Oleh:
Lilik Sofiatus Sholeha
FKM-Unismuh Palu
Hipersensitivitas adalah kegagalan
kekebalan tubuh di mana tubuh seseorang
menjadi hipersensitif dalam bereaksi
secara imunologi terhadap bahan-bahan
yang umumnya non imunogenik.
Apa sih Hipersensitivitas
itu ??
Internal
Imaturitas usus secara
fungsional
Genetik berperan dalam
alergi makanan
Mukosa dinding saluran cerna belum
matang yang menyebabkan
penyerapan alergen bertambah
Eksternal
Faktor pencetus
Makanan yang dapat
memberikan reaksi alergi
Hampir semua jenis makanan dan zat
tambahan pada makanan dapat
menimbulkan reaksi alergi
Faktor yang berperan dalam alergi makanan
Etiologi
Saat pertama kali masuknya alergen (ex. telur ) ke dalam
tubuh seseorang yang mengkonsumsi makanan tetapi dia
belum pernah terkena alergi. Namun ketika untuk kedua
kalinya orang tersebut mengkonsumsi makanan yang sama
barulah tampak gejala-gejala timbulnya alergi pada kulit
orang tersebut. Setelah tanda-tanda itu muncul maka
antigen akan mengenali alergen yang masuk
yang akan memicu aktifnya sel T,
dimana sel T tersebut yang akan merangsang
sel B untuk mengaktifkan antibodi (Ig E).
Patofisiologi
Antigen masuk ď‚® ditangkap fagosit ď‚®
diproses, dipresentasikankeselTh2 ď‚® melepas sitokin ď‚® merangsang
selB bentuk IgE ď‚® di ikat reseptornya (basofil, selmast,eosinofil).
Fase Sensitasi
Terpajan ulang: alergen-IgE ď‚® degranulasi sel mast ď‚® melepas
histamine ď‚® menimbulkan reaksi
Fase Aktivasi
Terjadi respon kompleks(anafilaksis) sebagai efek mediator yang
dilepas sel mast dengan aktivitas farmakologik
Fase Efektor
Tipe Mekanisme Imun Gangguan Prototipe
1 Tipe Anafilaksis
Alergen mengikat silang antibody IgE ď‚®
pelepasan amino vasoaktif dan
mediatorlain dari basofil dan sel mast
rektumen sel radang lain
Anafilaksis, beberapa bentuk
asma bronchial
2
Antibodi terhadap
antigen jaringan
tertentu
IgG atau IgM berikatan dengan antigen
pada permukaan sel fagositosis sel
target atau lisis sel target oleh komplemen
atau sitotosisitas yang diperantarai oleh sel
yang bergantung antibodi
Anemia hemolitik autoimun,
eritroblastosis fetalis,
penyakit Goodpasture,
pemfigus vulgaris
3
Penyakit Kompleks
Imun
Kompleks antigen-
antibodi mengaktifkan ď‚®
komplemen menarik perhatian nenutrofil
menjadikan pelepasan enzim lisosom,
radikal bebas oksigen, dll
Reahsi Arthua, serum
sickness, lupus eritematosus
sistemik, bentuk tertentu
glumerulonefritis akut
4
Hipersensivitas
Selular (Lambat)
Limfisit T tersensitisasi pelepasan sitokin
dan sitotoksisitas yang diperantarai oleh
sel T
Tuberkulosis, dermatitis
kontak, penolakan transplant
Mekanisme Berbagai Gangguan Yang Diperantarai
Secara Imunologis
Tanda dan Gejala
Dalam beberapa menit setelah pajanan,
pada pejamu yang tersensitisasi akan muncul
Rasa gatal, urtikaria (bintik merah dan bengkak),
dan eritems kulit,diikuti oleh kesulitan bernafas berat
yang disebabkan oleh bronkokonstriksi paru dan
diperkuat dengan hipersekresi mukus.
Tipe
1
umumnya berupa kelainan darah,
seperti anemia hemolitik,
trombositopenia, eosinofilia dan granulositopenia.
Tipe
2
Manifestasi klinik:
1. Urtikaria, angioedema, eritema, makulopapula, eritema
multiforme dan lain-lain. gejala sering disertai pruritis
2. Demam
3. Kelainan sendi, artralgia dan efusi sendi
4. Limfadenopati
5. kejang perut, mual
6. neuritis optic
7. glomerulonefritis
8. sindrom lupus eritematosus sistemik
9. gejala vaskulitis lain
Tipe 3
Manifestasi klinis hipersensitivitas tipe
IV, dapat berupa reaksi paru akut seperti
demam, sesak, batuk dan efusi pleura.Tipe 4
1. Pada saluran pernafasan : asma
2. Pada saluran cerna:
mual,muntah,diare,nyeri perut
3. Pada kulit: urtikaria.
angioderma,dermatitis,pruritus,gatal,
demam,gatal
4. Pada mulut: rasa gatal dan
pembengkakan bibir
Adapun Gejala klinis
umumnya :
1. Inspeksi: apakah ada kemerahan, bentol-bentol dan
terdapat gejala adanya urtikaria,angioderma,pruritus dan
pembengkakan pada bibir
2. Palpasi: ada nyeri tekan pada kemerahan
3. Perkusi: mengetahui apakah diperut terdapat udara atau
cairan
4. Auskultasi: mendengarkan suara napas, bunyi
jantung, bunyi usus( karena pada oarng yang menderita
alergi bunyi usunya cencerung lebih meningkat)
Pemeriksaan Fisik
Penanganan gangguan alergi berlandaskan
pada empat dasar:
Menghindari allergen
1
Profilaksis 4
Terapi farmakologis
2
Imunoterapi
3
Alergi makanan biasanya akan membaik
pada usia tertentu. Setelah usia 2 tahun
biasanya imaturitas saluran cerna akan
membaik. Sehingga setelah usia tersebut
gangguan saluran cerna karena alergi
makanan juga akan ikut berkurang.
Pajanan pertama dengan alergen
Aktivasi sel Th 2 oleh Ag dan rangsangan Switching IgE dalam Sel B
Produksi Ig E
Ikatan Ig E pada Fc & RI sel Mast
Pajanan ulang dengan alergen
Aktivasi sel Mast :
Penglepasan mediator
Amin vasoaktif,
Mediator lipid
Sitokin
Reaksi fase lambatReaksi hipersensitivitas cepat
Fase efektor
Fase sensitisasi
Fase aktivasi

Hipersensitivitas

  • 1.
  • 2.
    Hipersensitivitas adalah kegagalan kekebalantubuh di mana tubuh seseorang menjadi hipersensitif dalam bereaksi secara imunologi terhadap bahan-bahan yang umumnya non imunogenik. Apa sih Hipersensitivitas itu ??
  • 3.
    Internal Imaturitas usus secara fungsional Genetikberperan dalam alergi makanan Mukosa dinding saluran cerna belum matang yang menyebabkan penyerapan alergen bertambah Eksternal Faktor pencetus Makanan yang dapat memberikan reaksi alergi Hampir semua jenis makanan dan zat tambahan pada makanan dapat menimbulkan reaksi alergi Faktor yang berperan dalam alergi makanan Etiologi
  • 4.
    Saat pertama kalimasuknya alergen (ex. telur ) ke dalam tubuh seseorang yang mengkonsumsi makanan tetapi dia belum pernah terkena alergi. Namun ketika untuk kedua kalinya orang tersebut mengkonsumsi makanan yang sama barulah tampak gejala-gejala timbulnya alergi pada kulit orang tersebut. Setelah tanda-tanda itu muncul maka antigen akan mengenali alergen yang masuk yang akan memicu aktifnya sel T, dimana sel T tersebut yang akan merangsang sel B untuk mengaktifkan antibodi (Ig E). Patofisiologi
  • 6.
    Antigen masuk ď‚®ditangkap fagosit ď‚® diproses, dipresentasikankeselTh2 ď‚® melepas sitokin ď‚® merangsang selB bentuk IgE ď‚® di ikat reseptornya (basofil, selmast,eosinofil). Fase Sensitasi Terpajan ulang: alergen-IgE ď‚® degranulasi sel mast ď‚® melepas histamine ď‚® menimbulkan reaksi Fase Aktivasi Terjadi respon kompleks(anafilaksis) sebagai efek mediator yang dilepas sel mast dengan aktivitas farmakologik Fase Efektor
  • 8.
    Tipe Mekanisme ImunGangguan Prototipe 1 Tipe Anafilaksis Alergen mengikat silang antibody IgE ď‚® pelepasan amino vasoaktif dan mediatorlain dari basofil dan sel mast rektumen sel radang lain Anafilaksis, beberapa bentuk asma bronchial 2 Antibodi terhadap antigen jaringan tertentu IgG atau IgM berikatan dengan antigen pada permukaan sel fagositosis sel target atau lisis sel target oleh komplemen atau sitotosisitas yang diperantarai oleh sel yang bergantung antibodi Anemia hemolitik autoimun, eritroblastosis fetalis, penyakit Goodpasture, pemfigus vulgaris 3 Penyakit Kompleks Imun Kompleks antigen- antibodi mengaktifkan ď‚® komplemen menarik perhatian nenutrofil menjadikan pelepasan enzim lisosom, radikal bebas oksigen, dll Reahsi Arthua, serum sickness, lupus eritematosus sistemik, bentuk tertentu glumerulonefritis akut 4 Hipersensivitas Selular (Lambat) Limfisit T tersensitisasi pelepasan sitokin dan sitotoksisitas yang diperantarai oleh sel T Tuberkulosis, dermatitis kontak, penolakan transplant Mekanisme Berbagai Gangguan Yang Diperantarai Secara Imunologis
  • 9.
    Tanda dan Gejala Dalambeberapa menit setelah pajanan, pada pejamu yang tersensitisasi akan muncul Rasa gatal, urtikaria (bintik merah dan bengkak), dan eritems kulit,diikuti oleh kesulitan bernafas berat yang disebabkan oleh bronkokonstriksi paru dan diperkuat dengan hipersekresi mukus. Tipe 1 umumnya berupa kelainan darah, seperti anemia hemolitik, trombositopenia, eosinofilia dan granulositopenia. Tipe 2
  • 10.
    Manifestasi klinik: 1. Urtikaria,angioedema, eritema, makulopapula, eritema multiforme dan lain-lain. gejala sering disertai pruritis 2. Demam 3. Kelainan sendi, artralgia dan efusi sendi 4. Limfadenopati 5. kejang perut, mual 6. neuritis optic 7. glomerulonefritis 8. sindrom lupus eritematosus sistemik 9. gejala vaskulitis lain Tipe 3 Manifestasi klinis hipersensitivitas tipe IV, dapat berupa reaksi paru akut seperti demam, sesak, batuk dan efusi pleura.Tipe 4
  • 11.
    1. Pada saluranpernafasan : asma 2. Pada saluran cerna: mual,muntah,diare,nyeri perut 3. Pada kulit: urtikaria. angioderma,dermatitis,pruritus,gatal, demam,gatal 4. Pada mulut: rasa gatal dan pembengkakan bibir Adapun Gejala klinis umumnya :
  • 12.
    1. Inspeksi: apakahada kemerahan, bentol-bentol dan terdapat gejala adanya urtikaria,angioderma,pruritus dan pembengkakan pada bibir 2. Palpasi: ada nyeri tekan pada kemerahan 3. Perkusi: mengetahui apakah diperut terdapat udara atau cairan 4. Auskultasi: mendengarkan suara napas, bunyi jantung, bunyi usus( karena pada oarng yang menderita alergi bunyi usunya cencerung lebih meningkat) Pemeriksaan Fisik
  • 13.
    Penanganan gangguan alergiberlandaskan pada empat dasar: Menghindari allergen 1 Profilaksis 4 Terapi farmakologis 2 Imunoterapi 3
  • 14.
    Alergi makanan biasanyaakan membaik pada usia tertentu. Setelah usia 2 tahun biasanya imaturitas saluran cerna akan membaik. Sehingga setelah usia tersebut gangguan saluran cerna karena alergi makanan juga akan ikut berkurang.
  • 15.
    Pajanan pertama denganalergen Aktivasi sel Th 2 oleh Ag dan rangsangan Switching IgE dalam Sel B Produksi Ig E Ikatan Ig E pada Fc & RI sel Mast Pajanan ulang dengan alergen Aktivasi sel Mast : Penglepasan mediator Amin vasoaktif, Mediator lipid Sitokin Reaksi fase lambatReaksi hipersensitivitas cepat Fase efektor Fase sensitisasi Fase aktivasi