FINANCE
FOR NON-FINANCE
Ditulis Oleh:
M. Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr.
Managing Director HARD-Hi SMART CONSULTING
Website : www.hardhismart-consulting.blogspot.com
Contact : 0878-7063-5053
2
STRUKTUR KEUANGAN &
PERMODALAN PERUSAHAAN
STRUKTUR KEUANGAN
Struktur Keuangan (Financial Structure) Perusahaan adalah Sisi Sebelah Kanan
(Passiva) dari Laporan Neraca (Balance Sheet) Perusahaan.
Dengan demikian, Struktur Keuangan adalah seluruh Perkiraan (Account) Hutang
dan Modal Perusahaan.
Struktur Keuangan = Hutang + Modal = Passiva
STRUKTUR PERMODALAN
Struktur Permodalan (Capital Structure) adalah Bagian dari Struktur Keuangan
perusahaan, yakni Komponen Modal (Equity) Perusahaan.
CONTOH 1
Apabila komposisi persediaan adalah sebagai berikut :
- barang jadi (siap dijual) = 10%
- barang setengah jadi = 70%
- bahan baku (RM) = 20%
maka orang keuangan akan menghendaki agar proses produksi lebih ditekankan
pada penyelesaian barang setengah jadi menjadi barang jadi daripada bahan
baku menjadi barang setengah jadi.
3
CONTOH 2
Apabila komposisi suatu harta lancar (current asset) adalah sebagai berikut :
- kas = 5%
- piutang = 75%
- persediaan = 20%
maka orang keuangan akan menekankan pada pentingnya penagihan dan
pengetatan pada syarat pembayaran atas penjualan kreditnya.
CONTOH 3
Dalam kondisi dimana perusahaan tengah menghadapi kesulitan likuiditas, maka
orang keuangan lebih memilih menyewa suatu fasilitas (harta tetap : mesin,
peralatan, dsb) daripada harus membeli. Sedangkan orang produksi lebih suka
membeli untuk dimiliki.
CONTOH 4
Dalam perusahaan yang terjadi kesulitan keuangan (financial difficultiy), maka
oramh keuangan lebih menghendaki dilakukannya PHK bagi karyawan yang
sudah lama bekerja dan dengan gaji yang sudah tinggi daripada karyawan baru
yang gajinya relatif masih rendah dibandingkan karyawan lama.
4
MODAL KERJA (WORKING CAPITAL)
PENGERTIAN MODAL KERJA
Modal Kerja (Working Capital) adalah berhubungan erat dengan operasi
perusahaan sehari-hari dan juga menunjukkan Margin of Safety bagi para
kreditur jangka pendek perusahaan. Dengan modal kerja yang cukup
memungkinkan perusahaan dapat beroperasi dengan lebih efisien dan
perusahaan tidak akan mengalami kesulitan.
KONSEP-KONSEP MODAL KERJA
3 (tiga) konsep definisi yang umum digunakan mengenai Modal Kerja, yakni :
1. Konsep Kuantitatif (Quantitatif Concept of Working Capital).
Modal Kerja menurut konsep kuantitatif ini adalah :
“ Seluruh Harta / Aktiva Lancar Perusahaan “.
Jadi, konsep ini menitik-beratkan pada jumlah yang diperlukan untuk
mencukupi kebutuhan dana (fund) bagi operasi jangka pendek perusahaan.
Konsep ini disebut juga dengan Modal Kerja Kotor (Gross Working Capital).
2. Konsep Kualitatif (Qualitatif Concept of Working Capital).
Dalam konsep ini pengertian Modal Kerja adalah “ Kelebihan Harta Lancar
Perusahaan terhadap Hutang Lancarnya ”.
Jadi, Modal Kerja di sini adalah Modal Kerja Bersih (Net Working Capital).
Bersifat kualitatif karena menunjukkan Harta Lancar Harus Lebih Besar dari
Hutang Lancar (Hutang Jangka Pendek) nya.
5
3. Konsep Fungsional (Functional Concept of Working Capital).
Konsep ini menitik-beratkan pada fungsi dari dana (fund) yang dimiliki
perusahaan untuk menghasilkan “Laba Periode Sekarang (Current Income)”.
Namun tidak semua dana digunakan untuk menghasilkan Current Income
tersebut. Ada sebagian dana yang akan digunakan untuk menghasilkan
“Laba Periode Y.A.D.”, yaitu diantaranya : Asset jenis Gedung/Bangunan,
Mesin-mesin, Pabrik, Alat-alat dan aktiva-aktiva tetap lainnya.
Dari aktiva-aktiva tetap tersebut yang menjadi bagian dari Modal Kerja dalam
Periode Berjalan (Current Period) adalah Biaya Penyusutan (Depreciation
Expense).
Jadi Modal Kerja menurut konsep ini adalah : “Seluruh Biaya Penyusutan
dari Aktiva Tetap Perusahaan ditambah Selisih Harta Lancar atas
Hutang Lancar (Modal Kerja Bersih).
Jadi, Kesimpulan Konsep Modal Kerja adalah sebagai berikut :
 KUANTITATIF : Current Assets (disebut sbg: Modal Kerja Kotor).
 KUALITATIF : Current Assets dikurangi dengan Current Liabilities
(disebut sbg: Modal Kerja Bersih).
 FUNGSIONAL : Depreciation of Fixed Assets ditambah dengan
Modal Kerja Bersih.
6
PENTINGNYA MODAL KERJA
1. Sebagian besar waktu perusahaan digunakan untuk mengelola Modal
Kerja, karena masalah modal kerja merupakan masalah sehari-hari (rutin)
bagi perusahaan.
2. Memungkinkan untuk dapat dilunasinya seluruh kewajiban-kewajiban
jangka pendek (Current Liabilities) perusahaan yang telah jatuh tempo
tepat pada waktunya.
3. Memungkinkan untuk dapat melayani pelanggan (Customer) dengan lebih
memuaskan karena tersedianya persediaan dalam jumlah yang cukup
yang dapat memenuhi kebutuhan pelanggan.
4. Memungkinkan bagi perusahaan untuk dapat memberikan syarat
pembayaran (pemberian kredit) yang lebih lunak dan menguntungkan bagi
para pelanggannya.
5. Dana yang tertanam dalam harta lancar biasanya lebih dari 50%
(setengahnya) total harta perusahaan (terutama untuk perusahaan jenis
manufaktur).
6. Peningkatan Penjualan (Sales) berhubungan langsung dan erat sekali
dengan harta lancar perusahaan.
7. Meskipun perusahaan dapat menghindarkan diri dari Investasi dalam
Harta Tetap (Fixed Assets) dengan jalan Menyewa (Leasing) tetapi tidak
dapat menghindari investasi dalam Harta Lancar (Current Asset) yaitu
antara lain : Kas, Piutang dan Persediaan.
8. Memungkinkan bagi perusahaan untuk dapat beroperasi dengan lebih
efisien karena tak ada kesulitan untuk memperoleh barang atau jasa yang
dibutuhkan perusahaan.
7
SUMBER MODAL KERJA (SOURCES OF FUND)
Pada dasarnya, Modal Kerja terdiri dari 2 (dua) bagian pokok, yaitu :
1. Modal Kerja Permanent (Permanent Working Capital).
Yaitu Jumlah Minimum Modal Kerja yang harus tersedia agar perusahaan
dapat berjalan dengan lancar.
2. Modal Kerja Variable (Variable Working Capital).
Yaitu Modal Kerja yang jumlahnya bervariasi dan fleksibel tergantung dari
kebutuhan-kebutuhan di luar aktivitas yang biasa (extraordinary
operation).
 Permanent Working Capital seyogianya dibiayai dari Dana Pemilik
(Stock Holder’s Equity).
 Variable Working Capital boleh dan wajar bila dibiayai dari dana luar
perusahaan (misal: pinjaman dari bank, kredit dari supplier atupun
dana dari pihak ketiga di luar perusahaan).
Jadi, SUMBER-SUMBER MODAL KERJA adalah :
 Kenaikan dalam Modal (Equity), misal :
- Laba Usaha (Profit) atas operasi yang dilakukan.
- Biaya Depresiasi / Amortisasi.
- Emisi Saham Baru
- Keuntungan (Gain) dari penjualan Marketable Security.
 Penurunan dalam Harta Tetap (Fixed Asset), misal :
- Biaya Penyusutan Harta Tetap (Depreciation Expense).
- Penjualan Harta Tetap perusahaan (yang menyebabkan
naiknya Harta Lancar, misal : Kas, Piutang).
8
 Kenaikan dalam Hutang Jangka Panjang (Longterm Debt) :
- Mengeluarkan (Emisi) Obligasi.
- Menambah Pinjaman dari Bank, dsb.
PENGGUNAAN MODAL KERJA (APPLICATION OF FUND)
Penggunaan Modal Kerja adalah Yang mengakibatkan Turunnya Dana Modal
Kerja, yaitu :
1. Turunnya Modal (Equity) :
 Kerugian (Loss) yang diderita perusahaan setelah dikurangi dengan
Biaya Penyusutan.
 (karena biaya penyusutan merupakan bagian dari modal
kerja berdasarkan konsep fungsional).
 Kerugian (Loss) atas penjualan Surat-surat Berharga (Marketable
Securities).
 Pembayaran Dividen kepada Para Pemegang Saham (Stock
Holder).
2. Naiknya Harta Tetap (Fixed Asset) :
 Pembelian Harta Tetap (Gedung, Mesin, Kendaraan, Pabrik, dll).
 Investasi Jangka Panjang (Longterm Investment).
 Pembentukan dana-dana yang merubah jenis perkiraan dari Harta
Lancar menjadi Harta Tetap, seperti :
o Dana Pelunasan Obligasi.
o Dana Pensiun Pegawai.
o Dana Ekspansi, dsb.
9
3. Turunnya Hutang Jangka Panjang (Longterm Debt) :
 Pelunasan atas Hutang-hutang Jangka Panjang.
 Pemotongan (discount) atas rescheduling Hutang J. Panjang.
KEBUTUHAN MODAL KERJA
Faktor-faktor yang mempengaruhi besar-kecilnya modal kerja adalah :
1. Tingkat Operasi Perusahaan.
Tingkat operasi perusahaan dapat diukur dari produksi atau penjualannya.
Semakin tinggi tingkat produksi dan at
ual secara tunai (cash). Semakin lama jangka waktu kreditnya, maka
semakin besar piutang yang terjadi yang berarti pula semakin besar dana
perusahaan yang tertanam dalam piutang tersebut dan tidak dapat
diputarkan (turning over).
Misalnya :
Perusahaan yang tingkat penjualannya Rp. 120 juta per-tahun dengan
jangka waktu kredit rata-rata selama 2 bulan (lamanya piutang baru dapat
tertagih) dan tingkat keuntungan (profit margin) sebesar 10%, maka akan
membutuhkan dana untuk membelanjai piutang tersebut sebesar Rp. 18
juta (=Rp.120.000.000,- / 6 x 0,90).
Bandingkan kalau jangka waktu kreditnya yang hanya selama 1 bulan,
maka dana yang dibutuhkan hanya sebesar Rp.9 juta (=Rp.120.000.000 /
12 x 0,90).
2. Kebijakan Persediaan.
Bagi perusahaan yang membeli bahan baku dalam jumlah yang sedikit
akan membutuhkan modal kerja yang sedikit pula dibandingkan dengan
perusahaan yang melakukan kebijakan pembelian bahan baku yang
banyak. Begitu juga terhadap persediaan barang setengah jadi (work in
10
process) yang besar berarti tertanamnya dana modal kerja perusahaan
dalam persediaan tersebut, dibandingkan dengan bila persediaan barang
setengah jadinya relatif sedikit.
MENGHITUNG KEBUTUHAN MODAL KERJA
Ada beberapa cara (metode) yang biasanya dipakai untuk mengetahui dan
menghitung kebutuhan akan modal kerja. Namun secar umum, kebutuhan modal
kerja dalam satu periode (biasanya satu tahun) di waktu yang akan datang dapat
diperhitungkan sebagai berikut :
Kebutuhan = Periode Perputaran X Rata-rata Pengeluaran
Modal Kerja Modal Kerja Kas Per-periode
Periode Perputaran Modal Kerja :
Dimulai sejak kas diinvestasikan ke dalam komponen-komponen modal kerja
sampai kembali lagi menjadi kas.
Rata-rata pengeluaran kas per-periode :
Adalah hasil perhitungan secara rata-rata dari seluruh pengeluaran kas yang
terjadi untuk melaksanakan kegiatan perusahaan sehari-hari, yang dimulai dari:
pembelian bahan baku, pembayaran upah dan gaji tenaga kerja, pembayaran
biaya overhead pabrik serta biaya-biaya operasi di kantor pusat, dsb.
PEDOMAN PEMENUHAN KEBUTUHAN DANA
Pemenuhan kebutuhan modal kerja merupakan salah satu fungsi pembelanjaan
(financing). Permasalahan utama yang dihadapi dalam pemenuhan
kebutuhanmodal kerja adalah pemilihan sumber dana. Dalam melakukan
pemilihan sumber dana yang akan dipakai untuk memenuhi kebutuhan modal
kerja harus memperhitungkan beban bunga dan jangka waktu pelunasannya.
11
Untuk memenuhi kebutuhan dana yang bukan berasal dari pinjaman spontan,
dikenal ada 3 (tiga) macam pendekatan, yaitu :
1. Matching Approach.
Matching approach adalah pendekatan bagi rencana pemenuhan
kebutuhan modal kerja yang dikaitkan dengan umur aktiva yang akan
dibiayai. Dengan pendekatan ini, perusahaan akan memilih sumber dana
yang jatuh temponya tidak lebih singkat (lebih panjang) dari umur aktiva
yang dibelanjai.
2. Aggressive Approach.
Adalah Pendekatan rencana pemenuhan kebutuhan modal kerja yang
lebih banyak menggunakan pinjaman jangka pendek daripada dengan
pinjaman jangka panjang. Dalam pendekatan ini, sebagian aktiva
permanen (fixed asset) dibelanjai dengan pinjaman jangka pendek.
3. Conservative Approach.
Adalah pendekatan rencana pemenuhan kebutuhan dana yang lebih
banyak menggunakan sumber dana jangka panjang (hutang jangka
panjang). Dalam pendekatan ini, perusahaan membelanjai sebagian aktiva
lancarnya dengan pinjaman jangka panjang. Pendekatan ini dikatakan
konservatif karena sebagian besar dana pinjaman yang digunakan jatuh
temponya lama (long tenor) sehingga perusahaan memiliki keleluasaan
(kemudahan) dalam melakukan pelunasan kembali atas pinjaman-
pinjaman tersebut.
PENGELOLAAN UANG KAS DAN BANK
Pada prinsipnya uang kas dan bank adalah sama, hanya perbedaan antara
keduanya adalah :
12
- Kas adalah : Uang kas yang ada di tangan (cash on hand).
- Bank adalah : Uang kas yang ada di bank (cash on bank).
Tujuan utama pengelolaan kas adalah untuk memberi cukup likuiditas dalam
memenuhi kebutuhan perusahaan sehari-hari, baik yang direncanakan maupun
yang tidak terduga, serta menjaga agar jumlah kas seminimal mungkin sehingga
memungkinkan kontribusi bagi tercapainya pendapatan investasi yang
dikehendaki.
Ada 3 (tiga) motif utama mengapa perusahaan mempertahankan uang kas (tidak
seluruhnya diinvestasikan kedalam harta lainnya), yaitu :
 Motif untuk Transaksi (Transaction Motive)
 Motif untuk Berjaga-jaga (Precautionary Motive)
 Motif untuk Spekulasi (Speculative Motive)
Keuntungan-keuntungan Perusahaan memiliki kas yang memadai :
1. Perusahaan akan memperoleh potongan tunai atas pembelian (cash
discount), maka apabila perusahaan tidak mengambil kesmpatan ini
konsekuensinya ada biaya yang ditanggung perusahaan.
% Discount 365
Biaya = X
100% - % Discount J. Waktu Kredit - J.Waktu Discount
Contoh :
Syarat Pembayaran 2/10, n/30 (artinya: jangka waktu kredit adalah 30 hari,
namun bila dibayar dalam waktu 10 hari maka akan diberikan potongan
sebesar 2%). Jika kesempatan discount ini tidak diambil oleh perusahaan
dikarenakan kurang / tidak adanya uang kas untuk membayar, maka
perusahaan se-olah-olah akan menanggung biaya sebesar :
13
2% 365
Biaya = X
100% - 2% 30 - 10
= 0,0204 X 18,25 = 37.23 %.
2. Adanya kas yang memadai dapat memperkuat posisi perusahaan di mata
kreditur, karena kas yang cukup merupakan unsur penting dalam analisa
kredit untuk rasio lancar (current ratio) dan rasio cepat (quick ratio / acid test
ratio) perusahaan.
3. Dengan memiliki uang kas yang cukup berarti perusahaan telah siap untuk
menghadapi keadaan-keadaan yang darurat, seperti misalnya : pemogokan
tenaga kerja, PHK karyawan maupun kampanye pemasaran dari para
pesaing.
4. Jumlah kas yang memadai juga berguna untuk mengambil manfaat dari
kesempatan bisnis yang menguntungkan yang mungkin sewaktu-waktu
muncul secara tiba-tiba.
Cara Membuat Kas Lebih Efektif
Ada beberapa cara yang umum dan biasa dilakukan untuk membuat uang kas
lebih efektif, yakni :
 Penarikan Uang Tunai dilakukan secepat-cepatnya :
Hal ini berkaitan erat dengan penagihan piutang. Salah satu cara yang
paling mudah untuk meningkatkan arus kas masuk (cash inflow)
adalah dengan mempercepat cairnya tagihan / piutang.
 Melakukan Sistem Peramalan Kas (Cash Forcasting) :
Perusahaan harus membuat anggaran kas (cash budget) yang berisi
rencana penerimaan dan pengeluaran kas, serta posisi perusahaan
14
akibat penerimaan dan pengeluaran kas tersebut, selama periode
yang tercakup dalam anggaran perusahaan.
 Memainkan Kas Mengambang (floating) :
Memainkan kas mengambang dengan memperkecil “waktu
pengangguran” uang tunai yang tersedia di Bank.
 Masa Mengambang (Floating Time) adalah jarak (Interval) waktu
antara cek ditulis sampai si penerima cek dapat menguangkan dana
tersebut.
Jenis-jenis Masa Mengambang (floating time) :
1. Mail Time Float.
Interval waktu antara pelanggan mengirimkan cheque sampai
cheque tersebut diterima oleh penjual barang/jasa.
2. Processing Float.
Waktu yang dibutuhkan untuk mengurangi rekening
pelanggan dan men-deposit-kan cheque-nya.
3. Transit Float.
Masa mengambang sehubungan dengan waktu kliring
(clearing) dalam sistem perbankan.
 Masa Mengambang (floating time) menguntungkan bagi si pembeli
namun merugikan bagi si penjual barang/jasa.
 Memainkan kas mengambang :
 Mempercepat sistem pengumpulan / penagihan kas dengan
cara mengurangi masa mengambang yang merugikan (the
reduction of negative float).
15
 Memperlambat pembayaran secara kas dengan cara menambah
masa mengambang yang menguntungkan (the increase of
positive float).
Cara mempercepat penagihan dengan mengurangi mail time float
dan processing float adalah dengan titik-titik penagihan yang ter-
desentralisasi (decentralized collection points)., yaitu :
 Bagian penagihan melibatkan tenaga penjualan di lapangan
untuk menerima pembayaran kemudian memasukkannya ke
bank setempat (local bank).
 Dengan melakukan Sistem Kotak Pos (Lock Box System), yaitu
para pelanggan diminta untuk mengirimkan pembayaran /
cheque ke kotak pos khusus. Dengan suatu bentuk kerjasama
dengan pihak bank, kemudian bank setempat mengambil
cheque-cheque tersebut lalu mendepositkannya dan mulai
melakukan proses kliring, yang kemudian memberitahukan
kepada perusahaan penjual tentang pembayaran tersebut yang
telah diterimanya.
16
LAPORAN KEUANGAN (Financial Report)
Laporan keuangan adalah ringkasan dari suatu proses pencatatan dan
merupakan suatu ikhtisar dari transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama
satu tahun buku.
TUJUAN LAPORAN KEUANGAN
1. Sebagai alat pertanggung-jawaban manajemen kepada pemilik perusahaan
(pemegang saham / stock holder).
2. Memberikan informasi yang bermanfaat kepada pihak luar dalam
pengambilan keputusan.
Komponen Laporan Keuangan
1. Neraca (Balance Sheet), yaitu laporan yang menunjukkan keadaan
keuangan suatu perusahaan pada tanggal tertentu.
2. Laporan Rugi-Laba (Income Statement), yaitu laporan yang menunjukkan
hasil usaha dan beban selama satu periode akuntansi.
3. Laporan Perubahan Modal (Statement of Changes In Capital), yaitu
laporan yang menunjukkan sebab-sebab perubahan modal dari jumlah pada
awal periode sampai jumlah pada akhir periode akuntansi.
4. Laporan Perubahan Posisi Keuangan (Statement of Changes In
Financial Position), yaitu menunjukkan arus dana dan perubahan-
perubahan dalam posisi keuangan selama tahun buku yang bersangkutan.
5. Laporan Arus Kas (Statement of Cash Flow), yaitu laporan yang
memberikan informasi mengenai arus kas masuk dan keluar kas serta setara
kas. Semua perubahan yang mempengaruhi kas dan setara kas dalam
kategori operasi, investasi dan pendanaan dari suatu perusahaan selama
17
suatu periode dalam format yang merekonsiliasi saldo awal dan saldo akhir
kas dan setara kas.
Dalam menyusun laporan keuangan perlu diperhatikan adanya Standar-standar
yang harus diikuti. Standar yang dimaksud adalah Prinsip-prinsip Yang Berlaku
Umum (Generally Accepted Accounting Principle / GAAP).
Di Indonesia hal ini dikenal dengan Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI). Sekarang
istilah ini diganti dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK).
Alasan perlunya standar akuntansi adalah untuk melindungi para pemakai
laporan keuangan terutama para pemakai di luar perusahaan yang akan
membaca dan mengambil keputusan dari laporan keuangan yang disajikan
perusahaan. Namun demikian, perlu disadari bahwa standar akuntansi yang
dikembangkan belum dapat mengatasi permasalahan akuntansi secara
menyeluruh, dikarenakan :
1). Standar akuntansi hanya memberikan pedoman yang bersifat umum saja,
tidak memmberikan aturan yang pasti. Oleh sebab itu, para penyaji laporan
keuangan harus mengembangkan pertimbangan profesionalnya dalam
menginterpretasikan dan menerapkan setiap standar. (Contoh : Akuntansi
untuk Kontingensi).
2). Dalam banyak bidang, ada lebih dari satu prinsip atau standar akuntansi
yang diterima umum dalam pelaporan transaksi atau peristiwa. pilihan atas
salah satu standar dari beberapa alternatif yang tersedia dapat berpengaruh
terhadap laporan keuangan.
Contoh : - Metode penyusutan aktiva tetap.
(straight line, sum of year digit, declining balance, double
declining balance).
- Metode penilaian persediaan.
(FIFO, LIFO, Average, Weighted Average).
18
KOMPONEN-KOMPONEN YANG ADA DI DALAM NERACA
A. AKTIVA / HARTA / ASSETS :
1. Aktiva / Harta Lancar (Current Assets) :
a. Kas & Bank (Cash on Hand & Bank)
b. Investasi Jangka Pendek (Short-term Investment)
c. Piutang (Account Receivable)
d. Persediaan (Inventory)
e. Biaya Dibayar Di Muka (Prepaid Expense)
f. Aktiva Lancar Lainnya (Other Current Assets)
2. Investasi Jangka Panjang (Long-term Investment).
3. Aktiva Tetap Berwujud (Fixed Tangible Assets) :
a. Tanah (Land)
b. Bangunan (Building)
c. Peralatan (Equipment)
d. Konstruksi dalam pelaksanaan
4. Aktiva Tetap tidak Berwujud (Fixed Intangible Assets) :
a. Hak Patent.
b. Goodwill.
c. Franchise.
5. Aktiva Lain-lain (Other Assets)
19
B. PASSIVA / HUTANG + MODAL
1. Hutang Lancar (Current Liabilities) :
a. Hutang Usaha (Account Payable).
b. Hutang J. Panjang yang segera J. Tempo.
c. Hutang Pajak (Tax Payable).
d. Pendapatan Diterima Di Muka (Unearned Revenue).
e. Hutang Lancar Lainnya (Other Current Liabilities).
2. Hutang Jangka Panjang (Long-term Debts) :
3. Modal Sendiri (Equity / Networth) :
a. Modal Saham Disetor (Paid In Capital).
b. Saham Biasa (Common Stock).
c. Saham Preferens (Preferred Stock).
d. Agio (Disagio) Saham.
e. Cadangan-cadangan (Reserve).
f. Modal Penyertaan (Participation).
g. Laba Ditahan (Retained Earning).
PERKIRAAN-PERKIRAAN (POS-POS) NERACA
1. AKTIVA / HARTA / ASSETS
Berdasarkan Statement of Financial Accounting Concept (SFAC), Harta
adalah manfaat ekonomis di masa yang akan datang yang diperoleh atau
dikuasai oleh suatu badan usaha tertentu sebagai hasil dari transaksi atau
peristiwa di masa lalu.
Ada 3 (tiga) sifat pokok yang melekat pada aktiva :
20
a. Mempunyai manfaat di masa mendatang guna menyumbang pada aliran
kas masuk (cash inflow) baik langsung maupun tidak langsung.
b. Badan usaha tertentu dapat memperoleh manfaat dan mengendalikan
manfaat tersebut.
c. Transaksi atau peristiwa yang menyebabkan timbulnya hak badan usaha
untuk memperoleh dan mengendalikan manfaat tersebut sudah terjadi.
A. Aktiva / Harta Lancar (Current Assets)
Kas dan sumber daya yang layak diharapkan dapat dirubah menjadi kas
selama siklus operasi normal suatu perusahaan (biasanya dalam jangka
satu tahun), periode mana yang lebih panjang.
Siklus operasi normal, adalah waktu yang diperlukan bagi kas agar dapat
diubah menjadi persediaan, persediaan menjadi piutang dan piutang
menjadi kas.
Apabila siklus operasinya lebih panjang dari satu tahun, maka digunakan
periode yang lebih panjang ini (bukan periode satu tahunan).
Ada beberapa pengecualian atas definisi umum aktiva lancar :
1). Kas yang penggunaannya terbatas, misalnya yang disediakan untuk
perolehan aktiva tetap, atau disisihkan untuk melunasi hutang tak
lancar. Hal ini tidak boleh dicantumkan dalam aktiva lancar.
2). Selain kas, piutang dan persediaan, aktiva lancar juga mencakup
sumber daya seperti : biaya-biaya dibayar di muka. Pembayaran di
muka atas pos-pos seperti asuransi dan bunga bukan merupakan aktiva
lancar dalam arti bahwa pos-pos itu dapat diubah menjadi kas, tetapi
21
merupakan aktiva lancar dalam arti bahwa jika hal itu tidak dibayar di
muka, kas atau aktiva lancar lainnya akan tetap digunakan untuk
membayarnya dalam siklus operasi.
3). Surat-surat berharga perusahaan, apakah dapat dijual segera atau tidak
yang dimaksudkan untuk mengendalikan perusahaan lain, tidak boleh
dianggap sebagai aktiva lancar.
4). Pos-pos lain yang dapat diubah menjadi kas tetapi tidak diharapkan
untuk diubah, tidak boleh diklasifikasikan sebagai aktiva lancar.
Misalnya : - Uang pertanggungan asuransi jiwa.
- Tanah.
- Aktiva yang dapat disusutkan (aktiva tetap).
1. KAS
Merupakan aktiva lancar yang paling likuid dan terdiri dari perkiraan-
perkiraan yang berlaku sebagai alat tukar & memberikan dasar bagi
pengukuran akuntansi.
Agar dapat diklasifikasikan sebagai kas, suatu perkiraan haruslah
tersedia setiap saat & tidak dibatasi penggunaannya untuk pembayaran
suatu kewajiban.
Yang dapat diklasifikasikan sebagai kas :
a. Mata uang logam & kertas yang ada di perusahaan.
b. Dana dalam deposit bank yang tidak dibatasi penggunaannya, yang
sering kali disebut sebagai Rekening Koran Bank (Demand Deposit).
22
c. Dana kas kecil atau uang-uang receh & instrumen yang dapat
dinegosiasikan seperti : personal cheque, travellers cheque, dan
wesel pos.
Hal-hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan Kas :
1). Deposito yang tidak segera tersedia karena pembatasan,
diklasifikasikan sebagai Kas Yang Dibatasi atau Investasi
Sementara dan bukan sebagai Kas.
2). Deposito pada bank luar negeri yang dapat diambil segera tanpa
dibatasi, memenuhi syarat sebagai Kas dan dicatatkan sebesar nilai
equivalent-nya terhadap mata uang yang digunakan per-tanggal
neraca.
3). Akan tetapi Kas pada bank luar negeri yang diabatasi
pemakaiannya ataupun pengambilannya harus dicatat sebagai
Piutang yang bersifat lancar atau tidak lancar.
4). Beberapa perkiraan yang tidak dapat diterima sebesar nilai nominal
pada saat disetorkan, tidak boleh dicatat sebagai Kas. (Contoh :
benda-benda pos, cheque mundur, cheque kosong).
5). Saldo kas yang ditetapkan secara spesifik oleh manajemen untuk
tujuan khusus harus dicatat secara terpisah.
Saldo kas yang akan digunakan untuk pelunasan kewajiban jangka
pendek dapat dicatatkan terpisah dari Kas tetapi masih di dalam
aktiva lancar (misal : dana kas untuk perjalanan karyawan).
Klasifikasi saldo kas sebagai lancar atau tidak lancar harus sejalan
dengan klasifikasi yang diterapkan untuk kewajiban (hutang).
23
6). Saldo kredit pada perkiraan kas akibat penerbitan cheque yang
melebihi jumlah dana yang tersedia (dikenal sebagai Overdraft)
harus dicatat sebagai Kewajiban Lancar. Apabila perusahaan
mempunyai 2 rekening atau lebih pada satu bank, overdraft ini
dapat dilakukan Offset terhadap rekening saldo positif.
Masalah Saldo Kompensasi (Compensating Balance)
 Sudah menjadi praktek yang lazim bagi suatu perusahaan untuk
menyetujui pembentukan saldo minimum atau saldo rata-rata yang
harus ada dalam rekening bank pada suatu bank.
 Saldo minimum tersebut dibentuk dalam rangka memperoleh
pinjaman dari bank yang bersangkutan (diistilahkan Compensating
Balance).
 Saldo kompensasi ini merupakan sumber dana bagi pemberi
pinjaman sebagai bagian kompensasi untuk tambahan kredit. Cara
ini akan meningkatkan tingkat bunga pinjaman yang sebenarnya,
karena sejumlah tertentu yang ada pada bank tersebut tidak dapat
digunakan.
 Saldo kompensasi ini akan menimbulkan masalah akuntansi,
karena para pembaca laporan keuangan mungkin menganggap
seluruh jumlah kas yang ada tersebut dapat dipakai seluruhnya
untuk berbagai tujuan. Namun kenyataannya, ada sejumlah tertentu
yang tak boleh digunakan.
 Pemecahan atas masalah ini adalah dengan jalan mengungkapkan
sejumlah salso kompensasi tersebut dalam Catatan Atas Laporan
Keuangan (Notes to Financial Statement).
24
2. EFEK / SURAT BERHARGA (Marketable Securities)
 Kelebihan kas yang tersedia untuk jangka waktu sementara dapat
diinvestasikan dalam berbagai dana pasar modal dan instrumen-
instrumen sejenisnya, atau dapat pula digunakan untuk membeli
surat berharga.
 Dengan demikian akan diperoleh pendapatan yang tidak akan ada
seandainya kas tersebut dibiarkan menganggur.
 Investasi sementara dalam surat berharga ini akan dicatat sebagai
Marketable Securities, apabila :
a. Ada pasar yang setiap saat dapat mengkonversikan surat
berharga tersebut menjadi kas.
b. Manajemen berniat akan menjualnya jika timbul kebutuhan akan
uang kas.
3. PIUTANG (Receivable)
Piutang adalah klaim (tagihan) yang diharapkan dapat diselesaikan
melalui penerimaan kas.
Dalam klasifikasi piutang, perlu dibedakan antara Piutang Usaha
dengan Piutang Non-usaha. Biasanya sumber utama Piutang Usaha
adalah aktifitas normal perusahaan yakni penjualan barang dan jasa
secara kredit kepada para pelanggan. Piutang Usaha ini dicantumkan
dalam neraca sebesar nilai kas yang dapat direalisasikan atau nilai kas
yang diharapkan (Net Realizable Value), artinya Piutang Usaha ini
harus dicatat bersih sesudah memperhitungkan Estimasi Penyisihan
Piutang Ragu-ragu.
25
Pencatatan Penyisihan Piutang Ragu-ragu
1. Jumlah piutang yang diperkirakan tidak akan dapat tertagih harus
dicatat dengan cara :
Biaya Piutang Ragu-ragu xxx -
Peny. Piutang Ragu-ragu - xxx
2. Biaya tersebut akan dicatat sebagai biaya penjualan atau biaya
umum & adminstrasi.
3. Perkiraan Penyisihan Piutang Ragu-ragu tersebut akan dicantumkan
sebagai pengurang (contra account) atas perkiraan Piutang Usaha,
sehingga Piutang Usaha nilainya bersih (nett).
Cara meng-Estimasi Besarnya Penyisihan Piutang Ragu-ragu :
1. Berdasarkan Prosentase Penjualan Kredit
Ilustrasi : Bila 2% dari penjualan kredit yang sebesar
Rp.400.000.000,- dianggap diragukan ketertagihannya, maka
besarnya penyisihan adalah = 2% x Rp. 400.000.000,- =
Rp.8.000.000,-.
Jurnalnya : Biaya Piutang Ragu-ragu Rp.8 juta -
Peny. Piutang Ragu-ragu - Rp.8 juta
2. Berdasarkan Saldo Piutang Usaha
Metode ini menekankan hubungan langsung antara saldo piutang
usaha dengan penyisihan piutang ragu-ragu.
26
Ilustrasi :
Jika jumlah piutang usaha adalah Rp.100 juta, dan diestimasikan
bahwa 3% dari piutang ini tidak akan tertagih, maka besarnya
penyisihan = 3% x Rp. 100 juta = Rp. 3 juta. Dan jika penyisihan
piutang sebelumnya telah mempunyai saldo kredit sebesar Rp. 6
juta, maka Ayat Jurnal Penyesuaian (AJP) untuk periode berjalan
adalah :
Biaya Piutang Ragu-ragu Rp. 9.000.000,- -
Peny. Piutang Ragu-ragu - Rp. 9.000.000,-
Perhatikan bahwa metode ini menyesuaikan saldo yang ada pada
saldo yang diinginkan berdasarkan prosentase jumlah piutang yang
beredar.
3. Berdasarkan Umur Piutang
Metode ini adalah yang paling lazim digunakandalam prakteknya,
karena metode ini mendekati realistis mengenai berapa jumlah
piutang yang kemungkinan besar tidak dapat tertagih.
Ilustrasi :
27
Estimasi Nilai Penyisihan Piutang Ragu-ragu
Umur Jumlah % menurut Nilai
Piutang Piutang Pengalaman Estimasi
Belum J.T $ 40,000 2 % $ 800
< 30 hari $ 3,000 5 % $ 150
31 - 60 hari $ 1,200 10 % $ 120
61 - 90 hari $ 650 20 % $ 130
91 - 180 hari $ 500 30 % $ 150
181 - 365 hari $ 800 50 % $ 400
> 1 tahun $ 1,400 80 % $1,120
J u m l a h $ 47,550 $ 2,870
Dengan estimasi sebesar $ 2,870 tersebut dan saldo kredit
penyisihan piutang ragu-ragu sebelum penyesuaian adalah sebesar
$ 620, maka ayat jurnal penyesuaian yang perlu dibuat adalah :
Biaya Piutang Ragu-ragu $ 2,250 -
Penyisihan Piutang Ragu-ragu - $ 2,250
28
NERACA LAJUR (WORK SHEET)
PENGERTIAN NERACA LAJUR
Neraca Lajur adalah kertas kerja / alat bantu yang digunakan oleh para akuntan
atau orang yang bekerja di bidang akuntansi, untuk menyusun laporan keuangan
secara akurat dan tepat waktu. Neraca Lajur disebut juga Work sheet.
KEGUNAAN NERACA LAJUR
Neraca Lajur berguna untuk :
1). Mengurangi kemungkinan terjadinya kelupaan dalam membuat ayat jurnal
penyesuaian.
2). Memudahkan pengecekan kecermatan / keakuratan perhitungan akuntansi.
3). Memungkinkan nama-nama perkiraan disusun dan disajikan dengan urutan
yang rapih dan teratur berdasarkan keperluan pembuatan laporan keuangan.
KOMPONEN-KOMPONEN NERACA LAJUR
Neraca Percobaan :
pencatatan dan penghitungan saldo-saldo dari buku besar (general ledger) untuk
memastikan apakah jumlah saldo perkiraan sisi debet sudah sama (balance)
dengan saldo perkiraan sisi kredit. Disebut Trial Balance.
Jurnal Penyesuaian :
adalah suatu proses pencatatan (jurnal) yang dilakukan untuk menyesuaikan
saldo buku besar supaya menunjukkan saldo yang sesungguhnya terjadi (sudah
memperhitungkan adanya penyesuaian- penyesuaian pada akhir periode
29
pembukuan), sehingga laporan keuangan menjadi up-to-date. Disebut Adjusting
Entry.
Neraca Saldo :
adalah saldo-saldo pada neraca percobaan yang sudah memasukkan unsur-
unsur penyesuaian (adjusting entries) ke dalam neraca tersebut. Disebut sebagai
Adjusted Trial balance.
Laporan Rugi-Laba :
adalah pencatatan atas perkiraan-perkiraan sementara (temporary account) ke
dalam bentuk laporan rugi atau laba yang terjadi. Perkiraan-perkiraan sementara
yang masuk ke dalam laporan rugi-laba ini adalah seluruh perkiraan penjualan,
biaya penyusutan, biaya-biaya operasi, biaya-biaya di luar operasi, pendapatan-
pendapatan operasi serta pendapatan-pendapatan non-operasi. Disebut sebagai
Income Statement.
Laporan Neraca :
adalah pencatatan atas perkiraan-perkiraan riil (nominal account) ke dalam
neraca. Jenis perkiraan riil ini adalah seluruh perkiraan yang ada di luar perkiraan
sementara / temporary account / perkiraan rugi-laba. Disebut Balance Sheet.
AYAT JURNAL PENYESUAIAN (AJP)
Jurnal-jurnal penyesuaian (adjusting entries) perlu dibuat untuk jenis-jenis
perkiraan tertentu yang memerlukan adanya penyesuaian, sehubungan dengan
berlalunya waktu sampai dengan akhir periode laporan keuangan.
Jenis-jenis perkiraan tersebut adalah :
1). Biaya-biaya dibayar di muka (prepaid expenses).
2). Biaya-biaya yang masih harus dibayar (accrued expenses).
3). Pendapatan-pendapatan diterima di muka (Unearned revenues).
4). Pendapatan-pendapatan yang masih harus diterima (accrued revenues).
30
ANALISA PULANG POKOK
(BREAK EVEN ANALYSIS)
Tujuan perusahaan secara keuangan adalah untuk memperoleh keuntungan
(profit). Besar kecilnya keuntungan yang dihasilkan umumnya merupakan
indikator dan ukuran kesuksesan manajemen perusahaan dalam menjalankan
kegiatan usahanya. Oleh sebab itu, manajemen harus mampu merencanakan
keuntungan bagi perusahaan.
PENGERTIAN PULANG POKOK (BREAK EVEN)
Pulang Pokok (Break Even) adalah Suatu keadaan operasi perusahaan dimana
perusahaan tidak memperoleh laba dan juga tidak menderita suatu kerugian
(Tidak Laba dan Tidak Rugi - Impas).
Secara Matematis, Pulang Pokok dapat ditulis sebagai berikut :
 TP = TR – TC
 TP = (P x Q) – (TFC + TVC)
 TP = (P.Q) – (TFC + v x Q)
 TP = P.Q – TFC – v.Q
Dimana :
TP = Total Profit TFC = Total Fixed Cost
TR = Total Revenue TVC = Total Variable Cost
TC = Total Cost v = Variable Cost Per-unit.
P = Harga jual
Q = Unit yang dijual
31
Bila terjadi Pulang Pokok, berarti Laba = 0 , sehingga TP = 0 , maka :
P.Q – TFC – v.Q = 0
P.Q – v.Q = TFC
(P - v).Q = TFC
TFC
Jadi, Q = = Titik Pulang Pokok = Break Even Point (BEP).
(P - v)
(P – v) disebut juga sebagai Kontribusi Margin (Margin Contribution).
KARAKTERISTIK BIAYA (COST CHARACTERISTIC)
1. Biaya Tetap (Fixed Cost)
Biaya Tetap adalah biaya yang sampai dengan jumlah output tertentu tidak
akan berubah walaupun output yang dihasilkan tersebut berubah jumlahnya.
Jadi sifat Biaya Tetap :
- Untuk jangka pendek tidak akan berubah (tetap), asalkan dalam kegiatan
yang sama dan relevan.
- Dalam jangka panjang cenderung akan berubah, terutama apabila
kapasitas produksinya (dalam hal ini kapasitas mesinnya dirubah, karena
harus meningkatkan kapasitas mesin atau membeli mesin yang baru).
Faktor-faktor yang harus diperhatikan perusahaan di dalam merumuskan
Biaya Tetap :
 Keterkendalian Biaya (Cost Controllability)
Ada biaya-biaya tetap yang dapat dikendalikan manajemen dalam jangka
pendek, dan setiap tahunnya ditentukan berdasarkan kebijakan
manajemen.
32
 Hubungan dengan Kegiatan Perusahaan
- Biaya tetap timbul karena karena tersedianya kapasitas produksi.
- Biaya tetap bukan sebagai akibat dari melakukan kegiatan-kegiatan
tersebut.
- Biaya tetap dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor lain (seprti : teknologi
permesinan, inovasi dan invensi dari perusahaan lain pembuat mesin-
mesin dan peralatan manufaktur).
 Kebijakan Manajemen Perusahaan (Company Policy)
Sebagian besar biaya tetap tergantung sepenuhnya pada keputusan-
keputusan manajemen.
 Tetap Secara Total, Tetapi Variable Secara Unit
Biaya tetap akan tetap jumlahnya untuk suatu jumlah unit tertentu (Misal:
kapasitas mesin tertentu), tetapi akan bersifat variable bila dilihat dari
tiap-tiap unit output yang dihasilkan.
2. Biaya Variabel (Variable Cost)
Biaya Variabel adalah biaya yang cenderung berubah secara proporsional
dengan berubahnya volume produksi (Output).
Biaya variabel ini merupakan Biaya Kegiatan (Activity Cost), yang akan
timbul hanya bila ada kegiatan usaha / operasi yang dilakukan. Biaya ini tidak
akan timbul seandainya tidak ada sama sekali kegiatan usaha yang
dilakukan (terutama kegiatan produksi).
33
Biaya variabel secara langsung akan meningkat atau menurun dengan
berubahnya unit output yang dihasilkan. Jika output bertambah 50% maka
biaya variabel juga akan meningkat sebesar 50%, begitu pula sebaliknya.
3. Biaya Semi Variabel (Semi Variable Cost)
Biaya semi variabel merupakan pos-pos biaya yang meningkat atau menurun
dengan meningkat atau menurunnya output, tetapi tidak secara proporsional.
Biaya semi variabel ini memiliki sifat-sifat biaya tetap dan biaya variabel.
Biasanya variabilitas dari biaya semi variabel ini dapat disebabkan pengaruh
gabungan dari :
 Jangka waktu.
 Kegiatan Usaha atau Output.
 Kegiatan Manajemen.
MARJIN KONTRIBUSI ( CONTRIBUTION MARGIN – CM )
Yang dimaksud dengan Marjin Kontribusi adalah Harga jual per-unit dikurangi
dengan biaya variabel per-unit produk yang terjual tersebut.
Jadi secara matematis, Marjin Kontribusi adalah : (P – v) = CM.
Marjin kontribusi ini juga menunjukkan berapa sisihan (margin) yang terjadi bila
Harga jual per-unit produk tersebut dikurangkan dengan biaya variabel per-
unitnya. Hal ini juga menunjukkan berapa Sisihan/sisa (Margin) yang ada bila
dengan melakukan Variable Cost Coverage, artinya yang diperhitungkan
sebagai biaya di sini hanya yang sifatnya biaya variable saja sedangkan biaya
tetapnya dianggap tidak ada.
34
Sedangkan bila memperhitungkan juga seluruh biaya tetapnya, dinamakan Total
Cost Coverage.
Variable Cost Coverage dipakai biasanya untuk melakukan kompetisi dengan
pesaing (competitor) lain dari perusahaan yang sejenis, supaya harga jual yang
diberikan perusahaan dapat bersaing dengan para pesaing (competitors) nya.
Untuk itulah makanya yang diperhitungkan sebagai biaya produksi hanya yang
berupa biaya variabelnya saja dengan mengabaikan sementara biaya tetap yang
telah terjadi. Karena biaya tetap sifatnya dalam jangka pendek dan selama
kapasitas produksi mesin masih memenuhi untuk memproduksi seluruh
permintaan pasar.
TITIK PULANG POKOK ( BREAK EVEN POINT – BEP )
Titik Pulang Pokok (Break Even Point) adalah Penjualan (dalam unit) yang
menghasilkan keadaan pulang pokok (impas).
Jadi analisa pulang pokok dalam BEP ini adalah :
Untuk menentukan berapa unit yang harus diproduksi dan dijual yang dapat
menghasilkan keadaan impas. Atau dengan kata lain, Supaya terjadi setidak-
tidaknya (minimal) pulang pokok, berapa unit produk yang harus diproduksi dan
dijual. Dalam analisa ini Jumlah yang diproduksi = Jumlah yang terjual, jadi
asumsinya seluruh produk akan terserap di pasar (terjual) berapapun yang
diproduksi.
Gunanya Menghitung BEP ini adalah :
Untuk mempelajari hubungan antara volume produksi / penjualan, harga dan
biaya.
35
PENJUALAN PULANG POKOK ( BREAK EVEN SALES – BES )
Penjualan Pulang Pokok (Break Even Sales) adalah Penjualan (dalam mata
uang) yang menghasilkan keadaan pulang pokok (impas).
Break Even Sales (BES), adalah BEP dikalikan dengan harga jual produk per-
unitnya.
Jadi : BES = BEP x P
 Bila BEP sudah diketahui, maka BES dapat dengan mudah dicari (jika harga
jual per-unit produknya diketahui).
 Dapat pula dicari BES tanpa mencari dahulu BEP, yakni dengan
menggunakan formula :
TFC
BES = x P
P – v
Total Fixed Cost TFC
= =
Marginal Income Ratio MIR
Dimana :
Hasil Penjualan - Biaya Variabel Total P.Q - TVC
M I R = =
Hasil Penjualan P.Q
Hasil Penjualan Biaya Variabel Total
=
Hasil Penjualan Hasil Penjualan
TVC v.Q
= 1 = 1
P.Q P.Q
36
Jadi :
V TFC
M I R = 1 B E S =
P 1 - v / P
ILUSTRASI :
PT “ X “
Profit Budget Tahun 2000
 Penjualan (unit produksi x harga jual) = 200.000 x 250,- = 50.000.000,-
Fixed Cost Var. Cost Total Cost
 Biaya-biaya :
- Bahan baku 9.000.000,- 9.000.000,-
- T.K. Langsung 10.000.000,- 10.000.000,-
- Overhead 18.000.000,- 7.000.000,- 25.000.000,-
18.000.000,- 26.000.000,- 44.000.000,-
Laba Yang Dianggarkan = 6.000.000,-
Maka berdasarkan data anggaran tersebut, dapat dicari BEP dan BES nya dari
berbagai cara, yakni :
(1). Untuk Mencari BEP :
TFC 18.000.000,-
BEP = = = 150.000 unit.
P – v 250 - 26.000.000 / 200.000,-
37
TVC
Jadi, Biaya variabel per-unit (v) =
Jumlah Diproduksi
26.000.000,-
= = Rp 130,- per-unit
200.000
Jadi, Tingkat unit penjualan pulang pokok (BEP) perusahaan PT “X” adalah
sebesar 150.000 unit, dengan demikian perusahaan mengalami kondisi BREAK
EVEN (Tidak Untung dan Tidak Rugi).
BUKTIKAN (CHECK) :
 Penjualan ( 150.000 x 250 ) = 37.500.000,-
 Biaya-biaya :
- Biaya tetap (TFC) = 18.000.000,-
- Biaya Variabel (TVC) = 19.500.000,-
Total Biaya Produksi 37.500.000,-
Profit / Loss = 0,-
(2). Untuk Mencari BES :
a). Karena tingkat BEP nya sudah diketahui sebesar 150.000 unit, maka
BES tinggal mengalikannya dengan harga jual per-unit (P).
Maka BES = BEP x P
= 150.000 unit x Rp. 250,- = Rp. 37.500.000,-.
38
b). Cara lain, adalah bila BEP diasumsikan belum diketahui, maka :
TFC 18.000.000,-
BES = =
1 – TVC / P.Q 1 - 26.000.000 / (250 x 200.000)
= Rp. 37.500.000,-
TFC 18.000.000,-
atau : BES = = = Rp. 37.500.000,-
1 - v / P 1 - 130 / 250
BUKTIKAN (CHECK) :
 Penjualan yang menghasilkan BES = 37.500.000,-
 Biaya-biaya :
- Biaya tetap (TFC) = 18.000.000,-
- Biaya Variabel (TVC) *) = 19.500.000,-
Total Biaya Produksi = 37.500.000,-
Profit / Loss = 0,-
Ket : 19.500.000,- didapat dari : unit BEP x biaya variabel per-unit :
26.000.000,-
Yakni = 150.000 unit X = Rp. 19.500.000,-.
200.000 unit
39
MARGIN OF SAFETY (MOS)
Margin of Safety adalah Hubungan antara “Hasil Penjualan Pada Tingkat BEP
(disebut juga BES)” dengan “Hasil Penjualan Yang Dianggarkan (disebut
Budgeted Sales).
Margin of Safety (MOS) berguna untuk mengetahui atau mengukur SEBERAPA
JAUH penurunan dalam penjualan (decreasing in sales) yang masih dapat
ditolerir (dibolehkan) sampai pada batas BES atau BEP (batas terendah
tersebut).
Margin of Safety (MOS) ini dapat dinyatakan dalam bentuk :
1. Persentase (%) antara “Penjualan Yang Dianggarkan (Budgeted Sales)”
dengan “Tingkat BES” nya.
Formula :
Budgeted Sales
MOS = X 100%
BES
2. Persentase (%) antara “Selisih Budgeted Sales dengan BES” dengan
“Budgeted Sales” itu sendiri.
Formula :
Budgeted Sales - BES
MOS = X 100%
Budgeted Sales
Dari contoh di atas, maka didapatkan/diketahui MOS sebagai berikut :
40
Rp. 50.000.000,-
1. MOS = X 100% = 133,33 %.
Rp. 37.500.000,-
Artinya : Tingkat penjualan boleh turun (masih dapat ditolerir) bila turunnya
sebesar 33,33 % dari BES yang sebesar Rp. 37.500.000,-.
Tingkat penurunan yang masih dapat ditolerir tersebut adalah sebesar
Rp.12.500.000,- (33,33% X Rp.37.500.000,-) atau sebanyak 50.000 unit.
Rp. 50.000.000,- - Rp. 37.500.000,-
2. MOS = X 100 % = 25 %.
Rp. 50.000.000,-
Artinya : Tingkat penjualan boleh turun (masih dapat ditolerir) bila turunnya
sebesar 25% dari Budgeted Sales yang sebesar Rp.50.000.000,-.
Tingkat penurunannya yang masih dapat ditolerir tersebut adalah sebesar
Rp.12.500.000,- (25% X Rp.50.000.000,-) atau sebanyak 50.000 unit.
Jadi dengan Mengetahui MOS maka akan dapat diketahui SENTITIFITAS
TURUNNYA PENJUALAN terhadap KONDISI PULANG POKOK perusahaan.
KETERBATASAN-KETERBATASAN ANALISA PULANG POKOK
(The Constraints of Break Even Analysis)
 Biaya harus dapat dikelompokkan (dipisahkan) menjadi 2 (dua), yaitu : Biaya
Tetap (Fixed Cost) dan Biaya Tak Tetap (Variable Cost). Pada
kenyataannya, untuk membedakan biaya ke dalam kedua kelompok ini
biasanya sangat sulit dilakukan, karena pada bidang-bidang tertentu akan
terjadi biaya yang sekaligus atau bersamaan mengandung sifat tetap dan
variabel (disebut: Semi Variable Cost).
41
 Biaya Tetap (Fixed Cost) akan selalu konstan pada suatu kapasitas mesin /
pabrik tertentu. Namun apabila melewati kapasitas penuh (dari mesin
misalnya) maka biaya tetap tersebut pun akan berubah seperti biaya
variable, namun tidak secara proporsional dengan unit produk yang akan
diproduksi.
 Biaya variable (Variable Cost) diasumsikan selalu berubah secara
proporsional dengan perubahan Volume produksi / penjualan. Namun pada
kenyataannya, biasanya untuk pembelian bahan baku semakin tinggi tingkat
produksi maka pembelian bahan baku juga semakin banyak sehingga akan
ada perolehan potongan pembelian (purchase discount) yang akan secara
otomatis akan mengurangi biaya variable secara total maupun secara per-
unit produk yang akan dihasilkan.
 Harga jual (selling price) diasumsikan tidak akan berubah berapapun jumlah
yang terjual (quantity sold). Pada kenyataannya hal ini tidaklah demikian,
semakin banyak yang terjual maka biasanya akan diberikan potongan harga
(price discount) atau mungkin pula dilakukan praktek diskriminasi harga
(price discrimination).
 Asumsi yang terakhir dari BEA adalah bahwasannya barang / produk yang
diproduksi dan dijual adalah untuk satu macam jenis produk saja (single
product). Kenyataannya, banyak terjadi diversifikasi produk (product
diversification). Sehingga dengan demikian, Analisa Pulang Pokok hanya
dapat dilakukan untuk masing-masing produk secara terpisah (Separated
Single Product).
Jadi :
 Produk A, dapat dicari Break Even untuk Produk A,
 Produk B, hanya dapat dicari Break Even untuk produk B,
 Begitu seterusnya (tak dapat digabungkan).
42
Namun dengan Analisa Sentifitas yang kreatif atas Break Even Analysis (BEA) ini
dimungkinkan diketahuinya Break Even untuk produk-produk secara gabungan
(mixed product).
ASUMSI-ASUMSI YANG BIASANYA DIGUNAKAN
DI DALAM PENCATATAN KEUANGAN
( AKUNTANSI KEUANGAN )
1. Going Concern : Perusahaan akan berjalan terus sampai pada masa yang
tak dapat ditetapkan, atau cukup lama bagi perusahaan untuk melaksanakan
rencana-rencana atas usahanya.
2. Specific Separated Entity : Akuntansi membatasi diri hanya pada kesatuan
usaha yang berdiri sendiri terlepas dari kepentingan-kepentingan pihak lain.
3. Historical Cost : Pencatatan dalam akuntansi didasarkan pada “harga
perolehan” (historical cost) yang betul-betul telah dikeluarkan (terjadi).
4. Money as Unit of Measurement : Akuntansi hanya akan melaporkan
kegiatan-kegiatan perusahaan yang dapat diukur dengan satuan uang
(money).
5. Revenue Recognition : Pendapatan merupakan suatu proses yang berjalan
secara terus menerus tanpa terputus, sehingga untuk tujuan pelaporan
akuntansi diperlukan pembatasan yang jelas tentang kapan suatu
pendapatan diakui.
6. Matching Cost Against Revenue : Biaya-biaya yang dibebankan dalam
suatu periode akuntansi haruslah hanya biaya-biaya yang dipergunakan
untuk menghasilkan (memperoleh) pendapatan pada periode akuntansi yang
sama pula.
7. Periodicity : Jangka waktu hidup perusahaan, untuk tujuan pelaporan
akuntansi, akan dibagi-bagi menurut periode-periode (fiskal) tertentu.
43
DOKTRIN YANG BIASANYA DIGUNAKAN
DI DALAM PENCATATAN KEUANGAN
( AKUNTANSI KEUANGAN )
1. MATERIALITY : Teori, Prinsip dan Asumsi Akuntansi hanya diterapkan
apabila pengaruhnya terhadap “ketepatan laporan keuangan” sangat berarti
(significant) yang mana akan mempengaruhi penilaian dan atau keputusan
yang diambil.
2. CONSISTENCY : Prinsip dan Prosedur Akuntansi yang dipakai harus sama
dari satu periode dengan periode-periode lain berikutnya.
3. COMPARABILITY : Laporan Keuangan dari perusahaan lain yang berbeda
harus didasarkan pada Prinsup dan Prosedur Akuntansi yang sama.
4. OBJECTIVITY : Ukuran-ukuran Akuntansi harus didasarkan pada bukti-bukti
yang dapat diperiksa (diaudit) keberadaannya.
5. CONSERVATISM : Apabila ada beberapa alternatif yang dapat dipilih, maka
Akuntan harus memilih alternatif yang paling jelek (buruk) akibatnya terhadap
kekayaan pemilik perusahaan.
~ E N D ~

Finance for Non-Finance Training

  • 1.
    FINANCE FOR NON-FINANCE Ditulis Oleh: M.Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Managing Director HARD-Hi SMART CONSULTING Website : www.hardhismart-consulting.blogspot.com Contact : 0878-7063-5053
  • 2.
    2 STRUKTUR KEUANGAN & PERMODALANPERUSAHAAN STRUKTUR KEUANGAN Struktur Keuangan (Financial Structure) Perusahaan adalah Sisi Sebelah Kanan (Passiva) dari Laporan Neraca (Balance Sheet) Perusahaan. Dengan demikian, Struktur Keuangan adalah seluruh Perkiraan (Account) Hutang dan Modal Perusahaan. Struktur Keuangan = Hutang + Modal = Passiva STRUKTUR PERMODALAN Struktur Permodalan (Capital Structure) adalah Bagian dari Struktur Keuangan perusahaan, yakni Komponen Modal (Equity) Perusahaan. CONTOH 1 Apabila komposisi persediaan adalah sebagai berikut : - barang jadi (siap dijual) = 10% - barang setengah jadi = 70% - bahan baku (RM) = 20% maka orang keuangan akan menghendaki agar proses produksi lebih ditekankan pada penyelesaian barang setengah jadi menjadi barang jadi daripada bahan baku menjadi barang setengah jadi.
  • 3.
    3 CONTOH 2 Apabila komposisisuatu harta lancar (current asset) adalah sebagai berikut : - kas = 5% - piutang = 75% - persediaan = 20% maka orang keuangan akan menekankan pada pentingnya penagihan dan pengetatan pada syarat pembayaran atas penjualan kreditnya. CONTOH 3 Dalam kondisi dimana perusahaan tengah menghadapi kesulitan likuiditas, maka orang keuangan lebih memilih menyewa suatu fasilitas (harta tetap : mesin, peralatan, dsb) daripada harus membeli. Sedangkan orang produksi lebih suka membeli untuk dimiliki. CONTOH 4 Dalam perusahaan yang terjadi kesulitan keuangan (financial difficultiy), maka oramh keuangan lebih menghendaki dilakukannya PHK bagi karyawan yang sudah lama bekerja dan dengan gaji yang sudah tinggi daripada karyawan baru yang gajinya relatif masih rendah dibandingkan karyawan lama.
  • 4.
    4 MODAL KERJA (WORKINGCAPITAL) PENGERTIAN MODAL KERJA Modal Kerja (Working Capital) adalah berhubungan erat dengan operasi perusahaan sehari-hari dan juga menunjukkan Margin of Safety bagi para kreditur jangka pendek perusahaan. Dengan modal kerja yang cukup memungkinkan perusahaan dapat beroperasi dengan lebih efisien dan perusahaan tidak akan mengalami kesulitan. KONSEP-KONSEP MODAL KERJA 3 (tiga) konsep definisi yang umum digunakan mengenai Modal Kerja, yakni : 1. Konsep Kuantitatif (Quantitatif Concept of Working Capital). Modal Kerja menurut konsep kuantitatif ini adalah : “ Seluruh Harta / Aktiva Lancar Perusahaan “. Jadi, konsep ini menitik-beratkan pada jumlah yang diperlukan untuk mencukupi kebutuhan dana (fund) bagi operasi jangka pendek perusahaan. Konsep ini disebut juga dengan Modal Kerja Kotor (Gross Working Capital). 2. Konsep Kualitatif (Qualitatif Concept of Working Capital). Dalam konsep ini pengertian Modal Kerja adalah “ Kelebihan Harta Lancar Perusahaan terhadap Hutang Lancarnya ”. Jadi, Modal Kerja di sini adalah Modal Kerja Bersih (Net Working Capital). Bersifat kualitatif karena menunjukkan Harta Lancar Harus Lebih Besar dari Hutang Lancar (Hutang Jangka Pendek) nya.
  • 5.
    5 3. Konsep Fungsional(Functional Concept of Working Capital). Konsep ini menitik-beratkan pada fungsi dari dana (fund) yang dimiliki perusahaan untuk menghasilkan “Laba Periode Sekarang (Current Income)”. Namun tidak semua dana digunakan untuk menghasilkan Current Income tersebut. Ada sebagian dana yang akan digunakan untuk menghasilkan “Laba Periode Y.A.D.”, yaitu diantaranya : Asset jenis Gedung/Bangunan, Mesin-mesin, Pabrik, Alat-alat dan aktiva-aktiva tetap lainnya. Dari aktiva-aktiva tetap tersebut yang menjadi bagian dari Modal Kerja dalam Periode Berjalan (Current Period) adalah Biaya Penyusutan (Depreciation Expense). Jadi Modal Kerja menurut konsep ini adalah : “Seluruh Biaya Penyusutan dari Aktiva Tetap Perusahaan ditambah Selisih Harta Lancar atas Hutang Lancar (Modal Kerja Bersih). Jadi, Kesimpulan Konsep Modal Kerja adalah sebagai berikut :  KUANTITATIF : Current Assets (disebut sbg: Modal Kerja Kotor).  KUALITATIF : Current Assets dikurangi dengan Current Liabilities (disebut sbg: Modal Kerja Bersih).  FUNGSIONAL : Depreciation of Fixed Assets ditambah dengan Modal Kerja Bersih.
  • 6.
    6 PENTINGNYA MODAL KERJA 1.Sebagian besar waktu perusahaan digunakan untuk mengelola Modal Kerja, karena masalah modal kerja merupakan masalah sehari-hari (rutin) bagi perusahaan. 2. Memungkinkan untuk dapat dilunasinya seluruh kewajiban-kewajiban jangka pendek (Current Liabilities) perusahaan yang telah jatuh tempo tepat pada waktunya. 3. Memungkinkan untuk dapat melayani pelanggan (Customer) dengan lebih memuaskan karena tersedianya persediaan dalam jumlah yang cukup yang dapat memenuhi kebutuhan pelanggan. 4. Memungkinkan bagi perusahaan untuk dapat memberikan syarat pembayaran (pemberian kredit) yang lebih lunak dan menguntungkan bagi para pelanggannya. 5. Dana yang tertanam dalam harta lancar biasanya lebih dari 50% (setengahnya) total harta perusahaan (terutama untuk perusahaan jenis manufaktur). 6. Peningkatan Penjualan (Sales) berhubungan langsung dan erat sekali dengan harta lancar perusahaan. 7. Meskipun perusahaan dapat menghindarkan diri dari Investasi dalam Harta Tetap (Fixed Assets) dengan jalan Menyewa (Leasing) tetapi tidak dapat menghindari investasi dalam Harta Lancar (Current Asset) yaitu antara lain : Kas, Piutang dan Persediaan. 8. Memungkinkan bagi perusahaan untuk dapat beroperasi dengan lebih efisien karena tak ada kesulitan untuk memperoleh barang atau jasa yang dibutuhkan perusahaan.
  • 7.
    7 SUMBER MODAL KERJA(SOURCES OF FUND) Pada dasarnya, Modal Kerja terdiri dari 2 (dua) bagian pokok, yaitu : 1. Modal Kerja Permanent (Permanent Working Capital). Yaitu Jumlah Minimum Modal Kerja yang harus tersedia agar perusahaan dapat berjalan dengan lancar. 2. Modal Kerja Variable (Variable Working Capital). Yaitu Modal Kerja yang jumlahnya bervariasi dan fleksibel tergantung dari kebutuhan-kebutuhan di luar aktivitas yang biasa (extraordinary operation).  Permanent Working Capital seyogianya dibiayai dari Dana Pemilik (Stock Holder’s Equity).  Variable Working Capital boleh dan wajar bila dibiayai dari dana luar perusahaan (misal: pinjaman dari bank, kredit dari supplier atupun dana dari pihak ketiga di luar perusahaan). Jadi, SUMBER-SUMBER MODAL KERJA adalah :  Kenaikan dalam Modal (Equity), misal : - Laba Usaha (Profit) atas operasi yang dilakukan. - Biaya Depresiasi / Amortisasi. - Emisi Saham Baru - Keuntungan (Gain) dari penjualan Marketable Security.  Penurunan dalam Harta Tetap (Fixed Asset), misal : - Biaya Penyusutan Harta Tetap (Depreciation Expense). - Penjualan Harta Tetap perusahaan (yang menyebabkan naiknya Harta Lancar, misal : Kas, Piutang).
  • 8.
    8  Kenaikan dalamHutang Jangka Panjang (Longterm Debt) : - Mengeluarkan (Emisi) Obligasi. - Menambah Pinjaman dari Bank, dsb. PENGGUNAAN MODAL KERJA (APPLICATION OF FUND) Penggunaan Modal Kerja adalah Yang mengakibatkan Turunnya Dana Modal Kerja, yaitu : 1. Turunnya Modal (Equity) :  Kerugian (Loss) yang diderita perusahaan setelah dikurangi dengan Biaya Penyusutan.  (karena biaya penyusutan merupakan bagian dari modal kerja berdasarkan konsep fungsional).  Kerugian (Loss) atas penjualan Surat-surat Berharga (Marketable Securities).  Pembayaran Dividen kepada Para Pemegang Saham (Stock Holder). 2. Naiknya Harta Tetap (Fixed Asset) :  Pembelian Harta Tetap (Gedung, Mesin, Kendaraan, Pabrik, dll).  Investasi Jangka Panjang (Longterm Investment).  Pembentukan dana-dana yang merubah jenis perkiraan dari Harta Lancar menjadi Harta Tetap, seperti : o Dana Pelunasan Obligasi. o Dana Pensiun Pegawai. o Dana Ekspansi, dsb.
  • 9.
    9 3. Turunnya HutangJangka Panjang (Longterm Debt) :  Pelunasan atas Hutang-hutang Jangka Panjang.  Pemotongan (discount) atas rescheduling Hutang J. Panjang. KEBUTUHAN MODAL KERJA Faktor-faktor yang mempengaruhi besar-kecilnya modal kerja adalah : 1. Tingkat Operasi Perusahaan. Tingkat operasi perusahaan dapat diukur dari produksi atau penjualannya. Semakin tinggi tingkat produksi dan at ual secara tunai (cash). Semakin lama jangka waktu kreditnya, maka semakin besar piutang yang terjadi yang berarti pula semakin besar dana perusahaan yang tertanam dalam piutang tersebut dan tidak dapat diputarkan (turning over). Misalnya : Perusahaan yang tingkat penjualannya Rp. 120 juta per-tahun dengan jangka waktu kredit rata-rata selama 2 bulan (lamanya piutang baru dapat tertagih) dan tingkat keuntungan (profit margin) sebesar 10%, maka akan membutuhkan dana untuk membelanjai piutang tersebut sebesar Rp. 18 juta (=Rp.120.000.000,- / 6 x 0,90). Bandingkan kalau jangka waktu kreditnya yang hanya selama 1 bulan, maka dana yang dibutuhkan hanya sebesar Rp.9 juta (=Rp.120.000.000 / 12 x 0,90). 2. Kebijakan Persediaan. Bagi perusahaan yang membeli bahan baku dalam jumlah yang sedikit akan membutuhkan modal kerja yang sedikit pula dibandingkan dengan perusahaan yang melakukan kebijakan pembelian bahan baku yang banyak. Begitu juga terhadap persediaan barang setengah jadi (work in
  • 10.
    10 process) yang besarberarti tertanamnya dana modal kerja perusahaan dalam persediaan tersebut, dibandingkan dengan bila persediaan barang setengah jadinya relatif sedikit. MENGHITUNG KEBUTUHAN MODAL KERJA Ada beberapa cara (metode) yang biasanya dipakai untuk mengetahui dan menghitung kebutuhan akan modal kerja. Namun secar umum, kebutuhan modal kerja dalam satu periode (biasanya satu tahun) di waktu yang akan datang dapat diperhitungkan sebagai berikut : Kebutuhan = Periode Perputaran X Rata-rata Pengeluaran Modal Kerja Modal Kerja Kas Per-periode Periode Perputaran Modal Kerja : Dimulai sejak kas diinvestasikan ke dalam komponen-komponen modal kerja sampai kembali lagi menjadi kas. Rata-rata pengeluaran kas per-periode : Adalah hasil perhitungan secara rata-rata dari seluruh pengeluaran kas yang terjadi untuk melaksanakan kegiatan perusahaan sehari-hari, yang dimulai dari: pembelian bahan baku, pembayaran upah dan gaji tenaga kerja, pembayaran biaya overhead pabrik serta biaya-biaya operasi di kantor pusat, dsb. PEDOMAN PEMENUHAN KEBUTUHAN DANA Pemenuhan kebutuhan modal kerja merupakan salah satu fungsi pembelanjaan (financing). Permasalahan utama yang dihadapi dalam pemenuhan kebutuhanmodal kerja adalah pemilihan sumber dana. Dalam melakukan pemilihan sumber dana yang akan dipakai untuk memenuhi kebutuhan modal kerja harus memperhitungkan beban bunga dan jangka waktu pelunasannya.
  • 11.
    11 Untuk memenuhi kebutuhandana yang bukan berasal dari pinjaman spontan, dikenal ada 3 (tiga) macam pendekatan, yaitu : 1. Matching Approach. Matching approach adalah pendekatan bagi rencana pemenuhan kebutuhan modal kerja yang dikaitkan dengan umur aktiva yang akan dibiayai. Dengan pendekatan ini, perusahaan akan memilih sumber dana yang jatuh temponya tidak lebih singkat (lebih panjang) dari umur aktiva yang dibelanjai. 2. Aggressive Approach. Adalah Pendekatan rencana pemenuhan kebutuhan modal kerja yang lebih banyak menggunakan pinjaman jangka pendek daripada dengan pinjaman jangka panjang. Dalam pendekatan ini, sebagian aktiva permanen (fixed asset) dibelanjai dengan pinjaman jangka pendek. 3. Conservative Approach. Adalah pendekatan rencana pemenuhan kebutuhan dana yang lebih banyak menggunakan sumber dana jangka panjang (hutang jangka panjang). Dalam pendekatan ini, perusahaan membelanjai sebagian aktiva lancarnya dengan pinjaman jangka panjang. Pendekatan ini dikatakan konservatif karena sebagian besar dana pinjaman yang digunakan jatuh temponya lama (long tenor) sehingga perusahaan memiliki keleluasaan (kemudahan) dalam melakukan pelunasan kembali atas pinjaman- pinjaman tersebut. PENGELOLAAN UANG KAS DAN BANK Pada prinsipnya uang kas dan bank adalah sama, hanya perbedaan antara keduanya adalah :
  • 12.
    12 - Kas adalah: Uang kas yang ada di tangan (cash on hand). - Bank adalah : Uang kas yang ada di bank (cash on bank). Tujuan utama pengelolaan kas adalah untuk memberi cukup likuiditas dalam memenuhi kebutuhan perusahaan sehari-hari, baik yang direncanakan maupun yang tidak terduga, serta menjaga agar jumlah kas seminimal mungkin sehingga memungkinkan kontribusi bagi tercapainya pendapatan investasi yang dikehendaki. Ada 3 (tiga) motif utama mengapa perusahaan mempertahankan uang kas (tidak seluruhnya diinvestasikan kedalam harta lainnya), yaitu :  Motif untuk Transaksi (Transaction Motive)  Motif untuk Berjaga-jaga (Precautionary Motive)  Motif untuk Spekulasi (Speculative Motive) Keuntungan-keuntungan Perusahaan memiliki kas yang memadai : 1. Perusahaan akan memperoleh potongan tunai atas pembelian (cash discount), maka apabila perusahaan tidak mengambil kesmpatan ini konsekuensinya ada biaya yang ditanggung perusahaan. % Discount 365 Biaya = X 100% - % Discount J. Waktu Kredit - J.Waktu Discount Contoh : Syarat Pembayaran 2/10, n/30 (artinya: jangka waktu kredit adalah 30 hari, namun bila dibayar dalam waktu 10 hari maka akan diberikan potongan sebesar 2%). Jika kesempatan discount ini tidak diambil oleh perusahaan dikarenakan kurang / tidak adanya uang kas untuk membayar, maka perusahaan se-olah-olah akan menanggung biaya sebesar :
  • 13.
    13 2% 365 Biaya =X 100% - 2% 30 - 10 = 0,0204 X 18,25 = 37.23 %. 2. Adanya kas yang memadai dapat memperkuat posisi perusahaan di mata kreditur, karena kas yang cukup merupakan unsur penting dalam analisa kredit untuk rasio lancar (current ratio) dan rasio cepat (quick ratio / acid test ratio) perusahaan. 3. Dengan memiliki uang kas yang cukup berarti perusahaan telah siap untuk menghadapi keadaan-keadaan yang darurat, seperti misalnya : pemogokan tenaga kerja, PHK karyawan maupun kampanye pemasaran dari para pesaing. 4. Jumlah kas yang memadai juga berguna untuk mengambil manfaat dari kesempatan bisnis yang menguntungkan yang mungkin sewaktu-waktu muncul secara tiba-tiba. Cara Membuat Kas Lebih Efektif Ada beberapa cara yang umum dan biasa dilakukan untuk membuat uang kas lebih efektif, yakni :  Penarikan Uang Tunai dilakukan secepat-cepatnya : Hal ini berkaitan erat dengan penagihan piutang. Salah satu cara yang paling mudah untuk meningkatkan arus kas masuk (cash inflow) adalah dengan mempercepat cairnya tagihan / piutang.  Melakukan Sistem Peramalan Kas (Cash Forcasting) : Perusahaan harus membuat anggaran kas (cash budget) yang berisi rencana penerimaan dan pengeluaran kas, serta posisi perusahaan
  • 14.
    14 akibat penerimaan danpengeluaran kas tersebut, selama periode yang tercakup dalam anggaran perusahaan.  Memainkan Kas Mengambang (floating) : Memainkan kas mengambang dengan memperkecil “waktu pengangguran” uang tunai yang tersedia di Bank.  Masa Mengambang (Floating Time) adalah jarak (Interval) waktu antara cek ditulis sampai si penerima cek dapat menguangkan dana tersebut. Jenis-jenis Masa Mengambang (floating time) : 1. Mail Time Float. Interval waktu antara pelanggan mengirimkan cheque sampai cheque tersebut diterima oleh penjual barang/jasa. 2. Processing Float. Waktu yang dibutuhkan untuk mengurangi rekening pelanggan dan men-deposit-kan cheque-nya. 3. Transit Float. Masa mengambang sehubungan dengan waktu kliring (clearing) dalam sistem perbankan.  Masa Mengambang (floating time) menguntungkan bagi si pembeli namun merugikan bagi si penjual barang/jasa.  Memainkan kas mengambang :  Mempercepat sistem pengumpulan / penagihan kas dengan cara mengurangi masa mengambang yang merugikan (the reduction of negative float).
  • 15.
    15  Memperlambat pembayaransecara kas dengan cara menambah masa mengambang yang menguntungkan (the increase of positive float). Cara mempercepat penagihan dengan mengurangi mail time float dan processing float adalah dengan titik-titik penagihan yang ter- desentralisasi (decentralized collection points)., yaitu :  Bagian penagihan melibatkan tenaga penjualan di lapangan untuk menerima pembayaran kemudian memasukkannya ke bank setempat (local bank).  Dengan melakukan Sistem Kotak Pos (Lock Box System), yaitu para pelanggan diminta untuk mengirimkan pembayaran / cheque ke kotak pos khusus. Dengan suatu bentuk kerjasama dengan pihak bank, kemudian bank setempat mengambil cheque-cheque tersebut lalu mendepositkannya dan mulai melakukan proses kliring, yang kemudian memberitahukan kepada perusahaan penjual tentang pembayaran tersebut yang telah diterimanya.
  • 16.
    16 LAPORAN KEUANGAN (FinancialReport) Laporan keuangan adalah ringkasan dari suatu proses pencatatan dan merupakan suatu ikhtisar dari transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama satu tahun buku. TUJUAN LAPORAN KEUANGAN 1. Sebagai alat pertanggung-jawaban manajemen kepada pemilik perusahaan (pemegang saham / stock holder). 2. Memberikan informasi yang bermanfaat kepada pihak luar dalam pengambilan keputusan. Komponen Laporan Keuangan 1. Neraca (Balance Sheet), yaitu laporan yang menunjukkan keadaan keuangan suatu perusahaan pada tanggal tertentu. 2. Laporan Rugi-Laba (Income Statement), yaitu laporan yang menunjukkan hasil usaha dan beban selama satu periode akuntansi. 3. Laporan Perubahan Modal (Statement of Changes In Capital), yaitu laporan yang menunjukkan sebab-sebab perubahan modal dari jumlah pada awal periode sampai jumlah pada akhir periode akuntansi. 4. Laporan Perubahan Posisi Keuangan (Statement of Changes In Financial Position), yaitu menunjukkan arus dana dan perubahan- perubahan dalam posisi keuangan selama tahun buku yang bersangkutan. 5. Laporan Arus Kas (Statement of Cash Flow), yaitu laporan yang memberikan informasi mengenai arus kas masuk dan keluar kas serta setara kas. Semua perubahan yang mempengaruhi kas dan setara kas dalam kategori operasi, investasi dan pendanaan dari suatu perusahaan selama
  • 17.
    17 suatu periode dalamformat yang merekonsiliasi saldo awal dan saldo akhir kas dan setara kas. Dalam menyusun laporan keuangan perlu diperhatikan adanya Standar-standar yang harus diikuti. Standar yang dimaksud adalah Prinsip-prinsip Yang Berlaku Umum (Generally Accepted Accounting Principle / GAAP). Di Indonesia hal ini dikenal dengan Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI). Sekarang istilah ini diganti dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). Alasan perlunya standar akuntansi adalah untuk melindungi para pemakai laporan keuangan terutama para pemakai di luar perusahaan yang akan membaca dan mengambil keputusan dari laporan keuangan yang disajikan perusahaan. Namun demikian, perlu disadari bahwa standar akuntansi yang dikembangkan belum dapat mengatasi permasalahan akuntansi secara menyeluruh, dikarenakan : 1). Standar akuntansi hanya memberikan pedoman yang bersifat umum saja, tidak memmberikan aturan yang pasti. Oleh sebab itu, para penyaji laporan keuangan harus mengembangkan pertimbangan profesionalnya dalam menginterpretasikan dan menerapkan setiap standar. (Contoh : Akuntansi untuk Kontingensi). 2). Dalam banyak bidang, ada lebih dari satu prinsip atau standar akuntansi yang diterima umum dalam pelaporan transaksi atau peristiwa. pilihan atas salah satu standar dari beberapa alternatif yang tersedia dapat berpengaruh terhadap laporan keuangan. Contoh : - Metode penyusutan aktiva tetap. (straight line, sum of year digit, declining balance, double declining balance). - Metode penilaian persediaan. (FIFO, LIFO, Average, Weighted Average).
  • 18.
    18 KOMPONEN-KOMPONEN YANG ADADI DALAM NERACA A. AKTIVA / HARTA / ASSETS : 1. Aktiva / Harta Lancar (Current Assets) : a. Kas & Bank (Cash on Hand & Bank) b. Investasi Jangka Pendek (Short-term Investment) c. Piutang (Account Receivable) d. Persediaan (Inventory) e. Biaya Dibayar Di Muka (Prepaid Expense) f. Aktiva Lancar Lainnya (Other Current Assets) 2. Investasi Jangka Panjang (Long-term Investment). 3. Aktiva Tetap Berwujud (Fixed Tangible Assets) : a. Tanah (Land) b. Bangunan (Building) c. Peralatan (Equipment) d. Konstruksi dalam pelaksanaan 4. Aktiva Tetap tidak Berwujud (Fixed Intangible Assets) : a. Hak Patent. b. Goodwill. c. Franchise. 5. Aktiva Lain-lain (Other Assets)
  • 19.
    19 B. PASSIVA /HUTANG + MODAL 1. Hutang Lancar (Current Liabilities) : a. Hutang Usaha (Account Payable). b. Hutang J. Panjang yang segera J. Tempo. c. Hutang Pajak (Tax Payable). d. Pendapatan Diterima Di Muka (Unearned Revenue). e. Hutang Lancar Lainnya (Other Current Liabilities). 2. Hutang Jangka Panjang (Long-term Debts) : 3. Modal Sendiri (Equity / Networth) : a. Modal Saham Disetor (Paid In Capital). b. Saham Biasa (Common Stock). c. Saham Preferens (Preferred Stock). d. Agio (Disagio) Saham. e. Cadangan-cadangan (Reserve). f. Modal Penyertaan (Participation). g. Laba Ditahan (Retained Earning). PERKIRAAN-PERKIRAAN (POS-POS) NERACA 1. AKTIVA / HARTA / ASSETS Berdasarkan Statement of Financial Accounting Concept (SFAC), Harta adalah manfaat ekonomis di masa yang akan datang yang diperoleh atau dikuasai oleh suatu badan usaha tertentu sebagai hasil dari transaksi atau peristiwa di masa lalu. Ada 3 (tiga) sifat pokok yang melekat pada aktiva :
  • 20.
    20 a. Mempunyai manfaatdi masa mendatang guna menyumbang pada aliran kas masuk (cash inflow) baik langsung maupun tidak langsung. b. Badan usaha tertentu dapat memperoleh manfaat dan mengendalikan manfaat tersebut. c. Transaksi atau peristiwa yang menyebabkan timbulnya hak badan usaha untuk memperoleh dan mengendalikan manfaat tersebut sudah terjadi. A. Aktiva / Harta Lancar (Current Assets) Kas dan sumber daya yang layak diharapkan dapat dirubah menjadi kas selama siklus operasi normal suatu perusahaan (biasanya dalam jangka satu tahun), periode mana yang lebih panjang. Siklus operasi normal, adalah waktu yang diperlukan bagi kas agar dapat diubah menjadi persediaan, persediaan menjadi piutang dan piutang menjadi kas. Apabila siklus operasinya lebih panjang dari satu tahun, maka digunakan periode yang lebih panjang ini (bukan periode satu tahunan). Ada beberapa pengecualian atas definisi umum aktiva lancar : 1). Kas yang penggunaannya terbatas, misalnya yang disediakan untuk perolehan aktiva tetap, atau disisihkan untuk melunasi hutang tak lancar. Hal ini tidak boleh dicantumkan dalam aktiva lancar. 2). Selain kas, piutang dan persediaan, aktiva lancar juga mencakup sumber daya seperti : biaya-biaya dibayar di muka. Pembayaran di muka atas pos-pos seperti asuransi dan bunga bukan merupakan aktiva lancar dalam arti bahwa pos-pos itu dapat diubah menjadi kas, tetapi
  • 21.
    21 merupakan aktiva lancardalam arti bahwa jika hal itu tidak dibayar di muka, kas atau aktiva lancar lainnya akan tetap digunakan untuk membayarnya dalam siklus operasi. 3). Surat-surat berharga perusahaan, apakah dapat dijual segera atau tidak yang dimaksudkan untuk mengendalikan perusahaan lain, tidak boleh dianggap sebagai aktiva lancar. 4). Pos-pos lain yang dapat diubah menjadi kas tetapi tidak diharapkan untuk diubah, tidak boleh diklasifikasikan sebagai aktiva lancar. Misalnya : - Uang pertanggungan asuransi jiwa. - Tanah. - Aktiva yang dapat disusutkan (aktiva tetap). 1. KAS Merupakan aktiva lancar yang paling likuid dan terdiri dari perkiraan- perkiraan yang berlaku sebagai alat tukar & memberikan dasar bagi pengukuran akuntansi. Agar dapat diklasifikasikan sebagai kas, suatu perkiraan haruslah tersedia setiap saat & tidak dibatasi penggunaannya untuk pembayaran suatu kewajiban. Yang dapat diklasifikasikan sebagai kas : a. Mata uang logam & kertas yang ada di perusahaan. b. Dana dalam deposit bank yang tidak dibatasi penggunaannya, yang sering kali disebut sebagai Rekening Koran Bank (Demand Deposit).
  • 22.
    22 c. Dana kaskecil atau uang-uang receh & instrumen yang dapat dinegosiasikan seperti : personal cheque, travellers cheque, dan wesel pos. Hal-hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan Kas : 1). Deposito yang tidak segera tersedia karena pembatasan, diklasifikasikan sebagai Kas Yang Dibatasi atau Investasi Sementara dan bukan sebagai Kas. 2). Deposito pada bank luar negeri yang dapat diambil segera tanpa dibatasi, memenuhi syarat sebagai Kas dan dicatatkan sebesar nilai equivalent-nya terhadap mata uang yang digunakan per-tanggal neraca. 3). Akan tetapi Kas pada bank luar negeri yang diabatasi pemakaiannya ataupun pengambilannya harus dicatat sebagai Piutang yang bersifat lancar atau tidak lancar. 4). Beberapa perkiraan yang tidak dapat diterima sebesar nilai nominal pada saat disetorkan, tidak boleh dicatat sebagai Kas. (Contoh : benda-benda pos, cheque mundur, cheque kosong). 5). Saldo kas yang ditetapkan secara spesifik oleh manajemen untuk tujuan khusus harus dicatat secara terpisah. Saldo kas yang akan digunakan untuk pelunasan kewajiban jangka pendek dapat dicatatkan terpisah dari Kas tetapi masih di dalam aktiva lancar (misal : dana kas untuk perjalanan karyawan). Klasifikasi saldo kas sebagai lancar atau tidak lancar harus sejalan dengan klasifikasi yang diterapkan untuk kewajiban (hutang).
  • 23.
    23 6). Saldo kreditpada perkiraan kas akibat penerbitan cheque yang melebihi jumlah dana yang tersedia (dikenal sebagai Overdraft) harus dicatat sebagai Kewajiban Lancar. Apabila perusahaan mempunyai 2 rekening atau lebih pada satu bank, overdraft ini dapat dilakukan Offset terhadap rekening saldo positif. Masalah Saldo Kompensasi (Compensating Balance)  Sudah menjadi praktek yang lazim bagi suatu perusahaan untuk menyetujui pembentukan saldo minimum atau saldo rata-rata yang harus ada dalam rekening bank pada suatu bank.  Saldo minimum tersebut dibentuk dalam rangka memperoleh pinjaman dari bank yang bersangkutan (diistilahkan Compensating Balance).  Saldo kompensasi ini merupakan sumber dana bagi pemberi pinjaman sebagai bagian kompensasi untuk tambahan kredit. Cara ini akan meningkatkan tingkat bunga pinjaman yang sebenarnya, karena sejumlah tertentu yang ada pada bank tersebut tidak dapat digunakan.  Saldo kompensasi ini akan menimbulkan masalah akuntansi, karena para pembaca laporan keuangan mungkin menganggap seluruh jumlah kas yang ada tersebut dapat dipakai seluruhnya untuk berbagai tujuan. Namun kenyataannya, ada sejumlah tertentu yang tak boleh digunakan.  Pemecahan atas masalah ini adalah dengan jalan mengungkapkan sejumlah salso kompensasi tersebut dalam Catatan Atas Laporan Keuangan (Notes to Financial Statement).
  • 24.
    24 2. EFEK /SURAT BERHARGA (Marketable Securities)  Kelebihan kas yang tersedia untuk jangka waktu sementara dapat diinvestasikan dalam berbagai dana pasar modal dan instrumen- instrumen sejenisnya, atau dapat pula digunakan untuk membeli surat berharga.  Dengan demikian akan diperoleh pendapatan yang tidak akan ada seandainya kas tersebut dibiarkan menganggur.  Investasi sementara dalam surat berharga ini akan dicatat sebagai Marketable Securities, apabila : a. Ada pasar yang setiap saat dapat mengkonversikan surat berharga tersebut menjadi kas. b. Manajemen berniat akan menjualnya jika timbul kebutuhan akan uang kas. 3. PIUTANG (Receivable) Piutang adalah klaim (tagihan) yang diharapkan dapat diselesaikan melalui penerimaan kas. Dalam klasifikasi piutang, perlu dibedakan antara Piutang Usaha dengan Piutang Non-usaha. Biasanya sumber utama Piutang Usaha adalah aktifitas normal perusahaan yakni penjualan barang dan jasa secara kredit kepada para pelanggan. Piutang Usaha ini dicantumkan dalam neraca sebesar nilai kas yang dapat direalisasikan atau nilai kas yang diharapkan (Net Realizable Value), artinya Piutang Usaha ini harus dicatat bersih sesudah memperhitungkan Estimasi Penyisihan Piutang Ragu-ragu.
  • 25.
    25 Pencatatan Penyisihan PiutangRagu-ragu 1. Jumlah piutang yang diperkirakan tidak akan dapat tertagih harus dicatat dengan cara : Biaya Piutang Ragu-ragu xxx - Peny. Piutang Ragu-ragu - xxx 2. Biaya tersebut akan dicatat sebagai biaya penjualan atau biaya umum & adminstrasi. 3. Perkiraan Penyisihan Piutang Ragu-ragu tersebut akan dicantumkan sebagai pengurang (contra account) atas perkiraan Piutang Usaha, sehingga Piutang Usaha nilainya bersih (nett). Cara meng-Estimasi Besarnya Penyisihan Piutang Ragu-ragu : 1. Berdasarkan Prosentase Penjualan Kredit Ilustrasi : Bila 2% dari penjualan kredit yang sebesar Rp.400.000.000,- dianggap diragukan ketertagihannya, maka besarnya penyisihan adalah = 2% x Rp. 400.000.000,- = Rp.8.000.000,-. Jurnalnya : Biaya Piutang Ragu-ragu Rp.8 juta - Peny. Piutang Ragu-ragu - Rp.8 juta 2. Berdasarkan Saldo Piutang Usaha Metode ini menekankan hubungan langsung antara saldo piutang usaha dengan penyisihan piutang ragu-ragu.
  • 26.
    26 Ilustrasi : Jika jumlahpiutang usaha adalah Rp.100 juta, dan diestimasikan bahwa 3% dari piutang ini tidak akan tertagih, maka besarnya penyisihan = 3% x Rp. 100 juta = Rp. 3 juta. Dan jika penyisihan piutang sebelumnya telah mempunyai saldo kredit sebesar Rp. 6 juta, maka Ayat Jurnal Penyesuaian (AJP) untuk periode berjalan adalah : Biaya Piutang Ragu-ragu Rp. 9.000.000,- - Peny. Piutang Ragu-ragu - Rp. 9.000.000,- Perhatikan bahwa metode ini menyesuaikan saldo yang ada pada saldo yang diinginkan berdasarkan prosentase jumlah piutang yang beredar. 3. Berdasarkan Umur Piutang Metode ini adalah yang paling lazim digunakandalam prakteknya, karena metode ini mendekati realistis mengenai berapa jumlah piutang yang kemungkinan besar tidak dapat tertagih. Ilustrasi :
  • 27.
    27 Estimasi Nilai PenyisihanPiutang Ragu-ragu Umur Jumlah % menurut Nilai Piutang Piutang Pengalaman Estimasi Belum J.T $ 40,000 2 % $ 800 < 30 hari $ 3,000 5 % $ 150 31 - 60 hari $ 1,200 10 % $ 120 61 - 90 hari $ 650 20 % $ 130 91 - 180 hari $ 500 30 % $ 150 181 - 365 hari $ 800 50 % $ 400 > 1 tahun $ 1,400 80 % $1,120 J u m l a h $ 47,550 $ 2,870 Dengan estimasi sebesar $ 2,870 tersebut dan saldo kredit penyisihan piutang ragu-ragu sebelum penyesuaian adalah sebesar $ 620, maka ayat jurnal penyesuaian yang perlu dibuat adalah : Biaya Piutang Ragu-ragu $ 2,250 - Penyisihan Piutang Ragu-ragu - $ 2,250
  • 28.
    28 NERACA LAJUR (WORKSHEET) PENGERTIAN NERACA LAJUR Neraca Lajur adalah kertas kerja / alat bantu yang digunakan oleh para akuntan atau orang yang bekerja di bidang akuntansi, untuk menyusun laporan keuangan secara akurat dan tepat waktu. Neraca Lajur disebut juga Work sheet. KEGUNAAN NERACA LAJUR Neraca Lajur berguna untuk : 1). Mengurangi kemungkinan terjadinya kelupaan dalam membuat ayat jurnal penyesuaian. 2). Memudahkan pengecekan kecermatan / keakuratan perhitungan akuntansi. 3). Memungkinkan nama-nama perkiraan disusun dan disajikan dengan urutan yang rapih dan teratur berdasarkan keperluan pembuatan laporan keuangan. KOMPONEN-KOMPONEN NERACA LAJUR Neraca Percobaan : pencatatan dan penghitungan saldo-saldo dari buku besar (general ledger) untuk memastikan apakah jumlah saldo perkiraan sisi debet sudah sama (balance) dengan saldo perkiraan sisi kredit. Disebut Trial Balance. Jurnal Penyesuaian : adalah suatu proses pencatatan (jurnal) yang dilakukan untuk menyesuaikan saldo buku besar supaya menunjukkan saldo yang sesungguhnya terjadi (sudah memperhitungkan adanya penyesuaian- penyesuaian pada akhir periode
  • 29.
    29 pembukuan), sehingga laporankeuangan menjadi up-to-date. Disebut Adjusting Entry. Neraca Saldo : adalah saldo-saldo pada neraca percobaan yang sudah memasukkan unsur- unsur penyesuaian (adjusting entries) ke dalam neraca tersebut. Disebut sebagai Adjusted Trial balance. Laporan Rugi-Laba : adalah pencatatan atas perkiraan-perkiraan sementara (temporary account) ke dalam bentuk laporan rugi atau laba yang terjadi. Perkiraan-perkiraan sementara yang masuk ke dalam laporan rugi-laba ini adalah seluruh perkiraan penjualan, biaya penyusutan, biaya-biaya operasi, biaya-biaya di luar operasi, pendapatan- pendapatan operasi serta pendapatan-pendapatan non-operasi. Disebut sebagai Income Statement. Laporan Neraca : adalah pencatatan atas perkiraan-perkiraan riil (nominal account) ke dalam neraca. Jenis perkiraan riil ini adalah seluruh perkiraan yang ada di luar perkiraan sementara / temporary account / perkiraan rugi-laba. Disebut Balance Sheet. AYAT JURNAL PENYESUAIAN (AJP) Jurnal-jurnal penyesuaian (adjusting entries) perlu dibuat untuk jenis-jenis perkiraan tertentu yang memerlukan adanya penyesuaian, sehubungan dengan berlalunya waktu sampai dengan akhir periode laporan keuangan. Jenis-jenis perkiraan tersebut adalah : 1). Biaya-biaya dibayar di muka (prepaid expenses). 2). Biaya-biaya yang masih harus dibayar (accrued expenses). 3). Pendapatan-pendapatan diterima di muka (Unearned revenues). 4). Pendapatan-pendapatan yang masih harus diterima (accrued revenues).
  • 30.
    30 ANALISA PULANG POKOK (BREAKEVEN ANALYSIS) Tujuan perusahaan secara keuangan adalah untuk memperoleh keuntungan (profit). Besar kecilnya keuntungan yang dihasilkan umumnya merupakan indikator dan ukuran kesuksesan manajemen perusahaan dalam menjalankan kegiatan usahanya. Oleh sebab itu, manajemen harus mampu merencanakan keuntungan bagi perusahaan. PENGERTIAN PULANG POKOK (BREAK EVEN) Pulang Pokok (Break Even) adalah Suatu keadaan operasi perusahaan dimana perusahaan tidak memperoleh laba dan juga tidak menderita suatu kerugian (Tidak Laba dan Tidak Rugi - Impas). Secara Matematis, Pulang Pokok dapat ditulis sebagai berikut :  TP = TR – TC  TP = (P x Q) – (TFC + TVC)  TP = (P.Q) – (TFC + v x Q)  TP = P.Q – TFC – v.Q Dimana : TP = Total Profit TFC = Total Fixed Cost TR = Total Revenue TVC = Total Variable Cost TC = Total Cost v = Variable Cost Per-unit. P = Harga jual Q = Unit yang dijual
  • 31.
    31 Bila terjadi PulangPokok, berarti Laba = 0 , sehingga TP = 0 , maka : P.Q – TFC – v.Q = 0 P.Q – v.Q = TFC (P - v).Q = TFC TFC Jadi, Q = = Titik Pulang Pokok = Break Even Point (BEP). (P - v) (P – v) disebut juga sebagai Kontribusi Margin (Margin Contribution). KARAKTERISTIK BIAYA (COST CHARACTERISTIC) 1. Biaya Tetap (Fixed Cost) Biaya Tetap adalah biaya yang sampai dengan jumlah output tertentu tidak akan berubah walaupun output yang dihasilkan tersebut berubah jumlahnya. Jadi sifat Biaya Tetap : - Untuk jangka pendek tidak akan berubah (tetap), asalkan dalam kegiatan yang sama dan relevan. - Dalam jangka panjang cenderung akan berubah, terutama apabila kapasitas produksinya (dalam hal ini kapasitas mesinnya dirubah, karena harus meningkatkan kapasitas mesin atau membeli mesin yang baru). Faktor-faktor yang harus diperhatikan perusahaan di dalam merumuskan Biaya Tetap :  Keterkendalian Biaya (Cost Controllability) Ada biaya-biaya tetap yang dapat dikendalikan manajemen dalam jangka pendek, dan setiap tahunnya ditentukan berdasarkan kebijakan manajemen.
  • 32.
    32  Hubungan denganKegiatan Perusahaan - Biaya tetap timbul karena karena tersedianya kapasitas produksi. - Biaya tetap bukan sebagai akibat dari melakukan kegiatan-kegiatan tersebut. - Biaya tetap dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor lain (seprti : teknologi permesinan, inovasi dan invensi dari perusahaan lain pembuat mesin- mesin dan peralatan manufaktur).  Kebijakan Manajemen Perusahaan (Company Policy) Sebagian besar biaya tetap tergantung sepenuhnya pada keputusan- keputusan manajemen.  Tetap Secara Total, Tetapi Variable Secara Unit Biaya tetap akan tetap jumlahnya untuk suatu jumlah unit tertentu (Misal: kapasitas mesin tertentu), tetapi akan bersifat variable bila dilihat dari tiap-tiap unit output yang dihasilkan. 2. Biaya Variabel (Variable Cost) Biaya Variabel adalah biaya yang cenderung berubah secara proporsional dengan berubahnya volume produksi (Output). Biaya variabel ini merupakan Biaya Kegiatan (Activity Cost), yang akan timbul hanya bila ada kegiatan usaha / operasi yang dilakukan. Biaya ini tidak akan timbul seandainya tidak ada sama sekali kegiatan usaha yang dilakukan (terutama kegiatan produksi).
  • 33.
    33 Biaya variabel secaralangsung akan meningkat atau menurun dengan berubahnya unit output yang dihasilkan. Jika output bertambah 50% maka biaya variabel juga akan meningkat sebesar 50%, begitu pula sebaliknya. 3. Biaya Semi Variabel (Semi Variable Cost) Biaya semi variabel merupakan pos-pos biaya yang meningkat atau menurun dengan meningkat atau menurunnya output, tetapi tidak secara proporsional. Biaya semi variabel ini memiliki sifat-sifat biaya tetap dan biaya variabel. Biasanya variabilitas dari biaya semi variabel ini dapat disebabkan pengaruh gabungan dari :  Jangka waktu.  Kegiatan Usaha atau Output.  Kegiatan Manajemen. MARJIN KONTRIBUSI ( CONTRIBUTION MARGIN – CM ) Yang dimaksud dengan Marjin Kontribusi adalah Harga jual per-unit dikurangi dengan biaya variabel per-unit produk yang terjual tersebut. Jadi secara matematis, Marjin Kontribusi adalah : (P – v) = CM. Marjin kontribusi ini juga menunjukkan berapa sisihan (margin) yang terjadi bila Harga jual per-unit produk tersebut dikurangkan dengan biaya variabel per- unitnya. Hal ini juga menunjukkan berapa Sisihan/sisa (Margin) yang ada bila dengan melakukan Variable Cost Coverage, artinya yang diperhitungkan sebagai biaya di sini hanya yang sifatnya biaya variable saja sedangkan biaya tetapnya dianggap tidak ada.
  • 34.
    34 Sedangkan bila memperhitungkanjuga seluruh biaya tetapnya, dinamakan Total Cost Coverage. Variable Cost Coverage dipakai biasanya untuk melakukan kompetisi dengan pesaing (competitor) lain dari perusahaan yang sejenis, supaya harga jual yang diberikan perusahaan dapat bersaing dengan para pesaing (competitors) nya. Untuk itulah makanya yang diperhitungkan sebagai biaya produksi hanya yang berupa biaya variabelnya saja dengan mengabaikan sementara biaya tetap yang telah terjadi. Karena biaya tetap sifatnya dalam jangka pendek dan selama kapasitas produksi mesin masih memenuhi untuk memproduksi seluruh permintaan pasar. TITIK PULANG POKOK ( BREAK EVEN POINT – BEP ) Titik Pulang Pokok (Break Even Point) adalah Penjualan (dalam unit) yang menghasilkan keadaan pulang pokok (impas). Jadi analisa pulang pokok dalam BEP ini adalah : Untuk menentukan berapa unit yang harus diproduksi dan dijual yang dapat menghasilkan keadaan impas. Atau dengan kata lain, Supaya terjadi setidak- tidaknya (minimal) pulang pokok, berapa unit produk yang harus diproduksi dan dijual. Dalam analisa ini Jumlah yang diproduksi = Jumlah yang terjual, jadi asumsinya seluruh produk akan terserap di pasar (terjual) berapapun yang diproduksi. Gunanya Menghitung BEP ini adalah : Untuk mempelajari hubungan antara volume produksi / penjualan, harga dan biaya.
  • 35.
    35 PENJUALAN PULANG POKOK( BREAK EVEN SALES – BES ) Penjualan Pulang Pokok (Break Even Sales) adalah Penjualan (dalam mata uang) yang menghasilkan keadaan pulang pokok (impas). Break Even Sales (BES), adalah BEP dikalikan dengan harga jual produk per- unitnya. Jadi : BES = BEP x P  Bila BEP sudah diketahui, maka BES dapat dengan mudah dicari (jika harga jual per-unit produknya diketahui).  Dapat pula dicari BES tanpa mencari dahulu BEP, yakni dengan menggunakan formula : TFC BES = x P P – v Total Fixed Cost TFC = = Marginal Income Ratio MIR Dimana : Hasil Penjualan - Biaya Variabel Total P.Q - TVC M I R = = Hasil Penjualan P.Q Hasil Penjualan Biaya Variabel Total = Hasil Penjualan Hasil Penjualan TVC v.Q = 1 = 1 P.Q P.Q
  • 36.
    36 Jadi : V TFC MI R = 1 B E S = P 1 - v / P ILUSTRASI : PT “ X “ Profit Budget Tahun 2000  Penjualan (unit produksi x harga jual) = 200.000 x 250,- = 50.000.000,- Fixed Cost Var. Cost Total Cost  Biaya-biaya : - Bahan baku 9.000.000,- 9.000.000,- - T.K. Langsung 10.000.000,- 10.000.000,- - Overhead 18.000.000,- 7.000.000,- 25.000.000,- 18.000.000,- 26.000.000,- 44.000.000,- Laba Yang Dianggarkan = 6.000.000,- Maka berdasarkan data anggaran tersebut, dapat dicari BEP dan BES nya dari berbagai cara, yakni : (1). Untuk Mencari BEP : TFC 18.000.000,- BEP = = = 150.000 unit. P – v 250 - 26.000.000 / 200.000,-
  • 37.
    37 TVC Jadi, Biaya variabelper-unit (v) = Jumlah Diproduksi 26.000.000,- = = Rp 130,- per-unit 200.000 Jadi, Tingkat unit penjualan pulang pokok (BEP) perusahaan PT “X” adalah sebesar 150.000 unit, dengan demikian perusahaan mengalami kondisi BREAK EVEN (Tidak Untung dan Tidak Rugi). BUKTIKAN (CHECK) :  Penjualan ( 150.000 x 250 ) = 37.500.000,-  Biaya-biaya : - Biaya tetap (TFC) = 18.000.000,- - Biaya Variabel (TVC) = 19.500.000,- Total Biaya Produksi 37.500.000,- Profit / Loss = 0,- (2). Untuk Mencari BES : a). Karena tingkat BEP nya sudah diketahui sebesar 150.000 unit, maka BES tinggal mengalikannya dengan harga jual per-unit (P). Maka BES = BEP x P = 150.000 unit x Rp. 250,- = Rp. 37.500.000,-.
  • 38.
    38 b). Cara lain,adalah bila BEP diasumsikan belum diketahui, maka : TFC 18.000.000,- BES = = 1 – TVC / P.Q 1 - 26.000.000 / (250 x 200.000) = Rp. 37.500.000,- TFC 18.000.000,- atau : BES = = = Rp. 37.500.000,- 1 - v / P 1 - 130 / 250 BUKTIKAN (CHECK) :  Penjualan yang menghasilkan BES = 37.500.000,-  Biaya-biaya : - Biaya tetap (TFC) = 18.000.000,- - Biaya Variabel (TVC) *) = 19.500.000,- Total Biaya Produksi = 37.500.000,- Profit / Loss = 0,- Ket : 19.500.000,- didapat dari : unit BEP x biaya variabel per-unit : 26.000.000,- Yakni = 150.000 unit X = Rp. 19.500.000,-. 200.000 unit
  • 39.
    39 MARGIN OF SAFETY(MOS) Margin of Safety adalah Hubungan antara “Hasil Penjualan Pada Tingkat BEP (disebut juga BES)” dengan “Hasil Penjualan Yang Dianggarkan (disebut Budgeted Sales). Margin of Safety (MOS) berguna untuk mengetahui atau mengukur SEBERAPA JAUH penurunan dalam penjualan (decreasing in sales) yang masih dapat ditolerir (dibolehkan) sampai pada batas BES atau BEP (batas terendah tersebut). Margin of Safety (MOS) ini dapat dinyatakan dalam bentuk : 1. Persentase (%) antara “Penjualan Yang Dianggarkan (Budgeted Sales)” dengan “Tingkat BES” nya. Formula : Budgeted Sales MOS = X 100% BES 2. Persentase (%) antara “Selisih Budgeted Sales dengan BES” dengan “Budgeted Sales” itu sendiri. Formula : Budgeted Sales - BES MOS = X 100% Budgeted Sales Dari contoh di atas, maka didapatkan/diketahui MOS sebagai berikut :
  • 40.
    40 Rp. 50.000.000,- 1. MOS= X 100% = 133,33 %. Rp. 37.500.000,- Artinya : Tingkat penjualan boleh turun (masih dapat ditolerir) bila turunnya sebesar 33,33 % dari BES yang sebesar Rp. 37.500.000,-. Tingkat penurunan yang masih dapat ditolerir tersebut adalah sebesar Rp.12.500.000,- (33,33% X Rp.37.500.000,-) atau sebanyak 50.000 unit. Rp. 50.000.000,- - Rp. 37.500.000,- 2. MOS = X 100 % = 25 %. Rp. 50.000.000,- Artinya : Tingkat penjualan boleh turun (masih dapat ditolerir) bila turunnya sebesar 25% dari Budgeted Sales yang sebesar Rp.50.000.000,-. Tingkat penurunannya yang masih dapat ditolerir tersebut adalah sebesar Rp.12.500.000,- (25% X Rp.50.000.000,-) atau sebanyak 50.000 unit. Jadi dengan Mengetahui MOS maka akan dapat diketahui SENTITIFITAS TURUNNYA PENJUALAN terhadap KONDISI PULANG POKOK perusahaan. KETERBATASAN-KETERBATASAN ANALISA PULANG POKOK (The Constraints of Break Even Analysis)  Biaya harus dapat dikelompokkan (dipisahkan) menjadi 2 (dua), yaitu : Biaya Tetap (Fixed Cost) dan Biaya Tak Tetap (Variable Cost). Pada kenyataannya, untuk membedakan biaya ke dalam kedua kelompok ini biasanya sangat sulit dilakukan, karena pada bidang-bidang tertentu akan terjadi biaya yang sekaligus atau bersamaan mengandung sifat tetap dan variabel (disebut: Semi Variable Cost).
  • 41.
    41  Biaya Tetap(Fixed Cost) akan selalu konstan pada suatu kapasitas mesin / pabrik tertentu. Namun apabila melewati kapasitas penuh (dari mesin misalnya) maka biaya tetap tersebut pun akan berubah seperti biaya variable, namun tidak secara proporsional dengan unit produk yang akan diproduksi.  Biaya variable (Variable Cost) diasumsikan selalu berubah secara proporsional dengan perubahan Volume produksi / penjualan. Namun pada kenyataannya, biasanya untuk pembelian bahan baku semakin tinggi tingkat produksi maka pembelian bahan baku juga semakin banyak sehingga akan ada perolehan potongan pembelian (purchase discount) yang akan secara otomatis akan mengurangi biaya variable secara total maupun secara per- unit produk yang akan dihasilkan.  Harga jual (selling price) diasumsikan tidak akan berubah berapapun jumlah yang terjual (quantity sold). Pada kenyataannya hal ini tidaklah demikian, semakin banyak yang terjual maka biasanya akan diberikan potongan harga (price discount) atau mungkin pula dilakukan praktek diskriminasi harga (price discrimination).  Asumsi yang terakhir dari BEA adalah bahwasannya barang / produk yang diproduksi dan dijual adalah untuk satu macam jenis produk saja (single product). Kenyataannya, banyak terjadi diversifikasi produk (product diversification). Sehingga dengan demikian, Analisa Pulang Pokok hanya dapat dilakukan untuk masing-masing produk secara terpisah (Separated Single Product). Jadi :  Produk A, dapat dicari Break Even untuk Produk A,  Produk B, hanya dapat dicari Break Even untuk produk B,  Begitu seterusnya (tak dapat digabungkan).
  • 42.
    42 Namun dengan AnalisaSentifitas yang kreatif atas Break Even Analysis (BEA) ini dimungkinkan diketahuinya Break Even untuk produk-produk secara gabungan (mixed product). ASUMSI-ASUMSI YANG BIASANYA DIGUNAKAN DI DALAM PENCATATAN KEUANGAN ( AKUNTANSI KEUANGAN ) 1. Going Concern : Perusahaan akan berjalan terus sampai pada masa yang tak dapat ditetapkan, atau cukup lama bagi perusahaan untuk melaksanakan rencana-rencana atas usahanya. 2. Specific Separated Entity : Akuntansi membatasi diri hanya pada kesatuan usaha yang berdiri sendiri terlepas dari kepentingan-kepentingan pihak lain. 3. Historical Cost : Pencatatan dalam akuntansi didasarkan pada “harga perolehan” (historical cost) yang betul-betul telah dikeluarkan (terjadi). 4. Money as Unit of Measurement : Akuntansi hanya akan melaporkan kegiatan-kegiatan perusahaan yang dapat diukur dengan satuan uang (money). 5. Revenue Recognition : Pendapatan merupakan suatu proses yang berjalan secara terus menerus tanpa terputus, sehingga untuk tujuan pelaporan akuntansi diperlukan pembatasan yang jelas tentang kapan suatu pendapatan diakui. 6. Matching Cost Against Revenue : Biaya-biaya yang dibebankan dalam suatu periode akuntansi haruslah hanya biaya-biaya yang dipergunakan untuk menghasilkan (memperoleh) pendapatan pada periode akuntansi yang sama pula. 7. Periodicity : Jangka waktu hidup perusahaan, untuk tujuan pelaporan akuntansi, akan dibagi-bagi menurut periode-periode (fiskal) tertentu.
  • 43.
    43 DOKTRIN YANG BIASANYADIGUNAKAN DI DALAM PENCATATAN KEUANGAN ( AKUNTANSI KEUANGAN ) 1. MATERIALITY : Teori, Prinsip dan Asumsi Akuntansi hanya diterapkan apabila pengaruhnya terhadap “ketepatan laporan keuangan” sangat berarti (significant) yang mana akan mempengaruhi penilaian dan atau keputusan yang diambil. 2. CONSISTENCY : Prinsip dan Prosedur Akuntansi yang dipakai harus sama dari satu periode dengan periode-periode lain berikutnya. 3. COMPARABILITY : Laporan Keuangan dari perusahaan lain yang berbeda harus didasarkan pada Prinsup dan Prosedur Akuntansi yang sama. 4. OBJECTIVITY : Ukuran-ukuran Akuntansi harus didasarkan pada bukti-bukti yang dapat diperiksa (diaudit) keberadaannya. 5. CONSERVATISM : Apabila ada beberapa alternatif yang dapat dipilih, maka Akuntan harus memilih alternatif yang paling jelek (buruk) akibatnya terhadap kekayaan pemilik perusahaan. ~ E N D ~