BAHAN KULIAH HIDROLOGI 
AKATIRTA MAGELANG 
Oleh 
Ir. DJONI SUPARDI;MT.
SIKLUS HIDROLOGI 
Siklus hidrologi adalah perjalanan air dari muka 
bumi ke atmosfir kemudian turun lagi kebumi sebagaimana 
ditujukan dalam gambar 1.1. 
Selama berlangsungnya daur hidrologi, yaitu perjalanan 
air dari permukaan badan air ( laut ,danau, waduk, situ, 
sungai dsb ) menuju ke atmosfer , kemudian turun (berupa 
air hujan) kebumi sebagian mengalir dipermukaan bumi 
kemudian kembali kelaut, sebagian meresap kedalam bumi 
menjadi air tanah, sebagian lagi tertahan di waduk, danau 
,sungai dan sebagian lagi kembali ke atmosfer sebelum 
sampai ke bumi. Air yang tertahan di bumi dapat 
dimanfaatkan oleh manusia dan juga mahkluk-mahkluk 
yang lain.
Dalam siklus hidrologi , energi panas matahari 
menyebabkan terjadinya proses evaporasi di laut maupun 
badan air lainnya. Uap air akan terbawa oleh angin 
melintasi daratan yang bergunung-gunung maupun datar, 
dan apabila keadaan angin memungkinkan , sebagian uap 
air tersebut akan turun menjadi hujan. 
Sebelum mencapai permukaan tanah sebagian air hujan 
akan tertahan di tajuk-tajuk vegetasi selama proses 
pembasahan tajuk, sebagian akan jatuh ke permukaan 
tanah melalui sela sela daun ( Througfaal) sebagian melalui 
permukaan batang (stemflow) dan sebagian kecil dari air 
hujan tidak pernah sampai ke permukaan tanah, melainkan 
terevaporasi kembali ke atmosfer selama dan setelah 
terjadinya hujan ( interception ).
Air hujan yang dapat mencapai permukaan tanah 
sebagian akan terserap kedalam tanah (infiltration ), 
sedangkan air hujan yang tidak terserap kedalam 
tanah akan tertampung sementara dalam cekungan 
– cekungan tanah ( surface detention ) untuk 
selanjutnya mengalir ketempat yang lebih rendah, 
sebagai aliran permukaan (surface runoff ) yang 
selanjutnya menuju sungai-sungai ,akhirnya kelaut. 
Sementra air yang masuk ketanah sebagian akan 
menjadi aliran intra kemudian keluar ke sungai 
sebagai mata air dan sebagian lagi akan mengisi 
lapisan air bawah tanah ( groundwater ) yang lebih 
dikenal dengan aquifer. Untuk lebih jelasnya lihat 
gabar 1.1 , Siklus hidrologi
Dalam hal air, ALLAH SWT banyak berfirman didalam Al-Qur’an 
diantaranya : 
                 
           
22. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air 
(hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena 
itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah[30], Padahal kamu mengetahui. QS Al Baqarah (2) 
[30] Ialah segala sesuatu yang disembah di samping menyembah Allah seperti berhala-berhala, dewa-dewa, 
dan sebagainya.
                  
              
                 
 
99. dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam 
tumbuh-tumbuhan Maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan 
dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang 
menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak 
serupa. perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. 
Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. QS 
Alan’am (6)
                  
                 
    
57. dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya 
(hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu 
Kami turunkan hujan di daerah itu, Maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. 
seperti Itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, Mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. 
QS Al-A’raaf (7)
                   
) 
65. dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. 
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang 
yang mendengarkan (pelajaran). QS An Nahl (16)
EKOSISTEM DAERAH ALIRAN SUNGAI 
Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terdiri dari komponen – kom 
Ponen yang saling berintegrasi menjadi satu kesatuan. 
Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah salah satu dari ekosistem, dimana di-dalam 
ekosistem semua komponen yang terkait saling mempengaruhi. 
Komponen inti dalam ekosistem adalah manusia, sebagai komponen 
yang dinamis. Terjadinya ketidakseimbangan didalam ekosistem banyak 
disebakan oleh ulah manusia. 
Secara garis besar ekosistem Daerah Aliran Sungai dibagi menjadi tiga 
Yaitu daerah hulu ,tengah dan hilir, yang secara biofisik mempunyai ciri – 
Ciri sebagai berikut : 
1. Daerah hulu 
a) merupakan daerah konservasi 
b) kerapatan drainase lebih tinggi
c) kemiringan lereng > 15% 
d) bukan daerah banjir 
e) pengaturan pemakaian air ditentukan oleh pola drainase 
f) jenis vegetasi merupakan tegakan hutan 
2. Daerah hilir 
a) merupakan daerah pemanfaatan 
b) kerapatan drainase lebih kecil 
c) kemiringan lereng < 8% 
d) pada beberapa tempat merupakan daerah banjir 
e) pengaturan pemanfaatan air diatur melalui irigasi 
f) jenis vegetasi didominasi tanaman pertanian, kecuali daerah es-tuaria 
yang didominasi hutan bakau/lahan gambut 
3. Daerah tengah 
Merupakan daerah transisi dari kedua daerah tersebut, dan mem-punyai 
ciri dari beberapa ciri daerah hulu dan hilir.
Ekosisten DAS hulu merupakan daerah perlindungan terhadap seluruh 
bagian Daerah Aliran Sungai. 
Perlindungan meliputi tata air , sehingga Daerah Aliran Sungai hulu se-bagai 
fokus perencanaan pengelolaan DAS. 
Keterkaitan Daerah Aliran Sungai hulu, tengah dan hilir dapat dilihat pa 
gambar 1.2, yang menunjukan bahwa aktivitas perubahan “lanskap” 
( perubahan tata guna lahan, pembutan bangunan, konservasi ) yang di 
lakukan didaerah hulu tidak hanya menimbulkan dampak didaerah hu-lu 
saja tertapi juga didaerah tengah dan daerah hilir dalam bentuk : 
1. fluktuasi debit air 
2. transportasi sedimen dan material terlarut 
Contoh : 
1. Erosi banyak terjadi pada daerah hulu sebagai akibat praktek 
becocok tanam yang tidak memenuhi akidah – akidah tentang konser 
vasi tanah dan konservasi air.
2. Dampak dari erosi ,banyak terjadi pendangkalan sungai, waduk, em 
bung yang pada gilirannya berdampak pada irigasi, PLN, PDAM serta 
menimbulkan bencana tanah longsor dan banjir. 
3. Kegiatan reboisasi ( penanaman pohon ) dalam luasan tertentu da – 
pat menurunkan hasil air ( water yield ), tetapi kegiatan tersebut da-pat 
meningkatkan kualias air tanah dan air permukaan. 
4. Kegiatan pertanian dengan menggunakan bahan kimia akan 
menurunkan kualitas air permukaan dan merugikan kehidupan 
mahluk hidup. 
5. Pencegahan terhadap pembalakan hutan ( ilegal loging ), atau 
deforestasi ( pengurangan tegakan hutan ). 
6. Penambangan yang tidak mengindahakan terhadap konservasi 
harus dicegah. 
7. Pembutan jalan-jalan dihutan diarahkan sesuai akidah konservasi 
agar tidak terjadi erosi.
Reboisasi berhasil 
(hasil air -, kualitas +) 
Deforestasi ,penebangan Cara bercocok tanam buruk 
(produktivitas - , erosi +) 
untuk kayu bakar 
( hasil air + ) 
Pembutan jalan,pem 
balakan penebangan 
(erosi +, sedimen +) 
Kapasitas simpanan 
waduk (-), PLTA ? 
Saluran Irigasi ( kualitas - ) 
Gambar. 1.2 
Ekosistem Daerah Aliran Sungai
C. KOMPONEN-KOMPONEN EKOSISTEM DAS 
1. DAS bagian hulu dipandang sebagai ekosistem pedesaan yang terdiri dari : 
a) desa c) sungai 
b) sawah ladang d) hutan 
2. DAS tengah termasuk didalamnya daerah perkebunan dan tegalan. 
3. DAS hilir dijumpai adanya hutan bakau 
Gambar 1.3 menunjukan hubungan timbal balik antar komponen ekosistem DAS 
yang saling mempengaruhi. 
Contoh 
Masalah degradasi lingkungan berpangkal pada komponen desa meliputi : 
a) Pertumbuhan penduduk yang pesat menyebabkan kepemilikan lahan pertanian 
semakin sempit. 
b) Keterbatasan lapangan kerja dan kendala ketrampilan yang terbatas sehingga 
pendapatan petani rendah.
Kedua hal tersebut diatas akan mendorong petani untuk merambah hutan dan 
lahan tidak produktif lainnya. 
1. Apabila pengolahan lahan tidak mengindahkan akidah-akidah konservasi, tanah 
rentan terhadap erosi dan longsor. 
2. Meningkatnya erosi dan tanah longsor akan meningkatkan sedimen di hilir. 
3. Sistem pengelolaan lahan yang salah juga akan meningkatkan air larian yang 
menyebabkan banjir dan menurunnya infiltrasi yang mengkibatkan kekeringan 
dimusim kemarau ( kekurangan air baik untuk pertanian maupun kebutuhan 
domestik dan non domestik ).
Matahari 
Hutan 
Desa 
Sawh ladang 
Tumbuhan 
Tanah Manusia Hewan 
Air 
Sungai 
Debit/lumpur/unsur hara tanah 
Gambar 1.3 Komponen-komponen ekosistem DAS hulu
D. SISTEM HIDROLOGI DALAM EKOSISTEM DAS 
Unsur – unsur utama sistem hidrologi DAS meliputi : 
a) jenis tanah c) topografi 
b) tata guna lahan d) kemiringan dan panjang lereng 
Karakteristik unsur – unsur diatas akan berpengaruh pada besar kecilnya : 
a) evaporasi e) aliran permukaan 
b) infiltrasi f) kandungan air tanah 
c) perkolasi g) aliran sungai 
d) air larian 
Faktor – faktor yang memungkinkan dapat direkayasa oleh manusia adalah : 
a) faktor tata guna lahan b) faktor kemiringan dan panjang lereng. 
Adapun faktor alamiah tidak dibawah kontrol manusia, oleh karenanya fokus 
pengelolaan DAS bertumpu pada kedua faktor tersebut diatas. 
Secara singkat gambaran sistem hidrologi dalam ekosistem DAS seperti gambar 1.4
Input = curah hujan 
hewan manusia Sawah 
air 
ladang 
GAMBAR 1.4 FUNGSI EKOSISTEM DAS 
Curah hujan ,jenis tanah,kemiringan 
lereng,vegetasi, dan aktivitas manusia 
mempunyai peran penting terhadap proses erosi 
dan sedimentasi. 
DAS = prosesor 
Output = air + sedimen + sampah 
Manusia + Iptek
CARA BERCOCOK TANAM. 
a) Memotong kontur 
. Akan menimbulkan erosi , walaupun kelembaban tanah dapat dikendalikan 
. Apalagi kalau jenis tanaman adalah tanaman cabutan (kolo kependem ) 
b) Sejajar kontur 
. Akan dapat mengendalikan erosi 
. Dibuat terasering untuk mengendalikan kelembaban tanah 
E. POLA DRAINASE DAN URUTAN SUB DAS 
Bila dilihat dari udara jaringan aliran sungai ( sistem drainase ) menyerupai 
percabangan pohon ( DENDRITIC ) meliputi ; 
( HORISONTAL ROCK )
( CRYATALLINE ROCK ) 
Tetapi apabila dilihat dari dekat akan terlihat : 
a) Segi empat ( Rectangular )
b) Trellis 
c) Annular 
d) Radial
BAB II 
PRESIPITASI 
Presipitasi adalah jatuhnya air dari atmosfer ke permukaan bumi dan laut dalam 
bentuk yang berbeda : 
1. Daerah tropis Hujan air ( curah hujan ) 
2. Daerah beriklim sedang hujan air dan salju 
Presipitasi adalah klimatik yang bersifat alamiah yaitu berubahnya uap air di atmosfer 
menjadi curah hujan akibat dari proses kondensasi. 
Presipitasi adalah faktor utama yang mengendalikan proses daur hidrologi di suatu 
Daerah Aliran Sungai ( DAS ). 
Prakondisi terjadinya hujan sangat dipengaruhi oleh : 
1. Kelembaban udara 3) Angin ( arah dan kecepatannya ) 
2. Energi matahari 4) Suhu udara 
Untuk mengetahui kondisi tersebut diatas dibeberapa lokasi dipasang alat pengukur 
cuaca otomatis ( untuk mengukur curah hujan , suhu dan kelembaban udara, 
kecepatan dan arah angin serta radiasi matahari ). 
Alat : ( CR 10, Campbell Scientific Ltd, Leicester,Uk ). 
Terdiri dari : a) alat ukur curah hujan 0,20 mm ( tipping bucket ) 
b) alat ukur suhu dan kelembaban udara ( temperatur – humidity ......
measure probe ) 
c) alat ukur angin ( cup anemo meter ) dan arah angin ( windvane ) 
d) alat ukur radiasi matahari ( pyramometer sensor ), dan alat ukur quantum fluk 
( quantum sensor) 
Masing-masing alat dihubungkan kedata loger untuk pencatatan secara otomatis 
sesuai dengan interval waktu yang diinginkan. 
Contoh gabar 2.1 buku hdrologi halaman 31 
1. Kelembaban udara 
Kelembaban udara akan memantulkan atau menyerap setengah radiasi matahari 
gelombang pendek yang menuju kepermukaan bumi. 
Disamping itu kelembaban udara juga dapat menahan keluarnya radiasi matahari 
gelombang panjang dari permukaan bumi baik siang maupun malam hari. 
Suhu udara meningkat ,kapasitas udara menampung uap air juga semakin me-ningkat. 
Suhu udara bertambah dingin gumpalan awan bertambah besar, dan 
selanjutnya akan jatuh menjadi hujan.
Kelembaban udara ada dua : 
a) kelembaban spesifik 
b) kelembaban absolute 
a) kelembaban spesifik adalah banyaknya uap air (dalam gram) yang terdapat dalam 
1 kg udara basah ( gr/kg ) 
b) kelembaban absolut adalah perbandingan masa uap air dengan volume udara total 
( gr/Kg ) 
Pada kelebaban spesifik perubahan tekanan udara tidak akan mempengaruhi besar 
kecilnya kelembaban udara. 
Pada kelembaban absolut perubahan tekanan udara akan memberikan pengaruh 
pada kelembaban udara. 
Contoh. 
Kerapatan udara kering dipermukaan air laut biasanya sekitar 1,28 gr/m3, sedangkan 
kelembaban absolut pada permukaan laut umumnya lebih kecil dari 0,005 gr/m3 
atau lapisan atmosfer mengandung air lebih kecil dari 0,50 %.
Satuan – satuan dalam hidrologi 
Tekanan udara Barometer (b) atau Milibarometer (mb) 
1 b = 1000 mb = 0,98 kali tekanan atmosfer pada permukaan laut 
Tekanan uap air udara jenuh ( es , saturated vapour presure ) ,adalah tekanan 
uap air diudara pada saat keadaan udara jenuh. 
Nilai es dipengaruhi oleh besar kecilnya suhu udara. 
No. Suhu udara ( 
derajat C ) 
Tekanan uap air jenuh ( mb ) 
1 10 9,21 
2 20 17,54 
3 30 31,82 
Ada dua cara untuk menunjukan tekanan uap air diudara, ea ( ambient vapour 
presure ) dalam kaitannya dengan uap air udara jenuh (es ) 
1. Kelembaban relatif x !00% 
2. Kekurangan /devisit tekanan uap air ( vapour presure deficit ) perbe 
daan antara dan dalam milibar atau pascal
푒푠 = 3,869 0,00738. 푇푎 + 0,8972 8 − 0,000019 1,8. 푇푎 + 48 + 0,001316 
푒푠=푡푒푘푎푛푎푛 푢푎푝 푎푖푟 푗푒푛푢 ℎ (푚푏 ) 
푇푎=푠푢 ℎ푢 푢푑푎푟푎 (°퐶) 푅ℎ = 
푒푎 
푒푠 
푥 100% 
푑푎푛 푇푑 푑푎푙푎푚 °퐶 
푅ℎ = 100 112 − 0,1푇푎 + 푇푑 / 112 + 0,9푇푎 8 
Alat pengukur kelembaban udara (psichometer) terdiri dari : dua termometer 
a) termometer bola basah, b) termometer bola kering. 
Suhu titik embun 푻풅 (dew point temperatur ) adalah suhu udara pada saat 
udara jenuh yaitu pada saat 풆풔 = 풆풂 
Setiap kenaikan ketinggian 1000 m ada penurunan suhu sebesar 6,5°C. 
Gerakan uap air diatmosfeer juga dapat disebabkan oleh beda kerapatan udara 
diantara dua tempat. 
Dari kerapatan masa udara lebih tinggi (kering/hangat) ke masa udara yang 
lebih rendah (basah/sejuk)
2. Energi Matahari 
Energi matahari merupakan mesin yang mempertahankan kelangsungan daur 
hidrologi. 
Energi matahari memproduksi gerakan masa diatmosfeer dan diatas lautan . 
Energi matahari merupakan sumber tenaga sehingga terjadi sehingga terjadi 
proses “Evaporasi” dan “ Transpirasi”. 
Evaporasi adalah penguapan air dari permukaan badan perairan 
Transpirasi adalah penguapan air/kehilangan air dari dalam vegetasi. 
Energi matahari mendorong terjadinya daur hidrologi melalui proses radiasi. 
Penyebaran kembali energi matahari dilakukan melalui proses: 
1. Konduksi dari daratan 
2. Konveksi yang berlangsung didalam badan air dan atmosfeer.
1. Konduksi adalah suatu proses transpormasi udara antara 
dua lapisan udara yang berdekatan ,( apabila suhu kedua 
lapiasan tersebut berbeda). Konduktivitas termal ,besarnya 
laju pindah panas adalah 
푞푥 = 퐾푟 Δ푇 /푥 
Dimana : 
qx : laju pindah panas persatuan luas (cal/cm2.dt) 
kr : angka tetapan konduktivitas termal pada kedudukan 
konstan (cal/deg.cm.dt) 
ΔT : beda suhu (oC) 
X : jarak (cm) 
2. Konversi adalah pindah panas yang timbul oleh adanya 
gerakan masa udara atau air dengan arah gerakan vertikal. 
Atau dapat dikatakan konversi adalah hasil 
ketidakmantapan masa udara atau air. 
3. Proses gerakan masa udara lainnya adversi yaitu pindah 
panas yang dihasilkan oleh gerakan udara secara horisontal.
3. ANGIN 
Angin adalah gerakan masa udara, yaitu gerakan atmosfer atau udara nisbi 
terhadap permukaan bumi. 
Parameternya : arah dan kecepatan angin. 
Kecepatan angin mempengaruhi terhadap: 
1. Besarnya kehilangan air melalui proses evaportanspirasi 
2. Mempengaruhi kejadian-kejadian hujan 
Untuk terjadinya hujan diperlukan adanya gerakan udara lembab yang 
berlangsung terus menerus. 
Apabila dunia tidak berputar pada porosnya, pola angin yang terjadi semata-mata 
ditentukan oleh sirkulasi termal. 
Angin akan bertiup ke katulistiwa sebagai udara hangat. 
Udara yang mempunyai berat lebih ringan akan naik ke atas, digantikan oleh 
udara padat yang lebih ringan.
Karena bumi berputar pada porosnya, masa udara (frontal) akan bergerak dari 
barat ke timur. 
Dari pengertian tersebut apabila ada dua masa udara dengan suhu yang berbeda 
bertemu akan terjadi hujan di batas antara dua masa udara tersebut. 
Angin pada umumnya bertiup dari permukaan bidang yang lebih dingin ke 
permukaan bidang yang lebih hangat. 
Pada siang hari musim kemarau 
arah angin  dari lautan ke daratan yang lebih hangat 
Pegunungan juga mempunyai pengaruh terhadap perubahan arah angin  oleh 
adanya proses pemanasan di salah satu sisi pegunungan tersebut, yang 
mengakibatkan adanya beda suhu antara punggung gunung tersebut, yang pada 
gilirannya memyebabkan terjadinya perubahan arah angin. 
Proses kehilangan panas dengan adanya ; padang pasir, jalan aspal, daerah yang 
banyak bangunan, juga dapat menyebabkan perubahan arah angin.
4. SUHU UDARA 
1. Suhu udara mempengaruhi 
a. Besarnya curah hujan 
b. Laju evaporasi dan transpirasi 
2. Suhu juga sebagai salah satu faktor yang dapat memperkirakan dan menjelaskan 
“kejadian dan penyebaran air di muka bumi” 
3. Suhu harian rata-rata: 
Tave = 푇푖 
24 
푖=1 
24 Tave : Suhu harian rata-rata (0C) 
Ti : Suhu udara per jam (0C) 
Atau 
Tave = (Tmax – Tmin)/2 
Tmax : suhu maksimum harian (0C) 
Tmin : suhu minimum harian (0C)
1. Suhu udara yang banyak dijumpai di dalam laporan-laporan tentang metereologi umumnya 
menjunjakan data: suhu musiman, suhu berdasarkan letak geografis, suhu letak ketinggian 
tempat yang berbeda. 
2. Oleh karenanya besarnya suhu rata-rata harus ditentukan menurut “ waktu dan tempat” 
dengan penurunan suhu 0,50 – 0,7 0C per 100 m atau 5 – 7 0C per 1000 m. Rata-rata 6,5 0C 
per 1000 m. 
3. Rh = (112 – 0,1T + Td)/(112 + 0,9T) 
T : Suhu udara ( 0C ) 
Td : Suhu udara jenuh (0C ) 
Rh : kelembaban relatif
PRESIPITASI 
1. Presipitasi adalah faktor yang mengendalikan daur hidrologi dalam wilayah DAS 
sebagai elemen utama ( berpengaruh terhadap kelembaban tanah, proses resapan 
air tanah, debit aliran) 
2. Keberlanjutan proses ekologi, geografi, dan tataguna lahan di suatu DAS sangat 
ditentukan oleh berlangsungnya daur hidrologi. 
Presipitasi dapat dipandang sebagai faktor pendukung sekaligus pembatas bagi 
usaha pengelolaan sumberdaya air dan tanah 
3.Besar kecilnya presipitasi, waktu berlangsungnya hujan, dan ukuran serta 
intensitas yang terjadi, baik secara sendiri-sendiri atau merupakan kombinasi akan 
mempengaruhi kegiatan pembangunan (proyek) seperti PLTA, irigasi, konservasi 
tanah dan air. 
4.Mekanisme presipitasi 
5.Proses terjadinya presipitasi adalah sebagai berikut:
Mekanisme presipitasi 
1.Proses terjadinya presipitasi adalah sebagai berikut: 
1). Sejumlah uap air di atmostfer bergerak ke tampat yang lebih tinggi oleh 
adanya beda tekanan air. 
2). Uap air bergerak dari tempat dengan tekanan uap air lebih besar ke tempat 
dengan tekanan uap air lebih kecil. 
3). Uap air tersebut pada angka 2, pada ketinggian tertentu akan mengalami 
penjenuhan, dan apabila hal tersebut diikuti dengan kondensasi, maka uap air 
akan berubah menjadi butiran-butiran air hujan. 
2. Tipe-Tipe Hujan 
Tiga tipe hujan: 
1). Hujan konveksi (convectional storms) 
2). Hujan frontal (frontal/cyclonic stroms) 
3). Hujan Orografik (orographic storms)
1. Hujan konveksi (convectional storms) 
Penyebabnya adalah: 
1). adanya beda panas yang diterima permukaan tanah 
2). beda panas diatasnya terjadi pada akhir musim kering yang akan menyebabkan hujan 
dengan intensitas hujan tinggi sebagai hasil kondensasi masa air basah pada ketinggian 
> 15 km. 
Mekanisme: 
1. Lapisan udara di atas tanah menjadi lebih panas daripada lapisan udara di atasnya 
2. Udara yang lebih panas bergerak ke lapisan yang lebih tinggi dan pada saatnya akan 
terkondensasi 
3. Pada saat tersebut akan terjadi pelepasan udara panas, dan udara panas tersebut akan 
menjadi lebih panas dan bergerak ke arah lebih tinggi sampai kemudian membeku dan 
jatuh sebagai hujan oleh adanya gaya gravitasi. 
Ciri-ciri hujan konvektif: 
1. Intensitas tinggi 
2. Berlangsung relatif cepat 
3. Cakupan wilayah tidak terlalu luas.
Ciri-ciri hujan konvektif: 
1. Intensitas tinggi 
2. Berlangsung relatif cepat 
3. Cakupan wilayah tidak terlalu luas. 
Kristal es 
Turbulen dan 
ketidakstabilan 
Radiasi 
Matahari 
Suhu dan 
kelembaban tinggi
2. Hujan badai dan hujan mansun (monsoon) adalah tipe hujan frontal yang sering 
dijumpai . 
Udara hangat 
Udara dingin 
Intensitas 
tinggi
3. Hujan Orografik (orographic storms) 
1. Jenis hujan ini umumnya terjadi di daerah pegunungan. 
2. Yaitu ketika masa udara bergerak ke tempat yang lebih tinggi mengikuti bentang 
lahan pegunungan sampai saatnya terjadi proses kondensasi 
3. Ketika masa udara melewati daerah bergunung, pada lereng dimana angin 
berhembus (winward side) terjadi hujan oroganik 
4. Sementara pada lereng dimana gerakan masa udara kurang berarti (...ward side) 
udara yang turun akan mengalami pemanasan dengan sifat kering. Dan daerah ini 
disebut daerah ”bayangan” dan hujan yang terjadi disebut hujan di daerah 
“bayangan”. (Jumlah hujan lebih kecil daripada hujan yang terjadi di daerah 
winward side) 
besarnya intensitas hujan oroganik menjadi lebih besar dengan meningkatnya 
ketebalan lapisan udara lembab ke atmosfer yang bergerak ke tempat yang lebih 
tinggi.
3. Tipe hujan oroganik dianggap sebagai pemasok air tanah,danau, pegunungan, 
bendungan dan sungai karena hujan berlangsung di DAS 
Winward side Leward side 
Rain shadow 
Liting and 
cooling
EVAPOTRANSPIRASI 
Evapotranspirasi adalah jumlah air yang diuapkan dari: 
a) permukaan air ( Evaporasi ), air menguap. 
b) permukan tanah ( transpirasi ), air yang diserapp oleh akar di-transfeer 
kebatang ,ranting,daun kemudian menguap melalui 
proses fisiologi tanaman. 
c) vegetasi ( intersepsi ), yaitu penguapan air yang tertahan oleh 
daun,ranting,cabang,batang dan belum sempat sampai di tanah 
INTERSEPSI 
Intersepsi air hujan (rainfall interception loss ) adalah air hujan yang jatuh pada 
vegetasi , tertahan beberapa saat lalu diuapkan kembali ( hilang ) ke atmosfeer 
atau diserap oleh vegetasi yang bersangkutan. 
Besarnya interspsi bervariasi antara 35% - 55% dari keseluruhan evapotranspirasi. 
Intersepsi diatas tegakan hutan berkisar antara 35%-75% dari total evapotranspirasi. 
Intersepsi diatas hutan tropis berkisar antara 10% - 35% dari curah hujan total.
Air hujan yang jatuh diatas permukaan vegetasi ,tidak langsung mengalir kepermukaan 
tanah. Setelah tempat-tempat ( daun,ranting,cabang dan batang) barulah air 
mengalir kepermukaan tanah. 
Besarnya daya tampung permukaan vegetasi dinamakan “kapasitas intersepsi” ( 
canopy storage capacyty) , dan besarnya ditentukan oleh bentuk kerapatan dan 
tekstur vegetasi. 
Air hujan yang jatuh pada permukaan vegetasi akan mencapai permukaan lantai hutan 
melalui dua proses mekanis : 
1. Air lolos (througfall) 
2. Aliran batang ( stemflow) 
7 
5 
1 45 
2 
3 
4 
6
Keterangan: 
1. Alat ukur ( RG) 4. air lolos ( Tf ) 
2. Interception ( IC ) 5. Interception seresah ( If) 
3. Curah hujan total ( pg ) 6. Net precipitation ( Pn ) 
7. Aliran batang ( Sf ). 
Faktor – faktor penentu intersepsi 
Itersepsi sangat dipengaruhi oleh vegetasi dan iklim. 
Faktor vegetasi meliputi: 
a. Luas vegetasi hidup dan mati 
b. Bentuk, ketebalan daun dan cabang vegetasi 
Faktor iklim meliputi : 
a. Jumlah dan jarak lama waktu antara satu hujan dengan hujan berikutnya 
b. Intensitas hujan 
c. Kecepatan angin 
d. Beda suhu antara permukaan tajuk dan suhu atmosfeer. 
Besarnya air hujan yang terintersepsi merupakan fungsi dari:
a. Karakteristik hujan 
b. Jenis dan umur serta kerapatan tegakan 
c. Musim pada hutan yang bersangkutan 
Pada musim pertumbuhan tegakan 10 – 20 % air hujan akan terinsepsi. 
Pada hutan yang sangat rapat intersepsi dapat mencapai 25 _ 35 % ( pada hujan tidak 
lebat intersepsi akan lebih besar ). 
Contoh : Amerika utara curah hujan lebih kecil dari 0,25 mm, sehingga 100 % air hujan 
terintersepsi. 
Pada curah hujan lebih besar dari 1 mm, air yang terintersepsi antara 10 – 40 %. 
Pada vegetasi berdaun jarum dengan jarak tanam 2 x 2 m; 4 x 4 m; 6 x 6 m dan 8 x 8 
mmemberikan hasil intersepsi sebesar 33 %; 24 % ; 15 % ; 9 % ; dari total curah 
hujan. 
Tabel : perbandingan Pg, Tf , Sf , dan I di hutan tidak terganggu dan hutan bekas 
tebangan.
Variabel Unit Hutan tdk 
Tergang 
gu 1) Rata-rata3) 
Tajuk 
rapat 
Hutan 
tebangan 
2) 
Tajuk 
sedang 
Tanpa 
tajuk 
Pg mm 2199 3563 3563 3563 3563 
Tf mm 1918 3334 3027 3403 3539 
( % ) ( 87,20 ) ( 93,50 ) ( 85,00 ) ( 95,00 ) ( 99,00 ) 
Sf mm 30 9,6 - - - 
( % ) ( 1,40 ) ( 0,30 ) - - - 
I mm 251 219 536 160 24 
( % ) 
1) 
Pengukur 
an selama 
6bulan 
(Jumlah 
kejadian 
hujan 
=55) 
( 11,40 ) 
2) 
Pengukur 
an selama 
satu 
tahun 
(jumlah 
kejadian 
hujan=95) 
( 6,20 ) 
3) 
Rata-rata 
dari tiga 
penutupa 
n tajuk 
yang 
berbeda. 
( 15,00 ) ( 4,50 ) ( 0,70 )
Dimana : 
Pg = curah hujan total Tf = air lolos 
Sf = aliran batang I = Intersepsi (Ic dari tajuk dan If dari seresah) 
Ic = Pg – ( Tf + Sf ) 
Jumlah air hujan yang sampai dilantai hutan = Tf + Sf 
Curah hujan bersih Pn = Tf + Sf - If 
Curah hujan bersih ( net precipitation ) inilah yang kemudian menjadi : 
a. Air infiltrasi 
b. Air larian 
c. Aliran air bawah permukaan atau aliran air tanah ( aliran intra) 
Daerah-daerah yang didomonasi oleh vegetasi (pedesaan),faktor-faktor pengendali 
besarnya intersepsi adalah type, ,kerapatan dan umur vegetasi juga 
mempengaruhi intersepsi karena ada jenis vegetasi tertentu yang mempunyai 
intersepsi berbeda dari musim kemusim.
Musim pertumbuhan nilai intersepsi lebih besar dari pada musim tidak aktif 
( dormant sason) . 
Ada pula jenis vegetasi yang mempunyai nilai intersepsi sama sepanjang tahun 
( everygreen species ) . 
Perbedaan intersepsi juga ditentukan oleh bentuk komunitas vegetasi, tegakan pohon, 
semakbelukar, padang rumput dan tanaman pertanian. 
Jenis 
tanaman 
Intersepsi 
selama 
pertumbuhan 
cepat Intersepsi 
selama 
pertum 
Buhan 
lambat 
Cuarh hujan 
(mm) 
Intersepsi 
(mm) 
Intersepsi 
(%) 
(%) 
Afafa 275 98 36 22 
Jagung 181 28 16 3 
Kedelai 158 23 15 9 
Gandum 171 12 7 3
Pengukuran intersepsi 
Pengukuran intersepsi pada sekala tajuk vegetasi dilakukan melalui dua pendekatan: 
1. Pendekatan neraca volume (volume balance approach). 
2. Pendekatan neraca energi (energy balance approach) 
Cara 1) paling umum dilakukan dengan cara : 
a) curah hujan diukur melalui stasiun curah hujan 
b) aliran batang diukur dengan menempatkan tabung dipangkal batang 
c) air lolos diukur dengan menempatkan alat ( semcam nampan ) dibeberapa 
tempat . Alat tersebut dibuat bentuk V denghan panjang 140 Cm dan lebar 10 Cm 
air dialirkan ke bak penampung. 
Intersepsi adalah beda antara hujan total dan curah hujan bersih ( Pg – Pn ), dan 
Pn = Tf + Sf. 
Cara lain dapat menggunakan jerigen yang dilengkapi corong diameter 18 Cm – 20 
Cm. Semakin banyak hasilnya semakin akurat. 
Cara pengukuran air lolos yang lebih terpadu dengan “ plastic – sheet gauge “ ( 
lembaran plastik 14 m x 14 m ) dipasang kurang lebih 1 m diatas tegakan sekaligus 
menampung air aliran batang ( Sf ), yang kemudian dialirkan ke bak penampungan 
melalui alat “tipping bucket” ( alat penakar hujan yang bekerja secara otomatis).
EVAPORASI 
Evaporasi adalah penguapan air ,tanah dan bentuk permukaan bukan vegetasi lainnya 
oleh proses fisika. 
Dua unsur utama terjadinya evaporasi adalah energi (radiasi) matahari dan 
ketersediaan aiar. 
1). RADIASI MATAHARI 
Sebagian radiasi gelombang pendek ( shortwave radiation ) matahari akan diubah 
menjadi “energi panas” didalam tanaman , tanah dan air. 
Energi panas akan menghangatkan udara disekitarnya. Yang kemudian sebagian dari 
energi matahari akan diubah menjadi tenaga mekanik. 
Tenaga mekanik tersebut akan menyebabkan perputaran udara dan uap air diatas 
permukaan tanah. 
Keadaan tersebut menyebabkan udara diatas permukaan tanah jenuh, dan dengan 
demikian mempertahankan tekanan uap air yang tinggi pada permukaan bidang 
evaporasi. 
2). KETERSEDIAAN AIR 
Ketersediaan air tidak hanya melibatkan jumlah air yang ada, tetapi juga persediaan air 
yang siap untuk terjadinya evaporasi.
Permukaan bidang evaporasi yang kasar akan memberikan laju evaporasi lebih tinggi 
dari pada bidang permukaan yang rata, karena bidang permukaan yang kasar 
besarnya turbulensi lebih meningkat. 
FAKTOR-FAKTOR PENETU EVAPORASI 
1) Energi matahari 
Energi panas tak tampak ( latent heat ) pada proses evaporasi, energi panas 
gelombang pendek (shortwave radiation ) dan energi gelombang panjang 
( longwave radiation ). 
Energi panas gelombang pendek merupakan energi panas terbesar , yang 
merupaka suplay terbesar penguapan air dari permukaan bumi. 
Energi panas gelombang panjang adalah panas yang dilepas oleh permukaan bumi 
keudara bersifat menambah panas dari energi gelombang pendek ( panas yang 
telah dihasilkan oleh energi panas gelombang pendek ). 
2) Suhu udara 
Permukaan bidang penguapan ( air, vegetasi, dan tanah ), makin tinggi suhu udara 
diatas bidang penguapan , makin mudah terjadi perubahan bentuk dari zat cair 
menjadi gas. 
Dengan demikian laju evaporasi menjadi lebih besar didaerah tropik daripada 
daerah beriklim sedang.
3) Kapasitas kadar air didalam udara, juga mempengaruhi langsung oleh tinggi 
rendahnya suhu ditempat tersebut. 
Besarnya kadar air ditentukan oleh tekanan uap air, vp (vapour presure ) yang ada 
ditempat tersebut. 
Proses evaporasi tergantung pada devisit tekanan uap air jenuh. Dvp ( saturated 
vapour pressure deficit ) di udra atau uap air yang dapat diserap oleh udara 
sebelum udara tersebut menjadi jenuh. 
Defisit tekanan uap air jenuh adalah beda keadaan antara tekanan uap air jenuh 
pada permukaan bidang penguapan(tajuk vegetasi ) dan tekanan uap air nyata di 
udara. 
4) Ketika proses penguapan berlangsung udara diatas bidang penguapan secara 
bertahap menjadi lebih lembab, sampai pada tahab udara menjadi jenuh dan tidak 
mampu menampung uap air lagi. 
Akibat beda tekanan dan kerapatan udara, udara jenuh diatas permukaan bidang 
penguapan akan berpindah ketempat lain, sehingga proses penguapan akan 
berlangsung terus menerus. 
5) Sifat alamiah bidang permukaan penguapan akn mempengaruhi proses evaporasi 
melalui perobahanpola perilaku angin. Pada bidang permukaan kasar atau tidak 
beraturan , kecepatan angin akan berkurang oleh adanya proses gesekan. Pada 
permukaan bidang yang halus angin kencang juga dapat menimbulkan gelombang 
air besar, yang dapat mempercepat evaporasi.
TRANSPIRASI 
Transpirasi adalah proses penguapan air dari daun dan cabang tanaman melalui 
pori-pori daun oleh proses fisiologi. 
Daun dan cabang umumnya berbalut kulit mati atau kulit ari ( cuticle ) yang kedap 
uap udara. Cel-cel hidup daun dan cabang terletak dibawah permukaan tanaman, 
dibelakang pori-pori daun atau cabang. Besar kecilnya “transpirasi “ sangat 
dipengaruhi oleh radiasi matahari yang akan membuka dan menutup pori-pori, 
radiasi 
Sensible heat 
penguapan
Kulit ari 
Epidemia atas 
Cylem 
Epidemis bawah 
Celpalisade 
udara 
Pori-pori 
Pholem 
Kulit 
kambium 
Cylem 
Curtex 
butirtanah 
akar 
Cylem
PEMANENAN AIR HUJAN 
Dibanyak tempat pemanenan air hujan ( rain water harvesting ) telah lama dilakukan 
pemanennan air hujan dari : 
1. Atap 3. halaman rumah 
2. Jalan 4. Daerah tangkapan air 
1. Pemanenan air hujan dari atap. 
Atap yang akan dipakai untuk pemanenan air hujan sebaiknya dibuat atau dilapisi 
dengan bahan almunium, sirap atau atap yang terbuat dari atau dilapisi semen 
(genteng beton ). 
Untuk mencegah adanya pencemaran air hujan yang dapat menimbulkan 
gangguan kesehatan , maka sebelum air dipanen atap harus dibersihkan dari 
segala kotoran menjelang musim hujan. 
Cara lain dengan membuang terlebih dahulu air yang datang pertama dan kedua. 
Cara pemanenan : 
a) Menempatkan talang diujung bawah genteng dan sudut-sudut pertemuan bidang 
atap ( talang tritis dan talang kil ). 
b) Air dari talang dimasukan ke penampungan air. 
c) Air dari penempungan disalurkan ke tangki penyimpanan air yang lebih besar.
kran 
talang 
Bak penampung 
Tangki penyimpanan air 
pompa 
Over flow
Contoh . Atap dengan luas 8m x 5 m, curah hujan tahunan rata-rata 750 mm, air yang 
menguap dan meresap sekitar 20 %. 
Hasil air = 5 x 8 x 0,80 x 0,75 = 24 m3/tahun = 24.000 l/tahun 
= 24000/365 = 66 l/hari 
Untuk mencukupi kebutuhan dasar minum/masak kurang lebih 40 – 60 l/hari ( untuk 6 
orang), maka ukuran bak penampung diberi kurang lebih 50 %. 
Apabila musim kemarau hanya 3 bulan maka ukuran bak = 3 x 30 x 40 = 3600 l 
Angka keamanan 50% , maka ukuran 1,5 x 3.600 = 5.400 l 
2). Air dari jalan 
untuk memanen air dari jalan dengan cara membuat saluran – saluran tepi jalan yang 
selanjutnya dimasukan ke bangunan pengolahan air, atau sebelum masuk 
bangunan pengolahan ditampung dulu di bangunan penampungan. 
3) Air halaman 
Air dari halaman sama dengan air dari jalan harus diolah terlebih dahulu.
4). Pengumpulan air hujan dari permukaan tanah. 
Pada prinsipnya adalah memanen air larian ( surface runoff ) daerah tangkapan air. 
Untuk mengurangi infiltrasi , dan meningkatkan air larian dilakukan hal-hal sebagai 
berikut. 
a) Menempatkan lembaran plastik yang tidak mudah bocor diatas permukaan tanah 
b) Menyemen atau mengaspal bidang tangkapan 
c) Menyemprot lapisan permukaan tanah dengan bahan kimia 
d) Dengan memadatakan tanah pada bidang tangkapan hujan 
Besarnya air yang dapat dipanen ditentukan oleh : 
a) Topografi datar atau miring 
b) Kemampuan lapisan tanah menahan air 
Besarnya air hujan yang dapat dipanen berkisar antara 30% - 90% 
Jebakan lumpur 
tangki
AIR BAWAH PERMUKAAN 
Air bawah permukaan adalah semua bentuk aliran air hujan yang mengalir dibwah 
permukaan tanah, sebagai akibat struktur pelapisan geologi , beda potensi kelem 
baban tanah dan gaya gravitasi bumi. 
Persoalan persoalan yang perlu dibahas adalah, “Proses dan mekanisme terjadinya air 
tanah, karakteristik air tanah, gerakan air tanah, pemanfaatan dan pencagaran air 
tanah. 
INFILTRASI 
Infiltrasi adalah proses aliran air ( umumnya berasal dari air hujan ) masuk ke tanah. 
Perkolasi merupakan proses kelanjutan aliran infiltrasi ketanah yang lebih dalam 
untuk selanjutnya mengisi aquifer bawah tanah. Dengan kata lain infiltrasi aliran air 
masuk kedalam tanah akibat dari gaya kapiler ( gerakan air kearah lateral) dan 
gravitasi ( gerakan air kearah vertikal). 
Setelah lapisan tanah bagian atas jenuh , kelebihan air akan mengalir ketanah yang 
lebih dalam sebagai akibat gaya gravitasi yang dikenal dengan proses “Perkolasi” 
Laju maksimum gerakan air masuk kedalam tanah dinamakan “kapasitas infiltrasi” 
Beberapa catatan: 
1) Intensitas hujan melebihi kemampuan tanah dalam menyerap kelembaban tanah 
terjadi air melebihi kapasitas infiltrasi.
2). Intensitas hujan lebih kecil dari kapasitas infiltrasi maka laju infiltrasi = laju curah 
hujan. 
3). Satuan laju in filtrasi mm/jam, pasokan air hujan kedalam tanah sangat berarti bagi 
tanaman. 
4). Air infiltrasi yang tidak kembali lagi ke atmosfeer melalui proses evapotranspirasi, 
akan menjadi air tanah untuk selanjutnya menglir kesungai disekitarnya. 
Meningkatnya kecepatan dan luas wilayah infiltrasi dapat memperbesar debit aliran 
selama musim kemarau ( baseflow), yang sangat penting untuk memsok kebutuhan 
air dimusim kemarau, untuk pengenceran kadar pencemaran sungai dll. 
PROSES TERJADINYA INFILTRASI 
1). Air hujan yang jatuh ke permukaan tanah , sebagian atau seluruhnya akan masuk 
kedalam tanah melalui pori-pori tanah. 
2).karena adanya gaya gravitasi dan gaya kapiler maka air hujan akan tertarik mengalir 
kedalam tanah. 
3). Gaya gravitasi mengalirkan air kearah bawah. 
4).gaya kapiler mengalirkan air tegak lurus keatas, kebawah dan horisontal ( lateral ) 
5). Gaya kapiler tanah bekerja nyata pada tanah pori-pori besar air banyak mengalir 
kearah bawah.
Kesimpulan : 
Infiltrasi melibatkan 3 proses yang tidak saling mempengaruhi yaitu: 
a). Proses masuknya air hujan melelui pori-pori tanah. 
b).Tertampungnya air hujan didalam tanah. 
c).Proses pengaliran air ketempat lain ( bawah, samping, atas ) 
Meskipun tidak saling mempengaruhi secara langsung , tetapi ketiga proses tersebut 
saling terkait. 
1). Besarnya laju infiltrasi pada permukaan tanah yang tidak bervegetasi tidak akan 
pernah melebihi laju intensitas hujan . 
2). Untuk wilayah hutan laju infiltrasi tidak akan pernah melebihi laju intensitas hujan 
efektif. 
3). Curah hujan efektif = curah hujan total – air infiltrasi. 
Pengukuran infiltrasi 
Ada tiga cara menentukan besarnya infiltrasi : 
1). Menentukan beda volume air hujan buatan dengan volume air larian pada 
percobaab laboratorium menggunakan simulasi hujan buatan. 
2).menggunakan alat infiltrometer. 
3). Teknik pemisahan hidrograf aliran dari data aliran air hujan.
Alat infiltrometer yang biasa digunakan jenis ganda ( double ring infiltrometer) 
a). Silinder keceil diameter sekitar 30 Cm ,silinder besar sekitar diameter 46 Cm – 50 
Cm. Pengukuran hanya pada silinder kecil saja, silinder besar hanya berfungsi 
sebagai penyangga. 
b). Silinderr ditanam didalam tanah dengan kedalaman 5 Cm – 50 Cm. 
c). Air dimasukan kedalam kedua silinder dengan kedalaman 1 Cm- 2Cm. Dan 
dipertahankan kedalamannya dengan cara mengalirkan air kedalam silinder 
tersebut ( dari suatau kantong air yang dilengkapi sekala ). 
d). Laju air yang dimasukan kedalam silinder diukur dan dicatat, dan laju air tersebut 
merupakan laju infiltrasi. ( hasil lebuh besar 2 – 10 kali dari pada yag berlangsung 
dilapangan. Gambar kurva hubungan air larian dan infiltrasi pada hujan buatan. 
Curah hujan 
Air larian 
Dan infiltrasi 
(Cm/jam) 
Curah hujan 4,6 Cm / jam 
Air larian 
infiltrasi 
0 20 40 60 80 100 120
Gambar kurva infiltrasi dan curah huajan untuk menghitung air larian. 
Curah hujan 
Infiltrasi 
(Cm/jam 
APLIKASI PRAKTIS INFILTRASI 
Waktu (jam) 
Dalam usaha pencagaran air ( water conservation ) sudah dilakukan di jawa barat 
dengan prioritas : 
1). Daerah resapan ( recharge area ) dengan karakteristik wilayah yang didominasi 
vegetasi ( hutan dan komunitas lainnya ). 
Curah 
hujan 
Air larian
2). Daerah tersebut mempunyai curah hujan besar. 
3).daerah resapan biasanya mempunyai koefisien resapan ( recharge coefficieennt ) 
besar. 
4).kefisien resapan adalah banyaknya volume curah hujan yang mengalir sebagai air 
infiltrasi terhadap total curah hujan. 
5).untuk mendapatkan angka koefisien resapan ( C ) tahunan suatu daerah resapan 
digunakan rumus: 
Dimana : 
C = ( I x 365 x A )/( P x A ) 
I = laju infiltrasi ( base flow ) dalam m/hari 
A= luas daerah tangkapan air ( m2 ) 
P = curah hujan tahunan ( m ) 
Contoh : 
Diketahui laju infiltrasi suatu daerah resapan air = 0,80 mm/hari, luas daerah resapan 
=296 Km2, curah hujan rata-rata tahunan = 2000 mm 
Koefisien besaran C = │(0,80/1000)(365)(296 x 1000000)│/│(2000/1000)(296 x 
1000000)│ 
C = 0,15
Tabel : laju resapan air tanah tahunan wilayah jawa barat. 
kabupaten Luas (km2) Curah hujan 
(mm) 1) 
Koefisien 
resapan 
(%) 2) 
Laju resapan 
1000000 m3/th 
3) 
Bandung 
Purwakarta 
Majalengka 
Cianjur 
Kuningan 
Pandegelang 
Sumedang 
Lebak 
Ciamis 
Bogor 
Tasikmalaya 
tangerang 
3016,6 
996,0 
1209,0 
3637,7 
1192,4 
2709,6 
1565,6 
3302,9 
2900,0 
3308,5 
2956,0 
1350,0 
2283,0 
3100,0 
3079,0 
3186,0 
2750,0 
3490,8 
2944,0 
3400,0 
3290,0 
3802,0 
3525,0 
2250,0 
17,0 
14,9 
15,0 
16,0 
15,8 
17,0 
15,8 
18,3 
16,0 
17,3 
16,0 
15,0 
1171,0 
460,0 
558,0 
1854,0 
518,0 
1608,0 
728,0 
2055,0 
1527,0 
2176,0 
1667,0 
455,6
1). Curah huja rata-rata tahunan 
2). Koefisien resapan (C) dari rumus 
3). R = Σ ( A x P x C ) 
R = laju resapan air tanah tahunan ( 1000000 m3 ) 
A = luas permukaan resapan ( 1000000 m2 ) 
P = curah hujan tahunan rata-rata daerah resapan (m) 
C = koefisien resapan daerah kajian ( % ) 
KELEMBABAN TANAH 
Pertumbuhan vegetasi memerlukan kelembaban tanah tertentu. 
Kelembaban pada tingkat tertentu dapat menentukan bentuk tata guna lahan. 
Tingkat kelembaban tanah yang tinggi juga dapat menimbulkan permasalahan misal 
untuk bangunan peresapan pada kelengkapan septitank kurang baik. 
Secara ringkas dapat dikatakan : 
a). Pada tingkat tertentu kelembaban tanah sangat penting, untuk mendukung 
kehidupan manusia. 
b). Pada tingkat kelembaban tanah terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat 
menimbulkan permasalahan bagi manusia.
Klasifikasi tanah klasifikasi hidrologi 
E F 
air tanah 
daerah batuan 
A 
B 
C 
D 
A = seresah G = lantai hutan 
B = seresah yang telah terdekomposisi H = zone jenuh 
C = lantai hutan 
D = zone perakaran 
E = perkolasi 
F = zone airasi 
H 
G
AIR TANAH 
Air tanah adalah air yang berada diwilayah jenuh dibawah permukaan tanah. 
Keseluruhan air tawar 97% lebih adalah air tanah. 
Dengan semakin berkembangnya perumahan dan industri, ketergantungan akan air 
tanah semakin terasa mengingat ketersediaan air permukaan semakin menurun. 
Namun cara pengambilan air tanah sering tidak mengindahkan prinsip-prinsip 
hidrologi yang baik, sehingga sering menimbulkan dampak negatif. 
Dampak negatif tersebut dapat dibedakan menjadi : 
a). Bersifat kualitatif ( kualitas air tanah ). 
b). Bersifat kuantitatif ( pasokan air tanah ). 
Dampak kualitatif seperti pencemaran sumur-sumur penduduk terutama yang 
berdekatan dengan sungai dimana sungai tersebut dijadikan sarana pembuangan 
limbah pabrik. 
Juga pada daerah pantai dalam bentuk intrusi air laut kedalam sumur penduduk. 
Dampak kuantitatif pada umumnya dijumpai pada musim kemarau dimana muka air 
sumur menjadi semakin dalam . 
Dalam membicarakan air tanah selain faktor-faktor yang telah diuraikan ada faktor 
“formasi geologi”, dalam masalah air tanah formasi geologi tersebut dikenal 
sebagai “aquifer”
Dengan demikian “aquifer” pada dasarnya adalah “kantong air yang berada didalam 
tanah” 
Aquifer pada dasrnya debedakan menjadi dua : 
1. Aquifer bebas ( uncofined aquifer ). 
2. Aquifer terkekang ( confined aquifer ). 
1. Aquifer bebas terbentuk ketika tinggi muka air tanah ( water table ) menjadi batas 
atas zone tanah jenuh. 
tinggi air tanah berfluktuasi tergantung pada : 
a). Jumlah dan kecepatan air yang masuk kedalam tanah 
b). Pengambilan air tanah 
c). Permeabilitas tanah 
2. Aquifer terkekang dikenal sebagai “ artesis” terbentuk ketika air tanah dalam 
dibatasi oleh lapisan kedap air, sehingga tekanan dibawah lapisan kedap air 
tersebut lebih besar dari tekanan atmosfer.
Muka 
pizometrik 
Lapisan kedap air 
Air 
menyembur 
Muka tanah 
Sumur dangkal 
Sumur artesis 
Muka air tanah 
Aquifer bebas 
Aquifer terkekeang 
Gambar : Aquifer bebas dan Aquifer terkekang
Gambar: karakteristik air tanah dan perubahan tinggi muka air tanah 
Muka tanah 
Capilary fringe 
sedikit diatas PAT 
Muka tanah 
Capilary fringe 
sedikit diatas PAT 
sumur 
sumur 
effluent 
inffluent 
Zone airasi 
Zone saturasi 
(jenuh) 
Zone airasi 
Zone saturasi 
(jenuh)
EROSI DAN SEDIMENTASI 
Proses terjadinya erosi : 
Penyebab utama rejadinya erosi adalah : 
1). Erosi alamiah dan 2). Erosi karena aktivitas manusia 
Proses erosi adalah : 
1). Pengelupasan ( detachment ) 
2). Pengankutan ( trasportation ) 
3). Pengendapan ( sedimentasi ) 
Selain erosi disebabkan oleh air hujan juga disebabkan oleh angin dan salju. 
Tipe-tipe erosi 
1). Erosi percikan ( splash erosion ), bagian atas tanah terkelupas oleh “tenaga kinetik 
air hujan” 
2). Erosi kulit ( shect erosion ), lapisan tipis permukaan tanah didaerah berlereng 
terkikis oleh kombinasi air hujan dan air larian yang mengalir ketempat yang lebih 
rendah. ( kecepatan jatuhnya air hujan diatas 0,3 – 0,6 m/dt ). 
3). Erosi alur ( rill erosion ) , pelepasan yang diikuti oleh pengangkutan partikel-partikel 
tanah oleh air larian yang terkonsentrasi didalam saluran air. 
4). Erosi parit ( gully erosion ), lanjutan dari erosi alur yang kemudian menjadikan parit 
menjadi lebih dalam dan lebar.
5). Erosi tebing sungai ( streambank erosion ) , erosi ini menyebabkan adanya 
pengkikisan tanah pada tebing-tebing sungai dan penggerusan dasar sungai. 
Erosi ini terjadi biasanya pada saat terjadi banjir ,kemudian terjadi gerusan tebing dan 
dasar sungai yang kemudian terjadi tanah longsor. 
Erosi tebing sungai dipengaruhi oleh : 
a). Kecepatan aliran d). Kedalaman dan lebar sungai 
b). Kondisi vegetasi sepanjang tebing e). Bentuk alur sungai 
c). Kegiatan bercocok tanam f). Tektur tanah 
dipinggir sungai. 
FAKTOR-FAKTOR PENENTU EROSI 
Erosi terjadi karena adanya “tenaga kinetik air” yang jatuh dipermukaan tanah. 
KE = tenaga kinetik ( ) 
m= masa air ( ) 
V = kecepatan jatuhnya air ( )
hujan yang jatuh akan mengalami gesekan dengan udara dan gaya pengapungnya 
akibat udara yang dipindahkan, padaa saat jatuhnya air sudah konstan berarti 
gaya gesek + gaya pengapungan = gaya gravitasi . 
Kecepatan konstan dapat dihitung dengan rumus 
Dimana : 
Vt = kecepatan konstan 
g = gravitasi 
r = radius butiran tetesan air hujan 
m= kerapatan udara 
= berat jenis udara 
P = berat jenis tetesan air 
Erovisitas air hujan dipengaruhi oleh intensitas hujan 
KE = 210,10 + 89 ( log i ) 
KE = energi kinetik ( Kg/m) dan i = intensitas hujan (Cm/jam)
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BESARNYA EROSI 
1). Iklim 3). Topografi 
2). Sifat-sifat tanah 4). Vegetasi penutup tanah 
1). Iklim 
bersifat langsung akibat tenaga kinetik hujan dan tidak langsung. 
a). Intesitas hujan dalam waktu pendek akan beda dengan waktu yang cukup lama 
b). Tidak langsung dipengaruhi oleh pertumbuhan vegetasi. 
2). Sifat-sifat tanah 
a). Tekstur tanah pasir ( sand ), tanah liat ( clay ) ,tanah debu ( silt ) 
b). Unsur organik 
berupa limbah tanaman dan hewan yang cenderung memperbaiki tekstur tanah 
c). Struktur tanah 
struktur tanah granular dan lepas mengurangi air larian , dan memacu 
tumbuhnya vegetasi. 
d). Permeabilitas tanah 
tanah yang mempunyai permeabilitas tinggi akan meningkatkan infiltrasi dan 
mengurang air larian.
3). Topografi 
faktor yang utama adalah kemiringan dan panjang lereng. 
4). Vegetasi penutup tanah 
a). Melindungi tanah dari tenaga kinetik 
b). Menurunkan air larian 
c). Mempertahankan partikel-partikel tanah pada tempatnya 
d). Mempertahankan kemantapan tanah dalam menyerap air 
PENCEGAHAN EROSI 
BEBERAPA CARA PENCEGAHAN TIMBULNYA EROSI ADALAH : 
1). Menghindari praktek bercocok tanam yang menurunkan permeabillitas tanah 
2). Mengusahakan permukaan tanah dilindungi oleh vegetasi serapat mungkin 
3). Menghindari pembalakan hutan dan penggembalaan ternak pada tanah 
berkemiringan terjal 
4). Merencanakan dengan baik pembuatan jalan didaerah rawan erosi 
5). Merencanakan teknik-teknik pengendalian erosi didalam pertanian dan 
meningkatkan laju infiltrasi
PENCEGAHAN EROSI “CARA VEGETATIF” 
untuk menanam vegetasi harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 
a). Tanah dan curah hujan cukup memadai 
b). Jenis tanaman 
c).jumlah biji yang ditanam harus cukup dan ditanam sesuai dengan besar kecilnya biji 
d). Persiapan lapangan yang baik 
PENCEGAHAN EROSI “CARA MEKANIK” 
Pencegahan erosi cara mekanik yang umum diterapkan adalah: 
a). Membuat bangunan terjunan ( drop structures ) 
b). Membuat teras 
c). Pengendali jurang ( gully plugs ) 
d). Saluran pembuangan ( contour trenches ) 
e). Dam penahan ( check dams ) 
SEDIMENTASI 
Sedimentasi adalah erosi yang ditranspor oleh aliran permukaan, yang kemudian 
masuk kesungai-sungai dan dari sungai bisa masuk ke waduk, saluran, lahan 
pertanian, perikanan.
sedimen melayang 
Sedimen melompat 
sedimen melompat 
sedimen merayap 
Tanah liat dan debu akan terlarut ( wash load ) , pasir akan melompat (jumping load ) 
dan gravel akan merayap ( bed load )
Besarnya tanspor sedimen dalam sungai merupaka fungsi dari “ suplai sedimen dan 
energi aliran sungai “ ( stream energi ) 
Ketika besarnya energi aliran lebih besar dari suplai sedimen maka akan terjadilah 
degradasi sungai. 
Ketika suplai sedimen lebih besar dari energi aliran sungai maka terjadi agradasi 
sungai. Selama periode aliran besar ( stormflow events ), transpor sedimen juga 
meningkat atau laju degradasi sungai meningkat. 
Ketika debit aliran menurun , laju sedimen juga menurun dan terjadi agradasi sungai. 
Jenis sedimen Ukuran ( mm ) 
Liat < 0,0039 
Debu 0,0039 – 0,0625 
Pasir kecil 0,0625 – 2.0000 
Pasir besar 2.0000 – 64.0000
1. Luas Daerah Aliran Sungai. 
Bentuk DAS memanjang dan sempit akan menghasilkan aliran yang lebih kecil bila 
dibandingkan dengan DAS bentuk melebar atau melingkar. Hal tersebut terjadi 
karena waktu konsentrasi pada DAS memanjang mebutuhkan waktu lebih lama. 
Faktor bentuk juga dapat mempengaruhi aliran terutama apabila hujan tidak 
merata diseluruh DAS. 
a.DAS memanjang a.DAS melebar 
Curah hujan Curah hujan 
Hidrograf aliran air
3. Tata guna lahan. 
Pengaruh tata guna lahan terhadap alian permukaan dinyatakan dalam koefisien 
aliran ( C ) yang berkisar 0 – 1 
C = 0 berarti semua air terinfiltrasi kedalam tanah. 
C = 1 berati semua air hujan mengalir ke permukaan tanah. 
Semakin rusak kondisi DAS nilai C akan mendekati 1 
Metode untuk memperkirakan aliran permukaan puncak umum dipakai adalah 
Qp = 0,0028. C. I. A 
dimana : 
Qp = aliran permukaan ( m3/dt ) 
I = Intensitas hujan ( mm/jam ) 
A = luas area (dalam ha )
PENGUKURAN DEB IT ALIRAN 
Pengukuran debit dapat dilakukan denga dua cara : 
1. Pengukuran debit secara langsung 
2. Pengukuran debit tidak langsung ( Manning , Chesy , Darcy Weisbach dan Hanzen 
Wileam) , akan dipelajari pada mata kuliah hidrolika. 
Syarat – syarat pengukuran debit : 
1. Lokasi pengukuran. 
2. Jumlah dan waktu pengukuran. 
3. Peralatan ,tenaga dan biaya. 
1. Lokasi pengukuran 
a.tampang mempunyai pola aliran seragam, dengan kecepatan 0,20-2,50 m/dt 
b.tidak terpengaruh peninggian muka air 
c.kedalaman air cukup ( > 0,20 m ) 
d.dihindari aliran turbulen ( yang disebabkab oleh batu-batu,vegetasi, penyem-pitan 
lebar sungai 
e.penampang pengukuran debit sebaiknya dekat dengan pos duga air 
f. Penampang pengukuran harus mampu melewatkan debit banjir
g.pada alur sungai yang setabil 
h.mudah didatangi untuk setiap musim 
i. adanya penampang kendali agar dapat berfungsi sebagai lokasi pengukuran 
debit dan peninggi muka air yang baik 
j. Sesuai dengan perencanaan 
2. Jumlah dan waktu pengukuran 
Untuk mendapatkan gambaran lengkung debit, minimum jumlah pengukuran debit 
10 buah dimulai dari aliran terendah sampai aliran tertinggi. 
Faktor-faktor yang mempengaruhi : 
a.Interval keadaan tinggi muka air debit terkecil dan terbesar 
b.Stabilitas penampang kendali 
c.Tujuan penggunaan data 
d.Freuensi terjadinya banjir 
e.Ketelitian pengukuran data debit yang telah diperoleh 
f.Kemungkinan mengkalibrasi alat ukur arus 
3.Peralatan ,tenaga pelaksana dan dana.
1). Alat ukur kecepatan aliran, alat ukur waktu dan alat hitung putaran baling –baling 
( counter ). 
2). Alat ukur kedalaman aliran ( sounding equipment ). 
3). Alat ukur lebar aliran ( witdh-measuring equipment ). 
4). Alat perakitan ( equipment assemblies ). 
5). Alat ukur tambahan ( miscellaneus eqoipment ). 
6). Alat transportasi lapangan. 
b. Tenaga pelaksana 
Tenaga pelaksana harus sesuai dengan keahlian bidang tugas masing-masing untuk 
melaksanakan tugas pengukuran dari jenis tersebut pada point a. 
c. Dana 
Biaya pengukuran harus direncanakan terlebih dahulu baik untuk peralatan,tenaga 
dan transportasinya. 
PELAKSANAAN PENGUKURAN DEBIT 
Prinsip pengukuran debit meliputi : 
1. Mengukur luas penampang basah 
2. Mengukur kecepatan aliran 
3. Mengukur tinggi muka air
1. Mengukur luas penampang basah. 
a).pengukuran lebar aliran menggunakan (perahu, kabel, roll meter) 
b).pengukuran kedalaman air ( jarak dibuat serapat mungkin supaya luas bagian 
penampang tidak lebih dari 20 % luas total penampang basah. 
b1 b2 b3 b4 b5 b6 
d1 
d2 
Posisi pengukuran 0,20 d dan 0,80 d dari permukaan air. 
rumus yang dipakai V = a.N + b 
d3 d4 
d5
2. Mengukur kecepatan aliran 
Kecepatan aliran diperoleh dari kecepatan rata-rata, yang didapat dari pengukuran 
pada tiap-tiap bagian penampang basah dengan cara: 
a). Mengukur jumlah putaran baling-baling 
Indoesia, Selandia Baru 40 – 70 detik 
Perancis 40 – 60 detik 
Jerman 50 detik 
b). Jumlah putaran belum pasti misal di Belanda putaran baling-baling sebanyak 
100 putaran diperlukan beberapa lama waktu berputar, di Kanada mencoba de 
ngan waktu 30 detik menghasilkan beberapa putaran. 
c). Penentuan jumlah vertikal dengan mempertimbangkan : 
- keadaan sebaran air 
- bentuk profil ( dangkal, dalam atau tidak teratur ) 
- waktu yang tersedia 
- pengalaman team pengukukur 
Contoh : 
1. Inonesia,Australia dan Kanada minimum 20 vertikal 
2. Inggris minimum 10 vertikal untuk sungai kecil dan 20 vertikal utk sungai besar
3. New Zealand 10 – 20 vertikal 
4. Amerika Serikat 20 – 30 vertikal 
Pengukuran kecepatan dapat dilakukan dengan : 
1. Metode satu titik 
a. Metode 0,60 kedalaman 
Pengukuran ini dilakukan apabila: 
-kedalaman air0,25 – 0,76 m 
-aliran air banyak membawa sampah 
-ada sebab lain alat pengukur arus tidak dapat diletakan pada kedalaman 0,80m 
-apabila tinggi muka air cepat berubah 
b. Metode 0,50 kedalaman 
c. Metode 0,20 kedalaman ( biasanya utk pngukuran banjir) 
2. Metode dua titik 
diterapkan pada sungai yang kedalamanna > 0,76 m
3. metode 3 titik 
metode ini gabungan antara metode 1 dan 2 
4. metode 5 titik 
Catatan : Vs = kecepatan aliran permukaan 
Vb = kecepatan aliran dasar 
5. metode bawah permukaan 
pendekatan grafik kurva kecepatan
Dimana : 
d = kedalaman aliran ( m ) 
A = luas bidang kecepatan aliran ( m2 ) 
V = kecepatan aliran ( m/detik ) 
Pada umumnya dilakukan pada kedalaman 
1). 0,10; 0,20 ; 0,40 ; 0,60 ; 0,80 ; 0,90 atau 
2). 0,10; 0,20; 0,30; 0,40; 0,50; 0,60; 0,70; 0,80; 0,90 
d L u as A (untuk dA
Koreksi debit 
1. Koreksi kedalaman 
a) berdasarkan faktor koreksi k 
Dimana: 
b) berdasarkan tabel koreksi 
Tabel : koreksi debit 
NO. h/d k Keterangan 
1 0,10 0,86 h= kedalaman pelampung 
2 0,25 0,88 D=kedalaman aliran 
3 0,50 0,90 Nilai k=0,85 adalah yang umum digu- 
4 0,75 0,94 Nakan. 
5 0,95 0,98
a) Koreksi kedalaman dilakukan apabila sudut simpangan lebih besar 5 derajat dan 
lebih kecil 30 derajat 
Pengukuran debit dengan pelampung 
1) Alat ukur kecepatan aliran 
a). Pelampung bahan yang dapat mengapung ,dapat digunakan kayu 15Cm-30Cm 
tebal 5 Cm atau bahan lain yang dapat mengapung. 
b). Pelampung tangkai yang sebagian tenggelam 
a) b) 
h 
h 
d d 
h < 0,25 d h > 0,25 d
2). Alat ukur penampang basah 
a) . Alat ukur lebar : pita meter , kabel ukur lebar 
b) . Alat ukur kedalaman : batang duga kedalaman , kabel duga kedalaman. 
3). Peralatan yang lain : stop watch, rambu-rambu, peralatan aba-aba, alat-alat 
penyipat ruang. 
Pemilihan lokasi : 
1) Alur sungai lurus ( minimum 3 kali lebar sungai ) 
2) mudah dicapai pada segala kondisi 
3) aliran banjir tidak melimpah 
4) dasar sungai stabil 
5) mempunyai pola aliran seragam dan mendekati jenis aliran sub kritis 
6) tidak terpengaruh oleh peninggian muka aiar 
7) lintasan pelampung mudah diamati 
8) adanya sarana untuk melepaskan pelampung yang berada disebelah hulu lokasi 
pengukuran , serti jembatan dll. 
9) mudah untuk mendapatkan bahan pelampung. 
Lebar alur <50 50-100 100-200 200-400 400-800 >800 
Jumlah pelampng 3 4 5 6 7 8
Tabel : jumlah lintasan pelampung 
Lebar alur (m) <50 50-100 100-200 200-400 400-800 >800 
Jumlah pelampng 3 4 5 6 7 8 
Tabel : bagian alur sungai yang lurus 
Lebar alur (m) <5 10 15 20 30 40 50 75 
Arus lurus (m) 20 30 40 50 60 70 80 90 
Batas minimun lintasan pelampung adalah 3, dan apabila memungkinkan dapat 
dibuat 5 lintasan. 
Jarak pelepasa pelampung 10 m-20 m disebelah hulu awal pengukuran.
PERHITUNGAN PRESIPITASI RATA-RATA 
Alat-alat ukur (stasiun curah hujab ) dipasang pada kira-kira luas areal DAS 700 Km2 
(250 mil2). Untuk luas daerah yang sangat luas dipasang dengan beberapa buah 
tempat alat ukur. Salah satu cara adalah dengan metode “THIESSEN”, yaitu dengan 
menghubungkan stasiun-stasiun yang berdekatan dengan garis-garis 
lurus,sehingga membentuk poligon. Untuk menentukan luas areal yang terwakili 
oleh satu alat ukur dari garis-garis poligon dibuat garis tegak lurus ditengah-tengahnya 
. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar dibawah ini. 
A 
B 
C 
D 
E G 
F 
H 
I
Tabel Curah hujan dan luas DAS.(Methode poligon Thiessen) 
Stasiun Luas Thiessen 
(Km2) 
= 
Curah hujan 
(mm) 
Produk 
(Km2.mm) 
A 
B 
295 
250 
1130 
1330 
333.350 
332.500 
C 150 1320 198.000 
D 160 980 156.800 
E 200 1500 300.000 
F 202 890 179.780 
G 
H 
225 
213 
1610 
1100 
362.250 
234.300 
I 
Jumlah 
350 
2.045 
1430 
11.290 
500.500 
2.597.480
2. METODE ISOHYET 
Metode ini digambarkan dengan pete Isohyet yang menunjukan “kontur 
presipitasi”. Karena presipitasi pada elevasi yang lebih tinggi biasanya semakin 
besar ,maka kontur Isohyet dapat disesuaikan dengan kontur elevasi. Untuk 
menghitung presipitasi rata-rata dari peta Isohyet maka luas daerah yang 
dibatasi oleh dua kontur dikalikan presipitasi rata-rata antara dua kontur Isohyet 
tersebut. Jumlah perkalian tersebut dibagi dengan jumlah luas menghasilkan 
presipitasi rata-rata. 
5,30 
4.60 
4,65 
4,28 
4,46 
3,50 
3,86 
3,30 
5,60 
5,90 
5,40 
5,00 5,50 6,00 
3,50 4,00 4,50 
6,30
Tabel curah hujan dan luas DAS ( Methode Isohyet). 
ISOHYET LUAS DIANTAR 
ISOHYET ( KM2) 
PRESIPITASI RATA-RATA 
(mm) 
PRODUK 
(Km.mm) 
3 
3,5 53 850 45.050 
4,0 100 950 95.000 
4,5 250 1.080 270.000 
5,0 150 1.200 180.000 
5,5 175 1.330 232.750 
6,0 
6,5 
225 
300 
1400 
1.575 
328.500 
472.500 
Jumlah 1.253 1.295,93 1.623.800
A1 A2 A3
hidrologi

hidrologi

  • 1.
    BAHAN KULIAH HIDROLOGI AKATIRTA MAGELANG Oleh Ir. DJONI SUPARDI;MT.
  • 2.
    SIKLUS HIDROLOGI Siklushidrologi adalah perjalanan air dari muka bumi ke atmosfir kemudian turun lagi kebumi sebagaimana ditujukan dalam gambar 1.1. Selama berlangsungnya daur hidrologi, yaitu perjalanan air dari permukaan badan air ( laut ,danau, waduk, situ, sungai dsb ) menuju ke atmosfer , kemudian turun (berupa air hujan) kebumi sebagian mengalir dipermukaan bumi kemudian kembali kelaut, sebagian meresap kedalam bumi menjadi air tanah, sebagian lagi tertahan di waduk, danau ,sungai dan sebagian lagi kembali ke atmosfer sebelum sampai ke bumi. Air yang tertahan di bumi dapat dimanfaatkan oleh manusia dan juga mahkluk-mahkluk yang lain.
  • 3.
    Dalam siklus hidrologi, energi panas matahari menyebabkan terjadinya proses evaporasi di laut maupun badan air lainnya. Uap air akan terbawa oleh angin melintasi daratan yang bergunung-gunung maupun datar, dan apabila keadaan angin memungkinkan , sebagian uap air tersebut akan turun menjadi hujan. Sebelum mencapai permukaan tanah sebagian air hujan akan tertahan di tajuk-tajuk vegetasi selama proses pembasahan tajuk, sebagian akan jatuh ke permukaan tanah melalui sela sela daun ( Througfaal) sebagian melalui permukaan batang (stemflow) dan sebagian kecil dari air hujan tidak pernah sampai ke permukaan tanah, melainkan terevaporasi kembali ke atmosfer selama dan setelah terjadinya hujan ( interception ).
  • 4.
    Air hujan yangdapat mencapai permukaan tanah sebagian akan terserap kedalam tanah (infiltration ), sedangkan air hujan yang tidak terserap kedalam tanah akan tertampung sementara dalam cekungan – cekungan tanah ( surface detention ) untuk selanjutnya mengalir ketempat yang lebih rendah, sebagai aliran permukaan (surface runoff ) yang selanjutnya menuju sungai-sungai ,akhirnya kelaut. Sementra air yang masuk ketanah sebagian akan menjadi aliran intra kemudian keluar ke sungai sebagai mata air dan sebagian lagi akan mengisi lapisan air bawah tanah ( groundwater ) yang lebih dikenal dengan aquifer. Untuk lebih jelasnya lihat gabar 1.1 , Siklus hidrologi
  • 6.
    Dalam hal air,ALLAH SWT banyak berfirman didalam Al-Qur’an diantaranya :                             22. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah[30], Padahal kamu mengetahui. QS Al Baqarah (2) [30] Ialah segala sesuatu yang disembah di samping menyembah Allah seperti berhala-berhala, dewa-dewa, dan sebagainya.
  • 7.
                                                     99. dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan Maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. QS Alan’am (6)
  • 8.
                                          57. dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, Maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. seperti Itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, Mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. QS Al-A’raaf (7)
  • 9.
                      ) 65. dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran). QS An Nahl (16)
  • 10.
    EKOSISTEM DAERAH ALIRANSUNGAI Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terdiri dari komponen – kom Ponen yang saling berintegrasi menjadi satu kesatuan. Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah salah satu dari ekosistem, dimana di-dalam ekosistem semua komponen yang terkait saling mempengaruhi. Komponen inti dalam ekosistem adalah manusia, sebagai komponen yang dinamis. Terjadinya ketidakseimbangan didalam ekosistem banyak disebakan oleh ulah manusia. Secara garis besar ekosistem Daerah Aliran Sungai dibagi menjadi tiga Yaitu daerah hulu ,tengah dan hilir, yang secara biofisik mempunyai ciri – Ciri sebagai berikut : 1. Daerah hulu a) merupakan daerah konservasi b) kerapatan drainase lebih tinggi
  • 11.
    c) kemiringan lereng> 15% d) bukan daerah banjir e) pengaturan pemakaian air ditentukan oleh pola drainase f) jenis vegetasi merupakan tegakan hutan 2. Daerah hilir a) merupakan daerah pemanfaatan b) kerapatan drainase lebih kecil c) kemiringan lereng < 8% d) pada beberapa tempat merupakan daerah banjir e) pengaturan pemanfaatan air diatur melalui irigasi f) jenis vegetasi didominasi tanaman pertanian, kecuali daerah es-tuaria yang didominasi hutan bakau/lahan gambut 3. Daerah tengah Merupakan daerah transisi dari kedua daerah tersebut, dan mem-punyai ciri dari beberapa ciri daerah hulu dan hilir.
  • 12.
    Ekosisten DAS hulumerupakan daerah perlindungan terhadap seluruh bagian Daerah Aliran Sungai. Perlindungan meliputi tata air , sehingga Daerah Aliran Sungai hulu se-bagai fokus perencanaan pengelolaan DAS. Keterkaitan Daerah Aliran Sungai hulu, tengah dan hilir dapat dilihat pa gambar 1.2, yang menunjukan bahwa aktivitas perubahan “lanskap” ( perubahan tata guna lahan, pembutan bangunan, konservasi ) yang di lakukan didaerah hulu tidak hanya menimbulkan dampak didaerah hu-lu saja tertapi juga didaerah tengah dan daerah hilir dalam bentuk : 1. fluktuasi debit air 2. transportasi sedimen dan material terlarut Contoh : 1. Erosi banyak terjadi pada daerah hulu sebagai akibat praktek becocok tanam yang tidak memenuhi akidah – akidah tentang konser vasi tanah dan konservasi air.
  • 13.
    2. Dampak darierosi ,banyak terjadi pendangkalan sungai, waduk, em bung yang pada gilirannya berdampak pada irigasi, PLN, PDAM serta menimbulkan bencana tanah longsor dan banjir. 3. Kegiatan reboisasi ( penanaman pohon ) dalam luasan tertentu da – pat menurunkan hasil air ( water yield ), tetapi kegiatan tersebut da-pat meningkatkan kualias air tanah dan air permukaan. 4. Kegiatan pertanian dengan menggunakan bahan kimia akan menurunkan kualitas air permukaan dan merugikan kehidupan mahluk hidup. 5. Pencegahan terhadap pembalakan hutan ( ilegal loging ), atau deforestasi ( pengurangan tegakan hutan ). 6. Penambangan yang tidak mengindahakan terhadap konservasi harus dicegah. 7. Pembutan jalan-jalan dihutan diarahkan sesuai akidah konservasi agar tidak terjadi erosi.
  • 14.
    Reboisasi berhasil (hasilair -, kualitas +) Deforestasi ,penebangan Cara bercocok tanam buruk (produktivitas - , erosi +) untuk kayu bakar ( hasil air + ) Pembutan jalan,pem balakan penebangan (erosi +, sedimen +) Kapasitas simpanan waduk (-), PLTA ? Saluran Irigasi ( kualitas - ) Gambar. 1.2 Ekosistem Daerah Aliran Sungai
  • 15.
    C. KOMPONEN-KOMPONEN EKOSISTEMDAS 1. DAS bagian hulu dipandang sebagai ekosistem pedesaan yang terdiri dari : a) desa c) sungai b) sawah ladang d) hutan 2. DAS tengah termasuk didalamnya daerah perkebunan dan tegalan. 3. DAS hilir dijumpai adanya hutan bakau Gambar 1.3 menunjukan hubungan timbal balik antar komponen ekosistem DAS yang saling mempengaruhi. Contoh Masalah degradasi lingkungan berpangkal pada komponen desa meliputi : a) Pertumbuhan penduduk yang pesat menyebabkan kepemilikan lahan pertanian semakin sempit. b) Keterbatasan lapangan kerja dan kendala ketrampilan yang terbatas sehingga pendapatan petani rendah.
  • 16.
    Kedua hal tersebutdiatas akan mendorong petani untuk merambah hutan dan lahan tidak produktif lainnya. 1. Apabila pengolahan lahan tidak mengindahkan akidah-akidah konservasi, tanah rentan terhadap erosi dan longsor. 2. Meningkatnya erosi dan tanah longsor akan meningkatkan sedimen di hilir. 3. Sistem pengelolaan lahan yang salah juga akan meningkatkan air larian yang menyebabkan banjir dan menurunnya infiltrasi yang mengkibatkan kekeringan dimusim kemarau ( kekurangan air baik untuk pertanian maupun kebutuhan domestik dan non domestik ).
  • 17.
    Matahari Hutan Desa Sawh ladang Tumbuhan Tanah Manusia Hewan Air Sungai Debit/lumpur/unsur hara tanah Gambar 1.3 Komponen-komponen ekosistem DAS hulu
  • 18.
    D. SISTEM HIDROLOGIDALAM EKOSISTEM DAS Unsur – unsur utama sistem hidrologi DAS meliputi : a) jenis tanah c) topografi b) tata guna lahan d) kemiringan dan panjang lereng Karakteristik unsur – unsur diatas akan berpengaruh pada besar kecilnya : a) evaporasi e) aliran permukaan b) infiltrasi f) kandungan air tanah c) perkolasi g) aliran sungai d) air larian Faktor – faktor yang memungkinkan dapat direkayasa oleh manusia adalah : a) faktor tata guna lahan b) faktor kemiringan dan panjang lereng. Adapun faktor alamiah tidak dibawah kontrol manusia, oleh karenanya fokus pengelolaan DAS bertumpu pada kedua faktor tersebut diatas. Secara singkat gambaran sistem hidrologi dalam ekosistem DAS seperti gambar 1.4
  • 19.
    Input = curahhujan hewan manusia Sawah air ladang GAMBAR 1.4 FUNGSI EKOSISTEM DAS Curah hujan ,jenis tanah,kemiringan lereng,vegetasi, dan aktivitas manusia mempunyai peran penting terhadap proses erosi dan sedimentasi. DAS = prosesor Output = air + sedimen + sampah Manusia + Iptek
  • 20.
    CARA BERCOCOK TANAM. a) Memotong kontur . Akan menimbulkan erosi , walaupun kelembaban tanah dapat dikendalikan . Apalagi kalau jenis tanaman adalah tanaman cabutan (kolo kependem ) b) Sejajar kontur . Akan dapat mengendalikan erosi . Dibuat terasering untuk mengendalikan kelembaban tanah E. POLA DRAINASE DAN URUTAN SUB DAS Bila dilihat dari udara jaringan aliran sungai ( sistem drainase ) menyerupai percabangan pohon ( DENDRITIC ) meliputi ; ( HORISONTAL ROCK )
  • 21.
    ( CRYATALLINE ROCK) Tetapi apabila dilihat dari dekat akan terlihat : a) Segi empat ( Rectangular )
  • 22.
    b) Trellis c)Annular d) Radial
  • 23.
    BAB II PRESIPITASI Presipitasi adalah jatuhnya air dari atmosfer ke permukaan bumi dan laut dalam bentuk yang berbeda : 1. Daerah tropis Hujan air ( curah hujan ) 2. Daerah beriklim sedang hujan air dan salju Presipitasi adalah klimatik yang bersifat alamiah yaitu berubahnya uap air di atmosfer menjadi curah hujan akibat dari proses kondensasi. Presipitasi adalah faktor utama yang mengendalikan proses daur hidrologi di suatu Daerah Aliran Sungai ( DAS ). Prakondisi terjadinya hujan sangat dipengaruhi oleh : 1. Kelembaban udara 3) Angin ( arah dan kecepatannya ) 2. Energi matahari 4) Suhu udara Untuk mengetahui kondisi tersebut diatas dibeberapa lokasi dipasang alat pengukur cuaca otomatis ( untuk mengukur curah hujan , suhu dan kelembaban udara, kecepatan dan arah angin serta radiasi matahari ). Alat : ( CR 10, Campbell Scientific Ltd, Leicester,Uk ). Terdiri dari : a) alat ukur curah hujan 0,20 mm ( tipping bucket ) b) alat ukur suhu dan kelembaban udara ( temperatur – humidity ......
  • 24.
    measure probe ) c) alat ukur angin ( cup anemo meter ) dan arah angin ( windvane ) d) alat ukur radiasi matahari ( pyramometer sensor ), dan alat ukur quantum fluk ( quantum sensor) Masing-masing alat dihubungkan kedata loger untuk pencatatan secara otomatis sesuai dengan interval waktu yang diinginkan. Contoh gabar 2.1 buku hdrologi halaman 31 1. Kelembaban udara Kelembaban udara akan memantulkan atau menyerap setengah radiasi matahari gelombang pendek yang menuju kepermukaan bumi. Disamping itu kelembaban udara juga dapat menahan keluarnya radiasi matahari gelombang panjang dari permukaan bumi baik siang maupun malam hari. Suhu udara meningkat ,kapasitas udara menampung uap air juga semakin me-ningkat. Suhu udara bertambah dingin gumpalan awan bertambah besar, dan selanjutnya akan jatuh menjadi hujan.
  • 25.
    Kelembaban udara adadua : a) kelembaban spesifik b) kelembaban absolute a) kelembaban spesifik adalah banyaknya uap air (dalam gram) yang terdapat dalam 1 kg udara basah ( gr/kg ) b) kelembaban absolut adalah perbandingan masa uap air dengan volume udara total ( gr/Kg ) Pada kelebaban spesifik perubahan tekanan udara tidak akan mempengaruhi besar kecilnya kelembaban udara. Pada kelembaban absolut perubahan tekanan udara akan memberikan pengaruh pada kelembaban udara. Contoh. Kerapatan udara kering dipermukaan air laut biasanya sekitar 1,28 gr/m3, sedangkan kelembaban absolut pada permukaan laut umumnya lebih kecil dari 0,005 gr/m3 atau lapisan atmosfer mengandung air lebih kecil dari 0,50 %.
  • 26.
    Satuan – satuandalam hidrologi Tekanan udara Barometer (b) atau Milibarometer (mb) 1 b = 1000 mb = 0,98 kali tekanan atmosfer pada permukaan laut Tekanan uap air udara jenuh ( es , saturated vapour presure ) ,adalah tekanan uap air diudara pada saat keadaan udara jenuh. Nilai es dipengaruhi oleh besar kecilnya suhu udara. No. Suhu udara ( derajat C ) Tekanan uap air jenuh ( mb ) 1 10 9,21 2 20 17,54 3 30 31,82 Ada dua cara untuk menunjukan tekanan uap air diudara, ea ( ambient vapour presure ) dalam kaitannya dengan uap air udara jenuh (es ) 1. Kelembaban relatif x !00% 2. Kekurangan /devisit tekanan uap air ( vapour presure deficit ) perbe daan antara dan dalam milibar atau pascal
  • 27.
    푒푠 = 3,8690,00738. 푇푎 + 0,8972 8 − 0,000019 1,8. 푇푎 + 48 + 0,001316 푒푠=푡푒푘푎푛푎푛 푢푎푝 푎푖푟 푗푒푛푢 ℎ (푚푏 ) 푇푎=푠푢 ℎ푢 푢푑푎푟푎 (°퐶) 푅ℎ = 푒푎 푒푠 푥 100% 푑푎푛 푇푑 푑푎푙푎푚 °퐶 푅ℎ = 100 112 − 0,1푇푎 + 푇푑 / 112 + 0,9푇푎 8 Alat pengukur kelembaban udara (psichometer) terdiri dari : dua termometer a) termometer bola basah, b) termometer bola kering. Suhu titik embun 푻풅 (dew point temperatur ) adalah suhu udara pada saat udara jenuh yaitu pada saat 풆풔 = 풆풂 Setiap kenaikan ketinggian 1000 m ada penurunan suhu sebesar 6,5°C. Gerakan uap air diatmosfeer juga dapat disebabkan oleh beda kerapatan udara diantara dua tempat. Dari kerapatan masa udara lebih tinggi (kering/hangat) ke masa udara yang lebih rendah (basah/sejuk)
  • 28.
    2. Energi Matahari Energi matahari merupakan mesin yang mempertahankan kelangsungan daur hidrologi. Energi matahari memproduksi gerakan masa diatmosfeer dan diatas lautan . Energi matahari merupakan sumber tenaga sehingga terjadi sehingga terjadi proses “Evaporasi” dan “ Transpirasi”. Evaporasi adalah penguapan air dari permukaan badan perairan Transpirasi adalah penguapan air/kehilangan air dari dalam vegetasi. Energi matahari mendorong terjadinya daur hidrologi melalui proses radiasi. Penyebaran kembali energi matahari dilakukan melalui proses: 1. Konduksi dari daratan 2. Konveksi yang berlangsung didalam badan air dan atmosfeer.
  • 29.
    1. Konduksi adalahsuatu proses transpormasi udara antara dua lapisan udara yang berdekatan ,( apabila suhu kedua lapiasan tersebut berbeda). Konduktivitas termal ,besarnya laju pindah panas adalah 푞푥 = 퐾푟 Δ푇 /푥 Dimana : qx : laju pindah panas persatuan luas (cal/cm2.dt) kr : angka tetapan konduktivitas termal pada kedudukan konstan (cal/deg.cm.dt) ΔT : beda suhu (oC) X : jarak (cm) 2. Konversi adalah pindah panas yang timbul oleh adanya gerakan masa udara atau air dengan arah gerakan vertikal. Atau dapat dikatakan konversi adalah hasil ketidakmantapan masa udara atau air. 3. Proses gerakan masa udara lainnya adversi yaitu pindah panas yang dihasilkan oleh gerakan udara secara horisontal.
  • 30.
    3. ANGIN Anginadalah gerakan masa udara, yaitu gerakan atmosfer atau udara nisbi terhadap permukaan bumi. Parameternya : arah dan kecepatan angin. Kecepatan angin mempengaruhi terhadap: 1. Besarnya kehilangan air melalui proses evaportanspirasi 2. Mempengaruhi kejadian-kejadian hujan Untuk terjadinya hujan diperlukan adanya gerakan udara lembab yang berlangsung terus menerus. Apabila dunia tidak berputar pada porosnya, pola angin yang terjadi semata-mata ditentukan oleh sirkulasi termal. Angin akan bertiup ke katulistiwa sebagai udara hangat. Udara yang mempunyai berat lebih ringan akan naik ke atas, digantikan oleh udara padat yang lebih ringan.
  • 31.
    Karena bumi berputarpada porosnya, masa udara (frontal) akan bergerak dari barat ke timur. Dari pengertian tersebut apabila ada dua masa udara dengan suhu yang berbeda bertemu akan terjadi hujan di batas antara dua masa udara tersebut. Angin pada umumnya bertiup dari permukaan bidang yang lebih dingin ke permukaan bidang yang lebih hangat. Pada siang hari musim kemarau arah angin  dari lautan ke daratan yang lebih hangat Pegunungan juga mempunyai pengaruh terhadap perubahan arah angin  oleh adanya proses pemanasan di salah satu sisi pegunungan tersebut, yang mengakibatkan adanya beda suhu antara punggung gunung tersebut, yang pada gilirannya memyebabkan terjadinya perubahan arah angin. Proses kehilangan panas dengan adanya ; padang pasir, jalan aspal, daerah yang banyak bangunan, juga dapat menyebabkan perubahan arah angin.
  • 32.
    4. SUHU UDARA 1. Suhu udara mempengaruhi a. Besarnya curah hujan b. Laju evaporasi dan transpirasi 2. Suhu juga sebagai salah satu faktor yang dapat memperkirakan dan menjelaskan “kejadian dan penyebaran air di muka bumi” 3. Suhu harian rata-rata: Tave = 푇푖 24 푖=1 24 Tave : Suhu harian rata-rata (0C) Ti : Suhu udara per jam (0C) Atau Tave = (Tmax – Tmin)/2 Tmax : suhu maksimum harian (0C) Tmin : suhu minimum harian (0C)
  • 33.
    1. Suhu udarayang banyak dijumpai di dalam laporan-laporan tentang metereologi umumnya menjunjakan data: suhu musiman, suhu berdasarkan letak geografis, suhu letak ketinggian tempat yang berbeda. 2. Oleh karenanya besarnya suhu rata-rata harus ditentukan menurut “ waktu dan tempat” dengan penurunan suhu 0,50 – 0,7 0C per 100 m atau 5 – 7 0C per 1000 m. Rata-rata 6,5 0C per 1000 m. 3. Rh = (112 – 0,1T + Td)/(112 + 0,9T) T : Suhu udara ( 0C ) Td : Suhu udara jenuh (0C ) Rh : kelembaban relatif
  • 34.
    PRESIPITASI 1. Presipitasiadalah faktor yang mengendalikan daur hidrologi dalam wilayah DAS sebagai elemen utama ( berpengaruh terhadap kelembaban tanah, proses resapan air tanah, debit aliran) 2. Keberlanjutan proses ekologi, geografi, dan tataguna lahan di suatu DAS sangat ditentukan oleh berlangsungnya daur hidrologi. Presipitasi dapat dipandang sebagai faktor pendukung sekaligus pembatas bagi usaha pengelolaan sumberdaya air dan tanah 3.Besar kecilnya presipitasi, waktu berlangsungnya hujan, dan ukuran serta intensitas yang terjadi, baik secara sendiri-sendiri atau merupakan kombinasi akan mempengaruhi kegiatan pembangunan (proyek) seperti PLTA, irigasi, konservasi tanah dan air. 4.Mekanisme presipitasi 5.Proses terjadinya presipitasi adalah sebagai berikut:
  • 35.
    Mekanisme presipitasi 1.Prosesterjadinya presipitasi adalah sebagai berikut: 1). Sejumlah uap air di atmostfer bergerak ke tampat yang lebih tinggi oleh adanya beda tekanan air. 2). Uap air bergerak dari tempat dengan tekanan uap air lebih besar ke tempat dengan tekanan uap air lebih kecil. 3). Uap air tersebut pada angka 2, pada ketinggian tertentu akan mengalami penjenuhan, dan apabila hal tersebut diikuti dengan kondensasi, maka uap air akan berubah menjadi butiran-butiran air hujan. 2. Tipe-Tipe Hujan Tiga tipe hujan: 1). Hujan konveksi (convectional storms) 2). Hujan frontal (frontal/cyclonic stroms) 3). Hujan Orografik (orographic storms)
  • 36.
    1. Hujan konveksi(convectional storms) Penyebabnya adalah: 1). adanya beda panas yang diterima permukaan tanah 2). beda panas diatasnya terjadi pada akhir musim kering yang akan menyebabkan hujan dengan intensitas hujan tinggi sebagai hasil kondensasi masa air basah pada ketinggian > 15 km. Mekanisme: 1. Lapisan udara di atas tanah menjadi lebih panas daripada lapisan udara di atasnya 2. Udara yang lebih panas bergerak ke lapisan yang lebih tinggi dan pada saatnya akan terkondensasi 3. Pada saat tersebut akan terjadi pelepasan udara panas, dan udara panas tersebut akan menjadi lebih panas dan bergerak ke arah lebih tinggi sampai kemudian membeku dan jatuh sebagai hujan oleh adanya gaya gravitasi. Ciri-ciri hujan konvektif: 1. Intensitas tinggi 2. Berlangsung relatif cepat 3. Cakupan wilayah tidak terlalu luas.
  • 37.
    Ciri-ciri hujan konvektif: 1. Intensitas tinggi 2. Berlangsung relatif cepat 3. Cakupan wilayah tidak terlalu luas. Kristal es Turbulen dan ketidakstabilan Radiasi Matahari Suhu dan kelembaban tinggi
  • 38.
    2. Hujan badaidan hujan mansun (monsoon) adalah tipe hujan frontal yang sering dijumpai . Udara hangat Udara dingin Intensitas tinggi
  • 39.
    3. Hujan Orografik(orographic storms) 1. Jenis hujan ini umumnya terjadi di daerah pegunungan. 2. Yaitu ketika masa udara bergerak ke tempat yang lebih tinggi mengikuti bentang lahan pegunungan sampai saatnya terjadi proses kondensasi 3. Ketika masa udara melewati daerah bergunung, pada lereng dimana angin berhembus (winward side) terjadi hujan oroganik 4. Sementara pada lereng dimana gerakan masa udara kurang berarti (...ward side) udara yang turun akan mengalami pemanasan dengan sifat kering. Dan daerah ini disebut daerah ”bayangan” dan hujan yang terjadi disebut hujan di daerah “bayangan”. (Jumlah hujan lebih kecil daripada hujan yang terjadi di daerah winward side) besarnya intensitas hujan oroganik menjadi lebih besar dengan meningkatnya ketebalan lapisan udara lembab ke atmosfer yang bergerak ke tempat yang lebih tinggi.
  • 40.
    3. Tipe hujanoroganik dianggap sebagai pemasok air tanah,danau, pegunungan, bendungan dan sungai karena hujan berlangsung di DAS Winward side Leward side Rain shadow Liting and cooling
  • 41.
    EVAPOTRANSPIRASI Evapotranspirasi adalahjumlah air yang diuapkan dari: a) permukaan air ( Evaporasi ), air menguap. b) permukan tanah ( transpirasi ), air yang diserapp oleh akar di-transfeer kebatang ,ranting,daun kemudian menguap melalui proses fisiologi tanaman. c) vegetasi ( intersepsi ), yaitu penguapan air yang tertahan oleh daun,ranting,cabang,batang dan belum sempat sampai di tanah INTERSEPSI Intersepsi air hujan (rainfall interception loss ) adalah air hujan yang jatuh pada vegetasi , tertahan beberapa saat lalu diuapkan kembali ( hilang ) ke atmosfeer atau diserap oleh vegetasi yang bersangkutan. Besarnya interspsi bervariasi antara 35% - 55% dari keseluruhan evapotranspirasi. Intersepsi diatas tegakan hutan berkisar antara 35%-75% dari total evapotranspirasi. Intersepsi diatas hutan tropis berkisar antara 10% - 35% dari curah hujan total.
  • 42.
    Air hujan yangjatuh diatas permukaan vegetasi ,tidak langsung mengalir kepermukaan tanah. Setelah tempat-tempat ( daun,ranting,cabang dan batang) barulah air mengalir kepermukaan tanah. Besarnya daya tampung permukaan vegetasi dinamakan “kapasitas intersepsi” ( canopy storage capacyty) , dan besarnya ditentukan oleh bentuk kerapatan dan tekstur vegetasi. Air hujan yang jatuh pada permukaan vegetasi akan mencapai permukaan lantai hutan melalui dua proses mekanis : 1. Air lolos (througfall) 2. Aliran batang ( stemflow) 7 5 1 45 2 3 4 6
  • 43.
    Keterangan: 1. Alatukur ( RG) 4. air lolos ( Tf ) 2. Interception ( IC ) 5. Interception seresah ( If) 3. Curah hujan total ( pg ) 6. Net precipitation ( Pn ) 7. Aliran batang ( Sf ). Faktor – faktor penentu intersepsi Itersepsi sangat dipengaruhi oleh vegetasi dan iklim. Faktor vegetasi meliputi: a. Luas vegetasi hidup dan mati b. Bentuk, ketebalan daun dan cabang vegetasi Faktor iklim meliputi : a. Jumlah dan jarak lama waktu antara satu hujan dengan hujan berikutnya b. Intensitas hujan c. Kecepatan angin d. Beda suhu antara permukaan tajuk dan suhu atmosfeer. Besarnya air hujan yang terintersepsi merupakan fungsi dari:
  • 44.
    a. Karakteristik hujan b. Jenis dan umur serta kerapatan tegakan c. Musim pada hutan yang bersangkutan Pada musim pertumbuhan tegakan 10 – 20 % air hujan akan terinsepsi. Pada hutan yang sangat rapat intersepsi dapat mencapai 25 _ 35 % ( pada hujan tidak lebat intersepsi akan lebih besar ). Contoh : Amerika utara curah hujan lebih kecil dari 0,25 mm, sehingga 100 % air hujan terintersepsi. Pada curah hujan lebih besar dari 1 mm, air yang terintersepsi antara 10 – 40 %. Pada vegetasi berdaun jarum dengan jarak tanam 2 x 2 m; 4 x 4 m; 6 x 6 m dan 8 x 8 mmemberikan hasil intersepsi sebesar 33 %; 24 % ; 15 % ; 9 % ; dari total curah hujan. Tabel : perbandingan Pg, Tf , Sf , dan I di hutan tidak terganggu dan hutan bekas tebangan.
  • 45.
    Variabel Unit Hutantdk Tergang gu 1) Rata-rata3) Tajuk rapat Hutan tebangan 2) Tajuk sedang Tanpa tajuk Pg mm 2199 3563 3563 3563 3563 Tf mm 1918 3334 3027 3403 3539 ( % ) ( 87,20 ) ( 93,50 ) ( 85,00 ) ( 95,00 ) ( 99,00 ) Sf mm 30 9,6 - - - ( % ) ( 1,40 ) ( 0,30 ) - - - I mm 251 219 536 160 24 ( % ) 1) Pengukur an selama 6bulan (Jumlah kejadian hujan =55) ( 11,40 ) 2) Pengukur an selama satu tahun (jumlah kejadian hujan=95) ( 6,20 ) 3) Rata-rata dari tiga penutupa n tajuk yang berbeda. ( 15,00 ) ( 4,50 ) ( 0,70 )
  • 46.
    Dimana : Pg= curah hujan total Tf = air lolos Sf = aliran batang I = Intersepsi (Ic dari tajuk dan If dari seresah) Ic = Pg – ( Tf + Sf ) Jumlah air hujan yang sampai dilantai hutan = Tf + Sf Curah hujan bersih Pn = Tf + Sf - If Curah hujan bersih ( net precipitation ) inilah yang kemudian menjadi : a. Air infiltrasi b. Air larian c. Aliran air bawah permukaan atau aliran air tanah ( aliran intra) Daerah-daerah yang didomonasi oleh vegetasi (pedesaan),faktor-faktor pengendali besarnya intersepsi adalah type, ,kerapatan dan umur vegetasi juga mempengaruhi intersepsi karena ada jenis vegetasi tertentu yang mempunyai intersepsi berbeda dari musim kemusim.
  • 47.
    Musim pertumbuhan nilaiintersepsi lebih besar dari pada musim tidak aktif ( dormant sason) . Ada pula jenis vegetasi yang mempunyai nilai intersepsi sama sepanjang tahun ( everygreen species ) . Perbedaan intersepsi juga ditentukan oleh bentuk komunitas vegetasi, tegakan pohon, semakbelukar, padang rumput dan tanaman pertanian. Jenis tanaman Intersepsi selama pertumbuhan cepat Intersepsi selama pertum Buhan lambat Cuarh hujan (mm) Intersepsi (mm) Intersepsi (%) (%) Afafa 275 98 36 22 Jagung 181 28 16 3 Kedelai 158 23 15 9 Gandum 171 12 7 3
  • 48.
    Pengukuran intersepsi Pengukuranintersepsi pada sekala tajuk vegetasi dilakukan melalui dua pendekatan: 1. Pendekatan neraca volume (volume balance approach). 2. Pendekatan neraca energi (energy balance approach) Cara 1) paling umum dilakukan dengan cara : a) curah hujan diukur melalui stasiun curah hujan b) aliran batang diukur dengan menempatkan tabung dipangkal batang c) air lolos diukur dengan menempatkan alat ( semcam nampan ) dibeberapa tempat . Alat tersebut dibuat bentuk V denghan panjang 140 Cm dan lebar 10 Cm air dialirkan ke bak penampung. Intersepsi adalah beda antara hujan total dan curah hujan bersih ( Pg – Pn ), dan Pn = Tf + Sf. Cara lain dapat menggunakan jerigen yang dilengkapi corong diameter 18 Cm – 20 Cm. Semakin banyak hasilnya semakin akurat. Cara pengukuran air lolos yang lebih terpadu dengan “ plastic – sheet gauge “ ( lembaran plastik 14 m x 14 m ) dipasang kurang lebih 1 m diatas tegakan sekaligus menampung air aliran batang ( Sf ), yang kemudian dialirkan ke bak penampungan melalui alat “tipping bucket” ( alat penakar hujan yang bekerja secara otomatis).
  • 49.
    EVAPORASI Evaporasi adalahpenguapan air ,tanah dan bentuk permukaan bukan vegetasi lainnya oleh proses fisika. Dua unsur utama terjadinya evaporasi adalah energi (radiasi) matahari dan ketersediaan aiar. 1). RADIASI MATAHARI Sebagian radiasi gelombang pendek ( shortwave radiation ) matahari akan diubah menjadi “energi panas” didalam tanaman , tanah dan air. Energi panas akan menghangatkan udara disekitarnya. Yang kemudian sebagian dari energi matahari akan diubah menjadi tenaga mekanik. Tenaga mekanik tersebut akan menyebabkan perputaran udara dan uap air diatas permukaan tanah. Keadaan tersebut menyebabkan udara diatas permukaan tanah jenuh, dan dengan demikian mempertahankan tekanan uap air yang tinggi pada permukaan bidang evaporasi. 2). KETERSEDIAAN AIR Ketersediaan air tidak hanya melibatkan jumlah air yang ada, tetapi juga persediaan air yang siap untuk terjadinya evaporasi.
  • 50.
    Permukaan bidang evaporasiyang kasar akan memberikan laju evaporasi lebih tinggi dari pada bidang permukaan yang rata, karena bidang permukaan yang kasar besarnya turbulensi lebih meningkat. FAKTOR-FAKTOR PENETU EVAPORASI 1) Energi matahari Energi panas tak tampak ( latent heat ) pada proses evaporasi, energi panas gelombang pendek (shortwave radiation ) dan energi gelombang panjang ( longwave radiation ). Energi panas gelombang pendek merupakan energi panas terbesar , yang merupaka suplay terbesar penguapan air dari permukaan bumi. Energi panas gelombang panjang adalah panas yang dilepas oleh permukaan bumi keudara bersifat menambah panas dari energi gelombang pendek ( panas yang telah dihasilkan oleh energi panas gelombang pendek ). 2) Suhu udara Permukaan bidang penguapan ( air, vegetasi, dan tanah ), makin tinggi suhu udara diatas bidang penguapan , makin mudah terjadi perubahan bentuk dari zat cair menjadi gas. Dengan demikian laju evaporasi menjadi lebih besar didaerah tropik daripada daerah beriklim sedang.
  • 51.
    3) Kapasitas kadarair didalam udara, juga mempengaruhi langsung oleh tinggi rendahnya suhu ditempat tersebut. Besarnya kadar air ditentukan oleh tekanan uap air, vp (vapour presure ) yang ada ditempat tersebut. Proses evaporasi tergantung pada devisit tekanan uap air jenuh. Dvp ( saturated vapour pressure deficit ) di udra atau uap air yang dapat diserap oleh udara sebelum udara tersebut menjadi jenuh. Defisit tekanan uap air jenuh adalah beda keadaan antara tekanan uap air jenuh pada permukaan bidang penguapan(tajuk vegetasi ) dan tekanan uap air nyata di udara. 4) Ketika proses penguapan berlangsung udara diatas bidang penguapan secara bertahap menjadi lebih lembab, sampai pada tahab udara menjadi jenuh dan tidak mampu menampung uap air lagi. Akibat beda tekanan dan kerapatan udara, udara jenuh diatas permukaan bidang penguapan akan berpindah ketempat lain, sehingga proses penguapan akan berlangsung terus menerus. 5) Sifat alamiah bidang permukaan penguapan akn mempengaruhi proses evaporasi melalui perobahanpola perilaku angin. Pada bidang permukaan kasar atau tidak beraturan , kecepatan angin akan berkurang oleh adanya proses gesekan. Pada permukaan bidang yang halus angin kencang juga dapat menimbulkan gelombang air besar, yang dapat mempercepat evaporasi.
  • 52.
    TRANSPIRASI Transpirasi adalahproses penguapan air dari daun dan cabang tanaman melalui pori-pori daun oleh proses fisiologi. Daun dan cabang umumnya berbalut kulit mati atau kulit ari ( cuticle ) yang kedap uap udara. Cel-cel hidup daun dan cabang terletak dibawah permukaan tanaman, dibelakang pori-pori daun atau cabang. Besar kecilnya “transpirasi “ sangat dipengaruhi oleh radiasi matahari yang akan membuka dan menutup pori-pori, radiasi Sensible heat penguapan
  • 53.
    Kulit ari Epidemiaatas Cylem Epidemis bawah Celpalisade udara Pori-pori Pholem Kulit kambium Cylem Curtex butirtanah akar Cylem
  • 54.
    PEMANENAN AIR HUJAN Dibanyak tempat pemanenan air hujan ( rain water harvesting ) telah lama dilakukan pemanennan air hujan dari : 1. Atap 3. halaman rumah 2. Jalan 4. Daerah tangkapan air 1. Pemanenan air hujan dari atap. Atap yang akan dipakai untuk pemanenan air hujan sebaiknya dibuat atau dilapisi dengan bahan almunium, sirap atau atap yang terbuat dari atau dilapisi semen (genteng beton ). Untuk mencegah adanya pencemaran air hujan yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan , maka sebelum air dipanen atap harus dibersihkan dari segala kotoran menjelang musim hujan. Cara lain dengan membuang terlebih dahulu air yang datang pertama dan kedua. Cara pemanenan : a) Menempatkan talang diujung bawah genteng dan sudut-sudut pertemuan bidang atap ( talang tritis dan talang kil ). b) Air dari talang dimasukan ke penampungan air. c) Air dari penempungan disalurkan ke tangki penyimpanan air yang lebih besar.
  • 55.
    kran talang Bakpenampung Tangki penyimpanan air pompa Over flow
  • 56.
    Contoh . Atapdengan luas 8m x 5 m, curah hujan tahunan rata-rata 750 mm, air yang menguap dan meresap sekitar 20 %. Hasil air = 5 x 8 x 0,80 x 0,75 = 24 m3/tahun = 24.000 l/tahun = 24000/365 = 66 l/hari Untuk mencukupi kebutuhan dasar minum/masak kurang lebih 40 – 60 l/hari ( untuk 6 orang), maka ukuran bak penampung diberi kurang lebih 50 %. Apabila musim kemarau hanya 3 bulan maka ukuran bak = 3 x 30 x 40 = 3600 l Angka keamanan 50% , maka ukuran 1,5 x 3.600 = 5.400 l 2). Air dari jalan untuk memanen air dari jalan dengan cara membuat saluran – saluran tepi jalan yang selanjutnya dimasukan ke bangunan pengolahan air, atau sebelum masuk bangunan pengolahan ditampung dulu di bangunan penampungan. 3) Air halaman Air dari halaman sama dengan air dari jalan harus diolah terlebih dahulu.
  • 57.
    4). Pengumpulan airhujan dari permukaan tanah. Pada prinsipnya adalah memanen air larian ( surface runoff ) daerah tangkapan air. Untuk mengurangi infiltrasi , dan meningkatkan air larian dilakukan hal-hal sebagai berikut. a) Menempatkan lembaran plastik yang tidak mudah bocor diatas permukaan tanah b) Menyemen atau mengaspal bidang tangkapan c) Menyemprot lapisan permukaan tanah dengan bahan kimia d) Dengan memadatakan tanah pada bidang tangkapan hujan Besarnya air yang dapat dipanen ditentukan oleh : a) Topografi datar atau miring b) Kemampuan lapisan tanah menahan air Besarnya air hujan yang dapat dipanen berkisar antara 30% - 90% Jebakan lumpur tangki
  • 58.
    AIR BAWAH PERMUKAAN Air bawah permukaan adalah semua bentuk aliran air hujan yang mengalir dibwah permukaan tanah, sebagai akibat struktur pelapisan geologi , beda potensi kelem baban tanah dan gaya gravitasi bumi. Persoalan persoalan yang perlu dibahas adalah, “Proses dan mekanisme terjadinya air tanah, karakteristik air tanah, gerakan air tanah, pemanfaatan dan pencagaran air tanah. INFILTRASI Infiltrasi adalah proses aliran air ( umumnya berasal dari air hujan ) masuk ke tanah. Perkolasi merupakan proses kelanjutan aliran infiltrasi ketanah yang lebih dalam untuk selanjutnya mengisi aquifer bawah tanah. Dengan kata lain infiltrasi aliran air masuk kedalam tanah akibat dari gaya kapiler ( gerakan air kearah lateral) dan gravitasi ( gerakan air kearah vertikal). Setelah lapisan tanah bagian atas jenuh , kelebihan air akan mengalir ketanah yang lebih dalam sebagai akibat gaya gravitasi yang dikenal dengan proses “Perkolasi” Laju maksimum gerakan air masuk kedalam tanah dinamakan “kapasitas infiltrasi” Beberapa catatan: 1) Intensitas hujan melebihi kemampuan tanah dalam menyerap kelembaban tanah terjadi air melebihi kapasitas infiltrasi.
  • 59.
    2). Intensitas hujanlebih kecil dari kapasitas infiltrasi maka laju infiltrasi = laju curah hujan. 3). Satuan laju in filtrasi mm/jam, pasokan air hujan kedalam tanah sangat berarti bagi tanaman. 4). Air infiltrasi yang tidak kembali lagi ke atmosfeer melalui proses evapotranspirasi, akan menjadi air tanah untuk selanjutnya menglir kesungai disekitarnya. Meningkatnya kecepatan dan luas wilayah infiltrasi dapat memperbesar debit aliran selama musim kemarau ( baseflow), yang sangat penting untuk memsok kebutuhan air dimusim kemarau, untuk pengenceran kadar pencemaran sungai dll. PROSES TERJADINYA INFILTRASI 1). Air hujan yang jatuh ke permukaan tanah , sebagian atau seluruhnya akan masuk kedalam tanah melalui pori-pori tanah. 2).karena adanya gaya gravitasi dan gaya kapiler maka air hujan akan tertarik mengalir kedalam tanah. 3). Gaya gravitasi mengalirkan air kearah bawah. 4).gaya kapiler mengalirkan air tegak lurus keatas, kebawah dan horisontal ( lateral ) 5). Gaya kapiler tanah bekerja nyata pada tanah pori-pori besar air banyak mengalir kearah bawah.
  • 60.
    Kesimpulan : Infiltrasimelibatkan 3 proses yang tidak saling mempengaruhi yaitu: a). Proses masuknya air hujan melelui pori-pori tanah. b).Tertampungnya air hujan didalam tanah. c).Proses pengaliran air ketempat lain ( bawah, samping, atas ) Meskipun tidak saling mempengaruhi secara langsung , tetapi ketiga proses tersebut saling terkait. 1). Besarnya laju infiltrasi pada permukaan tanah yang tidak bervegetasi tidak akan pernah melebihi laju intensitas hujan . 2). Untuk wilayah hutan laju infiltrasi tidak akan pernah melebihi laju intensitas hujan efektif. 3). Curah hujan efektif = curah hujan total – air infiltrasi. Pengukuran infiltrasi Ada tiga cara menentukan besarnya infiltrasi : 1). Menentukan beda volume air hujan buatan dengan volume air larian pada percobaab laboratorium menggunakan simulasi hujan buatan. 2).menggunakan alat infiltrometer. 3). Teknik pemisahan hidrograf aliran dari data aliran air hujan.
  • 61.
    Alat infiltrometer yangbiasa digunakan jenis ganda ( double ring infiltrometer) a). Silinder keceil diameter sekitar 30 Cm ,silinder besar sekitar diameter 46 Cm – 50 Cm. Pengukuran hanya pada silinder kecil saja, silinder besar hanya berfungsi sebagai penyangga. b). Silinderr ditanam didalam tanah dengan kedalaman 5 Cm – 50 Cm. c). Air dimasukan kedalam kedua silinder dengan kedalaman 1 Cm- 2Cm. Dan dipertahankan kedalamannya dengan cara mengalirkan air kedalam silinder tersebut ( dari suatau kantong air yang dilengkapi sekala ). d). Laju air yang dimasukan kedalam silinder diukur dan dicatat, dan laju air tersebut merupakan laju infiltrasi. ( hasil lebuh besar 2 – 10 kali dari pada yag berlangsung dilapangan. Gambar kurva hubungan air larian dan infiltrasi pada hujan buatan. Curah hujan Air larian Dan infiltrasi (Cm/jam) Curah hujan 4,6 Cm / jam Air larian infiltrasi 0 20 40 60 80 100 120
  • 62.
    Gambar kurva infiltrasidan curah huajan untuk menghitung air larian. Curah hujan Infiltrasi (Cm/jam APLIKASI PRAKTIS INFILTRASI Waktu (jam) Dalam usaha pencagaran air ( water conservation ) sudah dilakukan di jawa barat dengan prioritas : 1). Daerah resapan ( recharge area ) dengan karakteristik wilayah yang didominasi vegetasi ( hutan dan komunitas lainnya ). Curah hujan Air larian
  • 63.
    2). Daerah tersebutmempunyai curah hujan besar. 3).daerah resapan biasanya mempunyai koefisien resapan ( recharge coefficieennt ) besar. 4).kefisien resapan adalah banyaknya volume curah hujan yang mengalir sebagai air infiltrasi terhadap total curah hujan. 5).untuk mendapatkan angka koefisien resapan ( C ) tahunan suatu daerah resapan digunakan rumus: Dimana : C = ( I x 365 x A )/( P x A ) I = laju infiltrasi ( base flow ) dalam m/hari A= luas daerah tangkapan air ( m2 ) P = curah hujan tahunan ( m ) Contoh : Diketahui laju infiltrasi suatu daerah resapan air = 0,80 mm/hari, luas daerah resapan =296 Km2, curah hujan rata-rata tahunan = 2000 mm Koefisien besaran C = │(0,80/1000)(365)(296 x 1000000)│/│(2000/1000)(296 x 1000000)│ C = 0,15
  • 64.
    Tabel : lajuresapan air tanah tahunan wilayah jawa barat. kabupaten Luas (km2) Curah hujan (mm) 1) Koefisien resapan (%) 2) Laju resapan 1000000 m3/th 3) Bandung Purwakarta Majalengka Cianjur Kuningan Pandegelang Sumedang Lebak Ciamis Bogor Tasikmalaya tangerang 3016,6 996,0 1209,0 3637,7 1192,4 2709,6 1565,6 3302,9 2900,0 3308,5 2956,0 1350,0 2283,0 3100,0 3079,0 3186,0 2750,0 3490,8 2944,0 3400,0 3290,0 3802,0 3525,0 2250,0 17,0 14,9 15,0 16,0 15,8 17,0 15,8 18,3 16,0 17,3 16,0 15,0 1171,0 460,0 558,0 1854,0 518,0 1608,0 728,0 2055,0 1527,0 2176,0 1667,0 455,6
  • 65.
    1). Curah hujarata-rata tahunan 2). Koefisien resapan (C) dari rumus 3). R = Σ ( A x P x C ) R = laju resapan air tanah tahunan ( 1000000 m3 ) A = luas permukaan resapan ( 1000000 m2 ) P = curah hujan tahunan rata-rata daerah resapan (m) C = koefisien resapan daerah kajian ( % ) KELEMBABAN TANAH Pertumbuhan vegetasi memerlukan kelembaban tanah tertentu. Kelembaban pada tingkat tertentu dapat menentukan bentuk tata guna lahan. Tingkat kelembaban tanah yang tinggi juga dapat menimbulkan permasalahan misal untuk bangunan peresapan pada kelengkapan septitank kurang baik. Secara ringkas dapat dikatakan : a). Pada tingkat tertentu kelembaban tanah sangat penting, untuk mendukung kehidupan manusia. b). Pada tingkat kelembaban tanah terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat menimbulkan permasalahan bagi manusia.
  • 66.
    Klasifikasi tanah klasifikasihidrologi E F air tanah daerah batuan A B C D A = seresah G = lantai hutan B = seresah yang telah terdekomposisi H = zone jenuh C = lantai hutan D = zone perakaran E = perkolasi F = zone airasi H G
  • 67.
    AIR TANAH Airtanah adalah air yang berada diwilayah jenuh dibawah permukaan tanah. Keseluruhan air tawar 97% lebih adalah air tanah. Dengan semakin berkembangnya perumahan dan industri, ketergantungan akan air tanah semakin terasa mengingat ketersediaan air permukaan semakin menurun. Namun cara pengambilan air tanah sering tidak mengindahkan prinsip-prinsip hidrologi yang baik, sehingga sering menimbulkan dampak negatif. Dampak negatif tersebut dapat dibedakan menjadi : a). Bersifat kualitatif ( kualitas air tanah ). b). Bersifat kuantitatif ( pasokan air tanah ). Dampak kualitatif seperti pencemaran sumur-sumur penduduk terutama yang berdekatan dengan sungai dimana sungai tersebut dijadikan sarana pembuangan limbah pabrik. Juga pada daerah pantai dalam bentuk intrusi air laut kedalam sumur penduduk. Dampak kuantitatif pada umumnya dijumpai pada musim kemarau dimana muka air sumur menjadi semakin dalam . Dalam membicarakan air tanah selain faktor-faktor yang telah diuraikan ada faktor “formasi geologi”, dalam masalah air tanah formasi geologi tersebut dikenal sebagai “aquifer”
  • 68.
    Dengan demikian “aquifer”pada dasarnya adalah “kantong air yang berada didalam tanah” Aquifer pada dasrnya debedakan menjadi dua : 1. Aquifer bebas ( uncofined aquifer ). 2. Aquifer terkekang ( confined aquifer ). 1. Aquifer bebas terbentuk ketika tinggi muka air tanah ( water table ) menjadi batas atas zone tanah jenuh. tinggi air tanah berfluktuasi tergantung pada : a). Jumlah dan kecepatan air yang masuk kedalam tanah b). Pengambilan air tanah c). Permeabilitas tanah 2. Aquifer terkekang dikenal sebagai “ artesis” terbentuk ketika air tanah dalam dibatasi oleh lapisan kedap air, sehingga tekanan dibawah lapisan kedap air tersebut lebih besar dari tekanan atmosfer.
  • 69.
    Muka pizometrik Lapisankedap air Air menyembur Muka tanah Sumur dangkal Sumur artesis Muka air tanah Aquifer bebas Aquifer terkekeang Gambar : Aquifer bebas dan Aquifer terkekang
  • 70.
    Gambar: karakteristik airtanah dan perubahan tinggi muka air tanah Muka tanah Capilary fringe sedikit diatas PAT Muka tanah Capilary fringe sedikit diatas PAT sumur sumur effluent inffluent Zone airasi Zone saturasi (jenuh) Zone airasi Zone saturasi (jenuh)
  • 71.
    EROSI DAN SEDIMENTASI Proses terjadinya erosi : Penyebab utama rejadinya erosi adalah : 1). Erosi alamiah dan 2). Erosi karena aktivitas manusia Proses erosi adalah : 1). Pengelupasan ( detachment ) 2). Pengankutan ( trasportation ) 3). Pengendapan ( sedimentasi ) Selain erosi disebabkan oleh air hujan juga disebabkan oleh angin dan salju. Tipe-tipe erosi 1). Erosi percikan ( splash erosion ), bagian atas tanah terkelupas oleh “tenaga kinetik air hujan” 2). Erosi kulit ( shect erosion ), lapisan tipis permukaan tanah didaerah berlereng terkikis oleh kombinasi air hujan dan air larian yang mengalir ketempat yang lebih rendah. ( kecepatan jatuhnya air hujan diatas 0,3 – 0,6 m/dt ). 3). Erosi alur ( rill erosion ) , pelepasan yang diikuti oleh pengangkutan partikel-partikel tanah oleh air larian yang terkonsentrasi didalam saluran air. 4). Erosi parit ( gully erosion ), lanjutan dari erosi alur yang kemudian menjadikan parit menjadi lebih dalam dan lebar.
  • 72.
    5). Erosi tebingsungai ( streambank erosion ) , erosi ini menyebabkan adanya pengkikisan tanah pada tebing-tebing sungai dan penggerusan dasar sungai. Erosi ini terjadi biasanya pada saat terjadi banjir ,kemudian terjadi gerusan tebing dan dasar sungai yang kemudian terjadi tanah longsor. Erosi tebing sungai dipengaruhi oleh : a). Kecepatan aliran d). Kedalaman dan lebar sungai b). Kondisi vegetasi sepanjang tebing e). Bentuk alur sungai c). Kegiatan bercocok tanam f). Tektur tanah dipinggir sungai. FAKTOR-FAKTOR PENENTU EROSI Erosi terjadi karena adanya “tenaga kinetik air” yang jatuh dipermukaan tanah. KE = tenaga kinetik ( ) m= masa air ( ) V = kecepatan jatuhnya air ( )
  • 73.
    hujan yang jatuhakan mengalami gesekan dengan udara dan gaya pengapungnya akibat udara yang dipindahkan, padaa saat jatuhnya air sudah konstan berarti gaya gesek + gaya pengapungan = gaya gravitasi . Kecepatan konstan dapat dihitung dengan rumus Dimana : Vt = kecepatan konstan g = gravitasi r = radius butiran tetesan air hujan m= kerapatan udara = berat jenis udara P = berat jenis tetesan air Erovisitas air hujan dipengaruhi oleh intensitas hujan KE = 210,10 + 89 ( log i ) KE = energi kinetik ( Kg/m) dan i = intensitas hujan (Cm/jam)
  • 74.
    FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHIBESARNYA EROSI 1). Iklim 3). Topografi 2). Sifat-sifat tanah 4). Vegetasi penutup tanah 1). Iklim bersifat langsung akibat tenaga kinetik hujan dan tidak langsung. a). Intesitas hujan dalam waktu pendek akan beda dengan waktu yang cukup lama b). Tidak langsung dipengaruhi oleh pertumbuhan vegetasi. 2). Sifat-sifat tanah a). Tekstur tanah pasir ( sand ), tanah liat ( clay ) ,tanah debu ( silt ) b). Unsur organik berupa limbah tanaman dan hewan yang cenderung memperbaiki tekstur tanah c). Struktur tanah struktur tanah granular dan lepas mengurangi air larian , dan memacu tumbuhnya vegetasi. d). Permeabilitas tanah tanah yang mempunyai permeabilitas tinggi akan meningkatkan infiltrasi dan mengurang air larian.
  • 75.
    3). Topografi faktoryang utama adalah kemiringan dan panjang lereng. 4). Vegetasi penutup tanah a). Melindungi tanah dari tenaga kinetik b). Menurunkan air larian c). Mempertahankan partikel-partikel tanah pada tempatnya d). Mempertahankan kemantapan tanah dalam menyerap air PENCEGAHAN EROSI BEBERAPA CARA PENCEGAHAN TIMBULNYA EROSI ADALAH : 1). Menghindari praktek bercocok tanam yang menurunkan permeabillitas tanah 2). Mengusahakan permukaan tanah dilindungi oleh vegetasi serapat mungkin 3). Menghindari pembalakan hutan dan penggembalaan ternak pada tanah berkemiringan terjal 4). Merencanakan dengan baik pembuatan jalan didaerah rawan erosi 5). Merencanakan teknik-teknik pengendalian erosi didalam pertanian dan meningkatkan laju infiltrasi
  • 76.
    PENCEGAHAN EROSI “CARAVEGETATIF” untuk menanam vegetasi harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a). Tanah dan curah hujan cukup memadai b). Jenis tanaman c).jumlah biji yang ditanam harus cukup dan ditanam sesuai dengan besar kecilnya biji d). Persiapan lapangan yang baik PENCEGAHAN EROSI “CARA MEKANIK” Pencegahan erosi cara mekanik yang umum diterapkan adalah: a). Membuat bangunan terjunan ( drop structures ) b). Membuat teras c). Pengendali jurang ( gully plugs ) d). Saluran pembuangan ( contour trenches ) e). Dam penahan ( check dams ) SEDIMENTASI Sedimentasi adalah erosi yang ditranspor oleh aliran permukaan, yang kemudian masuk kesungai-sungai dan dari sungai bisa masuk ke waduk, saluran, lahan pertanian, perikanan.
  • 77.
    sedimen melayang Sedimenmelompat sedimen melompat sedimen merayap Tanah liat dan debu akan terlarut ( wash load ) , pasir akan melompat (jumping load ) dan gravel akan merayap ( bed load )
  • 78.
    Besarnya tanspor sedimendalam sungai merupaka fungsi dari “ suplai sedimen dan energi aliran sungai “ ( stream energi ) Ketika besarnya energi aliran lebih besar dari suplai sedimen maka akan terjadilah degradasi sungai. Ketika suplai sedimen lebih besar dari energi aliran sungai maka terjadi agradasi sungai. Selama periode aliran besar ( stormflow events ), transpor sedimen juga meningkat atau laju degradasi sungai meningkat. Ketika debit aliran menurun , laju sedimen juga menurun dan terjadi agradasi sungai. Jenis sedimen Ukuran ( mm ) Liat < 0,0039 Debu 0,0039 – 0,0625 Pasir kecil 0,0625 – 2.0000 Pasir besar 2.0000 – 64.0000
  • 79.
    1. Luas DaerahAliran Sungai. Bentuk DAS memanjang dan sempit akan menghasilkan aliran yang lebih kecil bila dibandingkan dengan DAS bentuk melebar atau melingkar. Hal tersebut terjadi karena waktu konsentrasi pada DAS memanjang mebutuhkan waktu lebih lama. Faktor bentuk juga dapat mempengaruhi aliran terutama apabila hujan tidak merata diseluruh DAS. a.DAS memanjang a.DAS melebar Curah hujan Curah hujan Hidrograf aliran air
  • 80.
    3. Tata gunalahan. Pengaruh tata guna lahan terhadap alian permukaan dinyatakan dalam koefisien aliran ( C ) yang berkisar 0 – 1 C = 0 berarti semua air terinfiltrasi kedalam tanah. C = 1 berati semua air hujan mengalir ke permukaan tanah. Semakin rusak kondisi DAS nilai C akan mendekati 1 Metode untuk memperkirakan aliran permukaan puncak umum dipakai adalah Qp = 0,0028. C. I. A dimana : Qp = aliran permukaan ( m3/dt ) I = Intensitas hujan ( mm/jam ) A = luas area (dalam ha )
  • 81.
    PENGUKURAN DEB ITALIRAN Pengukuran debit dapat dilakukan denga dua cara : 1. Pengukuran debit secara langsung 2. Pengukuran debit tidak langsung ( Manning , Chesy , Darcy Weisbach dan Hanzen Wileam) , akan dipelajari pada mata kuliah hidrolika. Syarat – syarat pengukuran debit : 1. Lokasi pengukuran. 2. Jumlah dan waktu pengukuran. 3. Peralatan ,tenaga dan biaya. 1. Lokasi pengukuran a.tampang mempunyai pola aliran seragam, dengan kecepatan 0,20-2,50 m/dt b.tidak terpengaruh peninggian muka air c.kedalaman air cukup ( > 0,20 m ) d.dihindari aliran turbulen ( yang disebabkab oleh batu-batu,vegetasi, penyem-pitan lebar sungai e.penampang pengukuran debit sebaiknya dekat dengan pos duga air f. Penampang pengukuran harus mampu melewatkan debit banjir
  • 82.
    g.pada alur sungaiyang setabil h.mudah didatangi untuk setiap musim i. adanya penampang kendali agar dapat berfungsi sebagai lokasi pengukuran debit dan peninggi muka air yang baik j. Sesuai dengan perencanaan 2. Jumlah dan waktu pengukuran Untuk mendapatkan gambaran lengkung debit, minimum jumlah pengukuran debit 10 buah dimulai dari aliran terendah sampai aliran tertinggi. Faktor-faktor yang mempengaruhi : a.Interval keadaan tinggi muka air debit terkecil dan terbesar b.Stabilitas penampang kendali c.Tujuan penggunaan data d.Freuensi terjadinya banjir e.Ketelitian pengukuran data debit yang telah diperoleh f.Kemungkinan mengkalibrasi alat ukur arus 3.Peralatan ,tenaga pelaksana dan dana.
  • 83.
    1). Alat ukurkecepatan aliran, alat ukur waktu dan alat hitung putaran baling –baling ( counter ). 2). Alat ukur kedalaman aliran ( sounding equipment ). 3). Alat ukur lebar aliran ( witdh-measuring equipment ). 4). Alat perakitan ( equipment assemblies ). 5). Alat ukur tambahan ( miscellaneus eqoipment ). 6). Alat transportasi lapangan. b. Tenaga pelaksana Tenaga pelaksana harus sesuai dengan keahlian bidang tugas masing-masing untuk melaksanakan tugas pengukuran dari jenis tersebut pada point a. c. Dana Biaya pengukuran harus direncanakan terlebih dahulu baik untuk peralatan,tenaga dan transportasinya. PELAKSANAAN PENGUKURAN DEBIT Prinsip pengukuran debit meliputi : 1. Mengukur luas penampang basah 2. Mengukur kecepatan aliran 3. Mengukur tinggi muka air
  • 84.
    1. Mengukur luaspenampang basah. a).pengukuran lebar aliran menggunakan (perahu, kabel, roll meter) b).pengukuran kedalaman air ( jarak dibuat serapat mungkin supaya luas bagian penampang tidak lebih dari 20 % luas total penampang basah. b1 b2 b3 b4 b5 b6 d1 d2 Posisi pengukuran 0,20 d dan 0,80 d dari permukaan air. rumus yang dipakai V = a.N + b d3 d4 d5
  • 85.
    2. Mengukur kecepatanaliran Kecepatan aliran diperoleh dari kecepatan rata-rata, yang didapat dari pengukuran pada tiap-tiap bagian penampang basah dengan cara: a). Mengukur jumlah putaran baling-baling Indoesia, Selandia Baru 40 – 70 detik Perancis 40 – 60 detik Jerman 50 detik b). Jumlah putaran belum pasti misal di Belanda putaran baling-baling sebanyak 100 putaran diperlukan beberapa lama waktu berputar, di Kanada mencoba de ngan waktu 30 detik menghasilkan beberapa putaran. c). Penentuan jumlah vertikal dengan mempertimbangkan : - keadaan sebaran air - bentuk profil ( dangkal, dalam atau tidak teratur ) - waktu yang tersedia - pengalaman team pengukukur Contoh : 1. Inonesia,Australia dan Kanada minimum 20 vertikal 2. Inggris minimum 10 vertikal untuk sungai kecil dan 20 vertikal utk sungai besar
  • 87.
    3. New Zealand10 – 20 vertikal 4. Amerika Serikat 20 – 30 vertikal Pengukuran kecepatan dapat dilakukan dengan : 1. Metode satu titik a. Metode 0,60 kedalaman Pengukuran ini dilakukan apabila: -kedalaman air0,25 – 0,76 m -aliran air banyak membawa sampah -ada sebab lain alat pengukur arus tidak dapat diletakan pada kedalaman 0,80m -apabila tinggi muka air cepat berubah b. Metode 0,50 kedalaman c. Metode 0,20 kedalaman ( biasanya utk pngukuran banjir) 2. Metode dua titik diterapkan pada sungai yang kedalamanna > 0,76 m
  • 88.
    3. metode 3titik metode ini gabungan antara metode 1 dan 2 4. metode 5 titik Catatan : Vs = kecepatan aliran permukaan Vb = kecepatan aliran dasar 5. metode bawah permukaan pendekatan grafik kurva kecepatan
  • 89.
    Dimana : d= kedalaman aliran ( m ) A = luas bidang kecepatan aliran ( m2 ) V = kecepatan aliran ( m/detik ) Pada umumnya dilakukan pada kedalaman 1). 0,10; 0,20 ; 0,40 ; 0,60 ; 0,80 ; 0,90 atau 2). 0,10; 0,20; 0,30; 0,40; 0,50; 0,60; 0,70; 0,80; 0,90 d L u as A (untuk dA
  • 98.
    Koreksi debit 1.Koreksi kedalaman a) berdasarkan faktor koreksi k Dimana: b) berdasarkan tabel koreksi Tabel : koreksi debit NO. h/d k Keterangan 1 0,10 0,86 h= kedalaman pelampung 2 0,25 0,88 D=kedalaman aliran 3 0,50 0,90 Nilai k=0,85 adalah yang umum digu- 4 0,75 0,94 Nakan. 5 0,95 0,98
  • 99.
    a) Koreksi kedalamandilakukan apabila sudut simpangan lebih besar 5 derajat dan lebih kecil 30 derajat Pengukuran debit dengan pelampung 1) Alat ukur kecepatan aliran a). Pelampung bahan yang dapat mengapung ,dapat digunakan kayu 15Cm-30Cm tebal 5 Cm atau bahan lain yang dapat mengapung. b). Pelampung tangkai yang sebagian tenggelam a) b) h h d d h < 0,25 d h > 0,25 d
  • 100.
    2). Alat ukurpenampang basah a) . Alat ukur lebar : pita meter , kabel ukur lebar b) . Alat ukur kedalaman : batang duga kedalaman , kabel duga kedalaman. 3). Peralatan yang lain : stop watch, rambu-rambu, peralatan aba-aba, alat-alat penyipat ruang. Pemilihan lokasi : 1) Alur sungai lurus ( minimum 3 kali lebar sungai ) 2) mudah dicapai pada segala kondisi 3) aliran banjir tidak melimpah 4) dasar sungai stabil 5) mempunyai pola aliran seragam dan mendekati jenis aliran sub kritis 6) tidak terpengaruh oleh peninggian muka aiar 7) lintasan pelampung mudah diamati 8) adanya sarana untuk melepaskan pelampung yang berada disebelah hulu lokasi pengukuran , serti jembatan dll. 9) mudah untuk mendapatkan bahan pelampung. Lebar alur <50 50-100 100-200 200-400 400-800 >800 Jumlah pelampng 3 4 5 6 7 8
  • 101.
    Tabel : jumlahlintasan pelampung Lebar alur (m) <50 50-100 100-200 200-400 400-800 >800 Jumlah pelampng 3 4 5 6 7 8 Tabel : bagian alur sungai yang lurus Lebar alur (m) <5 10 15 20 30 40 50 75 Arus lurus (m) 20 30 40 50 60 70 80 90 Batas minimun lintasan pelampung adalah 3, dan apabila memungkinkan dapat dibuat 5 lintasan. Jarak pelepasa pelampung 10 m-20 m disebelah hulu awal pengukuran.
  • 102.
    PERHITUNGAN PRESIPITASI RATA-RATA Alat-alat ukur (stasiun curah hujab ) dipasang pada kira-kira luas areal DAS 700 Km2 (250 mil2). Untuk luas daerah yang sangat luas dipasang dengan beberapa buah tempat alat ukur. Salah satu cara adalah dengan metode “THIESSEN”, yaitu dengan menghubungkan stasiun-stasiun yang berdekatan dengan garis-garis lurus,sehingga membentuk poligon. Untuk menentukan luas areal yang terwakili oleh satu alat ukur dari garis-garis poligon dibuat garis tegak lurus ditengah-tengahnya . Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar dibawah ini. A B C D E G F H I
  • 103.
    Tabel Curah hujandan luas DAS.(Methode poligon Thiessen) Stasiun Luas Thiessen (Km2) = Curah hujan (mm) Produk (Km2.mm) A B 295 250 1130 1330 333.350 332.500 C 150 1320 198.000 D 160 980 156.800 E 200 1500 300.000 F 202 890 179.780 G H 225 213 1610 1100 362.250 234.300 I Jumlah 350 2.045 1430 11.290 500.500 2.597.480
  • 104.
    2. METODE ISOHYET Metode ini digambarkan dengan pete Isohyet yang menunjukan “kontur presipitasi”. Karena presipitasi pada elevasi yang lebih tinggi biasanya semakin besar ,maka kontur Isohyet dapat disesuaikan dengan kontur elevasi. Untuk menghitung presipitasi rata-rata dari peta Isohyet maka luas daerah yang dibatasi oleh dua kontur dikalikan presipitasi rata-rata antara dua kontur Isohyet tersebut. Jumlah perkalian tersebut dibagi dengan jumlah luas menghasilkan presipitasi rata-rata. 5,30 4.60 4,65 4,28 4,46 3,50 3,86 3,30 5,60 5,90 5,40 5,00 5,50 6,00 3,50 4,00 4,50 6,30
  • 105.
    Tabel curah hujandan luas DAS ( Methode Isohyet). ISOHYET LUAS DIANTAR ISOHYET ( KM2) PRESIPITASI RATA-RATA (mm) PRODUK (Km.mm) 3 3,5 53 850 45.050 4,0 100 950 95.000 4,5 250 1.080 270.000 5,0 150 1.200 180.000 5,5 175 1.330 232.750 6,0 6,5 225 300 1400 1.575 328.500 472.500 Jumlah 1.253 1.295,93 1.623.800
  • 106.

Editor's Notes

  • #2 BAHAN KULIAH HIDROLOGI
  • #3 Hidrolika II