat terutama disekitar leher • Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala miring. Bersihkan muntahan atau lendir di mulut atau hidung. Walaupun kemungkinan lidah tergigit, sebaiknya jangan memasukkan sesuatu kedalam muluT • Ukur suhu, observasi dan catat lama dan bentuk kejang • Tetap bersama pasien selama kejang • Berikan diazepam rektal dan jangan diberikan bila kejang telah berhenti • Bawa kedokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau lebih
  • 23.
    PENCEGAHAN Pencegahan rekurensi kejangada yang bersifat intermiten dan terus-menerus • Pencegahan intermiten Pencegahan intermiten disarankan pada pasien dengan kejang demam kompleks yang rekuren, tidak disarankan pada pasien kejang demam simpleks. Caranya berikan diazepam oral 0,3mg/KgBB sampai 3x sehari (1mg/Kg/24hr), yang dapat diberikan sampai 2-3 hari selama anak masih demam, disamping antipiretik.
  • 24.
    • Pencegahan terus-menerus Dilakukandengan mengkonsumsi antikonvulsan setiap hari, namun penggunaanya harus hati-hati mengingat efek samping dari antikonvulsan yang digunakan. Terdapat dua kategori rekomendasi profilaksis terus-menerus: • Dianjurakn bila: ▫ Terdapat kelainan neurologis nyata sebelum atau sesudah kejang ▫ Kejang berlangsung selama 15 menit ▫ Kejang fokal atau parsial
  • 25.
    • Dipertimbangkan, bila: ▫Kejang berulang dalam satu episode demam ▫ Kejang pada bayi usia <12 bulan ▫ Kejang demam kompleks berulang ≥ 4 kali dalam satu tahun. Antikonvulsan yang menjadi pilihan untuk profilaksis terus-menerus adalah: • Fenobarbital 3-4 mg/KgBB/hari. Dibagi 2x sehari, atau • Sodium valproate 15-40 mg/KgBB/hari, dibagi 2-3x dosis.
  • 26.
    KOMPLIKASI • Kerusakan selotak • Risiko kejang atipikal apabila kejang demam sering berulang
  • 27.
    PROGNOSIS Dengan penanggulangan yangtepat dan cepat, prognosisnya baik dan tidak perlu menyebabkan kematian. Apabila melihat kepada umur, jenis kelamin dan riwayat keluarga, lennox-Buchtal (1973) mendapatkan: - Pada anak berumur kurang dari 13 tahun, terulangnya kejang pada wanita 50% dan pria 33%. - Pada anak berumur antara 14 bulan dan 3 tahun dengan riwayat keluarga adanya kejang, terulangnya kejang adalah 50%, sedang pada tanpa riwayat kejang adalah 25%.
  • 28.
    Kemungkinan berulangnya kejangdemam Faktor resiko berulangnya kejang demam adalah: • Riwayat kejang demam dalam keluarga • Usia kurang dari 12 bulan • Temperatur yang rendah saat kejang • Cepatnya kejang setelah demam Bila seluruh faktor di atas ada, kemungkinan berulangnya kejang demam adalah 80%, sedangkan bila tidak terdapat faktor tersebut kemungkinan berulangnya kejang demam hanya 10-15%. Kemungkinan berulangnya kejang demam paling besar pada tahun pertama.
  • 29.
    Faktor resiko terjadinyaepilepsi Faktor resiko lain adalah terjadinya epilepsi di kemudian hari. Faktor resiko menjadi epilepsi adalah : • Kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang demam pertama • Kejang demam kompleks • Riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung Masing-masing faktor resiko meningkatkan kemungkinan kejadian epilepsi sampai 4-6%, kombinasi dari faktor resiko tersebut meningkatkan kemungkianan epilepsi mejadi 10-49%.
  • 30.
    Resep R/ Ibuprofen Syr200 mg/5ml fls No I Sprn max T dd cth I R/ diazepam inj 5 mg amp No I Simm Pro: An. X Umur:
  • 31.
    KESIMPULAN Kejang demam merupakanbangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38°C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang demam umumnya disebabkan oleh infeksi yang mempresipitasi terjadinya demam. Kejang demam terjadi akibat lepasnya muatan listrik secara berlebihan sebagai akibat perubahan membran potensial. Tatalaksana kejang yaitu memberantas kejang secepat mungkin, pengobatan penunjang,memberikan pengobatan rumatan dan mencari dan mengobati penyebab. Prognosis kejang demam umumnya baik.