LAPORAN PRAKTIKUM 
EKSPERIMEN FISIKA 
“Hambatan Dalam Amperemeter dan Voltmeter” 
Oleh : 
Anggota Kelompok VII ( Tujuh) 
· Dwi Alfina S. (A1E010021) 
· Vivin Sri Rejeki (A1E0100 ) 
· Yarni Sri Yanti (A1E0100 ) 
· Pertiwi Riastuti (A1E010009) 
· Mito Zakli (A1E0100 ) 
Dosen Pengampu : M. Sutarno, M.Si 
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN 
UNIVERSITAS BENGKULU 
2013 
BAB I 
PENDAHULUAN 
1. Latar Belakang 
Dua alat ukur listrik yang cukup penting peranannya akan dibahas dalam 
modul ini. Kedua alat ukur itu adalah alat ukur arus listrik dan alat ukur tegangan 
listrik. Alat ukur arus listrik biasa disebut amperemeter dan alat ukur tegangan listrik 
disebut voltmeter. 
Terdapat pembedaaan yang mencolok dalam penggunaan kedua alat ukur ini. 
Amperemeter dipasang seri terhadap sumber tegangan, sedangkan voltmeter dipasang 
paralel terhadap sumber tegangan. 
Sekarang ini kedua alat ukur tersebut sudah terintegrasikan ke dalam satu alat 
diberi nama multimeter, karena kemampuanya unutk mengukur beberapa besaran 
listrik. Selain kedua besaran di atas, multimeter juga dapat digunakan untuk mengukur 
besarnya hambatan. Hambatan dalam pada amperemeter dan voltmeter bisa diukur. 
Untuk itu akan dibahas mengenai pengukuran hambatan dalam voltmeter dan 
amperemeter. 
2. Rumusan Masalah 
1. Bagaimana cara mengukur hambatan dalam amperemeter ? 
2. Bagaimana cara mengukur hambatan dalam voltmeter ? 
3. Tujuan 
Setelah melakukan percobaan ini anda diharapkan mampu : 
1. Mengukur hambatan dalam amperemeter. 
2. Mengukur hambatan dalam voltmeter.
4. Hipotesis 
1. Untuk mengukur hambatan dalam ampermeter rangkaian volmeter dan 
amperemeter disusun secara paralel 
2. Untuk mengukur hambatan dalam voltmeter rangkaian voltmeter dan hambatan 
disusun secara paralel 
BAB II 
LANDASAN TEORI 
Jika suatu kawat penghantar diberi beda tegangan pada ujung-ujungnya dan diukur 
arus yang melewati penghantar tersebut, maka menurut Hukum Ohm akan dipenuhi 
persamaan : V = I R (1) dengan V merupakan beda tegangan, I adalah arus yang lewat pada 
penghantar dan R hambatan dari penghantar. Persamaan (1) menunjukkan bahwa Hukum 
Ohm berlaku jika hubungan antara V dan I adalah linier. Arus listrik dapat diukur dengan 
menggunakan Ampermeter. Rangkaian dasar dari Ampermeter DC adalah seperti pada 
gambar (1) : 
Beda tegangan listrik diukur dengan menggunakan Voltmeter DC yang mempunyai 
rangkaian dasar pada gambar 2 :
Dengan : 
Rm = hambatan dalam dari petunjuk skala (Ω) 
Rs = hambatan shunt dari Ampermeter (Ω) 
Rv = hambatan pengali dari Voltmeter (Ω) 
Im = arus simpangan skala penuh dari petunjuk skala (A) 
Is = arus shunt (A) 
V = tegangan pada voltmeter (volt) 
I = arus yang lewat ampermeter (A) 
Pengukuran Hambatan Dalam Amperemeter 
Hambatan dalam sebuah amperemeter dapat diukur atau dicari nilainya dengan dua 
cara. Cara pertama adalah dengan menganggap dan memperlakukan amperemeter sebagai 
sebuah hambatan beban yang kemudian diberi arus dari sebuah ggl dan kemudian diukur 
tegangannya seperti pada gambar 8.11. cara kedua serupa dengan cara pertama, tetapi 
volmeter pada cara pertama itu diganti dengan sebuah hambatan yang sudah diketahui 
nilainya, seperti pada gambar 8.12. 
Untuk rangkaian pada gambar 8.11, nilai hambatan dalam amperemeter dapat dicari dengan 
persamaan,
Dengan V adalah tegangan yang terbaca pada voltmeter, dan i adalah kuat arus yang terbaca 
pada amperemeter. 
Untuk rangkaian pada 8.12, nilai hambatan dalam amperemeter dapat dicari dengan 
persamaan, 
Dengan adalah kuat arus yang terbaca pada amperemeter sebelum R dipasang dan adalah 
kuat arus yang terbaca pada amperemeter setelah R dipasang. 
Pengukuran Hambatan Dalam Voltmeter 
Hambatan dalam sebuah voltmeter dapat diukur dengan dua cara. Cara pertama 
adalah dengan menganggap atau memperlakukan voltmeter sebagai sebuah hambatan beban 
yang kemudian diberi arus dari sebuah ggl dan kemudian diukur kuat arusnya seperti pada 
gambar 8.13. cara kedua serupa dengan cara pertama, tetapi amperemeter pada cara pertama 
itu diganti dengan sebuah hambatan yang sudah diketahui nilainya, seperti pada gambar 8.14. 
Untuk rangkaian pada gambar 8.13, nilai hambatan dalam voltmeter dapat dicari dengan 
persamaan,
Dengan V adalah tegangan yang terbaca pada voltmeter, dan i adalah kuat arus yang terbaca 
pada amperemeter. 
Untuk rangkaian pada 8.14, nilai hambatan dalam voltmeter dapat dicari dengan persamaan, 
Dengan adalah beda potensial yang terbaca pada amperemeter sebelum R dipasang dan 
adalah beda potensial yang terbaca pada voltmeter setelah R dipasang.
BAB III 
METODOLOGI EKSPERIMEN 
1. Alat dan Bahan 
· Voltmeter DC 
· Amperemeter DC 
· Power supply 0-12 Volt DC 
· Rheostat 1 A; 20 ohm 
· Saklar 
· Hambatan 
· Kabel penghubung 
2. Langkah Percobaan 
a. Menentukan hambatan dalam dari ampermeter. 
1. Susun rangkaian seperti gambar 8.11 dan 8.12 dengan R adalah hambatan 
standar. 
2. Tentukan besar tegangan yang digunakan dan usahakan agar selalu tetap selama 
percobaan. 
3. Ganti R sebanyak 5 kali. 
4. Catat arus yang terbaca pada ampermeter. 
b. Mengukur hambatan dalam dari Voltmeter
1. Susun rangkaian seperti gambar 8.13 dan 8.14 dengan R adalah hambatan 
standar. 
2. Tentukan besar arus yang lewat dan jaga supaya selalu konstan selama 
percobaan. 
3. Ubah tegangan sumber dan R sebanyak 5 kali. 
4. Catat besar tegangan pada voltmeter. 
 
3. Gambar Percobaan 
Gambar 8.11 Gambar 8.12 (sebelum dipasang R)
Gambar 8.13 
Gambar 8.14 (setelah dipasang R) 
BAB IV 
HASIL DAN PEMBAHASAN 
1. Tabel hasil pengamatan 
Gambar 8.11
No. I (A) V (volt) RA (Ω) 
1 30.10-3 28.10-3 0,93 
2 33.10-3 30.10-3 0,90 
3 35.10-3 32.10-3 0,91 
4 37.10-3 34.10-3 0,91 
5 39.10-3 36.10-3 0,92 
Gambar 8.12 
No. I1 (A) I2 (A) RA (Ω) 
1 30.10-3 28.10-3 3,357 
2 33.10-3 31.10-3 3,032 
3 35.10-3 32.10-3 4,406 
4 37.10-3 34.10-3 4,147 
5 40.10-3 37.10-3 3,811 
Catatan : gambar 8.11 dan 8. 12 merupakan gambar yang pengukuran amperemeter. 
Gambar 8.13 
No. I (A) V (volt) RA (Ω) 
1 9.10-6 0,2 22222,2 
2 14.10-6 0,4 28571,4 
3 18.10-6 0,5 27777,7 
4 24.10-6 0,7 29166,6 
5 30.10-6 0,8 26666,6 
Gambar 8.14
No. V1 (A) V2 (A) RA (Ω) 
1 0,3 0,2 5000 
2 0,5 0,4 2500 
3 0,6 0,4 5000 
4 0,8 0,6 3333,3 
5 0,9 0,7 2857,2 
Catatan : gambar 8.13 dan 8. 14 merupakan gambar yang pengukuran Voltmeter.
2. Pembahasan 
· Untuk pengukuran hambatan dalam ampermeter 
Pada gambar 8.11 
Dapat dilihat dari tabel hasil pengamatan diatas dapat diketahui nilai hambatan dalam 
ampermeter pada setiap 5 kali percobaan adalah berbanding lurus dengan Tegangan. 
Dan berbanding terbalik dengan arus. 
Pada gambar 8.12 
Dapat dilihat bahwa hambatan dalam pada ampermeter bergantung pada arus dan 
hambatan yang diberikan. 
Seharusnya nilai RA pada cara 1 dan 2 menghasilkan nilai yang sama, tapi 
disini berbeda selisih sekitar 2,500-an Ω. Kesalahan hasil data tersebut adalah karena 
hambatan tetap R yang harus digunakan tidak disertakan dalam buku panduan 
praktikum. Sehingga yang kami gunakan adalah hambatan tetap 47 Ω. Untuk nilai RA 
pada kedua cara tersebut agar tidak terlalu selisih jauh, hambatan tetap yang 
diperlukan adalah 0,22 Ω. Tapi hambatan tetap yang tersedia di KIT Listrik dan 
Magnet hanya 47 Ω, 100 Ω, 10 kΩ, dan 470 kΩ. Kami tidak menemukan 0,22 Ω. 
· Untuk pengukuran hambatan dalam Voltmeter 
Pada gambar 8.13 
Dapat dilihat bahwa yaitu hambatan dalam berbanding lurus dengan 
tegangan dan berbanding terbalik dengan kuat arus. 
Pada gambar 8.14
Dapat dilihat bahwa yaitu hambatan dalam bergantung pada tegangan 
dan hambatan yang diberikan . 
Seharusnya nilai RV pada cara 1 dan 2 menghasilkan nilai yang sama, tapi 
disini berbeda selisih sekitar 18000-an Ω. Kesalahan hasil data tersebut adalah karena 
hambatan tetap R yang harus digunakan tidak disertakan dalam buku panduan 
praktikum. Sehingga yang kami gunakan adalah hambatan tetap 10 kΩ. Untuk nilai 
RV pada kedua cara tersebut agar tidak terlalu selisih jauh, hambatan tetap yang 
diperlukan adalah 47 kΩ. Tapi hambatan tetap yang tersedia di KIT Listrik dan 
Magnet hanya 47 Ω, 100 Ω, 10 kΩ, dan 470 kΩ. Kami tidak menemukan 47 kΩ. 
BAB V 
PENUTUP 
1. Kesimpulan 
Berdasarkan analisa data dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa 
1) Untuk menentukan hambatan dalam amperemeter dapat digunakan 2 cara, 
yaitu: 
a. Cara pertama adalah pengukuran langsung dengan menggunakan 
voltmeter dimana amperemeter dan voltmeter dipasang secara paralel. 
b. Cara kedua adalah pengukuran bertahap dengan hambatan tetap R. 
Untuk mengetahui nilai hambatan dalam amperemeter digunakan rumus. 
2) untuk mengukur hambatan dalam voltmeter digunakan rumus
2. Saran 
Sebelum melaksanakan percobaan, hendaknya mahasiswa mempelajari dan 
memahami konsep dan prinsip dari bahan praktikum.

Hambatan dalam-amperemeter-dan-voltmeter

  • 1.
    LAPORAN PRAKTIKUM EKSPERIMENFISIKA “Hambatan Dalam Amperemeter dan Voltmeter” Oleh : Anggota Kelompok VII ( Tujuh) · Dwi Alfina S. (A1E010021) · Vivin Sri Rejeki (A1E0100 ) · Yarni Sri Yanti (A1E0100 ) · Pertiwi Riastuti (A1E010009) · Mito Zakli (A1E0100 ) Dosen Pengampu : M. Sutarno, M.Si PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
  • 2.
    FAKULTAS KEGURUAN DANILMU PENGETAHUAN UNIVERSITAS BENGKULU 2013 BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Dua alat ukur listrik yang cukup penting peranannya akan dibahas dalam modul ini. Kedua alat ukur itu adalah alat ukur arus listrik dan alat ukur tegangan listrik. Alat ukur arus listrik biasa disebut amperemeter dan alat ukur tegangan listrik disebut voltmeter. Terdapat pembedaaan yang mencolok dalam penggunaan kedua alat ukur ini. Amperemeter dipasang seri terhadap sumber tegangan, sedangkan voltmeter dipasang paralel terhadap sumber tegangan. Sekarang ini kedua alat ukur tersebut sudah terintegrasikan ke dalam satu alat diberi nama multimeter, karena kemampuanya unutk mengukur beberapa besaran listrik. Selain kedua besaran di atas, multimeter juga dapat digunakan untuk mengukur besarnya hambatan. Hambatan dalam pada amperemeter dan voltmeter bisa diukur. Untuk itu akan dibahas mengenai pengukuran hambatan dalam voltmeter dan amperemeter. 2. Rumusan Masalah 1. Bagaimana cara mengukur hambatan dalam amperemeter ? 2. Bagaimana cara mengukur hambatan dalam voltmeter ? 3. Tujuan Setelah melakukan percobaan ini anda diharapkan mampu : 1. Mengukur hambatan dalam amperemeter. 2. Mengukur hambatan dalam voltmeter.
  • 3.
    4. Hipotesis 1.Untuk mengukur hambatan dalam ampermeter rangkaian volmeter dan amperemeter disusun secara paralel 2. Untuk mengukur hambatan dalam voltmeter rangkaian voltmeter dan hambatan disusun secara paralel BAB II LANDASAN TEORI Jika suatu kawat penghantar diberi beda tegangan pada ujung-ujungnya dan diukur arus yang melewati penghantar tersebut, maka menurut Hukum Ohm akan dipenuhi persamaan : V = I R (1) dengan V merupakan beda tegangan, I adalah arus yang lewat pada penghantar dan R hambatan dari penghantar. Persamaan (1) menunjukkan bahwa Hukum Ohm berlaku jika hubungan antara V dan I adalah linier. Arus listrik dapat diukur dengan menggunakan Ampermeter. Rangkaian dasar dari Ampermeter DC adalah seperti pada gambar (1) : Beda tegangan listrik diukur dengan menggunakan Voltmeter DC yang mempunyai rangkaian dasar pada gambar 2 :
  • 4.
    Dengan : Rm= hambatan dalam dari petunjuk skala (Ω) Rs = hambatan shunt dari Ampermeter (Ω) Rv = hambatan pengali dari Voltmeter (Ω) Im = arus simpangan skala penuh dari petunjuk skala (A) Is = arus shunt (A) V = tegangan pada voltmeter (volt) I = arus yang lewat ampermeter (A) Pengukuran Hambatan Dalam Amperemeter Hambatan dalam sebuah amperemeter dapat diukur atau dicari nilainya dengan dua cara. Cara pertama adalah dengan menganggap dan memperlakukan amperemeter sebagai sebuah hambatan beban yang kemudian diberi arus dari sebuah ggl dan kemudian diukur tegangannya seperti pada gambar 8.11. cara kedua serupa dengan cara pertama, tetapi volmeter pada cara pertama itu diganti dengan sebuah hambatan yang sudah diketahui nilainya, seperti pada gambar 8.12. Untuk rangkaian pada gambar 8.11, nilai hambatan dalam amperemeter dapat dicari dengan persamaan,
  • 5.
    Dengan V adalahtegangan yang terbaca pada voltmeter, dan i adalah kuat arus yang terbaca pada amperemeter. Untuk rangkaian pada 8.12, nilai hambatan dalam amperemeter dapat dicari dengan persamaan, Dengan adalah kuat arus yang terbaca pada amperemeter sebelum R dipasang dan adalah kuat arus yang terbaca pada amperemeter setelah R dipasang. Pengukuran Hambatan Dalam Voltmeter Hambatan dalam sebuah voltmeter dapat diukur dengan dua cara. Cara pertama adalah dengan menganggap atau memperlakukan voltmeter sebagai sebuah hambatan beban yang kemudian diberi arus dari sebuah ggl dan kemudian diukur kuat arusnya seperti pada gambar 8.13. cara kedua serupa dengan cara pertama, tetapi amperemeter pada cara pertama itu diganti dengan sebuah hambatan yang sudah diketahui nilainya, seperti pada gambar 8.14. Untuk rangkaian pada gambar 8.13, nilai hambatan dalam voltmeter dapat dicari dengan persamaan,
  • 6.
    Dengan V adalahtegangan yang terbaca pada voltmeter, dan i adalah kuat arus yang terbaca pada amperemeter. Untuk rangkaian pada 8.14, nilai hambatan dalam voltmeter dapat dicari dengan persamaan, Dengan adalah beda potensial yang terbaca pada amperemeter sebelum R dipasang dan adalah beda potensial yang terbaca pada voltmeter setelah R dipasang.
  • 7.
    BAB III METODOLOGIEKSPERIMEN 1. Alat dan Bahan · Voltmeter DC · Amperemeter DC · Power supply 0-12 Volt DC · Rheostat 1 A; 20 ohm · Saklar · Hambatan · Kabel penghubung 2. Langkah Percobaan a. Menentukan hambatan dalam dari ampermeter. 1. Susun rangkaian seperti gambar 8.11 dan 8.12 dengan R adalah hambatan standar. 2. Tentukan besar tegangan yang digunakan dan usahakan agar selalu tetap selama percobaan. 3. Ganti R sebanyak 5 kali. 4. Catat arus yang terbaca pada ampermeter. b. Mengukur hambatan dalam dari Voltmeter
  • 8.
    1. Susun rangkaianseperti gambar 8.13 dan 8.14 dengan R adalah hambatan standar. 2. Tentukan besar arus yang lewat dan jaga supaya selalu konstan selama percobaan. 3. Ubah tegangan sumber dan R sebanyak 5 kali. 4. Catat besar tegangan pada voltmeter. 3. Gambar Percobaan Gambar 8.11 Gambar 8.12 (sebelum dipasang R)
  • 9.
    Gambar 8.13 Gambar8.14 (setelah dipasang R) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Tabel hasil pengamatan Gambar 8.11
  • 10.
    No. I (A)V (volt) RA (Ω) 1 30.10-3 28.10-3 0,93 2 33.10-3 30.10-3 0,90 3 35.10-3 32.10-3 0,91 4 37.10-3 34.10-3 0,91 5 39.10-3 36.10-3 0,92 Gambar 8.12 No. I1 (A) I2 (A) RA (Ω) 1 30.10-3 28.10-3 3,357 2 33.10-3 31.10-3 3,032 3 35.10-3 32.10-3 4,406 4 37.10-3 34.10-3 4,147 5 40.10-3 37.10-3 3,811 Catatan : gambar 8.11 dan 8. 12 merupakan gambar yang pengukuran amperemeter. Gambar 8.13 No. I (A) V (volt) RA (Ω) 1 9.10-6 0,2 22222,2 2 14.10-6 0,4 28571,4 3 18.10-6 0,5 27777,7 4 24.10-6 0,7 29166,6 5 30.10-6 0,8 26666,6 Gambar 8.14
  • 11.
    No. V1 (A)V2 (A) RA (Ω) 1 0,3 0,2 5000 2 0,5 0,4 2500 3 0,6 0,4 5000 4 0,8 0,6 3333,3 5 0,9 0,7 2857,2 Catatan : gambar 8.13 dan 8. 14 merupakan gambar yang pengukuran Voltmeter.
  • 12.
    2. Pembahasan ·Untuk pengukuran hambatan dalam ampermeter Pada gambar 8.11 Dapat dilihat dari tabel hasil pengamatan diatas dapat diketahui nilai hambatan dalam ampermeter pada setiap 5 kali percobaan adalah berbanding lurus dengan Tegangan. Dan berbanding terbalik dengan arus. Pada gambar 8.12 Dapat dilihat bahwa hambatan dalam pada ampermeter bergantung pada arus dan hambatan yang diberikan. Seharusnya nilai RA pada cara 1 dan 2 menghasilkan nilai yang sama, tapi disini berbeda selisih sekitar 2,500-an Ω. Kesalahan hasil data tersebut adalah karena hambatan tetap R yang harus digunakan tidak disertakan dalam buku panduan praktikum. Sehingga yang kami gunakan adalah hambatan tetap 47 Ω. Untuk nilai RA pada kedua cara tersebut agar tidak terlalu selisih jauh, hambatan tetap yang diperlukan adalah 0,22 Ω. Tapi hambatan tetap yang tersedia di KIT Listrik dan Magnet hanya 47 Ω, 100 Ω, 10 kΩ, dan 470 kΩ. Kami tidak menemukan 0,22 Ω. · Untuk pengukuran hambatan dalam Voltmeter Pada gambar 8.13 Dapat dilihat bahwa yaitu hambatan dalam berbanding lurus dengan tegangan dan berbanding terbalik dengan kuat arus. Pada gambar 8.14
  • 13.
    Dapat dilihat bahwayaitu hambatan dalam bergantung pada tegangan dan hambatan yang diberikan . Seharusnya nilai RV pada cara 1 dan 2 menghasilkan nilai yang sama, tapi disini berbeda selisih sekitar 18000-an Ω. Kesalahan hasil data tersebut adalah karena hambatan tetap R yang harus digunakan tidak disertakan dalam buku panduan praktikum. Sehingga yang kami gunakan adalah hambatan tetap 10 kΩ. Untuk nilai RV pada kedua cara tersebut agar tidak terlalu selisih jauh, hambatan tetap yang diperlukan adalah 47 kΩ. Tapi hambatan tetap yang tersedia di KIT Listrik dan Magnet hanya 47 Ω, 100 Ω, 10 kΩ, dan 470 kΩ. Kami tidak menemukan 47 kΩ. BAB V PENUTUP 1. Kesimpulan Berdasarkan analisa data dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa 1) Untuk menentukan hambatan dalam amperemeter dapat digunakan 2 cara, yaitu: a. Cara pertama adalah pengukuran langsung dengan menggunakan voltmeter dimana amperemeter dan voltmeter dipasang secara paralel. b. Cara kedua adalah pengukuran bertahap dengan hambatan tetap R. Untuk mengetahui nilai hambatan dalam amperemeter digunakan rumus. 2) untuk mengukur hambatan dalam voltmeter digunakan rumus
  • 14.
    2. Saran Sebelummelaksanakan percobaan, hendaknya mahasiswa mempelajari dan memahami konsep dan prinsip dari bahan praktikum.