SlideShare a Scribd company logo
1 of 6
Hukum Wanita Haid Masuk Masjid
Bagaimana hukum wanita haid masuk masjid..?! Ada perbedaaan pendapat/
khilafiah di kalangan ulama. ada yang membolehkan, ada yang membolehkan
dengan syarat, dan ada pula yg tidak membolehkannya. Sekarang, mari kita kupas
bersama2 melalui dalil2 yg ada dan mari kita kaji dgn seksama perbedaan
pendapat tersebut..

Ada 3 pendapat yang berkenaan dengan hal wanita haid masuk masjid tersebut.
Pendapat-pendapat tersebut adalah sebagai berikut :

1. Pendapat yg melarang wanita haid masuk masjid, hal ini kebanyakan diikuti
oleh sebagian ulama bermadzhab Maliki dan Hanafi. Mereka mutlak melarang
dalam apapun.

2. Pendapat yang membolehkan dengan syarat. Pendapat ini banyak diikuti dari
kalangan ulama bermadzhab Syafi‟i dan ulama dari madzhab Hambali.
Pendapatanya adalah melarang jika wanita tersebut menetap/berdiam di masjid,
kecuali sekedar lewat atau berjalan atau mengambil sesuatu yang ada di dalm
masjid saja. Artinya, membolehkan dengan syarat.

3. Pendapat yang membolehkan secara mutlak tanpa syarat apapun bagi wanita
haid berada di masjid selama diyakini darahnya tidak akan mengotori masjid.

Sekarang, mari kita kupas dalil2 yang ada sehubungan dengan pendapat2 tersebut,
agar kita bisa memilah dan memilih pendapat mana yang lebih mendekati
kebenaran.

I. Pendapat ulama yang melarang secara mutlak :
1. “Aku tidak menghalalkan masjid bagi orang junub dan tidak pula bagi
wanita haid.” (HR. Abu Daud 1/232, Baihaqi 2/442. Didlaifkan dalam Al
Irwa‟ 1/124)

Hadits tersebut ternyata hadits dhaif karena ada rawi bernama Jasrah bintu
Dajaajah. Oleh karena itu hadits ini didhaifkan oleh sekelompok ulama di antara
Al-Imam Al-Baihaqi Ibnu Hazm dan Abdul Haq Al-Asybili. Bahkan Ibnu Hazm
berkata: “Hadits ini batil.” dan juga telah di dhaifkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani
dlm Irwa„ul Ghalil no. 124 Dha‟if Al-Jami„ush Shaghir no. 6117 dan Dha‟if
Sunan Abi Dawud.

1. “Hendaklah wanita-wanita haid menjauh dari mushalla.” (HR. Bukhari
nomor 324)

Dalil tersebut digunakan untuk shalat „ied di lapangan, dan bukan untuk di masjid.
Rasulullah SAW menyebut kata “mushalla” biasanya adalah untuk tempat2 shalat
sunnah, seperti di lapangan untuk shalat „ied atau tempat shalat di rumah2 kita..
Dan beliau SAW menyebut masjid untuk tempat2 shalat wajib. Jadi, dalil ini pun
kurang tepat jika dijadikan dalil untuk melarang wanita ke masjid.

II. Pendapat Ulama yang membolehkan dengan syarat :
1.

Firman Allah Ta‟ala :

“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendekati shalat sedangkan
kalian dalam keadaan mabuk hingga kalian mengetahui apa yang kalian ucapkan
dan jangan pula orang yang junub kecuali sekedar lewat sampai kalian mandi.”
(An Nisa‟ : 43)

Kata “shalat” di artikan tempat shalat.. Tetapi dalam ayat trersebut tidak
menyebutkan wanita haid. Wanita haid dalam ayat tersebut diqiyaskan dengan
kata junub. Sehingga ulama dari kalangan ini membolehkan dengan syarat hanya
sekedar lewat atau mengambil sesuatu di dalam masjid dengan dikuatkan oleh
dalil
1. Hadits „Aisyah, bahwa Rasulullah Shallallaahu „alaihi wa sallam telah
berkata kepadanya: “Siapkanlah al-Humrah (semacam sajadah) dari
masjid. Lalu „Aisyah berkata: Saya sedang haid. Beliau bersabda:
Sesungguhnya haid kamu tidak di tanganmu” (HR. Muslim dan atTurmudzi, no. 134, dan Abu Dawud, no. 261, dan an-Nasa‟i, no. 272, dan
Ibnu Majah, no. 632).

Ada tambahan dari ulama kalangan madzhab Hambali, bahwa boleh menetap di
masjid selama orang yang berhadats besar tersebut dalam keadaan wudhu. Sesuai
dengan dalil yang ada dari Atha bin Yasar berkata : “Aku melihat beberapa orang
dari shahabat Rasulullah Shallallahu „Alaihi Wa Sallam duduk di masjid dalam
keadaan mereka junub apabila mereka telah berwudlu seperti wudlu shalat.”
(Dikeluarkan oleh Said bin Manshur dalam Sunan-nya dan isnadnya hasan).
Akan tetapi untuk wanita yang sedang haid maka tidak diperbolehkan berdiam diri
di masjid, karena berwudhunya dalam kondisi demikian tidak sah (Lihat, alMughniy, Ibnu Qatamah, 1/135-137). Dan yang demikian adalah pendapat Ishaq
bin Rahawaih juga.

III. Pendapat ulama yang membolehkan secara mutlak :

Beberapa ulama yang membolehkan secara mutlak adalah Ibnu Hazm, Ibnu
Mundzir, Al Muzanny dsb. Mereka berpendapat, bahwa tidak ada satupun dalil
sahahih yang melarang wanita haid berada di dalam masjid. Sedangkan dalil yang
membolehkan wanita haid berada di dalam masjid justru ada dan tergolong hadits
shahih. Adapaun dalil2 yang digunakan adalah sebagai berikut :

1. Bermukimnya wanita hitam yang biasa membersihkan masjid, di dalam
masjid, pada masa Nabi Shallallahu „Alaihi Wa Sallam. Tidak ada
keterangan bahwasannya Nabi Shallallahu „Alaihi Wa Sallam
memerintahkan dia untuk meninggalkan masjid ketika masa haidnya, dan
haditsnya terdapat dalam Shahih Bukhari.
2.
Sabda Nabi Shallallahu „Alaihi Wa Sallam kepada „Aisyah radhiallahu
„anha yang tertimpa haid sewaktu melaksanakan ibadah haji bersama beliau
Shallallahu „Alaihi Wa Sallam :
“Lakukanlah apa yang diperbuat oleh seorang yang berhaji kecuali jangan engkau
Thawaf di Ka‟bah.” (HR. Bukhari nomor 1650)
Dalam hadits di atas Nabi Shallallahu „Alaihi Wa Sallam tidak melarang „Aisyah
untuk masuk ke masjid dan sebagaimana jamaah haji boleh masuk ke masjid
maka demikian pula wanita haid (boleh masuk masjid).

3.

Sabda Nabi Shallallahu „Alaihi Wa Sallam :

“Sesungguhnya orang Muslim itu tidak najis.” (HR. Bukhari nomor 283 dan
Muslim nomor 116 Kitab Al Haid)

1. Hadits „Aisyah, bahwa Rasulullah Shallallaahu „alaihi wa sallam telah
berkata kepadanya: “Siapkanlah al-Humrah (semacam sajadah) dari
masjid. Lalu „Aisyah berkata: Saya sedang haid. Beliau bersabda:
Sesungguhnya haid kamu tidak di tanganmu” (HR. Muslim dan atTurmudzi, no. 134, dan Abu Dawud, no. 261, dan an-Nasa‟i, no. 272, dan
Ibnu Majah, no. 632).

Hadits tersebut di atas tidak menerangkan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan
Aisyah harus segera keluar dari masjid atau boleh masuk masjid tapi sekedar
mengambil al-Humrah saja. Beliau SAW hanya menerangkan haid tidak di
tanganmu, sehingga selama aman dan tidak akan mengotori masjid, maka
diperbolehkan wanita untuk berada di dalam masjid tanpa batas waktu dan syarat2
tertentu.

1. Ayat QS 4;43 ttg “(jangan pula hampiri tempat shalat) sedang kamu dalam
keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja,..” berasal dari kata “..
walaa (dan jangan/tidak) junuban (orang yg junub) illaa (kecuali) „aabiriy
sabiyl (sekedar lewat/musafir)..”.
Ada perbedaan penafsiran dlm hal ini, krn kata jangan menghampiri tempat shalat
tidak ada dlm teks asli Al Quran. Perbedaan pendapat tersebut berada pada kata
“..‟aabiriy sabiyl..”. Ada yang menafsirkan sekedar lewat, ada pula yg
menafsirkan musafir.

Maka dlm kitab ibnu Hazm (al-Muhallaa, 2/174-175) bahwa seharusnya
penafsiran dari kata walaa (dan jangan/tidak) junuban (orang yg junub) illaa
(kecuali) „aabiriy sabiyl (sekedar lewat/musafir)..” yang dimaksud adalah “ wa laa
(dan jangan/tidak “shalat”) junuban (orang yg junub)..” bukan “mendekati tempat
shalat”.

Selain itu, jika benar diterjemahkan tempat shalat, maka, lapangan bisa jadi
tempat shalat (sesuai hadits tentang shalat „ied), atau rumah2 kita juga bisa jadi
tempat shalat. Bumi ini adalah tempat shalat, sesuai hadits Rasulullah SAW
“Dijadikan bumi ini bagiku tempat yang baik, alat bersuci dan masjid (tempat
sujud), maka bagi siapapun yang telah datang waktu shalat agar shalat di mana
saja.” (HR. Muslim, 5/32 dan Abu Dawud, no. 489)
Dan dalam hadits yang lain beliau bersabda: “Dijadikan bagi kami bumi ini
keseluruhannya adalah masjid, dan dijadikan debunya bagi kami alat bersuci
apabila tidak ada air.” (HR. Muslim, 5/4)

Berkata al-Imam an-Nawawiy : Berkata shahabat Abu Hanifah bahwa yang
dimaksud ayat tersebut adalah seseorang yang bepergian (musafir) jika dalam
keadaan junub dan tidakmendapati air diperbolehkan baginya bertayamum dan
mendirikan shalat meskipun sifat junub masih ada karena yang dimaksudkan
adalah hakekat shalatnya. Dan ulama Hanafiyah yang berpendapat demikian
adalah al-Murghinaniy dan Ibnu Hamam dan selain keduanya. Adapun tafsir yang
kedua, yang mengatakan bahwa maksud „aabiriy sabiyl” ialah sekedar berlalu di
dalam masjid tidak bersumber dari seorangpun dari Shahabat, dan diriwayatkan
dengan sanad yang lemah dari Abdullah bin Mas‟ud, Abdullah bin Abbas.

Sehingga menurut pendapat kelompok ini, tidak ada satupun dalil yang shahih dan
pasti yang melarang wanita haid berada di dalam masjid dengan alasan dan
keadaan apapun.
Demikian telah diterangkan panjang lebar mengenai wanita haid beserta dalil2
yang ada. Silahkan ambil salah satunya yang anda anggap paling kuat landasan
hokum dan dalil2nya. Kebenaran mutlak adalah milik Allah, akan tetapi Allah
telah memberikan kita alat agar kita bisa memilah dan memilih sebuah kebenaran.

Wallahu a‟lam….
Bayan

More Related Content

What's hot

Makalah tentang solat
Makalah tentang solatMakalah tentang solat
Makalah tentang solat
July Uly
 
Adzan & iqomah (4 Madzhab)
Adzan & iqomah (4 Madzhab)Adzan & iqomah (4 Madzhab)
Adzan & iqomah (4 Madzhab)
Muhammad Jamhuri
 
Slide adzan dan iqamah
Slide adzan dan iqamahSlide adzan dan iqamah
Slide adzan dan iqamah
Jusuf AN
 

What's hot (20)

130714 sholat lail
130714 sholat lail130714 sholat lail
130714 sholat lail
 
Ppt fiqih adzan iqamah
Ppt fiqih adzan iqamahPpt fiqih adzan iqamah
Ppt fiqih adzan iqamah
 
Jiwa Lebih Tenang dengan Banyak Melakukan Sujud (PPT)
Jiwa Lebih Tenang dengan Banyak Melakukan Sujud (PPT)Jiwa Lebih Tenang dengan Banyak Melakukan Sujud (PPT)
Jiwa Lebih Tenang dengan Banyak Melakukan Sujud (PPT)
 
Makalah tentang solat
Makalah tentang solatMakalah tentang solat
Makalah tentang solat
 
Adzan & iqomah (4 Madzhab)
Adzan & iqomah (4 Madzhab)Adzan & iqomah (4 Madzhab)
Adzan & iqomah (4 Madzhab)
 
Makalah shalat 2
Makalah shalat 2Makalah shalat 2
Makalah shalat 2
 
Fiqih shalat
Fiqih shalatFiqih shalat
Fiqih shalat
 
Makalah shalat
Makalah shalatMakalah shalat
Makalah shalat
 
3. Pengertian adzan dan iqamah
3. Pengertian adzan dan iqamah3. Pengertian adzan dan iqamah
3. Pengertian adzan dan iqamah
 
Makalah shalat
Makalah shalatMakalah shalat
Makalah shalat
 
makalah Shalat
makalah Shalatmakalah Shalat
makalah Shalat
 
belum
belumbelum
belum
 
Data yasmin
Data yasminData yasmin
Data yasmin
 
Makalah shalat khusyuk
Makalah shalat khusyukMakalah shalat khusyuk
Makalah shalat khusyuk
 
Adzan dan Iqamah
Adzan dan IqamahAdzan dan Iqamah
Adzan dan Iqamah
 
Makalah agama islam Filosofi sholat pdf - SlideShare
Makalah agama islam Filosofi sholat pdf - SlideShareMakalah agama islam Filosofi sholat pdf - SlideShare
Makalah agama islam Filosofi sholat pdf - SlideShare
 
Cr008 tata cara shalat rasul utk lelaki perempuan
Cr008  tata cara shalat rasul utk lelaki perempuanCr008  tata cara shalat rasul utk lelaki perempuan
Cr008 tata cara shalat rasul utk lelaki perempuan
 
Sujud Tilawah, Sahwi & Syukur
Sujud Tilawah, Sahwi & SyukurSujud Tilawah, Sahwi & Syukur
Sujud Tilawah, Sahwi & Syukur
 
Artikel sholat sunnah witir
Artikel sholat sunnah witirArtikel sholat sunnah witir
Artikel sholat sunnah witir
 
Slide adzan dan iqamah
Slide adzan dan iqamahSlide adzan dan iqamah
Slide adzan dan iqamah
 

Similar to Hukum wanita haid masuk

Pelaksanaan ibadah bagi wanita haid dan nifas menurut ajaran islam
Pelaksanaan ibadah bagi wanita haid dan nifas menurut ajaran islamPelaksanaan ibadah bagi wanita haid dan nifas menurut ajaran islam
Pelaksanaan ibadah bagi wanita haid dan nifas menurut ajaran islam
Operator Warnet Vast Raha
 
Masbuq dalam shalat dan permasalahannya
Masbuq dalam shalat dan permasalahannyaMasbuq dalam shalat dan permasalahannya
Masbuq dalam shalat dan permasalahannya
Abyanuddin Salam
 
Polemik seputar shalat tasbih
Polemik seputar shalat tasbihPolemik seputar shalat tasbih
Polemik seputar shalat tasbih
Muhsin Hariyanto
 
Mengenal shalat sunnah isyraq
Mengenal shalat sunnah isyraqMengenal shalat sunnah isyraq
Mengenal shalat sunnah isyraq
Muhsin Hariyanto
 

Similar to Hukum wanita haid masuk (20)

Pelaksanaan ibadah bagi wanita haid dan nifas menurut ajaran islam
Pelaksanaan ibadah bagi wanita haid dan nifas menurut ajaran islamPelaksanaan ibadah bagi wanita haid dan nifas menurut ajaran islam
Pelaksanaan ibadah bagi wanita haid dan nifas menurut ajaran islam
 
Masbuq dalam shalat dan permasalahannya
Masbuq dalam shalat dan permasalahannyaMasbuq dalam shalat dan permasalahannya
Masbuq dalam shalat dan permasalahannya
 
25 Fatwa Ulama Ahlus Sunnah Seri 2
25 Fatwa Ulama Ahlus Sunnah Seri 225 Fatwa Ulama Ahlus Sunnah Seri 2
25 Fatwa Ulama Ahlus Sunnah Seri 2
 
Anjuran memperbagus shalat
Anjuran memperbagus shalatAnjuran memperbagus shalat
Anjuran memperbagus shalat
 
Hukum solat tasbih
Hukum solat tasbihHukum solat tasbih
Hukum solat tasbih
 
Tugas agama
Tugas agamaTugas agama
Tugas agama
 
Tugas agama
Tugas agamaTugas agama
Tugas agama
 
Shalat ghaib
Shalat ghaibShalat ghaib
Shalat ghaib
 
Polemik seputar shalat tasbih
Polemik seputar shalat tasbihPolemik seputar shalat tasbih
Polemik seputar shalat tasbih
 
Anta tas’al nahnu nujib-farid nu'man
Anta tas’al nahnu nujib-farid nu'manAnta tas’al nahnu nujib-farid nu'man
Anta tas’al nahnu nujib-farid nu'man
 
Mengenal shalat sunnah isyraq
Mengenal shalat sunnah isyraqMengenal shalat sunnah isyraq
Mengenal shalat sunnah isyraq
 
Fiqh Shalat jum’at.pptx
Fiqh Shalat jum’at.pptxFiqh Shalat jum’at.pptx
Fiqh Shalat jum’at.pptx
 
ISTILAH - ISTILAH DALAM ILMU HADITS
ISTILAH - ISTILAH DALAM ILMU HADITSISTILAH - ISTILAH DALAM ILMU HADITS
ISTILAH - ISTILAH DALAM ILMU HADITS
 
Koreksi tata cara & bacaan sholat
Koreksi tata cara & bacaan sholatKoreksi tata cara & bacaan sholat
Koreksi tata cara & bacaan sholat
 
Teraweh.pptx
Teraweh.pptxTeraweh.pptx
Teraweh.pptx
 
MM
MMMM
MM
 
Sholat subuh dan keutamaannya
Sholat subuh dan keutamaannyaSholat subuh dan keutamaannya
Sholat subuh dan keutamaannya
 
Sholat
SholatSholat
Sholat
 
Sholat
SholatSholat
Sholat
 
Sejarah.tarawih
Sejarah.tarawihSejarah.tarawih
Sejarah.tarawih
 

Recently uploaded

Aksi Nyata Cegah Perundungan Mulai dari Kelas [Guru].pptx
Aksi Nyata Cegah Perundungan Mulai dari Kelas [Guru].pptxAksi Nyata Cegah Perundungan Mulai dari Kelas [Guru].pptx
Aksi Nyata Cegah Perundungan Mulai dari Kelas [Guru].pptx
AgusSuarno2
 
Materi Bid PPM Bappeda Sos Pemutakhiran IDM 2024 di kec Plumbon.pptx
Materi Bid PPM Bappeda Sos Pemutakhiran  IDM 2024 di kec Plumbon.pptxMateri Bid PPM Bappeda Sos Pemutakhiran  IDM 2024 di kec Plumbon.pptx
Materi Bid PPM Bappeda Sos Pemutakhiran IDM 2024 di kec Plumbon.pptx
AvivThea
 
AKSI NYATA Menyelenggarakan Pelaporan Belajar Oleh Murid.pdf
AKSI NYATA Menyelenggarakan Pelaporan Belajar Oleh Murid.pdfAKSI NYATA Menyelenggarakan Pelaporan Belajar Oleh Murid.pdf
AKSI NYATA Menyelenggarakan Pelaporan Belajar Oleh Murid.pdf
yulizar29
 
Power point materi IPA pada materi unsur
Power point materi IPA pada materi unsurPower point materi IPA pada materi unsur
Power point materi IPA pada materi unsur
DoddiKELAS7A
 
Penjelasan Asmaul Khomsah bahasa arab nahwu
Penjelasan Asmaul Khomsah bahasa arab nahwuPenjelasan Asmaul Khomsah bahasa arab nahwu
Penjelasan Asmaul Khomsah bahasa arab nahwu
Khiyaroh1
 

Recently uploaded (20)

MODUL AJAR MATEMATIKA KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR MATEMATIKA KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR MATEMATIKA KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR MATEMATIKA KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdf
 
Analisis Regresi Analisis Regresi dan Korelasi.ppt
Analisis Regresi Analisis Regresi dan Korelasi.pptAnalisis Regresi Analisis Regresi dan Korelasi.ppt
Analisis Regresi Analisis Regresi dan Korelasi.ppt
 
MODUL AJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM & BUDI PEKERTI (PAIBP) KELAS 6.pdf
MODUL AJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM & BUDI PEKERTI (PAIBP) KELAS 6.pdfMODUL AJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM & BUDI PEKERTI (PAIBP) KELAS 6.pdf
MODUL AJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM & BUDI PEKERTI (PAIBP) KELAS 6.pdf
 
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 2 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 2 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 2 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 2 KURIKULUM MERDEKA.pdf
 
MODUL AJAR PENDIDIKAN PANCASILA KELAS 2 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR PENDIDIKAN PANCASILA KELAS 2 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR PENDIDIKAN PANCASILA KELAS 2 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR PENDIDIKAN PANCASILA KELAS 2 KURIKULUM MERDEKA.pdf
 
Aksi Nyata Cegah Perundungan Mulai dari Kelas [Guru].pptx
Aksi Nyata Cegah Perundungan Mulai dari Kelas [Guru].pptxAksi Nyata Cegah Perundungan Mulai dari Kelas [Guru].pptx
Aksi Nyata Cegah Perundungan Mulai dari Kelas [Guru].pptx
 
Materi Penggolongan Obat Undang-Undang Kesehatan
Materi Penggolongan Obat Undang-Undang KesehatanMateri Penggolongan Obat Undang-Undang Kesehatan
Materi Penggolongan Obat Undang-Undang Kesehatan
 
AKUNTANSI INVESTASI PD SEKURITAS UTANG.pptx
AKUNTANSI INVESTASI PD SEKURITAS UTANG.pptxAKUNTANSI INVESTASI PD SEKURITAS UTANG.pptx
AKUNTANSI INVESTASI PD SEKURITAS UTANG.pptx
 
MODUL AJAR PENDIDIKAN PANCASILA KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR PENDIDIKAN PANCASILA KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR PENDIDIKAN PANCASILA KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR PENDIDIKAN PANCASILA KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
 
PELAKSANAAN + Link2 MATERI Training_ "AUDIT INTERNAL + SISTEM MANAJEMEN MUTU ...
PELAKSANAAN + Link2 MATERI Training_ "AUDIT INTERNAL + SISTEM MANAJEMEN MUTU ...PELAKSANAAN + Link2 MATERI Training_ "AUDIT INTERNAL + SISTEM MANAJEMEN MUTU ...
PELAKSANAAN + Link2 MATERI Training_ "AUDIT INTERNAL + SISTEM MANAJEMEN MUTU ...
 
MODUL AJAR PENDIDIKAN PANCASILA KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR PENDIDIKAN PANCASILA KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR PENDIDIKAN PANCASILA KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR PENDIDIKAN PANCASILA KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdf
 
Materi Bid PPM Bappeda Sos Pemutakhiran IDM 2024 di kec Plumbon.pptx
Materi Bid PPM Bappeda Sos Pemutakhiran  IDM 2024 di kec Plumbon.pptxMateri Bid PPM Bappeda Sos Pemutakhiran  IDM 2024 di kec Plumbon.pptx
Materi Bid PPM Bappeda Sos Pemutakhiran IDM 2024 di kec Plumbon.pptx
 
PPDB SMAN 1 SURADE - PROV JABAR 2024 / 2025
PPDB SMAN 1 SURADE - PROV JABAR 2024 / 2025PPDB SMAN 1 SURADE - PROV JABAR 2024 / 2025
PPDB SMAN 1 SURADE - PROV JABAR 2024 / 2025
 
AKSI NYATA Menyelenggarakan Pelaporan Belajar Oleh Murid.pdf
AKSI NYATA Menyelenggarakan Pelaporan Belajar Oleh Murid.pdfAKSI NYATA Menyelenggarakan Pelaporan Belajar Oleh Murid.pdf
AKSI NYATA Menyelenggarakan Pelaporan Belajar Oleh Murid.pdf
 
Power point materi IPA pada materi unsur
Power point materi IPA pada materi unsurPower point materi IPA pada materi unsur
Power point materi IPA pada materi unsur
 
LK 1 - 5T Keputusan Pemimpin Berdampak.docx
LK 1 - 5T Keputusan Pemimpin Berdampak.docxLK 1 - 5T Keputusan Pemimpin Berdampak.docx
LK 1 - 5T Keputusan Pemimpin Berdampak.docx
 
Penjelasan Asmaul Khomsah bahasa arab nahwu
Penjelasan Asmaul Khomsah bahasa arab nahwuPenjelasan Asmaul Khomsah bahasa arab nahwu
Penjelasan Asmaul Khomsah bahasa arab nahwu
 
#05 SOSIALISASI JUKNIS BOK 2024 Canva_124438.pptx
#05 SOSIALISASI JUKNIS BOK 2024 Canva_124438.pptx#05 SOSIALISASI JUKNIS BOK 2024 Canva_124438.pptx
#05 SOSIALISASI JUKNIS BOK 2024 Canva_124438.pptx
 
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 3 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 3 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 3 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 3 KURIKULUM MERDEKA.pdf
 
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdf
 

Hukum wanita haid masuk

  • 1. Hukum Wanita Haid Masuk Masjid Bagaimana hukum wanita haid masuk masjid..?! Ada perbedaaan pendapat/ khilafiah di kalangan ulama. ada yang membolehkan, ada yang membolehkan dengan syarat, dan ada pula yg tidak membolehkannya. Sekarang, mari kita kupas bersama2 melalui dalil2 yg ada dan mari kita kaji dgn seksama perbedaan pendapat tersebut.. Ada 3 pendapat yang berkenaan dengan hal wanita haid masuk masjid tersebut. Pendapat-pendapat tersebut adalah sebagai berikut : 1. Pendapat yg melarang wanita haid masuk masjid, hal ini kebanyakan diikuti oleh sebagian ulama bermadzhab Maliki dan Hanafi. Mereka mutlak melarang dalam apapun. 2. Pendapat yang membolehkan dengan syarat. Pendapat ini banyak diikuti dari kalangan ulama bermadzhab Syafi‟i dan ulama dari madzhab Hambali. Pendapatanya adalah melarang jika wanita tersebut menetap/berdiam di masjid, kecuali sekedar lewat atau berjalan atau mengambil sesuatu yang ada di dalm masjid saja. Artinya, membolehkan dengan syarat. 3. Pendapat yang membolehkan secara mutlak tanpa syarat apapun bagi wanita haid berada di masjid selama diyakini darahnya tidak akan mengotori masjid. Sekarang, mari kita kupas dalil2 yang ada sehubungan dengan pendapat2 tersebut, agar kita bisa memilah dan memilih pendapat mana yang lebih mendekati kebenaran. I. Pendapat ulama yang melarang secara mutlak :
  • 2. 1. “Aku tidak menghalalkan masjid bagi orang junub dan tidak pula bagi wanita haid.” (HR. Abu Daud 1/232, Baihaqi 2/442. Didlaifkan dalam Al Irwa‟ 1/124) Hadits tersebut ternyata hadits dhaif karena ada rawi bernama Jasrah bintu Dajaajah. Oleh karena itu hadits ini didhaifkan oleh sekelompok ulama di antara Al-Imam Al-Baihaqi Ibnu Hazm dan Abdul Haq Al-Asybili. Bahkan Ibnu Hazm berkata: “Hadits ini batil.” dan juga telah di dhaifkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dlm Irwa„ul Ghalil no. 124 Dha‟if Al-Jami„ush Shaghir no. 6117 dan Dha‟if Sunan Abi Dawud. 1. “Hendaklah wanita-wanita haid menjauh dari mushalla.” (HR. Bukhari nomor 324) Dalil tersebut digunakan untuk shalat „ied di lapangan, dan bukan untuk di masjid. Rasulullah SAW menyebut kata “mushalla” biasanya adalah untuk tempat2 shalat sunnah, seperti di lapangan untuk shalat „ied atau tempat shalat di rumah2 kita.. Dan beliau SAW menyebut masjid untuk tempat2 shalat wajib. Jadi, dalil ini pun kurang tepat jika dijadikan dalil untuk melarang wanita ke masjid. II. Pendapat Ulama yang membolehkan dengan syarat : 1. Firman Allah Ta‟ala : “Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendekati shalat sedangkan kalian dalam keadaan mabuk hingga kalian mengetahui apa yang kalian ucapkan dan jangan pula orang yang junub kecuali sekedar lewat sampai kalian mandi.” (An Nisa‟ : 43) Kata “shalat” di artikan tempat shalat.. Tetapi dalam ayat trersebut tidak menyebutkan wanita haid. Wanita haid dalam ayat tersebut diqiyaskan dengan kata junub. Sehingga ulama dari kalangan ini membolehkan dengan syarat hanya sekedar lewat atau mengambil sesuatu di dalam masjid dengan dikuatkan oleh dalil
  • 3. 1. Hadits „Aisyah, bahwa Rasulullah Shallallaahu „alaihi wa sallam telah berkata kepadanya: “Siapkanlah al-Humrah (semacam sajadah) dari masjid. Lalu „Aisyah berkata: Saya sedang haid. Beliau bersabda: Sesungguhnya haid kamu tidak di tanganmu” (HR. Muslim dan atTurmudzi, no. 134, dan Abu Dawud, no. 261, dan an-Nasa‟i, no. 272, dan Ibnu Majah, no. 632). Ada tambahan dari ulama kalangan madzhab Hambali, bahwa boleh menetap di masjid selama orang yang berhadats besar tersebut dalam keadaan wudhu. Sesuai dengan dalil yang ada dari Atha bin Yasar berkata : “Aku melihat beberapa orang dari shahabat Rasulullah Shallallahu „Alaihi Wa Sallam duduk di masjid dalam keadaan mereka junub apabila mereka telah berwudlu seperti wudlu shalat.” (Dikeluarkan oleh Said bin Manshur dalam Sunan-nya dan isnadnya hasan). Akan tetapi untuk wanita yang sedang haid maka tidak diperbolehkan berdiam diri di masjid, karena berwudhunya dalam kondisi demikian tidak sah (Lihat, alMughniy, Ibnu Qatamah, 1/135-137). Dan yang demikian adalah pendapat Ishaq bin Rahawaih juga. III. Pendapat ulama yang membolehkan secara mutlak : Beberapa ulama yang membolehkan secara mutlak adalah Ibnu Hazm, Ibnu Mundzir, Al Muzanny dsb. Mereka berpendapat, bahwa tidak ada satupun dalil sahahih yang melarang wanita haid berada di dalam masjid. Sedangkan dalil yang membolehkan wanita haid berada di dalam masjid justru ada dan tergolong hadits shahih. Adapaun dalil2 yang digunakan adalah sebagai berikut : 1. Bermukimnya wanita hitam yang biasa membersihkan masjid, di dalam masjid, pada masa Nabi Shallallahu „Alaihi Wa Sallam. Tidak ada keterangan bahwasannya Nabi Shallallahu „Alaihi Wa Sallam memerintahkan dia untuk meninggalkan masjid ketika masa haidnya, dan haditsnya terdapat dalam Shahih Bukhari.
  • 4. 2. Sabda Nabi Shallallahu „Alaihi Wa Sallam kepada „Aisyah radhiallahu „anha yang tertimpa haid sewaktu melaksanakan ibadah haji bersama beliau Shallallahu „Alaihi Wa Sallam : “Lakukanlah apa yang diperbuat oleh seorang yang berhaji kecuali jangan engkau Thawaf di Ka‟bah.” (HR. Bukhari nomor 1650) Dalam hadits di atas Nabi Shallallahu „Alaihi Wa Sallam tidak melarang „Aisyah untuk masuk ke masjid dan sebagaimana jamaah haji boleh masuk ke masjid maka demikian pula wanita haid (boleh masuk masjid). 3. Sabda Nabi Shallallahu „Alaihi Wa Sallam : “Sesungguhnya orang Muslim itu tidak najis.” (HR. Bukhari nomor 283 dan Muslim nomor 116 Kitab Al Haid) 1. Hadits „Aisyah, bahwa Rasulullah Shallallaahu „alaihi wa sallam telah berkata kepadanya: “Siapkanlah al-Humrah (semacam sajadah) dari masjid. Lalu „Aisyah berkata: Saya sedang haid. Beliau bersabda: Sesungguhnya haid kamu tidak di tanganmu” (HR. Muslim dan atTurmudzi, no. 134, dan Abu Dawud, no. 261, dan an-Nasa‟i, no. 272, dan Ibnu Majah, no. 632). Hadits tersebut di atas tidak menerangkan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan Aisyah harus segera keluar dari masjid atau boleh masuk masjid tapi sekedar mengambil al-Humrah saja. Beliau SAW hanya menerangkan haid tidak di tanganmu, sehingga selama aman dan tidak akan mengotori masjid, maka diperbolehkan wanita untuk berada di dalam masjid tanpa batas waktu dan syarat2 tertentu. 1. Ayat QS 4;43 ttg “(jangan pula hampiri tempat shalat) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja,..” berasal dari kata “.. walaa (dan jangan/tidak) junuban (orang yg junub) illaa (kecuali) „aabiriy sabiyl (sekedar lewat/musafir)..”.
  • 5. Ada perbedaan penafsiran dlm hal ini, krn kata jangan menghampiri tempat shalat tidak ada dlm teks asli Al Quran. Perbedaan pendapat tersebut berada pada kata “..‟aabiriy sabiyl..”. Ada yang menafsirkan sekedar lewat, ada pula yg menafsirkan musafir. Maka dlm kitab ibnu Hazm (al-Muhallaa, 2/174-175) bahwa seharusnya penafsiran dari kata walaa (dan jangan/tidak) junuban (orang yg junub) illaa (kecuali) „aabiriy sabiyl (sekedar lewat/musafir)..” yang dimaksud adalah “ wa laa (dan jangan/tidak “shalat”) junuban (orang yg junub)..” bukan “mendekati tempat shalat”. Selain itu, jika benar diterjemahkan tempat shalat, maka, lapangan bisa jadi tempat shalat (sesuai hadits tentang shalat „ied), atau rumah2 kita juga bisa jadi tempat shalat. Bumi ini adalah tempat shalat, sesuai hadits Rasulullah SAW “Dijadikan bumi ini bagiku tempat yang baik, alat bersuci dan masjid (tempat sujud), maka bagi siapapun yang telah datang waktu shalat agar shalat di mana saja.” (HR. Muslim, 5/32 dan Abu Dawud, no. 489) Dan dalam hadits yang lain beliau bersabda: “Dijadikan bagi kami bumi ini keseluruhannya adalah masjid, dan dijadikan debunya bagi kami alat bersuci apabila tidak ada air.” (HR. Muslim, 5/4) Berkata al-Imam an-Nawawiy : Berkata shahabat Abu Hanifah bahwa yang dimaksud ayat tersebut adalah seseorang yang bepergian (musafir) jika dalam keadaan junub dan tidakmendapati air diperbolehkan baginya bertayamum dan mendirikan shalat meskipun sifat junub masih ada karena yang dimaksudkan adalah hakekat shalatnya. Dan ulama Hanafiyah yang berpendapat demikian adalah al-Murghinaniy dan Ibnu Hamam dan selain keduanya. Adapun tafsir yang kedua, yang mengatakan bahwa maksud „aabiriy sabiyl” ialah sekedar berlalu di dalam masjid tidak bersumber dari seorangpun dari Shahabat, dan diriwayatkan dengan sanad yang lemah dari Abdullah bin Mas‟ud, Abdullah bin Abbas. Sehingga menurut pendapat kelompok ini, tidak ada satupun dalil yang shahih dan pasti yang melarang wanita haid berada di dalam masjid dengan alasan dan keadaan apapun.
  • 6. Demikian telah diterangkan panjang lebar mengenai wanita haid beserta dalil2 yang ada. Silahkan ambil salah satunya yang anda anggap paling kuat landasan hokum dan dalil2nya. Kebenaran mutlak adalah milik Allah, akan tetapi Allah telah memberikan kita alat agar kita bisa memilah dan memilih sebuah kebenaran. Wallahu a‟lam…. Bayan