SlideShare a Scribd company logo
FARMASI SOSIAL
DOSEN: PARULIAN D. GULTOM, S.K.M., M.B.A​
D-3 FARMASI
STIKES ARJUNA LAGUBOTI
OUTLINES:
FARMASI
SOSIAL
2
LATAR BELAKANG
POSISI FARMASI SOSIAL DALAM ILMU FARMASI
DEFINISI
BIDANG FARMASI SOSIAL
LATAR BELAKANG
FARMASI
SOSIAL
3
• Mengapa pasien tidak menggunakan (atau tidak minum) obat
seperti yang diresepkan?
• Jenis informasi obat apa yang memiliki efek terbaik pada
pemahaman pasien dan kapan harus disediakan?
• Bagaimana seorang farmasis paling efektif mengidentifikasi
pasien yang terkait dengan masalah / efek samping obat?
• Bagaimana cara layanan farmasi baru untuk pasien /pelanggan
menjadi diimplementasikan dalam perawatan kesehatan?
LATAR BELAKANG
5
PRESENTATION
TITLE
• Perkembangan Farmasi Sosial dipicu oleh adanya perubahan konsep pola
penyakit dan penatalaksanaannya ke pola hidup sehat dan promosi
kesehatan.
• Farmasi Sosial juga bergeser dari (1) konsep bio-pathology ke
sociopsycholog; (2) menunjukkan pergeseran dari product oriented ke
patient oriented; (3) Perubahan konsep pada konteks kefarmasian, yaitu
bergeser dari dispensing and compounding menuju ke bentuk
hubungan client-counselor yang berarti farmasis berfungsi sebagai
konsultan obat (drug advicer).
• Perubahan orientasi praktek kefarmasian dari product oriented ke patient oriented menuntut
adaptasi dari perguruan tinggi dan farmasis yang telah bekerja untuk terus berbenah dan
melengkapi diri agar mampu berperan maksimal dalam meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat.
• Perubahan orientasi ini mengharuskan farmasis untuk memiliki peran yang lebih luas dari hulu
ke hilir mulai dari pembuatan, pengawasan, penyerahan hingga pemasaran bahwa obat yang
akan digunakan oleh pasien memenuhi prinsip-prinsip rasionalitas .
• Farmasis dituntut berinteraksi dengan pasien dalam rangka memberikan informasi yang tepat
terhadap obat yang akan digunakan oleh pasien.
• Untuk menjalankan peran ini maka setiap farmasis tidak hanya dilengkapi dengan ilmu-ilmu
alam (natural sciences), analisis farmasi, dan teknologi farmasi. Tetapi lebih dari itu, farmasis
juga diwajibkan menguasai farmasi klinik dan farmasi sosial.
6
FARMASI
SOSIAL
Farmasi sosial adalah hal yang baru dan belum diterapkan PTF di Indonesia.
Pengetahuan-pengetahuan dasar farmasi dirasakan (tidak cukup) mendukung orientasi farmasis
yang telah mengarah pada pasien Farmasis harus dilengkapi dengan kemampuan yang
dapat memaksimalkan peran farmasis dalam lingkungan sosial ini.
Disinilah farmasi sosial muncul sebagai isu utama untuk menjawab tantangan ini.
7
FARMASI
SOSIAL
• Farmasi Sosial, yaitu suatu disiplin ilmu ( field of study) kefarmasian yang berkembang
dengan dukungan disiplin ilmu lain yang terkait untuk menguji, meneliti, memahami, dan
mengatasi persoalan-persoalan yang senantiasa timbul dalam pengabdian profesi farmasi.
• Tujuan disiplin ilmu Farmasi Sosial adalah pemahaman dan penjelasan menyeluruh tentang
masalah-masalah yang berkaitan dengan farmasi atau sedang dihadapi oleh farmasi (Harding
dkk., 1994).
• Farmasi Sosial merupakan hibrida ilmu kefarmasian yang bergerak/berkembang di atas
landasan teori serta metodologi ilmu sosial dan perilaku (social and behaviour) untuk
mengungkap masalah-masalah pharmacy practice.
• Disiplin ilmu-ilmu yang terkait, antara lain politik, komunikasi, psikologi, sosiologi, pendidikan,
pharmacy practice, ekonomi, manajemen, sejarah, dan antropologi.
8
FARMASI
SOSIAL
• Sekitar dua dekade lalu, Farmasi Sosial disinonimkan dengan farmakoepidemologi dan
distribusi sosial/ demografi penggunaan obat.
• Cakupan farmasi sosial menjadi lebih luas dan tidak hanya dibatasi oleh pemetaan distribusi
obat pada sebuah populasi.
• Untuk mencapai hasil yang optimum dalam asuhan kefarmasian (pharmaceutical care)
farmasis harus memiliki pemahaman mengenai aspek psikologi dan perilaku (behaviour)
dari pasien dan tenaga kesehatan lainnya.
• Konsep ilmu psikologi dan perilaku inilah yang menjadi konsep fundamental dari ilmu
farmasi sosial.
9
PRESENTATION
TITLE
Dalam farmasi sosial, pengobatan dilihat dari persepektif sains, sosial dan
humanistik.
Farmasi sosial mencakup semua faktor-factor sosial yang mempengaruhi
penggunaan obat seperti kepercayaan pasien terhadap obat, regulasi, kebijakan,
perilaku, informasi obat, dan etik.
Bahkan Schafer, dkk (1992) memberikan pengertian yang lebih luas dengan
merumuskan farmasi sosial.
1 0
PRESENTATION
TITLE
Umumnya farmasi sosial mencakup
–farmakoekonomi,
–farmakovigilance/farmakoepidemologi,
–statistik farmasi,
–farmakoinformatik,
–ilmu kesehatan masyarakat,
–komunikasi,
–administrasi farmasi,
–manajemen farmasi,
–marketing,
–penilaian kualitas hidup,
–aspek sosiobehavioral dalam dunia kesehatan dan farmasi,
1 1
PRESENTATION
TITLE
Penelitian dalam farmasi sosial dihubungkan dengan bidang yang lebih luas yang dikenal dengan
penelitian pelayanan Kesehatan (health services research).
Farmasi sosial menekankan pada pemahaman dan peningkatan kualitas praktek kefarmasian dan
penggunaan obat.
Penelitian dibidang ini sangat penting karena seperti yang diketahui bersama bahwa praktek
kefarmasian harus didasarkan pada bukti ilmiah (evidence-based) dan menggunakan cara-cara
terbaik sehingga praktek kefarmasian harus selalu dievaluasi danhasil evaluasinya harus segera
diimplementasikan.
Hasil dari penelitian dapat dijadikan dasar oleh penentu kebijakan dalam menetapkan regulasi
yang terkait dengan pelayanan kesehatan.
Penelitian di bidang farmasi sosial dapat dilakukan secara kuantitatif (survei) dan kualitatif seperti
wawancara, diskusi, dan pengamatan/observasi.
1 2
PRESENTATION
TITLE
POSISI FARMASI SOSIAL
DALAM ILMU FARMASI
Untuk menjelaskan dimana dan bagaimana
kedudukan farmasi social dalam rumpun keilmuan
bagan yang dapat diambil adalah yang disediakan
oleh Sorensen dkk (2003).
1 3
PRESENTATION
TITLE
1 4
PRESENTATION
TITLE
POSISI FARMASI SOSIAL DALAM ILMU
FARMASI
Dalam bagan ini diilustrasikan bahwa farmasi klinik menjadi jembatan yang overlap sekaligus
menghubungkan antara ilmu alam dan farmasi sosial.
Farmasi sosial memiliki hubungan yang erat dengan praktek kefarmasian.
Farmasi sosial menjadi penyempurna ilmu kefarmasian.
Pengetahuan yang berasal dari farmasi sosial dapat membantu pengembangan kemampuan
personal dan interpersonal farmasis sehingga mampu memberikan komunikasi dan konseling
yang efektif dalam rangka meningkatkan kualitas pengobatan.
Farmasi sosial juga diharapkan dapat membantu farmasis dalam meningkatkan profesionalisme
dan kualitas kepemimpinannya
1 5
PRESENTATION
TITLE
POSISI FARMASI SOSIAL
DALAM ILMU FARMASI
DEFINISI
1 7
PRESENTATION
TITLE
DEFINISI
Farmasi sosial adalah disiplin ilmu farmasi yang dikendalikan oleh kebutuhan sosial dan
lebih fokus pada masyarakat secara keseluruhan.
Farmasi sosial adalah subyek yang interdisipliner, yang membantu untuk mengerti
interaksi antara obat dan masyarakat.
Pengembangan keilmuan dilakukan untuk mendukung tercapainya learning
outcome yang meliputi aspek farmasi komunitas, farmakoenomi serta aspek legal, etika
dan perilaku kefarmasian.
1 8
PRESENTATION
TITLE
DEFINISI
Farmasi Sosial merupakan bidang ilmu yang mengajarkan tentang interaksi tenaga
kefarmasian dengan masyarakat serta cara pemberian informasi mengenai Obat.
Materi pengajaran meliputi penelitian pada bidang Farmasi sosial yang meliputi studi
pengobatan tradisional dan etnofarmasi, kebijakan penggunaan obat tradisional dan
implementasinya, studi evaluasi pelayanan kefarmasian, studi perilaku dan sikap tenaga
kefarmasian serta studi farmakoekonomi ----- diterapkan untuk pengabdian kepada
masyarakat.
1 9
PRESENTATION
TITLE
Farmasi Sosial, yaitu suatu disiplin ilmu (field of study) kefarmasian yang
berkembang dengan dukungan disiplin ilmu lain yang terkait untuk menguji,
meneliti, memahami, dan mengatasi persoalan-persoalan yang senantiasa timbul
dalam pengabdian profesi farmasi.
Tujuan ilmu tersebut adalah pemahaman dan penjelasan menyeluruh tentang
masalah-masalah yang berkaitan dengan farmasi atau sedang dihadapi oleh
farmasi (Harding dkk., 1994).
DEFINISI
2 0
PRESENTATION
TITLE
Farmasi Sosial merupakan hibrida ilmu kefarmasian yang
bergerak/berkembang di atas landasan teori serta metodologi ilmu sosial dan
perilaku (social and behaviour) untuk mengungkap masalah-masalah pharmacy
practice.
Dalam hal ini disiplin ilmu-ilmu yang terkait, antara lain, politik, komunikasi,
psikologi, sosiologi, pendidikan, pharmacy practice, ekonomi, manajemen,
sejarah, dan antropologi.
DEFINISI
2 1
PRESENTATION
TITLE
Farmasi Sosial menyarankan 4 bidang yang dilaksanakan lebih dulu, yaitu (Harding
dkk., 1994):
1. Hubungan Antar Disiplin Ilmu (interdisciplinarity)
Telah disebutkan bahwa Farmasi Sosial didukung oleh filosofi dan metodologi ilmu
sosial dan perilaku yang seleksi/pemilihannya tergantung masalah yang dihadapi
(subject matter).
Contoh: Untuk menekan biaya pengobatan, pola peresepan, dan perawatan dipilih
pendekatan politik Untuk memahami pilihan ibu-ibu yang anaknya sakit dalam memilih
obat dipilih pendekatan psikologi sosial dan metode kualitatif. Untuk menemukan cara
pemecahan yang proporsional masalah ketidakharmonisan hubungan antara tenaga
profesi kesehatan dipilih pendekatan sosiologi, komunikasi, dan psikologi.
BIDANG FARMASI SOSIAL
2 2
PRESENTATION
TITLE
2. Professionalization
Status profesi dan sikap professional yang berbanding lurus dengan kepuasan kerja
(satisfaction/satisfactory achievement).
Sikap professional berciri antara lain dedikasi dan loyalitas tinggi, mandiri, bersemangat,
gembira dalam pengabdian profesi.
BIDANG FARMASI SOSIAL
2 3
PRESENTATION
TITLE
Contoh:
Perkembangan komputerisasi patiens medication records (PMRs), terbukti
meningkatkan status profesi karena farmasis menguasai salah satu sumber informasi
pelayanan kesehatan. Hasil analisis masalah yang terekam merupakan monitoring
pola resep yang ada, dan penggunaan informasi dapat: Mengetahui kesalahan resep
Menghindarkan interaksi obat dan adverse drug reaction, kontra-indikasi, reaksi alergi
dan idiosinkrasi, penggunaan obat yang salah (mis-use) dan penyalahgunaan obat
(abuse), serta efek samping yang berlebihan. Memantau kemajuan kesehatan pasien.
Memantau rasionalitas pelayanan kesehatan yang diterima pasien Dari otoritas dan
kemampuan mengelola informasi obat, farmasis dapat bertugas sebagai penyuluh
antara lain tentang penyakit tertentu, pola hidup sehat, kesehatan lingkungan, gizi
dan nutrisi, serta konsultasi terapi. Hal itu menunjukkan bahwa inovasi dan
perkembangan lewat professionalization dapat segera dilaksanakan dan
menimbulkan harapan baru bagi pengabdian profesi.
BIDANG FARMASI SOSIAL
2 4
PRESENTATION
TITLE
3. Efisiensi dan Efektivitas
Secara umum, inovasi dan perkembangan di bidang tersebut untuk mengatasi kendala
biaya (cost constraints) yang dapat dilakukan dengan pengamatan formal (audit) terus
menerus diiringi dengan pengendalian sistem pelayanan kesehatan. Berdasarkan
prinsip manajemen, pelaksanaannya dimulai dengan penyusunan macam pekerjaan
yang harus dilakukan, kemudian ditetapkan urutan skala prioritas dan dilanjutkan
dengan pengawasan serta pengendalian.
BIDANG FARMASI SOSIAL
2 5
PRESENTATION
TITLE
4. Pendidikan dan Komunikasi
Peran-peran farmasis yang baru memerlukan inovasi dan perkembangan yang
proporsional di bidang pendidikan dan peningkatan kemampuan berkomunikasi, serta
secara profesional cepat tanggap dengan situasi dan lingkungan yang berbeda,
mengembangkan interpreneurship.
BIDANG FARMASI SOSIAL
THANK YOU
WA: 082276096070

More Related Content

Similar to FARMASI SOSIAL - Pengantar Farmasi Sosial

MATERI PELATIHAN PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN MEMILIH OBAT BAGI T...
MATERI PELATIHAN PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN MEMILIH OBAT BAGI T...MATERI PELATIHAN PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN MEMILIH OBAT BAGI T...
MATERI PELATIHAN PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN MEMILIH OBAT BAGI T...
Sainal Edi Kamal
 
PPT FARMASI.SILVIANA.pptx
PPT FARMASI.SILVIANA.pptxPPT FARMASI.SILVIANA.pptx
PPT FARMASI.SILVIANA.pptx
AiSriMazland
 
Komunikasi dalam farmasi
Komunikasi dalam farmasi Komunikasi dalam farmasi
Komunikasi dalam farmasi
Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia
 
pelayanan-kefarmasian-di-apotek.ppt
pelayanan-kefarmasian-di-apotek.pptpelayanan-kefarmasian-di-apotek.ppt
pelayanan-kefarmasian-di-apotek.ppt
JimSiregar
 
komunikasidalampraktekfarmasi-121107014428-phpapp01.pptx
komunikasidalampraktekfarmasi-121107014428-phpapp01.pptxkomunikasidalampraktekfarmasi-121107014428-phpapp01.pptx
komunikasidalampraktekfarmasi-121107014428-phpapp01.pptx
anditia3
 
Pharmaceutical Care Untuk Penyakit TBC
Pharmaceutical Care Untuk Penyakit TBCPharmaceutical Care Untuk Penyakit TBC
Pharmaceutical Care Untuk Penyakit TBC
Sainal Edi Kamal
 
asuhan kefarmasian.ppt
asuhan kefarmasian.pptasuhan kefarmasian.ppt
asuhan kefarmasian.ppt
FitriAyuWahyuni1
 
standar profesi dan pelayanan profesi
standar profesi dan pelayanan profesistandar profesi dan pelayanan profesi
standar profesi dan pelayanan profesi
Hadik27
 
Komunikasi dalam praktek farmasi
Komunikasi dalam praktek farmasiKomunikasi dalam praktek farmasi
Komunikasi dalam praktek farmasi
Nur Fadillah
 
Kulum fkmui 2015.08.31
Kulum fkmui 2015.08.31Kulum fkmui 2015.08.31
Kulum fkmui 2015.08.31
amandabadar
 
Pelayanan farmasi klinik
Pelayanan farmasi klinik Pelayanan farmasi klinik
Pelayanan farmasi klinik
Sri Suratini
 
pio.pptx
pio.pptxpio.pptx
pio.pptx
GanjarTaufik
 
PPT KEL 4 KEAMANAN OBAT DALAM PENINGKATAN KESEHATAN MASYARAKAT.pptx
PPT KEL 4 KEAMANAN OBAT DALAM PENINGKATAN KESEHATAN MASYARAKAT.pptxPPT KEL 4 KEAMANAN OBAT DALAM PENINGKATAN KESEHATAN MASYARAKAT.pptx
PPT KEL 4 KEAMANAN OBAT DALAM PENINGKATAN KESEHATAN MASYARAKAT.pptx
NanaNurhasanah5
 
Formularium dosis pediatri.pdf
Formularium dosis pediatri.pdfFormularium dosis pediatri.pdf
Formularium dosis pediatri.pdf
RyanBridges11
 
Pedoman Pelaksanaan GKSO
Pedoman Pelaksanaan GKSOPedoman Pelaksanaan GKSO
Pedoman Pelaksanaan GKSO
Ikatan Apoteker Indonesia
 
komunikasi kesehatan
komunikasi kesehatankomunikasi kesehatan
komunikasi kesehatan
Asyifa Robiatul adawiyah
 
Definisi profesi farmasij
Definisi profesi farmasijDefinisi profesi farmasij
Definisi profesi farmasij
Jurig Gaul
 
Swamedikasi pada Geriatri.ppt
Swamedikasi pada Geriatri.pptSwamedikasi pada Geriatri.ppt
Swamedikasi pada Geriatri.ppt
MADEARYSARASMITA
 

Similar to FARMASI SOSIAL - Pengantar Farmasi Sosial (20)

MATERI PELATIHAN PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN MEMILIH OBAT BAGI T...
MATERI PELATIHAN PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN MEMILIH OBAT BAGI T...MATERI PELATIHAN PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN MEMILIH OBAT BAGI T...
MATERI PELATIHAN PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN MEMILIH OBAT BAGI T...
 
PPT FARMASI.SILVIANA.pptx
PPT FARMASI.SILVIANA.pptxPPT FARMASI.SILVIANA.pptx
PPT FARMASI.SILVIANA.pptx
 
Komunikasi dalam farmasi
Komunikasi dalam farmasi Komunikasi dalam farmasi
Komunikasi dalam farmasi
 
pelayanan-kefarmasian-di-apotek.ppt
pelayanan-kefarmasian-di-apotek.pptpelayanan-kefarmasian-di-apotek.ppt
pelayanan-kefarmasian-di-apotek.ppt
 
komunikasidalampraktekfarmasi-121107014428-phpapp01.pptx
komunikasidalampraktekfarmasi-121107014428-phpapp01.pptxkomunikasidalampraktekfarmasi-121107014428-phpapp01.pptx
komunikasidalampraktekfarmasi-121107014428-phpapp01.pptx
 
Pharmaceutical Care Untuk Penyakit TBC
Pharmaceutical Care Untuk Penyakit TBCPharmaceutical Care Untuk Penyakit TBC
Pharmaceutical Care Untuk Penyakit TBC
 
asuhan kefarmasian.ppt
asuhan kefarmasian.pptasuhan kefarmasian.ppt
asuhan kefarmasian.ppt
 
standar profesi dan pelayanan profesi
standar profesi dan pelayanan profesistandar profesi dan pelayanan profesi
standar profesi dan pelayanan profesi
 
Komunikasi dalam praktek farmasi
Komunikasi dalam praktek farmasiKomunikasi dalam praktek farmasi
Komunikasi dalam praktek farmasi
 
Kulum fkmui 2015.08.31
Kulum fkmui 2015.08.31Kulum fkmui 2015.08.31
Kulum fkmui 2015.08.31
 
Pelayanan farmasi klinik
Pelayanan farmasi klinik Pelayanan farmasi klinik
Pelayanan farmasi klinik
 
pio.pptx
pio.pptxpio.pptx
pio.pptx
 
PPT KEL 4 KEAMANAN OBAT DALAM PENINGKATAN KESEHATAN MASYARAKAT.pptx
PPT KEL 4 KEAMANAN OBAT DALAM PENINGKATAN KESEHATAN MASYARAKAT.pptxPPT KEL 4 KEAMANAN OBAT DALAM PENINGKATAN KESEHATAN MASYARAKAT.pptx
PPT KEL 4 KEAMANAN OBAT DALAM PENINGKATAN KESEHATAN MASYARAKAT.pptx
 
P1.pptx
P1.pptxP1.pptx
P1.pptx
 
Formularium dosis pediatri.pdf
Formularium dosis pediatri.pdfFormularium dosis pediatri.pdf
Formularium dosis pediatri.pdf
 
Pedoman Pelaksanaan GKSO
Pedoman Pelaksanaan GKSOPedoman Pelaksanaan GKSO
Pedoman Pelaksanaan GKSO
 
komunikasi kesehatan
komunikasi kesehatankomunikasi kesehatan
komunikasi kesehatan
 
Definisi profesi farmasij
Definisi profesi farmasijDefinisi profesi farmasij
Definisi profesi farmasij
 
Swamedikasi pada Geriatri.ppt
Swamedikasi pada Geriatri.pptSwamedikasi pada Geriatri.ppt
Swamedikasi pada Geriatri.ppt
 
praktek Puskesmas
praktek Puskesmaspraktek Puskesmas
praktek Puskesmas
 

More from ParulianGultom2

KONSEP KELUARGA dan KELUARGA SEJAHTERA.pptx
KONSEP KELUARGA dan KELUARGA SEJAHTERA.pptxKONSEP KELUARGA dan KELUARGA SEJAHTERA.pptx
KONSEP KELUARGA dan KELUARGA SEJAHTERA.pptx
ParulianGultom2
 
Family_Therapy presentation for colleges
Family_Therapy presentation for collegesFamily_Therapy presentation for colleges
Family_Therapy presentation for colleges
ParulianGultom2
 
Materi Pelayanan Kefarmasian di Indonesia
Materi Pelayanan Kefarmasian di IndonesiaMateri Pelayanan Kefarmasian di Indonesia
Materi Pelayanan Kefarmasian di Indonesia
ParulianGultom2
 
KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA KELUARGA DAN KOMUNITAS.pptx
KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA KELUARGA DAN KOMUNITAS.pptxKOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA KELUARGA DAN KOMUNITAS.pptx
KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA KELUARGA DAN KOMUNITAS.pptx
ParulianGultom2
 
Materi Asuransi Kesehatan di Indonesia ppt
Materi Asuransi Kesehatan di Indonesia pptMateri Asuransi Kesehatan di Indonesia ppt
Materi Asuransi Kesehatan di Indonesia ppt
ParulianGultom2
 
KOMUNIKASI DENGAN PASIEN GANGGUAN FISIK DAN JIWA DAN BERKEBUTUHAN KHUSUS.pptx
KOMUNIKASI DENGAN PASIEN GANGGUAN FISIK DAN JIWA DAN BERKEBUTUHAN KHUSUS.pptxKOMUNIKASI DENGAN PASIEN GANGGUAN FISIK DAN JIWA DAN BERKEBUTUHAN KHUSUS.pptx
KOMUNIKASI DENGAN PASIEN GANGGUAN FISIK DAN JIWA DAN BERKEBUTUHAN KHUSUS.pptx
ParulianGultom2
 
Pelayanan Kesehatan Puskesmas (PIS PK) Indonesia
Pelayanan Kesehatan Puskesmas (PIS PK) IndonesiaPelayanan Kesehatan Puskesmas (PIS PK) Indonesia
Pelayanan Kesehatan Puskesmas (PIS PK) Indonesia
ParulianGultom2
 
KONSEP DASAR KESEHATAN MASYARAKAT (definisi dan ruang lingkup).pptx
KONSEP DASAR KESEHATAN MASYARAKAT (definisi dan ruang lingkup).pptxKONSEP DASAR KESEHATAN MASYARAKAT (definisi dan ruang lingkup).pptx
KONSEP DASAR KESEHATAN MASYARAKAT (definisi dan ruang lingkup).pptx
ParulianGultom2
 
Dasar kesling presentasi pertemuan pertama
Dasar kesling presentasi pertemuan pertamaDasar kesling presentasi pertemuan pertama
Dasar kesling presentasi pertemuan pertama
ParulianGultom2
 
Pelayanan Farmasi di rumah sakit puskesmas apotik
Pelayanan Farmasi di rumah sakit puskesmas apotikPelayanan Farmasi di rumah sakit puskesmas apotik
Pelayanan Farmasi di rumah sakit puskesmas apotik
ParulianGultom2
 

More from ParulianGultom2 (10)

KONSEP KELUARGA dan KELUARGA SEJAHTERA.pptx
KONSEP KELUARGA dan KELUARGA SEJAHTERA.pptxKONSEP KELUARGA dan KELUARGA SEJAHTERA.pptx
KONSEP KELUARGA dan KELUARGA SEJAHTERA.pptx
 
Family_Therapy presentation for colleges
Family_Therapy presentation for collegesFamily_Therapy presentation for colleges
Family_Therapy presentation for colleges
 
Materi Pelayanan Kefarmasian di Indonesia
Materi Pelayanan Kefarmasian di IndonesiaMateri Pelayanan Kefarmasian di Indonesia
Materi Pelayanan Kefarmasian di Indonesia
 
KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA KELUARGA DAN KOMUNITAS.pptx
KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA KELUARGA DAN KOMUNITAS.pptxKOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA KELUARGA DAN KOMUNITAS.pptx
KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA KELUARGA DAN KOMUNITAS.pptx
 
Materi Asuransi Kesehatan di Indonesia ppt
Materi Asuransi Kesehatan di Indonesia pptMateri Asuransi Kesehatan di Indonesia ppt
Materi Asuransi Kesehatan di Indonesia ppt
 
KOMUNIKASI DENGAN PASIEN GANGGUAN FISIK DAN JIWA DAN BERKEBUTUHAN KHUSUS.pptx
KOMUNIKASI DENGAN PASIEN GANGGUAN FISIK DAN JIWA DAN BERKEBUTUHAN KHUSUS.pptxKOMUNIKASI DENGAN PASIEN GANGGUAN FISIK DAN JIWA DAN BERKEBUTUHAN KHUSUS.pptx
KOMUNIKASI DENGAN PASIEN GANGGUAN FISIK DAN JIWA DAN BERKEBUTUHAN KHUSUS.pptx
 
Pelayanan Kesehatan Puskesmas (PIS PK) Indonesia
Pelayanan Kesehatan Puskesmas (PIS PK) IndonesiaPelayanan Kesehatan Puskesmas (PIS PK) Indonesia
Pelayanan Kesehatan Puskesmas (PIS PK) Indonesia
 
KONSEP DASAR KESEHATAN MASYARAKAT (definisi dan ruang lingkup).pptx
KONSEP DASAR KESEHATAN MASYARAKAT (definisi dan ruang lingkup).pptxKONSEP DASAR KESEHATAN MASYARAKAT (definisi dan ruang lingkup).pptx
KONSEP DASAR KESEHATAN MASYARAKAT (definisi dan ruang lingkup).pptx
 
Dasar kesling presentasi pertemuan pertama
Dasar kesling presentasi pertemuan pertamaDasar kesling presentasi pertemuan pertama
Dasar kesling presentasi pertemuan pertama
 
Pelayanan Farmasi di rumah sakit puskesmas apotik
Pelayanan Farmasi di rumah sakit puskesmas apotikPelayanan Farmasi di rumah sakit puskesmas apotik
Pelayanan Farmasi di rumah sakit puskesmas apotik
 

Recently uploaded

Alur tujuan pembelajaran bahasa inggris kelas x fase e
Alur tujuan pembelajaran bahasa inggris kelas x fase eAlur tujuan pembelajaran bahasa inggris kelas x fase e
Alur tujuan pembelajaran bahasa inggris kelas x fase e
MsElisazmar
 
AKSI NYATA TRANSISI PAUD-SD : PENGUATAN DI TAHUN AJARAN BARU
AKSI NYATA TRANSISI PAUD-SD : PENGUATAN DI TAHUN AJARAN BARUAKSI NYATA TRANSISI PAUD-SD : PENGUATAN DI TAHUN AJARAN BARU
AKSI NYATA TRANSISI PAUD-SD : PENGUATAN DI TAHUN AJARAN BARU
junaedikuluri1
 
Modul Ajar Matematika Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka - [abdiera.com]
Modul Ajar Matematika Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka - [abdiera.com]Modul Ajar Matematika Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka - [abdiera.com]
Modul Ajar Matematika Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka - [abdiera.com]
Fathan Emran
 
Tugas_Rasianto-Refleksi - Pembelajaran Diferensiasi dalam PJOK.pdf
Tugas_Rasianto-Refleksi - Pembelajaran Diferensiasi dalam PJOK.pdfTugas_Rasianto-Refleksi - Pembelajaran Diferensiasi dalam PJOK.pdf
Tugas_Rasianto-Refleksi - Pembelajaran Diferensiasi dalam PJOK.pdf
nurfaridah271
 
Materi Feedback (umpan balik) kelas Psikologi Komunikasi
Materi Feedback (umpan balik) kelas Psikologi KomunikasiMateri Feedback (umpan balik) kelas Psikologi Komunikasi
Materi Feedback (umpan balik) kelas Psikologi Komunikasi
AdePutraTunggali
 
MODUL P5 FASE B KELAS 4 MEMBUAT COBRICK.pdf
MODUL P5 FASE B KELAS 4 MEMBUAT COBRICK.pdfMODUL P5 FASE B KELAS 4 MEMBUAT COBRICK.pdf
MODUL P5 FASE B KELAS 4 MEMBUAT COBRICK.pdf
YuristaAndriyani1
 
LAPORAN WALI KELAS Wahyu Widayati, S.Pd.docx
LAPORAN WALI KELAS Wahyu Widayati, S.Pd.docxLAPORAN WALI KELAS Wahyu Widayati, S.Pd.docx
LAPORAN WALI KELAS Wahyu Widayati, S.Pd.docx
moh3315
 
Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 7 Fase D Kurikulum Merdeka - [abdiera.com]
Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 7 Fase D Kurikulum Merdeka - [abdiera.com]Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 7 Fase D Kurikulum Merdeka - [abdiera.com]
Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 7 Fase D Kurikulum Merdeka - [abdiera.com]
Fathan Emran
 
Rangkuman Kehadiran Guru di Kelas- www.kherysuryawan.id.pdf
Rangkuman Kehadiran Guru di Kelas- www.kherysuryawan.id.pdfRangkuman Kehadiran Guru di Kelas- www.kherysuryawan.id.pdf
Rangkuman Kehadiran Guru di Kelas- www.kherysuryawan.id.pdf
mad ros
 
Biografi Presiden Republik Indonesia.pdf
Biografi Presiden Republik Indonesia.pdfBiografi Presiden Republik Indonesia.pdf
Biografi Presiden Republik Indonesia.pdf
pristayulianabila
 
AKSI NYATA PENDIDIKAN INKLUSIF_Baedlawi.pdf
AKSI NYATA PENDIDIKAN INKLUSIF_Baedlawi.pdfAKSI NYATA PENDIDIKAN INKLUSIF_Baedlawi.pdf
AKSI NYATA PENDIDIKAN INKLUSIF_Baedlawi.pdf
opkcibungbulang
 
Modul Ajar Kimia Kelas 10 Fase E Kurikulum Merdeka
Modul Ajar Kimia Kelas 10 Fase E Kurikulum MerdekaModul Ajar Kimia Kelas 10 Fase E Kurikulum Merdeka
Modul Ajar Kimia Kelas 10 Fase E Kurikulum Merdeka
Fathan Emran
 
peluang kejadian total dan kaidah nbayes
peluang kejadian total dan kaidah nbayespeluang kejadian total dan kaidah nbayes
peluang kejadian total dan kaidah nbayes
ayyurah2004
 
Teori Fungsionalisme Kulturalisasi Talcott Parsons (Dosen Pengampu : Khoirin ...
Teori Fungsionalisme Kulturalisasi Talcott Parsons (Dosen Pengampu : Khoirin ...Teori Fungsionalisme Kulturalisasi Talcott Parsons (Dosen Pengampu : Khoirin ...
Teori Fungsionalisme Kulturalisasi Talcott Parsons (Dosen Pengampu : Khoirin ...
nasrudienaulia
 
Modul Ajar Informatika Kelas 7 Fase D Kurikulum Merdeka
Modul Ajar Informatika Kelas 7 Fase D Kurikulum MerdekaModul Ajar Informatika Kelas 7 Fase D Kurikulum Merdeka
Modul Ajar Informatika Kelas 7 Fase D Kurikulum Merdeka
Fathan Emran
 
Modul Ajar PAI dan Budi Pekerti Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka
Modul Ajar PAI dan Budi Pekerti Kelas 8 Fase D Kurikulum MerdekaModul Ajar PAI dan Budi Pekerti Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka
Modul Ajar PAI dan Budi Pekerti Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka
Fathan Emran
 
5. Rangkuman Kehadiran Guru di Kelas_SDN 8n Kranji.docx
5. Rangkuman Kehadiran Guru di Kelas_SDN 8n Kranji.docx5. Rangkuman Kehadiran Guru di Kelas_SDN 8n Kranji.docx
5. Rangkuman Kehadiran Guru di Kelas_SDN 8n Kranji.docx
StevanusOkiRudySusan
 
LAPORAN BIMBINGAN TEKNIS TRANSISI PAUD - SD.pdf
LAPORAN BIMBINGAN TEKNIS TRANSISI PAUD - SD.pdfLAPORAN BIMBINGAN TEKNIS TRANSISI PAUD - SD.pdf
LAPORAN BIMBINGAN TEKNIS TRANSISI PAUD - SD.pdf
RosidaAini3
 
PPT KRITERIA KENAIKAN KELAS & KELULUSAN.pptx
PPT KRITERIA KENAIKAN KELAS & KELULUSAN.pptxPPT KRITERIA KENAIKAN KELAS & KELULUSAN.pptx
PPT KRITERIA KENAIKAN KELAS & KELULUSAN.pptx
SriKuntjoro1
 
92836246-Soap-Pada-Pasien-Dengan-as-Primer.pdf
92836246-Soap-Pada-Pasien-Dengan-as-Primer.pdf92836246-Soap-Pada-Pasien-Dengan-as-Primer.pdf
92836246-Soap-Pada-Pasien-Dengan-as-Primer.pdf
tsuroyya38
 

Recently uploaded (20)

Alur tujuan pembelajaran bahasa inggris kelas x fase e
Alur tujuan pembelajaran bahasa inggris kelas x fase eAlur tujuan pembelajaran bahasa inggris kelas x fase e
Alur tujuan pembelajaran bahasa inggris kelas x fase e
 
AKSI NYATA TRANSISI PAUD-SD : PENGUATAN DI TAHUN AJARAN BARU
AKSI NYATA TRANSISI PAUD-SD : PENGUATAN DI TAHUN AJARAN BARUAKSI NYATA TRANSISI PAUD-SD : PENGUATAN DI TAHUN AJARAN BARU
AKSI NYATA TRANSISI PAUD-SD : PENGUATAN DI TAHUN AJARAN BARU
 
Modul Ajar Matematika Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka - [abdiera.com]
Modul Ajar Matematika Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka - [abdiera.com]Modul Ajar Matematika Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka - [abdiera.com]
Modul Ajar Matematika Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka - [abdiera.com]
 
Tugas_Rasianto-Refleksi - Pembelajaran Diferensiasi dalam PJOK.pdf
Tugas_Rasianto-Refleksi - Pembelajaran Diferensiasi dalam PJOK.pdfTugas_Rasianto-Refleksi - Pembelajaran Diferensiasi dalam PJOK.pdf
Tugas_Rasianto-Refleksi - Pembelajaran Diferensiasi dalam PJOK.pdf
 
Materi Feedback (umpan balik) kelas Psikologi Komunikasi
Materi Feedback (umpan balik) kelas Psikologi KomunikasiMateri Feedback (umpan balik) kelas Psikologi Komunikasi
Materi Feedback (umpan balik) kelas Psikologi Komunikasi
 
MODUL P5 FASE B KELAS 4 MEMBUAT COBRICK.pdf
MODUL P5 FASE B KELAS 4 MEMBUAT COBRICK.pdfMODUL P5 FASE B KELAS 4 MEMBUAT COBRICK.pdf
MODUL P5 FASE B KELAS 4 MEMBUAT COBRICK.pdf
 
LAPORAN WALI KELAS Wahyu Widayati, S.Pd.docx
LAPORAN WALI KELAS Wahyu Widayati, S.Pd.docxLAPORAN WALI KELAS Wahyu Widayati, S.Pd.docx
LAPORAN WALI KELAS Wahyu Widayati, S.Pd.docx
 
Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 7 Fase D Kurikulum Merdeka - [abdiera.com]
Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 7 Fase D Kurikulum Merdeka - [abdiera.com]Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 7 Fase D Kurikulum Merdeka - [abdiera.com]
Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 7 Fase D Kurikulum Merdeka - [abdiera.com]
 
Rangkuman Kehadiran Guru di Kelas- www.kherysuryawan.id.pdf
Rangkuman Kehadiran Guru di Kelas- www.kherysuryawan.id.pdfRangkuman Kehadiran Guru di Kelas- www.kherysuryawan.id.pdf
Rangkuman Kehadiran Guru di Kelas- www.kherysuryawan.id.pdf
 
Biografi Presiden Republik Indonesia.pdf
Biografi Presiden Republik Indonesia.pdfBiografi Presiden Republik Indonesia.pdf
Biografi Presiden Republik Indonesia.pdf
 
AKSI NYATA PENDIDIKAN INKLUSIF_Baedlawi.pdf
AKSI NYATA PENDIDIKAN INKLUSIF_Baedlawi.pdfAKSI NYATA PENDIDIKAN INKLUSIF_Baedlawi.pdf
AKSI NYATA PENDIDIKAN INKLUSIF_Baedlawi.pdf
 
Modul Ajar Kimia Kelas 10 Fase E Kurikulum Merdeka
Modul Ajar Kimia Kelas 10 Fase E Kurikulum MerdekaModul Ajar Kimia Kelas 10 Fase E Kurikulum Merdeka
Modul Ajar Kimia Kelas 10 Fase E Kurikulum Merdeka
 
peluang kejadian total dan kaidah nbayes
peluang kejadian total dan kaidah nbayespeluang kejadian total dan kaidah nbayes
peluang kejadian total dan kaidah nbayes
 
Teori Fungsionalisme Kulturalisasi Talcott Parsons (Dosen Pengampu : Khoirin ...
Teori Fungsionalisme Kulturalisasi Talcott Parsons (Dosen Pengampu : Khoirin ...Teori Fungsionalisme Kulturalisasi Talcott Parsons (Dosen Pengampu : Khoirin ...
Teori Fungsionalisme Kulturalisasi Talcott Parsons (Dosen Pengampu : Khoirin ...
 
Modul Ajar Informatika Kelas 7 Fase D Kurikulum Merdeka
Modul Ajar Informatika Kelas 7 Fase D Kurikulum MerdekaModul Ajar Informatika Kelas 7 Fase D Kurikulum Merdeka
Modul Ajar Informatika Kelas 7 Fase D Kurikulum Merdeka
 
Modul Ajar PAI dan Budi Pekerti Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka
Modul Ajar PAI dan Budi Pekerti Kelas 8 Fase D Kurikulum MerdekaModul Ajar PAI dan Budi Pekerti Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka
Modul Ajar PAI dan Budi Pekerti Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka
 
5. Rangkuman Kehadiran Guru di Kelas_SDN 8n Kranji.docx
5. Rangkuman Kehadiran Guru di Kelas_SDN 8n Kranji.docx5. Rangkuman Kehadiran Guru di Kelas_SDN 8n Kranji.docx
5. Rangkuman Kehadiran Guru di Kelas_SDN 8n Kranji.docx
 
LAPORAN BIMBINGAN TEKNIS TRANSISI PAUD - SD.pdf
LAPORAN BIMBINGAN TEKNIS TRANSISI PAUD - SD.pdfLAPORAN BIMBINGAN TEKNIS TRANSISI PAUD - SD.pdf
LAPORAN BIMBINGAN TEKNIS TRANSISI PAUD - SD.pdf
 
PPT KRITERIA KENAIKAN KELAS & KELULUSAN.pptx
PPT KRITERIA KENAIKAN KELAS & KELULUSAN.pptxPPT KRITERIA KENAIKAN KELAS & KELULUSAN.pptx
PPT KRITERIA KENAIKAN KELAS & KELULUSAN.pptx
 
92836246-Soap-Pada-Pasien-Dengan-as-Primer.pdf
92836246-Soap-Pada-Pasien-Dengan-as-Primer.pdf92836246-Soap-Pada-Pasien-Dengan-as-Primer.pdf
92836246-Soap-Pada-Pasien-Dengan-as-Primer.pdf
 

FARMASI SOSIAL - Pengantar Farmasi Sosial

  • 1. FARMASI SOSIAL DOSEN: PARULIAN D. GULTOM, S.K.M., M.B.A​ D-3 FARMASI STIKES ARJUNA LAGUBOTI
  • 2. OUTLINES: FARMASI SOSIAL 2 LATAR BELAKANG POSISI FARMASI SOSIAL DALAM ILMU FARMASI DEFINISI BIDANG FARMASI SOSIAL
  • 3. LATAR BELAKANG FARMASI SOSIAL 3 • Mengapa pasien tidak menggunakan (atau tidak minum) obat seperti yang diresepkan? • Jenis informasi obat apa yang memiliki efek terbaik pada pemahaman pasien dan kapan harus disediakan? • Bagaimana seorang farmasis paling efektif mengidentifikasi pasien yang terkait dengan masalah / efek samping obat? • Bagaimana cara layanan farmasi baru untuk pasien /pelanggan menjadi diimplementasikan dalam perawatan kesehatan?
  • 5. 5 PRESENTATION TITLE • Perkembangan Farmasi Sosial dipicu oleh adanya perubahan konsep pola penyakit dan penatalaksanaannya ke pola hidup sehat dan promosi kesehatan. • Farmasi Sosial juga bergeser dari (1) konsep bio-pathology ke sociopsycholog; (2) menunjukkan pergeseran dari product oriented ke patient oriented; (3) Perubahan konsep pada konteks kefarmasian, yaitu bergeser dari dispensing and compounding menuju ke bentuk hubungan client-counselor yang berarti farmasis berfungsi sebagai konsultan obat (drug advicer).
  • 6. • Perubahan orientasi praktek kefarmasian dari product oriented ke patient oriented menuntut adaptasi dari perguruan tinggi dan farmasis yang telah bekerja untuk terus berbenah dan melengkapi diri agar mampu berperan maksimal dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. • Perubahan orientasi ini mengharuskan farmasis untuk memiliki peran yang lebih luas dari hulu ke hilir mulai dari pembuatan, pengawasan, penyerahan hingga pemasaran bahwa obat yang akan digunakan oleh pasien memenuhi prinsip-prinsip rasionalitas . • Farmasis dituntut berinteraksi dengan pasien dalam rangka memberikan informasi yang tepat terhadap obat yang akan digunakan oleh pasien. • Untuk menjalankan peran ini maka setiap farmasis tidak hanya dilengkapi dengan ilmu-ilmu alam (natural sciences), analisis farmasi, dan teknologi farmasi. Tetapi lebih dari itu, farmasis juga diwajibkan menguasai farmasi klinik dan farmasi sosial. 6 FARMASI SOSIAL
  • 7. Farmasi sosial adalah hal yang baru dan belum diterapkan PTF di Indonesia. Pengetahuan-pengetahuan dasar farmasi dirasakan (tidak cukup) mendukung orientasi farmasis yang telah mengarah pada pasien Farmasis harus dilengkapi dengan kemampuan yang dapat memaksimalkan peran farmasis dalam lingkungan sosial ini. Disinilah farmasi sosial muncul sebagai isu utama untuk menjawab tantangan ini. 7 FARMASI SOSIAL
  • 8. • Farmasi Sosial, yaitu suatu disiplin ilmu ( field of study) kefarmasian yang berkembang dengan dukungan disiplin ilmu lain yang terkait untuk menguji, meneliti, memahami, dan mengatasi persoalan-persoalan yang senantiasa timbul dalam pengabdian profesi farmasi. • Tujuan disiplin ilmu Farmasi Sosial adalah pemahaman dan penjelasan menyeluruh tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan farmasi atau sedang dihadapi oleh farmasi (Harding dkk., 1994). • Farmasi Sosial merupakan hibrida ilmu kefarmasian yang bergerak/berkembang di atas landasan teori serta metodologi ilmu sosial dan perilaku (social and behaviour) untuk mengungkap masalah-masalah pharmacy practice. • Disiplin ilmu-ilmu yang terkait, antara lain politik, komunikasi, psikologi, sosiologi, pendidikan, pharmacy practice, ekonomi, manajemen, sejarah, dan antropologi. 8 FARMASI SOSIAL
  • 9. • Sekitar dua dekade lalu, Farmasi Sosial disinonimkan dengan farmakoepidemologi dan distribusi sosial/ demografi penggunaan obat. • Cakupan farmasi sosial menjadi lebih luas dan tidak hanya dibatasi oleh pemetaan distribusi obat pada sebuah populasi. • Untuk mencapai hasil yang optimum dalam asuhan kefarmasian (pharmaceutical care) farmasis harus memiliki pemahaman mengenai aspek psikologi dan perilaku (behaviour) dari pasien dan tenaga kesehatan lainnya. • Konsep ilmu psikologi dan perilaku inilah yang menjadi konsep fundamental dari ilmu farmasi sosial. 9 PRESENTATION TITLE
  • 10. Dalam farmasi sosial, pengobatan dilihat dari persepektif sains, sosial dan humanistik. Farmasi sosial mencakup semua faktor-factor sosial yang mempengaruhi penggunaan obat seperti kepercayaan pasien terhadap obat, regulasi, kebijakan, perilaku, informasi obat, dan etik. Bahkan Schafer, dkk (1992) memberikan pengertian yang lebih luas dengan merumuskan farmasi sosial. 1 0 PRESENTATION TITLE
  • 11. Umumnya farmasi sosial mencakup –farmakoekonomi, –farmakovigilance/farmakoepidemologi, –statistik farmasi, –farmakoinformatik, –ilmu kesehatan masyarakat, –komunikasi, –administrasi farmasi, –manajemen farmasi, –marketing, –penilaian kualitas hidup, –aspek sosiobehavioral dalam dunia kesehatan dan farmasi, 1 1 PRESENTATION TITLE
  • 12. Penelitian dalam farmasi sosial dihubungkan dengan bidang yang lebih luas yang dikenal dengan penelitian pelayanan Kesehatan (health services research). Farmasi sosial menekankan pada pemahaman dan peningkatan kualitas praktek kefarmasian dan penggunaan obat. Penelitian dibidang ini sangat penting karena seperti yang diketahui bersama bahwa praktek kefarmasian harus didasarkan pada bukti ilmiah (evidence-based) dan menggunakan cara-cara terbaik sehingga praktek kefarmasian harus selalu dievaluasi danhasil evaluasinya harus segera diimplementasikan. Hasil dari penelitian dapat dijadikan dasar oleh penentu kebijakan dalam menetapkan regulasi yang terkait dengan pelayanan kesehatan. Penelitian di bidang farmasi sosial dapat dilakukan secara kuantitatif (survei) dan kualitatif seperti wawancara, diskusi, dan pengamatan/observasi. 1 2 PRESENTATION TITLE
  • 13. POSISI FARMASI SOSIAL DALAM ILMU FARMASI Untuk menjelaskan dimana dan bagaimana kedudukan farmasi social dalam rumpun keilmuan bagan yang dapat diambil adalah yang disediakan oleh Sorensen dkk (2003). 1 3 PRESENTATION TITLE
  • 14. 1 4 PRESENTATION TITLE POSISI FARMASI SOSIAL DALAM ILMU FARMASI
  • 15. Dalam bagan ini diilustrasikan bahwa farmasi klinik menjadi jembatan yang overlap sekaligus menghubungkan antara ilmu alam dan farmasi sosial. Farmasi sosial memiliki hubungan yang erat dengan praktek kefarmasian. Farmasi sosial menjadi penyempurna ilmu kefarmasian. Pengetahuan yang berasal dari farmasi sosial dapat membantu pengembangan kemampuan personal dan interpersonal farmasis sehingga mampu memberikan komunikasi dan konseling yang efektif dalam rangka meningkatkan kualitas pengobatan. Farmasi sosial juga diharapkan dapat membantu farmasis dalam meningkatkan profesionalisme dan kualitas kepemimpinannya 1 5 PRESENTATION TITLE POSISI FARMASI SOSIAL DALAM ILMU FARMASI
  • 17. 1 7 PRESENTATION TITLE DEFINISI Farmasi sosial adalah disiplin ilmu farmasi yang dikendalikan oleh kebutuhan sosial dan lebih fokus pada masyarakat secara keseluruhan. Farmasi sosial adalah subyek yang interdisipliner, yang membantu untuk mengerti interaksi antara obat dan masyarakat. Pengembangan keilmuan dilakukan untuk mendukung tercapainya learning outcome yang meliputi aspek farmasi komunitas, farmakoenomi serta aspek legal, etika dan perilaku kefarmasian.
  • 18. 1 8 PRESENTATION TITLE DEFINISI Farmasi Sosial merupakan bidang ilmu yang mengajarkan tentang interaksi tenaga kefarmasian dengan masyarakat serta cara pemberian informasi mengenai Obat. Materi pengajaran meliputi penelitian pada bidang Farmasi sosial yang meliputi studi pengobatan tradisional dan etnofarmasi, kebijakan penggunaan obat tradisional dan implementasinya, studi evaluasi pelayanan kefarmasian, studi perilaku dan sikap tenaga kefarmasian serta studi farmakoekonomi ----- diterapkan untuk pengabdian kepada masyarakat.
  • 19. 1 9 PRESENTATION TITLE Farmasi Sosial, yaitu suatu disiplin ilmu (field of study) kefarmasian yang berkembang dengan dukungan disiplin ilmu lain yang terkait untuk menguji, meneliti, memahami, dan mengatasi persoalan-persoalan yang senantiasa timbul dalam pengabdian profesi farmasi. Tujuan ilmu tersebut adalah pemahaman dan penjelasan menyeluruh tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan farmasi atau sedang dihadapi oleh farmasi (Harding dkk., 1994). DEFINISI
  • 20. 2 0 PRESENTATION TITLE Farmasi Sosial merupakan hibrida ilmu kefarmasian yang bergerak/berkembang di atas landasan teori serta metodologi ilmu sosial dan perilaku (social and behaviour) untuk mengungkap masalah-masalah pharmacy practice. Dalam hal ini disiplin ilmu-ilmu yang terkait, antara lain, politik, komunikasi, psikologi, sosiologi, pendidikan, pharmacy practice, ekonomi, manajemen, sejarah, dan antropologi. DEFINISI
  • 21. 2 1 PRESENTATION TITLE Farmasi Sosial menyarankan 4 bidang yang dilaksanakan lebih dulu, yaitu (Harding dkk., 1994): 1. Hubungan Antar Disiplin Ilmu (interdisciplinarity) Telah disebutkan bahwa Farmasi Sosial didukung oleh filosofi dan metodologi ilmu sosial dan perilaku yang seleksi/pemilihannya tergantung masalah yang dihadapi (subject matter). Contoh: Untuk menekan biaya pengobatan, pola peresepan, dan perawatan dipilih pendekatan politik Untuk memahami pilihan ibu-ibu yang anaknya sakit dalam memilih obat dipilih pendekatan psikologi sosial dan metode kualitatif. Untuk menemukan cara pemecahan yang proporsional masalah ketidakharmonisan hubungan antara tenaga profesi kesehatan dipilih pendekatan sosiologi, komunikasi, dan psikologi. BIDANG FARMASI SOSIAL
  • 22. 2 2 PRESENTATION TITLE 2. Professionalization Status profesi dan sikap professional yang berbanding lurus dengan kepuasan kerja (satisfaction/satisfactory achievement). Sikap professional berciri antara lain dedikasi dan loyalitas tinggi, mandiri, bersemangat, gembira dalam pengabdian profesi. BIDANG FARMASI SOSIAL
  • 23. 2 3 PRESENTATION TITLE Contoh: Perkembangan komputerisasi patiens medication records (PMRs), terbukti meningkatkan status profesi karena farmasis menguasai salah satu sumber informasi pelayanan kesehatan. Hasil analisis masalah yang terekam merupakan monitoring pola resep yang ada, dan penggunaan informasi dapat: Mengetahui kesalahan resep Menghindarkan interaksi obat dan adverse drug reaction, kontra-indikasi, reaksi alergi dan idiosinkrasi, penggunaan obat yang salah (mis-use) dan penyalahgunaan obat (abuse), serta efek samping yang berlebihan. Memantau kemajuan kesehatan pasien. Memantau rasionalitas pelayanan kesehatan yang diterima pasien Dari otoritas dan kemampuan mengelola informasi obat, farmasis dapat bertugas sebagai penyuluh antara lain tentang penyakit tertentu, pola hidup sehat, kesehatan lingkungan, gizi dan nutrisi, serta konsultasi terapi. Hal itu menunjukkan bahwa inovasi dan perkembangan lewat professionalization dapat segera dilaksanakan dan menimbulkan harapan baru bagi pengabdian profesi. BIDANG FARMASI SOSIAL
  • 24. 2 4 PRESENTATION TITLE 3. Efisiensi dan Efektivitas Secara umum, inovasi dan perkembangan di bidang tersebut untuk mengatasi kendala biaya (cost constraints) yang dapat dilakukan dengan pengamatan formal (audit) terus menerus diiringi dengan pengendalian sistem pelayanan kesehatan. Berdasarkan prinsip manajemen, pelaksanaannya dimulai dengan penyusunan macam pekerjaan yang harus dilakukan, kemudian ditetapkan urutan skala prioritas dan dilanjutkan dengan pengawasan serta pengendalian. BIDANG FARMASI SOSIAL
  • 25. 2 5 PRESENTATION TITLE 4. Pendidikan dan Komunikasi Peran-peran farmasis yang baru memerlukan inovasi dan perkembangan yang proporsional di bidang pendidikan dan peningkatan kemampuan berkomunikasi, serta secara profesional cepat tanggap dengan situasi dan lingkungan yang berbeda, mengembangkan interpreneurship. BIDANG FARMASI SOSIAL