HUKUM PERIKATAN

         TAUFIQ EL RAHMAN
      BAGIAN HUKUM PERDATA
 FAKULTAS HUKUM UGM - YOGYAKARTA
ISTILAH



VERBINTENIS  diterjemahkan dengan
 istilah :

 - PERIKATAN
 - PERUTANGAN
DEFINISI PERIKATAN




 Adalah suatu hubungan hukum (dalam
 lapangan hukum harta kekayaan) antara
 DUA PIHAK yang menimbulkan HAK dan
 KEWAJIBAN atas suatu PRESTASI.
UNSUR-UNSUR PERIKATAN

 Adanya hubungan hukum
 Adanya 2 pihak :

-KREDITUR:pihak yang berhak atas
  prestasi
-DEBITUR:pihak yang wajib melaks
  prestasi
 Hak dan Kewajiban
 Prestasi
PRESTASI  POKOK PERIKATAN



BENTUK “PRESTASI” :

a. Berbuat sesuatu
b. Memberikan sesuatu
c. Tidak berbuat sesuatu
SYARAT PRESTASI :


 Tertentu atau dapat ditentukan
 Diperbolehkan
 Dimungkinkan

  suatu prestasi yang tidak mungkin
 (dilaksanakan) disebut sebagai syarat
 potestatif  menyebabkan perjanjian
 batal demi hukum/null and void
SUMBER-SUMBER PERIKATAN

1.   PERJANJIAN
2.   UNDANG-UNDANG :
     - Undang-Undang an sich
     - Undang-Undang krn perbuatan manusia :
      * perbuatan menurut hukum
       * perbuatan melawan hukum

3. PUTUSAN PENGADILAN
4. MORAL
PEMBEDAAN PERIKATAN

a. Obligatio Civilis/Perikatan Perdata
   perikatan yg mempunyai akibat hukum

 Obligatio Naturalis/Perikatan Alami
  perikatan yg tidak ada akibat hukum
b. Inspanning verbintenis
   perikatan yg prestasinya berupa UPAYA
   Resuultaat Verbintenis
   perikatan yg prestasinya berupa HASIL

c. Perikatan Prinsipal (Perikatan Pokok)
    perikatan yang dapat berdiri sendiri
   Perikatan Accesoir (Prikatan Pelengkap)
    perikatan yg tergantung pd perikatan pokok
MACAM-MACAM PERIKATAN

a.   Perikatan Bersyarat
      prikatanyang digantungkan pd suatu
     peristiwa tertentu yg belum terjadi dan belum
     tentu terjadi
     1. perikatan dng syarat tangguh :
        perikatan lahir dng terjadinya peristiwa
     yang diperjanjikan
     2. perikatan dng syarat batal
        perikatan justru berakhir dengan
     terjadinya peristiwa yg diperjanjikan
b. Perikatan dengan ketetapan waktu
   perikatan sudah lahir tetapi pelaksana-annya
    ditunda sampai waktu yang ditentukan dlm
    perjanjian

c. Perikatan yg dapat dan tidak dapat dibagi-bagi
    Tidak dapat dibagi :
    - krn sifat prestasinya
    - krn ditentukan dlm perjanjian
d. Perikatan tanggung renteng (tanggung
  menanggung)

 - Kreditur tanggung renteng :
   ada lebih dari satu kreditur thd 1 debitur

 - Debitur tanggung renteng :
   ada lebih dari satu debitur thd 1 kreditur
e. Perikatan alternatif (manasuka)
    perikatan dimana debitur diminta
  memilih satu dari beberapa prestasi yang
  ditawarkan

f. Perikatan dengan ancaman hukuman
    debitur diwajibkan melakukan sesuatu
   jika tidak melaksanakan prestasi yg
   diperjanjiakn
PERJANJIAN (KONTRAK)

DEFINISI

Pasal 1313 KUHPerdata :
 “suatu perbuatan dng mana satu orang
  atau lebih mengikatkan dirinya dengan
  satu orang atau lebih lainnya”

 terlalu luas sekaligus tdk lengkap
 Terlalu luas : hanya menyebut kata
 “perbuatan”, shg didalamnya termasuk
 pula “perbuatan melawan hukum” dan
 perbuatan-perbuatan lainnya.

 Tidak  lengkap : hanya mengatur perjan-
 jian sepihak
DEFINISI BERDASARKAN DOKTRIN

 KLASIK
 Perjanjian adalah suatu perbuatan
  hukum antara 2 orang atau lebih yang
  saling me-ngikatkan diri berdasarkan
  kata sepakat untukmenimbulkan akibat
  hukum.
 BARU

 Perjanjian dalah suatu hubungan hukum
 antara 2 orang atau lebih yang saling me-
 ngikatkan diri berdasarkan kata sepakat
 untuk menimbulkan akibat hukum
LAHIRNYA PERJANJIAN



Perjanjian lahir - dengan tercapainya
 KATA SEPAKAT atas suatu hal tertentu
 diantara para pihak.

Apakah “perjanjian” yang lahir tsb. SAH ?
SYARAT SAHNYA PERJANJIAN

    Perjanjian sah jika memenuhi syarat :

a.   Adanya kata sepakat
b.   Kecakapan para pihak
c.   Suatu hal tertentu
d.   Sebab yang halal
 Syarat a dan b disebut    syarat subyektif
 jika syarat ini tidak dipenuhi maka perjan-
  jian dapat dibatalkan.

 Syarat c dan d disebut syarat obyektif
jika syarat ini tidak dipenuhi maka perjan-
 jian batal demi hukum
SYARAT SAH MENURUT LAW OF
             CONTRACT
a. Meeting of mind
b. Competent legal parties
c. Legal subject matter
d. Consideration


Syarat a, b dan c = hk. perdata Indonesia
a.Kata Sepakat (konsnsus)
 persesuaian kehendak antara (bertemu-
  nya “penawaran” & “penerimaan”)
 dianggap tdk terjadi jika terdapat cacat
  kehendak.
FAKTOR PENYEBAB CACAT KEHENDAK

 Kekhilafan/kesesatan (dwaling)
 Paksaan (dwang)
 Penipuan (bedrog)
 Penyalahgunaan keadaan ( misbruik van
 omstadigheden / undue influence)
b. Kecakapan para pihak

 Seseorang dikatakan cakap :
- dewasa (telah 21 tahun atau telah kawin)
- tidak dibawah pengampuan


 Badan Hukum selalu dianggap cakap unt
 melakukan perbuatan hukum
c. Suatu hal tertentu
 Merupakan obyek perjanjian :
- tertentu atau dapat ditentukan
- tdk bertentangan dengan UU, kesusilaan
  dan ketertiban umum
- dimungkinkan
d. Sebab yang halal
 merupakan sebab/dasar dibuatnya suatu
  perjanjian
 Suatu sebab adalah halal jika tidak ber-
  tentangan dng UU, ketertiban umum dan
  kesusilaan
ASAS-ASAS HUKUM PERJANJIAN

a.   Asas konsensualisme berkaitan dengan
     lahirnya perjanjian
b.   Asas kebebasan berkontrak  berkaitan
     dengan isi dan syarat perjanjian
c.   Asas pacta sunt servanda  berkaitan dengan
     kekuatan mengikat perjanjian
d.   Asas kepribadian  berkaitan dengan
     berlakunya perjanjian
e.   Asas itikad baik  berkaitan dengan
     pelaksanaan perjanjian
ASAS KONSENSUALISME

 suatu perjanjian lahir dengan tercapainya
 kata sepakat diantara para pihak
 mengenai suatu hal tertentu.

PENGECUALIAN :
- Perjanjian riil : perjanjian lahir dengan
  diserahkannya obyek perjanjian.
- Perjanjian formil : perjanjian lahir dengan
  dipenuhinya formalitas tertentu.
ASAS KEBEBASAN BERKONTRAK

    Setiap orang bebas untuk :
a.   Membuat atau tidak membuat perjanjian
b.   Membuat perjanjian dengan siapapun
c.   Menentukan isi dan syarat perjanjian
d.   Menentukan bentuk perjanjian
e.   Menentukan pada hukum mana
     perjanjian tunduk
ASAS PACTA SUNT SERVANDA

 Semua perjanjian yang dibuat secara sah
 mengikat sebagai Undang-Undang bagi
 para pihak
ASAS KEPRIBADIAN

 Perjanjian hanya berlaku bagi para pihak
 yang membuatnya

PENGECUALIAN :

-   derden beding :perjanjian unt kepentingan
    pihak ketiga
-   Derden werking : perjanjian yang berlaku
    bagi pihak ketiga
ASAS ITIKAD BAIK

 Suatu perjanjian harus dilaksanakan dng
  itikad baik
  ITIKAD BAIK => SIKAP BATIN
Penafsiran Itikad Baik :
“volgens de eisen van redelijkheid en billijk-
  heid”
(memenuhi suatu syarat dari kelayakan dan
  kepatutan)
BENTUK PERJANJIAN

 LISAN
 TERTULIS :

 - Akta otentik : akta yg dibuat oleh atau
 dihadapan pejabat yg berwenang unt itu.
 misal : akta notaris, akta PPAT
 - Akta di bawah tangan : akta yg dibuat sendiri
 oleh para pihak :
     - perjanjian standar
     - perjanjian di bawah tangan biasa
BERAKHIRNYA PERJANJIAN

a.   Ditentukan oleh para pihak dlm perjanjian
b.   Ditentukan waktunya oleh UU
c.   Berdasarkan keputusan hakim
d.   Kesepakatan para pihak (herroeping)
e.   Tujuan perjanjian telah tercapai
f.   Terjadinya suatu peristiwa tertentu
g.   Pernyataan penghentian perjanjian
     (opzegging)
WANPRESTASI DAN OVERMACHT

 PRESTASI :

 - terlaksana
 - tidak terlaksana :
      - WANPRESTASI atau
      - OVERMACHT / FORCE MAJEUR
WANPRESTASI

 tidak terlaksananya suatu prestasi karena
 kesalahan debitur, baik krn kesengajaan
 maupun kelalaian.

 Mengakibatkan adanya tuntutan ganti
 kerugian
BENTUK-BENTUK WANPRESTASI

a. Debitur sama sekali tidak berprestasi
b. Debitur berprestasi tetapi tidak tepat
   waktu
c. Debitur berprestasi tetapi tidak sesuai
   dengan yang diperjanjikan
SOMASI / TEGURAN

 Untuk menyatakan debitur wanprestasi,
 harus dilakukan SOMASI (TEGURAN)
 terlebih dahulu kepada debitur.

Bentuk SOMASI :
- Suatu akta yang berisi peringatan agar
  debitur segera melaksanakan kewajiban-
  nya.
    SOMASI tidak diperlukan jika :

a.   Adanya batas waktu (fataal termijn)
     dalam perjanjian
b.   Prestasi yang diperjanjikan adalah “tidak
     berbuat sesuatu”
c.   Debitur mengakui dirinya wanprestasi
TUNTUTAN KREDITUR

a.   Pemenuhan perjanjian
b.   Pemenuhan perjanjian disertai ganti rugi
c.   Pemutusan perjanjian
d.   Pemutusan perjanjian disertai ganti rugi
e.   Ganti rugi
GANTI RUGI

 Unsur-unsur :


 a. kerugian
 b. biaya-biaya
 c. bunga
OVERMACHT / FORCE MAJEUR

 Suatu keadaan tak terduga diluar ke-
 mampuan manusia yang menyebabkan
 debitur tidak dapat berpretasi, dan debitur
 tidak dapat dipersalahkan.

 Akibat adanya overmacht => RISIKO
MACAM-MACAM OVERMACHT

a.   Overmacht absolut (obyektif) :
      overmacht yang benar-benar tidak
     dapat diatasi

b. Overmacht relatif (subyektif) :
    overmacht yang sesungguhnya dapat
   diatasi, tetapi dengan pengorbanan yang
   besar
TEORI OVERMACHT RELATIF

 INSPANNINGS THEORIE (TEORI
  UPAYA) dikemukakan oleh Houwing :
 “jika debitur telah berusaha sebaik
  mungkin sesuai dengan ukuran yang
  wajar dalam masyarkat, maka tidak
  dipenuhinya prestasi tidak dapat lagi di-
  persalahkan kepadanya”
 Disini yang pokok adalah unsur ketidak-
  salahan , bukan ketidakmampuan.
RISIKO

 siapa yang menanggung kerugian.


Asas umum RISIKO

- Perjanjian sepihak : risiko ditanggung oleh
     kreditur
- Perjanjian timbal balik : risiko ditanggung
     oleh keduabelah pihak
HAPUSNYA PERIKATAN

a.   Pembayaran
b.   Penawaran pembayaran diikuti dengan
     penitipan (konsinyasi)
c.   Pembaruan hutang (novasi)
d.   Perjumpaan hutang (kompensasi)
e.   Percampuran hutang
f.   Pembebasan hutang
     ----------- >
g. Musnahnya barang terutang
h. Kebatalan dan pembatalan
i. Berlakunya syarat batal
j. Kadaluarsa (lewatnya waktu)
a.Pembayaran
 Tdk selalu berujud uang, tapi dapat pula
  berujud penyerahan benda tertentu atau
  dapat pula berupa pemenuhan jasa.
 Wajib dilakukn oleh debitur, tapi dapat
  pula terjadi pembayaran dilakukan oleh
  pihak III yang berkepentingan :
   SUBROGASI
SUBROGASI :
 Penggantian hak-hak kreditur oleh pihak
  ketiga yang membayar

Pembayaran dapat juga dilakkan oleh
 “penanggung” (borgtocht)
b. Konsinyasi
 Dilakukan oleh debitur jika kreditur me-
  nolak menerima pembayaran debitur.
 Debitur dapat mengajukan permohonan
  ke PN agar penawaran pembayaran tsb
  dinyatakan sah, dan uang atau benda yg
  akan dibayarkan disimpan atau dititipkan
  di Kepaniteraan PN.
c. Novasi :
 Kesepakatan para pihak untuk meng-
  hapus perjanjian yang sudah ada dan
  bersamaan dengan itu timbul perjanjian
  baru sebagai pengganti.
 Ada tiga macam novasi :
  - novasi obyektif
  - novasi subyektif pasif
  - novasi subyektif aktif
 Novasi obyektif : kreditur dan debitur me-
  ngadakan perjanjian baru sebagai peng-ganti
  perjanjian lama.
 Novasi subyektif pasip : dalam perjanjian baru
  debitur lama digantikan oleh debitur baru, dan
  debitur lama dibebaskan dari kewajiban
 Novasi subyektif aktif : dalam perjanjian baru
  kreditur lama digantikan oleh kreditur baru
d. Kompensasi
 Terjadi jika antara kreditur dan debitur
  saling mempunyai hutang

e. Percampuran hutang
 Terjadi jika kedudukan kreditur dan
  debitur ada pada satu orang  terjadi
  percampuran hutang demi hukum.
f. Pembebasan hutang
 Terjadi jika kreditur melepaskan haknya atas
   pemenuhan prestasi oleh debitur

g. Musnahnya barangterutang
 Terjadi bila benda yg menjadi obyek per-janjian,
  diluar kesalahan para pihak :
  - musnah atau tdk dpt lagi dperdagangkan
  - hilang sedemikian rupa shg tdk diketahui apa-
   kah barang itu masih ada
h. Kebatalan dan pembatalan
  Kebatalan : perikatan yg timbul dari ke-
  jahatan atau pelanggaran atau tdk me-
  menuhi syarat obyektif perjanjian

 Pembatalan : perkatan yang dibuat oleh
 orang belum dewasa/dibawah pengampu-
 an dan yg dibuat karena cacat kehendak
i. Berlakunya syarat batal
 Terjadi jika suatu peristiwa tertentu yang
    diperjanjkan betu-betul terjadi

h. Kadaluarsa (lewatnya waktu)
 Berdasarkan ketentuan UU segala tuntut-
    an hukum hapus karena lewatnya waktu
    30 tahun
HUKUM JAMINAN

 “Jaminan” diperlukan agar ada kepastian
  bhw prestasi yang telah dilakukan oleh sa-
  lah satu pihak akan memperoleh ganti
  kontra prestasi jika pihak lain gagal
  memberikan prestasinya.
 “Jaminan” merupakan perbuatan hukum
  ikutan dari suatu perbuatan hukum
  sebelumnya.
 “Jaminan” tidak mungkin berdiri sendiri.
 Pemberian jaminan merupakan perbuat-
 an hukum yang bersifat accesoir terhadap
 perbuatan hukum yang mendahuluinya,
 yang merupakan prinsipal.

Contoh :
- Jaminan dalam perjanjian kredit
MACAM-MACAM JAMINAN

a.   Jaminan Umum
b.   Jaminan Khusus :
     - Jaminan Perorangan (personal
     guarantee)/Penanggungan
     - Jaminan Kebendaan :
        * Jaminan benda tetap :
              Hipotik
        Hak Tanggungan
        * Jaminan Benda Bergerak :
              Gadai
              Fidusia
Jaminan Umum

 “segala kebendaan milik debitur, baik yg
  bergerak maupun yg tdk bergerak, baik yang
  sudah ada maupun yg baru akan ada, menjadi
  tanggungan untuk segala perikatan debitur”
 Semua harta debitur merupakan jaminan bagi
  pelunasan hutangnya walaupun tdk
  diperjanjikan.
 Krediturnya merupakan kreditur Konkuren
  (kreditur bersaing)
Jaminan Khusus

 benda-benda tertentu milik debitur yang
  dijadikan jaminan bagi pelunasan hutang-
  nya.
 Dibuat dalam suatu perjanjian jaminan
 Krediturnya merupakan kreditur Preferen
  (kreditur yang diutamakan)
Jaminan Perorangan/Personal Guarantee

 Perjanjian dimana seorang pihak ketiga,
  guna kepentingan kreditur, mengikatkan
  diri untuk memenuhi perikatan debitur
  manakala debitur tersebut tidak dapat
  memenuhi.
 Seseorang dapat menjadi “penanggung”
  hutang orang lain jika diperjanjikan.
 Penanggungan diperbolehkan hanya
  untuk sebagian saja hutang debitur
Jaminan Kebendaan

    benda tetap
    - benda tetap berupa tanah :
       jaminan dengan Hak Tanggungan
         Hak Tanggungan harus dibuat dng
       Akta Notaris dan didaftarkan.
    - benda tetap bukan tanah :
       jaminan dengan Hipotik
       Hipotik harus dibuat dng Akta Notaris dan
        didaftarkan.
 Benda bergerak :
  - Gadai
  - Fidusia

Perbedaan prinsip :
-gadai : obyek dikuasai oleh penerima gadai
-fidusia : obyek tetap dikuasai oleh pemilik.
          Penerima fidusia menerima hak milik atas
          obyek jaminan.
     ------------
-gadai : bentuk perjanjian bebas
-fidusia : harus dengan Akta Notaris dan di-
         daftarkan di Kantor Pendaftaran
         Fidusia

Hukum Perikatan

  • 1.
    HUKUM PERIKATAN TAUFIQ EL RAHMAN BAGIAN HUKUM PERDATA FAKULTAS HUKUM UGM - YOGYAKARTA
  • 2.
    ISTILAH VERBINTENIS  diterjemahkandengan istilah : - PERIKATAN - PERUTANGAN
  • 3.
    DEFINISI PERIKATAN  Adalahsuatu hubungan hukum (dalam lapangan hukum harta kekayaan) antara DUA PIHAK yang menimbulkan HAK dan KEWAJIBAN atas suatu PRESTASI.
  • 4.
    UNSUR-UNSUR PERIKATAN  Adanyahubungan hukum  Adanya 2 pihak : -KREDITUR:pihak yang berhak atas prestasi -DEBITUR:pihak yang wajib melaks prestasi  Hak dan Kewajiban  Prestasi
  • 5.
    PRESTASI  POKOKPERIKATAN BENTUK “PRESTASI” : a. Berbuat sesuatu b. Memberikan sesuatu c. Tidak berbuat sesuatu
  • 6.
    SYARAT PRESTASI : Tertentu atau dapat ditentukan  Diperbolehkan  Dimungkinkan  suatu prestasi yang tidak mungkin (dilaksanakan) disebut sebagai syarat potestatif  menyebabkan perjanjian batal demi hukum/null and void
  • 7.
    SUMBER-SUMBER PERIKATAN 1. PERJANJIAN 2. UNDANG-UNDANG : - Undang-Undang an sich - Undang-Undang krn perbuatan manusia : * perbuatan menurut hukum * perbuatan melawan hukum 3. PUTUSAN PENGADILAN 4. MORAL
  • 8.
    PEMBEDAAN PERIKATAN a. ObligatioCivilis/Perikatan Perdata  perikatan yg mempunyai akibat hukum Obligatio Naturalis/Perikatan Alami  perikatan yg tidak ada akibat hukum
  • 9.
    b. Inspanning verbintenis  perikatan yg prestasinya berupa UPAYA Resuultaat Verbintenis  perikatan yg prestasinya berupa HASIL c. Perikatan Prinsipal (Perikatan Pokok)  perikatan yang dapat berdiri sendiri Perikatan Accesoir (Prikatan Pelengkap)  perikatan yg tergantung pd perikatan pokok
  • 10.
    MACAM-MACAM PERIKATAN a. Perikatan Bersyarat  prikatanyang digantungkan pd suatu peristiwa tertentu yg belum terjadi dan belum tentu terjadi 1. perikatan dng syarat tangguh :  perikatan lahir dng terjadinya peristiwa yang diperjanjikan 2. perikatan dng syarat batal  perikatan justru berakhir dengan terjadinya peristiwa yg diperjanjikan
  • 11.
    b. Perikatan denganketetapan waktu  perikatan sudah lahir tetapi pelaksana-annya ditunda sampai waktu yang ditentukan dlm perjanjian c. Perikatan yg dapat dan tidak dapat dibagi-bagi Tidak dapat dibagi : - krn sifat prestasinya - krn ditentukan dlm perjanjian
  • 12.
    d. Perikatan tanggungrenteng (tanggung menanggung) - Kreditur tanggung renteng : ada lebih dari satu kreditur thd 1 debitur - Debitur tanggung renteng : ada lebih dari satu debitur thd 1 kreditur
  • 13.
    e. Perikatan alternatif(manasuka)  perikatan dimana debitur diminta memilih satu dari beberapa prestasi yang ditawarkan f. Perikatan dengan ancaman hukuman  debitur diwajibkan melakukan sesuatu jika tidak melaksanakan prestasi yg diperjanjiakn
  • 14.
    PERJANJIAN (KONTRAK) DEFINISI Pasal 1313KUHPerdata :  “suatu perbuatan dng mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya dengan satu orang atau lebih lainnya”  terlalu luas sekaligus tdk lengkap
  • 15.
     Terlalu luas: hanya menyebut kata “perbuatan”, shg didalamnya termasuk pula “perbuatan melawan hukum” dan perbuatan-perbuatan lainnya.  Tidak lengkap : hanya mengatur perjan- jian sepihak
  • 16.
    DEFINISI BERDASARKAN DOKTRIN KLASIK  Perjanjian adalah suatu perbuatan hukum antara 2 orang atau lebih yang saling me-ngikatkan diri berdasarkan kata sepakat untukmenimbulkan akibat hukum.
  • 17.
     BARU  Perjanjiandalah suatu hubungan hukum antara 2 orang atau lebih yang saling me- ngikatkan diri berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum
  • 18.
    LAHIRNYA PERJANJIAN Perjanjian lahir- dengan tercapainya KATA SEPAKAT atas suatu hal tertentu diantara para pihak. Apakah “perjanjian” yang lahir tsb. SAH ?
  • 19.
    SYARAT SAHNYA PERJANJIAN  Perjanjian sah jika memenuhi syarat : a. Adanya kata sepakat b. Kecakapan para pihak c. Suatu hal tertentu d. Sebab yang halal
  • 20.
     Syarat adan b disebut syarat subyektif  jika syarat ini tidak dipenuhi maka perjan- jian dapat dibatalkan. Syarat c dan d disebut syarat obyektif jika syarat ini tidak dipenuhi maka perjan- jian batal demi hukum
  • 21.
    SYARAT SAH MENURUTLAW OF CONTRACT a. Meeting of mind b. Competent legal parties c. Legal subject matter d. Consideration Syarat a, b dan c = hk. perdata Indonesia
  • 22.
    a.Kata Sepakat (konsnsus) persesuaian kehendak antara (bertemu- nya “penawaran” & “penerimaan”)  dianggap tdk terjadi jika terdapat cacat kehendak.
  • 23.
    FAKTOR PENYEBAB CACATKEHENDAK  Kekhilafan/kesesatan (dwaling)  Paksaan (dwang)  Penipuan (bedrog)  Penyalahgunaan keadaan ( misbruik van omstadigheden / undue influence)
  • 24.
    b. Kecakapan parapihak  Seseorang dikatakan cakap : - dewasa (telah 21 tahun atau telah kawin) - tidak dibawah pengampuan  Badan Hukum selalu dianggap cakap unt melakukan perbuatan hukum
  • 25.
    c. Suatu haltertentu  Merupakan obyek perjanjian : - tertentu atau dapat ditentukan - tdk bertentangan dengan UU, kesusilaan dan ketertiban umum - dimungkinkan
  • 26.
    d. Sebab yanghalal  merupakan sebab/dasar dibuatnya suatu perjanjian  Suatu sebab adalah halal jika tidak ber- tentangan dng UU, ketertiban umum dan kesusilaan
  • 27.
    ASAS-ASAS HUKUM PERJANJIAN a. Asas konsensualisme berkaitan dengan lahirnya perjanjian b. Asas kebebasan berkontrak  berkaitan dengan isi dan syarat perjanjian c. Asas pacta sunt servanda  berkaitan dengan kekuatan mengikat perjanjian d. Asas kepribadian  berkaitan dengan berlakunya perjanjian e. Asas itikad baik  berkaitan dengan pelaksanaan perjanjian
  • 28.
    ASAS KONSENSUALISME  suatuperjanjian lahir dengan tercapainya kata sepakat diantara para pihak mengenai suatu hal tertentu. PENGECUALIAN : - Perjanjian riil : perjanjian lahir dengan diserahkannya obyek perjanjian. - Perjanjian formil : perjanjian lahir dengan dipenuhinya formalitas tertentu.
  • 29.
    ASAS KEBEBASAN BERKONTRAK  Setiap orang bebas untuk : a. Membuat atau tidak membuat perjanjian b. Membuat perjanjian dengan siapapun c. Menentukan isi dan syarat perjanjian d. Menentukan bentuk perjanjian e. Menentukan pada hukum mana perjanjian tunduk
  • 30.
    ASAS PACTA SUNTSERVANDA  Semua perjanjian yang dibuat secara sah mengikat sebagai Undang-Undang bagi para pihak
  • 31.
    ASAS KEPRIBADIAN  Perjanjianhanya berlaku bagi para pihak yang membuatnya PENGECUALIAN : - derden beding :perjanjian unt kepentingan pihak ketiga - Derden werking : perjanjian yang berlaku bagi pihak ketiga
  • 32.
    ASAS ITIKAD BAIK Suatu perjanjian harus dilaksanakan dng itikad baik ITIKAD BAIK => SIKAP BATIN Penafsiran Itikad Baik : “volgens de eisen van redelijkheid en billijk- heid” (memenuhi suatu syarat dari kelayakan dan kepatutan)
  • 33.
    BENTUK PERJANJIAN  LISAN TERTULIS : - Akta otentik : akta yg dibuat oleh atau dihadapan pejabat yg berwenang unt itu. misal : akta notaris, akta PPAT - Akta di bawah tangan : akta yg dibuat sendiri oleh para pihak : - perjanjian standar - perjanjian di bawah tangan biasa
  • 34.
    BERAKHIRNYA PERJANJIAN a. Ditentukan oleh para pihak dlm perjanjian b. Ditentukan waktunya oleh UU c. Berdasarkan keputusan hakim d. Kesepakatan para pihak (herroeping) e. Tujuan perjanjian telah tercapai f. Terjadinya suatu peristiwa tertentu g. Pernyataan penghentian perjanjian (opzegging)
  • 35.
    WANPRESTASI DAN OVERMACHT PRESTASI : - terlaksana - tidak terlaksana : - WANPRESTASI atau - OVERMACHT / FORCE MAJEUR
  • 36.
    WANPRESTASI  tidak terlaksananyasuatu prestasi karena kesalahan debitur, baik krn kesengajaan maupun kelalaian.  Mengakibatkan adanya tuntutan ganti kerugian
  • 37.
    BENTUK-BENTUK WANPRESTASI a. Debitursama sekali tidak berprestasi b. Debitur berprestasi tetapi tidak tepat waktu c. Debitur berprestasi tetapi tidak sesuai dengan yang diperjanjikan
  • 38.
    SOMASI / TEGURAN Untuk menyatakan debitur wanprestasi, harus dilakukan SOMASI (TEGURAN) terlebih dahulu kepada debitur. Bentuk SOMASI : - Suatu akta yang berisi peringatan agar debitur segera melaksanakan kewajiban- nya.
  • 39.
    SOMASI tidak diperlukan jika : a. Adanya batas waktu (fataal termijn) dalam perjanjian b. Prestasi yang diperjanjikan adalah “tidak berbuat sesuatu” c. Debitur mengakui dirinya wanprestasi
  • 40.
    TUNTUTAN KREDITUR a. Pemenuhan perjanjian b. Pemenuhan perjanjian disertai ganti rugi c. Pemutusan perjanjian d. Pemutusan perjanjian disertai ganti rugi e. Ganti rugi
  • 41.
    GANTI RUGI  Unsur-unsur: a. kerugian b. biaya-biaya c. bunga
  • 42.
    OVERMACHT / FORCEMAJEUR  Suatu keadaan tak terduga diluar ke- mampuan manusia yang menyebabkan debitur tidak dapat berpretasi, dan debitur tidak dapat dipersalahkan.  Akibat adanya overmacht => RISIKO
  • 43.
    MACAM-MACAM OVERMACHT a. Overmacht absolut (obyektif) :  overmacht yang benar-benar tidak dapat diatasi b. Overmacht relatif (subyektif) :  overmacht yang sesungguhnya dapat diatasi, tetapi dengan pengorbanan yang besar
  • 44.
    TEORI OVERMACHT RELATIF INSPANNINGS THEORIE (TEORI UPAYA) dikemukakan oleh Houwing :  “jika debitur telah berusaha sebaik mungkin sesuai dengan ukuran yang wajar dalam masyarkat, maka tidak dipenuhinya prestasi tidak dapat lagi di- persalahkan kepadanya”  Disini yang pokok adalah unsur ketidak- salahan , bukan ketidakmampuan.
  • 45.
    RISIKO  siapa yangmenanggung kerugian. Asas umum RISIKO - Perjanjian sepihak : risiko ditanggung oleh kreditur - Perjanjian timbal balik : risiko ditanggung oleh keduabelah pihak
  • 46.
    HAPUSNYA PERIKATAN a. Pembayaran b. Penawaran pembayaran diikuti dengan penitipan (konsinyasi) c. Pembaruan hutang (novasi) d. Perjumpaan hutang (kompensasi) e. Percampuran hutang f. Pembebasan hutang ----------- >
  • 47.
    g. Musnahnya barangterutang h. Kebatalan dan pembatalan i. Berlakunya syarat batal j. Kadaluarsa (lewatnya waktu)
  • 48.
    a.Pembayaran  Tdk selaluberujud uang, tapi dapat pula berujud penyerahan benda tertentu atau dapat pula berupa pemenuhan jasa.  Wajib dilakukn oleh debitur, tapi dapat pula terjadi pembayaran dilakukan oleh pihak III yang berkepentingan :  SUBROGASI
  • 49.
    SUBROGASI :  Penggantianhak-hak kreditur oleh pihak ketiga yang membayar Pembayaran dapat juga dilakkan oleh “penanggung” (borgtocht)
  • 50.
    b. Konsinyasi  Dilakukanoleh debitur jika kreditur me- nolak menerima pembayaran debitur.  Debitur dapat mengajukan permohonan ke PN agar penawaran pembayaran tsb dinyatakan sah, dan uang atau benda yg akan dibayarkan disimpan atau dititipkan di Kepaniteraan PN.
  • 51.
    c. Novasi : Kesepakatan para pihak untuk meng- hapus perjanjian yang sudah ada dan bersamaan dengan itu timbul perjanjian baru sebagai pengganti.  Ada tiga macam novasi : - novasi obyektif - novasi subyektif pasif - novasi subyektif aktif
  • 52.
     Novasi obyektif: kreditur dan debitur me- ngadakan perjanjian baru sebagai peng-ganti perjanjian lama.  Novasi subyektif pasip : dalam perjanjian baru debitur lama digantikan oleh debitur baru, dan debitur lama dibebaskan dari kewajiban  Novasi subyektif aktif : dalam perjanjian baru kreditur lama digantikan oleh kreditur baru
  • 53.
    d. Kompensasi  Terjadijika antara kreditur dan debitur saling mempunyai hutang e. Percampuran hutang  Terjadi jika kedudukan kreditur dan debitur ada pada satu orang  terjadi percampuran hutang demi hukum.
  • 54.
    f. Pembebasan hutang Terjadi jika kreditur melepaskan haknya atas pemenuhan prestasi oleh debitur g. Musnahnya barangterutang  Terjadi bila benda yg menjadi obyek per-janjian, diluar kesalahan para pihak : - musnah atau tdk dpt lagi dperdagangkan - hilang sedemikian rupa shg tdk diketahui apa- kah barang itu masih ada
  • 55.
    h. Kebatalan danpembatalan Kebatalan : perikatan yg timbul dari ke- jahatan atau pelanggaran atau tdk me- menuhi syarat obyektif perjanjian Pembatalan : perkatan yang dibuat oleh orang belum dewasa/dibawah pengampu- an dan yg dibuat karena cacat kehendak
  • 56.
    i. Berlakunya syaratbatal  Terjadi jika suatu peristiwa tertentu yang diperjanjkan betu-betul terjadi h. Kadaluarsa (lewatnya waktu)  Berdasarkan ketentuan UU segala tuntut- an hukum hapus karena lewatnya waktu 30 tahun
  • 57.
    HUKUM JAMINAN  “Jaminan”diperlukan agar ada kepastian bhw prestasi yang telah dilakukan oleh sa- lah satu pihak akan memperoleh ganti kontra prestasi jika pihak lain gagal memberikan prestasinya.  “Jaminan” merupakan perbuatan hukum ikutan dari suatu perbuatan hukum sebelumnya.  “Jaminan” tidak mungkin berdiri sendiri.
  • 58.
     Pemberian jaminanmerupakan perbuat- an hukum yang bersifat accesoir terhadap perbuatan hukum yang mendahuluinya, yang merupakan prinsipal. Contoh : - Jaminan dalam perjanjian kredit
  • 59.
    MACAM-MACAM JAMINAN a. Jaminan Umum b. Jaminan Khusus : - Jaminan Perorangan (personal guarantee)/Penanggungan - Jaminan Kebendaan : * Jaminan benda tetap : Hipotik Hak Tanggungan * Jaminan Benda Bergerak : Gadai Fidusia
  • 60.
    Jaminan Umum  “segalakebendaan milik debitur, baik yg bergerak maupun yg tdk bergerak, baik yang sudah ada maupun yg baru akan ada, menjadi tanggungan untuk segala perikatan debitur”  Semua harta debitur merupakan jaminan bagi pelunasan hutangnya walaupun tdk diperjanjikan.  Krediturnya merupakan kreditur Konkuren (kreditur bersaing)
  • 61.
    Jaminan Khusus  benda-bendatertentu milik debitur yang dijadikan jaminan bagi pelunasan hutang- nya.  Dibuat dalam suatu perjanjian jaminan  Krediturnya merupakan kreditur Preferen (kreditur yang diutamakan)
  • 62.
    Jaminan Perorangan/Personal Guarantee Perjanjian dimana seorang pihak ketiga, guna kepentingan kreditur, mengikatkan diri untuk memenuhi perikatan debitur manakala debitur tersebut tidak dapat memenuhi.  Seseorang dapat menjadi “penanggung” hutang orang lain jika diperjanjikan.  Penanggungan diperbolehkan hanya untuk sebagian saja hutang debitur
  • 63.
    Jaminan Kebendaan  benda tetap - benda tetap berupa tanah :  jaminan dengan Hak Tanggungan Hak Tanggungan harus dibuat dng Akta Notaris dan didaftarkan. - benda tetap bukan tanah :  jaminan dengan Hipotik Hipotik harus dibuat dng Akta Notaris dan didaftarkan.
  • 64.
     Benda bergerak: - Gadai - Fidusia Perbedaan prinsip : -gadai : obyek dikuasai oleh penerima gadai -fidusia : obyek tetap dikuasai oleh pemilik. Penerima fidusia menerima hak milik atas obyek jaminan. ------------
  • 65.
    -gadai : bentukperjanjian bebas -fidusia : harus dengan Akta Notaris dan di- daftarkan di Kantor Pendaftaran Fidusia