Kelompok 9
Isroh Lutfiana (4001414030)
Yudi Aprianto (4001414042)
KALENDER JAWA
SEJARAH KALENDER JAWA
Pada abad ke-4 Masehi agama Hindu mulai berkembang di Indonesia. Sistem penanggalan Saka
yang merupakan sistem penanggalan Hindu dan berorientasikan peredaran matahari pun
berkembang di Indonesia. Sistem penanggalan tersebut dibawa oleh seorang pendeta Saka yang
bergelar Aji Saka dari Kshatrapa Gujaran (India) yang mendarat di Kabupaten Rembang, Jawa
Tengah, pada tahun 456 Masehi.
Pada tahun 1633 Masehi ( 1555 Saka atau 1043 Hijriyah), Sultan Agung Ngabdurahman
Sayidin Panotogomo Molana Matarami (1613-1645) dari Mataram menghapuskan
kalender Saka dari Pulau Jawa. Kemudian kalender tersebut diubah sistemnya
mengikuti aturan kamariah yang berisi bulan-bulan Islam. Maka sejak saat itu
terciptalah kalender baru yang unik, yaitu kalender Jawa-Islam.
Perubahan kalender di Jawa itu dimulai pada hari Jumat Legi, tanggal 1 Sura tahun Alip
1555 Saka bertepatan dengan tanggal 1 Muharram tahun 1043 H, atau tanggal 8 Juli
1633 M.
Sistem penanggalan jawa
Dalam sistem kalender Jawa, siklus hari yang dipakai ada dua: siklus mingguan yang
terdiri dari 7 hari seperti yang kita kenal sekarang, dan siklus pekan pancawara yang
terdiri dari 5 hari pasaran.
Pancawara - Pasaran
Perhitungan hari dengan siklus 5 harian :
1. Kliwon / Kasih
2. Legi / Manis
3. Pahing / Jenar
4. Pon / Palguna
5. Wage / Kresna / Langking
Saptawara - Padinan
Perhitungan hari dengan siklus 7 harian :
1. Minggu / Radite
2. Senen / Soma
3. Selasa / Anggara
4. Rebo / Budha
5. Kemis / Respati
6. Jemuwah / Sukra
7. Setu / Tumpak / Saniscara.
Hari Pasaran Lima
Hari-hari pasaran merupakan posisi sikap (patrap) dari bulan.
Kliwon (Asih) melambangkan jumeneng atau berdiri.
Legi (Manis) melambangkan mungkur atau berbalik arah
kebelakang.
Pahing (Pahit) melambangkan madep atau menghadap.
Pon (Petak) melambangkan sare atau tidur.
Wage (Cemeng) melambangkan lenggah atau duduk.
 Nama hari ini dihubungkan dengan sistem bulan-
bumi. Gerakan (solah) dari bulan terhadap bumi
adalah nama dari ke tujuh tersebut.
DINO PITU (HARI TUJUH)
Radite (Minggu), melambangkan meneng atau diam.
Soma (Senin), melambangkan maju.
Hanggara (Selasa), melambangkan mundur.
Budha (Rabu), melambangkan mangiwa atau bergerak ke kiri.
Respati (Kamis), melambangkan manengen atau bergerak ke
kanan.
Sukra (Jumat), melambangkan munggah atau naik ke atas.
Tumpak (Sabtu), melambangkan temurun atau bergerak turun.
No Nama Bulan Jumlah hari
1. Sura 30
2. Sapar 29
3. Mulud 30
4. Bakda Mulud 29
5. Jumadilawal 30
6. Jumadilakhir 29
7. Rejeb 30
8. Ruwah 29
9. Pasa 30
10. Sawal 29
11. Sela 30
12. Besar 29/30
Jumlah hari 354/355
Nama bulan dan jumlah hari pada kelender jawa
Nama-nama bulan disesuaikan dengan lidah Jawa: Muharram,
Sapar, Rabingulawal, Rabingulakir, Jumadilawal, Jumadilakir
1. Muharram juga disebut sebagai bulan Suro sebab
mengandung Hari Asyura yang jatuh pada tanggal 10
Muharram.
2. Safar disebut sebagai bulan Sapar karena lidah orang jawa
yang menyebutnya seperti itu.
3. Rabi`ul-Awwal dijuluki bulan Mulud karena pada
bulan ini terjadi kelahiran nabi Muhammad SAW yang
dalam bahasa Arab disebut maulud yang berarti waktu
lahir.
4. Rabi`ul-Akhir adalah Bakdamulud atau Silihmulud
yang berarti sesudah Mulud dan biasa pula disebut
rabingulakir.
5. Jumadilawal tidak terjadi perbedaan yang mencolok hanya
penyebutannya yang terkesan tidak ada penekanan setelah
pengucapan dil pada jumadil awal atau hanya diucapkan dilawal
saja.
6. Jumadilakhir, juga tidak terjadi perbedaan yang signifikan
sama seperti jumadilawal. Penyebutan jumadilakhir adalah
sebagai jumadilakir karena susahnya mengucapkan kha’, atau
dilakir saja.
7. Bulan Rajab diucapkan sebagai bulan rejeb yang lebih mudah
pelafalannya.
8. Sya`ban merupakan bulan Ruwah, karena bulan ini adalah saat
mendoakan arwah keluarga yang telah wafat, dalam menyambut
bulan Puasa (Ramadhan) menurut tradisi masyarakat Jawa.
9. Ramadlan adalah bulan poso karena berdasarkan syari’at Islam,
dalam bulan ini muslim di Jawa –bahkan umat islam di seluruh
belahan dunia– diwajibkan untuk berpuasa selama sebulan penuh.
10. Syawal adalah bulan bodo karena hari pertama bulan ini
merupakan hari berbuka satu telah sebulan penuh berpuasa, dan
dalam bahasa Jawa, lebaran disebut bodo (bada).
11. Dzul-Qa`dah disebut Hapit atau Apit sebab posisinya yang
terletak di antara dua hari raya, idulfitri dan iduladha. Dzul-Qa’dah
juga biasa disebut sebagai dulkangedah.
12. Dzul-Hijjah merupakan bulan Haji atau Besar (Rayagung),
saat berlangsungnya ibadah haji dan Idul Adha.
Metode Penanggalan Jawa
Metode
Ajumgi
Metode
Aboge
Metode
Amiswon
Metode
Asapon
• Hari pertama dalam tahun alif yang merupakan siklus windu dalam tahun Jawa adalah hari
Jumat dan bertepatan dengan hari pasaran Legi
• kurup Jamngiah pada tahun 1555-1627 (1633-1703 M)
Metode Ajumgi
• setiap 120 tahun terjadi kemajuan satu hari dalam siklus windu dan setelah 120 tahun
digunakannya metode ajumgi, digunakanlah metode amiswon yang lebih akurat.
• kurup kamsiyah yang jatuh pada periode 1627-1746 (1703-1819 M)
Metode Amiswon
• Kurup arbangiah periode 1747-1866 (1819-1936 M)
• mempunyai sebuah konsep yang berupa nadlom berbahasa Jawa namun bertuliskan Arab yang
biasa disebut pegon.
Metode Aboge
• Tercetus metode asapon karena terjadinya siklus seratus dua puluh tahunan yang menyebabkan
kemajuan satu hari setelah menempuh waktu 120 tahun pada metode aboge. Terjadi pada
periode 1867-1986 (1936-2052 M)Metode Asapon
Konsep Metode Aboge
 Pada tahun alif, maka hari pertama adalah Rabu Wage.
 Pada tahun ha’, hari pertama adalah Ahad Pon.
 Pada tahun jim (awal), hari pertama adalah Jumat Pon.
 Pada tahun za’, hari pertama adalah Selasa Pahing.
 Pada tahun dal, hari pertama adalah Sabtu Legi.
 Pada tahun ba’, hari pertama adalah Kamis Legi.
 Pada tahun wawu, hari pertama adalah Senin Kliwon.
 Pada tahun jim (akhir), hari pertama adalah jumat wage.
Satu daur yang lamanya 8 tahun disebut windu, tahun panjang disebut wuntu yang
umurnya 355 hari, sedangakan tahun pendek disebut wastu yang umurnya 354 hari.
No Nama Pasaran Jumlah Hari
1. Alip Selasa Pon 354
2. Ehe Sabtu Pahing 355
3. Jimawal Kamis Pahing 354
4. Je Senin Legi 354
5. Dal Jumat Kliwon 355
6. Be Rabu Kliwon 354
7. Wawu Ahad Wage 354
8. Jimakir Kamis Pon 355
Total 2835
PRANATA MANGSA
Nama Mangsa Jumlah Batas Awal Batas Akhir
KASO 41 23 Juni 2 Agustus
KARO 23 3 Agustus 25 Agustus
KATELU 24 26 Agustus 18 September
KAPAT 25 19 September 13 Oktober
KALIMA 27 14 Oktober 9 Nopember
KANEM 43 10 Nopember 22 Desember
KAPITU 43 23 Desember 3 Februari
KAWOLU 26 / 27 4 Februari 1 Maret
KASANGA 25 2 Maret 26 Maret
KASADASA 24 27 Maret 19 April
DESTA 23 20 April 12 Mei
SADDHA 41 13 Mei 22 Juni
Adapun periode masing-masing mangsa dan aktivitas petani dalam
menyikapi mangsa tersebut selama satu tahun disajikan Tabel
 Wawasan nenek moyang yang sudah turun temurun diyakini dan
disosialisasikan dalam bermasyarakat.
 Salah satunya adalah perhitungan hari dalam menentukan
perjodohan, membangun rumah atau neptu/ weton dari kelahiran
seseorang
ILMU TITEN
Tabel Hari Pasaran Bulan Tahun dan Neptu
Hari Neptu
Minggu 5
Senin 4
Selasa 3
Rabu 7
Kamis 8
Jum’at 6
Sabtu 9
Pasaran Neptu
Legi 5
Pahing 9
Pon 7
Wage 4
Kliwon 8
Bulan Neptu
Sura 7
Sapar 2
Mulud 3
Bakda Mulud 5
Jumadilawal 6
Jumadilakhir 1
Rajab 2
Ruwah 4
Pasa 5
Sawal 7
Selo 1
Besar 3
Tahun Neptu
Alip 1
Ehe 5
Jimawal 3
Je 7
Dal 4
Be 2
Wawu 6
Jimakhir 3
Hitungan Perjodohan Pernikahan Berdasarkan
Weton Jawa
Neptu hari atau pasaran kelahiran untuk perkawinan
Hari dan pasaran dari kelahiran dua calon temanten
yaitu anak perempuan dan anak lelaki masing-masing
dijumlahkan dahulu, kemudian masing masing dibuang
(dikurangi) sembilan.
Misalnya :
Kelahiran anak perempuan adalah hari Jumat (neptu
6) wage (neptu 4) jumlah 10, dibuang 9 sisa 1
Sedangkan kelahiran anak laki-laki ahad (neptu 5)
legi (neptu 5) jumlah 10 dikurangi 9 sisa 1.
Menurut perhitungan dan berdasarkan sisa diatas maka perhitungan seperti dibawah ini:
Apabila sisa:
1 dan 4 : banyak celakanya
1 dan 5 : bisa
1 dan 6 : jauh sandang pangannya
1 dan 7 : banyak musuh
1 dan 8 : sengsara
1 dan 9 : menjadi perlindungan
2 dan 2 : selamat, banyak rejekinya
2 dan 3 : salah seorang cepat wafat
2 dan 4 : banyak godanya
2 dan 5 : banyak celakanya
2 dan 6 : cepat kaya
2 dan 7: anaknya banyak yang mati
2 dan 8 : dekat rejekinya
2 dan 9 : banyak rejekinya
3 dan 3 : melarat
3 dan 4 : banyak celakanya
3 dan 5 : cepat berpisah
3 dan 6 : mandapat kebahagiaan
3 dan 7 : banyak celakanya
3 dan 8 : salah seorang cepat wafat
3 dan 9 : banyak rejeki
4 dan 4 : sering sakit
4 dan 5 : banyak godanya
4 dan 6 : banyak rejekinya
4 dan 7 : melarat
4 dan 8 : banyak halangannya
4 dan 9 : salah seorang kalah
5 dan 5 : tulus kebahagiaannya
5 dan 6 : dekat rejekinya
5 dan 7 : tulus sandang pangannya
5 dan 8 : banyak bahayanya
5 dan 9 : dekat sandang pangannya
6 dan 6 : besar celakanya
6 dan 7 : rukun
6 dan 8 : banyak musuh
6 dan 9 : sengsara
7 dan 7 : dihukum oleh istrinya
7 dan 8 : celaka karena diri sendiri
7 dan 9 : tulus perkawinannya
8 dan 8 : dikasihi orang
8 dan 9 : banyak celakanya
9 dan 9 : liar rejekinya
Cara Lain
Hari dan Pasaran kelahiran pasangan pria dan wanita masing-masing diangkakan
sesuai dengan Tabel A dan Tabel B, kemudian dijumlah.
TABEL A TABEL B
dari tujuh, maka tidak dibagi sepuluh melainkan
dibaJumlahnya dibagi 10 ( sepuluh). Jika dibagi 10 sisanya
lebih gi 7.
Prinsipnya sisanya tidak boleh lebih dari 7.
Contoh:
Pasangan pria lahir pada Hari Senin, Pasaran
Paing.
Senin 4 + Paing 9 = 13 (lihat tabel A & B)
Pasangan wanita lahir pada Hari Kamis Pasaran
Kliwon
Kamis 8 + Kliwon 8 = 16 (lihat tabel A & B)
Kelahiran Pria diangkakan = 13
Kelahiran wanita diangkakan = 16
Jumlah 29
Pertama kali yang untuk membagi angka 29 adalah bilangan 10.
29 : 10 = 2, sisanya 9
Karena sisanya lebih dari 7 maka memakai kemungkinan yang ke dua, yang untuk membagi
tidak 10 tetapi 7.
29 : 7 = 4, sisanya 1.
Angka sisa 1 (satu) tersebut yang menjadi kunci untuk dihitung.
Angka sisa 1, namanya Wasesa Sagara,
artinya besar wibawanya, luas budinya,
panjang sabar dan pemaaf.(lihat Tabel
C).
Artinya bahwa pasangan tersebut
jodoh.
Kehidupan rumah tangganya kelak
akan penuh wibawa, disegani karena
kebaikan budinya.
TABEL C
Catatan :
Sisa angka 7 artinya bahwa angka hasil dari penjumlahan habis dibagi 7.
Dilihat dari Tabel C jumlah hari pasaran kelahiran pasangan yang setelah dibagi
10 atau 7 menyisakan angka 1, 2, 3, dan 4 kategori Jodho, semuanya baik
adanya.
Bagi pasangan yang menyisakan angka 5, 6 atau 7, digolongkan dalam pasangan yang
kurang jodho, karena berpengaruh jelek. Tetapi jika sudah mantap dengan pasangannya,
dapat disyarati agar kejadian buruk tidak menimpa keluarganya kelak
Angka 5 (Satriya Wirang) :
Syaratnya, sebelum pelaksanaan upacara perkawinan salah satu calon pengantin menyembelih
ayam.
Angka 6 (Bumi Kapethak) :
Syaratnya, sebelum menikah salah satu calon pengantin mendhem Siti atau menamam
tanah.
Angka 7 (Lebu Katiyup Angin) :
Syaratnya, sebelum pernikahan berlangsung, salah satu pasangan menghambur-
hamburkan tanah.
Hari kelahiran mempelai laki-laki dan mempelai wanita, apabila :
Ahad dan Ahad, sering sakit
Ahad dan Senin, banyak sakit
Ahad dan Selasa, miskin
Ahad dan Rebo, selamat
Ahad dan Kamis, cekcok
Ahad dan Jumat, selama
Ahad dan Sabtu, miskin
Senen dan Senen, tidak baik
Senen dan Selasa, selamat
Senen dan Rebo, anaknya
perempuan
Senen dan Kamis, disayangi
Senen dan Jumat, selamat
Senen dan Sabtu, direstui
Selasa dan Selasa, tidak baik
Selasa dan Rebo, kaya
Selasa dan Kamis, kaya
Selasa dan Jumat, bercerai
Selasa dan Sabtu, sering sakit
Rebo dan Rebo, tidak baik
Rebo dan Kamis, selamat
Rebo dan Jumat, selamat
Rebo dan Sabtu, baik
Kamis dan Kamis, selamat
Kamis dan Jumat, selamat
Kamis dan Sabtu, celaka
Jumat dan Jumat, miskin
Jumat dan Sabtu celaka
Sabtu dan Sabtu, tidak baik
HARI-HARI UNTUK MANTU DAN IJAB PENGANTIN
(baik buruknya bulan untuk mantu):
1. Bulan Jw. Suro : Bertengkar dan menemui kerusakan (jangan dipakai)
2. Bulan Jw. Sapar : kekurangan, banyak hutang (boleh dipakai)
3. Bulan Jw Mulud : lemah, mati salah seorang (jangan dipakai)
4. Bulan jw. Bakdamulud : diomongkan jelek (boleh dipakai)
5. Bulan Jw. Bakdajumadilawal : sering kehilangan, banyak musuh (boleh dipakai)
6. Bulan Jw. Jumadilakhir : kaya akan mas dan perak
7. Bulan Rejeb : banyak kawan selamat
8. Bulan Jw. Ruwah : selamat
9. Bulan puasa : banyak bencananya (jangan dipakai)
10. Bulan Jw. Syawal : sedikit rejekinya, banyak hutang (boleh dipakai)
11.Bulan Jw. Dulkaidah : kekurangan, sakit-sakitan, bertengkar dengan teman
(jangan dipakai)
12. Bulan Jw. Besar : senang dan selamat
CARAMENGHITUNGHARI BAIKUNTUKPINDAHRUMAH
Percayaan Jawa Tentang Baik Buruknya Hari Untuk Pindah
Rumah, Dilambangkan Dengan
1. Guru Artinya Dihormati, Digurukan, Lancar Rezeki,
Selamat Dan Sejahtera
2. Ratu Artinya Berwibawa, Ditakuti, Disegani, Banyak
Rezeki Dan Jauh Dari Goro-goro
3. Rogoh Artinya Mudah Dimasuki Pencuri, Boros,
Kurang Bahagia Dan Banyak Hal-hal Yang Kurang Baik
4. Sempoyong Artinya Tidak Bertahan Lama Atau Tidak
Kerasan, Susah Dan Sering Bertengkar
JUMLAH NEPTU
GURU
RATU
ROGOH
SEMPOYONG
 CONTOH
 ANDA AKAN PINDAH RUMAH
PADA HARI SENIN PAHING
 SENIN= 4
 PAHING = 9
 4+9 =13
 JADI SENING PAHING ADALAH
GURU
Hari Neptu
Minggu 5
Senin 4
Selasa 3
Rabu 7
Kamis 8
Jum’at 6
Sabtu 9
Pasaran Neptu
Legi 5
Pahing 9
Pon 7
Wage 4
Kliwon 8
HARI SIAL ATAU HARI NAAS
CARA MENGHITUNG
HARI NAAS
SESEORANG
ADA 4 MACAM WAS DALAM
HITUNGAN JAWA:
WAS 3
WAS 5
WAS 7
WAS GEDE
CONTOH
Lahir Hari Selasa Kliwon
Selasa = 3
Kliwon = 8
3+8 = 11
Selanjutnya Hitung Maju Hari Mulai
Dari Hari Lahir Kita.
Cara Nya Gmn?????
Misalnya Mencari Was 3, Was 5, Was
7, Was Gede
Was 3 = Hari Ketiga Dari Hari Lahir
Kita
Misalnya Selasa Kliwon, Maka Was
3 Jatuh Pada Hari Kamis Pahing
Was 5 = Hari Kelima Dari Hari Lahir
Kita
Pasaran Neptu
Legi 5
Pahing 9
Pon 7
Wage 4
Kliwon 8
Hari Neptu
Minggu 5
Senin 4
Selasa 3
Rabu 7
Kamis 8
Jum’at 6
Sabtu 9
Minggu
Meraba betis 2 kali dan dalam 3 langkah pertama harus menahan napas
Senin
Meraba kemaluan 2 kali dan dalam 2 langkah pertama harus menahan napas
Selasa
Meraba telapak kaki 1 kali dan dalam 2 langkah pertama harus menahan napas
Rabu
Meraba Bahu 2 kali dan dalam 3 langkah pertama harus menahan napas
Kamis
Meraba hidung 4 kali dan dalam 4 langkah pertama harus menahan napas
Jumat
Meraba ubun ubun 3 kali dan dalam 3 langkah pertama harus menahan napas
Sabtu
Meraba dada 4 kali dan dalam 3 langkah pertama harus menahan napas.
Hal atau etika yang harus dilakukan untuk melebur hari sial adalah, jika
harus bepergian pada hari:
Tanggal Naas atau Sial
Dilarang melakukan hajatan besar seperti nikah atau yang lainnya pada
tanggal dan bulan dibawah ini :
Bulan = Tanggal
Sura = 11 dan 6
Sapar = 1 dan 20
Rabiul = 10 dan 20
Rabiul = 10 dan 20
Jumadil = Awal 1 dan 11
Jumadil = Akhir 10 dan 14
Rajab = 2 dan 14
Ruwah = 12 dan 13
Puasa = 9 dan 20
Sawal = 10 dan 20
Dulkaidah = 12 dan 13
Besar = 6 dan 10.
kalender bulan

kalender bulan

  • 1.
    Kelompok 9 Isroh Lutfiana(4001414030) Yudi Aprianto (4001414042) KALENDER JAWA
  • 2.
    SEJARAH KALENDER JAWA Padaabad ke-4 Masehi agama Hindu mulai berkembang di Indonesia. Sistem penanggalan Saka yang merupakan sistem penanggalan Hindu dan berorientasikan peredaran matahari pun berkembang di Indonesia. Sistem penanggalan tersebut dibawa oleh seorang pendeta Saka yang bergelar Aji Saka dari Kshatrapa Gujaran (India) yang mendarat di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, pada tahun 456 Masehi. Pada tahun 1633 Masehi ( 1555 Saka atau 1043 Hijriyah), Sultan Agung Ngabdurahman Sayidin Panotogomo Molana Matarami (1613-1645) dari Mataram menghapuskan kalender Saka dari Pulau Jawa. Kemudian kalender tersebut diubah sistemnya mengikuti aturan kamariah yang berisi bulan-bulan Islam. Maka sejak saat itu terciptalah kalender baru yang unik, yaitu kalender Jawa-Islam. Perubahan kalender di Jawa itu dimulai pada hari Jumat Legi, tanggal 1 Sura tahun Alip 1555 Saka bertepatan dengan tanggal 1 Muharram tahun 1043 H, atau tanggal 8 Juli 1633 M.
  • 3.
    Sistem penanggalan jawa Dalamsistem kalender Jawa, siklus hari yang dipakai ada dua: siklus mingguan yang terdiri dari 7 hari seperti yang kita kenal sekarang, dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari 5 hari pasaran. Pancawara - Pasaran Perhitungan hari dengan siklus 5 harian : 1. Kliwon / Kasih 2. Legi / Manis 3. Pahing / Jenar 4. Pon / Palguna 5. Wage / Kresna / Langking Saptawara - Padinan Perhitungan hari dengan siklus 7 harian : 1. Minggu / Radite 2. Senen / Soma 3. Selasa / Anggara 4. Rebo / Budha 5. Kemis / Respati 6. Jemuwah / Sukra 7. Setu / Tumpak / Saniscara.
  • 4.
    Hari Pasaran Lima Hari-haripasaran merupakan posisi sikap (patrap) dari bulan. Kliwon (Asih) melambangkan jumeneng atau berdiri. Legi (Manis) melambangkan mungkur atau berbalik arah kebelakang. Pahing (Pahit) melambangkan madep atau menghadap. Pon (Petak) melambangkan sare atau tidur. Wage (Cemeng) melambangkan lenggah atau duduk.
  • 5.
     Nama hariini dihubungkan dengan sistem bulan- bumi. Gerakan (solah) dari bulan terhadap bumi adalah nama dari ke tujuh tersebut. DINO PITU (HARI TUJUH) Radite (Minggu), melambangkan meneng atau diam. Soma (Senin), melambangkan maju. Hanggara (Selasa), melambangkan mundur. Budha (Rabu), melambangkan mangiwa atau bergerak ke kiri. Respati (Kamis), melambangkan manengen atau bergerak ke kanan. Sukra (Jumat), melambangkan munggah atau naik ke atas. Tumpak (Sabtu), melambangkan temurun atau bergerak turun.
  • 6.
    No Nama BulanJumlah hari 1. Sura 30 2. Sapar 29 3. Mulud 30 4. Bakda Mulud 29 5. Jumadilawal 30 6. Jumadilakhir 29 7. Rejeb 30 8. Ruwah 29 9. Pasa 30 10. Sawal 29 11. Sela 30 12. Besar 29/30 Jumlah hari 354/355 Nama bulan dan jumlah hari pada kelender jawa
  • 7.
    Nama-nama bulan disesuaikandengan lidah Jawa: Muharram, Sapar, Rabingulawal, Rabingulakir, Jumadilawal, Jumadilakir 1. Muharram juga disebut sebagai bulan Suro sebab mengandung Hari Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram. 2. Safar disebut sebagai bulan Sapar karena lidah orang jawa yang menyebutnya seperti itu.
  • 8.
    3. Rabi`ul-Awwal dijulukibulan Mulud karena pada bulan ini terjadi kelahiran nabi Muhammad SAW yang dalam bahasa Arab disebut maulud yang berarti waktu lahir. 4. Rabi`ul-Akhir adalah Bakdamulud atau Silihmulud yang berarti sesudah Mulud dan biasa pula disebut rabingulakir.
  • 9.
    5. Jumadilawal tidakterjadi perbedaan yang mencolok hanya penyebutannya yang terkesan tidak ada penekanan setelah pengucapan dil pada jumadil awal atau hanya diucapkan dilawal saja. 6. Jumadilakhir, juga tidak terjadi perbedaan yang signifikan sama seperti jumadilawal. Penyebutan jumadilakhir adalah sebagai jumadilakir karena susahnya mengucapkan kha’, atau dilakir saja.
  • 10.
    7. Bulan Rajabdiucapkan sebagai bulan rejeb yang lebih mudah pelafalannya. 8. Sya`ban merupakan bulan Ruwah, karena bulan ini adalah saat mendoakan arwah keluarga yang telah wafat, dalam menyambut bulan Puasa (Ramadhan) menurut tradisi masyarakat Jawa. 9. Ramadlan adalah bulan poso karena berdasarkan syari’at Islam, dalam bulan ini muslim di Jawa –bahkan umat islam di seluruh belahan dunia– diwajibkan untuk berpuasa selama sebulan penuh.
  • 11.
    10. Syawal adalahbulan bodo karena hari pertama bulan ini merupakan hari berbuka satu telah sebulan penuh berpuasa, dan dalam bahasa Jawa, lebaran disebut bodo (bada). 11. Dzul-Qa`dah disebut Hapit atau Apit sebab posisinya yang terletak di antara dua hari raya, idulfitri dan iduladha. Dzul-Qa’dah juga biasa disebut sebagai dulkangedah. 12. Dzul-Hijjah merupakan bulan Haji atau Besar (Rayagung), saat berlangsungnya ibadah haji dan Idul Adha.
  • 12.
  • 13.
    • Hari pertamadalam tahun alif yang merupakan siklus windu dalam tahun Jawa adalah hari Jumat dan bertepatan dengan hari pasaran Legi • kurup Jamngiah pada tahun 1555-1627 (1633-1703 M) Metode Ajumgi • setiap 120 tahun terjadi kemajuan satu hari dalam siklus windu dan setelah 120 tahun digunakannya metode ajumgi, digunakanlah metode amiswon yang lebih akurat. • kurup kamsiyah yang jatuh pada periode 1627-1746 (1703-1819 M) Metode Amiswon • Kurup arbangiah periode 1747-1866 (1819-1936 M) • mempunyai sebuah konsep yang berupa nadlom berbahasa Jawa namun bertuliskan Arab yang biasa disebut pegon. Metode Aboge • Tercetus metode asapon karena terjadinya siklus seratus dua puluh tahunan yang menyebabkan kemajuan satu hari setelah menempuh waktu 120 tahun pada metode aboge. Terjadi pada periode 1867-1986 (1936-2052 M)Metode Asapon
  • 14.
    Konsep Metode Aboge Pada tahun alif, maka hari pertama adalah Rabu Wage.  Pada tahun ha’, hari pertama adalah Ahad Pon.  Pada tahun jim (awal), hari pertama adalah Jumat Pon.  Pada tahun za’, hari pertama adalah Selasa Pahing.  Pada tahun dal, hari pertama adalah Sabtu Legi.  Pada tahun ba’, hari pertama adalah Kamis Legi.  Pada tahun wawu, hari pertama adalah Senin Kliwon.  Pada tahun jim (akhir), hari pertama adalah jumat wage.
  • 15.
    Satu daur yanglamanya 8 tahun disebut windu, tahun panjang disebut wuntu yang umurnya 355 hari, sedangakan tahun pendek disebut wastu yang umurnya 354 hari. No Nama Pasaran Jumlah Hari 1. Alip Selasa Pon 354 2. Ehe Sabtu Pahing 355 3. Jimawal Kamis Pahing 354 4. Je Senin Legi 354 5. Dal Jumat Kliwon 355 6. Be Rabu Kliwon 354 7. Wawu Ahad Wage 354 8. Jimakir Kamis Pon 355 Total 2835
  • 16.
    PRANATA MANGSA Nama MangsaJumlah Batas Awal Batas Akhir KASO 41 23 Juni 2 Agustus KARO 23 3 Agustus 25 Agustus KATELU 24 26 Agustus 18 September KAPAT 25 19 September 13 Oktober KALIMA 27 14 Oktober 9 Nopember KANEM 43 10 Nopember 22 Desember KAPITU 43 23 Desember 3 Februari KAWOLU 26 / 27 4 Februari 1 Maret KASANGA 25 2 Maret 26 Maret KASADASA 24 27 Maret 19 April DESTA 23 20 April 12 Mei SADDHA 41 13 Mei 22 Juni
  • 17.
    Adapun periode masing-masingmangsa dan aktivitas petani dalam menyikapi mangsa tersebut selama satu tahun disajikan Tabel
  • 18.
     Wawasan nenekmoyang yang sudah turun temurun diyakini dan disosialisasikan dalam bermasyarakat.  Salah satunya adalah perhitungan hari dalam menentukan perjodohan, membangun rumah atau neptu/ weton dari kelahiran seseorang ILMU TITEN
  • 19.
    Tabel Hari PasaranBulan Tahun dan Neptu Hari Neptu Minggu 5 Senin 4 Selasa 3 Rabu 7 Kamis 8 Jum’at 6 Sabtu 9 Pasaran Neptu Legi 5 Pahing 9 Pon 7 Wage 4 Kliwon 8 Bulan Neptu Sura 7 Sapar 2 Mulud 3 Bakda Mulud 5 Jumadilawal 6 Jumadilakhir 1 Rajab 2 Ruwah 4 Pasa 5 Sawal 7 Selo 1 Besar 3 Tahun Neptu Alip 1 Ehe 5 Jimawal 3 Je 7 Dal 4 Be 2 Wawu 6 Jimakhir 3
  • 20.
    Hitungan Perjodohan PernikahanBerdasarkan Weton Jawa Neptu hari atau pasaran kelahiran untuk perkawinan Hari dan pasaran dari kelahiran dua calon temanten yaitu anak perempuan dan anak lelaki masing-masing dijumlahkan dahulu, kemudian masing masing dibuang (dikurangi) sembilan. Misalnya : Kelahiran anak perempuan adalah hari Jumat (neptu 6) wage (neptu 4) jumlah 10, dibuang 9 sisa 1 Sedangkan kelahiran anak laki-laki ahad (neptu 5) legi (neptu 5) jumlah 10 dikurangi 9 sisa 1.
  • 21.
    Menurut perhitungan danberdasarkan sisa diatas maka perhitungan seperti dibawah ini: Apabila sisa: 1 dan 4 : banyak celakanya 1 dan 5 : bisa 1 dan 6 : jauh sandang pangannya 1 dan 7 : banyak musuh 1 dan 8 : sengsara 1 dan 9 : menjadi perlindungan 2 dan 2 : selamat, banyak rejekinya 2 dan 3 : salah seorang cepat wafat 2 dan 4 : banyak godanya 2 dan 5 : banyak celakanya 2 dan 6 : cepat kaya 2 dan 7: anaknya banyak yang mati 2 dan 8 : dekat rejekinya 2 dan 9 : banyak rejekinya 3 dan 3 : melarat 3 dan 4 : banyak celakanya 3 dan 5 : cepat berpisah 3 dan 6 : mandapat kebahagiaan 3 dan 7 : banyak celakanya 3 dan 8 : salah seorang cepat wafat 3 dan 9 : banyak rejeki 4 dan 4 : sering sakit 4 dan 5 : banyak godanya
  • 22.
    4 dan 6: banyak rejekinya 4 dan 7 : melarat 4 dan 8 : banyak halangannya 4 dan 9 : salah seorang kalah 5 dan 5 : tulus kebahagiaannya 5 dan 6 : dekat rejekinya 5 dan 7 : tulus sandang pangannya 5 dan 8 : banyak bahayanya 5 dan 9 : dekat sandang pangannya 6 dan 6 : besar celakanya 6 dan 7 : rukun 6 dan 8 : banyak musuh 6 dan 9 : sengsara 7 dan 7 : dihukum oleh istrinya 7 dan 8 : celaka karena diri sendiri 7 dan 9 : tulus perkawinannya 8 dan 8 : dikasihi orang 8 dan 9 : banyak celakanya 9 dan 9 : liar rejekinya
  • 23.
    Cara Lain Hari danPasaran kelahiran pasangan pria dan wanita masing-masing diangkakan sesuai dengan Tabel A dan Tabel B, kemudian dijumlah. TABEL A TABEL B dari tujuh, maka tidak dibagi sepuluh melainkan dibaJumlahnya dibagi 10 ( sepuluh). Jika dibagi 10 sisanya lebih gi 7. Prinsipnya sisanya tidak boleh lebih dari 7. Contoh: Pasangan pria lahir pada Hari Senin, Pasaran Paing. Senin 4 + Paing 9 = 13 (lihat tabel A & B) Pasangan wanita lahir pada Hari Kamis Pasaran Kliwon Kamis 8 + Kliwon 8 = 16 (lihat tabel A & B) Kelahiran Pria diangkakan = 13 Kelahiran wanita diangkakan = 16 Jumlah 29
  • 24.
    Pertama kali yanguntuk membagi angka 29 adalah bilangan 10. 29 : 10 = 2, sisanya 9 Karena sisanya lebih dari 7 maka memakai kemungkinan yang ke dua, yang untuk membagi tidak 10 tetapi 7. 29 : 7 = 4, sisanya 1. Angka sisa 1 (satu) tersebut yang menjadi kunci untuk dihitung. Angka sisa 1, namanya Wasesa Sagara, artinya besar wibawanya, luas budinya, panjang sabar dan pemaaf.(lihat Tabel C). Artinya bahwa pasangan tersebut jodoh. Kehidupan rumah tangganya kelak akan penuh wibawa, disegani karena kebaikan budinya. TABEL C
  • 25.
    Catatan : Sisa angka7 artinya bahwa angka hasil dari penjumlahan habis dibagi 7. Dilihat dari Tabel C jumlah hari pasaran kelahiran pasangan yang setelah dibagi 10 atau 7 menyisakan angka 1, 2, 3, dan 4 kategori Jodho, semuanya baik adanya. Bagi pasangan yang menyisakan angka 5, 6 atau 7, digolongkan dalam pasangan yang kurang jodho, karena berpengaruh jelek. Tetapi jika sudah mantap dengan pasangannya, dapat disyarati agar kejadian buruk tidak menimpa keluarganya kelak Angka 5 (Satriya Wirang) : Syaratnya, sebelum pelaksanaan upacara perkawinan salah satu calon pengantin menyembelih ayam. Angka 6 (Bumi Kapethak) : Syaratnya, sebelum menikah salah satu calon pengantin mendhem Siti atau menamam tanah. Angka 7 (Lebu Katiyup Angin) : Syaratnya, sebelum pernikahan berlangsung, salah satu pasangan menghambur- hamburkan tanah.
  • 26.
    Hari kelahiran mempelailaki-laki dan mempelai wanita, apabila : Ahad dan Ahad, sering sakit Ahad dan Senin, banyak sakit Ahad dan Selasa, miskin Ahad dan Rebo, selamat Ahad dan Kamis, cekcok Ahad dan Jumat, selama Ahad dan Sabtu, miskin Senen dan Senen, tidak baik Senen dan Selasa, selamat Senen dan Rebo, anaknya perempuan Senen dan Kamis, disayangi Senen dan Jumat, selamat Senen dan Sabtu, direstui Selasa dan Selasa, tidak baik
  • 27.
    Selasa dan Rebo,kaya Selasa dan Kamis, kaya Selasa dan Jumat, bercerai Selasa dan Sabtu, sering sakit Rebo dan Rebo, tidak baik Rebo dan Kamis, selamat Rebo dan Jumat, selamat Rebo dan Sabtu, baik Kamis dan Kamis, selamat Kamis dan Jumat, selamat Kamis dan Sabtu, celaka Jumat dan Jumat, miskin Jumat dan Sabtu celaka Sabtu dan Sabtu, tidak baik
  • 28.
    HARI-HARI UNTUK MANTUDAN IJAB PENGANTIN (baik buruknya bulan untuk mantu): 1. Bulan Jw. Suro : Bertengkar dan menemui kerusakan (jangan dipakai) 2. Bulan Jw. Sapar : kekurangan, banyak hutang (boleh dipakai) 3. Bulan Jw Mulud : lemah, mati salah seorang (jangan dipakai) 4. Bulan jw. Bakdamulud : diomongkan jelek (boleh dipakai) 5. Bulan Jw. Bakdajumadilawal : sering kehilangan, banyak musuh (boleh dipakai) 6. Bulan Jw. Jumadilakhir : kaya akan mas dan perak
  • 29.
    7. Bulan Rejeb: banyak kawan selamat 8. Bulan Jw. Ruwah : selamat 9. Bulan puasa : banyak bencananya (jangan dipakai) 10. Bulan Jw. Syawal : sedikit rejekinya, banyak hutang (boleh dipakai) 11.Bulan Jw. Dulkaidah : kekurangan, sakit-sakitan, bertengkar dengan teman (jangan dipakai) 12. Bulan Jw. Besar : senang dan selamat
  • 30.
    CARAMENGHITUNGHARI BAIKUNTUKPINDAHRUMAH Percayaan JawaTentang Baik Buruknya Hari Untuk Pindah Rumah, Dilambangkan Dengan 1. Guru Artinya Dihormati, Digurukan, Lancar Rezeki, Selamat Dan Sejahtera 2. Ratu Artinya Berwibawa, Ditakuti, Disegani, Banyak Rezeki Dan Jauh Dari Goro-goro 3. Rogoh Artinya Mudah Dimasuki Pencuri, Boros, Kurang Bahagia Dan Banyak Hal-hal Yang Kurang Baik 4. Sempoyong Artinya Tidak Bertahan Lama Atau Tidak Kerasan, Susah Dan Sering Bertengkar
  • 31.
    JUMLAH NEPTU GURU RATU ROGOH SEMPOYONG  CONTOH ANDA AKAN PINDAH RUMAH PADA HARI SENIN PAHING  SENIN= 4  PAHING = 9  4+9 =13  JADI SENING PAHING ADALAH GURU Hari Neptu Minggu 5 Senin 4 Selasa 3 Rabu 7 Kamis 8 Jum’at 6 Sabtu 9 Pasaran Neptu Legi 5 Pahing 9 Pon 7 Wage 4 Kliwon 8
  • 32.
    HARI SIAL ATAUHARI NAAS
  • 33.
    CARA MENGHITUNG HARI NAAS SESEORANG ADA4 MACAM WAS DALAM HITUNGAN JAWA: WAS 3 WAS 5 WAS 7 WAS GEDE CONTOH Lahir Hari Selasa Kliwon Selasa = 3 Kliwon = 8 3+8 = 11 Selanjutnya Hitung Maju Hari Mulai Dari Hari Lahir Kita. Cara Nya Gmn????? Misalnya Mencari Was 3, Was 5, Was 7, Was Gede Was 3 = Hari Ketiga Dari Hari Lahir Kita Misalnya Selasa Kliwon, Maka Was 3 Jatuh Pada Hari Kamis Pahing Was 5 = Hari Kelima Dari Hari Lahir Kita Pasaran Neptu Legi 5 Pahing 9 Pon 7 Wage 4 Kliwon 8 Hari Neptu Minggu 5 Senin 4 Selasa 3 Rabu 7 Kamis 8 Jum’at 6 Sabtu 9
  • 34.
    Minggu Meraba betis 2kali dan dalam 3 langkah pertama harus menahan napas Senin Meraba kemaluan 2 kali dan dalam 2 langkah pertama harus menahan napas Selasa Meraba telapak kaki 1 kali dan dalam 2 langkah pertama harus menahan napas Rabu Meraba Bahu 2 kali dan dalam 3 langkah pertama harus menahan napas Kamis Meraba hidung 4 kali dan dalam 4 langkah pertama harus menahan napas Jumat Meraba ubun ubun 3 kali dan dalam 3 langkah pertama harus menahan napas Sabtu Meraba dada 4 kali dan dalam 3 langkah pertama harus menahan napas. Hal atau etika yang harus dilakukan untuk melebur hari sial adalah, jika harus bepergian pada hari:
  • 35.
    Tanggal Naas atauSial Dilarang melakukan hajatan besar seperti nikah atau yang lainnya pada tanggal dan bulan dibawah ini : Bulan = Tanggal Sura = 11 dan 6 Sapar = 1 dan 20 Rabiul = 10 dan 20 Rabiul = 10 dan 20 Jumadil = Awal 1 dan 11 Jumadil = Akhir 10 dan 14 Rajab = 2 dan 14 Ruwah = 12 dan 13 Puasa = 9 dan 20 Sawal = 10 dan 20 Dulkaidah = 12 dan 13 Besar = 6 dan 10.

Editor's Notes

  • #3 Di pulau Jawa pernah berlaku sistem penanggalan hindu, yang dikenal dengan penanggalan “saka”, yakni sistem penanggalan yang didasarkan pada peredaran matahari mengelilingi bumi.[1] Permulaan tahun Saka ini adalah bertepatan dengan hari sabtu tanggal 14 Maret 1978 M, yaitu satu tahun setelah penobatan Prabu Syaliwahono (Aji Soko) sebagai raja India.[2] Oleh sebab itu penanggalan ini dikenal sebagai penanggalan Soko atau Saka. Pada tahun 1633 Masehi ( 1555 Saka atau 1043 Hijriyah), Sultan Agung Ngabdurahman Sayidin Panotogomo Molana Matarami (1613-1645) dari Mataram menghapuskan kalender Saka dari Pulau Jawa, lalu menciptakan kalender Jawa yang mengikuti kalender Hijriyah. Namun bilangan tahun 1555 tetap dilanjutkan. Jadi pada tanggal 1 Muharram 1043 Hijriyah adalah 1 Muharram 1555 Jawa yang jatuh pada hari Jum’at Legi tanggal 8 Juli 1633 Masehi. Angka tahun jawa selalu berselisih 512 dari angka tahun hijriyah.
  • #4 Secara astronomis, kalender Jawa tergolong mathematical calendar, sedangkan kalender Hijriah astronomical calendar. Mathematical atau aritmatical calendar merupakan sistem penanggalan yang aturannya didasarkan pada perhitungan matematika dari fenomena alam. Kalender Masehi juga tergolong mathematical calendar. Adapun astronomical calendar merupakan kalender berdasarkan fenomena alam sendiri seperti kalender Hijriah dan kalender Cina.[6] Kalender Jawa adalah sebuah kalender yang istimewa karena merupakan perpaduan antara budaya Islam, dan budaya Hindu-Buddha Jawa yang perhitungannyan didasarkan pada bulan menbelilingi matahari. Dalam sistem kalender Jawa, siklus hari yang dipakai ada dua: siklus mingguan yang terdiri dari 7 hari seperti yang kita kenal sekarang, dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari 5 hari pasaran.
  • #7 Wadana (Sapar) artinya wiwit. Wijangga (Mulud) artinya kanda. Wiyana (Bakda Mulud) artinya ambuka. Widada (Jumadi Awal) artinya wiwara. Widarpa (Jumadi Akhir) artinya rahsa. Wilapa (Rejeb) artiya purwa. Wahana (Ruwah) artinya dumadi. Wanana (Pasa) artinya madya. Wurana (Sawal) artinya wujud. Wujana (Sela) artinya wusana. Wujala (Besar) artinya kosong. Warana (Sura) artinya tejo/ rijal
  • #16 Purwana – Alip, artinya ada-ada (mulai berniat) Karyana – Ehe, artinya tumandang (melakukan) Anama – Jemawal, artinya gawe (pekerjaan) Lalana – Je, artinya lelakon (proses, nasib) Ngawana – Dal, artinya urip (hidup) Pawaka – Be, artinya bola-bali (selalu kembali) Wasana – Wawu, artinya marang (kearah) Swasana – Jimakir, artinya suwung (kosong)
  • #19 Sebagaimana kita ketahui, bahwa dalam peradaban "JAWA" banyak kita jumpai aturan-aturan yang bersifat mengikat. Hal ini karena aturan-aturan tersebut merupakan wawasan dari nenek moyang kita yang sudah turun temurun diyakini dan disosialisasikan dalam kehidupan bermasyarakat khususnya dilingkungan masyarakat suku Jawa. Wawasan nenek moyang tersebut dalam kehidupan bermasyarakat disebut dalam istilah " ILMU TITEN". Mengapa disebut demikian ? Hal ini karena aturan-aturan tersebut berdasarkan pengalaman dan pengamatan terhadap hal-hal yang terjadi pada perubahan alam yang dikaitkan dengan kejadian yang berlaku dalam kehidupan mereka saat itu atau neptu/ weton dari kelahiran seseorang. Saya mengajak para generasi muda, khususnya generasi-generasi suku jawa untuk mengingat kembali sekaligus melestarikan budaya Jawa agar pengetahuan terhadap budaya tersebut tidak hilang begitu saja terlindas oleh kemajuan teknologi yang berkembang dengan pesat saat ini. Jangan sampai kita sebagai generasi muda dikatakan tidak pecus atau apatis untuk tidak dapat melestarikan budaya kita sendiri, terlebih kita hidup di pulau Jawa..